THE SOUL CONTROLLER [chap 8]

1
Title : THE SOUL CONTROLLER
cast : CHOI SULLI (f(x))  |  CHOI MINHO  (SHINee)  |  others
author : Devina Sandy
 length : Chaptered
 
rating : mature ;D 
Genre : Fantasy, supranatural, comedy, romantice

[chapter 1] , [chapter 2] , [chapter 3] , [chapter 4], [chapter 5] [chap 6] , [chap 7]

CHAP 8 :

“I am affraid”

 

HOLLAAAA~~~ Jumpa lagi dengan saya author—dengan—Upadate—Terlama, author Dhev!! Akhirnya, ujian selesai juga deh ya… author sampai-sampai nangis terharu (ambil tissue).

Sekedar peringatan, ff ini panjaaaaaaaaang banget! Siapin popcorn kalian, dan jangan membaca sambil berdiri (apa deh ini). So, enjoy my present for my special readers, THE SOUL CONTROLLER chap 8!

 :

:

:

Tidur.

Pilihan terakhir Sulli untuk menghilangkan lelahnya adalah dengan melakukan aktivitas sederhana yang disebut dengan tidur. Menanggalkan seluruh rasa penat yang menggulung di pundak dan lehernya yang mulai terasa kaku semenjak ia menginjakkan kaki ke dalam rumah kecilnya.

Sulli tak peduli se-abstrak apa pose tidurnya. Yang ia tahu, ia lelah dan ia ingin menikmati waktu istirahatnya. Mencari pria dewasa dengan sifat kekanakan seperti Minho bukan hal yang mudah. Bayangkan saja, gadis itu harus berkeliling kota Seoul dengan bus umum diliputi perasaan kalut yang kian membuat kepalanya terasa ingin pecah. Oh, bagi Sulli ini bukan apa-apa. Demi cinta memang, demi Minho juga.

Gadis bernama Sulli itu sudah terlalu lelah bahkan untuk mengucapkan selamat malam pada Minho yang sejak tadi hanya nyengir kuda menatap Gadisnya tidur terlentang bebas persis tikar yang baru saja di hemparkan ke lantai. ‘apa dia benar-benar seorang gadis?’ pikir Minho. Tiba-tiba suatu benda-persisnya-air mengalir dari sudut bibir Sulli yang terbuka lebar dan jatuh dengan indahnya di permukaan bantal empuk yang mengemban kepalanya. Shock. Mata bulat Minho melebar sempurna , ‘Eww, sudah fix! Dia memang bukan seorang gadis. Parah!’

.

.

.

“Hey, bangun.”

Sulli yakin, suara tadi hanyalah fatamorgana (Choi Sulli… fatamorgana terjadi pada indera penglihatanmu, bukan indera pendengaranmu). Sulli yakin betul ini belum pagi. Mengapa ia harus bangun?

“Hey, aku bilang bangun…”

Kini suara itu semakin terasa nyata dengan hembusan angin lembut nan hangat yang menerpa permukaan daun telinganya, membuat Sulli bergidik dalam tidurnya. Sulli perlahan membuka sebelah matanya, mencari-cari letak jam dinding bingkai putih yang biasa terpajang di dinding seberang tempat tidur.

02.00 AM.

‘apa ini hari ulang tahunnya?’

“Ayo bangun…”

“Apa ini hari ulang tahunmu?” kalimat itu meluncur untuk pertama kalinya sejak Minho memaksanya bangun.

“Hah? Tidak. Ulang tahunku masih dua hari lagi.” Jawab Minho dengan wajah tanpa dosa yang hampir saja membuat Sulli mengeluarkan sederet kalimat sumpah serapah karena telah mengusik tidur indahnya.

Tidak, Sulli tidak akan menyumpah pada pria yang sangat ia cintai, kecuali jika Minho kembali memaksanya untuk bangun.

“Hey. Kenapa tidur lagi? Aku bilang bangun…” kali ini disertai dengan goncangan kecil di bahu Sulli. Minho memaksa Sulli bangun dan Sulli ingin menyumpahi Minho hingga besok pagi.

‘Demi Tuhan Choi Minho! Jika ini bukan suatu hal penting, aku akan mencabik-cabikmu!’ Sulli menarik nafas kesal “Apalagi sayang?” oh, ternyata Sulli adalah tipe gadis yang mengeluarkan ucapan yang tak sesuai dengan apa yang telah ia rencanakan.

“Aku ingin bicara hal yang penting. Kau ingat? Hal penting yang ingin kusampaikan? Kabar gembira dari madam Jenny.”

 

‘eh?’ Sulli tiba-tiba saja 100% sadar dari tidurnya, tapi Sulli adalah aktris profesional yang tidak akan langsung duduk tegak dan menunjukkan wajah penasaran. Sulli masih pada posisi semula, meringkuk memeluk guling aroma softener miliknya. “Oh ya? Katakan saja. Aku mendengarkan.” Ujar Sulli santai, masih menutup kedua belah matanya.

Tiba-tiba sepasang tangan kekar melingkar lembut di pinggulnya. Sulli terhenyak, namun masih berniat menjalankan profesi keartisannya dan tetap berpura-pura tidur. Sulli dengan jelas dapat merasakan sesuatu singgah di bahunya. Hangat, nafas itu menjalar di leher Sulli. Minho tengah menumpu dagunya manja di bahu kecilnya.

“Kau tahu… Takkan ada yang bisa memisahkan kita lagi. Aku milikmu Choi Sulli.” setelah sederet kata itu meluncur dan berhasil membuat jantung Sulli melorot dan jatuh ke tumpukkan daun kering musim gugur, Minho mengecup lembut kuping Sulli. dan saat itu juga Sulli membuka matanya. Ia gagal jadi aktris profesional, hanya karena sebuah kecupan di kupingnya. Eww, Usaha bagus Choi Minho.

Sulli membalikkan badan, mendapati Minho yang lagi-lagi sedang nyengir kuda menatap wajahnya. “Apa maksudmu?”

“Cium aku jika kau mau tahu jawabannya.”

.

.

“Jika kau memberi tahuku, aku akan mencium-mu. Berkali-kali.”

.

.

Minho terdiam. tawaran yang bagus sekali hingga membuat nafas pria-bermata-bulat itu tercekat dan ia hampir mati karena kehabisan oksigen.

Okay, Minho mengalah untuk sebuah ciuman berkali-kali.

“Madam Jenny bilang, aku bisa mengingatmu. Mengingatmu saat aku terbangun. Mengingat moment kita berdua selama aku dalam kondisi ini. Ini mengejutkan bukan?”

“Be-benarkah? Tapi syarat apalagi yang kita butuhkan? setiap hal yang kau lakukan pasti berdasar syarat-syarat yang harus dipenuhi. Jika tidak semuanya, failed. Gagal, usaha kita mengembalikanmu pada tubuhmu… aku tidak ingin semuanya berakhir karena kita salah langkah. aku…”

“Bisakah kau berhenti banyak berspekulasi sayang?”

Sulli menenggak liur. Minho benar, ia bahkan belum tahu syarat apa yang lagi-lagi harus mereka penuhi.

“Ada satu syarat mudah…”

‘mudah? Benarkah?’

“Saat aku terbangun nanti… ada satu orang yang harus membuka gerbang ingatan rohku. Hanya dengan sebuah sentuhan.”

‘satu orang? Dengan sebuah sentuhan?’

 

“Ia harus menjadi orang pertama yang menyentuhku saat aku terbangun. Tidak boleh orang lain. jika orang lain yang menyentuhku, aku hanya Choi Minho tanpa memori bersama Hello Kity jelek ini.” Minho mencubit manja hidung mancung Sulli, membuat sang empunya menyingkirkan tangan usilnya sembari menggembungkan pipinya kesal.

“Orang seperti apa yang harus menyentuhmu?” tanya Sulli menatap dalam-dalam sepasang mata pria yang sejak 6 tahun lalu tak pernah menatapnya selembut dan sedekat ini. Terlalu dekat hingga Sulli dapat merasakan hangatnya musim semi menerpa wajahnya disetiap Minho menghembuskan nafas.

“Orang dengan kemampuan khusus. Orang yang punya indera lebih dari lima.”

Sulli membeku.

“Kau tahu siapa kan?”

Sulli mencengkram setelan longgar yang Minho kenakan.

“Itu kau sayang. Kau yang akan membuka gerbangnya. Kau yang akan menyentuhku untuk pertama kalinya saat aku terbangun.”

Sulli mengalihkan tatapannya dari sorot mata memikat itu. Memandang langit-langit kamar yang terasa berputar seiring sakit yang menjalar di dadanya. Sakit sekali. Hingga cairan menetes dari sudut matanya.

“Ada apa? Kenapa menangis?”

‘Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya?’

 

“Aku terlalu bahagia, aku tidak percaya akhirnya aku bisa berada disisimu tanpa harus dilupakan olehmu.” Sulli bergerak mendekati dada bidang Minho dan menenggelamkan wajahnya disana. Agar kekasihnya tak lagi melihat air matanya, agar Minho berhenti bertanya.

Minho memeluknya erat namun penuh kelembutan. Seolah Sulli adalah barang pecah belah yang berharga miliyaran dollar. “Aku juga sangat bahagia. Aku tidak percaya ini bisa terjadi. hal-hal yang terjadi padaku satu bulan belakangan ini terlalu sulit untuk diterima akal sehat. Tapi kau ada disini, menemaniku, berkorban untukku. Terima kasih Choi Sulli, sudah dengan senang hati hadir dalam hidupku.”

Minho dapat merasakan Sulli menggangguk kecil dalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepala gadis itu. Ia tahu Sulli lelah, dan ia sedikit menyesal telah membangunkan gadisnya di tengah bunga tidurnya. Tapi Minho yakin, tidur Sulli yang terganggu olehnya terbayar oleh berita yang ia sampaikan .

Tapi Minho salah.

.

.

Karena Malam itu…

.

.

Sulli terjaga hingga pagi dan air mata tak henti-hentinya mengalir. Sepanjang malam ia menangis dalam dekapan Minho. ‘Minho… bagaimana jika aku tak ada saat kau terbangun? Aku lagi-lagi hanyalah… pengagummu.’

.

Hari itu , Minho tak henti-hentinya tersenyum. Sinar mentari pagi merunduk malu pada senyum cerahnya. Kicauan burungpun kalah oleh senandung siulan merdu yang meluncur dari kedua belah bibirnya. Minho adalah arwah paling berbahagia di pagi ini, walau ia kini tengah maju-mundur mengepel lantai rumah Sulli dan itu adalah pekerjaan—paling—membosankan—dalam—hidup—Choi Minho , ia tetap tersenyum.

Mata bulatnya berbinar di setiap jarum panjang jam berganti dari satu angka ke angka lainnya. Sulli bahkan hanya menggeleng kecil melihat ekspresi Minho yang dapat dibilang berlebihan itu. Apa ia sangat bahagia? Tentu saja! Hari ini Minho bahkan tak mebiarkan tangan Sulli berjuntai sendirian barang sedetikpun, ia akan dengan segera menautkan keliling Sulli pada kelilingking miliknya. Disambut dengan tatapan cemas oleh Sulli.

“Apa?”

“Aku takkan membiarkan jari kecil ini sendirian.” Ujar Minho mengeratkan kelilingkingnya.

“Kenapa hanya kelilingking?”

“Oh, jadi… kelingking pun tidak cukup? Baiklah.” Minho bergerak menyelipkan kelima jemarinya dibalik sela-sela jemari Sulli.

lagi-lagi disambut dengan tatapan khawatir oleh Sulli. Tatapannya seolah bicara ‘kau sakit apa Minho?’ tapi Minho berpura-pura mengartikan tatapan itu sebagai ‘Apa hanya ini Minho? Hanya ini ?!’

 

“Ini pun tidak cukup?” sergah Minho. “Baiklah.” Ia memeluk tubuh Sulli dalam dekapan hangatnya. Pria ini berniat memeluk gadisnya sampai besok pagi. Tapi dia harus mengurung niat baiknya mengingat besok adalah hari ulang tahunnya. Besok pagi, jam 02.00 AM. “Aku tidak akan membiarkan tubuh kecil ini sendirian.” Ujarnya di tengah-tengah pelukannya.

Sedang Sulli hanya memutar bola mata, mendecak kecil entah untuk yang keberapa kalinya dihari ini. “Uugh… manis sekali oppa. Aku hampir diabetes.”

Tidak berhenti disana. Tidak berhenti pada jari yang tertaut dan pelukan hangat. Di malam saat Sulli melangkahkan kaki melalui pintu rumahnya, Sulli menemukan kondisi rumahnya yang agak berbeda. Lebih redup.

Benda-benda kecil menyala tertempel di permukaan lantai. Membentuk pola hati yang hampir memenuhi ruang kamarnya yang sempit. Itu adalah lilin-lilin kecil yang bersinar berderang di tengah kegelapan yang menyelimuti isi rumahnya. Suara merdu Eric Benet dengan tembangnya berjudul Still with you terlantun dari speaker radio tua milik Sulli menambah kesan romantis yang menyambut kaki-kaki jenjangnya yang melangkah ragu masuk ke dalam rumahnya sendiri.

Heaven knows what you’ve been through…

So much pain…

Even tought you can’s see me…

I’m not far away…

 

 

“Would do you dance with me?”

Telapak tangan itu mengarah pada Sulli. sang empunya telapak tangan itu tengah berlutut di lantai, disertai senyuman menggodanya. “Sekarang apa lagi?” ujar Sulli terkekeh.

“Perayaan keberhasilan seorang fans menaklukkan hati idola-nya, mungkin?” Jawab Minho mengada-ada.

Apa daya, fans bernama Sulli itu tahu persis ia tak dapat menolak ajakan pria aneh yang selama 6 tahun ia idolakan itu.

Minho menuntunnya ke tengah-tengah ruangan. Lilin-lilin kecil juga seolah ikut berputar menari-nari mengiringi pasangan berbahagia itu. Sulli tak bisa berhenti tersenyum saat Minho membimbing tangannya untuk mengalungkan sepasang lengannya di leher Minho.

“Pegang yang erat. Pesawat akan lepas landas.”

“kita tidak jadi berdansa ya? Kau pikir kita akan terbang?”

“Tidak. Kita akan berdansa di udara. Makanya, berpegang yang erat.”

‘Uugh… tukang rayu.’

Alih-alih kesal Sulli malah memeluk gemas tubuh Minho. Membuat pria itu sesak nafas.

“Jangan bersikap terlalu manis. Aku bisa diabetes.” Ungkap Sulli kesal.

“Aku gula tanpa kalori sayang. Aku gula jagung.”

‘Sial ! Minho… kenapa kau begitu manis?’

Entah ini senyuman tertahan untuk keberapa kalinya bagi Sulli. ia tak ingin tersenyum terlalu lebar. Ia takut jika ia terlalu senang, perasaan bahagia ini akan mudah lenyap seperti uap panas yang mengambang hilang di udara dingin.

Ruangan ini gelap. Tapi dalam pelukan Minho ia merasa musim panas ada dalam genggamannya, Hangat sinar mentari dalam pelukannya, dan cahaya terang tengah mengiringnya berdansa.

Sulli tidak takut gelap… ,

 

Selama ada Minho.

 

Tapi jika Minho pergi… maka…

 

“Bukankah kita sebaiknya pergi tidur?” setelah seperempat jam mereka berdansa, Sulli memilih mengakhiri kegiatan romantis itu.

“Ini masih jam 8. Temani aku berdansa.”

“Tapi… jam 12 nanti, kita harus pergi ke rumah sakit. Kau ingat bukan? Kau harus kembali sebelum jam 2.”

“Daripada tidur, sebaiknya kau menepati janjimu.”

Sulli menelengkan kepala “Aku pernah berjanji apa?”

Minho menaikkan sebelah alis, bergerak mendekati wajah kebingungan Sulli. Membuat gadis itu termundur selangkah. “Hmm… Janji memberiku ciuman berkali-kali?”

Dan bodohnya, Sulli mengira Minho sudah sepuh untuk melupakan janji ‘ciuman berkali-kali’ miliknya. Alhasil, Sulli kalah. Ia tidak bisa pergi tidur hingga tengah malam. Choi Minho ternyata lebih bejat dari perkiraannya.

.

.

.

Mereka berdua ada disana. Tangan saling bertautan mengiring langkah keduanya di lorong sunyi rumah sakit dengan aroma antispetik yang memusingkan. Kondisi yang sedikit janggal bagi Minho, dimana ia dan Sulli tak bicara sepatah katapun sejak keduanya keluar dari rumah kecil nan hangat milik Sulli.

Ada yang aneh. Janggal.

Tak ada perawat maupun dokter yang menegur keduanya. Bagaimana tidak? Mereka adalah satu-satunya pengunjung rumah sakit di tengah malam. Tapi nampaknya ‘peraturan pengunjung dilarang mengunjungi tengah malam’ itu sudah dihapus bersih. Buktinya, mereka berdua ada disana. Berjalan melewati pintu kamar rawat inap pasien yang sedang koma bernama Choi Minho.

Sendirian. Tubuh tak berdaya itu tengah tidur tenang tanpa satu orangpun menemani di sisi tempat tidurnya.

“Dia terlihat sangat-sangat tenang. Berbeda denganmu.” Singgung Sulli seraya melirik aneh pria disebelahnya.

“Kami adalah satu. Saat dia terbangun, dia sama ributnya denganku.”

            Minho berjalan mendekati tubuhnya. Wajah itu kurus, dan Minho sedih. Itulah akibatnya jika ia hanya minum air infus selama sebulan. Tanpa ada lemak dan karbohidrat alami sebagai asupan wajibnya.

Minho melirik jam dinding.

01.51 AM

            Sulli melihat ekspresi tidak normal di wajah Minho. Pria itu gugup. Dan di saat itu Sulli sadar, tugasnya adalah menenangkannya. “Sebentar lagi oppa. Kau sebaiknya mulai mencoba memasuki tubuhmu.”

            Minho mempererat genggaman tangannya pada Sulli. “Aku takut.”

            “Apa yang kau takuti?”

            “Aku takut, saat aku melepas tanganku kau akan pergi.”

‘maaf Minho’

 

            “Kau mengada-ada oppa. Kenapa aku harus meninggalkanmu? Kau tak lihat? Aku ada disini, bersamamu.” Sulli mengelus-elus pundak Minho, menenangkannya.

            01.55 AM

 

“Oppa, kau harus masuk.”

Tatapan Minho tak lepas dari tubuh lemah yang terbaring itu, namun sorot matanya kosong. Hampa. “Jika aku masuk, aku tak bisa keluar lagi.”

“Itu bagus kan?

“Jika aku masuk, aku tak bisa melihatmu. Aku takut.”

‘Choi Minho… what’s happen to you? Why are you so afraid?’

 

“Apa yang salah denganmu oppa? Kenapa kau jadi penakut seperti ini. Harus kukatakan berapa kali, aku takkan pergi.”

            01.58 AM

 

“Kau harus masuk. Sekarang!” desak Sulli tak mau tahu.

“Tapi berjanjilah…”

‘Kumohon , jangan memintaku untuk tinggal…’

“Berjanjilah untuk tetap disini hingga aku terbangun. Please stay with me.”

Sulli mengangguk kecil dan seulas senyum selalu ada untuk Minho.

Minho membaringkan dirinya di atas ranjang. Menyesuaikan posisinya dengan tubuh fisiknya yang tak berdaya. Membuat posisinya senyaman mungkin dan memejamkan mata. Semuanya menjadi gelap. hitam. Sulli tak lagi terlihat. Tapi ia yakin, Sulli ada di sisinya. Menemaninya hingga ia nanti terbangun dan membuka mata.

Tapi ada yang aneh dengan Sulli.

Tidak hanya hari ini, tapi sejak sebulan lalu. Ada partikel-partikel aneh yang memutar di kepala Minho setiap kali ia memikirkan Sulli, Sulli, dan Sulli.

‘Choi Sulli… kau tidak sedang berbohong kan?’

 

 

 

 

02.00 AM

 

Choi Minho sudah kembali ke tubuhnya dan Sulli tersenyum. Air mata mengalir di pipinya.

“Selamat ulang tahun.” Ujarnya lembut.

Sulli mengambil langkah mundur, menjauhi raga Minho. Pun berniat menjauh dari kehidupan pria yang dicintainya. Apalagi? Semuanya sudah selesai.

Selesai…

 

Sulli berjalan sendirian dan tetesan air mata menemaninya.

Setelah ini Sulli takkan lagi menemukan gula jagung itu merayunya dan memaksanya untuk memberi ciuman berkali-kali.

Takkan ada keluhan di pagi hari karena pria itu mengaku lelah mengepel lantai padahal otot-otot itu terlihat mampu mengepel lantai seluas 10 kali luas lantai rumahnya.

Tidak ada lagi nada bariton yang terus-terusan mendengung, berusaha mangganggunya saat sedang membaca novel karya shakespare, R.L stine, dan novel favorit lainnya.

Tidak ada yang bersikeras meminta Hello Kitty jelek ini untuk menyentuhnya dengan alasan ‘aku butuh energi lebih banyak’.

Tidak ada lagi orang dalam rumahnya yang mengaku bosan menjadi arwah dan ingin cepat-cepat kembali ke tubuhnya.

Dan pria kekanak-kanakan itu baru saja kembali dalam tubuhnya.

Sulli benci Minho.

Sangat benci

Kenapa Minho harus membalas cintanya? kenapa ia bisa mencintai Sulli? kenapa Minho merayunya seolah Sulli satu-satunya gadis yang pernah ia rayu?

Sulli benci Minho hingga perasaan itu membuat dadanya sesak dan Sulli rubuh di permukaan lantai keramik beku di tengah koridor rumah sakit. Sulli memegangi dadanya, sakit. Sulli tak bisa berhenti menangis dan terisak sementara memori bersama Minho terus berputar di kepalanya.

‘Apa hanya aku yang mengingat ini? Mengingat kita?’

Padahal kesempatan itu ada. Tapi ia menghiraukannya. Bagaimana tidak? Kesempatan itu bahkan tak pantas disebut kesempatan. Sulli tak berhak memilikinya.

“Kau hebat.”

Sulli mendongak. Mendapati Kim Heechul berjongkok di hadapannya. Tangannya terulur pada Sulli. tangan pria itu selalu terlihat putih bersih dan membosankan. Tangan dan orang yang sama-sama terlihat membosankan.

Sulli meraih tangannya.

“Kau hebat. Daebak.” Ujar Heechul yang hanya membuat tubuh Sulli semakin terasa lemah dengan pujian atas tindakannya. “Semuanya berakhir dengan baik. Kau hebat.”

‘Aku hebat dan ia akan melupakanku… kemudian siapa aku di matanya?’

Heechul mendengarnya. Suara hati Sulli yang merintih walau Sulli sedari tadi tak bergeming dan air matanya mengalir tanpa henti.

“Tidak apa-apa Sulli-shi. Dia akan hidup bahagia.”

‘Benarkah? Ya… Minho pasti hidup bahagia tanpa mengingatku dan tanpa aku…’

.

.

.

.

“Annyeooong Haseyoooo!!!”

BUKK!!

“arrgh!! Apa-apaan ini?! Apa masalahmu eoh?!” geram Onew, pria tertua di antara pria renta lainnya dalam ruangan itu. Ia baru saja melalui pintu rawat inap dan mendapat sebuah ‘kejutan’ yang mendarat di wajah tampannya.

Kim Kibum, sang pelaku pelemparan bantal-babi-berwarna-pink yang mendarat indah di wajah Onew itu balas menggeram “Kontrol suaramu tuan Lee! Ini rumah sakit. Bukan kios penjualan Kimchi!”

Taemin tersinggung. Karena ia pernah membuat dan menjual Kimchi saat Sekolah menengah. Dan Kimchi buatannya tidak laku. Aww… poor Taemin.

“Hei… anak-anak! Berhenti berkelahi. Kalian lupa apa tujuan utama kita berkumpul disini?” Jonghyun menengahi. Onew terdiam, Key berhenti menggeram, dan Taemin berhenti mendendam.

Ini hari peringatan Kelahiran Choi Minho dan mereka ingat betul. Ulang tahunnya yang ke 23. Minho sudah ikut menua, menyusul Onew, Jonghyun, dan Key yang mulai keriput.

Onew mengambil tempat duduk di sebelah Jonghyun. Bunga Lily putih dalam genggamannya ia letakkan di sisi tempat tidur Minho. “Happy Birthday… Kau ingin aku menyanyikan sebuah lagu untukmu? Oh baiklah… saengil Chukae Hamnida! Saengil Chukk hmmp—“ Jonghyun membekap paksa mulut Onew dan menariknya duduk.

“Kita sebaiknya berdoa untuk Minho.” Ujar Jonghyun mengingati, dan semuanya mengangguk mengerti, “Hyung, kau yang tertua. Kau boleh memulainya duluan.” Ujar Jonghyun seraya menyikut kecil pria di sebelahnya.

“Baiklah… Doa terbaik untuk Minho.” Onew meraih tangan Minho dan mengusapnya lembut. “Minho jadilah anak yang kuat. Aku harap kau cepat bangun dan tidak membuat ibu dan ayahmu khawatir lagi. Dengarkan hyungmu ya, kau kan anak baik.”

Giliran Jonghyun. Dan Kibum menebak-nebak, se-erotis apa harapan Jonghyun untuk Minho. Siapa yang tidak kenal si Flirt Jonghyun?

“Choi Minho, Cepatlah sehat. ini baru sebulan, tapi rasanya sudah bertahun-tahun. Kami sangat merindukanmu. Jika kau sembuh, kita berdua akan mengintip tim renang wanita berganti baju di ruang ganti lagi. Kau suka kan? Jadi cepatlah sehat.”

Kan? Kibum tak pernah salah terka. Taemin dan Onew dibuat melongo dan hanya berteriak dalam hati ‘KENAPA KAU TIDAK MENGAJAKKU KIM JONGHYUN!!!’

Kini giliran Kim Kibum.

Ia menghembus nafas panjang sebelum menutup matanya dengan sungguh-sungguh, tidak seperti dua manusia renta sebelumnya. “Aku harap Minho segera sembuh dan dapat kembali bersama-sama kami lagi. Aku harap ia dapat melanjutkan studinya dengan baik. Kami menyayangi Minho seperti menyayangi keluarga sendiri. Aku berharap sesuatu yang terbaik untuknya. Semoga Tuhan mendengarkan. Amin.”

Dan saat Kibum membuka kedua matanya, ia dikagetkan dengan Onew dan Jonghyun yang tengah menangis tersedu-sedu. Aih, mereka mudah sekali terharu. Seperti orang tua saja. (Hey! Mereka memang sudah tua!)

Terakhir, Magnae mereka yang paling menggemaskan, Lee Taemin.

“Aku ingin hyung bangun secepatnya!. Amin.”

Seluruh sorot mata mulai menatapnya aneh, terlihat menudingnya. Dan Taemin hanya mengangkat bahu, ‘Apa salahku?’

Tidak. Taemin yang polos ini tidak salah. Karena saat itupun, Tuhan mendengarkan doanya.

Jemari milik Minho bergerak dan Onew melihatnya.

Perlahan sepasang mata pemuda yang tengah terbaring lemah itu membuka. Membuat Kibum, Taemin, dan Onew terperanjat. Tidak dengan Jonghyun yang sedang asyik mengetik pesan di layar smartphone-nya.

“Jonghyun?” panggil Onew.

“Ya?”

“Kau sudah menghubungi ibu Minho?”

“Oh, ya… aku baru saja mendapat pesan darinya. Beliau sedang menuju kesini. Dan Ia membawa kue yang besaaa…” Minho menatap mata Jonghyun dan Jonghyun kira dia sedang berkhayal. Minhho? Sedang menatapnya? “AAAHH!!! DIA BANGUN!! DIA BANGUN!!” teriaknya histeris.

“Hhh….” Minho bersusah payah mengeluarkan suara dan memaksa kerja kerongkongannya yang kering. “A… Aku dimana?”

“AAAAAHHHH!!! DIA BISA BICARAAA!!!” Kini Taemin yang histeris. Jonghyun dan Taemin melakukan aksi Histeris bersama-sama sekarang. Onew ingin ikut serta, tapi dia merasa terlalu tua untuk berteriak senyaring itu.

“Minho-ya kau sudah sadar?” tanya Kibum hati-hati. Ia takut bahkan untuk memberi pertanyaan yang dapat menguras otak Minho yang baru saja bangun dari komanya.

Minho mengangguk. Respon yang bagus.

“Kau ingat namamu? Kau ingat siapa kami?” tanya Jonghyun ragu. Tapi Minho mengangguk dan Jonghyun bernafas lega.

“Hyung… kau tahu kenapa kau bisa terbaring disini?” Taemin ikut-ikutan bertanya. Minho memperhatikan sekelilingnya. Menerka-nerka, di tempat seperti apa ia sekarang. Tabung gas, jarum infus yang tertancap di pergelangan tangan, nuansa putih-biru yang membosankan. Ini rumah sakit? Dan Minho mulai ingat, kejadian seperti apa yang telah ia alami sebelum sampai di tempat ini.

“A-aku… kecelakaan?”

Taemin mengangguk mengiyakan. Setelah itu mereka yakin, tak ada gangguan parah menyerang ingatan Minho. Mengingat saat kecelakaan itu terjadi, kepala Minho membentur keras setir mobil.

“Syukurlah… kau mengingat semuanya dengan baik Minho-ya.” Ujar Onew mengucap syukur.

Minho mengingat mereka dengan baik. Itu benar.

Minho ingat persis, kejadian demi kejadian yang membawanya ke tempat ini.

Tapi…

Minho tidak ingat siapa yang tengah mati-matian diperjuangkannya, nama wanita yang membuatnya mematikan lampu dan menyalakan puluhan lilin berpola hati.

Ia tidak ingat dengan siapa ia berdansa semalam.

Ia juga tidak ingat dan takkan pernah merasakan ciuman berkali-kali yang ia dapatkan dengan penuh perjuangan merayu sang gadis.

Ia sama sekali tak ingat—tak menyangka jika tadi malam, gadis yang ia cintai meninggalkannya begitu saja tanpa menepati janji.

“Ini hari ulang tahunmu Minho-ya… Saengil Chukkae.” Kibum meraih telapak tangan Minho.

Tiba-tiba tubuh Minho kejang-kejang, bertepatan setelah Kibum melepaskan genggamannya pada tangan Minho.

“KIM KIBUM!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA MINHO??!!” gertak Jonghyun yang gugup melihat keadaan Minho yang diluar dugaan.

“A-aku hanya menyentuhnya!”

“HYUNG!! KAU TADI PIPIS KAN?!! PASTI KAU BELUM CUCI TANGAN!!” tuduh Taemin.

“APA?!! BELUM CUCI TANGAN!!??” sahut Jonghyun dan Onew bersamaan.

Kibum menatap telapak tangannya, seolah ada noda super kotor melekat disana. Ia tidak menyangka, lupa mencuci tangan setelah buang air kecil dapat membuat orang-yang-baru-bangun-dari-koma menjadi kejang-kejang. “AAAAAHH!!! AKU LUPA CUCI TANGAAAN!!!”

“AAAAHHH!!!!” Mereka berempat berteriak histeris dan Minho masih kejang-kejang di atas tempat tidurnya.

.

.

Mereka berempat berhenti berteriak, Karena Minho berhenti kejang-kejang dan mengucapkan sederet kata “A-aku dimana? Apa yang kalian lakukan disini? Dimana Sulli?” dan pertanyaan itu seketika membuat bahu mereka melorot ke lantai.

“Minho… Kumohon jangan katakan otakmu sudah error.” Onew menghapus air matanya.

Minho menatap aneh sahabat-sahabatnya yang menurut Minho menunjukkan ekspresi yang terlalu berlebihan. “Hentikan kekonyolan kalian. Dimana Sulli? Seharusnya dia ada disini. Malam tadi ia berjanji menungguku hingga aku bangun.”

“Dia mulai bicara random.” Bisik Onew di kuping Jonghyun yang juga mengambil kesimpulan yang sama, bahwa Minho sudah kehilangan akal sehatnya.

Lain Jonghyun—Onew, lain pula Kibum—Taemin yang menanggapi ucapan Minho dengan prihatin. “Minho-ya, Kau ingat kejadian kecelakaan yang membawamu kesini?”

Minho terlihat berpikir kemudian mengangguk.

“Apa kau lihat apa yang kau tabrak?”

“Tembok Besar.” Jawab Minho singkat.

Kibum dan Taemin saling bertukar pandang. Dan Kibum melanjutkan pertanyaannya. “Kau menabrak tembok karena menghindari sesuatu kan? Kau tak ingat? Atau kau tak melihatnya?”

“Aku…” Minho hanya mengingatnya sebagai sekelebat bayangan lewat. “Aku tidak melihatnya dengan benar.”

“Yang hampir kau tabrak itu adalah seorang gadis dengan sepedanya.”

.

.

Siapa?

.

.

“Walau kau mencoba menghindar, mobilmu sempat menghantam bagian belakang sepedanya.”

.

.

“Dia meninggal di tempat Minho-ya. Tak lama setelah kecelakaan itu terjadi.”

.

.

Ada ombak pasir yang menggulung di dada Minho. Perasaan tidak nyaman menyerangnya. Apa? Siapa? Apa aku mengenalnya?

.

.

“Dia penggemar beratmu…”

.

.

‘TIDAK.

PASTI BUKAN DIA.

BUKAN GADISKU’

.

.

“Choi Sulli sudah meninggal minho-ya…”

.

.

BOHONG!!

.

.

“Hmph… ahahaha! Itu lucu. Kau berhasil membuatku gugup. Sudahlah, tunjukkan dimana dia sekarang.” Minho yakin Kibum sedang bercanda, bermain-main. Dan Kibum hanya menatap Taemin, Jonghyun dan Onew bergantian. Mencoba mencari jawaban yang paling benar. Mereka kah yang bercanda atau Minho yang melakukannya? Tapi Minho terlihat serius. Ia tidak sedang melucu.

“Ia sudah dikremasi sebulan lalu.”

Minho tak peduli. Ia mengedarkan penglihatannya ke seluruh sudut ruangan. Takut-takut Sulli tengah menyiapkan kejutan untuknya. Ia tak ingin jadi satu-satunya korban april mop disini.

“Saat itu sepedanya oleng dan ia menabrak tembok.”

Minho terus mencari Sulli.

“Kepalanya menghantam tembok sangat keras.” Kibum tak menyerah untuk menjelaskan.

Kibum tidak tahu betapa Minho tidak suka candaan ini.

“Ia meninggal karena kehabisan banyak darah dan…”

“CUKUP!!! AKU BILANG INI TIDAK LUCU!! BAGAIMANA KAU TETAP MENJELASKAN KEJADIAN KEMATIAN ORANG LAIN YANG MASIH HIDUP?!! APA KAU GILA!!!?”

Kibum mundur. Dorongan Minho di dadanya membuat tubuhnya terhempas menubruk Taemin. Minho masih sama kuatnya seperti dulu, walau ia hanya pasien yang baru bangun dari komanya.

“Taemin-ah! Kau dan Sulli mengantarkanku kan? Kalian berdua yang menyelamatkanku dari kecelakaan itu kan? Sebulan sudah berlalu, tapi aku ingat persis kejadiannya. Kalian tidak bisa menipuku!”

Semua mata kini beralih menatap taemin yang terlihat kebingungan, “A-aku… aku hanya sendirian hyung. Tidak ada Sulli. Dia sudah meninggal saat itu.”

‘Bullsyit!’

“Aku akan mencarinya sendiri!” Minho turun dari ranjang. Ia lupa, ia sedang membawa tubuh fisiknya yang tak seringan tubuh arwahnya.

BRUUK

Minho jatuh ke permukaan lantai rumah sakit yang dingin dan rasanya sakit bukan main. Minho lupa bagaimana rasanya sakit. Dan ia diingatkan dengan cara ini.

“Hyung! Tenanglah… kau masih lemah. Tenangkan dirimu.”

TIDAK BISA.

Minho berusaha bangkit dan menopang bobot tubuh dengan tangannya yang berpegang pada dinding rumah sakit. Ia berjalan keluar, menyeret kakinya yang masih kaku karena selama sebulan tak pernah ia gunakan.

Sementara yang lain masih kebingungan, saling unjuk ekspresi melongo mereka satu sama lain sementara Minho sudah melesat jauh dan naik kendaraan umum. Apa yang kalian tunggu Shinee? Sahabat kalian tengah berkeliaran dengan memakai outfit rumah sakit biru—tanpa—corak yang mencurigakan! Kalian tak ingin bukan, jika sahabat kalian yang tampan itu di tangkap oleh petugas keamanan karena disangka pasien rumah sakit jiwa?

“Hyung!” Taemin menepuk pundak Kibum “Kita ke rumah Sulli! Aku yakin dia pergi kesana. Kita gunakan mobilmu!”

“Kau tahu di mana rumah Sulli?”

“Tentu saja! Hanya satu blok dari rumahku. Kajja!”

.

.

Nampaknya pilihan untuk menggunakan mobil Key adalah pilihan yang kurang tepat.

“Warna pink ini merusak kornea mataku.” Ujar Jonghyun.

“Lebih baik aku tadi berjalan kaki.” Timpal Onew.

“Apa salahnya warna pink? Ini adalah warna khas para pria gemulai.” Tambah Taemin ikut-ikutan.

Kuping Kibum panas, “DIAAAMM!!! KELUAR KALIAN DARI MOBIL PINK-KU!!”

.

.

.

Minho ada disana, di beranda rumah yang ia tinggali sebulan lalu. Seingatnya pintu depan selalu terbuka. Karena Sulli tak punya pendingin ruangan maupun Kipas angin, sedangkan udara musim panas terasa pengap dan Minho ingat betul, angin yang menghembus maksimal hanyalah melalui pintu ini. Dan Sulli sedang menutup pintu rumahnya. Ada apa?

“Sulli-ya… Sulli-ya… buka pintunya!” Seru Minho memanggil sang pemilik rumah. Alih-alih mengharapkan Sulli muncul, seorang bibi muncul dari balik pintu rumah tetangga.

“Ada apa nak? Kau mencari Sulli?”

Minho mengenalnya. Bibi sombong yang tak pernah sekalipun menyapa Sulli. Tetangga yang buruk.

“Choi Sulli, dimana dia? Apa dia belum kembali sejak malam tadi?” tanya Minho gelisah.

Bibi itu terkejut, mencengkram gagang sapu dalam genggamannya. “Nak… Sulli belum kembali sejak sebulan lalu dan bibi rasa ia takkan pernah kembali lagi.”

Minho tercengang.

“Ia sudah meninggal dalam kecelakaan di gang komplek ini. Ia tewas di tempat, gadis yang malang.”

‘Demi Tuhan… Kenapa aku di kelilingi orang-orang gila seperti mereka?’ Minho mengabaikan perkataan Bibi itu. Ia melangkah mundur, mengambil ancang-ancang dan…

BRAAAKKK

Minho sukses menjebol pintu rumah Sulli. Dan lengannya mati rasa karena harus mendobrak pintu yang lumayan kuatnya. Sekuat itukah pintu yang nampaknya rapuh ini?

“Uggh…” Minho memegangi lengan kanannya, berusaha meredam sakit. “kau harus membayar mahal untuk ini, Choi Sulli.” Seketika Minho berhenti menggerutu. Fokusnya teralih pada hal lain. Hal yang membuatnya bertanya-tanya.

“Itu Minho!!” teriak Onew dari kejauhan menatap bayang-bayang punggung Minho yang tengah berlutut di lantai. “Ia sedang apa?”

Keempatnya menghampiri Minho dan bertanya-tanya apa yang sedang pria itu lakukan dengan meraba-raba permukaan lantai rumah Sulli. “Ada apa dengan lantainya Minho-ya?”

“Lantainya… Lantainya… Berdebu.” Jawab Minho, matanya terus menelusuri seluruh isi ruangan. Ia tak mungkin salah ingat, jika ada tempat tidur disana, di dekat jendela. Ada laci kecil di sisi tempat tidur. Dan ada rak buku di sisi lainnya. Tapi ia tak menemukannya, tak menemukan apa yang ia temukan semenjak ia tinggal disini. Tak ada boneka Hello Kitty raksasa di atas ranjang, tidak ada novel-novel menyebalkan milik Sulli, tak ada meja kecil di tengah ruangan. Semuanya kosong. Rumah ini kosong dab berdebu.

Hanya jam dinding dengan aksen putih yang masih tersisa. Jam dengan jarum yang terus bergerak maju, meninggalkan Minho dengan seluruh kekacauannya.

Minho tidak mungkin salah ingat kan?

“Wajar jika ini berdebu Hyung… rumah ini sudah sebulan ditinggalkan. Perabotannya pun sudah dipindahkan. Rumah ini sudah dijual.”

“Ta-tapi… aku baru saja mengepel lantainya kemarin pagi.”

Mereka kaget. Terlebih Onew yang telah menyimpulkan bahwa Minho sudah benar-benar error.

“Aku mengepel-nya setiap hari. Dan… dan… Sulli membersihkan kaca jendela setiap Minggu. Ia membersihkan semuanya dengan baik. Rumah ini kecil, tapi bersih. Aku ingat…”

Jonghyun mencengkaram bahu Kibum. Mereka ada dalam kekhawatiran yang luar biasa terhadap Minho. Jonghyun memandangi sekitarnya. Dedaunan kering di halaman sudah menumpuk, rumput liar tumbuh di beberapa tempat, dan tentunya debu yang tak pernah absen di hampir seluruh sudut dan tempat yang ia lihat. Ini bukan rumah yang tengah di tempati. Ini adalah rumah yang ditinggalkan. Ditinggalkan oleh pemiliknya, Choi Sulli.

“Berhenti membual Minho-ya. Kau membuatku khawatir akan kewarasanmu sekarang.” Semuanya menatap onew heran, tumben-tumbennya pria itu bicara dengan nada tegas.

“Aku tidak membual!”

“Lalu dimana Sulli sekarang? Kau tahu dimana dia?”

Minho menggeleng pelan.

“Aku tahu dia ada dimana.”

Minho menatap dalam mata Onew, mencoba mencari kebenaran disana. “Dimana dia?”

“Di rumah duka.”

.

.

“Kemarikan dompetmu.” Minho melakukan penodongan terhadap Kibum. Dan Kibum dengan tanpa rasa curiga menyerahkan dompetnya. Sedetik setelah dompet itu berpindah tangan, Minho melesat pergi. Meninggalkan Kibum dengan sejuta kalimat ‘Oh-aku-dicopet’ di kepalanya.

“Waah, dia membawa kabur dompetmu hyung. Dia tahu persis siapa yang paling kaya di antara kita.”

Kibum menggigit bibir bagian bawahnya “Kumohon, jangan habiskan uangku Minho-ya…”

            “Lalu kemana Minho pergi sekarang?” tanya Jonghyun.

            Lagi-lagi mereka terdiam menatap satu sama lain. Kenapa mereka tidak mengejar Minho tadi? Kenapa hanya diam saja? Dan sekarang Minho sudah hilang dari pandangan mereka. Mereka-pun menyadari, Kebodohan ini membuat mereka sengsara.

.

.

.

            Minho berdiri disana, di depan gerbang menjulang bertulisankan Fantasy Park dengan warna-warni cerah yang memusingkan. Minho melangkah yakin, meski ribuan pasang mata tengah mengamatinya. Ada yang sadar, dan ada yang mengira Minho adalah salah satu bagian dari staff taman hiburan. Yeah, karena penampilan Minho yang sedikit mencolok benar-benar menarik perhatian pengunjung lainnya. Pria tampan dengan outfit rumah sakit yang keren! cool!

            Minho tahu cara menggunakan uang Kibum dengan baik. Ia membayar taxi seperlunya, membayar tiket masuk seperlunya, dan kini hanya menenteng dompet itu di dalam genggamannya. Ia tak memerlukannya lagi, karena Minho sudah menemukan destinasinya—tempat tujuannya.

            Sebuah tempat mirip surga kecil di bagian belakang taman hiburan. Sebuah tempat dengan bangku panjang kosong di bawah naungan pohon akasia yang menenangkan. Angin berhembus dengan tenang, meniup dan berbisik pelan pada Minho ‘Sulli ada disini’.

Minho duduk disana, di bagian pinggir kursi dengan cat putih dan bercak hitam jamur yang menambah kesan tua pada umur bangku tersebut.

            Minho menutup matanya, menarik nafas seolah itu adalah tarikan nafas terakhirnya. Ia suka aroma angin di musim panas, hangat menurutnya… Seperti Sulli.

            “Sulli, kau ada disini?”

            Lagi-lagi angin menghembus. Minho anggap jawabannya ‘ya, Choi Sulli ada disini.’ Dan entah sejak kapan Minho mulai mengerti bahasa yang disampaikan oleh angin yang tak berbentuk dan tak berwarna. Abstrak. Sama abstraknya dengan pikiran Minho sekarang.

            “Kau adalah gadis yang paling kejam yang pernah aku kenal. Kau meninggalkanku semalam. Ya kan?”

            Satu tetes air mata jatuh di pipinya.

            “Aku sedih sekarang. Kau tak ingin datang untuk mengejarku dan memintaku pulang seperti kemarin-kemarin? Tidak ingin kah?”

            Minho menghapus air matanya.

            “Kau ada dimana? Aku takut.”

            ‘why am I so affraid ?’

.

.

 

            “Seharunya kau ada di sini… bersamaku. Kau bahkan tidak menepati janji. Kau bukan orang pertama yang menyentuhku.”

            Minho berpikir, bagaimana jika bukan Kibum yang menyentuhnya untuk pertama kali. Bagaimana jika itu Taemin? Atau Onew? Atau jonghyun? Atau kedua orang tuanya? Minho takkan berada disini dengan air matanya, ia akan berada di atas tempat tidur yang nyaman, sahabat dan orang tuanya akan merayakan ulang tahun Minho dengan sebuah senyuman yang menenangkan. Takkan ada rasa sakit, tak ada Sulli, mungkin itu lebih baik.

            Tapi sekarang Minho ada disini, duduk di bawah naungan bayangan pohon dan naungan bayangan masa lalunya. Ia mengingat Sulli sebagai yang dicintainya, dan ia ingat betul bagaimana ia menyiapkan puluhan lilin dan membentuknya dengan pola hati di lantai hanya untuk Sulli. Hanya Sulli.

            Sepuluh menit, dan Sulli tak memunculkan batang hidungnya. Minho marah, ia kesal pada gadis itu. “Dasar Pembohong kecil.” Umpatnya. “Kau pikir aku tidak tahu ada yang aneh denganmu eoh?! Kau melepas kaca matamu! Tapi kau tak memakai contact lens! Kau kira aku bodoh??”

            “Teman bicaramu hanya seorang malaikat jelek, Cenayang tua, dan arwah (itu Minho)!! dan kau kira itu tidak aneh? Kau aneh! Dan aku tahu itu!” Minho berteriak sekuat tenaga. Ia tidak peduli jika ada petugas setempat yang benar-benar mengira ia adalah pasien rumah sakit jiwa yang berhasil kabur.

            “Tapi ada satu perasaan yang berhasil menutup perasaan aneh itu…” Minho memegangi dadanya,

Itu…

‘Perasaan saat aku menemukan jantungku berdebar bahkan aku tak menyentuhnya sedikitpun.’

‘Perasaan bahagia hanya karena mendengar senandung kecil dari bibirnya.’

 

‘Perasaan aneh saat ia bicara dengan pria tampan bernama Heechul. Tiba-tiba aku membenci pria itu, tak peduli sebaik apa dia.’

 

‘Perasaan sedih jika melihatnya termenung di sisi jendela.’

 

‘Perasaa-perasaan yang bercampur aduk, hingga aku ada pada titik dimana aku tak peduli apa dan siapa dirinya.’

 

‘Yeah… Aku jatuh cinta padanya Choi Sulli.’

            Minho membersihkan aliran air mata yang membekas di pipinya. “Aku terlalu melankolis hanya karena kau tak nampak seekarang. Jadi, tolong perlihatkan dirimu.”

            Tak ada jawaban. Tak ada perubahan disekitarnya. Apa Sulli mendengarkannya? Mendengarkan permohonan pria melankolis bernama Minho?

Minho diam. Mungkin ini adalah saat yang tepat bagi Sulli untuk membalas dendam. Mengingat apa yang telah ia perbuat pada Sulli dulu, mengabaikan gadis itu. Siapa yang tidak marah? Sulli-pun pasti marah padanya.

Minho menatap udara kosong di depannya. Lebih tepatnya, ia tidak menatap apapun. Pandangannya kosong, begitupun pikirannya. Hingga entah apa yang merasuki pikiran Minho hingga ia menggerakkan kakinya untuk berjalan mendekat ke tepi jurang.

Matanya terpaku pada pemandangan indah jauh disana, namun tak bisa ia gapai. Atap-atap rumah yang tersusun menderet teratur, pepohonan yang terlihat seperti rumput liar yang dipangkas rapi, semuanya indah dipandang sama halnya seperti Sulli…

Tapi sekarang Sulli tak terlihat, tak terdengar, dan parahnya Minho tak dapat menggapainya.

Minho berjalan semakin dekat dengan bibir jurang. Ia menengok ke bawah, ternyata tebing ini lebih curam dari yang ia bayangkan.

‘Jika aku jatuh, apa yang akan terjadi?’

Choi Minho… apa yang kau pikirkan?

‘Apa kemudian aku bisa melihatmu?’

Tidak Minho… Jangan! Sulli tak menginginkan ini.

‘Jika aku tak mencoba, aku takkan pernah tahu hasilnya bukan?’

MINHO KAU GILA!

Ia merentangkan tangannya, memeluk seluruh angin lembut yang menghembus padanya seolah memintanya untuk mundur. Tapi bukan Minho namanya jika harus menuruti perintah yang hanya datang dari angin tak berbentuk, tak terlihat.

Seulas senyum terpatri di wajah Minho, air mata jatuh bersamaan dengan kalimat yang meluncur di bibir pucatnya

“Choi Sulli… aku adatang…”

—-TO BE CONTINUED—–

 

 

BUAHAHAHAHA!!! Ff macam apa ini? Apa genrenya? Apa??!!! #histerisSendiri. Oppa-deul, maafkan sudah membuat nama SHINee jadi senista ini… maaf untuk Sulli yang selalu aja mati di tiap ff yang author buat T.T. (just in ff).

 

Author Dhev minta maaf ya kalo chap ini panjang bingit, author pengen ngejar target buat ngelarin TSC ama mirrorII di bulan ini, jadi author minta maaf kalo udah bikin mata kalian redup saking panjangnya chap ini.

 

So, karena ini DUA CHAP TERAKHIR… author minta kerja samanya untuk meninggalkan komentar, karena untuk meminta password TSC chap 9 (END), kalian harus meninggalkan MINIMAL komentar di chap 8 (FF gaje yang baru saja kalian baca) mudah kan? Karena author juga sibuk, kalian tinggal minta password ke fb atau twitter atau e-mailnya author DazDhev (DEVINA SANDY) . Author saranin kalian minta pw lewat twitter sih (for fast respon). Atau kunjungin page ini buat baca keterangan lebih lanjut.

 

HOW TO GET PASSWORD

 

Akhir kata, author ngucapain selamat berpuasa untuk yang menjalankan, dan bagi yang tidak menjalan hormatilah yang berpuasa #PesanLayananMasyarakat.

Sekali lagi, sorry for late update, and stay support our Minsul! Saranghae readerdeul~~~ pyyoooong :* ❤

Advertisements

317 thoughts on “THE SOUL CONTROLLER [chap 8]

  1. Belum ngerti jalan ceritanya kalo sebenarnya Sulli itu udah meninggal.
    Jadi knp di part sebelum nya Taemin bilang kalo dia harus jujur ke Minho tentang Sulli?
    Terus Minho bisa ingat Sulli kalo di sentuh sama seseorang yang mempunyai kekuatan gitu, berarti Key mempunyai kekuatan ajaib gitu dong? Woah daebak!
    Btw, eon saya add facebook eon ya untuk minta password part end ff ini, mohon di confirm. Makasih 🙂

  2. Wowoowooww deabakk.. Spechless, Mianhee eoni aku tidak terlalu bisa berkomentar banyak dan panjang2 mianhee eoni. aku reader baru dan baru baca ff THE SOUL CONTROLLER siang ini. *haha mian telat. Mau PASSWORD THE SOUL CONTROLLER chap 9(end). lanjut terus eoni, dan terimakasih sudah mau buat ff ini gamsahamida. hawaiting eoni #maaf curhat hahha

  3. Eonni, ff nya bikin aku nangis loh #lebay :’) aku juga reader baru disini dan suka bgt sama The Soul Controller.. minta pw The Soul Controller chapter 9 nya ya eonnie..twitter onnie sdh aku follow..makasih eon 🙂

  4. Aah sedih jadinya ;'(
    ff nya daebak Thor (y)
    aku masih penasaran tentang Baby Ssul? Kenapa dia Hilang?
    Apa Baby Ssul jg Roh?
    Tapi____ Aaah ngk tahu lah
    *hanyaAuthorygtahu*
    Thor Minta Password ya Dong? Chap 9 Endnya.
    Mianee aku ngk bisa Comont dari Chap 1-7 nya, karna aku ngk bisa Coment diBlog susah !
    Jadi aku cuman bsa Coment diChap 8 aja mianee. Tpi sumpah deh ff nya keren banget ^^

  5. Ya ampun gk nyangka. D chap 8 ini bikin aku sesdnggukan. Ampk..
    Ahh susah d jelaskan. Yg pasti crta oenni bnr2. Bgus bgt.
    Maaf sya dsni reader bru jd gk ngrti harus minta pw dlu ke oenni..
    Sya pnasaran bgt sma end nya tsc,
    boleh y. Bg pw nya.. Sya gk ad twit ad na fb. Sya add fb oeni tp d konf y.
    @thanks..

  6. Oenni aku dah add fb punya oenni..
    Tolon gd konfirm y. Q dah sabr pgn tw end nya d chap 9 gmana. Aku mw paswordnya…
    Y oeni y.. Y..
    Aku suka bgt ff d blog nh keren2 smw. Ampk kdang ad yg bkin ampk nangis. Tp ttp keren unk smwnya…
    Mksh oeni …
    D tnggu blsanya..:-D
    ngarep.com

  7. chapter awalnya sedih,kasian sulli,surat cintanya d abaikan sma minho,chapt tengah2 nya romantiiisss bgt,tpi chapt 8 ini nyesek bgt..tpi msh penasaran madam jenny bilabg ‘minho bakal mengingat semua kjadian saat dia mnjdi roh dan saat dia brsma2 dg sulli,asalkan saat minho bangun sulli harus menyentuh nya’ tpi toh minho bisa mngingat sulli,pdahal saat dia bangun yg ada d sekitar nya adalah shabat2 nya..penasaran bgt sama ending.a ,semoga dksh PW nya,maaf gg bsa comment dri awal..thx buat krya.a..kereen kaa.. @AtymSiFaa ini twitt aku..berharap d ksih PW hehe

  8. pas pertama-tama sih bingung bacanya eh pas baca chap8 langsung ngerti… nyesek jadi sulli,suratnya di abaikan sama minho tapi berjuang mati-matian buat ngebantu minho balik ketubuhnya
    ㅠ ㅠ min nanti aku follow ya

  9. Keren banget FFnya^^,
    Engga kebyang endingnya kayak gmn O-O
    Di detik detik ending aja ceritanya belum ketebak endingnya gimana wahhh daebak..
    #sorrybarubisacommentsekarang

  10. annyeong authronim 😉
    aku reader baru disini hehe
    dan aku suka ffnya, apalagi yang the soul controller keren banget
    fighting buat next chap 🙂

  11. waah,, daebak eon
    . oppa jgn lompat dong😱, nanti baby sull sedih 😭
    happt endding ya eon
    ayo semangat thor.. gumawo

  12. Onnie saya redes baru.. Salam kenal onnie dan maaf saya komen cma di part ini soalnya sakin saya penasaran dan dibuat gereget.. Ak baca part ini bner2 sedih bget onnie, soalnya ak tdk menyangka ternyata sulli itu sudah meninggal.. Onnie kl boleh saya blh mnta pw part 9 tdk onnie.. Saya penasaran part selanjutnya dan saya mau tau apakah minho bakalan mati jg karena dia ingin ikut dgn sulli.. Kl onnie mengijinkan saya ksh pw part 9 saya berterima ksih bget..

  13. Duuuhh tur bagi pasfowr nya chap 9 dong….. Penasaran ama kelnjutannya… Kirim di fb sja di tunngu eoonni 🙂

  14. kasian minho dia menderita karena sulli. semogal minho bisa balik lg sm sulli .ffnya bagus nih thor. sorry baru komen di part ini. kira” saya boleh minta pw buat chap 9 g thor?

  15. selamat malam
    hallo admin ff minsul yang baik dan kreatif…
    mau memberikan coment ya. TSC ini ceritanya bagus, membingungkan, si sulli sebenarnya itu siapa?? terus kenapa kok udah meninggal tp bs membantu minho. ini kyak sulli diberikan kesempatan lagi buat bantu minho meskipun dia ud meninggal.
    ak penasaran dg chap ending. ditunggu password dan karya berikutnyaaaa…
    semangaaaat author yang selalu memberikan story terbaiknya

  16. Sedih bgt ternyata Sulli udah meninggal, padahal berharap mereka bkaln bersatu. Knp minho tiba2 bisa inget soal Sulli yah? Minta pw chap 9nya yah… Fighting Dev…

  17. Aku telat baca ff ini.. Maaf eonn.. tapi keseluruhan ff ini bagus.. bagus banget.. alur nya juga bener2 sulit ditebak.. Pemilihan konflik juga menurut aku bagus banget.. Feel nya Eonn.. feel nya dapet banget.. nyereset di hati.. 😀
    sayangnya aku telat banget tau tentang ff ini.. tapi aku masih bisa kan minta password last chapternya? Mian eonn, karena keterlambatan aku baca ff ini aku juga cuma bisa komen disini aja..

  18. ceritanya….Daebak..!!! aq sk bnget,, jdi pnsran ni ma klnjutnnya, mnt pw nya dong untk chpter 9.. tlong krim ke fb w ya lyla fauziah al-sirajiy.. klau twiter aq g punya,, tlong krim ya min soalnya pnsran bnget..

  19. Galau galau galau chapter ini bikin galaau 😥
    ternyata selama ini minho juga ditemani oleh arwah sulli ?? Pantesan aja heechul nyamperin sulli terus..sebenarnya kelopak bunga mawar yg heechul jatuhkan satu persatu itu adalah waktu sulli bersama minho ??
    aaaaa ffnya sukses membuat air mata ini tumpeh tumpeh..

    Kenapa sulli harus meninggal ?? Kasihan minho 😦
    tapi ff ini benerbener kereen dan bikin penasaran pada setiap chapnya,dan semua rasa penasaran itu terjawab sudah dichap ini…
    saeng devina daebaaakkk

  20. Haaaaaa,eonni…
    Nggak kuat nahan tangis…
    Seneng pas tau Minho bisa ngingat Sulli….
    Tpi sedih banget pas Sulli malah ninggalin minhon mlam itu….
    Tpi aku nangis pas tahu kalau Sulli udah meninggal….
    Eonni,apa yang terjadi sama Minho pas ditepi jurang itu????
    Bisa minta password yang chapter 9 nggk eonni???
    Kan aku udah comment dari chap1 sampai chap8…
    Please eonni….

  21. waw…
    part ini beneran deh… nyesek banget udah lama aku ga baca ff the soul controller ini. dari part awal emang alurnya bgus bnget dan sulit d tebak.
    dan aku baru thu sekarang klu da part end nya…
    eonni ff nya bgus ijin bca part ending nya ya…
    gumawo…
    keep writing…

  22. Anyeong eon, saya kembali membaca & meng-comment FF ini
    Gatau kenapa lagi pengen aja baca ff minsul & bongkar ff yang lama eheheh
    Saya membaca kembali ff ini & mulai mengerti peran tokoh di cerita ini, agak nyesek membaca karena sambil menghayal jika itu terjadi pada diri sendiri
    Sampe di part ini, cerita ini sangat bagus eon 🙂
    Kalo eon liat comment ini, boleh saya minta PW utk sisa part nya?
    Kalo boleh melalui fb Grace Ruthliany, eon
    Saya lupa udah berteman dengan eon di fb atau belum ehehe

  23. Annyeong aku new Readers nih aku udah tlat ya comment nya.. FF nya kren bgt mian bru comment di chapter ini .tpi Critanya bgus bgt smpai aku nangis bca nya .. Tpi aku bleh gk mnta Password nya untk chap 9 ..

  24. , baru baca ff,a tahun ini..pdahal udh lama banget … daebak !!! Ceritanya bagus banget… author boleh minta pasword part 9.a gx .. ^ – ^ gomawo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s