I For You [Part 16]

Fantasia Painting(29)I For You

Cinta yang selalu menjagaku…

A novel by Orizuka

Choi Minho as Surya || Choi Sulli as Princessa || Kim Jongin as Benjamin Andrew || Kang Jiyoung as Bulan || Park Jungsoo as Herman

Rate : Teenager / General

Genre : Romance // Sad-Hurt // School life // Friendship

Length : Chaptered

Summary :

BAB 16

I want to yell out and call you, I love you.

I’m sorry I can’t smile as I let you go.

Can’t you look back?

[K.Will—Dropping Tears]

.

.

Oppa, ini uang dari Ahjumma Lee.”

Minho mengangkat kepala dari buku Fisika, lalu menatap Jiyoung yang sudah duduk di sampingnya dengan sebuah amplop.

Oppa bisa membayar hutang kita tempo lalu kepada Kai sunbae,” lanjut Jiyoung.

Minho segera teringat kejadian beberapa bulan lalu, saat Kai membayarkan uang kontrakannya. Saat itu, ia belum punya cukup uang untuk membayarnya balik. Ahjumma Lee pun tidak kunjung membayarnya karena ia memiliki masalah dengan keuangan kantin, jadi mereka harus menunggu selama beberapa bulan sampai akhirnya uangnya cair.

Minho menerima amplop itu, lalu memasukkannya ke ransel.

Oppa.” Jiyoung memperhatikan Minho yang sudah kembali sibuk dengan bukunya. “Oppa dengan Sulli sunbae… masih berpacaran?”

“Kita tidak perlu lagi membahas itu.” Minho membalik halaman dengan sedikit kasar. “Oppa mau berkonsentrasi belajar.”

Jiyoung mengangguk-angguk, otaknya masih memutar kata-kata Kai beberapa hari lalu. Menurut Kai, Minho menerima Kai tetap berada di samping Sulli. Namun, mengapa akhir-akhir ini Minho terlihat gusar?

“Kamu sendiri, masih bersama orang itu?” Minho balas bertanya, menyadarkan Jiyoung.

Jiyoung menggeleng. “Ani.”

“Bagus.” Minho mengangguk-angguk. “Memang kita seharusnya tidak pernah berurusan dengan mereka.”

Jiyoung menatap Minho kaget. Apa ini berarti Minho sudah tidak bersama Sulli lagi? Jiyoung hendak menanyakannya, namun Minho tampak sudah kembali tenggelam dalam bukunya.

Oppa nya sudah kembali dingin seperti dulu.

.

.

.

Kangin sedang mengisi kelas XII IPA 2 dengan membagikan ulangan Fisika. Seperti biasa, suasana kelas sekarang sepi, terbawa oleh auranya. Beberapa siswa mendapatkan nilai buruk seperti biasa, dan Kangin tak pernah heran. Namun semalam, saat ia memeriksa nilai ulangan Minho, ia harus melakukannya sebanyak 3 kali. Dan hasilnya tetap sama.

“Choi Minho.”

Minho bangkit saat namanya disebut, lalu melangkah ke arah Kangin yang menatapnya penuh selidik. Tak peduli, Minho menerima kertas ulangannya.

“Apa yang terjadi?”

Seketika, kelas menjadi super hening. Semula, anak-anak menunggu informasi tambahan seperti ‘nilai sempurna’, ‘bagus sekali’ atau ‘kalian harus mencontoh Minho’. Minho sendiri menatap Kangin bingung, lalu membuka kertas ulangannya. Matanya pun melebar, tak percaya.

Enam puluh empat dari seratus.

Minho meneguk ludah. Tak sekalipun dalam sejarah SMA-nya, ia mendapatkan nilai di bawah delapan puluh. Pertanyaan Kangin tadi sekarang berputar di benaknya. Apa yang terjadi?

“Silakan menghadap saya jam istirahat nanti.”

Minho mengangkat kepala dan menatap Kangin. Ia paham benar, kata-kata itu tidak pernah berarti baik. Setelah menghela napas, Minho tersaruk kembali ke bangkunya, diiringi oleh tatapan penasaran dari teman-temannya.

Sebelum duduk, Minho menangkap tatapan Sulli. Anak perempuan itu baru masuk setelah izin selama 3 hari dan tampak sedikit lebih pucat dari biasanya, tetapi Minho tidak punya waktu untuk mengkhawatirkannya. Minho sudah berusaha tidak peduli dari kemarin.

Yang harus ia pedulikan sekarang adalah masa depannya sendiri.

.

.

.

“Jadi begini, Minho-ssi.”

Minho memasang telinga baik-baik saat Kangin membuka percakapan. Saat ini, ia sedang berada di depan meja Kangin di dalam ruang guru yang luas dan nyaman. Para guru sedang menikmati makan siang sambil bercengkerama di lobi tengah ruangan. Namun, entah mengapa, Minho merasa pada saat yang sama para guru itu menguping pembicaraannya dari Kangin.

“Akhir-akhir ini, nilaimu turun semua. Drastis.” Kangin menyodorkan secarik kertas pada Minho. “Fisika. Matematika. Sampai Biologi juga. Ada apa?”

Minho meneguk ludah saat melihat nilai-nilainya sendiri. Memang, untuk ukuran anak-anak lain, nilai itu biasa-biasa saja. Standar. Namun, Minho bukan anak-anak lain. Ia tidak punya orang tua yang bisa membiayai kuliahnya nanti.

“Saya…” Tenggorokan Minho terasa kering. “Tidak ada apa-apa, Seonsangnim.”

“Apa ini karena… Choi Sulli?” Kangin mencondongkan kepala, mencegah guru-guru lain untuk mendengar. “Semenjak kamu pacaran dengannya, nilaimu jadi seperti ini.” Minho menatap Kangin nanar, memikirkan kata-katanya. Kalau dipikir-pikir, kata-kata gurunya itu ada benarnya. Nilai-nilai Minho memang turun semenjak ia mengenal Sulli lebih dekat. Namun, Minho masih belum mau percaya.

“Saya sudah tidak berpacaran dengan Sulli, Seonsangnim,” kata Minho. “Mulai sekarang, saya akan belajar lebih giat lagi. Saya akan perbaiki nilai-nilai saya.”

Selama beberapa saat, Kangin menatap Minho simpati. “Minho-ssi, ada yang harus saya beri tahu pada kamu. Harusnya ini wewenang Wakil Kepala Sekolah, namun beliau sudah menyerahkannya sama saya selaku pembimbingmu.”

Mata Minho membulat. “Ada apa, Seonsangnim?”

Kangin menghela napas. “Soal tawaran beasiswa donatur. Mereka sudah memutus beasiswa untuk kamu.”

Jantung Minho terasa berhenti berdetak. “A-apa?”

“Sesuai perjanjian di awal, beasiswa kamu akan hangus begitu kamu menunjukkan tanda-tanda penurunan. Kamu masih ingat, kan?”

Minho berusaha mengingat isi perjanjian penawaran beasiswa itu, namun percuma. Otaknya yang berisi miliaran neutron itu sekarang sama sekali membeku dan tak berguna.

“Sekarang, beasiswa itu jatuh pada Jung Ah, yang nilainya masih stabil.” Kangin menyebut nama anak penjaga sekolah, satu-satunya murid selain Minho yang ada di daftar penerima beasiswa. “Saya minta maaf.”

Minho masih belum bisa berpikir. Ia seperti baru dihantam ombak setinggi puluhan meter dan pecah menjadi serpihan. Dan mendadak, telinganya menajam. Ia jadi bisa mendengar bisikan para guru dari ruang tengah.

“Saya… saya bisa memperbaikinya, Seonsangnim!” Minho akhirnya tersadar. “Saya tidak akan mengulanginya!”

Namun, Kangin menggeleng pelan. “Kamu tahu perjanjiannya.”

Minho tahu. Setahun lalu, ia menandatangi perjanjian itu karena menyanggupi isinya. Ia yakin pada kemampuannya untuk tidak mendapat nilai di bawah delapan puluh dalam setiap mata pelajaran. Sekarang, saat ia mendapat nilai di bawah 80 dalam 4 mata pelajaran sekaligus, ia tahu itu adalah hukuman mati bagi harapannya.

“Tapi kamu masih bisa mencoba jalur beasiswa kampus, Minho-ssi,” hibur Kangin, tak tega melihat wajah Minho. “Ada beberapa beasiswa yang Konkuk tawarkan.”

Beasiswa kampus berarti ia harus bersaing dengan ribuan—atau ratusan ribu—anak lain. Bukannya ia tidak yakin dengan kemampuannya sendiri, namun kehilangan beasiswa sekolah ini benar-benar memukulnya. Di sekolah ini, ia hanya melawan Jung Ah sementara di kampus nanti, hanya Tuhan yang tahu jumlah pesaingnya.

Namun, saat itu Minho tidak punya pilihan lain. Jung Ah benar-benar pintar hingga Minho yakin anak perempuan itu tak akan bisa digulingkan hingga tahun ajaran berakhir. Cita-cita yang sudah tinggal sekian senti dari ujung jarinya, terpaksa harus terbang lebih jauh lagi.

“Kamu harus belajar dan berdoa lebih giat lagi, Minho-ssi. Jangan pikirkan yang lain.”

Sambil mencengkeram celana seragamnya, Minho mengangguk. Ia akan melakukan apa yang gurunya perintahkan. Mulai sekarang, ia hanya akan berkonsentrasi pada cita-citanya. Pada masa depannya. Pada apa yang nyata.

Cita-cita yang sudah jauh itu, akan segera ia kejar dan raih. Bagaimanapun caranya.

.

.

.

Sulli baru mengembalikan buku Nostradamus ke rak saat menyadari ada langkah yang mendekatinya. Sulli menoleh, lalu terkejut saat melihat orang yang sedang ia pikirkan sudah berdiri di sampingnya.

Senyum Sulli segera mengembang. Walaupun di luar kesadaran otaknya memutar kata-kata kejam Minho kemarin, Sulli tetap senang Minho datang. Anak laki-laki itu pasti menyesali apa yang ia katakan kemarin.

Look at this !!” Minho menyerahkan kertas yang tadi diberikan Kangin kepada Sulli.

Dengan tampang bingung, Sulli menerima dan membacanya. “Ini…”

“Semenjak mengenalmu, nilai-nilaiku turun,” kata Minho dingin, membuat Sulli mendongak. “Gara-gara kau, aku gagal meraih beasiswa.”

Sulli membelalak, tak memercayai pendengarannya. “Apa…?”

“Kau puas?” Minho nyaris tak berkedip. “Mimpi yang selama ini ku bangun dari bawah, sedikit demi sedikit harus rusak begitu aja karena anak-anak orang kaya yang suka mempermainkan orang lain seperti kalian.”

Sulli membuka mulut, bermaksud mengatakan sesuatu. Namun, tak satu kata pun keluar dari mulutnya. Ia tidak tahu harus berkata apa, jadi sekarang ia hanya bisa tertunduk, menatap lantai perpustakaan.

“Kau adalah ujian untukku.” Minho tersenyum miris. “Dan aku kalah.”

“Minho-ya…”

“Karena sudah kalah, aku menyerah. Aku akan pergi.” Minho tak membiarkan Sulli berkata apa pun. “Aku berharap kau melakukan hal yang sama.”

Sulli mendongak, lalu menatap Minho dengan air mata menggenang.”Jangan ganggu aku lagi.” Minho mengatakannya dengan suara bergetar. “Please.”

Walaupun Sulli berusaha membekap mulut, tangisnya pecah juga. Berusaha untuk tak peduli, Minho berbalik dan melangkah pergi. Ia tidak ingin melihat Sulli lebih lama lagi. Jika ia melakukannya, ia akan kembali pada anak perempuan itu dan jika demikian, ia harus mengucap selamat tinggal pada mimpi-mimpinya.

Minho mendorong pintu perpustakaan dengan sekuat tenaga, membuat pintu itu terbanting pada dinding di belakangnya. Kai yang sedang berada di taman perpustakaan, menoleh. Sejurus, pandangan mereka bertemu, tetapi Kai membuang muka terlebih dahulu.

Kai berderap menuju perpustakaan, ingin membawa Sulli pergi dari sana. Ia salah soal tempat ini. Tempat ini tidak aman. Tempat ini hanya akan membuat Sulli sedih berkepanjangan. Walaupun Sulli memohon dengan mata berkaca-kaca seperti tadi, Kai tak akan mengizinkannya untuk ke sini lagi. Tidak ada tempat yang aman bagi Sulli selain di sampingnya.

“Kai,” panggil Minho sebelum Kai masuk. “Ada yang ingin aku katakan.”

Kai menoleh enggan. “Ada apa?”

Minho mengeluarkan sebuah amplop dari saku kemeja, lalu menyerahkan kepada Kai. “Uang kontrakan ku dulu.”

“Tidak perlu.” Kai segera menolaknya, ikhlas berniat untuk membantu Minho dan Jiyoung.

Please, jangan mempermalukan ku lebih dari ini,” kata Minho dingin. “Jangan membuat ku seperti orang miskin yang gampang dipermainkan sekaligus tidak tahu malu.”

Kai menatap Minho tanpa berkedip. Tak pernah sekalipun pemikiran seperti itu terbersit dalam benaknya. Sepertinya Minho sudah salah paham.

“Aku tidak pernah bermaksud—”

“Terima saja.” Minho memasukkan amplop itu ke dalam saku kemeja Kai. “Setidaknya aku bisa mendapatkan harga diri ku lagi walau hanya sedikit.”

Setelah mengatakannya, Minho membalik badan dan melangkah pergi. Kai menatap punggung Minho hingga ia menghilang di antara anak-anak lain, lalu mengeluarkan amplop dari sakunya.

Ia tidak pernah tahu, harga diri bisa ditukar dengan uang.

.

.

.

“Sulli, kamu harus berhenti menangis.”

Kai mengelus rambut Sulli yang halus, berusaha untuk menghibur anak perempuan itu. Semenjak jam istirahat, Kai sudah membawanya pulang karena anak perempuan itu tak kunjung berhenti menangis dan kembali mimisan. Sekarang, setelah pendarahan di hidungnya berhasil dihentikan, Sulli tampak kelelahan. Ia terbaring lemah di ranjang, tetapi air matanya seolah tak bisa berhenti.

“Ssul, aku mohon.” Kai menyeka air mata itu dengan tisu. “Bisa bahaya kalau kamu terus-terusan begini.”

Namun, Sulli seperti sudah tenggelam dalam kesedihannya. Ia tak mendengar Kai. Yang terputar di kepalanya sekarang adalah kata-kata Minho tadi.

Seumur hidup, baru kali ini Sulli merasakan kesedihan yang luar biasa. Seolah hatinya teriris oleh ribuan pisau dan ilmu kedokteran mana pun tak akan bisa menyembuhkannya. Dan sebentar lagi, ia akan mati karenanya. Seperti bintang yang paling terang, cahayanya perlahan meredup dan ia akan meledak.

Menjadi satu di antara sejuta adalah hal terakhir yang diinginkannya. Ia ingin menjadi normal, seperti jutaan orang lainnya.

“Kenapa…,” ucap Sulli lirih. “Kenapa aku…?” Mata Kai melebar saat mendengar kata-kata Sulli. “Ssul. Kita sudah membicarakan ini sebelumnya. Kamu orang yang dipilih Tuhan karena Dia tahu kamu bisa melewatinya.”

Sulli memejamkan mata, membuat air matanya mengalir semakin deras. “Tapi, aku tidak bisa…”

“Kamu bisa.” Kai meraih tangan Sulli. “Kita bisa, Ssul.”

“Kai,” kata Sulli di sela isaknya. “Ayo kita berhenti dan keluar dari sekolah ini.”

Kai menatap Sulli tak percaya. Saat kemarin mengajak Sulli keluar dari sekolah, itu hanya terpikir begitu saja. Saat itu, ia mengatakannya hanya karena tidak ingin melihat Sulli terluka lebih dalam lagi. Sekolah itu seperti hutan yang kejam, dan berada di sana hanya akan menyakitinya.

“Kamu yakin?” tanya Kai pelan. Ia sendiri tidak yakin. Walaupun kejam, ia sedikit menyukai sekolah itu. Saat ia sekolah, ia bisa merasakan dirinya seperti kebanyakan anak. Ia bisa menjadi pelajar seperti yang seharusnya. Ia pun bisa melihat Jiyoung dan merasakan hatinya berdebar.

Sulli memejamkan mata, lalu mengangguk. Walaupun bertepuk sebelah tangan, ia menyukai sekolah itu. Ia senang hanya dengan berada di sana. Namun, ia harus membuat keputusan. Minho membuatnya sadar, bahwa kondisinya membuat semua orang hanya akan menganggapnya beban. Sulli tidak ingin menjadi beban bagi lebih banyak orang.

“Choi Sulli.”

Sulli mendengar suara Kai yang penuh horor, jadi ia membuka mata. Entah mengapa, bayangan Kai terlihat mengabur. Sulli mengerjap, namun Kai masih tampak berbayang.

Kai sendiri menahan napas saat melihat tisu yang sedang ia pegang. Tangannya gemetar.

“Kenapa, Kai?” tanya Sulli sambil berusaha bangkit, melirik tisu yang dipegang Kai. Seketika, mata Sulli melebar. Setetes air mata berwarna merah turun dari mata dan meluncur ke ujung hidungnya, mendarat pada seprai yang berwarna putih. Selama beberapa saat, Sulli dan Kai menatap noda merah itu.

Sulli mengangkat kepala, menatap Kai yang balik menatapnya tanpa berkedip. Wajah anak perempuan itu sekarang bersimbah darah walaupun ia sudah berhenti menangis.

Tanpa banyak bicara lagi, Kai segera meraih tumbler-nya, mengeluarkan sebuah pil dan memberikannya kepada Sulli. Setelah Sulli meminumnya, Kai menggendong dan segera membawanya turun menuju mobil. Setiap darah yang menetes dari mata Sulli terasa menyakiti hatinya, seolah bagian dari dirinya ikut berdarah.

Mendadak, Kai merasa sangat takut.

.

.

to be continue…

46 thoughts on “I For You [Part 16]

  1. Kasian bngt sulli 😦 , yak minho oppa jangan salahin sulli karna nilaimu jelek eoh ais jinja pabo namja -_- . Perbaiki nilaimu oppa dan minta maaf sma sulli
    sulli sma kai gak punya pikiran sejahat itu 😦

  2. Ya sulli kenapa kok keluar darah dari matanya emangnya sakit apa itu chingu sungguh kasian sulli harus merasakan beban penyakit dan karang minho ngenyalahin sulli, ya moga kesalah pahaman bisa selesai dan minho bisa menerima beasiswa lagi dan tahu tentang sulli dan mau nerima lagi dan gak bikin sulli nangis lagi kasian sulli harus menderita karna penyakit yang dengan sepele kita bisa bikin sulli sakit aku juga penasaran ma penyakitnya sulli.

  3. Ya ampun ya ampun……minho kehilangan beasiswa dan sekarang sull keluar airmata darah berati maki parah aja penyakitnya
    Kenapa jdi begini…nangis kan gue!!pagi” begini harus mengeluarkan airmata karna baca epep.
    Semoga semuanya baik” saja…takut sulli knapa”

  4. Pary ini bikin aku galau banget mulai dari ming oppa yg kehilangan beasiswanya gara” nilainya turun drastis dan sekarang malah ssul eonni penyakitnya kambuh dan makin parah
    Semoga gx terjadi hal buruk kpd ssul eonni..
    Next eonn..makin menegangkan

  5. ya ampun pensaran bgt aku sama pnyakitnya sulli…kok bsa ape kyk gt….
    minho kasian jg dia dputus beasiswanya
    terus gimana sama sekolahnya…
    tp dia kejam bgt sama sulli…
    mereka saling menyakiti…

  6. part ini bikin nyesek yakk 😥 sulli makin parah, minho kehilangan beasiswa, aigoo sedihh bgt sih part ini. smpe mereka berdua mau keluar dri sekolah huhuhuhu. sabar kalian semua ya, pasti ada jln keluarnya.
    lnjut eon

  7. Kasian sulli eoni sama minho oppa
    Mereka salah paham
    Masalahnya harus segera berakhir

    Sulli eoni kenapa??? Kok mata berdarah??
    Semoga keadaannya baik baik aja
    Penasaran sama cerita selanjutnya
    Ditunggu ya thor
    Gomawo ^^

  8. Kasian sulli eoni sama minho oppa
    Mereka salah paham
    Masalahnya harus segera berakhir

    Sulli eoni kenapa??? Kok mata berdarah??
    Semoga keadaannya baik baik aja
    Penasaran sama cerita selanjutnya
    Ditunggu ya thor
    Gomawo ^o^

  9. Yaampun ming-ming gak kasian emng sama sullinya di bilangin begitu , sakit taukk-_- … Sedih banget jadi sulli:( , and kenapa sulli matanya sampe ngeluarin darah dengan tiba-tiba?
    next thorrr;)

  10. aduhh ming jadi kagak dapet beasiswa…padahal ia mati matian untuk dapetin tu beasiswa
    ya ming jangan salahin sulli dong…
    wah wah sulli kenapa sampai ngeluarin darah matanya, andwe andwe. sulli akan baik baik saja kan….
    next eonnie

  11. yak ming kagak dapet beasiswanya, padahal ia berjuang mati matian untuk ngedapetin beasiswa
    aishhh sulli what happens ? aduhhh kenapa sulli ngeluarin darah dari matanya secara tiba2

  12. aduh jadi bingung nie.. disatu sisi minho merasa sakit gara2 sulli dan minho gagal mendapat beasiswa sekolah gara2 nilainya turun..
    disatu sisi lainnya kasian sulli sulli sampe menangis dan air matanya berubah menjadi darah..
    kenapa kai dan sulli tidak mengatakan yg sesungguhnya..
    wahh ff nya makin seru aja ni min..

  13. yaampun sulli makin drop dan kasihan bgt 😥
    minho juga kasihan tp dia kejam bgt ih sama ssul 😦
    bener2 galau lah baca part ini huaaaa
    next eonn 🙂

  14. Omooona… Separah itukah sakit Sulli? Ya ampun, matanya sampai mengeluarkan darah. Kalau Minho tau yg sebenarnya pasti dia akan menyesal. Aduuh, speechles eon. Miris banget pokoknya hidup Ssul. Semoga ada titik terang untuk menyembuhkan sakit Sulli 100%. 😦

  15. Waduuuh tragis bangeeet , pengen nangis lihat keadaan Sulli, smga cpt sembuh dan minho kenapa mlah tambah menurun bukannya semakin bersemangat pcran dgn sulli.huwaaaa smangat buat Kai 🙂

  16. Semua karakter di part ini kondisinya menyedihkan, minho yg kehilangan bea siswanya, jiyoung n kai yg sakit hati dan sulli yg semakin buruk kondisinya..
    Aku harap semua berakhir indah..

  17. Aaak mnho nyebelin,kasar bgt kata2nya,,ikut sakit pas bacanya,,
    Sulli ampe keluar darah dari matanya??? Ya ampuun kasian bgt siii 😦 , udahlah sulli keluar aja ntar hiar minho ngrasain kehilangan, ntar minhondeh yg nyari2 sulli.

  18. Kasian sulli,,, sampai nangis darah,,,jgn sampai sulli mati thor,,, beri dia kesempatan untuk hidup,,,, sampai ikutan nangis baca nya 😥

  19. Sulli eonni…. Waaa… Rasanya hati ini ingin menangis se-kencang kencangnya…
    Gk than liat sulleon kyak gtu…
    Apalagi dgn kta2nya minppa yg pedes itu… Wuaaa

  20. Hiks…..hiks…..hiks….
    Sumpah aku mewek baca chap ini,knapa dri awal ampek akhir sad semua,mlai dri minho yg khilangan beasiswanya,wktu minho nyalahin sulli dan yg pling prah wktu sulli ngluarin drah dri mtanya,ngeri bnget bayanginnya ampek mrinding #HIH
    msih pnasaran am pnyakitnya sulli,apa sih pnyakitnya,klw aku pikir hemofilia tpi kyaknya lebih dri itu deh,smkin mnyakitkan aja nih ff,daebak bisa bikin aku mwek
    next eonni jgn lama2 yah udah pnasaran bnget ama critanya
    apa yg akan trjdi ama sulli?
    fighting eonni ~Chu~

  21. Aaaa kok jd gitu sih hubungan Minho sm Sulli?:(:(:(:( Pengen kayak dulu lg. seharusnya Sulli jelasin ke Minho hubungan dia sm Kai yg sebenernya tuh kyk apa….. yaampun Sulli smg cpt sembuh yaaaa!! Kai-jiyoung Samar suka tp hubungannya jg Kandas. Semangat nerusin ffnya eonnie!^^ Fighting

  22. Duhh ssul kasiann bgt nihh 😥
    Ga sanggup liat ssul sedih nya smpe begini..
    ming mingg, coba kalo dia tau apa yg terjadi sm ssul, nyesel pasti tuh dia pernah ngomong yg jahat” sm ssul.. semoga aja ssul gak knp” tuhh 😦

  23. Ya ampun…sulli kenapa?kok bisa menangis darah bgtu ada apa sama sulli ayo kai bawa sull ke rmh sakit. Wah sull harus hidup dengan penyakitnya.. dan stlh kenal minho malah tambah parahbkarna dya sering sedih dan menangis …wah sabar yaa sull baby:(

  24. Yatuhaannn part apa ini min part apaaaa 😥 ngerih bnget bacanya 😥 kapan kesedihan ini akan berakhir min huaaaa 😥 minho oppa jangan lepasin sulli dulu sebelum tau sulli tu kenapa 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s