Protected: WIT [Part 21]

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

THE ANTAGONIST [Chapter 7]

ps-dyocta-the-antagonist

The Antagonist

 by

Dyocta

Main casts: f(x)’s Sulli, SHINee’s Minho, EXO’s Chanyeol || Supporting casts: Girl’s Day’s Yura, Apink’s Hayoung & others || Genre: School-life, friendship & Romance || Length: Chaptered.

[Chapter 7]

 

Minho memerhatikan kalau wajah Sulli berubah murung sejak bertemu Yura tadi, sekalipun Yura sudah berada jauh dari jangkauan mereka pun wajah Sulli masih menampilkan ekspresi yang sama. Sulli jadi lebih banyak diam. Ia bahkan tidak menggubris pertanyaan Minho mengenai tes seleksi tadi.

Continue reading

WW Club – Chapter 16 : Team Captain

???????

Title: WW Club – Chapter 16: Team Captain

Author: Mahogany4 (@ItsMahogany4)

Translater: Maria (@Maria2509)

Main cast: Choi Minho, Choi Sulli, Bae Suzy, Jung Krsytal, Goo Hara, dan Lee Jonghyun

Support cast: IU, Heechul, Nicole, Liza (Sulli’s Mom), Fred (Sulli’s Dad) dan masih banyak lagi cast yang akan kalian temuin di cerita ini.

Length: Sequel

Genre: School Life, Romance, Friendship

Rating: PG15

A/N: Annyeoonggg~~ Ada yang udah pernah baca ini? Udah ada pasti.. btw, aku post chapter 1-15 di Shiningstory atau SF3SI dan seperti yang kalian tau kalo FF ini cuma translate-an doang aslinya kalian bisa baca dilink ini: Mahogany4 in AFF dan untuk chapter 1-15 nya,nanti akan ada dishare dibawah ini. So enjoy the story and hope you like it! I need your comment.. dimohon komen dari chapter 1-15 di SF3SI karena akan ada chapter yang diprotect. Dan yang udah komen dari chapter 1-15 ya kalian aman dan pake username/ID kalian untuk komen yang sama supaya gampang dicarinya. Gamsah. 🙂

.

.

Summary :

“Tidak boleh ada hubungan romantis dalam WWClub. Kita tidak boleh punya hubungan romantis dengan satu sama lain.” – Krystal

Part Sebelumnya :

Prolog | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8  | Part 9Part 10 | Part 11 | Part 12 | Part 13 | Part 14 | Part 15

.

Chapter 16: Team Captain

 

Sulli benci menjadi pusat perhatian.

Tapi dia sudah menjadi pusat perhatian orang-orang sejak berita gempar di Sun Life kalau dia akan menjadi anggota WWClub. Bahkan kantor administrasi! Ketika ia mengunjungi kantor administrasi sore itu, mereka menarik surat mereka padanya untuk mencari klub dan bahkan memujinya karena mampu mendapatkan klub tertinggi di Universitas.

Sudah 4 hari sejak ia menerima tawaran untuk menjadi anggota. Tapi tetap saja dia belum terbiasa pergi ke WW200. Tapi dia harus karena ini akan menjadi dunianya sekarang.

“Sulli, jangan sampai terlambat besok. Besok final pertandingan sepak bola. Kita harus meninggalkan sekolah jam 3 sore.” Kata Hara

“Aku harap mereka menang, mereka sudah bekerja keras untuk mencapai final.” Kata Krystal

Sulli melihat planner-nya.

“Umm …. aku ada ujian besok… sampai jam 4 sore.” Kata Sulli

Suzy berdiri dan melihat jadwal Sulli yang membuat Sulli terkejut.

“Hmm… kau harus ada disana untuk menonton pertandingan besok… Kita harus saling mendukung. One member’s battle is the battle of everyone.” Kata Suzy

“Itu salah satu peraturan utamanya.” Kata Hara tersenyum pada Sulli

“Peraturan… peraturan apa?” Tanya Sulli

“Sebenarnya tidak ada peraturan tertulis… kita sedikit hafal tentang peraturannya. Seperti misalnya, tidak ada rahasia. Kita tidak boleh menyembunyikan apapun pada semua member.” Kata Krystal

“Tidak boleh ada rahasia.” kata Hara menekankan.

“Kalau salah satu anggota ada yang ingin tahu isi suratmu, kau tidak bisa bilang ‘tidak, ini urusan pribadi’. Kau harus berbagi dengan kita. Kita benar-benar tidak boleh menyembunyikan apa pun dari satu sama lain.” Kata Krystal. “Tidak peduli seberapa pribadinya surat itu.”

Sulli tidak bisa membayangkan membuka semua rahasia tentang dirinya pada WWClub. Dia belum merasa nyaman pada mereka. Tapi sebenarnya ini akan menunjukkan betapa dekatnya mereka dengan sesama anggota.

“Umm… Yeah ada peraturan yang paling utama juga.” Kata Hara

“Yeah… peraturan yang tidak boleh dilanggar apapun yang terjadi.” Kata Krystal

“Apa itu?” Tanya Sulli

“Tidak boleh ada hubungan romantis dalam WWClub. Kita tidak boleh punya hubungan romantis dengan satu sama lain.” Kata Krystal

Sulli langsung menatap Suzy. Dia mengingat pelukan diantara Minho dan Suzy di ruang ganti lapangan bola… jadi kalau itu hanya pelukan untuk seorang teman? Jadi itu tidak berbeda dengan pelukan yang kemarin terjadi pada mereka?

“Kenapa begitu?” Tanya Sulli. “Maksudku… kalian semua sangat dekat. Dan kalian bersama-sama setiap hari.”

“Hmm… ceritanya panjang.” kata Krystal. “Tapi singkatnya… Kami tidak ingin persahabatan rusak. Hal apapun yang bisa merusak persahabatan kami, jadi kami membuat peraturan itu.”

“Tapi tidak ada sahabat yang berubah menjadi cerita cinta.” Kata Sulli

“Ada cerita yang berakhir bahagia… Tapi ada banyak juga cerita yang berakhir tragis… Dan sangat disayangkan saat kita semua tumbuh dewasa, cerita ‘tragis-teman-berubah-menjadi-pacar’ yang terjadi disekitar orang-orang yang dekat dengan kita.” Kata Krystal

Sulli melihat Suzy tidak berbicara dan hanya menatap kosong ke lantai.

“Tapi jangan khawatir, Sulli. Kita semua sangat mendedikasikan diri kita pada peraturan itu. Benar, kan, Suzy?” Tanya Hara

Suzy mengambil napas dalam-dalam dan tersenyum.

“Ya, Hara benar. Kita tidak boleh membiarkan bagian kecil dari hati kita untuk berdetak lebih cepat dari biasanya baik terhadap Jongyun ataupun Minho.” Kata Suzy. “Dan mereka berdua juga tahu itu.”

“Oh Sulli, kembali ke pertandingan besok… Kita bisa meminta professor-mu untuk memberikan ujian khusus jadi kau bisa bersama kami jam 3.” Kata Krystal

Tapi Sulli tidak menginginkan hal itu. Dia tidak suka perlakuan khusus… itu hanya akan membuatnya jauh dari dunia lamanya… sebisa mungkin dia masih ingin menjadi seorang mahasiswa normal.

———————

Jonghyun pergi untuk menonton latihan terakhir tim sepakbola. Kemampuan tim Minho sudah meningkat drastis. Banyak pemainnya kini mampu mencetak gol. Setelah latihan, Minho dan Jonghyun berjalan bersama-sama menuju WW200.

“Aku tahu kau tidak akan nervous untuk besok, tapi aku yakin pada para pemainmu.” Kata Jonghyun

“Aku nervous.” Kata Minho

“Kau masih merasa nervous?” Tanya Jonghyun tidak percaya

“Ya. Apa kau merasa nervous waktu kau mengikuti kompetisi internasional biola?” Tanya Minho

“Hmm… ya… kau benar, aku tetap nervous.” Kata Jonghyun

“Apa kau sudah memberitahu Sulli tentang pertandingan besok?” Tanya Minho

“Ya, Krystal dan gadis-gadis yang memberitahunya. Tapi aku dengar dia ada ujian besok sampai jam 4 sore.” Kata Jonghyun

“Hmm…. benar…” kata Minho

“Sebenarnya, mereka sudah mencoba memaksanya untuk mengambil ujian khusus sehingga dia bisa bergabung bersama kita. Ini kompetisi pertama sejak kita menerima Sulli dan aku pikir dia harus hadir. Aku rasa akan lebih baik kalau dia melihat kita sangat mendukung satu sama lain.” Kata Jonghyun

“Dan apa yang dia katakan?” Tanya Minho

“Dia bilang tidak.” kata Jonghyun

Minho hampir tertawa. Dia sudah menduga Sulli tidak akan mengikuti ujian khusus.

“Kenapa kau tertawa, dude? Apa kau tidak akan untuk mengikuti ujian khusus?” Tanya Jonghyun

Minho mengangkat bahunya. “Biarkan saja dia untuk saat ini.” Kata Minho. “Dia tidak mendapatkan perhatian khusus seperti kita. Selain itu, dia memecahkan rekorku sebelumnya, kan? Aku yakin dia ingin mendapatkan nilai yang baik… tidak, nilai yang sangat baik juga kali ini. Dan dia harus mengikuti ujian bersama dengan seluruh kelas untuk membuktikan pada mereka kalau dia benar-benar berada diperingkat teratas.”

“Kau sedikit bersikap lembut pada Sulli.” Kata Jonghyun

“Apa maksudmu? Dia itu penerima beasiswa. Dia perlu menyesuaikan diri itu sebabnya, aku tidak ingin dia terburu-buru melakukan sesuatu seperti yang kita lakukan di WWClub.” Kata Minho

“Yah… bahkan sewaktu dia belum masuk di WWClub. Kau sudah bersikap lembut padanya.” Kata Jonghyun

Minho berhenti berjalan.

“Apa maksudmu, Man?” Tanya Minho sedikit serius

“Apa kau menyukainya?” Tanya Jonghyun

Minho melihat sebuah bangku dan duduk disana.

“Sulli itu gadis yang unik. Dia sangat baik dalam melakukan apapun tanpa dia sadari. Dia punya banyak. Dia seperti sebuah batu yang kemudian berubah menjadi berlian.” Kata Minho. “Kau tahu setelah seseorang masuk ke WWClub, kita tidak boleh menyukai mereka, kan?”

“Kita seharusnya tidak bersikap lain dari seharusnya.” Kata Jonghyun. “Kita sudah membuktikannya beberapa kali.”

“Apa aku akan jatuh cinta dengan seseorang dari WWClub lagi atau tidak, tidak ada yang bisa kita lakukan selain melawannya.” Kata Minho

“Sama seperti yang kau lakukan terakhir kali?” Tanya Jonghyun

“Kalau memang diperlukan, akan aku lakukan.” Kata Minho. “Lebih baik tidak usah memikirkan hal ini lagi.”

——————

Sulli mencoba untuk fokus pada ujian. Dia tidak boleh memikirkan pertandingan sepak bola saat ini. Dia harus berpikir untuk yakin agar mendapatkan nilai yang sangat baik.

WWClub sedang menunggu pertandingan dimulai ketika Hara melihat Yonghwa berada di tim lawan.

“Ahh… jadi dia bagian dari tim mereka.” Kata Hara

“Siapa?” Tanya Jonghyun

“Orang yang selalu menantang Minho.” Kata Hara

“Orang yang merasa Minho adalah saingannya tapi Minho tidak pernah mempedulikannya.” Tanya Suzy

“Ya, itu dia, kan?” tunjuk Hara

“Ini pasti menarik. Minho masih tetap yang terbaik. Tapi permainan Yonghwa juga tidak buruk. Tanpa Minho dia bisa menjadi nomor 1.” Kata Krystal

Pertandingan dimulai tapi Minho tidak masuk dibarisan pemain.

“Apa yang pelatih pikirkan?” Tanya Suzy. “Kenapa Minho ada dibangku pemain cadangan?”

“Hmm… Aku juga tidak yakin… tapi dengan Yonghwa berada dilapangan… Aku rasa bukan rencana yang baik kalau Minho tidak turun bermain.” Kata Jonghyun

Pertandingan dimulai dan dalam beberapa menit pertandingan dimulai, Yonghwa mampu mencetak gol.

“Hmm… keadaannya tidak bagus. Semua kerja keras yang dilakukan oleh tim Minho akan sia-sia kalau mental timnya dihancurkan oleh kehadiran Yonghwa.” Kata Krystal

“Kau benar… Aku benci mengatakan ini, tapi kalau Minho tidak secepatnya turun ke lapangan, Sun Life mungkin saja kalah.” Kata Suzy

Jonghyun tidak mengerti apa yang ada dipikiran Minho. Dengan jalannya pertandingan seperti ini, Minho harus secepatnya mengambil tindakan.

“Hei, jam berapa sekarang?” Tanya Jonghyun

“Hampir jam 03:30. Kenapa?” Tanya Hara

“Aku belum melihat Sulli dimanapun” Kata Jonghyun

“Ujiannya sampai jam 4 sore. Dia bilang dia akan langsung kesini setelah dia selesai ujian. Aku harap dia masih bisa menonton pertandingan sebelum pertandingannya selesai.” Kata Krystal

“Aku akan kembali ke SunLife.” Kata Jonghyun

“Kau tidak bisa pergi, pertandingan sudah dimulai. Kita harus mendukung Minho.” Kata Hara

“Ya, tapi aku rasa Sulli bisa menonton sampai pertandingan terakhir kalau dia pergi ke sini sendiri. Aku akan pastikan kami berdua berada disini sebelum pertandingan selesai.” Kata Jonghyun

“Jonghyun benar. Kita belum lengkap sampai Sulli ada di sini. Kau boleh pergi Jonghyun.” Kata Suzy

——————-

Isi kepala Sulli seakan tumpah. Apa dia baru saja membuang semua yang ada di otaknya ke dalam kertas ujian?

Dia keluar ruangan ujian dan menjadi siswa pertama yang menyelesaikan ujian. Ini bahkan belum jam 4.00. Dia selesai sedikit lebih awal dari waktu yang sudah ditetapkan. Tidak apa-apa, dia harus pergi menonton pertandingan.

Sulli berlari menuruni tangga secepat yang dia bisa dan melihat Jonghyun didepan gedung Business menunggunya dimobil.

“Jonghyun… kenapa kau disini? Aku pikir kau berada disana.” Tanya heran Sulli

“Aku datang kesini untuk menjemputmu. Kami ingin memastikan kalau kau akan datang menonton pertandingan.” Kata Jonghyun

Sulli tidak tahu dia harus merasakan apa. Dia tidak terbiasa diperhatikan seperti ini… yah, kecuali sewaktu Heechul masih ada didekatnya. Tapi itu sudah lama sekali dan rasanya benar-benar aneh sekarang.

Sementara Jonghyun mengemudi, ia mengatakan pada Sulli apa yang terjadi dalam pertandingan yang membuat Sulli khawatir. Minho mempunyai keyakinan yang besar pada tim sepakbola-nya. Dan jadi dia rasa Minho tidak mungkin membiarkan mereka kalah. Tapi Apa yang sebenarnya Minho pikirkan?

Sulli bisa melihat banyak orang yang mengantri untuk naik bus dan kereta.

“Wow… Kau benar… Aku tidak bisa sampai kesana kalau pergi sendiri.” Kata Sulli

“Semua orang ingin menonton pertandingan ini. Pertandingan inilah yang paling sering mereka bicarakan didalam kampus.” Kata Jonghyun

“Ahhh.. begitu.” kata Sulli

“Kau tidak suka olahraga?” Tanya Jonghyun

“Umm… tidak terlalu…” kata Sulli

“Apa saja yang kau lakukan pada kegiatanmu dulu?” Tanya Jonghyun

“Aku membaca buku-buku… sangat banyak.” Kata Sulli

“Ahhh…. Kau dan Hara akan lebih cepat akrab satu sama lain.” Kata Jonghyun. “Dia juga suka membaca. Dia punya banyak buku di perpustakaan rumahnya.”

“Wow benarkah?” Tanya Sulli sedikit antusias. Sulli sangat menyukai buku. Kalau dia punya perpustakaan pribadi dirumahnya rasanya seperti disurga pasti!

“Walaupun dia kadang-kadang terjebak dalam cerita buku itu juga.” Kata Jonghyun yang membuat Sulli tertawa

“Dia unik. Dia kadang-kadang bertingkah seperti anak kecil, tapi dialah yang membuat semuanya terlihat menyenangkan.” Kata Jonghyun

“Kau benar, bagaimana kalian semua bisa bertemu?” Tanya Sulli

“Oh … Yah kami masih anak-anak waktu itu. Minho dan Krystal menjadi teman ketika mereka bertemu secara tidak sengaja disuatu tempat bermain. Mereka baru berumur tujuh tahun saat itu. Dan kemudian Hara dan aku bertemu karena orang tua kami berteman. Kemudian kami diperkenalkan ke Minho dan Krystal ketika aku masih berumur 8 tahun di sebuah pesta anak-anak. Kemudian kami selalu bertemu ditempat itu di mana Minho dan Krystal sering bermain. Kemudian setelah beberapa bulan, pendatang baru dari Amerika tinggal didekat daerah kami bermain. Itu Suzy.” Kata Jonghyun. “Ini cerita biasa tentang anak-anak kecil bertemu teman-teman.”

“Hanya karena itu kalian terlihat jauh dari biasa.” kata Sulli

Jonghyun terkekeh.

“Ya… kita tidak tahu dulu. Dulu yang kami tahu Suzy dan Krystal harus pulang lebih awal karena ada latihan. Hara pergi kesana kemari selama beberapa minggu untuk mengikuti kompetisi catur. Hal itu juga sama denganku ketika aku harus mengikuti kompetisi. Kadang-kadang kita akan melihat Minho di sebuah acara TV karena kejeniusannya. Tapi tak satu pun dari kami memikirkan betapa spesialnya kami, itu karena kami semua sedang sibuk mengerjakan sesuatu.” Kata Jongyun. “Bagaimana denganmu.. cerita sewaktu kau kecil seperti apa?

“Kebalikan dari kalian… Sewaktu kau masih kecil kau berpikir kau normal seperti yang lainnya. Tapi akhirnya kau mengetahui kalau kalian semua itu spesial. Aku… ketika aku masih kecil, semua orang memperlakukanku terlalu istimewa… sampai waktu aku masuk SMA, aku harus menerima kenyataan pahit kalau aku hanya gadis biasa.” Kata Sulli

‘Wow… itu berat.’ Pikir Jonghyun. Pasti ada sesuatu yang harus dipecahkan tentang masa lalu Sulli. Dan dia yakin WWClub akan membantunya.

“Apa itu stadionnya?” Tanya Sulli

“Yup, kita sudah sampai!” Kata Jonghyun

————–

Minho mengharapkan timnya dapat bermain lebih baik. Tapi waktu ia melihat kalau Yonghwa ada di tim lawan, dia sudah tahu semuanya tidak semudah itu. Tapi belum saatnya dia bermain. Timnya harus mencetak gol sebelum dia masuk. Itulah kesepakatan yang sudah disetujui oleh timnya.

Dari tempat duduknya, Minho bisa melihat WWClub. Meskipun dia fokus pada pertandingan, ia tahu kalau Sulli belum bersama mereka. Dia tahu kapan Jonghyun pergi. Dan ketika ia melihat Jonghyun masuk kembali diikuti oleh Sulli, dia tahu waktunya sudah tiba.

————–

“Hei, aku senang kalian berdua berhasil sampai kesini!” Kata Suzy

Banyak orang yang mulai memfoto Sulli.

“Jangan khawatir, Sulli. Kami ada disini. Kau tidak perlu merasa canggung pada mereka semua.” Kata Hara

“Bagaimana keadaan tim?” Tanya Jonghyun

“Tidak bagus. Sudah 3-0, skor SunLife 0. Dan kita hanya punya sisa beberapa menit lagi. Minho masih di kursi cadangan… tunggu… Dia berdiri!” Kata Krystal

Penonton mulai berteriak ketika mereka melihat Minho mulai melakukan pemanasan dan peregangan otot.

“Dia akan bermain.” Kata Suzy

“Kenapa baru sekarang?” Tanya Hara

Dan tiba-tiba Sun Life mencetak gol.

Jonghyun kagum. Dia sedikit berpikir kalau Minho ingin memastikan timnya mencetak gol terlebih dahulu sebelum dia masuk ke lapangan. Tapi Minho sudah melakukan pemanasan bahkan sebelum mereka mencetak gol. Apa dia sudah memprediksi mereka akan mencetak gol? Apa dia bukan hanya jenius tapi seorang peramal juga?

Hanya dalam beberapa menit, pemain sebelumnya digantikan oleh Minho.

“Sekarang, inilah pertandingan yang sebenarnya.” Kata Hara

Minho masuk dalam pertandingan dan hanya dalam beberapa detik bisa merebut bola dari Yonghwa. Hanya dalam hitungan menit, ia mencetak gol kedua untuk Sun Life.

“Dia menjadi seperti orang gila kalau sudah disana.” Kata Suzy

“Dia harus mengejar ketinggalan skornya.” Kata Jonghyun

Sulli kagum. Minho benar-benar monster sepakbola.

Kemudian satu gol lagi terjadi setelahnya sampai waktu berakhir dan skor akhirnya adalah 3-5 untuk Sun Life.

“Minho sudah bekerja keras.” Kata Hara

“Itu 10 menit terakhir tergila yang pernah aku lihat dalam pertandingan.” Kata Suzy

C’mon!” Krystal memanggil semua orang menuju kursi pemain untuk mengucapkan selamat pada Minho.

Ketika mereka sampai di sana, Suzy, Hara dan Krystal langsung memeluk Minho. Jonghyun hanya menepuk lengan Minho. Itu adalah adegan yang bagus untuk ditonton… teman-teman mendukung satu sama lain dalam pertandingan teman yang lain dan merayakan kemenangan mereka bersama-sama.

Minho melihat Sulli berdiri hanya beberapa langkah darinya dan memberi isyarat agar Sulli mendekatinya. Sulli ragu-ragu pada awalnya tapi tetap berjalan ke arah mereka. Minho langsung memegang lengan Sulli dan menariknya agar lebih dekat dengannya. Dia melingkarkan lengannya di bahu Sulli, punggung Sulli menghadap ke Minho. Dia kemudian mengusap rambut Sulli dengan sikap seperti mengacak-acak rambut Sulli..

“Kenapa kau tidak merayakannya bersama kami?” Tanya Minho

Sulli mencoba untuk memegang tangan Minho agar menjauh dari rambutnya yang sudah seperti sarang burung itu.

“Tidak. Aku juga merasa ikut senang untukmu.“ Kata Sulli

Minho kemudian membalikkan tubuh Sulli agar berhadapan dengannya. Tangannya berada di lengan Sulli.

“Baguslah kalau begitu. Aku senang kau datang.” Kata Minho sambil menepuk rambut Sulli.

Sulli melihat sekelilinya. Suzy, Krystal, Hara, dan Jonghyun tersenyum seolah-olah mengatakan kalau Minho benar.

Hara memeluk kedua Minho dan Sulli. Semua anggota juga ikut bergabung dalam group hug.

“Ahh.. mari kita buat group hug ini menjadi tradisi kita mulai sekarang.” Kata Hara

Adegan tersebut membuat orang-orang terkejut. WWClub… tidak pernah menunjukkan betapa hangatnya mereka pada orang lain… Bahkan dari dulu juga tidak pernah, mereka hanya memberikan pelukan cepat untuk mengucapkan selamat kepada satu sama lain. Hal itu membuat semua orang penasaran, bingung, dan berpikir.

To be continue…

Chapter depan akan di Protect. Jadi semangat untuk kalian yang baru membaca dan berkomen ria dari chapter pertama di SF3SI. Fighting !!!!! 😀

A Mysterious Man (Lelaki Misterius) [Part.19]

poster-a-mysterious-man

Poster by Xilvermist

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli,

Support Cast : Lee Taemin, Lee Jonghyun, Lee Jinki, Kim Kibum, Amber Liu, Park Luna, Victoria Song, Krystal Jung, Kim Jongin, Kris Wu, Kim Hee Chul, Lee Tae Sun, Lee Soo Man

Author : Dina Matahari

Genre :  Misteri, Roman

Length : Chapter

  Rating : General

Lelaki Misterius Part.19

LEE TAE MIN

Seoul City

Rumah tempat kediaman keluarga Lee Tae Sun terlihat ramai malam itu. Lelaki paruh baya itu selesai makan malam, mereka duduk berkumpul di ruangan tamu sengaja mengundang mereka untuk makan malam bersama, sehari setelah kedatangan mereka di Seoul.

Setelah Kim Jonghyun, Kim Jongin, dan Kris duduk di satu sofa sementara Onew dan Minho duduk berdampingan. Di hadapan mereka Lee Tae Sun duduk didampingi Lee Taemin.

Sebuah lukisan bunga matahari yang menjadi satu-satunya hiasan dinding, membuat Minho kembali teringat kepada Sulli. Ada rasa sakit yang menyelinap jauh ke dalam hatinya. Mengingat Sulli membuatnya teringat pada kelembutan dan kenangan manis di antara keduanya. Hanya sebuah kenangan, karena begitu menginjak Seoul ia berkeyakinan bahwa jatuh cinta kepada wanita bernama Sulli itu adalah kesalahan kedua dalam hidupnya berkaitan dengan wanita. Dua peristiwa ini membuat Minho menyimpulkan bahwa wanita sebaik apapun, akan membawanya pada kepahitan yang sama.

“ Baiklah, aku sengaja mengumpulkan kalian semua di sini. Selain untuk merayakan berkumpulnya kembali kalian… aku dan Minho, aku juga ingin berbagi cerita tentang Jinri. Kalian aku undang karena kalian tahu dari awal, dan kalian bisa memberikan kesaksian atas semua ini.”

Lee Tae Sun membuka percakapan. Perkataannya menarik perhatian Minho, karena inilah yang ditunggunya sejak lima tahun lalu.

“ Maafkan, aku harus pergi dulu… ada hal yang harus saya selesaikan.”

Tiba-tiba Lee Taemin bangkit, meminta ijin untuk meninggalkan ruangan. Ia terlihat terburu-buru.

“ Tidak ada yang meninggalkan ruangan ini, sebelumaku selesai bicara !”

Lee Tae Sun suaranya terdengar keras dan memerintah ,

” Terutama kau, Taemin. Duduklah !! Biarlah orang tua ini melepaskan beban dalam hati sebelum mati !”

Tanpa berani membantah, Taemin kembali duduk di kursinya. Wajahnya terlihat memerah, kemudian ia menunduk mungkin karena malu telah diperlakukan seperti itu di hadapan yang lain

“ Onew, Jonghyun, Kris terimakasih kalian sudah membantuku selama lima tahun ini untuk mencari Minho. Terima kasih untuk upaya kalian membantuku mencari bukti-bukti untuk membebaskannya dari jeratan hukum lima tahun lalu.”

Lee Tae Sun menghela nafas, “Kini kalian akan menjadi saksi dari pengakuanku yang telah menyimpan sebuah rahasia selama lima tahun ini. Tadinya aku berfikir akan bisa menyelesaikan semuanya sendirian, ternyata tidak. Semua berjalan begitu cepat dan tiba-tiba. Di saat aku akan menjelaskan semuanya, Minho telah pergi dan menghilang.”

Minho menatap lelaki di hadapannya yang tiba-tiba terlihat begitu tua dan menderita. Taemin yang duduk di sisinya, tiba-tiba berlutut dan memohon.

“Appa… biar aku yang menceritakan semuanya. Appa tidak tahu apa-apa dalam hal ini. Aku yang berbuat…dan aku yang harus bercerita.”

“ Tidak Taemin. Aku ikut andil dalam masalahmu dan aku yang membuat semuanya menjadi kacau.”

“ Sebenarnya ada apa ini ? Paman Lee ? Taemin ??” Minho bertanya tak sabar.

“ Minho hyung, aku minta maaf… aku minta maaf !!”


Minho menatap Taemin yang tiba-tiba berlutut di hadapannya tanpa mengerti apa yang membuatnya seperti itu.

“Aku dan Jinri…. Kami….”

Taemin tiba-tiba memeluk Minho dan menangis di bahunya.

“ Taemin dan Jinri menjalin kasih di belakangmu.” Kata Lee Tae Sun melengkapi kalimat yang tidak terselesaikan itu.


Minho serasa mendengar suara ledakkan di kepalanya. Ia shock dengan apa yang didengarnya. Perasaan itu seperti sengatan listrik yang mengaliri tubuhnya. Membuatnya lemas dan tak mampu berkata apa-apa. Telinganya dengan jelas dapat mendengar semua permohonan Taemin. Kulitnya bisa merasakan air mata Taemin yang hangat membasahi bahu kanannya. Ia bisa merasakan tangan Onew yang menepuk-nepuk punggungnya. Ia bisa mendengar dan merasakan semua yang terjadi di sekitarnya, tetapi ia tak bisa bergerak sedikitpun. Tak berkata sepatahpun. Penjelasan pamannya seperti gaung yang memenuhi pendengarannya. Berputar-putar dalam benaknya.

“ Pertama kali kau membawa Jinri ke hadapanku, aku sudah melihat kemungkinan masalah yang mungkin akan muncul di kemudian hari…karena aku tahu Jinri adalah cinta pertama Taemin. Jinri adalah mantan kekasih adikmu sendiri. Tetapi aku tidak tega melihat kebahagiaanmu waktu itu. Aku berpikir mungkin nasib memang telah mempertemukan kalian. Maka aku bungkam….aku tidak tahu semua yang kutakutkan ternyata terjadi. Dan saat kutahu, semua sudah terlalu jauh…”

“ Jinri… hamil….”

Tiba-tiba Minho berkata…  seolah pada dirinya sendiri. Ekspresi wajahnya datar, tatapannya kosong ,

” Apakah itu bayimu, Taemin ?”

“ Maafkan Hyung… aku mohon maaf !!”

Badan Minho terguncang karena tangisan Taemin yang semakin menjadi-jadi. Dua butir air mata, meluncur dari mata hampa Minho… jawaban Taemin memperjelas semuanya. Ia sekarang baru mengerti mengapa Sulli langsung pingsan saat pertama kali melihat Taemin. Mengapa Sulli mengatakan bahwa sejak awal pamannya sudah tahu masalah pengkhianatan Jinri itu. Mungkin ini pula jawabannya mengapa selama ini pamannya seolah tidak setuju dirinya akan menikahi Jinri. Karena pamannya tahu semuanya….dan hanya dirinyalah yang tidak tahu itu ?

“ Mengapa….?”

Minho bertanya dengan suara lemah…. ia ingin mempertanyakan banyak hal. Mengapa mereka menyembunyikan itu darinya ? Mengapa Taemin melakukan itu padanya ? Mengapa pamannya tidak memberitahu kenyataan itu sejak awal ? Mengapa pamannya membiarkannya mencari Jinri selepas ia dari penjara ?

Mengapa ??

Mengapa ??

Dan masih banyak mengapa yang memenuhi pikirannya, yang ia tak bisa ungkapkan satu persatu.

“ Aku Mencintai Jinri…” kata Taemin di sela-sela tangisnya.

Ia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Minho. Mata mereka saling bicara.

“ Aku sangat mencintai Jinri, hyung….” Kata Taemin

Kata-katanya membuat rahang Minho mengeras, wajahnya menggoreskan duka yang teramat dalam ,

” Tetapi aku juga mencintainya….” Suaranya terdengar serak,” Aku mencintainya dan mencarinya seperti orang gila…”

Air mata Minho mengalir tanpa bisa ditahannya,

” Kau tahu bagaimana rasanya menjadi manusia yang terbuang dan ditinggalkan ? Kau tahu bagaimana rasanya melalui setiap malammu dalam mimpi buruk ? Aku… aku merasakannya Taemin ! Dan itu berlangsung bertahun-tahun.”

“ Maafkan aku….” Jawab Taemin lirih, tanpa berani melihat wajah kakak sepupunya.

“ Kau mencintai Jinri, kan ?”

Minho tangannya terangkat dan memegang pundak Taemin,

” Sekarang katakan padaku, dimana Jinri sekarang ? Dimana bayimu, sekarang ?”

“ Jinri sudah meninggal….” Kata Taemin dengan suara gemetar, air mata kembali meleleh di pipinya.


Semua yang ada di ruangan itu terkejut, termasuk Lee Tae Sun.

Ruangan itu terasa mencengkam.

“ Jinri meninggal dalam kecelakaan pesawat lima tahun lalu. Waktu itu ia menyusulku ke Jepang, ia tak kuat mengetahui kau dipenjara sedang ia tahu kebenaran pembunuhan itu. Sepuluh menit sebelum mendarat, pesawatnya meledak di atas laut. Tak ada yang selamat dan jasadnya tak pernah ditemukan.”

Perlahan mata Minho terpejam, garis kesakitan Nampak jelas di wajahnya. Walaupun ia merasa kecewa dengan pengkhianatan tunangannya, mendengarnya meninggal dengan tragis tetap membuatnya terluka. Mendengarnya lari ke pelukan pria lain dan meninggalkannya menderita di penjara sendirian, tetap membuat hatinya sakit.

“ Kenapa kau tidak memberitahuku ?” kata Mino setengah berbisik, cengkraman tangannya di bahu Taemin mulai mengencang. “ Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, Taemin??” Minho tiba-tiba berteriak.

Ia mengguncang bahu adik sepupunya, suaranya yang serak dan meledak membuat orang-orang yang ada di ruangan itu terlonjak kaget.

“Mengapa kau membiarkan aku seperti orang bodoh yang berdiri di gereja menunggu Jinri datang ? Mengapa kau lakukan ini padaku Taemin ? Mengapa ???”

Taemin tidak menjawab, ia hanya mengucapkan maaf berulang-ulang.

“ Lalu, apa yang Jinri ketahui tentang pembunuhan itu ?? Apakah kau juga ingin melindungi pembunuhnya ? Apakah karena cintamu yang demikian besar pada Jinri kau tega menjebloskan saudaramu sendiri ke penjara ?? Huh ??”

Taemin tetap tidak menjawab, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seolah ingin menolak semua ucapan Minho.

“ Apakah karena Jinri telah membunuh Lee So Man, kau berpura-pra tidak tahu dan membiarkan aku menanggung kesalahannya itu ??”

“ Tidak !!” Akhirnya Taemin bersuara,

“ Bukan Jinri pembunuhnya ! Jinri tak akan melakukan itu ! Aku… akulah yang membunuh Lee So Man !! Aku yang membunuhnya !!!” teriak Taemin putus asa.

“ Apa ??” teriak Minho tak percaya, tangannya mendorong pundak Taemin dengan keras, sehingga tubuh dokter muda itu terhuyung ke belakang. Untunglah Onew berhasil menahannya.

“ Cukup ! Cukup !!”

Tiba-tiba Lee Tae Sun berdiri dengan wajah memerah.

“ Aku yang membunuhnya ! Aku yang telah membunuh bajingan itu !”

“Appa, jangan !!” kata Taemin sambil menghambur ke arah ayahnya.

“ Cukup Taemin. Kau sudah cukup lama melindungiku. Sekarang aku sudah tua, aku siap menghabiskan sisa umurku dalam penjara. Aku ingin terlepas dari beban dosa yang sangat menyiksaku !!’

“ Appa !!”

Lee Tae Sun kembali duduk, kakinya seakan tak bisa menopang berat tubuhnya. Semua mata di ruangan kini tertuju padanya.

“ Waktu itu, Lee So Man datang menemuiku dan mengadukan perselingkuhan Jinri dan Taemin. Aku berusaha membuatnya tenang, tetapi ia bersikeras untuk memberitahukan itu pada Minho. Ia meminta nomor kontak pribadi Minho, tetapi aku tak memberikannya. Kemudian dengan marah dia berkata akan pergi ke apartemen Minho untuk memberitahunya. Aku mencegahnya, tetapi tak bisa. Setengah jam kemudian aku mendapat telepon dari Jongin yang berpamitan untuk pergi ke Amerika. Ia juga mengatakan sedang dalam perjalanan ke rumah Minho bersama Lee So Man. Begitu mendengarnya, aku langsung pergi menyusul ke rumah Minho. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Sebelum berangkat aku megambil sebuah pisau dari meja kerja Taemin. Kupikir, kalau tidak bisa diajak bicara baik-baik, aku akan mengancam dia supaya diam.”

Lee Tae Sun memejamkan matanya dengan putus asa, wajahnya terlihat pucat dan bibirnya gemetar.

“Saat sampai di apartemen Minho, aku tak melihat Jongin…tetapi aku melihat pemandangan yang tak bisa kubiarkan. Lee So Man…Lee So Man….”

Tae Sun kembali memejamkan matanya,

” Lee So Man sedang berusaha memperkosa Jinri. Aku panik, tangan ku reflex mengeluarkan pisau tadi. Dan…. Dan… aku memotong urat lehernya dari belakang.”

Setelah berkata begitu Lee Tae Sun menutup mukanya dengan telapak tangannya. Taemin memeluknya, ia tahu ayahnya sangat terbebani dengan masalah itu.

“Tetapi kalian jangan salah paham kepada appa. Jinri langsung meneleponku dan aku datang ke apartemen. Saat tiba kulihat appa duduk lemas dan pucat, ia sangat terpukul dengan kejadian itu. Kulihat Jinri panik dengan sebuah pisau operasi di tangannya. Setelah kutenangkan, baru dia menceritakan semuanya. Perlu diketaui, akulah yang menyuruh Jinri diam dan appa diam. Aku yang mengatur strategi dan membersihkan apartemen dari semua barang bukti. Aku meyakinkan pada mereka bahwa Minho hyung akan aman karena ia tidak ada di tempat kejadian.”

“ Oh…sekarang aku baru bisa memahami semuanya.” Tiba-tiba Jonghyun berbicara,”Anda memintaku mencari bukti yang bisa membebaskan Minho. Aku mengerti mengapa anda waktu di gereja mengatakan bahwa Jinri tidak akan pernah datang, tetapi anda tak mau melukai Minho lebih dalam lagi. Itu karena anda tahu Jinri tidak ada di Seoul ?”

“Appa tidak tahu soal Jinri. Tiga hari setelah Minho hyung masuk penjara, Jinri menelepon dan ingin menyusulku ke Jepang. Waktu itu aku sedang menyelesaikan studi S2 di Jepang, dan karena aku tak mau ia mengacaukan rencanaku… aku mengijinkannya datang dan ia terbang menggunakan pesawat siang itu juga. Tetapi pesawatnya mengalami kecelakaan sesaat sebelum mendarat. Untuk bukti kebenaran ceritaku, aku menyimpan surat kabar yang memuat berita kematian itu. Kau bisa mengeceknya langsung ke sana. Di surat kabar itu ada nama-nama korban yang tertulis.”

“Aku sudah mengecek jadwal penerbangan pesawat dan daftar penumpangnya sebulan setelah dan sebelum menghilangnya Jinri. Tetapi aku tak menemukan namanya.”

“ Tentu saja, karena Jinri menggunakan nama lahirnya saat membuat paspor. Kau tak akan menemukan namanya, ia menggunakan nama Seo Yoon Ri. Itu adalah nama lahir Jinri.” Kata Taemin.

Suasana di ruangan menjadi hening. Semua terbawa oleh arus pikirannya sendiri-sendiri.

 ‘

BERSAMBUNG

Note :

Begitulah chingu, akhirnya misteri bisa terselesaikan. Siapa yang mengkhianati, siapa yang dikhianati, siapa yang membunuh telah terpecahkan. Untuk part ini cukup pendek. Dan ada part terakhir untuk mengupas tentang bagaimana kelanjutan hubungan Minho dan Sulli setelah semua masalah bisa terungkap.

Terimakasih sekali untuk komentarnya yang seru-seru 🙂

Mian kalau eonni sudah membuat kalian semua ikut berfikir seperti Minho… seperti Sulli… atau seperti Kim Jonghyun.  😀

Maaf  komentarnya tidak dibalas sauu persatu ya….. 😀

Jeongmal Gomawo…

MEDICAL of LOVE- (part 6)

kailli

-MEDICAL of LOVE-

(part 6)

Author: Chyminh

Main cast: choi sulli | choi minho

Kim jongin a.k.a choi jong in | kang ji young

Jung krystal and OC

Genre: sad, comedy, romance

PG: 15

-Summary-

Ketika aku berkata bisa… maka itu akan terjadi

Ketika aku berkata tidak akan bisa… maka itu juga akan terjadi

Pertama… untuk meraih 1 hal penting

Cukup menggunakan prinsip sederhana

Percaya, optimis, berusaha, dan berdoa

-0-

 

 

“oh my god… mengapa anda begitu ceroboh” krystal membentak sulli kesal, sebab cairan infus yang dibawanya terjatuh dan pecah di lantai. Sulli menelan ludahnya berkali-kali. Hari ini ia seperti dikembalikan kemasa lalu, masa pahit yang harus dialaminya dengan susah payah. Minho yang juga ada ditempat hanya menatap sulli acuh seolah tak mengenal, ia membantu krystal membersihkan baju yang basah akibat cairan infus tadi, peristiwa ini mengundang tohokan dalam hati sulli. sementara itu tanganya masih dicengkram erat oleh kai… ia menatap kembaranya tersebut dengan salah tingkah sekaligus takut, dalam sekejap namja bernama jongin tersebut menarik sulli menjauh dari minho dan krystal yang menatap mereka selang beberapa saat.

Sulli berjalan cepat disebelah kai sambil meringis kesakitan karena pergelangan tanganya di cengkram amat sangat kuat. Berkali-kali gadis berparas cantik itu memohon untuk dilepaskan namun sosok yang dimaksud tak perduli sama sekali. kai membawa sulli kesebuah balkon rumah sakit yang keadaanya cukup sepi.

“aaaw… lepaskan aku bodohh.. hey” sulli tetap bergerak untuk memberi perlawanan. Tetap saja tenaga kai lebih kuat. Setelah berada di tempat yang jauh dari keramaian kai menghempaskan kuat tangan sulli, dan gadis itu pun segera melihat pergelanganya yang telah membiru.

“kenapa kau kasar sekali… kau fikir tanganku ini baja” sulli menatap saudara kembarnya itu dengan kesal. Kai menarik nafas kuat dan menghembuskanya cepat. Rahangnya tampak mengeras, ia merapatkan gigi menahan gejolak emosi yang menyerangnya saat ini. menyaksikan keadaan seperti itu jantung dan tubuh sulli semakin gemetaran.

“mengapa kau ada disini??” tanya kai dengan nada penuh penekanan sembari kendalikan emosi. Sulli meneguk ludah beberapa kali sebelum akhirnya membuka suara.

“aku… a-a ah jonginie… jangaan beri tau ayah atau pun ibu aku di seoul saat ini. kumohon” sulli akhirnya menjatuhkan rasa gengsinya yang begitu ia rintis sedemikian rupa hanya dihadapan kai, ia menarik lengan kekar pria dihadapanya itu. kai semakin merapatkan rahangnya dan menghempaskan tangan sulli secara kasar…

“kau membohongi semua orang? Kau membohongi ibu? Kau membohongi ayah? KAU MEMBOHONGI MEREKA SEMUA… APA KAU MANUSIA???” kai terlihat amat sangat marah sekarang, wajahnya tampak memerah, tanganya mengepal keras dengan kedua bola mata yang menatap tajam sosok sulli. gadis itu bergidik takut dengan memicingkan mata….

“setiap hari… ayah dan ibu menanyakan kepulanganmu, dan kau selalu menolak untuk kembali karena alasan konyolmu itu. sekarang… kau berada di seoul tanpa memberi tau siapapun, apa?? Apa yang kau kerjakan selama 7 tahun?? Jika kau memang tak ingin tinggal dirumah bersama keluargamu sebaiknya kau katakan terus terang… bukan omong kosong” luap kai dengan kata-kata tajamnya, namja tampan tersebut terlihat begitu marah sampai tak menghiraukan apapun yang terjadi. Beruntung tempat itu sangat sepi, tidak ada yang mengetahui adu mulut mereka. Sulli mencoba kendalikan air matanya yang hendak membuncah saat itu juga.

“kau belum berubah …?? selain tetap hitam masih sangat kasar juga..” saut sulli cairkan suasana dengan nada bercanda. Ia benar-benar takut … karena sejak dulu, seperti apapun ia dan kai berkelahi. Sulli tak pernah melihat wajah kembaranya semarah ini. mungkin benar… apa yang dilakukanya sekarang sangat keterlaluan.

“berhentilah berkata bodoh seperti itu… kau seharusnya sadar dengan tindakanmu ini. apa yang kau lakukan selama 7 tahun tanpa kembali sekalipun. Dan setelahnya kau kembali, kau tak memberi kabar apapun pada ayah atau ibu. APA KAU MANUSIA??” bentak kai lagi.

“kau sangat ingin tau rupanya…” sulli tersenyum sinis, dan balas menatap mata tajam kai.

“berfikirlah sebagaimana manusia mestinya… kau sudah dewasa, sekarang aku tekankan sekali lagi. mengapa kau tak kembali selama 7 tahun? Dan berada dikorea tanpa sepengetahuan ayah ibu?? KAU MEMPERMAINKAN MEREKA?? KAU MENGANGGAP INI PERMAINAN YANG LUCU?? Apa yang sebenarnya ada di otak mu itu choi sulli? TIDAK KAH KAU BERFIKIR SEHAT”

“TIDAK,,,” sulli menjawab cepat ucapan kai dengan nada yang tak kalah keras. Bahunya bergerak sesuai deru nafas yang berhembus cepat. Ia menantang tatapan kai yang kali ini terdiam menunggu ucapanya.

“aku memang tidak berfikir sehat… kau tanya kenapa?? Aku tidak akan bisa menjawab KARENA OTAK KU MEMANG TIDAK SEHAT. Semua kulakukan untuk pembuktian saja… pembuktian karena aku juga ingin dilihat dunia, aku ingin menggenggam mulut-mulut yang selalu merendahkanku. Aku ingin melihat ayah dan ibu mengakui kemampuanku… agar tidak ada lagi orang yang menginjak injak harga diri manusia bodoh didunia ini” sulli menarik nafasnya kuat, dengan pandangan berkaca ia tak mengedipkan mata sama sekali. dagunya tampak bergetar… ia menelan ludahnya dengan kasar pula.

“setiap manusia punya alasan sendiri bukan?? Kau tidak akan pernah tau bagaimana rasanya menjadi manusia tertindas karena sejak dulu hidupmu penuh keagungan”

“Dunia selalu melihatmu sempurna tanpa cela… dan manusia seperti itu dalam keadaan salahpun tetap menjadi benar… sebab sejak awal kau selalu dipuja. Jika kau bertanya aku sedang melakukan permainan… anggap saja begitu. Toh dari dulu aku memang mainan kotor.. murah.. dan tidak berguna kan??”

“ Keinginanku tak banyak… aku tak pernah bermimpi untuk menjadi no 1 ataupun menerima pujaan banyak manusia… aku punya banyak alasan sendiri untuk melakukan ini”

“salah 1 nya….” sulli memberi jeda pada kalimatnya, ia menarik nafas perlahan. Dadanya yang sesak semakin terasa sulit untuk bernafas, ditatapnya lekat mata kai yang sejak tadi tak mengalihkan pandangan sama sekali.

“ agar saudara kembarku mau melirik dan mengakuiku…” benteng pertahanan sulli runtuh, sebaris cairan hangat menghiasi pipi putihnya. Seperti tamparan keras kai mendengar ucapan gadis cantik tersebut.

“kau boleh mengatakan pada ayah dan ibu tentang kepulangan rahasia ku ini… aku sudah tidak perduli lagi” sulli tersenyum pahit menatap kai yang membisu tak bersuara, mulutnya seolah terkunci rapat menerima ucapan-ucapan tegas sulli yang sepertinya sudah lama ingin ia ungkapkan. Gadis itu berlalu cepat dari hadapan kai, sulli tidak ingin terlihat cengeng dengan menangis keras seperti yang ingin dilakukanya saat ini. selepas kepergian sulli, kai berteriak kesal dengan meninju dinding yang ada didekatnya berkali-kali sampai meninggalkan memar biru, dan juga hari ini adalah kali pertama air mata kai jatuh mengalir bebas diwajah tegasnya.

###

“oppa… gadis tadi itu choi sulli bukan? Yang juga bersekolah di anyang art school angkatan kita dulu?

Kira-kira ada urusan apa dia disini” krystal memberi pertanyaan pada minho yang sejak awal peristiwa tabrakan hingga kai menarik sulli ketempat jauh masih terngiang jelas dalam benak dan fikiranya.

“aku sudah lama tak melihatnya dan sekalinya bertemu ia meninggalkan kesan buruk… dia itu murid paling tolol dulu. dan juga salah seorang fans fanantikmu… aku sangat tau itu” minho melirik krystal singkat, jujur ia tidak senang dengan kebiasaan wanita yang dekat denganya ini terlalu suka mencela orang lain dengan merasa sempurna.

“dari mana kau tau dia menyukaiku?” minho bertanya.

“ itu sangat menjijikan, choi sulli seperti seorang sasaeng. Aku pernah melihatnya keluar dari lokermu dengan membawa kertas merah jambu. Dan itu tidak hanya sekali” minho terdiam kembali, walaupun raganya bersama krystal, fikiran dan hatinya berada ditempat lain.

“tapi… yang membuatku penasaran… mengapa kai oppa menariknya tadi, kemudian membawanya jauh dari kita. Setauku kai oppa tak pernah mengenal sulli” tukas krystal lagi

“oppa… apa kau tau sesuatu??” lanjutnya, minho menggeleng kecil kemudian berlalu begitu saja. hari ini moodnya turun drastis, perasaan minho berkata lain. ia membayangkan gadis bernama sulli tadi dalam keadaan tidak baik sekarang.

###

Malam ini kai enggan pulang. ia ingin menjenguk jiyoung kembali… bagaimanapun gadis malang tersebut terluka karena ingin menyelamatkanya. Rasanya tidak manusia jika kai lepas tangan begitu saja. kai berjalan teratur menuju lantai 6 , disebuah ruang VIP tempat jiyoung menginap sekarang. namja tampan yang berprofesi sebagai dokter itu membuka knop pintu kamar dengan sangat hati-hati, lagipula jiyoung adalah pasien yang berada dalam penangananya.

Sesampainya didalam kai melihat jiyoung yang tertidur pulas dalam mimpi, ia berjalan mendekati gadis manis tersebut. sesaat kai memeriksa cairan infus yang masih terisi penuh, kemudian menatap keadaan jiyoung yang tengah memejamkan mata.

“seperti familiar…” gumam kai dalam hati, ia mengambil kursi untuk duduk disebelah ranjang jiyoung. Suatu tindakan yang tak pernah ia lakukan kepada pasien tetapnya. Namja tampan tersebut juga membetuli posisi selimut jiyoung, ia sangat berhati-hati agar tak meninggalkan suara yang mengganggu ketenangan gadis bermarga kang tersebut.

“ternyata… kau desainer keras kepala itu” gumamnya dalam hati.

“mengapa wanita selalu sulit untuk dipahami… apa karena lelaki terlalu bodoh memahaminya??” kai menghela nafas panjang sambil berdecak lelah.

“kai-shi,,,,” sebuah suara menyadarkan lamunan kai, ia segera membenarkan posisi duduknya dan menatap jiyoung serius.

“k-kau sudah sadar??” ucap namja tampan tadi, jiyoung mengangguk bingung.

“mengapa kai-shi ada disini??” ucapnya. Kai terlihat salah tingkah ia menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal.

“ahh.. aku hanya … itu…mmm… melihat keadaanmu saja, karena seharusnya yang mengalami luka tusuk itu adalah aku” jiyoung tersenyum manis mendengar penjelasan lelaki yang masih menjadi idolanya sampai detik ini.

“gwenchona… lagipula jika kai-shi tidak ada disana… mungkin sekarang yang sampai ketelinga keluargaku adalah kematianku” namja tampan bernama kai tadi tertawa renyah.

“bagaimana keadaanmu…?” jiyoung bersorak dalam hati, jujur saja hatinya gembira mendapat perhatian-perhatian kecil dari sang pujaan, meskipun maksud dari perhatian itu tidak sesuai dengan apa yang jiyoung harapkan.

“sudah mulai membaik… semua berkat pertolongan dokter kai-shi….” tawanya sambil memamerkan gigi kelinci yang begitu manis… darah kai sedikit berdesir dibuatnya.

“emmm… mengapa dokter kai-shi belum pulang??”

“aku tugas malam ini… dan kebetulan ini jam memeriksamu” dusta namja tampan tersebut, sebenarnya ia sudah boleh pulang sejak sore tadi, kendati jiyoung kembali mengangguk.

“dokter pasti sangat lelah bekerja sampai malam… kau juga harus memikirkan kesehatanmu” guman jiyoung serius.

“tentu saja… aku pasti memperhatikan kesehatanku”

“tidak sepenuhnya” potong jiyoung lagi…

“aku sangat tau bagaimana kehidupan seorang dokter itu… mereka lebih memprioritaskan keselamatan orang lain dari dirinya sendiri“ lanjut jiyoung

“sepertinya kau sangat tau…” ucap kai penasaran

“tentu saja… ibuku juga seorang dokter” jiyoung berterus terang, kai membentuk mulutnya seperti huruf ‘O’ sambil mengangguk kecil.

“emm… apa kai-shi sama sekali tidak mengenalku??” kai mulai berfikir sambil mengerenyitkan dahinya, setelah itu ia menggeleng pelan.

“seperti familiar… tapi maaf aku tidak ingat” ucap nya yang membuat jiyoung menghela nafas kecewa.

“aku teman 1 alumnimu dulu… sewaktu masih SMA” kai membuka mulutnya tak percaya, otaknya kembali memflashback apa saja yang mungkin bisa membuatnya ingat walau hanya sedikit.

“apa kau kenal choi sulli??” ucap jiyoung lagi, namja tampan tersebut segera menatap jiyoung serius.

“kau kenal choi sulli juga??” tanya kai tak percaya. Jiyoung mengangguk cepat

“tentu saja… dia sahabatku.. kami selalu bersama setiap saat, jika kau mengenal choi sulli seharusnya juga mengenalku. Aku kang jiyoung… yang selalu bersama sulli kemanapun sewaktu sekolah menengah atas dulu” BINGO… kai mulai mengingat gadis di hadapanya ini.

“ahhhh… ya ya,,, aku ingat, gadis yang pernah terlempar bola basket sampai pingsan” tebak kai tepat, jiyoung mengangguk senang akhirnya kai mulai mengingatnya. Keduanya tampak salah tingkah mengingat kejadian memalukan 7 tahun silam tersebut.

“aku benar-benar tidak menyangka kita pernah bertemu sebelumnya” ucap kai lagi. hati jiyoung berdebar hebat, ini kali pertama ia melakukan percakapan panjang bersama kai. Sejak dulu, jiyoung hanya bisa memandang dan mengagumi kai dari jarak jauh dan dalam mimpi saja.

“jadi… apakah sulli menjenguk mu tadi??” mendengar pertanyaan itu, nafas jiyoung seakan berhenti.

“m-mwo??ah tidak,,, dia tidak menjenguku, dia tidak dikorea… ya, emm dia dia di-dia di amerika” jiyoung melafazkan kata dengan susah payah, sambil menelan ludah jiyoung berusaha berekspresi santai agar tak dicurigai, dan sepertinya kai percaya atau tepatnya pura-pura percaya.

###

Dari lantai 8 tampak seorang wanita tengah berdiri didepan jendela kaca besar pada apartemenya. Tatapan kosong penuh beban seolah memberi isarat ia dalam keadaan tak baik. panca penglihatan indah dengan baris bulu mata cantik, tampak menahan cairan yang hendak jatuh dalam 1 kedip saja. sulli menggigit bibirnya dengan dagu bergetar.

“apa aku harus benar-benar hilang??” desisnya pelan, ia mengingat jelas peristiwa siang tadi. tidak hanya dengan kata-kata kai, tapi juga cara minho berdampingan bersama krystal selayaknya pasangan saling mencintai. Sulli seakan mendapat 2 kesan menyedihkan hari ini. ia melangkah malas menuju dapur, dibukanya pintu kulkas dan mengeluarkan beberapa botol soju beserta bir setelah itu menuju meja tengah untuk duduk menghilangkan beban dalam otaknya, gadis itu juga menelan beberapa pil yang selalu ia simpan setiap saat, pil itu seperti obat penenang.

“sihitam itu bahkan tidak merindukanku sama sekali” ucapnya sambil meneguk 1 kaleng soju dengan cepat, sulli mengelap kasar mulutnya yang basah akibat minum tak hati hati.

“mengapa dia marah-marah?? Dia bahkan tidak tau siapa aku ini” lanjutnya lagi, dengan menuangkan bir hitam ke gelas kecil dihadapanya dan juga hanya sekali teguk, sulli menuangkan lagi.

“dan minho… mengapa sejak dulu seleranya tetap krystal…?? memangnya aku kurang sexy??” sulli berdiri sambil melihat seluruh tubuhnya yang berbalut hot pants dengan blus panjang besar. Ia kembali duduk dan meneguk sekaleng soju kembali..

“walaupun dadaku datar kurasa aku cukup sexy…” gumamnya mulai ngelantur. Ia terdiam sejenak dengan keadaan frustasi, mata cekung menerawang lurus kedepan,,, bahkan dagunya kini bergetar di susul air mata yang mengalir bebas diwajah mulusnya. Sulli meneguk kembali 1 gelas bir yang telah ia tuang…

“apa akhir hidupku benar-benar menyedihkan?? Memangnya tidak ada 1 tiket untuk bahagia dihidup ku ini?” gadis itu mulai berbicara tak jelas sekarang. dan ini adalah kaleng soju kelima dan botol bir hitam ke 2 yang ia teguk habis tanpa sisa. Sulli benar-benar terlihat mengkhawatirkan sekarang… TING TONG… suara bel dari pintu apartemen sulli, gadis itu bahkan tak bisa lagi mengangkat wajahnya.

“penggangu… AKU TIDAK MEMESAN PIZZA” teriaknya malas dengan posisi menyender di meja. TING.. TONG… bel tersebut kembali berbunyi. Akhirnya dengan susah payah sulli melangkah menuju pintu, jalan yang sudah tak seimbang sesekali membuat sulli menghantam pelan barang-barang sekitarnya.

“nuguya… aku tidak memesan pizza” sulli membuka pintu dan menatap seorang pria dengan postur sempurna dihadapanya saat ini.

“aku tidak memesan pizza… ah mengapa kau mirip choi minhho” sulli memicingkan mata karena tak bisa melihat dengan jelas, sesekali gadis tersebut tertawa kuat dengan kondisi tak normal. Sementara namja bernama minho tadi menatap sulli cemas, gadis ini sangat suka minum alkohol degan dosis berlebih, dengan cepat ia membawa sulli masuk kedalam.

“hey.. kau benar-benar minho rupanya” sulli menepuk pelan pipi pria bermarga choi tersebut dengan tawa lebar yang mengekspos gigi cantiknya.

“mengapa kau datang kemari eoh… kau ingin melihatku ya” tawa sulli kembali terdengar, minho membopong sulli untuk tidur di ranjangnya. Sesaat mata minho menangkap banyak kaleng soju di meja makan sulli.

“kau tidak boleh mengkonsumsi minuman seperti ini, alkohol yang berlebih tidak baik untuk kesehatan” minho membuka suara dengan tatapan prihatin, sulli benar-benar terlihat bermasalah

“sehat atau tidak… tetap sama, aku hanya choi sulli yang tolol” sulli tersenyum sinis kearah minho. namja itu menatap sendu wajah sulli yang semakin kurus.

“aku akan membuatkanmu susu. Agar alkohol mu bisa netral kembali” minho segera bangkit dari posisinya untuk melangkah kedapur, namun terhalang oleh cengkraman kuat sulli.

“biar saja seperti ini… apa kau mencoba untuk memberiku harapan palsu.. ah jinjah, semua pria tak ada bedanya…. kau pikir kau tampan hah??” sulli mengadahkan kepalanya menantang minho.

“tapi kau memang tampan …” sulli kembali menunduk lesu. Minho masih tak bersuara menatap kondisi gadis dihadapanya ini.

“dan kalau tampan… apa kau harus cari yang sempurna juga,,, ck, bahkan kau sangat mengidolakan wanita judes itu. hey tolong katakan pada kekasihmu itu jangan membuatku cemburu terus menerus… ini sudah hampir memasuki tahun ke 7… dia selalu membuat perasaanku hancur” gumam gadis berkulit putih susu tadi dengan mata terpejam .

“istirahatlah…. kau dalam keadaan mabuk” minho membantu sulli merebahkan tubuhnya, namun sulli menolak dengan melepas tangan minho dari bahu kecilnya.

“sudah kubilang jangan beri aku harapan palsu…”

“harapan palsu apa katamu” tanya minho kesal, sulli tertawa keras dibuatnya

“aku tidak akan mengatakanya, jika aku mengatakan aku menyukaimu nanti kau tau. jadi aku tidak akan mengatakan bahwa aku menyukaimu sejak lama” sulli kembali bergumam tak jelas ia menatap malas wajah tampan minho.

“kau sudah mengatakanya” ucap minho pelan dan berusaha tenang

“ck… ini hanya dalam mimpi jadi tidak masalah” sulli kembali memasang ekspresi aneh.

“mengapa manusia menuntut kesempurnaan dan selalu ingin menjadi no 1…? terutama orang-orang terpandang dan terpuja seperti kau dan si hitam itu… apa kalian fikir kalian hebat hingga yang tidak pintar perlu dikasihani. Kau punya mata…. aku juga punya mata…. kau punya telinga, hidung, rambut, 2 tangan, 2 kaki, aku juga memilikinya… kau diciptakan sebagai manusia, aku juga diciptakan sebagai manusia. Lalu…. apa yang membuat kita berbeda???” sulli melontar lepas semua rasa sedihnya dalam keadaan tak sadar, mendengar itu minho hanya terdiam…

“aku tidak pernah merasa sempurna” jawab minho seadanya

“haha… tapi terlihat seperti itu… kalian hanya menciptakan kalangan berteman dari orang-orang cerdas saja” tukas sulli lagi, ia menatap lekat mata minho dengan kondisi mata setengah terpejam. Pengaruh alkohol membuat tubuh sulli tak terkendali sama sekali.

“ dan untuk cinta…. apa gadis sepertiku ini tidak boleh mencintai?? Hanya sekedar cinta saja…. aku tidak menuntut balasan, karena aku sadar kekurangan menghalangiku untuk berani maju menghadapmu”

“sulli-ah” ucap minho lembut, sulli memerengkan kepalanya menatap minho dengan lekat

“mwo??? sulli-ah?? Kau memanggilku sulli-ah?? Kau sedang ingin membuatku bahagia ya” sulli meraba wajah tampan minho dan menamparnya pelan.

“aku tidak tau sebearapa besar masalahmu, tapi Kau berbeda dari yang ada… kau memiliki apa yang tidak kami punya, kau menikmati hidupmu dengan penuh rasa syukur, tetaplah menjadi sulli yang seperti itu. jangan berubah karena terpaksa… jangan berambisi karena dendam. Semua harus berasal dari dasar hatimu…” sulli terdiam mendengar kata-kata minho, walau ia dalam kondisi mabuk telinganya masih mampu mendengar dengan baik. meski hati dan fikiranya tak lagi terkontrol untuk mengungkapkan secara lepas. Gadis bermarga choi tersebut pun menjatuhkan airmatanya… ia menatap wajah minho yang terlihat tenang . Wajah malaikat dalam surga sulli yang senantiasa menghantui hati dan fikiranya, wajah yang sekaligus ia benci karena terlalu memikat hati seorang wanita. Sesaat setelah itu minho membaringkan sulli dengan hati hati. Gadis bermarga choi tersebut tak lagi beri perlawanan, namun ia tetap bergumam tak jelas…

“aku tau kau dalam keadaan tak baik, itu yang membawaku datang kemari” ucap minho dalam hati. ia membetuli posisi selimut sulli agar gadis cantik tersebut bisa mendapat kenyamanan dalam tidur malamnya. Kemudian Minho bangkit untuk memberesi meja makan yang penuh sampah minuman alkohol.

“minho-ya,,, ” gumam sulli tak jelas sambil menggenggam tangan lelaki tampan tadi.

“jangan pergi dari mimpiku ….” lanjut nya semakin samar, lama-kelamaan cengkraman sulli semakin longgar dan lepas begitu saja. minho duduk kembali dipinggir tempat tidur sulli sembari menepuk-nepuk halus tangan kecilnya

….

Hingga pagi menjelang, sulli mendapati dirinya berada diatas ranjang dengan posisi nyaman. Kepalanya sangat pusing, tapi ia bisa mengingat jelas apa yang terjadi semalam, tapi ia tak ingat bahwa minho benar-benar datang.

“mimpi yang indah…” ucapnya tersenyum malu. Tak lama setelah itu sulli bangkit dari tempat tidur dengan susah payah, pengaruh alkohol masih membekas di kepalanya. Gadis tersebut hendak meneguk segelas air putih dengan menuju kedapur. Tapi sesuatu membuatnya bingung dengan keadaan meja makan yang telah terisi segelas susu panas, bersamaan 1 mangkuk sup yang masih mengeluarkan asap tipis.

“mwo e??” tanya sulli bingung sambil melangkah menuju meja makan itu

“siapa yang memasaknya” lanjutnya lagi. ini benar-benar membingungkan, gadis lucu itu tampak berfikir keras namun tak menemukan jawaban apapaun

“ah mungkin dewa mengirimkanya untuku…” sulli tak mau ambil pusing dan langsung mengambil posisi paling nyaman di kursi makanya.

###

“tekanan darahnya 90/60, denyut nadi 110… dia jatuh dari besi putar taman bermain” ucap sejumlah perawat dan petugas rumah sakit saat membawa anak berusia 8 tahun masuk ke unit gawat darurat dengan keadaan penuh darah. Seluruh tim dokter berlari menghampiri ambulan yang baru tiba itu. Mereka bergerak cekatan… krystal segera memasang infus dilengan kiri anak kecil tadi, sementara para perawat mempersiapkan alat-alat yang akan dibutuhkan untuk menanganinya.

“bertahan lah … kami akan membuat mu lebih baik” ucap kai menenangkan

“kita harus memberinya pereda nyeri dulu, tolong 10 gram demerol” perintah minho cekatan yang langsung dipatuhi. Krystal membersihkan darah pada luka bagian pinggang anak kecil tersebut dengan hati-hati.

“tampaknya lenganya patah, tidak hanya pinggulnya yang terluka” kai menggenggam siku anak kecil tersebut yang langsung disambut teriakan keras.

“patah??” ucap krystal

“sepertinya ada memar disebelah kanan tulang bahu dan sikunya tertarik” ucap minho melihat lengan yang dimaksud kai tadi. ia memeriksa teliti apa sebenarnya yang terjadi

“tidak ada kerusakan pada vertebra atau vertebra cervicalis, tapi tampaknya dia mengalami keretakan pergelangan tangan dan keretakan kaki juga” lanjut lelaki yang telah menyandang gelar spesialis bedah saraf tersebut.

“jika tulang sendinya bergeser kita harus membenarkanya sesegera mungkin, lalu periksa dengan sinar X” tukas kai kembali, minho mengangguk setuju.

“periksa jaringan lunaknya kita perlu sinar X untuk kedua sisinya juga kan” tanya krystal serius

“benar… ambil gambar pada bagian pinggulnya juga, periksa apakah ada kerusakan syaraf pada pembuluh darah. Jika darah menembus kedalam, itu bisa menyebabkan penyakit otot. pasang defriblator untuk mengetahui denyut jantungnya” intruksi minho cepat. Mereka pun segera mengambil tugas masing-masing dengan sigap dan cekatan. Sangat terlihat bagaimana mereka menyusun tim profesional untuk memberikan yang terbaik terhadap pasien.

###

Sulli tengah menikmati secangkir coklat panas bersama jiyoung di sebuah kafe terdekat dari jiynginie fashion, mereka tampak menikmati setiap alunan musik santai yang menjadi pengiring di kafe minimalis tersebut.

“akhir-akhir ini kau lebih sering termenung. Apakah ada masalah??” tanya jiyoung pada sahabat dekatnya itu, sulli menghela nafas panjang.

“ani… aku hanya kelelahan saja” jiyoung menatap sulli curiga

“kau pikir aku bodoh… aku sudah lama mengenalmu” sautnya kesal

“youngie-ah… apa yang kulakukan sekarang ini salah??” sulli bertanya.

“maksudmu…??” gadis bermarga kang itu tak mengerti… sulli menghirup oksigen dalam-dalam dan menghembuskanya perlahan.

“salah jika aku tidak pulang kerumah walau sementara waktu…” sekarang terlihat jiyoung meneguk secangkir coklat panasnya dengan hati-hati. Kemudian ia menatap lekat bola mata sulli.

“kau ingin jawaban jujur atau bohong” tanya nya yang membuat sulli berdecak kesal.

“tentu saja yang jujur… dasar pabo” jiyoung tertawa mengejek dan semakin membuat sulli jengkel.

“menurutku itu salah… karena pada faktanya kau sudah 7 tahun tidak kembali. Ah aku tak tau mesti memujimu karena bisa mandiri, atau mencela mu karena durhaka. Apa yang kau cari di amerika… apakah ada seseorang yang kau sukai disana” tanya jiyoung dengan nada berbisik, sulli melemparkan tatapan tajam. Namun ia kembali terdiam tanpa komentar, fikiranya mulai bekerja cepat mengatasi jera dan bimbang yang melekat jelas dalam hatinya.

“oh ya… kau tidak bertemu kai tempo lalu kan??” lanjut jiyoung lagi, sulli mendelik sekilas.

“aku bertemu denganya… dan dia sangat marah padaku”

“MWO???? yaaa kau serius… jinja” sulli mengangguk malas.

“sejak kapan aku berbohong…. hhh kurasa aku memang harus pulang kerumah” hela sulli lagi.

“bagaimana mungkin kau bertemu kai… dan mengapa kau baru memberi tauku??” serang wanita berlesum pipi itu.

“untuk apa… memikirkanya saja otaku seperti akan pecah,,, sebentar lagi akan tercatat pada stasiun televisi seorang gadis muda mati sia-sia karena depresi” jiyoung tertawa keras mendengar ucapan sulli yang lebih terkesan drama queen tersebut.

“berhentilah mengeluh… bukankah pasangan telur tak mengenal kata jera dalam hidupnya. Bayangkan saja sampai detik ini cinta kita tetap pada orang yang sama. aku tau kau masih mencintai minho… hanya saja kau malu mengakui itu… percayakan pada waktu dan usaha. Semua akan berakhir indah pada waktunya… dengan proses yang panjang untuk kebahagian jangka panjang juga. Bukankah hidup memang tidak mudah” ucap jiyoung memberi arahan kepada sulli, ia terlihat sangat dewasa berbicara seperti itu. sementara lawan bicara malah menatapnya takjub…

“kalau tak salah yang tertusuk pisau itu perutmu,… bukan kepala mu. bagaimana mungkin kau bisa bijak seperti tadi” jiyoung segera mengerucutkan bibir kesal yang mengundang sorak menang riuh dari sulli. tapi itu tak lama, setelah kejadian yang cukup tegang sekarang keduanya tampak tertawa keras dengan cerita konyol dan khayalan maut yang amat sangat luar biasa. Tak memperdulikan lirikan aneh para pengunjung lain yang merasa terganggu karena kehebohan mereka…

……

Minho berjalan ragu di apartemenya, ah bukan. Saat ini dia berada di depan apartemen lain yang bukan miliknya, tapi milik sulli. namja tampan tersebut tampak kikuk dan merasa aneh dengan tindakan konyolnya saat ini, tapi nalurinya memaksa ia untuk melakukan itu.

Setelah berada tepat di depan pintu apartemen sulli, minho menempelkan sebuah kertas kecil berukuran panjang dengan magnet berwarna putih, yang diatasnya terdapat notes kecil bertulis pesan singkat “datanglah ke taman apartement besok pukul 09:00 a.m” setelah itu minho bergegas cepat menuju lift dengan kondisi hati tak karuan. Ia malu pada dirinya sendiri yang tak berani berbicara langsung pada orang yang dimaksud. Minho segera masuk ke kamarnya sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskanya perlahan.

“apa aku konyol…??” tanyanya pada diri sendiri kemudian menggeleng cepat. Minho tampak berfikir beberapa saat sebelum akhirnya berlari kembali lagi kelantai 8 untuk melepas kertas yang ditempelnya tadi. ia berfikir imejnya akan hancur melakukan tindakan memalukan seperti itu. setelah keluar dari lift namja bermarga choi tersebut segera menuju kamar sulli. namun langkahnya terhenti dengan irama jantung yang berdebar hebat. Sulli sedang membaca notes kecil itu sambil mengerenyit bingung dan menoleh kekanan kiri… karena terlanjur… minhopun kembali turun kelantai sebelumnya dengan hati ragu.

###

Pagi ini cuaca sangat bersahabat, awan tampak menari seperti tirai kapas putih yang memperlihatkan warna biru terang di atas sana. Seoul berjalan seperti biasa, penuh dengan orang yang sibuk beraktivitas setiap harinya. Begitupun lalu lintas yang selalu penuh kendaraan 24 jam. Kendati udara di kota besar ini masih terjamin kebersihanya. Di sebuah taman halaman apartement wilayah pusat kota, tampak seorang gadis dengan pakaian santai namun tetap formal tengah menunggu seseorang. Tangan kanan nya memegang sebuah dompet dan i-phone. ia menggunakan kemeja polkadot hitam putih besar yang tak sepenuhnya terkancing, sebab dilapisi tanktop bewarna putih, diselingi rok hitam panjang berbahan jatuh dengan sepatu pancus tanpa tumit bewarna hitam pula. Rambutnya digerai biasa, dengan sebuah jepit berbetuk pita kecil menambah manis penampilanya… gadis itu adalah sulli, ia menoleh kekanan dan kiri sambil melihat kertas tiket taman bermain yang semalam didapati pada pintu apartementya.

“apa yang kau lakukan disini???” sebuah suara berat mengejutkan sulli, ia segera menoleh kesumber suara dan setelahnya tersenyum penuh keramahan.

“oh… minho-shi …. hai apa yang kau lakukan disini !!!” tanya sulli lagi. minho berdecak kecil. Namja tampan itu juga tak terlihat berpakaian resmi, ia hanya menggunakan celana denim dengan kaos hitam pas badan dan sepatu putih.

“pertanyaan itu yang seharusnya kau jawab” ucapnya berusaha tenang dan tetap cool. Sulli menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“oh… mmm ini, seseorang mengajaku bertemu. Dia menempelkan tiket lotte world di pintu apartement ku dengan pesan singkat agar aku menunggu disini. Tapi orang itu tidak datang-datang” sulli mengerucutkan bibir, minho menelan ludah sejenak. Dalam hati ia bersyukur tak dicurigai.

“kau tau siapa pengirimnya??” minho bertanya. Dengan cepat sulli menggeleng.

“ck…. mungkin dia tidak akan datang, atau sedang mengerjaimu” lanjut minho lagi.

“apa begitu??” ungkap sulli polos, minho mengangguk yakin dengan wajah serius. Sulli mendesah kesal.

“aku fikir dia orang baru yang ingin diajak berteman… jadi aku menurutinya. Karena seseorang yang

suka mengabaikan pesan singkat dari orang lain itu sangat tidak sopan, dalam kata lain sombong” minho mendelik kesal menatap sulli.

“kau menyindirku???” tanya minho sakratis. Sulli mengerenyit bingung

“mwo???” minho menjadi salah tingkah dibuatnya, ia segera mengalihkan perhatian dengan berpura melihat jam.

“ah… sudah waktunya aku pergi”

“kau akan pergi kemana” sulli terlihat sungguh ingin tau.

“lotte world” jawab minho singkat, gadis berparas cantik itu membulatkan mata sempurna. namun seketika ia mendesah pelan dengan wajah lesu.

“ah ara… kau pasti ingin berkencan dengan krystal hari ini… baiklah selamat bersenang-senang. Aku juga akan pergi belanja ke dapartement store terdekat, sepertinya pemilik tiket ini benar-benar tak datang…” sulli tersenyum simpul. setelah itu membalikan badan dengan wajah cemburu.

“aku pergi sendiri” minho berkata sedikit keras, dan hal itu sukses memberhentikan langkah sulli. ia membalikan badan.

“sendiri???” tanya nya tak percaya. Minho mengangguk pasti

“jika kau mau… ayo pergi bersama. Itu juga jika kau mau” minho masih saja mempertahankan rasa gengsinya yang begitu besar dihadapan sulli. gadis bermarga choi tersebut bersorak dalam hati.

“jinjah???” tanya nya masih tak percaya, minho menganggukan kepala singkat.

“tapi aku…” belum selesai sulli berbicara minho segera memotong “baiklah jika kau tak mau aku tidak,,,,”

“AKU MAU” sulli berlari menghampiri minho dengan senyum mengembang sempurna hingga melipat matanya seperti senyum bulan sabit….

“kajjah…” sulli menggenggam tangan besar minho dengan pedenya. Namja tampan tersebut tentu saja terkejut, dan sadar akan tindakan yang begitu berani sulli segera melepas tautan itu dengan senyum malu. Mereka melangkah menuju mobil minho yang terparkir tak jauh. Dalam perjalanan pria bernama minho tadi menghela nafas lega karena bisa membuat sulli tak mencurigainya.

“mengapa kau ingin kelotte world” tanya sulli ketika mereka berada dalam perjalanan

“hanya ingin saja” jawab minho singkat. Tentu saja jawaban tersebut tak membuat sulli puas. Karena takut salah tingkah akibat terlalu grogi, sulli memilih diam dengan menatap lurus kejalan. Begitu pula minho, sejak mengendarai ia tak mengeluarkan sepatah kata sekalipun untuk memulai pembicaraan.

###

“kai oppa… mengapa minho oppa belum datang” krystal melirik jam tanganya dengan wajah kesal.

“tadi dia menghubungiku… hari ini ia ada keperluan mendadak. Katanya nomormu tak aktif” krystal menepuk kepalanya pelan. Ia baru sadar handphonenya belum diaktifakan sejak tadi malam karena kehabisan batrai.

“permisi dr.choi… ada seseorang yang ingin menemui anda” ujar salah 1 perawat dirumah sakit tersebut.

“nugu??? ”

“pasien yang menginap di vip minggu lalu” kai segera bergerak cepat. Ia melangkah keluar dengan langkah bijaksana. Melihat keadaan itu krystal mengerenyit bingung.

“anyeong haseyo….” jiyoung membungkukan badan 90 derajat dan kai membalasnya.

“anyeong… kenapa?? Apakah ada masalah pada luka mu??” kai bertanya cepat, dengan segera jiyoung menggeleng.

“ah … b-bukan. Aku hanya ingin mengantar ini…” jiyoung menyerahkan sebuah tas kotak berwarna merah.

“makan siang… sebagai ucapan terimakasih” lanjut wanita bermarga kang itu dengan malu-malu. Kai menerimanya canggung

“dan ini… aku sengaja membuatnya untuk kai-shi” jiyoung menyerahkan 1 buah tas kotak berwarna hitam yang terdapat tulisan merek tokonya.

“semoga kai-shi suka… dan mau menggunakanya saat hadir pada pesta ulang tahun toko ku di lotte hotel. Undanganya ada didalam tas itu” ucap jiyoung lagi. kai menelan ludah beberapa kali. Ia masih ingat kejadian jas dokter yang membuatnya harus mengalami pengobatan selama 1 minggu akibat alergi, dan jas itu berasal dari toko jiyoung.

“kau sangat berlebihan… sebenarnya aku tulus membantu. Dan yang seharusnya mengucapkan terimakasih adalah aku” ungkap kai, jiyoung tertawa kecil.

“tidak,,, !!! aku yang seharusnya berterima kasih… aku harap kai-shi mau menerimanya” karena merasa tak enak hati kai menerima 2 tas itu dengan ragu, ia tersenyum simpul kearah jiyoung sontak saja hal itu nyaris membuat wanita dihadapanya roboh terkesima…

“hanya itu saja… emmm selamat makan siang kai-shi. Aku akan pergi… karena masih ada urusan yang harus diselesaikan” ucap jiyoung lagi, kai mengangguk pasti. Tak lama sesudahnya jiyoung membalikan badan menuju pintu keluar. Ia menghela nafas panjang, lega rasanya bisa bernafas normal kembali.

“tunggu…” cegah kai yang membuat langkah jiyoung terhenti.

“mulai sekarang jangan bersikap terlalu formal padaku. Panggil aku kai, tanpa penamabahan shi. Arachi??” ucap namja tampan tersebut dengan senyum dinginya. Seketika jiyoung menelan ludah gugup, ia ingin sekali teriak sekuat kuatnya hari itu.

“ara… aku pergi” lanjut jiyoung lagi dan segera berbalik menyusun langkah cepat. Dalam hati ia berfikir jika lama-lama ditempat itu, roh nya akan benar-benar hilang.

###

“uwahhhhh…. jinjahhh daebakida….” sulli berlari mendahului minho saat mereka memasuki taman bermain yang sangat terkenal dikorea selatan itu. banyak sekali terdapat permainan-permainan yang menguji adrenalin manusia.

“minho-ya … aku menantangmu untuk naik rooler coaster itu” minho mendelik menatap sulli. gadis itu tidak lagi memanggilnya dengan bahasa formal, ada sedikit perasaan senang dalam hatinya.

“denganmu…” tukas minho mantap, sulli menelan ludah gugup. Ia terlihat salah tingkah sekarang

“wae?? kau takut??” tanya namja bermarga choi itu lagi. dengan cepat sulli menggeleng

“aniya… siapa takut. Kajjah…” ia menarik kuat tangan minho, sulli tidak tau pria yang ditariknya itu tengah tersenyum manis dengan pandangan mengejek.

“kuharap kau tak pingsan…” kata minho setelah mereka siap meluncur dan telah mendapat pengamanan dari sabuk pelindung. Setelah rooler coaster itu penuh, rodanya segera bergerak perlahan. Dalam awal permainan saja sulli telah menahan nafas, ia memicingkan mata tak berani menatap kedepan. Sadar akan hal yang terjadi disebelahnya minho menahan tawa lucu, ia menggenggam jemari sulli yang telah memutih karena pucat.

“ini hanya permainan” ucap minho singkat, dengan nada berat dan sangat terkesan pria tampan yang memiliki daya tarik tinggi. Bukanya tenang, aliran darah pada tubuh sulli semakin mengalir cepat. Bagaimana tidak, tanganya tengah digenggam erat oleh sang pujaan hati. Dalam sekejap rooler coaster itu meluncur cepat… dan teriakan sulli lah yang paling keras terdengar, hingga membuat telinga minho tuli beberapa saat.

“aku bersumpah tidak akan menaiki nya lagi” sulli menarik nafas kuat dengan perasaan yang masih berdebar hebat akibat putaran maut tadi. minho memberinya 1 botol air mineral.

“minumlah dulu…” sulli menatap botol mineral itu, kemudian melihat sang empunya dengan pipi merona. Yang ditatap tengah melihat ke arah lain, ya tuhan aku semakin jatuh cinta saja, begitulah kira-kira isi hati sulli.

“mmmhhh minho ya… jika naik magicland itu aku tidak takut”

“itu wahana untuk anak-anak” minho berterus terang.

“aku juga ingin wahan dewasa, tapi apa???” sulli pura-pura berfikir. Ia tidak ingin terlihat bodoh didepan minho.

“rumah hantu”

“MWOOO????….” sulli membuka mulutnya tak percaya. Minho melihat santai

“kenapa???”

“ani… aku tidak mau kerumah hantu itu jinjah”

“kau tau cara menghilangkan phobia adalah dengan menghadapinya langsung” minho memberi penjelasan. Sulli menatap ragu

“aku tau tapi aku tidak berani…”

“aku tidak akan meninggalkanmu seperti kakakmu itu… jadi jangan takut”

“ani… aku tetap tak mau” tolak sulli hampir menangis, karena tak tega akhirnya minho mengalah. Ia meninggalkan sulli sendiri ditempat tersebut.

“ya,…. minho-ya kau akan kemana??” teriak gadis cantik bernama sulli tadi.

“jangan bergerak dari tempat itu aku akan kembali” minho memberi penekanan dan menghilang ditengah kerumunan orang. Sulli berdecak kesal, apa mungkin minho akan meninggalkan ia pergi dan membiarkanya pulang sendiri? apa minho sejahat itu? apa minho sedang mempermainkan peraasaanya? Apa minhoo adalah bangsa lelaki yang suka bermain dengan wanita? Fikiran negativ sulli mulai mendemo otak dan hatinya. Ia menggigit bibirnya ragu dan berusaha menunggu ditempat ramai tersebut…

“untukmu…” sebuah gulali besar berada dihadapan sulli sekarang.

“minho-ya?? kau masih kembali??” sulli tersenyum senang dengan mata berbinar

“menurutmu aku meninggalkanmu sendiri disini??? ” namja tampan tersebut melahap gulali ditanganya dengan lahap. Dalam keadaan begitu, minho tidak seperti dokter. Ia bagai anak kecil yang baru saja mendapat hadiah gula-gula karena 1 permainan seru.

“TOLONG…TOLONG … siapa saja tolong” sebuah suara mengalihkan perhatian banyak orang, dibawah biang lala tampak kerumunan yang ramai oleh pengunjung. Minho dan sulli segera berlari ketempat tersebut.

“apa yang terjadi???” tanya sulli penasaran

“seorang lelaki jatuh dari biang lala dan terluka. Sepertinya parah” mendengar penjelasan tersebut minho berusaha masuk dengan berhimpit himpitan, ia juga menarik tangan wanita yang sejak tadi bersamanya agar tak celaka di keramaian yang penuh sesak itu. dan sekarang mereka bisa melihat jelas seorang lelaki remaja terkapar dengan darah disekitar kepala dan bahunya.

“dia tidak sadarkan diri…” ucap minho menghampiri orang tersebut

“tolong teman kami… tolong selamatkan teman kami” mohon beberapa anak muda yang juga berada ditempat sambil menangis. Sepertinya yang mengalami kecelakaan ini adalah sahabat mereka.

“aku akan mengambil kotak P3K… tetaplah disini” minho berlari meninggalkan tempat tersebut, sulli menatap kepergian minho dengan ragu. Setelah itu pandanganya beralih kepada anak remaja yang celaka tadi. ia tampak berfikir beberapa saat… seperti ada kebingungan dalam hatinya. Dengan perasaan setengah berani sulli memeriksa keadaan korban tersebut. ia menarik nafas dalam-dalam membuka mata anak tadi dengan hati-hati…

“reflek pupil baik-baik saja” batin sulli dalam hati ia memeriksa dengan menempelkan 2 jari pada dada korban sambil memejamkan mata… seolah bisa menerawang, seolah tanganya tersebut adalah stetoskop.

“eothokaji… aku tidak mendengar nafas dari paru-paru sebelah kiri. Mengapa minho lama sekali” sulli segera bergegas menoleh kanan dan kiri.

“apakah tidak ada yang memanggil petugas keamanan. Ini sangat darurat” teriak sulli panik. Orang-orang ditempat itu saling menatap dengan wajah bingung, sekelompok teman dari korban yang tak sadarkan diri itu juga semakin terlihat ketakutan. Dan beruntung…. saat itu juga 2 orang petugas datang membawa peralatan medis.

“berikan aku alat intubusi…” perintah sulli cepat, petugas itu pun segera membongkar alat-alat yang di bawanya segera. Sulli membuka mulut anak itu dan memasukan alat tersebut guna memancing pernafasan.

“pasang infusnya sekarang,,,, palli palli…” petugas tersebut mengambil beberapa selang infus dan memasangnya cepat. Semantara gadis bermarga choi tadi mulai memasang alat pendeteksi jantung dan denyut nadi.

“tekanan darah 80/90… denyut nadi 110. Bagaimana ini… ambulan masih berada diperjalanan” ucap salah 1 petugas. sulli segera berfikir cepat. Ia mengambil stetoskop dan memeriksa kembali pasien tersebut.

“diduga ada pendarahan sekitar paru-paru nya. Kita harus menghisapnya cepat atau nyawanya tak dapat diselamatkan. Siapkan alat penghisap dan pisau bedah no 11…” sulli segera memasang sarung tanganya cepat.

“kau yakin nona… bagaimana jika pendarahanya semakin besar” ungkap seorag petugas ragu

“kita tak punya banyak waktu….” sulli segera memberi alkohol pada bagian dada bersama obat

merah. Ia menarik nafas perlahan sembari mengarahkan pisau tersebut dalam 1 sayatan sulli berhasil membedahnya.

“konsentrasi oksigen menurun menjadi 85… bagaimana ini” petugas tadi terlihat semakin panik

“berikan alat penghisap… hisap. Cepat apa yang kau tunggu…” sulli membentak marah, karena tak tau harus berbuat apa petugas tersebut segera menghisap darah yang keluar cukup banyak. Sementara sulli memasukan 1 selang kedalam untuk disalurkan dengan alat intubusi.

“eoh… pernafasanya kembali normal tekanan darahnya meningkat dan konsentrasi oksigen menjadi 98,,,,” sulli menarik nafas lega. Ia memasang beberapa perban untuk menutupi luka bedahnya. Tepat pada saat itu sebuah ambulan datang menghampiri mereka. Anak tersebut segera dilarikan kerumah sakit untuk mendapat perawatan intensif.

“jeongmal ghamsamida… kami akan mengingat jasa berhargamu ini ghamsamida” ucap beberapa teman korban tadi. sulli hanya membalas dengan senyuman, sejumlah pujian dapat ia dengar dari orang-orang setempat, tapi sulli tak ingin tinggi hati. Baginya,,, apa yang ia lakukan tadi hanya sebuah pertolongan semata.

“apa kau juga seorang dokter…” DEGGG… jantung sulli seakan berhenti berdetak, ia lupa pergi ketempat ini dengan minho. dan sekarang pria tampan itu ada dihadapanya. Apa minho melihat tindakan yang dilakukan sulli sejak tadi?? seketika jantung sulli berhenti berdetak…

-TBC- to part 7-

(udah pulang belom SHINee??? Gilaaaa galau akut saya. Sengaja ngepostnya sekarang. kan SWC tanggal 22 kemaren katanya ya… huhuhuh T^T , ngomong2 ini mau tamat sampai chapter berapa chingudeul. Jujur saya sudah lelah … mampet gitu kalau mau ngetik…. saya usahakan tamat secepatnya deh, jadi tinggalkan jejak yaaaaa ghamshamida

 

 

 

 

 

 

 

 

 

THE ANTAGONIST [Chapter 6]

ps-dyocta-the-antagonist

The Antagonist

by

Dyocta

Main casts: f(x)’s Sulli, SHINee’s Minho, EXO’s Chanyeol || Supporting casts: Girl’s Day’s Yura, Shin Min-Ah & others || Genre: School-life, friendship & Romance || Length: Chaptered.

credit: prinsekai94 on Poster State.

[Chapter 6]

 

“Aku akan ada di lantai bawah. Kalau ada apa-apa kau bisa memanggilku.” kata Minho setelah mengantar Sulli ke kamarnya. Gadis itu sudah diperbolehkan pulang setelah seminggu penuh dirawat di rumah sakit.

Continue reading