The lAst HoPe (4-END)

.

Main cast : Choi Minho, Choi Sulli

Author : dina matahari

Lenght : Short Chaptered

Genre : Romance

♥♥

” Selemah-lemahnya manusia, dia diberi kekuatan untuk mengubah nasibnya.”

4. Yang Dipertemukan

Siwon menatap gerakan ekor ikan Koi dalam akuarium yang melenggak-lenggok, seakan memamerkan keanggunan dan keindahan yang dimilikinya. Im Yoona yang duduk di sisinya, perlahan mengusap bahunya yang tegang.

“ Aku tidak melihat alasan bila Minho akan menolak pesta ini. Dia terlalu sayang pada eomma untuk bisa mengecewakannya.”

“ Aku tahu.” Gumam Siwon

“ Jadi apa yang sekarang menjadi beban fikiranmu ? Aku tahu matamu menatap akuarium tetapi fikiranmu tidak ada di sini. Tidakkah kau mau membaginya denganku ?”

“ Suster itu sepertinya tak akan datang. Ini sudah 13 hari sejak aku menitipkan pesan untuknya, dan pihak rumah sakit sudah berjanji untuk meneleponku dalam waktu seminggu. Sampai sekarang tak ada kabar beritanya.Mungkin suster itu tak pernah kembali ke pulau, menghilang bersama anaknya.”

“ Sudahlah sayang….. kita sudah berusaha, bukan ? Dr. Kwon sudah menjelaskan bahwa kemungkinan besar Sulli tak akan kembali ke sana. Pulau itu menyimpan banyak kenangan pahit baginya, Beban keluarga di pundaknya cukup berat. Dan anak itu pasti membuatnya terbelenggu.”

“ Anak itu…. “ Siwon mengalihkan matanya dari akuarium ke arah istrinya ,”Sepertinya menjadi alasan terbesar dari ketidakhadirannya. Aku berfikir, dia sangat mirip dengan Suster Sulli… seperti ibunya.”
Im Yoona mengangguk mengiyakan.

“ Benar, bahkan orang yang baru pertama kali melihatnya pun akan tahu bahwa mereka bertalian darah.”

Siwon mengangguk. Ingatannya melayang pada masa itu… ketika dengan harapan tersisa dia mengunjungi Jeju untuk meminta bantuan Suster Sulli agar menolong adiknya bangkit kembali. Harapan terakhirnya.

Flash Back

Langit Jeju tampak kelabu. Lapisan salju yang bagai selimut menutupi hampir seluruh permukaan bumi seakan lebih mempertegas bahwa udara sedang tak bersahabat. Terlalu dingin untuk berkeliaran di udara terbuka, walaupun mantel tebal menutupi tubuh .

Siwon berjalan terseok-seok. Sepatunya terbenam ke dalam lapisan salju yang menutupi jalanan menuju rumah sakit yang tampak muram. Hal itu membuat langkahnya tidak bisa secepat dan selincah biasa.

Memasuki pintu rumah sakit Dr. Kwon menyambutnya dengan senyum ramah.

“ Tuan Choi, senang bertemu anda kembali. Bagaimana kabar Minho ?”

“ Dr. Kwon !”

Siwon menjabat tangan dokter muda itu, menyambut keramahannya dengan terbuka.

“ Sepertinya udara Seoul kurang bagus untuknya.” Jawabnya murung.

“ Oh ? Saya pikir kembali ke tengah keluarga akan mempercepat kepulihannya dari trauma tersebut. Apakah kedatangan anda kemari ada hubungannya dengan itu ?”

“ Sedikit banyak. Justru saya datang kemari untuk membicarakannya.”

“ Oh, kalau begitu mari kita duduk di ruangan saya saja.”

Beberapa menit setelah melalui pembicaraan serius, Siwon harus kecewa dengan kenyataan yang ada. Matanya terpejam sejenak, menarik nafas putus asa.

“ Sulli pergi dari pulau ini seminggu yang lalu. Kami sendiri tidak begitu jelas dengan alasan dan tujuan kepergiannya. Kami tidak tahu untuk berapa lama…. maafkan, kami tidak bisa membantu lebih jauh.”

Siwon meghembuskan nafas seolah ingin membuang kekecewaan yang menghantamnya. Harapan terakhirnya telah pergi. Orang yang diharapkan bisa membantu membangkitkan semangat adiknya, ternyata sudah tidak ada di pulau.

“ Tetapi Tn. Choi, saya berjanji akan mengabari kembali apabila Sulli datang. Mungkin aku akan memberikan rekomendasi padanya untuk bersedia pindah ke tempat yang anda tawarkan.”

“ Ya, saya mengerti. Saya tadinya berfikir kalau Sulli akan tertahan di pulau ini karena seseorang.”

“ Memang dia pergi dengan membawa satu-satunya keluarganya.”

“ Maksud anda ?”

“ Choi Yoo Jung. Dia pergi dengan membawa Yoo Jung …”

“ Siapa Yoo Jung ?” Siwon menatap dokter di hadapannya dengan mata bertanya-tanya,” apakah benar perkiraan kami bahwa Sulli sudah menikah ? Apakah dia suaminya ?”

“ Choi Yoo Jung itu seorang anak, tuan Choi. “ Dokter Kwon tersenyum ,” Ceritanya panjang…”

“ Well,saya punya waktu hampir sehari penuh jika itu cukup untuk mengungkap semuanya.”

Dan pembicaraan itu pun berlanjut. Dokter Kwon membuka cerita masa lalu Sulli, dan beberapa kali Siwon merasa terpukul dengan kepahitan demi kepahitan yang ternyata pernah dialami suster berhati lembut itu.

End of Flash Back

“ Tetapi sayang, kita punya sesuatu yang mungkin bisa memulihkan semangat adikmu. Aku sudah membeli pita untuk membuatnya sebagai kado kejutan untuknya. Lihatlah !”

Im Yoona mengangkat sebuah buku berlapis kulit berwarna hitam yang telah diikat sebuah pita berwarna putih. Alis Siwon terangkat tanda belum paham maknanya.

“ Itu…. Buku Minho yang diberikan dokter Kwon, bukan ?”

“ Ya, ini buku Minho yang tertinggal di rumah sakit. Di dalamnya memuat banyak ungkapan hati adikmu selama menjalani hari-harinya di Jeju. Siapa tahu dengan melihat buku ini kembali, dia akan merasakan semangat yang sama.”

“ Atau sebaliknya….”

“ Mungkin, tetapi tak ada salahnya kita berusaha. Kau setuju kan kalau aku menjadikan buku ini sebagai hadiah kejutan ?”

“ Lakukanlah yang menurutmu baik, sayang.”

8 Desember 2014

Minho pov

Desember telah berjalan.

Pepohonan telah lama kehilangan daun, batangnya diselimuti gumpalan salju yang memutih. Seperti musim dingin di tahun-tahun sebelumnya… cuaca di Seoul terasa menggigit. Tetapi bagiku tahun ini terasa lebih mencengkam dibanding tahun-tahun sebelumnya. Lebih hening dan sunyi.

Bila tahun lalu, bulan ini akan disambut dengan harapan dan antusias tinggi, maka sekarang hanya keburaman yang kulihat. Pelayan bergantian mengetuk pintu dan menyimpan kado-kado yang di susun memenuhi satu sudut kamarku. Besok hari ulang tahunku yang ke-26, usia yang seharusnya sarat dengan mimpi indah dan semangat menjangkau masa depan yang mapan.

Tetapi, masih adakah itu untukku ?

Mimpi dan harapan indah ?

Sepertinya pada hari sejak kakiku lenyap, aku telah menghapus semua harapan dan mimpiku tentang masa depan. Ya, tanpa bisa kutolak… sekarang aku hanya melihat mimpi itu sebagai bagian dari masa lalu. Mimpi-mimpi yang terbentang di belakangku.

Bahkan, Suzy yang sebelumnya berjanji akan merajut mimpi dan harapan itu bersamaku… kini entah dimana. Yang jelas, sekarang dia sudah dipersunting oleh seseorang… di satu titik di kota Seoul ini. Suzy, satu-satunya gadis yang sejak kuliah kuharapkan… kuimpikan akan menjadi isteriku, kini telah menjadi istri orang lain.

“ Besok eomma akan membuat pesta ulang tahun untukmu.”

Eomma selalu berusaha membangunkan semangatku setiap waktu. Seorang ibu nampaknya memang akan melakukan apapun untuk anaknya…

Sebelum hari itu datang, aku telah memintanya berulang kali untuk tidak merayakan apapun untukku. Apa yang harus dirayakan dalam hidupku ? Kegagalanku ? Ketidakberdayaanku ?

“ Sebutkanlah siapa saja yang akan kau undang, Minho. Ini eomma sudah mencatat beberapa nama sahabatmu, tetapi periksalah kembali barangkali ada yang terlewat…”

“ Eomma… “

“ Tidak ada yang berubah dalam dirimu, anakku. Tak ada yang bisa merubahmu di mataku … apapun itu. Eomma menginginkan kebahagiaanmu, dan eomma tahu sebagian kebahagiaanmu ada pada sahabat-sahabatmu.”

“ Tetapi eomma….”

“ Dengar Minho, anakku cuma dua… kau dan Siwon. Apakah eomma terlalu menuntut bila ingin melihatmu senyum kembali ? Apakah permintaan eomma ini terlalu mewah ? Ataukah terlalu sulit untuk kau berikan ?”

Aku terdiam.

Percuma untuk bicara, tak ada seorang pun yang akan mengerti diriku… apa yang kurasakan, apa yang kutakuti dan kuinginkan.

Tiba-tiba aku merasakan sentuhan tangan eomma di bahuku, mengusap bahuku dengan lembut seperti ingin menyingkirkan debu-debu yang menempel di bajuku.

“Dengarlah , Nak. Hidup memiliki jalannya sendiri. Hidup akan membawamu pada satu titik yang kau sendiri tak bisa pahami. Jadi jangan pernah kalah pada sesuatu yang tidak perlu. Eomma yakin, berbicara dan berkumpul dengan sahabat-sahabatmu akan mengembalikan semuanya ke dalam dirimu. Demi aku, lihatlah daftar undangan itu. Dan kau bisa menambah atau menghilangkan nama siapapun dari daftar… yang menurutmu baik untukmu.”

Setelah membelai rambutku sejenak, eomma meninggalkanku.

Kini aku berjalan ke halaman belakang, dimana terdapat taman yang terawat dengan baik. Perlahan aku duduk di kursi besi yang selama beberapa minggu ini jadi tempat pavoritku.

Enggan, aku memeriksa daftar nama undangan yang ditulis eomma.

Wow !! Ini bukan pesta ulang tahun yang sederhana…tetapi pesta besar dengan tak kurang dari seratus undangan.

Tanpa sadar aku mendesah…. Menghembuskan kegelisahan dan kesesakkan yang tiba-tiba memenuhi dadaku.

Sepertinya eomma memang bekerja keras untuk menyusun daftar ini. Apakah yang telah dilakukan ibuku tercinta itu ?

Membongkar nama-nama sahabat dari ponselku ?

Membolak-balik buku almamaterku ?

Menelusuri jejak-jejak semua sahabatku yang kutahu pasti telah menyebar di seluruh Korea…bahkan mungkin di luar negeri !

Layakkah aku mengabaikan sema kerja kerasnya itu untukku ?

Lagipula apa hakku merampas semua harapannya ?

Aku bodoh…sangat bodoh bila harus membunuh harapan eomma atas diriku.

End of Pov

Choi Minho menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan-lahan.

“ Aku boleh kehilangan masa depanku, tetapi eomma tak boleh kehilangan mimpinya. Aku akan mencoba mengikuti keinginannya, walaupun itu bagiku sangat menakutkan…. “

Ya, bagi seorang Choi Minho menghadapi hari ulang tahunnya yang sekarang ibarat mendirikan tonggak monumental dalam hidupnya. Ibarat membangun pembatas antara kesempurnaan dan ketidaksempurnaannya …. Dan tentu saja itu menakutkan, menyadari mulai dari tahun sekarang ke depan kesempurnaan hanyalah mimpi baginya.

Dengan tatapan nanar ia melihat lembaran kertas berisi daftar nama di tangannya, malas untuk menelitinya satu per satu. Siapapun yang diundang ibunya, apa pengaruhnya buat dirinya pribadi ? Tidak ada !!! Minho melipatnya kembali …. Tanpa disadarinya ada sebuah nama terselip di antara tamu-tamu itu, nama yang mungkin akan merubah kepasrahannya.


9 Desember 2014

.

Tawa.

Canda.

Kegembiraan.

Semua terpampang dengan jelas di depan mata .

Ironi memang…. siapa yang berpesta dan siapa yang dipestakan ? Siapa yang tertawa…. dan siapa yang diam-diam menangis ?

Mungkin semua itu akan luput dari pandangan tamu-tamu undangan yang malam itu berdatangan ke rumah keluarga Choi. Mungkin mereka telah terpuaskan dengan senyuman lebar atau sedikit tawa hambar yang diberikan Minho, saat menyambut ucapan selamat yang bertubi-tubi. Atau mungkin itu hanya sekedar gambaran bagaimana orang lain sangat tidak peduli dengan apa yang dirasakan seseorang… apa yang ada di balik penampilan, yang hanya bisa mereka baca secara lahiriah saja . Entahlah…

Namun wanita paruh baya yang berdiri di anatara Siwon dan istrinya menyadari sekali bahwasanya ada sepasang mata yang malam itu terlihat jauh dan kosong, sepasang mata yang berusaha menyembunyikan kepedihannya dengan rapih.

Mata Choi Minho.

.

” Eomma…” Siwon menegur ibunya yang terlihat matanya berkaca-kaca.

” Eomma gagal, Siwon…. “

” Eomma  sabarlah.” sahut Siwon cepat, tangannya menarik istrinya mendekat,”  Yoona , temani eomma sebentar. Aku akan mendekati Minho dulu.”

Dengan langkah panjang, Siwon menghampiri adiknya yang terlihat duduk di sudut ruangan… sudut yang hanya dijangkau sedikit pencahayaan. Sekilas dia sudah paham bahwa adiknya tidak suka berada di keramaian  , adiknya tidak bahagia dengan pesta itu, adiknya ingin bersembunyi dari perhatian yang mungkin ada.

Satu bagian di hatinya terasa sakit bila membandingkan adiknya di masa lalu dan sekarang… sangat jauh berbeda.

Sebelum kecelakaan itu merenggut kakinya, Choi Minho selalu tampil memukau di setiap pesta yang dikunjunginya, dia selalu menempatkan dirinya di tengah-tengah para sahabatnya  dan sangat menyukai hujan perhatian yang diberikan teman-temannya.

Kontras memang. Dan itu melukai semua orang yang mencintainya.

” Aku sudah ke pulau Jeju bulan kemarin, untuk menemui dokter Kwon. Dia menitipkan ini untukmu. Anyway, selamat ulang tahun Minho .”

Siwon mengangsurkan sebuah kotak yang telah dihias, kemudian merangkul tubuh adiknya .

” Aku tahu ini menyakitkan, tetapi  kuyakin kau akan bisa melaluinya. Kau kuat dan kau punya satu alasan berharga untuk tetap memperjuangkan masa depanmu. Itu semua yang dikatakan suster Sulli kepadamu di Jeju, bukan ?”

Mendengar nama Sulli disebut, Minho tertegun. Sekilas matanya memancarkan cahaya… tetapi kemudian redup kembali. Semua perubahan di wajah adiknya walaupun sedikit, tak luput dari pengamatan Siwon. Menyadari itu ada rasa sedih mencengkram batinnya, merasa gagal selaku kakak yang tak mampu membawa orang terakhir yang diharapkan bisa mengembalikan kepercayaan diri adiknya… membawa Suster Sulli ke hadapan Minho di hari ulang tahunnya.

” Suster Sulli…” Minho bergumam seolah diingatkan kembali pada masa-masa panjang di rumah sakit terpencil bersama seorang suster yang setia menemaninya.

” Tuhan akan mengganti yang hilang dengan sesuatu  yang baru.” katanya sebelum memberikan tepukan halus di bahu adiknya dan pergi.

Mungkin benar, Tuhan akan menggantikan yang hilang dengan sesuatu yang baru. Tetapi adakah yang bisa menggantikan sebelah kaki yang terpotong ? Kalaupun ada, tidak akan pernah sempurna.

” Tidak akan pernah sempurna….”

Minho mendesah, setetes air mata jatuh ke atas buku diary warna hitam yang digenggamnya. Suara hiruk pikuk pesta dari ruang utama terdengar sayup-sayup, merambat di udara Desember yang beku… yang demikian terasa dari taman samping tempatnya kini duduk menyendiri. Jemarinya terasa kaku, tetapi ia tak mau kembali ke ruangan itu untuk bergabung dengan tamu-tamunya.

” Desember selalu seperti begini setiap tahunnya, berulang dan berulang. Tapi mengapa Desember ini, dinginnya salju terasa begitu menggigit dan menyesakkan paru-paruku?”

Perlahan jemarinya yang panjang mengusap buku diary hitam pemberian Suster Sulli, ada rasa perih menggaris. Perih yang membekas dalam.

Choi Minho memejamkan matanya, membayangkan kembali senyuman lembut yang senantiasa menghiasi wajah cantik suster itu. Walaupun hanya dalam bayangan angan-angannya, senyuman itu menularkan kehangatan di dalam dirinya. Kehangatan yang tak pernah didapatkannya lagi semenjak kakinya menginjak Seoul kembali.

” Saeng-il chuka hamnida… saeng-il chuka hamnida…”

Suara bening dan berirama lembut membuat mata besar Choi Minho terentang lebar.

Ia menoleh ke arah sumber suara.

Tertegun.

Takjub.

” Saranghaneun Minho ui… saeng-il chuka hamnida “

Tanpa sadar Choi Minho bangkit dari duduknya, berjalan ke arah pemilik suara . Setengah berharap bahwa apa yang didengarnya hanyalah deru angin…. dipenuhi rasa takut bahwa apa yang dilihatnya hanya ilusi. Semakin dekat, dia semakin yakin bahwa sosok di hadapannya itu memang ada. Suara yang didengarnya itu memang nyata.

Setelah berdiri di hadapannya, dia perlahan membungkuk. Berusaha mensejajarkan pandangannya dengan mata bening indah yang terlihat berkilauan di bawah cahaya lampu. Bulu kuduknya serasa merinding, tetapi ia berusaha menekan rasa ngeri yang muncul perlahan-lahan.

” Siapa kau ?” suaranya bergetar.

” Yoo Jung imnida !”

” Yoo Jung ? Bagaimana…. bagaimana kau bisa berada di sini ?”

Perlahan tangan Minho terangkat dan membelai rambut gadis kecil yang berdiri di hadapannya. Gadis yang separo wajahnya rusak… dan ia bertanya-tanya dalam hati tentang gadis cilik itu.

” Siapa gadis kecil ini ? Mengapa berada di kebunku ? Anak siapakah dia ? Mengapa aku belum pernah melihatnya sebelum ini ? Dan mengapa wajah gadis kecil ini rusak ? Dia pasti gadis yang lucu, sebelum wajahnya rusak. Pasti seperti itu, aku bisa mendengar kelucuan dan keluguannya dari suaranya yang empuk dan jernih…”

 “Aku yang membawanya kemari, Tuan Minho.”

Deg !!!

Jantung Minho serasa berhenti berdetak sesaat, sebelum kemudian berdegup keras.

Suara itu….

Sapaan itu….

Ia berbalik cepat, tanpa menyadari keadaan fisiknya. Gerakannya yang tiba-tiba itu membuat keseimbangan tubuhnya hilang.

Wanita berbadan tinggi langsing yang tadi berdiri di bawah bayangan pohon segera menghambur dan berusaha menahan tubuhnya yang oleng.

” Hati-hati Tuan Minho !” wanita itu membantunya tegak kembali ,” Mari kubantu…”

Dengan lembut ia membetulkan penopang tubuh yang sering menemani Minho kemana pun.  Setelah Choi Minho bisa berdiri ajeg kembali, wajah wanita itu masih tetap menunduk.

“Suster Sulli…. ??”

Suara Minho terdengar bergetar lembut. Ada ketidakpercayaan…. ada kekagetan….ada kegembiraan… ada kesedihan… ada segala bentuk emosi yang tercampur aduk di dadanya, yang kemudian ikut tumpah dalam suaranya saat menyebutkan namanya . Dan itu sampai dengan benar ke telinga Sulli.

Sulli perlahan mengangkat pandangannya, yang dicarinya adalah mata besar Choi Minho. Mata yang dirindukannya selama berminggu-minggu. Selama perjalanan pandangannya menuju mata itu, ia bisa melihat seluruh gambaran luka dan kesedihan di wajah pria yang membuatnya pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Pria yang pernah tertawa dan menangis bersamanya. Dagu dan rahangnya  terpahat keras…. mungkinkah itu karena pahatan kekecewaan yang menempanya sesampai di Seoul ? Pipinya  terlihat tirus…. mungkinkah itu karena kikisan harga dirinya yang habis setelah menghadapi kenyataan hidup di udara Seoul ? Dan matanya… mata yang kosong dan menyimpan jarak…. Mata yang membuat dadanya sesak.

” Ya Tuhan…. benar kata Tuan Choi Siwon, Tuan Minho tak merasakan kebahagiaan di hari ulang tahunnya. Dia telah kehilangan harapan hidupnya…..” batin Sulli bergelut.

Tangan Sulli terangkat

Ragu-ragu dis meletakkan jemarinya di mata Choi Minho yang cekung…. turun ke pipinya yang kurus

Berhenti disana, seolah ingin memberikan kehangatan di kulitnya yang sedingin salju.

” Sulli….”

” Happy birthday…”

Suara Sulli parau tetapi bibirnya tersenyum… berusaha untuk tersenyum, walaupun kesedihan sudah mendesak di kerongkongannya. Dan ia tak bisa menahan air matanya lebih lama , ketika jari-jari Choi Minho menangkup jemarinya… membawa ke bibirnya dan menciumi telapak tangannya .

=======THE END======

.

Ada cinta yang tak perlu diucapkan, tetapi maknanya sedalam makna cinta itu sendiri.

Cinta hanya memahami satu bahasa yaitu bahasa hati, apa yang didengar telinga dan dilihat mata hanyalah aksesoris yang membuat cinta itu bisa dimengerti orang lain.

 

Advertisements

79 thoughts on “The lAst HoPe (4-END)

  1. omg…sedih gue baca ff ini…akhirnya minho sma sulli nyatu jugaaa,,,,,,,
    syang banget eon ff.y kependekan…..tetap lanjutkan ff yg lain eon….fightying !!!

  2. Hppy ending tp sedih gmna dong eon ???;( ;( ada sekuel gk eonni pen tw siaapa anak kecil itu apa hubungannya sma Ssul kenapa mukanya rusak dn msh bnyak bgt rasa penasaran ku eonni…. Jeballl sikuel juseyoooo ^^

  3. huaaaaa akhirnya minsul ketemu juga! :* :* : *
    itu anak kecil anaknya sulli eonni kah? ._.
    athor bikin sequelnya donk,masih agak gantung nih menurut aku! 😀
    fighting thor! ^^

  4. Minsullll So Sweet.. Ceritanya menggetarkan hati bgt eooni 😀 sukses lah buat Fear nya eooni 😀

    End nya juga nge feel bgtt..

    Stelah ini house for sale(kalau gak salah) yh eooni 😀

  5. Akhirnya minho ketemu sulli juga meskipun gak di oesta tapi dia bertemu di taman , ah betapa senangnya minho ketemu sulli 🙂 . Oh tapi anak kecil itu siapa ya eon ? Penasaran sebenernya hehe , eonni buat sequel ni kan mereka belum bersama tu di sequel nnt mereka di satuin ne eon jebal 😦

  6. yahh knpa cerita’a gantung?? 😦
    eonni… sequel’a dong plissss….
    trus muka’a yoo jung knpa rusak sebelah?? trus pnsran sama masa lalu’a sulli??

  7. I like happy ending tp kyknya masih gantung kurang mantap kalau bisa dikasih prolognya saeng soalnya blm mencritakan siapa gadis kecil itu apakah minho jdi nikah ama sulli gk dll itu hanya masukkan pendpt dri aku

  8. thor sequeeeeeeeeeeeel pengen tau kisah pahitnya ssul trus gmna bisa ssul sampe situ tentang anak yg mukanya ancur juga. aku request sequel ya thor

  9. Thor kurang panjang atuh itu pas ketemunya masa lalu sulli. Anak sulli atau gmna. Lom tau minho bajagianya gimana hejhehe banyak banget ya mau nya

  10. akhirnya sulli bisa berjumpa dengan minho. tapi sayang nih ff kok cepet banget tamatnya? padahal ceritanya bagus banget. eonni minta sequelnya donk akhir ceritanya masih membuatku penasaran !

  11. hhuuaa .. sangat mengharukan .. jadi minho dan sulli sudah sadar kalau mereka memiliki perasaan yang sama, saling cinta ?? wahh .. itu anak siapa, anaknya sulli ya ?? hhuuaa masih penasaran eon ..

  12. suka banget saa kata ini “Cinta hanya memahami satu bahasa yaitu bahasa hati, apa yang didengar telinga dan dilihat mata hanyalah aksesoris yang membuat cinta itu bisa dimengerti orang lain”
    aduh sambun lg dong thor masih tanggung….
    dan par yang ini seerti pendekkk..
    thorrr sequell dong😭

  13. Uwahhh akhirnya Ssul balik ke Ming. So sweet eonDin. Tapi kayaknya gantung. Epilog dong eon. Sekalian flashback anak kecil itu dan masa lalu sulli 😀 thanks for this amazing FF. Fighting eonDin 🙂

  14. akhirnya minho dan sulli bertemu, hanya sulli yg bisa buat minho semangat lagi. aku masih bingung ada gadis kecil di sini, apa hubungannya dia sama minho? apa dia anak sulli?
    eonnie masih agak gantung nih, tapi aku suka
    klo bisa ada sequelnya hehe

  15. Hiks 😥 😥 😥 😥 sumpah ff ini nyesek 😥 😥 😥 kasihan Minho 😥 😥 😥
    Tapi akhirnya Sulli muncul juga..ternyata mreka udah punya persaan suka sma suka :’-)
    Tapi endingnya gantung niih eonn..heheh
    Sequelnya dong eonni…heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s