A Mysterious Man [Part 9]

poster-a-mysterious-man

Poster by Xilvermist

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli,

Support Cast : Lee Taemin, Lee Jonghyun, Lee Jinki, Kim Kibum, Amber Liu, Park Luna, Victoria Song, Krystal Jung, Kim Jongin, Kris Wu, Kim Hee Chul, Lee Tae Sun, Lee Soo Man

Author : Dina Matahari

Genre :  Misteri, Roman

Length : Chapter

  Rating : General

Lelaki Misterius Part.9

POTONGAN PUZZLE YANG HILANG  BAG.4

(Bros Kelinci)

 

 

Plok ! Plok ! Plok !


Choi Minho dan Sulli terkejut ketika mendengar orang bertepuk tangan di dekat mereka. Bersamaan mereka melihat ke arah sumber suara. Sesosok tubuh tinggi mengenakan baju putih tampak berjalan ke arah mereka. Walaupun hari mulai gelap Sulli mengenali siapa orang tersebut.


Hee Chul.

“ Oh, jadi inikah lelaki yang kau katakan tengah dekat denganmu, Ssul ? Well.. well… aku tak melihat dia lebih baik dari aku.”

Hee Chul berdiri di samping Sulli, melihat sosok Minho dari atas sampai ke bawah dalam cahaya matahari yang hampir lenyap.

Sulli mengepalkan tangannya karena kesal,” Hee Chul oppa, jaga mulutmu!!” tegurnya keras.

“ Let me see, Ssul baby ! Omo… bukankah dia laki-laki yang diteriaki seorang laki-laki di lobby hotel Holiday Inn ?”

Choi Minho menahan dirinya, walaupun ia sadar bahwa pria di hadapannya tengah memancing amarahnya. Tetapi diam-diam ia merasa malu juga saat dikenali sebagai orang yang diteriaki di lobby hotel.

“Tuan, apakah anda seorang saksi suatu pembunuhan… ataukah anda pelaku yang buron, huh ?”

Sulli tak bisa menahan dirinya lagi. Ia sadar kalau sebenarnya Hee Chul hanya ingin membalasnya. Ia merasa tidak enak seorang yang tak tahu apa-apa menjadi korban penghinaannya. Hatinya benar-benar muak melihat senyum mengejek yang muncul di wajahnya. Tangan Sulli melayang, menampar wajah tampan Hee Chul.

Plakk !

Choi Minho terkejut.

Hee Chul terdiam dan menatap tak percaya.

Sulli sejenak mematung, kaget dengan prilakunya sendiri. Selama ini ia tidak pernah menampar wajah seseorang.

“ Hee Chul oppa, aku tak mengira mulutmu bisa begitu jahat. Ayo, Mr. Choi !!”

Sulli menarik tangan Choi Minho, menjauh dari tempat itu. Dan seperti orang bodoh Minho mengikuti saja kemana wanita ini membawanya.

Sulli Pov .

Aku masih belum menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang kulihat. Kalau berterus terang, kemungkinan besar Choi Minho akan kecewa, putus asa….. sedangkan ini baru satu langkah, baru satu benda yang kulihat . Bagaimana dengan benda yang lain ? Bagaimana kalau ternyata dari benda-benda itu ada jawaban dari penyelewengan Jinri dari tunangannya. Mungkin saja Choi Minho memiliki kekurangan yang membuatnya berpaling. Atau mungkin saja aku, diriku, telah salah paham dengan apa yang kulihat. Bagaimanapun itu hanyalah potongan dari sebuah gambar utuh. Sebelum potongannya terkumpul… tetap saja tak akan menjadi gambar yang utuh.. Masih butuh waktu, masih butuh penjelasan.

End of Pov

Langkah Sulli terhenti. Ia terkejut ketika menyadari mereka telah berdiri di depan toko kue yang merangkap rumahnya. Choi Minho turut menghentikan langkahnya, ia memandang wanita disisinya dengan bertanya-tanya. Tampaknya selama perjalanan Sulli tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Ia tak berani menganggunya, bahkan ia tak berani melepaskan tangannya yang sejak tadi masih dipegangnya.

“ Oh…maafkan Tn.Choi… aku begitu asyik dengan pikiranku sendiri.”

Ia merasa tidak enak hati, perjalanan dari café Amber ke rumahnya tidak begitu jauh memang. Tetapi kalau ditempuh dengan jalan kaki… itu lumayan melelahkan. Ia sendiri biasanya menggunakan kendaraannya untuk sampai ke sana. Dan kini mobilnya ditinggal di tempat Amber.

“Omo ! Kita berjalan cukup jauh !!”

Tiba-tiba Sulli baru menyadari kalau ia masih memegang tangan Choi Minho. Sejauh itu mereka berjalan, ia masih menggandeng tangan lelaki ini ? Mengapa dia tidak protes dan melepaskannya ?? Perlahan ia melepaskan tangannya.

“Maaf…saya benar-benar tidak menyadari ini. Tentunya anda merasa tidak nyaman, tn. Choi ?” Sulli tertawa dengan nervous.

“Sejujurnya, saya memang bertanya-tanya tentang semua sikap anda dari awal sampai sekarang. Umm.. nona Choi, apakah anda bersedia menjelaskan semuanya sekarang ?”

“ Saya ingin… tetapi tampaknya ini sudah malam. Lagipula, aku sudah sampai di rumahku. Inilah toko kue yang juga menjadi rumah saya, tn.Choi.” Sulli menunjuk rumahnya, “ Saya sendiri tidak sadar telah berjalan sejauh itu dan langkah saya membawa saya ke rumah ini.”

“Oh !!?? Saya sering melewati tempat ini kalau sedang jogging pagi hari.” Kata Minho, ia sendiri tidak mengira kalau rumah gadis ini berada di tempat yang sering dilaluinya.

“ Kalau begitu, kau bisa datang ke sini besok. Sejujurnya, saya belum bisa menceritakan apa yang saya lihat sebelum saya bisa melihat juga apa yang ada dibalik semua benda-benda kesayangan tunangan anda. Saya takut salah paham, atau salah menyimpulkan.”

“Jadi….? Tolonglah Nn. Choi, saya hampir mati karena penasaran. Setidaknya kau jelaskan sedikit saja ..?” Minho menatap dengan memohon, sehingga Sulli tak sampai hati menolaknya.

“ Tetapi hanya gambaran besar, detilnya besok saya berikan. Saya melihat tunangan anda Jinri, cukup dekat dengan salah satu sahabat anda. Mereka membicarakan hal yang berkaitan dengan pertunangan kalian. Saya juga melihat tunangan anda mendapatkan masalah. Saya tadi melihat seseorang yang dipanggilnya “appa”, yang marah besar. Dan.. ia memohon maaf kepada orang tersebut. Well, saya melihat dia bersimpuh di kakinya. Itu mungkin bisa menjelaskan mengapa tadi saya memegangi kaki anda. ” Sulli menarik nafas,

” Umm, Tn.Choi… perlu anda tahu, terkadang saya terbawa ke dalam bayangan-bayangan masa lalu yang saya lihat. Itulah sebabnya saya memerlukan sahabat saya… karena mereka akan tahu apa yang harus dilakukan bila itu terjadi pada saya.”

“ Hanya itu ?” Tanya Minho kecewa, diam-diam ia berharap banyak.

“ Untuk saat ini, ya. Datanglah kembali besok dengan kotak itu.”

Sebenarnya Minho ingin meminta lebih banyak ceritanya, tetapi melihat kondisi wanita itu ia jadi berfikir. Dengan semua kejadian tadi, mungkin saja tenaga dan fikiran wanita itu terkuras sehingga ia butuh istirahat. Ia tidak bisa egois dengan kepentingannya sendiri bukan ?

“ Baiklah, saya akan datang besok. Kalau begitu saya pamit dahulu. Selamat malam miss Choi !”

“ Selamat malam. Sekali lagi mohon maaf atas sikap saya yang kurang berkenan hari ini.”

Minho membungkuk, kemudian berbalik dan berjalan ke arah hotel tempatnya menginap. Untunglah, ia sudah mengenal tempat ini. Sulli memandang sosok Choi Minho dari belakangnya.

“Maafkan, Tn.Choi… mungkin ini untuk kebaikan anda. Saya hanya tidak mau ada kesalahpahaman dalam masalah ini.” Gumam Sulli. “Lagipula saya baru melihat satu bayangan dibalik cincin pertunangan kalian… apa yang saya pikirkan mungkin benar…tetapi mungkin pula tidak benar…”’

—————————

Hotel Holiday Inn

Minho membaringkan tubuhnya di kasur kamar hotel. Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 am. Sudah lewat tengah malam. Entah mengapa ia tidak bisa sedikitpun memejamkan matanya. Pikirannya melayang pada setiap kejadian yang dilaluinya hari itu.

Mulai dari ditemukannya mawar di atas pasir, pertemuannya dengan Amber, Sulli dan teman-temannya. Kemudian saat mengobrol dengan Sulli, saat dia melihat bagaimana perubahan wajah Sulli saat merasakan kotak, sapu tangan dan cincin pertunangannya.

Semua yang dilaluinya hari itu seperti film yang diputar kembali dalam ingatannya. Choi Minho menarik nafas berkali-kali, matanya menatap lurus ke langit langit kamar.

“ … Saya melihat tunangan anda Jinri, cukup dekat dengan salah satu sahabat anda. Mereka membicarakan hal yang berkaitan dengan pertunangan kalian. Saya juga melihat tunangan anda mendapatkan masalah. Saya tadi melihat seseorang yang dipanggilnya “appa”, yang marah besar. Dan.. ia memohon maaf kepada orang tersebut. Well, saya melihat dia bersimpuh di kakinya. Itu mungkin bisa menjelaskan mengapa tadi saya memegangi kaki anda. “

Wanita itu melihat Jinri dengan sahabatnya, membicarakan pertunangan mereka…. Apakah ia bicara dengan Kim Jong In ?

Kim Jong In adalah sahabat Jinri yang kemudian menjadi sahabat Minho juga. Dan Kim Jong In pernah membuatnya cemburu, karena kedekatan mereka. Minho pernah bertengkar dengan Jinri karena dia. Tetapi Kim Jong In yang kemudian membuat Minho tahu seperti apa dan bagaimana Jinri yang sebenarnya.

Mungkinkah dia ?

Tetapi apa hubungannya dia dengan cincin pertunangannya ?

Atau mungkinkah Lee Taemin yang juga adik sepupunya ?

Taemin sangat dekat dengan Jinri. Bahkan Jinri sering berkonsultasi dengannya tentang masalah kesehatannya.

Ataukah Kim Jong Hyun ? Onew ? Dong Hae ? Chang Min ??

Orang-orang itu sangat dekat dengan Jinri. Tetapi selama ini, tak ada hal yang membuat Minho berfikir bahwa kedekatan mereka akan menjadi masalah besar buat Jinri. Ayah Jinri sudah mengetahui mereka semua. Kemudian masalah besar apa yang Jinri hadapi ? Ia sampai memohon maaf kepada ayahnya yang marah (?).

Setahu Minho Jinri dan ayahnya sangat dekat, mengingat ia tidak memiliki ibu lagi. Ayah Jinri sangat menyayanginya, mustahil dia marah kalau bukan karena sesuatu yang sangat keterlaluan.

Tetapi apa itu ? Mengapa dirinya tidak tahu ? Apakah kejadian itu terjadi sewaktu ia dipenjara ? Apakah masalah itu muncul karena ia dituduh telah membunuh seseorang ? Dan, apakah yang dilakukan wanita bernama Sulli itu… memegangi sebelah kakinya dengan erat, seakan takut terlepas… adalah yang dilakukan Jinri kepada ayahnya ?

Jinri bersimpuh di kaki ayahnya untuk meminta maaf? Apa kesalahannya ? Apakah berhubungan dengan dirinya ? Berhubungan dengan tuduhan pembunuhan itu ? Mungkinkah ayah Jinri menyuruh Jinri membatalkan pernikahannya dengan dirinya karena ia seorang pembunuh ? Kemudian Jinri menghilang ? Ayahnya juga pergi meninggalkan Seoul tanpa kabar berita. Dimanakah mereka tinggal sekarang ??

Onew !!

Minho teringat bahwa Onew selalu punya informasi tentang keluarga Jinri karena mereka masih terbilang saudara jauh. Minho bangkit dari tempat tidurnya, kemudian mencari ponsel dan menulis pesan untuk Onew.

Setelah itu, ia kembali berbaring dan berusaha memejamkan matanya. Ia harus tidur untuk menghadapi esok hari. Kalau sekarang ia tak bisa tidur, kemungkinan ia akan kehilangan momen  yang penting untuk bertemu dengan wanita bernama Sulli itu. Wanita yang dalam satu hari mampu membuat perasaannya tidak menentu. Wanita yang dalam satu hari telah membuat seorang Choi Minho pengusaha muda dari Seoul, menjadi seorang yang bodoh dan penurut. Menjadi seorang Choi Minho yang tidak berdaya dan tak mengerti apa-apa.

——————————

Rumah Sulli

Sulli duduk berhadapan dengan Luna dan Amber.

“ Jadi kau tidak mau bercerita kepada kami, Sulli …why?”

“ Mianhe. Tampaknya ini masalah pribadi tn. Choi. Aku belum berani menceritakannya takut aku salah. Tetapi bila nanti aku mendapat penglihatanku untuk semua benda itu, aku berjanji akan bercerita kepada kalian. Tn. Choi sendiri belum mengetahui apa yang kulihat karena sekali lagi aku takut salah menyimpulkan.”

“ Aku kira kalian pergi malam tadi adalah untuk berbicara…. Jadi apa yang kalian lakukan selama perjalanan dari café ke sini ?”

“Tidak ada yang kami bicarakan. Aku berjalan dan berfikir sendiri… tak sadar kalau kami berjalan cukup jauh.”

Wajah Sulli berubah merah ketika teringat bagaimana ia menuntun tangan lelaki itu sepanjang jalan. Apa yang dipikirkan lelaki itu tentang sikapnya yang aneh ?

“ Hei, kenapa wajahmu jadi merah ? Apa yang dilakukan lelaki itu padamu, huh ??” Tanya Amber, cemas.

“Andwae…tidak ada.” Wajah Sulli semakin merah, saat ia teringat kembali bagaimana ia memeluk Choi Minho karena terdorong rasa iba dan ikut prihatin dengan keadaannya .

“Kau tidak bisa membohongi kami, Ssul…” desak Luna.

Ia semakin curiga telah terjadi sesuatu antara Sulli dan lelaki itu sehingga Sulli tampak salah tingkah dan wajahnya merah seperti tomat matang.

“ Semalam ada Hee Chul oppa. Ia mengira Tn. Choi Minho adalah ….”

“Pacarmu ? Oh…pantas wajahmu merah begitu.” Potong Luna.

Diam-diam ia gembira mendengar hal tersebut, karena akhirnya Hee Chul tahu bahwa Sulli sudah memiliki orang lain. Itu berarti dirinya, Hee Chul, tidak dibutuhkan oleh Sulli lagi.

“ Tetapi… Hee Chul oppa mengatakan sesuatu yang tidak pantas kepada tn. Choi. Ia mengatakan bahwa dia pernah melihat Tn. Choi diteriaki seseorang di lobby hotel. Kemudian ia mengatakan apakah tn. Choi itu saksi atau pelaku pembunuhan…. Aku tidak mengerti…”

“ Oh… itu adalah kejadian yang dulu kita bicarakan. Kim Jong Hyun, lelaki dari Seoul itu berteriak pada tn. Choi. Rupanya Hee Chul ada di Lobby malam itu. Dan aku yakin semua yang ada di Lobby hotel malam itu akan mendengar teriakannya . Lalu bagaimana reaksi tn Choi sendiri ?”

“Aku tidak begitu jelas karena hari sudah gelap. Eonni, apakah mungkin Jinri itu dibunuh karena ia hamil ? Tetapi dalam mimpiku, kenapa ia seperti berlari menuju laut lalu ombak besar menelannya ? Kemudian mayat yang kulihat itu, jelas-jelas mayat seorang laki-laki. Apakah ini ada hubungannya ?”

“Sudahlah, Ssul…yang membuatmu tersiksa adalah pikiran-pikiranmu sendiri. Seperti kejadian dengan kalung Luna yang kau temukan, sekarang berbuatlah pasrah dan menunggu. Ya kita tunggu apa yang bisa kau lihat dari benda lainnya.

“ Lalu, jam berapa tn. Choi akan datang ? Kau yakin tidak mau kami temani ?”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi untuk sementara ini aku merasa aman bersamanya. Aku tidak merasakan energy negative darinya, kupikir kalau hanya berdua, dia bisa lebih membuka diri sehingga teka-teki ini lebih cepat terselesaikan.

“Oke kalau begitu. Kami pergi dulu. Kau tahu kemana harus menghubungiku kalau terjadi sesuatu.”

———————————————

Choi Minho terbangun dari tidurnya ketika ia mendengar suara ponselnya. Ia bangun dan berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari yang masuk melalui tirai kamarnya yang tersingkap. Masih mengantuk ia meraih ponselnya.

“ Yeoboseyo .”

“ Yah Minho ! Kau masih tidur ? Ini sudah siang !!”

Choi Minho matanya terbuka ketika mendengar suara dari seberang.

“Onew hyung ??”

“Ne. Kau mengirim sms padaku tengah malam tadi. Ada apa ?”

“Oh…maaf hyung, ada sesuatu yang ingin kutanyakan tentang Jinri dan ayahnya.”

“Mwo ? Malam-malam kau ingin bertanya itu ? Ada apa dengan Jinri ? Kau masih terobsesi dengannya, huh ?”

“Onew hyung, kau tahu dimana sekarang mereka tinggal ?”

“ Tidak, Minho. Kabar yang kudengar dari ibuku adalah tentang ayahnya Jinri. Ia pergi ke daerah selatan. Tetapi Jinri tidak bersamanya. Ia sudah pasrah dan menerima kalau anaknya sudah hilang tanpa jejak. Kau ini kenapa ? Aku sudah menjawab pertanyaanmu beribu kali, kau masih tak percaya ?”

“Anio. Hanya saja…kalau kau bisa, datanglah ke tempatku sekarang. Aku disini menemukan berbagai keanehan yang menggiringku pada jawaban menghilangnya Jinri.”

Minho kemudian menyebutkan tempatnya sekarang berada, walaupun ia tidak yakin Onew akan datang mengingat Onew selalu sibuk. Kemudian ia menceritakan sedikit tentang kemampuan Sulli melihat masa lampau.

“Ya, aku percaya bahwa di dunia ini ada yang punya kemampuan indera keenam seperti itu. Pernah ada pasienku yang mengatakan bahwa mereka akan merasakan kesakitan, kesedihan, amarah.. yang menyerupai bentuk emosi dari apa yang mereka lihat dan rasakan. Mereka akan menderita karena tidak bisa mengontrol rasa sakit di kepala saat melihat sesuatu. Bahkan ada yang trauma terhadap darah karena ia melihat peristiwa kecelakaan yang terjadi sepuluh tahun lalu yang menimpa orang tuanya.”

Minho tertegun, seburuk itukah ? Lalu apa yang telah dilihat Sulli dari masa lalu Jinri ? Itukah sebabnya ia selalu terlihat ketakutan dan gugup ? Itukah yang membuatnya selalu menangis dan pingsan ? Lalu, saat ia memeluknya dan mengusap punggungnya… apakah itu juga karena dampak dari kemampuannya ?

Rasa bersalah diam-diam menyelinap ke dalam hatinya. Wanita itu telah melalui semuanya untuk membantunya. Wanita bernama Sulli itu melalui semuanya untuk orang yang tak dikenalnya… Sulli…. mengapa ?

“ Onew hyung, apa yang harus kita lakukan bila orang yang memiliki kemampuan seperti itu tiba-tiba bereaksi aneh… seperti menangis, merintih kesakitan, bahkan pingsan ?”

“ Kau ajak dia bicara dengan kata-kata yang menenangkan dia. Supaya dia tetap sadar , dan tidak terbawa alam tidak sadarnya. Apakah dia laki-laki ? Ataukah perempuan ?”

“Apa ada bedanya ?”

“ Kalau perempuan… aku tidak tahu… tetapi biasanya pengalaman psikisnya lebih mendalam. “

“Apakah itu berbahaya ?”

“Tergantung dari apa yang dilihatnya. Bukankah aku sudah katakan bahwa ada orang yang trauma terhadap benda… karena penglihatannya itu. Ada lagi ??”

“Tidak. Aku harus bersiap untuk pergi. Terimakasih telah menelpon, hyung .”

“ cheonmayo.”

————————————

Toko Kue Sulli

Sulli membereskan piring-piring kotor yang baru dicucinya. Kemudian ia membetulkan bando yang dipakainya. Ia terbiasa mengenakan bando kalau sedang memanggang kue atau memasak, karena bando itu akan menahan poni rambutnya agar tidak menutupi pandangannya. TIba-tiba seorang pelanggan masuk dari pintu tokonya.

“ Selamat siang…selamat datang di…..” kata-katanya terhenti melihat siapa yang berdiri di pintu.

“Oh…Tn. Choi maafkan, saya kira pelanggan lain.” Lanjutnya.

Choi Minho melangkah masuk. Matanya yang bulat meneliti seputar ruangan yang mengesankan suasana cozy. Sentuhan khas seorang perempuan. Beberapa orang tampak sedang menikmati makanannya.

“Silakan duduk, tn. Choi.”

Minho memilih meja yang berdekatan dengan jendela, yang pemandangannya langsung ke pantai. Sebelum duduk ia memberikan setangkai mawar merah kepada Sulli.

“ Ini untuk anda, nona .” katanya

Sulli terkejut dan memandang laki-laki di hadapannya penuh tanda Tanya.

“ Oh… jangan salah faham.” Choi Minho segera menjelaskan,” Tukang bunga langganan saya, selalu menyimpan setangkai mawar di depan pintu kamar saya. Biasanya, mawar ini akan saya lempar ke laut (Minho tersipu, wajahnya bersemu merah) tetapi saya berfikir itu tidak diperlukan lagi. Jadi daripada saya buang… ada baiknya untuk anda. Bisa anda gunakan untuk menambah hiasan bunga di meja, mungkin… ??”

Sulli tersenyum, kemudian mengambil mawar itu.

“ Gomawo.”

Ia mengambil sebuah gelas bening yang tinggi, mengisinya dengan air kemudian menyimpan mawar itu di sana. Dan gelas itu ia simpan di meja kasir.

Setelah itu, ia mengeluarkan cangkir dan membuat kopi panas untuk Choi Minho, beberapa potong kue ia sertakan dalam sebuah piring.

“ Dan ini sebagai rasa terimakasih saya karena bunga dari anda membuat meja kerja saya terlihat lebih menyenangkan.”

Minho tersenyum menampakkan deretan giginya yang rapi. Melihat itu, Sulli tak bisa menyembunyikan rasa gembiranya.

“ Ayo cicipi. Ini kue yang saya buat dengan resep rahasia keluarga kami. Anda pasti menyukainya… apalagi disertai dengan secangkir kopi. Ummmm…!” Sulli mengacungkan jempolnya.

Minho Pov.

Ternyata wanita bernama Sulli ini lincah dan menyenangkan. Dengan baju kaos dan celana jeans belel yang dikenakannya, ia tampak santai. Bando polkadot itu membuatnya tampil fresh. Berapakah usianya sekarang?

20 ?

21?

Entahlah.

Ia bergerak melayani tamu-tamunya dengan ramah. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Tiba-tiba ia melihat ke arahku, aku segera mengalihkan mataku darinya. Aku baru sadar, sejak duduk di kursi ini mataku selalu memperhatikannya. Aish…ada apa denganku ?

Mungkinkah ini karena apa yang kufikirkan semalaman tentamgnya ? Apakah ini karena apa yang dikatakan Onew Hyung tadi di telepon ?

Aku mulai mengocek kopi, aromanya langsung menusuk hidungku. Semangatku senantiasa bangkit kalau aku menghirup aroma kopi.

Perlahan kuhirup kopi itu. Tuhan… rasa kopi ini begitu kental dengan lidahku. Rasanya persis seperti rasa kopi di kafe milik sahabatnya. Lalu kucicipi kue yang dihidangkannya, rasanya enak… oh tidak… rasanya lezat !! Aku rasa kue ini mirip rasanya dengan kue yang sering dibuatkan nenek untukku.

Aku tiba-tiba merindukannya, merindukan nenekku yang telah kutinggalkan selama bertahun-tahun di seoul. Apakah dia sehat ? Apakah dia baik-baik saja ?

Masalahku dengan Jinri benar-benar menguras tenaga dan fikiranku, sehingga aku melupakan orang dan kerabat yang mencintaiku. Nenek, Paman Tae, Taemin… mereka adalah kerabat yang masih kumiliki tetapi sudah terlupakan.

“Kue buatanku tidak enak, ya ? Aku baru melihat pelangganku terlihat begitu sedih saat makan kueku.”

Sulli mengejutkanku, tanpa kusadari ia telah duduk di hadapanku. Matanya yang bening langsung melihatku. Entah kenapa, aku merasa tidak bisa menyembunyikan apapun di hadapan wanita ini. Aku merasa seolah dia bisa membaca pikiranku. Apakah ini karena pengaruh kemampuan indera keenamnya itu ?

End of Pov

“ Miss Choi, kue anda mengingatkan saya pada nenek. Maafkan, saya jadi melankolis seperti ini.”

“Aku senang mendengarnya, karena kue ini telah mengingatkan anda pada rumah, pada kehangatannya.. Terimakasih atas pujian anda.” Sulli berkata sopan.

Minho melihat ke seputar ruangan, ia tak melihat pelanggan lain. Itulah mengapa sekarang wanita itu ada di hadapannya.

“ Sekarang sudah lewat jam makan siang, biasanya pelanggan sudah jarang datang. Lagipula aku sudah menutup toko ini untuk sementara.” Sulli menjelaskan.

“Baiklah, sekarang mana kotak itu ?” Tanya Sulli.

Choi Minho mengeluarkan kotak dari tas kertas yang dibawanya. Ia menyimpan kotak tersebut di atas meja. Tiba-tiba terlintas pertanyaan yang mengganggunya semalaman tentang gadis ini.

“ Sebelum memulai semuanya… bolehkah saya tahu, kenapa anda mau melakukan ini semua untuk seseorang yang baru anda kenal, Nn. Choi ?” Tanya Minho.

Sulli menelan ludahnya, nampaknya ia harus mulai berterus terang dengan laki-laki di hadapannya.

“Umm.. karena saya juga punya kepentingan dalam hal ini. Maaf, sejak saya bertemu anda… saya mendapat mimpi-mimpi yang kurang menyenangkan tentang tunangan anda. Setelah saputangan itu, penglihatan saya semakin banyak… dan itu tidak membuat saya nyaman. Mungkin, dengan menemukan kebenaran di balik mimpi dan pengliatan itu.. saya bisa terbebas dari mimpi-mimpi itu.’ Kata Sulli.

“ Apakah anda mengenal Jinri ?”

“ Tidak. Justru itulah yang membuat saya heran… karena saya tidak mengenal satupun orang yang saya lihat. Tetapi saya yakin, dibalik ini semua pasti ada rahasia yang belum terungkap.”

Choi Minho termenung memikirkan keanehan yang dirasakannya. Mengapa seorang asing bermimpi tentang Jinri ?

“Mr. Choi, bisa kita mulai ?”

Suara Sulli mengembalikan perhatiannya. Minho membuka kotak itu dan mengeluarkan barang-barang Jinri satu persatu.

“Ini sudah aku rasakan. Kita coba yang ini.” Sulli mengambil sebuah bros berbentuk kelinci dari logam.

Minho menarik nafas dan mengangguk. Ia berharap, tidak akan terjadi hal-hal aneh lagi… karena sekarang tidak ada staupun sahabat Sulli yang ada di dekat mereka. Sulli menyimpan bros itu ke telapak tangannya, kemudian ia menutupnya dengan telapak tangan yang lain. Perlahan matanya terpejam, ia berusaha memusatkan konsentrasinya.

Ada sebuket mawar merah tergeletak di maja marmer. Di sisinya tergeletak sebuah kartu yang terbuka. Tulisan tangan yang rapi dan inidah terbaca dengan jelas.


“Selamat ulang tahun, Jinri.
Semoga cinta dan kebahagiaan akan selalu menyertaimu.”
Cintamu.
Choi Minho.

“Kenapa ia tak mengantarkannya sendiri ?”

“ Dia sibuk. Katanya dia baru bisa menemuimu malam nanti setelah rapat . Ini kado untukmu…..”

“ Aku tidak butuh kado ! Aku butuh kehadirannya. Katakan padanya, dia itu akan menikah denganku ataukah dengan pekerjaannya ?”

“ Jinri… !”

“ Katakan padanya paman Lee, aku tidak akan memaafkannya karena ia sudah janji akan datang siang ini !”

Sulli membuka matanya, melihat Minho memandanginya. Ia mengerti mengapa Jinri marah padanya. Dihari ulang tahunnya lelaki ini tidak datang. Walaupun sepele, bagi seorang perempuan itu sangat besar maknanya.

“ Anda melihat sesuatu, Miss Choi ?” Minho bertanya dengan ragu, takut salah bicara.

“ Anda yakin ingin mengetahuinya ?” kata Sulli sambil tersenyum.

Hal ini membuat Minho bertanya-tanya, karenanya ia segera mengangguk .

“ Anda bukan orang yang romantis, tn.Choi .”

“Apa ?”

“ Benarkah anda pernah “hanya” memberikan kado dan bunga di hari ulang tahun tunangan anda ? itupun anda berikan melalui seseorang bernama tn. Lee ??”

“Tn. Lee… Lee So Man ? dia sopir keluarga kami… err.. benar, di hari ulang tahunnya yang terakhir…. maksudku tahun terakhir sebelum Jinri menghilang… aku tidak datang karena harus menyelesaikan pekerjaan dahulu.”

“Harusnya anda tahu, wanita terkadang lebih membutuhkan kehadiran tunangannya daripada hadiah yang mahal dan indah sekalipun.”

Choi Minho membisu, ia ingat setelah hari ulang tahunnya itu Jinri menjadi berubah. Menjadi kurang memperhatikannya. Ia sudah berusaha meminta maaf, tetapi rupanya Jinri terlanjur kecewa. Itu adalah sebulan sebelum pemotretan prewedding dilakukan. Sulli kini menyimpan bros kelinci itu di atas meja, menatapinya dengan cermat.

“Apakah ini kado yang anda berikan di hari ulang tahunnya itu ?” Sulli bertanya hati-hati.

“Bros ini ? Tidak, saya tak akan berfikir memberikan hadiah konyol seperti itu !”

“ Mwo ?? Konyol ?” Sulli terbengong.

Ia berfikir lelaki di hadapannya ini benar-benar tidak romantis, tidak sensitive… sepertinya kurang tahu bagaimana menyenangkan hati wanita. Mungkinkah karena itu Jinri berpaling ke lain hati ?

“ Orang yang membelikan bros ini tentunya seorang yang punya hati hangat, penuh kasih sayang dan sangat perhatian. Saya pikir itu adalah anda… karena anda tunangannya.”

Choi Minho wajahnya memerah, ia tak mengira kalau bros kelinci memiliki arti seperti itu. Ia memang merasa dirinya tidak terlalu care pada hal-hal seperti itu. Baginya Jinri sudah tahu bahwa ia mencintainya lebih dari apapun… dan itu sudah cukup untuknya. Kini tangan Sulli merabai permukaan bros dengan perlahan.

“ Mari, aku sematkan ini di bajumu. Kelinci sangat cocok dengan kepribadianmu yang lincah, supel, lucu dan pandai menyenangkan orang di sekitarmu.”

Jinri terlihat tersenyum senang, ketika laki-laki di hadapannya menyematkan bros di bajunya. Setelah bros tersemat, mereka berpandangan.

“Kau cantik Jinri… kau tahu, kau akan selalu menempati tempat yang khusus di hatiku.Tahukah kau, sejak kita putus setahun yang lalu… aku tak bisa menemukan wanita lain yang bisa menghapusmu. Aku akhirnya sadar bahwa hatiku masih mencintaimu… sama seperti dulu.”

“ Aku juga masih mencintaimu, oppa …” jawab Jinri, membuat pemuda di hadapannya tertegun.

“Benarkah ? Lalu mengapa kau menerima lamaran Minho hyung ?”

“Karena kupikir dia bisa membuatku melupakanmu, Oppa. Ternyata tidak… aku masih mencintaimu.”

“Jinri…!”

Pemuda itu merangkum Jinri dalam pelukannya. Air mata mengalir di pipi keduanya.

Sulli membuka matanya. Ia merasakan besarnya cinta mereka. Ia hanya tidak mengerti mengapa seorang wanita tega melakukan itu kepada seorang pria yang sangat mencintainya ?

Mengapa Jinri tega melakukan itu pada Choi Minho ? Dan lelaki itu… ternyata adalah mantan kekasihnya ?

“ Tn. Choi…. apakah anda mengenali mantan kekasih Jinri? Cinta pertamanya ?”

Choi Minho tersentak dengan pertanyaan Sulli yang tiba-tiba.

“Bros ini adalah pemberian mantan kekasihnya. Ia berikan pada hari ulang tahun Jinri… tepat di saat kau tidak datang. Tahukah anda bahwa dia telah mengambil tempat di hati Jinri yang seharusnya anda tempati ?”

“ Apa maksudmu, nona ? Kau ingin mengatakan bahwa Jinri berselingkuh hanya karena sebuah bros kelinci ?” Minho terlihat berang, sekali lagi… bila ada yang menjelekkan nama Jinri, ia akan sensitive sekali.

Sulli menarik nafas perlahan, kemudian meletakkan bros itu ke dalam kotak.

“Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat. Bila anda tidak siap dengan kemungkinan terburuk… sebaiknya kita tidak melanjutkan semua ini.”

Choi Minho terdiam. Matanya terpaku pada bros kelinci yang kini tergeletak di dalam kotak. Rasa tidak percaya membuatnya berang, marah, kesal, dan membenci wanita di hadapannya Dia tidak mengenal Jinri… berani sekali dia mengatakan Jinri telah mengkhianatinya. Dan itu karena sebuah bros kelinci ?? Tanpa mengatakan apa-apa, Minho berdiri. Membereskan barang-barangnya, kemudian pergi meninggalkan Sulli yang diam memandanginya.

‘BERSAMBUNG

 

Advertisements

106 thoughts on “A Mysterious Man [Part 9]

  1. Minho ko marah sih sma baby sull ud dtolongin jg wlopun dy cinta mati sma jinri y jngan marah gtu donk sma baby sull,tpi pnasrn tingkt akut next

  2. oiyoiyo…. minho oppa gak romantis bgt.Gak peka.
    q pkir minho udh mlai suka sma sulli,knp sensi amat klo ada hubnya sma jinri.
    pdhal kan yang tau kan unni sulli 😕

    next thor…tepok jidat deh…karna sukses buat emosi naik turun 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s