I Wish You [End]

Sulli_Choi_31

I WISH YOU

Look at me.

Main cast : Choi Sulli & Choi Minho

Length : Chaptered

Genre : Romance.

Summary :

Aku telah bangun dari mimpiku. Kini aku berhenti mengikutimu dan aku tak ingin lagi bermimpi.

.

.

=0=

 

Sulli side*

.

.

Walaupun hari ini hari minggu aku tetap bangun pagi. Dan hari ini aku harus pergi ke suatu tempat yang rutin ku kunjungi tiap bulan. Aku memilih baju yang pas untuk pergi. Aku juga membiarkan rambutku tergerai, biasanya aku selalu mengikat rambut jika kesekolah. Aku memilih memakai rok selutut, tapi ini sangat buruk. Lututku terlihat memar akibat jatuh di perpustakaan kemarin. Jadi aku menggunakan rok panjang. Aku berjalan keluar kamar dengan terseok-seok.

“Sulli kau tidak apa-apa nak? Apa kaki mu sudah kau obati? Lebih baik istirahat saja dulu, kau bisa pergi minggu depan”, aku tersenyum. Walaupun di sekolah tidak ada yang perduli denganku tapi berbeda disini. Banyak yang sayang padaku.

“Tidak ibu.. aku baik-baik saja, aku masih bisa berjalan”, aku berbicara dengan ibuku. Tapi bukan ibu yang melahirkanku. Ibuku sudah lama meninggalkanku sejak aku duduk di bangku SMP, sejak itulah aku menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Ayahku? Sama. Mereka pergi meninggalkanku. Dan hari ini aku akan menemui mereka.

“Sebaiknya makan dulu nak, ibu sudah siapkan sarapan. Kita sarapan sama-sama dulu, kasihan adik-adikmu sudah menunggumu”. Aku tersenyum melihat adik-adikku duduk dimeja makan. Setiap hari mereka akan menungguku untuk sarapan bersama. Akupun ikut duduk di antara mereka untuk sarapan bersama. Hanya bersama mereka aku merasa kuat dan menghilangkan kesedihanku.

.

.

Aku berjalan dengan santai. Aku sengaja tidak menggunakan sepedaku karena kakiku masih sakit dan aku memilih berjalan setidaknya aku bisa menikmati udara pagi yang segar. Tiba-tiba aku merasakan sebuah benda mendarat di kepalaku dan akhirnya jatuh ke tanah. Apa ini? Sebuah botol minuman? Siapa yang melempar ini ke kepalaku? Apa aku ini tempat sampah?

“Yaaak siapa yang melemparku? Ini sakit sekali..” aku berteriak namun tidak ada yang menjawab dan tidak ada siapapun disini. Jadi siapa yang melemparku? Apa itu hantu? Aahh mana mungkin ada hantu di pagi ini.

Aku memungut botol minuman itu dan melanjutkan langkahku. Ada-ada saja pagi ini. Sebelum menemui Eomma dan Appa aku harus membeli bunga kesukaan mereka. Aku mampir ke toko bunga. Aku membeli beberapa bunga.

.

.

“Apa kabar Eomma? Appa?” aku meletakkan bunga di atas kuburan mereka. Aku membersihkan kuburan eomma dan appa. Aku mendoakan mereka bahagia disana.

“Aku sangat merindukan kalian” aku tak bisa menahan tangisku walaupun setiap bulan aku selalu datang kesini. Aku harus kehilangan mereka karena sebuah kecelakaan dan merenggut nyawa Eomma dan Appa. Dan sekarang aku tinggal di panti asuhan. Aku menangis mengingat kenanganku bersama orang tuaku. Aku juga menceritakan kejadian-kejadian yang ku alami, termasuk insiden sebuh botol kosong yang melayang kekepalaku saat menuju kesini.

“Sulli?” seseorang terlihat mengenaliku. Dan dari nada suaranya terlihat ragu-ragu untuk menyapaku. Aku segera menghapus air mataku dan bangkit berdiri untuk melihat siapa yang baru saja memanggilku. Dan ini sungguh mengejutkan. Bagaimana dia ada disini?

“Minho-ssi?” aku tak percaya ini. Bagaimana bisa dia ada disini?

Dia hanya mengangguk. Sungguh aneh, beberapa minggu sejak kejadian bola basket itu dia tidak pernah lagi menyapaku bahkan sikapnya berubah. Tapi yang ku lihat rasanya ini benar-benar Minho. Dia bahkan mengenaliku, aku pikir dia sudah lupa denganku.

“Apa yang kau lakukan disini?” pertanyaannya membuyarkan lamunanku.

“Aku? Aku mengunjungi kedua orang tuaku” jawabku tersenyum sambil memandang kedua kuburan eomma dan appa. “Kau sendiri sedang apa disini Minho-ssi?” aku juga penasaran apa yang dia lakukan di tempat pemakaman ini.

“Mengunjungi ibuku” dia menjawab singkat tapi aku dapat melihat raut wajah kesedihan. Tunggu dulu. Dia bilang mengunjungi ibunya. Apa itu berarti ibunya telah meninggal?

“Minho-ssi… apa ibumu telah…” aku tidak melanjutkan kata-kataku. Kulihat wajahnya memerah dan aku rasa dia menahan tangisnya. Aku jadi merasa bersalah. “Maafkan aku Minho-ssi”

“Gwenchana… apa aku terlihat menyedihkan?” Aku menatap matanya. Tersirat kesedihan yang amat dalam. Aku yakin Minho sangat menyayangi ibunya. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku tidak boleh membuatnya semakin sedih jika aku mengatakan dia sangat menyedihkan.

Di tempat pemakaman ini terdapat beberapa bangku. Aku mengajak Minho untuk duduk disana. Cukup lama kami hanya berdiam, menikmati hembusan angin. Ku lihat Minho memejamkan matanya. Sepertinya dia menikmati kesunyian ini. Akupun ikut memejamkan mata.

“Sulli..” aku membuka mataku. Kulihat Minho menatapku. Ya Tuhan.. Minho aku mohon jangan menatapku seperti itu. Rasanya pipiku memanas. Aku memalingkan wajahku agar tidak terlalu terlihat jika aku sedang gugup.

“Kau hebat” aku mengernyitkan keningku. Apa maksudnya? Aku tidak mengerti.

“Eoh? Hebat apa maksudmu Minho-ssi?” dia tersenyum ke arahku. Oh Tuhan.. lagi-lagi kau memberiku hadiah yang istimewa.

“Kau gadis yang kuat. Kau mampu bertahan dan masih bersemangat ketika kedua orang tuamu meninggalkanmu, sedangkan aku baru saja kehiangan ibuku sudah membuat hidupku berantakan”, aku menatapnya. Ternyata ini yang membuatnya berubah. Ternyata dibalik sikapnya yang dingin ternyata dia sangat rapuh.

“Kata siapa aku hebat? Aku sangat rapuh ketika aku harus menerima kenyataan bahwa aku hidup sendiri. Aku bahkan menjadi sangat pendiam sejak mereka pergi sampai akhirnya aku memutuskan tinggal di panti asuhan. Disana aku merasakan bahwa tidak hanya aku yang hidup sendiri. Masih banyak diantara aku yang tidak memiliki orang tua tapi mereka masih bisa tersenyum dan tertawa” kulihat Minho mendengarkan dengan seksama.

“Apa kau tidak punya saudara? Paman atau bibi mu dimana?”

“Ada. Tapi aku lebih suka tinggal di panti asuhan. Disana lebih ramai. Aku hanya sesekali mengunjungi paman dan bibiku agar mereka tahu kalau aku baik-baik saja..” Minho tersenyum. Akupun ikut tersenyum. Dia benar-benar tampan. Astaga.. apa yang ku pikirkan?

“Minho-ssi, apa ibumu sudah lama meninggalkan mu?”

“Beberapa minggu yang lalu” jawabannya singkat tapi cukup membuatku terkejut. Jadi inikah sebabnya Minho berubah?

“Kau ingat saat aku mengantarmu? Saat itu aku pulang duluan bukan? Saat itu ibuku kritis. Maaf meninggalkanmu waktu itu”

“Tak apa Minho-ssi, sudah seharusnya kau pulang saat itu. Aku tidak mungkin marah. Jadi itukah yang membuatmu berubah?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Berubah? Maksudmu? Apa aku terlihat sangat berbeda?” aku mengangguk. Ternyata dia tidak menyadari dirinya sendiri sudah bersikap seperti itu. “Ternyata kau memperhatikanku?” lanjutnya. Tapi kalimat itu membuatku terkejut. Harusnya aku tidak mengucapkan itu tadi. Akhhh Sulli phabo. Kulihat Minho tersenyum. Senyumnya sangat lepas. Pasti akan sangat bahagia bisa menjadi bagian dari hidupnya.

“Sulli.. menurutmu apa yang harus aku lakukan? Di tinggalkan orang yang kita sayangi memang sangat menyedihkan, tapi aku tidak ingin larut dalam kesedihan itu. Dan juga aku tidak ingin melupakan ibuku. Tapi jika aku mengingatnya aku akan sedih. Jadi apa yang harus kulakukan?” aku tersenyum. Apa yang dia katakan barusan sama dengan apa yang aku pikirkan ketika eomma dan appa meninggalkanku. Aku tidak ingin sedih tapi aku tidak ingin melupakan mereka. Tapi setiap aku ingat mereka aku akan sedih.

“Mengapa kau sedih Minho-ssi? Ibumu pasti akan sedih juga. Kau harus bisa menerima kenyataan. Kau harus melihat di sekelilingmu, banyak diantara mereka yang tidak memiliki orang tua termasuk aku. Bukankah kau masih memiliki ayah. Kau harus menyayanginya juga” dia menatapku.

“Akan ku coba sepertimu”. Eoh? Apa maksudnya? Dia ingin mencoba saranku. “Apa kau selalu mengunjungi orang tuamu disini?” aku terseyum mengangguk.

“Ya satu kali dalam sebulan aku selalu ke sini, awalnya seminggu sekali lalu lama-kelamaan aku mencoba memberi jangka yang agak panjang agar aku tidak terlau sedih”

“Kalau begitu bagaimana kalau kita setiap bulan bersama kesini. Setidaknya aku ada teman yang menemaniku kesini.” Apa yang baru saja dia katakan? Dia ingin aku bersamanya setiap bulan kesini? Itu artinya aku pasti akan ada waktu bersamanya setiap bulan. Aku tersenyum mengangguk. Siapa yang akan menolak tawaran seperti itu.

“Ahh aku lapar, apa kau sudah makan?” Hah? Apa ini? Apa dia akan mengajakku makan? Ahh harusnya tadi aku tidak makan saja saat berangkat. Aku melihatnya kemudian mengangguk menandakan kalau aku sudah makan. “Bagaimana kalau temani aku saja. Kau tidak sibukkan?”

“Hmm baiklah Minho-ssi. Tunggu sebentar, aku berpamitan dengan ayah dan ibuku dulu” dia hanya mengangguk. Setelah aku berpamitan dengan eomma dan appa, aku mengahampiri Minho.

Kami berjalan kaki mencari makanan di pinggir jalan. Minho ke sini menggunakan sepeda jadi sekarang dia hanya mendorong sepedanya karena aku menolak dibonceng olehnya.

“Kau haus?” pertanyaan aneh Minho keluar dari mulutnya. Aku mengernyit bingung. Aku hanya menggeleng sambil melanjutkan perjalanan. “Lalu mengapa kau membawa botol minuman yang sudah kosong?” Ahh iya aku baru ingat dari tadi aku memegang botol yang sudah mendarat di kepalaku tadi pagi.

“Oh ini, sebenarnya tadi pagi ada yang melempar botol ini hingga mengenai kepalaku. Saat aku mencari pelakunya tapi tidak ada, jadi ku bawa saja botolnya siapa tau aku menemukan pelakunya” aku mengoceh dengan lancar mengungkapkan kekesalanku. Tapi apa yang kulihat? Minho malah tertawa. “Apa yang lucu Minho-ssi?” tanyaku karna dia tertawa tiba-tiba.

“Kau ini ternyata lucu juga. Aku fikir kau gadis pendiam. Oh ya panggil aku Minho saja. Terlalu formal jika kau memanggilku dengan embel-embel ssi.” Akupun mengangguk.

“Lucu? Sebenarnya aku memang bukan gadis pendiam, hanya saja sejak eomma dan appa meninggalkanku, aku merasa kurang semangat saja” kulihat Minho hanya mengangguk.

“Ssul…” dia memanggilku dngan tersenyum. Aku melihat kearahnya “Kau tahu.. sebenarnya tadi pagi aku yang melempar botol ini. Setelah menedang botol ini aku mendengar seperti mengenai seseorang dan aku langsung menaiki sepedaku dan pergi dari tempat itu”, aku tercengang apa yang baru saja dia katakan. Aku tak tahu harus berbicara apa.

“Kau..? Minho.. apa kau hobi melemparku? Waktu itu kau melempar wajahku dengan bola basket dan tadi pagi kau melempar kepalaku dengan botol ini?” Aku mengacungkan botol minuman yang kosong kedepan wajahnya. Kulihat dia malah tertawa.

“Minho ssi ini sangat tidak lucu” aku mengomel padanya.

“Sudah kubilang jangan memanggilku dengan embel-embel ssi..” aku mengangkat tanganku hendak memukulnya dengan botol minuman itu karena ternyata dia sangat menyebalkan. Belum sempat aku memukulnya, dia malah lari sambil menaiki sepedanya.

“Kalau kau ingin memukulku, kejar aku baru kau boleh memukulku” teriaknya.

“Aku tidak mau mengejarmu, tapi aku akan mengikutimu” sahutku. Bagaimana mungkin aku mengejarnya yang menaiki sepeda. Itu sangat melelahkan bukan.

.

Minho.. apakah saat ini aku telah berhasil mengikutimu? Semua terlihat seperti mimpi, tapi ini sungguh nyata. Apa aku tidak perlu bermimpi lagi? Kau kini sudah dekat denganku. Dulu kau jauh dariku, aku hanya bisa melihatmu tapi sekarang kita berjalan bersama

.

Aku dan Minho kini berada diwarung jajangmyun yang sama waktu Minho mengantarku waktu itu.

“Pukulanmu sakit juga” dia mengusap bagian kepalanya yang kupukul saat aku sampai mengikutinya.

“Itu tidak sebanding dengan bola basket yang kau lempar” sahutku. Kami sedang menunggu pesanan Minho karena aku tidak ikut makan.

“Yay a ya.. aku minta maaf. Kau yakin tidak ingin pesan?” aku hanya mengangguk. “Waktu itu saat aku pergi, kau pulang naik apa?” lanjutnya. Minho sangat perhatian. Yang sudah lalupun masih dia tanyakan.

“Aku jalan kaki. Lagi pula panti asuhanku tidak jauh dari sini”

“Apa aku boleh ke sana?” kulihat dia terlihat bersemangat. Jadi aku hanya mengangguk saja sambil tersenyum.

“Apa yang ingin kau lihat disana?” tanyaku ingin tahu tujuannya

“Kau bilang, di sana banyak yang membuatmu tidak merasa sendiri dan mereka yang membuatmu semangat. Jadi aku ingin membuktikannya”

“Nanti kau bisa tidak ingin pulang, disana sangat nyaman dan semuanya akan membuatmu tersenyum”

“Benarkah? Ya aku percaya itu. Bagian dari seseorang dari sana saja sudah mampu membuatku tersenyum, apalagi semuanya” Apa yang dia katakan? Aku tidak mengerti.

“Maksudmu?”

“Kau seseorang dari panti asuhan itu sudah mampu membuatku tersenyum apalagi semuanya. Jadi apa kau keberatan jika aku tidak mau pulang jika sudah disana? Hahaha..”

Hah? Apa-apaan dia? Beginikah seorang ChoiMinho. Awalnya kubilang namja yang dingin ternyata hangat dan perhatian tapi ternyata dia sedikit agak konyol. Yah sepertinya. Tapi apa yang baru saja dia katakan? Aku mampu membuatnya tersenyum? Sangat membuatku tidak percaya.

“Sulli-ya.. kau sangat menarik”.

Hah? Apa lagi yang dia katakan? Aku salah tingkah mendengar ucapannya. Aku yakin wajahku sudah memerah. Mengapa dia menjadi namja penggoda. Sebenarnya seperti apa asli Choi Minho?

“Aa..apa mak sud..mu?” aku merasa seperti melayang saat ini. Bisa-bisanya dia mengucapkan kalimat yang tak pernah aku mimpikan.

“Aku sudah selesai makan, ayo kita kepanti asuhanmu” dia mengabaikan pertanyaanku dan kemudian menarik tanganku.

.

.

.

Selama dipanti asuhan kulihat Minho sangat menikmatinya. Dia tertawa bahagia saat bermain bersama adik-adikku. Ibu juga mengajaknya makan siang bersama. Tak terasa dia menghabiskan waktu hingga sore tiba. Dia terlihat begitu asik.

“Kau benar, disini begitu menyenangkan. Apa aku boleh sering datang kesini?”

“Mengapa bertanya padaku? Memangnya aku pemilik tempat ini? Kau tanya saja pada ibu” ucapku datar. Tapi dalam hatiku aku sungguh senang.

“Ibu bolehkan kalau aku sering berkunjung kesini?”

“Tentu saja boleh nak, kapanpun kau mau pintu kami selalu terbuka” aku tersenyum mendangar ucapan ibu.

“Kalau begitu aku pulang dulu” Minho pun pamit. Aku mengantarkannya sampai gerbang.

“Hati-hati..” ucapku singkat. Kulihat dia tersenyum.

“Kau memang menarik. Jangan salahkan aku jika suatu saat nanti aku jatuh cinta padamu” seketika aku merasakan tubuhku menghangat, darahku seolah mengaliri seluruh tubuhku bahkan jantungku memompa darahku menjadi lebih cepat.

“Jangan melamun..” ucapnya sambil menyentuh puncak kepalaku. Mengapa begitu cepat? Mengapa dengan mudahnya dia mngatakan seperti itu? “Sampai jumpa besok, tunggu disini aku akan menjemputmu” ucapnya sambil berlalu. Minho sudah menghilang dari pandanganku tapi aku masih mematung ditempatku berdiri. Kata-kata Minho masih terngiang dikepalaku.

Tuhan mungkin sudah menggariskan kebahagiaan untukku. Dia menjemputku setiap pagi dan pulang sekolah mengantarku lalu bermain besama adik-adikku di panti asuhan. Sekarang aku tak bisa bermimpi lagi. Karena semuanya sudah menjadi nyata. Dan akupun tak pernah lagi mengikutinya karena dia sudah berjalan disampingku.

.

.

End.

.

a/n : Haduuh aneh ya endingnya? Maaf kepanjangan. Pokoknya happy endingkan. Thanks udah baca. J

Advertisements

54 thoughts on “I Wish You [End]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s