I For You [Part 15]

6591430620121130150659076Kang Jiyoung as Bulan

I For You

Cinta yang selalu menjagaku…

A novel by Orizuka

Choi Minho as Surya || Choi Sulli as Princessa || Kim Jongin as Benjamin Andrew || Kang Jiyoung as Bulan || Park Jungsoo as Herman

Rate : Teenager / General

Genre : Romance // Sad-Hurt // School life // Friendship

Length : Chaptered

Summary :

Are we too late? Do not we have a chance?

I still think about you and you might know this.

Is it finally this?

[Ji Sun— What Should I do]

.

.

“Yaaak, Choi Jiyoung!”

Jiyoung melepaskan pelindung tangan dengan mata menerawang, sama sekali tak sadar kalau Sohyun, temannya, sedari tadi memanggilnya dari pinggir lapangan. Sohyun menghela napas, lalu menghampirinya. Sepertinya Jiyoung masih terpukul karena kata-kata Kai tempo hari.

“Jiyoungie!” Sohyun memeluk Jiyoung dari belakang. “Kenapa melamun?”

“Ah, ne. Waeya Sohyun-ah.” Jiyoung segera mendorong Sohyun.

Sohyun menatap Jiyoung datar. “Kau tidak dengar? Bahkan suara ku hampir habis ketika meneriakkan namumu sedari tadi.”

“Oya?” Jiyoung menggaruk tengkuk. “Mianhe, aku tidak dengar.”

Sohyun memperhatikan Jiyoung yang membereskan peralatan panahan ke dalam kotak. Walaupun sedang tidak ada kompetisi, hari ini Jiyoung tetap berlatih di jam istirahat. Dalam keadaan patah hati pun, ia tetap rajin. Atau malah karena patah hati, ia jadi punya pelampiasan?

Bantalan target puluhan meter depannya tampak penuh tertancap oleh anak panah. Sohyun melirik Jiyoung. Sahabatnya ini memang benar-benar seorang titisan Ksatria wanita. Saking hebatnya, Sohyun sampai merasa kesepian. Jiyoung hampir tidak pernah berada di dalam kelas saat istirahat. Ia pun tidak pernah mau diajak main ke mall sepulang sekolah.

Saat Jiyoung duduk di bangku panjang untuk beristirahat, Sohyun segera mengikutinya. Sohyun memperhatikannya yang sedang minum air mineral.

“Kai sunbae, tidak pernah datang lagi kesini?” tanya Sohyun hati-hati setelah Jiyoung menghabiskan minumnya. Di kelas, Sohyun hampir tak pernah menanyakan soal itu padanya. Teman-teman sekelasnya bisa jadi sangat primitif kalau mendengar kata ‘Kai’.

Jiyoung menggeleng sambil memasukkan botol air mineralnya ke dalam kotak, berusaha untuk tidak peduli.

“Kau… tidak apa-apa?” tanya Sohyun lagi, membuat Jiyoung menoleh.

Ani. Aku baik-baik saja Sohyun-ah.” Jiyoung menyodok rusuk Sohyun pelan. “Tumben khawatir.”

“Yah, hanya saja, aku kehilanganmu yang biasanya, Jiy,” ucap Sohyun jujur. Jiyoung memang jadi lebih pendiam beberapa hari terakhir. Kelas jadi tidak menyenangkan lagi.

Jiyoung menatap Sohyun lama, memikirkan kata-katanya. Sahabatnya itu benar. Gara-gara Kai, ia kehilangan dirinya sendiri. Ia tidak lagi ceria dan melarikan diri dari keramaian, takut orang-orang membicarakannya. Padahal, ia yang dulu tak pernah merasa demikian.

Mianhe.” Jiyoung tersenyum getir pada Sohyun. “Aku janji akan segera kembali lagi seperti biasa.”

Mata Sohyun segera berbinar. “Janji?”

Jiyoung mengangguk. Sahabat dan teman-temannya jauh lebih penting daripada pangeran yang plin-plan itu.

“Oya, Jiy, kemarin Appa baru pulang dari Jepang, bawa oleh-oleh. Kamu main ke rumah ya?” ajak Sohyun. “Kita pajamas party.”

Jiyoung terkekeh mendengar ajakan Sohyun. “Kamu izin Minho Oppa dulu sana.”

“Hah, Andwe! Galak!” tolak Sohyun dengan senang hati, membuat Jiyoung tergelak.

Saat Jiyoung dan Sohyun masih asyik bercanda, mereka menyadari bahwa ada orang lain di sana, menatap mereka dari pinggir lapangan. Tawa mereka segera berhenti saat tahu siapa orang itu.

“Jiy, aku pergi dulu ya.” Sohyun melirik Jiyoung, lalu buru-buru bangkit. Saat melewati Kai, ia mengangguk kaku. “Kai Sunbae, annyeong.”

Annyeong,” balas Kai sambil tersenyum.

Pandangan Kai mengikuti punggung Sohyun hingga anak perempuan itu masuk ke sekolah, lantas beralih pada Jiyoung yang sudah kembali sibuk dengan peralatannya. Pelan namun pasti, Kai menghampirinya.

“Latihan lagi?”

Ne,” jawab Jiyoung tanpa mengangkat kepala. Ia bangkit dan melangkah ke arah bantalan target, bermaksud melepas panah-panah yang masih menancap. Ia tahu kalau Kai mengikutinya, membantunya mencabut panah-panah itu, namun ia membiarkannya.

Kai menyodorkan beberapa panah yang sudah dicabutnya. “Ini.”

Jiyoung menghela napas, lalu menerimanya. “Gomawo.”

Setelah kejadian beberapa hari lalu, Kai maklum dengan perlakuan Jiyoung padanya. Kai memang seorang berengsek yang egois, yang mengatakan semua hal indah itu di rumah sakit, dan menghancurkan semuanya di sini. Ia memulai apa yang tidak bisa ia pertanggungjawabkan. Namun, kemarin, Minho dan Sulli membuatnya kembali melihat setitik cahaya. Minho bisa menerima kehadiran dirinya, mengapa Jiyoung tidak bisa menerima Sulli?

Jiyoung sudah kembali duduk di bangku, memasukkan anak-anak panah ke dalam kantong. Kai menghampirinya, lalu duduk di sampingnya.

“Untuk apa sunbae ke sini lagi?” tanya Jiyoung akhirnya, memecah keheningan.

Kai tersenyum. “Aku penasaran, kamu sedang apa.”

Sayangnya, Jiyoung tidak terhipnotis senyuman itu. “Kemarin tidak penasaran?”

Senyuman Kai segera memudar. Beberapa hari terakhir, Kai memang menahan diri untuk tidak melangkah ke tempat ini karena jika ia melakukannya, ia akan kembali mengharapkan Jiyoung.

“Kemarin… Minho bisa menerimaku.”

Jiyoung menatap Kai tak mengerti. “Maksudnya?”

“Aku bilang, dia harus menerima kehadiranku kalau tetap mau bersama Sulli.” Kai menatap Jiyoung yang terbelalak. “Dan dia bisa menerima itu.”

“Minho Oppa bilang begitu??” seru Jiyoung, tak habis pikir. Oppa nya adalah seseorang yang mendahulukan logika di atas segalanya. Apa yang membuatnya mau menjalani hubungan absurd ini? Apa ia sebegitu menyukai Sulli?

“Kamu bisa begitu?” tanya Kai, membuat mata dan mulut Jiyoung terbuka semakin lebar. “Kamu bisa menerima Sulli di sampingku tanpa bertanya apa-apa?”

Pertanyaan Kai itu terdengar seperti lelucon bagi Jiyoung. Walaupun Jiyoung sangat menyukai Kai, ia tidak segila itu.

Sunbae, mian.” Jiyoung menggeleng. “But that sounds crazy.”

I know.” Kai menatap busur di dalam kotak. “Tapi kalau kamu tahu alasannya, kamu tidak akan bilang begitu.”

“Apa alasannya?” tanya Jiyoung. “Oh, tunggu. Sunbae tidak bisa bilang.”

Kai tersenyum lemah. “Yang bisa aku janjikan padamu, aku tidak ada perasaan cinta pada Sulli. Itu saja.”

Jiyoung menatap Kaii ragu, lalu mengalihkan pandangan pada lapangan yang hijau. Ia tidak tahu apa harus percaya pada anak laki-laki itu atau tidak. Apa mungkin ini yang Sulli katakan kepada Oppa nya hingga ia menyanggupi? Apa Oppa nya memercayai Sulli?

“Kalau aku dan Sulli sunbae sama-sama tenggelam di laut, siapa yang akan sunbae selamatkan?” tanya Jiyoung tiba-tiba.

Kai meneguk ludah. “Aku…”

“Tentu saja sunbae akan menyelamatkan Sulli sunbae.” Jiyoung tersenyum miris. “Karena sunbae tahu aku bisa menyelamatkan diri.”

Selama beberapa saat, Kai hanya menatap Jiyoung nanar.

“Hanya karena aku bisa berenang, bukan berarti aku tidak butuh diselamatkan,” lanjut Jiyoung. “Tapi, pada akhirnya, aku akan sadar, kalau keputusan yang sunbae ambil benar. Jadi, sunbae tidak perlu mengkhawatirkan aku.”

“Walaupun kamu kuat, bukan berarti aku tidak akan khawatir,” desah Kai. “Aku akan menyesal seumur hidup.”

Rintik hujan sekarang sudah turun, membuat keheningan di antara mereka semakin terasa menyakitkan. Kai benar-benar akan membenci hujan yang selalu turun di saat yang tidak tepat.

Sunbae, mianhe, tapi aku tidak bisa,” kata Jiyoung akhirnya. “Ini… terlalu aneh buatku.”

Kai bisa mendengar hatinya sendiri yang hancur. “Aku mengerti. Aku yang harusnya minta maaf. Maaf karena… hubungan kita tidak berhasil.”

Kata-kata Kai akhirnya membuat Jiyoung benar-benar jatuh ke dasar jurang. Jurang yang nekat dilangkahinya beberapa bulan lalu. Saat itu, ia berharap Kai akan menangkapnya, membawanya hingga sampai ke seberang, namun ternyata semuanya hanyalah mimpi.

Dering telepon memecah keheningan, Kai mengeluarkan ponsel dari saku, lalu menatap horor layarnya.

Kai mengangkat telepon itu, setengah mati berharap tak terjadi apa pun yang serius. “Halo?”

Detik berikutnya, Kai bangkit. Kakinya sudah mau membawanya pergi saat ia teringat pada Jiyoung. Kai menoleh, lalu menatap Jiyoung, seolah meminta maaf karena harus meninggalkannya.

Jiyoung balas tersenyum lelah. Inilah tepatnya mengapa ia tak mau menjalani hubungan aneh ini. Ia tidak mau menjadi orang bodoh yang selalu ditinggalkan setiap kali Kai menerima tanda bahaya dari orang lain.

Mendadak, Jiyoung teringat kata-kata Eomma nya beberapa tahun lalu, saat ia bertanya seperti apa rasanya jatuh cinta. Saat itu, Eomma nya menjawab dengan satu kalimat yang tak akan dilupakannya seumur hidup.

 

 

Jika hal yang paling sulit untuk kamu lakukan adalah mengucap ‘selamat tinggal’, saat itulah kamu tahu kamu sedang jatuh cinta.

 

Jiyoung menatap nanar punggung Kai yang sekarang sudah menjauh. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.

“Selamat tinggal, Sunbae…”

.

.

.

Sulli mengintip ke balik rak astronomi, lalu mendapati Minho sedang serius memelototi punggung buku-buku yang tersusun di rak. Sepertinya, anak laki-laki itu sedang mencari buku. Tanpa bersuara, Sulli berjingkat ke arah Minho, lalu berjinjit dan menutup kedua matanya.

“Baa…” kata Sulli begitu Minho melepas jemarinya dan menengok.

Minho menatap Sulli yang tampak ceria, lalu tersenyum. Kecantikan anak perempuan itu selalu berhasil membawa mood-nya kembali baik setelah semua yang terjadi kemarin.

Sebenarnya, Minho tak tahu apa yang membuatnya menyanggupi permintaan gila Kai kemarin. Menerima Kai untuk tetap berada di samping Sulli membuatnya seperti laki-laki tak berguna. Namun, entah mengapa Minho tidak ingin kehilangan Sulli begitu saja. Kata-kata Sulli untuk mempercayainya terasa seperti mantra yang menyihirnya.

“Kok bengong?” tanya Sulli, menyadarkan Minho. “Sedang mencari buku apa?”

“Buku tentang perbintangan,” jawab Minho, kembali memfokuskan diri pada pencariannya. Seseorang telah sembarangan mengembalikan buku itu ke rak ini sehingga sulit untuk dicari.

“Memangnya kenapa?” Sulli tiba-tiba tertarik. “Kalau mau tahu soal bintang, tanya sama yang ini.”

Sulli menunjuk dirinya sendiri, jadi Minho mendengus. “Kamu masih merasa seperti Bintang? Yang paling terang?”

Sulli mengangguk. “Aku tetap bintang yang paling terang. Walaupun paling cepat mati, aku tidak akan menyesal.”

Jari Minho berhenti menyusuri punggung buku. Ia menoleh kepada Sulli yang tampak bersandar di rak, menatap langit-langit perpustakaan.

“Yang penting, aku sudah menerangi mereka yang membutuhkan cahayaku.” Sulli menatap Minho. “Benar, kan?”

Minho tersenyum, lalu kembali mencari buku itu. Beberapa bulan lalu, ia pernah membaca sebuah buku tentang bintang dan nama-nama rasi yang lengkap. Ia harus menemukannya. Ada sesuatu yang mengganjal di otaknya. Ia tidak bisa memamerkan trivia itu kepada Sulli jika ia sendiri tidak yakin.

“Kalau kamu, apa membutuhkan cahaya ku?” tanya Sulli, membuat Minho terkekeh.

“Kita kan sama-sama bintang, buat apa cahaya kamu,” jawab Minho.

Sulli mengernyit, tak paham. “Maksudnya?”

Minho menatap Sulli. “Minho itu kan kata lain matahari [anggep aja nama Minho artinya matahari ya dear], matahari itu bintang.”

“Matahari itu bintang?” Sulli memekik, baru tahu. “Yang bener??”

Minho sendiri segera melongo parah. Detik berikutnya, ia bertepuk tangan. “Epic. Ini, Choi Sulli, adalah hal paling epic yang pernah kamu katakan.”

Mulut Sulli masih terbuka. “Tapi… matahari ya matahari. Bintang ya… Bintang. Bintang tidak bersinar di siang hari!”

Minho menggeleng-geleng, merasa bersalah karena belum menanamkan pengetahuan dasar itu ke dalam otak Sulli. Ia lantas menghampiri Sulli dan menatapnya lekat.

“Bintang tidak terlihat di siang hari karena sinar matahari mengalahkan cahayanya.” Minho menjelaskan dengan bahasa yang sesimpel mungkin. “Makanya kamu baru bisa lihat mereka di malam hari setelah matahari tenggelam. Tapi pada dasarnya, mereka sama-sama bintang. Hanya saja matahari jaraknya dekat, sedangkan bintang-bintang itu sangat jauh.”

Minho mendadak terdiam, menyadari sesuatu dari perkataannya. Dulu, ia menganggap Sulli adalah salah satu bintang itu, jauh dan tidak tergapai. Sinarnya yang sangat terang membuat semua orang hanya bisa mengaguminya dari jarak jutaan kilometer.

“Jadi… matahari itu bintang?” Sulli masih belum mau menerimanya. Selama ini, ia percaya bahwa bintang dan matahari adalah dua benda angkasa yang berbeda. Walaupun Minho—atau ilmuwan terpandai sekalipun— mengatakannya, kepercayaan selama bertahun-tahun akan sulit untuk terganti begitu saja.

“Kamu ini benar-benar ya.” Minho menatap Sulli nyaris takjub. “One in a million.”

Kata-kata Minho membuat Sulli terpaku selama beberapa saat. “Itu… dalam arti yang bagus? Atau buruk?”

Minho menatap Sulli lama. “Apa ada bintang yang buruk?”

Sulli balas menatap Minho, lalu tersenyum lemah. “Adanya bintang yang terlalu terang dan cepat mati.”

Senang Sulli mengingat pengetahuan darinya, Minho mengangguk dan kembali menyusuri rak buku, sama sekali tidak menyadari Sulli yang jadi murung di sampingnya, memikirkan setiap kata-kata itu secara harfiah.

Sulli sedang mengalihkan pandangan saat tahu-tahu melihat sebuah buku yang tergeletak di rak paling atas. Menyangka itu buku yang sedang dicari Minho, Sulli melangkah naik tangga kecil, lalu menggapainya.

Sulli baru berhasil menggapai ujung buku itu saat ia kehilangan keseimbangan. Refleks, tangannya mencari apa pun untuk berpegangan dan akhirnya mendarat pada sebuah paku yang menonjol dari rak. Minho yang melihatnya segera berlari ke arah Sulli, dan berhasil menangkapnya sebelum anak perempuan itu terjatuh ke lantai.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Minho, diam-diam menyadari bahwa tubuh Sulli sangat ringan, nyaris tak bermassa.

Sulli sendiri masih terkejut untuk menjawab. Beberapa detik berikutnya, ia sadar kalau ia sedang berada dalam pelukan Minho. Mendadak, Sulli ingin berada di sini selamanya. Di bahu Minho yang tidak kokoh namun terasa hangat dan nyaman.

Minho merasakan pelukan Sulli yang semakin erat, lalu menoleh ke sekeliling. Kalau ada orang yang menemukan mereka seperti ini, hanya masalah waktu hingga ia ditendang keluar dari sekolah ini. Dan itu tidak boleh terjadi.

Otaknya hanya sempat berpikir demikian selama beberapa saat karena selanjutnya, hatinya yang mengambil alih. Harum sampo Sulli yang memikat membuatnya tidak peduli lagi. Ia berhasil melindungi Sulli. Ia akan membuktikan kalau Kai salah telah meremehkannya.

Perlahan, tangan Minho terangkat dan mendarat di puncak kepala Sulli. Ia mengelusnya pelan, seolah takut merusak mahkota indah itu. Seolah tangan jelatanya bisa mengotorinya. Beberapa bulan lalu, Minho bahkan tak pernah memimpikannya.

Sulli baru memejamkan mata saat merasakan sesuatu yang lengket pada telapak tangan kanannya. Sulli mengangkat tangannya, lalu segera terperanjat. Telapak tangan itu sekarang sudah berlumuran darah. Sulli sama sekali tidak sadar bahwa paku yang tadi ia gapai ternyata melukainya.

“Ah.” Sulli tercekat saat melihat luka sayatan itu.

Saat merasa tubuh Sulli gemetar, Minho mendorong tubuh anak perempuan itu hingga terduduk. Ia lantas melotot saat melihat tangan Sulli yang terluka.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Minho, khawatir.

Alih-alih menjawab pertanyaan Minho, Sulli malah menengok sekeliling, tampak cemas. Tak memedulikan itu, Minho mengeluarkan saputangan dari sakunya, bermaksud untuk menyeka darah itu. Namun, Sulli segera menarik tangannya.

“Aku… Kai…”

Mata Minho melebar saat mendengar nama itu, Sulli sekarang tampak salah tingkah. Minho menarik napas, berusaha untuk tetap tenang.

“Sini, aku lap dulu darahnya, baru kita ke…”

Sulli menggeleng. “Aku butuh Kai,” katanya gugup, terburu-buru mengeluarkan ponsel dari saku dan menekan tombol satu dengan tangan kirinya yang gemetar. Ia pun menempelkan ponselnya ke telinga. “Kai, tolong…”

Minho menatap Sulli tanpa berkedip hingga matanya terasa panas. Tangannya sudah terkepal, menggenggam keras saputangan yang tidak terpakai. Dan seolah kata-kata Sulli tadi belum cukup menusuk hatinya, mata Minho sekarang menangkap sesuatu yang seumur hidup ia harap tidak pernah ia lihat.

Kalung yang Sulli kenakan menjuntai keluar. Namun, bukan itu yang membuat darah Minho mendidih. Kalung itu berbandul sebuah tanda pengenal seperti plat militer. Pada plat itu, terpahat suatu tulisan.

Menyadari arah pandang Minho, Sulli segera meraih bandul itu dan memasukkannya kembali ke kemeja. Namun, Minho terlanjur membaca sedikit, dan menurutnya, itu sudah lebih dari cukup.

Dalam hitungan detik, Kai muncul. Wajahnya pucat pasi, tetapi tak sepucat siapa pun yang ada di sana. Minho dan Sulli menatap Kai bersamaan, dengan tatapan yang berbeda.

Tak punya waktu untuk mengurusi Minho, Kai segera berlutut di samping Sulli. “Kenapa?”

Sulli menunjukkan tangannya yang terluka. Selama beberapa detik, raut wajah Kai berubah panik. Namun, ia segera mengangguk dan mengeluarkan saputangan untuk membebat luka itu.

“Ayo, Ssul.” Kai merangkul pundak Sulli dan membantunya berdiri.

Sebelum pergi, Sulli menoleh kepada Minho yang masih menatap kosong. Urat-urat di kepala dan tangan anak laki-laki itu bermunculan. Jelas sekali Minho marah padanya.

“Percaya sama aku, ne.” Sulli berucap, lalu Kai membawanya pergi.

Sepeninggal Sulli, Minho hanya terduduk di lantai perpustakaan yang dingin, berusaha melupakan apa yang baru saja ia lihat. Namun, tulisan pada tanda pengenal di kalung Sulli terus berputar di otaknya.

 

Kim Jongin. 081xxxxxxxxxx

.

.

.

Sulli menatap tangan yang sudah terbebat perban. Lagi-lagi, ia melakukan sesuatu yang bodoh hingga Kai harus menolongnya. Tadi, ia tidak membiarkan Minho untuk melakukannya karena tidak ingin anak laki-laki itu tahu.

“Kamu tunggu di sini. Aku ambil tas.”

Suara Kai menyadarkan Sulli. Sekarang, mereka sedang berada di ruang kesehatan yang sepi. Walaupun harus memeriksakan lukanya ke dokter, Sulli tidak ingin langsung pulang. Ia ingin bicara lebih dulu dengan Minho.

“Kita kembali ke kelas dulu ya, Kai,” kata Sulli membuat Kai yang sedang membereskan sisa-sisa pembungkus kain kasa menatapnya.

Sulli bangkit dan melangkah pelan keluar dari ruang kesehatan, jadi Kai mengikutinya. Tadi saat melihatnya berdarah di samping Minho, Kai menyadari ekspresi horor Sulli. Anak perempuan itu pasti tidak ingin Minho menolongnya. Namun, sikap Sulli itu sudah pasti akan menimbulkan konsekuensi. Minho tampak luar biasa marah. Kai bisa tahu saat ia melihat tangan Minho yang terkepal dan matanya yang memerah.

Tepat pada saat Kai sedang memikirkan Minho, anak laki-laki itu muncul dari koridor sekolah. Langkah Sulli segera terhenti. Minho sendiri tampak terkejut, namun ekspresinya berubah masam saat melihat Kai yang ada di belakang Sulli.

Sulli mengangkat tangan yang sudah dibalut, mencoba untuk tersenyum. “Aku baik-baik saja, lihat.”

Minho mengalihkan pandangan dari Kai untuk menatap Sulli tajam. “Oya? Bagus lah kalau begitu.”

“Ssul, aku duluan ke kelas,” dusta Kai, memahami situasi itu. Ia akan pergi dari sana, tetapi berada cukup dekat untuk tetap mengawasi mereka.

Minho menatap Kai hingga ia menghilang ke koridor kelasnya, lalu kembali menatap Sulli yang tampak salah tingkah.

“Yang tadi itu…”

“Orang kaya memang tidak ada kerjaannya, ya?” Minho memotong kata-kata Sulli. “Kalian segitu tidak ada kerjaan sampai harus menghabiskan waktu dengan mempermainkan orang-orang seperti aku dan Jiyoung?”

Mata Sulli melebar. “Bukan begi—“

“Kau..” sambar Minho sebelum Sulli sempat meneruskan bicara. “Cantik, tapi busuk.”

“Eh?” Sulli bergumam, tak percaya pada pendengarannya.

“Kau hanya wanita kaya yang senang mempermainkan orang lain,” kata Minho lagi. “Harusnya aku tahu. Harusnya aku tidak terjebak permainan mu itu.”

“Aku…” Mendadak, Sulli kesulitan berkata-kata. Semuanya tercekat di tenggorokan. Ia merasa seperti ingin menangis mendengar segala tuduhan Minho.

“Aku bodoh karena selama ini sudah percaya sama kamu.” Minho menggeleng-geleng pelan. “Kamu bukan cuma manja, tapi juga penipu.”

Selama beberapa saat, Sulli hanya bisa terdiam. Kepalanya tertunduk, memikirkan kata-kata Minho. Saat Minho berbalik dan melangkah pergi pun, ia tidak bisa bereaksi. Seluruh tubuhnya terasa bergetar, menahan air mata yang sudah hendak tumpah.

Minho sendiri tak ambil pusing. Cerita anak perempuan itu soal tangis pertamanya kemungkinan besar juga suatu kebohongan. Ia tak tahu lagi. Ia tak mau peduli. Ia hanya ingin lepas dari anak perempuan itu dan juga Kai. Ia sudah cukup dipermainkan oleh anak-anak itu.

Langkah Minho terhenti saat melihat Kai berbelok. Rupanya, Kai tidak pergi ke kelas. Ia tetap di sana, mendengar pembicaraan mereka, mungkin dengan alasan menjaga Sulli lagi. Minho sudah muak.

“Kau puas, sudah mempermainkan aku dan Jiyoung, hah?” tanya Minho tajam.

Kai tak menjawab. Senyuman yang biasa tersungging di bibirnya pun tak tampak. Ia hanya menatap Minho nanar, seolah mengatakan bahwa apa yang ia tuduhkan tidak benar, namun enggan mengatakan alasannya.

“Mungkin sebaiknya kami memang tidak bergaul dengan orang luar.” Kai membuka mulut, membuat mata Minho melebar. “Mungkin seharusnya kami tidak ada di sini. Apa pun yang dia sentuh, semua menyakitinya. Kalian semua berduri.”

“Hah?” gumam Minho marah, tetapi Kai sudah melangkah pergi.

Walaupun setengah mati ingin, Minho menahan diri untuk tidak menyusul dan memukulnya. Ia tidak akan kehilangan beasiswa hanya demi memukul orang seperti Kai.

Orang kaya yang tidak berguna.

.

.

.

Kai menatap taman depan perpustakaan yang tampak di kejauhan, lalu menghela napas. Saat ini, ia sedang bersandar di dinding luar toilet wanita, menunggu Sulli yang mengaku ingin buang air kecil. Namun, ia tahu, Sulli tidak sedang buang air kecil. Anak perempuan itu sedang menangis. Kai bisa mendengar setiap isakannya.

Semenjak bertemu dengan Minho, Sulli menangis lebih sering daripada yang ia lakukan 17 tahun sebelumnya. Jika selama ini Kai dan Siwon selalu bisa mencegah Sulli untuk menangis, sekarang tak ada yang bisa Kai lakukan untuk mencegahnya. Harusnya, Kai tak pernah membiarkan Minho mendekatinya.

Kai melongokkan kepala ke dalam. Selain Sulli, tak ada satu orang pun di dalam kamar mandi itu karena letaknya yang terpencil dan digosipkan berhantu.

Detik pertama melihat Sulli, Kai segera terperanjat. Bukan karena anak perempuan itu sedang berlinang air mata, namun karena ia sedang mencodongkan tubuh di depan wastafel, membiarkan darah segar mengalir dari hidungnya.

“Sulli!!” Kai segera melompat ke dalam, lalu meraih bahu Sulli yang bergetar hebat.

Tanpa banyak bicara, Kai membantu Sulli memijat lembut hidungnya. Sejalan dengan air mata Sulli, darah bergumpal masih terus keluar, seperti tak bisa berhenti.

“Kai, mian…” Sulli bergumam, air matanya kembali mengalir.

Kai menatap mata Sulli, lalu meneguk ludah. Hari ini mungkin hari paling menakutkan dalam hidupnya. Dalam satu hari, Sulli terluka dua kali. Ini bukan lagi pertanda. Ini peringatan terakhir.

“Ssul.” Kai bisa getar dalam suaranya sendiri. “Ayo kita pergi dari sini.”

Mata Sulli melebar. “Eh?”

Kai membuang tisu yang sudah penuh darah, lalu memegang kedua bahu Sulli, menatapnya dalam-dalam.

“Kita keluar dari sini. Dari sekolah ini.”

.

.

to be continue…

48 thoughts on “I For You [Part 15]

  1. ohhhh…baby sull knapa gak biarin minho oppa yg mengobatimu…???minho oppa….
    wah…kasian sulli juga….coba baby sull sama kai cerita yg sebenernya pasti minho oppa sama youngie bisa mengerti….part ini bener” menyedihkan…hiks…tisu mana tusu…??? 😥
    ditunggu part selanjutnya ya min…:-)

  2. duh kasihan sulli kho sull g’ biarin minho ngobatin luka”x sh,mlhan nelpon kai..seharus’x sulli dn kai hrs cerita xg sebenar”x sm minho dn jiyoung biar tdk salah paham..
    ap kai sm sull pindah seklh???

  3. 😥 ikut nangis sama sulli 😥 …
    Sulli kasian bgt sii,,tuh kan semuanya jadi salah paham,jiyoung juga kan.ah gmna rasanya jth cnta tp trtahan.. Dan minho udah marah sama sulli,huwaaaa,,, gmna ntar ngembaliin kpercayaan minho coba. Sulli mau keluar dri sekolah gak min???

  4. Jangan dong
    Sulli eoni jangan keluar dari sekolah

    Minho oppa sama jiyoung eoni harus tau keadaan sulli eoni yang sebenarnya

    Penasaran sama cerita selanjutnya
    Ditunggu ya thor
    Gomawo ^^

  5. Aduh ming oppa salah paham deh ma ssul eonni, ssul eonni kenapa gx ming oppa aja yg ngobatin lukanya kenapa hrs tlfn kay..
    Kasihan ssul eonni seharusnnya ssul eoni kasih tau je mibg oppa dan jiyoung dong soal penyakitnya biar gx ada yg salah paham lg kaya gini..
    Ehh.bandul kalung ssul onni tulisannya apa yaaa??
    Next eon

  6. Jangan dong
    Sulli eoni jangan keluar dari sekolah

    Minho oppa sama jiyoung eoni harus tau keadaan sulli eoni yang sebenarnya biar gak salah paham kayak gini

    Penasaran sama cerita selanjutnya
    Ditunggu ya thor
    Gomawo ^^

  7. bingung knpa sama reaksi’a minho wktu liat kalung’a sulli??
    ada apa sih sama kalung’a sulli?
    trus mksud’a peringatan terakhir itu apaan??

  8. sumpah makin galoooo 😦
    kasian semuanyaa. satu sisi minho jiyoung tersakiti, tp disisi lain sulli kai serba salah. hmmm
    penasaran ah, next ^^

  9. HIKS…..HIKS…..HIKS…..HIKS…..HISK……HIKS……HIKS……HIKS…….HIKS…..HIKS…HIKS….HIKS…..HIKS…..HIKS…..HIKS……HIKS……HIKS……HIKS…..HIKS……HIKS….HIKS……HIKS…..HIKS…..HIKS…….HIKS….HIKS……HIKS…..HIKS……HIKS…..HIKS…..HIKS…….HIKS……HIKS……..HIKS……HIKS……HIKS…..HIKS……HIKS…….HIKS…HIKS………HIKS……..HIKS……..HIKS……..HIKS…….HIKS…..HIKS…….HIKS……HIKS…..HIKS………HIKS……HIKS…….HIKS……..HIKS……HIKS……HIKS…….HIKS…..HIKS…..HIKS….HIKS……HIKS……HIKS……HIKS…….HIKS……..HIKS……..HIKS…….HIKS……..HIKS……HIKS………HIKS……HIKS……HIKS…..HIKS…….HIK…….HIKS……HIKS…….HIKS…HIKS…….HIKS…….HIKS………HIKS……..HIKS…….HIKS……..HIKS……HIKS……..HIKS…….HIKS……..HIKS…….HIKS……..HIKS……HIKS……HIKS……HIKS…..HIKS……..HIKS…….HIKS…….HIKS…….HIKS……BYE

  10. Sedih banget kasian semua yang ada di part ini sungguh rumit ceritanya, dan masalah timbul lagi, sebenarnya sulli pakai kalung apa. Kok marah banget ma sulli, ia sulli kamu pasti baik saja, ,w sedih banget . LanjuT

  11. Emangnya kenapa sama kalungnnya sulli , minho ekspresinya kok gitu waktu liat itu?? …. Kenapa semua orang gak dikasih tau aja penyakitnnya sulli biar gak pada salah paham dan bisa jagain sullinya …. Peringatan terakhir maksudnya? … Yahyahyah kenapa keluar:(

  12. Hiks…..hiks……hiks…..hiks……hiks…..
    Gak tw mw komen,critanya sweet bnget deh smpek bikin mewek,
    aku suka bnget critanya,smakin menarik apa yg akan trjadi slanjutnya,next eonni jgn lam2 udah pnasaran bnget ama critanya,keep writing eonni
    Fighting ~Chu~

  13. Omigaaaatttt sulli knapa bisa begitu???kasiaaahhh iihh minho kasar…sulli jd nangis ampe keluar darah dri idung!!!
    Sebenernya yg tertulis dikalung sulli itu apa..apa tulisan kamjjong???
    Busyeeett dah galooo benwr part ini…semua orang merasa tersakiti…trus gmna dg sulli ama kai..apa mereka bneran keluar dri sekolah????

  14. makin hari ceritanya makin bikin sweet aja
    tambah greget, authornya pinter bangettt…hehehee
    aishhh sulli kenapa ? smoga kagak terjadi npa2 ma sulli
    coba aja kalau sulli dan kai mau mengakui yg sebenarnya,
    mungkin minho kagak salah paham

  15. Entah menpa ceritanya jdd sedih bnget gini hiks….hiks..hikss huaaaaaa 😥
    Dan trharu gimna gitu pas tau kalungnya sulli
    Dan trharu sama kesetiaannua kai juga yg slalu ada untuk sulli
    Dan sulli itu sakit apa sih

  16. Ahhh kenapa makin nambah coba slah pahamnya sulli eonni kenapa masih takut buat cerita ama minho oppa padahal kan pasti minho bakal ngerti kalau di jelasin 😥
    Bukannya minho oppa aja yg penasaran aku juga penasaran tau eon kenapa bisa ga bisa jauh ama kai hehe

  17. Sedih banget baca part ini,,, sampai meneteskan air mata,,,, apakh sulli tidak bsa bertahan lama? Knpa akhir2 ini sulli sering tetluka,,,,
    Sul,,, bertahanlh…..
    Minho,,, knp km tidak bisa percaya pada sulli,,,, dia bnar2 mencintaimu,,, 😥
    Saran kai mungkin lebih baik buat kondisi sulli,,, biar sulli tidak tetluka lgii,,.
    Jika udah waktuny minsul bersatu meski sulli keluar dari sekolah mereka akn bersatu juga , jodoh g akan kmna ,,,,
    Sulliah,,,, pikirkn kesehatanmu dulu,, itu yg kmu butuhkan saat ini

  18. Part ini terlalu sedih buat aku..
    Hmm seandainya mereka bisa berterua terang. Tapi menurutku lebih baik begini, cinta memang terkadang menyakitkan apalagi jika ada kebohongan didalamnya.
    Tapi bagaimana jika minho tahu kondisi sulli sebenarnya? Dia pasti akan menyesal bukan?

  19. ooowwwww makin galau nie bacanya…
    sulli kai kasi tau aja minho ama jiyeong lama” mereka pasti.bkal tau jg…
    kasian juga sulli ama kai ga bsa bebas bergaul…

  20. part yg bikin mewekk 😥 jiyoungie sabar ne, kai itu cinta kok sama kamu, tapi ntah ada alasan apa makanya dia gk boleh jauh2 dru sulli. apa krn sakitnya itu ya? sulli butuh darahnya?
    minho jg, sabar ya oppa. ntar kan kebuka tuh rahasianya, sabar menunggu okeee.
    lanjut min

  21. Waah daebak, membuatku menangis untuk baca ini dari awal ampek akhir ksh ÿª♌g menyedihkah, wuwhaaa 😦 kai ama sulli begitu menderitanya mereka Jυ̲̣̥ƍα̣̣̥α̍̍̊α̇̇̇̊ minho sama jiyoong kapan smwa ini berkahir huwaaaa minho Oppa jgn salah paham donk. Gmna ini selanjutnya penyakit sulli bisa disembuhkan tidak :(?

  22. Sharus’a sulleon ksih tau aja ke minppa…
    Klo sulleon pnya penyakit…
    Jdi’a kyak gni kan…? Minppa ngomong gk jlas ke sulleon…
    Sdih rsa’a… Huhuhu ;(

  23. Ya ampuuunnnn, padahal tadi masih cukup terpukul dengan terputusnya hubungan JJ couple secara tidak langsung. Eh ini malah Minsul juga yg makin runyam. Semoga aja Kai Dan Sulli bisa terus terang dengan penyakit Sulli. Kasian juga sih Ming sih dicuekin tadi tapi Ssul juga panik. Haduuuh, semoga bisa saling ngerti deh. Keempat belah pihak kan jadi kacau gini -___- lanjut eon. Jangan lama yah 😀 semangat translatenya 😉

  24. wah kasian ma minho tu.. sulli tidak mw minho membantu mngobati tangan sulli.. mlah sulli nelpon kai.. aduh pasti sakitnya tu disini..
    dan minho ma jiyoung sama2 terluka tu..
    kasian minho..
    kasian jiyoung..
    sabar y minho..

  25. jujur itu menyakitkan, tapi lebih menyakitkan kalau orang yang kita cintai menganggap kita penipu hanya karena kita tidak bisa jujur

  26. Gimana minho gk marah org kalungnyaa aja bertuliskan kim jongin…wah minho udh slh paham nih. Sampe” bisa bicara gt ke sulli..wah…mkstnyaa apa coba…
    Sabar yaa minho. Sabar ya sulli. Bener” netes ini air mata huwaaahhh sedih…:(

  27. Emang sulit dipahami sih ketika pacar kita sendiri lagi kesulitan yang dia butuhin bukan kita sebagai pacarnya malah orang lain 😥 nyesek sih apalagi gatau alesan sebenernya T_T. Aduh minho oppa jangan benci sulli :(. Sulli akhirilah semua kemelut ini, jujur aja sama minho sama jiyoung, biar kalian ber4 bisa hidup damai dan tentram bersama pasangan pilihan kalian sendiri 😥

  28. Baper chapter njirrr..kenapa semua nyesek ke gini anjay banget.. Kelihatnnya sulli dan kai emang serba salah..tinggal tunggu kai dan sulli menjelaskan Segalanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s