The Problem With Love is…[Chapter 2]

hello

The Problem With Love is…

Main cast : Choi Minho, Choi Sulli

Support cast: Lee Taemin, Krystal Jung, Lee Jinki, Kim Jongin, and other

Author : suelli4ver

Translator : Idha ShawolAffxtion

Original Link : klik here

editor : iswarii23

Lenght : Chaptered

Genre : Romance, Marriage Life, Little Smut, Thriller

.

.

Capt. 2 Busan Rumble

.

* Sulli POV *

Aku memandang diriku di cermin, aku memakai a Chloe white zip back jumper dress, stoking hitam, sepatu ku  Jimmy Choo stiletto hitam dan aku membawa tas Birkin Hermes. Aku memakai make up terang dan aku mengikat rambut ke belakang. Aku melihat setiap inci diriku : mahal dan canggih .

Aku  berasal dari keluarga kaya, ayahku adalah seorang pebisnis terkenal dan politisi maju  yang akan melakukan  kongres bulan depan sementara ibuku adalah couterier haute terkenal. Saudaraku, Jinki saat ini yang bertanggung jawab atas bisnis keluarga sementara aku baru saja kembali dari Paris bulan lalu setelah belajar selama lebih dari setahun di sekolah mode terkenal. Sekarang, aku  membantu ibuku untuk menjalankan butiknya di suatu tempat di daerah Gangnam .

Aku keluar dari kamar dan memakan sarapan dengan cepat. Setelah  sarapan dengan Appa dan Eomma , aku mengucapkan selamat tinggal dan melanjutkan ke garasi untuk mengambil mobil audi ku .

Aku berhenti berjalan ketika melihat si brengsek Minho bersandar dan berdiri di samping sepeda motornya. Dia kembali memakai tampilan lama scruppy yang sama, rambut pendek tidak disisir, t-shirt putih, denim biru robek dan sepatu booth hitam. Ia mengenakan kacamata hitam sementara tangan kanannya memegang helm.

Dia memberiku senyum bitchy saat melihatku. “Hi Ssul!”, dia menyapa. Aku memutar mataku dan mengabaikan sambutannya. Aku terus berjalan ke arah  mobil Audiku. Dan dia mengikuti.

“Apakah kau akan bekerja?”, dia bertanya sambil berjalan.

“Tidak, aku akan berziarah ke Afrika “, jawabku sinis bahkan tanpa memandangnya.

Dia tertawa kecil. “Oh my god , ini masih  pagi  dan kau sudah alergi padaku lagi.”

Aku membuka pintu mobil dan hendak masuk ke dalam ketika ia menahan pintu dan menutupnya. Aku mengertakkan gigi dan menatapnya dengan ekspresi kesal di wajah ku. “Apa urusanmu? Bisakah kau tinggalkan aku sendiri!!!!!”.

Dia hanya tersenyum. “Sulli, daripada pergi dengan Audimu kenapa kau tidak pergi  dengan motorku saja? Aku  akan membawamu pergi ke butik”, katanya dengan suara lembut dan menunjukkan sepeda motornya.

Aku merengut padanya. “Aku  masih belum kehilangan pikiran untuk naik bersama mu menggunakan sampah merayap itu!”, aku berteriak sambil melihat sepeda motornya.

Dia ingin membuka mulutnya seolah-olah ia merasa tersinggung dengan apa yang ku katakan kemudian dia menggeleng . “Itu sampah yang bernilai jutaan won  Baby. Kajja, aku akan mengantarmu bekerja dan pasti kau akan memiliki perjalanan penuh kegembiraan dalam hidupmu”, katanya sambil tersenyum.

Aku menyeringai. “Aku akan mengulangi apa yang aku katakan tadi malam, pergi ke neraka Choi Minho”, aku  berkata marah kemudian berhenti . “Dan apa yang kau lakukan di rumah kami pagi ini? Kau tidak punya pekerjaan huh?”.

Dia mengangkat bahu. “Aku punya pekerjaan. Aku  balapan mobil seminggu sekali. Bertandingan setiap dua minggu sekali di UFC dan band ku memiliki pertunjukan hampir setiap malam”, jawabnya.

” Wow, dan kau menyebut itu pekerjaaan. Tidak heran, you looser“.

Dia meletakkan satu tangannya di dadanya seolah-olah ia terluka dengan apa yang aku katakan. “Itu menyakitkan  Ssul. Kau memiliki lidah yang tajam ya”, katanya. “Sekedar informasi untukmu Nona Choi, aku menerima sejumlah besar uang untuk semua pertunjukan dan pertandingan yang aku sudah aku  masuki. Plus fakta yang jelas bahwa aku  populer.”

Aku mendesah kesal. “Whatever, aku tidak ingin merusak hariku dengan berurusan dengan orang seperti mu”, aku  membuka  pintu mobil  dan masuk ke dalam kemudian menutupnya.

Dia mengetuk kaca jendela. “Apa lagi sekarang?”, desisku.

“Hanya ingin mengatakan selamat pagi, have a nice day dan take care  Ssul … “, dia berkata manis dan mengedipkan mata padaku, lalu ia berjalan menuju sepeda motornya.

Aku menghidupkan kunci kontak dan mulai mengendara. Ketika di jalan, aku  melihat ke kaca spion dan melihat Minho mengendarai sepeda motornya hanya beberapa meter di belakang mobil ku. Manusia satu ini benar-benar menggagu  sarafku akhir-akhir ini. Sebelumnya aku jarang melihat dia karena kegiatan ekstra kurikuler, tapi setelah aku  pulang dari Paris, dia selalu datang ke rumah kami untuk tidur dan makan seperti itu rumahnya sendiri. Dan yang terburuk dari semuanya, dia selalu menggoda ku.

“Tuhan, aku membencinya”, gumamku. Kemudian ponsel ku berbunyi. Aku  melihat sekilas dan melihat nama Lee Taemin. Aku tersenyum senang. Hatiku terbang ke awan sembilan.

.

.

.
*Setelah satu minggu*

.
“Sulli, Cepatlah!!”, Jinki berteriak kemudian masuk ke dalam mobil.

Aku membuka pintu penumpang bagian belakang dan masuk ke dalam. Jinki Oppa dan aku akan pergi ke Busan untuk memberikan penghormatan ke makam nenek kami yang meninggal tahun lalu. Saat sedang sibuk memperbaiki rambut, tiba-tiba seseorang membuka pintu kursi belakang dan sebelum aku bisa bereaksi, Minho masuk ke dalam dan duduk sampingku.

“Apa yang kau lakukan di sini?”, aku bertanya, benar-benar gila dan terkejut.

Binatang itu hanya tersenyum padaku dan menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Aku melihat saudaraku yang berada di kursi pengemudi, dia memulai menyalakan mesin.

“Oppa, apa yang si brengsek ini lakukan di mobil kita? Adalah dia akan ikut dengan kita ke Busan?”, aku bertanya dengan nada kesal. Jinki oppa hanya mengangguk dan mulai mengemudi.

“Sial!”, gumamku dalam hati.

Aku menatapnya dengan silau kemarahan di mataku. “Ya Choi Minho, aku tidak mau kau duduk di sampingku, pergi kau ke kursi depan”, kataku sambil mendorong bahunya ke depan.

Dia menatapku bosan. “Ssul, aku selalu pusing setiap kali duduk di kursi depan, aku lebih terbiasa duduk di belakang”.

Aku menggigit bibirku untuk mengendalikan amarah. Aku mencengkram bahunya kuat. “Ya brengsek! Kau ingin aku percaya padamu hah? Kau seorang pembalap mobil! Mana ada orang dengan yang berpikiran waras akan percaya denan alasan bodoh mu!”, aku berteriak.

Dia tertawa. “Aku pikir kau akan menerima alasan ku. Maaf aku meremehkan kapasitas otakmu Ssul”, katanya sambil tertawa.

Aku menginjak kaki kanannya. “I hate you!”, berkata sinis.

“Aww!”, teriaknya. “Ya Choi Sulli, kau begi-“

“Bisakah kalian berdua berhenti bertengkar!”, Jinki menyela Minho. “Mengapa kalian tidak menikah saya, memiliki banyak anak and go away!!! Aku bosan dan lelah melihat pertengkaran kalian”, kemudian dia melihat ku di kaca spion. “Ya Sulli. Kenapa kau tidak memanggilnya Minho Oppa, dia lebih tua dari mu. Kau harus hormat kepadanya”.

Aku memandang saudaraku. “Oppa, aku tidak akan pernah menunjukkan rasa hormatku kepada iblis dari neraka ini! Tidak akan!”.

Jinki hanya menggeleng kecewa dan menekan tombol radio.. Auburn Perfect Two diputar.
.

~
you can be the peanut butter to my jelly…

you can be the butterflies i feel to my belly…

you can be a captain and i can be your first mate…

you can be a hero and i can be your sidekick…

you can be tear that i cry if ever we split…

you can be the rain from the cloud when it’s stormin”…

or you can be the sun when it shines in the mornin’…

~
.
Minho memandangku. Senyum kecil  dimainkan di bibirnya. “Tidak apa-apa jika kau tidak ingin memanggilku Oppa. Kau bisa memanggil ku chagiya atau yeobo, aku tidak keberatan”, dia menggodaku lagi.

Aku hendak mengatakan sesuatu ketika ponselnya berbunyi. Dia segera menjawab panggilan itu. “Oh hi Jessica, apa kabar mu?”

Aku menggeleng dan memutuskan untuk melihat pemandangan di luar mobil.

“Tentu … aku juga merindukanmu”, katanya. Kemudian setelah beberapa saat dia menjawab panggilan lain. “Hi Yoona! Bagaimana kabarmu?”

Aku merintih  di dalam hati. “Aigooo, dia tidak hanya brengsek tapi sangat brengsek! Dan mereka adalah gadis-gadis bodoh kerena menyukai binatang ini”, kataku kepada diriku sendiri.

Aku memejamkan mata dan tidur.

.

* Minho POV *

.

Setelah aku mendapat telepon dari salah satu pacarku, aku berbalik dan melihat Sulli tidur seperti bayi.

Aku melihat Jinki, matanya fokus ke jalanan. Aku menguap palsu dan meregangkan lenganku. Kemudian aku bergerak lebih dekat ke Sulli. Aku menempatkan satu tanganku ke bagian belakang kepalanya. Dan dengan lembut memindahkan wajahnya ke arah dadaku.

“Aku yakin dia akan marah lagi setelah dia bangun dan menemukan bahwa dia bersandar pada ku”, gumamku tertawa diam-diam.

Aku menatap wajahnya. Aku benar-benar memujanya, terutama mata murung dan tahi lalat kecil di atas hidungnya. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya, oke, aku tidak percaya pada cinta dan aku belum pernah jatuh cinta. Aku hanya ingin menggodanya terutama ketika dia mulai marah padaku.

Aku berumur tiga belas tahun ketika pertama kali melihatnya, dia sudah memberikan wajah marah-marah saat itu, tapi aku  masih menemukan dia menyegarkan dan menyenangkan meskipun fakta bahwa dia selalu memperlakukanku  dengan dingin.

Telepon ku berbunyi dan aku melihat nama Krystal. Aku menghela napas dan mengabaikan teleponnya.

Aku menyandarkan kepala ku ke atas kepala Sulli dan menutup mata. Menit  kemudian aku juga tertidur selama sisa perjalanan menuju Busan.

.
cause youre the apple to my pie…

youre the straw to my berry…

youre the smoke to my high…

and your the one i wanna marry…

.

.

to be continued…..

.

 a/n : Mau-maunya si Jinki nyupirin tuh tuyul berdua. Wkwkwkwkwk. Jojo mana Jojo.. XD

Advertisements

123 thoughts on “The Problem With Love is…[Chapter 2]

  1. Waah minho playboy rupanya ;;) pantesan suli benci banget sama dia.. Heheheh… Betul tu kata jinki mereka lebih baik nikah aja. Hehe. Lanjut next chap dulu thor

  2. Waah minho playboy rupanya ;;) pantesan suli benci banget sama dia.. Heheheh… Betul tu kata jinki mereka lebih baik nikah aja. Hehe.

  3. annyeong..
    aku reader baru disini ,izin baca ffnya yha thor….

    ffnya seru !!
    kpn minsulnya disatuin..??
    jangan lma” yeth…
    #maksa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s