Gone [One Shoot]

goneWriting original : L.S ( storynotebok )| Cast: Choi minho , Choi sulli

Other cash : Lee taemin

Genre: sad, drama |

Length: oneshoot |

Rate: PG+15

Themes Song : Plein Soleil / Inevitability ( Various Artists OST beyond the could )

Storynotebok

=======================

Adilkah jika aku dilahirikan seperti ini? Lemah tak berdaya, rapuh serapuh kayu lapuk yang dimakan usia .

Adilkah jika aku hidup dan kemudian mati tanpa melakukan hal yang kumau terlebih dahulu? Hanya dapat menatap yeoja normal lain yang dengan bangganya berlarian kesana kemari tanpa takut kesadaran mereka menurun dan mati Menyedihkan.

terkadang aku mengutuki diriku yang tak dapat melakukan lebih karena penyakit ini, membusuk dirumah ini seorang diri Aku menyerah…..

Bahkan sekuat apapun aku bertahan semua tak berguna. Aku akan tetap diposisiku, Menunggu kematian datang dan membawaku pergi…..

.
.

“ ini saatnya kau minum obat……” seorang namja bertubuh tegap datang. membawakan senampan obat beserta air mineral ditangannya. Mendekatiku yang terbaring dengan masker oksigen dihidung juga mulutku.

“a-apakah oppa datang? aku ingin…….bertemu oppa……” kataku tersenggal. Menyingkirkan masker oksigen dimulut juga hidungku.

Menatap namja bernama minho itu. menatap minho yang kini memegang tangan kiriku yang membiru karena selang infus yang beberapa kali ditancapkan.

“………………………………..taemin sedang sibuk, kali ini bagaimana jika aku  yang menemanimu…” jawab minho . Duduk disisi ranjangku menatapku dengan ekspresi datarnya.

Ekspresi datar yang selalu ditunjukkannya padaku. Tak ada senyuman bahkan jika dia marah sekalipun dia tak pernah menunjukkannya didepanku.

Aku mengangguk lemah. sedikit membangkitkan tubuhku agar menyandar pada kepala ranjang. Menerima obat yang minho berikan. Meminumnya dengan segelas air mineral kedalam mulutku.

“aku akan mengambilkan selimut hangat lagi untukmu…tubuhmu sangat dingin” ucapnya. menyentuh pipiku dengan punggung tangannya. Memeriksa keadaankku. membuatku sekali lagi aku mengangguk. Menyetujui perkataannya.

“aku segera  kembali…..” minho memegang tanganku sekilas. membangkitkan tubuhnya. berjalan keluar kamar ini.

menutup kembali pintu kamarku yang tadi sempat terbuka. Mendengar derap langkah minho yang berlahan semakin jauh.

Kuletakkan masker oksigen diatas meja. Menyembunyikan kedua tanganku dibalik selimut, entah mengapa rasanya udara dikamar ini berubah sangat dingin sekarang.

memejamkan mataku beberapa saat sebelum akhirnya membuka kembali mataku merasakan sesuatu didalam kamar ini. aku merasa seperti ada seseorang yang sedang mengawasiku dan itu membuatku tak nyaman.

Mengarahkan pandanganku kesekeliling kamarku. Mencari sosok tersebut. Namun berkali-kali mataku berkeliling tak ada siapapun kecuali aku. hanya terlihat tirai yang berterbangan tertiup angin  musim dingin satu-satunya jendela dikamar ini…

Sepertinya minho lupa menutup jendelanya…Batinku.

Menggerakkan tubuh lemahku kesisi kanan ranjang bermaksud menutup jendela itu. namun baru saja kucoba untuk membangkitkan tubuhku, kakiku terasa mati rasa dan memaksaku kembali terduduk.

menggerakkan tanganku Meremas kulit kakiku kuat. Memukul-mukul kedua kakiku dengan kedua tanganku frustasi.

ini memang bukan pertama kalinya kakiku mati rasa, ini sudah puluhan kali namun tetap saja aku akan marah ketika hal ini terjadi.

Jujur aku merasa tak berguna. Apa yang ingin kulakukan selalu tak berhasil dan itu membuatku seperti orang bodoh.

“jangan paksakan dirimu….. “ sebuah suara mengagetkanku. Suara seorang namja yang sangat kukenal yang kini berjalan menghampiriku.

“oppa………” panggilku. Sedikit terkejut melihat namja itu ada disini. namja yang telah 2 bulan ini menjadi tunanganku. , lee taemin , ya dia tunanganku.

seseorang yang mau menerima semua kekuranganku. Bahkan dia tak peduli meski aku memiliki penyakit mematikan sekalipun.

“ada apa?kenapa kau memaksakan dirimu seperti tadi?” tanyanya. Merendahkan tubuhnya tepat didepanku. menatapku dengan ekspresi khawatirnya. “aku hanya ingin menutup jendela itu…aku hampir membeku karena minho lupa menutupnya” kataku.

Menunjuk jendela terbuka yang berada 10 langkah dariku. taemin menolehkan kepalanya. Menatap jendela itu beberapa saat sebelum akhirnya membangkitkan tubuhnya. menutup jendela terbuka itu.

“sebaiknya kau berbaring….wajahmu terlihat sangat pucat” ucap taemin mendekatiku kembali. Merapatkan tubuhnya padaku. Memelukku dengan tubuh hangatnya.

“gwencana? Kenapa tubuhmu sedingin ini?” tanyanya. Membelai rambut panjangku lembut.

“…gwencana………” jawabku. Membalas pelukannya. Menyandarkan pipi kiriku diperut datarnya.

“miane karena beberapa hari ini tak sempat menemuimu, ada beberapa yang harus kulakukan….maukah kau memaafkan aku?” taemin melepas pelukannya. Merendahkan tubuhnya kembali. menempelkan telapak tangannya dipipi kananku.

Aku tersenyum. meraih tangan taemin Menggenggamnya erat.

”gwencana, aku dapat mengerti kesibukanmu……asalkan oppa masih mengingatku itu sangat cukup”

“bagaimana jika lusa aku mengajakmu berjalan-jalan? Ada restoran yang sudah lama ingin kukunjungi bersamamu…..”

“jinjjahyo ? Kau benar-benar ingin mengajakku pergi?” Dia mengangguk.

”lusa aku akan menjemputmu, aku berjanji kita akan bersenang-senang bersama…..” katanya sembari menyunggingkan senyumnya.

“aku datang membawakan selimut….” Kutolehkan kepalaku. Menatap minho yang telah berada didalam kamar ini dengan tumpukkan selimut ditangannya.

 “minho-ya…..” panggilku.

” hyung kau disini?” tanya taemin Membangkitkan tubuhnya.

“keadaan sulli sedang tidak sehat . sebaiknya kau menemuinya lain waktu….” Aku mengerutkan keningku.

“minho apa yang kau katakan? Oppa baru saja datang, kenapa kau mengusirnya seperti itu…..”

“dokter bilang kau sedang tidak sehat, karena itulah dia menyuruhmu beristirahat total untuk beberapa hari ini”

“tapi aku baru saja bertemu oppa setelah beberapa hari tak bertemu….” protesku.

“sulli . Minho benar……kondisimu sedang tidak baik. Jika aku tetap berada disini aku hanya akan memperburuk keadaanmu”

“tapi aku masih ingin bersamamu….” kugenggam tangan taemin kuat. Tak ingin dia pergi.

“lusa aku akan memenuhi janjiku untuk mengajakmu ke restoran seperti perkataanku tadi….karena itulah sekarang dan besok kau harus beristirahat dengan baik”

“oppa….”

“aku berjanji……” taemin menunjukkan jari kelingkingnya. Mencoba meyakinkan aku.

Kuhela nafasku dalam. Melepas tangan taemin berlahan. membiarkan dia pergi meski didalam hatiku terasa berat.

Taemin membungkukkan tubuhnya. mengecup sekilas keningku sebelum akhirnya berjalan pergi.

meninggalkan kamar ini. meninggalkan aku…

“aku akan membantumu…..” minho berjalan kedepanku. Mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya. Membantuku kembali berbaring. Menutupi tubuhku dengan selimut yang tadi dibawanya ditambah coat hangat yang kini telah melingkar ditubuhku.

 “dia akan mengajakmu pergi?” pertanyaan minho barusan membuyarkan lamunanku. Memaksaku mengarahkan kedua mataku padanya yang terlihat sedang membetulkan selimutku.

“kau mendengarnya?” tanyaku berbalik. minho menghentikan pekerjaannya menatapku

“…..kau masih percaya padanya?”

“……….apa maksudmu?”

“kau  lupa? ini sudah kesekian kalinya dia mengatakan akan mengajakmu pergi. tapi pada akhirnya bukankah dia selalu mengingkarinya? Mengatakan hal tak masuk akal sebagai alasannya….”

“…………tapi dia sudah berjanji..”

“sebelumnya dia juga berjanji  padamu….” katanya. yang kali ini membuatku terdiam.

Minho benar ini bukan pertama atau kedua kalinya taemin berjanji akan mengajakku pergi.

ini sudah ke 5 kalinya dan pada akhirnya taemin selalu membatalkan janjinya begitu saja dengan alasan tak masuk akal yang entah mengapa selalu membuatku percaya.

“apakah kau tetap mempercayainya?” ulangnya.

“…….kali ini oppa tak akan membohongiku lagi” kataku tanpa ragu.
Minho diam. membuang pandangannya dariku.

lebih memilih menundukkan kepalanya dalam. Menghela nafasnya kemudian membangkitkan tubuhnya. Berjalan menjauhiku. Keluar dari dalam kamar ini tanpa mengatakan sepatah katapun lagi.

Aku mengerutkan keningku. Tak mengerti kenapa minho bersikap seperti itu. dia memang selalu terlihat aneh, namun keanehan itu semakin menjadi begitu dia melihat taemin.

Ekspresi tak sukanya selalu dapat kubaca saat taemin berada disisiku dan aku tak tau kenapa. Apa minho membenci taemin ? Tapi kenapa?

apakah taeminberbuat kesalahan padanya? entahlah, sampai detik ini pun aku tak pernah dapat mengerti apa yang ada dipikirannya. .

======

Author P.O.V..

“tunggu……..” minho meraih tangan taemin yang hendak menuruni anak tangga untuk turun.

Menatap taemin yang kini berbalik kearahnya berganti menatap minho.

“wae?” tanya taemin datar.

“aku ingin kau hentikan semua ini…….” jawab minho .

Menatap tajam taemin.

“berhenti mendekati sulli maksudmu?”  tanya taeminn berbalik.

”………wae? apakah sekarang kau kasihan padanya? atau mungkin sekarang kau mencintainya?” Tersenyum sinis pada minho sembari melepaskan tangan hyungnya dari lengan kirinya.

“……………”

“sejak awal bukankah kita telah sepakat? Rencana ini bahkan datang darimu……”

“….kau harus menjauhinya, pergi kemanapun asalkan tak berada disisinya…lupakan apa yang pernah kukatakan tentang sulli padamu dan jangan pernah datang kembali”

“melupakan kau bilang? Apakah kau gila? Aku telah menunggu saat-saat itu datang dan kau bilang untuk melupakannya?”

“kau dapat cari yeoja lain….aku akan mencarikan pengganti sulli untukmu”

“hey ada apa denganmu? Kenapa kau berubah seperti ini? kau yang telah memasukkan aku dalam rencanamu bukan? dan setelah semua berjalan sesuai rencana kau ingin mengacaukannya?”

“a-aku mohon jauhi sulli……kali ini aku mohoh dengarkan aku taemin”

“aku tak bisa….aku akan akan tetap  melakukan rencana itu meskipun tanpa bantuanmu sekalipun……” taemin berbalik. Menuruni tangga meningggalkan minho yang tak bergerak ditempatnya. .

==========

Sulli P.O.V..

kududukan tubuhku. Menyandarkan punggungku pada bagian kepala ranjang. Menatap kamar besarku yang kini terlihat gelap.

Bunyi jam antik appa berdentang keras dan aku tau waktu telah menunjukkan tengah malam namun entah mengapa mataku enggan untuk kupejamkan.

aku lelah. Atau lebih tepatnya aku bosan karena setiap harinya hanya berada diatas ranjang tanpa melakukan apapun. Aku butuh penyegaran, mungkin berjalan-jalan keluar akan membuatku lebiih baik…

Aku menghela nafasku panjang. Mencabut selang infus ditanganku. Menyingkirkan selimut yang  menutupi tubuhku. Menggeser tubuhku kesisi ranjang.

“aku mohon….bantulah aku….” lirihku. Meremas kaki kananku. Berlahan membangkitkan tubuhku dan kali ini tak terjadi apapun. Kakiku terasa kuat dan itu artinya kakiku kembali normal.

memutuskan melangkahkan kakiku keluar kamar berlahan. melewati tangga juga lorong untuk sampai kepintu utama. Meraba udara mencoba menggapai sesuatu ditengah kegelapan.

Mengarahkan pandanganku keluar jendela besar dilorong penghubung pintu utama. Mendapati minho yang sedang berdiri ditaman itu sembari menatap bulan dilangit.

Minho? Apa yang dia lakukan disana? .batinku.

terus mengamati keluar jendela. Menatap minho yang kini memejamkan matanya.

Menatap cahaya bulan yang entah mengapa terlihat memancar padanya. Ku gerakan kembali kakiku. Berjalan kearah pintu utama untuk menghampiri minho yang berada ditaman depan rumah .

“apa yang kau lakukan disini?” tanyaku setelah berada 5 langkah darinya.

minho membuka matanya. Menolehkan wajahnya padaku. Menatapku yang juga menatapnya.

“seharusnya aku yang berrtanya apa yang kau lakukan disini?”

“aku bertanya padamu kenapa kau malah balik bertanya?”

“kembalilah kekamarmu, udara malam tak baik untuk kesehatanmu….” katanya datar. Memundurkan tubuhnya duduk disatu-satunya kursi panjang ditaman ini.

“kau tak berhak mengaturku…..” protesku. Membuat minho diam .

“apakah kau ingat pertemuan pertama kita?”

“entahlah……”

“kau melupakannya? Aish, padahal aku begitu mengingatnya….” aku  mengerucutkakan bibirku.

“aku tak dapat mengingat apapun tentang masa laluku bukan karena aku ingin melupakannya…..hanya saja semakin aku mengingatnya semua yang kuketahui berlahan mengabur dan hilang” katanya datar.

“b-benarkah?” kataku berpura-pura. Menatap dalam minho yang kini tertunduk.

masa lalunya memang sangat menyakitkan mungkin karena itulah dia tak dapat mengingat apapun. Bahkan mungkin dia tak mengingat kecelakaan 15 tahun lalu yang berhasil merengut 2 orang yang dikasihaninya. Aku memang tak tau kejadian yang sebenarnya.

Appa hanya mengatakan kedua orang tuanya terbunuh dalam kecelakaan dan sejak itulah minho tinggal dirumah ini denganku.

“bagaimana jika aku yang menceritakannya padamu?”

“aku tak ingin mendengarnya….”

“w-wae?”

“aku yakin kau hanya ingin menceritakan kejelekanku dimasa lalu…”

“aish mana mungkin aku menceritakan kejelekanmu? Bagaimana jika Cerita tentang kau yang sangat suka menolongku…aku rasa itu bukan hal memalukan”

“aku menolongmu?” tanyanya yang kujawab dengan anggukan kepalaku.

“ne…..saat itu dengan beraninya kau mendorong anak-anak nakal yang memiliki tubuh besar untuk menolongku”

“………….benarkah aku melakukan itu?”

“yaak apa kau kira aku berbohong?” kataku kembali mengerucutkan bibirku.

”jujur………saat itu aku sangat menyukaimu…..aneh tapi itu yang kurasakan, saat itu aku bahkan mengikuti kemanapun kau pergi”

Perasaan suka yang sampai detik ini masih kurasakan padamu, perasaan suka yang tak dapat hilang meskipun taemin telah menjadi pendampingku…

“kau bodoh….” Aku melebarkan mataku. begitu terkejut mendengar minho mengataiku bodoh.

“m-mwo?” mengerutkan keningku menatapnya tajam.

“apakah kau tipe yeoja yang mudah jatuh cinta? Aish, bukankah aku hanya menolongmu sekali tapi kenapa kau begitu mudah menyukaiku?”

“i-itu karena…….”

“jangan membohongiku….aku tau kau hanya melebih-lebihkan agar aku merasa senang” minho menatapku sekilas.

Membangkitkan tubuhnya berjalan dua langkah dari tempatnya tadi duduk. Berdiri memunggungiku.

Apakah itu artinya dia tak pernah sekalipun menyukaiku? Tak pernah menyukai aku yang memiliki penyakit ini? Aku menundukkan kepalaku. Mengepalkan tanganku erat.

Menghela nafasku sebelum akhirnya membangkitkan tubuhku. berjalan menjajari minho yang berada dua langkah dariku.

“……kau benar, aku memang berbohong mengatakan menyukaimu……aku hanya ingin melihat ekspresimu, karena aku benci melihat wajah datar yang selalu kau tunjukkan padaku” kataku dengan suara sedikit meninggi.

Membalikkan tubuhku dan berlalu meninggalkannya.

Bodoh….. .

================

Author P.O.V..

Storynotebok

Sulli mendudukkan pantatnya disebuah kursi didekat jendela kamarnya.

Mengambil papan juga cat lukis yang tergeletak diatas meja. Mengeluarkan isi cat berwarna merah diatas papan lukisnya. Menempelkan sebuah kuas diatas cat lukisnya yang kemudian ia ulaskan keatas kanvas tepat didepannya.

“bukankah kau ada janji dengan taeminn?” minho masuk kedalam kamar sulli.

membawa nampan berisi beberapa butir obat juga air mineral.

“………” sulli tak menjawab. Lebih memilih melanjutkan melukisnya.

“taemin tak datang? lagi?” tanya minho Menatap sulli yang berada 10 langkah darinya.

” bisa kah kau diam . Dan tak mencampuri urusanku dengan adik palsumu ? ? ” ucap sulli yang membuat mata minho terbuka lebar.

Dia tak mengerti kenapa sulli dapat tahu tentang taemin yang memang sebenarnya berpura-pura menjadi adik minho yang sebenarnya telah meninggal , bukan terpisah dan di adopsi keluarga lain seperti yang minho dan orang tuanya ceritakan pada keluarga sulli  .

“apa kau kaget? Aku tau semuanya oppa ? …..aku tau tentang rencanamu yang akan membunuhku dan menguasai semua hartaku”

sulli membangkitkan tubuhnya. menghampiri minho yang tak bergerak dari tempatnya.

“kenapa kau lakukan ini? apa salahku? kenapa hanya gara-gara harta kau ingin membunuhku? Kenapa kau tega merencanakan semua ini?!” isak sulli.

memukul-mukul dada bidan minho yang mematung.

Memalingkan wajahnya. melebarkan matanya sekali lagi begitu menyadari sosok taemin yang berdiri sembari menodongkan pistol beberapa langkah dibelakang sulli.

“kau dengar? Aku akan tetap  melakukan rencana itu meskipun tanpa bantuanmu sekalipun……” taemin menyeringai.

Mengarahkan pistol ditangannya pada sulli. menekan pelatuk pistolnya hingga terdengar suara letusan yang sangat keras.

“ANDWAEEE !!!!!!!!!!!!!”  teriak minho. Membangunkan tubuhnya dari tidur nyenyaknya.

Mengatur nafasnya, menatap sekelilingnya liar menyadari jika dia baru saja bermimpi buruk.

Minho memegangi dahinya dengan telapak tangannya. Menyibakkan helaian rambut basah karena keringat dari wajahnya.

mencoba mengingat mimpi buruk yang tadi dialaminya.

‘kenapa kau lakukan ini? apakah hanya gara-gara harta kau ingin membunuhku? Kenapa kau tega merencanakan semua ini?!’

Minho meremas rambutnya. Menyibakkan selimutnya kemudian turun dari ranjangnya. Berjalan keluar kamarnya, menuju kamar sulli.

“untukmu…….” minho menghentikan laju kakinya. Menatap keluar jendela, melihat taemin yang memberikan sebuket bunga pada sulli.

“gumawo oppa……”

“bagaimana keadaanmu hari ini?”

“jauh lebih baik….”

“kalau begitu besok aku akan datang untuk mengajak pergi…..”

“kau harus menepati janjimu oppa…..”

“tentu saja, bukankah aku sudah berjanji?”

Minho memundurkan tubuhnya. menempelkan punggungnya pada dinding dibelakangnya. Merendahkan tubuhnya. duduk dilantai tempatnya berada sekarang. pikirannya melayang, seperti mesin waktu yang mengingatkannya tentang semua kebodohan yang ia lakukan.

jujur minho tak pernah sekalipun melupakan masa lalunya. Dia berbohong pada sulli agar kebencian didalam dirinya tak kembali meluap dan menyakiti sulli.

kebencian yang teramat hingga membuatnya merencanakan rencana gila yang juga melibatkan taemin didalamnya.

Ini memang bukan salah sulli, hanya saja sulli lahir dari orang yang telah membunuh kedua orang tuanya. Kenyataan pahit yang pada awalnya tak diketahui olehnya dan terungkap begitu dengan tak sengaja ia mendengar pembicaraan ayah sulli yang telah mengadopsinya.

Sejak saat itu kebenciaannya memuncak, merencanakan semua kejahatan yang ingin ia berikan pada keluarga sulli.

membunuh semua keluarga sulli dan menguasai hartanya.  Merencanakan kecelakaan yang pada akhirnya merengut ayah dan ibu sulli.

saat itu rasa dendamnya dapat teredam, namun tidak dengan taemin yang bersi keras untuk mendapatkan semua harta sulli.

.
.
.

“besok saat matahari tenggelam aku akan mengakhirinya…..”  minho membuyarkan lamunannya. Mengarahkan kedua bola matanya pada taemin  yang juga menatapnya.

“aku akan membawa sulli ketebing didekat laut dan menjatuhkan dia disana….” lanjut taemin .

Mengarahkan pandangannya keluar jendela menatap awan putih dilangit yang cerah.

Minho membangkitkan tubuhnya. mendekati taemin. mencengkeram kerah kemeja yang taemin gunakan kuat.

” Aku tak akan pernah membiarkan kau melakukan itu ! ! “ucap minho Memberikan penekanan disetiap kalimatnya.

” aku yakin kedua orang tuamu akan merasa sedih melihatmu seperti ini…..aku yakin mereka kecewa karena melihatmu tak bisa membalaskan dendam mereka”

“apakah tak cukup dengan membunuh kedua orang tuanya? sulli tak bersalah…..dia bahkan tak tau apapun tentang kejadian itu”

“tapi dia tetap anak kedua orang itu, darah mereka mengalir didalam tubuhnya….mereka yang membuat kedua orang tuamu tergeletak selamanya didalam tanah. seharusnya kau pikirkan dendam mereka bukan sebaliknya memikirkan anak pembunuh itu” minho diam.

melepaskan cengkeramannya pada taemin . merendahkan tubuhnya. mendudukan pantatnya didinginnya lantai. Menatap nanar lantai itu.

“jika kau mencintai kedua orang tuamu biarkan aku membunuhnya….jika kau menyayangi kedua orang tua mu , aku ingin kau tutup mulutmu dan berpura-puralah tak mengetahui apapun seperti apa yang kau ucap kan padaku ” ucap taemin datar.

Merapikan kemejanya kemudian berjalan pergi. Membiarkan minho yang terlihat tertekan.

Minho bahkan mengalirkan setetes air matanya. Dia benar-benar dilema.

Disatu sisi minho ingin melindungi sulli namun disisi lain dia juga ingin taemin membunuh sulli untuk membalas dendam kedua orang tuanya. .

.
.
.

“saatnya kau minum obatmu…..” minho meletakkan nampan yang  dibawanya diatas meja.

Menatap sulli yang sedang melukis sesuatu diatas kanvasnya.

“…………………aku akan meminumnya nanti….” jawab sulli tanpa sedikitpun menatap minho.

Lebih memilih melanjutkan kegiatan melukisnya.

“kau bisa lanjutkan lukisanmu nanti….dokter bilang kau tak boleh terlambat meminum obatmu”

“……..”

“kau dengar? Kau bisa lanjutkan acara melukismu setelah meminum obatmu….” ulang minho.

Mencoba mengingatkan sulli yang hari ini terlihat aneh.

“tapi waktuku tak banyak……aku harus menyelesaikannya sekarang juga” minho mengerutkan keningnya. Menghela nafasnya dalam.

”sore nanti aku akan datang kemakam orang tuaku, aku akan kembali besok….” Sulli menghentikan gerakan tangannya saat minho herbicara .

terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menurunkan tangannya untuk meletakkan kuas lukisnya.

Mengepalkan tangannya begitu getaran terlihat jelas di tangannya.

“aku sudah katakan kepada pelayan kim untuk mengurus obatmu….karena  itu kau tak perlu cemas”lanjut minho . Menatap sulli yang belum juga memandang kearahya.

“aku akan berkemas  sekarang…..jangan lupa minum obatmu” minho membalikkan tubuhnya. bermaksud kembali kekamarnya.

“………..b-bisakah kau temani aku?” minho menolehkan wajahnya begitu sulli bertanya padanya.

membalikkan tubuhnya kembali menatap sulli yang kini bangkit dari duduknya.

“aku ingin berjalan-jalan didekat danau, maukah kau menemaniku?” ulang sulli. .

.
.
.

“cuaca hari ini sangat bagus” sulli menengadahkan kepalanya. Menatap awan putih diatasnya senang. Menatap pantulan cahaya yang berkilau begitu menyentuh air danau yang tenang.

Melangkahkan kakinya. Melewati ribuan dedaunan kering untuk mencapai tepi danau. Melemparkan beberapa kerikil yang sempat dipungutnya kedalam danau.

”sudah sangat lama aku tak datang kemari….tempat ini sudah sangat berubah” katanya setelah melemparkan semua batu krikil ditangannya sembari mengamati sekelilingnya.

“itu karena tak ada lagi orang yang ingin datang kemari hingga tempat ini tak terurus dengan baik….”

“padahal tempat ini satu-satunya tempat kenanganku dengan appa dan oma….” sulli tersenyum getir.

Mengambil setangkai bunga mawar kering disisi kanannya yang kemudian ia lemparkan jauh ketengah danau. Membalikkan tubuhnya duduk dikursi panjang dipesisir danau.

“kau tau? appa pernah mengatakan jika suatu hari seseorang berbuat kesalahan kepadamu kau harus berlapang dada untuk memaafkannya…begitupun sebaliknya jika kau mempunya kesalahaan, jangan segan untuk meminta maaf” minho memandang kearah sulli. mendengarkan dengan seksama kata demi yang terlontar dari bibir sulli.

“karena jika itu tak kau lakukan akan timbul dendam yang akan membuat seseorang terluka…” minho melebarkan matanya.

“entah apa yang telah orang tua dan aku lakukan aku ingin kau memaafkan kami…..karena……kelak jika kau melakukan kesalahan besar sekalipun aku akan tetap memaafkanmu….” sulli menolehkan wajahnya kearah minho .

”kau mau kan memaafkan kami?” sulli mengangkat tangannya. menunggu jabatan minho yang tak bergerak dari tempatnya.

Minho hanya menatap nanar uluran tangan sulli tanpa menggerakkan sedikitpun tubuhnya.

“ah . Baik lah a-aku yakin kau akan memaafkan kami…………………..  baiklah sebaiknya kau pergi, matahari hampir tenggelam , aku tak ingin membuatmu terlambat” sulli menurunkan kembali tangannya. lagi-lagi tersenyum getir.

“……………………………………..aku akan mengantarmu pulang”

“pelayan kim akan datang kemari 10 menit lagi, kau tak perlu mencemaskan aku…..pergilah” sulli tersenyum.

mengibaskan tangannya agar minho segera pergi.

Minho diam sesaat . Tapi tak lama dia terlihat bergerak .

“kalau begitu aku akan pergi setelah pelayan kim datang….”

“yaak, jika kau menungguiku aku yakin kau akan terlambat datang keperayaan orang tuamu….gwencana, kau boleh pergi…” minho menghela nafasnya dalam.

Menundukkan kepalanya beberapa saat sebelum akhirnya dia membalikkan tubuhnya .

” tunggu . . . ” ucap sulli lagi tiba-tiba membuat minho tak jadi melangkahkan kakinya untuk  berjalan meninggalkan sulli.

” wae mmmph . . . ” tanya minho membalik badan kembali . tapi matanya terlihat melebar karena dengan tiba-tiba sulli mendekatinya dan mencium bibir minho sesaat .

Ciuman itu singkat . Karena setelah berhasil menyentuhkan bibirnya dengan bibir minho . Sulli langsung menyingkir dan membalikkan badannya memunggungi minho .

” ……… “

” g – gu – gumawo . Selama ini kau mau berada di sisiku untuk menemaniku . . Oppa ….. ” ucap sulli gagu tanpa sedikitpun mengerakkan badannya untuk sekedar melihat minho .

Minho lagi-lagi hanya dapat terdiam .

” pergi lah . Jangan mengkhawatirkan ku ….. ” lanjut sulli . Dan hal itu langsung di turuti minho .

Melangkahkan kakinya pergi .Meninggalkan sulli yang kini mulai mengeluarkan tetes demi tetes air matanya . Terisak begitu tak lagi mendengar suara langkah minho dan bersamaan dengan itu sinar matahari pun perlahan berubah menjadi kelabu.

===========

 Minho .P.O.V..

‘appa pernah mengatakan jika suatu hari seseorang berbuat kesalahan kepadamu kau harus berlapang dada untuk memaafkannya…begitupun sebaliknya jika kau mempunya kesalahaan, jangan segan untuk meminta maaf’ .

‘karena jika itu tak kau lakukan akan timbul dendam yang akan membuat seseorang terluka…’ ku teguk segelas soju ditanganku.

Menyandarkan punggungku pada dinding makam abeoji letih. Mengingat perkataan sulli yang entah mengapa terus berputar diotakku.

Jujur rasanya hatiku tak tenang. Rasanya hatiku memberontak dan berteriak mengatakan sulli tak bersalah, dia tak sepantasnya mati karena kesalahan yang tak pernah dilakukannya.

Namun aku juga tak dapat melakukan sesuatu untuk menghentikan taemin yang begitu bernafsu membunuh sulli untuk membantuku .

Masih ada sedikit kebencian yang memaksaku berdiam diri, bersikap acuh meskipun aku tau itu salah.

Meski aku tau dia yeoja berharga yang seharusnya kulindungi. Kutuangkan lagi soju kedalam gelas kecil ditanganku.

Meneguknya lagi hingga tak tersisa.

‘entah apa yang telah orang tua dan aku lakukan aku ingin kau memaafkan kami…..karena……kelak jika kau melakukan sesuatu kesalahan besar sekalipun aku akan tetap memaafkanmu….’

Wajah itu. aku sangat ingat ekspresi sedih yang sulli tunjukkan ketika mengatakan hal itu.

Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba sulli meminta maaf padaku.

sulli tak pernah berbuat sesuatu yang membuatku marah tapi kenapa dia mengatakan maaf. dia bahkan menyertakan kedua orang tuanya didalam kata-katanya.

aku menengadahkan kepalaku. Menatap sunrise yang berwarna kekuningan. Mengingat mimpi yang malam kemarin kuimpikan.

‘Aku tau semuanya oppa…..aku tau tentang rencanamu yang akan membunuhku dan menguasai semua hartaku’

Mungkinkah sulli….. kulebarkan kedua bola mataku selebar-lebarnya. Membenarkan posisi dudukku.

‘besok saat matahari tenggelam aku akan mengakhirinya…..aku akan membawa sulli ketebing dekat laut dan menjatuhkan dia disana….’

Apakah dia mendengar pembicaranku dengan taemin siang kemarin?

‘kau bisa lanjutkan lukisanmu nanti….dokter bilang kau tak boleh terlambat meminum obatmu’

‘tapi waktuku tak banyak……aku harus menyelesaikannya sekarang juga’

Kubangkitkan tubuhku. berlari cepat menuju mobilku yang terparkir diluar pemakaman.

Masuk kedalam mobilku. memacu mobilku cepat meninggalkan pemakaman abeoji dan oma berniat kembali kerumah sulli.

Jika sulli tau semuanya kenapa dia diam? kenapa dia tak menyalahkan aku dan bersikap tak terjadi apapun? .

===========

Storynotebok

Author P.O.V..

“silahkan menikmati…..” seorang pelayan meletakkan pesanan terakhir taemin dan sulli yang terlihat akan menyantap hidangannya.

“terima kasih….” ucap sulli sebelum pelayan itu pergi..

“aku tak melihat minho hyung saat datang? apakah dia pergi kesuatu tempat?” tanya taemin . Meletakkan serbet putih dipangkuannya.

Pelindung agar rempah makanan yang akan dimakannya tak menodai pakaian juga celananya.

“ne…..minho pergi kemakam kedua orang tua kalian . ”

“benarkah?”

“….ne” sulli mengangguk.

Mengambil pisau dan garpu disisi kanan dan kiri piring sajinya. Mengiris steak didepannya berlahan.

“ah ya, bagaimana jika sepulangnya dari restoran ini kau temani aku kesuatu tempat?” Sulli menghentikan gerakan maju mundur pisau ditangannya.

Terdiam beberapa saat begitu mendengar taemin mengatakan hal itu.
Ya . jujur jantung sulli berdebar sangat kencang.

“sudah lama sekali aku ingin mengujungi pantai, aku ingin merefreskan pikiranku disana..” ucap taemin menatap sulli yang tertunduk dengan tajam dan senyum liciknya  .

“……………………………….aku juga ingin sekali mengunjungi pantai denganmu oppa” sulli mengangkat wajahnya.

memberikan senyum terbaiknya pada taemin.

” jinjjah ? .. baiklah . Cha , lanjutkan makanmu dulu … “

.
.
.
.

Minho menghentikan mobilnya tepat didepan rumah sulli. membuka pintu mobilnya, berlari cepat masuk kedalam rumah itu, melewati lorong untuk sampai ke kamar sulli.

Membuka lebar-lebar kamar sulli yang tak berpenghuni. Nafasnya terlihat memburu, mengarahkan pandangannya sekelilingnya tak menemukan apapun kecuali sebuah lukisan disudut kamar yang membuat kedua matannya terbuka lebar.

Minho melangkahkan kakinya berlahan. menghampiri lukisan mirip dirinya yang ia tahu hasil dari tangan sulli.

menyentuhkan ujung jarinya diatas lukisan itu, menemukkan huruf hangeul kecil yang mengatakan

‘aku mencintaimu Choi Minho ’.

Membuat Air mata minho kini seketika mengalir. Menjatuhkan tubuhnya ketika kakinya terasa  lumpuh kehilangan tenaga.

“apa yang sudah kulakukan…..” guman minho meremas rambutnya dengan kedua tangannya. meringkuk penuh penyesalan. .

.
.
.

“kita sampai…..” Sulli turun dari dalam mobil taemin sesampainya mereka disebuah tebing curam yang berada diatas  laut.

Mengarahkan pandangannya jauh. Marasakan hawa dingin yang terasa menusuk tulangnya.

Indah ……

kata pertama yang tergambar saat sulli menatap lautan didepannya.

berjalan 10 langkah. Menatap dasar laut dibawahnya yang terlihat sangat dalam dengan mulai ketakutan .

“aku ingin mengakhirinya…” ucap taemin tiba-tiba membuat sulli membalikkan tubuhnya. Menatap taemin yang berada 10 langkah dari dirinya

Mata sulli melebar , menemukan taemin yang telah bersiap dengan pistol yang terarah padanya.

“aku lelah berpura-pura menjadi namja baik didepanmu….aku ingin mengakhirinya sekarang juga” ucap lagi taemin menggerakkan jari telunjuknya.

Menekan pelatuk pistolnya dan  Melontarkan beberapa peluru yang berhasil menembus perut juga dada sulli.

Sulli terpekik lirih . Saat peluru terakhir menembus tubuhnya .

menatap aliran darah yang berlahan mengalir membasahi tubuh sekarat nya sendiri sebelum sulli terjatuh .

mata sulli terbuka lebar. Nafasnya tersenggal dasyat karena merasakan sisa hidupnya yang beberapa saat lagi pergi bersama malaikat maut yang dapat dilihat diatas tubuhnya sekarang .

Membiarkan dirinya berakhir dengan setetes air mata kesakitan dan kepedihan terakhir dirinya .

Taemin tersenyum sinis melihat sullu yang telah melepaskan nyawanya .

“tuhan memberkatimu….” lirih taemin getir . Menembakkan kembali peluru terakhir dipistolnya tepat di dahi sulli .

…… Bahkan sekuat apapun aku bertahan semua tak berguna….

Taemin mengangkat tubuh tak bernyawa sulli kedalam mobilnya.

memakaikan sabuk pengaman ditubuh sulli yang berlumuran darah. Menutup pintu mobilnya kemudian berputar menuju bagian terbelakang mobilnya.

Meletakan kedua tangan diatas bagasi mobilnya. mendorong mobilnya mendekati ujung tebing dengan sekuat tenaganya. menjatuhkan mobil beserta sulli didalamnya.

Menenggelamkan sulli agar tak ada sedikitpun bukti jika  sulli mati karena dirinya .

…….aku akan tetap diposisiku, Menunggu kematian datang dan membawaku pergi…..

.
.
.

The End

Mohon berikan Komentar di Kolom di bawah ini.

#taE_Nda

Advertisements

75 thoughts on “Gone [One Shoot]

  1. Ngeri bangeett, pas baca ssul di tembak mati sma taemin, haduh tega bangettt. Minho telat selangkah ituu. Ngerii ngeriii x_x

  2. Ssul sakit apa eon emangnya? Ini ff pertama ttg Minsul tp gak saling cinta huhu sedih, mau sequelnya dong eon, eh tapi ssul meninggal yah disitu aduh, ming bego sih
    Kenapa sad ending sih eon, padahal aku berharapnya tadi cuma mimpi & ssul ga bener” mati, trus nasibnya taem ama ming gimana? Berasa gantung ceritanya tapi keren kok eon beda dari yg lain ceritanya 🙂

  3. Taemin jahat..
    Kenapa harus membunuh sulli.
    Sulli kan tak bersalah.
    Minho lagi, dia kemana ?
    Kenapa gk nolongin sulli…
    Tak kirain minho nantinya bakalan nolongin sulli..
    Nyesek, nyesek..:(

  4. aq suka ff yg ini, brasa beda gtu,,,minho dendam ama sulli tpi sulli sblikx malah mencintai ming,,,
    Reaksinya minho cma gtu pas lyat lukisanx ssul msak g’ ngejar nolongin kek atw tlpn taemin gtu,,,ngenes bgt sullinya dbunuh abis i2 dceburin ke laut,,,

  5. thor lanjutin dong jgan one shoot , ceritanya gantung semoga aja itu masih mimpi jd Minho bisa nyelamatin sulli

  6. emang’a sulli sakit apa sich thor?
    teragis bgt cerita’x
    andwee…kenapa ming gx nolong’n sulli…taemin jahaat bgt

    wahh sad end

  7. Kyyyyyaaaaaa…… kyyyyyyyaaaaa… annndddwwwaaaeeee 😥 😥
    ini sangat menyakitkan .. 😥 😥
    Kenpa, kenpa Minho oppa tega bangettt… 😥 😥
    Taemin juga.. knpa dia tidak punya persaan sma sekali untuk skedar mersa kasihan pda Sulli??? 😥 😥
    Apa Sulli benar” meninggal?? Hiks hiks 😥 😥 Minho oppa pabbo pabbo… 😥 😥

  8. Sedihnya ceritanya mbak… sedih banget, apalagi kayaknya minho jg suka sama sulli… apakah sulli mati? Keajaiban kan bisa saja datang, sulli selamat dan akhirnya minho jujur dan bilang kalo juga suka sama sulli, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s