Behind The Scene [Part 2]

tumblr_mxf34w3Jrn1smul75o2_500

Behind The Scene [Part 2]

dyocta storyline

“Aku adalah seorang aktris. Pekerjaanku adalah

berakting.”

Casts : f(x)’s Sulli, SHINee’s Minho, SHINee’s Onew, Miss A’s Suzy & some OC(s).

Genre : Romance, Life.

Length : Short Chapter.

Part Sebelumnya

1

“Aktor muda Choi Minho tertangkap kamera tengah berkencan dengan seorang gadis di taman kota tadi malam. Gadis berpiyama biru itu diketahui adalah Bae Suzy. Nama itu tentu tidak lagi asing karena Bae Suzy adalah gadis yang sama dengan gadis yang pernah diberitakan menjalin hubungan dengannya setahun lalu. Kini mereka kembali terlihat bersama.

Perlu diingatkan kembali, setahun lalu keduanya terlihat merayakan ulang tahun Bae Suzy di sebuah restoran.

Miracle Entertainment telah memberikan penyataan bahwa keduanya tidak lebih dari seorang teman. Alasan mengapa Choi Minho lebih memilih bermalam bersama dengan sahabatnya daripada menghadiri acara penting dengan kekasihnya pun masih menjadi misteri karena Miracle Ent. enggan memberi keterangan lebih lanjut.

Seperti yang diketahui bahwa semalam kekasih Choi Minho, yaitu aktris Sulli, datang seorang diri ke salah satu ajang penghargaan bergengsi dan membawa pulang piala best couple bersama dengan Choi Minho.

Reporter Jung.”

Musim dingin di penghujung tahun ini terasa berkali-kali lebih dingin. Membekukan air, bahkan hati yang terletak jauh didalam. Matahari yang bertengger di langit pun tak bisa melakukan apa-apa, hanya sinarnya saja yang terang namun dingin tetap menyelimuti.

Presdir Ahn membuka satu kancing kemejanya kemudian mengendurkan dasi merah marun dari lehernya sebelum menghantamkan tangannya pada meja kerja yang dibuat dari kayu jati. Wajahnya merah padam. Sudah sejam ini ia berteriak memaki Manajer Hwang serta Sulli dan Minho yang duduk berhadapan.

“Sudah kukatakan sebelumnya untuk tidak membuat masalah, apa kalian masih tidak mengerti? Sekarang lihat apa yang telah kalian lakukan!” Presdir Ahn berteriak.

Joesonghamnida, Presdir, ini semua adalah salahku karena tidak becus mengawasi mereka.” Manajer Hwang membungkuk, memohon ampun pada Presdir Ahn entah untuk yang kesekian kalinya.

Aniyo, ini bukan salahmu tapi salahnya. Presdir, Manajer Hwang sudah meminta Minho Oppa untuk tidak pergi tapi ia tetap pergi, jangan menyalahkan Manajer Hwang lagi!” Sulli buka suara. Ditatapnya Minho dari balik kacamata hitamnya, pria itu tidak banyak bicara dan hanya menundukan kepala.

Minho mengangkat wajahnya, “Ini semua memang salahku,”

“Baguslah jika kau menyadarinya.” Sulli membuang muka, tidak ingin melihat wajah menyebalkan milik Minho

“Sudah diam!” Presdir Ahn menengahi. Ia pun duduk diatas meja kerjanya kemudian menatap dua orang artisnya secara bergantian, “Kalian berdua… tidak bisakah kalian tidak bertengkar untuk sehari saja? Apa kalian tidak lelah?” tanyanya.

“Kurasa tidak penting bagaimana kami harus bersikap dibelakang kamera. Aku adalah seorang aktris, pekerjaanku adalah berakting dan selama tiga tahun ini aku memainkan peranku sebagai kekasihnya dengan baik.” ujar Sulli pedas.

Minho tersenyum tipis, mungkin lebih mirip dengan seringaian.

Sulli semakin dibuat benci oleh tingkah laku pria itu. Ini bukan kali pertama Minho terlibat dalam skandal percintaan. Setahun yang lalu, ia dan Suzy juga terkena pemberitaan yang sama. Dua tahun yang lalu, Minho juga terlibat dalam skandal cinta segitiga dengan beberapa rekan kerjanya dalam sebuah film.

Dan Sulli akan membereskan semua skandal itu untuknya. Hal yang sama juga akan terjadi hari ini. Bayangkan betapa menyebalkan dan menyedihkannya menjadi kekasih aktor tenar sepertinya.

“Aku tidak tahu apakah kalian punya masalah pribadi atau tidak, tapi hanya tersisa tiga bulan lagi… kuminta kalian bersabar. Jika waktunya sudah tiba, aku berjanji akan memberi kalian kebebasan.” Presdir Ahn menambahkan.

Mata Sulli terasa panas. Dadanya terasa sesak, seribu kata makian telah di persiapkannya untuk kekasih ‘kesayangannya’ namun tak satupun yang bisa terucap. Ia frustasi, ingin rasanya meledak menjadi serpihan kecil andai saja ia bisa merasa lega setelahnya. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengubur segalanya jauh dalam hatinya.

Presdir Ahn tidak menghabiskan waktu lebih lama lagi, ia pergi setelah memberitahu Sulli kalau sore ini akan digelar konferensi pers untuk membersihkan nama Minho dari skandal tidak menguntungkan ini. Di ruangan itu, tersisa mereka berdua serta Manajer Hwang.

“Ini adalah terakhir kalinya aku memperingatkanmu, Minho, saat aku melarangmu pergi maka kau tidak boleh pergi.” Manajer Hwang menasehati. Ia kemudian menyerahkan setumpuk kertas pada Sulli, “Ini script untuk hari ini. Berlatihlah sebelum konferensi pers dimulai.”

Mianhaeyo, Hyung…”kata Minho pelan.

“Sudahlah kau tidak perlu minta maaf padaku, sebaiknya kau minta maaf pada…” Manajer Hwang pun memberi isyarat padanya yang mengarah pada gadis belia yang tengah membolak-balik halaman kertas yang diberikan padanya.

Merasa dirinya tengah diperbincangkan, Sulli mengambil tasnya dan pamit pergi pada Manajer Hwang.”Sampai jumpa nanti sore, Oppa, annyeong.”

Tanpa menoleh sedikit pun pada Minho, Sullli melenggang dengan dagu terangkat tinggi.

Menjauh dari Minho adalah satu-satunya hal yang diinginkan Sulli. Karena bersamanya, ia selalu merasa sedih. Ia selalu merasa rendah karena menjadi kekasih yang tidak diinginkan. Padahal selama ini ia selalu menjadikan Minho sebagai prioritas utama selain karirnya.

Sulli selalu memikirkan pria itu setiap kali akan melakukan sesuatu. Apakah Minho akan senang atau tidak, apakah Minho akan setuju dengannya atau tidak, apakah Minho akan marah atau tidak, Sulli selalu berpikir seperti itu namun Minho tidak. Minho selalu melakukan semua hal sesuai dengan kehendaknya, tak pernah sekalipun ia perduli padanya dan itu membuat Sulli sedih.

Manajer Hwang menduduki kursi kosong yang ditinggalkan Sulli. Matanya bertemu dengan mata Minho yang menunjukan penyesalan mendalam. Ia menarik napas dan memberi nasehat pada aktor yang sudah dianggapnya sebagai adik kandungnya itu.

“Semalam dia terus menunggumu. Kau berjanji kalau kau akan datang maka dia tetap menunggu hingga panggung dibersihkan. Jika kau harus minta maaf, seharusnya kau tidak minta maaf padaku… tapi padanya.”

Adalah bohong jika Minho tidak merasakan sesuatu dalam lubuk hatinya setelah mendengar apa yang dituturkan oleh Manajer Hwang. Tubuhnya seakan dipaku pada kursi yang didudukinya meski pikirannya memerintahkan untuk mengikuti nasehat Manajer Hwang yang memintanya menyusul Sulli.

“Semuanya sudah terlambat. Sekalipun aku minta maaf padanya, dia tidak akan memaafkanku.” Minho mengutarakan kekhawatirannya.

“Aku kira kau mengenalnya dengan baik setelah kau mengenalnya selama tiga tahun tapi ternyata dugaanku meleset. Minho-ya, selama tiga tahun ini, pernahkah Sulli tidak memaafkanmu?”

Minho pun tersadar setelah Manajer Hwang menamparnya dengan pertanyaan itu. Akhirnya Minho beranjak dari kursinya dan berlari keluar ruangan. Sudah terlalu banyak penderitaan yang ia berikan pada Sulli, dengan hatinya yang tulus pula Sulli selalu memaafkan tanpa pernah keluar kata maaf dari mulutnya. Maka hari ini, sekali saja sebelum mereka berpisah, ia ingin mengucapkan kata itu pada Sulli.

“Kau lihat kemana Sulli pergi?” tanya Minho pada salah seorang staff namun orang itu menggeleng. “Bagaimana denganmu? Kau melihat Sulli?” tanyanya lagi pada staff yang berbeda.

“Minho-ssi, aku melihat Nona Choi menuruni tangga darurat tadi.”sambar seorang petugas kebersihan yang sedang mengantar kopi.

Kamsahamnida.”

Dan Minho berlari sekuat tenaga untuk mencapai tempat Sulli berada. Diraihnya daun pintu yang memisahkannya dengan Sulli dengan tergesa-gesa, dengan napas terengah, dengan harapan melihat gadis itu secepatnya.

“Sulli-ya…”

Minho menemukannya.

“Akhirnya aku menemukanmu,”

Sulli menoleh ke belakang. Ia tengah duduk santai di salah satu anak tangga sambil membaca script barunya. Dalam gelap, ia meresapi setiap kalimat yang tertera disana dan tanpa sengaja mengingat peristiwa semalam saat ia menunggu kedatangan Minho bersama Jiyoung di backstage hingga mentari menyapa.

Sulli berdiri, “Untuk apa kau ada disini?”

Deru napas Minho berpacu dengan detak jantungnya. “Matamu bengkak, apa kau menangis semalam?” Minho mengalihkan pembicaraan. Ternyata ia tak punya cukup nyali untuk bicara pada gadis itu.

Refleks. Sulli kemudian memakai kembali kacamata hitamnya. “Aniyo, aku hanya kurang tidur.” jawabnya.

“Kenapa?…” tanya Minho lagi.

“Kenapa apa?”

“Kenapa kau kurang tidur? Apa kau menunggu seseorang? Atau mungkin… apa mungkin kau menungguku?”

Sulli terkekeh, “Semalam aku dan Jiyoung berpesta untuk merayakan kemenanganku. Oh ya, aku akan memberikan pialamu melalui Manajer Hwang.”

Ia berbohong.

Mianhae…”bisik Minho pelan hingga nyaris tak terdengar. “Aku sudah berjanji untuk datang, seharusnya aku menepati janjiku semalam.” tambahnya dengan suara agak kencang.

“Tidak apa, lagipula aku lebih senang datang sendiri semalam. Kita akan segera berpisah, aku harus membiasakan diriku untuk pergi sendirian kemanapun mulai saat ini.” balasnya tanpa melirik Minho.

“Dan mengenai skandal itu… semalam aku memang mengunjungi-“

“Berhenti!” jantung Sulli berdetak tak seperti biasanya. Sebagian dari dirinya ingin mendengar penjelasan Minho namun sebagian yang lain tak ingin karena takut kecewa dengan penjelasan itu. “Tidak perlu kau jelaskan. Aku sudah membacanya melalui artikel,” suaranya melemah lagi.

“Bukan seperti itu, Sulli-ya, dengarkan aku dulu,” Minho memegang pergelangan tangan Sulli.

“Tidak perlu. Oppa, kita bukan pasangan sungguhan, aku tidak perlu tahu apa yang kau lakukan dengan perempuan itu. Kau tentu tidak berpikir kalau kita adalah pasangan sungguhan kan?” Sulli membebaskan tangannya dari Minho.

Perlahan bayangan Minho mulai kabur di matanya. Ia tidak bisa melihat karena lapisan air yang sudah terkumpul di matanya. Ia berusaha mengelabui perasaannya sendiri dengan anggapan kalau air mata itu adalah hasil dari penghayatannya saat membaca script sebelum Minho datang.

“Aku hanya berpikir kalau aku perlu menjelaskannya padamu… meskipun kau dan aku bukanlah pasangan sungguhan.” Minho tertunduk.

Jinjjayo?Aku pikir hanya aku yang berpikir seperti itu,” Sulli menyindir dengan tawanya. “Aku memikirkanmu saat pria lain mengajakku makan malam, saat mereka mengirimiku buket bunga, meskipun kita bukan pasangan sungguhan, aku kira tidak ada salahnya jika aku menjaga perasaanmu. Aku tidak tahu kalau ternyata kau juga berpikir seperti itu,”

Minho kehilangan kata-kata. Ia menghindari kontak mata dengan Sulli, ia bisa semakin terpuruk dalam jurang penyesalan jika terus melihat pada wajah yang selalu tersenyum padanya itu.

“Sudahlah. Aku harus pergi, aku masih punya setumpuk skenario yang harus aku hapalkan,” Sulli menunjukan kertas putih yang dipegangnya. “Berhentilah terlibat skandal, Oppa. Siapapun yang menjadi kekasihmu akan lelah jika kau terus seperti ini, termasuk Bae Suzy sekalipun.”

“Aku dan Suzy hanya berteman,”

“… Anggaplah aku tahu itu, tapi seluruh dunia tidak. Hal yang sama juga terjadi sebaliknya; seluruh dunia tahu kau milikku meski sebenarnya… tidak. Jadi kumohon berhati-hatilah!”

“Apa hanya karena itu? Bukan karena kau perduli-“

“Aku hanya perduli pada diriku sendiri.” Sulli memotong pertanyaan Minho, memberi sebuah jawaban yang sungguh bertolak-belakang dengan kenyataan.

Jeongmal mianhae…Ternyata itu yang kau rasakan selama ini… Sulli-ya, setelah semua ini selesai, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku berjanji.”

Andai saja Minho berani menegakan kepalanya bahkan untuk beberapa detik saja maka ia akan melihat sebulir air mata yang berhasil lolos di pipi Sulli. Namun ia melewatkan kesempatan itu begitu saja.

“Aku akan menagih janji itu suatu hari nanti.”

Sulli pun pergi saat dirasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Dinding pertahanannya runtuh karena terlalu sering dikecewakan oleh Minho untuk yang kesekian kalinya. Ia menyerah, membiarkan air mata yang dikumpulkan sejak semalam jatuh mengalir di pipinya saat menuruni anak tangga.

 

Pertama, aku ingin mengucapkan terima kasih pada Presdir Ahn dan para staff yang pernah bekerja dengan kami. Jae Hyuk Oppa, terima kasih karena telah menjaga kami… Dan untuk para fans yang berjalan disamping kami. Aku minta maaf karena Minho Oppa tidak bisa datang malam ini tapi aku berjanji akan memberikan piala ini dan merayakan kemenangan kami bersama… dan Oppa, tetaplah menggenggam tanganku dan menerima piala ini lagi tahun depan.

Pause.

Minho mengulang rekaman video itu sekali lagi, tepat saat Sulli naik ke atas panggung untuk menerima piala yang dimenangkan mereka berdua. Best couple award. Senyum simpul serta rona merah di pipinya membuatnya semakin cantik dan menggemaskan namun riasan itu, menurut Minho, tidak mampu menutupi kegelisahan Sulli saat itu.

“… dan Oppa, tetaplah menggenggam tanganku dan menerima piala ini lagi tahun depan.

Pause.

Layar televisinya pun berhenti, menampilkan wajah Sulli yang sedang tersenyum sambil mengangkat piala kemenangannya. Wajah itu sungguh berbeda dengan yang Minho lihat tadi pagi.

Berhentilah terlibat skandal, Oppa. Siapapun yang menjadi kekasihmu akan lelah…

Kata-kata itu kembali terngiang di telinganya.

“Kau sudah lelah…” Minho bergumam pelan sambil menatap wajah Sulli di layar televisi. “Tapi kau masih bisa tersenyum seperti itu… dasar bodoh! Jika kau lelah seharusnya kau melepaskan tanganmu dari genggamanku, jangan malah memintaku tetap menggenggam tanganmu.” lanjutnya dengan sedikit pahit saat mengatakannya.

Kring kring kring

Minho mengambil ponselnya yang tergeletak di samping figura fotonya bersama Sulli diatas meja. Nama Suzy tertera disana.

Yeoboseyo…”

Oppa, bagaimana keadaanmu? Ada banyak wartawan berkumpul di depan rumahku sejak tadi pagi. Mereka terus menungguku di luar, beberapa orang bahkan memanggilku dan mengancam untuk mendobrak masuk tapi tidak apa, aku baik-baik saja.

“Kau yakin kau baik-baik saja?” tanya Minho.

Suzy terdengar menghela napas, “Pasti presdir memarahimu lagi, benar kan?

“Tidak apa-apa, itu bukan masalah besar.”

“… Lalu bagaimana dengan Sulli?

Kau pasti membiarkan kesalahpahaman ini terus berlanjut, dasar bodoh!

“Aku berusaha menjelaskannya tapi Sulli tidak mau dengar. Kata apapun yang keluar dari mulutku, dia tidak akan percaya karena di matanya aku hanyalah seorang aktor… seorang aktor yang berpura-pura.” Minho sambil melihat figura fotonya bersama Sulli.

Tapi pada kenyataannya kau tidak begitu…”

Minho merasa sesak mendengar pernyataan itu. Ada sesuatu yang mengganjal di relung hatinya; sebuah kenyataan yang sulit diucapkan, sebuah pernyataan yang bisa menyelesaikan semua masalah yang sedang dihadapinya andai saja ia mau mengakuinya.

“Sulli sudah terlalu banyak menderita saat bersamaku. Aku akan melepaskannya, aku sudah berjanji untuk melepasnya pergi ketika waktunya telah tiba.” ungkap Minho.

“Minho Oppa tidak mungkin meninggalkanku seperti yang diberitakan oleh media. Kami baik-baik saja. Aku mengenal Nona Bae cukup baik. Ia adalah teman dekat Minho Oppa semasa sekolah dulu, mereka berteman baik dan aku tahu hubungan mereka tidak lebih dari itu. Jadi berita yang beredar sekarang ini tidak benar.”

Sulli, didampingi Manajer Hwang, menjawab pertanyaan seorang wartawan yang hadir dalam konferensi pers sore itu dengan apik. Bahkan tidak akan ada yang menduga kalau semua jawaban itu dihapalnya sebelum acara dimulai, karena setiap pembelaan yang keluar dari bibirnya terucap dengan sangat natural.

“Lalu bagaimana dengan tidak hadirnya Choi Minho pada malam itu? Apa yang membuatnya membiarkan kekasihnya pergi seorang diri pada acara penting seperti itu?” Reporter Jung yang berkesempatan untuk bertanya kali ini.

“Itu karena… aku yang memintanya untuk tidak hadir,” Sulli menghela napas. “Nona Bae sedang mengalami kesulitan pada saat itu. Sebagai seorang teman lama, Minho Oppa sangat ingin membantunya tapi karena schedule kami tidak memungkinkan maka ia tidak bisa membantu Nona Bae. Maka dari itu aku memintanya untuk mendahulukan Nona Bae.”

“Adakah sesuatu yang ingin kau sampaikan pada kekasihmu? Aktor Choi Minho mempunyai reputasi yang kurang baik karena selalu terjebak dalam skandal cinta, apakah kau tidak menyesal berhubungan dengannya?” tanya reporter lain.

“Aku selalu percaya pada Minho Oppa karena aku mencintainya… dan aku tahu dia mencintaiku. Cinta bukanlah hal yang perlu disesali.” Sulli berusaha keras tersenyum.

“Aku rasa cukup untuk hari ini. Semua pertanyaan telah dijawab dan semoga kesalahpahaman seperti hari ini tidak akan terjadi lagi. Terima kasih.”

Manajer Hwang bangkit dari kursinya, membungkuk pada reporter yang hadir kemudian membawa Sulli keluar dari ruangan itu. Ia bisa bernapas lega karena skandal Minho bisa diatasi namun ia ragu dengan keadaan Sulli. Ada sesuatu yang salah dengan gadis itu.

“Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?” tanya Manajer Hwang.

Sulli menggeleng, menatap Manajer Hwang dengan polos.

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas kerja kerasmu, Sulli-ya.” Manajer Hwang menepuk pundaknya. “Mau kuantar pulang?”ia menawarkan.

Sulli menggeleng untuk kedua kalinya. Kemudian ditatap layar ponselnya lekat-lekat, menunggu sebuah pesan atau mungkin sebuah panggilan masuk.

“Kau ada janji dengan seseorang? Dengan Jiyoung?” Manajer Hwang penasaran.

“Bukan, bukan dengan Jiyoung.” jawab Sulli.

Manajer Hwang mengernyitkan dahi. Jika bukan Jiyoung, hanya ada satu orang yang akan ditemuinya. Namun Sulli tidak boleh bertemu dengan siapapun saat ini. Akan ada banyak paparazzi yang mengikuti karena meski konferensi pers sudah digelar, hubungannya dengan Minho masih akan mengundang banyak pertanyaan.

“Aku rasa aku lupa memberitahumu kalau kau tidak boleh bertemu dengan Jinki,” Manajer Hwang memicingkan matanya ketika memandang Sulli.

Sulli agak sedikit terkejut mendengarnya meski ia bisa menutupinya agar tidak terlalu terlihat. Ia hanya bisa memaksakan senyumnya untuk Manajer Hwang.

 

.

 

.

 

“Kau sudah lama menunggu?”

Sulli menarik kursi yang masih menempel rapat pada meja bundar yang terlihat mengisi di keseluruhan restoran itu. Seseorang yang menutupi sebagian wajahnya dengan masker berwarna gelap itu mendongak kearahnya, melengkungkan senyum melalui matanya untuk menyapa.

“Tidak juga. Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu denganmu,” katanya saat Sulli menyandarkan tubuhnya pada kursi.

“Kau bisa menebaknya lewat artikel yang baru dirilis tadi sore. Apa wajahku menunjukan kalau aku baik-baik saja?” Sulli membuka sedikit syal yang menutupi hidung dan bibirnya.

“Oh ya, aku membawakan hadiah untukmu dari Jepang. Kebetulan aku punya waktu luang untuk membeli oleh-oleh. Ini untukmu,” ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tas yang diambilnya barusan.

Sulli menerimanya, membuka kotak kecil itu dan tersenyum lebar saat kilauan yang berasal dari batushapire berwarna biru tertangkap matanya. Sebuah gelang cantik berwarna silver dengan manik-manikterbuat dari batu shapire adalah isi dari kotak yang diberikan padanya. Sungguh cantik.

“Kau serius? Oppa, ini cantik sekali,” Sulli menyentuh batu berkilau itu kemudian bertukar pandangan dengan pria dihadapannya.”Aku tidak bisa menerimanya, ini pasti sangat mahal.” ia sambil mendorong kotak itu kembali pada sang pemiliknya.

“Aku sudah menduga kalau kau tidak akan menerimanya, tenang saja itu bukan barang asli, itu imitasi,” ia berbisik pelan pada kalimat terakhir. “Aku tidak punya cukup uang untuk membelikanmu kado mahal, mian…” ia terkekeh.

“Aish, jangan merendah seperti itu!” Sulli mengerucutkan bibirnya. “Penyanyi terkenal sepertimu pasti memiliki banyak uang, kau adalah Jinki, jadi jangan bercanda!”

Ya, ia adalah Jinki.

Ia adalah yang terbaik dalam dunia tarik suara di Korea dalam beberapa tahun belakang ini. Suaranya bak malaikat; merdu dan terdengar lembut. Wajahnya pun tak kalah memukau jika dibandingkan dengan suaranya. Dan kepribadiannya yang sederhana menjadi pelengkap dari figurnya yang nyaris sempurna.

“Kau tersenyum.”

“Apa? Coba katakan sekali lagi!” desak Sulli.

“Aku hanya senang melihatmu tersenyum. Sulli-ya, semuanya akan baik-baik saja. Kau bisa percaya padaku.” Jinki menyentuh telapak tangan Sulli. Jika saja ia mampu, ingin rasanya menggenggam tangan gadis itu sekali saja, merasakan betapa lembut dan hangat jari-jemarinya.

Gomawo…” seulas senyum itu hilang lagi untuk sesaat, berganti dengan tatapan sendu.Tidak berlangsung lama, Sulli menarik lagi kedua ujung bibirnya. “Jika kau tidak ada, aku tidak akan tahu bagaimana caranya menghadapi hari esok. Oppa, aku percaya padamu.”

Senyum itu menghiasi paras cantiknya. Tak seindah biasanya memang, karena selain senyum itu, bulir-bulir air mengalir deras dari mata bulatnya. Jauh didalam hatinya, Minho menorehkan luka yang cukup dalam dan Sulli tidak bisa melakukan apa-apa.

 

Sulli termenung, meratapi semua kekacauan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir sementara Manajer Hwang menumpahkan amarahnya dengan melontarkan kata-kata untuknya. Pria itu datang pagi-pagi sekali ke rumahnya, membawa beberapa jenis surat kabar sebagai bukti kegagalannya setelahlima belas tahun menjadi seorang manajer artis.

“Kalian berdua adalah yang terburuk! Kalian mencoba membunuhkan pelan-pelan huh?” katanya sambil bertolak-pinggang.

Sulli mengunci rapat mulutnya, tidak bisa membantah karena sejujurnya ia juga sependapat dengan Manajer Hwang. Ia membasahi bibirnya yang kering, memainkan kuku jarinya untuk membunuh rasa bosan setelah berjam-jam menikmati omelan Manajer Hwang sebagai sarapan.

“Kemana bocah tengik itu? Kenapa dia masih belum datang? Aish, aku bisa gila!” kali ini ia mengacak-acak rambutnya.

Bocah tengik yang dimaksudnya, tentu, adalah Choi Minho. Mereka bertiga berjanji untuk bertemu pukul tujuh dan kini, jarum pendek di pergelangan tangan Manajer Hwang sudah menunjuk angka sembilan. Sudah sembilan belas kali juga Manajer Hwang menelponnya namun tak sekalipun dijawab.

Bagaikan gunung api yang siap meledak; seperti itulah perumpamaan yang cocok untuk menggambarkan keadaan Manajer Hwang sekarang. Bagaimana tidak? Nama Sulli dan Minho sudah menjadi kata kunci utama diberbagai situs portal selama tiga hari berturut-turut. Diputuskannya beberapa macam kontrak kerja membuat situasi semakin buruk.

Konferensi pers yang digelar kemarin juga tidak membantu sama sekali, malah menjadi boomerang setelah Reporter Jung menangkap artisnya dalam keadaan yang tidak semestinya. Hancur sudah semua harapan Manajer Hwang untuk kedua artisnya.

krriett

Pintu rumah Sulli terbuka pelan. Sesosok manusia dengan jaket tebal masuk tanpa mengenakan apapun untuk menyamarkan identitasnya. Mata Sulli melotot, begitu juga dengan Manajer Hwang yang bisa melihat dengan jelas luka lebam di wajah pria itu.

Sulli berjalan gontai mendekati pria itu.”Oppa…” rintihnya seakan bisa berbagi rasa sakit yang tengah dirasakan Minho.

“Kau berkelahi?” tanya Manajer Hwang dari kejauhan.

“Maaf, aku datang terlambat.” dari ujung bibirnya, darah segar mengalir keluar.

“Apa yang terjadi?” Sulli menggerakan jemari tangannya, menyentuh bagian wajahnya yang berwarna ungu. Hatinya teriris melihat luka-luka itu pada wajah orang yang dikasihinya. “Tanganmu berdarah!” seru Sulli ketika menyadari darah segar mengalir dari bagian tubuh lainnya.

Minho menatap wajah Sulli yang nampak khawatir. Gadis itu menyentuh tangannya perlahan dan kemudian hangat tubuhnya menjalar ke seluruh tubuh Minho saat ia menggenggam tangannya.

Kemudian semuanya berubah gelap.

 

To Be Continue. . .

Komen Komen Komen . . #Bow

Advertisements

139 thoughts on “Behind The Scene [Part 2]

  1. Nyesek banget pas baca ceritanya 😥 huaaaaa
    sull eon minho oppa kenapa gak saling ngakui perasaan masing” eoh , malah saling menjauh 😦

  2. iishh minho muna banget daah..
    sok cool padahal suka.. pffftt nyebelin -_-*
    ntar kalo ssul udah di rebut jinki ajaa nangis dayak lloh..

    waah ceritanya kece banget nih thor. dilanjut yak..
    fighting author nim..

  3. Daebakkk…telat bgt baru baca ini thorrr,,,part 1 nya udah bca dblog lama tp mian thor aq gak bisa komen diblogspot,gak tau gmna caranya,,jadibkomennya skalian disini aja ya thor,,bagus bgt ffnya,,dsni sulli ksian bgt ssii,,sulli sbenernya suka kan sma minho? Tp minhonya kok kyk gituu,,lanjuta pary 3 deh.

  4. Tuhkan tiap2 -_- pasti si miming nyumputin perasaanya mulu -__-asdfghjkl
    Oh iya thor, aku kira ini bakal jafi FF two shoot :3 soalnya kalau gasalah aku liat dulu lenght nya two shoot, eh tapi gatau mata aku yg salah liat apa emng lagi sakaw liat nya :v kkk
    Tapi FF nya daebak! Nyesek bacanya u.u lanjutinnya jangan kelamaan ya thor T^T
    Kee writing, FIGHTING! ^-^9

  5. kyaaaa g bs komen di part 1 T.T
    dan dan dan apa ini?!!
    dasar minho jelek minta di cium LOL
    kalian kalo suka kenapa nyakitin diri sendiri sih
    kan aku jadi sedih ToT
    ahh story ny keren bikin nyutttt asli!
    nice =)

  6. Daebak!!! (ʃƪ.ˇˇ)♥
    I love it! Thor, gak bisa komen di chapter 1… (ɔ ‘́ ‘̯̀)ɔ
    “Aku adalah seorang aktris, pekerjaanku adalah berakting. Meski hatiku sedang terbelah dua sekalipun, saat mereka ingin melihatku tersenyum, maka aku akan tersenyum.”
    Kata-katanya… Bikin nyesakkk… Baby Sulli, hwaiting! (҂˘̀^˘́)9
    Aku suka gaya bahasamu, Thor, sederhana & komunikatif…
    Ada typo dikit kayaknya itu di bagian yang Manager Hwang ngomel, “membunuhkan” maksudnya itu “membunuhku” gitu kan? 😀
    Sulli sama Minhoney sama-sama cinta ya kayaknya? Tapi sama-sama gak terbuka juga?
    Pas di chapter 1, sempat mikir, jangan2 Minho oppa suka sama Suzy… Tapi kalo dari chapter 2 ini, lebih ke Baby Sulli ya, Thor? Aih, MinSul semoga aja ya nanti… (´ʃƪ`)
    (Di realnya juga boleh loh, gak cuma behind the scene aja, hehehe)
    Woaaa, Sulli selalu prioritasin Minho, tapi Minhonya seenaknya sendiri! #nyesakkk
    Itu mereka pasangan 3 tahun gak saling main ke rumah kah, Thor?
    Kan katanya Minho punya figura yang isinya foto dia sama Sulli…
    Atau dikira orang (termasuk Sulli sendiri) itu foto cuma formalitas aja?
    Hhmmm, susah ya kalo pacaran tapi settingan gitu… 😦 Padahal sama2 cinta benaran…  (‾ε‾”)
    Suzy suka sama Minho kah? :O
    Oia, jawaban interview Baby Sulli di chapter 1, yang pas Minhonya pemotretan, itu emang jawaban real dia kayaknya ya, Thor? Soalnya kayak pernah baca di artikel apa gitu… Yang Sulli selalu jadi orang positif dalam segala situasi… 🙂
    Wah, authornya canggih nih masang2in kata2nya, jadi berasa ini FF based on MinSul real story… 😀
    (Atau emang dari kata2mu sendiri, Thor? 😀 Kalo salah tolong diralat ya 😉 )
    Terus berkarya ya, Thor!
    Salam kenal, aku reader barumu…
    I love your story! ♡

  7. Hadeeh bang minho jahat banget….kasian sulli nya noh…manager hwang pasti strees berat liat artisnya bikin skandal mulu…sabar ya manager hwang….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s