The Antagonist [Chap 1]

ps-dyocta-the-antagonist

The Antagonist

by

Dyocta

Main casts: f(x)’s Sulli, SHINee’s Minho, EXO’s Chanyeol

Supporting casts: Girl’s Day’s Yura & others

Genre: School-life, Friendship & Romance

Length: Chaptered.

Author’s note:

Halloooo ^^ kali ini aku bawa fanfiction baru dengan casts yang gak baru hehehe

Sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih buat supportnya untuk Behind The Scene, mohon maaf kalo ada banyak kekurangan dan gak sesuai sama harapan kalian. Dan semoga fanfic kali ini gak mengecewakan dan kalian gak bosen baca tulisanku.

Mohon komentar dan kritik juga supaya aku bisa memperbaiki kekurangan dari tulisanku. Yang mau ngasih saran juga boleh kok 🙂

Terima kasih.

Pemuda itu memainkan biolanya dengan sangat baik. Menghasilkan alunan musik merdu yang memanjakan telinga siapa saja yang mendengarnya. Tak salah jika dua orang gadis berparas cantik merasa terundang untuk menari di kedua sisinya. Penampilan mereka bertiga kemudian disempurnakan oleh lampu sorot yang mengarah hanya pada mereka.

Salah seorang gadis yang mengenakan leotard merah muda melompat ke udara kemudian berputar sebanyak tiga kali sebelum kakinya kembali menyentuh lantai. Tangannya mengalun lembut mengikuti alunan musik, menyelaraskan nya dengan lekukan tubuhnya yang elastis.

Di sisi lain, gadis dengan leotard hitam berdiam diri. Menunggu gilirannya untuk menunjukkan kemampuannya sambil mengamati tiap gerakan dari gadis di ujung sana dengan takjub. Hingga tiba gilirannya, kemudian ia berputar diatas satu kaki sebelum akhirnya mencoba gerakan arabesque.

Pikirnya ia akan berhasil, tapi takdir berkata lain. Ia terjatuh menghantam lantai ketika ia kehilangan keseimbangannya.

“Astaga, Yura! Sudah kubilang untuk berkonsentrasi lalu kenapa kau masih jatuh juga?!” pekik Sulli, sang gadis dengan leotard merah muda.

“Kau baik-baik saja?”

“Iya, aku baik-baik saja. Maaf, aku memang agak ceroboh.”

Berbeda dengan Sulli, pemuda yang sebelumnya bermain biola justru berjongkok dan menanyakan keadaan Yura. Minho namanya. Hal ini tentu membuat darah Sulli panas hingga mendidih. Ia memicingkan matanya pada Yura dengan lengan menyilang didepan dada.

“Kita ulangi sekali lagi ya?” Yura mengiba.

“Kita sudah mengulangi hampir seratus kali tapi kau masih tidak bisa melakukannya dengan baik. Apa kau masih mau mencobanya huh?” Sulli berkomentar pedas.

“Tidak apa. Kita beri Yura satu kesempatan lagi, oke?” Minho menyentuh lengan Sulli, berniat untuk meredam amarahnya.

Sulli memutar bola matanya keatas. Jengah. Mereka bekerja sebagai team tapi Minho selalu mengambil keputusan tanpa persetujuannya dan tidak jarang mengabaikannya. Padahal Minho mengenalnya jauh lebih lama dibandingkan dengan Yura tapi Minho selalu bersikap lebih manis, lebih lembut, dan perhatian pada Yura.

“Maaf sekali, bukannya aku tidak mau memberi kesempatan kedua padanya tapi waktu kalian sudah habis. Kami akan segera memakai panggung untuk latihan.”

Tiga orang yang berdiri diatas panggung megah itu pun mengarahkan kepala mereka pada seorang pemuda berambut cokelat yang duduk di barisan pertama kursi penonton. Ia tersenyum bak malaikat, sungguh manis sekali.

Namanya Park Chanyeol.

“Seperti yang kau dengar, tidak ada kesempatan kedua.” Sulli menaikan sebelah alisnya.

Minho menghela napas. Ia beralih pada Yura dan memberinya nasehat sebagai penutup perjumpaan mereka siang itu, “Jangan khawatir! Kau pasti bisa melakukannya asal kau rajin berlatih tapi ingat, jangan paksakan dirimu.”

Sulli mendengus sebal.

“Kau sudah melakukan yang terbaik, terima kasih untuk hari ini. Istirahatlah yang cukup, Sulli.” Minho sambil menepuk pundaknya.

“Kau juga. Jaga kesehatanmu!” balasnya dengan senyum tipis.

Chanyeol menyaksikan sepotong kejadian manis itu dengan seringaian tajam di wajahnya. Tapi pada Yura, seringaian itu berubah menjadi senyum manis yang sayangnya tidak sempat dilihat oleh Yura ketika ia berjalan menuruni panggung.

Minho ikut menuruni panggung sambil membawa biolanya. Di belakangnya, Sulli terus menempel padanya bagaikan sebuah bayangan.

Tidak, coret itu.

Sulli bahkan jauh lebih hebat dari sebuah bayangan sekalipun. Jika bayangan akan menghilang pada saat gelap, Sulli akan terus menempel baik ketika terang maupun gelap. Mungkin ia lebih mirip lem super yang tidak akan bisa lepas jika sudah bertemu Minho.

Mereka hidup bertetangga sejak lahir dan tumbuh besar bersama. Ketika mereka masih kecil, Minho, yang selalu bercita-cita menjadi pahlawan, selalu menemani Sulli kemanapun ia pergi. Pada saat itu Sulli terlalu lemah untuk ditinggal seorang diri.

Kenangan masa kecil itu membekas terlalu dalam untuk Sulli. Agar tidak jauh dari Minho, ia selalu memposisikan dirinya sebagai si lemah. Agar tidak jauh dari Minho, ia bahkan melepas beasiswa untuk bersekolah di Juilliard tanpa berpikir dua kali.

Sulli adalah seorang ballerina yang hebat. Ia mengenal ballet sejak kecil melalui ibunya, yang merupakan seorang ballerina profesional. Sepanjang hidupnya dihabiskan untuk mempelajari ballet, tentu saja selain mengikuti Minho kemanapun. Alhasil, di usia yang masih belia, bakatnya sudah tidak bisa ditandingi oleh siapapun di sekolahnya. Menjadikan ia sebagai murid nomor satu dalam bidang tari.

Dan bayangkan gadis sepertinya yang memiliki paras cantik, pintar dan penuh bakat. Ia adalah gadis yang sangat istimewa.

“Hey, kau mau kemana?”

Seorang siswi tiba-tiba muncul entah darimana di belakang panggung. Membawa tas kecil berwarna merah, ia mengintip dari balik pintu masuk dan ketika ia yakin kalau keadaan telah aman, ia berjalan masuk dengan sangat hati-hati.

Tapi ketika Sulli memanggilnya, langkah siswi itu pun terhenti. Ia bergidik ngeri ketika melihat Sulli berdiri memandanginya dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Aku… Sunbaenim, aku ingin… duh, bagaimana caraku mengatakannya?!” siswi itu terbata-bata.

Sulli melipat lengannya didepan dada. Pandangan matanya seakan menguliti siswi itu, tajam layaknya pedang. “Cepat katakan!” katanya.

“Ini… aku ingin memberikan ini untuk Minho oppa.” ungkap siswi itu sambil menunjukan tas merahnya dengan kepala tertunduk.

“Minho… oppa?”

Siswi itu mengangguk. Ditundukan kepalanya dalam-dalam ketika melihat reaksi tidak menyenangkan yang ditunjukan Sulli di wajahnya. Tidak luput dari pandangannya telapak tangan Sulli yang terkepal erat.

“Choi Minho sedang tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa. Jadi jangan buang waktumu dan pergilah!” ujar Sulli dengan sinis.

“Benarkah begitu?”

“Kau tidak percaya padaku huh?” Sulli meninggikan suaranya.

“Aniyo, aniyo, aku percaya padamu.” siswi itu menggelengkan kepalanya sambil berjalan mundur.

Seulas senyum kemudian nampak di wajah Sulli. Yang semula matanya memandang siswi itu dengan tajam, kini sorot matanya berubah ramah dan menyenangkan. Ia kemudian meminta siswi itu untuk menyerahkan tas merah untuk Minho kepadanya.

“Untuk apa, Sunbaenim?” tanya siswi itu.

“Biar aku yang memberikannya pada Minho,” jawabnya hingga membuat kening siswi itu berkerut. “Minho memang tidak ingin bertemu denganmu tapi dia pasti ingin bertemu denganku.” Sulli melanjutkan.

Tamatlah riwayat siswi itu.

Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini hanya menuruti kata-kata Sulli. Andai saja ia mengikuti nasehat teman-temannya untuk tidak mencoba mendekati Minho, ia pasti tidak perlu menahan malu dan jengkel seperti saat ini.

Inilah penyebab kenapa Sulli membiarkan beasiswa Juilliard pergi begitu saja. Karena ia memilih menetap disamping Minho dan menyingkirkan semua gadis yang mencoba mengambil tempatnya di sisi Minho.

Sulli adalah sebuah tembok yang tidak bisa dipanjat oleh siapapun yang ingin mendekati Minho. Itulah Sulli, setidaknya sampai Yura datang di kehidupannya.

“Cepat berikan padaku!” senyum ramah itu hilang dari tempatnya, berganti dengan seringaian menyeramkan.

“I-ini…”

Siswi itu mau tidak mau menyerahkan tas merahnya pada Sulli. Semalam suntuk ia menyiapkan bekal makan siang untuk Minho, senior pujannya, dengan harapan segala usahanya terbayar oleh senyum Minho tapi kini harapan itu lenyap.

Sesudahnya, Sulli mengusir siswi itu dengan halus. Ia memandangi tas merah itu kemudian mengintip apa isinya. Ia pun tersenyum mengejek ketika melihat kotak bekal didalamnya.

“Dasar bodoh!” gumamnya.

“Siapa yang bodoh?”

Sulli hampir melonjak kaget ketika bagaikan sihir Minho tiba-tiba saja berdiri disampingnya. Refleks, ia menyembunyikan tas merah itu dibalik punggungnya.

“Bukan siapa-siapa.” jawabnya setelah menyesuaikan detak jantungnya yang hampir berhenti karena terkejut.

“Lalu apa itu?” Minho berusaha melihat apa yang disembunyikan Sulli di belakang punggungnya.

“Ini? Bukan apa-apa,” Sulli, yang tidak punya pilihan, menunjukan tas merah itu pada Minho. “Seseorang meninggalkan sampah ini diatas meja jadi aku berniat untuk membuangnya.” lanjutnya, tak jujur.

“Oh, begitu.”

“Oh ya, kau mau minum apa? Biar aku yang belikan untukmu,” tanya Sulli kemudian.

“Tidak usah, aku sudah membelinya.” Minho mengangkat botol air mineralnya tinggi.

“Biar aku belikan yang lain, bagaimana kalau jus jeruk? Atau jus apel?”

“Tidak usah, kau tidak perlu-“

“Pilihan yang tepat. Tunggu disini, aku akan belikan jus jeruk.” Sulli tersenyum manis hingga kedua matanya melengkung bak bulan sabit.

“Dia memang tidak pernah berubah.” Minho tertawa kecil ketika melihat punggung Sulli yang mulai menghilang dari penglihatannya.

-o-

Tidak hanya jeruk, Sulli membawakan berbagai macam jus rasa buah hanya untuk Minho. Membayangkan berapa banyak waktu yang akan ia habiskan bersama Minho untuk menghabiskan botol-botol jus itu membuatnya tersenyum geli. Pasti romantis, pikirnya.

Tapi semuanya tinggal kenangan ketika ia tidak menemukan Minho di tempat terakhir mereka bertemu. Matanya mencari Minho di tiap sudut tapi setelah sepuluh menit mencari, ia tidak menemukan pemuda itu dimanapun.

“Kemana dia?” ia bertanya-tanya. Dan sebuah nama terlintas di kepalanya, “Yura!!” ia berseru sambil menjentikan jarinya.

Sulli menghentakan kakinya pada lantai hingga terdengar bunyi dentuman yang agak keras. Ia lantas berbalik, berniat untuk mencari Minho yang kemungkinan besar sedang bersama Yura saat itu.

Tapi Sulli hampir saja terjungkal ke belakang ketika tubuh tinggi Chanyeol menghalangi langkahnya. Beruntung sekali Chanyeol dapat merengkuhnya hingga ia tidak jatuh.

“Omo, kau mengejutkanku!” katanya sambil melepaskan tangan Chanyeol dari pundaknya.

“Apa kau sedang mencari Minho?” tanya Chanyeol.

“Iya, apa kau melihatnya?”

“Terakhir kali aku melihatnya, dia sedang bersama Yura.”

“Apa?” mata Sulli melebar. “Lalu kenapa kau tidak memisahkan mereka, bodoh?!” dan langsung bergegas pergi mencari letak keberadaan mereka.

Ia berlarian ke kanan dan kiri, bertanya pada murid yang melintas. Di belakangnya, Chanyeol dengan setia mengikuti. Tapi jauh lebih santai jika dibandingkan dengan Sulli.

“Dimana kau melihat mereka?” tanya Sulli pada akhirnya.

“Bukankah akan lebih mudah jika kau bertanya padaku sejak awal?” Chanyeol menyeringai.

“Cepat jawab aku!” Sulli menarik kerah blazer kuning Chanyeol.

“Mereka ada di ruang kelasmu.”

Sulli melepaskan tangannya dari Chanyeol. Sebelum ia pergi ke tempat yang disebutkan tadi, ia memberi tatapan tajam pada pemuda berperawakan tinggi itu. Ingin rasanya merobek bibir Chanyeol yang kerap kali tersenyum tanpa rasa bersalah.

Bukan rahasia lagi kalau Park Chanyeol adalah versi pria dari Sulli. Mereka berdua sama pintar, berpenampilan menarik, dan penuh dengan bakat. Jika Sulli sangat berbakat dalam bidang seni tari, terutama ballet, Chanyeol adalah yang selalu dibanggakan dalam bidang seni peran.

Tidak sampai disitu saja persamaan mereka berdua. Dalam urusan cinta mereka juga memiliki banyak kesamaan. Salah satu yang paling menonjol adalah mereka sama-sama menyukai orang lain secara sepihak. Jika Sulli rela melepas beasiswa Juilliard demi Minho, maka Chanyeol merelakan mimpinya menjadi pemain basket demi masuk sekolah yang sama dengan Yura.

Cerita Chanyeol dan Yura sudah melegenda layaknya kisah Sulli dan Minho. Menurut sumber yang terpercaya, Chanyeol dan Yura adalah teman dekat semasa sekolah menengah pertama. Keduanya selalu terlihat bersama di berbagai kesempatan. Sama persis layaknya Sulli dan Minho.

Suatu ketika Chanyeol mengutarakan perasaannya pada Yura tanpa sengaja didepan publik. Ia bilang kalau ia akan mengikuti kemana Yura pergi setelah lulus sekolah menengah pertama dan ia akan meninggalkan basket demi Yura.

Teman-teman dekat Chanyeol yang mengetahui passion Chanyeol yang sebenarnya, yaitu basket, merasa kesal dengan Yura. Tidak jarang mereka mengerjai Yura hingga gadis itu kesusahan. Dalam sekejap Yura menjadi musuh nomor satu di sekolah mereka dulu. Sejak saat itu juga Yura menjaga jarak dari Chanyeol dan memperlakukannya seperti orang asing.

Tapi Chanyeol tidak pernah berubah untuk Yura.

“Apa kakimu terluka?”

“Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya kurang konsentrasi tadi.”

Sulli mengepalkan tangannya ketika melihat dua sosok orang yang dicarinya tengah berbincang didalam kelas. Minho nampak berlutut untuk mengecek keadaan Yura yang tadi sempat terjatuh. Dan Yura, seperti biasa, bersikap manis layaknya dewi.

“Mungkin ini saatnya kita untuk menyerah pada kenyataan.” Chanyeol mengikuti arah pandangan Sulli yang berdiam diri diambang pintu masuk kelasnya.

“Tidak akan.”

“Tidakkah kau sadar kalau apapun yang kau lakukan kau tidak akan bisa memisahkan mereka berdua?” tanya Chanyeol.

“Itu karena aku belum mengerahkan seluruh tenagaku.” jawab Sulli tanpa melepaskan pandangannya dari Minho.

Sementara Chanyeol memandang lurus ke dalam mata Sulli. “Kau menyukainya tapi dia tidak menyukaimu, bukankah itu melelahkan? Aku menyukai Yura tapi dia menganggap aku tidak ada, terkadang itu melelahkan.” ujarnya.

Sulli balas menatap mata Chanyeol. Ia tersenyum sinis, “Kau hanya perlu beristirahat jika kau lelah,” ia memberi saran.

Chanyeol menganggukan kepala, setuju pada apa yang dikatakan Sulli. Ia juga sempat tersenyum, dan ia nampak bagaikan malaikat ketika tersenyum. Meski sejujurnya tiap kali ia tersenyum, itu justru lebih mirip sebuah seringaian.

“Ada satu hal yang sangat ingin aku tanyakan padamu,” Chanyeol kemudian bertanya, “Kenapa kau sangat menyukai Minho?”

“Itu mudah,” Sulli kembali menatap Minho dari kejauhan. “Karena dia adalah Choi Minho.” jawabnya.

“Jawaban yang bagus.” puji Chanyeol.

Tapi Sulli tidak termakan oleh pujian itu. “Simpan saja pujianmu dan bawa Yura menyingkir dari Minho-ku!” katanya tegas.

Chanyeol mengedipkan sebelah matanya pada Sulli sebagai respon dari ucapan sinis Sulli. Kemudian ia berjalan masuk dan menyapa Minho dan Yura yang tengah membicarakan pementasan musik yang melibatkan mereka juga Sulli.

“Ternyata kalian berdua ada disini. Sejak tadi Sulli mencari kalian kesana-kemari.” ungkap Chanyeol.

Kemudian Sulli melangkah masuk dengan anggun. Ia berkata, “Aniyo, aku hanya mencari Minho saja.”

Suasana diantara mereka berempat pun berubah canggung. Yura memalingkan wajahnya, Minho menggaruk tengkuk lehernya dan Chanyeol menahan tawa seorang diri.

-o-

Dipersatukan dalam satu projek bersama Sulli adalah sebuah anugerah untuk Yura. Apalagi mereka juga berkesempatan untuk berkolaborasi dengan Minho, murid seni musik yang merupakan teman baik Yura sejak masuk ke sekolah itu.

Adalah pementasan musik untuk memeriahkan ulang tahun sekolah yang menyatukan mereka. Sekolah mereka adalah sekolah seni terbaik di Korea yang selalu diidentikan dengan seragam berwarna kuning cerah. Disana murid-murid dibagi ke dalam tiga bidang seni, yaitu seni musik, seni tari dan seni peran. Dan dalam pementasan musik nanti, murid seni tari berkesempatan untuk bekerja sama dengan seni musik.

Bagi Yura, bekerja sama dengan dua orang teman yang dikagumi sangatlah menyenangkan. Terutama dengan Sulli. Yura sangat mengagumi kehebatan Sulli dalam menari ballet. Dan dengan berada dalam satu projek bersamanya, Yura berharap besar untuk bisa mengikuti jejak Sulli.

Tapi semuanya tidak berjalan sesuai harapan.

Sejak hari pertama mereka bertemu Sulli menarik garis yang jelas diantara mereka. Sulli tidak menyukainya. Ia selalu berkata sinis dan terkadang membodohinya.

Meski kadang Yura terluka, Yura tidak pernah berbalik memusuhinya. Sulli tetaplah sosok panutannya dalam menari. Sulli selalu bekerja keras, tidak pernah mengeluh dan tidak pernah menyerah.

Sulli adalah wujud lain dari kesempurnaan.

“Kau memang tidak pernah mengecewakanku, Sulli.” puji Song Qian, guru ballet di sekolah mereka, setelah menyaksikan Sulli beraksi ditengah kelas.

Gadis itu melakukan banyak trik sulit dengan sempurna. Tubuhnya mengalun sempurna dengan musik. Melompat, berputar, ia menyelesaikan tiga menit tariannya dengan sangat apik.

Murid-murid lain bertepuk tangan, saling berbisik memuji kepiawaiannya yang tidak terbantahkan. Ada sebuah senyum tersimpul di wajah Yura. Tinggi harapannya untuk bisa menari sebaik Sulli. Suatu hari nanti ia pasti bisa melakukannya, ia berjanji pada dirinya sendiri.

“Kamsahamnida.”

“Baiklah kalau begitu kelas hari ini kunyatakan selesai. Kalian boleh pulang, kecuali Sulli dan Yura.” Qian berkata.

Sulli dan Yura saling bertukar pandangan. Setelah kelas dibubarkan, keduanya menghadap Qian yang berdiri ditengah ruangan. Hari itu ia akan menyampaikan pesan penting pada mereka berdua.

“Sebagai sekolah seni terbaik di Korea, sekolah kita mendapatkan kesempatan untuk menghadiri sebuah event penting di Juilliard,” Qian membuka topik pembicaraan. “Tiga murid yang terpilih akan mewakili sekolah kita di Juilliard, dan masing-masing bidang seni akan mengirim satu muridnya sebagai perwakilan. Akan diadakan audisi besar-besaran untuk menentukan tiga murid pilihan tersebut, dan aku menaruh harapanku pada kalian berdua.”

“Benarkah?” Yura nampak antusias.

“Bukankah sudah pasti aku yang akan mewakili bidang seni tari? Untuk apa bersusah payah mengadakan audisi?!” Sulli mengerutkan keningnya.

Sejujurnya inilah yang membuat Qian meragukan Sulli untuk mewakili bidang seni tari tanpa audisi. Karena selain sifatnya yang keras kepala, ia sudah tidak memerlukan bimbingan. Kemampuannya sudah sangat mumpuni, hanya perlu berlatih lebih keras maka ia akan menjadi ballerina ternama.

Kesempatan emas seperti ini, sebenarnya, Qian inginkan untuk Yura dapatkan. Ia memiliki passion yang besar pada ballet tapi kemampuannya tidak sehebat Sulli. Qian ingin Yura belajar banyak ketika ia pergi ke Juilliard nanti dan menyempurnakan kemampuannya.

Tapi Qian tidak bisa menyalahi aturan, dewan sekolah sudah memutuskan mengadakan audisi maka ia pun harus tunduk pada aturan itu. Alasan ini juga yang ia gunakan untuk menjawab pertanyaan Sulli sebelumnya.

“Ini berita yang sangat baik.” Yura tersenyum.

Sementara bagi Sulli, ini adalah berita buruk. Bagaimana bisa ia dan Yura disandingkan dalam satu level? Ini pasti hanya mimpi. Ia jauh lebih unggul dari Yura, orang buta pun tahu itu.

“Jangan bermimpi!” bisik Sulli dengan sangat pelan.

“Audisi akan diselenggarakan akhir bulan depan. Bersiaplah! Kalian bisa menghubungiku jika ada yang ingin kalian tanyakan.” Qian berpesan.

Sulli dan Yura mengangguk bersamaan.

Sulli menghela napas panjang setelah Qian pergi. Masih sulit rasanya untuk percaya kalau Yura dianggap memiliki peluang yang sama besar dengannya untuk lulus audisi. Yura adalah penari amatir. Ia hanya terlihat cantik ketika memakai baju ballet, tapi ia tidak bisa menari.

“Aku harus berlatih dengan keras!” Yura menyemangati dirinya sendiri.

“Kelihatannya kau sangat senang,” ujar Sulli padanya.

“Tentu saja. Juilliard adalah mimpiku. Meski aku tidak bisa sekolah disana, untuk sekali saja dalam seumur hidupku aku ingin pergi kesana.” balas Yura.

“Sebaiknya kau jangan berharap terlalu tinggi… asal kau tahu saja, rasanya agak menyakitkan saat kau jatuh.”

Dan Sulli meninggalkan Yura dengan kata-kata kejamnya itu. Binar-binar kebahagiaan di mata Yura pun lantas hilang. Ia tertunduk, kemudian tersenyum pahit.

Tak disangka Sulli bertemu dengan Chanyeol di luar ruang kelasnya. Pemuda itu sedang memainkan dasinya sementara tangan kanannya dimasukan ke dalam kantung. Ia nampak sangat tampan dengan pose itu tapi tidak cukup untuk membuat Sulli mengakuinya.

“Hai…” Chanyeol menyapa ketika Sulli melintas didepannya.

“Dia ada didalam.” ujar Sulli tanpa menoleh.

“Aku datang kesini untuk bertemu denganmu, bukan Yura.”

Kemudian langkah Sulli terhenti.

 

to be continued…

147 thoughts on “The Antagonist [Chap 1]

  1. Bagus bget . . . Tapi jgn ampek minho jatuh Cɪ̣̝̇∏tα̩ά̲̣̥α̇̇̇ɑ̤̥̈̊  sma yurra . . ..
    Minho harus Cɪ̣̝̇∏tα̩ά̲̣̥α̇̇̇ɑ̤̥̈̊  n S̶̲̥̅̊u̶̲̥̅̊k̶̲̥̅̊a̶̲̥̅̊♡ sma sulli wajib.

  2. Ganyangka bgt disini Sulli jd jahat!! Yaampun Yura kok polos bgt sih.. Semoga Minho gak suka sm Yura deh.. Keep fighting for writing this fanfiction, thor!;) Makin seru nih kayaknyaaa…

  3. waaw suatu amat langka kalo sulli castnya peran antagonis 😀 gimana ya ngebayanginnya muka imut polos kyk sulli jd antagonis >< hoho
    Minho suka jg gak sama sulli? ya pasti dong yah 😀 MinSul always together atuh :*
    Chanyeol yura? Aduuh jangan.. chanyeol punya saya -,-

  4. eeemm seru nie sulli jd antoginis.. eemm pa minho suka m sulli yg antogonis tw minho suka ma yura ya.. eemm pnasaran thor..

  5. cerita yang menarik… beda banget karakter sulli eonni dsn makin penasaran sama kelanjutannya>.< semangat author 😀

  6. wow, ssul jadi jutek banget. Beda dari peran ssul yg biasanya manis, keren thor, ceritanya bagus
    Trus kata” ssul simple tp tepat sasaran, kata”nya nunjukin kalo ssul itu cerdas dan punya pendirian.
    Daebak authornim, next

  7. pertama kali aku baca ff sullinya jahat tp jadi pemeran utama, aku masih bingung kenapa sulli bisa jahat?
    ff ini buat aku penasaran.. next daebak thor 😊😊😊

  8. Ngebayangin wajah innocent nya sulli tp dgn perkataan yg super jleb itu sangat gag cocok -_-
    Tp sekali” sulli jd antagonis bagus lah 😀
    Lanjut terus buat ff nya 🙂

  9. Awalnya aku penasaran karena judulnya, ternyata ceritanya seperti ini..
    Dari judulnya harusnya aku tahu sih, ada yg jahat antara minho atau sulli, tapi aku tetap merasa gak rela kalau sulli yg antagonis..
    Gak rela uhuhu 😦 😦
    aku lebih rela kalau minho yg antagonis ;(

  10. keren bgt thor!!
    yg bikin menarik disini sulli jdi peran antagonis XD kan jarang2 tuh!!
    malah disini jdi gemes bgt sm yura yg bilangnya kaya dewi 😦
    walaupun ssul antagonis tetep dong minsul bakal bersatu
    peran chanyeol jga jd penyempurna ni ff 🙂
    tpi sbnarnya minho memang suka sm yuraya?? pkoknya jgn sampe deh!! 😦

  11. Yaaah sulli kok jutek banget sih ke semua orang gara2 minho?
    Trus gimana sama minhonya? Dia juga suka ama sulli apa cuma nganggep temen tuh?
    Ceritanya menarik thor.. Next yaa ^^

  12. Aaa . Greget ama Sulli . Peran antagonis ya . Penggambarannya dapat banget nih , author emg daebbak deh dgn tulisan2nya . :*
    aku kira Chanyeol suka sama Sulli eh ternyata ama Yura . Sama2 bertepuk seblah tangan , 😥
    minho pekaa dong ama sulli .
    Next capt yaaaa ..

  13. ceritanya menarik banget eonni, aku sukaa
    sulli disini jadi antagonist gitu ya
    aku kira chanyeol suka sama sulli, atau nanti chanyeol akan suka sama sulli?
    tetep semangat eonni nulis ff nya!

  14. Ohio… Daebak emang ceritanya.. Menarik banget.. Karakter sull yang sedikit kejam.. Berbeda bgt…
    Ming sama turu lebih perhatian?? Jgn smpe Ming jatuh cinta sama turu.. -_-
    Nah semoga sull bisa menang audisi itu yahh.. Jgn sampe yuda -_-

  15. o’oouu.. trnyata karakter sulli lumayan ganas d ff ini.. bklan menarik nii..senengnya akhir2 ini udh bisa bca ff lagii.. walaupun tugas kmpus msh naik-turun..haha
    karakter sulli d chapter ini udh kliatan.. tpi aku msh ragu2 ni sma minhoo.. knpa ni org kok dkt bnget sma si yuraa.. ini tdk bsa dibiarkan!!
    ok..baiklah.. syaa akn mlnjtkan mmbca untuk chapter2 brkutnya..
    adios~ chao

  16. Kyyyaaa dsni Sulli kelihatan sombong dan aku suka itu..karakter baru Sulli…yeee 🙂 🙂
    Apakah Minho oppa tidak menyukai Sulli?? 😥 😥
    Untuk apa Chanyeol menemui Sulli??
    Jadi pensaran siapa yg akan memenangkan audisi itu…

  17. Sulli eoni ko jahat ya ?
    Sulli eoni itu gk pantes jahat, soal ny kelitan dari muka ny yg polos.
    Sulii eoni jahat gara* gk mau kehilangan minho oppa. Mungkin .
    Mudah*an minho oppa gk suka sama yura .
    Meskipun sulli jahat di ff ni tapi hati ny baik. Minho oppa pasti ngerti.

  18. woaaah sulli dsni peranx antagonis ya,,menarik untk dbca,,jrang2 q nemuin ff yg peranx sulli bgni,,, sulli sma chanyeol sma2 mengalami cinta sepihak,, minho prhatian bgt sma yura,,,apa dg bgtu ntar sulli menyerah,,mga aja tdak,,,

  19. Uwooooow! Ini ff yg punya karakter beda dari ff lain. Keren deh, yg agak2 antagonis dijadiin peran utama, aku sukaaaaa 😀 tapi agak ga nyangka juga sih sulli yg meraninnya. Kekekeke. Aku suka, fightiiiiiing 🙂

  20. suka, menarik banget, serasa baca novel:D ah, karakter sulli dibuat beda dr biasanya:3 benang merahnya luas, anjutkan author, pertahankan! 😀 Aku setia baca dn nunggu;)

  21. Wah bagus ffnya…peran sulli disinibyg buat beda biasanyaa kn sulli jdi tokoh protagonis. Dan selalu jadi sosok penyabar dan lemah: )
    Wew ada park chanyeol juga: )
    Jng sampe minho jatuh cinta sama yura yaa min; (

  22. aishhh kesal liat yura di ff iniii…terus minho oppa jga, ngapain sih perhatian banget sma si yura blum tentu yura itu baik alias diam diam munafik…karakter sulli disini beda banget sma karakter di ff lain…biasanya kan sulli jdi penyabar, lemah lembut, dan baik hatiiii…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s