Winter in Tokyo [Korea Version] Part 3

winter in tokyo

Novel by : Ilana Tan

Main Cast : Choi Minho & Choi Sulli

Support Cast : Sandara Park, Sang Hyun Park (Thunder), Lee Soo Man and Other  [Masih akan sering bertambah di setiap Part]

Genre : Drama, Romance, Sad/Hurt, Friendship

Lenght : Chaptered

Part 3

“DIA bilang kau gadis yang menarik?” Dara menegaskan sekali lagi.

“Ya,” jawab Sulli. Ia mengerutkan kening dan menggigit bibir sambil berpikir-pikir. “Eonni, menurutmu apa maksudnya?” Mereka berdua sedang berada di salah satu kafe di Hongdae. Kafe itu lumayan ramai karena hari itu hari Minggu dan banyak anak muda yang berkumpul. Lagu Natal pun terdengar di mana-mana.

“Menurutku dia tidak bermaksud apa-apa,” sahut Dara ringan sambil mengangkat bahu. “Hanya basa-basi.”

“Begitukah?”

“Tentu saja. Jangan terlalu dipikirkan,” sahut Dara. “Pelukis memang suka bertingkah aneh-aneh.”

“Dia pelukis?” tanya Sulli heran. Kemarin ia lupa menanyakan apa pekerjaan laki-laki itu, tetapi Choi Minho tidak terlihat seperti pelukis. Yah, tentu saja, Sulli sendiri belum pernah bertemu dengan pelukis mana pun, jadi ia sendiri tidak yakin. Ia merasa laki-laki itu lebih cocok berprofesi sebagai… sebagai… entahlah. Yang penting bukan pelukis. Pelukis itu kan biasanya terlihat kacau, rambut berantakan, lusuh dan…

Nah, tunggu dulu. Bukankah itu penampilan Choi Minho ketika Sulli pertama kali bertemu dengannya? Sulli masih ingat dengan jelas sosok Minho yang berdiri tegak di ambang pintu. Dengan rambutnya yang dicat kepirangan dan penampilannya yang berantakan, ia kelihatan seperti pelukis dalam bayangan Sulli. Ia juga…

“Siapa ? Choi Minho ?” Dara menyela lamunannya, lalu mengibaskan tangan. “Bukan, bukan. Dia fotografer. Dia sendiri yang bilang begitu.”

Sulli langsung menghentikan imajinasinya yang mulai melantur ke mana-mana.

“Tapi tadi eonni bilang dia itu pelukis.”

Dara mengernyit dan menggeleng. “Tidak. Maksudku tadi seniman. Pelukis dan fotografer sama-sama disebut seniman, bukan?”

Sulli membuka mulut hendak membantah, tapi kemudian mengurungkan niat. Kadang-kadang ucapan Dara memang sulit dipahami dan Sulli sudah terbiasa. Akhirnya ia hanya bergumam, “Kurasa memang begitu.”

“Aku heran kenapa dia tiba-tiba datang ke Seoul,” kata Dara. “Dia sangat terkenal di Amerika, kau tahu? Bahkan di Seoul ini dia sudah dibanjiri tawaran pekerjaan, tapi katanya dia tidak ingin bekerja dulu untuk sementara ini. Dia mau berlibur.”

Sulli menatap Dara dengan kagum. “Bagaimana Eonni bisa tahu semua itu?”

Dara hanya mengangkat bahu dan tersenyum. “Aku pintar menggabung-gabungkan informasi yang kuterima.”

“Jonghyun!”

Kepala Sulli berputar ke arah suara melengking itu dan matanya terpaku pada gadis remaja bertubuh ramping dengan rambut panjang dicat merah yang sedang melambai kepada teman laki-lakinya yang duduk di meja tidak jauh dari meja Sulli. Anak laki-laki dengan rambut Mohawk yang dipanggil Jonghyun itu balas melambai.

“Sudah menunggu lama?” Sulli mendengar gadis itu bertanya lagi dan temannya menggeleng.

Perhatian Sulli kembali ke Dara ketika mendengar tetangganya itu mendecakkan lidah. “Dasar anak muda zaman sekarang,” gerutu Dara. “Apa maksudnya memakai rok mini pada musim dingin begini?”

Sulli tersenyum dan mengangkat bahu.

“Bisa kulihat kau masih mengingat anak laki-laki itu,” celetuk Dara tiba-tiba.

Sulli mengangkat alis. “Siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan cinta pertamamu? Lee Jonghyun, bukan?” Sulli menunduk dan menatap uap yang mengepul dari cangkir tehnya. Dara melipat kedua tangan di atas meja. “Menurutmu si Landak itu Jonghyun yang kau cari-cari?”

Sulli mendengus dan tertawa. “Astaga, Eonni! Tentu saja tidak. Anak itu masih kecil. Umurnya paling-paling baru tujuh belas tahun.”

Dara mendesah. “Kau hebat sekali. Masih tetap menunggu cinta pertamamu walaupun sudah belasan tahun.”

“Aku tidak menunggunya,” bantah Sulli. Dara mencibir. “Kepalamu berputar begitu cepat sampai nyaris putus hanya karena mendengar seseorang menyebut nama Jonghyun.”

Sulli kembali menunduk dan mengaduk-aduk tehnya dengan pelan. Dara memiringkan kepala. “Aku jadi berpikir-pikir. Memangnya kau masih bisa mengenalinya? Bagaimanapun juga sudah tiga belas tahun. Wajah orang bisa berubah, kau tahu? Bagaimana kalau kalian berpapasan di jalan dan kau tidak mengenalinya?”

Sulli hanya mengangkat bahu, lalu menoleh memandang ke luar jendela kafe, memandangi deretan pohon gundul di tepi jalan. Ia masih ingat peristiwa tiga belas tahun lalu itu dengan sangat jelas. Saat itulah ia pertama kali bertemu dengan anak laki-laki bertopi wol biru dengan senyum ramah yang membuat hatinya berdebar-debar. Lee Jonghyun. Cinta pertamanya.

 

Flashback on

Musim dingin tiga belas tahun yang lalu… Saat itu jam pulang sekolah. Sulli berjongkok menunggu Jinri di samping gedung sekolah sambil mengorek-ngorek salju di tanah dengan sebatang ranting kurus. Jinri harus menyelesaikan hukuman yang diberikan guru karena ia baru saja ribut dengan salah seorang anak di kelas tadi pagi. Sulli sudah lupa siapa nama anak perempuan menjengkelkan itu, tapi yang jelas anak itulah yang memulai kekacauan tersebut.

Ah, kalau tidak salah nama anak jahat itu Naeun. Ia merampas kalung Sulli hadiah dari Nenek dan melemparkannya ke luar jendela. Sulli tahu Naeun sudah iri padanya sejak ia memperlihatkan kalung emas putih dengan liontin berbentuk tulisan “Sulli”. Jinri juga punya satu, tentunya dengan liontin yang berbentuk tulisan “Jinri”. Naeun ingin meminjam kalung itu, tapi Sulli tidak mengizinkan.

Bagaimana mungkin ia mengizinkan anak manja itu memakai kalungnya yang berharga? Tapi Naeun nekat merampas kalung itu dan “menjatuhkannya” ke luar jendela. Katanya ia tidak sengaja, tapi tentu saja hanya orang buta dan tuli yang percaya padanya. Jinri yang pada dasarnya lebih galak langsung mengamuk dan menyerang Naeun. Saat itulah guru datang dan melihat Jinri melancarkan jurus menjambak-kucir-rambut yang ganas.

Dengan wajah cemberut menahan tangis kesal sambil sesekali meniup tangannya yang tidak bersarung tangan, Sulli menunduk dan mencari-cari di antara tumpukan salju di tanah. Nenek pasti marah kalau Sulli sampai menghilangkan kalung itu.

“Sedang apa?”

Kepala Sulli berputar ke arah suara. Matanya menyipit sedikit karena silau. Ia mengangkat sebelah tangan untuk menaungi mata dan barulah ia bisa melihat dengan jelas siapa yang berbicara. Ternyata seorang anak laki-laki bertopi wol biru.

Usia anak itu pasti lebih tua daripada Sulli. Kelihatannya seperti anak SMP. Kakak kelasnya? Entahlah, Sulli belum pernah melihatnya sebelum ini.

“Sedang apa?” tanya anak laki-laki itu lagi.

Sulli ragu sejenak, lalu bergumam pelan, “Mencari sesuatu.”

Anak laki-laki itu berjalan mendekat. “Mencari apa?”

“Kalung,” jawab Sulli singkat, lalu kembali menunduk mencari-cari di tanah. Karena tidak mendengar sahutan, Sulli menoleh dan melihat anak itu sudah ikut mencari-cari. Baru saja Sulli kembali memusatkan perhatian pada tanah di sekeliling kakinya, ia mendengar anak laki-laki itu berseru, “Namamu Sulli?”

Sulli menatapnya dengan heran dan mengangguk. “Ya.”

Anak laki-laki itu tersenyum lebar dan mengacungkan sesuatu yang berkilau di tangan kanannya. “Ketemu!”

“Benar?” Sulli melompat berdiri dan berlari menghampiri anak itu. Anak laki-laki itu menyerahkan kalung dengan liontin berbentuk nama “Sulli” kepada Sulli. “Jaga baik-baik. Jangan sampai hilang lagi ya?” katanya dengan nada ramah.

Sulli mendongak menatap wajah yang berseri-seri itu. Ia baru akan membuka mulut untuk mengucapkan terima kasih, tapi anak laki-laki itu menoleh ke arah lapangan dan melambai. Sulli mengalihkan pandangannya ke arah yang sama dan melihat sekumpulan remaja berdiri di sana, dua anak perempuan dan dua anak laki-laki. Semuanya terlihat seperti anak SMP.

“Aku pergi dulu,” kata si anak laki-laki bertopi biru. “Kau juga lebih baik cepat pulang.”

Begitu anak laki-laki itu pergi, Jinri berlari-lari ke arah Sulli sambil menggerutu panjang-pendek. Sulli cepat-cepat menariknya mendekat. Ia tahu Jinri mengenal banyak orang. Mungkin ia tahu siapa anak laki-laki itu. Dan Jinri memang tahu. Kata Jinri nama anak itu Lee Jonghyun, siswa SMP. Dulu dia dan keempat temannya juga bersekolah di SD yang sama dengan Sulli , lalu setelah lulus mereka pindah ke SMP lain. Sejak hari itu Sulli tidak pernah bertemu dengan Lee Jonghyun lagi.

Flashback End

* * *

“Kau sudah menelepon ibumu?”

Minho mengalihkan perhatian dari kameranya lalu memandang pria berusia empat puluhan dan berpenampilan rapi yang berdiri di sampingnya. Ia tersenyum samar dan menggeleng. Lee Sooman mendesah memandang keponakannya yang kelihatan tidak peduli itu. Minho sudah tinggal di New York lebih dari sepuluh tahun dan selama itu ia tidak pernah kembali ke Korea.

Sepanjang pengetahuan sang Paman, kehidupan Minho di New York sangat baik. Anak itu sudah menjadi salah satu fotografer profesional yang cukup terkenal. Karena itu ia agak heran ketika Minho meneleponnya seminggu yang lalu dan berkata ia akan kembali tinggal di Seoul.

Tetapi keponakannya itu tidak mau tinggal di apartemen pribadi yang disediakan untuknya di Gangnam yang trendi. Ia malah menyewa apartemen kecil di pinggiran kota. Lee Sooman sudah bertanya pada kakak perempuannya—ibu Minho—tentang apa yang sebenarnya diinginkan Minho karena anak itu sendiri tidak mau menjelaskan, tetapi ibu Minho juga tidak bisa membantu banyak. Apalagi setelah tiba di Seoul, Minho sama sekali belum menelepon keluarganya di New York.

“Bagaimana kalau nanti ibumu khawatir?” Lee Sooman berusaha membujuk keponakannya. “Kau tidak memberitahunya di mana kau tinggal, apa yang kau lakukan, bagaimana keadaanmu…”

“Ibu tidak punya alasan untuk khawatir. Sudah kubilang padanya aku datang ke sini untuk berlibur. Bukankah Paman juga sudah memberitahunya bahwa Paman melihatku tiba di Seoul dengan selamat,” gumam Minho ringan. “Kita tidak perlu memberitahu Ibu tentang hal selebihnya.”

Ia mengangkat kameranya dan memandang sekelilingnya dari balik lensa, berusaha mencari objek yang cukup menarik untuk dipotret. Hongdae benar-benar mengesankan, penuh warna dan inovatif. Sumber inspirasi.

“Paman jangan mengkhianatiku ya? Ibu hanya perlu tahu aku sudah tiba di Seoul dengan selamat. Hanya itu. Paman juga tidak boleh melapor tentang apa pun kepadanya. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Dan kalau Paman mau tahu, keadaanku sangat baik sekarang ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Lee Sooman kembali menatap keponakannya dan menyadari tinggi badan Minho sudah menyamai tingginya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jas dan mengulurkannya kepada Minho.

“Pakai ini,” katanya. “Ini ponsel baru.”

Minho menerimanya dengan alis terangkat. “Untukku? Supaya Paman bisa merecokiku setiap hari dan melapor pada Ibu?”

Lee Sooman mendesah dengan berlebihan, lalu tersenyum dan berkata, “Aku tidak akan mengatakan apa pun pada ibumu dan aku tidak akan merecokimu. Kau tidak akan sering menerima teleponku. Mungkin hanya sesekali, saat aku merasa perlu mengecek apakah kau masih hidup atau tidak.”

Minho memasukkan ponsel itu ke saku mantel dan tersenyum. “Terima kasih, Paman.”

“Kalau begitu, aku pergi dulu.”

Ketika pamannya berbalik dan mulai berjalan, Minho berseru, “Paman mau ke mana?”

Pamannya menoleh. “Pergi main bulu tangkis dengan teman. Aku tahu kau tidak suka bulu tangkis, jadi aku tidak mengajakmu.”

Minho mengamati kepergian pamannya sejenak, lalu berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan. Ia menyusuri di sekitar Hongdae sambil mencari inspirasi, sesekali membidik dan memotret objek-objek yang dianggapnya menarik.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Lensa kameranya menangkap sosok seorang wanita. Minho mengangkat kepala dari kamera untuk melihat dengan mata kepala sendiri, seakan tidak memercayai lensa kameranya. Wanita itu duduk di salah satu kafe yang berderet di sepanjang jalan. Ia menempati meja untuk berdua tepat di sudut dan di samping jendela kaca besar.

Wanita itu menunduk ke arah buku yang terbuka di meja sambil bertopang dagu dengan sebelah tangan. Kelihatannya ia sedang membaca, tapi Minho memerhatikan mata wanita itu tidak bergerak. Pandangan wanita itu memang terarah ke buku, tapi perhatiannya tidak tercurah ke sana. Sepertinya ia sedang melamun. Rambut sebahunya dijepit ke atas dengan asal-asalan dan Minho bisa melihat dengan jelas telinga kanan gadis itu yang ditindik. Bukan hanya satu, tapi tiga tindikan.

Tanpa sadar seulas senyum tersungging di wajah Minho. Tidak salah lagi, gadis itu Choi Sulli, tetangga sebelah apartemennya. Dan tidak salah lagi, Sulli sedang melamun. Ia pasti sedang melamun karena sama sekali tidak menyadari Minho yang berdiri tidak jauh di sampingnya, hanya dipisahkan oleh jendela kaca besar. Minho memandangi wajah yang sedang melamun itu dan tiba-tiba merasa ingin tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu.

Ia mengangkat kameranya dan membidik. Sulli masih bergeming, sibuk dengan pikirannya sendiri, tidak menyadari dunia sekelilingnya, dan tidak menyadari bahwa Minho sedang memotretnya. Ia juga tidak menyadari setelah itu Minho tetap memandanginya.

Minho tidak tahu berapa lama ia memandangi Sulli, tapi ia yakin tidak lama walaupun rasanya cukup lama. Ia baru tersadar ketika Sulli bergerak, seakan juga baru tersadar dari lamunannya.

Gadis itu mengerjapkan mata dan menutup bukunya. Ia meraih jaketnya dan berdiri. Saat itu Minho maju selangkah dan mengetuk kaca jendela. Sulli mendengar ketukan itu dan berpaling.

Minho memerhatikan mata gadis itu melebar dan alisnya terangkat ketika bertemu pandang dengan Minho. Minho tersenyum dan mengangkat sebelah tangan. Kemudian raut wajah Sulli berubah begitu mengenali siapa yang menyapanya dari balik jendela kaca dan ia balas tersenyum.

* * *

“Minho-ssi, sedang apa di sini?” tanya Sulli ketika ia sudah keluar dari kafe dan menghampiri Minho. Tadi ia terkejut melihat Minho yang mengetuk kaca jendela. Ia sama sekali tidak menyangka bisa bertemu secara kebetulan dengan tetangga barunya itu, tapi ini kejutan yang menyenangkan.

Minho mengangkat kameranya. “Mencari inspirasi,” sahutnya ringan.

Suli mengangguk-angguk kecil. “Dara Eonni bilang kau fotografer. Fotografer apa? Fashion?”

Minho menggeleng cepat. “Bukan,” katanya. “Kurasa aku kurang berbakat dalam bidang itu. Pernah mendengar istilah street photography? Itu bidangku. Aku memotret apa pun yang kuanggap menarik di sekitarku. Kadang-kadang aku juga suka melakukan sedikit fine art dan landscape photography, walaupun kurasa aku masih punya banyak kekurangan dalam kedua bidang itu.”

Sulli tidak paham dengan istilah-istilah yang dikatakan Minho, tetapi mungkin ia bisa mencari beberapa buku petunjuk tentang fotografi di perpustakaan.

Minho menggerakkan kepalanya ke arah kafe di samping mereka dan bertanya,

“Kenapa kau duduk sendirian di dalam?”

“Tadi aku bersama Dara Eonni. Dia memintaku menemaninya berbelanja untuk keperluan Natal. Lalu dia harus kembali ke salon untuk bekerja,” jelas Sulli. “Kau mau ke mana?”

Minho mengangkat bahu, lalu balas bertanya, “Kau sendiri mau ke mana?”

“Aku? Sekarang aku mau membeli bahan makanan,” jawab Sulli. “Persediaan di rumah sudah habis.”

“Kalau begitu, aku ikut denganmu,” cetus Minho.

“Untuk apa?” tanya Sulli langsung.

“Karena aku sedang tidak punya kesibukan. Kenapa? Kau ada janji dengan orang lain?”

“Tidak,” sahut Sulli. Lalu karena melihat Minho masih menunggu jawabannya, akhirnya ia berkata, “Baiklah, kau boleh ikut.”

Minho tersenyum senang. “Bagaimana kalau kita ke persimpangan yang terkenal itu?”

“Kenapa?”

“Aku ingin ke sana dan melihat-lihat. Pasti sudah banyak yang berubah sejak terakhir kali aku melihatnya.”

“Tapi kau kan bisa pergi ke sana sendiri,” gumam Sulli. “Kenapa harus ditemani?”

Minho tersenyum lebar. “Aku takut tersesat.”

“Apa?” Sulli yakin ia salah dengar.

“Sudah lama aku tidak pulang ke Korea. Aku nyaris tidak mengenali jalan-jalan yang ada sekarang,” lanjut Minho.

Sulli tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia hanya melongo menatap Minho, berusaha melihat apakah laki-laki itu sedang bercanda atau serius. Akhirnya ia menyerah dan mendesah. “Ayo, kita pergi.”

* * *

“Makan apa ya malam ini?” gumam Sulli pada diri sendiri. Ia berdiri menghadap rak bahan makanan sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk. “Spageti? Atau kari? Mmm…”

Minho yang bertugas mendorong troli menghampirinya dan berhenti di belakangnya. “Kari saja,” celetuknya dan menjulurkan tangan melewati kepala Sulli untuk meraih sekotak bumbu kari. “Aku sudah bosan dengan makanan Barat. Kita makan makanan Korea saja malam ini.”

Alis Sulli terangkat dan ia berputar menghadap Minho. “Kita?” ulangnya sambil menggerakkan tangannya menunjuk dirinya dan Minho. “Memangnya aku pernah mengajakmu makan bersama?”

Minho menyunggingkan seulas senyum manis. “Kau akan mengajakku makan malam di tempatmu, bukan? Kau tahu, sebenarnya aku sama sekali tidak bisa memasak dan sejak kemarin aku sama sekali belum menikmati makanan yang sesungguhnya,” bujuknya. Ketika ia melihat Sulli masih menatapnya dengan sebelah alis terangkat, ia cepat-cepat menambahkan, “Begini saja, bagaimana kalau sebagai gantinya siang ini kutraktir makan? Oke?”

Sulli mengangkat bahu. “Kurasa cukup adil.”

Sulli tahu benar dirinya orang yang mudah bergaul, tapi jarang sekali ia bisa langsung merasa akrab dengan seseorang. Choi Minho kelihatannya sangat percaya diri dan pandai berbicara. Selama makan siang mereka mengobrol banyak. Bersama laki-laki itu membuat Sulli menceritakan hal-hal yang sebenarnya tidak terpikir untuk diceritakan.

“Giliranmu,” kata Sulli.

Minho sendiri mengaku tidak banyak yang bisa diceritakan kepada Sulli. Katanya ia anak bungsu dalam keluarganya dan kakak laki-lakinya sudah berkeluarga. Semua keluarganya tinggal di Amerika Serikat, kecuali seorang paman yang menetap di Seoul. Keluarganya sama sekali tidak istimewa. Ayahnya pekerja kantoran dan ibunya ibu rumah tangga biasa.

“Kenapa kau kembali ke Korea?” tanya Sulli ketika mereka berdiri dalam kerumunan pejalan kaki di pinggir persimpangan samping mall yang mereka masuki tadi dan terkenal ramai, menunggu lampu lalu lintas berubah warna.

Minho sedang sibuk membidikkan kameranya ke arah iklan-iklan neon dan layar video raksasa yang bertaburan di persimpangan itu. Wajahnya berseri-seri penuh semangat. “Hm? Maaf, kau bilang apa tadi?” tanyanya sambil berpaling ke arah Sulli.

“Kenapa kau kembali ke Korea?” Sulli mengulangi pertanyaannya.

“Mencari suasana baru,” jawab Minho singkat, tanpa berusaha menjelaskan.

Tepat pada saat itu lampu tanda menyeberang menyala dan kerumunan besar orang mulai menyeberang jalan. Sulli tahu mereka harus berjalan dengan cepat namun hati-hati dalam lautan manusia yang berjalan hilir-mudik ini. Ia ingin memperingatkan Minho. Ia menoleh, tapi Minho tidak ada di sampingnya. Ia menoleh ke kanan-kiri. Tidak ada. Hanya ada kerumunan orang yang berlalu-lalang. Ke mana laki-laki itu? Begitu menyadari Minho tidak ada di dekatnya, langkah Sulli otomatis terhenti. Dengan segera ada seseorang yang menabraknya dari belakang.

Sebelum Sulli sempat menggumamkan permintaan maaf, seseorang yang berjalan dari arah berlawan menyenggol bahunya. Sulli terdorong mundur beberapa langkah dan nyaris terjatuh kalau punggungnya tidak tertahan sesuatu.

“Sebenarnya kau orang Seoul atau bukan? Menyeberang jalan saja tidak bisa.”

Mendengar suara itu Sulli mendongak dan melihat wajah Minho. Ternyata Minho yang menahannya supaya tidak terjatuh. Minho memegang sikunya dan membimbingnya menyeberang jalan.

“Tadi aku sedang mencarimu,” kata Sulli berusaha menjelaskan begitu mereka menyeberang dengan selamat dan berhenti sejenak di dekat halte bus.

“Dari tadi aku ada di belakangmu,” kata Minho ringan.

“Jangan tiba-tiba menghilang seperti itu,” gerutu Sulli. “Membuat orang lain bingung. Apalagi di tengah jalan.”

“Baiklah, maafkan aku,” kata Minho dengan nada bergurau. “Lain kali aku akan menempel terus padamu.”

Sulli membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi.

“Jonghyunie!”

Kepala Sulli langsung berputar ke arah suara wanita itu. Minho juga ikut berpaling. Mereka melihat seorang wanita menghampiri anak laki-laki yang sedang mengulum lolipop. Usia anak itu pasti tidak lebih dari tiga tahun.

“Jongie, sudah Ibu bilang jangan berkeliaran sembarangan,” si Ibu mengomel. Ia menggandeng tangan si anak yang hanya mendongak memandang wajah kesal ibunya. “Kalau tidak, lain kali Ibu tidak akan belikan permen lagi. Mengerti?”

Sulli memerhatikan kejadian singkat itu sambil memikirkan hal lain. Hari ini ia bertemu dua orang yang bernama Jonghyun, tapi dua-duanya bukan Jonghyun yang dicarinya.

“Ada apa?” tanya Minho ketika melihat Sulli yang merenung.

Sulli menggeleng pelan. Matanya masih tertuju pada anak laki-laki dan ibunya itu.

“Nama anak itu Jonghyun,” gumam nya pelan.

Minho mengangguk, tapi tidak mengerti. “Lalu?” “Nama yang bagus,” gumam Sulli lagi setengah melamun.

“Bagus bagaimana?”

Sulli mengangguk. “Nama itu mengingatkanku pada seseorang.”

“Siapa?”

Sulli mendesah. “Anak laki-laki pertama yang kusukai.”

“Oh, ya?”

“Minho-ssi, siapa nama cinta pertamamu?”

Alis Minho terangkat. “Cinta pertamaku?”

Sulli menoleh ke arahnya dan bertanya sekali lagi, “Kau masih ingat nama cinta pertamamu?”

“Namanya? Mmm…” Minho memasang tampang seakan sedang berpikir keras, lalu ia tersenyum lebar dan mengangguk. “Sherly,” jawabnya, lalu memiringkan kepala. “Atau Sulli?”

Mata Sulli menyipit. Laki-laki itu mulai bercanda lagi. Ia menarik napas dan mengembuskannya dengan dramatis. “Lupakan saja,” gumamnya dengan nada pasrah.

“Serius,” tegas Minho, namun senyumnya semakin lebar. “Memang nya kau pikir hanya kau sendiri yang bernama Sulli di seluruh Korea ini? Dan ngomong-ngomong soal nama…”

“Baiklah, terserah,” Sulli memotong ucapan Minho sambil mengangkat sebelah tangannya yang tidak menjinjing kantong belanjaan dengan gerakan mengalah.

“Aku percaya padamu. Ayo, jalan. “

Mereka kembali melanjutkan langkah. Tadi Minho ingin berkata bahwa ia mengenal seseorang bernama Jonghyun. Salah satu teman sekelas dan teman dekatnya juga bernama Jonghyun. Lee Jonghyun tepatnya.

Apakah ia masih tinggal di Seoul?

To be continue…

Seperti biasa, mimin minta kalau ada typo soal nama atau tempat, tolong disampaikan di kolom komentar ne. Gamsah. #bow 😀

Advertisements

106 thoughts on “Winter in Tokyo [Korea Version] Part 3

  1. Kayaknya minho adalah salah satu teman jonghyun yg berempat itu.. masa 13th yg lalu..
    Tp klo liat gelagat minho, kayaknya dia mulai suka ama sulli deh..
    Aaakkkhh.. masih berbelit..
    Nunggu berikutnya aja, biar disambung2.. heehee

  2. Minho oppa udah mulai suka sama ssul tapi ssul nya ngerti2 juga ….
    Tapi ssul masih menyukai jonghyun oppa ya …
    Makin menarik ff nya eon …

  3. asyiikk, cpet bgt postnya eon, ….. meskipun udh tau jalan ceritanya, tapi aku tetep nunggu yang versi minsul, ale lucu aja kalo bayangin mereka yang benner2 jadi karakter disini n aku sering ketawa lepas ama other chastnya, lucu pas ditambah lagi dipart ini adegan sedikit yahh romantis dah masalah nama pacar pertama, aku sendiri agak bingung nyari nama hampir sama ama nama ssul eon, pan dinovel kyoko atau keiko, di minsul apa ya? Aku senneng ternyata eonni berhasil cari nama hampir mirip *tepuk tangan# trus nama cewek yang satunya lagi itu tetep ajhumma? Atau diganti? …. trus sennengnya lagi disini ketemu yang flashback dan sekarang, jadi gak bingung seperti pas baca novel aslinya…… kayaknya itu novel winter in tokyo, lanjutannya summer in seoul trus spring in london, yang spring in london itu yang nyeritain saudara kembarnya ssul eon, klo boleh lanjutin ampek situ ya eon, klo bisa nama cowoknya disamain aja, atau bikin kembar juga hehehe….. pokoknya jeongmal gomawo udh dijadiin minsul version……

  4. Minho dan jonghyun bersahabat?hmm spertinya minho bertepuk sbelah tangan karena sulli msh mengharapkan jonghyun. Gomaweo lanjut thorrr

  5. waaah minho jatuh cinta m sulli nie yeee.. eemm pa sulli bsa melupakan cinta pertamanya lee jonghyun.. n jatuh cinta ga m minho.. pnasaran nie.. lanjut y next part..

  6. Yg nemuin kalungnya sulli waktu masih kecil itu minho bukan jonghyun .
    Anak laki” bertopi biru jg bukan jonghyun , itu minho tp karna jonghyun kedinginan (kalo gag salah) topinya minho d pinjemin k jonghyun dan waktu jinri liat topinya udah d pake jonghyun jdnya sulli nganggep jonghyun yg nolongin 😀
    Buruan sampe adegan yg reoni itu dongs 😀
    Itu pas seru”nya 😀

  7. o’oow sulli ama jonghyun ada sesuatu ya??
    Tapi kayaknya minho udah ada lampu hijau ke sulli.. Haaaa penasan buat selanjut.. Lanjut lagi ah part4

  8. wah sulli punya cinta pertama, 13 tahun yang lalu (lama juga)
    namanya lee jonghyun, jangan” teman minho juga ??
    lanjut eonn

  9. Daebak! Dimana ada ssul disitu ada ming,
    Ketemu aja lagi yaa, padahal ga janjian, ud mulai seru nih. Mereka ud mulai deket nih, ud jalan bareng. Ming ny suka becanda lg 😀
    Jonghyun tmn ming kaya nya cinta pertama ny ssul jugaa dehh. Bner ga ya (y)

  10. jonghyun temannya minho waktu kecil??
    haha,minho mulai ada rasa tuh sama sulli..?

    duhh, sumpahhhh makin penasarann….
    next deh eonni….

  11. oh yaya aku ngerti sekarang, wktu ming bilang sepertinya pernah melihat sulli tu mngkin pas sulli lg cari kalungnya itu, nah di pas itu yg memanghil jjong ya .. oh yaya mulai ngerti ..
    eoni aku baru mau koment di part 2, tp pas post koment malah masuk nya ke protect , gmna eon ?

  12. Setelah baca part dan komenan chingudeul diatas , aku udh mulai sangat sangat mengerti ttg FF ini .
    ^mklum aku gk baca novelnya^ hehe . .
    Cieeh Ssul udh mulai nganalisah setiap kata Minho ya (: minho lu keren disini , penggambarannya dapeet banget eon . Oh ya terus knapa Minho gk mau ibunya tau ttg kondisinya di Seoul yaa ?? Lee jonghyun , sulli masih nganggap dia sbg cinta pertamanya -_- smg ditengah cerita ini jonghyun gk datang deh , pasti bakalan ngerusak moment MinSul nantinya #heheMianjjong //

  13. What lee jonghyun cinta pertama sulli dn teman dekat minho?aisss ko bisa,tpi jngan smpe baby sull suka lgi sma jonghyun cukup sukany sma mino y.next author…btw klo minta pasword ny dmna ya so’alny Yª♌g part 2 ny blom baca pleas minta paswordny…

  14. sebenarnya..
    aku udah baca sih novel aslinya..
    tapi, aku ingin tau yg minsul version..
    makasih udah ada versi koreanya

  15. ah ternyata jonghyun cinta pertama sulli itu tmen minho oppa???gemana ya nanti seandainya mreka bertiga bertemu…??? gemana kalau mereka saling menyukai???? ah andwae.smoga aja nggak terjadi….
    o ya chinggu jinri itu cpah???? apakah kembaran sulli atau ciapah????
    mangkin pnasaran nih….
    chinggu boleh minta pasword nya part 2 tidak.
    aku tinggalin email aja ya..
    auliasullianz@yahoo.com
    gamsahamnida…:)

  16. jalan ceritanya ga ketebak
    bkin pnsaran bgt….
    yg bisa diterka cuma kyknya masalalu sulli ama minho n junghyoen berkaitan deh…
    makanya di part 2 minho blang prnah liat sulli..

  17. Cieee minoh suka ama sull tuhh
    Tpi sulli kayanya masih ngarepin cinta pertamanya 😦
    Dan sepertinya si cinta pertama sull itu temennya minohh ahhahaha patah hati patah hati deh tuh minoh :'(:'(

  18. Ke skip chapter 2, jadi agak roaming pas baca chapter ini… 😀
    Minho seriusan cinta pertamanya namanya Sulli?
    Jangan2 anak topi wol biru itu Minho lagi? Cuma Jinri salah ngira, dikira Sulli nunjuk Jonghyun? :O
    Jinri itu kembarannya Sulli kah?
    Lalu di mana dia? :O

  19. Keren crta ny, pdhl blm bca part 2..

    Ssul eonn ngarep bnget y ktmu first love ny *jonghyun smpe2 ktipu 2x dnger nama jonghyun, tp bkn org yg d mksud.. *sabar eonn

    First love ming oppa sherly?? Atw sulli.?? Sulli mana.??

  20. Emh jadi cinta pertama sulli tu jonghyun oppa. Waduh kayanya sulli masih cinta mati tuh ama jonghyun ampe klo ada yg treak nama jonghun aja sulli langsung noleh udah kek yg dipanggil nama dia -___- adakah kesempatan bagi minsul untuk bersatu? 😷
    Idih idih asli dah pd banget itu minhoppa asli. Wkwk udah ma maksa pengen ikut sulli belanja, eh taunya minta makan malem bareng ujung ujungny 😂 ditawarin juga kaga diajak juga kaga makan malem bareng, pdnyaaaaaa bilang “kita” buat makan malem brg wkwk koplak lah 😄
    Wah wah wah kayanya cinta pertama minhoppa emang sulli deh 😝 ngeles aja tu bilang sulli yang laen 😝. Wait a minute? Jangan2 jonghyun yg mau minhoppa bilang jonghyun yg sulli cari? Oh god what a tight world 😓. Orang belon kelar ngomong sull, maen cut aje, kalo diterusin kan sapa tau jadi titik terang pencarian jonghyun yg kau cari? Who knows?😒

  21. aku uda baca novelny, tp versi ffny juga bagus walaupun telat bacanya^^ aku bs langsung berimajinasi minsul heheh…thor ak minta pass chap.2 4 6 8 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s