I For You [Part 14]

C__Data_Users_DefApps_AppData_INTERNETEXPLORER_Temp_Saved  Images_tumblr_l9wdj8xyrt1qcmfijo1_500

I For You

Cinta yang selalu menjagaku…

A novel by Orizuka

Choi Minho as Surya || Choi Sulli as Princessa || Kim Jongin as Benjamin Andrew || Kang Jiyoung as Bulan || Park Jungsoo as Herman

Rate : Teenager / General

Genre : Romance // Sad-Hurt // School life // Friendship

Length : Chaptered

Summary :

We can’t live at the same time without trivial fights.

If I can’ be honest, then rapture and sorrow are meaningless.

[Remioromen—Snow Powder]

 .

.

.

Pagi ini, Sulli dan Kai memasuki sekolah dengan langkah berat. Seperti biasa, semua orang menatap mereka dan berbisik, tetapi kali ini dengan konten yang sama sekali berbeda. Jika dulu tatapan dan bisikan itu berupa kekaguman dan pujian, sekarang tatapan itu terasa mencemooh, dan bisikan yang keluar merupakan ejekan.

“Hei lihat, tuan putri datang. Sombong sekali dia!”

Ne, hanya sedikit kesalahan kecil saja. Sungguh malang nasib Bae Suzy!”

Sulli menundukkan kepala, bisa mendengar dengan jelas kata-kata itu. Mungkin mereka sengaja mengeraskan suara agar ia bisa mendengarnya.

“Lalu Kai, apa yang dia lakukan sih? Katanya pacar Jiyoung! Buat apa tetap mengurusi si tuan putri!”

Kai menghela napas. Ia sudah menduga akan menjadi bulan-bulanan sekolahnya, jadi ia tidak heran. Ia bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Namun, sepertinya tidak demikian dengan Sulli.

“Mereka bilang, ia menggendong Sulli di depan mata Minho! Oh God!”

“Yaaap, dan Choi Minho terlihat seperti orang bodoh!”

Langkah Sulli sekarang terasa semakin berat. Lututnya yang masih terasa sakit sekarang seperti ditusuk ribuan jarum. Ia merasa seperti putri duyung yang tak seharusnya menjejak bumi dan tetap berada di laut yang sepi.

Tahu-tahu, cemoohan itu tak terdengar lagi. Sulli menyentuh kedua telinganya yang telah terpasang earphone, lalu menoleh kepada Kai. Anak laki-laki itu sekarang sedang menekan iPod, mencari lagu.

And so it is. Just like you said it would be…

Lagu itu mengalun lembut ke dalam telinga Sulli, menggantikan segala ejekan dari teman-temannya. Kai memasukkan iPod itu ke saku Sulli.

Sulli menatap Kai. “Gomawo, Kai.”

Kai tersenyum, lalu kembali melangkah. Sulli menatap punggung Kai yang hari ini tampak kecil dan kesepian. Walaupun semua ejekan itu menyakitkan, Kai tak memperdulikan dirinya sendiri dan meminjamkan iPod ini kepada Sulli.

Gomawo, Kai. It really do,” gumam Sulli, lalu kembali melangkah, mengikuti jejak anak laki-laki itu seperti yang dilakukannya selama 17 tahun ini. Jejak Kai adalah yang paling aman baginya.

Tak lama kemudian, Kai dan Sulli sampai di kelas yang segera senyap. Walaupun tak bisa mendengar apa-apa, Sulli bisa melihat tatapan teman-teman sekelasnya yang memojokkan. Tatapan Sulli pun akhirnya bertemu dengan Suzy.

Sulli melepas earphone-nya, lalu menghampiri anak perempuan itu. “Pagi, Zy.”

Alih-alih menjawab sapaan itu, Suzy menatap Sulli tajam. “Kamu udah sembuh?”

Senyum segera terkembang di wajah Sulli. “Ne.”

Good news.” Suzy bangkit. “Lain kali, kamu tidak perlu lagi ikut olahraga. Sangat merepotkan.”

Mata Sulli melebar sementara Suzy melangkah melewatinya menuju pintu kelas. Selama beberapa saat, Sulli membatu di depan bangku Suzy, berusaha untuk mengingat bagaimana cara bernapas dengan normal.

“Reaksimu tidak perlu berlebihan. Atau jangan-jangan, setelah diperlakukan seperti tadi oleh Suzy, kau juga akan pingsan lagi, huh?.”

Mendadak, Sulli kembali bisa mendengar ejekan itu. Sulli memutar badan perlahan, menatap teman-temannya. “Mianhe, aku sudah merepotkan kalian.”

Anak-anak menatapnya dengan berbagai macam ekspresi. Sebagian besar tampak skeptis, sisanya masih tampak kesal, tetapi ada pula yang simpatik. Suzy bahkan menahan langkahnya di depan pintu.

“Waktu olahraga kemarin itu, aku… terlalu senang.” Sulli memaksakan senyum, berusaha untuk tidak menangis. “Aku… tidak akan ikut olahraga lagi.”

Selama beberapa saat, kelas terasa hening. Semua orang sibuk menatap Sulli yang berdiri canggung di tengah kelas dengan tubuh bergetar.

“Selamat pagi, Anak-anak!”

Park Jungsoo memasuki kelas dengan ceria, tetapi segera bingung saat menyadari suasana kelas yang terlalu sepi. Tanpa harus melihat, Park Junsoo tahu siapa yang sedang menjadi pusat perhatian. Ia sudah mendengar tentang kejadian di lapangan beberapa hari lalu.

“Ayo semua, duduk! Pelajaran akan dimulai!”

Walaupun enggan, anak-anak mulai bergerak ke bangkunya masing-masing. Sulli tersaruk ke bangkunya, lalu duduk.

“Yak, hari ini, Bapak akan membagikan hasil ulangan kemarin. Yang dipanggil, silakan maju untuk mengambil!”

Sulli menatap kosong mejanya yang putih bersih, hampir tak mendengar kata-kata gurunya. Kata-kata Suzy tadi benar-benar menancap di hatinya. Sebelum pelajaran olahraga kemarin, Sulli selalu berusaha untuk menjadi kasat mata. Tak tersentuh. Namun, saat ia ingin mencoba untuk menjadi normal, ia malah menjadi beban. Ia menyusahkan orang-orang.

Keputusan Sulli untuk tak memberi tahu teman-temannya adalah tepat. Seharusnya, ia tidak pernah mencoba.

.

.

.

Sulli menatap ragu pintu perpustakaan. Kakinya kembali membawanya ke sini, tempat di mana ia menghabiskan waktu bersama Choi Minho selama beberapa bulan terakhir. Tinggal beberapa bulan lagi menjelang Ujian Nasional. Ia tidak yakin apa masih mau terus mengganggu anak laki-laki itu.

“Kenapa melamun? Tidak mau masuk?”

Sulli menoleh dan mendapati Minho sudah berdiri di sampingnya. Alih-alih terlihat marah, anak laki-laki itu malah membukakan pintu baginya. Sulli melangkah ragu, lalu mengikuti Minho masuk. Tidak seperti Kai, langkah anak laki-laki itu besar-besar, sehingga sulit untuk diikuti. Minho seperti memiliki kecepatan sendiri yang menolak untuk menunggu siapa pun. Sulli tak yakin apa ingin menahannya, atau memintanya untuk menunggu dan berjalan lebih lambat.

Minho berhenti di depan rak biografi, lalu mulai memilih buku. Sulli memperhatikannya dari samping. Anak laki-laki itu tampak tak begitu peduli kepada Sulli. Mungkin, ia memang tak peduli. Sulli tahu, yang terpenting baginya adalah pelajaran.

Saat Minho duduk di lantai, Sulli memutuskan untuk ikut duduk di sampingnya. Sambil mencengkeram buku sketsa, Sulli berpikir keras. Apa ia harus bertanya pada Minho? Apa ia harus membahas kejadian kemarin lebih dulu? Atau tidak?

Seperti bisa membaca pikiran, Minho melirik Sulli. “Kamu baik-baik saja?”

Mata Sulli melebar saat mendengar pertanyaan Minho “Aku… Mianhe.”

“Aku tidak ingin mendengar itu.” Minho membolak-balik halaman bukunya. “Aku hanya ingin dengar bahwa kau baik-baik saja.”

Sulli menunduk. “Aku… baik-baik saja.”

Minho menatap Sulli lama. Ia memang marah karena kejadian saat olahraga kemarin, tetapi saat melihat Sulli tadi pagi, ia merasa masalah itu bukan lagi yang paling penting.

“Kamu… tidak pernah punya teman, ya?”

Saat mendengar pertanyaan Minho, mendadak Sulli ingin menangis. Air mata yang tadi pagi berhasil ditahannya, sekarang terasa mulai menggenang. Cengkeraman Sulli pada buku sketsa mengencang hingga buku itu penyok.

Minho meraih kepala Sulli, lalu merengkuhnya. Seketika, air mata Sulli berderai. Semakin ingin ditahan, tangisan itu semakin keras. Seumur hidupnya, Sulli tidak pernah menangis hingga dadanya terasa sakit seperti ini.

Minho sendiri tidak tahu persis masalahnya. Yang ia tahu, Sulli memang lemah dan tidak punya teman. Ia juga tahu, saat pelajaran olahraga tempo hari adalah saat pertama Sulli berusaha untuk berteman, tetapi ia tidak berhasil. Sulli memang terlahir sebagai putri. Tidak seharusnya putri berteman dengan rakyat jelata.

Selama 10 menit, Sulli menangisi hatinya. Hari ini, ia kehilangan teman-temannya. Hari ini, ia harus mengucap selamat tinggal pada mereka dan kembali ke kehidupan lamanya yang hanya terdapat dirinya dan Kai. Kehidupan yang sepi dan tidak menarik.

Minho membiarkan Sulli menangis di dadanya. Walaupun dengan alasan yang berbeda, ia juga tidak punya teman, jadi sedikit banyak, ia mengerti perasaan anak perempuan itu.

“Kamu masih ada aku,” hibur Minho setelah tangis Sulli mereda.

Sulli mengangkat kepala, menatap Minho dengan mata basah. “Kamu nggak marah?”

“Marah.” Minho mendesah. “Kenapa kemarin kamu nggak panggil aku?”

“Aku…” Sulli kehilangan kata-kata. “Tidak bisa.”

Minho menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk tidak bertanya lebih lanjut. “Mulai sekarang, kalau kamu kenapa-napa, jangan panggil Kai lagi.”

Sulli menatap Minho, antara tak percaya dan takjub.

“Aku pacar kamu, kan?” Minho balas menatap Sulli. “Kalau ada apa-apa denganmu, panggil aku. Bukan orang lain.”

Sulli menatap buku sketsanya yang sudah kusut. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Walaupun setengah mati ingin mengiyakan, namun kenyataannya tidak semudah itu. Minho tidak memiliki apa yang Kai miliki. Sulli berpacaran dengan Minho tidak lantas menjadikan Kai orang lain.

“Kamu… tidak percaya padaku?” Minho menangkap keraguan pada wajah Sulli.

Sulli segera menggeleng. “Bukan itu.”

“Lalu apa?” desak Minho. “Kamu lebih senang Kai yang menjaga kamu daripada aku?”

“Bukan itu…” Sulli membasahi bibir. “Aku dan Kai sudah 17 tahun bersama. Ya…kita tidak terbiasa terpisah.”

“Kalau begitu, biasakan dari sekarang.” kata Minho tegas. “Kalian tidak bisa bersama selamanya, kan?”

Sulli menatap Minho. “Tapi…”

“Kalau kamu mau hubungan kita berlanjut, kamu harus mendengarkan aku.” Minho menutup bukunya, lalu balas menatap Sulli tajam. “Aku tidak bisa berpacaran dengan wanita yang dijaga pria lain, apa pun alasannya.”

“Tapi…, kamu kan harus konsentrasi belajar—”

“Kamu pikir aku bisa konsentrasi setiap liat kamu bareng Kai, hah?” potong Minho, membuat mata Sulli melebar.

Sulli kembali menunduk, tak tahu kalau Minho berpikir seperti itu. Tadinya, Sulli berpikir Minho akan marah dan memutuskan hubungan dengannya. Sekarang, alih-alih merasa bahagia Minho mau menjaganya, Sulli merasa bingung.

Tahu-tahu, Minho mengacak rambutnya. Seperti beberapa bulan lalu, Sulli kembali bisa merasakan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya. Hal ini pula yang membuatnya melepaskan akal sehatnya dan mengangguk. Ia mau berada di dalam dunia ini selamanya.

Ia tidak mau Minho menganggapnya lebih lemah daripada ini. Sulli ingin menjadi sumber kekuatannya, bukan beban.

Minho mengangguk-angguk, lalu kembali membuka bukunya. Sulli menyandarkan kepala pada bahunya, bersiap-siap mendengar pengetahuan menarik.

Saat ini adalah saat-saat Sulli membutuhkan Minho. Minho akan berusaha untuk menghiburnya dan membuatnya tidak merasa perlu teman lagi.

Sulli hanya butuh Minho.

.

.

.

Kai menutup lemari pendingin, lalu menatap kosong tumbler yang sudah tersembunyi di balik belasan botol minuman soda. Hari ini, ia membawa alat-alat baru sebagai cadangan. Alat-alat mahal yang khusus didatangkan Choi Siwon dari Amerika.

Semalam, Siwon akhirnya pulang untuk melihat keadaan Sulli. Walau tak berkata apa pun, tatapannya kepada Kai sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mengerti. Bahwa Siwon kecewa padanya. Bahwa Siwon tak lagi melihatnya sebagai pria yang kuat.

Karena kedua orantuanya nyaris tak pernah di rumah, Kai tumbuh besar dengan menatap punggung Siwon. Ia adalah panutannya. Suri teladannya. Orang yang ia ingin jadi di suatu saat nanti. Melihatnya kecewa adalah pukulan telak bagi Kai. Menunjukkan bahwa Kai masih seratus tahun terlalu muda kalau ingin menjadi seperti Siwon.

Kai membalik badan, bermaksud untuk kembali ke taman depan perpustakaan untuk menunggu jam istirahat berakhir. Ia tidak ingin bertemu Jiyoung setelah apa yang terjadi beberapa hari lalu. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi tatapan kecewa anak perempuan itu. Mungkin ia memang pengecut karena ia lebih ingin mengobrol dengan Piko yang sudah sehat.

Langkah Kai terhenti saat ia melihat sepasang sepatu menghadangnya. Kai mengangkat kepala, lalu mendapati Minho sudah berdiri di hadapannya.

“Kita perlu bicara,” katanya tajam. Seisi kantin segera berbisik seru, tahu pasti mereka sedang membicarakan apa.

Sounds bad.” Kai berusaha bergurau, walaupun ia tahu itu bakal sia-sia. “Sulli mana?”

“Lagi menggambar di perpus.” Minho melewati Kai. “Ikut aku.”

Tanpa banyak bicara lagi, Kai mengikuti Minho menuju koridor ruang ganti yang tampak sepi. Minho lantas membalik badan. Bahasa tubuhnya mengatakan bahwa ia sedang sangat-sangat marah. Kai hanya tersenyum lemah, bisa memakluminya.

“Mau bicara apa?” tanya Kai.

“Kau tahu jelas apa yang ingin ku bicarakan.” Minho menjawab dingin. “Sulli.”

“Kenapa dengan Sulli?”

“Kau tahu kan, kalau Sulli sekarang berpacaran denganku?” tanya Minho, retoris. “Jadi lebih baik, kau mundur. Aku sanggup menjaganya.”

Selama beberapa saat, Kai menatap Minho dengan senyum lemah. “Mian, tapi kau tidak bisa.”

Minho menatap Kai tajam. “Apa maksudmu?”

“Aku mempunyai apa yang kau tidak punya. Aku punya apa yang dia butuhkan.” Kai balas menatap Minho menantang. “Sampai kapan pun, kau tidak bisa bersamanya tanpa ada aku di sampingnya.”

“Kau membicarakan soal…harta?” tanya Minho dingin. “Kau mempunyai kekayaan sedangkan aku tidak, begitu  ?”

“Kau pikir aku sepicik itu?” Kai balik bertanya. “Ini bukan soal harta. Ini soal kebiasaan selama 17 tahun dan hal-hal lain yang tidak kau tahu.”

Mendadak, Minho merasa kesulitan bicara. 17 tahun adalah seumur hidup mereka. Minho memang tak tahu tentang Sulli sebanyak Kai. Pengetahuannya soal Sulli memang masih terlalu dangkal.

“Kau tidak mempunyai banyak pilihan,” lanjut Kai. “Kalau kau masih ingin menjadi pacar Sulli, kau harus menerima kehadiran ku juga.”

Minho mendengus. “Itu tidak masuk akal.”

Then break her up,” kata Kai tegas, membuat mata Minho melebar. “Kalau kau merasa tidak mau atau tidak mampu. Lebih baik kau memutuskan hubungan mu dengannya.”

“Seperti yang kau lakukan kepada Jiyoung, hah?” Minho menatap Kai tanpa berkedip, tangannya sudah terkepal keras di samping paha.

Kai terdiam untuk beberapa saat. “Exactly.”

Tangan Minho sudah terangkat, bermaksud untuk memukul Kai, saat tahu-tahu Sulli muncul di antara mereka.

“STOP!” seru Sulli, tangannya terentang di depan Kai. Ia tahu ada yang tidak beres saat tadi Minho keluar perpustakaan dengan alasan ingin ke kamar kecil.

Minho menurunkan tangan yang masih terkepal, mengurungkan niatnya. Matanya menatap Sulli setajam elang. “Sekarang kamu bilang. Selain harta, apa yang dia punya sedangkan aku tidak?”

Sulli meneguk ludah, lalu menoleh kepada Kai yang tidak bisa berbuat apa-apa. Apakah Sulli mau memberi tahu Minho atau tidak, keputusannya ada di tangan Sulli sendiri.

“Bukan apa-apa,” kata Sulli akhirnya. “Kamu tidak perlu khawatir.”

“Kalau bukan apa-apa terus kenapa kamu tidak bisa jauh dari dia?” Minho nyaris berteriak, frustrasi. Dua orang di depannya ini begitu rumit hingga nyaris membuatnya menyerah.

“Kamu hanya harus percaya sama aku.”

Selama beberapa saat, Minho menatap mata Sulli tanpa berkedip, berusaha untuk menyelami isi hati anak perempuan itu. Apa ia sungguh-sungguh? Atau ia hanya mempermainkannya?

Saat melihat mata hazel itu tergenang air mata, Minho akhirnya memutuskan. Untuk saat ini, Minho akan berusaha untuk memercayai anak perempuan itu.

Untuk saat ini.

to be continue…

a/n : Halooo maaf baru kembali. Hehe. Modem mimin gak ada isinya gaiiiis.. #GayaBanget Part galau. Benar sekali. Selanjutnya masih akan tetep menggalau. Jadi, dimohon sabar menunggu yaah. 🙂

53 thoughts on “I For You [Part 14]

  1. First….
    Ya ampun..ya ampun…udh pasti sulli jd bahan bullyan anak” disekolah..
    Dan yg g disangka” trnyata malah mibho brusaha membuat sulli tenang wlopun sbenarnya dalam hti minho dia marah..sebenernya kalo diliat” emang aneh kan sulli pacaran ama minho tp knapa selalu ada kai di antara mereka…yaaahh sulli istimewa dan dia harus selalu dijaga oleh orang” yg bnar” mngerti…tp knapa g dkasih tau aja minho nya biar bisa jagain sulli jg…untuk sekarang minho masih mau percaya ama sulli tp kalo ntar trus”an kya gni apa minho tahan jg????
    Aaaaaa……penasaran dan galooooo jg

  2. waduh makin seru aja ni
    Knp g jujur aja sh sma minho???yakin minho psti bsa ngerti ko
    ini mh pd nyesek smuanya 😥
    Jiyoung jg kshn…seandainya dya tau knp kai gt
    Ditunggu next part….penasaran ><

  3. waaaaahhhh…kasihan baby sull…knpa kai gk cerita saja sama minho oppa sih….kn pasti minho oppa jga bisa mennaga sulli dngn baik…lagi galau jadi tambab galauq min bacanya…hohoho…ditunggu klnjutannya ye…???:-)

  4. sulli knpa ga jujur aja sama minho…
    minho kan pinter tu siapa tau dia bsa ngelakuin hal yg bsa dlakukan kai bwt dia….
    makin pnsaran aja sma critanya…

  5. Kasian bngt sulli 😦 kai punya obat”an yng kmu gak punya minho huuuh , dia gak bisa terpisahkan karna kai yng dri dulu ngerti penyakit sulli sedangkan kmu gak tau karna sulli gak mau kmu terbebani heeem , jadi tolong percaya sma sulli ne 🙂
    fighting eonni 🙂

  6. Sulli eoni kasian banget
    Bimbang harus milih kai oppa atau minho oppa

    Utnung aja minho oppa orangnya pengertian
    Semoga aja mereka langgeng

    Penasaran sama cerita selanjutnya
    Ditunggu ya thor
    Gomawo ^^

  7. kasihan bgt sh sulli pasti sakit hati d bully sm teman2″x..knp g’ jujur sja sh sull biar semua bs jga sulli..!!
    minho ap dia bs percaya sm sulli???knp g’ biarkn minho aja xg jga sull jgn kai??

  8. Kasian sulli,,,,, dia byk dibenci ama teman2 ya,, 😦
    Minho percyalh ma sulli,,, hy kai yg bisa menyelamatkn sulli olh sebab itu kai hars slalu ada dsamping sulli ,,,,
    Kai tetaplh ada dsamping sulli ,, jagain dia 😦

  9. Akhirnya di next jga thor 😀
    Smpai sekarang masih penasarab sulli itukenapa gk bisa jauh dari kai ?
    Dan sulli please percaya sama minho minho kn bisa jagain kamu …..

  10. Galau bgt part ini
    Ssul eonni kenapa sih gx jujur aja, siapa tau temen” & ming oppa ngerti dengan keadaan ssul eonni sekarang jd kan ssul eonni gx jadi bulan”an temen”..kasihan saul eonni.
    Next eon

  11. waaahh makin seru ja nie.. tapi kenapa sulli kox g jujur aja m minho.. kan minho nti bisa mengerti tentang penyakit sulli.. mana tau minho ingin belajar merawat sulli gitu setelah tau.. sebenarnya minho tu sayang m sulli.. minho pasti sakit bnget tu kai selalu ada bwt sulli sdangkn minho pacarnya.. wah pnasaran nie lanjut y next part y chingu..

  12. Aduh part galau ini. Ya Tuhan… 😦
    Ssul lebih baik berterus terang sama semua terutama sama Minho mengenai sakit yg diderita 😦 Moga Ssul bisa smbuh secepatnya ({}) moga Minho juga bisa menerima Sulli apa adanya ^^

  13. huaaa galau bgt. kasian sulli nya jd makin dibully gitu.
    apa yg kai punya dan minho tidak? apaan? kemampuan mengobati sulli? atau apa? kkk
    kai mutusin jiyoung? mwo?
    next eonn 🙂

  14. Ff ya makin penasaran saja,kasian sulkai. Harus dibully coba aja kalau sulkai mau terus terang ke minho dan temen2 pasti mereka akan mengerti, kasian minho harus penasaran ma hubungan kai ma sulli sampai gak pisahkan lanjut chingu

  15. Huawaaa Kshan Kai udah di pojokin șȃϣäȃ Siwon, sabar ya Kai Oppa, Minho harus ngertiin sulli am kai donk. Oenni bikin penasaran nich ama kelanjutannya Figthing 🙂

  16. Huwaaa aku mau nangis baca inii,, ikut ngrasain yg sulli rasain (eh)
    Ah gmna ya jdi minho,benerlah dia bgitu masa iya pacarnya lbih dijaga sma orla,gak rela.hmmm apa enggak lbih baiknya minho tau ya,biar enggak salah paham gituu.

  17. Oeemgee, udah lah ming lebih baiI percaya sm sulli, seandainya kau tahu keadaan sulli. 😂
    Jadi penasaran, bagaimana reaksi minho klo tau keadaan sulli yg sebenarnya. 😂😂

  18. sulli eon, segitu sedihnya kah hidupmu? gk bisa terluka sedikit aja 😦 kasian bgt klo gt
    sebaiknya kalian berdua ngungkapin deh alasan yg sebenernya, biar gk ada yg nganggap kalian sebelah mata, sulli, kai.
    aku jg penasaran hahaha
    lanjut deh min

  19. Udah mewek baca awalnya;(;(;(
    aku kira minho bkalan mutusin sulli eh tau2nya dia malah pengen nglindungin sulli,so sweet bang 😀
    apa sesuatu yg tdk minho miliki sdangkan kai punya?
    Klw aku jdi minho atw2 yg laen psti bingung,scara gitu minho yg pcarnya sulli tpi kai yg jagain sulli kan aneh,iya kan?
    Masih pnasaran apa pnyakitnya sulli ampek obatnya aja khusus dri amerika?gimana reaksi minho klw tw kbenarannya #kepo max
    untuk saat ini minho kau hnya perlu prcaya pada sulli,oke?
    Aku kok jadi pengen baca novelnya yah
    tpi nunggu ini aja deh,makanya jgn lama2 yah eonni update-nya
    next eon,keep writing
    Fighting ~Chu~

  20. Kasiann ssul skrg jd banyak di jauhin org..
    kenapa kai sm ssul gak cerita aja ya yg sbnernya ke minho, jd ming bisaa ngertii..
    next eonnn

  21. yampyunnn nyesekk bangett siihh.. hub kai n sulli itu trlalu rumitt untuk dijelaskann… disatu sisi kasian di pihak sulli dan satu sisi juga ksian di pihakny minhoo..
    klo sulli blg yg sbnrny klo dia sakit, reaksi minho gmn yaak?? 😥

  22. Hembt…sakit juga ya kalau liat pacar kita dijaga sama laki” lain..wah karena kai sudah tau semua ttg sulli.penyakit sulli dan semua yg ada di sulli yg gak diketahui minho. Jadi mungkin itu kqli yg membedakan mereka yaa…tapi minho baik juga .setelah kejadian di lapangan malah dy gk marah…semangat suli 🙂

  23. Rumit banget ya jalan cerita cinta minsul -____- kai sama sulli emang bener bener bikin gegana kalo dalam posisi minho -,-. Kapan kerumitan ini akan berakhir 😦

  24. Masih heran apa maksudnya “apa yg dimiliki kai tidak dimiliki minhoo” kalau bukan soal harta trus soal apa?? Hubungan minsul sama kaiyoung mulai retak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s