Winter in Tokyo [Korea Version] Part 1

Winter in Tokyo-nadh

Novel by : Ilana Tan

Main Cast : Choi Minho & Choi Sulli

Support Cast : Sandara Park, Sang Hyun Park (Thunder), and Other [Masih akan sering bertambah di setiap Part]

Genre : Drama, Romance, Sad/Hurt

Lenght : Chaptered

Prolog

Ia menyesap minumannya pelan dan memandang ke luar jendela. Salju mulai turun lagi. Ia berdiri di sana beberapa saat, memandangi butiran salju yang melayang-layang di luar.

Ada yang hilang.

Keningnya berkerut samar. Tentu saja ada yang hilang. Ia tahu benar ada sesuatu yang hilang. Hanya saja ia tidak tahu apa yang hilang itu. Dan apakah sesuatu yang hilang itu penting atau tidak.

Ia menarik napas dalam-dalam. Yah… mungkin bukan sesuatu yang penting.

Ia berputar membelakangi jendela dan memandang ke sekeliling ruangan. Aula besar itu mulai ramai. Orang-orang terlihat gembira,saling tersenyum, tertawa, dan mengobrol. Seorang kenalannya tersenyum dan melambai ke arahnya. Ia balas tersenyum dan mengangkat gelas.

Tepat pada saat itulah ia melihat orang itu.

Orang itu baru memasuki ruangan. Matanya tidak berkedip mengamati orang itu menyalami beberapa orang sambil tersenyum lebar. Aneh… Ia menyadari dirinya tidak bisa mengalihkan pandangan.

Ia melihat orang itu mengambil segelas minuman dari meja bulat bertaplak putih sambil bercakap-cakap dengan seseorang yang berdiri di sampingnya. Kemudian orang itu mengangkat wajah dan memandang ke seberang ruangan. Tepat ke arahnya.

Mata mereka bertemu dan waktu serasa berhenti.

Aneh sekali. Otaknya tidak mengenal orang itu. Ia yakin ia tidak mengenal orang itu. Tetapi kenapa sepertinya hatinya berkata sebaliknya?

Kenapa hatinya seakan berkata padanya bahwa ia merindukan orang itu?

________________

Part 1

Musim dingin sudah tiba dan menyelimuti kota Seoul. Angin bertiup agak kencang malam ini. Choi Sulli mengibaskan rambut sebahunya ke belakang agar tidak menghalangi pandangan sementara ia bergegas menyusuri jalan kecil dan sepi yang mengarah ke gedung apartemennya. Ia menggigil karena rasa dingin mulai menembus jaket dan sweter tebalnya. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah, minum secangkir cokelat panas, dan makan ramyeon. Memikirkannya saja sudah membuat perut keroncongan. Dingin-dingin begini memang paling enak…

“Hei!”

Sulli terlompat kaget dan berputar cepat. Matanya terbelalak menatap wanita dengan rambut pendek dicat pirang manyala yang sudah berdiri di sampingnya. Begitu mengenali wanita itu sebagai Sandara Park, tetangganya yang tinggal di apartemen lantai bawah, Sulli menghembuskan napas lega.

“Dara Eonni,” Sulli mendesah sambil memegang dada. “Eonni membuatku terkejut setengah mati.”

Sandara Park mendecakkan lidah dan tersenyum lebar. “Kau terlalu gampang terkejut.”

“Eonni tahu aku selalu merasa waswas kalau berjalan sendirian di jalan sepi,” kata Sulli. “Dan aku punya alasan bagus untuk itu.”

“Baiklah, baiklah. Aku minta maaf. Ayo, cepat. Aku sudah hampir beku,” kata Dara sambil menggandeng lengan Sulli.

“Kelihatannya barang bawaanmu banyak sekali. Kau bawa buku lagi hari ini?”

Sulli mengeluarkan dua buku dari tas tangannya yang superbesar. Dua-duanya buku klasik terkenal. “Dua buku ini baru masuk hari ini, jadi aku orang pertama yang membacanya.”

Ia bekerja di sebuah perpustakaan umum di Kangnam dan ia sangat menyukai pekerjaannya. Sejak kecil ia memang sangat gemar membaca buku dan impiannya adalah bekerja di perpustakaan, tempat ia bisa membaca buku sepuas hatinya, tanpa gangguan, dan tanpa perlu mengeluarkan uang.

“Eonni mau membacanya?” tanyanya pada Dara yang menatap kedua buku itu dengan kening berkerut. “Akan kupinjamkan kalau aku sudah selesai.”

Alis Dara terangkat tinggi dan ia melotot ke arah Sulli “Buku bahasa Inggris? Yang benar saja,” katanya. “Kau tahu benar bahasa Inggris-ku sekadar yes, no, thank you, I love you. Terlebih lagi, aku tidak suka membaca buku. Otakku yang sederhana ini hanya bisa memahami Manhwa.”

Sulli tertawa, lalu mengalihkan pembicaraan. “Hari ini Eonni pulang terlambat,” katanya.

Dara mengangguk. “Ya, tadi ada janji dengan teman,” sahutnya ringan. “Oh, Thunder pasti hampir mati kelaparan sekarang. Dia sudah meneleponku sejak tadi dan bertanya kapan aku pulang. Entah kapan anak itu bisa dewasa dan berhenti merecoki kakaknya ini. Aku sudah tidak sabar menunggunya lulus kuliah dan menjadi pengacara. Saat itu aku yang akan merecokinya.”

Beberapa menit kemudian mereka tiba di depan gedung apartemen mereka. Sebenarnya bangunan yang disebut-sebut sebagai gedung apartemen itu tidak benar-benar mirip gedung apartemen dalam bayangan kebanyakan orang. Gedung itu hanya bangunan tua tingkat dua berukuran kecil. Setiap lantainya memiliki dua apartemen yang berhadapan. Tidak ada lift, hanya ada tangga yang tidak terlalu lebar.

Di lantai dasar, apartemen 101 ditempati oleh sepasang suami-istri tua bermarga Kim, yang sekaligus merupakan penanggung jawab gedung. Apartemen di seberang mereka, nomor 102 ditempati oleh kakak-beradik Park. Sandara Park berumur 28 tahun—tiga tahun lebih tua daripada Sulli—dan bekerja sebagai penata rambut di salon sekitar Hongdae, sedangkan adik laki-lakinya, Sang Hyun Park atau lebih senang menyebut dirinya Thunder, adalah mahasiswa jurusan hukum.

Sulli sendiri menempati apartemen 202 di lantai dua. Apartemen 201 saat ini kosong. Saat Sulli pertama kali pindah ke gedung apartemen ini lima tahun yang lalu, penghuni apartemen 201 adalah seorang arsitek muda yang sudah cukup lama tinggal di sana, kemudian tahun lalu sepasang suami-istri muda menggantikan si arsitek. Pasangan suami-istri itu menempati apartemen di seberang apartemen Sulli selama setahun dan bulan lalu mereka memutuskan untuk membeli rumah kecil kemudian pindah.

Walaupun gedung itu sudah tua, kondisi apartemen di sana sama sekali tidak buruk. Ruangannya cukup luas kalau dibandingkan dengan apartemen lain pada umumnya, fasilitasnya memadai, dan biaya sewanya termasuk murah. Tidak mungkin menemukan apartemen seperti itu di pusat kota Seoul.

Setiap apartemen di sana memiliki susunan yang sama: dapur, ruang duduk yang mengarah ke balkon sempit yang berfungsi sebagai tempat menjemur pakaian, satu bilik kecil khusus untuk kloset, satu kamar mandi kecil yang dilengkapi dengan mesin pemanas air, dan dua kamar tidur yang juga berukuran kecil. Apartemen 101 dan 201 memiliki balkon menghadap ke utara, sedangkan balkon apartemen 102 dan 202 menghadap ke selatan. Selain itu semua penghuni apartemen di sana adalah orang-orang yang menyenangkan dan Sulli sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri.

Ketika mereka tiba di depan pintu apartemen 102, Dara berbalik menghadap Sulli. “Oh ya, apakah aku sudah tahu penyewa baru apartemen 201 sudah datang?”

Mata Sulli melebar. “Benarkah?”

Dara mengangguk. “Aku sendiri belum pernah melihat orang baru itu, tapi Thunder melihatnya tadi pagi.”

“Laki-laki?” tanya Sulli.

Dara mengangguk lagi. “Kata Thunder, orang itu datang sendirian dan langsung masuk ke apartemen 201. Tidak keluar lagi sejak saat itu. Aneh, bukan?”

Kening Sulli berkerut samar. “Bukankah Thunder-ssi pergi kuliah pagi tadi? Bagaimana dia bisa tahu orang itu keluar lagi atau tidak?”

Dara menggeleng dan mengibas-ngibaskan tangan. “Thunder memang pergi kuliah, tapi Nenek masih ada di rumah saat itu,” katanya, merujuk pada Nenek Kim yang tinggal di seberang apartemennya. “Nenek juga tahu ada orang yang masuk ke apartemen 201 tadi pagi dan sepanjang hari Nenek sudah memasang mata dan telinga. Orang itu tidak keluar-keluar sampai sekarang.”

“Begitu?” gumam Sulli sambil merenung. “Mungkin Kakek Kim tahu siapa yang menyewa apartemen itu.”

“Kurasa tidak,” sahut Dara. “Kata Nenek, orang yang sejak awal datang untuk melihat keadaan apartemen dan mengurus semua tentang masalah sewa-menyewa bukan laki-laki ini. Mungkin dia memakai jasa agen atau semacam itu.”

“Oh…”

Dara mengeluarkan kunci pintu dari tas tangannya dan tersenyum. “Baiklah, aku harus masuk dan memberi makan adikku yang manja itu. Selamat malam, Sulli.”

“Selamat malam.” Sulli melambaikan tangan dan bergegas menaiki tangga sambil menggosok-gosok kedua tangannya yang terasa dingin walaupun sudah terbungkus sarung tangan.

Ketika mencapai pintu apartemennya, ia berhenti lalu menoleh dan menatap pintu apartemen 201. Keningnya berkerut. Ia sama sekali tidak mendengar suara apa pun dari balik pintu. Benarkah sudah ada yang menyewa apartemen itu? Kenapa tidak ada suara? Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di dalam.

Tiba-tiba pikiran buruk melintas dalam benak Sulli. Bagaimana kalau penyewa baru itu jatuh sakit? Sulli cepat-cepat menggeleng untuk mengenyahkan gagasan itu. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Mungkin saja orang itu sedang tidak ada di rumah. Bisa saja orang itu keluar rumah ketika Nenek Kim sedang tidak memerhatikan.

Tapi tetap saja ada kemungkinan penyewa baru itu benar-benar belum keluar sejak pagi. Bagaimana kalau orang itu sakit dan terlalu lemah untuk bangun dari tempat tidur? Bagaimana kalau orang itu tidak punya siapa-siapa untuk dimintai tolong? Bagaimana kalau orang itu menderita penyakit jantung dan sekarang sedang kesakitan? Bagaimana kalau ia jatuh pingsan di dalam sana? Bagaimana kalau ia sedang sekarat?!

Sulli menggigil memikirkan kemungkinan itu. Kemudian ia menepuk pelan kepalanya yang tertutup topi rajutan putih. Ah, tidak mungkin. Jangan berpikiran buruk. Sejak kecil daya imajinasinya memang hebat karena terlalu banyak membaca buku. Mungkin seharusnya ia menjadi penulis buku fantasi. Tapi…

Sulli maju selangkah mendekati pintu apartemen 201 dengan ragu-ragu. Ia menyapu poninya yang terpotong rapi dari kening dan menarik napas panjang. Kemudian setelah membulatkan tekad, ia menempelkan telinga kanannya ke pintu dengan hati-hati. Tidak terdengar apa-apa. Ia memutar kepalanya dan kali ini telinga kirinya yang ditempelkan ke pintu. Masih tetap sunyi senyap di dalam sana.

Apakah ia harus memanggil Kakek Kim? Rasanya tidak enak mengganggu Kakek malam-malam begini. Tapi…

Sulli masih sibuk menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan ketika pintu itu mendadak berayun terbuka dengan satu gerakan cepat, membuat kepalanya yang masih menempel di daun pintu kehilangan sandaran dan tubuhnya jatuh ke depan. Ia sempat memekik kaget sebelum jatuh terduduk di lantai batu yang dingin.

“Aduh, aduh, aduh… Kepalaku, aduh, pantatku…” Sulli mengerang sambil mengusap sisi kepalanya, sama sekali tidak sadar bahwa ia mengerang dalam bahasa ibunya.

Dua-tiga detik kemudian, Sulli tersadar kembali dan langsung mendongak. Matanya terbelalak kaget, terpaku pada sosok jangkung yang berdiri di ambang pintu apartemen 201 yang terbuka. Awalnya Sulli tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri di sana karena bagian dalam apartemen itu gelap gulita. Namun kemudian ia bisa melihat lebih jelas ketika sosok itu maju selangkah dan sinar lampu di koridor meneranginya.

Laki-laki bertubuh tinggi yang berdiri di sana terlihat berantakan. Rambutnya yang gelap awut-awutan, sweter hitam dan celana jins yang dikenakannya juga kelihatan lusuh. Sulli tidak bisa menebak umur laki-laki itu karena penampilannya sungguh kacau dan sepertinya ia belum bercukur hari ini. Sulli juga tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan orang itu. Terkejut? Heran? Marah?

Beberapa saat kemudian laki-laki itu berkata dengan nada rendah dan serak. “Kau tidak apa-apa?”

Sulli tidak sempat menjawab, karena mendadak saja suasana menjadi heboh.

* * *

Choi Minho terbangun dengan kepala pusing dan badan kaku. Hal pertama yang di sadarinya adalah keadaan kamarnya yang gelap gulita. Ia melirik ke luar jendela. Langit di luar gelap. Sudah malam kah? Jam berapa ini? Ia mengerang, lalu memejamkan mata sejenak. Ia masih lelah sekali. Badannya menolak untuk bergerak. Pelipisnya berdenyut-denyut. Penerbangan dari New York ke Seoul menguras tenaganya dan membuatnya jet-lag. Ia memang tidak pernah suka melakukan penerbangan jauh.

Tenggorokannya kering. Ia harus minum sebelum tubuhnya dehidrasi. Kapan terakhir kali ia minum? Ia tidak ingat. Mungkin sewaktu di pesawat.

Minho memaksa dirinya bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan untuk sedikit menyadarkan diri. Lalu perlahan ia bangkit dan menyeret kakinya yang berkaus kaki tebal keluar dari kamar.

Sinar bulan dan lampu jalan yang masuk lewat pintu kaca balkon menerangi ruang duduk. Penerangan remang-remang itu sudah cukup bagi Minho. Ia tidak mau menyalakan lampu karena matanya bahkan belum terbiasa dengan penerangan samar yang ada, apalagi sinar lampu yang terang benderang. Ia haus dan ia baru menyadari bahwa perutnya juga lapar.

Kapan terakhir kali ia makan? Sewaktu di pesawat? Ia ingat ia hanya makan sedikit di pesawat karena sama sekali tidak berselera. Pantas saja sekarang ia kelaparan.

Minho baru akan berjalan ke dapur ketika mendengar bunyi gemeresik samar di luar pintu apartemennya. Ia menoleh dan melihat bayangan gelap terpantul dari bawah celah pintu. Matanya menyipit. Ada orang di luar pintunya. Bayangan di bawah celah pintu itu bergerak-gerak. Niat awalnya mencari minuman batal. Ia berbalik, menghampiri pintu, dan memasang telinga.

Tidak terdengar suara orang berbicara, tapi sudah jelas ada orang yang berdiri di luar sana. Tangannya terangkat ke pegangan pintu, lalu dengan satu sentakan cepat, ia menarik pintu itu membuka. Pintu itu membentur sesuatu, yang disusul pekikan seorang wanita.

Minho membuka pintunya lebar-lebar dan mengerjapkan mata, silau karena dihadapkan pada terangnya lampu di koridor. Kemudian ia melihat seorang gadis berambut hitam panjang sebahu tersungkur di lantai di hadapannya sambil merintih pelan.

Sepertinya sentakannya membuka pintu membuat gadis itu terjatuh. Dan sudah pasti gadis itulah yang memekik tadi. Kini gadis itu mengucapkan serentetan kata yang tidak dipahaminya.

Tiba-tiba gadis itu mendongak dan menatap Minho. Mata gadis itu terbelalak kaget. Sesaat Minho merasa gadis itu bukan orang Korea. Mata gadis itu besar dan bulat, tidak seperti mata orang Korea pada umumnya, apalagi tadi gadis itu mengatakan sesuatu dalam bahasa yang sudah jelas bukan bahasa Korea. Minho bingung. Otaknya masih bekerja lebih lambat daripada biasa.

“Kau tidak apa-apa?” Minho mendapati dirinya bersuara. Suaranya terdengar serak di telinganya sendiri. Dan ia mengatakannya dalam bahasa Korea. Apakah gadis itu mengerti? Ia tidak sempat mendengar jawaban gadis itu, karena mendadak keadaan sekelilingnya menjadi riuh. Bunyi pintu-pintu membuka, lalu berbagai seruan yang terdengar tumpang-tindih.

“Ada apa? Apa yang terjadi?”

“Suara apa itu?”

“Siapa yang berteriak?”

“Ada pencuri? Pencuri?”

“Sulli-ya? Kaukah itu?”

“Dara Eonni?”

“Thunder! Ayo, kita naik.”

“Mana tongkat bisbolku?”

“Pakai dulu jaketmu.”

“Jaketku?”

“Bu, kau tunggu di sini saja.”

“Hati-hati!”

Dalam sekejap mata, tiga orang bermunculan di depan Minho. Ia hanya bisa mengerjap-

ngerjapkan mata memandang dua pria dan satu wanita yang menyerbu koridor sempit di lantai dua itu. Mereka balas menatapnya dengan heran. Kini, selain gadis bermata besar yang masih terduduk di lantai, ada seorang pemuda bertubuh kurus berambut agak gondrong yang megacungkan tongkat bisbol, seorang wanita berambut pirang pendek, lalu seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih.

“Sulli, apa yang terjadi?” pekik si wanita berambut pirang sambil menghampiri gadis yang terduduk di lantai. “Kau baik-baik saja?”

Gadis yang dipanggil Sulli itu melongo sesaat, lalu cepat-cepat menjawab, “Oh, Dara Eonni. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”

Oke, gadis bernama Sulli itu bisa berbahasa Korea, pikir Minho tanpa sadar. Sepertinya dia memang orang Korea.

Si pemuda kurus dan berambut gondrong membantu Sulli berdiri dengan sebelah tangan, sementara tangannya yang lain masih mencengkeram tongkat bisbol dengan erat. Ia menatap Minho yang masih tertegun.

“Anda siapa? Sulli Noona, apakah orang ini macam-macam terhadapmu?”

Minho terkejut. Nah, tunggu sebentar! Macam-macam? Tunggu dulu…

“Sabar, Thunder,” sela orang tua berambut putih yang berdiri di samping si pemuda

yang mengacungkan tongkat bisbol. Kakek tua itu menatap Minho dengan mata disipitkan, lalu berkata pendek, “Tolong perkenalkan dirimu, Anak muda.”

Minho menelan ludah. Tenggorokannya sakit dan ia ingat tadi ia belum sempat minum. Ia berdeham sejenak, lalu berkata datar, “Nama saya Choi Minho. Saya baru pindah ke apartemen ini.”

“Oh? Si orang baru?” tanya pemuda yang tadi dipanggil Thunder. “Tadi pagi aku melihatmu datang.”

Minho melihat tongkat bisbol yang tadinya terangkat tinggi itu kini diturunkan. Ia berkata, “Saya baru tiba di Seoul dengan pesawat pagi tadi. Karena tidak enak badan saya langsung tertidur begitu tiba di apartemen. Saya minta maaf karena tidak sempat memperkenalkan diri lebih awal.”

“Sudah kubilang orang baru itu tidak keluar-keluar sejak masuk tadi pagi,” kata wanita berambut pirang yang berdiri di samping Sulli. Wanita itu bertanya lagi dengan nada curiga,

“Lalu sejak tadi pagi kau tidur terus di dalam?”

“Benar,” sahut Minho.

“Lalu apa yang terjadi di sini?” Si kakek tua kembali bertanya sambil memandang Minho dan Sulli bergantian.

Perhatian Minho kembali terarah kepada Sulli yang terlihat serba salah. Gadis itu bersedekap dan mengangkat bahu dengan salah tingkah. “Kakek, itu… Itu, ehm… Maksudku, aku hanya khawatir,” katanya terbata-bata. Ia melihat ke sekeliling dan menyadari orang-orang di sana masih menunggu penjelasannya, karena itu ia melanjutkan, “Aku dengar dari Dara eonnI,” ia menatap wanita berambut pirang itu sekilas, “Sudah ada yang menempati apartemen 201 dan orang itu belum keluar dari kamar sejak pagi. Dan aku tidak mendengar suara apa pun dari dalam. Jadi kupikir…,” suaranya semakin lirih dan ia tersenyum kikuk, “…mungkin orang itu sakit, atau, eh, jatuh pingsan.”

Minho berusaha menahan senyum mendengar penjelasan gadis itu.

“Lalu ketika aku sedang mencoba mendengarkan suara dari balik pintu, orang—Eh, Minho-ssi tiba-tiba membuka pintu dan membuatku terkejut. Dan aku terjatuh.” Sulli berdeham di akhir penjelasannya. “Begitulah.”

Seketika itu juga suasana tegang di koridor lantai dua mencair.

“Ya ampun, Sulli. Kau membuat kami kaget sekali tadi,” kata wanita berambut pirang yang bernama Dara sambil mengguncang lengan Sulli.

“Maafkan aku,” gumam Sulli lirih sambil membungkuk beberapa kali, lalu melirik Minho sekilas dan membungkuk badan lagi.

“Sebaiknya kita saling memperkenalkan diri,” kata Thunder sambil memandang Minho. “Namaku Sang Hyun Park atau Thunder dan ini kakakku, Sandara Park.” Ia menunjuk wanita berambut pirang yang kini tersenyum manis kepada Minho.

“Kami tinggal di bawah, di apartemen 102,” Dara menambahkan.

Minho membungkuk dan menyambut uluran tangan kakak-beradik Park. “Mohon bantuannya.”

“Anak-anak ini biasanya memanggilku Kakek Kim,” si kakek tua memperkenal-kan diri sambil tersenyum lebar. Walaupun kulitnya sudah keriput, Kakek Kim ternyata masih memiliki deretan gigi yang rapi. “Aku tinggal bersama istriku di bawah.”

Setelah itu pandangan semua orang terarah kepada Sulli yang tetap diam. Sulli tersadar dan buru-buru membungkuk dalam-dalam, lalu berkata dengan agak tergagap,

“Namaku Choi Sulli. Salam kenal. Aku minta maaf soal… soal kejadian tadi.”

Minho tersenyum. “Tidak usah dipikirkan. Aku juga minta maaf karena membuatmu terkejut.”

“Selamat bergabung bersama kami, Minho-ssi,” kata Kakek sambil menepuk bahu Minho. “Jika ada yang bisa kami bantu, jangan ragu-ragu mengatakannya.”

Inilah pertama kali Minho menginjakkan kaki kembali di Seoul setelah pindah ke New York bersama keluarganya bertahun-tahun yang lalu. Kali ini ia kembali bukan karena rindu pada kampung halaman. Ia hanya ingin pergi jauh dari New York untuk sementara waktu. Dan Seoul adalah kota pertama yang terlintas dalam benaknya.

Kini Minho memandang orang-orang yang berdiri mengelilinginya dan yang balas memandangnya dengan tatapan penuh minat dan senyum ramah. Tiba-tiba saja ia sadar ia takkan bisa mendapat ketenangan yang diinginkannya. Tetapi entah kenapa ia merasa hidupnya takkan pernah sama lagi.

 

 

To be continue. ..

Maaf jika ada typo soal nama/tempat dll. Jika memang ada, bantu mimin untuk memberbaiki di kolam kementar ne. Gamsah. ^^

Advertisements

179 thoughts on “Winter in Tokyo [Korea Version] Part 1

  1. aku belum pernah baca novelnya, baru pertama kali baca nih ff versi minsul. aku suka banget, ceritanya bagus dan menarik tapi aku belum begitu paham dengan jalan ceritanya. mau lanjutin baca jadi aku boleh kan minta paswordnya?
    ini email ku : qonita307@gmail.com
    gomawo

  2. Huaa.. lucu.. krain ming oppa mw mrah2 gra2 sull eon nguping gt.. Eh trnyta engga, minho oppa ny kcpean smpe2 tdur shrian gt.. *kasian

    Izin bca chpter slnjt ny eonni..

  3. Maaf sebelumnya blom pernah baca ff ini sebelumnya apalagi novelnya blom pernah juga baru sempet skrg buat baca hehe karna baru menjelajah ke libary dan tertarik sama ff ini sepertinya seru. 😊
    Pertemuan minsul yang lucu dan tidak terkira sebelumnya 😁. Maksud minho hidupnya gabakalan sama lagi tu gimana ya? Jadi penasaran 😯

  4. ff nya bagus… hmm hmpir mirip sama novel yg asli…
    apa ini alurnya nnti agak dbikin beda atau sama tapi cuma d ganti pemainnya… pnsaran jg sama next chapnya…
    keep writing ya…

  5. Anneyong saeng…wuaaah seneng akhirnya bisa baca ff minsul lagi..sebenarnya dulu udah tahu ada ff winter in tokyo ini,cuma belum ada kesempatan untuk baca..baru sempat baca sekarang 😅😅😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s