Behind The Scene [END]

bts

Poster by : Ladyoong @ HSG

Behind The Scene

 Dyocta Storyline

Casts: f(x)’s Sulli, SHINee’s Minho and Onew, Miss A’s Suzy & some OC(s).

Genre: Romance, Sad & Life.

Length: Chaptered.

Chapter 4

Catatan Author : Aku mau ngucapin terima kasih buat readers yang udah baca dan komentar, buat silent readers juga makasi banyak ya. ^^ Happy Reading. Maaf kalo gaje dsb.

Tok… tokk…

Kang Jiyoung memperlihatkan senyum terbaiknya setelah Sulli membukakan pintu masuk untuknya. Ia mengangkat kedua tangannya yang memeluk sekeranjang buah segar kesukaan sahabatnya. Sulli pun membalas senyumnya.

“Maaf aku baru bisa datang sekarang, aku benar-benar sibuk belakangan ini.” Jiyoung berkata setelah dipersilakan masuk oleh sang pemilik rumah.

“Tidak apa-apa,”

Jiyoung tercengang saat melihat desain interior rumah Sulli. Seingatnya, terakhir kali ia datang kesana, keadaan rumah itu tidak lebih baik dari gudang rumahnya yang sudah dibiarkan tak terawat tiga tahun lamanya tapi kini rumah itu nampak seperti istana.

“Wah… kau menata ulang rumahmu ya? Hm, apa bisa kau menata ulang rumahku juga?” Jiyoung terkekeh seraya mencari posisi duduk yang nyaman di sofa merah marun di ruang tengah.

“Bukan aku yang menatanya tapi Jinki Oppa. Kami membereskan rumah ini seminggu yang lalu,” jawab Sulli saat kembali dari dapur. Ia mengambil beberapa buah piring dan pisau untuk mengupas buah-buahan yang Jiyoung bawa.

Jiyoung menatapnya curiga, “Kau tidak berkencan dengannya kan?”

Sulli tersenyum samar, “Belum.”

“Ya! Apa maksudnya dengan ‘belum’? Kau berniat mengencaninya? Sulli-ya, kau baru saja putus cinta sebulan yang lalu. Apa yang akan dikatakan netizen jika mereka tahu kau sudah berkencan lagi? Aigoo, kau ini sudah gila ya?!” ujar Jiyoung panjang lebar.

Sulli tertawa renyah kemudian menyuapi Jiyoung dengan potongan apel. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menyanggah atau mengiyakan ucapan Jiyoung sebelumnya.

Ia malah bertanya, “Kau mau minum apa?”

“Air mineral saja sudah cukup.” Jiyoung bangun dan berkeliling setelah Sulli meninggalkannya untuk mengambil minum.

Rumah Sulli tidaklah besar. Sederhana saja dan sangat minimalis. Mungkin karena ia hanya tinggal sendiri di Seoul sementara keluarganya menetap di Busan. Mungkin karena itu juga ia memajang banyak sekali foto keluarga dan teman-temannya di rumahnya.

Jiyoung bisa melihat sebagian foto itu menggantung di dinding rumah dan sebagiannya lagi diposisikan diatas meja hias. Ayah, ibu, dua kakak laki-lakinya dan satu adik laki-lakinya yang masih kecil, juga ada foto Jiyoung dengannya dan teman-teman sekolah Sulli dulu.

Di sudut meja, tidak sengaja Jiyoung menangkap sebuah figura berwarna putih bersih yang terlihat mencolok dari yang lainnya. Terlihat Sulli memakai bando berbentuk telinga kelinci sambil memegang gulali sementara sebelah tangannya mengamit lengan pria berbadan tegap dengan kemeja yang serupa dengan yang dikenakan Sulli.

“Tentu saja, Sulli selalu punya tempat untuknya,” gumam Jiyoung pelan.

Melihat Sulli masih menyimpan serpihan kenangannya dengan Minho memberi Jiyoung keyakinan bahwa perasaan sahabatnya belum pulih benar. Fisiknya memang sempurna, tapi dalam lubuk hatinya, sebuah luka menganga lebar dan tidak terobati.

Jiyoung, tentu, masih ingat peristiwa sebulan lalu ketika berita perpisahan Minho dan Sulli mencuat. Minho sendiri yang menyatakannya didepan media, ditemani Sulli yang hanya bisa bungkam dibelakangnya. Keesokan harinya Manajer Hwang dan Presdir Ahn mengadakan konferensi pers tanpa kedua aktor dan aktrisnya; mengkonfirmasi perpisahan mereka.

Selama dua minggu penuh berita itu menjadi topik pembicaraan hangat Korea Selatan. Minho menghilang entah kemana, menurut berita yang Jiyoung dengar, pria itu pergi ke London untuk menjernihkan pikiran. Entahlah. Sulli pun tidak pernah mengucapkan nama pria itu lagi sejak saat itu dan bersikap seolah semuanya tidak pernah terjadi.

“Jiyoungie, kau… kau mau mencoba salad ubur-ubur buatanku tidak?”

Sulli muncul dari dapur dengan segelas air mineral. Ia sempat memberi jeda pada ucapannya saat melihat Jiyoung berdiri didepan meja hias tapi dengan mudahnya, ia kembali bersikap seolah tidak ada apa-apa disana.

“Tentu saja. Kebetulan sekali aku sedang lapar.” Jiyoung melempar senyum.

“Baiklah.”

Tidak sekalipun Jiyoung berani menanyakan bagaimana keadaan Sulli setelah berpisah dengan Minho. Ia tahu betul seberapa besar cinta Sulli untuk Minho, Sulli selalu berbinar setiap kali membicarakan Minho dengannya meskipun mereka lebih sering membahas sifat buruk pria itu.

Dan semenjak mereka berpisah, binar-binar kebahagiaan itu tidak pernah terlihat lagi. Bibirnya bisa saja tersenyum, tapi hatinya tidak. Sulli mencoba tegar, tersenyum dan sebagainya tapi semua yang dilakukan oleh Sulli terlihat palsu di mata Jiyoung. Ia seperti melihat orang asing.

“Aku dengar kau akan pergi ke London untuk syuting film terbarumu, benarkah?”

Sulli menghidangkan berbagai jenis makanan diatas meja. Sebulan ini ia meliburkan diri dari berbagai kegiatan keartisannya, menetap dalam rumah dan mencoba banyak hal yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya.

Jiyoung menjawab, “Aku juga belum tahu. Jadwalku terlalu padat, rasanya tidak mungkin kalau aku pergi ke luar negri. Kalau aku pergi ke London, apa kau mau ikut?”

Sulli menggeleng. Kemudian terdiam sesaat.

“Omo, Sulli-ya, kau beli dimana gelang ini?” Jiyoung berseru saat dilihatnya gelang dengan batu shapire mengelilingi pergelangan tangan Sulli. “Kau tahu tidak berapa harganya gelang ini? Tunanganku ingin membelikannya untukku juga tapi aku melarangnya. Gelang ini luar biasanya mahalnya.”

“Gelang ini? Ini imitasi,” aku Sulli pada Jiyoung yang memegang tangannya dan berdecak kagum saat melihat gelang itu.

“Kau gila? Gelang ini asli!”

“Apa?”

“Aku dan tunanganku pergi ke Jepang beberapa bulan lalu, kami pergi ke toko perhiasaan dan melihat gelang ini. Kau pasti terkejut jika tahu harganya,” Jiyong menjelaskan.

Jinjja?” Sulli masih tidak percaya.

Jiyoung menganggukan kepalanya. “Tapi yang terpenting bukan harganya melainkan maknanya. Kata pemilik toko perhiasan itu, gelang ini melambangkan cinta yang tulus. Pria yang memberikannya pada seorang gadis pasti sangat mencintai gadis itu sepenuh hatinya. Romantis, bukan?”

“Begitukah?”

“Apa Minho Oppa yang memberikannya padamu? Atau jangan-jangan… Jinki Oppa?”

Sulli memfokuskan pandangannya pada gelang itu. Rasanya seperti mimpi setelah Jiyoung menjelaskan makna dibalik gelang itu. Dan pikirannya langsung tertuju pada seseorang yang memberikan gelang itu padanya.

Kini salju mulai mencair. Musim dingin akan segera pergi, dan bunga-bunga akan bermekaran. Musim semi akan segera datang. Seketika senyumnya mengembang saat mengingat-ingat kenangan yang dibuatnya setahun lalu di musim yang sama.

Sulli duduk berhadapan dengan Jinki. Sulli mengajaknya menonton film hari ini kemudian menraktirnya makan siang di restoran kesukaannya.

“Apa ada yang lucu di wajahku?” tanya Jinki saat melihat senyum di wajah Sulli.

“Huh?” Sulli kemudian menggeleng. “Aku hanya teringat sesuatu,” jawabnya pelan.

“Bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke kebun binatang?” usul Jinki.

Sulli mengernyitkan dahinya. Kebun binatang semakin menguatkan ingatannya tentang peristiwa setahun lalu. Ketika Minho harus meringis sebal sepanjang hari karena mereka harus syuting iklan di kebun binatang. Pria itu tidak suka hewan, ia tidak suka kebun binatang.

Dulu Minho pernah bercerita kalau sewaktu kecil ia pergi ke kebun binatang bersama ibunya dan kakak laki-lakinya. Mereka memberi makan gajah dan jerapah. Tetapi seekor jerapah hampir menggigit tangan Minho yang baru berusia 5 tahun. Sejak itu ia tidak mau berpergian ke kebun binatang lagi, apalagi sejak kakak laki-lakinya hampir mati di gigit ular di halaman belakang sekolahnya.

“Dasar bodoh!” celetuk Sulli tak sengaja.

“Kau bilang apa?”

Sulli langsung menggelengkan kepalanya, “Tidak, tidak. Jangan salah paham! Karena kau bilang kebun binatang, aku jadi teringat seorang teman yang tidak suka pergi ke kebun binatang,” jawab Sulli asal.

“Kau punya teman yang tidak suka pergi ke kebun binatang?” tanya Jinki antusias.

“Iya… dia tidak suka binatang. Dia memang bodoh, bahkan ketika melihat kodok, dia akan berteriak histeris dan mengumpat dibelakang bahuku.”

Mata Sulli menerawang jauh. Di akhir kalimatnya, ia menghela napas panjang kemudian tertawa kecil. Ia menundukan kepalanya sebentar sambil meremas jemari tangannya dengan gemas.

Jinki tidak butuh waktu lama untuk mendapati mata Sulli berkaca-kaca. Ia pun tidak bodoh untuk tidak mengetahui kalau teman yang dibicarakan Sulli adalah Minho. Jinki memutar otak, mencari jalan lain untuk membuat Sulli kembali ceria.

“Kalau ice skating, bagaimana?” tanyanya sekali lagi.

Sulli tersenyum tipis. “Aku tidak ingin pergi kemana-mana. Mianhaeyo, Oppa.”

“Ah, tidak apa-apa. Apa kau mau pulang sekarang? Ayo, aku akan mengantarmu pulang.”

“Sebelumnya, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,”

Kemudian Sulli mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya. Ia mendorong kotak itu kearah Jinki dengan seulas senyum yang tidak biasa. Jinki mengerutkan keningnya sambil menerka-nerka isi didalam kotak itu.

“Apa ini?”

“Gelang yang kau berikan padaku sebulan lalu. Maaf, Oppa, tapi aku harus mengembalikannya padamu. Aku tidak bisa memakainya lagi,”

Pada saat itu, barulah Jinki menyadari kalau di pergelangan tangan Sulli sudah tidak ditemukan gelang pemberiaannya. “Kenapa?” ia bertanya.

“Kau tidak seharusnya membelikanku barang semahal itu. Aku sudah tahu kalau itu bukan barang imitasi,” jawab Sulli.

Jinki agak terkejut mendengarnya. Ia tidak mengira kalau Sulli telah mengetahui kebenaran mengenai gelang itu. Ia mengerjapkan matanya, bingung akan berkata apa.

“Aku sungguh minta maaf,”

“Kau tidak perlu minta maaf, harusnya aku yang minta maaf karena membohongimu. Sulli-ya, kau tidak perlu mengembalikannya, aku memberikannya padamu karena… karena aku menyukaimu.”

Jinki tidak mau lagi menjadi seorang pengecut. Bahkan gadis seperti Sulli bisa jujur dan mengutarakan perasaannya pada orang lain, ia juga pasti dan harus bisa. Dulu ia pernah menyesal karena tidak jujur pada Sulli mengenai perasaannya dan membiarkan gadis itu mengalami penderitaan karena harus menjalani hubungan palsu dengan Minho, ia tidak ingin penyesalan itu terjadi untuk yang kedua kalinya.

“Oppa…” Sulli berkata lirih.

“Tidak apa jika kau tidak menyukaiku. Aku hanya ingin berkata jujur, aku tidak mau menyesal. Aku hanya ingin kau tahu kalau dibelahan bumi ini ada seseorang yang sangat menyayangimu, itu aku.” Jinki tersenyum pahit.

Jinki mengatakannya dengan ketulusan. Ia tidak mengharap Sulli membalas perasaannya, ia mengerti kalau itu sama saja seperti berharap menangkap asap dengan tangan kosong.

“Mianhaeyo…” Sulli nampak tidak enak hati.

“Berjanjilah padaku kalau kau akan tetap menjadi Sulli yang aku kenal. Dengan begitu aku bisa bernapas lega,” Jinki mengulurkan jari kelingkingnya dengan senyumnya yang khas.

Sulli balas tersenyum, “Selama kau berjanji kalau kau akan tetap menjadi Jinki Oppa, aku akan tetap menjadi Sulli. Bagaimana?”

“Aku berjanji.”

“Aku juga berjanji.”

Sulli mengaitkan jari kelingkingnya dengan Jinki kemudian mereka berdua tertawa. Saat itu Jinki telah berhasil membuktikan kalau cinta memang tidak selalu harus memiliki. Karena ia mencintai Sulli, maka ia akan membiarkan gadis itu mendapat kebahagiaannya. Keinginan untuk memiliki Sulli bukanlah cinta, tapi obsesi.

“Ayo kita pulang! Sepertinya restoran ini sudah mulai ramai, bisa bahaya kalau kita tetap duduk disini.” Jinki berkata setelah meneguk habis jus jeruk pesanannya.

“Ayo! Aku juga sudah lelah.” sambung Sulli.

Sulli dan Jinki lantas berdiri kemudian berjalan keluar. Jinki mengambil mobilnya yang terparkir sementara Sulli menunggunya didepan pintu masuk. Disaat itu pula, ponsel Sulli berdering. Menampilkan deretan nomor tanpa nama pada layarnya.

“Yeoboseyo…”

“Sulli-ssi, bisa kita bertemu?”

Gadis itu mengangkat cangkir tehnya dengan anggun. Semilir angin meniupkan rambutnya yang panjang ke belakang, meniupkan aroma parfumnya yang berbau mawar ke seluruh penjuru tempat. Ia menempelkan bibir merahnya pada bibir cangkir kemudian menyeruput isinya yang masih mengepulkan asap.

“Terima kasih atas kedatanganmu,” katanya sembari tersenyum.

Sulli mengangguk pelan. Harusnya ia mengiyakan tawaran Jinki untuk menemaninya bertemu dengan Suzy tadi, tapi ia terlalu sombong dengan anggapan kalau ia bisa menghadapi Suzy sendiri. Dan sekarang, ia harus menahan tangannya yang gemetar.

“Apa yang ingin kau katakan padaku?” Sulli bertanya.

“Apa kabar Sulli-ssi? Kapan terakhir kalinya kita bertemu? Rasanya sudah lama sekali,” Suzy balas bertanya.

“Aku baik,” Sulli kemudian menyambung, “Apa hanya itu yang ingin kau katakan? Jika iya, maaf Suzy-ssi, tapi aku tidak punya banyak waktu untuk sekadar mengobrol denganmu.”

“Tunggu sebentar,” Suzy mengehal napas panjang, “Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, mianhae.”

Sulli sudah menyiapkan dirinya. Pertemuan ini hanya akan membahas satu hal, yaitu Minho. Ia sudah menguatkan dirinya sampai pada titik dimana kalau saja Suzy mengatakan ia akan menikah dengan Minho, Sulli yakin kalau ia tidak akan menangis. Setidaknya tidak didepan Suzy.

“Aku ingin meluruskan hubunganku dengan Minho. Mungkin kau berpikir kalau kami berdua memiliki hubungan serius tapi pada kenyataannya tidak. Aku dan Minho selamanya hanya akan menjadi teman biasa,”

Di bawah meja, Sulli sudah mengepalkan tangannya. Bagaimana ini? Ia tidak sekuat yang ia perkiraan.

“Ada gadis lain di hatinya.”

Sulli menelan ludah. Pipinya terasa panas seperti terbakar matahari.

“Gadis itu adalah kau, Sulli-ssi.”

Kini matanya terasa pedih. Kepalan tangannya mengendur, rasanya sangat lemas seperti tidak bertulang.

“Sebelum acara award itu, dia datang padaku, mengaku kalau ada yang janggal dengannya akhir-akhir ini. Setelah diingatkan Manajer Hwang kalau kontrak kalian akan berakhir, dia ketakutan. Awalnya dia mengaku kalau dia takut karirnya akan meredup jika kalian tidak bersama tapi aku tahu kalau itu bukan alasan utamanya,”

Sulli mendengarkan tiap kata yang dikatakan Suzy dengan cermat. Tidak satupun boleh terlewat.

“Hingga akhirnya ia mengaku kalau ia menyukaimu. Dia takut kehilanganmu, dia ingin kau tetap di sisinya,”

Hati Sulli bergetar. Rasanya mustahil jika Minho menyukainya setelah semua sikap buruk yang dilakukan Minho padanya. Terbersit pertanyaan dalam kepalanya, apakah mungkin Suzy berbohong?

“Kau berbohong. Minho tidak mungkin meninggalkanku kalau ia menyukaiku,” sanggah Sulli dengan suara bergetar.

“Aku juga tidak percaya padanya saat dia bilang begitu,” Suzy tersenyum samar. “Minho adalah pria paling egois yang pernah aku temui. Dia hanya perduli pada dirinya sendiri. Tidak ada yang tahu isi hatinya sama sekali, bahkan aku yang sudah mengenalnya sangat lama tidak bisa menembus kehidupannya tapi dia perlahan berubah karena kau, Sulli-ssi,”

Sulli memalingkan wajahnya. Menjatuhkan pandangannya pada aspal yang terlihat dari sisi jendela yang terletak disebelahnya. Ucapan Suzy terdengar seperti script paling bodoh yang pernah dibacanya.

“Aku tidak pernah melihatnya perduli pada orang lain seperti ia perduli padamu. Keputusannya untuk meninggalkanmu, itu semua demi kebaikanmu. Ia tidak mau kau terjebak dalam hubungan yang didasari kebohongan. Dia ingin kau bebas, mendapatkan kebahagiaanmu sendiri meski bukan dengannya. Ia tidak mau egois kali ini, dengan membiarkanmu di sisinya hanya akan membuatmu semakin terluka. Kau adalah yang terpenting, maka akhirnya ia mengalah.”

Mata Sulli kembali terlihat berkaca-kaca. Begitu juga Suzy yang ikut tersihir oleh pedihnya kisah cinta mereka.

“Minho mencintaimu, kumohon percayalah padaku.”

Dan kemudian setetes air mata mengalir di pipi Sulli.

Minho terbangun oleh suara dering ponselnya sendiri. Beberapa minggu terakhir ia banyak menghabiskan waktunya di apartemen dengan menonton pertandingan bola. Sama seperti Sulli, ia meliburkan diri dari kegiatan keartisannya. Toh, tidak ada sutradara yang ingin bekerja dengan aktor yang berteman dekat dengan skandal sepertinya.

Dengan mata setengah terpejam ia menjawab panggilan telepon tanpa melihat layarnya terlebih dulu. Ia menyapa dengan suara serak.

“Yeoboseyo…”

Mata Minho terbuka lebar ketika mendengar suara dari sang penelpon. Kemudian ia melihat layar ponselnya dan memelototi nama Sulli yang tertera disana.

“Kumohon jangan tutup telponnya!”

Sulli seakan bisa membaca pikiran Minho yang hendak mematikan sambungan telpon diantara mereka. Minho mencubit pipinya kemudian meringis kesakitan. Ini bukan mimpi.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Sulli setelah menghabiskan beberapa detik hanya dengan mendengar desahan napas Minho.

Minho sudah membuka mulutnya tapi kata-kata untuk menjawab pertanyaan Sulli tersangkut di tenggorokannya. Ia terlalu terkejut ketika mendengar suara itu lagi; sebuah suara yang sangat ia rindukan sejak lama.

“Oppa, kau masih disana?” tanya Sulli lagi karena tidak mendapat jawaban dari Minho. “Aku ada didepan gedung apartemenmu. Kau akan bisa melihatku jika kau buka jendelamu,”

Tanpa banyak bicara, Minho melompat dari ranjangnya kemudian membuka sedikit gorden putih yang menghias jendelanya dalam beberapa bulan terakhir ini. Benar saja, ia melihat sosok seseorang berada dibawah pohon yang berada didepan gedung apartemennya.

“Kau bisa melihatku?”

Minho melihat Sulli melambaikan tangannya. Meski tidak bisa melihat keseluruhan wajahnya yang tertutup syal dan topi, rasanya seperti Minho akan meledak karena akhirnya bisa melihat sosoknya setelah sebulan lamanya menahan rindu.

“Iya, aku bisa melihatmu.” jawab Minho dengan mata berkaca-kaca. “Apa yang kau lakukan disana? Pulanglah! Ini sudah larut malam.” tambah Minho dengan ketus.

“Aku bosan di rumah. Dan lagi, aku merindukanmu…”

Minho segera membalikan tubuhnya hingga membelakangi jendela. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia pun punya rindu yang sama dengan Sulli tapi tidak bisa mengungkapkannya. Bagiamana pun juga mereka sudah berpisah dan Minho telah berjanji untuk tidak memberikan beban lain untuk Sulli.

“Pulanglah! Ini sudah malam.” Minho mengulangi kalimat sebelumnya.

“Apa kau… meski hanya sekali… apa kau tidak pernah merindukanku?” Sulli terbata-bata.

Minho mengepalkan tangannya erat-erat. Ingin sekali rasanya memberitahu gadis itu kalau ia hampir mati karena merindukannya. Ingin juga rasanya berlari ke tempatnya demi memeluknya erat dan melarangnya pergi tapi ia tidak bisa.

“Kau ini bicara apa?” ia menghindar dari pertanyaan itu.

“Jawab saja!”

Minho kembali berbalik dan melihat Sulli dari jendelanya. “Sudahlah, aku mengantuk. Aku mau tidur-“

“Tunggu dulu, jangan tutup telponnya!” Sulli melangkah maju. Ia melambaikan tangannya keatas, memohon agar Minho tidak menutup jendala maupun sambungan telpon mereka.

“Annyeong!”

“Aniyo, Oppaaaaaa… aakhh!”

Tuut… tuut… tuut…

Kejadian itu terjadi begitu cepat.

Sulli berlari ke tengah jalan supaya Minho tidak mematikan ponselnya. Tetapi di saat yang bersamaan sebuah mobil muncul dan menabrak tubuhnya secara tidak sengaja. Tubuh Sulli sempat terangkat naik keatas kap mobil itu sebelum akhirnya jatuh membentur aspal.

Minho membeku di posisinya. Jeritan Sulli yang terdengar di telinganya melalui ponsel terasa sungguh nyata. Matanya tak berkedip setelah menyaksikan peristiwa mengerikan itu. Ia menjatuhkan ponselnya di lantai kemudian sebulir air mata lolos dari matanya ketika darah segar Sulli mulai mengalir diatas aspal.

“Sulli!!!”

.

.

“Aku memikirkanmu saat pria lain mengajakku makan malam, saat mereka mengirimiku buket bunga, meskipun kita bukan pasangan sungguhan, aku kira tidak ada salahnya jika aku menjaga perasaanmu…”

 

“… dan Oppa, tetaplah menggenggam tanganku dan menerima piala ini lagi tahun depan.”

 

“Aku menyukaimu… sangat-sangat menyukaimu. Butuh berapa lama untuk kau menyadarinya? Aku sudah terlalu lama menunggu dan bersabar, aku ingin sebuah kepastian… apakah kau juga menyukaiku atau tidak?”

 

“Dan lagi, aku merindukanmu…”

 

“Apa kau… meski hanya sekali… apa kau tidak pernah merindukanku?”

.

.

Minho berlari sekuat tenaga. Ia keluar dari unit apartemennya kemudian menuruni anak tangga karena pintu lift tidak juga terbuka. Jantungnya berdebar cepat sampai-sampai ia bisa mendengar suaranya. Matanya berair, membayangkan kemungkinan terburuk jikalau ia harus kehilangan Sulli.

Minho menghampiri tubuh Sulli yang terkulai tak berdaya diatas aspal. Wajah polosnya tampak tenang karena topi dan syalnya kini berhamburan di jalan, tidak lagi menutupi wajahnya. Malam sudah terlalu larut, tidak ada orang yang lalu-lalang disana, mempersulit Minho untuk meminta pertolongan.

“Sulli-ya, bangunlah! Sulli-ya…”

Minho mengangkat kepala Sulli dan merebahkannya diatas pangkuannya. Kepala Sulli mengeluarkan banyak darah yang membuat tangan Minho berubah merah dalam sekejap.

“Sulli-ya, ini aku! Kumohon sadarlah! Jangan tinggalkan aku, jebal…”

Air mata Minho terus mengalir. Ia menepuk pipi Sulli dengan lembut, memohon agar gadis itu membuka matanya. Tetapi gadis itu tidak menunjukan tanda-tanda kehidupan sama sekali.

“Tolong aku!!! Tolong!!”

Pikirannya sudah kalut saat tidak ada seorang pun yang melintas disana. Setiap detik sangat berharga bagi Sulli yang mungkin sedang sekarat saat ini. Ia harus segera dibawah ke rumah sakit agar tetap hidup. Minho menangis keras sambil menggenggam tangan Sulli.

Dalam pikirannya kini, setiap kenangan yang pernah dilaluinya bersama Sulli mulai mencuat satu demi satu. Keyakinannya untuk mengulang setiap kenangan itu esok hari memudar. Firasatnya sungguh buruk.

“Sadarlah, kumohon!” pinta Minho ditengah isak tangisnya. “Aku mencintaimu… sungguh mencintaimu. Kumohon jangan tinggalkan aku!” ia menaruh tangan Sulli di pipinya.

Minho memejamkan matanya. Bayangan wajah Sulli yang sedang tersenyum padanya kian jelas ditengah-tengah kegelapan. Dadanya terasa sesak, seperti oksigen di dunia ini menjauh darinya hingga ia tidak bisa benapas lagi.

“Aku mencintaimu…”

Adalah satu-satunya kata yang bisa diucapkannya. Dan untuk pertama kalinya ia merasa lega. Perasaan yang selama ini selalu disembunyikannya dari Sulli akhirnya ia berhasil mengatakannya meski Sulli tidak bisa mendengarnya.

“Aku juga mencintaimu,”

Minho membuka matanya. Dilihatnya Sulli masih tidak sadarkan diri. Ia menundukan kepalanya sedih, mengira kalau Sulli akan sadar dan kembali padanya.

“CUT!!!”

Manajer Hwang muncul dari semak-semak. Ia bertolak pinggang dan menunjukan wajah masam yang selalu ditunjukannya ketika artisnya tidak menurut.

“NG!” katanya setengah berteriak. “Sulli-ya, kau harusnya tetap diam, jangan bersuara! Aish,” ia menggerutu.

“Apa katamu?”

“Oppa, mianhaeyo… bagaimana kalau kita ulangi sekali lagi?”

Minho menoleh pada gadis yang sedang berbaring di pangkuannya. Ia yakin kalau semenit lalu gadis itu tidak sadarkan diri dengan darah mengalir dari kepalanya tapi sekarang ia nampak sehat.

“Aigoo, lupakan saja! Aku sudah malas.” Manajer Hwang tak hentinya menggerutu.

“Kau?… Ya! Ige mwoya?” Minho memekik.

Ia menatap Manajer Hwang dan Sulli bergantian. Amarahnya meluap ketika melihat kamera di tangan Manajer Hwang dan juga wajah sumringah Sulli di pangkuannya.

“Kalian membodohi aku? Aish! Yak! Apa kalian berdua tidak tahu kalau tadi aku sangat khawatir? Astaga, kalian berdua sudah keterlaluan.” Minho melampiaskan kekesalannya.

Sulli bangkit kemudian bertanya, “Kau mengkhawatirkan aku?”

Minho memalingkan wajahnya sambil menghapus air matanya yang terbuang sia-sia. “Aku tidak bilang begitu,”

“Kau bilang begitu tadi, ayo katakan sekali lagi!” Sulli merengek manja.

“Ya, tentu saja aku khawatir. Kau tertabrak dan berdarah, orang bodoh mana yang tidak akan khawatir?!” Minho berseru.

“Aigoo, kalian bertengkar lagi! Sudahlah aku tidak mau ikut campur. Kalian urus saja masalah kalian sendiri.” Manajer Hwang menyela kemudian meninggalkan mereka berdua dibawah langit bertabur bintang.

Kepergiaan Manajer Hwang meninggalkan keheningan panjang diantara mereka berdua. Meski begitu Sulli tidak henti-hentinya memandangi wajah Minho dengan senyum sumringah melengkung di bibirnya. Minho yang merasa risih meliriknya melalui ujung matanya.

“Apa yang kau lihat?” tanya Minho ketus.

“Tadi kau menangisiku dan mengatakan-“

“Aku panik tadi.” Minho menyela.

Sulli cemberut, “Apa kau mengatakan kau mencintaiku karena kau panik juga? Tidak, kan? Coba katakan sekali lagi! Ayolah, kumohon!” rengek Sulli sambil mengguncang lengan Minho.

“Aku tidak mau.”

“Kenapa tidak mau? Kau harus mengatakan kau mencintaiku supaya aku bisa mengatakan kalau aku mencintaimu juga,” Sulli merajuk.

“Kau ini sungguh kekanak-kanakan ya! Aish,” Minho mendengus sebal.

“Suzy sudah menjelaskan semuanya padaku jadi kau tidak perlu berpura-pura lagi. Aku juga tidak akan percaya kalau kau bilang kau tidak mencintaiku, sudah jelas-jelas kau bilang seperti itu tadi,”

“Aish, tadi itu aku-“

“Tidak apa-apa meskipun kau tidak mau mengatakannya. Aku akan tetap mencintaimu, Oppa, selalu dan selamanya…”

Sulli menyandarkan kepalanya pada bahu Minho saat mengatakannya. Suaranya yang lembut membelai telinga Minho dan meluluhkan hatinya. Gadis ini memang ajaib, selalu berhasil memintanya melakukan apa yang dipintanya.

“Aku, Choi Minho, mencintaimu, Sulli-ya… selalu dan selamanya…”

Minho mengaku pada akhirnya. Di bawah langit berbintang, ditemani semilir angin dan bunga-bunga yang belum sepenuhnya mekar, ia mengungkapkan isi hatinya pada gadis yang paling dicintainya. Sulli adalah nama gadis yang beruntung itu.

“Aku juga mencintaimu, Choi Minho babo!” kemudian ia tertawa berbahak-bahak.

Minho menatapnya dengan tatapan super menyebalkan tapi kemudian ia ikut tertawa bersama Sulli hingga perut mereka berdua terasa sakit karena terlalu banyak tertawa.

“Sebaiknya kita masuk ke dalam. Darah-darah palsu ini terlihat menggelikan, kau harus segera membersihkannya,” saran Minho. Ia berdiri terlebih dulu kemudian membantu Sulli berdiri dengan menggenggam tangannya.

“Aku juga tidak suka. Rasanya lengket,” Sulli merasa jijik.

Mereka kemudian berjalan berdampingan ditengah ruas jalan sambil bergandengan tangan. “Oh ya, tadi apa kau benar tertabrak mobil?” tanya Minho antusias.

“Itu bukan aku tapi Manajer Hwang. Kasihan sekali dia,” Sulli tertawa lagi.

“Astaga, kalian ini benar-benar menyebalkan ya. Kau tidak perlu melakukan hal-hal bodoh seperti ini lain kali,”

“Tidak apa-apa lagipula aku senang melakukannya. Aku adalah seorang aktris, pekerjaanku adalah berakting.”

“Dasar bodoh!” Minho mencubit pipi Sulli gemas.

“Kau juga bodoh karena menyukai gadis bodoh sepertiku!” Sulli tersenyum lebar.

Minho tidak bisa membantah apa-apa. Ia memang menyukai Sulli, sangat-sangat menyukainya melebihi apapun di dunia ini. Pada akhirnya ia ikut tertawa bersama Sulli dan mengarungi jalan panjang menuju apartemennya tanpa melepaskan tangannya dari genggaman Sulli.

END

Catatan admin : Ngegantung ??? Yeees, , mimin sih ngerasainnya gitu. 😀 Sequel ?? Atau epilogue ?? Langsung menuju authornya yaaa, di atas udah mimin selipin kontaknya. Mimin kemarin udah minta dibikinin sequel, cuma dia bilang, liat respon pembaca dulu. Kalo positif, ada lanjutannya. Kalo enggak, yaaah, tetep mimin paksa untuk buat. 😀 hahahaha, , menurut kalian gimana ?? Tinggalin komentar seperti biasa ne. . #gamsah 😀

115 thoughts on “Behind The Scene [END]

  1. Kirain bnrn sulli ketbrak mbil. Trnyta cma akting. Jail ΒªªªηǤ³³ε† sh sulli smpai buat minho ketakutan gtu. Tp bgs jg akting πƴª bsa bkin minho mengakui persaan’y k sulli.

  2. Ya mpun Thor.. Gue kirain si sulli betulan Ketabrak mobil -_-
    Tapi Deabak lah (y) akhirnya mereka sama-sama tahu perasaan masing-masing.. Fellnya dapet banget thor.. Aku kirain td ini ff bakalan Sad ending Eh,tapi Happy ending!! Makin Cinta deh Sama Minsul Couple :*

  3. Ciat ciat ciaaaat!!!
    Akhirnya… (´⌣`ʃƪ)
    Terimakasih Jinki, sudah merelakan Sulli mengejar kebahagiannya…
    Terimakasih Suzy, udah jadi pembuka jalan buat MinSul…
    Terimakasih Manager Hwang, udah rela akting ketabrak mobil demi mendapati pengakuan Minho soal perasaannya ke Sulli…
    Terimakasih Minho, udah mau jujur dan terbuka… Jaga uri Sulli baik-baik ya! 😉 Jangan sampai dia menangis lagi… (ɔ ˘⌣˘)˘⌣˘ c)
    Terimakasih Sulli, untuk kesabaranmu dalam penantian sehingga membuat segalanya menjadi mungkin… MinSul ♡
    Terimakasih admin, udah memposting FF ini dan terimakasih udah perjuangin kelanjutan FF ini… 😀
    Last buat not least, terimakasih author, ceritamu KEREN! ((y) ˆ ▿ˆ) (y)
    Salam hangat,
    Chinchin. 🙂

  4. Keren ff nya, kenapa aku baru baca sekarang ya ni ff, minsul couple itu couple yang salah satu saya suka jadi seneng kalau masih ada ff yang baik kaya begini 💓👏

  5. A a a pas adegan sulli in ditabrak rasanya nggak kuat baca kayak udah tau pasti ujung ujungnya sad ending 😯tapi pas baca kelanjutanya wajah daebak kekuranganku banget 👍👍👍👍👍👍👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s