ThE lasT HoPe (1)

tlh

Main cast : Choi Minho, Choi Sulli

Author : dina matahari

Lenght : Short Chaptered

Genre : Romance

♥♥

” Takdir yang pahit bila dilihat dengan rasa syukur akan membuahkan kebaikan”

Cerita ini didedikasikan untuk sahabat-sahabat yang mengalami keputusasaan akan takdir ,

fighting to be fighter !!! 

1. Yang Kehilangan

Rumah sakit

Choi Minho membuka matanya lebar-lebar, langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih tak mampu memberikan ketenangan ke dalam hatinya . Jantungnya yang berdenyut terasa makin liar dan keras ketika ia melihat dua ranjang yang ada di sebelahnya sudah kosong. Seprei putih yang biasanya terpasang sudah digulung, sepertinya siap untuk diganti.

“ Semua orang sudah pulang. Satu per satu penghuni kamar ini sudah pulang…” kata hatinya.

Co-pilot Sim Changmin, Juru potret Kim Kibum, yang biasanya sama terbaring di ranjang yang ada di kamar tersebut sekarang sudah tidak ada. Mereka yang biasanya menemaninya mengobrol, menghabiskan waktu menjemukan di rumah sakit., sekarang sudah tidak ada bersamanya lagi. Setelah kemarin mereka diberi izin untuk meninggalkan rumah sakit, semalam keluarganya datang menjemput. Mereka datang setelah dievakuasi dan dibawa ke Jeju untuk ditangani di rumah sakit yang layak.

Lee Jinki sebagai reporter yang paling beruntung dalam kecelakaan pesawat itu, sudah diijinkan meninggalkan tempat terpencil ini lima hari yang lalu. Sebuah kapal patroli membawanya terbang ke Incheon, ke tengah-tengah keluarganya. Padahal sewaktu kecelakaan terjadi, tangannya di perkirakan mengalami patah …bahkan remuk. Dari awal, Lee Jinki pasrah seandainya tangannya harus diamputasi. Ternyata tidak, karena dia hanya mengalami patah tulang dan perlu dua kali operasi untuk bisa berfungsi kembali.

Mengingatnya, baru pertama kali Minho melihat seorang pria dewasa yang sangat gembira mendengar suatu berita. Bahkan terlalu gembira. Sewaktu lima hari yang lalu dia diijinkan untuk meninggalkan pulau bersama kapal patroli yang kebetulan singgah di pulau, dia seperti anak kecil …. menciumi tangannya yang masih digips, tanpa henti. Sambil berlari-lari dari satu kamar ke kamar lainnya, dia berteriak-teriak dengan berurai air mata.

” ….tanganku selamat ! Aku tidak harus diamputasi !! “

Kata-kata itu seperti nyanyian burung gereja di tengah-tengah suasana sepi rumah sakit. Menyeruakkan nuansa lain di dalamnya.

Bisa dimaklumi, terdampar di pulau ini dengan alat komunikasi yang terputus sama sekali, seperti hidup terdampar di negeri asing. Terlepas dari penduduk setempat yang demikian baik dalam memperlakukan mereka, tetap saja rasa rindu pada keluarga tak bisa dihapus begitu saja. Dan kembali ke tengah-tengah peradaban kota sebesar Incheon adalah layaknya seperti kembali ke pelukan kehidupan. Hangat, mengandung semangat, berdenyut … laiknya detak jantung pemuda yang kuat dan sehat.

Kepulangan Jinki yang begitu emosional, sempat menyayat-nyayat hati Choi Minho. Bahkan Minho masih merasakan bagaimana reporter bersuara emas itu menciumi tangannya…. hangatnya masih tersisa. Minho ikut berbahagia dengannya, tetapi dia tak bisa memperlihatkan itu karena dirinya sendiri merasa ditinggalkan. Kepulangan Sim Changmin dan Kim Kibum, memperparah keadaan itu. Kepulangannya yang tanpa pamit membuat dirinya ingin tenggelam saja di dasar lautan sewaktu kejadian itu menimpa mereka …. hampir menenggelamkannya.

“ Mereka pulang dengan utuh, sedang aku……”

Choi Minho menunduk melihat ke arah kakinya yang tertutup selimut. Matanya bergerak dari pangkal paha menuju ke lutut, dan berhenti di situ. Ada pemandangan tak asing tetapi masih menorehkan luka mendalam setiap dia melihat bagian tubuhnya itu. Kaki sebelah kirinya terentang hampir mencapai ujung ranjang, tetapi kaki sebelah kanannya hanya terhenti sampai lutut.

Flash Back

Bajunya basah , telinganya mendengar deru ombak yang begitu dekat. Choi Minho yang terbaring antara sadar dan tidak mendengar suara Sim Changmin yang menyuruh seseorang memanggil bantuan untuk menolong mereka.

Dalam hitungan menit beberapa pria penduduk pulau berdatangan, dengan memakai tandu yang dibuat mendadak akhirnya mereka dibawa ke tempat praktek dokter, yang merupakan satu-satunya tempat berobat yang ada di situ.

Choi Minho langsung pinsan ketika tubuhnya ditandu . Dan dia baru tersadar saat sayup-sayup telinganya mendengar teriakan Kibum yang sedang diberikan pengobatan. Kibum mengalami patah tulang pada rusuknya. Sedangkan Sim Changmin tulang paha sebelah kanannya patah.

“ Dokter , pasien ini sudah sadar !”

“Tahan dulu, jangan sampai pinsan lagi !”

Dan Choi Minho perlahan membuka matanya, gambaran buram seorang suster yang berdiri di sampingnya perlahan-lahan mulai jelas. Tetapi ia tak kuasa untuk melihatnya lebih jelas lagi, sesuatu yang terasa menusuk-nusuk dari kakinya membuatnya tak bisa berfikir. Ia mendengar bagaimana seorang wanita mengajaknya bicara, bertanya banyak hal, yang ia yakini adalah suster yang tadi sempat dilihatnya.

“ Sulli, beri dia suntikan penahan sakit.Kita harus mengevakuasi pasien ini ke seberang pulau. Ini memerlukan operasi besar dan penanganan secepatnya.”

Itu adalah kata-kata terakhir yang didengarnya sebelum di kembali tertidur.

End of Flash back

Choi Minho memejamkan matanya yang terasa panas.

Cairan hangat kemudian terasa merayap di tulang pipinya yang berkedut menahan emosi.

Dia menangis.

Choi Minho menangis.

Seorang pilot handal anak pemilik CJet Corporation, perusahaan yang menyewakan jet private di Seoul Korea , menangis tak berdaya di sebuah ranjang besi rumah sakit terpencil yang entah ada di mana.

Ya, ia tak tahu keberadaannya di pulau Jeju di daerah mana. Ia berfikir begitu karena dari cerita beberapa orang yang datang ke kamarnya, seolah terkesan bahwa tempat itu jarang didatangi orang luar. Tempat yang tidak terjamah, kecuali oleh orang-orang penduduk asli dan mereka yang memiliki kepentingan di sana.

Dan sialnya, di tempat seperti inilah dirinya terdampar.
.


Minho ingat, pada awalnya mereka pergi dengan menggunakan pesawat kecil berpenumpang empat orang untuk meliput tentang latihan atraksi udara militer , untuk merayakan hari ulang tahun Korea Selatan. Pilot yang seharusnya membawa pesawat tidak datang karena mengalami struk dan sebagai bentuk tanggung jawab, ia mengajukan diri untuk menjadi pilot pengganti.

Pada awalnya kakaknya, Choi Siwon menentang karena kondisi Minho sendiri baru selesai menerbangkan jet yang membawa seorang sineas muda ke Nami island. Tetapi kegigihannya meluluhkan hati Siwon. Dan pergilah mereka dari pangkalan pagi itu. Keadaan baik-baik saja pada saat satu jam mengudara, tetapi kemudian keanehan terjadi. Ada bunyi gemeretak yang disusul kepulan asap di sayap kanan pesawat. Dirinya dan co-pilotnya akhirnya memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat di pantai berpasir putih. Saat pesawat mendarat dan terguncang, Minho masih sadar. Tetapi kemudian ia tak bisa ingat apa yang terjadi setelah sebuah benturan membuat kepalanya terantuk pada benda keras. Dia pingsan, dan saat tersadar dia sudah terdampar di pantai. Kemudian dari sana ia dibawa ke rumah sakit di Jeju, yang entah apa nama tempatnya.

Minho tangannya terangkat, berusaha menghapus air matanya dengan kasar.

Choi Minho yang di Seoul dikenal sebagai pilot dengan sertifikat dan pengalaman terbang yang cukup baik, akhirnya harus kalah dan pasrah pada ketentuan nasib. Dan lebih mengenaskan, harus kehilangan satu kakinya akibat profesi yang begitu dibanggakannya itu.

Ya Tuhan, kakinya….

Minho tak akan mungkin bisa melupakan saat-saat mengerikan yang harus dilaluinya setelah dengan suara yang tenang dan datar, dokter Kwon memutuskan untuk mengamputasi sebelah kakinya.

Flash back

“ Kaki anda sudah membusuk, anak muda. Luka infeksi yang dalam dan dibiarkan terendam air laut berjam-jam mempercepat proses pembusukan itu. Tak ada yang bisa diselamatkan dari tulang yang remuk dan luka infeksi. Bila dibiarkan itu akan membahayakan nyawa anda. Kami terpaksa harus mengamputasi kakimu .”

Waktu itu Minho berteriak, suaranya membelah keheningan rumah sakit kecil itu. Melengking seperti jeritan elang di angkasa luas. Membuat semua yang ada di ruangan itu tertunduk, dan seorang suster menitikkan air mata.

Ada Sim Changmin dengan paha terbalut gips, ada Kibum yang dadanya terbalut perban, ada Jinki yang sebelah tangannya terbungkus. Mereka bertiga berusaha menegarkannya dengan kata-kata yang tiada arti. Dan seorang suster yang berdiri di dekatnya, menaruh tangan dengan penuh simpati di bahunya. Tetapi sentuhan yang sedikit itu membuat Minho kalap.

Ia mencengkram tangannya dan menangis….tidak bukan hanya menangis, tetapi meraung seperti seorang bocah lelaki kecil yang ditinggal pergi ibu tercintanya.

“Lebih baik aku mati. Ya Tuhan… lebih baik aku mati…”

Dan tak ada yang bisa dilakukan selain pasrah pada akhirnya. Amputasi adalah satu-satunya jalan.

Keesokan harinya, sebelum matahari muncul di muka bumi suster bernama Sulli itu telah membangunkannya. Badannya terasa lemas tak bertenaga, bukan karena ia harus berpuasa tetapi juga karena jiwanya telah kehilangan semangat sama sekali. Dua perawat laki-laki memindahkan tubuhnya ke blankar, dan mengeluarkannya dari kamar perawatan.

Rasa ketakutan dalam dirinya saat dibaringkan di meja operasi, melebihi rasa takutnya ketika dia pertama kali belajar mengembangkan parasut dan harus meloncat dari ketinggian. Melebihi rasa takutnya ketika pertama kali dia harus menerbangkan pesawat pertamanya setelah belajar selama dua tahun di luar negeri.

Ya… jauh lebih menakutkan melihat ketinggian dengan keyakinan bahwa di bawah sana tak ada dataran yang menunggu. Tak ada harapan.

Selama itu, fikirannya selalu terpaut pada keluarganya yang entah bagaimana tanggapan mereka tentang peristiwa itu. Ia sendiri tak yakin apakah pihak keluarganya sudah tahu atau belum tentang keberadaannya sekarang.

Selain itu ingatannya melayang kepada Bae Suzy, tunangannya yang tentu akan mencemaskannya. Apa reaksi mereka nanti setelah tahu bahwa dirinya harus kehilangan satu kakinya ?

Dan yang membuatnya benar-benar ketakutan adalah bayangannya atas adik perempuannya yang mengalami kecelakaan mobil dan terpaksa dioperasi. Masih segar dalam ingatan Minho ketika ia melihat badan adiknya yang terkulai lemah di bawa ke ruang operasi, beberapa jam kemudian di bawa kembali ke ruangan, dalam keadaan sudah meninggal dunia.

“ Ya Tuhan, mungkin ini akhir hidupku. Mungkin sebelumnya aku pernah meminta kepada-Mu untuk membuatku mati saat kakiku harus dipotong. Tetapi kini, aku benar-benar memohon agar aku diberi sedikit waktu untuk bisa menemui dulu keluargaku. Untuk meminta maaf pada tunanganku…” jerit Minho dalam hatinya.

“ Tuan Choi, saya akan memberikan anda obat bius. Setelah saya suntikkan, nanti anda bisa menghitung mundur dari sepuluh. Anda mengerti ?”

Minho menatap wajah cantik suster yang sejak awal selalu menemaninya itu dengan mendalam.

“Suster mungkin adalah orang terakhir yang bisa kulihat sebelum aku dioperasi. Aku tidak tahu apakah operasi ini akan berhasil, atau apakah akan menjadi akhir hidupku.”

“ Tuan Choi, jangan….”

“ Tidak, jangan mencoba menghiburku. Namaku Choi Minho, ingatlah itu baik-baik. Jika aku mati nanti,  aku harap anda akan menyampaikan perkataanku ini kepada orang tuaku. Katakan kepada mereka, aku bangga telah menjadi anak mereka dan tidak menyesali kecelakaan ini karena aku tahu memiliki anak seorang pilot pesawat adalah impian mereka yang menjadi impianku  juga. Kemudian sampaikan kepada tunanganku Bae Suzy, bahwa aku sangat mencintainya. Kau bisa menyampaikan itu kepada mereka, bukan ?”

“ Ya, tuan Choi saya akan sampaikan.”

“ Minho. Panggilah namaku seperti itu apabila aku masih hidup nanti.”

“Anda akan tetap hidup, dan anda akan bisa menyampaikan pesan anda sendiri kepada mereka yang anda cintai.”

Suster bersuara lembut itu tersenyum, sebelum akhirnya memberikan satu suntikan di pahanya.

“ Sekarang anda bisa mulai menghitung dari sepuluh….”

“ Sepuluh… Sembilan… delapan…tujuh…enam… lima….”

Dan matanya terasa berat…semakin berat, sampai akhirnya ia masuk dalam kegelapan.

End of flash back

  89ec0-tothebeautifulyouec9584eba684eb8ba4ec9ab4eab7b8eb8c80ec9790eab28ckdramastillepisode5choiminhoecb59cebafbced98b8

“ Selamat siang, Tn . Minho…”

Sebuah suara yang mulai dihafalnya menyapa hangat. Choi Minho membuka matanya. Ia sudah mulai terbiasa dengan sebutan “Tn.Minho” yang mulai dipakainya sehari setelah proses operasi selesai. Pada awalnya suster Sulli menolak menyebut namanya saja, tetapi karena Minho memohon kepadanya, akhirnya dia mau memanggilnya “Minho” dengan embel-embel “Tn.” di depannya, dengan alasan bahwa seorang suster tidak bisa berakrab-akrab dengan pasiennya.

Ya, sekarang dirinya sudah mulai terbiasa dengan sebutan itu. Dan suster berwajah putih bersih itu sudah tidak canggung lagi seperti saat pertama memanggilnya begitu.

“Suster Sulli, akhirnya ranjang mereka sudah kosong….”

Minho menunjuk dua ranjang di sebelahnya, berusaha menyembunyikan kepahitan dan kesedihan dalam hatinya.

“Ya, mereka baru sejam yang lalu meninggalkan kamar ini. Saat itu kau sedang tertidur lelap, jadi mereka tak mau membangunkanmu. Tetapi jangan khawatir, mungkin 2-3 hari lagi ada pasien lain yang akan menemanimu di sini.”

Minho mendesah ,” Justru aku berharap, tempat itu tetap kosong. Aku tidak mau ada orang lain yang memiliki perasaan tidak nyaman seperti apa yang kurasakan.”

“ Oh ? Saya menyesal karena pelayanan kami membuat kau tidak nyaman.”

Sulli meletakkan rangkaian bunga di vas yang ada di meja di sebelah ranjangnya.

“ Bunga sakura lagi ?” Tanya Minho sambil melihat bunga berwarna pink kemerahan itu.

“ Benar, sekarang musim semi Tn. Minho. Kalau kau berkenan aku akan membawamu berjalan-jalan di luar.”

Minho tidak menjawab. Berjalan-jalan ke luar dari kamarnya adalah pilihan terakhir yang ingin dilakukannya. Bukan apa-apa, ia malas bertemu dengan orang-orang yang akan memandangi kakinya dengan tatapan aneh…atau lebih buruk lagi, dengan tatapan kasihan. Karena itu, sejak operasi ia tidak pernah mau meninggalkan kamarnya kecuali untuk keperluan terapi saja.

Mungkin kemarin, masih ada Sim Changmin dan Kim Kibum yang akan menemaninya mengobrol. Tetapi setelah hari ini, ia sama sekali tidak akan bertemu siapapun kecuali dokter yang datang mengontrol atau suster Sulli dan beberapa suster lain yang merawatnya.

“ Baiklah, seperti biasa apa yang anda inginkan untuk makan siang ?”

“ Apapun yang disediakan rumah sakit.” Jawab Minho malas.

“ Baik. Jangan lupa jadwal terapi pukul 12.00 Tn. Minho.”

“ Akan kuingat.”

Sulli berlalu dari kamar dengan membawa bunga sakura berbeda warna yang di rangkainya hari kemarin. Suster itu selalu rajin mengganti bunga di dalam kamarnya. Apabila tidak ada bunga, maka dia merangkai dedaunan yang membuat suasana di ruangan terlihat sedikit lebih segar dan berwarna.Tampaknya, mulai hari ini hanya suster  itu yang bisa diajaknya mengobrol. Dan sepertinya dia juga merasakan keyakinan yang sama.

Melihat punggung suster itu, membuat ingatan Minho kembali pada beberapa menit setelah dirinya sadar setelah dioperasi. Suster itulah yang ada di sisinya sesaat sebelum dia memasuki ruang operasi dan saat ia selesai dioperasi . Kehadirannya memberikan perasaan nyaman… merasa ditemani, diperhatikan, dimengerti, dihibur… Rasa yang tak bisa diungkapkan …tentang keberadaan suster itu.

Flash back

Minho Pov.

Telingaku mendengar keheningan dan detak jarum jam. Rasa pusing dan mual akibat bau obat yang masuk ke pernafasanku, menghilangkan keinginanku untuk mengingat. T

etapi… tunggu, obat bius… ini adalah bau obat bius.

Apakah orang yang sudah mati mencium bau obat bius ?

Ataukah aku masih hidup dan melalui operasi itu dengan selamat ?

Walau terasa berat, aku memaksa diri untuk membuka mata.

Kembali bau obat bius yang menyengat membuatku menahan nafas. Pandanganku lebih jelas dan yang kulihat adalah kain tirai yang terentang mengelilingi tempat aku berbaring. Sejenak aku mengumpulkan ingatanku kembali, tak yakin dengan perasaanku sendiri.

Ya., benar…. Tadi aku dibawa memasuki kamar operasi.

Kakiku !!

Aku mencoba mengangkat kepalaku dan baru kusadari ada seorang suster yang berdiri di dekatku.

Berdiri tepat di sebelah kaki kananku yang terlihat membulat dan….

terpotong.

Aku tidak mimpi !!

Kakiku memang telah dipotong…dioperasi !!

Rasa sakit yang hebat menghantam dadaku. Mendadak seluruh tubuhku terasa tak bertulang….lemas.

Aku merasakan hempasan kepalaku di bantal.

Aku merasakan air hangat keluar dari dua sudut mataku….

Aku menangis.

Menangisi kakiku yang sekarang entah ada di mana.

Sebuah tangan yang hangat menggenggam jemariku, entah mengapa aku tiba-tiba merasa ada seseorang yang tak akan membiarkanku sendirian menanggung kepedihan ini. Dan aku membuka mata, ingin melihat wajah seseorang yang kurindukan beberapa hari ini. Tetapi yang kulihat bukan Bae Suzy, aku melihat suster Sulli yang berdiri menatapku tanpa berkedip. Matanya memerah, ujung hidungnya juga. Sepertinya dia sudah menangis.

Tapi kenapa ??

“ Tn. Choi…?” suaranya terdengar seperti berasal dari tempat yang jauh.

Aku melihatnya, dan dia melihatku. Tangannya yang menggenggam jemariku terasa mengalirkan kehangatan yang membuat hatiku semakin dicekam rindu pada Suzy. Dan mata memerah itu, seperti memancarkan sesuatu yang membuatku ingin menunjukkan senyum terbaikku.

Tetapi Tuhan…. Ada apa dengan diriku ? Bahkan aku tak bisa menggerakkan otot wajahku untuk memberinya sebuah senyum saja ? Kepalaku dan mataku terasa berat, dan mungkin aku akan tertidur kembali bila tak merasakan sebuah tangan yang hangat dan halus membelai wajahku. Ya, telapak tangan yang halus.

“ Suzy…..” desahku, mencoba mengatakan pada pemilik tangan itu bahwa aku merindukannya.

” Tn. Choi….?”

Suaranya tergetar… bukan suara Suzy… dan Suzy tak pernah memanggilku dengan sebutan itu. Aku kembali membuka mataku, kini aku merasa rasa kantukku berkurang. Dan mataku melihat sepasang mata suster Sulli begitu dekat, tetapi dia tidak berkata-kata, sehingga aku tak yakin apakah benar dia tadi memanggilku ?

Tiba-tiba wajahnya menjauh, dan aku merasakan tangannya melepas jemariku. Setelah membetulkan letak selimutku, ia berjalan menjauh.

Sesungguhnya, saat suster itu berjalan menjauh, aku ingin memanggilnya untuk memintanya agar tidak meninggalkanku sendirian. Tetapi sekali lagi, aku terlalu lemah untuk melakukan itu. Padahal seandainya dia tahu, keberadaannya membuatku merasa tentram. Membuatku merasa lebih tegar menghadapi rasa kehilangan yang sulit untuk diungkapkan.

Dan begitulah, mungkin karena yakin aku sudah sadar dari pengaruh obat bius, Suster Sulli pergi meninggalkan kamarku. Dia tak kembali lagi sampai sehari berikutnya.

End of Pov

Seminggu Minho tak bisa turun dari ranjang. Untuk membunuh rasa bosan, ia banyak membaca majalah dan Koran yang dengan setia selalu dibawa oleh suster yang merawatnya. Kemudian dia ditempatkan di kamar rumah sakit yang lebih luas, bersama dua rekannya Kibum dan Changmin. Akhirnya mereka bertiga banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, saling bercanda, saling menguatkan, saling memberikan harapan.

End of flash back

Minho menghela nafas panjang, mencoba menghirup wangi sakura di ruangan itu. Tetapi tidak bisa karena wangi bunga itu tertutup oleh wangi karbol yang tajam. Wangi yang sudah mulai familiar dengan penciumannya.

Perlahan matanya menatap ke arah pintu kamar yang terbuka, setengah berharap ada seseorang yang masuk dari sana… siapapun.

Suster Sulli, mungkin ?

.

.

========TBC========

maaf bila cerita di atas sangat miskin dialog…mungkin membosankan. Hmm…. tapi memang diam di tempat tidak bersinyal itu sangat membosankan. 😀

BTW, bagaimana kelanjutan kesepian dan rasa kehilangan yang dialami Minho ? Bisakah terisi dengan kehadiran seorang suster cantik bernama Choi Sulli ? Tapi bagaimana dengan Bae Suzy tuangannya ?

Advertisements

110 thoughts on “ThE lasT HoPe (1)

  1. Ff.y sedihh eonni 😦
    hikss poor poor abng Minong ;( hmm lihat2 nanti ini kyk.y si suzy sdh kagak mw dngn si minong karna dia sdh kagakk sempurna alias kaki.y kagak ada..’hmm biar aj,biar si minong sma kk Ssul,hmm lalu npa kk Ssul tangisi si minong???ap dia mengenal.y???

  2. wahhh kayanya bisa bikin nangis ffnya..
    mudah2n Sulli ga jdi pihak ketiga.. 🙏
    yang sabar ya Minho oppa… 😞
    bagus bgt ffnya min… 👍
    bakalan di pantengin deh post’n ffnya… he he 😁

  3. jadi ceritanya minho itu seorang pilot ..
    cuma karena sesuatu membuat dia jatuh dari pesawat dan kakinya harus di amputasi ?
    kasian banget minho ..
    dan sulli ada di sisinya?
    tunggu?! kenapa sulli menangisi minho? diakan cuma pasien yang harus sulli rawat? apakah sulli mengenali minho?
    dan lihat? minho merindukan suzy tapi dia malah mengira sulli adalah suzy?
    dan minho juga mulai merasa nyaman dengan sulli ..
    apa yang bakal terjadi ? ditunggu eonni 😀

  4. Haiiii eonni hihiihi, wah baru baca ff ini bener dehh, niatnya cuma nyari nyari nlog ehh ketemu ini dan liat penulisnya ternyata eon dina wkwk ,yahh ming kasian dia dia.. Ehh ,hua ming ternyata udh tunangan suzy, waw sulli suster kekeke lucu denegrnya, kenapa sulli gak dokternya hahahah, izin baca eonn,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s