The Soul Controller [chap 6]

 jengj
Title : THE SOUL CONTROLLER
cast : CHOI SULLI (f(x))  |  CHOI MINHO  (SHINee)  |  others
author : Devina Sandy
 length : Chaptered
 
rating : mature ;D 
Genre : Fantasy, supranatural, comedy, romantice
sebelum baca FF TSC chap 6 ini, silahkan baca chap sebelumnya^^

[chapter 1] , [chapter 2] , [chapter 3] , [chapter 4], [chapter 5]

WARNING! 17 TAHUN KE ATAS

Chap sebelumnya :

“Aku koma selama 3 bulan. Saat aku terbangun, yang pertama kali ku ingat adalah wajahmu. Itu sebabnya aku menggilaimu. Aku benar-benar tak bisa melupakanmu. Mimpi-mimpiku selama aku koma, terasa begitu nyata. Mimpi-mimpiku yang selalu mengikutimu kemanapun kau pergi. Maafkan aku jika harus membuatmu merasa risih, aku hanya melanjutkan hidup dengan cara di dalam mimpi saat aku koma, mengikutimu.”

CHAP 6 :

“KISS YOU”

Summary :

“ini yang terakhir kalinya. Aku janji.”

Gadis bersurai sebahu itu perlahan membuka sepasang kelopak mata kecil miliknya dan mengerjap-ngerjapkannya lembut. Choi Sulli telah meninggalkan dunia mimpinya. Dengan kesadaran yang belum utuh, ia malah berusaha memperhatikan sekitar. gelap masih menguasai penglihatannya. ternyata ini belum pagi.

Sulli kembali menutup mata, ingin melanjutkan mimpi indah yang sempat terputus. Dihirupnya nafas panjang-panjang, udara hangat dan aroma khas milik seseorang menyerang indera penciumannya. Aroma ini dapat membuat tidurnya jauh lebih nyenyak dan mimpinya jauh lebih indah. Tapi sebentar, aroma ini terlalu dekat dengan hidungnya.

Sulli kembali membuka mata. ia mendongak ke atas dan memicingkan mata guna memperjelas objek yang menjadi fokus penglihatannya.

Sulli tertegun. benda hangat yang melingkar dipingganya, aroma khas maskulin yang natural, dan pelukan terhangat yang kini ia rasakan berasal dari seseorang yang bertahun-tahun ia puja, Choi Minho yang kini tengah mendekapnya lembut.

Pria tampan itu masih berlayar dalam dunia mimpinya, tertanda dengan matanya yang masih menutup tenang, nafas yang teratur, dan wajahnya yang penuh kedamaian seolah tak ada beban terlukis disana.

Entah apa yang dipirkan gadis berkulit putih pucat itu ketika ia mulai perlahan Mendekatkan kupingnya ke dada bidang Minho. Pipinya menyentuh dada hangat Minho. Ia mendengar suara detak jantung yang berdegup teratur. Sangat teratur, sangat tenang, layaknya seseorang yang masih hidup. Benar-benar hidup. Betapa bodohnya ia yang mengira Minho adalah arwah seutuhnya.

Dengan perlahan dilingkarkannya lengan kecilnya di tubuh Minho. Dengan sangat-sangat perlahan, berusaha agar pujaan hatinya tidak terbangun dan mendapati Sulli tengah mengambil keuntungan darinya.

“Kumohon katakan aku sedang bermimpi…

ini terasa nyata. Pria dalam pelukanku adalah pria yang kucintai selama 6 tahun. Ditolak, dihindari, terbuang olehnya.

Katakanlah aku sedang bermimpi.

Jika ini nyata…. kenapa harus terjadi sekarang?”

 

Sayangnya ia tidak sedang dalam bunga mimpinya yang muncul di setiap ia menutup mata. setetes cairan bening jatuh dari sudut matanya. Tak ada yang tahu persis apa yang tengah ia rasakan. Apa ia menangis karena terlalu bahagia, atau menangis karena ia dan Minho harus dipertemukan dalam kondisi seperti ini.

****

Suara alunan merdu dari petikan lihai jemari Taemin terhadap gitar akustiknya memenuhi kamar rumah sakit dimana raga Minho sedang terbaring lemah di atas ranjang besi berkelas khas kamar berkelas VIP. Mata Taemin terpejam menikmati setiap nada yang ia ciptakan, hingga akhirnya ia putuskan untuk berhenti dan kembali menengok hyungnya yang tak kunjung bangun dari tidurnya.

Hyung… jika kau bangun, apa yang harus kukatakan padamu? Apa aku sudah berkhianat? Menyembunyikan banyak rahasia darimu?” Taemin memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut tak karuan. Hingga pintu kamar terbuka, menampilkan sosok yang tak lagi asing diingatannya.

“Ah Taemin-ah… annyeong haseyo.” Sapa pria itu seraya menyodorkan sebuah kotak makanan pada Taemin.

“Wah… kau sopan sekali hyung. Tumben.” Ujar Taemin yang dengan lincah membuka kotak makanan dan melahap isinya tanpa ampun.

Pria bernama key itu meredupkan pandangannya, ia rasa usahanya untuk selalu berbat baik tak pernah dihargai sedikitpun oleh anggota genk-nya. “lapar eoh? Kau makan seperti pengemis.”

“Emosiku terkuras setiap melihat wajah Minho-hyung. Membuatku lapar.”

“Cih, itu semua karena salahmu sendiri. Jika sejak awal kau tak berbohong padanya tentang gadis bernama Sulli itu, kau tidak akan sepusing ini.”

Taemin menghentikan gerakan sumpitnya, pandangan kosongnya tetap mengarah pada makanan nikmat dalam kotak pada genggamannya, “Aku akan memberitahunya tentang Sulli, segera setalah ia bangun.”

“Too late. It’s veery very too late. Tidak ada gunanya lagi, semuanya sudah berakhir.”

Tangan Taemin bergetar menahan emosinya. Ia mendelik tajam pada pria pirang yang duduk tepat dihadapannya. Key terkejut saat melihat sepasang mata itu mulai terlihat berair.

“Kumohon hyung… Jangan sudutkan aku seperti ini. Aku juga sahabat Sulli dan sahabat Minho-hyung. Kau pikir aku ingin semua ini terjadi? Untuk itu, Sulli selalu mengatakan padaku agar tidak memberitahu Minho. Aku sebagai sahabatnya hanya dapat menutup mulutku. 6 tahun! Dia menyuruhku untuk diam selama 6 tahun. Dan aku benar-benar akan membongkar semua rahasianya setelah Minho-hyung bangun. Kau puas?!”

Napas key tercekat. Seolah tersembur air es, Ia tak pernah mendengar anggota genk termudanya bicara panjang lebar dengan nada tajam namun bergetar seperti barusan. Key menyesal, ia seharusnya mengerti perasaan Taemin “Mianhae… hanya saja, kurasa semuanya terlambat. Tapi begini lebih baik, ia tak punya perasaan apapun pada Sulli. Itu bagus, ia takkan merasa kehilangan.”

Taemin menghembuskan nafas beratnya. Seolah ikut membuang segala kekhawatirannya. “Aku harap begitu juga hyung…”

*****

Berulang kali Minho mencermati angka demi angka pada sebuah benda yang terpajang rapi di atas meja kamar Sulli. Berapa kalipun ia mencoba menghitungnya, jawabannya tetap sama. Ia tidak mungkin salah, walaupun ia hanyalah manusia setengah arwah, ia masih ingat persis bagaimana cara menghitung tanggal dengan baik. “Aku tidak percaya.” Ujarnya singkat.

“Apa?” Sulli yang sedari tadi tengah membaca novel tebal terjemahan, mulai melongok dari balik buku tebalnya.

“Seminggu lagi… ulang tahunku.”

Kaget. Sulli benar-benar menyingkirkan novel dari hadapannya. Menatap Minho yang masih memperhatikan calendar yang penuh dengan coretan dari spidol berwarna merah hasil karya tangan Minho. “Aku tidak percaya… aku masih merasa aku baru saja menginjak rumah ini.” Lanjut Minho polos.

Sulli akui dirinya lengah menyadari ulang tahun Minho akan tiba seminggu lagi. Itu berarti dirinya dan Minho harus bersiap-siap. “Bukannya itu bagus, kau bisa kembali dengan cepat ke tubuhmu.”

“Apa energiku sudah cukup untuk kembali?” tanya Minho seraya mengacungkan telapak tangannya pada Sulli, seolah-olah ada keterangan tertulis disana “BATERAI SUDAH PENUH”.

“Bagaimana aku tahu…”

Minho menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. “Sepertinya aku harus kembali ke rumah nenek tua itu. Mmhh… madam…” Minho memejamkan mata mencoba mengingat-ngingat.

“Jenny.” Sambung Sulli “Namanya Madam Jenny.”

“Ah iya kau benar. Kau harus maklum, memori arwah tidak sebaik memori manusia.”

Sulli tersenyum kecil “Maka pergilah. aku tidak bisa menemanimu. Bertemu nenek itu hanya akan membuat mood-ku menjadi jauh lebih buruk. Kajja.” Sulli bergerak menarik tangan Minho yang masih malas berdiri dari posisi duduknya.

“Araso, araso…”

*********

Lagi-lagi Minho menumpang gratis disalah satu bus kota. Ia pikir jika ia membawa Sulli dengan bus ini, gadis itu akan menjadi semakin miskin. Jika gadis itu membawa sepeda pink-nya, gadis itu akan kelelahan karena mengayuh terlalu jauh hingga ke rumah madam Jenny yang rumahnya terbilang cukup jauh. Serba salah memang. Ada benarnya Sulli memilih tak ikut.

Setelah berkali-kali pindah bus dari berbagai jurusan, akhirnya pria jangkung itu tiba di muka gerbang rumah sang cenayang. Masih sama sejak kesan pertama Minho menginjakkan kaki di halaman rumah itu, sedikit angker. Sedikit? Ya, karena Minho sadar, dirinya adalah arwah. Tak ada yang perlu Minho takutkan bukan?

“Sedang melihat-lihat atau sedang melakukan evaluasi pada rumahku?”

Minho terperanjat. Untuk kedua kalinya, suara parau nenek itu membuat Minho terkejut. Minho mengumpat dalam hati, betapa ia membenci nenek yang hobbinya mengagetkan orang lain itu. “Bukan kedua-duanya. Maaf.” Sahut Minho sedikit sopan.

“Oh aku kira kau sedang mencoba menghina rumahku yang bobrok ini.”

“Rumahmu tidak bobrok.”

“Jadi menurutmu tempat ini bagus?”

“Tidak juga. Maaf.” Jawab Minho terlalu jujur.

“Oh, haha. Aku terlalu percaya diri. Hei, Sampai kapan kau akan berdiri disana? Ayo silahkan masuk.” Ajak madam Jenny ramah, membuat Minho mulai menyesal tidak berpura-pura memuji rumah tradisional yang sudah tua itu. “Ada masalah apa lagi?” sambung madam Jenny.

Minho mendengus pelan saat wanita paruh baya itu terlalu ‘to the point’. “Aku ingin tahu sudah seberapa banyak energi Sulli dalam tubuhku.” Jawab Minho tak kalah ‘to the point’nya.

“Hmmm…” wanita itu memicingkan matanya, menatap Minho intens dari ujung rambut hingga ujung kaki Minho yang sedang bersila di lantai beralas karpet merah maroon. “Hampir penuh…”

“Be-benarkah?”

“ya, hampir penuh. Nampaknya kalian berdua saling menempel satu sama lain.”

Minho lupa jika ia harus mengingat seberapa sering ia menyentuh Sulli. Tapi jika itu hampir penuh ia tidak lagi memilki alasan untuk menyentuh Sulli terus-menerus dan sesering biasanya.

“Kau sudah dapatkan yang kau cari. Kau boleh pergi.”

Minho meredupakan pandangannya, menghirup nafas panjang seolah memompa dadanya dengan energi yang disebut ‘kesabaran’. Kenapa nenek dihadapannya ini selalu bicara tak sopan? Apa karena ia tak memberi sepeserpun uang pada wanita itu?

“Madam Jenny yang terhormat… saat aku kembali ke tubuhku, aku akan kembali ke rumah tua ini dan memberikanmu bayaran yang pantas. Aku janji.”

“Aku tidak butuh uang.”

‘Aigooo! Sombong sekali dia!’ rutuk Minho dalam benaknya. “Padahal lumayan jika uang itu kau gunakan untuk merenovasi rumah tua ini.”

“Rumah ini akan kuwariskan untuk cucu kesayanganku. Itu terserah padanya, ingin menjual rumah ini atau merenovasinya.”

“Kau bicara seolah-olah kau akan mati.” Jawab Minho yang ucapannya dapat dikategorikan tidak pantas dilontarkan pada seorang renta seperti madam Jenny. Tapi tidak untuk madam Jenny yang hanya tertawa renyah merespon ucapan Minho.

“Kaupun bicara seolah kau dapat membedakan yang masih hidup dan yang sudah mati.”

“mwo?”

“Apa menurutmu aku ini masih hidup?”

“……….”

“Coba perhatikan dengan seksama diriku, Choi Minho.”

Tenggorokan Minho tiba-tiba mengering. Entah sejak kapan ia merasa ruangan ini begitu pengap dan intensitas cahaya mulai berkurang. Satu-satunya Cahaya senja datang dari balik jendela dari sisi madam Jenny, membuat setangah wajahnya membentuk siluet hitam sempurna dan sebagiannya lagi…

menampakkan wajah aslinya yang pucat tak berwarna dan…

sedikit aneh… tidak! Bukan sedikit! Tapi benar-benar aneh!

Wajahnya penuh dengan rongga!

Membuat sosok dihadapannya terlihat seperti….

tengkorak!!

Dia tengkorak!!

Dia Sudah mati!!!

Lari Minho! Lari dari sini!’ perintah Minho pada dirinya sendiri yang kini terpaku menatap wajah mengerikan dihadapannya. Rahang tengkorak itu membuka perlahan, memperihatkan isi mulutnya yang penuh dengan warna hijau bercampur oranye yang membuat perut Minho merasa mual.

“AHAHAHAAHAHA!” Suara tawa madam jenny pecah dan memenuhi ruangan pengap itu. Suara seraknya selalu sukses membuat Minho bergidik ngeri. Minho tidak dapat berdiri, Minho kaku. Ada apa ini?

“AHAHAHAAHAHA!” lagi-lagi Minho tak tahan dengan suara memekik dari neraka itu. Sungguh, Minho rasa ia tengah dibawa menuju tempat penuh teriakkan dan siksaan bernama neraka. Atau jangan-jangan… ia sudah mati?

Cklek

Minho mendengar bunyi jentikan jari. Keadaan kembali seperi semula. Cahaya sore yang cerah, udara yang normal, dan… wajah Madam Jenny yang masih utuh, cantik dalam usia rentanya, dan tanpa rongga-sedikitpun-tak-ada.

Seringai terpatri jelas di wajah tua nan angkuhnya “Bagaimana Minho, barusan kau ada di bawah pengaruh ilmu ilusi milikku.” Jelas wanita paruh baya itu.

“Ka-Kau…” Minho mengacungkan kedua jempolnya tinggi-tinggi “Kau luar biasa…!” dalam hatinya lagi-lagi ia mengumpat ‘Sialan….!

************

Kriiit…

Bunyi yang berasal dari engsel berkarat menarik perhatian Sulli. Ia berjalan menuju pintu masuk dan Sesuai dugaannya, Minho tengah berdiri tegap di hadapan pintu rumahnya yang terbuka lebar. “Apa yang dikatakan nenek itu?”

“M-mwo?”

Sulli mendesah, padahal ia mengucapkan kalimat tadi dengan pelafalan yang sangat-sangat jelas. “Apa yang dikatakan nenek itu? Apa energimu sudah cukup?”

“Eh?” Minho tertegun. Sorot matanya memutar kesana-kemari tak jelas arah. Seolah ia akan mendapat jawaban yang tepat di permukaan lantai dan dinding rumah Sulli. Dan akhirnya ia mendapat sebuah jawaban saat pandangannya mendarat di sebuah gelas yang terisi setengah. “Choi Sulli!! Kau takkan percaya ini!”

Sulli menautkan kedua ujung alisnya saat melihat perubahan ekspresi yang begitu ekstrim di wajah Minho. “Waeyo?”

“Energiku bahkan belum terisi sampai setngahnya!”

“MWO?!”

“Neee! Wanita tua itu bilang aku butuh lebih-lebih-dan-lebih banyak energi!”

“I-itu tidak mungkin. Apa mungkin ia salah?” Semburat merah muncul dipermukaan pipi pucatnya. Teringat kejadian semalam,saat ia terlelap dalam dekapan Minho. Memangnya harus sesering apa lagi mereka bersentuhan?

“Awalnya aku juga kaget sepertimu. Tapi kenyataannya begitu. Seminggu lagi aku harus kembali… jika energiku belum cukup, aku akan mati!! Otthokae??”

“O-Otthokae oppa? Otthokae….?” Sulli mondar-mandir gugup. Entah itu efek gugup atau cara menghilangkan gugup. Minho yang dengan sukses berakting bak aktor korea papan atas itu kini tersenyum menang atas bakat tersembunyinya.

“Sulii-ya… Apa yang harus kulakukan?”

“…” gadis yang delempari pertanyaan membingungkan itu tak bergeming.

“Sulli-ya! Jika kau berpikir terlalu lama aku bisa mati!”

“Yaaaak! Bisakah kau beri waktu untukku berpikir lebih keras? Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Bukankah kurasa kita bersentuhan lebih dari cukup? Ini membingungkan.”

“ehem.” Minho berdehem pelan “Apa mungkin kita harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar bersentuhan?”

What The…!! Oh Ya Tuhan, Sulli seperti sedang terserang penyakit jantung dadakan yang membuat degupan jantungnya melampaui batas normal saat ditemuinya pandangan Minho menjadi… errr berubah seksi “Apa kau gila? Aku memang sasaeng fansmu, tapi aku masih punya harga diri.” Tolak Sulli mentah-mentah.

Pandangan seksi itu meredup “Apa kau gila? Kau pikir aku serius? Bagaimana arwah dan manusia bisa melakukan hal semacam itu? Aku hanya bercanda.” Jawaban membela diri Minho barusan cukup membuat degupan jantung Sulli memudar perlahan. Walaupun Sulli tak menyadari semburat merah muncul di kedua pipi Minho karena menahan rasa malu, jika saja gadis itu mengiyakan ajakan ‘tak langsung’-nya itu maka mereka berdua sekarang sudah…. yah begitulah.

“Menurutmu harus bagaimana lagi? Kurasa ini sudah lebih dari cukup. Apalagi semalam kau tertidur sambil memelukku. Apa tidak ada energi sama sekali yang mengalir?”

“Benarkah? Aku tetidur sambil memelukmu?!”

Sialan. beberapa detik lalu Sulli baru menyadari Minho tidak mengetahui apa-apa perihal kejadian semalam. “Mmm, maksudku… aku…”

“A-a-a! Sudah kuduga! Semalam aku tidak bermimpi… Kau! Dasar sasaeng fan! Menikmati sentuhanku seorang diri!”

“Minho-ssi… bicaralah dengan sopan.” Kini giliran Sulli yang dibuat merona malu. Menurutnya hal barusan adalah hal yang sangat-sangat memalukan. “Itu juga menguntungkan buatmu, energiku pasti mengalir lebih banyak.”

“Hm! Tapi tetap tidak adil. Kau menikmati sentuhanku sendirian.”

Demi apa, Sulli sudah gondokan setiap kali Minho menyebut hal yang memalukan seperti itu. “Mianhae… “

“no problem! Sebagi gantinya… berkencanlah denganku sore ini sambil berpengan tangan. Bantu aku kembali ke tubuhku dengan selamat.”

Sulli tersenyum tertahan “Dengan senang hati, tuan Choi.”

******

Satu kata untuk menggambarkan ekspresi Minho sekarang. Speachless.

“waeyo?” tanya gadis bernama Sulli itu sambil menggoyang pelan lengannya yang kini dikunci erat oleh tangan Minho.

“Apa tidak ada tempat lain yang lebih romantis ketimbang tempat ini?”

“Bukankah tadi kau bilang aku yang memilih tempat untuk berkencan?”

“Tapi haruskah disini?”

“AAAAAAAAAAAAAA” Minho memalingkan wajahnya tepat ke arah sumber suara pekikan. Ia memicingkan mata saat menemui sebuah benda besar-sangat-besar yang menampung banyak orang di dalamnya berputar ke sana kemari dengan sangat kencang. Dengan memandang alat besar itu bergerak kesana-kemari saja cukup membuat Minho pusing, apalagi menaikinya!

“Kau lihat itu? Mereka sebentar lagi akan mati.” Ujar Minho sarkastik seraya menunjuk beberapa permainan yang menurutnya berbahaya untuk keselamatan jiwanya. Ah tidak juga, dia hanyalah arwah. Maksudnya ia khawatir untuk keselamatan jiwa Sulli.

“Hei-hei tenang… aku ini sasaeng fan-mu, aku tau persis kau tidak menyukai hal-hal seperti itu.”

Minho menghembus nafas lega,ada untungnya ia berkencan dengan fans-nya sendiri. “lalu apa yang akan kita lakukan?”

“Ikuti aku.” Sulli melangkah cepat, membuat Minho dengan erpaksa mengimbangi langkah dinamis gadis yang tengah ia genggam tangannya. Pun janji mereka sejak berangkat dari rumah, tidak boleh melepas genggaman tangan satu sama lain. Minho berkali-kali mengingatkan ini masalah besar yang menyangkut keselamatan jiwanya dan Sulli hanya percaya saja.

Setelah cukup jauh berjalan, Sulli menghentikan langkahnya. ia rasa ia sudah membawa Minho ke tempat yang benar. Mereka berhenti di salah satu bangku di bawah naungan pohon besar nan rindang.

Satu kata lagi untuk menggambarkan ekspresi Minho sekarang. Speachless. Entahlah berapa kali untuk hari ini, Sulli selalu membuatnya tak mampu bicara apapun dan hanya mata bulat besarnya yang terbuka lebar saat menggambarkan keterkejutannya.

“Ini indah sekali.” Akhirnya Minho dapat menjabarkan pemikirannya.

“Ya, aku tahu banyak tentang tempat-tempat seperti ini.”

Minho menikmati pemandangan indah yang memanjakan mata bulatnya. Hamparan pemandangan rumah-rumah dan gedung tinggi terihat jelas dari sini. Tata kota seoul yang rapi dan indah memang patut diancungi jempol. Dari sini ia mampu melihat aliran sungai Han yang berliuk indah dan jembatan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan. “Aku baru tahu ada tempat dengan pemadangan seindah ini.”

“Indah? Pemandangan yang kau lihat adalah tempat kau tinggal dan besar hingga seperti ini. Dan kau baru menyadarinya kalau tempat tinggalmu indah.”

Jawaban Sulli cukup jadi tohokan pelan untuk Minho. Secara tak langsung ia merasa hal tersebut sama persis dengan eksistensi Sulli di kehidupannya. Dulu keberadaan Sulli tak dianggap olehnya , Sulli tak berharga. Lalu Sekarang? Ia baru menyadari sisi lain dari Sulli. Ia telah memandang Sulli dari sudut pandang yang berbeda membuat Minho menarik kesimpulan, bahwa Sulli sama indahnya dengan pemandangan kota Seoul dan ia baru menyadarinya sekarang. Poor Minho.

“Hei kemari.” Perintah Minho seraya menggerakkan telunjuknya, intruksi agar Sulli mendekat.

“Wae?”

Minho mendekatkan wajahnya dengan cepat. Mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipi empuk Sulli.

Shock. Wajah putih pucat itu kini merona malu. Oh lihatlah sasaeng fan mendapat kecupan dari idolnya.

“Gomawo.”

“Untuk apa?” Tanya Sulli heran.

“Menyadarkanku, bahwa kota Seoul indah. Dan juga juga menyadarkanku kau adalah gadis terindah yang masuk dalam hidupku.”

BLUSH

Rona di permukaan pipi Sulli dengan cepat berubah menjadi semakin merah. Kini merah padam. Sulli memutar bola matanya, betapa ia tak memperayai ucapan yang barusan masuk ke indra pendengarannya. Apa itu sebuah rayuan seorang idol untuk fans-nya?

“mmm… dan terima kasih untuk cintamu.”

“Oh ya, sama-sama.”

Atmosfir di antara keduanya mendadak berubah canggung. Sulli bahkan tak berani untuk sekedar menolehkan wajah menghadap pria yang duduk gelisah di sebelahnya itu. Sedang Minho masih berkelut dengan pikiran-pikiran tak menentu dalam kepalanya, sesuatu dalam kepalanya itu harus segera keluar. Harus segera ia ungkapkan! Harus ia beritahukan… tapi apa? Sesuatu dalam pikirannya itu masih abstrak tak berbentuk. Jadi ia harus bagaimana?

“Hei kemari.” Pinta Minho untuk yang kedua kalinya.

Sulli menurut saja “Wae?”

2 detik, Minho masih menatap mata berbinar milik Sulli. Dicondongkannya tubuhnya mendekat ke arah Sulli. Dan sebuah kecupan manis sukses mendarat, kali ini di bibir mungil nan empuk milik Sulli.

Terlalu cepat! Sulli bahkan sempat berpikir…. ‘apa yang terjadi barusan?’ hingga akhirnya ia sadar sepasang bibir keduanya baru saja bersentuhan. Sulli dengan gugup menggeser tubuhnya menjauh dari Minho. “Yang tadi tanda terima kasih untuk apa?”

“Yang tadi bukan tanda terima kasih. Itu hanya sebuah ungkapan…”

“ungkapan apa?”

Minho bersusah payah menelan ludah. Hey! Ia harus mengungkapkan perasaan sesungguhnya pada gadis yang dulunya ia hina! Ini lebih susah dari apapun yang pernah dibayangkannya soal bagaimana cara mengungkapkan perasaan dengan cara yang baik dan benar.

“Sepertinya, ini sebuah ungkapan cin….ta?”

JRESSSSS

Kembang api warna-warni meledak di dalam perut Sulli. Kembang api yang bergemericik hingga sampai ke dadanya yang berdegup kencang. Apa ia bermimpi? Ia pasti bermimpi! Ia harus mencuci wajahnya agar ia terbangun dari mimpi yang terlampau indah itu.

Sulli dengan cepat bangkit dari duduknya, dari cara berdirinya pun nampak dengan jelas ia sedang salah tingkah. “A-aku harus mencuci wajahku. Aku permisi.” Sulli berjalan kaku meninggalkan Minho yang melongo heran atas respon biadab dari Sulli. Gadis mana yang langsung pergi begitu saja saat ada pria yang bicara perihal cinta padanya!?

Minho mendesah lesu “Apa aku tidak romantis?”

******

Sulli membasahi tangan bekunya dengan air yang mengalir deras dari keran. Dibasuhnya wajah pucatnya dengan sedikit air yang ia tampung dengan kedua tangan kecilnya. “Ah, ini terasa seperti nyata. Tapi aku yakin aku tidak tertidur tadi. Oh,seseorang kumohon cubit aku…. Aaaaaakh!” Sulli memekik nyaring saat merasakan seseorang tengah mencubit lengannya tanpa belas kasihan. Ditepisnya kasar tangan besar itu dari lengan kurusnya.

“Yaaak! Appow!”

“Bukankah kau yang meminta?”

Sulli mendengus kesal, kehadiran secara tiba-tiba pria setelan putih di hadapanya itu tak lagi mengejutkannya. Sebulan terakhir ia sudah wajar dan tak terkejut jika malaikat bernama Heechul itu bahkan muncul tiba-tiba dari dalam selokan.

“Kau tidak sepantasnya disini! Ini toilet wanita!”

“Apa Kau pikir aku pria?”

“???” Sulli mengernyit.

“Aku bercanda, Aku memang pria.”

“Hentikan basa-basi ini. Aku harus menemui Minho.” Sulli bergerak meninggalkan Heechul hingga sebuah cengkraman keras menarik lengannya dan kontan menghentikan langkah kecilnya.

“Jangan berpura-pura tidak tahu Choi Sulli… Kau berjanji takkan pernah membangun perasaan cinta dalam dirinya. Nyatanya barusan ia mengungkapkan perasaannya. Apa aku masih bisa memegang ucapanmu?”

“A-aku… aku pun tidak yakin ia benar-benar mencintaiku. Bisa saja itu hanya perasaan suka atau kagum.”

“Aku lebih tahu kenyataannya. Kau tak bisa membantahku.Oh ya, dia juga berbohong jika energinya masih terisi setengah. Sore ini, energinya sudah penuh dan ia siap kembali ke tubuhnya.”

Sulli mengayun keras lengannya, membuat cengkraman Heechul otomatis terlepas begitu saja. “Aku pegang janjiku. Kau cukup duduk manis, dan skenarioku akan berjalan dengan ajaib. Cintaku padanya, akan membuat skenario ini berhasil, bukan gagal seperti yang kalian pikirkan.” Sulli dengan segala emosi yang bercampur aduk dengan cepat mencelos pergi dari hadapan Heechul, meninggalkan malaikat itu sendirian dan menatap punggung wanita tegar itu berjalan angkuh dalam keterpurukannya menanggung beban itu sendirian.

******

“Sudah mencuci wajahmu?”

“Ya, ternyata aku tidak sedang bermimpi.”

“Oh…” Minho bingung harus berkata apalagi.

“Hey kemari…” kali ini Sulli yang memerintah Minho untuk mendekat.

Minho mendekatkan dirinya “wae?”

Sulli perlahan mengelus kerah hem biru milik Minho dan membersihkannya saat ditemukannya daun kering mendarat indah di bahu kekasihnya. “Katakan padaku… apa kau benar-benar mencintaiku?”

“m-mwo?”

DEG DEG DEG

Dada minho berdegup tak beraturan saat menemukan jarak wajah keduanya begitu dekat karena secara tak sadar, Sulli perlahan menarik kerah bajunya mendekat ke arahnya. Dia, gadis yang tengah menatap Minho intens, menuntut jawaban yang harus ia dengar dari bibir Minho.

“A-aku… nampaknya aku…”

“Ya??” Sulli semakin menarik kerah Minho mendekat padanya, membuat Minho semakin kehilangan konsentrasinya sebagai seorang pria dalam kondisi yang menggoda seperti ini.

“Na-Nampaknya aku sudah jatuh cinta padamu.”

Lagi-lagi Sulli menarik kerah Minho hingga kedua hidung mancung mereka saling bersentuhan “Buktikan…” bisik Sulli menggoda.

Mata Minho membulat penuh. Apa yang tengah terjadi pada gadis ini! Apa Sulli barusan mendapat sebuah ilham yang turun dari langit hingga ia berubah drastis seperti ini? Ya Tuhan, tolonglah Minho yang benar-benar tidak dapat menahan gejolak yang memanas dalam dadanya.

Persetan dengan apa yang sudah terjadi pada Sulli!

Tanpa basa-basi Minho melahap bibir Sulli. Memagutnya dan tak membirkan sedikitpun bagian dari bibir Sulli yang terlewat olehnya. Ia yakin ini kali pertama untuk Sulli, karena sampai sekarang gadis itu tak membuka katupan giginya , menunjukkan kegugupannya menghadapi Minho. Tak ada balasan dari Sulli, gadis dihadapannya masih pure dan tak tahu harus melakukan apa.

Okay, saatnya Minho membuka les private untuk muridnya yang masih lugu ini. Digigitnya bibir tebal gadis itu yang membuatnya terkejut dan membuka mulutnya. Kesempatan itu Minho gunakan dengan sempurna untuk melumat dan menjelajah mulut Sulli dengan lidahnya. Ditariknya tubuh Sulli mendekat, dipeganginya erat pinggul kecil nan langsing milik Sulli. Tak membiarkan Sulli berontak dan melepaskan ciuman mereka.

Salahkan Sulli yang sudah menggoda pria jahanam ini. Ia sudah tak mampu berlaku lembut lagi pada Sulli, pria itu memang terlahir seperti ini, kasar.

Beberapa menit mulai berlalu. Sulli mulai menikamati aktivitas yang baru kali pertama ia lakukan itu. Di balasnya setiap lumatan Minho, sepasang lengannya mulai bergerak menelusuri tengkuk Minho. Pria itu bergidik saat dirasakannya tangan Sulli bergerak menelusup di lehernya. Ini bagus sekali, muridnya belajar dengan sangat cepat.

Di tengah ciuman panas itu, entah hal apa yang mendorong Sulli untuk membuka sepasang mata kecilnya yang awalnya tertutup rapat. Dibukanya perlahan dan disaat itu juga dari kejauhan nampak sosok seorang dengan setelan putih sedang berdiri bersandar di sebuah pohon dan menatapnya dengan wajah datar.

Itu Heechul…

Sulli bicara sendiri di dalam hatinya, tanpa ia harus berteriak dan memekik nyaring agar pria berponi pnjang itu dapat mendengar ucapannya. “ini yang terakhir kalinya. Aku janji.”

Heechul melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum. Saat dilihatnya kedua insan yag saling mencintai itu kini saling mengekspresikan rasa cintanya satu-sama lain. “Biarkan ia melakukan hal yang ia mau. Lagipula ini yang terakhir kalinya bukan?”

TO BE CONTINUED

HAAAAIIIIII READERDEULL!!! aku kangen kaliaaan! civok reader dan admin dhea *eh. author Dhev kambek bawa TSC chap 6 yang seperempat dari isinya ternyata rated M! maaf banget yaaa. buahahhaah *evil laugh*.

loh? terus nasib Mirrors II gimana thor? kok belum dilanjutin?

jadi gini, ehem *batuk dulu*, setelah author sadari dan pahami, ternyata bikin ff secara random malah bikin malas nyelesaiinnya. jadi author fokus tamatin TSC yang sisa 3 chap lagi, dan kemudian tamatin MirrorsII yang juga sisa 3/2 chap lagi.

Thor! kenapa sih, kalo update lama banget?

jadi gini , ehem *batuk lagi* author ini udah kuliah di jurusan Teknik Informatika (ga nanya wooyy!!), jadi author selalu disibukkan dengan membuat laporan praktikum seminggu 2 kali, ditambah tugas lainnya yang bikin author jadi seorang MSwordPhobia gitu, jadi mual sendiri kalo liat Times New Roman yang berjeret rapi di permukaan lembar kerja putih…. bikin author yaaah… jadi late upadate. jadi mohon pengetian para reader yaaah^^

okay sekiaaan… jangan lupa tinggalkan komentar . saranghaee ❤ ! hidup Minsullians!!

Advertisements

156 thoughts on “The Soul Controller [chap 6]

  1. Minho bohong banget kalo energinya belum sampe setengah..
    karena ia ingin menyentuh sulli lagi ?!!

    Minho akhirnya benarbenar menyatakan cintanya pada sulli,dan omo mereka malah kissan dengan napsunya /?

    Ya ampuun sebenarnya sulli bilang aoa sama heechul ?? Apa yg mereka katakan sebelumnya ??
    menagapa dia bilang itu yg terakhir ??
    benar benar daebaak ni ff..

  2. Minho bohong energinya masih setengah……
    Padahal udah penuh…
    Masih pengen Deket Deket sama Sulli ya….
    Tapi akhirnya Minho nyatain perasaan nya sama Sulli…
    Dan mereka Malah kissing penuh nafsu…..
    Tpi kok Sulli bilang ini yang terakhir???
    Penasaran lagi….
    Semangat ya eonni…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s