Winter in Tokyo [Korean Version] Part 15

winter

a novel by Ilana Tan

Winter in Tokyo [Part 15]

Choi Minho || Choi Sulli || Lee Jonghyun || Kwon Yuri || OC

Genre : Romance, Drama, Friendship, Sad/Hurt

Lenght : Chaptered

Lima Belas

SETIAP kali melihat gadis itu, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskannya. Perasaan yang membuatnya bingung, perasaan yang mendorongnya melakukan sesuatu yang bahkan tidak dipahaminya sendiri. Lagi-lagi Minho melirik Choi Sulli yang berdiri di ambang pintu, membiarkan Minho dan Yuri masuk lebih dulu.

Choi Sulli sudah menuliskan alamat gedung apartemen yang ditempati Minho sejak ia tiba di Seoul awal bulan Desember lalu. Jadi hari Minggu pagi ini ia mengajak Yuri mengunjungi apartemen itu. Begitu mereka tiba di gedung yang dimaksud, Choi Sulli sudah menunggu bersama para tetangganya. Minho merasa serba salah ketika berkenalan dengan orang-orang asing yang mengaku sudah mengenalnya. Para tetangganya memang ramah, namun mereka memandang Minho dengan sorot mata kasihan dan penasaran. Hal itu membuat Minho merasa tidak nyaman, karena saat-saat seperti itulah ia merasa dirinya bodoh.

Setelah perkenalan singkat itu, Sulli membawanya ke apartemen di lantai dua. Apartemen nomor 201. Minho berdiri di koridor di antara apartemen 201 dan 202, dan ia merasakan sesuatu. Sesuatu seperti… sepertinya ia sudah akrab dengan tempat itu. Namun semakin ia berusaha memikirkannya, perasaan itu semakin menjauh.

Begitu memasuki apartemennya, Minho memandang berkeliling. Ia mengenali beberapa benda yang dibawanya dari New York, tetapi selebihnya asing.

“Minho-ssi, kau mengingat sesuatu?” tanya Sulli dengan nada penuh harap. Minho menoleh ke arah Sulli dan menggeleng. Raut wajah gadis itu pun berubah. Melihat itu Minho tiba-tiba merasa bersalah. Aneh sekali… Ia mendapati dirinya tidak ingin membuat gadis itu kecewa.

“Mino-ya.”

Lamunan Minho buyar dan ia menoleh ke arah Yuri. Wanita itu sedang menunjuk sesuatu di lantai. “Ada apa?” tanya Minho.

“Aku tidak pernah tahu kau suka sandal seperti ini,” kata Yuri sambil menunjuk sandal putih berbentuk kepala Hello Kitty yang tergeletak di dekat pintu masuk. Ia tertawa kecil. “Ini milikmu?”

Minho melihat sandal itu, lalu mengangkat bahu. “Entahlah,” sahutnya ringan.

“Boleh ku pakai?” tanya Yuri.

“Tentu. Ambil saja kalau kau mau,” sahut Minho sambil berjalan ke kamar tidur, tidak terlalu peduli dengan masalah sandal. Ia tidak melihat ke arah gadis tetangganya saat itu. Ia tidak melihat Choi Sulli tersentak dan menatap Minho tanpa berkedip. Kemudian matanya menyipit, ia mendengus pelan, dan memalingkan wajah.

* * *

“Kubilang juga apa?” seru Thunder sambil menatap Dara dengan mata lebar.

“Noona lihat? Aku benar? Memang Minho Hyung yang kulihat waktu itu di rumah sakit.” Ia menoleh ke arah Sulli, Kakek dan Nenek Kim yang menatapnya dengan penuh minat dan menjelaskan, “Aku melihat Minho Hyung di rumah sakit. Awalnya aku tidak yakin, karena dia sama sekali tidak menegurku atau menunjukkan tanda-tanda kalau dia mengenalku. Tapi sekarang kita tahu Minho Hyung hilang ingatan. Itulah sebabnya.”

“Benarkah?” tanya Sulli sambil menatap Thunder. “Kenapa kau tidak pernah berkata apa-apa padaku?”

Sulli, Dara, dan Thunder berkumpul di apartemen Kakek dan Nenek Kim untuk membicarakan pertemuan singkat mereka dengan Minho tadi. Sebenarnya Sulli sudah menceritakan tentang keadaan Minho semalam, ketika ia kembali dari acara reuni dalam keadaan bingung dan gelisah. Lalu pagi ini mereka kembali diperkenalkan kepada Minho dan Kwon Yuri. Suasana perkenalan tadi terasa agak canggung.

“Waktu itu kau tidak yakin bahwa orang yang dilihat Thunder itu Minho-ssi,” sahut Dara membela diri. “Siapa yang menyangka bahwa Minho-ssi hilang ingatan? Sekarang dia benar-benar seperti orang asing.”

“Aku pernah mendengar kasus tentang hilang ingatan, tapi kalau tidak salah orang itu sama sekali tidak ingat apa-apa. Dia lupa semuanya. Dia tidak ingat orangtuanya, bahkan namanya sendiri. memangnya orang yang bisa kehilangan hanya sebagian ingatannya? Seperti yang dialami Minho itu?” tanya Kakek Kim bingung.

Thunder mengangguk. “Sepertinya aku pernah mendengar ada kasus begitu. Sebagian ingatan kita bisa hilang kalau kita mengalami trauma atau semacamnya.”

“Trauma apa?” gerutu Dara pelan.

“Siapa wanita yang bersamanya tadi?” tanya Nenek Kim tiba-tiba.

“Temannya dari New York,” jawab Sulli pendek. Wanita yang pernah disukai Minho, tambahnya dalam hati. Dan yang mungkin masih disukainya sampai sekarang kalau melihat betapa akrabnya mereka tadi. Kening Sulli berkerut ketika ia mengingat cara Minho tersenyum kepada Yuri. Dari tadi Minho hanya berbicara kepada Yuri, membuat Sulli merasa seperti orang bodoh. Karena itulah ia tidak berlama-lama di apartemen Minho. Kedua orang itiu asyik membicarakan hal-hal yang tidak dipahaminya.

“Tapi, Sulli apakah dia sama sekali tidak ingat apa pun?” tanya Kakek Kim tiba-tiba, sepertinya belum benar-benar percaya kalau Minho tidak ingat pada mereka. “Bahkan setelah ia melihat apartemennya?”

Sulli menggeleng. “Sedikit pun tidak,” gerutunya, lalu mendesah keras. “Padahal aku berharap dia bisa mengingat sesuatu. Apa saja. Tapi…” Ia mengangkat bahu dan mendesah sekali lagi.

Keempat orang lainnya berpandangan.

“Kenapa dia tidak bisa ingat?” tanya Sulli pada diri sendiri. Keningnya berkerut. “Kenapa?”

“Jangan terlalu cemas. Kata dokter ingatannya bisa kembali kapan saja, bukan?” Dara berusaha menghibur. Seakan tidak mendengar kata-kata Dara, Sulli bergumam lirih, “Kata-katanya sewaktu di stasiun… dia juga tidak ingat lagi.” Tiba-tiba ia berseru, “Dasar bodoh! Kenapa mengatakan hal-hal yang dengan mudah dilupakannya? Membuat orang bingung!”

Keempat orang yang duduk di sekitarnya terlompat kaget, tetapi cukup bijak untuk tidak membuka mulut. Tepat pada saat itu ponsel Sulli berbunyi. Dengan gerakan tidak sabar, Sulli mengeluarkan ponsel dari saku jaket dan menempelkannya ke telinga. “Ne?” sahutnya asal-asalan, lalu raut wajahnya berubah. “Dokter?”

* * *

Yuri menoleh ke arah Minho. Laki-laki itu masih berdiri di dekat teras sambil berbicara dengan ayahnya di telepon. Tadi Minho baru menyalakan laptop-nya ketika ayahnya menelepon untuk menanyakan keadaannya. Iseng-iseng Yuri mengambil alih laptop itu dan menemukan folder yang menyimpan foto-foto hasil jepretan Minho selama di Seoul.

Foto-foto itu sudah pasti bukan foto asal jadi. Semuanya dipotret dengan teliti. Sudut, fokus, dan objek yang dipotret sangat jelas. Senyum Yuri mengembang sementara ia melihat lembaran-lembaran foto itu. Kota Seoul dipotret dengan ahli. Tapi itu bukan sesuatu yang aneh. Choi Minho tidak akan menjadi fotografer profesional yang terkenal di New York kalau hasil jepretannya tidak termasuk kategori mengagumkan.

Tiba-tiba gerakan tangan Yuri terhenti. Matanya terpaku pada foto di depannya. Foto seorang gadis berjaket hijau di tengah-tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang di jalan raya. Gadis itu berdiri membelakangi kamera, kepalanya menoleh ke samping. Wajahnya tidak terlalu jelas karena foto itu diambil dari jarak jauh. Selain sosok gadis dalam balutan jaket hijau itu, objek di sekitarnya—termasuk juga kerumunan orang yang berlalu lalang—berwarna hitam

-putih dan terlihat kabur. Bahkan Yuri pun tahu foto ini foto yang menakjubkan. Seolah-olah kamera si fotografer hanya terpusat pada gadis itu dan dunia di sekelilingnya memudar.

Foto hitam-putih yang berikut juga sangat mengesankan. Objek utamanya lagi-lagi seorang gadis yang berdiri di lorong yang tidak terlalu lebar di antara dua rak buku tinggi, dengan latar belakang jendela kaca berukuran besar. Sinar matahari yang menembus kaca dan menggelapkan sosok gadis itu. Yuri hanya bisa melihat wajah gadis itu menunduk membaca sebuah buku di tangannya. Di mana tempat itu? Mungkin di toko buku? Atau perpustakaan?

Tangan Yuri bergerak lagi, menampilkan foto lain. Foto kali ini tidak menampilkan siapa pun, hanya terlihat sebuah pintu kayu cokelat dengan tiga angka tertempel di bagian tengah atas pintu. Nomor 202. Di lantai di depan pintu terlihat sebuah kantong kertas merah muda berhias pita merah. Hadiahkah? Hadiah untuk seseorang di balik pintu bernomor 202 itu?

Dengan kening berkerut, Yuri berpikir-pikir. Pintu bernomor 202? Bukankah itu nomor apartemen Choi Sulli yang tinggal di seberang apartemen Minho? Foto berikut menegaskan kecurigaannya. Tidak diragukan lagi. Gadis di dalam foto yang ini adalah Choi Sulli. Foto close-up itu menampilkan Sulli sedang duduk bertopang dagu. Kepalanya ditundukkan ke arah buku yang terbuka di meja. Sepertinya gadis itu sedang membaca. Si fotografer mencurahkan seluruh perhatiannya pada profil Choi Sulli. Semua tentang gadis itu terlihat jelas. Mulai dari pandangan

matanya yang terlihat agak kosong walaupun terarah ke buku di meja, helai-helai rambut hitam sebahunya yang terlepas dari sanggul asal-asalan di atas puncak kepalanya, sampai tiga tindikan di telinga kanannya.

Yuri tertegun. Ia mengenal Minho dengan sangat baik. Ia tahu Minho hanya akan memotret sesuatu yang membangkitkan minatnya. Minho fotografer yang teliti, sedikit eksentrik, ia tidak akan mau membuang-buang waktu untuk memotret sesuatu yang masih dirasanya meragukan. Karena itulah semua hasil jepretannya selalu menakjubkan. Dan sekarang ia memotret Choi Sulli…

Seharusnya Yuri sudah bisa menduganya sejak ia melihat sorot mata Sulli tadi. Oh ya, Yuri tanpa sengaja memandang ke arah tetangga Minho itu ketika ia bertanya soal sandal Hello Kitty. Dan Yuri langsung mengenali kilasan kaget dan sedih di mata itu. Hanya saja saat itu ia belum benar-benar paham. Tetapi kini sepertinya ia mulai mengerti.

Matanya menangkap amplop cokelat yang terselip di antara tumpukan buku di meja. Menurut firasatnya, Yuri meraih amplop itu dan melihat isinya. Ternyata isinya adalah hasil cetakan foto-foto yang ada di laptop tadi. Minho tidak boleh melihat foto-foto ini. Pikiran itu tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya. Yuri menelan ludah dan menatap foto di hadapannya tanpa berkedip. Ia tidak bisa menjelaskan apa yang sedang dilakukannya. Ia tidak bisa menjelaskan kenapa ia melakukannya. Tanpa benar-benar berpikir panjang dan seolah-olah segalanya terjadi dalam mimpi, tangannya yang agak gemetar bergerak dan memasukkan amplop berisi foto itu ke tas tangannya yang berukuran besar. Setelah itu tangannya berpindah ke laptop tadi dan menghapus semua foto di folder itu. Begitu foto-foto itu hilang dari pandangan, hati Yuri langsung dicengkeram perasaan bersalah. Astaga, apa yang sudah dilakukannya?

“Kurasa aku akan tinggal di sini.”

Suara Minho membuat Yuri terlompat kaget. Ia cepat-cepat berdiri dan melihat Minho ternyata sudah tidak berbicara di ponsel lagi. Sambil memaksakan seulas senyum, Yuri berdeham dan bertanya, “Ne?”

Minho berjalan ke arah Yuri dan duduk di depan laptop-nya. “Aku akan tinggal di sini,” ulangnya.

Alis Yuri terangkat. “Oh? Kenapa?”

Minho mendongak menatap Yuri. “Semua barangku ada di sini. Aku hanya pusat sedikit barang di apartemen Insadong. Lagi pula,” katanya sambil memandang berkeliling, “aku merasa betah di sini.”

Yuri tidak berkata apa-apa. Perasaannya masih tidak enak. Kedua tangannya masih terasa dingin dan gemetar. Minho menoleh ke arahnya dan tersenyum, “Awalnya kukira di apartemen ini hanya ada kasur lipat saja, ternyata ada tempat tidur modern. Juga ada mesin pemanas air.”

“Yah… Kelihatannya begitu,” gumam Yuri.

“Ditambah lagi,” Minho melanjutkan dengan perlahan, “orang-orang yang tinggal di gedung ini mungkin bisa membantuku mengingat sesuatu.”

Kening Yuri berkerut. “Tapi kau bilang kau tidak akan memaksakan diri untuk mengingat. Bukankah kepalamu bisa sakit?”

“Aku tidak akan memaksakan diri,” sahut Minho.

“Bukankah kau bilang kalau tidak bisa mengingat juga tidak apa-apa?” desak Yuri lagi. “Kau bilang tidak mungkin ada kejadian penting dalam sebulan itu.”

Minho menatapnya dengan bingung. Yuri sendiri juga bingung dengan perasaannya saat itu. Kenapa ia bersikap seperti itu?

“Aku memang pernah berkata begitu,” aku Minho. Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan hati-hati, “Tapi terus terang saja, aku selalu merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu.”

Yuri menatap Minho yang kebingungan. Mungkinkah sesuatu yang hilang itu… Tidak, ia tidak ingin memikirkannya. Tidak ingin menebak-nebak dan memusingkan masalah itu. Ia tersenyum lebar dan berkata, “Aku kecewa kau merasa seperti itu.”

Minho mengangkat wajah dan menatap Yuri. “Apa?”

“Kau merasa kehilangan, padahal aku ada di sini bersamamu. Apakah itu tidak cukup?” gurau Yuri.

“Maksudku bukan begitu,” sahut Minho. Ia balas tersenyum. “Aku sangat senang kau menemaniku pada saat-saat seperti ini. Kau tahu benar aku sangat menghargaimu.”

Yuri mengangguk-angguk pelan, lalu bergumam, “Ne, aku tahu.” Ia hanya berharap ia belum terlambat menyadarinya. Setelah terdiam sejenak, Yuri mengangkat wajah dengan ragu.

“Mino-ya…”

“Ne?”

“Kau tidak mau tahu kenapa aku tidak jadi menikah dengan Taeyang?”

Hening sejenak. Minho menatap Yuri yang berjalan ke pintu kaca balkon. “Kurasa kau akan menceritakannya padaku kalau kau memang sudah siap,” sahut Minho.

Yuri berbalik menghadap Minho. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.

“Selama ini aku selalu merasa dialah orang yang bisa membuatku bahagia,” Yuri memulai dengan pelan, “tapi aku salah.”

Minho tidak berkata apa-apa. Ia bisa melihat bahwa Yuri terlihat gugup, tetapi ia memutuskan untuk membiarkan wanita itu mengatakan semua yang ingin dikatakannya dan ia akan mendengarkan.

“Orang yang selalu bisa membuatku bahagia bukan Taeyang,” Yuri melanjutkan. “Tapi Choi Minho.”

Minho sama sekali tidak menduga akan mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Yuri. Sudah lama sekali ia berharap bisa mendengarnya. Dan kini setelah harapannya menjadi kenyataan, ia bahkan tidak bisa bereaksi saking kagetnya. Ia hanya bisa diam, tercengang, dan menatap Yuri lurus-lurus, seakan ia takut wanita itu akan mulai tertawa dan berkata ia hanya bercanda.

“Aku baru sadar setelah kau pergi,” Yuri melanjutkan. Kedua tangannya saling meremas walaupun ia tetap menatap mata Minho. “Setelah kau meninggalkan New York, aku merasa semuanya berbeda. Segalanya tidak sama kalau kau tidak ada. Dan aku baru sadar aku… aku…,” Yuri menarik napas dalam-dalam, “… membutuhkanmu.”

Minho masih belum bisa menemukan suaranya. Ia masih butuh waktu untuk mencerna kenyataan bahwa Yuri membutuhkannya. Yuri sendiri yang mengatakannya. Wanita yang selama ini menjadi bagian terpenting dalam hidupnya berkata bahwa ia membutuhkan Minho.

Yuri membasahi bibir dan tertawa gugup. “Mino-ya, jangan duduk diam saja seperti itu. Katakan padaku… apakah aku sudah terlambat? Sudah terlambat menyadarinya?”

* * *

Ia memang tidak membunyikan bel, tapi ia sudah mengetuk. Dua kali, malah. Sungguh, ia tidak bermaksud mengintip atau pun menguping. Karena Minho tidak menyahut, Sulli pun membuka pintu dan langsung mendengar suara Kwon Yuri. “Orang yang selalu bisa membuatku bahagia bukan Taeyang, tapi Choi Minho.”

Kalimat itu membuat Sulli membeku dan kata-kata sapaan yang sudah akan meluncur dari lidahnya tercekat. Ia mengangkat wajah. Dari celah pintu yang terbuka, Sulli melihat Kwon Yuri berdiri di dekat pintu kaca beranda, sedang menatap Minho yang duduk di sofa.

Suara Yuri terdengar lagi. “Aku baru sadar setelah kau pergi. Setelah kau meninggalkan New York, aku merasa semuanya berbeda. Segalanya tidak sama kalau kau tidak ada. Dan aku baru sadar aku… aku…” Jeda sesaat, lalu, “… membutuhkanmu.”

Sulli tidak bisa bergerak. Matanya beralih ke Minho yang masih tetap diam.

“Mino, jangan duduk diam saja seperti itu. Katakan padaku… apakah aku sudah terlambat? Sudah terlambat menyadarinya?” Suara Yuri yang gugup terdengar lagi.

Tiba-tiba Sulli mendapati dirinya bertanya-tanya apakah ia ingin mendengar jawaban Minho. Ya… Tidak… Ya… Tidak… Tetapi sebelum ia menetapkan pendirian, ia melihat Minho bangkit dari sofa dan berjalan pelan kearah Yuri. Ia meraih tangan Yuri dan menariknya ke dalam pelukan.

Napas Sulli tertahan di tenggorokan. Matanya terpaku pada Minho yang memeluk Kwon Yuri erat-erat dan membelai kepalanya. Itu bukan pelukan sambil lalu. Bukan juga pelukan bersahabat. Itu pelukan dalam arti sebenarnya. Pelukan yang diberikan kepada orang yang dicintai. Saat itu juga Sulli mendadak merasa lemas, seakan seluruh tenaganya terserap keluar. Yang tersisa hanya rasa nyeri di dadanya.

“Mereka…?”

Sulli tersentak dan menoleh. Ternyata Sandara Park sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan dan keningnya berkerut menatap Minho dan Yuri yang berpelukan.

Sulli buru-buru menutup pintu dengan perlahan dan berbalik menghadap Dara. Dara menatapnya. “Sulli, kau tidak apa-apa?”tanyanya hati-hati.

Sulli memaksakan seulas senyum di wajahnya yang kaku. “Ya, memangnya kenapa, Eonni?” katanya cepat.

“Itu… Minho-ssi…”

“Oh, itu.” Sulli tertawa sumbang dan gugup. “Tadi aku ingin bertanya apakah mereka membutuhkan sesuatu. Tapi ternyata mereka sedang… eh, sibuk.” Sulli membasahi bibirnya. “Sebaiknya kita tidak mengganggu mereka.”

Sulli berjalan dengan cepat ke apartemennya, diikuti Dara.

“Sulli, kau masih belum sadar atau tidak mau mengaku?” tanya Dara setelah mereka masuk ke apartemen.

“Apa maksud Eonni?”

“Tentang perasaanmu pada Minho-sii.”

Sulli membuka mulut, tapi langsung menutupnya lagi. Perasaannya? Perasaannya… “Eonni-ya,” sahut Sulli setelah terdiam sejenak. “Sebentar lagi Dokter akan datang menjemputku. Aku harus bersiap-siap.”

Dara menatapnya selama beberapa detik, lalu mengangguk. Setelah Dara keluar dan menutup pintu, Sulli baru menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan pelan.

Kau masih belum sadar atau tidak mau mengaku?

Pertanyaan Dara itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Sulli sendiri tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Ia tidak mau memikirkannya. Bagaimanapun juga, setelah melihat adegan tadi, jawaban atas pertanyaan Dara sudah tidak penting sama sekali.

* * *

Setelah mengantar Yuri pulang dan mengambil sedikit barangnya dari apartemen di Insadong, Minho kembali ke apartemen lamanya. Gedung ini memang sudah tua, tapi orang memang tidak boleh menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja. Minho menyukai tempat itu dan suasananya yang sepi.

Ia ingin menyapa tetangganya dan mengabarkan bahwa ia akan kembali tinggal di sini, tetapi Choi Sulli tidak ada di apartemennya. Minho sudah membunyikan bel dan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Berarti tetangganya itu tidak ada di rumah.

“Minho Hyung?”

Minho melongok ke bawah melewati tangga dan melihat Thunder sedang mendongak ke arahnya. “Oh, Thunder.”

“Sedang mencari Sulli Noona?” tanya Thunder.

“Ne,” sahut Minho. “Tapi sepertinya dia sedang keluar.”

“Memang. Katanya dia ada janji dengan dokter itu.”

Kening Minho berkerut. “Dokter apa? Apakah Sulli-ssi sedang sakit?”

Thunder mengibaskan tangan. “Tidak, Sulli Noona tidak sakit,” katanya cepat. “Dokter itu bisa dibilang pacar Sulli Noona. Tunggu, siapa namanya? Ah! Lee Jonghyun. Oh ya, bukankah Hyung juga mengenalnya?”

Lee Jonghyun? Pacar Choi Sulli? Kerutan di kening Minho semakin dalam. Benar juga, waktu itu mereka menghadiri acara reuni bersama. Apakah Choi Sulli memang pacar Jonghyun? Sebenarnya masalah Choi Sulli itu pacar Jonghyun atau bukan sama sekali bukan urusan Minho. Mereka berdua boleh-boleh saja pacaran, tidak ada yang melarang. Tetapi kenapa Minho merasa tidak menyukai gagasan itu?

To be continue…

Nah, Part galau nih. Yang mao nabok PEMERAN PEMBANTU WANITA, silahkan. 😀 Mimin update sehari 2, soalnya bayar kemaren yang telat 2 hari gak update gegara ADC. Hehe. Hati-hati ada jebakan betmen di part2 selanjutnya, so jangan lupa tinggalkan komen. 😀

 

Advertisements

132 thoughts on “Winter in Tokyo [Korean Version] Part 15

  1. Aissss gregetannnn sma si nenek sihir,sabar baby sull cepat atw lmbat smuany akn trbongkar stelah minho kembali ingatannya.faighting babay giant.next thor wlopun ngegalauin tpi tetep daebakkkkk

  2. aish, geregetan banget ama yang namanya KWON YURI! udah ngehapus foto sulli, pake acara mesra ama minho lagi. sialnya kenapa sih lu pake lihat, sul???? ah, greget banget!

  3. Huwaa sesak nafas baca part inii,,yuri!!! AahhHhhh nyebelin!!!knpa pake muncul lagi,huhhhh,,,sulli sabar ne??minho jangan nurut bgt kek sma yuri,aish

  4. Semoga Minho cepet2 sadar deh poor Sulli. Yuri2 kenapa km mucul lg,… nyebelin ayo Sulli kasih semagat terus buat Minho sembuh jangan smp yuri ngelakuin hal2 yg tdk di inginkan.

  5. Huaaa yuri nyebelin, kenapa diapus..itu kan bisa bntu minho biar cepet inget…gpp dehh hati minho ajja selalu merasakan kehilangan sesuatu, moga cepet dehh minho sembuhnya,, kasian sulli 😦

  6. Aahhh aku nyumbang tabokan jugaaa eonn ciaaàttt
    Reseeee bener tu ceweee
    Cepet2 balik dong ingetan ming nua eonn
    Klo kya gni teruuss bisa2… ahh andweee
    Jangan sampe aku mikir yg macem2

  7. Yaampun…
    Chapter ini…
    Jantungku jumpalitan pas Minhoney meluk Yuri dan Sulli lihat itu!!!
    Sulli lihat itu!!! (۳º̩̩́Дº̩̩̀)۳
    Yuri jahara! Foto2 Sulli dilenyapkan semua… 😥 😦 😥
    Minho gak rela ya Sulli disebut pacarnya Jonghyun? Hayo, cari tau dong, Minho oppa… Kenapa bisa begitu… :3 kkk~

  8. Asli beneran jahat banget yuri!!! Dasar nenek sihir, manfaatin hilang ingatannya minhoppa buat bisa balik lagi dapetin hati minhoppa?
    Sumpah ih nyesek banget baca part ini yawloh 😭😭😭😭 nyeseknya berasa ngebayangin ada di posisi sulli 😭
    Pleaseee minhoppa buruan inget buruan sadar sebelum bisa ular bernama yuri itu meracuni seluruh dikiran dan hatimu huuaaaa 😭😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s