[2nd anniv event] Five Seasons – Dazdev

five seasons copy

Main Cast : Choi Sulli [f(x)] , Choi Minho [SHINee]

Rating : Teenager

Genre : Angst // sad-hurt // romance

Lenght : >5000 w (ONESHOT)

Author : Dazdev

******

WARNING :

WITHOUT PLOT! (BERANTAKKAN!)

OOC for sure

Original buatan author Dhev! No plagiat.

Typo Anywhere

******

(A/N) Hello… silahkan di baca ya. Jangan membaca sambil berdiri apalagi berlari. Cari tempat dan posisi terbaik ya xD. (ini agak panjang karena oneshot)

Ini ga sedih kok. Cuma nyesek dikit :D. Okay, so I PRESENT… FIVE SEASONS!

 

*******

Summary :

“ There’s five season which Sulli knows.

Winter

spring

Summer

Autumn

And …

the season when Sulli spend her days without Minho in her life. “

 

[RECOMENDED] Soundtrack : Agnezmo – Things Will Get Better

.

.

.

.

Sulli punya masalah besar dalam menghitung jumlah musim. Dengan suatu alasan tertentu, musim datang dan melanda belahan bumi yang ia pijak secara tidak adil. Tuhan tidak pernah tidak adil, tapi bagi Sulli… ada yang salah—ada yang tidak beres dengan hari-hari yang sudah tercipta untuknya. Sulli rasa musim-musim nampak tengah menipunya—sedang bermain-main dengan dirinya.

Kerancuan dalam hidup Sulli berawal di kala ia menemukan pria itu duduk di atas sofa merah hati di kediaman keluarga choi—keluarga besarnya. Sulli memperhatikan dari kejauhan, dari ujung anak tangga.

Pria dengan setelan putih garis-garis itu tengah duduk dengan rapi, dan senyuman tak pernah lepas dari bibirnya. Matanya bulat dan berbinar seperti bintang yang Sulli pandangi di malam-malam tanpa awan, bersih dan indah.

Sosok itu terlalu memikat di mata Sulli, hingga dua orang lain yang duduk bersisian dengan pria asing tersebut lepas begitu saja dari perhatiannya. Namun Sulli ternyata harus menaruh atensi terhadap mereka saat ia menemukan kenyataan bahwa mereka adalah kedua orang tua sang pria, dan Sulli menyimpulkan itu dari kemiripan yang mereka punya; tentu saja dari mata bulat dan senyum menawan yang mereka turunkan pada putranya.

Sulli menuruni anak tangga, bunyi bergemeletuk sol sepatu hak tingginya saat bersentuhan dengan lantai keramik menjadi nada-nada pengiring langkah demi langkahnya menemui sang pria bermata indah.

Bayang retina mereka bertemu lurus—saling bertukar pandang. Sulli berusaha sekuat tenaga memperkukuh tungkai kakinya yang melunglai agar tidak pingsan di tempat. Sulli bertanya-tanya mengapa ia dengan mudahnya jatuh hati pada pria ini dalam satu kali kerjapan mata saja.

“Perkenalkan,” Pria itu membungkuk sopan, “aku Choi Minho. Kau boleh panggil aku Minho.”

“Choi Sulli. Panggil saja Sulli.”

Dan disanalah mereka untuk pertama kalinya bertemu dan mengenal satu sama lain, berbagi cerita dan pengalaman dalam sebuah agenda keluarga besar yang disebut dengan perjodohan.

Sulli cukup menerima kenyataan bahwa ia harus menikahi Minho dan Sulli diam-diam bahagia akan hal itu. Ia pikir ia adalah wanita paling beruntung di dunia yang mendapat undi sebuah berlian yang tak mudah jatuh ke tangan orang lain.

Perasaan itu semakin dalam saat menemukan Minho selalu membukakan pintu mobil untuknya, menarik kursi makan dan mempersilahkannya duduk seperti seorang pelayan memperlakukan putri kerajaan.

Minho tak segan membuat dirinya basah kuyup diguyur hujan dan memberikan mantelnya untuk melindungi Sulli dari setetes air yang jatuh dari langit.

Minho bersikap sopan, ramah, dan senyumnya selalu membuat Sulli bertanya-tanya ‘Minho kau datang dari surga kan?’ Hingga di saat Sulli menyadari bahwa Minho adalah sebutir apel di matanya, sesuatu yang berharga. Dan Sulli jatuh cinta padanya terlalu dalam. Sangat dalam, hingga ia buta—tak dapat melihat pria lain di luar sana. Hanya ada satu pria sederhana yang memilki hatinya, Choi Minho.

Sulli lagi-lagi harus dibuat menangis bahagia saat ia mendapati Minho-lah orang pertama yang menyematkan cincin berkilau itu di jari manisnya.

“Aku bersedia menikahi Choi Sulli.”

                Satu tetes air mata jatuh dari sudut mata Sulli.

                “Aku bersedia berada di sisi Choi Sulli di dalam suka maupun duka hingga maut memisahkan.” Minho tersenyum sedang Sulli tengah dilanda derai air mata. Sulli mengingatnya sebagai rentetan kata layaknya alunan nada terindah dalam hidupnya. Tak akan pernah ia lupakan, takkan pernah hingga nafas terakhirnya—ia akan tetap mengingat janji Minho.

.

.

.

.

Sulli dan Minho memilih sebuah rumah di tepi danau. Meski badai salju mengekang rumah kecil mereka dengan miliyaran butir air yang mengkristal, rumah mungil itu tetap dipenuhi dengan sejuta kehangatan di dalamnya. Karena cinta Minho lebih hangat dari apapun, bahkan di musim gugur sekalipun Minho tetap memancarkan kehangatannya.

Sulli tidak memerlukan penghangat ruangan, karena tak ada yang lebih baik dari hangatnya pelukan Minho. Sulli ada disana, dalam dekapan Minho dan tertidur hingga pagi menjelang. Sulli bahagia di musim dingin, karena Minho selalu menyediakan pelukan cuma-cuma untuknya.

                After one year…

                365 hari sudah terlewati. Tak ada yang salah dengan relasi suami-istri—status yang digenggam Minho dan Sulli. Sulli selalu menemukan wajah pria yang ia cintai di setiap pagi ia membuka mata. Bahkan disaat matahari menyembulkan cahayanya, Minho terlihat lebih bersinar dengan piyama putih polosnya. Mengalahkan sinar mentari pagi, dan Sulli menyukainya. Sulli memandangi wajah Minho, dan wajah itu tetap sama, penuh kehangatan.

Tak ada yang salah, saat Minho memperlakukannya terlampau istimewa. Menggamit jemarinya di malam natal dan mengajaknya berdansa di depan perapian. Sulli menyandarkan kepala di dada bidang Minho dan berharap ini akan berlangsung selamanya.

Tapi harapan Sulli harus sirna. Kala itu Minho tak berada di sisinya.

Tidak, Minho tidak pergi meninggalkan Sulli dalam artian yang menyedihkan. Minho hanya pergi ke Seoul untuk mengurus saham keluarganya. Dan Sulli sedih, kesepian. Ia melalui musim panasnya sendirian di tepi danau, memperhatikan angsa-angsa putih yang menikmati waktu kebersamaan mereka dengan pasangannya. Sulli merindukan Minho dan Ia ingin Minho cepat kembali ke sisinya.

Satu-satunya alasan yang ia punya hanya karena ia tak bisa hidup tanpa orang yang dicintai, dan mencintainya.

‘Karena aku tidak bisa melalui berbagai musim tanpa Minho disisiku.’

.

.

.

.

Awal Januari, Minho kembali dengan membawa serpihan hati Sulli yang tertinggal bersamanya setelah hampir tiga bulan terpisah, Sulli nyaris sekarat hanya karena merindukan sosok Choi Minho. Saat itu Minho datang membawa sebuah kejutan dan Ia kira Sulli akan senang.

“Aku membeli sebuah apartemen di Seoul.”

Sulli menaikkan kedua alis, ia diam dan tak tahu bagaimana respon yang pantas ia beri. Senang? Kecewa? Ia-pun bingung akan perasaannya.

“Apartemen kita ada di lantai satu. Ada dapur dan ruang makan yang luas, dua kamar tidur dan masing-masing memiliki toilet, ruang tamu dan ruang keluarga yang lebih besar dari ukuran rumah kita sekarang. Letaknya ada di tengah kota, kau tak perlu jauh-jauh pergi ke pasar karena ada Mall di seberang jalan. Kau senang?”

“Hm.” Sulli mengangguk dan tersenyum. “Kapan kita harus pindah?”

“Secepatnya. Perusahaan paman membutuhkanku mengisi jabatan wakil direktur, awal Maret ini.”

“Oh? Baiklah, aku akan mulai mengemasi barang-barang kita.”

.

.

.

.

Sulli meraba senti demi senti permukaan dinding rumah mungilnya. Sedang Minho tengah sibuk mengepak serta memasukkan koper dan barang bawaan ke dalam mobil. Sulli ingat betul bagaimana rumah ini jadi tempat tumpuannya, rumah kecil dengan ratusan kenangan yang tak mungkin dengan mudah di hapus dari ingatan.

Satu ruang kamar tidur, tempat paling nyaman dan hangat di dalam rumahnya. ‘Selamat pagi cantik. Apa tidurmu nyenyak?’ Adalah kalimat yang selalu Sulli dengar untuk pertama kali saat sinar mentari menyembul dari kisi-kisi jendela, di balik gorden putih pucat yang temaram.

Ruang makan dan dapur yang terbilang sempit, hingga kerap kali ia tak sengaja bertubrukan dengan Minho, diakhiri dengan tawa renyah saat krim kue menempel di wajah dan baju Minho. Sulli membersihkannya dan menciumi bibir Minho lembut, ‘Kau lebih manis dari krim kuenya sayang.’

Ruang tengah—ruang keluarga, tak terhitung beberapa moment yang harus Sulli simpan dalam memorinya saat musim silih berganti, mengambil alih kendali suhu udara yang harus membuat Sulli dan Minho terus berpelukan di depan perapian saat musim dingin;

dan saat Sulli menyandarkan kepalanya di bahu Minho sambil menonton variety show kesukaannya di musim semi;

Saat Sulli membuat es krim yang terlewat manis—terlalu banyak gula untuk Minho santap di musim panas;

Saat Minho dengan hati-hati melilitkan syal di leher jenjang Sulli dan meninggalkan sebuah kecupaan disana, saat musim gugur…

Semua kenangan manis itu, tertinggal disini. Di rumah kecilnya. ‘Selamat tinggal rumah kecilku, senang bisa melewati empat musim pertama ku bersama Minho disini… Aku menyayangimu.’ Dan dengan berat hati ia melangkah keluar dan menutup pintu, menuju rumah barunya. Apartemen mewah di tengah kota Seoul yang padat dan penuh hingar-bingar berbanding terbalik dengan surga kecil yang mereka tinggalkan.

.

.

.

.

Sulli kembali meraba jengkal demi jengkal permukaan dinding rumah barunya. Tekstur permukaan yang berseni tinggi—berukir bunga dan bercat putih. Sulli bertanya-tanya sebanyak apa Minho telah menguras rekening bank untuk membelinya. Karena Sulli mengakui tingkat ke-elitan yang tak biasa dari rumah ini. Mewah dan pastinya mahal.

Minho sibuk mondar-mandir memindahkan barang-barang bawaan dari bagasi, dan memperhatikan Sulli yang masih terjebak dalam ketidak-percayaannya.

“Ada yang salah dengan rumah ini?” uji Minho saat barang terakhir berhasil ia letakkan.

Sulli tersenyum “Ini terlalu mewah.”

“Cocok untukmu. Kau juga terlalu mewah untuk kunikahi.”

Dan Sulli tersenyum lagi, kali ini tulus dari hatinya.

“Kelihatannya aku harus istirahat. Aku lelah.” Ujar Minho seraya meregangkan seluruh sendi-sendinya yang terasa kaku.

“Ingin kutemani?”

Oh benarkah? Dengan senang hati Nyonya Choi.”

Malam itu Minho terlelap di pangkuan Sulli, sebuah senyum tipis terukir indah di bibirnya.

‘Minho, Kau tersenyum dalam tidurmu… apa yang sedang kau mimpikan?’

Sulli menyisir rambut Hitam kelam Minho dengan jemarinya, membiarkan kelembutan helai demi helai rambut pujaan hatinya terbelai oleh telapak tangannya. Hari ini Ia melihat Minho tersenyum dalam tidur, dan Sulli takkan pernah mengatakan yang sebenarnya bahwa ia kurang menyukai rumah baru ini. Rumah yang terlalu luas dan polos, terlihat sedih dan kesepian. Tak ada perapian, hanya ada mesin penghangat rungan yang menderu marah—berisik.

Sulli akan selalu menjaga perasaan Minho. Takkan membiarkan senyum itu terhapus hanya karena ia mengatakan ‘Aku lebih suka rumah yang lama.’

Tidak akan pernah.

Karena demi apapun, senyuman Minho lebih penting dan berharga dibandingkan perasaannya. Demi Minho, ia akan melakukan apa saja dan melewati segalanya. Sesulit apapun itu.

Demi Minho…

.

.

.

.

After 2 years …

Keluarga kecil itu masih sama. Tak ada yang berubah pada Minho terkecuali Sulli yang semakin mencintainya. Musim silih berganti, namun rumah baru yang Sulli pijak tak berubah—menyedihkan. ada partikel-partikel aneh yang menyelubungi Sulli selama ia tinggal di rumah barunya. Entah apa faktor utamaya, tapi Sulli menuding bahwa dekorasi rumah ini terlalu… elegant? Dingin…

Sulli berniat mengubah warna cat dinding dengan kuning cerah ataupun merah muda lembut yang menurutnya menambah kesan hangat di rumah besarnya. Tapi ia tahu Minho tak mengingkannya, karena Minho lebih menyukai putih dan abu-abu yang menurutnya lebih menenangkan—tidak merusak mata.

Apa yang tidak untuk Minho? Sulli akan melakukan apa saja agar Minho merasa nyaman.

Menjadi masalah-kah jika dinding ini tetap berwarna putih pucat yang monoton?

Tidak masalah… selama Minho ada disisinya, rumah ini akan terasa hangat.

Ya , Selama Minho ada disisinya…

.

.

.

.

Ada yang menjanggal dengan keadaan tubuh Sulli, dan ia dapat merasakannya dengan jelas. Keanehan yang membuatnya berpikir keras sejak memasuki tahun kedua pernikahannya. Keajaiban yang ia tunggu tak kunjung datang. Keajaiban yang selalu dinanti-nanti oleh pasangan suami-istri lainnya, keajaiban yang disebut dengan ‘anak kecil’.

Ya, cabang bayi itu tak kunjung muncul dalam rahimnya. Padahal ia yakin, ia dan Minho telah berusaha dengan baik. Apa yang menghalangi calon bayi itu datang padanya? Belum saatnya-kah? Apa mereka adalah pasangan yang belum siap?

atau… Ada yang salah dengan Sulli…?

‘Apa ada yang salah denganku?’

.
.

.

.

Di pagi itu, Sulli mengguncang pelan bahu Minho. Menyadarkan sang empunya dari tidur nyenyaknya.

“Mmmhh, ya… ada apa?” tanya Minho seraya mengerang membuang kantuknya yang berlebihan.

“Hari ini kau sibuk?”

Minho mencoba mengingat scedule Kamis ini di tempat kerja dan ia mengangguk saat menemukan banyak kegiatan yang mengharuskan ia berada disana, di tempat kerjanya. “Hn, Lalu ada apa?”

Sulli menghembus nafas panjang sebelum ia mengutarakan maksudnya dan ia tahu Minho pasti akan berubah pikiran. “Aku akan pergi ke rumah sakit.”

Sesuai dugaan Sulli, Minho membuka mata lebar-lebar dan duduk dengan benar, serius. Tak kurang dari dua detik Minho menyahut “Aku akan meminta izin hari ini.”

Sudah Sulli katakan, Minho pasti berubah pikiran. Sulli bisa melalui hari-harinya jika ia bersama Minho.

‘Selama ada Minho disini… aku baik-baik saja.’

.

.

.

.

Minho merangkul pundak Sulli, mencoba menenangkan istrinya selagi menunggu hasil tes pemeriksaan kandungan dari dokter yang hingga kini belum muncul juga di hadapan keduanya.

Sulli gugup, ditambah pendingin ruangan yang bekerja pada suhu 18 derajat mebuat tubuhnya hampir membeku. Tapi ada ada Lengan hangat Minho yang melingkar di punggungnya. Dan ia berterima kasih untuk pendingin udara yang telah membuat Minho terus menempel padanya seharian ini.

Pintu terbuka, dan dokter kandungan itu muncul dari balik pintu. Sulli menebak-nebak hasil tes dari raut wajah sang dokter dan Sulli tak berani mengambil kesimpulan, ia takut jika tebakannya itu benar.

“Maaf Nona Choi…” Dokter menjulurkan tangannya, secarik kertas hasil tes ada disana. Sulli mengambilnya perlahan, membaca satu persatu kata yang tak boleh luput dari sorot matanya. Dan tebakannya benar…

Kertas itu terjatuh dari genggamannya.

.

.

.

.

‘Aku Infertil… mandul…’

.

.

.

.

Sulli menangis dan air matanya tak bisa berhenti mengalir. Isak tangisnya memenuhi ruang periksa dan Minho mendekapnya erat-erat. “Ssst… tenanglah. Tidak apa-apa sayang… tidak apa-apa.” Sulli menangis sejadi-jadinya, sementara Minho berusaha menenangkannya.

Ini tidak adil bagi Sulli maupun Minho, tidak adil bagi siapapun juga. Dosa apa Minho hingga Sulli harus mengecewakannya?

‘Apa salah Minho hingga ia harus mendapatkan istri sepertiku?’

 

‘Aku tak bisa memberikannya seorang anak kecil dengan mata bulat dan senyum cerah yang sama seperti ayahnya…’

 

Sulli menaruh minat pada anak kecil sejak dulu.

Betapa ia ikut bahagia saat tawa dan cekikikan anak-anak di taman bermain menggema mengumbar kebahagiaan, berlarian dengan kaki-kaki kecil mereka dan menangis sekencang-kencangnya saat terjatuh, menanti ibu mereka menghampiri dan meniup luka itu untuk mereka…

Bagaimana mengurus anak dan menjadikannya seorang ibu ‘sungguhan’ adalah impiannya. Dan kini ia harus menghadapi kenyataan, ia tak bisa memiliki salah satu dari mereka.

“Ini tidak adil… Tidak!”

Minho mengecup puncak kepala Sulli lembut “Tidak apa-apa semuanya akan baik-baik saja. Aku ada disini Sulli, kita bisa melaluinya bersama. ”

Dan saat itu Sulli jatuh lagi dalam lembah terdalam cintanya pada Minho. Tak ada satupun yang dapat menyingkirkan dan mengganti posisi seorang Choi Minho di hatinya. Betapa Minho menerima ia apa adanya, meski ia tidak bisa memberikan bayi kecil bermarga Choi untuk suami yang ia cintai.

.

.

.

.

Jumat malam, cuaca semakin tak bersahabat. Suhu semakin turun ketika memasuki musim salju. Dan Sulli menghubungi ibunya di Daegu, berharap wanita itu memberi perhatian lebih padanya.

“Ibu… aku mandul—“ Tak ada sahutan dari seberang sana, dari seberang panggilan. “Ibu? Kau mendengarku?”

“Bagaimana ini bisa terjadi?! Padahal aku merawatmu dengan baik dulu…”

“Ibu Maaf…”

“Kau tak bisa meneruskan marga Choi! Kau tahu?! Kau tidak berguna.”

Satu tetes air mata jatuh dipipinya “Maaf… Maafkan aku.”

“Halo? Sulli?”

Sulli terhenyak, suara lembut sang ibu beralih berganti menjadi suara bariton pria yang sangat tak asing lagi di ingatannya. Pria yang selalu menuntut kesempurnaan dan menghina secuil kesalahan, itu adalah ayahnya.

“H-halo ayah…”

“Itu benar? Kau mandul?” Tanya ayah Sulli tanpa basa-basi, nada geram terselip di antara setiap kata-katanya.

“I-iya.”

“Ibu dan ayahmu tidak mandul! Bagaimana kau bisa?!!”

Sulli menggeleng putus asa, sekalipun ia tahu kedua orang tuanya tak dapat melihat air matanya yang mengalir tanpa henti “Aku tidak tahu kenapa… aku tidak tahu.”

‘Kumohon hentikan…’

 

“Aku bertanya-tanya apa kau benar anak kandungku? Nampaknya bukan, karena kau mengecewakan.”

‘hentikan…’

 

“Kau bukan anakku! Jangan salahkan kami jika suami-mu mencari wanita lain yang bisa memberikannya keturunan!”

PRAAKK

Gagang telepon jatuh ke permukaan lantai keramik, Sulli tak sanggup menopang cacian itu, ia tidak bisa. Terlebih… menyangkut Minho, ia tidak bisa.

Ia tahu ia salah karena ia cacat. Dan Sulli membenci dirinya yang tak berguna, seperti apa yang sudah dikatakan ayah-ibunya.

Sulli menuggu saatnya dimana kedua orang tua Minho memperlakukannya, seperti kedua orang tua kandungnya sendiri… membuangnya.

‘Pernahkah kau merasa dibuang kedua orang tuamu?’

 

Sulli menangis di sudut kamar tidur. Sendirian.

Tapi Minho datang dan menyeka air matanya.

Membopong tubuh gemetar itu ke tempat tidur dan menutup tubuh kurusnya dengan selimut tebal yang hangat. Ia berbisik menenangkan Sulli “Barangkali kedua Ayah dan ibu terlalu kaget dengan berita ini. Tidurlah, saat kau bangun besok semuanya akan kembali normal.”

‘Kembali normal? Ini bukan mimpi sayang… Ini kenyataan.’

Minho menjauh dan beranjak dari tempatnya tapi Sulli mencengkram lengannya, menahannya pergi. “Mereka bilang kau akan mencari wanita lain.” gumam Sulli lemah.

Minho tersenyum dan mengecup punggung tangan kekasihnya. “Itu tidak akan pernah terjadi.”

Ikrar Minho di depan altar terngiang kembali dalam ingatan Sulli, begitu jelas dan jernih terekam begitu saja di dalam kepalanya.

‘Aku bersedia berada di sisi Choi Sulli di dalam suka maupun duka hingga maut memisahkan.’

Dan setelah memutar ulang rekaman itu berkali-kali dalam otaknya, Sulli dapat tidur dengan nyenyak malam itu. Melupakan segala perkataan menyakitkan kedua orang tuanya dan menerima kenyataan bahwa ia tidak dapat memberikan apa yang disebut ‘darah daging’ pada suaminya. namun Sulli mengubur kekhawatirannya dalam-dalam saat Minho masih ada disana, memeluknya hingga pagi.

Sulli tidak sendirian…

Selama ada Minho, ia tidak apa-apa.

Sungguh, Jika Minho ada bersamanya, Sulli rasa dunia ada dalam genggaman tangannya.

.

.

.

.

After 4 years

Sulli menghitung bulan demi bulan yang ia jalani. Hanya ada 12 bulan dalam setahun, dan ia melewati 24 bulan setara dengan 2 tahun yang paling berat dalam hidupnya. Kedua orang tua yang seolah tidak mengenalnya—berpura-pura bahwa ia bukan putri seorang pasangan Choi lagi, Ibu mertua yang kerap kali menyinggung perasaannya, dan momen ketika melihat anak kecil yang berpelukan dengan ibu kandung mereka masing-masing adalah cobaan terberat bagi Sulli.

Terlebih lagi Ada yang berbeda dengan Suaminya, Choi Minho.

Sulli mencoba berulang kali mengenyahkan pemikiran buruk itu dari dalam kepalanya. Namun hati kecil tak pernah dapat berbohong dan terus bertengkar dengan logika yang diproduksi oleh otaknya. Mempeributkan siapa yang salah. Sullikah yang terlalu banyak berprasangka atau Minho yang benar-benar berubah.

Semenjak pagi itu disetiap membuka matanya, yang Sulli lihat bukan wajah cerah Minho lagi, melainkan punggung bidangnya. ‘Ini wajar, mungkin sekarang Minho bergerak aktif dalam tidurnya.’

Tidak ada lagi sambutan hangat dan pujian kecil seperti ‘Hai cantik’ sebelum Minho bangkit dari tempat tidur mereka , ia pergi begitu saja. ‘Ini wajar, tidak mungkin selamanya seorang suami menjadi seromantis saat mereka remaja bukan?’

Minho selalu pulang tengah malam. ‘Oh, Ini wajar. Minho sekarang menempati posisi wakil direktur di perusahaan tempat ia bekerja, ia sibuk.’

Minho melupakan ulang tahun Sulli dan ulang tahun pernikahan mereka. Ia pulang larut dan langsung tertidur setelah mengganti setelan kantornya. Tanpa meminta maaf ataupun ia memang benar-benar lupa, tak ada tanggal-tanggal penting itu dalam kepalanya. ‘Mmm… Ini wajar. Dia sudah terlalu lelah untuk memikirkan hal-hal yang kurang begitu penting.’

Hingga di pagi itu Sulli menanyakan hal yang tidak penting lainnya pada Minho.

“Kau sibuk hari ini?”

“Kurasa begitu.”

Ia tidak bertanya alasan Sulli menanyakan kesibukannya. Sulli menghela nafas dalam-dalam, perasaan tidak nyaman menyelimuti sekujur tubuhnya “Aku… Aku akan pergi ke rumah sakit hari ini. Bisakah kau menemaniku?”

                Sulli menanti jawaban Minho setelah lima detik dan Minho terlihat berpikir sejenak “Maaf… aku benar-benar sibuk hari ini. Mungkin lain kali aku bisa pergi menemanimu.”

Dan saat itu Sulli menyimpulkan, ‘Ini tidak wajar. Dia bukan Choi Minho yang kukenal…’

                Dia bukan Choi Minho yang Choi Sulli kenal.

Entah bagaimana cara Sulli menghitung kadar kehangatan dari suaminya itu perlahan berkurang. Sementara pemikiran buruk tentang Minho terus mengotori isi kepalanya, Sulli diam-diam menghitung sebarapa banyak waktu yang ia habiskan bersama Minho setahun belakangan dan ternyata waktu kebersamaan yang mereka habiskan berdua berkurang secara signifikan.

Kini Sulli tengah berada dalam kekalutan luar biasa atas perubahan kecil yang dialami suaminya. Masalah terbesarnya adalah, Pria ini seorang Choi Minho! Dan Sulli tahu persis seperti apa pria yang dinikahinya.

Ini bukanlah lagi sebuah kecurigaan di saat Sulli mendapati partikel lainnya yang melekat di busana kantor Minho. Aroma kelopak bunga azalea—feminin, lembut dan berkelas melekat disana.

Parfum wanita…

Sulli tak ingat jika ia pernah memiliki parfum dengan aroma semahal ini. Ia punya banyak di lemari, tapi tak satupun ada yang dapat menyamai aromanya. Lutut Sulli melemah, haruskah ia menuding Minho dan mempertanyakan keberadaan sumber parfum ini? Haruskah? Atau ia harus kembali ke pemikiran awal, bahwa Minho akan selalu setia—ada disisinya.

Hingga malam itu Sulli menemukan jawaban atas sikap Minho baru-baru ini. Di malam ia seharusnya menyesali hubungan pernikahan yang ia jaga sedemikian rupa, tapi ia tidak. Sulli tak pernah menyesal.

Seperti biasa, Minho pulang larut malam, jam 12 lewat. Dan saat itu Sulli berpura-pura sudah terlelap.

Sulli mengintip di balik kelopak matanya yang setengah terbuka, memperhatikan secara diam-diam aktivitas suaminya. Minho mengganti baju, Minho masuk ke toilet, dan Minho mengetik pesan sambil tersenyum.

‘Kau tersenyum Minho…’

Minho mematikan ponsel dan merebahkan diri di sisi Sulli. Memunggunginya.

‘Kau tidur memunggungiku Minho…’

Setelah menunggu beberapa menit, Sulli bangun dan memperhatikan Minho yang mulai mendengkur pelan. Kemudian ia bangkit dan berjalan menuju meja rias tempat Minho meletakkan ponselnya, ia menyalakan ponsel Minho dan membaca semuanya—semua yang seharusnya tidak ia baca.

01.25 AM 14 August 2012

massage send to +62xxxxxx

Terima kasih untuk malam ini, aku mencintaimu. (Jangan lupa besok kita makan siang bersama)

Ini bukan nomor ponsel milik Sulli…

Sulli tak pernah mendapatkan pesan semacam ini dari Minho…

Tangan Sulli gemetar tatkala ia berpindah dari satu pesan ke pesan lainnya. Kata-kata cinta terpampang jelas disana. Kalimat yang seharusnya hanya Sulli yang boleh mendengarkannya, hanya Sulli yang boleh mendapatkannya, kalimat ‘aku mencintaimu’ yang seharusnya hanya Sulli yang berhak memilikinya. Tapi Minho telah memberikannya pada orang lain—mengkhianati Sulli.

‘Lalu apa arti seorang Choi Sulli ini bagimu Minho, masihkah berharga?’

Tapi Sulli tidak selemah itu.

Sulli takkan membongkar lemari dan memasukkan baju ke dalam koper kemudian pergi dari rumah.

Sulli tidak akan melempar gelas kaca ke lantai dan memekik sekeras-kerasnya di hadapan Minho.

Sulli tak akan melukai pipi suami yang ia cintai dengan sebuah tamparan kekecewaan yang seharusnya Minho patut terima.

                Sulli akan tetap berdiri di atas puing-puing yang tersisa. Berada di antara reruntuhan yang jatuh menimpanya tanpa ampun, melukainya atau bisa saja membunuhnya. Sulli mengingat seberapa besar cinta Minho dulu. Sulli ingat dan ia takkan lupa akan hal itu.

                ‘Apa kau lupa bagaimana caranya mencintaiku?’

                ‘Hingga wanita lain yang mengajarkannya padamu?’

               

Mungkin Minho tak lagi membutuhkan dirinya, ia tak lagi senilai dengan air dingin yang menyegarkan bagi Minho maupun udara segar yang masuk dalam sistem respirasinya. Karena ada air dan udara yang lain… Air dan udara baru yang dengan sukses menepis posisi Sulli.

‘Aku tidak apa, sungguh.’

‘Selama air maupun udara sejuk itu mampu mengukir senyuman indah di wajah Minho, aku akan tetap berbahagia untuknya…’

.

.

.

.

Sulli tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Ia tak punya keberanian untuk sekedar bertanya pada suaminya ‘Apa kau tengah mengkhianatiku?’ atau yang paling mudah ‘Masihkah kau mencintaiku?’ Sulli tak pernah menceloskan kalimat-kalimat tanya tersebut yang berputar-putar di dalam rongga kepalanya—mebiarkan luka yang tertoreh itu semakin dalam tanpa berupaya mengobati dan menutup lukanya.

Sulli buta, yang ia pikirkan hanya kebahagiaan Minho.

Sulli salah, benar-benar salah. Dan ia tak menyadari kesalahannya.

.

.

.

.

After 5 years…

Sulli memandangi kalender yang duduk rapi di atas meja nakas di sisi tempat tidur dan ia kemudian menyadari, dirinya telah memasuki tahun kelima pernikahan yang ia jalin bersama Minho.

Setelah melewati musim dimana butiran salju jatuh dari langit dan membekukan permukaan danau dan jalanan raya yang menjadi licin karenanya, Sulli tak cukup yakin akan ada musim salju lagi dalam hidupnya. Entahlah… ini yang terakhir atau tidak, mungkin masih ada musim salju yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Karena Minho sungguh-sungguh berubah, jauh dari perkiraan Sulli.

Minho takkan kembali, dan takkan pernah mencoba kembali padanya.

23 Desember 2013

Kala itu embusan angin masuk melalui kisi-kisi jendela, nyaris membekukan tubuhnya yang duduk meratap di atas tempat tidur. Tanggal 23 Desember adalah tanggal teristimewa dalam perjalanan hidup seorang Choi Sulli. Seorang pria menyematkan cincin indah nan berkilau di jari manisnya dan mengucapkan sumpah setia seumur hidup.

Akan setia di saat suka maupun duka.

Hingga maut memisahkan.

 

Namun ketika badai salju datang melanda kota Seoul malam itu, Minho tak ada disana. Minho tak ada untuk merayakan hari jadi pernikahan mereka, terlebih memeluk Sulli—mengusir rasa takut yang menjalar di seluruh tubuhnya.

Sulli takut akan segala hal.

Sulli takut akan kepekatan malam. Sulli takut ketinggian. Sulli takut badai. Sulli takut berada di atas hamparan laut yang luas dan dalam tak berpri. Tapi ia bersumpah di atas itu semua, ia mampu menghadapi seluruh ketakutannya itu asal Minho ada disisinya.

Tapi Minho tidak ada. Sulli tak dapat menemukannya dimanapun ia bersembunyi di sudut rumah yang luas dan menyedihkan itu. ‘Kau ada dimana?’

Dan Sulli akan terus dirundung sejuta rasa ketakutan tanpa rangkulan Minho yang jadi penenangnya.

.

.

.

.

Sulli mengenang musim dingin tahun lalu, saat sweater cokelat Minho yang beraroma mint, melekat lembut di pipinya. Sulli ada di dalam rengkuhan hangatnya sepanjang malam dan Minho takkan membiarkan perapian padam, terus berjaga hingga cahaya matahari menyembul dari ufuk timur.

‘Apa Minho lupa bahwa ia pernah mencintaiku?’

‘Apa aku harus mengingatkannya?’

‘Mengingatkan ia, siapa istrinya, dimana tempat tinggalnya, dan jatuh pada tanggal berapa hari pernikahannya. Haruskah ?’

.

.

.

.

Musim mulai berganti, salju-salju di pelataran depan rumah perlahan mencair dan permukaan danau yang membeku mulai bergemericik teratur.

Tapi salju di hati Sulli tak mengalami hal yang sama. Tetap dingin, beku, dan kaku. Musim semi kelima di tahun pernikahannya, musim semi tanpa satupun kehangatan yang ia rasa seharusnya terjadi demikian.

Lagi-lagi memoar itu muncul kembali ketika ia masih berdiam di rumah mungil lamanya. Ia ingat di musim semi segalanya selalu indah. Entah itu penduduk yang saling melempar senyum hangat nan ramah, unggas-unggas di halaman bertebaran mencari cacing di dalam tanah, dan kelopak bunga merekah dimana-mana.

Saat itu ia menari-nari di bawah pohon cherry blossom yang bunganya akan terus bermekaran sepanjang musim semi. Ia tak sendiri, Minho ada bersamanya ikut tertawa kala gadis itu bertingkah lucu di hadapannya. Minho menjaganya, takut-takut gadis itu tergelincir ataupun terjatuh karena terlalu bersemangat menyambut musim semi, musim kesukaan Sulli.

Satu-persatu kelopak bunga jatuh ke permukaan tanah dan megering. Berganti dengan dedaunan yang menghijau sempurna. Sulli mengenakan terusan biru langit tanpa lengan, dan topi jerami menutupi kepalanya dari sengatan sinar matahari.

Saat itu Minho mengenakan blus putih yang membuatnya nampak mempesona…

Saat itu Minho di sisinya…

 

Dulunya warna putih adalah warna kesukaan Sulli, hingga ia tiba di rumah barunya yang berlapis cat putih pucat—sedih, kemudian satu-persatu kehidupannya terenggut. Orang tuanya, suaminya, dan musim-musim pun tak pernah membawa kebahagiaan lagi seperti dulu. Sejak itu, warna putih selalu nampak sunyi dan bagai mimpi buruk yang menggerogoti tidurnya.

Musim semi tanpa Minho hanyalah sekedar bunga yang mekar tanpa warna, dedaunan mencuat dari pucuknya tanpa rona hijau yang merekah, hanya ada rintik hujan yang membawa duka. karena Minho lebih dingin dari bongkahan es yang membeku, mengalahkan apapun yang berpendar hangat di sekitarnya.

‘Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?’

‘what happen to us?

What happen to love?’

 

Sulli tidak mengerti…

Apapun yang terjadi pada Minho dan dirinya membuat Sulli tidak mengerti, berapa kalipun ia memutar otak dalam rongga kepalanya, mencari tahu mengapa dan bagaimana situasi ini bisa terjadi hanya akan berakhir dengan butiran mutiara yang jatuh di pipinya. Dan Minho tetap sama, tak berubah—dingin membekukan hatinya; nyaris menghentikan detak jantung Sulli.

‘I’m the one that’s always been here…

Even throught the darkest night…

And brave the tide for you and me…

can you tell me, “things will get better..” can you?’

.

.

.

.

Di siang yang terik itu, Sulli menyajikan dua piring kecil puding susu di atas meja makan. Satu piring kecil puding ia makan perlahan, dan piring lainnya tak tersentuh—tak ada yang mencicipinya. Sungguh bukan menjadi sebuah masalah, Sulli bisa saja menghabiskan semua puding dingin yang ia buat sendirian.

Padahal…

Puding susu yang manis dan lembut itu ia ciptakan khusus untuk Minho. Tapi Minho takkan pulang ke rumah bahkan hingga esok pagi menjelang. Meski ini hari Minggu dan tak ada berkas di kantor yang memohon untuk segera diselesaikan olehnya.

‘All I ever need was you…

You never have the worry at all…’

Mungkin di pertengahan musim panas ini, Minho tengah berada di tempat lain. Di sebuah apartemen atau kamar hotel dengan aroma therapy lavender yang menenangkan, temaram lampu kuning yang romantis, dan permukaan kasur yang empuk.

‘Apa karena Minho tak suka puding?’

Apa karena puding terasa manis dan membosankan? Terlalu lembut hingga teksturnya mudah hilang dan terlupakan dalam hitungan detik saat tersentuh lidah? Apa karena puding mudah hancur dan Minho ingin muntah karenanya?

‘Apa aku seperti puding?

Apa aku lemah dan mudah hancur?

Apa aku manis dan membuatmu bosan, hingga kau butuh rasa lain?

Seperti itu kah aku?

Apa aku seperti puding yang kau abaikan di musim panas…?’

.

.

.

.

Pagi itu Sulli bangun tatkala ranting kering pepohonan musim gugur mengetuk kaca jendela kamarnya. Dan ia tak menemukan sosok pria yang ia cintai itu untuk kesekian kalinya di bulan ini.

Tak ada Minho yang mendengkur pelan…

Tak ada Minho yang menggerutu; tak ingin jika sang mentari mengganggu tidur nyenyaknya…

Tak ada lagi ucapan selamat pagi yang mencelos dari bibir menggodanya…

Hanya ada bayang gelap punggung lebarnya dan aroma napas yang tertinggal di udara kosong—terasa begitu hampa namun Sulli menikamatinya; menghirupnya dalam-dalam hingga Sulli sekali lagi dapat meyakinkan diri, bahwa Minho tak sepenuhnya pergi. Setidaknya ia masih meninggalkan helaan napas hangatnya di tempat tidur mereka.

                Apalagi yang lebih baik, daripada dapat menghirup napas orang yang kau cintai?

                ‘Because for me every step seems, just a little better…

                Your mistakes don’t really seem to matter…’

.

.

.

.

                Kamis malam, Minho pulang lebih awal. Ia melangkah melewati pintu masuk. Sesekali embusan angin musim gugur menelusup di balik mantel tebal kecoklatannya—ia tak peduli. Entah sejak kapan, Minho mengenali betul rasa dingin yang terselip di antara hati dan mantel tebalnya; ia terbiasa. Kemungkinan besar, sudah menjadi bagian dari dirinya.

Minho menyusuri ruang tengah dan tanpa menciptakan tanda-tanda kehadirannya ia langsung pergi ke kamar tidur. Minho tidak mencari Sulli, memanggil namanya, atau mencium keningnya. Karena baginya Sulli hanyalah segelintir remah roti yang jatuh ke lantai, ia tak perlu repot-repot memungutinya—angin akan meniupnya jauh-jauh.

Tapi Sulli bukan segelintir remahan roti di bawah meja makan…

Ia akan bertahan dan melekat kuat di bawah telapak kaki Minho…

Meski ia terinjak, meski Minho membasuhnya dengan air berkali-kali…

Ia tak akan pergi…

 

                “Kau akan pergi lagi?” suara lirih itu muncul dari belahan bibirnya yang memucat.

                Minho menyisir helaian rambut hitamnya. Menyemprotkan parfum baru—aroma pine yang basah dan mengenakan kemeja merah maroon yang menggoda. “Banyak yang harus kuselesaikan di kantor.”

                Sulli menghampirinya , mencoba menghapus jarak yang selalu memisahkan mereka. Walau Sulli tak pernah yakin sepenuhnya, bahwa jarak adalah satu-satunya pemisah antara dirinya dan Minho.

Karena ada hal lain… the other things.

hal lain yang membuat Minho mengubah gaya potongan rambutnya, hal lain yang membuat Minho memilih satu dari antara ribuan parfum yang beraroma eksklusif nan lembut, dan hal lain yang membuat Minho memilih warna merah maroon dari segala ribuan warna lainnya.

‘Bukankah kau suka warna putih, hitam, dan abu-abu yang monoton?’

‘Bukankah kau lebih memilih potongan rambut sederhana dan membiarkan rambutmu menjuntai di dekat daun telingamu?’

‘Bukankah…kau tak begitu suka parfum?’

‘Minho… apa yang terjadi?’

 

Sulli menciumnya. Berpegang pada dada bidang Minho yang ia rindukan, mengusap manisnya bibir Minho dan mengingat lekat-lekat bagaimana rasanya. Karena Sulli hampir gila—terlalu merindukan Minho, karena Sulli sungguh-sungguh menginginkannya di malam-malam gelap yang terbentang di atas kepalanya, di kala bunga tidur selalu sama—menyeret Minho sebagai pemeran utamanya; bermain-main dengan perasaan Sulli.

Dan satu dorongan lengan Minho menyingkirkan Sulli dari hadapannya “Aku sudah terlambat.”

Dan ia pun pergi, mengacuhkan Sulli begitu saja…

Bagaimana setiap derap langkah Minho meninggalkan rumah, dengan mudahnya mengoyak perasaan Sulli hingga berkeping-keping. Hancur menjadi debu dan menyakiti hatinya.

‘Apa aku ini debu?

Debu yang terselip di antara helaian rambutmu…

Hingga kau menepisnya pergi..

Atau…

Aku ini seperti beling yang tertancap di balik telapak kakimu?

Kau harus segera menyingkirkannya jauh-jauh…

Begitu kah aku?

Minho…

apa aku seperti debu dan beling di hidupmu?’

.

.

.

.

Dan malam di penghujung Desember itupun tiba.

Suatu malam dimana Sulli ingin menguasai bumi dan menghentikan waktu, memutar jarum jam kembali ke belakang dan ia harap malam itu berlangsung selamanya—tak pernah berakhir.

Biarkan saja kota Seoul yang gemerlap dinaungi kepekatan malam untuk selamanya, biarkan saja salju di luar sana menumpuk hingga batas kepala manusia karena tak sedikitpun punya kesempatan untuk mencairkan diri.

Biar saja.

Asalkan waktu berhenti bergulir di malam itu, maka ia bahagia hingga ia akan melupakan rasa sakit yang terkubur terlalu jauh di dalam asa.

Karena Sulli bertanya-tanya dalam benaknya. Mimpi apa ia semalam? Saat ia menemukan rumah tak lagi dalam kondisi yang sama seperti malam-malam sebelumnya.

Ruang makan yang redup…

Cahaya lilin yang berpendar…

Kelopak bunga mawar yang tersebar di permukaan lantai rumahnya…

Dan alunan musik romantis mendayu dari radio tape di atas lemari pendingin…

Kapan terakhir kali ia melihat hal seindah ini terjadi di dalam rumahnya yang mengenaskan? Sampai-sampai tungkainya tak sanggup membawa sepasang kakinya melangkah dari ambang pintu dapurnya. Masih mencoba berpikir keras, siapa gerangan pelakunya?

Karena menurutnya, seorang Choi Minho tak mungkin melakukan hal semacam ini. Tidak mungkin dan tidak akan pernah.

Tapi Sulli salah besar. Kali ini tebakannya jauh melenceng ketika pria bermata bulat dan bertubuh tegap itu muncul di antara keremangan cahaya lilin, menciptakan bayang-bayang yang tak konsisten berdiam di lantai dan dinding rumahnya.

‘Mimpi apa aku semalam?’

Minho mengulurkan telapak tangannya dan membungkuk lebih dari kata hormat—sangat terlihat sopan ditambah dengan setelan kemeja putih polosnya yang nampak berkilau di tengah keredupan.

‘Apa yang harus aku lakukan? Menyentuh tangannya?’

 

Minho tersenyum diiringi iris matanya yang berbinar terang, membuat Sulli nyaris membeku karenanya.

Mantel hitam tebal yang membalut tubuh kurusnya tak lagi berfungsi dengan baik. Karena Sulli terpaku seperti patung es bahkan di dalam rumahnya yang dilengkapi penghangat ruangan yang masih berfungsi dengan baik.

“Hey Nona…” Minho membuyarkan lamunannya “Ingin menghabiskan makan malammu bersamaku?”

Nampaknya Sulli tengah bermimpi. Karena Ini tidak mungkin. Makan malam romantis bersama Minho? Pria itu pasti sedang bercanda.

Ya, semacam bercanda yang terlampau serius. Bagaimana mungkin seseorang yang bercanda telah mempersiapkan sebotol wine dan satu tangkai bunga mawar di atas meja makan? Dua piring steak daging dan sekeranjang buah-buahan? Bagaimana mungkin?

Semuanya mungkin saja terjadi, ketika Minho ada disana, menggamit jemari dinginnya dan menuntun ia ke salah satu kursi di sisi meja makan. Aroma lada hitam yang menguar dari piring menyadarkan Sulli seutuhnya, ia tidak sedang bermimpi. Ini realita—kenyataan termanis yang terjadi di lima tahun belakangan pada bahtera rumah tangganya.

“Kau yang mempersiapkan semua ini?” Tanya Sulli lirih, lebih mirip sebuah bisikan.

Minho mengangguk diikuti sebuah ulasan senyum, “Hm, makanlah. Sebelum dagingnya dingin.”

“Mimpi apa aku semalam?”

Minho mendongak dan mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. “Eum… apa aku perlu menjawabnya?”

Sulli menggeleng pelan ketika menyadari bahwa Minho tak mungkin tahu apa isi mimpinya di malam senin, malam selasa, ataupun di malam lainnya. Karena di setiap Sulli terbangun, Minho tak pernah ada di ranjang yang sama dengannya.

Ironis saat pria yang menghilang entah kemana, lalu hadir dengan aroma mawar merah yang sukses menyapu aroma lain yang tak penting. Sulli benci ironi, tapi ia menyukai yang satu ini.

Senyum itu tak bisa lenyap dari wajahnya. Sepanjang ia menyuapkan potongan steak ke dalam mulut, senyum dan mata yang saling bersirobok satu sama lain selalu jadi penghantarnya. Sulli senang, riang, bahagia, dan apapun itu namanya yang menggambarkan perasaan yang meluap-luap.

Karena Minho ada disini…

Menuangkan wine ke dalam gelas piala, kemudian bersulang…

Mengupaskan sebutir apel apel untuknya…

“Sulli…” Panggil Minho setengah menggumam.

“Ya?”

“Pernahkah terlintas di pikiranmu—“ Minho sejenak bergeming kemudian kembali mengupas Apel merah ranum di genggamannya “—bahwa aku seperti apel ini?”

Sulli mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum sebuah jawaban mengambang keluar melalui bibirnya “Tentu.”

“Benarkah?”

Sulli mendongak memperhatikan tiap gestur Minho yang terampil menguliti apel; mulai berubah bentuk saat berada di tangannya “Ya, di mataku kau seperti apel matang yang baru saja di petik dari pohonnya. Bagiku… Kau berharga.”

Secara tiba-tiba Minho menghentikan kupasannya, dan Sulli melihat hal itu. Menciptakan sensasi aneh yang menjalar melalui tengkuk kemudian singgah di dadanya. ‘Ada yang salahkah dengan ucapanku?’

 

“Sulli… sosok Choi Minho yang ada di hatimu itu, seperti ini—“ Minho menunjukkan pada Sulli apel dalam tangannya; merah mengkilap, tak ada yang salah. Memang begitulah Minho di mata Sulli. “—tapi kenyataannya… Choi Minho yang dihadapanmu sekarang, seperti apel ini…” Minho membalikkan apel dalam genggamannya, memperlihatkan salah satu sisi yang sudah terkelupak—hanya ada daging buah yang putih pucat; tak berwarna.

Sulli terkesiap, garpu titanium lepas begitu saja dan terjatuh ke permukaan piring; menciptakan dentangan bagai mimpi buruk yang menghantui Sulli di bunga tidurnya. “A-apa maksudmu. Aku tidak mengerti.”

“Jangan berpura-pura. Kau tahu persis apa yang kumaksud…”

“A-aku benar-benar tidak mengerti.” Sulli bergegas merebut apel dalam genggaman Minho. Sebelum Minho bicara lebih banyak lagi, sebelum ia bicara tak jelas dan meracau tak tentu lagi, Sulli harus menghentikannya.

“Aku sudah tak pantas untukmu lagi Sulli… Kau menyadari itu.”

“Tidak. Tidak. Kau masih apel yang sama. Kau masih apel merah ranum di saat pertama kali kita bertemu. Kau tidak perlu khawatir.” Sulli melanjutkan kupasan apel yang setengah selesai dengan tangan gemetar. Ini salah—makan malam terburuk dalam hidupnya.

“Sulli… Kau seharusnya—“

“Minho. Yang harus kau tahu, apel tetaplah apel. Walau kau mengulitinya, walau kau membelahnya menjadi berkeping-keping, dan walau kau menghancurkannya. Ia tetap apel.”

Minho menghela napas panjang dan menghempaskan punggung ke rangka kursi. “Aku tidak ingin menyakitimu lebih dari ini Sulli. Seharusnya kau mengerti. Aku—“

“Tidak. Kau tidak pernah menyakitiku.” Ujar Sulli memotong perkataan Minho untuk yang kesekian kalinya, hingga pria di seberang meja nampak kesal—geram.

“Sulli, Jangan begini… Kumohon jangan kukuhkan pendirianmu.”

SRET

“Astaga Sulli! Kau melukai jarimu!”

Sebilah pisau melukai jemari telunjuknya—menciptakan sayatan panjang yang memilukan dan darah segar mengalir dari sana tanpa henti. Tak ada yang tahu, ia sengaja atau tidak. Kemungkinan besar ia sengaja melakukannya.

Biarkan saja…

Biarkan merah pekatnya darah merembes di permukaan daging apel. Biarkan darahnya mengubah warna daging apel yang putih membosankan beralih menjadi merah merekah. Bukankah itu yang diinginkan Minho?

Minho berniat beringsut dari sana, membongkar laci di sisi lemari pendingin dan menemukan sebuah plester. Namun cengkraman Sulli menahannya pergi. “Tidak apa-apa ini tidak sakit. Sama sekali tidak sakit.”

Karena Sulli pernah merasakan yang lebih sakit.

Perasaan sakit yang melebur hingga ke sum-sum tulang belakangnya.

Sakit yang membuatnya bernapas secara tidak wajar.

Sakit yang diciptakan oleh orang yang dicintainya…

 

“Maukah kau berdansa denganku? Ini lagu kesukaanku—“ Iris kecokelatan Sulli menjelajah hingga ke seluruh sudut maupun sisi ruang makan yang redup; tiga batang lilin jadi satu-satunya penerang disana. “—karena aku tak ingat kapan terakhir kali kita berdansa. Lama sekali… mungkin empat tahun lalu?” Bagi dirinya, berdansa bersama Minho jauh lebih penting dibandingkan mengobati sayatan di jarinya.

“Biarkan aku mengobati lukamu dulu.”

Sulli memperkuat cengkramannya di lengan Minho, “Berapa kali harus kukatakan… ini sama sekali tidak sakit.”

Karena sakitnya akan hilang seiring langkah kaki yang menari teratur diiringi melodi sendu yang melantun memenuhi ruang makan. Sakitnya akan enyah begitu saja saat Sulli berada dalam rengkuhan kekasihnya yang tak lagi sehangat dulu. Sakitnya terlalu parah, dan satu-satunya obat hanyalah pria yang tengah mengajaknya berdansa di antara kelopak bunga-bunga.

‘Kapan terakhir kali… lengan kokoh ini melingkar di pinggul ku?’

‘Kapan terakhir kali… pipiku bersentuhan dengan kemeja katunnya yang lembut?’

‘Mungkin… empat atau tiga tahun lalu.’

 

“Sulli… menyerahlah.”

tidak. tidak akan.

“Aku hampir jatuh Minho… kau tak melihatnya?”

Minho mengecup kening Sulli, entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin sekedar untuk menenangkan wanita yang penuh dengan derai air mata di pipinya. “Jika kita terus bersama, kau akan benar-benar jatuh Sulli.”

Ini tidak adil.

“Tak bisakah kau menarik lenganku? Kali ini saja… Jangan biarkan aku jatuh. Kumohon…”

“Kau tahu ini tidak adil bagi siapapun, hubungan kita… tak ada lagi yang patut diperjuangkan.”

“Bagaimana dengan cintaku?”

“Bagaimana dengan kedua orang tua kita yang tak pernah akur satu sama lain? Bagaimana dengan kau yang terluka?”

“Kumohon… Jangan…”

Minho tak pernah mengerti. Mungkin ia tak ingin mengerti sama sekali.

‘Kau… hembusan napasku… Bagaimana aku hidup tanpamu?’

Minho, tolong jelaskan pada Sulli, ajari ia bagaimana caranya hidup tanpa bernapas—menghirup zat lainnya selain oksigen. Tolong jelaskan padanya.

Dan akhirnya satu rangkulan dalam-dalam Minho berikan untuk Sulli , “Maaf… Aku… Minta maaf.”

Mungkin ini ciuman terakhir…

.

.

.

.

Sulli tersadar di pagi itu, tanggal 23 Desember 2014, hari ulang tahun pernikahan mereka yang keenam. Sulli masih belum memiliki kekuatan apapun untuk bangkit dari tempat tidurnya. Ia masih terjebak di antara mimpi buruk semalam dan udara hampa yang menghimpitnya tanpa ampun.

Sulli mengangkat lengannya tinggi-tinggi dan memandangi telapak tangan serta guratan-guratan yang tertoreh disana. Ada yang lebih cantik dari apapun yang ada dalam ingatan dan memorinya tentang suatu benda yang melingkar kaku di jari manisnya.

Sebuah cincin dengan permata yang berkilau.

Cincin yang disematkan dengan sebuah sumpah dari mulut pria yang ia cintai di kala musim dingin di altar gereja dan puluhan orang menyaksikannya.

23 desember… hari paling istimewa di sepanjang perjalanan hidup seorang Choi Sulli.

Dan di pagi itu untuk pertama kalinya ia tersenyum.

Dan entah datang darimana kekuatan itu, kini ia mampu beranjak dari tempat tidur dan menyeret sepasang kaki kurusnya menuju ruang makan. Situasinya masih sama seperti semalam, kelopak bunga yang tergeletak sendu di permukaan lantai, batang lilin yang habis dimakan waktu serta peralatan makan yang terbengkalai begitu saja.

Sulli mendudukkan diri di salah satu kursi di sisi meja makan dan mendapati aroma Suaminya masih tertinggal di sana. Mengapa begitu kuat? Begitu pekat? Sampai-sampai dada Sulli terasa sesak—ia nyaris kehilangan cara untuk mengisi rongga dadanya dengan oksigen.

Tak ada yang lebih menarik perhatian Sulli selain daripada segelintir apel yang terkulai lemah di atas meja makan. Setengah kulitnya telah terkelupak dan menampakkan buah daging yang berubah menjadi layu kecokelatan. Menyedihkan.

Minho selalu setengah-setengah dalam melakukan hal apapun.

Minho tidak mengupas seluruh kulit apelnya.

Minho tidak membereskan bekas-bekas kejutan yang ia berikan semalam.

Minho juga tak pernah mencintai Sulli sepenuh hatinya.

Namun Sulli tak pernah mempermasalahkan hal itu.

Namun hal terburuknya adalah… Minho juga tidak menepati sumpahnya.

“Bagaimana ini Minho? Kau tidak menepati sumpahmu…”

‘Aku bersedia berada di sisi Choi Sulli di dalam suka maupun duka hingga maut memisahkan.’

Sulli khawatir, kegundahan yang luar biasa melanda pikirannya. Minho akan mendapat masalah besar jika ia melanggar sumpahnya. Karena dosa pelanggaran sumpah adalah hal yang lebih mengerikan dari apapun di dunia. Akankah Tuhan mengampuninya?

Sebutir air mata meleleh di pipi tirusnya. “Apa yang harus kulakukan untukmu Minho?”

Dan satu lagi benda yang menarik perhatian Sulli untuk ketiga kalinya di pagi yang suram di bawah cakrawala yang bergerumuh hebat—badai salju di pukul tujuh pagi. Benda yang mengingatkan ia pada jemarinya yang terluka saat menguliti apel dalam genggamannya semalam.

Sebuah pisau dengan matanya yang berkilau.

Sepersekian detik kemudian, Sulli meraihnya dan seulas senyum lahir di bibir pucatnya.

“Aku bertemu jalan keluarnya, Minho…”

Minho tak perlu khawatir.

Ia tidak perlu pergi ke kamar dan bertelut di sisi tempat tidur untuk berdoa pada yang kuasa soal dosa-dosa pelanggaran sumpahnya.

Ia tidak perlu khawatir tentang hubungan Sulli dan keluarganya yang memburuk.

Ia juga tidak perlu memikirkan mantan istrinya yang infertil lagi.

Karena Sulli telah menemukan jawaban atas segala permasalahan yang menimpa mereka di kala musim terus bergulir tanpa menyisakan waktu bagi Minho dan Sulli untuk menemukan cara agar bisa menempuh hidup pada jalan berkelok yang curam—kesempatan untuk memperbaiki bahtera rumah tangga mereka yang hancur berantakkan.

Dan Satu sayatan yang dalam ia torehkan di pergelangan tangannya…

Perih—darah mengalir sedih ke permukaan meja makan…

Ia mengatup sepasang kelopak matanya perlahan dan tersenyum…

Segala permasalahan selesai di pertengah Musim salju, di tanggal 23 desember.

‘hingga maut memisahkan kita…’

.

.

.

.

Karena demi apapun, senyuman Minho lebih penting dan berharga dibandingkan perasaannya. Demi Minho, ia akan melakukan apa saja dan melewati apa saja. Sesulit apapun itu.

Demi Minho…

.

.

.

.

Sejak saat itu Sulli punya masalah besar dalam menghitung jumlah musim dan membedakannya antara satu dengan yang lainnya.

Yang pertama, Musim dingin.

Kedua, Musim semi.

Ketiga, Musim panas.

Selanjutnya, Musim gugur.

Dan nampaknya musim bertambah satu lagi dalam ingatan seorang Choi Sulli.

Mungkin yang terakhir adalah…

Musim-musim yang ia lalui tanpa Minho di sisinya…

___fin___

 .

.

.

(A/N)

BUAHAHAHAHAHA

Otthokae? Otthokae????!!!

Aduh, aku minta maaf buat ff yang gaje ini. Hari ultahnya TTBY dan aku bikin ff angst yang mengerikan dan buruk rupa seperti ini!!! Oh, reader-nim maafkan saya… (T.T)

Ini ff oneshot angst pertama aku (yang lain fluff), kalo ada yang nyesek pas baca… berarti aku berhasil (yeah!) kalau ga ada sama sekali, kayanya aku ga usah bikin ff angst lagi. Ahahaha!

…….

Mirrors II dan 25 ficlet lainnya bakal aku lanjutin setelah tanggal 27 agustus (ada moment penting sepanjang menuju tanggal ini.)

……

Untuk peserta lomba menulis FF CHUKAEEE!!! (aku belum tahu siapa pemenangnya padahal (-_-) , karena saat pengetikan ff ini, aku belum sempat membaca satupun naskah yang sudah aku download xD. Pokoknya selamat deh buat yang menang ataupun yang belum jangan patah semangka yaaa:D

“HAPPY MINSUL DAYS!!”

Tetap dukung our giant baby ssul yaa…^^ Dan dan dan…

Dan untuk para silent readers…. Berniat untuk meninggalkan komen??? (I need your Support) Thank youuu. :* ❤

Advertisements

101 thoughts on “[2nd anniv event] Five Seasons – Dazdev

  1. buahahahahaa…
    eoni nakal aq sentil nih…
    lg seneng” hrusnya mlh dibikin nangis lg tega bner dah,,, ff nya bgis bngeth kok eoni kasian sulli nya dsini mnderita bangeth,,, akhirnya sulli mati masak -_-” jiah tega bner nih author…
    tp gpp dch ff yg sdih” gni kand jarang bngeth,,hahahaha..
    lnjut terus eon nulis ff nya tp g usah sedih” endingnya -__-‘

    • ahh~~~ jangan sentil aku. . . sentil Minho aja. #sodorinMinho
      maaf ya, soalnya ini ff lawas, dan sayang aja kalo ga kepublish. yah,jadi gitu deh. . . daripada mubazir. xD

      btw, thanks 4 comment.^^

  2. Nih FF kenapa sedih banger gini sih, mana endingnya meninggal lagi. Minho tega bener sih sama Sulli sample dia bisa selingkuh gitu. Kurang baik apa cobak Sulli itu. Ortunya Sulli juga, bukannya malah nyupport eh malah bilang anak yang gak berguna. Pokoknya ff ini sukses bikin Aku sedih :’3

  3. Sumpahhh…. Ini mah,ff bikin nyesek bgt… ;(
    kasian sulleon… ;(
    tpi,ff buatan devina eonni kren kok…
    D tunggu ff mirror II nya ya

  4. Aaaaaaahh sumvaaah yaa . Ini ff yang jinjaa jinjjaa jinjaaa neomu neomu neomu jeongmal jeongmal jeongmal yaa bisa bikin saya tersayaaat tau gaak . Kalmatnyaaa yaa tuhaaaan . Nyeseekk. Bangeeet . Aaaa gk bisa deh bayangin kalo ini emg kejadiaaan _-_ nangiisss nihhh • Minho lu kenape jahaaat bener sihhh . Author pengen tau slanjutnya , pengen tau gimana Minho yg rela mati buat diaaa . Only Minhoo .. Plisss jadiin two shoot donggg

    • jinja? jinja? jinja? jinja? jinja? aduh, aku ga janji ya. kayanya cuma jadi oneshoot aja nih. ahahaha
      #kabur
      btw,thks 4 ur comment

  5. OMG SAD ENDDDDDDDDDD
    aaaaaaaaaaa sulliiiiiiiiiii kuat bgt dia bertahan selama itu hingga akhirnya iya memilih mengakhiri hidupnya huaaaaaa 😥 😥 😥
    author sukses bikin readers nyesekkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
    minhooooooooo tega bgt sumpah 😥 😥 😥

  6. Bagus bngt ff ya eonnie sangat menyentuh, aku bahkan dapat merasakan apa yg sulli rasakan
    Yg jelas sangat menyakitkan
    Padahal td ya aku berfikir sulli bakalan hamil setelah bertahun tahun.
    Minho ga menyadari betapa sulli mencintai dy

  7. uuuwwaaaa T_T nyesek! Minho kejamnya dirimuuu :’-( sulli cinta dan setia banget mah minho :’) tapi masih untung authornya gak nnjukin cast orang ketiganya kalo gak, bakal mewek seharian gara2 nih ff :3 ditnggu ff yg lain ne 😉

  8. Ini bener-bener ff yg paling nyesekkkkkk parahhhh eonn 😥 😥 , kasian sullinya , minho gak bisa nepatin janjianya
    Sad Ending jadinya 😥 , fighting buat ff yg Happy ya:)

  9. Yaampun ini ff sedih bener 😦 sulli kasian bgt ya . Sumpah loh aku ampe nangis bcanya .nyeseeek bangeet . Tapi sukses selalu buat yg bikin , ditunggu buat cerita2 lain yg lebih bagus

  10. FF nya jadi sedih gini sih thor? sumveh demi apapun gue nangis…Yaaak minho
    mana janjimu?!
    masa endingnya sulli mati…daebaaaak buat authornya bisa bikin readers nangis bombay 😥

  11. kasiann sulli..
    kalo cinta sejati seharusnya gak usah ninggalin minho tukang selingkuh huu!!
    sulli meninggal apa enggak??
    ffnya bikin sakit hati.. tapi baguss

  12. Aku kira angstnya di awal2:( taunya….yaampun kenapa minho gak nepatin janjinya sih? Sullinya baik banget, gila ini nyesek di akhir2. Awalnya sih romantis2 gitu:( jangan bikin angst lagi ya eon

  13. Aigooooo minho oppa nya ko jht bget sih,, kasian sullinya d tinggal ama minho oppa,, ko bsa selingkuh gtu sih….huhuhu
    Sullinya bunuh diri oh tidak,.
    Sedih bget bca ff nya,,,

  14. Apa thor??nyeseg??gw kagak nyeseg kok thor tp gw nangis (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) ,,tega bener lu thor bikin Sulli mninggal 😥 ,,Sulli krg baik apaa coba ,bner2 malaikat itu hatinya tp Minhonya kmana?jinjja..suksess thor ini emosinya ksampean bgt.. Bkin sequel aja thor Minho nusul Sulli kek gitu lah, 😀 😀 ikutan mninggal,udahan lah adil?wkkwkwkw

  15. ya Tuhan beneran nangis kan jadinya..
    sumph thor tega banget buat ff sesedih ini, minho oppa bener” deh jahat jahat jahat bingit..*timpukin oppa sama sendal*

    2 jempol deh buat author..

  16. Klw ini mah bukan nyesek lagi tpi mewek,smpah air mtaku jtuh trus wktu bca ini miris bnget *puitis man* aku gak tw hrus komen apa pkoknya ini dpet bnget feel’nya krna bisa bkin aku mewek kyak orang gila gini
    laen kale jgn yg gini yah,kasian tw msak disini sulli aja si yg mnderita udah mndul,ortu ama mrtua gak prnah akur dan ini suaminya slingkuh,doubel plus plus deh skitnya,mngkin mati jln yg trbaik
    smpah aku nangis bca ff ini tpi keren deh aku salut loh sama eonni,smoga bisa jdi pmenangnya ya 🙂

  17. Klw ini mah bukan nyesek lagi tpi mewek,smpah air mtaku jtuh trus wktu bca ini miris bnget *puitis man* aku gak tw hrus komen apa pkoknya ini dpet bnget feel’nya krna bisa bkin aku mewek kyak orang gila gini
    laen kale jgn yg gini yah,kasian tw msak disini sulli aja si yg mnderita udah mndul,ortu ama mrtua gak prnah akur dan ini suaminya slingkuh,doubel plus plus deh skitnya,mngkin mati jln yg trbaik
    smpah aku nangis bca ff ini tpi keren deh aku salut loh sama eonni,smoga bisa jdi pmenangnya ya :):)

  18. omaigat eonni….. ini kenapa nyesek yah?? 😥
    huaaa, eonni gua menderita banget. ngefeel eon, ngefeel banget. minho tegaaaaa banget, ya allah. eon sumpeh deh ini BUTUH SEQUEL BANGET YAAA!!! ditunggu lo, ga mau berakhir sedih kek gini..
    padahal awal2nya seneng banget sama keromantisannya ming sama ssul, nah ini kenapa malah jadi selingkuh. eon dev pliss ya, tolong bikin sequel nyaa >_< bikin mereka bahagiaaaaa lagiii.. yayayaya

  19. ni ff bener bener bikin mewek + nyesek…
    kasian sulli….. ;(
    di awal ceritanya bener bener menampakan sepasang suami istri yang bahagia
    tapi pas di akhir hh nyesek banget bacanya

  20. ceritanya sedih bgt.. nyesekk bgt nie..
    diawal penikahan minsul hidup bhagia.. tapi stlah w sulli mndul cinta minho mulai brubah prlahan lahan.. dan betapa mnderitanya sulli saat tau minho slingkuh dgn wanita lain..
    dan akhirnya sulli bunuh diri.. OMG minho jahat bt sih..
    gmn y minho lw tau sulli bunuh dri apa minho merasa sedih tau minho merasa bahagia karna terbebas dri sulli.. emm lanjut y thor.. masih pnasaran nie thor.. bener2 seru deh..

  21. hallo min, hallo thor, maaf bru bs komen soalx dari hp g bz hwehehe
    sedih bgt minho kog mengingkari janjinya sich, sulli selalu bertahan walaupun terasa skit, alur critanya bgus, crita ini menunjukkan begitu dlamnya cinta seseorang sampai2 iapun tidak mau menerima knyataan yg ada,,,,,, salut bwt penulisx

  22. Thooooorrrrrrrr!!!! >.<
    Kenapa sih Sullinya hampir selalu mati di ceritamu? 😥
    Tapi, asli, ini FF menyayat hati banget… 😦
    Semacam sentilan buat bisa jaga janji, apalagi ikrar suci yang cuma sekali seumur hidup… (Y)
    Kalo jariku jempol semua, aku kasih semua deh buat Authornya…
    GREAT! ^^
    p.s. : Tapi kalo di reality, jangan sampai ada yang bunuh diri loh ya, apapun alasannya… Hehehehe

    #staywithsulli

  23. the beeeest !! ini sumveh berhasil buat mata saya mengeluarkan air yang sudah lama tidak berhasi keluar T,T bikin two shoot dong thooor~~~ biar nangis lageeeh :p kkk~ ini angst bgt, ini juga Minho nya~~ ampyun dah~~ Fighting authoor ^^

  24. Authorrr , ini nyesek bangett 😥 ampun dah tuh minho jahat banget 😦 , di tengah kehidupan rumah tangga mereka , minho malah selingkuh — , kurang baik apa coba sulli, berusaha menjadi istri yg baik, mau jadi ibu dari anak minho walaupun sulli mandul :(, tetap menurut apa keinginan minho yg penting minho bahagia.. kiraiin bakal happy end teryata sad end , sulli nya demi minho gara” takut minho terjerat oleh dosa karema sumpahnya , sulli akhirnya mati 😦 need sequel eon dev ^^ ,

  25. unnie aku baru baca…percaya ato nggak aku nangis, tragis bangettttt…sad ending! Yeah! Kenapa unnie? TT.TT
    Tapi kereeen sumpah (y) aku kira bakal happy ending dengan sulli hamil atau apalah, ternyata…nyesek! Unni jjang!
    Gomawooo~ TT.TT

  26. Just re-reading this beauuuutifullll story…..but have sad ending
    unnnie~ sumpah aku nangis lagi walau udah 2/3 baca…keren 👍👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s