Winter in Tokyo [Korea Version] Part 7

winter in tokyo

Novel by : Ilana Tan

Main Cast : Choi Minho & Choi Sulli

Support Cast : Lee Jonghyun, Sandara Park, Sang Hyun Park (Thunder), and Other [Masih akan sering bertambah di setiap Part]

Genre : Drama, Romance, Sad/Hurt, Friendship

Lenght : Chaptered

Part 7

 

“REUNI SMP?” Minho memindahkan ponsel ke telinga kanan dan mendongak menatap lampu lalu lintas, menunggunya berubah warna. “Maksudmu, reuni satu sekolah? Bukan hanya kelas kita atau angkatan kita?”

“Bukan hanya angkatan kita,” sahut Lee Jonghyun di ujung sana. “Semua alumni boleh datang. Malah undangan untuk para alumni sudah disebarkan satu bulan sebelumnya. Kau tidak menerimanya?”

“Tidak.”

“Yah, mungkin karena kau sudah pindah ke luar negeri sebelum tahun ajaran selesai,” tebak Jonghyun. “Karena itu mereka tidak tahu bagaimana cara menghubungimu.”

Lampu lalu lintas berubah warna dan Minho cepat-cepat menyeberang jalan bersama rombongan pejalan kaki lainnya. “Tapi memangnya aku boleh ikut? Maksudku, aku kan tidak menerima undangannya.”

“Ah, kau tidak perlu cemas soal itu,” kata Jonghyun ringan. “Biar aku saja yang mengurusnya. Kau hanya perlu hadir.”

“Kapan reuninya?”

“Kira-kira seminggu setelah Tahun Baru. Aku lupa tanggal pastinya. Nanti akan ku kabari lagi.”

“Baiklah. Tapi ngomong-ngomong apakah kita harus hadir sendiri atau…”

“Ah, maksudmu apakah kau boleh mengajak pasangan? Tentu saja. Kau tahu, banyak teman kita yang akan mengajak suami atau istri mereka.” Jonghyun terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada bergurau, “Kenapa? Ada seseorang yang ingin kau ajak ke acara itu?”

Minho tersenyum. “Mungkin.”

Jonghun mendesah. “Tidak mau bercerita rupanya. Tidak apa-apa. Tapi kuharap kau bisa mengajaknya dan mengenalkannya padaku.”

“Baiklah,” sahut Minho, tertawa.

“Mungkin aku juga akan mengajak seseorang,” kata Jonghyun tiba-tiba.

“Tunggu dulu. Beberapa hari yang lalu sewaktu kita makan siang bersama, kau bilang kau belum punya pacar. Tepatnya, kau bilang kau tidak punya waktu untuk pacaran.” Minho berjalan menyusuri jalan besar di Hongdae. Berbagai butik, kafe, restoran siap saji, dan toko-toko kecil lainnya yang di sepanjang jalan. Minho menyenggol bahu seseorang dan ia menggumamkan kata maaf tanpa berhenti berjalan.

“Memang. Tapi bukankah hidup memang aneh?” Suara Jonghyun terdengar ceria. “Aku bertemu dengannya tepat setelah aku makan siang denganmu hari itu. Sejak itu kami sempat bertemu beberapa kali untuk urusan pekerjaan dan aku sempat mengajaknya makan siang atau minum kopi sesekali. Aku tidak tahu apakah dia mau kalau aku benar-benar mengajaknya kencan.”

“Salah seorang perawat baru yang cantik?” tebak Minho.

“Aku memang bertemu dengannya di rumah sakit, tapi dia bukan perawat,” kata Jonghyun, masih dengan nada ceria. „Tenang saja, kau akan bertemu dengannya nanti saat reuni.”

Minho menutup ponsel dan masuk ke salah satu toko foto di sebelah kanannya dan tersenyum kepada penjaga toko yang menyambutnya. “Pesanan atas nama Choi Minho sudah jadi?” tanyanya.

Gadis penjaga toko berwajah manis itu tersenyum lebar. “Ah, tentu saja. Harap tunggu sebentar.”

Tak lama kemudian gadis ramah itu kembali membawa sebuah kantong kertas dan menyerahkannya kepada Minho.

Minho mengeluarkan beberapa lembar foto yang cukup besar dari dalam kantong kertas itu dan memeriksa setiap lembarnya. Semua foto itu adalah hasil jepretannya sejak ia menginjakkan kaki di Seoul. Pemandangan kota Seoul, para pejalan kaki, anak-anak kecil yang berlarian, beberapa museum terkenal. Dan Choi Sulli.

Minho memegang salah satu foto Sulli yang diambilnya ketika ia melihat gadis itu duduk sendirian di salah satu kafe di Kangnam. Ia sudah sering memotret Sulli dan kebanyakan dari foto itu diambil tanpa sepengetahuan gadis itu. Kalau Sulli tahu Minho memotretnya, ia akan mengomel panjang-lebar tentang dirinya yang bukan fotomodel dan tidak berniat menjadi fotomodel.

“Semuanya sudah lengkap, bukan?” tanya si penjaga toko.

Minho mengangkat wajah dan tersenyum lebar. “Ya,” sahutnya. “Terima kasih banyak.”

Memandangi foto-foto Sulli yang ada dalam genggamannya, Minho teringat sesuatu. Sebelum ia mengajak gadis itu ke acara reuni sekolahnya, ada hal lain yang ingin dikatakannya kepada Sulli. Ia merogoh saku bagian dalam jaketnya dan mengeluarkan dua lembar tiket pertunjukan balet.

Swan Lake, salah satu pertunjukan yang sangat laris dan sangat ingin ditonton Sulli. Tanggal pertunjukan yang tercetak pada tiket itu adalah 24 Desember, jadi Minho berharap Sulli tidak punya acara penting pada hari itu.

* * *

Sulli berjongkok merapikan buku-buku yang ada di rak bagian bawah sambil bersenandung lirih. Perpustakaan sedang sepi saat itu. Hanya ada beberapa orang yang membaca buku di meja-meja yang tersedia. Sulli sangat suka suasana sepi perpustakaan. Begitu damai.

Sulli mendesah pelan dan melirik jam tangan. Sebentar lagi waktunya pulang. Tiba-tiba lagu Peach terdengar nyaring. Terperanjat. Sulli buru-buru mengeluarkan ponselnya.

“Yeoboseyo?” bisiknya. Wajahnya terasa panas ketika ia melihat beberapa orang menoleh ke arahnya. Ia cepat-cepat meninggalkan deretan rak buku dan kembali ke meja kerjanya.

“Sulli-ssi.”

Mendengar suara Lee Jonghyun di ujung sana, Sulli langsung memperlambat langkah karena kaget. “Dokter?”

“Bagaimana kakimu?” tanya Lee Jonghyun. “Tidak ada masalah, bukan?” Otomatis Sulli menatap kaki kirinya yang tidak lagi diperban. Perbannya memang sudah dibuka kemarin. “Tidak masalah. Sudah sembuh sama sekali,” sahutnya sambil tersenyum. “Dokter masih di rumah sakit?”

“Ya, tapi sebentar lagi pulang. Kau ada acara malam ini?”

“Mmm… Tidak ada acara penting. Ada apa?”

“Bagaimana kalau kita pergi makan malam?”

Sulli tidak butuh waktu lama untuk menjawab. “Tentu saja.”

* * *

Sibuk. Minho menutup ponselnya. Sudah tiga kali ia mencoba menghubungi Sulli tetapi ponsel gadis itu sibuk terus. Tidak apa-apa. Ia akan pergi menemui gadis itu di perpustakaan tempatnya bekerja. Minho melirik jam tangan. Masih ada waktu. Kemungkinan besar ia bisa sampai di sana sebelum gadis itu pulang. Lalu ia bisa sekalian mengajak Sulli makan malam.

Tapi ternyata Sulli tidak ada di perpustakaan. Menurut salah seorang rekan kerjanya Sulli pulang lebih cepat hari ini. Minho melirik jam tangan. Kalau begitu ia akan menemui Sulli di rumah saja.

* * *

Seharusnya ia memakai sarung tangan. Minho menggigil dan menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku mantel begitu keluar dari stasiun kereta bawah tanah. Uap putih keluar dari hidung dan mulutnya seiring dengan setiap embusan napas. Dingin sekali. Sepertinya tidak lama lagi akan turun salju.

“Hyuuuung!”

Minho menoleh ke arah suara dan melihat Thunder berlari menghampirinya.

“Oh, Thunder.”

“Dingin… Dingin…” Thunder menggigil dengan berlebihan dan menggosok-gosok kedua telapak tangannya. “Hyung mau pulang? Ayo, kita jalan sama-sama.”

Kedua laki-laki itu berjalan cepat menyusuri jalan menanjak yang mengarah ke gedung apartemen mereka.

“Jadi bagaimana?” tanya Thunder tiba-tiba.

“Bagaimana apa?” Minho balik bertanya.

“Tentang malam Natal, Hyung sudah mengajaknya?”

“Siapa?”

Thunder berhenti melangkah. “Bukankah waktu itu Hyung bilang mau menghabiskan Natal bersama seseorang? Tapi waktu itu Hyung belum mengajaknya. Jadi apakah Hyung sudah mengajaknya sekarang?”

Minho juga menghentikan langkah. Ia menatap Thunder sejenak, lalu tersenyum. “Oh, itu.” Kemudian ia kembali melanjutkan langkah. Thunder menyusulnya. “Ya, yang itu. Jadi?”

“Aku akan mengajaknya malam ini.”

“Hyung masih belum mengajaknya?”

“Sudah kubilang, aku akan bertanya padanya malam ini.”

“Hyung sudah lupa kata-kataku tentang bergerak cepat?”

“Astaga, anak ini! Bukankah sudah kubilang…”

“Eh, itu mobil siapa?”

Minho menahan omelannya dan memandang lurus ke depan. Sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung apartemen mereka, tidak begitu jauh dari mereka. Pintu di sisi pengemudi terbuka dan seorang laki-laki yang mengenakan jaket cokelat panjang keluar.

Alis Minho terangkat. Oh? Bukankah itu Lee Jonghyun, pikirnya sambil menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. Ada apa temannya itu datang mencarinya?

Minho baru akan mempercepat langkah ketika pintu sisi penumpang terbuka dan seorang gadis melangkah keluar. Minho berhenti melangkah dan mengerjapkan mata ketika mengenali gadis itu. Choi Sulli ?

“Oh? Bukankah itu Sulli Noona?” Minho mendengar Thunder bertanya. “Lalu siapa orang yang bersamanya itu?”

Minho tidak menjawab. Ia sendiri juga heran. Sulli dan Jonghyun?

“Jangan-jangan dia si dokter itu,” sela Thunder tiba-tiba. Minho menoleh ke arah Thunder di sampingnya.

“Siapa?”

“Cinta pertama Sulli Noona. Yang meneleponnya ketika kita semua sedang makan di rumah Kakek Kim.”

Kepala Minho berputar kembali menatap Sulli dan Jonghyun yang berdiri berhadapan. Mereka sedang asyik membicarakan sesuatu, lalu tertawa.

Benar juga. Sulli pernah memberitahunya nama cinta pertamanya adalah Jonghyun dan berprofesi sebagai dokter. Mungkinkah Jonghyun yang menjadi cinta pertama Sulli adalah orang yang sama dengan Jonghyun teman lama Minho? Ditambah lagi, tadi Jonghyun menyebut-nyebut tentang wanita yang baru dikenalnya. Apakah wanita yang dimaksudnya itu Sulli?

Thunder kembali bersuara. “Kelihatannya hubungan mereka sudah dekat. Hyung, menurutmu apakah mereka pa…”

“Thunder,” sela Minho tiba-tiba.

“Ne?”

“Ayo, kutraktir minum.” Minho sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia butuh waktu untuk mencerna apa yang dilihatnya tadi. Ia berharap sedikit Soju bisa membantu menjernihkan pikirannya.

* * *

“Oi, kau baik-baik saja?” tanya Minho pada Thunder yang berjalan dengan ceria di sampingnya. Mereka tidak berlama-lama di kedai minum karena Minho tidak mau berjalan pulang sambil menggendong Thunder. Baru setengah jam di kedai itu Thunder sudah harus berpegangan pada meja supaya tidak jatuh dari kursi. Anak itu benar-benar tidak kuat minum.

Thunder tersenyum lebar—terlalu lebar—dan mengangguk berkali-kali. “Ah, tentu saja. Tentu saja. Aku sangat baik. Memangnya kenapa?”

Minho memandangi Thunder, lalu mendesah, “Kakakmu pasti akan menggantungku kalau melihatmu mabuk begitu.”

Thunder tertawa. “Minho Hyung, aku tidak mabuk. Lihat, aku masih bisa berjalan lurus. Lihat? Lihat?” Ia merentangkan kedua tangan dan berjalan lurus dengan langkah lebar di jalanan yang sepi itu untuk membuktikan kata-katanya.

“Ya, ya, ya. Tapi hati-hati dengan tiang lampu di depanmu,” kata Minho.

Thunder berhenti tepat pada waktunya sebelum hidungnya yang mancung menabrak tiang lampu. Ia menoleh ke arah Minho dan tertawa. “Aku melihatnya kok.” Minho hanya menggeleng-geleng pasrah. Ia kembali berjalan dan Thunder menyusulnya dari belakang.

“Paman ini apa-apaan?”

Minho dan Thunder serentak menoleh ke arah suara wanita bernada tinggi itu. Tidak jauh di depan mereka terlihat seorang wanita dan seorang pria sedang bertengkar. Si pria berusaha menarik tangan si wanita sementara si wanita memberontak.

Sedetik kemudian Thunder berseru, “Noona!” dan langsung berlari ke arah kedua orang itu sebelum Minho sempat mencegahnya.

Noona? Minho segera menyadari kalau wanita yang sedang ditarik-tarik itu adalah Sandara Park. Dara terlihat sedang berusaha membebaskan diri dari cengkeraman si pria tak dikenal. Dalam sekejap Thunder sudah tiba di samping mereka dan berseru, “Lepaskan tanganmu!”

Segalanya terjadi begitu cepat di depan mata Minho. Bersamaan dengan teriakan itu, Thunder juga melayangkan tinjunya ke rahang pria yang menarik-narik kakaknya. Namun pria itu tidak tersungkur seperti yang diharapkan Thunder. Pria itu masih tetap berdiri, malah ia menggeram dan balas melayangkan tinju. Thunder pun terjatuh ke tanah diikuti pekikan kakaknya.

“Jangan ikut campur, anak ingusan!” seru pria itu serak.

“Omo,” gumam Minho, dan langsung berlari ke arah mereka. Ia berhasil mencapai ketiga orang itu tepat ketika si pria tak dikenal bermaksud menendang Thunder yang masih terkapar di tanah. Minho langsung menahan dada pria itu dan mendorongnya ke belakang.

“Siapa lagi kau?” seru pria itu marah. “Cari mati ya?”

Minho menoleh ke arah Dara yang berlutut di samping adiknya. “Dara-ssi, kau tidak apa-apa?”

“Minho-ssi,” bisik Dara dengan mata terbelalak, lalu melanjutkan dengan cepat, “Ya, aku baik-baik saja. Orang gila ini bersikap kurang ajar terhadapku dan dia tadi meninju Thunder.”

“Sebaiknya kau minggir. Urusi urusanmu sendiri,” ancam pria itu dengan rahang terkatup. Ia menatap Minho dengan mata disipitkan.

Kini Minho bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. Usianya mungkin sekitar pertengahan sampai akhir tiga puluhan dan bertubuh agak kurus. Minho memerhatikan penampilan pria itu: pakaiannya bagus, sepatunya bagus, ada beberapa cincin emas melingkari jari-jari tangannya. Wajahnya agak seram karena penuh kerutan marah. Alis matanya lebat—berlawanan dengan rambutnya yang terlihat tipis di puncak kepalanya, membuatnya terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya—dan matanya kecil, hidungnya agak bengkok, bibirnya tipis dan berkerut.

Dia mabuk, pikir Minho ketika melihat pria itu melangkah agak terhuyung-huyung mendekatinya.

“Tapi ini teman-temanku, jadi ini juga urusanku,” kata Minho tenang. Ia menatap lurus ke dalam mata pria itu.

“Hah!” Pria itu mendengus keras. Ia menunjuk Thunder yang masih mengerang pelan di tanah. “Dia menyerangku, aku hanya membalasnya.” Ia beralih menunjuk hidung Dara. “Dan tentang perempuan jalang ini, dia yang menggodaku lebih dulu.”

“Hei, Paman mimpi ya?” sela Dara galak dengan dagu terangkat tinggi. “Seharusnya Paman bercermin dulu. Mana mungkin aku menggodamu?”

Pria itu mengangkat tangan kanannya. “Dasar perempuan…”

Minho bergerak ingin menghalanginya, tetapi telapak tangan pria itu malah mendarat di pipinya.

“Minho-ssi!” pekik Dara.

Minho memegangi pipinya dan mengernyit. Ia bisa merasakan darah di lidahnya. Sialan, pukulan orang itu kuat juga. Untung giginya tidak patah. Minho menegakkan tubuh dan menatap pria di depannya.

Pria itu mengangkat hidungnya tinggi-tinggi dan menantang. “Apa? Mau lagi? Mau lagi? Ayo ke sini kalau mau.”

Orang itu mabuk, kesal, dan tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak mungkin bisa diajak bicara baik-baik. Minho mendesah. Kalau begitu hanya ada satu cara.

* * *

Sulli menonton televisi di ruang duduk apartemennya tanpa minat. Ia baru saja pulang dari makan malam bersama Jonghyun.

Acara mereka memang terputus karena Jonghyun mendapat panggilan dari rumah sakit, tapi Sulli tetap merasa kebersamaan mereka yang singkat itu sangat menyenangkan. Ia ingin mencari teman berbagi cerita.

Masalahnya apartemen Dara kosong. Bahkan Minho juga tidak ada di rumah. Biasanya jam-jam segini Dara sudah ada di apartemennya, menyiapkan makan malam untuk adiknya. Kemana mereka semua?

Kemudian Sulli mendengar suara-suara di luar. Ia segera mematikan televisi dan bangkit dari lantai. Mungkin itu Dara sudah pulang. Atau mungkin Minho? Sulli membuka pintu dan melongokkan kepala ke luar.

“Kau mau masuk, Minho-ssi?” Sulli mendengar suara Dara di lantai bawah.

“Tidak perlu. Aku naik saja.” Kali ini suara Minho.

“Tapi itu…”

“Ah, ini? Tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan,” sela Minho, lalu tertawa kecil. “Kelihatannya justru Thunder yang harus diurus.”

“Aku tidak apa-apa,” Thunder membantah.

“Apanya yang tidak apa-apa?” potong Dara. “Lihat pipimu memar begitu. Tapi Minho-ssi, kau juga berdarah.”

Berdarah?

Mendengar itu Sulli langsung keluar dari apartemennya dan bergegas menuruni tangga ke lantai bawah.

“Oh, Sulli,” kata Dara yang melihat Sulli lebih dulu, lalu yang lain ikut menoleh.

“Ada apa, Eonni?” tanya Sulli sambil memandang mereka bertiga bergantian, lalu terkesiap pelan ketika melihat wajah Thunder dan Minho. “Kalian berdua kenapa?”

“Tadi ada orang sinting yang menggangguku di jalan,” Dara yang menjawab dengan nada berapi-api. “Seenaknya saja dia menarik-narik aku seolah-olah aku ini wanita gampangan. Untung saja mereka berdua muncul.” Ia menunjuk Minho dan adiknya. “Thunder langsung meninju orang itu setelah berteriak, „Jangan sakiti kakakku!‟…”

“Aku tidak bilang begitu,” protes Thunder salah tingkah. “Aku hanya bilang„Lepaskan tanganmu.‟”

“Tapi aku tahu maksud hatimu yang sebenarnya,” balas Dara sambil mengacak-acak rambut adiknya. Lalu ia kembali menatap Sulli. “Tapi orang itu balas memukul Thunder dan Thunder langsung terkapar. Saat itulah Minho-ssi beraksi.”

Sulli berpaling ke arah Minho. Sudut bibir laki-laki itu terluka. “Kau juga dipukul?” tanya Sulli khawatir.

“Cuma sekali,” sela Dara bahkan sebelum Minho sempat membuka mulut. “Lalu Minho-

sii membuat orang itu lari terbirit-birit.”

Sulli menatap Minho lagi. “Bagaimana bisa?”

Masih Dara yang menjawab, “Sabuk merah Taekwondo.”

Alis Sulli terangkat. Minho menatapnya dan tersenyum lebar, lalu ia menggeleng. “Tidak juga. Hanya sedikit-sedikit.”

“Tapi orang itu sempat mengancam Minho Hyung sebelum dia pergi,” kata Thunder.

“Sebaiknya kau cepat masuk dan kompres pipimu,” sela Minho.

“Benar. Ayo, masuk,” kata Dara sambil mendorong adiknya masuk ke apartemen mereka.

Sulli membuka mulut. “Tapi…”

“Kau mau naik atau tidak?” panggil Minho yang sudah mulai menaiki tangga. Sulli menatap Minho, lalu ke arah Dara dan Thunder, lalu kembali ke Minho. Akhirnya ia menyerah dan mengikuti Minho ke atas.

* * *

Minho menyentuh pipinya dan meringis pelan. Pipinya pasti bengkak besok. Ck, malam ini benar-benar kacau. Ketika ia berhenti di depan pintu apartemennya dan mengeluarkan kunci ia mendengar Sulli bertanya dengan nada khawatir, “Apa maksud Thunder tadi?”

“Apanya?” Minho balik bertanya. Ia masuk ke apartemennya dan Sulli mengikutinya dari

“Katanya orang itu mengancammu.” Sulli melepas sepatunya dan mengenakan sandal Hello Kitty-nya sebelum memasuki apartemen Minho.

“Hanya gertakan kosong,” gumam Minho sambil melepas syal, jaket, dan topinya. Ia berbalik menghadap Sulli. “Tidak usah dipikirkan.”

Ia melihat Sulli menatapnya dengan kening berkerut. “Kenapa?” tanya Minho. “Ada sesuatu di wajahku?”

“Sudut bibirmu mulai membiru,” gumam Sulli muram. “Biar kuambilkan obat.”

Ketika gadis itu hendak berjalan ke pintu, Minho meraih pergelangan tangannya.

“Tidak perlu repot-repot,” katanya lelah. “Aku juga punya obat. Kepalaku sakit kalau kau mondar-mandir. Duduk saja yang manis.”

Sulli menurut. Ia duduk di samping Minho di sofa dan menatap wajahnya untuk mencari luka lain. “Kau terluka di mana lagi?” tanyanya. “Kepala? Kau bilang kepalamu sakit.”

“Kepalaku tidak terluka. Hanya pusing sedikit.”

“Tangan?”

“Tidak.”

“Kaki?”

“Tidak.”

“Badanmu?”

Minho tertawa pendek. “Sulli-ya, aku baik-baik saja.” Melihat kening Sulli yang berkerut tidak percaya, ia melanjutkan, “Sungguh! Atau kau mau aku membuka baju untuk meyakinkanmu?”

Sulli mendengus, lalu bertanya, “Kau sudah makan?”

Minho tidak langsung menjawab. Ia menatap Sulli sejenak, lalu memalingkan wajah dan mendesah. “Tadinya aku mau mengajakmu makan.”

“Ah, aku pergi makan dengan Dokter Lee ,” kata Sulli langsung tanpa ditanya. Senyumnya mengembang.

“Dokter Lee?”

Sulli menegakkan punggung dan menatap Minho dengan mata berbinar-binar.

“Aku sudah pernah bercerita padamu tentang dia, bukan? Cinta pertamaku? Namanya

Lee Jonghyun.”

Mendengar nama itu Minho mendesah pelan. Ia mengangguk-angguk pelan dengan pandangan kosong dan bergumam tidak jelas.

“Dulu, sewaktu aku pertama kali bertemu dengannya tiga belas tahun yang lalu, aku sama sekali tidak tahu dia orang yang seperti apa,” Sulli melanjutkan sambil melamun.

“Hm.”

“Tapi sekarang aku tahu dia orang yang menyenangkan.”

“Hm.”

“Juga pintar.”

“Aku haus,” sela Minho tiba-tiba.

Sulli terdiam sejenak, lalu berkata, “Biar kuambilkan air.”

Sebelum gadis itu sempat bangkit dari sofa, Minho sudah mendahuluinya dan berjalan ke dapur. Ia kesal. Bagaimana gadis itu bisa membicarakan Lee Jonghyun di depannya seperti itu? Tapi, tentu saja, Sulli sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan Minho.

Merasa agak bersalah karena telah memotong cerita Sulli, Minho menoleh ke arahnya dan bergumam, “Bisa kulihat kau sangat gembira. Aku juga ikut senang.”

Sulli tersenyum. “Ya, memang.”

Minho mengisi gelas dengan air keran dan langsung meneguknya sampai habis.

“Sebentar lagi Natal,” kata Sulli tiba-tiba.

Minho menoleh ke arah Sulli. Karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya, ia hanya menunggu gadis itu melanjutkan.

“Dokter mengajakku menonton pertunjukan balet pada malam Natal nanti,” kata

Sulli sambil menatap Minho. “Swan Lake.”

Minho mengerang dalam hati. Tidak, jangan lagi. Minho mengerutkan kening.

“Swan Lake?” ulangnya sambil meletakkan gelas ke meja.

Sulli mengangguk dan Minho menyumpah dalam hati.

“Kau ada rencana apa untuk malam Natal nanti, Minho-ssi?” tanya Sulli. Untuk apa mengatakan pada Sulli bahwa ia juga punya tiket pertunjukan balet yang sangat ingin ditonton gadis itu? Akhirnya Minho hanya berkata singkat, “Pergi jalan-jalan.” Alis Sulli terangkat heran. “Ke mana?”

Minho memaksakan seulas senyum. “Aku belum tahu,” katanya sambil mengangkat bahu. “Kuharap kau bersenang-senang nanti.”

Sulli hanya menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. Minho menghela napas dalam-dalam dan menunduk. “Aku capek,” katanya. “Sepertinya aku ingin tidur sekarang.”

“Kalau begitu, istirahatlah,” kata Sulli sambil berdiri dari sofa. Ia tersenyum lebar dan mengangkat sebelah tangannya. “Sampai jumpa besok.”

Minho melihat gadis itu keluar dari apartemennya dan menutup pintu. Sekali lagi ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia sudah terlambat. Terlambat. Seharusnya ia tidak menunggu selama ini untuk mengajak gadis itu keluar. Tetapi waktu itu ia berpikir sebaiknya ia mendapatkan tiket pertunjukan itu terlebih dahulu sebelum mengatakannya pada Sulli. Sekarang ia harus menerima hasil dari keputusannya yang bodoh. Gadis itu akan pergi dengan Lee Jonghyun. Kenyataan bahwa Jonghyun adalah teman baiknya malah membuat Minho semakin kesal.

Sepertinya sejarah terulang kembali. Ia tertarik pada gadis yang justru tertarik pada teman baiknya.

 

To be continue …

 Minta bantuan buat ngoreksi typonya yah seperti biasa. Gamsah. 😀

99 thoughts on “Winter in Tokyo [Korea Version] Part 7

  1. Ahh kirain yang diomongin jongyun bukan sulli padahal aku udah berharap banget-,- ming kenapa ga aja ke reuniannya aja? Kan jong cuman ngajak nonton balet, next eonni ^^

  2. ya ampun hal yg dulu terjadi terulang kembali, lagian minho udah nyatain aja perasaan sama sulli, keburu sulli di ambil jonghyun.
    kasian sih sama minho…. T_T

  3. Hmm nyesek thorr…..sabar ming klo jdoh ga kan kmn.makanya jgn dilama2 kburu diambil orang hehehe.gmn kelanjutannya thorr?gonaweo

  4. brokenheart, itu yg aku rasain ketika baca ini, huhuhu ㅠㅠ
    Kasian minho, argh..aku harap minho adalah pria yg menolong sulli 13th lalu..

  5. Huuhuuhuu 😥
    Kasian minho.. benar2 nyesek..
    Jangan2 nanti pas reuni sekolah dr.Lee ngajak sulli jg.. trus minho ama siapa dong??? Masa thunder???

    Huaaa..
    Aku tunggu next nya aja ya..
    Maaf gk banyak kritik.. gini aja dah bagus kok.. enelan..
    Go go go fighting.. 🙂

    • ciaaaaaaaat, , jangan kritik aku, soalnya ini cuma copasan novel , , huhuhu, , kalo mo baca versi aslinya, masih tersedia banyak kok di gramedia. 😀

  6. Minho you late!
    Tpi ssuli juga perhatiaan kok ama minho 😀
    Minho tertarik dengan cewek yg menyukai temen baiknya dan itu teeulang lagi 😦
    Sweet banget Minho diam” fotoiin ssul 🙂
    Next

  7. Seandainya minho mendengarkan nasehat thunder kan kejadiaany tdk akan keduluan junghyun ,,,
    Minho kalah cepatt nichh,,, hehehehe
    Tpi semoga saja sulli dan junghyun gagal kencan ckcckckckck 😀

  8. Part 7
    double what? kyaa~ Minho Oppa keduluan Jjong >< aissh ga gerak cepat sih keduluan kan 😦 yaudeh gpp nanti d ambil alih Ssul'nya hehe terus juga Ssul semangat bingit cerita ttg Jjong ga liat Minong depresi apa ya denger cerita'nya u.u) duh ileh itu keren banget Minong bisa karate? Wooaa aku jadi pengen d selametin juga =D nyahaha~ #ngimpi -,-
    next thor^^

  9. wah kasian minho suka sama seseorang malah milih sahabatnya sendri.. eemm pasti sakit banget t.. tapi mudah mudahan nanti reuni minho pergi m sulli deh (mengharap deh hehe)

    tapi mudah2n minho tdak kecewa kedua kali karena orng yg ia suka mlah suka keorang lain..
    eeeemm seru banget n bikin penasaran aja nie..

  10. Kasiaannn ama minho 😦 sudah dilambung kiri nih ma jonghyun
    haduhh mudah2an di part selanjutnya melegahkan
    lanjut part 8

  11. Wuhuu makin seru nihh, patk siblings emang lucu yaa :D,
    minho telat bgttt nih ngajak ssul nnton 😦
    Jd keduluan jonghyun deh tuhh 😦 kasian jugaa nih sii minho 😦

  12. ishh mingg kasihan banget eon .. kenapa dia pindah kekorea malah nasibnya sama aja .. kenapa ssull ketemu sama jjong pda saat mingg dh punya perasaan sama sull .. ahh .. semoga keajaiban datang dan sulli pun pergi dg mingg ..

  13. Aaaa .. Minho kasihan banget . Tapi kali ini Minho gak boleh nyerah . Harus ttep perjuangin apa yg seharusnya ia miliki dan please jangan sampai dia ngerelain untuk ke2kalinya . Ming lu lain kali harus bergrak cepat , dengerin tu katakata Thunder yg ada benernya jugaaa .
    Sulli kyknya bener2 gk tau deh ttg perasaan Minho . Jadi sulli dtg kereunian bersama Minho or Jonghyun yaaa??
    FFnya bagus eon daebbaaakk .
    Part8diprotexya eon ? .

  14. Aiss knapa baby sull sma jonghyun,nangis bombay dah liat minho ksian bnget cintany brtpuk sblah tangan tapi fighting minho buat dpetin baby sull pokokny maju terus,next thor

  15. minho cemburu nih ceritanya wkwk cemburu adek orang diajak juga jd peneman, elaaaah kamvret itu yg gebukin eeeetttss tapi ada untungnya juga ming lu babak belur yaaak wkwk kesiaan lu ming Cemburuuuu menguras aer gelas/?

  16. Aaaak!!!
    Makin seruuuu!!!
    (>-̮<)
    Kasihan Minho oppa…
    (´._.`)\('́⌣'̀ )
    Baby Ssul, cari tau lebih jauh lagi dong… Apa benar cinta pertamamu itu Jonghyun?

  17. Sedih eung sediiihhh di part ini 😢😢 ternyata sulli ga peka banget ya -__- yang sabar ya mimhoppa ternyata gadis yang mau kalian bawa ke acara reunian itu adalah gadis yang sama. Sulli 😷. Dan pastinya sulli bakalan lebih milih pergi ama jonghyun dr pada ama minhoppa huaaaaaa 😫
    Sabar ya minhoppa sabarrrr, berusahalah lebih keras buat bisa luluhin hati sulli ne :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s