Winter in Tokyo [Korea Version] Part 11

Untitled-1

Winter in Tokyo [Part 11]

Choi Minho || Choi Sulli || OC

Genre : Romance, Friendship,  Drama, Sad/Hurt, Crime

Lenght : Chaptered

Rate : 16

Part 11

“TERIMA kasih karena sudah mengantarku,” kata Sulli kepada Minho ketika mereka sudah tiba di stasiun (Menurut yang mimin baca di gugel, KTX di jalankan dari bandara Incheon. Jadi masih bingung nih antara stasiun atau bandara.) . “Keretaku akan datang sebentar lagi. Kau tidak perlu menungguku.”

“Tidak apa-apa,” kata Minho. Ia mengikuti Sulli masuk ke stasiun sambil menjinjing tas pakaian gadis itu. “Kau naik kereta apa?”

“KTX Sancheon. Itu yang paling cepat,” sahut Sulli. Ia duduk di salah satu kursi dan memeriksa tas tangannya, memastikan tiketnya sudah ada. Minho duduk di kursi di sebelah Sulli dan memperhatikan gadis itu. Tadinya Minho mengira Sulli akan membawa koper besar—karena para wanita biasanya membawa banyak barang kalau bepergian—tetapi ternyata gadis itu hanya membawa tas tangan kecil dan satu tas jinjing berisi pakaian. Karena menurut gadis itu, baju-bajunya banyak di Busan.

“Jam berapa kau akan tiba di Busan?” tanya Minho.

Sulli melirik jam tangannya. “Dari sini ke Busan hanya butuh sekitar dua jam. Pokoknya hari belum gelap kalau aku tiba di Busan.” Ia menoleh ke arah Minho. “Kenapa?”

“Telepon aku kalau sudah sampai.”

“Oke,” sahut Sulli ringan. Lalu ia terdiam sejenak, memiringkan kepala dan bertanya, “Tapi kenapa aku harus meneleponmu?”

“Supaya aku tahu kau sudah tiba dengan selamat.”

“Untuk apa? Aku bukan anak kecil lagi, kau tahu?” protes Sulli. “lagi pula, bukankah ponselmu sedang diperbaiki?”

“Ah, benar,” gumam Minho sambil menepuk keningnya. “Kalau begitu, biar aku yang meneleponmu nanti.”

Sulli tidak sempat menjawab karena tiba-tiba lagu Peach terdengar nyaring. Ia mengeluarkan ponselnya yang berkedip-kedip dari tas tangan dan membaca tulisan yang muncul di layar. Alisnya terangkat dan ia cepat-cepat menempelkan ponsel ke telinga.

“Yeoboseyo? Dokter?”

Kepala Minho berputar cepat ke arah Sulli. Gadis itu berdiri dari kursinya dan berjalan agak menjauh. Minho sempat mendengar Sulli berkata, “Dokter sudah menerimanya?” Lalu ia tidak bisa mendengar apa-apa lagi.

Kemungkinan besar Jonghyun menelepon Sulli untuk berterima kasih atas biskuit pemberian Sulli. Tadi, dalam perjalanan ke stasiun, Sulli meminta Minho mengantarnya ke rumah sakit tempat Jonghyun bekerja untuk menyerahkan hadiah Natal.

Minho tidak punya alasan untuk menolak, tentu saja, tetapi ia membiarkan Sulli masuk ke rumah sakit sendiri sementara ia menunggu di mobil. Ia tidak ingin Jonghyun tahu bahwa ia mengenal Sulli. Belum waktunya. Tetapi ternyata Jonghyun sedang sibuk menangani salah seorang pasien sehingga Sulli tidak bisa menemuinya dan terpaksa menitipkan biskuit itu kepada seorang suster jaga.

Minho mengangkat wajah ketika Sulli duduk kembali di kursi di sampingnya. “Si dokter cinta?” tanya Minho datar.

“Ya. Dia menelepon karena sudah menerima biskuitnya dan ingin berterima kasih,” sahut Sulli ringan. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya, “Ngomong-ngomong, kenapa kau selalu menyebutnya dokter cinta?”

“Apa yang kau suka darinya?” Minho balas bertanya. Sebenarnya ia tidak ingin tahu, tetapi rasa penasarannya tidak bisa ditahan lagi.

“Apa?”

“Apa yang membuatmu suka padanya? Kenapa dia bisa menjadi cinta pertamamu?”

“Oh, itu.” Sulli tersenyum dan merenung. “Aku menyukainya karena dulu dia pernah membantuku mencari kalungku yang terjatuh.” Ia tertawa pelan dan melanjutkan “Kedengarannya memang konyol, tapi begitulah kenyataannya, terutama setelah dia berhasil menemukan kalungku dan tersenyum padaku.”

“Kalung?” Kening Minho berkerut samar.

“Ya. Kalung pemberian nenekku. Aku selalu memakainya. Nah, ini dia,” kata Sulli sambil menarik kalung yang dikenakannya dari balik syal dan kerah sweter tebalnya. Kalung dengan liontin berbentuk kata “Sulli”.

Minho mengamati kalung itu dengan saksama. Kerutan di keningnya bertambah. Kalung itu… Tiba-tiba terdengar pengumuman melalui pengeras suara bahwa kereta dengan tujuan Busan akan segera berangkat.

“Oh, aku harus segera pergi,” kata Sulli sambil mengumpulkan barang-barangnya dan berdiri. Minho juga ikut berdiri, walaupun masih terus sibuk menggali ingatannya. Ada sesuatu yang terasa mengganjal tentang kalung itu. Di mana ia pernah melihat kalung itu. Di mana?

Tiba-tiba Minho tersentak. Ia ingat sekarang. Ia mengangkat wajah dan memandang ke arah Sulli. Gadis itu sudah tiba di pintu gerbong kereta dan sedang melambai ke arahnya. Minho baru akan mengangkat tangannya sendiri untuk balas melambai, ketika tiba-tiba ia merasakan dorongan besar untuk melakukan sesuatu.

Tanpa berpikir panjang, Minho berseru memanggil Sulli dan berlari-lari kecil ke arah gadis itu yang sudah menaiki tangga pintu gerbong. Sulli memutar tubuh dan menatap Minho dengan tatapan heran dan kening berkerut. “Kenapa berteriak-teriak seperti itu?” katanya dengan nada rendah. “Nanti orang-orang akan berpikir aku sudah mencuri dompetmu atau semacamnya.”

Minho tidak langsung menjawab. Ia menatap Sulli sambil tersenyum lebar. “Sulli-ya.”

“Ada apa?”

Minho menunduk dan tertawa pelan, menertawakan sikapnya sendiri yang gegabah. Merasa heran dengan sikap Minho, Sulli bertanya sekali lagi, “Ada apa?”

Minho kembali menatap wajah Sulli. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang mendorongnya, tetapi ia merasa harus mengatakannya sekarang. Tidak peduli apa yang dipikirkan Sulli nantinya, pokoknya Minho harus mengatakannya.

“Sulli-ya, ada yang ingin kutanyakan padamu.”

“Ya?” Sulli melebar menunggu.

“Kau bisa melupakan Lee Jonghyun?”

Alis Sulli terangkat tinggi. “Apa?”

“Kau bisa melupakannya,” tanya Minho tegas sambil menatap lurus ke dalam mata Sulli yang bingung, “dan mulai benar-benar… benar-benar melihatku?”

* * *

Oh! Sulli merasa jantungnya berdebar kencang. Tangannya mencengkeram pegangan besi di ambang pintu gerbong kereta dengan erat. Ia mengerjapkan mata dan menatap Minho. Laki-laki itu memang tersenyum, tetapi entah kenapa Sulli tidak merasa Minho sedang bercanda. Tidak, laki-laki itu serius. Apakah Minho berusaha mengatakan bahwa ia menyukai Sulli?

Sulli menahan napas, matanya terbelalak, dan jantungnya berdebar kencang. Perasaan apa ini?

“Kau tidak perlu mengatakan apa-apa sekarang,” kata Minho sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket. “Aku tahu sekarang bukan waktu yang tepat.” Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Mereka sedang berada di stasiun kereta dan sebentar lagi kereta Sulli akan berangkat. Benar-benar pilihan waktu yang buruk.

Sulli diam menunggu kelanjutan kata-kata Minho. Ia merasa seperti disihir. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa berkata-kata.

“Sebenarnya ada hal lain yang ingin kukatakan padamu. Mengenai ingatan masa kecilmu. Tapi akan kuceritakan nanti saat kau kembali,” kata Minho perlahan. Lalu ia tersenyum dan melanjutkan, “Saat kau kembali nanti, aku akan ada di sini.”

Setelah itu pengumuman terakhir terdengar melalui pengeras suara dan pintu gerbong tiba-tiba bergerak menutup, membuat Sulli tersentak mundur selangkah. Minho mengangkat sebelah tangannya untuk melambai sementara kereta mulai bergerak perlahan. Sulli terus menatap Minho yang tetap berdiri di tempatnya. Kemudian sosok Minho pun semakin kecil dan akhirnya menghilang dari pandangan.

Ini aneh. Sulli menutup mulut dengan sebelah tangan dan perlahan berjalan ke tempat duduknya. Dengan agak lemas ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Pemandangan di luar sana berlalu dengan cepat, silih berganti, tetapi Sulli tidak peduli. Kata-kata Minho tadi membuat jantungnya berjumpalitan.

Kau bisa melupakannya dan mulai benar-benar… benar-benar melihatku?

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, selama ini Sulli sudah melihat Minho. Selalu melihat Minho. Hanya saja ia tidak menyadarinya sampai… sekarang? Atau semalam?

Kata-kata Minho kemarin sore terngiang-ngiang di telinganya.

Berhati-hatilah, Sulli-ya. Setelah kencan ini, kau mungkin akan jatuh cinta padaku.

Jatuh cinta pada Minho? Sulli tidak pernah memikirkan hal itu. Ia belum tahu bagaimana perasaannya, tapi saat ini suatu perasaan aneh yang menyenangkan timbul dalam hatinya. Di samping perasaan senang yang terbit di hatinya, ada juga perasaan janggal. Sulli merasa agak tidak tenang. Mungkin seharusnya ia mengatakan sesuatu tadi. Sesuatu apa? Yah, apa saja, selain diam mematung menatap Minho. Kalau tadi ia mengatakan sesuatu, mungkin ia tidak akan merasa resah seperti ini. Mungkin saja…

Tiba-tiba saja Sulli tidak sabar ingin segera tiba di Busan dan menunggu telepon dari Minho.

* * *

Minho melajukan mobil di sepanjang jalan raya yang cukup ramai, sibuk berpikir dan menyusun rencana. Ia memang ingin mengungkapkan perasaannya kepada Sulli, tetapi pilihan waktunya tadi payah sekali. Sulli membuatnya merasa gembira, tenang, dan… hidup. Memang masih banyak yang ingin dikatakannya kepada gadis itu, tetapi kali ini ia harus memilih waktu yang cocok sebelum mencoba menjelaskan semuanya.

Tiba-tiba suatu pikiran terbesit dalam benak Minho. Mungkinkah Sulli akan mengira Minho hanya menganggapnya sebagai tempat pelampiasan karena wanita yang dulu pernah disukainya akan menikah dengan sahabatnya? Minho terpekur dan mengangguk angguk. Mungkin saja. Kalau begitu Minho harus meyakinkannya.

Ia terlalu sibuk memikirkan masalah itu sampai tidak menyadari keberadaan mobil hitam di belakangnya. Sebenarnya mobil hitam itu sudah mengikutinya sejak Minho berangkat dari apartemen tadi siang untuk mengantarkan Sulli ke stasiun.

Ketika Minho membelokkan mobil ke jalan sepi yang merupakan jalan pintas ke apartemen pamannya, mobil hitam yang selama ini tetap menjaga jarak di belakang langsung melesat maju melewati mobil Minho. Minho buru-buru menginjak rem ketika mobil hitam itu berhenti di depannya, menghalangi jalan. Kening Minho berkerut. “Apa-apaan ini?” Ia melihat ke belakang dan menyadari mobil hitam lain sudah berhenti di belakang mobilnya.

Sebelum Minho sempat memahami apa yang sedang terjadi, sekitar lima pria berjaket hitam dan bertampang seram keluar dari kedua mobil di depan dan belakangnya. Mereka terlihat seperti gengster.

Minho mencium adanya bahaya, tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang kecuali mencari tahu apa yang diinginkan orang-orang aneh itu. Dengan perasaan waswas ia membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar. Ia menatap kelima orang yang berdiri di depannya, lalu mengangkat kedua tangannya kedepan.

“Dengar siapa pun yang sedang kalian cari saat ini, saya yakin kalian salah orang.”

“Tidak. Tidak salah.”

Minho berbalik cepat dan berhadapan dengan pria berpenampilan rapi yang berumur tiga puluhan, atau mungkin lebih tua dari itu. Sebatang rokok terselip diantara bibirnya yang tipis. Rambut di atas kepalanya sudah mulai menipis, tetapi alisnya lebat. Dan hidungnya agak bengkok. Minho mengerutkan kening. Ia pernah melihat orang itu.

“Kau tidak ingat lagi padaku?” tanya pria itu dengan nada sinis. Mulutnya melengkung membentuk senyum mengejek. Minho teringat pada orang aneh di gedung pertunjukan balet kemarin. “Anda yang ada di gedung pertunjukan kemarin?” tanyanya dengan nada ragu.

Alis lebat pria itu terangkat, masih tersenyum sinis. Ia mengepulkan asap rokoknya dan berkata puas, “Ah, rupanya kau ingat juga.”

“Tapi aku…”

“Coba ingat-ingat lagi,” potong pria itu tajam.

“Sebelum itu kita sempat bertemu.”

Minho kembali memutar otak. Siapa pria ini? Apa yang diinginkannya?

”Kau sama sekali tidak ingat?” Mata kecil pria itu menusuk mata Minho. “Bagaimana kalau ku katakan padamu bahwa masih ada masalah yang belum selesai diantara kita?” tanya pria itu. Ia mengangguk-angguk dan melanjutkan, “Harus ku akui pukulanmu cukup keras, tapi kurasa sekarang saatnya kau menerima balasan dariku.”

Tiba-tiba Minho teringat. Pria ini adalah pria yang mengganggu Sandara Park ditengah jalan malam itu. Minho memang sempat meninjunya dan sekarang ia ingin membalas dendam?

Minho memandang berkeliling, mengamati anak buah pria itu, mempertimbangkan kelemahan situasinya saat itu. Ia tidak yakin bisa mengalahkan lima orang bertampang garang itu. Tetapi bagaimanapun juga ia harus mencobanya. Tidak ada cara lain.

“Sepertinya kau mulai ingat, bukan?” tanya pria itu. Ia menyeringai, membuang sisa rokoknya ke tanah, dan menginjaknya.

“Mungkin sekarang kita bisa mulai mengajarimu supaya tidak ikut campur urusan orang lain.”

Ia melambaikan tangannya dan kelima anak buahnya bergerak maju menyerang Minho. Minho sempat menghindar dari beberapa tinju yang melayang ke arahnya dan sempat meninju rahang beberapa orang pria. Tetapi mereka terlalu banyak dan terlalu ganas. Sementara Minho sibuk menghindar, ia tidak menyadari salah satu dari pria itu mengambil tongkat bisbol dari dalam mobil dan menghampirinya dari belakang.

Minho berputar dan terkejut melihat tongkat bisbol yang diayunkan ke arahnya. Hal terakhir yang terlintas dalam benaknya adalah ia harus menelepon Sulli sore itu. Lalu kepalanya serasa meledak, diikuti percikan cahaya menyilaukan, lalu segalanya berubah gelap.

* * *

Sudah hampir jam tujuh malam. Sulli mengalihkan pandangan dari jam dinding ke ponsel yang tergeletak di meja dan mengembuskan napas. Kenapa belum menelepon? Lagi-lagi Sulli melirik jam dinding. Ia sudah tiba di Busan sekitar tiga jam yang lalu, tetapi Minho belum menelepon sampai sekarang. Bukankah laki-laki itu bilang akan meneleponnya?

Sulli tidak tahu kenapa ia bisa seresah itu. Tetapi ia memang resah. Ia menggigit-gigiti kuku dan kembali menatap ponselnya. Akhirnya ia meraih ponselnya dan mulai memencet beberapa tombol, lalu menempelkan ponsel ke telinga.

“Yeoboseyo? Dara Eonni ? Ia mendengarkan sesaat, lalu melanjutkan, “Ya, aku sudah di Busan. Eonni ada di mana sekarang?… Oh, begitu. Eonni, ngomong-ngomong Eonni sudah bertemu dengan Minho-ssi?”

Sulli kembali menggigit kukunya. “Belum? Oh… Ah, tidak apa-apa. Ponselnya sedang rusak jadi aku tidak bisa meneleponnya. Ya… Ya, tidak apa-apa… Kalau Eonni bertemu dengannya… Ya… Ya… Terima kasih. Ya.”

Sulli menutup telepon dan mengembuskan napas panjang. Ia menggigit bibir dan menatap ponsel yang ada dalam genggamannya. Apakah ia harus mencoba? Hanya untuk memastikan? Ia kembali memencet beberapa tombol di ponselnya dan menempelkan ponsel ke telinga.

Setelah menunggu sejenak terdengar suara operator telepon yang menyatakan bahwa ponsel yang dituju sedang tidak aktif. Sulli menutup ponsel. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan keras.

“Kenapa melamun sendiri di sini?” Terdengar suara berat ayahnya dari belakang. “Kau tidak membantu ibumu menyiapkan makan malam?”

“Ya,” sahut Sulli cepat dan segera bangkit.

Tidak apa-apa. Minho mungkin memang sedang sibuk saat ini. Ia pasti akan menelepon Sulli nanti malam. Pasti.

* * *

Dua jam yang lalu…

Lee Soo Man baru saja akan meninggalkan apartemennya untuk menghadiri pesta Natal yang diadakan salah seorang rekan bisnisnya ketika telepon di apartemennya berdering. Ia bermaksud mengabaikannya karena sebelah tangannya sudah membuka pintu depan, tetapi akhirnya ia menyerah dan masuk kembali keapartemen.

“Yeoboseyo?” katanya dengan nada agak kesal. Ia melirik jam tangan Rolex yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Semoga saja ini tidak memakan waktu lama. Ia tidak ingin sampai terlambat menghadiri perayaan itu dan memberikan kesan buruk.

“Apakah saya sedang berbicara dengan Lee Soo Man?” tanya suara seorang pria di ujung sana. Nada suaranya resmi dan kaku. Kening Lee Soo Man berkerut samar. “Benar. Saya sendiri.”

“Lee Soo Man-ssi,” lanjut pria di ujung sana, “kami dari kepolisian.” kerutan di kening Lee Soo man bertambah. Kepolisian?

“Maaf, ada masalah apa? Apakah ada yang bisa saya bantu?” Ia mendengarkan sejenak, lalu mengangguk dan berkata, “Benar, itu mobil saya. Saat ini keponakan saya yang memakai mobil itu.” Jeda sesaat sementara Lee Soo Man mendengarkan kata-kata polisi itu.

Tiba-tiba rahangnya menegang dan wajahnya memucat. Ia mencengkeram gagang telepon lebih erat dan suaranya terdengar tegang ketika ia berkata, “Anda serius?… Seberapa parah keadaannya?… Saya segera ke sana.”

To be Continue…

88 thoughts on “Winter in Tokyo [Korea Version] Part 11

  1. KTX itu kereta cepat eonnie 😁 Jadi kebanyakan yang ke Busan naik KTX soalnya ga usah mahal” naik pesawat😀
    Btw tau” nanti Minho ngga lupa ingatan kan eonnie ? ㅎㅗㅎ

  2. Eonni andwae….kenapa gitu? Kenapa bls dendamnya kejem amat padahal cuma masalah sepele, kasian ming, trus gimana ama ssul?
    Soal ingatan masa kecil ssul? Jgn” yg nemu kalungnya ssul itu ming bukan jonghyun, soalnya ming pernah bilang dia gak asing sama wajah sulli
    Next eonni

  3. minho lupa ingatan sulli syokk….
    dan si pemeran brikut muncullll….

    crita diulang lg deh… dan parah ny minho ngmg plg ga enak k sulli nanti… ahh~~

  4. Wah apa hubungannya minho sama kalung masa kecil sulli ? Apa janagn2 sebenernya minho yg nemuin kalung sulli waktu kecil . Sulli punya firasat buruk ke minho dan minho bener2 kena keroyokan gengster .. aduh semoga sullu cepet dapet kabar dan minho gak kenapa2 .. lanjut thor semakin penasaran

  5. Omo ….
    Andwae … Minho oppa g kenapa2 kn eon ??
    Jahat banget sih …
    Berani nya main keroyokan juga tuh ahjussi….
    Ssul pasti sedih banget denger kejadian yg menimpa minho oppa .. Padahal tinggal sedikit lagi minho oppa mau ungkapin perasaan nya sama ssul

  6. Ya ampun, apa yg terjadi dg Minho? apakah ia bakal hilang ingatan? smg saja tdk, minho blm smpt mengatakan hal yg sbenarnya pd sulli..
    sbenarnya minho kan yg nemu kalungnya sulli waktu itu? jd cinta pertamanya itu minho, bkn jonghyun. hehe. cuma nebak aja min. next ya? fighting!

  7. “Bisakah kau melupakan lee jonghyun dan melihat diriku”
    Kekekke romantisss 😀
    Sulli udh mulai ada rasa sma minho , smpe nunggu telp dri minho
    Minho dipukul? Andweee !!! Dia ga bakal amnesia kan ?
    Next 😀

  8. Wah ada hubungan apa nih minho ama kalung sulli yang dulu.. apa mungkin sbnernya cinta pertama yg sulli temui tuh minho.. bukan si dokter cinta..

    Egmm minho jg dijahatin ama org gk jelas..
    Pdhal kan wktu itu cm nolongin dara, eh malah manjang bgini..

    Lanjut deh ahhh..

  9. “Kau bisa melupakan Lee Jonghyun?”
    “Kau bisa melupakannya,”
    “dan mulai benar-benar… benar-benar melihatku?”
    , “Saat kau kembali nanti, aku akan ada di sini.”
    Akhirnya minho menyatakan perasaannya meski tidak langsung pada intinya dan waktu yg kurang tepat tapi tidak apa2 itu kesempatan takutnya klo ditunda2 keduluan junghyun tar,, hahahaha
    Semoga sulli menyadari klo sebenernya dia jga menyukai minho 
    Berarti bner bahwa yg menemukan kalungy sulli itu bukan junghyun tapi minho dan setelah kejadian itu minho pindah ke amerika. Dan sulli merupakan cinta pertama minho,,, hua mereka bner2 berjodohhh horee..
    Bner firasatku g baik ma mobil hitam yg mengikuti mereka semalam itu,,, Kasian minho,,, moga lukanya tidak parah dan cepat sembuh hikzhikzhikz,,,
    Kasian sulli nunggu telfon minho seandaynya sulli tau minho dpukul dan masuk rumah sakit apakah sulli akan segera kembali dri busan?
    Lanjut thor,,,

  10. Uwaaaaa minho-yaaaa,,,kasian bgt,,,gak imbang jga kali balas dendamnya bawa anak buah,lawan orang satu,aish…sulli kasian jga blm dpt kabar dri minhoo T_T

  11. Minho Oppa so care eoh pake suruh nelpon segala kalo Ssul udah nyampe Busan 😀 tapi d ralat biat Minho aja yang telfon dy kekee~ oh my God Minho Oppa gpp kan? Dy ga parah kan keadaanya? Aduh jangan” dy? Aaaa andwee ><

  12. Akhirnya part yang ini datang juga -_-
    Awalnya melting banget gara-gara mino tapi makin ke bawah makin dagdigdug dan jengjeng… ahh mino 😥

  13. akhirnya minho bertindak juga dan mau bilang kalo dia suka sama sulli 🙂 tapiii… minho ga knp2 kan.. dia pasti di hajar sama ahjussi itu 😦 padahal sulli udah nunggu telepon minho, malah minhonya terjadi sesuatu 😦 semoga aja nantinya sulli sadar kalo dia udah jatuh cinta sama minho.. kalo jonghyun.. jadian sama kembaran sulli aja hehehe

  14. ada hubungan apa ming sama sull di masalalunya, kenapa pasa ming ngeliat kalung sull seperti teringat sesuatu ?
    ohh ming menyatakannyabyah ming menyatakannya .. tp sull kenapa hnya dian ..
    aigo .. pria itu kenapa pria itu kemabili membawa anak buahnya pula .. bagaimana keadaan ming sekarang .. baik2 saja kan eon .. 😦 kasian

  15. Huaaa Andwee .. Minho kenapa ? Lukanya parah gak ? Aaaa benerkan itu penguntit kemarin yg mau bls dendam -”- sulli smga dia gk marah deh karna ming gk nelfon . Baru aja mau ngungkapin perasaannya udh terjadi musibah gini . —”

  16. Minho so sweet bnget wktu distasiun kreta baby sull smpe trsntuh hatiny asyikkkk baby sull muly sadar akan adany minho dn omo ko minho dikroyok sma bapak” bangkotan hadeuh pleas jngan sampe minho knpa”,penasran bngtt klanjutnnya

  17. Wah jgn” yg menemukan kalung sulli ttu bkn jonghyun tp minho. Trs bgimna keadaan minho stlh brantem sma pria ttu. Wah jdi gmn dnk kndisi minho ? Sulli blm tau keadaan minho.

  18. Huuaaa choi minho di kroyok kurang ajar tuh aki2 bangkot jelek
    Haduhh sulli di busan lagi hiks…

    Ahh aku jg penasaran knp minho kyk tau sesuatu soal kalung sulli..hayoo apa itu..

  19. Yaampun… Udah dapat firasat buruk pas baca part Minhoney tanya ke Baby Ssul biar bisa melihat dia secara sebenarnya… -_-
    Dan udah sempat berspekulasi, bakal ada hal buruk menimpa Minho oppa setelah itu… Seperti misal, kecelakaan mobil dan hilang ingatan… :O Tapi ternyata dapat pembalasan dendam dari orang gila yang gangguin Dara Eonnie… 😦
    Wa, jadi gimana nasib MinSul nih?
    Makin penasaran… (۳º̩̩́Дº̩̩̀)۳

  20. Wait wait, jangan jangan yang nemuin kalung sulli tu bukannya jonghyun tapi minhoppa? Tapi yang ngasihinnya jonghyun oppa? Ow my god!!! Kalo ampe bener bgitu sulli udah salah jatuh cinta dong 😫 aaaaaaaaa 😞
    Nah sul pertimbangkan kata2 minhoppa itu sul, bisakah skarang kamu bener2 liat minhoppa tu ada dan selalu sama kamu? Bukannya jonghyun u.u
    Kesian ih jadi minhoppa, berasa ga dianggep banget kalo sulli lagi bahas jonghyun oppa huhu u.u sabar ya minhoppa semoga nanti smuanya ada kejelasannya :’)
    Diiihhh itu minhoppa diapaiinn ama itu ahjusi ahjusi gajelas 😭😭 opppaaaa gwencana? Eoh? Huuaaaa 😫

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s