I Love You Good Bye [One Shoot]

10304442_1401137090169584_8251355278801840829_nWriting original by L.S | Cast: choi minho , choi sulli

Genre: sad, angst, tragedy | Length: oneshoot |

Rate: nc-17

Theme song : Sorrow (슬픔) – missing you ost

.
.
.

Storynotebok
==========

‘Apa arti kebahagiaan bagimu?’

‘Bahagia adalah ketika aku dapat melihatmu  tersenyum…’

‘melihatku tersenyum?’

‘ne, karena itulah jangan pernah bersedih dan tetaplah tersenyum apapun yang terjadi…’

————

“sulli…… sulli…..kau dapat mendengarku? Sulli……….!” minho menatap wanita didepannya dalam.

Wanita yang tampak berbaring dengan darah yang mengalir dari setiap luka tubuhnya yang menganga.

“sulli……..”

“anda harus menunggu diluar tuan……” cegah seorang  suster pada ren yang akan masuk kedalam ruang pemeriksaan.

“tapi…….”

“kami mohon tetaplah diluar, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkannya…….” ucap suster itu lagi. sebelum akhirnya menutup pintu ruang pemeriksaan.meninggalkan minho diluar ruangan.

“AAARGH !!!” minho menghantamkan tinjunya pada dinding rumah sakit. Membiarkan darah merahnya mengalir karena luka hantaman itu.

“ini salahku !” upatnya pada dirinya sendiri. Merendahkan tubuhnya. Menyalahkan dirinya sendiri.

Jika saja minho tak mengikuti kemauan sulli untuk pergi berjalan-jalan dan tetap dirumah.

mungkin semua akan baik-baik saja. sulli tak mungkin terluka seperti ini.

‘MINHO OPPA , AWAS !!!’

Minho memejamkan kedua matanya teringat kejadian beberapa waktu lalu saat sulli mendorongnya menjauh.

Salahnya dia yang membuat wanitanya seperti ini.

demi menyelamatkanya, sulli rela menggantikan posisinya dan tertabrak mobil itu.

Jika sampai terjadi sesuatu padanya aku tak akan memaafkan diriku sendiri…Batinnya.

Masih meringkuk ditempatnya. Meneteskan butiran beningnya yang sedari tadi menggenang dipelupuk matanya.

‘ aku mencintaimu….apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan aku oppa ‘

‘ ne, aku berjanji tak akan pernah meninggalkanmu ‘

Setelah cukup lama menunggu, seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.

“bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?” tanya minhocepat. ingin segera mengetahui keadaan sulli.

“……” dokter itu diam. menghela nafasnya sejenak. serasa berat mengatakan keadaan sulli padanya.

.
.
.

” sulli mengalami cedera kepala berat…..”

“…..m-mwo?”

“ada benturan yang sangat keras pada kepalanya, yang membuatnya tak bisa sadarkan diri untuk beberapa waktu…”

.
.
.

Minho meremas gagang pintu dihadapannya.

Membuka pintu didepannya lembut. masuk secara perlahan.

melihat Sulli terbujur kaku diatas ranjang, dengan kedua matanya yang tertutup.

Dia koma untuk jangka waktu yang tidak diketahui, Bukankah itu artinya sama dengan mati?

“sulli………” panggil minho lirih. Menarik mundur kursi di dekat ranjang Sulli. Duduk di sana dan meraih tangan pucat sulli.

“sulli…..kau bisa mendengarku?” tanya minho sama lirihnya.

Menatap ujung rambut sampai ujung kaki wanitanya sedih.  Sedih karena ini baru pertama kalinya ia melihat sulli begini.

Air matanya lagi-lagi mengalir.Jika biasanya sulli akan tersenyum saat melihatnya datang kini dia hanya diam. tak ada senyuman bahkan panggilan

‘oppa . . ‘

yang akan terlontar dari bibirnya pun kini tak terdengar.

Dia tak suka melihat sulli seperti ini, jika dia boleh memilih lebih baik dia saja yang menggantikan sulli ditempat ini.

menerima rasa sakit atau apapun itu asalkan tak melihat sulli seperti ini.tidak,seharusnya memang begitu .

jika tadi sulli tak mendorongnya mungkin dia yang akan terbaring diranjang ini. jika tadi sulli tak menyelamatkannya mungkin sekarang sulli yang akan menangisinya sama seperti dirinya menangisi sulli.

tapi bukankah itu lebih baik…

“miane……..” lirih minho. masih mengeluarkan air matanya.mencium punggung tangan sulli lembut.

meletakkan telapak tangan sulli dipipi kanannya. Berharap sulli terbangun untuknya. Untuk cintanya.

.
.
.

“sulli maukah kau menikah denganku?”

“mwo?”

“kita sudah 3 tahun menjadi kekasih dan aku ingin menjadikanmu istriku….”

“k-kau…… sungguh ingin menikah denganku?”

“ne…….., choi sulli maukah kau menjadi istriku? menjadi ibu dari anak-anakku ? ”

“ oppa ??? ……ne.. ne aku mau”

.
.
.

============

Minho P.O.V.

Aku memejamkan mataku. merekatkan kedua telapak tanganku. berdoa didepan altar.

Didalam gereja yang tak begitu jauh dari rumah sakit. Memohon pengampunan atas kejadian yang menimpa sulli dihadapan tuhan.

Aku mohon, hanya sekali aku mohon kembalikan semuanya seperti semula….

biarkan sulli hidup bahagia dan………………….

sebagai gantinya aku yang akan menanggung semuanya…..

Butiran beningku lagi-lagi mengalir. Jatuh dan membasahi pipiku satu persatu.

Berharap tuhan mau mendengar doaku, berharap tuhan mengabulkan doaku…

Aku hanya butuh satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya…kesempatan untuk dapat melihatnya tersenyum kembali….

ingin melihatnya bergerak dan tak hanya berbaring diranjangnya…..

aku mohon…..

Lagi-lagi air mataku menitik bersamaan dengan bunyi lonceng gereja mulai berdentang.

Membahana, memenuhi seluruh  isi gereja.Disaat itu pula udara mulai berubah dingin. Udara yang seakan berputar diatas kepalaku.

Menerbangkan rambut hitam pendekku lembut. Hawa dingin yang kini berangsur menghangat.

Bersamaan dengan munculnya cahaya putih yang berlahan mendekat dan sedetik kemudian semuanya berubah gelap.

Sangat gelap hingga memaksaku untuk membuka mataku. Mendapati aku sedang terbaring diatas ranjangku. berada dalam kamarku.

Apa yang terjadi?

Aku Menatap sekeliling kamarku yang sepi. Tak mengerti kenapa aku bisa ada dikamarku .

Bukankah tadi aku ada di gereja?

Aku terdiam. Mengingat-ingat hal terakhir yang tadi kulakukan.

Sulli……

dimana dia?

Aku mendudukkan tubuhku yang tadi terbaring diranjang. Bangkit dan keluar dari dalam kamarku. berjalan cepat kelantai pertama rumahku.

Berencana kembali kerumah sakit tempat dimana sulli berada.Namun belum sempat kulakukan itu, seuntai suara mengagetkanku.

“ minho ? kau baru bangun?”

aku menolehkan kepalaku. menatap oma yang sedang duduk diruang tamu bersama dengan…..

sulli?

Aku melebarkan mataku. Menatap lekat sosok wanita berambut kecoklatan yang sedang duduk disofa tenang.

hampir tak percaya jika dia adalah sulli.

Sulli yang tampak menatapku dengan senyum yang mengembang dibibirnya.

Sulli……

benarkah itu dia?

Tapi….

tapi bukankah dia….

“apa yang kau lakukan disana minho ? kemarilah kau harus membantu sulli memilih cincin yang tepat untuk pertunangan kalian….” ucap oma padaku.

Apakah aku bermimpi?

Kenapa aku merasa kembali kehari dimana aku dan sulli akan bertunangan..

“kenapa kau masih disana? kemarilah oppa ?….” sulli melambaikan tangannya menyuruhku mendekatinya.

Masih menunjukkan senyumnya padaku.

Apakah tuhan mengabulkan doaku?

Tapi apakah ini mungkin?

Aku mengepalkan tanganku. melangkahkan kakiku ragu kearah sulli. ragu karena aku takut jika ini hanyalah mimpi dan pada akhirnya aku akan terbangun dengan rasa sakit yang sangat karena mengharapkannya disisiku.

“lihat, bukankah ini sangat cantik…..” katanya. Menunjukkan majalah katalog padaku setelah aku memutuskan duduk disampingnya.

“…..be-benarkah ini kau?” tanyaku. Menatap wajahnya yang terlihat serius dengan katalog ditangannya.Wajah seriusnya kini berubah datar.

Bahkan kini kedua mata hitamnya terarah padaku.

“ wae gurre . Oppa ?” tanyanya tak mengerti. Bingung dengan pertanyaanku.

Ini memang dia, tapi bagaimana mungkin? Bukankah seharusnya dia berada dirumah sakit dalam keadaan koma?

“kau aneh ….” katanya. Kembali sibuk dengan katalog miliknya.

Apakah tuhan yang telah memberikan kesempatan kedua untukku…

kesempatan kedua untuk melihatnya tersenyum?.

.
.
.
.
.

Kutatap koran ditanganku yang menunjukkan tanggal 25 juli 2013. 2 hari lagi hari pertunangan kami.

yang artinya 5 hari setelahnya kejadian itu akan terulang kembali.

Apa yang harus kulakukan? Aku tak ingin kembali kehari itu dan melihat sulli terluka..Aku memejamkan mataku. Membuat bayangan  tentang sulli kembali mengambang dipikiranku. Bayangan di saat sulli tertabrak mobil itu.

bayangan disaat sulli yang mengeluarkan banyak darah karena kejadian itu.

bayangan disaat dokter memfonis sulli tak akan sadarkan diri untuk waktu yang cukup lama.

Tidak, aku tak ingin melihatnya terluka lagi. cukup sekali dan aku tak mau itu terulang kembali….

“oppa . lihat ada bintang jatuh…..” sulli menunjuk cahaya yang terjatuh dari langit saat kami berdua sedang berada ditaman belakang rumah .

Sulli merekatkan kedua tangannya dan Memejamkan matanya. Seperti berdoa atau mungkin dia sedang meminta permohonan dari cahaya jatuh itu.

Aku menarik sudut bibirku.

“apa yang kau lakukan?” tanyaku. Membuatnya membuka kembali matanya lalu menatapku.

“yaa, apakah kau tak pernah dengar jika bintang jatuh dapat mengabulkan permintaanmu?”

Lihat, bukankah dia sangat kekanakan? Bintang jatuh mana mungkin dapat mengabulkan permintaan..

“apa yang kau minta pada bintang jatuh itu?” tanyaku dan aku menebak dia pasti akan menjawab ‘kebahagiaan’.

Kau tau? aku merasa telah melakukan semua hal ini sebelumnya. Duduk ditaman seperti ini, menatap langit dengan ribuan bintang diatasnya.

“kebahagiaan…..”Bingo, tebakkanku tak meleset..

“kebahagiaan?” tanyaku berpura-pura tak tau apa yang akan dia jawab selanjutnya.

“ne, aku berdoa agar kita berdua dapat hidup bahagia selamanya….” jawabnya. Tersenyum diakhir kalimatnya.

‘Apa arti kebahagiaan bagimu?’Jika seharusnya aku akan mengatakan itu.
kini aku memilih terdiam. Lebih memilih menatap wajah sulli yang sedang menikmati kerlipan bintang dilangit.

Jika bintang itu dapat mengabulkan doaku,aku berharap dapat melihatmu tersenyum lagi setelah hari itu berlalu….

.
.
.

Hari pertunangan.

“pasangan pria silahkan menyematkan cincin dijari pasangan wanitanya….”Aku mengambil cincin didalam kotak berwarna merah didepanku.

Meraih tangan sulli dan memasukan cincin itu kejari manis sulli.

Dapat kulihat senyumnya merekah melihatku memasukan cincin pertunangan kami kedalam jari manisnya karena dengan begini kami telah mempunyai ikatan.

Hal yang telah kami dambakan setelah 3 tahun kami menjalin kasih.

“aku mencintaimu…..” ucapnya tanpa mengeluarkan suaranya. Lagi-lagi tersenyum sembari menatapku lembut.

Setelah kejadian itu terulang kembali apakah aku masih dapat melihatnya seperti ini?Aku terdiam.

Merasa sedih bahkan dihari yang seharusnya menjadi sumber bahagiaku.

.
.
.

“apakah terjadi sesuatu dikantor?” tanya sulli. mendekatiku yang sedang memandang langit malam dibalkon rumah. Berdiri disisiku. Menatapku.

“ani……..”jawabku datar.

“aku tak tau apakah ini hanya perasaanku atau apa tapi yang jelas akhir-akhir ini kau sedikit berbeda…” ucapnya. masih menatapku.

“kau jadi sedikit pendiam oppa . padahal biasanya kau banyak bicara…” lanjutnya.

Yang membuatku menundukkan kepalaku.

“tak terjadi apapun percayalah…..” kataku tak ingin sulli bertanya lebih jauh.

memilih meninggalkannya tanpa berkata sepatah katapun lagi. Jika dulu aku akan tetap disana sambil memeluknya kini lagi-lagi aku merubah masa lalu itu dan pergi.

Miane…..

.
.
.

4 hari lagi. aku memandang nanar kalender ditanganku.

Rasa takut ini lagi-lagi menghampiriku. Rasa bersalah juga rasa takut kehilangan seakan bercampur menjadi satu.

Aku tak ingin kehilangannya, tak ingin melihatnya terbaring diranjangnya tanpa dapat lagi berbicara padaku…

“….apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan aku oppa”Aku membanting kalender ditanganku.

Berjalan keluar dari ruanganku. Berencana menemui sulli.

ingin memberitahunya tentang kecelakaan yang akan menimpanya.

Tapi apakah aku dapat merubah takdirnya? Aku memacu mobilku cepat.
mengambil ponsel disaku jasku.

“sulli kau dimana? Aku ingin bicara…..”

“baiklah tunggu aku disana, aku akan kesana sekarang…..” kata terakhirku.

Melajukan mobilku lebih cepat menuju vila tempat sulli berada.

“oppa ……”

kutatap sosok sulli yang melambaikan tangannya padaku sesampainya aku divila.

“ada apa?” tanyanya setelah aku masuk kedalam vila. Duduk berdua dibelakang vila.

Aku diam.

entahlah, tiba-tiba saja lidahku terasa kelu untuk menjelaskan tentang kecelakaan itu padanya.

“..kenapa kau diam saja? bukankah kau bilang ingin mengatakan sesuatu padaku?”

Ada apa sebenarnya denganku?

Kenapa aku sama sekali tak bisa mengatakannya…

“oppa , katakan sesuatu…ada apa?” ulangnya.

Merasa penasaran.

Apakah ini artinya aku tak boleh memberitahunya?

Apakah ini artinya aku tak bisa mengubah takdirnya?

“yaa, wae gurre? kau membuatku penasaran…” rengeknya.

“…..aniyo, aku….aku hanya merindukanmu”

“cinca? Aigoo, kau jauh-jauh kesini hanya ingin mengatakan hal itu?” sulli mengerutkan dahinya.

Menatapku dalam sebelum akhirnya tertawa.

“kau ingin mengerjaiku ya?” tanyanya disela tawanya.

Yang kujawab dengan senyum hambarku.

“aku juga merindukanmu………” ucapnya. membelai pipiku lembut.memberikan senyum terindahnya padaku.

“sebelum kesini aku membeli cake keju, kajja kita mencobanya bersama. Kau juga suka keju kan?” sulli menarik tanganku. menyuruhku ikut dengannya kedalam vila.

“kau duduk disini ne? Aku akan menyiapkan cakenya untukmu….” sulli melepaskan tangannya dari tanganku. Meninggalkanku untuk mengambil cake dilemari pendingin.

Apakah aku tak bisa menyelamatkannya dari kecelakaan itu? tapi kenapa?

Bukankah tuhan memberi kesempatan ini agar aku dapat memberitahunya?

Aku tertunduk. Memikirkan kejadian itu lagi diotakku.

“sulli….” panggilku yang membuat kedua matanya terarah padaku.

“ne?”

“apa yang akan kau lakukan jika……..jika tuhan tiba-tiba memisahkan kita?” tanyaku.

“apa maksudmu?” tanya sulli datar. mendekatiku dengan dua piring cake keju ditangannya.

meletakkan sepiring didepanku dan sepiring lagi dimeja depannya.

“apakah kau akan marah jika suatu hari  tuhan akan memisahkan kita?” ulangku.

Berharap mendapatkan jawaban darinya.

“kenapa tiba-tiba oppa tanyakan hal itu?” tanyanya berbalik. Duduk dikursi dekatku.

“aku hanya ingin tau….”

“………..entahlah, mungkin aku akan mati” jawabnya setelah beberapa detik lalu terdiam.

“mwo?….. Mati?” aku mengerutkan dahiku. Tak menyangka jika sulli akan mengatakan hal itu.

“aku bercanda….” ucapnya. tersenyum disaat aku begitu serius. memotong cake didepannya dengan garpu ditangannya tanpa merasa bersalah karena telah mengatakan ‘akan mati’.

“aku serius sulli….”

“aku juga serius tak ingin menjawab pertanyaanmu…” katanya enteng. Kembali memasukan cake keju kedalam mulutnya.

“baiklah lupakan….” kataku mengambil garpu didepanku. Mulai memakan cake yang tadi sulli berikan padaku.

“………………..tuhan tak akan memisahkan kita, kau harus percaya itu….” katanya tiba-tiba. Membuatku menghentikan kegiatanku memakan cake.

“jika memang tuhan  akan memisahkan kita nanti, aku hanya berharap mautlah yang akan melakukan itu…karena jujur aku tak bisa oppa . jika harus melihatmu bersama wanita lain” sulli meletakkan garpu ditangannya. Mengarahkan kedua mata hitamnya kepadaku.

“aku tau ini sangat egois, tapi aku benar-benar tak ingin kehilanganmu….” lanjutnya.  Yang jujur pernyataan itu menggores hatiku.

Rasanya seperti tercabik mendengarnya mengatakan hal itu.Rasa cintanya yang telah membuatnya berani mengorbankan dirinya demi aku…

Aku bangkit. berdiri disisinya. Merengkuh tubuhnya. memeluknya erat.

“aku mencintaimu….apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan aku oppa ” lirihnya. Membalas pelukanku.

“ne……..aku berjanji”

Berjanji untuk tak akan pernah membuatmu terluka lagi…Tak akan pernah…

.
.

Kutatap wajah putih sulli lekat. menjelajahi setiap lekuk wajahnya dengan ujung jari-jariku.

menciumi  dahi,pipi, bibir dan setiap inci wajahnya lembut.

Menyatukan hati kami didalam kamar ini ditempat kami dapat mencurahkan rasa cinta kami yang begitu besar.

Menyatukan tubuh kami yang kini mulai menempel satu sama lain.

“aku mencintaimu……” bisik sulli ditelingaku.

Mendorongku dan Duduk dipangkuanku .

membuka kancing kemejaku satu persatu. Mengelus dada bidangku dengan tangan lembutnya. Mendekatkan bibirnya pada bibirku.

“aku juga mencintaimu…..” lirihku membalas ucapannya sebelum akhirnya menyambut bibir sulli.

merungguh tubuh sulli semakin dekat .

.
[ typo NC skip ^^ . . . ]
.

Aku menyingkir dari atas tubuh Sulli dan memeluknya.  Sulli tersenyum dan membalas pelukanku. Aku mengecup kening Sulli, dan menghapus peluhnya.

Menyelimuti tubuh polos kami dengan selimut Sebelum akhirnya memejamkan mata kami..

* Keesokkan hari

“kau sudah bangun oppa ?” tanya sulli. memandangku yang baru saja keluar dari dalam kamar tempat kami semalam memadu kasih.

“ne….” aku tersenyum. memeluk tubuhnya dari belakang yang hanya terbungkus kemeja putih yang kebesaran ditubunya.

“kau mau coklat hangat?” tanyanya. Memiringkan kepalanya. Menatapku yang berada dibelakangnya.

“buatkan satu untukku” jawabku. Melepas pelukanku dari tubuhnya. berjalan keluar vila. Duduk dikursi panjang  yang ada disana. menikmati hamparan pohon hijau dengan gunung yang menjulang tinggi dibelakangnya.

“ini……” sulli meletakkan 2 cangkir coklat hangat dimeja depanku.

Duduk disampingku. Menyandarkan kepalanya dibahuku. Menikmati dinginnya pagi ini sembari memandang hamparan pohon hijau didepan kami.

“semalam aku bermimpi aneh oppa…..” ucapnya tiba-tiba yang membuatku mengarahkan pandanganku pada sulli. mendengarkan dengan seksama perkataan yang akan sulli ceritakan padaku.

“aku memimpikan seseorang dengan jubah hitamnya menjemputku….dia bilang waktuku didunia ini telah habis”

Deg !

Aku melebarkan mataku. terkejut mendengar perkataan  yang terlontar dari mulutnya.

“dia menarikku, tak mengizinkanku untuk tinggal meski aku memohon padanya….” lanjutnya. Mengangkat kepalanya dari bahuku. menatapku.

Apakah seseorang berjubah hitam yang ia mimpikan adalah malaikat pencabut nyawanya?

Malaikat pencabut nyawa yang akan memisahkan kami setelah kejadian itu?

“aku takut, aku takut jika dia benar-benar akan membawaku pergi seperti dalam mimpiku…aku takut………..jika suatu hari aku akan meninggalkanmu…” kali ini suaranya memelan. Yang membuatku kembali teringat kejadian itu.

“aku tak mau meninggalkanmu…aku  belum siap meninggalkan dunia ini”

“jangan katakan apapun lagi tak akan terjadi sesuatu denganmu, percayalah”

aku menggerakkan tanganku. membelai kepalanya lembut. Merengkuh tubuhnya. memeluk tubuhnya. berharap waktu berhenti berputar dan membiarkan aku hidup abadi bersama sulli..

Tuhan, aku mohon lindungi sulli…..

aku mohon jangan sampai terjadi sesuatu padanya….

Aku mengeratkan kedua tanganku yang menyatu. Berdoa dihadapan tuhan. Meminta perlindungan darinya, berharap setelah hari itu tiba aku tak melihatnya berada diranjangnya  tanpa bisa berbuat apapun.

“nak……” panggilan lembut terdengar ditelingaku. Memaksaku untuk menghentikan doaku. Menatap seorang pastur yang duduk disampingku. Pastur tua yang tak kukenal.

“kau tak akan bisa merubah takdir itu, tuhan memberikan kesempatan kedua untukmu bukan untuk merubah takdirnya tapi memilih takdir kalian….” ucapnya yang jujur tak bisa kupahami.

Memilih takdir kalian?Aku mengerutkan dahiku. tertunduk. Mencoba mencari arti dibalik ucapan pastur itu. namun gagal.

“apa maksud……..” aku mengangkat wajahku. membelalakkan mataku mendapati pastur yang tadi berada disisiku telah menghilang.

Dimana pastur itu?Aku bangkit memandang sekelilingku. Tak menemukan pastur itu dimanapun. Aku hanya menundukkan kepalaku beberapa menit tapi kenapa pastur itu cepat sekali menghilang.Apakah dia malaikat yang tuhan kirimkan padaku?

Aku mengepalkan tangannku. Memilih mendudukan tubuhku kembali.kau tak akan bisa merubah takdir itu, tuhan memberikan kesempatan kedua untukmu bukan untuk merubah takdirnya tapi memilih takdir kalian..

Sebenarnya apa maksud dari perkataan itu? takdir kami?

Aku berfikir keras. Namun tak juga bisa menemukannya jawabannya.. tuhan memberikan kesempatan kedua untukmu bukan untuk merubah takdirnya tapi memilih takdir kalian….

“ada yang ingin kukatakan padamu….” aku menatap sulli lekat.

“ada apa? apakah kau akan mengatakan ‘ aku merindukanmu’ lagi?” guraunya. Menatapku sembari tersenyum.

“Besok maukah kau berjanji padaku untuk tetap dirumah? Dan tak pergi kemanapun?”

“wae? kenapa aku tak boleh pergi?” tanyanya tak mengerti.

“ada sesuatu yang akan terjadi, sesuatu yang tak akan bisa kuceritakan padamu….”

“tak akan bisa? Apa maksudmu?” tanya sulli semakin tak mengerti.

“aku mohon ini demi kebaikan kita….demi kebaikanmu” jawabku berharap sulli mau mendengarkan aku.

“……”

“berjanjilah padaku….” mohonku lagi. kali ini memegang kedua tangannya erat. Berharap aku dapat membuatnya menghindari takdir itu dengan melarangnya pergi.

“……..ne, aku berjanji oppa ”.

.
.
.
.

*hari itu

Kuhentikan laju mobilku begitu sampai ditempat kejadian itu terjadi. Taman tepi jalan yang  seharusnya kami datangi hari ini.

Apakah meskipun aku menyuruh sulli tak datang kemari, kecelakaan itu masih tetap terjadi?Batinku.

Keluar dari dalam mobilku. menyeberangi jalan untuk sampai ketaman itu. duduk dibangku panjang tempat kami dulu duduk sebelum kejadian itu.

Memandangi lalu lalang kendaraan bermotor didepanku.

“aku  mempunyai sesuatu yang ingin kuberikan padamu….”

“sesuatu?”

“jamkkanman, aku akan mengambilnya dulu dimobil…”

“MINHO OPPA . AWAAS !!”

Aku memejamkan mataku. mengingat kejadian itu kembali.

Tidak ! aku telah menyuruhnya untuk tak datang kemari, kejadian itu tak mungkin terjadi..

Batinku. Menepis semua ingatan itu.Bangkit dan berjalan menyeberangi jalan untuk  kembali kedalam mobilku. berencana menemui sulli.

Namun belum sempat aku melakukan itu sebuah mobil tiba-tiba menghantam tubuhku.

Membuatku terpental cukup jauh dari tempatku berada tadi.

Terbaring dijalanan beraspal tanpa sedikitpun bisa menggerakkan tubuhku.

“aaa……rghh…..” rintihku yang membuat darah segar keluar dari dalam mulutku.

Aku sekarat.

Pandanganku bahkan kini mulai mengabur, bersamaan dengan pasokan oksigen diparu-paruku yang terasa menipis.

Tubuhku sedikit demi sedikit mulai  terasa membeku. Dan  samar-samar aku dapat mendengar bunyi lonceng gereja menggema.

Memenuhi otakku.  dan setelah itu semua menjadi gelap.aku tak bisa mengingat apapun lagi.

Aku mohon, hanya sekali aku mohon kembalikan semuanya seperti semula….

biarkan sulli hidup bahagia dan………………….sebagai gantinya aku yang akan menanggung semuanya…….

=========

Storynotebok
Author P.O.V.

“oppa ? ! . Minho oppa ?…..kau dapat mendengarku? Oppa ……….!” sulli menatap namja didepannya dalam.

namja yang tampak berbaring dengan darah yang mengalir dari setiap luka tubuhnya yang menganga.

“minho oppa ……”

“anda harus menunggu diluar nona …….” cegah seorang  suster padasulli  yang akan masuk kedalam ruang pemeriksaan.

“tapi…….”

“kami mohon tetaplah diluar, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkannya…….”ucap suster itu lagi.

sebelum akhirnya menutup pintu ruang pemeriksaan.meninggalkan sulli diluar ruangan.

“AAARGH !!!” teriak sulli sekeras-kerasnya. mengalirkan air matanya deras .

Meringkukkan tubuhnya dengan punggung yang menyandar pada dinding.

Menangis terisak keras . Atas kejadian yang telah menimpa kekasihnya ……

The end…….

 

67 thoughts on “I Love You Good Bye [One Shoot]

  1. Ohh my god!!!
    Aku dari awal baca pas minho minta permohonan udh mikir pasti diakhir yg bakal sekarat minho…dan ternyata benar hiks hiks
    Walaupun endingnya cuma sampe disini mengkhayal sendiri ajja kali yaa klo minho sadar dan minsul kembali bersatu 🙂

  2. whooaaaa nyesek. walaupun pernah liat film nya 😦 minho ngelawan takdir dengan menggantikan sulli. boookk… kurang romantis apa cobak xD itu seperti jack yang lebih memilih diair yang dingin dan rose yang dibiarkannya berada diatas pintu mengambang atau landon yang merupah sikap nakalnya menjaidi seorang malaikat pelindung bagi jamie yang mengidap leukimia. DISIMPULKAN BAHWA CINTA BUTUH PENGORBANAN .__. sekian hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s