I For You [Part 13]

tumblr_mf2adrJP6p1rofzc1o1_500

Kim Jongin as Benjamin Andrew

I For You

Cinta yang selalu menjagaku…

a Novel by Orizuka

Main Cast : Choi Sulli as Princessa – Choi Minho as Surya – Kim Jongin as Benjamin Andrew – Kang Jiyoung as Bulan

Genre : Romance || Sad/Hurt || School Life || Friendship

Lenght : Chaptered

Rate : General

Summary :

And I don’t want the world to see me.

‘Cause I don’t think that they’d understand.

[Goo Goo Dolls—Iris]

.

.

Karena kejadian kemarin, hari ini Sulli tidak masuk sekolah. Kai tampak melangkah seorang diri ke dalam kelas, menghindari tatapan semua orang.

Setelah menghela napas, ia menghampiri Suzy yang duduk dengan tatapan kosong.

“Zy,” kata Kai, membuat Suzy mendongak. “Sulli bilang yang kemarin bukan salah kamu. Kamu tidak perlu khawatir.”

Suzy mendengus. “Aku hanya menyenggolnya pelan, dia yang jatuh sendiri. Sekarang apa, dia nggak masuk? Supaya semua orang benci sama aku?”

“Sulli memang sakit. Tidak bisa masuk.” Kai teringat lutut dan pipi Sulli yang bengkak. “Dia tidak terbiasa olahraga.”

“Aku menyesal mengajaknya bermain kemarin.” Suzy menggeleng-geleng.

“Kan dia yang mau. Bukan kamu yang salah.” Kai mencoba menghibur Suzy, namun anak perempuan itu tampaknya sudah terkanjur kesal.

Tak kunjung mendapat reaksi dari Suzy, Kai kembali ke bangkunya. Tanpa sengaja, tatapannya bertemu dengan Minho. Kai membalas tatapan tajam itu lelah, lalu duduk di bangkunya sendiri sambil menatap ke luar jendela.

Hari ini, awan kelabu menggelayuti langit Seoul, seolah mengerti perasaan Kai. Mau tidak mau, Kai mengingat kejadian kemarin, saat Sulli duduk pada meja ini meludahkan darah segar ke dalam kantong plastik, dan bagaimana ia harus kembali memegang alat yang ia harap tak pernah dipegangnya lagi. Pada akhirnya, ia kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.

Melihat Sulli berdarah adalah hal terakhir yang ingin dilihatnya. Selama ini, ia berusaha sekuat tenaga untuk melindungi Sulli, membuat anak perempuan itu tidak mengingat apa yang terjadi padanya, membuatnya tetap stabil dan tidak trauma. Kejadian kemarin merupakan alarm baginya, pertanda bahwa Kai harus tetap siaga. Kai mengepalkan telapak tangan, sadar sepenuhnya pada apa yang seharusnya menjadi tugasnya.

Park Jungsoo sudah masuk ke kelas saat terdengar gemuruh guntur yang menyadarkan Kai. Park Jungsoo meletakkan buku-bukunya di meja, lalu menatap bangku Sulli yang kosong.

“Yak, hari ini Choi Sulli tidak masuk karena sakit.” Ia memulai kelas. “Mari kita doakan semoga dia cepat sembuh.”

Suzy mendengus skeptis. Kebanyakan anak pun setuju padanya, menganggap Sulli sangat berlebihan karena tidak masuk sekolah setelah bermain basket selama dua menit dan tersenggol sedikit. Tak ada seorang pun yang mau mendoakan seorang putri drama.

Kai mengedarkan pandangan pada teman-temannya, lalu menggeleng pelan. Mereka semua tidak tahu apa yang terjadi. Andai pun tahu, mereka tak akan bisa berbuat banyak. Sulli hanya akan menjadi bulan-bulanan. Tempat ini tidak bisa menerima Sulli tanpa membuatnya jadi orang aneh. Membuat mereka semua mengerti pun akan sangat melelahkan.

Sulli tak butuh siapa pun selain dirinya.

.

.

.

Kai melangkah ke arah lapangan belakang sekolah, tetapi tak tampak seorang pun di sana. Langit yang mendung membuat semua orang asyik bercengkerama di dalam kelas, menghindari hujan yang mungkin akan turun.

Kai sendiri tak pernah keberatan dengan hujan. Ia justru menyukainya. Saat hujan, orang tidak tahu apakah ia sedang menangis atau tidak. Hujan menyelamatkannya.

Kai melangkah ke arah bangku beratap di pinggir jauh lapangan, tempat ia biasa menonton Jiyoung latihan panahan. Selama beberapa bulan terakhir, tempat ini adalah tempat favoritnya selama jam istirahat. Disinilah ia menemukan dunia baru yang tak pernah disangkanya. Di sini juga, ia menemukan seorang dewi yang memanah hatinya.

Sambil menatap kosong lapangan itu, Kai duduk. Kejadian kemarin membuatnya banyak berpikir. Apa yang harus ia jelaskan pada Minho? Pada Jiyoung? Haruskah ia memberi tahu mereka segalanya? Bagaimana jika mereka lari?

Jika saat Kai bersama Jiyoung hanya memikirkan dirinya sendiri, ia bisa kembali berpikir jernih. Kelahirannya, pertemuannya dengan Sulli, dan kesamaan yang mereka miliki adalah pertanda. Ia tahu itu dari sejak bisa berpikir, dan karena itulah ia menyambut dengan baik tanggung jawab yang diberikan padanya. Ia juga paham, kalau menerima tanggung jawab itu membuatnya tak akan bisa memiliki kehidupan pribadi.

Sunbae?”

Kai mengangkat kepala dan mendapati Jiyoung sudah berdiri di hadapannya. Seketika, Kai merasa lemah dan ingin menangis. Ia selalu merasa lemah saat berhadapan deengan anak perempuan itu, hal yang tidak boleh ia rasakan saat sedang bersama Sulli.

“Hei.” Kai berusaha tersenyum. “Kamu tidak latihan?”

Jiyoung menggeleng. “Mau hujan. Sunbae sendiri sedang apa di sini?”

Kai menatap Jiyoung selama beberapa saat, lalu menepuk bangku di sampingnya. “Duduk sini.”

Sambil memandang Kai khawatir, Jiyoung duduk di sampingnya. Walaupun Minho tidak mengatakan apa pun, ia tahu tentang kejadian kemarin. Semua orang di sekolah membicarakannya. Teman-teman sekelasnya pun menghiburnya karena menganggap Kai menjadikannya pacar gelap. Namun, Jiyoung tidak percaya karena ia belum mendengarnya sendiri dari Kai.

“Kamu sudah dengar tentang kejadian kemarin?” tanya Kai, membuat jantung Jiyoung terasa mencelos. “Kamu… marah?”

Jiyoung menggeleng. “Aku harus dengar alasannya dari Sunbae sendiri.”

Rintik air hujan mulai turun dari langit yang kelabu. Kai menunggu hujan itu untuk turun sedikit lebih deras, berharap suaranya akan menenggelamkan kalimat yang akan ia ucapkan.

“Alasannya seperti yang terlihat.” Kai meneguk ludah. “Tidak ada alasan lain. Aku harus menjaga Sulli.”

Mata Jiyoung mulai terasa perih. “Tapi… kenapa? Kan sudah ada Minho Oppa?”

Oppa mu tidak akan mau menjaga dia.” Kai menatap rumput yang sudah mulai basah. “Kalaupun dia mau, dia tidak akan mampu.”

Mulut Jiyoung sudah separuh terbuka, tetapi tak ada kata-kata yang keluar.

“Cuma aku yang bisa benar-benar menjaga dia,” lanjut Kai.

“Tapi… itu tidak…”

“Masuk akal? Memang,” tandas Kai. “Tapi, aku sudah menyerah memikirkan itu sejak dulu. Aku menganggap ini takdir dan semuanya jadi lebih mudah untuk diterima.”

“Kenapa harus begitu?” Jiyoung tetap tak paham. “Kenapa Sunbae yang harus menjaga Sulli sunbae?”

Kai menatap Jiyoung, tak langsung menjawab. Ia tahu anak perempuan itu bingung, tetapi Kai tak semudah itu memberi tahunya. Ia terikat oleh janji seumur hidup dengan Sulli dan Appa nya.

“Maksudku, aku tahu Sulli sunbae memang… tuan putri. Tapi…” Jiyoung berusaha mencari kata-kata yang tepat. “Tapi, kenapa harus dijaga begitu ketat? Kenapa harus… berlebihan seperti ini?”

Jiyoung sekarang paham benar perasaan Minho yang dulu menganggap Kai dan Sulli pasangan yang hiperbol. Mendadak, Jiyoung menyesal sudah bertanya. Ia tidak ingin mendengar jawabannya.

“Sulli itu spesial, Young. Itu saja yang harus kamu tahu.”

Jiyoung menatap Kai nanar. “Kalau dia spesial, lalu… aku apa?”

Hujan deras sekarang turun di sekeliling mereka, membuat mereka tak bisa mendengar yang lain, termasuk isi hati masing-masing. Keduanya hanya bisa saling tatap, berharap bisa memahami perasaan satu sama lain.

“Youngie, Mianhe” kata Kai akhirnya, menyudahi percakapan mereka siang itu.

Mulai saat ini, Kai akan membenci hujan.

.

.

.

Kai membuka pintu kamar Sulli, lalu masuk. Anak perempuan itu masih berbaring di tempat tidur dengan lutut di kompres kantung es batu yang dibalut handuk. Pipinya pun masih tampak sedikit bengkak. Kai melirik ke arah tumbler-nya yang terbuka di atas meja samping tempat tidur.

“Eh, Kai, sudah pulang?” Sulli mengalihkan pandangan dari iPad, lalu tersenyum lebar saat melihat Kai. “Gimana, kamu sudah menyampaikan ke Suzy?”

Sambil tersenyum lelah, Kai meletakkan tas di lantai dan berbaring di samping Sulli. Setiap pulang sekolah, ia memang sudah biasa mengantarkan Sulli dan menemaninya dulu sebelum pulang ke rumahnya sendiri yang hanya berjarak dua rumah dari sini.

Sulli menatap Kai bingung, lalu berusaha untuk duduk. “Ada apa di sekolah?”

Kai menatap langit-langit kamar Sulli yang kerlipnya tidak tampak di siang hari. Padahal, saat ini Kai ingin melihatnya. Ia ingin tenggelam di kegelapan bersama bintang-bintang itu.

“Semua orang membicarakan kita, Ssul.” Kai akhirnya membuka mulut.

Mata Sulli melebar. “Eh?”

“Kita tidak bisa berteman dengan mereka,” lanjut Kai lagi.

“Tapi, kemarin…” Sulli tergagap, tak mengerti. Kemarin, semua temannya tampak bisa menerimanya. “Kamu sudah menyampaikan pesanku ke Suzy?”

“Sudah, tapi mereka tidak bisa mengerti. Kecuali, kalau kita bilang alasan yang sebenarnya.”

Sulli meneguk ludah. Kai sendiri sekarang sudah bangkit dan mulai berjalan mondar-mandir, tampak berpikir keras. Bayangan wajah kecewa Jiyoung sekarang melayang-layang di benaknya, membuatnya kembali ingin menjadi egois. Mendadak, sebuah ide gila muncul di kepalanya.

“Kalau kita beri tahu alasannya sekarang, mungkin mereka bisa paham…”

Sulli menatap kosong langit-langit kamarnya. “Kamu pikir begitu?”

Langkah Kai terhenti. “Kalau kita bilang, mungkin mereka bisa membantu menjaga kamu. Mungkin mereka tidak akan mengajak kamu olahraga lagi…”

“Tepat.” Sulli tersenyum sedih. “Mereka akan menganggapku aneh.”

Kai sudah tahu tentang itu. “Tapi setidaknya mereka bisa bantu aku menjaga kamu dan tidak melakukan hal yang aneh-aneh, kan?”

“Kan ada kamu yang bisa menjagaku kan?” balas Sulli, membuat mata Kai melebar. “Aku mau teman, Kai. Aku mau berbicara  soal fashion sama mereka. Shopping bersama mereka…”

Kai menatap Sulli nanar. Ia tahu benar bagaimana perasaan Sulli. Seumur hidupnya, anak perempuan itu hanya memiliki satu teman, itu pun laki-laki. Kai tahu, Sulli selalu menatap iri tokoh-tokoh dalam film Disney, berharap ia juga punya teman untuk menginap bersama dan saling memakaikan kuteks. Saling menyemangati saat sakit karena menstruasi atau mengobrol sampai tengah malam soal pria tampan di kelas hingga akhirnya jatuh tertidur berdampingan.

Namun, Kai juga tahu, semua itu tidak mungkin. Sulli juga tahu kalau impiannya itu nyaris mustahil. Tidak akan ada yang mau berteman sekaligus menjaganya, berhati-hati untuk tidak memberinya snack yang bisa membuat gusinya terluka, atau memapahnya setiap kali terlalu asyik shopping. Sulli bahkan sudah tidak mengalami menstruasi semenjak tiga tahun lalu.

“Tapi, sepertinya itu juga tidak bisa, ya…” gumam Sulli sambil menatap kantong es pada dua lututnya. “Untuk sesaat, aku lupa kalo aku tidak normal.”

“Spesial,” ralat Kai, seperti robot yang telah terprogram. Siwon dan orangtuanya sudah memasukkan data itu ke kepalanya sejak lama.

Sulli menatap Kai seraya memaksakan senyum. “Kalau mereka tidak bisa menganggap aku teman… setidaknya mereka tidak menganggapku aneh.”

Kai menghela napas, lalu duduk di samping Sulli. Mungkin masalah dengan teman-temannya.

“Kalau Minho?” tanya Kai lagi.

“Minho…” Sulli menatap kantong es lagi. “Minho juga tidak boleh tahu.”

Walaupun sudah tahu jawabannya akan seperti ini, Kai tetap bertanya, “Kenapa?”

Sulli jadi teringat kata-kata Minho saat di perpustakaan beberapa hari lalu, bahwa ia sedang belajar demi beasiswanya. Jika ia mengatakan yang sebenarnya pada Minho, bisa-bisa anak laki-laki itu malah khawatir berlebihan dan melupakan beasiswanya. Itu pun kalau ia tidak lebih dulu mundur setelah mendengar apa yang terjadi dengan Sulli.

“Dia sedang sibuk belajar. Aku tidak bisa mengganggu dia dengan masalah ini. Lagi pula… dia bisa jijik sama aku.” Sulli mencengkeram seprai. “Kamu tahu kan… Aku bisa gimana.”

Kai mengangguk-angguk. Jika tidak terlatih, Kai yakin siapa pun akan merasa jijik. Beberapa tahun lalu saat berita seseorang yang keadaannya mirip dengan Sulli muncul di televisi, semua bersimpati. Semua tak habis pikir. Semua merasa jijik.

“Tapi, Minho, dia bisa marah besar,” kata Kai. “Kamu harus menyiapkan alasan, atau tidak…”

Kai kembali teringat kejadian di lapangan tadi siang. Ia tidak memiliki alasan yang bagus untuk Jiyoung, jadi pada akhirnya ia meminta maaf walaupun tahu itu tidak menyelesaikan apa pun.

“Aku juga tidak tahu.” Sulli menggeleng pelan. “Aku… aku hanya bisa pasrah.”

Kepala Sulli sekarang terasa pening. Minho sudah mengatakan dengan jelas bahwa ia ingin pacar yang bisa menjaga diri sendiri, tetapi setelah kejadian ini? Besok, Minho mungkin akan memutuskan hubungan dengannya.

Saat melihat wajah Sulli, Kai mendadak menyadari sesuatu. “Ya sudah, kamu tidak perlu banyak berpikir. Sekarang istirahat saja.”

Sambil mengangguk, Sulli kembali berbaring dan menatap langit-langit. Ia perlu bintang-bintang itu sekarang. Karena memikirkan alasan yang harus ia katakan pada Minho, kepalanya terasa mau pecah.

Secara cukup harfiah.

to be continue…

a/n : Agak-agak kecewa gitu sih sebenernya. Yang minta Password FF ini tuh mencapai lebih dari 60 orang. Tapi yang komentar, gak lebih dari 50 orang. Hufh. Kalo di FF ini komennya gak sampe 50, ada kemungkinan di chapter2 berikutnya akan di ganti password nya. Gak akan ngikutin rule kemaren lagi yak. Resiko siapa yang gak komen dari awal siap2 aja deh. Mungkin bakal di seleksi. Atau mungkin nunggu dulu ampe 50 komen kali yah baru di sambung lagi. Ya kalo penasaran ama kisah aslinya, bisa cari di google keyword I For You pdf. Tapi siap-siap aja. Bahasanya bukan bahasa FF. Meski tetep jempolan ceritanya. Itupun kalo dapet pdf nya. J

53 thoughts on “I For You [Part 13]

  1. Huaaaahh jangan ampe berakhir deh cerita cinta minho ama sulli baru juga mulai 😦 semoga minho ga jijik sama keadaan sulli kalau suatu saat ntr tau 😦

  2. Aduh sulli sakit sampai segitu parahnya yah?? Sampai kata “jijik” itu keluar..sbenarnya dia sakit apa?? Sampai gak datang bulan sampai 3 tahun..itu gak wajar banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s