I For You [Part 19.b]

Fantasia Painting(29)

BAB 19B

I For You

Cinta yang selalu menjagaku…

A novel by Orizuka

Choi Minho as Surya || Choi Sulli as Princessa || Kim Jongin as Benjamin Andrew || Kang Jiyoung as Bulan || Park Jungsoo as Herman

Rate : Teenager / General

Genre : Romance // Sad-Hurt // School life // Friendship

Length : Chaptered

.

.

.

Sulli melangkah pelan menuju tempat parkir sementara Minho masih setia mengikutinya. Walaupun tak ingin, matahari akhirnya tenggelam juga, mengakhiri kencan pertama dan terakhir mereka.

Minho mengawasi punggung Sulli yang tampak kecil dan rapuh. Langkah anak perempuan itu tampak sudah tidak stabil, mungkin karena terlalu lelah berjalan. Mungkin selama ini Minho yang berlebihan. Mungkin selama ini Sulli jauh lebih lemah daripada yang ia pikir.

Minho baru akan mengajak Sulli untuk beristirahat saat tahu-tahu anak perempuan itu tersandung batu. Sebelum Minho sempat menolongnya, Sulli jatuh dan menabrak bangku beton yang ada di pinggir trotoar.

“SULLI!!!” Minho segera menghampiri Sulli. “Kamu tidak apa-apa?”

Minho meraih bahu Sulli, lantas terperanjat saat melihat dahi anak perempuan itu sudah sobek dan berdarah. Rupanya tadi kepala Sulli terbentur pinggiran yang tajam dengan cukup keras. Selama beberapa detik, Minho tak melakukan apa pun. Refleks, dia membiarkannya menunggu reaksi Sulli untuk memanggil Kai, dan menyangka anak laki-laki itu akan muncul dari suatu tempat untuk menolongnya. Namun, Sulli tak melakukan apa pun. Ia hanya berusaha menutup lukanya dengan tangan yang gemetar.

“Sebentar.” Minho segera melepas topi Sulli, lalu mengeluarkan saputangan dari saku celananya. Detik berikutnya, ia menatap Sulli ragu, teringat saat terakhir kali Sulli menolak bantuannya.

Sulli sendiri berusaha untuk terlihat tenang walaupun hatinya merasa takut. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa hari ini, apa pun yang terjadi, ia tidak akan memanggil Kai. Ia tidak ingin membuat Minho jadi lebih kecewa lagi.

“Ini, tekan pakai ini.” Minho menempelkan saputangan itu pada dahi Sulli begitu tidak melihat penolakan dari anak perempuan itu. “Nanti kita ke klinik terdekat.”

Sulli mengangguk, menekan saputangan itu sekuat tenaga ke lukanya. Pandangannya mulai berkunang-kunang.

Minho pun bangkit. “Kamu bisa jalan?”

Sambil menggigit bibir, Sulli berusaha bangkit. Namun, badannya segera oleng dan ia berhasil ditangkap Minho sebelum kembali terjatuh. Minho menatap Sulli yang tampak pucat, lalu melepas ransel, mengenakannya di depan dan segera memutar badan.

“Naik,” perintah Minho sambil membungkuk.

Setelah menatap punggung Minho selama beberapa saat, Sulli naik ke atasnya. Minho mengangkatnya, lalu mulai melangkah. Sulli merengkuh bahu Minho dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya terus menekan luka yang sama sekali tidak terasa nyeri. Aroma tubuh Minho seperti bius yang membuatnya tak merasakan apa pun selain rasa nyaman.

Minho sendiri sibuk dengan pikirannya. Tubuh Sulli tidak lebih ringan dari ranselnya. Dan tangan yang sekarang terkalung di lehernya membuatnya sesak napas. Bukan karena eratnya rengkuhan Sulli, namun karena tangan itu sudah bukan miliknya lagi.

“Minho-ya, Mianhe.”

Minho mendengar Sulli bergumam di telinga kanannya.

“Mian, sampai terakhir aku masih menjadi beban buat kamu,” gumam Sulli lagi.

Minho menghela napas. “Aku yang seharusnya minta maaf. Ini bukti bahwa apa yang Kai bilang benar. Aku tidak bisa menjaga kamu.”

Sulli menggeleng kuat-kuat. “Aku harusnya berterima kasih karena kamu mau pergi bersamaku hari ini.”

Kawasan Pantai Haeundae tampak semakin gelap. Lampu-lampu taman dan trotoar sekarang menyala, mempertunjukkan kilau indah yang membuat pandangan Minho mengabur.

“Terima kasih, untuk hari ini,” gumam Sulli lagi. “Terima kasih untuk semuanya.”

Minho menarik napas dalam-dalam supaya air matanya tidak jatuh. Ia tidak pernah tahu, cinta pertamanya akan semenyakitkan ini. Selama ini, ia selalu menganggap cinta adalah hal yang tidak berguna, yang membuat orang jadi lemah. Ia benar, namun di sisi lain, cinta membuatnya jadi manusiawi.

“Choi Sulli…”

Entah mengapa, Minho ingin menyebutnya. Menyebut nama Sulli selalu membuatnya merasa ingin melepaskan semuanya demi anak perempuan itu.

Tahu-tahu, Minho merasakan rengkuhan Sulli mengendur. Saat sapu tangannya jatuh ke trotoar, Minho menghentikan langkah. Minho baru mengernyit ke arah saputangan yang sudah berubah merah itu saat tetesan darah lain menitik ke atasnya.

Secepat kilat, Minho menoleh. Matanya segera melebar penuh horor saat melihat darah yang mengalir dari balik rambut Sulli.

“Ssul” serunya, lalu melepaskannya dari gendongan dan membaringkannya di trotoar. Anak perempuan itu tampak sudah tak sadarkan diri, darah terus mengalir dari dahinya. Minho mengambil sapu tangannya, namun percuma. Minho menatap sapu tangan di tangannya yang gemetar hebat. Dalam hidupnya, tak sekalipun ia pernah melihat darah sebanyak ini.

Sementara itu, darah yang menetes dari dahi Sulli sudah mulai membasahi rambut panjangnya. Minho hanya bisa membeku melihat pemandangan itu. Otaknya menolak untuk diajak berpikir, digantikan oleh trauma dahsyat dari tangan yang bersimbah darah dan bau anyir yang memenuhi udara.

“NON SULLI!!!!”

Minho tersadar oleh teriakan seseorang. Ahjussi Kang muncul dari belakangnya, berlari sekuat tenaga ke arah mereka. Minho terhempas begitu Ahjussi Kang mendorongnya.

“Ya Tuhan, Non!!!” seru Ahjussi Kang, segera mengeluarkan saputangan miliknya dan menutup luka Sulli. Ahjussi Kang mendelik kepada Minho yang masih terpaku. “Apa yang kau lakukan! Bantu saya membawa Non Sulli ke mobil!” Minho mengangguk kaku, lalu berusaha bangkit dengan lutut yang masih lemas. Sementara Ahjussi Kang menggendong Sulli, ia membantu menekan lukanya dengan saputangan. Ia pun duduk bersama Sulli di jok belakang sementara Ahjussi Kang menyalakan mobil dan membawa mereka ke luar kawasan Pantai Haeundae.

Sementara itu, saputangan tadi pun sudah mulai basah. Minho menatap panik Sulli yang masih terpejam. Wajahnya sudah sepucat salju. Rambutnya pun sudah lengket oleh darah. Saat Minho sedang mencari-cari kain untuk menahan luka Sulli, matanya melihat gundukan plastik di ujung jok. Minho meraih dan buru-buru membukanya—bermaksud menjadikan isinya lap—namun saat ia mengeluarkan benda itu, matanya mendadak melebar.

Ia sedang memegang jaketnya sendiri, yang sudah dicuci dan harum pewangi pakaian. Alih-alih menggunakannya untuk lap, Minho menyelimuti tubuh Sulli dengan jaket usang itu. Minho lalu mengambil tisu banyak-banyak dan menekannya di atas saputangan.

“Cari telepon Non Sulli, tekan nomor 1 yang lama!” perintah Ahjussi Kang sambil mengklakson barisan angkutan umum yang menghalangi jalannya.

Minho segera mencari ponsel Sulli dan mendapatkannya dari saku gaun. Ia menekan nomor satu dan pada layarnya tertulis ‘Kai’. Sambil meneguk ludah, Minho menempelkan ponsel itu ke telinga.”Ya, Ssul?”

Suara Kai membuat perut Minho seperti dipenuhi es batu. Ia tak tahu bagaimana harus memulai.

“Ini… aku.” Minho berhasil bicara walaupun tercekat. “Tolong Sulli, Kai.”

Selama beberapa detik, tak terdengar apa pun dari ujung sana.

“Buka lemari pendingin sebelah mu, ambil tumbler yang ada di sana.”

Minho bisa mendengar suara dingin Kai. Anak laki-laki itu seperti tahu apa yang terjadi walaupun Minho belum mengatakan apa pun. Minho segera melakukan perintahnya dan membuka lemari pendingin yang tertempel di badan mobil. Sesaat, Minho terpaku melihat segala peralatan medis dan obat-obatan yang ada di dalam tumbler yang pernah dilihatnya di dalam lemari pendingin kantin sekolah.

“Buka plastik yang berwarna putih, yang tulisannya ‘hemostatic gauze’ dan tempelkan di lukanya.” Minho menggapai plastik itu, lalu berusaha membukanya dengan kedua tangan yang lengket dan gemetar. Karena tak kunjung berhasil, ia menyobeknya dengan gigi dan mengeluarkan kain kasa.

“Masih terus keluar darahnya?” tanya Kai.

Minho memperhatikan kasa yang segera terembes darah. “Sepertinya masih.”

Kai terdiam sesaat. “Ganti kasanya, tekan pelan di lukanya.”

Minho melakukan perintah Kai, lalu perlahan, darah yang keluar dari dahi Sulli berkurang sedikit demi sedikit. Minho menyandarkan punggung ke jok sambil menghela napas lega.

“Jangan lega dulu. Kalo luka itu ada di kepala dia, sampai mati pun kau tidak akan ku maafkan.”

Punggung Minho kembali menegak saat mendengar kata-kata Kai. Minho lantas melirik Sulli yang masih terpejam, dan mendadak Minho menyadari kepala anak itu sudah membesar. Darahnya mungkin berhenti, namun sebagai gantinya, daerah sekitar luka itu menjadi bengkak.

“Memangnya ap—”

Ahjussi Kang tahu harus pergi ke rumah sakit mana. Kita bertemu di sana.”

Sambungan telepon terputus begitu saja. Minho terpaku lama, lalu kembali menatap Sulli yang tergolek lemah di pangkuannya. Ia merasa, sebentar lagi, ia akan mendapat jawaban atas segala pertanyaannya selama ini.

Tentang mengapa Sulli tidak sama dengan yang lain.

.

.

.

Minho hanya bisa menatap nanar saat Sulli ditandu menuju ranjang dorong di depan gedung unit gawat darurat sebuah rumah sakit besar di barat Seoul. Suasana malam membuatnya semain terasa mencekam. Bunyi ranjang dorong yang berderit saat meluncur di koridor pun membuat hati Minho terasa ngilu.

“Siapa nama pasiennya?” Seorang perawat bertanya pada Minho, membuatnya sadar.

“Sulli,” jawab Minho ling-lung.

“Anda tidak apa-apa?” tanya perawat itu lagi sambil menatap cemas seragam Minho yang bersimbah darah.

“Saya tidak apa-apa. Tolong Sulli, Sus,” pinta Minho, membuat perawat tadi mengangguk, lalu mengejar ranjang dorong yang sudah berbelok dalam ruang penanganan.

“Sulli-ssi! Sulli-ssi dengar saya?”

Minho bisa mendengar teriakan perawat yang sedang memeriksa kadar kesadaran Sulli. Minho segera tersaruk ke ruangan itu, lalu menatap kosong dari depan pintu, melihat Sulli dikelilingi oleh beberapa perawat yang sibuk menyiapkan segala peralatan medis.

“Tunggu!” seru seorang perawat, membuat para koleganya berhenti bergerak. Perawat itu menarik keluar tanda pengenal medis yang dikenakan Sulli, wajahnya memasi saat membaca tulisan yang ada di sana. “Pasien von Willebrand Disease. Golongan darah AB rhesus negatif.”

Jeda yang terjadi selama beberapa detik terasa sangat menegangkan. Semua orang di ruangan itu mendadak bingung, sibuk mencerna informasi baru itu dan berusaha mengingat-ingat dari buku yang pernah mereka pelajari. Tidak semuanya pernah mendengar nama penyakit itu.

“Segera panggil dokter Park!” Minho mendengar seseorang berteriak. “Hubungi bank darah, minta darah AB negatif.”

Seorang perawat muda segera bergerak keluar ruangan sambil bergumam panik. “AB negatif… memang ada stoknya?”

Saat mendengar gumaman itu, Minho merasa lututnya lemas. Sedikit banyak, ia tahu tentang golongan darah. Ia tahu golongan darah AB adalah golongan darah paling sedikit di dunia dan rhesus negatif membuatnya semakin langka.

“Sebentar, ada tulisan lain.” Perawat tadi membalik tanda pengenal medis Sulli. “Kim Jongin. Donor panggilan AB negatif. Dan, nomor teleponnya.”

“Akan segera saya telepon.” Seorang perawat segera menawarkan diri.

“Dia sedang dalam perjalanan ke sini!!”

Minho bisa mendengar suaranya sendiri. “Saya sudah menelepon Kim Jongin. Dia sedang ke sini. Apa… ada yang bisa saya bantu?”

“Golongan darah Anda?” Perawat tadi bertanya.

“O.” Minho menjawab, merasa menjadi orang paling tidak berguna. “Positif.”

“Kalau begitu, silakan tunggu di luar.” Perawat tadi mendorong Minho keluar, lalu menutup pintunya.

Minho melangkah mundur hingga membentur dinding, lalu perlahan merosot ke lantai. Matanya menatap nyalang ke arah pintu UGD. Ia tak pernah tahu apa yang terjadi dengan Sulli. Ia bahkan baru pertama kali mendengar penyakitnya.

Von Willebrand Disease. Penyakit macam apa itu? Bukankah pendarahan seperti itu biasanya dialami oleh pasien hemofilia?

Namun, melihat gejalanya, Sulli mirip penderita hemofilia. Darahnya tak kunjung berhenti, padahal luka itu hanya sekitar 3 cm. Sulli pun seperti cepat lelah dan ia pernah tidak masuk sekolah setelah bermain basket.

Mendadak, Minho teringat saat Sulli mengatakan kalau ia suka makan bubur bayi. Saat mereka makan malam di rumahnya, Kai pun melarang Sulli makan emping. Sekarang, Minho tahu alasannya. Sulli tidak bisa makan sesutau yang keras karena takut melukai mulutnya. Jika itu terjadi, Sulli pasti mengalami pendarahan seperti saat terbentur siku Suzy. Dan, titik menghitam di punggung tangan Sulli itu pasti tanda yang tertinggal setelah sekian kali diinfus. Satu per satu, benang yang selama ini kusut di otaknya mulai terurai. Namun, semakin semuanya jelas, semakin Minho merasa ia orang paling tak berguna di dunia. Orang paling bodoh.

Seorang pria berjas putih berderap ke arahnya dan menghilang ke dalam ruangan. Pintu terbuka sedikit, membuat Minho bisa mengintip ke dalam.

“Sulli!” seru dokter itu, rupanya mengenali Sulli.

“Darahnya sedang diambil, Dok!” lapor perawat yang tadi. “Tapi golongan darahnya—”

“AB negatif, saya tahu.” Dokter Park memeriksa luka Sulli. “Dia harus segera di-CT scan. Mungkin pendarahan dalam.”

Derap langkah lain sekarang memenuhi koridor. Minho menoleh dan mendapati Kai sedang berlari ke arahnya bersama Ahjussi Kang. Minho segera bangkit, namun Kai menahan bahunya dan mendorongnya kembali ke lantai.

Stay here,” perintah Kai dingin, lalu masuk ke ruangan. Ahjussi Kang tinggal di depan pintu, menemani Minho yang kembali terduduk lemas di lantai.

“Jongin-ssi! Syukurlah kau segera datang.” Dokter Park meraih Kai dan segera membuatnya duduk di ranjang samping Sulli. “Kamu sekarang cek hemoglobin. Kalau bagus, harus segera bersiap kalau Sulli butuh ditransfusi darah. Dia mungkin akan dioperasi.”

Kai mengangguk, matanya masih menatap tak percaya Sulli yang terbaring dengan kepala membengkak. Orang yang selama ini dilindunginya dengan sekuat tenaga… apa harus berakhir seperti ini? Di sini?

“Dok, ambil sebanyak yang dokter perlu, saya tidak peduli.” Kai menggulung lengan jaketnya tak sabar.

Dokter Park menatap Kai simpati, lalu menepuk pundaknya dan kembali memeriksa Sulli sementara beberapa perawat sudah berdiri di sampingnya dengan peralatan medis.

Sementara itu, Minho hanya mendengar pembicaraan itu di luar ruangan. Akhirnya, Minho pun tahu apa yang membuat Sulli tak bisa lepas dari Kai.

Ia memang bodoh.

.

.

.

Dua jam berlalu semenjak Sulli dipindahkan ke ruang operasi. Setelah dipindai dengan CT scan, Sulli diketahui mengalami pendarahan dalam. Kai pun masih berada di dalam ruangan lain, beristirahat setelah mendonorkan darahnya, walaupun pihak PMI sudah mengirim satu kantong darah AB rhesus negatif yang stoknya memang sangat jarang.

Minho sendiri masih setia menunggu di luar. Dua jam ini adalah dua jam paling lama dan menegangkan dalam hidupnya. Walaupun awam, Minho tahu pembedahan adalah hal gila untuk penderita kelainan darah seperti Sulli. Ia bisa kehilangan darah lebih banyak lagi karena luka yang terbuka. Dan ini kepada yang sedang dipertaruhkan, di mana di dalamnya terdapat otak, pusat dari sistem saraf.

Bintang paling terang itu paling cepat mati.

Tiba-tiba, Minho mengingat kalimat menyakitkan yang pernah ia katakan pada Sulli. Sekarang, ia menyesal setengah mati telah mengatakannya.

Minho menempelkan kepalan tangannya pada dahi, lalu menyadari bahwa ia masih menggenggam ponsel Sulli. Minho menatap nanar foto yang menjadi latar ponsel itu. Foto saat mereka selesai praktik Biologi di taman depan perpustakaan. Di sana, tak ada seorang pun yang tersenyum. Semuanya bertampang kusut, seolah bertanya-tanya mengapa tiba-tiba berfoto setelah bermain dengan kompos.

Jika saja mereka tahu…

“Minho Oppa.”

Perlahan, Minho menoleh dan mendapati Jiyoung sudah ada di sampingnya, menatapnya cemas dengan napas terengah. Saat melihat darah di seragam Minho, mata Jiyoung segera terbelalak.

Jiyoung berlutut di depan Minho, memeriksanya. “Oppa tidak apa-apa?”

“Ini… darah Sulli.” Minho bergumam, kepalanya terasa semakin nyeri saat mengucap nama itu.

Jiyoung menatap Minho bingung. Saat Minho meneleponnya dan memberi tahu bahwa ia sedang berada di rumah sakit, Jiyoung segera pergi begitu saja. Tak sempat mendengar penjelasan Minho.

“Sulli Sunbae?” tanya Jiyoung. “Dia kenapa?”

Tepat saat Jiyoung selesai bertanya, pintu sebuah ruangan di seberang ruang operasi terbuka. Kai tersaruk ke luar, wajahnya sepucat salju. Jiyoung dan Minho bangkit bersamaan, menatap ngeri lengannya yang tertempel kasa putih.

“Gimana—”

Sebelum Minho sempat menyelesaikan pertanyaannya, Kai melayangkan tinju yang mendarat di pelipis Minho. Tinjuan itu sama sekali tak bertenaga, namun tetap membuat Minho jatuh terduduk. Kai sendiri melayang oleng, tetapi sempat ditangkap oleh Jiyoung sebelum ia jatuh.

Sunbae ada apa ini?” tanya Jiyoung panik, bingung melihat dua anak laki-laki itu.

“Aku sudah pernah bilang kalau kau tidak akan bisa menjaganya.” Perhatian Kai saat ini hanya ada pada Minho. “Susah payah selama ini aku menjaganya agak ia tak terluka sesenti pun….tapi semuanya rusak setelah ia bertemu kau.”

Minho meneguk ludah. “Aku… maaf.”

“Ternyata, aku pun sama seperti mu.” Kai mulai menjambak rambut penuh penyesalan. “Aku tidak berguna.”

“Itu nggak benar,” tandas Minho, matanya menerawang.

Kai menggeleng.

“Darahmu bisa menyelamatkan dia, kan?” Minho menatap Kai dengan mata yang sudah berkaca-kaca. “Apa aku bisa?”

Kai balas menatap Minho, lantas tenggelam dalam air matanya. Hanya tinggal Jiyoung yang menatap bingung dua anak laki-laki yang sekarang sudah sama-sama menangis itu.

“Kalian kenapa?” tanya Jiyoung lagi, hatinya sakit melihat dua orang terpenting dalam hidupnya kacau seperti ini. “Sulli sunbae kenapa?” Pintu ruang operasi di depan mereka terbuka. Dokter Park keluar dari sana dengan senyum lemah.

“Kita berhasil. Sulli sudah stabil.”

.

.

.

to be continue…

.

.

a/n : Holla readerdeul tercintaaah. Selamat tahun baru 2015. Happy New Year. #Kecupsatu-satu Mimin comeback bawain bagian ke 2 dari part 19. Maaf dibuat terpisah begini. Awalnya mimin ikutin pdf nya. Tapi mimin rasa ada yang salah. Dan ternyata bener. Pas mimin cek novelnya, eh di penggal-penggal sama yang edit. Terpaksa part 19 ini dijadiin 2. Tapi tenang aja, untuk part selanjutnya gak akan mimin potong-potong lagi alias akan lebih panjang dari ini. Karena FF ini akan berakhir di Part 23. Yeaaaay. Nomer keramat Minsul. Xixi. Untuk part 20 akan Mimin post besok karena kesalahan mimin yang motong-motong part sembarangan. Sekali lagi Selamat Tahun Baru 2015 Readerdeul. Semoga apa yang Author Dhecy bilang menjadi kenyataaan. Hayuuuk di aminin. [Sekedar info, Mimin lagi males dihubungi via email. Kalo mau langsung Line/WA/BBM/SMS aja yaaa.] Tengkyu yang udah setia sama Blog ini. Muaaaach. 😀

40 thoughts on “I For You [Part 19.b]

  1. akhirnya ketahuan juga tuh penyakit sulli eonni. keren tuh nama penyakit, aku belum pernah denger, cari ah entar di internet 😀
    itu alasannya kai gk bisa pisah dri sulli, karena golongan darah mereka sama. aigoo baca part ini ngeri2 gmn gtu. kesian bgt ya kalo ada yg kena penyakit ini, cuma bisa mendok aja diem gak boleh ngapa2in :/. nanti semuany bakal tau kan eon? masih boleh gk ming deket sama sulli ya hmmm. next eon next next

  2. Nangkring min..happy new years juga..he he… 😀
    dr kemarin sepi fk ada ff ..
    Part menyedihkan..kasihan baby sul ..ming oppa dia juga akhirnya tau ntar itu penyakitnya baby sul ..ditunggu bit part berikutnya ne min.. 🙂

  3. Minhoooo akhirnya tau.pasti merasa bersalah banget.kebayang paniknya kai minho bingung nya jiyoung.tp untung sulli nya selamat.knp mesti hemofilia ya.mmmm apakah ad harapan umur panjang. Atau??? Aduhh ngeri sad ending

  4. sumpaaah ini sedih dan tegang banget! mewek laaah :”( kasihan bgt sulli sampe kaya gitu.
    entah harus nyalahin minho atau nggak haha tp rada seneng juga sih akhirnya minho tahu keadaan sulli yg sebenarnya dan merasa menyesal atas perlakuan gabaiknya ke sulli XD
    aah pastilah kai marah sama minho.
    hmmm gimana nanti kalo sadar? gimana kelanjutan minsul?

  5. Namanya penyakitnya susah banget eon hehehe…kasihan banget jadi sulli…ternyata terluka sedikit aja bisa segitu parahnya ya eon…ckckck waaahhhh udah mendekati akhir donk ff ini…gak terasaaa hehehe….keep writing eon…aku menunggu karya kalian…hehehe 🙂 🙂

  6. Akhirnya di post ff ini , part ini jawaban untuk minho, jadi karang minho sudah tahu kalau sulli beda ma yang lain. Ya ampun sedih banget kasian sulli dan semua terutama sulli moga cepet sembuh, dan minho kasian menganggap dirinya bodoh dan penuh penyesalan. Kai aku jadi tahu kalau kai dan sulli gak bisa dipisahkan karna sama golongan darah. Aku sedih moga minsul gak di pisahkan . Dan jangan berakhir dengan sad ending. Bener dc sedih apalagi entar kalau ff ini berakhirnya aku takut cerita ini berakhirnya dengan sad ending.

  7. Akhirnya penyakit yang selama ini di derita sulli eonni ketauan juga kenapa dia ga bisa jauh jauh dari kai -_-
    Kasian juga sulli eonni untung ada kai yg bisa ngasih darahnya buat sulli eonni 😦
    Sabar ya minho oppa 😦

  8. Akhirnya minho sadar juga sulli sakit apa 😦 , baru sekarang kah oppa kau sadar akan penyakit sulli itu heeem 😥 . Kasian bngt sullinya 😥 , semoga sulli cepet sembuh amin :’) . Minho kai jangan saling menyalahkan ne :’)
    eonnni ya sedih bngt bacanya huaaaaa 😥

  9. Ya tuhan,,,, jantungku hampir copot pas baca sulli kritis,,,, tpi lega pas dokter park keluar bilang klo operasinyra berhasil ,,, gomawo kai udah nyelametin sulli,,, aku g bisa ngebanyangin klo sulli g bisa dselametkan ,,,, hiks hiks hik,,,,

  10. akhr”x ff ne d post jg??
    akhr”x penyakit sulli ketahuan jg sm minho..!!dn minho menyesal g’ pernh jga sulli baik2…
    pas saat bc deg deg kn tkt sulli knpa2,untung doktor park blng sulli sdh stabil..

  11. akhirnya minho tahu jga apa pnyakitnya sulli…huhuhu sdih bnget lihat minho sma kai kayak gitu merasa ngak berguna kpada sulli… 😦

  12. Ok. Part ini menguras perasaan (?) soalnya rasa takutnya berlebihan. Takut ada apa2 sama Sulli 😦 tapi untunglah masih bisa diselamatkan. Harapannya semoga bisa happy ending -Minsul bersatu sampai akhir- ^^ dan akhirnya juga Minho berhasil menjawab teka-teki keadaan Sulli selama ini. Syukurlaaaah

  13. Nangis nangissss gw nangissssss,,, sulli huwaaaaaaaaa bayagin sulli sakitttt gak tegaaaaa,,, ngrasain jadi minho gmna cobaaa,,, ah speechless,, hiks

  14. Kasian banget sulli eonni
    Semoga cepet sembuh

    Akhirnya air mata yang minho oppa tahan turun juga , kasian minho oppa baru tau tentang keadaannya sulli eonni

    Semoga kai dan minho oppa selalu bisa menjaga sulli eonni

  15. Kasian banget sulli eonni
    Semoga cepet sembuh

    Akhirnya air mata yang minho oppa tahan turun juga , kasian minho oppa baru tau tentang keadaannya sulli eonni

    Semoga kai dan minho oppa selalu bisa menjaga sulli eonni

    Penasaran cerita selanjutnya
    Ditunggu thor
    Gomawo ^^

  16. Part yg paling bikin tegang inii
    ming bner” udah kaya org yg merasa paling bodoh bgt disitu, dia baru tau penyakit ssul 😦
    Kenapa ssul pake kesandung cobaa, kalo ngga dia gak bakal separah ini 😦

  17. Sebelum ane baca ff ini,siapin posisi yg wuuuuuuuueeeeennnnnnnakkkkkk + siapin sekotak tisu bwt ngelap air mata berharga ane yg ane tetesin bwt Minsul doang (modus) dan ingus juga yg pstinya…….Iuh bnget deh
    critanya sedihhhhhhhhhhhhhhhh bnget eon,ane smpek mewek bacanya,pengen punya novelnya tpi kgak bisa heh :@:@:@
    pnyakitnya sulli pnjang bnget + susah dibaca,gak prnah dnger pnyakit apa’an itu ??? Klw hemofilia ane tw,tuh tetangga ane ada yg ngidap itu,kasian bnget sih,pokoknya daebak deh bwt orizuka eonni yg sukses bkin pmbca diaduk aduk ama critanya,yg the truth about forever-nya juga kerennnnnnnnn bnget,ane udah bca dan ane udah mewek,apalagi bcanya pas malem2 yah udah pginya jdi mta panda deh tpi untung msih hri libur jdi msih aman coba aja klw ane dteng keskolah mta bengkak psti udah yg aneh2 prtanyaan mreka dan ngabisin tisu 1 kotak,untung emak gue ngak nyadar klw nyadar brabe ane
    sekian komen (sbenarnya bkn komen sih) dri sya
    wassalamuaikum wr.wb
    salam 23 jari
    angka kramat minsul 8-)8-)8-)

  18. Kasian sull kepalanya terbentur.akhurnya ming tau juga kenpa kai oppa selalu bersama dgn sull.bgaimna dgn keadaan sull semoga baik” sja.

  19. akhirnya kebenaran sudah mulai terungkap. sulli ternyata mempunyai prnyakit yg sangat langka.
    tapi kasihan minho dan kai. mereka jd bersalah. disini jiyoung menjadi orang yg kebingungan banget. hehe

  20. nyesek banget nih ff….. baju ku basah aku nangis nih akhirnya terungkap… sebentar lagi end dong
    semoga bisa happy endding deh aku ngarep banget, karena perjuangan kisah cinta Minsul udah ya ampun luuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrr biasaaa bengeet

    semoga bisa bersama

    maaf nih late komment x_x

  21. Frustasi sama part ini T__T. Ternyata itu maksud dan fungsi kalung yang dipake sulli yang bikin minho oppa geram dan salah paham u.u. Sulli plissss stay, jangan kemana mana, minsul harus bersatu 😦

  22. “von Willebrand Disease” sumpah kaget banget waktu baca tulisan ini di ii ini.. Aku pernah belajar sdikit soal penyakit ini di buku kedokteran kakak spupu aku..stau ku penyakit ini hemovilia vaskuler yg diwariskan tapi emang penyakit ini lebih dominan ke wanita krn wanita kan rutin datang bulan.. Aduh jadi sok pintar gini.. Smoga ajah sulli akan lebih baik stelah ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s