THE SOUL CONTROLLER [chap 7]

1

Title : THE SOUL CONTROLLER
cast : CHOI SULLI (f(x))  |  CHOI MINHO  (SHINee)  |  others
author : Devina Sandy
 length : Chaptered
 
rating : mature ;D 
Genre : Fantasy, supranatural, comedy, romantice

[chapter 1] , [chapter 2] , [chapter 3] , [chapter 4], [chapter 5] [chap 6]

Chap sebelumnya :

“Aku lebih tahu kenyataannya. Kau tak bisa membantahku.Oh ya, dia juga berbohong jika energinya masih terisi setengah. Sore ini, energinya sudah penuh dan ia siap kembali ke tubuhnya.”

“Aku pegang janjiku. Kau cukup duduk manis, dan skenarioku akan berjalan dengan ajaib. Cintaku padanya, akan membuat skenario ini berhasil, bukan gagal seperti yang kalian pikirkan.”

“A-aku… nampaknya aku…”

“Ya??”

“Na-Nampaknya aku sudah jatuh cinta padamu.”

CHAP 7 :

“Sickness”

Summary :

“BOHONG! Kau berbohong padaku! Energimu sudah penuh!”

“Aku sudah meminta maaf. Apa itu tidak cukup? Aku takkan mengulangnya lagi. Aku tdak akan berbohong lagi. Kau mau memaafkanku bukan?”

 

Jam dinding dengan aksen putih pucat yang tergantung di dinding berwarna senada di rumah kecil milik Choi Sulli tengah menunjukkan pukul 13.08 KST. Tidak ada yang istimewa di selang-selang pergantian detik ke menit dan menit ke jamnya. Benar-benar tidak ada yang spesial di hari ini dan pada 3 hari belakangan bagi kedua insan yang kini tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Sulli yang sedang fokus dengan novel R.L. Stine-nya, dan Minho yang sedang fokus dengan Sulli-nya. Oke, ini tidak adil. Sulli tidak menyadari atau mungkin pura-pura tidak menyadari jika pria bermarga Choi itu tak henti-hentinya memperhatikan dirinya sejak kemarin siang hingga berganti malam, dari malam hingga pagi, dari pagi hingga sekarang.

“Sulli-ya…”

“Hn…”

“Sebentar lagi liburan musim panas berakhir. Apa yang akan kau lakukan?”

“Kembali berkuliah.”

Alis tebal Minho timpang sebelah. Ayolah Choi Sulli, masyrakat awampun tahu jika seluruh mahasiswa harus kembali berkuliah jika liburan telah usai. Tapi maksud Minho bukan itu!

‘Apa kau tak berniat untuk mengejarku lagi Choi Sulli? Mengirim surat cinta dengan amplop pink menyala yang merusak mata? Tidak lagi kah?’ gumam Minho dalam hati.

“Maksudku… tentang kita berdua.” Balas Minho mencoba mengoreksi jawaban Sulli yang salah jalur.

“Mungkin aku akan mencoba memperbaiki nama baikku setelah terakhir kali aku dihina sebagai sasaeng fans dari seorang Choi Minho.”

Dengan susah payah Minho menenggak liur. Ia ingat betul kejadian itu. Si gadis bermulut tajam, ‘Jiyeon’ membeberkan rahasianya bersama Sulli. Menyulut api kemarahan dari jiwa-jiwa sasaeng fans Minho lainnya yang berujung pada… Sulli dijadikan adonan kue sampah, Dengan resep utama Tepung, telur, Simburan-air-entah-darimana, sampah organik, dan si kutu buku Choi Sulli sebagai bahan utama adonan.

Daaaan parahnya, Minho hanya berlalu begitu saja saat proses pembuatan adonan tersebut berlangsung. Tanpa bantuan, tanpa ada rasa peduli pada Sulli! Parah!

“Apa kau sudah makan?” Tanya Minho mengalihkan topik.

“sudah.” Sahut gadis itu singkat. masih lekat menatap huruf-huruf yang berjejer rapi di tiap lembar novel horror mahakarya R.L. Stine yang-entah-sejak-kapan Sulli menyukainya.

“Sulli-ya…”

“Hn?”

“Apa kau sudah mandi?” (Hei Minho! Ini sudah siang!)

Sulli sedikit mendengus “Sudah.”

Gadis itu ingin membuat Minho kesal rupanya. Dan itu berhasil.

“CHOI SULLI! Tatap aku jika aku bicara!”

DEG. Sulli dengan bakat acting-nya perlahan menurunkan buku tebal yang menutupi wajahnya, memasang ekspresi tak-peduli. “Wae?” jawabnya santai, lagi-lagi membuat Minho ingin membakar seluruh novel Sulli yang selalu sukses merebut perhatian Sulli darinya.

“Ada apa denganmu eoh? Belakangan ini kau mengabaikanku.”

“Itu perasaanmu saja.”

Sepasang alis Minho tertaut sempurna “Atau kau malu karena kejadian 3 hari lalu di taman bermain?”

Semburat merah seketika mencuat ke permukaan pipi Sulli. Alih-alih menyembunyikan rona merah itu, Sulli kembali mengangkat novel tebalnya hingga menutupi wajah cantik itu dengan sempurna. “Kau bicara apa. Aku biasa saja.” Bullshit! Malam itu Sulli bahkan tak bisa tidur, hingga menyisakan kantong hitam d bawah matanya saat pagi hari. Ia bahkan tak pernah melupakan semanis dan selembut apa belah bibir pria yang sedang duduk bersilang kaki di hadapannya. Sulli hampir gila malam itu.

“Hei! Kubilang tatap aku jika aku bicara! Aku lebih tua 3 tahun darimu!” Tak ada respon postif dari gadis yang dibentak olehnya. “Apa kau ingin aku membakar seluruh novelmu?”

Sulli terhenyak. Menurunkan sedikit buku yang menutupi wajahnya lagi, menyisakan sepasang mata yang menunjukkan sejuta kekhawatirannya pada Minho “Apa maumu?”

“Seharusnya aku yang bertanya begitu. Apa maumu? Kenapa belakangan ini kau mengabaikanku?”

“Apa aku harus selalu memperhatikanmu? Selalu bicara tak henti agar kau bahagia? Selalu menatap sepasang mata bulatmu? Selalu Menyentuhmu? Apa aku harus melalukan itu?!”

Oh-ya-Tuhan. Minho terdiam. Kini ia dibuat terperangah oleh Sulli yang notabennya seperti doraemon baginya yang akan mengabulkan permintaannya tanpa harus Minho memohon berkali-kali. Dan sekarang? Gadis itu mengeluh panjang lebar dengan nada kasar yang tak nyaman didengar telinga seorang roh seperti Minho. Ya, telinga roh yang peka dan sensitif.

N-ne! kau harus melakukannya! kau lupa? Energiku belum terisi penuh. Bagaimana jika aku tak bisa kembali?! jika itu terjadi, kau yang akan kugentayangi pertama kali. Dan aku akan benar-benar membakar seluruh novelmu!”

Itu Salah besar tuan Choi. Kau telah menyulut api kemarahan gadis kecil di hadapanmu.

BUUKK!

Bunyi novel yang dihempaskan Sulli ke permukaan lantai kayu berdegum keras. Buku itu jatuh tepat di samping Minho, membuat Jantungnya hampir copot. Oh! Hanya Jantung di dalam halusinasi-nya saja. Jantung asli miliknya masih dalam keadaan aman dan nyaman di rumah sakit.

“BOHONG! Kau berbohong padaku! Energimu sudah penuh!”

Eh?

 

Untuk kesekian kalinya Minho mengalami kesulitan menenggak liur. “A-aku tidak…”

“Oppa… Kau berbohong.”

.

.

.

.

Butuh sekian detik untuk mengatakannya “Maafkan aku…”

“Kau tahu persis sebesar apa aku mencintaimu. Kau juga paham bagaimana aku selalu melakukan hal apapun agar kau bahagia oppa. Aku akan melakukan apapun agar kau mendapatkan apa yang kau mau. Tapi kesetiaanku bukanlah alasan kau dengan mudahnya membohongiku dan memanfaatkanku.”

“Ta-tapi aku tdak bermaksud…” lidah Minho kelu untuk mengucapkan kata yang menurutnya terlalu sulit keluar dari mulutnya “Memanfaatkanmu…”

Sulli tersenyum. Minho tahu persis senyuman macam apa itu. Senyuman yang terlalu dipaksakan. Apa Minho sejahat itu? Membuat Sulli semarah ini padanya? “Aku tidak apa. Aku senang kau memanfaatkanku. Itu terdengar lebih baik daripada aku hanyalah sasaeng fans yang tak berguna.”

Kali ini Minho yakin, Sulli marah besar padanya. Ia tak seharusnya membohongi Sulli saat itu. Entah mengapa, perasaan bersalah itu menarik semua perasaan bersalah lainnya. Semua kesalahan yang pernah ia perbuat pada Sulli di masa lalu. Terlalu kejam, tak punya hati, angkuh… terlalu sulit untuk memohon pada gadis bersurai pendek itu untuk memaafkan semua kesalahannya. Sangat sangat sulit, hingga menarik nafaspun terasa begitu sulit bagi Minho. “A-aku sungguh-sungguh minta maaf.” Kepalanya tertunduk lesu, tak miliki keberanian untuk sekedar menatap sepasang iris milik Sulli yang begitu menyedihkan untuk ia pandang.

           Inikah penyebabnya? Selama 3 hari ini gadis itu mengabaikannnya? Ia marah? Oh, ayolah… Minho tahu betul bagaimana caranya agar Sulli kembali tersenyum. Tapi… kenapa kali ini tangannya gemetar? Kerongkongannya mengering dan Matanya terasa perih. Ia rasa sesuatu yang buruk akan menimpanya.

“Oppa tidak perlu meminta maaf. Karena semuanya sudah berakhir.”

apa?!

 

“Aku sudah meminta maaf. Apa itu tidak cukup? Aku takkan mengulangnya lagi. Aku tdak akan berbohong lagi. Kau mau memaafkanku bukan?”

Salah besar.

“Entahlah…” ucap Sulli sayup-sayup. Pandangannya lurus ke luar jendela. Sedikit memicingkan mata kecilnya saat silau matahari menembus jendela dan menyengat permukaan pipinya. Matanya sedikit berair. “Aku rasa, mulai dari sekarang aku harus membencimu oppa.”

Minho kehilangan kata-kata. Dibenci oleh Seseorang yang baru saja membuatnya jatuh cinta? Ia takkan membiarkannya. Minho terkekeh pelan “Sulli-ya, jangan bercanda.”

Lagi-lagi Minho harus melihat senyum palsu itu terpatri di wajah cantik kekasihnya. “Mianhae oppa, aku tidak bercanda. Aku sedang mencoba bangkit, aku tdak ingin tenggelam dalam perasaanku. Aku tak ingin hati ini masih terpaut padamu sedang kau… akan melupakanku begitu saja.”

Itu benar! Sulli benar Minho! Ia tak boleh menghabiskan masa hidupnya untuk memujamu. Sedang kau akan menganggapnya debu pasir tak berharga. “Ta-Tapi masih ada waktu 3 hari lagi Sulli-ya. Masih ada 3 hari lagi hingga hari ulang tahunku. Bisakah kita menghabiskan waktu yang tersisa ini bersama-sama atau kita cari jalan keluarnya bersama?”

“Tidak ada jalan keluar.”

“Pasti ada!”

“Oh, ya. Ada. Kita harus saling melupakan satu sama lain.”

“Sulli-ya… aku masih membutuhkanmu.”

“Tidak lagi. Energimu sudah penuh oppa. Mulai sekarang Kau boleh pergi dari rumah sempit ini.”

Nafas Minho tercekat. Apa barusan Sulli memintanya pergi? “Sulli-ya… Kau mengusirku?”

.

.

.

Tak ada jawaban.

Yang Minho dapati hanyalah bunyi angin yang menelusup dari jendela. Mengiring padanya aroma Jasmine dari tubuh Sulli yang mungkin akan ia rindukan. Minho anggap arti diam Sulli itu adalah, ‘iya’. Tak butuh waktu lama bagi Tuan Choi, memilih tetap tinggal dan kembali memohon pada gadisnya , atau membawa jiwa putus asa itu pergi dari sana dan kehilangan harapan dan cintanya.

Ia memilih beranjak dari sana, melangkah lesu hingga ia sampai di depan pintu dan kembali menoleh pada Sulli yang masih menerawang ke luar jedela. “Ini akan terdengar aneh… tapi kau harus tahu jika di mata pria ini, kau bukan lagi sasaeng fan. Kau jauh lebih berharga. You are my soul controller. Terima kasih untuk semuanya Choi Sulli, aku mencintaimu.”

Setelah mengungkapkan beberapa kalimat barusan Minho harap punggung kecil itu berbalik menatap mata sendunya. Namun nihil. Sulli seolah tak peduli, seakan langit biru lebih menarik untuk dipandang ketimbang Minho yang akan pergi meninggalkannya. Minho tersenyum, menurutnya ini adalah pembalasan yang setimpal. Kaki jenjangnya mengayun pergi. Semakin lama, semakin cepat. Hingga di luar kesadarannya, Minho tengah berlari kencang. Jauh meninggalkan Sulli dan kediamannya. Mereka kini terpisah mungkin untuk selamanya mungkin juga tidak.

Sulli, gadis itu bertopang dagu di kisi jendela. Dibiarkannya bulir-bulir air mata terus jatuh membasahi wajahnya. “Aku bahkan lebih mencintaimu oppa. Tapi ini sudah waktunya.”

.

.

“Tapi kau melakukannya dengan cara yang salah.”

Sulli terhenyak. Ia yakin betul, suara barusan bukan suara yang berasal dari kerongkongan Minho. Itu… lebih mirip dengan suara malaikat menyebalkan yang seringkali muncul tiba-tiba dimanapun dan kapanpun tak peduli situasinya.

Ya, Sulli tidak salah tebak. Heechul tengah menyandarkan bahu di pintu masuk rumahnya lipatan tangan di depan dada bidangnya menambah kesan dingin pada parasnya.

“Aku sudah melakukannya. dan sekarang beri aku waktu sebentar, aku masih….” Sulli menghela nafas saat sesuatu yang menyakitkan menyergap dadanya “… Masih terluka.”

“Apa kau yakin tidak ingin melhat bocah itu kembali dengan sukses ke tubuhnya?”

Sulli menggeleng lesu. “Itu hanya membuatku semakin tak rela melepasnya. Begini lebih baik.”

“Jadi kau yakin betul ya, Minho pasti berhasil setelah apa yang kau lakukan barusan padanya…”

Entah apa yang dipikirkan Sulli sebelumnya, hingga saat kalimat tersebut muncul dari mulut Heechul, gadis itu menautkan sepasanga alis tipisnya kebingungan. “Maksudmu? Energinya sudah penuh. Tak ada yag perlu kukhawatirkan lagi-kan?.”

“Mungkin awalnya info ini tidak penting. Di lain sisi, cenayang itu tidak memberitahu kalian sebelumnya atau ia benar-benar tidak tahu ada satu lagi syarat agar bocah itu benar-benar kembali dengan sukses ke tubuhnya.”

“Seingatku yang ia butuhkan hanya energi.”

“Ada satu lagi.”

Sulli membenarkan posisi duduknya yang terasa makin tidak nyaman “Apa itu?”

“Keyakinan. Saat ada rasa ragu sedikit saja, ia dipastikan gagal kembali ke tubuhnya. Ia membutuhkan keyakinan.” Heechul menelusur ekspresi wajah Sulli dengan matanya. Tersirat ketidakpercayaan disana. “… Dan kau barusan membuat keyakinannya memudar. Rasa bersalahnya padamu membuat rasa ragu itu mencuat keluar. Choi Sulli, kau bertanggung jawab atasnya.”

Sulli beranjak dari posisinya. Sejenak ia merasa tubuhnya akan rubuh ke lantai, penglihatannya semakin memudar. Air mata yang sejak tadi telah berhenti mengalir kini menetes lagi dan lagi. Ia tak habis pikir dirinya mengambil keputusan seceroboh ini, tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu pada Heechul terlebih merencanakannya. Ia hanya terbawa emosi, mengira jika ia mengusir Minho pergi Minho akan melupakannya dan FIN! semua rencananya berjalan lancar. Ternyata ia salah, salah besar.

“Sekarang apa yang harus aku lakukan? Seoul lebih luas dari telapak tanganmu Heechul-Ssi, bagaimana aku menemukannya?”

“Tenang, apa guna statusku sebagai malaikat jika tidak bisa membantumu eoh?” ujar tuan Kim itu sembari mengulurkan tangannya. “Kita akan mencarinya, kajja.”

*****

Tidak ada yang menyadari keberadaan Minho seorangpun. Tak ada yang meliriknya bahkan saat pria jangkung itu beberapa kali menghapus aliran air mata di pipi tirusnya.

Tak ada satupun yang menegurnya, saat ia tanpa peduli menyebrangi jalan raya dengan mobil-mobil yang lalu lalang dengan kecepatan tinggi.

Tak ada seorangpun yang menyentuh pundaknya lembut saat ia menelungkupkan wajah di lutut dan duduk di gelapnya sisi jalan raya yang padat akan penduduk yang sibuk dengan urusan pribadinya masing-masing.

Tak ada yang peduli, tak ada yang mengenalnya, terlebih lagi… tak ada yang melihatnya.

Selama lebih dari sebulan ia tinggal di sisi Sulli, ia merasa begitu hidup. Rutinitasnya saat Bersentuhan dengan lembutnya permukaan kulit Sulli yang berkilau di bawah mentari pagi, menggengam hangat telapak tangan halus nan kecilnya, saling melemparkan senyum satu sama lain, saling bertatapan bertukar perasaan, mengobrol dari hal yang tidak penting sama sekali untuk dibahas hingga persoalan rumit yang terkadang membuat perselisihan kecil di antara mereka.

Minho sangat merindukannya, merindukan Sulli.

Baru kuarang lebih tiga jam ia pergi dari rumah sang gadis, namun ia merasakan sudah bertahun-tahun terpisahnya darinya. Karena Minho tahu persis apa yang akan terjadi jika ia kembali ke tubuhnya.

Hilang. Semua tentang Sulli hilang.

Senyum cerianya, sentuhan lembutnya, manis bibirnya, omelan kecilnya, semua hilang seperti kapur yang terhapus bersih dari papan tulis. Tak tersisa, hilang tak lebih dari sekedar debu yang terbawa angin. Kenangannya bersama Sulli, hilang.

Bersama Sulli, ia tak pernah menyadari eksistensinya sebagai roh. Ia merasa normal, bahagia, penuh warna. ada keraguan terbersit di benaknya “Haruskah aku kembali atau tetap tinggal?”

Tiba-tiba memori bersama Sulli beberapa hari lalu kembali terulang, saat ia mencium gadis itu dan kemudian berjanji. janji untuk tetap mengingat Sulli saat ia membuka matanya sebagai seorang Choi Minho yang nyata dan eksis sebagai manusia. Ya, dia berjanji. dan janji seorang pria harus ditepati.

Minho mengadahkan wajahnya ke langit yang semakin menghitam di atasnya, menyamakan keadaan dengan suasana hatinya yang kacau. “Bodohnya, kenapa aku harus menyerah. Aku harus mencari jalan keluar. Harus.”

*****

            “Hosh… Hosh…” deru nafas kelelahan keluar dari sela-sela bibir Sulli yang setengah terbuka. Mencoba menghirup dan memompa oksigen lebih banyak lagi ke dalam rongga dadanya setelah ia berlari entah-sekencang-apa sejak kakinya melangkah dari bus yang menurunkannya di sisi jalan raya. Gadis itu tak peduli saat gerimis yang bertubi-tubi menyerangnya membuat kemeja hitam katun yang ia kenakan mulai basah. Selama suhu disekitarnya masih dapat bekerja sama dan tak membiarkan jar-jari lentiknya membeku, ia dapat mentolerir kehadiran gerimis itu dengan senang hati. Gerimis di musim panas, keuntungan baginya.

            Kaki jenjangnya mulai melangkah sedikit ragu melewati gerbang kayu menjulang dengan tempelan mantra disana-sini yang membuat Sulli menyunggingkan senyum sarkatik saat memandang benda-benda kuning bertintah merah-hitam tersebut. Ayolah, apa benda ini berfungsi? Minho bahkan berulang kali melewati jimat ini bukan?

            “Oh, gadis ini ternyata datang kemari juga.” Gumam wanita renta yang kini berdiri di selasar kayu rumah tradisional kebanggannya demi menyambut kehadiran Sulli.

‘juga?’

            “Apa maksudmu Minho baru saja pergi dari tempat ini?” selidik Sulli. Keduanya saling bertukar pandang, hal yang tak disukai Sulli karena terasa sangat janggal baginya.

            “Buat apa bertanya kalau sudah tahu.”

            Kan? Sulli sudah katakan, wanita berdarah campuran belanda ini menyebalkan. “Aku hanya memastikannya. Heehul bilang ia ada disini. Apa aku terlambat?”

            “Ia sudah pergi setelah mendapatkan informasi yang ia inginkan. Dasar bocah merepotkan.” Keluh madam Jenny tanpa mempedulikan kehadiran Sulli sebagai kekasih Minho yang merasa risih saat pujaan hatinya disebut-sebut sebagai bocah.

            “Mmmh… informasi apa yang ingin ia dapatkan darimu?”

            Madam jenny terkekeh nyaring seraya menutup mulut agar suara tawanya tidak benar-benar menyakiti gendang telinga Sulli. Dengan mulut ditutup pun wanita itu sudah mampu membuat Sulli merasakan sakit hati entah-apa-penyebabnya hanya dengan mendengar suara tawa mengerikan itu. Cukup berlebihan memang. “Kau tidak tahu? Dia tidak membicarakannya padamu terlebih dahulu eoh? Kukira kalian sudah sangaaaat dekat! Ternyata tidak seperti kenyataannya ya…”

Ok, fine! SULLI TIDAK SUKA ORANG INI!

            “Aku tidak butuh presepsimu tentang aku dan Minho.” Sulli memilih membalikkan badan dan kemudian masuk dalam terjangan gerimis yang kembali membasahi pakaian terlebih tubuhnya kecilnya. Tak ayal ia segera kabur dari hadapan wanita tua itu sebelum emosinya memuncak dan mengeluarkan caci-maki yang tak seharusnya ia lontarkan pada wanita yang jauh lebih tua darinya. Tapi madam Jenny sudah keterlaluan….

            Air mata Sulli jatuh bersama gerimis dan emosinya yang terpendam. bercampur pada genangan kecil di tanah yang mulai terlihat basah karena tetesan demi tetesan yang jatuh perlahan dari langit. “Aku tidak seburuk itu…”

‘Kau benar. Kau tidak seburuk itu.’

Sulli mendongakkan wajah. Mengedar pandangannya ke seluruh penjuru jalanan. “Kau dimana Heechul-Ssi?”

‘Aku tidak ada dimanapun. Aku hanya ada dipikiranmu.’

“Oh. Itu sedikit mengejutkanku.”

‘Maaf membawamu ke tempat yang salah. Sekarang Minho ada di rumah sakit. Temui ia disana.’

            Sulli tidak memerlukan intruksi lebih kompleks lagi untuk segera melangkahkan kakinya mencari tumpangan bus yang akan membawanya pada Minho. Sulli menarik nafas panjang seraya menghapus bulir air mata yang jatuh di pipinya dengan punggung tangannya yang sudah basah karena gerimis. “Oppa… aku hanya ingin kau bahagia. Sungguh.”

*******

            Derap langkah Sulli bergema di lorong-lorong sunyi yang tak menandakan sedikitpun kehidupan disana. Gelap, pengap. Ia terus berlari membawa jiwanya yang ketakutan dan terus mencari letak ruangan dimana tubuh tak berdaya Minho tergelatak di atas ranjang besi nan kokoh khas rumah sakit yang terakhir kali ia ingat. Insting dan sedikit dari ingatannya menuntun kaki lemah itu terus berlari. Hingga ia sampai pada koridor penuh penerangan dan aroma alkohol serta antseptik menguar menusuk indera penciumannya. Dokter dan perawat terlihat lalu lalang, tempat ini jauh lebih baik dari lorong sebelumnya yang ia lalui.

Sulli menghebuskan nafas lega. Ia ingat betul koridor ini. Tempat dimana untuk pertama kalinya ia melihat pria yang ia cintai dalam bentuk lain, roh. Dan untuk pertama kalinya juga Minho merasakan degupan keras di dadanya saat menyentuh Sulli.

Sulli melirik satu persatu papan nomor yang tergantung di masing-masing pintu kamar. Matanya terfokus pada pintu dengan papan nomor 3 yang terlihat sedikit kusam. Sebuah papan lain tergantung disana memuat beberapa huruf yang memuat informasi pasien penghuni kamar tersebut.

“CHOI MINHO 22 thn” eja Sulli pelan. Tangannya mulai bergerak meraih kenop pintu seraya matanya bergerak menelusur isi kamar melalui kaca tembus pandang yang terpasang di bagian pintu. Tangannya berhenti untuk mencoba membuka pintu saat apa yang ia lihat seolah menghentikan saraf motorik di otaknya.

“Taemin oppa…” bisik Sulli yang dapat dipastikan takkan terdengar sedikitpun oleh sang empunya nama. Sulli mengurungkan niat untuk masuk mencelos ke kamar tersebut dan memilih mengintip apa yang dilakukan pria cantik bernama Taemin dari sisi luar pintu. Taemin tengah memangku gitar akustik kesayangannya, memetik senar gitar memainkan sebuah nada berirama lembut yang Taemin kira mampu menenangkan jiwa seseorang yang tengah tertidur pulas di hadapannya.

Dentingan gitarnya terhenti saat ia kini merasa lelah memandang tubuh lemah itu dengan pemasok oksigen yang bertengger rapi menutup bagian hidung dan mulut. Tak lupa jarum yang tak pernah lepas dari lengannya. Taemin lelah. Ia benci saat hyung kesayangannya terlihat begitu lemah tak berdaya seperti apa yang ia lihat teronggok rapi di atas ranjang besi itu.

“Tak ada niat untuk segera bangun hyung?”

            Tak ada jawaban

            “Hey… jawab aku.”

            Kim Taemin, apa kau sudah gila?

 

            Taemin tidak gila dan ia juga tidak akan menangis. Ia adalah seorang pria dewasa sekarang.

            Ternyata Taemin salah besar. Ia belum benar-benar dewasa saat air mata kini jatuh dari pelupuk mata dan mengalir di pipinya. “Hyung… bangun lah. Aku lelah melihatmu seperti ini. Ini bukan kau. Choi Minho yang sebenarnya akan berlari kencang di lapangan dan menggiring bola hingga mencetak puluhan gol! Bukannya bermalas-malasan di tempat tidur hingga hampir sebulan. Hyung! Bangun!”

            Kewarasan Taemin perlu diragukan.

            Taemin mengusap pipinya kasar, mengusir air mata itu pergi dari wajahnya. “Lagipula aku ingin memberitahumu tentang Sulli. Itu mmh… gadis yang selalu mengganggumu. Di-dia sahabatku. Kami bertemu 6 tahun lalu di rumah sakit ini.” Taemin menghembuskan nafas melalui kedua belah bibir ranumnya

            “Saat itu aku dan bandku perform kecil-kecilan di rumah sakit ini untuk sekedar menghimbur dan menyemangati para lansia dan anak-anak. Diuar dugaan aku dipertemukan dengan Sulli oleh seorang perawat disana. Awalnya jantungku hampir lepas saat Sulli datang dan mengulurkan tangannya padaku. Ia cantik sekali tanpa kaca mata tapi masih dengan perban yang melilit di kepalanya, terlihat seperti bidadari yang baru saja kecelakaan saat mendarat di bumi.” Kini Taemin terkekeh pada dirinya sendiri. Diletakkannya gitar yang sedari tadi ia pangku ke sisi ranjang dan mengambil nafas untuk kembali bercerita.

            “Saat itu aku senang sekali, aku kira Sulli menyukaiku karena suaraku bagus. Tapi lagi-lagi diluar prediksiku, ia membungkuk sangat dalam dan mengucapkan terima kasih berkali-kali hingga membuatku bingung. Ia kembali menjelaskan bahwa perawat tadi mengenal wajahku dengan sangat baik karena aku cukup terkenal. Perawat itu mengingatku sebagai salah satu yang menyelamatkannya saat kecelakaan itu terjadi. Kau tahu? aku kehilangan kepercayaan diriku sejak saat itu.” Taemin menopang dagu dengan kedua telapak tangannya. Kembali mengukir senyum cerah dan melupakan air mata yang baru beberapa menit lalu membasahi wajah tampannya.

            “Sulli bilang ia memimpikan penolongnya saat ia koma hampir selama 3 bulan. Dan parahnya hyung… ia yakin betul itu bukan diriku! Karena pria dalam mimpinya itu jauh lebih tinggi! Lagi-lagi aku kehilangan kepercayaan diri karena ucapannya.” Taemin dengan kesal menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi yang ia duduki.

“Tapi hatiku terenyuh saat Sulli meminta maaf karena ia benar-benar tak bisa melihat wajahku. Ia bilang matanya rusak parah, dan aku sangat-sangat prihatin. Sejak saat itu aku lebih sering berkunjung ke rumah sakit untuk menemuinya. Aku ingin mengajakmu pergi, tapi ia melarangku. Karena ia pasti akan gugup setengah mati jika kau datang. Waaaaah, aku iri!”

            Sepasang alis hitam Taemin tertaut sempurna. Matanya memicing tajam pada sosok yang terbaring lemah di hadapannya “Hey, aku sudah bersusah payah bercerita tentang hal ini. Kau sudah mendengarkanku dengan baik bukan? Iyakan?”

            Mulai dari sekarang Taemin perlu dokter jiwa untuk dirinya sendiri.

            “Jadi, aku tidak mau tahu ya hyung. Saat kau bangun nanti, kau harus segera datang menemui Sulli dan meminta maaf padanya.” Taemin kehilangan kata-kata untuk melanjutkan lagi tutur panjang lebarnya. Ia tahu persis jika ia hanya tengah bicara pada hembusan angin dan Minho takkan pernah mengangguk mengiyakan perintah konyolnya. Taemin hanya sedang… lelah.

            Sulli mengamati dari balik kaca tanpa dapat mendengarkan sedikitpun pembicaraan satu arah Taemin terhadap udara kosong atau mungkin terhadap pendingin ruangan yang terus menderu nyaring di kamar rawat inap Minho. “Apa yang sedang ia bicarakan? Lama sekali…”

Sulli kembali menilik seluruh sudut ruangan dan menarik kesimpulan Minho versi roh tak ada disana kecuali Minho versi raga yang selalu setia menempel erat di tempat tidurnya. Sulli kembali mengamati Taemin yang kini tengah terdiam menatap Minho. Sulli tersenyum tipis “Kelihatannya mereka berdua sedang mengisi moment berharaga ya? Dan kelihatannya mereka tidak sedang ingin diganggu.” Otak kanan Sulli segera memerintahkannya untuk memindahkan kaki-kaki jenjangnya dari tempat itu. Sebelum Minho versi roh hilang-lenyap entah pergi kemana lagi. “Oppa… kau ada dimana?”

*******

            Sepasang tungkai lemah gadis itu sudah terlalu lelah menopang tubuhnya. Sulli berjalan lunglai bak pasien rumah sakit yang sehabis melakukan operasi usus buntu. Seharian ini sejak-tadi-siang ia belum mengganti kemeja hitam dan celana jeans biru ketatnya. Ia bahkan dapat mencium aroma tidak menyenangkan yang meneyeruak dari dalam pakaian yang ia kenakan. Dan parahnya malaikat yang sudah berjanji akan membantu Sulli itu tak kian memunculkan batang hidungnya atau bahkan sekedar berbisik di dalam kepala Sulli seperti yang pria aneh itu lakukan sebelumnya. Kendati kepalanya akan terasa pecah ia tetep bersikukuh dapat menemukan Minho malam ini dan memohon pada pria bermata bulat itu untuk ikut pulang bersamanya.

kaki-kakinya terus terayun menyusuri setapak demi setapak ruas kota Seoul. Pikirannya kosong. Entah pergi kemana isi kepalanya.

apa mungkin….

Minho membawa pergi isi kepalanya?

Jangan bodoh Sulli, itu tidak mungkin.

Tapi sejak Minho pergi, mengumpulkan konsentrasi dan berpikir dengan jernih adalah hal-hal tersulit yang dapat ia lakukan sekarang.

‘Mau pergi kemana?’

Langkah Sulli terhenti. “Menurutmu?”

‘Apa Kau lelah?’

“Sangat. Ah, tidak. Anggap saja aku masih bugar hingga aku menemukan Minho.”

‘tegar sekali. Tapi tetap saja ini salahmu karena sudah mengusirnya.’

“Bisakah kau berhenti memojokkanku dan mulai tunjukan dimana Minho sekarang berada?”

‘Kau selalu datang disaat dia pergi. Kau benar-benar tidak berjodoh dengannya.’

“Just help me please… can you?”

“Baiklah… bocah itu sekarang sedang duduk manis di taman hiburan tempat terakhir kali kalian pergi berkencan. Ingat kan?”

Sulli memutar bola mata. Bagaimana ia bisa melupakan tempat paling indah itu. Angan-angan yang bahkan tak pernah terlintas di kepalanya pernah terjadi disana, Minho mencium bibirnya.

Tanpa mengucapkan kata terima-kasih Sulli melenggang pergi seolah Heechul benar-benar tak ada disana. Heehul hanya terkekeh, mengingat eksistensinya tak pernah dihiraukan oleh Sulli.

*****

Tak ada yang bisa menghentikan langkah dinamis Sulli. terlalu cepat untuk seorang gadis yang sudah terlalu lelah dan kehabisan tenaganya. Ia melalui gerbang menjulang taman hiburan yang penuh dengan umat yang mencari keceriaan di tempat tersebut. Sayangnya Sulli tidak punya misi yang sama dengan populitas pengunjung taman. Ekspresinya tak sama dengan anak-anak yang saling melempar tawa atau dengan sepasang kekasih yang saling menyuapkan gula-gula kapas.

Sulli mencari Minho. Pria yang hidupnya bisa saja berakhir na’as jika Sulli selalu salah mengambil keputusan. Mencari Choi Minho yang notabennya hanyalah sosok jiwa yang menggantungkan segalanya pada Sulli. dan dengan bodohnya ia sudah mengusir roh tanpa tempat tinggal dari rumah kecil nan hangat miliknya.

Bodoh, bodoh, bodoh.’

Kalimat itu sudah ratusan kali teruntai keluar dari mulutnya sejak Minho pergi dari sisinya.

Sulli terus melanjutkan langkah menuju tempat indah yang beberapa hari lalu pernah ia tunjukkan pada kekasihnya. Ia tak tahu persis bagaiamana keadaan tempat itu di malam hari, berhubung Sulli jarang sekali keluar dari istana bobroknya jika hari telah menunjukkan semburat hitamnya.

            Dari kejauhan Sulli dapat menangkap sosok Pria yang tengah duduk menyandarkan punggung pada kursi kayu di bawah pohon besar yang sesekali meneteskan air dari dedaunannya yang basah karena gerimis yang dengan setia jatuh dari langit. Tubuh tegapnya bermandikan Temaram cahaya bulan yang bukan merupakan penerang satu-satunya di tempat itu. Cahaya kekuningan yang berasal dari lampu taman ikut turut andil menyinari tubuh sang pria yang duduk dalam kesendiriannya.

            Sulli memperpendek jarak keduanya. Di jarak sedekat ini dengan bibir jurang yang cukup curam, membuat Sulli mau tak mau menengokkan wajahnya ke bawah dan ia hanya terperangah saat melihat betapa indahnya pemandangan kota Seoul saat di malam hari. Gemerlap cahaya warna-warni lampu kota lebih menderang dibanding kilau ratusan bintang di langit yang tertutup awan hitam.

Tapi pemandangan ini lagi-lagi tidak kompitable dengan pria murung yang tengah menatap udara hampa yang sedikitpun tak bergeming menyambut kehadirannya.

            “Choi Minho…”

            Kendati Sulli yakin nama barusan adalah pemilik punggung itu, sang pria tak menyahut barang menoleh sedikitpun. Sulli tak punya banyak pilihan selain mendudukkan dirinya di sisi sang pria.

            “Oppa… aku minta maaf. Kita pulang, kajja.” Sulli menyentuh lembut punggung tangan pria yang ia yakini sebagai roh Minho, mencoba mengirim sinyal agar Minho terenyuh dan mengikuti intruksinya untuk ikut pulang bersamanya. Ke istana kecil mereka, rumah Sulli.

Diluar dugaan, Minho menepis tangan Sulli secara lembut “Aku tidak ingin pulang bersama orang yang membenciku.”

Ha?!

 

“Aku tidak pernah membencimu barang sedikitpun.”

“Lalu kenapa memintaku pergi padahal aku tak ingin? Kau ingin balas dendam kah?”

“Itu tidak benar…” Suara gadis itu tercekat di tenggorokannya. Sulli benci jika harus dituduh sesuatu yang bahkan tak pernah terjadi dalam hidupnya.

“Apa sekarang sudah cukup?”

Lagi-lagi pertanyaan Minho terlalu ambigu untuk Sulli jawab. Keningnya mengkerut dalam tak mengerti apa yang Minho pertanyakan. “Maksudmu?”

“Apa sekarang balas dendam-mu sudah berakhir?”

DEG

Sulli meraih wajah Minho, menangkup permukaan pipinya yang dingin dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Suhu kontras yang saling mengisi kekosongan satu sama lain. Sulli mengukir senyum seiring menitiknya air mata yang menggenang di kedua sudut matanya. “harus kukatakan berapa kali jika aku tidak membencimu? Aku tidak pernah mencoba balas dendam sekalipun kau telah beribuan kali memperlakukanku dengan buruk.”

“Lalu jangan pernah lakukan ini lagi. Apa kau tahu–,” Minho menggenggam lembut tangan Sulli dan menuntunnya pada dadanya yang sudah terasa sakit sejak ia pergi meninggalkan Sulli “–Baru kali ini aku merasa aku benar-benar sudah mati. Maka jangan pernah lakukan itu lagi, rasanya benar-benar menyakitkan.”

Sulli terisak saat debaran bertalu dari rongga dada Minho sampai ke indera peraba di seluruh telapak tangan hangatnya “Kumohon Maafkan aku. Aku takkan melakukannya lagi. Kembalilah ke rumah kecilku. Kau mau kan oppa?”

“Tidak mau–”

Sulli tersentak. Semarah itukah Minho?

“—sebelum satu kecupan di sini.” Sambung Minho seraya menunjuk-nunjuk belahan bibirnya yang sudah dimonyong-monyongkan sedemikian rupa agar terliat lebih menarik *iiiieeeuhh*

“Yak! Apa kau bercanda?!”

BUKK!

Satu tinjuan sukses mendarat di dada bidang Minho. Menghentikan pose ‘monyong’ yang sudah ia atur sedemikian rupa tadinya.

“Appow… Aku serius.”

“Apanya yang serius eoh?”

“Itu… sejak aku pergi dari rumah, aku banyak menangis. Aku terus-terusan merasa dadaku sesak, dan tubuhku terasa begitu lemah. Apa energiku menguap?”

Mwo?? Apa bisa begitu?!”

“Tentu saja bisa! Jadi, relakanlah untukku sebuah kecupan.”

Sulli menelisik ke balik sorot mata Minho. Sulli sedikit tertegun menemukan kantong mata yang menghiasi bagian bawah sepasang mata bulat pria pujaannya. Apa benar ia menangis sebegitu banyaknya? Sesuatu yang hangat mendesir di dada Sulli, seolah menuntunnya untuk mendekat pada Minho. Sulli mencondongkan badannya dan menarik tubuh Minho dalam rengkuhan lembutnya. “Berpelukan lebih baik daripada berciuman.” Bisik Sulli di depan kuping Minho yang terlihat mulai memerah.

“Kau benar… ini lebih baik.” Minho mengeratkan pelukannya di pinggang Sulli. meletakkan dagunya di bahu gadis itu dengan manja “Tapi ngomong-ngomong… kapan terakhir kali kau mandi?”

Senyum Sulli yang awalnya merekah tanpa henti tergantikan sebuah dengusan dan mulai menarik kembali tubuhnya ke posisi semula hingga tangan Minho menariknya kembali dalam dekapannya. “Ayolah… aku hanya bercanda.”

“Lepaskan aku. Ayo kita pulang. Ini sudah malam, dan bajuku setengah basah karena gerimis.” Sulli mencoba melepas pelukan possesif Minho dari tubuh rampingnya. Ia menarik nafas lega karena Minho melepaskannya tanpa perlawanan.

“Sulli-ya ada yang ingin kukatakan padamu. Aku mencari tahu ini dari Madam Jenny.” Ujar Minho seraya menatap Sulli dengan sejuta keseriusan terkandung dalam sorot matanya.

“Apa itu? Apa yang dikatakannya?”

Kedua sudut bibir Minho tertarik ke atas, membentuk seulas senyuman yang tak dapat Sulli artikan “Aku akan memberi tahumu nanti.”

TO BE CONTINUED

Wuaaaaaahhhh abaaaallll…. maafkan author readerdeul atas-lagi-lagi keterlambatan dalam mengupdate ff. Tapi sekali lagi, author memang sedang sibuk dan minggu depan author bakal ngadepin Ujian Akhir. Soo, mohon doanya ya ^^

 

Dan, kemarin kami apara author dan admin juga dikejutkan pada komen seorang reader yang bilang :

Kalo memang ff kami bagus, ngapain di password?

Terus ngapain juga kesal kalo reader ga nge-review/ninggalin komen, itukan tanda kalo ff author itu ga bagus.

 

Dan pikiran aku pas baca itu komen : “Ya ampun. Dia author apa bukan sih? Kalo dia author dia bakal tahu gimana rasa capeknya nulis. Oke, nulis itu hobi. Dan hobi itu ga bikin capek. Tapi readerdeul, ga sepanjang hari kita Cuma ngetik kan? Author juga punya real life. Paling nyatanya aja KULIAH, banyak tugas dan bikin laporan yang ga tau kapan berakhirnya.T.T dan asal reader tau, author selalu ngetik 2-10 paragraph ff author setelah author bikin laporan. Walau ngantuk, walau capek. Itu semua supaya kalian senang. :’)

Jadi, kesimpulannya… author Dhev ga akan pernah berhenti menghimbau reader UNTUK MENINGGALKAN JEJAK/REVIEW dari SETIAP FF yang kalian baca, siapapun itu authornya. Di dalam maupun diluar page ini. Biasakan untuk menghargai karya orang lain. Jika kalian rasa karya itu ga/kurang bagus, kalian seharusnya beri review dimana letak kesalahan author. BUKANNYA JADI SILENT READER.

Maaf kalo di chap ini author malah cuap-cuap ga jelas. So, jangan ngebash author di page ini kaya gitu lagi ya. Sedih loh… 😥

Akhir kata, author Dhev mengucapkan terima kasih banyak, dan tolong kesediaan komentarnya, karena ff ini akan tamat di chap 9. Sekian dear, see u at next ff! ❤

183 thoughts on “THE SOUL CONTROLLER [chap 7]

  1. bener banget tuh kata Heechul, seharusnya Sulli tidak berperilaku kyk gitu.. liat kan dah Minho oppa nya pergi.. kan kasihan..;( kalo gak bisa balek ke tubuh aslinya gimana..? tapi sih kyknya bakal balek deh, terus inget ngak ya dia sama Sulli..? next aja dah..

  2. penasaran banget,.,kira” apa yg bakal di omongin minho ke sulli ya? kira2 ntar minho bisa balik ke badannya atau gak,juga., kalo bisa balik inget ama sulli ga yah,., oppa jangan sampe lupain sulli eonie ya,., tpi jga jangan lupain aku hehe 🙂
    oh iya,. sabar ya eonni author..memang setiap orang memiliki kepekaan yang berbeda.. dan mungkin dia emang gak peka. makanya bilang gitu,. kalo dia tau,. pasti dia bakal laku’in hal yang sama. oh ya,., eonni maaf ya.. aku gak bisa ngasih coment disemua chapter,., soalnya aku biasa ke warnet,. terus aku juga menghemat waktu,,. kan aku kewarnet buat nyari tugas.

  3. haaaahhh….seruuuuu
    maaf baru ninggalin jejak..aq reader baru disini bru nemu blog ini da langsung suka sma ff ini…critanya daebak dan bkin pnasaran..
    slalu bertanya2 apa sulli itu udh mninggal atau blum ? sbenarnya apa rahasia terbesar sulli itu ?
    krna trlnjur kseruan bca ff ini jdi aq blum smpet ninggalin jejak di chap sbelumnya…hhe mohon dimaklum…
    jdi lnjut trus yaaa author !!

  4. Sulli membohongi dirinya,ia bersikap acuh taj acuh..huft..
    untung aja ada heechul yg mengatakan pada sulli bahwa minho harus mempunyai keyakinan agar dia bisa masuk lagi ke raganya..

    Kasihan sulli harus kesana memari mencari minho,untung saja ketemu dan mereka baikan lagi hehe

    Penasaran banget sama chap selanjutnya..

  5. Haaaaaa…..
    Sedih pas Minho ninggalin Sulli….
    Tapi lebih sedih lagi ketika part Taemin…
    Malahan ketika part Taemin aku sampai nangis…
    Tapi untung ada Heechul..
    Jadi Sulli bisa sadar dan kembali mencari Minho..
    Akhirnya,mereka ketemu lagi…
    Tpi aku penasaran apa yang diketahui Minho dari madam jenny???
    Semangat ya eonni..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s