WIT [Part 23/Ending]

AdobePhotoshopExpress_8810caf8835943e4b518f61ac30efae1_jpg

Winter in Tokyo [Part 23]

Novel by Ilana Tan

Choi Sulli || Choi Minho || Sandara Park || Thunder MBLAQ || Lee Soo Man || OC

Genre : Sad/Hurt, Romance, Drama , Friendship

Lenght : Chaptered

Rate : Semua umur

Anneyeong Readerdeul. Uwaaaaaaaaah,,, End Chapt. Hehehe,, Gak nyangka cepet juga yah taunya udah END Chap aja. Disini mimin gak Protect kok. Lagi males diserbu ama yang pada minta PW. Xixixi,, Jadi selamat menikmati. Oh iya satu lagi, Epilog nya dipisah yah, gak tau deh dimasukin apa enggak. Liat nanti aja. Happy reading and Enjoy. 🙂

Dua Puluh Tiga

“KENAPA Minho-sii harus mengadakan pamerannya bertepatan dengan Hari Valentine?” desah Dara ketika ia dan Sulli sedang berdiri di tepi jalan, menunggu lampu lalu lintas berubah warna. Suaranya terdengar tidak jelas karena hidung dan mulutnya dibenamkan di balik syal tebal yang melilit lehernya.

“Eonni sendiri juga tidak ada acara, kan, malam ini?” Sulli balas bertanya sambil tersenyum.

“Oh, astaga! Haruskah kau mengingatkanku soal itu?” Dara melotot, lalu mendesah lagi. “Tapi mungkin aku bisa cuci mata sedikit di pameran itu.”

Lampu lalu lintas berubah warna dan mereka menyeberang dengan cepat, lega karena setidaknya mereka kembali bergerak. Berdiri diam begitu saja membuat mereka semakin kedinginan.

“Ngomong-ngomong, Minho-sii benar-benar sudah tidak apa-apa?” tanya Dara, sementara mereka berjalan cepat ke arah galeri tempat pameran Minho diadakan. “Maksudku,

baru beberapa hari di rumah sakit, dia sudah memaksa minta pulang.”

“Kurasa dia masih sakit di sana-sini, tapi karena dia laki-laki, dia tidak akan mengakuinya,” jawab Sulli. “Segala persiapan sudah dilakukan untuk pameran ini dan para sponsor tidak akan mau menundanya. Minho-sii sendiri juga pasti tidak mau.”

Begitu mereka tiba di galeri dan menitipkan jaket, Dara memandang berkeliling dan bergumam, “Wah, banyak juga yang datang. Baiklah, Sulli, sampai juga lagi nanti. Aku harus beredar dulu.”

Sulli mengangkat alis tidak mengerti. Dara tersenyum. “Cuci mata,” katanya. “Cuci mata.”

Setelah ditinggal Dara, Sulli masuk ke ruangan pameran dan mencari-cari Minho. Tidak ada. Minho tidak terlihat. Mungkin sedang sibuk. Ini kan pamerannya. Pasti banyak orang yang ingin berbicara dengannya. Sambil mendesah pelan, Sulli memutuskan untuk melihat-lihat sendiri dulu.

Tempat ini cukup ramai. Ternyata banyak orang yang tertarik dengan hasil karya Minho. Beberapa orang wartawan juga terlihat. Sulli jadi bertanya-tanya apakah Minho memang sehebat itu? Apakah Minho memang terkenal seperti yang pernah dikatakan Dara? Kalau dilihat dari foto-foto yang tergantung di dinding itu, Minho memang hebat.

Bagaimana Minho bisa memotret sesuatu yang begitu biasa dan membuatnya begitu luar biasa? Misalnya foto hitam-putih yang menampilkan tangan seseorang yang terangkat ke arah matahari, seolah-olah ingin menggapai matahari. Entah bagaimana cara Minho memotretnya, tetapi sinar matahari yang menyelinap di antara celah jemari itu terlihat sangat indah dan berkilau.

Sulli terus bergerak dari satu foto ke foto lain, terus berhenti di setiap foto untuk memandanginya dan terus terkagum-kagum. Ia memang tidak mengerti fotografi, tetapi ia tahu foto bagus. Dan Minho sudah jelas memang sangat berbakat seperti yang dikatakan Dara.

Tiba-tiba sebuah foto menarik perhatiannya. Sulli mengerjap dan menahan napas. Foto yang tergantung di depannya adalah foto seorang wanita berjaket hijau yang berdiri di tengah-

tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang di jalan raya.

Wanita yang menjadi objek utama dalam foto itu berdiri membelakangi kamera. Selain warna hijau dari jaket yang dikenakan wanita itu, segala sesuatu di sekitarnya—termasuk juga

kerumunan orang yang berlalu-lalang—berwarna hitam-putih dan terlihat kabur, seolah-olah dunia di sekeliling wanita itu memudar di mata sang fotografer.

“Kau sudah datang?”

Sebuah suara pelan menyentakkan Sulli dan ia langsung berputar. “Minho-sii.”

Matanya melebar dan seulas senyum tersungging di bibirnya begitu melihat Choi Minhp berdiri di sampingnya.

* * *

Sebenarnya Minho sudah melihat Sulli sejak gadis itu memasuki ruangan pameran. Saat itu ia sedang berbicara dengan beberapa orang penting, sehingga ia tidak bisa langsung menemui gadis itu. Begitu ia bisa menyelinap keluar dari pembicaraan, ia langsung menghampiri Sulli.

“Kau sudah datang?” sapanya.

Sulli berputar dan tersenyum lebar. “Minho-sii.”

Minho balas tersenyum, lalu kembali memandang foto yang tadi sedang diperhatiakn Sulli. “Kau ingat hari itu?” tanyanya.

“Apa?” Sulli tidak mengerti.

Minho menggerakkan dagunya ke arah foto. “Hari ketigaku di Seoul. Kau menemaniku berjalan-jalan untuk melihat-lihat. Hari itu kau mengenakan jaket hijau.”

Sulli mengerutkan kening, masih tidak mengerti. Lalu perlahan-lahan kerutan di keningnya menghilang dan ia kembali menatap foto yang tergantung di depannya.

“Perempatan itu selalu ramai dan saat itu kau hampir jatuh karena ditabrak dari segala arah.” Minho tertawa pelan.

“Itu… Itu karena kau tiba-tiba menghilang,” protes Sulli. “Aku sedang mencarimu. Kukira kau… Maksudku, kau bisa saja tersesat di antara begitu banyak orang.”

“Saat itu aku ada di belakangmu. Aku bisa melihatmu,” kata Minh. “Aku selalu melihatmu.”

Mata Sulli terpaku pada foto itu. “Jadi… itu aku?” tanyanya tidak percaya.

Minho mengangguk. “Aku tahu kau tidak suka difoto, tapi menurutku foto ini sangat bagus untuk pameran. Jadi…”

“Tidak apa-apa,” sahut Sulli sambil tersenyum. “Foto ini memang sangat bagus. Foto-foto yang lain juga.”

Senyum Minho melebar. “Terima kasih.”

Mereka masih berdiri di depan foto itu dan Minho teringat beberapa jam yang lalu ketika Jonghyun datang ke sini. Jonghyun juga berdiri di depan foto yang sama dan memandanginya sambil tersenyum kecil.

Flash Back On

“Kukatakan padanya bahwa aku ingin melindunginya,” gumam Jonghyun.

Alis Minho terangkat dan ia menoleh. “Apa?”

Jonghyun menggerakkan kepalanya ke arah foto. “Wanita itu. Kukatakan padanya bahwa aku berharap akulah yang melindunginya saat itu.”

Minho langsung tahu mereka sedang membicarakan Choi Sulli. Dan apa kata Jonghyun tadi? Apakah Jonghyun sudah menyatakan perasaannya? Tiba-tiba saja Minho merasa tegang dan ia menahan napas.

“Begitu?” gumam Minho, berharap Jonghyun meneruskan kata-katanya.

Tetapi Jonghyun menghela napas panjang dan melirik jam tangannya. “Aku harus kembali ke rumah sakit,” gumamnya. Lalu ia berbalik dan mengulurkan tangan ke arah Minho. “Nah, semoga berhasil, Minho, walaupun aku yakin kau akan berhasil karena karyamu sangat bagus.”

Minho menjabat tangan yang terulur itu dan mengucapkan terima kasih.

Flashback End

Ia sangat ingin bertanya kepada Jonghyun tentang apa yang dikatakannya tadi, tetapi tidak tahu bagaimana harus menanyakannya. Jadi sampai sekarang Minho masih tidak tenang. Ia menarik napas dalam-dalam dan menoleh ke arah Choi Sulli yang kini berdiri di sampingnya. Jonghyun sudah meyatakan perasaannya kepada Sulli. Apakah Minho sudah terlambat? Tidak mungkin. Tidak mungkin…

“Ngomong-ngomong,” kata Sulli tanpa mengalihkan matanya dari foto-foto yang terpajang, “apakah Dokter sudah datang ke sini?”

Kenapa gadis itu tiba-tiba bertanya soal Jonghyun? “Tadi sudah ke sini,” sahut Minho setengah melamun.

Sulli menatapnya dan tersenyum lebar. “Oh, ya? Bagaimana tanggapannya tentang pameran ini?”

Gadis itu masih menyukai Jonghyun. Itulah yang dipikirkan Minho begitu ia melihat wajah Sulli yang berseri-seri. Saat itu juga ia mendadak merasa tidak bersemangat. Gadis itu masih menyukai Jonghyun. Apa yang harus dilakukannya? Apa yang harus kulakukan supaya kau bisa melihatku?

Ketika Sulli menoleh ke arahnya dengan tatapan heran, barulah ia menyadari ia sudah mengucapkan apa yang dipikirkannya tadi.

* * *

Sulli mengira ia salah dengar. “Apa?”

Minho tidak langsung menjawab. Laki-laki itu hanya menatapnya dengan ekspresi bingung dan murung. Setelah terdiam beberapa saat, Minho menghela napas panjang, menjejalkan kedua tangan di saku celana, dan bertanya, “Apa yang harus kulakukan supaya kau bisa melihatku?”

Untuk sesaat Sulli tidak bisa menemukan suaranya. Ia hanya bisa menatap Minho tanpa berkedip. Napasnya tertahan dan jantungnya mulai berdebar keras.

“Sebenarnya aku sudah pernah bertanya kepadamu,” lanjut Minho sambil tersenyum kecil. “Tapi kau belum menjawabku.”

Oh, ya. Sulli mengingatnya dengan jelas, seolah-olah semuanya baru terjadi kemarin. Hari Natal. Stasiun kereta. Ia baru akan naik kereta yang akan membawanya ke Busan ketika Minho menghentikannya dan menanyakan pertanyaan itu.

Apakah kau bisa melupakan Jonghyun… dan mulai benar-benar melihatku?

“Aku tahu saat itu bukan saat yang tepat,” kata Minho, lalu tertawa kecil. Ia memandang ke sekeliling ruangan pameran yang dipenuhi orang-orang. “Sebenarnya sekarang juga bukan waktu yang tepat. Tempatnya juga tidak tepat. Tapi kurasa aku harus mengatakannya sekarang juga.”

Sulli bahkan tidak menyadari ada orang di sekeliling mereka. Ia tidak bisa melihat apa-apa selain Minho. Ia tidak bisa mendengar apa-apa selain suara Minho. Ia masih belum bisa bernapas dengan normal karena terlalu takjub dan ia masih menahan napas menunggu apa yang akan dikatakan Minho selanjutnya.Mata Minho yang gelap menatap matanya lurus-lurus dan Sulli hampir yakin ia melihat bayangannya sendiri terpantul di sana.

Minho menarik napas dan berkata dengan nada rendah namun mantap, “Aku menyukaimu, Choi Sulli.” Lalu ia menggeleng pelan. Matanya masih terpaku pada mata Sulli. “Tidak. Kurasa yang benar adalah aku mencintaimu.”

Dunia pun berhenti. Setidaknya Sulli merasa dunianya berhenti berputar tepat pada saat itu. Seluruh jagat raya berhenti. Tidak ada suara yang terdengar selain gema yang tersisa dari kata-kata Minho tadi.

“Apa yang harus kulakukan agar kau bisa menerimaku?” Suara Minho yang lirih dan dalam terdengar lagi. Tidak ada, batin Sulli. Tidak ada…

Gemuruh tepuk tangan terdengar menembus kabut yang menyelimuti kepala Sulli. Ia mengerjap dan memandang berkeliling. Para pengunjung pameran bertepuk tangan dan menatap Minho sambil tersenyum lebar.

Sulli baru menyadari rupanya saat itu Minho diminta maju ke depan untuk memberikan sedikit kata sambutan dan menjawab pertanyaan dari wartawan. Seorang wanita yang memegang mikrofon dan yang terlihat seperti salah satu orang yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan acara melambai ke arah Minho.

“Minho-ssi, sepertinya dia memanggilmu,” gumam Sulli.

Minho menunduk, mengembuskan napas dengan berat. “Pada saat seperti ini…,” gerutunya pelan. Namun ia dengan cepat mengangkat kepala, menegakkan bahu, dan berbalik. Seulas senyum lebar sudah tersungging di bibirnya ketika ia berjalan—langkahnya masih agak timpang—ke arah si wanita yang memegang mikrofon, diiringi tepuk tangan semua orang.

“Sudah kubilang dia hebat,” kata Dara yang tiba-tiba sudah berdiri di samping kanan Sulli.

“Aku tahu,” timpal Thunder yang berdiri di samping kiri Sulli. “Aku hanya tidak menyangka dia terkenal begini.”

Sulli menoleh dan menatap kedua kakak-beradik itu bergantian. “Oh, Eonni… Thunder…”

Dara menyikut pelan lengan Sulli. “Dia keren sekali, bukan?”Sulli menatap Minho yang berbicara dengan lancar di depan, menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang masalah teknis dan foto-fotonya. “Ya,” gumamnya sambil tersenyum. “Memang.”

Salah seorang wartawan menanyakan sesuatu. “Anda sudah sangat sukses di Amerika Serikat. Apa yang membuat Anda kembali ke Korea?”

Minho tersenyum. “Saya hanya butuh perubahan suasana. Mencari inspirasi.”

“Sepertinya Anda memang sudah berhasil mendapatkan inspirasi kalau melihat hasil karya Anda yang mengagumkan ini,” puji si wartawan. Minho berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Ya.”

Alis si wartawan terangkat dan ia memperbaiki letak kacamatanya. Ada sesuatu dalam satu patah kata sederhana itu yang menggelitik rasa ingin tahunya. Memang hanya wartawan yang memiliki naluri tajam seperti itu. “Maaf, apakah sumber inspirasi Anda itu… seorang wanita?”

“Ya,” jawab Minho sambil tersenyum.

Dara melirik Sulli dan berbisik, “Yah, kita semua tahu siapa wanita itu. Bukankah begitu?” Sulli pura-pura bego dan tidak menjawab sementara Thunder tertawa pelan.

“Ceritakanlah sedikit tentang sumber inspirasi Anda itu,” pinta si wartawan yang didukung oleh wartawan-wartawan lain. “Apa yang sudah dilakukannya sampai bisa membuat Anda terinspirasi?”

Saat itu mata Minho bertemu dengan mata Sulli dari seberang ruangan. Sulli langsung menahan napas dan berharap debar jantungnya yang keras tidak terdengar oleh orang-orang yang berdiri di dekatnya.

“Dia tidak melakukan apa-apa,” sahut Minho sambil tersenyum.

“Tidak?” tanya si wartawan tidak percaya.

“Tidak,” Minho menegaskan. “Dia juga tidak perlu melakukan apa-apa. Yang paling penting adalah kenyataan bahwa dia ada dan saya bisa melihatnya.”

“Ya, Tuhan. Ini menegangkan sekali,” bisik Dara dengan nada mendesak sambil mencengkeram lengan Sulli. Itu bagus juga, karena Sulli merasa kakinya mulai goyah.

“Maksud Anda?” tanya wartawan yang mulai bersemangat. Hubungan pribadi memang selalu menarik untuk dikupas, apalagi hubungan pribadi orang terkenal.

“Yang harus saya lakukan hanyalah melihatnya. Hanya melihatnya,” sahut Minho dan kembali memandang ke arah Sulli, “dan saya akan merasa saya bisa menghadapi segalanya.”

Bernapaslah, pinta Sulli pada diri sendiri. Ia harus bernapas. Kalau tidak ia akan segera pingsan.

Para wartawan berebut mengajukan pertanyaan, tetapi tidak ada yang terdengar jelas karena suara-suara saling tumpang-tindih.

“Saya hanya berharap…” Suara Minho membuat ruangan itu hening. Semua perhatian terpusat kepada sosok Minho dan kata-kata yang meluncur dari mulutnya. Mata Minho sendiri tetap terpaku pada Sulli. “Saya hanya berharap dia bisa melihat saya.”

Sulli masih tidak bisa mengalihkan matanya dari Minho. Ia tidak bisa mendengar apa-apa selain debar jantungnya sendiri. Tetapi mungkin juga suasana saat itu memang hening. Sulli tidak tahu dan tidak peduli. Ia merasa seolah-olah sedang melayang. Apakah ia sedang bermimpi?

“Hanya itu yang bisa saya katakan.” Minho memecah keheningan. “Terima kasih.” Suasana kembali riuh dan para wartawan berlomba-lomba ingin bertanya lebih jauh. Tetapi kali

ini Minho hanya tersenyum lebar, membungkukkan badan, dan menyerahkan mikrofon kepada si penyelenggara acara, menandakan wawancara sudah selesai. Wanita itu buru-buru mengambil alih situasi, dengan ringkas dan efisien menjawab serta mengalihkan pertanyaan-pertanyaan wawancara kepada masalah yang tidak bersifat pribadi.

“O-oh. Dia ke sini,” kata Dara ketika Minho keluar dari kerumunan wartawan dan berjalan ke arah mereka. “Thunder, ayo kita pergi.”

“Kenapa?” tanya Thunder sambil mengerutkan kening, sama sekali tidak mengerti maksud kakaknya. “Aku baru datang dan aku belum bertemu dengan Minho Hyung. Aku harus memberikan selamat kepadanya.”

Dara melotot dan menarik lengan adiknya. “Nanti saja. Sekarang kita harus menyingkir dari sini.”

Sulli hanya bisa menatap kedua kakak-beradik itu berjalan pergi. Thunder masih sempat menoleh dan melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Ketika Sulli berbalik kembali, Minho sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.

Sesaat mereka hanya berpandangan. Sulli tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia bahkan belum bisa bernapas dengan normal dan debar jantungnya belum mereda. Perasaannya masih melayang-layang.

Tiba-tiba Sulli mendapati dirinya bertanya, “Kalau ingatanmu saat ini masih belum kembali, apakah kau akan mengatakan hal yang sama seperti yang kau katakan tadi?” Pertanyaan itu membuat Minho agak kaget, tetapi ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab. “Sejak sebelum aku hilang ingatan aku sudah menyukaimu. Ketika aku tidak mengingat apa-apa, aku kembali jatuh cinta padamu,” gumamnya yakin. Ia terdiam sejenak, menatap mata Sulli lurus-lurus dan melanjutkan, “Jadi, ya, aku akan tetap mengatakan hal yang sama walaupun seandainya ingatanku belum kembali.”

Mata Sulli terasa panas dan ia menunduk.

“Sulli-ya.” Minho menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, “Aku tahu kau menyukai Jonghyun walaupun dia sama sekali tidak seperti yang kaukira. Dan—aku tidak percaya aku akan mengatakan ini—aku tahu dia menyukaimu. Bukankah dia juga sudah bilang padamu dia ingin melindungimu atau semacamnya? Tapi katakan padaku, apa yang harus kulakukan supaya kau bisa menerimaku. Atau setidaknya memberiku kesempatan. Aku…”

“Kau tidak perlu melakukan apa-apa,” sela Sulli.

“Aku… Apa?”

“Kau tidak perlu melakukan apa-apa, Minho-sii,” kata Sulli sekali lagi sambil berusaha mengatur napas dan debar jantungnya, “karena aku memang sudah melihatmu.”

Alis Minho terangkat. Ketegangan yang sejak tadi terlihat di wajahnya mulai menguap. “Kau sudah…? Lalu Jonghyun?”

Sulli menunduk. “Sudah kukatakan padanya,” gumamnya pelan.

Seulas senyum tersungging di bibir Minho. “Lalu kini kau kembali padaku?”

Sulli berdeham, agak salah tingkah, lalu balik bertanya, “Apakah kau harus bertanya terus? Atau kau ingin aku menerima Dokter?”

“Tentu saja tidak,” sahut Minho cepat. Wajahnya pun berubah cerah. Ia mengembuskan napas dengan lega. “Sulli-ya…”

Tepat pada saat itu tiba-tiba Lee Soo Man muncul dan menepuk punggung Minho dengan keras. “Foto-fotomu hebat, Minho. Selamat,” katanya riang, dan menoleh ke arah Sulli. “Oh, ada Sulli rupanya. Apa kabar?”

Sulli buru-buru membungkuk memberi salam.

“Paman?” Minho mengerjap bingung, seolah ia memerlukan waktu satu-dua detik sebelum menyadari bahwa orang yang berdiri di sampingnya adalah pamannya.

“Paman baru datang?”

“Maaf, aku datang terlambat,” kata pamannya tanpa merasa bersalah. “Ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita pergi makan malam untuk merayakan keberhasilanmu setelah acara ini selesai? Tentu saja Sulli juga harus ikut.”

Sulli cepat-cepat menggeleng. “Tidak, tidak. Paman dan Minho-ssi saja yang pergi. Aku…”

Kata-katanya terhenti ketika ia merasakan tangan Minho menggenggam tangannya dan menariknya mendekat. Ia bisa melihat alis paman Minho terangkat heran, lalu senyum kecil mulai terlihat di wajah pria yang lebih tua itu. Sulli merasa pipinya memanas dan ia hampir tidak berani mengangkat wajah.

“Bagaimana kalau kita rayakan lain kali, Paman?” tanya Minho dengan nada meminta maaf. “Hari ini kami punya rencana lain.”

Lee Soo Man menatap mereka berdua, lalu mengangguk-angguk. “Ah, rupanya sudah berhasil.”

* * *

“Minho-ssi, kita akan ke mana?” tanya Sulli ketika mereka sudah berada di dalam mobil Minho yang melaju di jalan.

“Sampai kapan kau akan memanggilku seperti itu huh? Aku lebih tua darimu kau ingat ? panggil aku Minho Oppa.”

“Huh, Baiklah. Jadi, kita akan pergi kemana Minho Oppa?” Sulli mengulangi pertanyaannya. Minho tersenyum senang.

“Karena kau sudah memberiku cokelat,” sahut Minho sambil menepuk kantong kain berisi cokelat buatan Sulli yang diletakkan di dasbor, “aku juga harus menepati janjiku.”

“Janji apa?” Minho sambil menoleh ke arahnya dan tersenyum. “Bukankah kau pernah memintaku mengajakmu ke restoran favoritmu itu lagi pada Hari Valentine?”

“Ah, benar!” seru Sulli gembira, baru teringat soal janji itu. “Oppa, ternyata kau masih ingat. Jadi kita akan makan malam di sana?”

Minho mengangguk.

“Kau membawa kartu diskonmu?” tanya Sulli.

Minho tertegun. “Kartu diskon?”

“Ya, kartu diskon yang kau bilang hanya bisa dipakai pada hari-hari tertentu,”kata Sulli.

Minho berdeham. “Eh, soal kartu diskon itu…”

“Ya?”

“Sebenarnya tidak ada kartu diskon.”

Sulli tidak mengerti. “Tidak ada? Maksudnya, Oppa lupa membawanya?”

“Bukan. Aku tidak pernah punya kartu diskon itu.”

Melihat Sulli yang kebingungan, Minho cepat-cepat menambahkan, “Sebenarnya itu restoran pamanku, jadi aku selalu mendapatkan diskon khusus kalau aku makan di sana.”

“Oh, begitu?” gumam Sulli heran. “Tapi kenapa Oppa tidak mengatakan yang sebenarnya waktu itu?”

Minho mengangkat bahu. Kalau dipikir-pikir, ia juga tidak mengerti kenapa ia harus berbohong saat itu.

“Entahlah,” jawabnya. “Kurasa aku tidak ingin dianggap memamerkan diri.”

“Kau tidak pernah memamerkan diri, Oppa,” kata Sulli sambil menepuk pundak Minho. “Malah kau salah satu orang paling rendah hati yang pernah ku kenal.”

“Karena itu kau menyukaiku?”gurau Minho.

Sulli meringis, lalu tertawa kecil.

“Kurasa begitu.”

Minho menggenggam erat tangan Sulli.

“Gomawo, Sulli-yaa,” gumamnya pelan. “Karena sudah memberiku kesempatan. Karena sudah ada di sini bersamaku.”

Sulli tersenyum menatap laki-laki yang duduk di belakang kemudi itu, lalu menatap tangannya yang hampir tak terlihat dalam genggaman Minho. Hatinya terasa hangat. Ringan. Bahagia. Ia suka apabila Minho menggenggam tangannya seperti itu, membuatnya merasa laki-laki itu akan selalu bersamanya.

“Ngomong-ngomong, Oppa, kenapa kau tadi bilang Dokter tidak seperti yang kukira?”tanya Sulli tiba-tiba. “Ah, dulu sewaktu kau mengantarku ke stasiun kereta, kau juga bilang ada sesuatu yang ingin kau katakan kepadaku. Sesuatu tentang ingatan masa kecilku. Kau ingat?”

“Oh, itu…” Minho tersenyum penuh misteri.

“Aku sangat penasaran,” kata Sulli. Ia mengubah posisi duduknya dan menghadap Minho. “Sebenarnya apa yang ingin Oppa katakan?”

“Tentang cinta pertamamu. Anak laki-laki yang membantu mencarikan kalungmu yang hilang itu…”

“Dokter.”

Minho menggeleng.

“Bagaimana kalau anak laki-laki itu bukan Jonghyun?”

“Hah?”

“Bagaimana kalau kukatakan padamu anak laki-laki itu bukan Jonghyun?”

Mata Sulli terbelalak. “Bagaimana mungkin? Jinri yang bilang padaku nama anak itu Lee Jonghyun. Jinri kenal banyak orang dan dia tidak mungkin salah.”

“Tapi Jonghyun tidak mengingatmu, bukan? Tidak ingat pernah bertemu denganmu, atau membantumu mencari kalung, atau semacamnya?”

“Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat. Orang-orang bisa saja melupakan beberapa hal pada masa kecilnya,” protes Sulli. “Lagi pula, bagaimana Oppa bisa begitu yakin anak itu bukan Dokter?”

Minho menatap Sulli sekilas sebelum kembali menatap jalanan di depan. Ia tersenyum.

“Karena akulah anak itu.”

Kali ini Sulli terbelalak.

“Apa?”

Suaranya juga melengking.

“Aku ingat pernah melihat seorang anak perempuan kecil yang sedang berjongkok di samping gedung sekolah menangis tersedu-sedu mencari kalungnya yang hilang,”kata Minho.

“Aku tidak menangis tersedu-sedu,” bantah Sulli.

Minho mengabaikannya.

“Waktu itu kau tidak memakai sarung tangan. Kau terus meniup-niup tanganmu. Aku ingat itu karena aku bermaksud meminjamkan sarung tanganku kepadamu. Hanya saja hari itu aku juga tidak membawa sarung tangan.”

Sulli terdiam dan menatap Minho tanpa berkedip.

“Aku masih ingat, Sulli-yaa. Sungguh. Semuanya tersimpan di kepalaku seperti foto,” kata Minho sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk.

“Tapi ini benar-benar sulit dipercaya,” kata Sulli. “Apakah itu benar-benar kau, Oppa?”

“Begitulah kenyataannya.”

Sulli mengerutkan kening dengan bingung. “Tapi bagaimana mungkin Jinri salah mengenali orang?”

Minho mengangkat bahu. “Entahlah. Yang kutahu adalah cinta pertamamu sudah pasti bukan Lee Jonghyun,” katanya sambil menatap Sulli, “tapi Choi Minho.”

Sejenak Sulli masih berpikir. Akhirnya ia tersenyum.

“Akan kuingat itu,”katanya, lalu memandang ke luar jendela dan melihat butiran salju tipis melayang turun.

“Wah, salju mulai turun lagi.”

 

END

 

Semua Karya ini yang punya adalah Ilana Tan. Jadi kalau kalian ingin memuji, memujilah Ilana Tan yang udah bikin Novel Luar biasa seperti Winter in Tokyo.  Dan satu lagi, cerita Winter in Tokyo ini gak semua mimin masukin. Ada banyak kalimat yang mimin hilangkan. Menyesuaikan nya menjadi Fanfiction. Jadi kalau yang sudah baca Novel aslinya pasti mikir “Kok gini, kayaknya ada yang kurang…” Nah, itu dia maksudnya.. hhehe… Oke terima kasih sudah meluangkan waktu kalian membaca di blog ini. Untuk Epilog nya, sepertinya Mimin gak akan share. Kalian bisa mencarinya di google versi aslinya atau bahkan membelinya Novelnya sendiri langsung di toko buku. Akhir kata, Gomawo. 🙂

 

53 thoughts on “WIT [Part 23/Ending]

  1. Hmmm kayanya gk ikhlas buat ending
    Knapa cepet banget, gk kerasa udah ending ajah
    Tpii daebak lah
    Gomawo buat Ilana Tan yg udah bikin karya yang keren abis, and
    Gomawo buat mimin yg udah nyalin ulang dan bikin versi Minsulnya
    Kalian luaaar biasaaaa :*

  2. Huaaaahhh akhirnya minsul bersatu juga dan bahagia bersama setelah semua cobaan yg menguji kekuatan cinta minsul :’) juga akhirnya minho jelasin apa yg mau dia bilang waktu suli mau ke busan tu :’) happy ending yay!! 😄😍😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s