WIT [Part 22]

newWinter

Winter in Tokyo [Part 22]

Novel by Ilana Tan

Choi Sulli || Choi Minho || Lee Jonghyun || Kwon Yuri || Sandara Park || Thunder MBLAQ || Lee Soo Man || OC

Genre : Sad/Hurt, Romance, Drama , Friendship

Lenght : Chaptered

Rate : Semua umur

A/N : Annyeong Readerdeul. Part kali ini gak mimin Protect loh. Baik kan ?? 😀 Karena yang bakal Mimin Protect adalah PART END. Chapter 23. XD #KetawaSetan. Seperti yang udah kalian tahu, kenapa mimin mem Protect FF ini. Alasennya masih sama. Cuma biar gereget aja yang ini gak di protect. Buat masalah ijin dll, kalian yang rajin minta PW juga udah tahu kan alesannya lah. Okelah kalau begitu, silahkan di komen 1 Chapter mendekatin Ending ini. Happy Reading.

Dua Puluh Dua

PUTIH. Hanya itu yang dilihatnya ketika ia membuka mata.

Setelah mengerjap beberapa kali, Minho baru sadar yang dilihatnya adalah langit-langit kamar. Kelopak matanya terasa berat, pandangannya masih agak kabur, kepalanya sakit. Di mana dia? Di rumah sakit? Apa yang…?Ah, ia ingat. Perkelahian itu. Lee Hyuk Jae kembali menyerangnya. Dan Sulli. Di mana gadis itu? Apakah ia baik-baik saja?

“Kau sudah sadar?”

Minho menggerakkan kepalanya ke arah suara. Wajah Lee Soo Man terlihat di samping tempat tidurnya. “Paman?” gumamnya serak.

“Aku senang kau masih mengingatku.” Lee Soo Man tersenyum lega. “Kurasa kau juga sadar bahwa kau berada di rumah sakit.”

“Sulli?” tanya Minho dan berusaha bangkit.

“Tunggu, tunggu,” cegah pamannya dan menahan bahu Minho. “Pelan-pelan saja.”

Minho duduk dibantu pamannya. “Di mana Sulli? Bagaimana keadaannya?”

“Sulli?” Tanya Lee Soo Man bingung. “Maksudmu gadis yang dibawa ke sini bersamamu itu? Dia baik-baik saja.”

“Di mana dia sekarang?”

“Tadi dia di sini. Perawat baru saja membujuknya kembali ke kamarnya sendiri. Dia harus banyak istirahat,” sahut pamannya ringan. Melihat sorot mata Minho yang tiba-tiba cemas, ia cepat-cepat menambahkan, “Percayalah. Dia tidak apa-apa. Kata dokter dia sudah boleh pulang besok. Sedangkan kau harus tinggal di rumah sakit beberapa hari lagi.”

Merasa tenang mendengar Sulli baik-baik saja, Minho mengembuskan napas perlahan dan tersenyum. Kemudian ia tertegun dan menatap pamannya. “Paman, sudah berapa lama aku di sini?”

Pamannya tersenyum lebar. “Tidak selama yang waktu itu. Kau hanya pingsan beberapa jam. Hebat, kan? Apakah mungkin itu berarti kau sudah kebal dihajar?”

Minho tertawa, dan langsung meringis ketika wajahnya terasa sakit. Ia melirik jam dinding. Belum tengah malam.

“Kenapa Paman masih ada di sini?” tanyanya heran. “Bukankah jam besuk sudah lewat?”

“Tentu saja sudah lewat,” balas pamannya sambil tertawa. “Tapi aku membujuk perawat memperpanjang waktu kunjunganku. Perawat di sini baik-baik. Untunglah kau segera sadar, kalau tidak, aku harus menelepon ibumu dan mengabarkan bahwa kau dikeroyok lagi. Ibumu pasti akan langsung terbang ke sini dan menyeretmu kembali ke New York tanpa banyak omong.”

Minho meringis. “Tapi Paman belum menelepon Ibu?”

“Kupikir, untuk apa membuat ibumu khawatir sebelum kita tahu hasil yang pasti? Bagaimanapun juga, sekarang kau sudah sadar dan sepertinya kau sangat baik.”

“Ya, tapi badanku sakit semua.” Minho terdiam sejenak, lalu berkata, “Orang-orang itu…”

“Polisi sudah menahan orang-orang yang menyerangmu itu,” sela Lee Soo Man. Nada suaranya berubah serius. “Mereka juga yang menyerangmu pada Hari Natal waktu itu.”

Minho mengangguk.

“Aku tidak ingin kau merisaukan masalah ini…” Pamannya tersenyum menenangkan. “Aku sudah menghubungi pengacaraku dan dia yang akan mengurus semuanya. Yang perlu kau lakukan sekarang hanyalah mengurus dirimu sendiri. Setelah merasa cukup sehat, kau harus memberikan pernyataan kepada polisi.”

Minho mengangguk lagi. “Bagaimana dengan Sulli?”

“Kurasa polisi sudah berbicara kepadanya.”

Kening Minho berkerut samar. Ia tidak suka Sulli harus menghadapi polisi sendirian. Seolah-olah bisa membaca pikiran Minho, Lee Soo Man berkata pelan, “Kau tidak perlu khawatir. Aku meminta pengacaraku menemaninya saat itu.”

Minho menarik napas panjang. “Terima kasih, Paman.”

“Gadis itu… Sulli,” Suara pamannya terdengar agak ragu, “… dia gadis yang kubilang mirip Jinri.”

Minho menatap pamannya dengan pandangan bertanya.

“Dia gadis yang pergi ke pertunjukan balet bersamamu pada malam Natal itu,” kata Lee Soo Man.

Minho tersenyum. “Ya. Dia saudara kembar Jinri.”

Alis Lee Soo Man terangkat. “Benarkah?”

Minho memejamkan mata, namunia masih tetap tersenyum. “Dia lahir lima menit setelah kakak kembarnya. Dia tidak bercita-cita menjadi model. Dia senang bekerja di perpustakaan, suka membaca buku, suka mengomel dalam bahasa Indonesia, dan suka menonton balet. Pikirannya juga suka melantur ke mana-mana. Dia takut gelap dan tidak bisa memasang bola lampu…”

“Dan kau menyukainya,” gumam Lee Soo Man pelan sambil tersenyum mengerti.

Minho menatap pamannya. “Apa?”

Lee Soo Man menggerakkan dagunya ke arah meja kecil di samping tempat tidur. “Aku sudah melihat itu.”

Minho menoleh ke arah yang ditunjuk dan melihat amplop besar. “Apa itu?” Lee Soo Man meraih amplop itu dan menyerahkannya kepada Minho.

“Mereka menemukan ini di balik swetermu. Amplopnya yang lama sudah basah dan robek, tapi foto-fotonya masih bisa diselamatkan.”

Minho tersenyum memandangi foto-foto yang diberikan Yuri kepadanya. Foto-foto yang diambilnya ketika ia baru saja tiba di Seoul, termasuk foto-foto Sulli.

“Dan ini Sulli-mu, bukan?” tanya Lee Soo Man sambil menunjuk salah satu foto. “Kau tidak akan memotret seperti itu kalau kau tidak menyukainya.”

* * *

Beberapa jam setelah pamannya pulang, Minho masih terjaga di ranjangnya. Tubuhnya memang terasa lemah, tetapi ia sangat sadar, otaknya terang benderang, dan ia tidak bisa tidur. Mungkin sebaiknya ia pergi melihat Sulli. Memastikan gadis itu memang baik-baik saja.

Minho turun dari ranjang dengan perlahan, meringis sedikit ketika kakinya menginjak lantai dan harus menopang tubuhnya. Ia berjalan tertatih-tatih ke pintu, membukanya, dan melongokkan kepala ke luar. Tidak ada siapa-siapa di koridor yang diterangi lampu itu. Kamar Sulli tidak jauh dari kamar Minho sendiri. Ia sudah bertanya kepada pamannya tadi, jadi ia tidak akan kesulitan menemukan kamar Sulli.

Kamar Sulli memang tidak jauh, tetapi Minho membutuhkan waktu lima belas menit untuk berjalan ke sana. Tentu saja karena ia sesekali harus berhenti sejenak untuk menarik napas atau mengistirahatkan ototnya yang sakit. Menjadi orang lemah dan sakit memang menyebalkan.

Perlahan-lahan dan tanpa suara Minho membuka pintu kamar Sulli. Di kamar yang diterangi lampu kecil di meja sudut, Minho melihat Sulli terbaring pulas di ranjang. Gadis itu berbaring menyamping, sebelah pipinya disandarkan ke bantal, dan selimut ditarik sampai ke dagu.

Minho berjingkat-jingkat menghampiri ranjang. Ia berhenti di samping ranjang dan memandangi gadis yang terlelap itu. Sepertinya tidak ada luka, pikir Minho setelah menatap wajah Sulli dengan saksama. Ia baik-baik saja. Syukurlah.

Minho duduk di kursi di samping ranjang. Ia menarik napas dan mengembuskannya pelan. Kini ia bisa bernapas lebih mudah. Kegelisahan yang tanpa sadar dirasakannya sejak tadi mulai menguap dari tubuhnya. Ia merasa lega.

Ia berkata pada diri sendiri bahwa ia hanya akan duduk di sana sebentar. Hanya sebentar. Namun kenapa waktu terasa begitu cepat berlalu, walaupun ia hanya duduk di sana tanpa melakukan apa-apa selain memandangi wajah Sulli yang sedang tidur?

* * *

Tadinya Jonghyun bermaksud mampir ke kamar Sulli dan melihat keadaan gadis itu. Walaupun Sulli dibawa ke rumah sakit dalam keadaan pingsan, tidak lama kemudian gadis itu sadar dan langsung menanyakan keadaan Minho.

Flash Back on

“Minho tidak apa-apa,” hibur Jonghyun. “Dia memang belum sadarkan diri, tapi keadaannya sudah stabil. Dia pasti bisa bertahan. Jangan khawatir.”

Sulli masih terlihat cemas, tetapi ia tersenyum kecil. “Aku tahu,” gumamnya. Lalu ia mendongak menatap Jonghyun. “Boleh aku melihatnya?”

Jonghyun mengantarnya ke kamar rawat Minho. Saat itu paman Minho ada di sana, jadi Jonghyun memperkenalkan mereka berdua.

“Kukira semua keluarga Minho-sii sudah pindah ke New York,” kata Sulli setelah memberi hormat kepada pria yang lebih tua itu dan acara perkenalan berlalu.

Lee Soo Man tersenyum. “Rupanya dia tidak pernah bercerita tentang aku?”

“Oh, aku tidak bermaksud…”

“Tidak apa-apa. Sudah kuduga pasti begitu,” sela paman Minho ringan.

Sulli beralih menatap Minho yang terbaring di ranjang. Kepala dan kaki kiri Minho dibebat.

“Keadaannya stabil,” gumam Lee Soo Man, menjawab pertanyaan Sulli yang tidak diucapkan. “Dia baik-baik saja.”

Sulli mengangguk.

“Kalau tidak keberatan, maukah kau menemaninya sebentar?” tanya Lee Soo Man. “Aku harus menelepon seseorang.”

Tentu saja Sulli tidak keberatan. Tapi setelah menyatakan kesediaannya, ia baru berpaling ke arah Jonghyun, baru teringat Jonghyun masih berdiri di dalam kamar itu juga.

“Dokter tidak perlu menemaniku,” katanya perlahan. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya akan duduk di sini sebentar. Hanya sebentar.”

“Baiklah,” kata Jonghyun setelah berpikir sejenak. “Tapi jangan ragu-ragu memanggilku kalau ada apa-apa.”

Sulli tersenyum yakin. “Baiklah.”

Setelah itu Jonghyun meninggalkan Sulli yang duduk di kursi di samping ranjang Minho.

 

FlashBack End

Kini, Jonghyun berdiri tertegun di pintu kamar rawat Sulli yang terbuka sedikit. Matanya menatap sosok Minho yang duduk di kursi di samping ranjang Sulli. Minho hanya duduk di sana, dengan kedua tangan disandarkan ke masing-masing lengan kursi, kakinya yang dibebat diselonjorkan ke depan. Ia tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk di sana memandangi Sulli yang sedang tidur.

Karena tidak ingin mengganggu, Jonghyun kembali menutup pintu tanpa suara dan berjalan menjauh dari kamar rawat Sulli. Sebenarnya ia sudah merasakannya sebelum ini, hanya saja ia masih belum yakin atau ia tidak mau mengakuinya. Tetapi dari apa yang dilihatnya tadi, semuanya sudah jelas. Ia hanya perlu menerimanya.

* * *

Minho tidak tahu jam berapa ia kembali ke kamarnya sendiri, tetapi ia akhirnya bisa terlelap. Dan ketika ia terbangun keesokan harinya, matahari sudah bersinar cerah walaupun rasa dingin di luar sana tetap menusuk tulang.

Tidak ada siapa-siapa di kamarnya. Mungkin pamannya baru akan datang siang nanti. Apakah Sulli sudah bangun?

Minho bermaksud pergi mencari gadis itu. Tetapi ketika ia sedang berusaha bangkit dari ranjang, pintu kamarnya terbuka. Ia mengangkat wajah, berharap melihat Sulli, tetapi ternyata bukan.

“Yuri?”

Kwon Yuri menyerbu masuk dan bergegas menghampiri ranjang Minho. “Tadi aku pergi mencarimu ke apartemenmu dan salah seorang tetanggamu memberitahuku tentang penyerangan itu. Jadi aku langsung ke sini,” katanya cemas, sebelum Minho sempat bertanya.

“Mino-ya, kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?”

“Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir,” kata Minho menenangkan. Ia memberi isyarat supaya Yuri duduk, tetapi wanita itu mengabaikannya karena sepertinya ia terlalu cemas. Lalu Minho menjelaskan secara garis besar apa yang terjadi kemarin malam.

“Mengerikan sekali,” gumam Yuri di akhir penjelasan Minho.

“Tapi aku akan segera sembuh,” tambah Minho. “Jonghyun juga bilang yang harus kulakukan hanya istirahat yang cukup. Setelah itu aku akan sembuh total.”

Yuri masih terlihat cemas.

“Oh ya, kenapa kau mencariku?” tanya Minho, teringat bahwa Yuri pergi mencarinya ke apartemen. Akhirnya Yuri duduk di kursi di samping ranjang. “Oh, aku hanya ingin memberitahumu pelatihanku di Seoul sudah berakhir dan besok aku akan pulang ke New York.”

“Oh, ya? Cepat sekali waktu berlalu.”

“Tapi aku bisa tetap tinggal di sini kalau kau membutuhkanku. Maksudku, karena sekarang kau masih sakit.”

Minho menggeleng. “Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Dan aku tidak mungkin merepotkanmu.”

Yuri tersenyum kecil. “Sama sekali tidak repot. Itu gunanya teman, bukan?” sahutnya. Ia terdiam sejenak. “Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Sulli-ssi?”

Raut wajah Minho melembut. “Dia diizinkan pulang hari ini,” sahutnya sambil tersenyum.

“Senang mendengar dia juga baik-baik saja.”

Minho mendesah dan memandang ke luar jendela. “Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kurasa aku…”

“Ne?”

Minho menatap Yuri, baru sadar kalau tadi ia sudah mengucapkan apa yang sedang dipikirkannya. Ia menggeleng dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Lupakan saja.”

“Mino-ya.”

“Mm?”

“Kau yakin dengan perasaanmu terhadap Sulli-sii?”

“Maksudmu?”

Yuri mengangkat bahu dengan bimbang. “Bukan apa-apa. Maksudku, kau tidak mengenalnya dan kau sama sekali tidak ingat apa pun tentang dia, tapi tiba-tiba kau bilang kau menyukainya. Bukankah kedengarannya gegabah?”

Minho mendongak menatap langit-langit. “Ingatanku bisa saja bermasalah,” gumamnya pelan, “tapi aku tahu apa yang kurasakan.”

“Apa yang kau rasakan?”

“Kau ingat ketika kita menghadiri acara reuni SMP-ku bulan lalu?” Minho menoleh ke arah Yuri. Ketika yang ditanya mengangguk, ia melanjutkan, “Saat itulah pertama kali aku melihatnya setelah aku hilang ingatan. Dia sedang berdiri di seberang ruangan. Dan ketika dia menatap ke arahku, jantungku serasa berhenti berdegup. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi saat itu… aku merasa sangat senang melihatnya.” Minho berhenti sejenak dan mengangkat bahu. “Kedengarannya konyol, bukan?”

Yuri menarik napas perlahan, lalu tersenyum. “Tidak. Sama sekali tidak konyol.”

“Saat itu aku sangat bingung dengan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya,” lanjut Minho dengan nada melamun. “Maksudku, aku sama sekali tidak mengenalnya. Tidak ingat apa pun tentang dirinya. Tetapi aku selalu ingin melihatnya.”

“Akhirnya kau berpikir dulu kau mungkin pernah menyukainya,” gumam Yuri.

“Ya. Saat itu aku memang berpikir begitu,” aku Minho. “Tapi sekarang aku tahu memang begitulah kenyataannya.”

Alis Yuri terangkat sedikit. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia berkata pelan, “Ingatanmu sudah kembali.”

* * *

“Sulli-sii.”

Sulli yang sedang dalam perjalanan ke kamar Minho berhenti melangkah dan menoleh ketika mendengar suara Lee Jonghyun. “Dokter,” sapanya sambil tersenyum lebar dan membungkuk. “Selamat pagi.”

Lee Jonghyun menghampiri Sulli. “Bagaimana keadaanmu pagi ini?”

“Sangat baik. Terima kasih atas bantuannya.”

Jonghyun tersenyum kecil. “Sudah menjadi kewajibanku untuk menolong orang sakit,” sahutnya ringan. Ia berpikir sejenak sebelum melanjutkan, “Sulli-sii, aku ingin meminta maaf atas semua yang terjadi…”

“Dokter,” sela Sulli cepat, “apa pun yang dilakukan sepupu Dokter tidak ada hubungannya dengan Dokter. Jadi Dokter tidak perlu meminta maaf untuk apa pun. Aku yakin Minho-sii juga akan mengatakan hal yang sama.”

Jonghyun menarik napas panjang. “Aku hanya berharap aku bisa membantu.”

“Dokter sudah banyak membantu dengan memberikan informasi kepada polisi,” kata Sulli. “Itu tindakan yang sangat berani.”

Jonghyun menatap lurus ke mata Sulli. “Aku sungguh tidak ingin kau terluka.”

Alis Sulli terangkat sedikit, tetapi ia tetap tersenyum. “Dokter, aku tidak apa-apa. Sungguh. Bukankah Dokter sendiri yang bilang begitu?”

“Benar. Kau memang benar. Aku hanya berharap…” Jonghyun ragu sejenak. Ia menatap Sulli dan tersenyum kecil. “Aku hanya berharap akulah yang melindungimu saat itu.”

* * *

“Kau tidak perlu mengantarku, kau tahu?” kata Yuri ketika Minho bangkit dari ranjang dan ingin mengantarnya ke luar. “Kau masih belum cukup sehat untuk berkeliaran.”

“Tidak apa-apa. Aku juga butuh olahraga,” sahut Minho mantap. “Lagi pula hanya sampai ke lift.”

Begitu tiba di depan lift, Yuri berbalik menghadap Minho. “Oh, ya, hampir saja lupa,” katanya sambil tersenyum dan merogoh tas tangannya. Ia mengeluarkan kotak kecil yang terbungkus kertas ungu. “Untukmu,” katanya Yuri dan mengulurkan kotak itu ke arah Minho.

“Apa ini?”

“Cokelat,” sahut Yuri pendek. “Happy Valentine’s Day.”

Alis Minho terangkat. “Valentine’s Day? Sekarang bukan tanggal 14 kan?”

Yuri tersenyum. “Tanggal 14 nanti aku sudah tidak ada di Seoul, jadi kuputuskan untuk memberikannya sekarang,” katanya, lalu masuk ke lift dan melambaikan tangan.

Setelah pintu lift tertutup, Minho berbalik, hendak kembali ke kamarnya, tetapi langkahnya tiba-tiba berhenti dan ia menoleh. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat Choi Sulli, yang saat itu masih mengenakan piama rumah sakit, berdiri berhadapan dengan Lee Jonghyun.

Minho melihat tangan Jonghyun memegang kedua bahu Sulli, sepertinya sedang mengatakan sesuatu. Sulli mendongak menatap laki-laki itu, tersenyum, dan mengangguk. Lalu Jonghyun melambaikan tangan dan berjalan pergi.

Sulli sendiri berputar dan berjalan ke arah kamar rawat Minho. Sedetik kemudian gadis itu mengangkat wajah dan menatap Minho. Matanya melebar dan senyumnya berubah cerah. Apakah gadis itu gembira karena melihatnya atau gembira karena baru bertemu dengan Jonghyun? Batin Minho.

“Minho-sii,” seru Sulli dan bergegas menghampiri Minho. “Kau benar-benar sudah sadar.”

Minho menunduk menatap gadis itu dan tersenyum lebar. Setiap kali melihat gadis itu tersenyum, ia tidak bisa menahan diri untuk ikut tersenyum. “Aku sudah sadar sejak kemarin malam,” katanya, “tapi tentu saja kau tidak tahu karena kau tidur seperti bayi.”

Sulli balas menatapnya dengan mata yang juga disipitkan. “Apa maksudmu aku tidur seperti bayi?” katanya, terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Ngomong-ngomong, kenapa kau jalan-jalan sendirian? Ayo, kembali ke kamar.”

Minho membiarkan dirinya dituntun Sulli kembali ke kamar rawatnya. “Aku bosan,” gerutunya. “Dan aku benci rumah sakit.”

Mereka masuk ke kamar dan Sulli mendorong Minho ke ranjang. “Kalau kau mau cepat-cepat keluar dari sini, kau harus istirahat. Luka-lukamu masih belum sembuh benar, tahu. Memangnya kau mau lukamu bertambah parah dan tinggal di sini lebih lama lagi?”

Minho duduk di tepi ranjang dengan patuh, lalu menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. “Kau juga duduk di sini.”

Sulli menurut. Ia duduk di samping Minho di ranjang dan menatap laki-laki itu.

“Minho-sii… Gomawo.”

“Huuum? Untuk apa?”

Sulli menggeleng. “Karena aku, kau jadi terluka seperti ini. Bagaimana kepalamu? Sakit sekali?”

“Kau tidak perlu mencemaskanku,” kata Minho. Ia mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh luka memardi pipi Sulli. Sentuhannya ringan, tetapi Sulli meringis karena kulitnya masih terasa nyeri.

“Masih sakit?” tanya Minho dengan nada khawatir. Setelah menahan napas sesaat, Sulli memaksa dirinya menghirup napas dengan normal dan menggeleng. “Sepertinya kau lebih kesakitan daripada aku.”

Minho menurunkan tangannya dan tersenyum. “Aku tidak apa-apa. Aku kuat. Luka begini saja sama sekali bukan masalah.”

Alis Sulli terangkat. “Bukan masalah? Kau tahu betapa takutnya aku sewaktu orang-orang itu tidak mau berhenti memukulimu? Dan aku tidak bisa membantumu. Tidak bisa melakukan apa-apa. Dan ketika polisi datang, kau tidak bergerak. Kukira kau… Kukira…” Mata Sulli berkaca-kaca. Ia mengerjap, lalu mengalihkan pandangan-nya ke depan, dan menarik napas panjang.

Minho tertegun. Ia menatap Sulli sesaat, lalu mengulurkan tangan meraih tangan Sulli dan meremasnya. “Maafkan aku,” gumamnya. “Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi.”

* * *

Sulli sendiri tidak menyangka ia akan mengucapkan kata-kata itu. Tetapi semua itu benar. Saat itu ia memang sangat ketakutan. Bukan takut pada orang-orang kasar itu, tetapi takut mereka akan melukai Minho. Yang dipikirkannya saat itu adalah bagaimana kalau Minho celaka? Bagaimana kalau Minho tidak bisa bangun lagi? Selama-lamanya? Sulli menggigil memikirkan kemungkinan itu.

Saat itu Minho menggenggam tangannya dan berkata pelan, “Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi.”

Sulli menahan napas, mengangkat wajah, dan menatap Minho. Laki-laki itu tersenyum kepadanya dan meremas tangannya, meyakinkannya bahwa ia tidak perlu cemas. Benar, pikir Sulli. Aku tidak perlu cemas. Minho baik-baik saja. Laki-laki ini kini ada di sampingnya. Dan itulah yang terpenting.

“Ngomong-ngomong, apa itu?” tanya Sulli sambil mengalihkan perhatian ke arah kotak kecil di ranjang Minho.

“Oh, cokelat. Hadiah Valentine dari Yuri,” sahut Minho ringan.

Alis Sulli terangkat. “Yuri-sii? Tadi dia ke sini?” tanyanya.

Minho mengangguk. “Dia hanya sebentar di sini.”

“Oh.” Hanya itu yang bisa dikatakan Sulli. Ia tidak ingin bertanya untuk apa Yuri datang ke sini. Walaupun Minho pernah berkata ia tidak punya hubungan istimewa dengan Kwon Yuri, tetap saja itu bukan urusan Sulli.

“Dia datang untuk mengatakan dia akan pulang ke New York,” kata Minho tanpa ditanya. “Masa pelatihannya sudah selesai.”

“Oh?” Sulli agak kaget mendengarnya. Tanpa bisa mencegah dirinya, ia bertanya,

“Apakah Minho-sii juga…?”

“Aku akan tetap di sini. Bersamamu,” kata Minho sambil menatap lurus ke arah Sulli. Seulas senyum kecil tersungging di bibirnya. “Apakah kau mau menerimaku?”

Kenapa Sulli tidak bisa bernapas? Kenapa ia tidak bisa bergerak? Ia balas menatap Minho dan ia bisa merasakan jantungnya berdebar keras. Akhirnya, ia memutuskan untuk menganggapinya sebagai gurauan. “Karena hanya aku yang mau memasak untukmu?” tanyanya sambil tersenyum lebar.

Minho terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Tiba-tiba ia bertanya, “Ngomong-ngomong, aku melihatmu bersama Jonghyun tadi.”

Agak kaget dengan perubahan arah pembicaraan yang tiba-tiba ini, Sulli mengerjap, lalu bertanya heran, “Ya. Kenapa?”

“Apa yang kalian bicarakan?”

Sulli tidak langsung menjawab. Lalu ia menunduk dan berkata, “Tidak ada yang penting.”

Minho berdeham. “Kau… berencana memberinya cokelat? Pada Hari Valentine nanti, maksudku.”

Sulli mengerutkan kening, lalu tertawa kecil mendengar pertanyaan aneh itu. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk memberikan cokelat kepada Lee Jonghyun pada Hari Valentine.

“Kau akan memberikan cokelat kepadanya?” Suara Minho terdengar lagi.

Sulli tersenyum sendiri dan menggeleng. “Tidak.”

“Kalau untukku?”

“Apa?” Sulli mengerjap dan menatap Minho.

Minho tersenyum lebar. “Bagaimana kalau kau membuat biskuit yang sama seperti yang pernah kau berikan kepadaku Hari Natal lalu? Enak sekali.”

Mata Sulli melebar. Apa? Biskuit? Hari Natal lalu? Tunggu… Jadi…? Ia tidak berani berharap, tapi…

“Aku sudah ingat,” kata Minho, seolah-olah menegaskan apa yang dipikirkan Sulli.

“Kau sudah ingat?” ulang Sulli tidak percaya. “Semuanya?”

Minho mengangguk. “Semuanya.”

Sejenak Sulli tidak berkata apa-apa, hanya menatap Minho tanpa berkedip. Ia ingin mencerna apa yang baru saja dikatakan Minho kepadanya. Ia ingin merasa yakin ini bukan mimpi.

Minho menatapnya dengan alis terangkat. “Sulli-ya, kenapa diam saja? Aku benar-benar sudah ingat semuanya. Tidak percaya?” Ia memiringkan kepala dan mengerutkan kening, seolah-olah sedang berpikir. “Aku ingat kau mengendap-endap di depan pintu apartemenku pada hari pertama aku tiba di Seoul. Aku ingat kau pernah bermalam di apartemenku karena lampu di apartemenmu tidak bisa menyala. Oh, jangan menatapku seperti itu. Kau memang bermalam di apartemenku walaupun kau tidak suka dengan istilah itu. Aku ingat kencan kita pada malam Natal, pertunjukan balet, lalu kita pergi ke arena seluncur es…”

Tiba-tiba saja, tanpa berpikir dua kali—tanpa benar-benar berpikir, Sulli melingkarkan kedua lengannya di leher Minho dan memeluknya erat-erat.

Sekujur tubuh Minho masih sakit dan ia harus menahan diri untuk tidak meringis atau mengaduh ketika Sulli tiba-tiba memeluknya dan hampir membuatnya terjungkal ke belakang. Tetapi bagaimanapun juga, ada saatnya ketika rasa sakit sama sekali tidak penting. Misalnya sekarang, ketika Choi Sulli memeluknya untuk pertama kali.

“Kau sudah kembali,” gumam Sulli di bahu Minho. “Kau sudah kembali.”

Minho tersenyum, menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya dengan pelan. Ia merasa lega. Sangat lega. “Aku sudah kembali,” gumamnya lirih. “Apakah kau juga akan kembali kepadaku?”

Sulli tertegun. Lalu ia mundur sedikit dan menatap Minho.

Tiba-tiba pintu kamar rawat Minho terbuka dan langsung disusul oleh suara Sandara Park. “Dia pasti ada di kamar Minho. Nah, kubilang juga… Lho, kalian sedang apa?”

Sulli tersentak dan buru-buru menjauh dari Minho. Wajahnya terasa panas.

“Eonni-ya, kau sudah datang. Oh, Kakek dan Nenek juga.”

“Aku juga datang!” seru Thunder yang masuk belakangan. “Wah, Minho Hyung sudah sadar?”

“Ingatan Minho-sii sudah kembali,” kata Sulli.

Dan kamar yang tadinya terasa agak sepi itu pun berubah ramai.

“Benarkah? Itu berita yang sangat bagus, Sulli.”

“Kita harus merayakannya begitu Minho keluar dari rumah sakit.”

“Hyung, apakah ingatanmu kembali gara-gara kejadian kemarin? Maksudku, karena kepalamu dipukul sekali lagi… Aduh! Noona, kenapa kepalaku dipukul?”

“Karena kau tidak peka. Siapa suruh kau mengungkit-ungkit masalah itu? Ngomong-ngomong, kalian berdua, tentunya kalian sudah tahu mataku tajam dan aku selalu yakin dengan apa yang kulihat. Benar? Jadi mulailah menjelaskan apa yang kulihat tadi ketika aku baru masuk.”

To be continue…

1 part sisa. Komen-komen. 😀

 

 

68 thoughts on “WIT [Part 22]

  1. Alhamdulillah akhirnya Minho sudah inget semuanyaaaa ..
    Semoga jonghyun mau deh iklasin sulli dan nerima keadaannya
    Yuri selamat tinggal bay baaayy. XD
    Yaappp sandara eonni , introgasi hubungan merekaaaa
    Hehe makasih eon kali ini gak diprotex eonni emangg baaaaaaiiiiikkkkkkk tau
    Next capterr end yaaa

  2. OMG Akhirnya semuanya menjadi lebih jelas.. Aku mau dengar pernyataan minho tentang cinta pertama sulli itu, apakah benar dia adalah minho?
    Tinggal satu part lagi menuju happy ending, semangat ya ^^

  3. hua senengg bgt …akhirny minho ingat semuanya dan bersatuuu.,

    jonghyunnn pay pay…. haahahaha
    wah dara eonni. g3 moment minsul aja….
    minsul ketahuan dara eonni lg pelukann kwkwkwkk
    liat tuuuu muka y sulli kyk kepiting rebuss ❤

  4. aduh, so sweet banget sih part ini…. aku jadi senyam-senyum sendiri. dilanjutin nggak ya? udah, tembak sulli, minho!
    next dong min…..

  5. “Apakah kau juga akan kembali kepadaku?”
    wowowowow. yes yes xD happy ending, happy ending akan segera hadir 😀 peran antagonis atau penusuk dari belakangnya untung kagak terlalu jahat wkwk SKINSHIPnya dari dulu ora ana .___.v itu yang paling inti dari semua FF 😮 part 23 part 23 ditunguuuu 😀 eonni dea fightiiiiiinnnngggg ^^

  6. yeeyyeyeeyy minho udah inget, yeyeye… Ucapkan selamat tinggal deh ya buat Kwon Yuri, ama Lee Jonghyun, paipaiii 😀

    Aduh ga kuat deh kalo liat Minho kata kata nya udah seromantis itu, ayo cepet jadian 😀

    Nah loh kepergok ama Sandara eonnie lagi pelukan, ayo jelasin ke mereka, biar mereka ga penasaran knp ming oppa ama ssul eonnie pelukan, kekkke~~ 😀
    aku tiba-tiba berharap ini novel jd drama korea, “Winter In Tokyo “Korean Version”” emang bener bener bagus nih karya Ilana Tan B-)

    ditunggu eon next chapnya ^_^

  7. Syukur kepada tuhan karena ingatan minho kembali sedia kala minho dpt mengingat smuanya tentang sulli. Dan utk jonghyun ikhlaskan saja sulli utk minho krn mereka saling mencintai. Minho juga menanyakan apakah kau akan kembali padaku? Lanjut thor penasaran sekali critanya

  8. Ahaaay deuuhhh
    Ming udah balikkk
    Kirain bakal ada konflik lagi pass si buyur dateng hahhahaa
    Sull ama jjong ngomong apa tadi #ming kepo nohh weww

    Dara langsung ajahh minta konfirmasii noohhh, udaah jadiin aja lah sekarang #lirikMinsul

  9. Akhirnyaaaaa akhirnya mimhoppa sadar juga dan malaham udah inget semuanya huaaaa :’) seneng banget deh chukaee oppa 😙😙😙
    Minsul ayodong cepet jadian jangan tunda tunda lagi buat nyatain perasaan masing2 tar keburu dipepet orang lagi bahaya wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s