Secret Admire Part 35

SA

Judul    :  SECRET ADMIRE

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli,Jung Krystal,Kim Jongin, Amber,Yoogeun,Minseo

Rated : 18 + THE LINK

Length : Chaptered

Genre : Romance, Friendship, Family

Mengagumi seseorang bisa menyenangkan, Mengagumi seseorang bisa menggembirakan, Mengagumi seseorang bisa membingungkan, Mengagumi seseorang bisa menyakitkan, Mengagumi seseorang bukan pilihan

SA 35  Aku, Pengagum Rahasiamu.

 

Sulli bergerak gelisah di ranjangnya, ia berusaha memejamkan mata tetapi sepertinya dalam beberapa hari ini dia tak bisa tertidur dengan mudah. Rasa ketakutan dan penasarannya tetang apa yang akan dibicarakan Mimho sebelum dia pergi mandi, membuatnya tak bisa mencegah dirinya untuk terus berfikir.

Apakah kasusnya berkembang ke arah yang lebih mengkhawatirkan dari sebelumnya ?

“Sepertinya begitu…. Kalau tidak, mengapa Minho terlihat begitu tegang dan gelisah ? Apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan ? Apakah aku harus mengontak Dambi eonni untuk lebih mengetahuinya ? Ya, mungkin sebaiknya begitu karena terkadang Minho tidak berterus terang kepadaku.” Pikir Sulli’” Ya, aku harus melakukannya sekarang sebelum hari menjadi terlalu malam.”

Dengan pemikiran begitu, Sulli mengeluarkan handphonenya dan menekan nomor Son Dambi, rekan Minho di CGI. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu, suara lembut Son Dambi membuat hatinya gembira.

“ Dambi eonni… ini Jinri.”

“ Ya, aku sudah tahu. Ada apa sayang ?”

“ Eonni,apakah kau tahu perkembangan kasusku di CGI ? Adakah informasi terbaru mengenai orang yang membuntutiku ? Adakah Minho mengatakan sesuatu ?”

“ Hey…hey sayang…. Tenang ! Ada apa sebenarnya ? Apakah Minho baik-baik saja ? Kedengarannya kau khawatir sekali.”

“Eonni, tadi siang Minho mendapat telepon di bandara. Dia di perjalanan langsung mendatangi CGI dan meninggalkan saudara sepupunya yang baru datang, padahal setahuku mereka sangat dekat.”

“ Apakah yang kau maksudkan Sang Woo oppa ?”

“ Benar.”

“ Lalu ?”

“ Aku berpikir, bila bukan karena masalah yang gawat… dia tak akan mungkin meninggalkan tamunya begitu saja.”

“Tetapi… apakah Minho sudah pulang sekarang ?”

“ Ya,tetapi dia tidak mengatakan apapun selain… baiklah, dia mengatakan orang gila itu berhasil lolos  dari pengamatan CGI.”

“ Jinri, sebenarnya apa yang ingin kau ketahui dariku ?”

“ Eonni, Minho sering menyembunyikan sesuatu tentang kasusku… padahal kurasa aku yang menjadi korban berhak untuk mengetahuinya.”

“ Baiklah, aku mengerti. Dengar, Minho setahuku sedang dalam proses melacak keberadaan Dae Hoo. Sayang sekali siang tadi aku tidak berada di kantor, aku sedang ke luar dengan suamiku. Tetapi besok aku ada di sana, untukmu aku akan memeriksa data laporan yang masuk dan pasti kukabari kalau ada yang penting. “

“ Terimakasih, eonni….maaf mengganggumu.”

“ Tidak sama sekali. Aku bisa mendengar kecemasan dalam suaramu sayang… yang penting Minho sudah ada di rumah. Kalau dia ada di sana berarti situasinya masih bisa dia tangani dengan baik. Kasus sepertimu sudah banyak dia selesaikan, jangan khawatir.”

“ Kasus sepertiku ?” Sulli tercekat, jantungnya berdebar kencang ,” Tetapi Minho bilang, dia belum pernah menyamar jadi suami seseorang sebelum ini.”

Sulli mendengar suara tertawa dari seberang, yang membuatnya mengerutkan alis.

“ Memang benar… baru pertama kalinya Minho menyamar jadi suami kliennya. Kami juga terkejut dengan langkahnya itu, karena dia paling menghindari melibatkan diri secara emosi dengan kliennya. Tetapi, aku percaya pada keputusannya. Bila dia memutuskan sesuatu, maka itu adalah yang terbaik menurutnya. Dan… kami tidak meragukan itu sedikitpun. Well, mungkin dalam kasusmu ada sesuatu yang membuatnya mengambil langkah ini.”

Sulli teringat kembali pada kesalahannya yang telah membuat kartu pos balasan kepada Dae Hoo yang mengabari kalau dirinya akan menikah. Itulah yang membuat Minho memutuskan melakukan pernikahan pura-pura dengannya.

“ Ya, kau memang benar. Minho pernah mengatakannya kepadaku. Maksudku, alasan-alasan mengapa dia melakukan langkah seperti ini. Eonni…”

Sulli menggigit bibirnya, bingung untuk mengungkapkan apa yang membuatnya gelisah dan ketakutan yang tak berujung.

“ Ya sayang ?”

“ CGI memiliki beberapa agen yang saling mendukung dalam tugasnya. Ini kulihat… bila Minho tak ada di rumah, maka temannya akan berjaga di luar untuk melindungiku.”

“ Itu memang benar.”

“ Tetapi…. Apakah… apakah ada yang melindungi agen CGI bila mereka sedang bertugas dan menghadapi kasus yang pelik ?”

“ Agen CGI bekerja untuk melindungi orang lain, Jinri. Tentu saja sebelum dia mampu melakukan itu, berarti dia harus mampu melindungi dirinya sendiri bukan ?”

“Aku tahu kau benar. Tetapi apakah mereka juga saling melindungi dengan sesama rekannya ? Aku hanya berpikir… bukankah pekerjaan itu bisa membuat nyawa dan keselamatan mereka terancam ?”

“ Aku tahu kau mencemaskan Minho. Kau jangan takut, kami di sini sering bercanda bahwa di antara agen CGI yang ada, Minho adalah yang paling bisa melindungi dirinya sendiri. Dan, mereka…agen-agen CGI tahu kapan harus merapat atau menjauh dari kasus rekan sesama agency. Kau tenanglah, suamiku tak akan tinggal diam bila ada sesuatu yang mengancam suamimu. Oke ?”

“ Nae, eonni. Terimakasih . Selamat malam.”

“ Selamat malam. Eh, sebentar Jinri… aku ingin membicarakan ini denganmu sejak awal. Tentang Minho…”

“ Ya ?”

“ Minho itu…. Dia selalu ingin terlihat kuat dan keras, padahal dibalik penampilannya dia adalah pria yang lembut. Jadi jangan pernah tertipu dengan apa yang ditampilkannya padamu. Dia pria yang baik, kau aman bersamanya.”

‘ Saya tahu.”

“ Syukurlah. Aku hanya berharap kalian bisa cocok satu sama lain.”

“ Maaf ?”

“ Well, kalian tinggal dalam satu atap dengannya… untuk waktu yang tidak jelas. Jadi kalau kalian cocok, Minho bisa focus terhadap tugasnya. Eonni hanya berharap, kasusmu segera selesai dan kalian bisa menyelesaikan urusan yang masih tertunda.”

“ Urusan yang masih tertunda ? Apakah itu ?”

“ Err…. Tidak ada. Aku akan mengatakannya nanti setelah kasusmu selesai. Sekarang, yakinlah bahwa semuanya akan baik-baik saja , okay ?!!”

“ Nae eonni. Gomawo.”

“Cheonma. Selamat malam.”

“ Selamat malam.”

Sulli menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong, masih berpikir tentang kata-kata Son Dambi yang terakhir.

“Apakah urusan yang tertunda itu ? Apakah mengenai pembayaran ke CGI ?”

Tok tok tok …

Sulli terkejut.

“ Jinri, ini Minho.”

Mendengar suaranya, Sulli bergegas membuka pintu. Jantungnya berdetak cepat ketika melihat laki-laki yang mengganggu pikirannya beberapa menit yang lalu,berdiri dengan tampilan yang fresh.

“ Bisakah kita bicara ? Kau tidak akan tidur sekarang, bukan ?”

Minho berkata setengah berbisik, dan tanpa bertanya Sulli tahu mengapa dia melakukan itu. Tentunya Minho tak mau saudara sepupunya menaruh curiga.

“ Apakah kau mau kubuatkan kopi ?”

Sulli berkata dengan nada hangat, sementara matanya memberikan sinyal kepada Minho untuk mengikuti permainannya.

“ Kopi ?Umm… boleh juga.  “

Sulli menarik nafas lega  menyadari lelaki itu menangkap maksudnya.

“ Minho memang tanggap dan cepat masuk ke dalam situasi dengan benar. Son Dambi eonni benar, seharusnya aku tak mencemaskannya sama sekali. Instingnya yang tajam bisa melindunginya dari bahaya yang mengancam.”

“ Baiklah, aku segera kembali.”

Satu jam kemudian….

“Sseongnam ??” Sulli menatap pria di hadapannya dengan terkejut.

Minho mengangguk, wajahnya sukar dibaca.

“ Besok Sang Woo hyung akan kembali ke Seongnam. Kau akan ikut dengannya.”

“ Mengapa harus ?”

“ Ini hal terbaik sejauh yang bisa kupikirkan. Dae Hoo sekarang berkeliaran di Seoul tanpa terlacak keberadaannya. Dia bukan pria yang bodoh, aku sudah melihat beberapa CV yang dibuatnya sewaktu melamar ke perusahaan. Karenanya, selama beberapa jam dia bisa saja menggali informasi tentangku dan Jongno mungkin sudah kurang aman buatmu. Sementara Minhyuk tak bisa kujamin akan selalu standby di pos sebab sewaktu-waktu istrinya akan melahirkan. Kupikir Seongnam lebih menjanjikan…”

“Tetapi kau punya tim untuk itu, bukan ?”

“ Benar, aku sudah menyebar anggota timku di rumah nenekmu, di rumah amber, di kondo-mu. Dan dua personel ada di pusat control CGI. Karena mereka berjaga 24 jam, aku mengatur pergantian jadwal supaya mereka siap dan tidak kelelahan di lapangan. Bila istri Minhyuk hyung melahirkan, rumahku di Jongno mungkin akan kurang terawasi jadi..”

“ Baiklah, aku mengerti. Maaf bila aku terdengar egois… tetapi aku punya pekerjaan di sini…”

“ Kau akan mendapatkan surat ijin cuti besok. Mereka berjanji akan mengantarkannya via faksimili.”

Sulli tertegun, antara percaya dan tidak dengan apa yang didengarnya. Semakin hari dia semakin heran dengan kemudahan yang selalu didapatkan Minho bila dia menginginkannya.

 “ Siapakah Minho sebenarnya ? Mengapa dia memiliki akses yang begitu mudah ke setiap sudut yang tak mudah dijangkau? Sepertinya ada yang disembunyikannya selama ini…pasti ada sesuatu.”

“wae ?” Minho menatapnya tajam.

“ Aniya. Aku hanya heran, bagaimana kau bisa dengan mudah memintakan ijin cuti buatku ? Padahal cuti untuk pernikahanku baru selesai. Bagaimana perusahaan…”

“ Itu karena system Jinri. Aku berbicara dengan bosmu, dan menjelaskan kasus yang kau hadapi. Dan ia mengerti.”

“ Tidak mungkin….” Sangkal Sulli dalam hati, ia membayangkan wajah bosnya yang tidak ramah,” Membicarakan permohonan cuti kembali malam-malam begini dan hanya lewat telepon ? Tidak mungkin bosku dengan mudah memberikan ijin. Demikian pula dengan bos Amber. Kemudian mengurus tiket yang mendadak pada maskapai penerbangan, terus perijinan So Won dari sekolahnya. Kemudian pengadaan passport yang serba cepat. Tidak mungkin orang biasa bisa melakukannya dengan mudah. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Minho dariku maupun dari teman-temannya di CGI.”

“ Tetapi bila kau keberatan dengan pengaturan ini, aku akan mencoba memikirkan alternatif lain.”

Sulli tidak menjawab, akal sehatnya mengakui bahwa pengaturan yang dikatakan Minho memang merupakan salah satu solusi terbaik karena dengan tak usah mengawasinya berarti CGI lebih terkonsentrasi pada Dae Hoo. Itu berarti masalahnya juga akan cepat tuntas. Tetapi entah mengapa bagian dirinya yang terbesar menginginkan untuk tetap tinggal di sana, untuk bisa melihat kalau Minho akan baik-baik saja..

“ Jinri, aku bisa mengatur agar kau di sini bisa ditemani …”

“ Tidak. Aku akan ke Seongnam bersama abang sepupumu. Kebetulan dalam beberapa hari ke depan, kakakku Siwon akan kembali. Aku bisa tinggal dengannya bila dia sudah ada lagi di Seoul.”

“ Abangmu ?”

“ Ya, aku menerima surat yang mengatakan kalau dia dan isterinya akan segera pulang. Mungkin dengan kembalinya Siwon oppa, aku tidak akan terlalu membebanimu. Dan sandiwara yang kita lakukan ini bisa segera berakhir.”

Choi Minho diam-diam menarik nafas dalam-dalam, merasakan dengan jelas rasa pedih yang menusuk hatinya.

“ Semua memang akan berakhir, aku tahu itu. Tetapi, mengapa mendengar Jinri mengatakannya seolah gembira bila semuanya akan berakhir… membuatku merasa seperti ini ? Minho, apakah kau masih belum bisa menempatkan posisimu dengan benar dalam permainan ini ? Pada kenyataannya kau sekarang masih bujangan, tetapi mengapa hati dan pikiranmu bekerja seolah kau adalah seorang suami yang akan menghadapi proses perceraian yang tidak diinginkan ? Pernikahan itu tak pernah ada !!”

“Aku sudah pernah mengatakan bahwa aku tidak pernah menganggap klienku sebagai beban bagiku. Ini adalah sebagian resiko pekerjaan buatku, Jinri.”

“ Oh… jadi benar dugaanku kalau Minho selama ini menganggapku hanya sebagai kliennya. Sebagai salah satu resiko yang menyertai pekerjaannya… tidak lebih. Mungkin dengan keberadaanku di sini, aku menjadi beban yang dengan sopan tidak diakuinya. ”

“ Aku mengerti kalau kau melakukan ini, pasti dengan alasan yang benar. “ Sulli berdiri dari duduknya,” Baiklah, kalau begitu aku akan berkemas supaya besok bisa berangkat cepat.”

Setelah berkata begitu, Sulli ingin cepat-cepat berlalu dari hadapan Minho.   Dia tahu persis kalau mata Minho menatapnya dalam-dalam seolah ingin menyelami isi hatinya . Karenanya dengan gugup ia cepat-cepat berbalik untuk menghindari kemungkinan kalau dia bisa dengan jelas menangkap kegelisahan dan kemurungannya. Ia tak menyadari kalau semua itu membuatnya terlihat rapuh dan menyedihkan.

“ Jinri maaf, seharusnya kau berada di bawah pengawasanku langsung. Tetapi aku butuh bergerak cepat untuk menangkap orang itu, dan Sang Woo hyung adalah orang yang paling tepat untuk menggantikan posisiku. Aku tak bisa berbuat banyak…”

“ Tidak, kau telah berbuat banyak untukku…juga untuk sahabatku…untuk keluargaku. Semua itu seharusnya tidak dilakukan seorang investigator pada kliennya. Tetapi kau melakukannya tanpa….” Kata-katanya terdengar cepat dan kacau.

“ Jinri…” Suara Minho terdengar tegas namun lembut

Sulli tak melanjutkan kata-katanya, bingung dengan berbagai perasaan yang kini melanda hatinya.

“ Kau gugup.” Minho melanjutkan dan berjalan mendekatinya, sampai keduanya berdiri berhadapan, Kedua tangannya yang kokoh terangkat dan menggenggam bahunya.

“ Aku tahu kau ketakutan.”

Mata Sulli terangkat dan terperangkap dalam tatapannya.

“ Aku bersumpah untuk segera meringkus bajingan itu dan membuatmu kembali tersenyum…”

“” Eh… aku tidak apa-apa.”

“ Kau gemetar,” kata Minho, tubuhnya bergerak mendekat kemudian menarik Sulli ke dalam pelukannya.

Satu-satunya alasan Minho memeluk gadis yang terlihat rapuh di hadapannya adalah untuk memberikan ketentraman dan menghapus ketakutan di matanya. Tetapi perhitungannya sebagai seorang investigator kali ini jauh melenceng. Tubuh Jinri yang gemetar justru mendatangkan getaran lain dalam tubuhnya yang semakin lama semakin menggila. Dan pengalamannya sebagai pria dewasa tahu persis akan kemana sensasi ini membawanya.

 Rasa frustasi yang ditahannya selama berhari-hari seperti gumpalan kristal yang tiba-tiba meledak dan pecahannya tersebar kemana-mana. Minho mengumpat dalam hati, ketika dengan tak berdaya hidungnya menyesap wangi lembut shampoo yang menyeruak dari rambut Sulli. Wangi yang membuatnya tak bisa berfikir lebih jauh selain menikmatinya dan menginginkan lebih.

Yang terjadi selanjutnya seolah mengalir begitu saja.  Minho merengkuh wajah Sulli dengan kedua tangannya, kemudian menundukkan kepala dan mencium bibirnya dengan sepenuh perasaan. Semakin lama semakin dalam dan penuh gelora.

Samar-samar tercium wangi segar sabun mandi bercambur aroma bedak bayi dari tubuh Sulli,  membuat Minho semakin lupa diri. Perlahan-lahan dan ragu-ragu, kedua lengan Sulli terangkat dan memeluk lehernya. Sambil mengerang pelan, diraihnya gadis itu dan dipeluknya erat. Belum pernah ia merasakan  desakan sensasi yang seperti ini Begitu kuat dan menuntut.

Biasanya, Minho selalu memiliki kendali yang tinggi bila berhubungan dengan wanita. Ia selalu bisa menempatkan dirinya sebagai kekasih yang lembut dan sabar. Tapi kini gairahnya begitu meletup-letup. Lengan Sulli yang melingkari lehernya terasa keras seperti besi. Ia tahu  gadis ini juga memiliki gairah yang sama, walaupun sepertinya dia tidak berpengalaman dan ragu-ragu memperlihatkan emosinya.

“ Ya Tuhan, hanya kali ini saja aku melanggar batas-batas profesiku. Hanya sekali ini saja…”

Itulah akal sehat terakhir yang melintas di kepalanya sebelum dia pasrah dan menyerah pada insting primitifnya. Suara desahan lembut yang keluar dari bibir Sulli mendorong keberanian dalam dirinya.  Tangannya kini bergerak menikmati kelembutan yang tersembunyi di balik  baju tidurnya.  Dengan tak sabar bibir Minho meluncur ke leher Sulli, menghujaninya dengan ciuman-ciuman kecil yang menuntut, membuat tubuh wanita dalam dekapannya tergetar hebat.

“Sulli…” gumamnya tak jelas.

“ Minho !!”

Minho membawa wanita itu ke ranjangnya, tanpa melepaskan ciumannya. Dengan perlahan ia membaringkan Sulli di sana, kemudian ia berbaring di sisinya menikmati bagaimana wanita itu gemetar di bawah sentuhannya.

“Dia menginginkanku seperti aku juga menginginkannya.” Pikir Minho.

Kini tangannya bergerak pada kancing-kancing di baju tidurnya. Dan ia berani bersumpah kalau tangannya gemetar ketika membukai kancing-kancing itu. Hal yang tak pernah terjadi pada dirinya dengan wanita manapun.

Pst !!

Ruangan tiba-tiba berubah menjadi gelap.

“ Minho…” suara Sulli bergetar, tersadar dengan apa yang sedang berlangsung.

“ Aku senang mendengarmu memanggilku seperti ini …” geram Minho.

Dalam kegelapan Sulli bisa mendengar nafasnya yang memburu. Dalam kegelapan dia bisa merasakan bibirnya yang panas dan lidahnya yang lembab . Sulli menggigit bibirnya, mencoba mempertahankan kesadarannya dan menarik kembali akal sehatnya yang tadi sempat pergi entah ke mana.

“ Minho !!”

Sulli berusaha memperingatkannya sebelum semuanya terlanjur menjadi sebuah kesalahan. Badannya mulai bergerak menggeliat ingin membebaskan diri dari tubuh pria di atasnya. Dengan kekuatan yang tersisa ia mendorong pria yang mulai lupa tersebut hingga Minho terguling dan hampir terjatuh dari ranjang, namun karena ruangan yang gelap Sulli tidak bisa melihat hal tersebut. Ia dengan ngeri hanya bisa mendengar nafas Minho yang terengah-engah di sisinya. Nafasnya sendiri pun tersengal-sengal.

Sejenak keduanya tak bergerak, ruangan gelap tersebut hanya terisi  suara desah nafas yang tak beraturan.

“ Mianhe…”

Choi Minho akhirnya menemukan suaranya kembali. Setengah dari dirinya menyesali situasi yang berkembang. Sebagian dirinya yang lain berterimakasih pada ruangan yang gelap, yang bisa menyembunyikan wajahnya yang pasti terlihat memerah dan frustasi. Ya, dia frustasi dengan semua keadaan yang menyangkut dirinya dengan Jinri, dan dia bisa bertaruh kalau dalam keadaan terang benderang siapapun bisa membaca raut wajah seorang pria yang marah dan putus asa pada keadaan seperti yang sekarang dialaminya.

Suara ketukan di pintu mengejutkan keduanya, dan tiba-tiba mereka menyadari bahwa ada orang lain di rumah itu.

“ Minho, aku tidak menemukan saklar lampunya.”

Suara Sangwoo memberikan kekuatan baru buat Minho, hingga dia bangkit dan duduk di ranjangnya.

“ Aku segera ke luar hyung !” jawabnya, suaranya masih terdengar goyah.

Dalam kegelapan Minho berusaha melicinkan baju dan rambutnya, dengan lutut yang masih lemas dia meraba-raba dan berjalan ke arah pintu.

 ‘

Sulli Pov

“ Aku segera ke luar hyung.”

Kudengar suara Minho yang serak dan itu sudah cukup membuatku merinding. Dalam kegelapan aku mendengar dia bangkit dari tempat tidur, kemudian bergerak menjauh.

Tuhan, apa yang tadi terjadi ? Apa yang hampir terjadi ?

Aku telah diselamatkan lampu yang mendadak mati !!

Bila tidak, aku tak bisa menjamin kalau diriku bisa terbangun dari dunia asing itu. Dunia yang aku sendiri tak berani untuk membayangkannya.

Paboya Sulli !!

Ini semua tidak benar !

Ingat prinsip yang kau pegang selama ini !!

Hampir… Ya, hampir saja aku bercinta dengannya. Dengan pria yang kucintai tetapi yang terang-terangan mengatakan bahwa dia tidak bermaksud melakukannya. Ya, tentu saja dia tidak berniat bercinta karena apa yang terjadi tadi adalah luapan nafsu seorang pria yang mencari pemuasan.

 Aku ingat pernah membaca bahwa seorang pria bisa bercinta dengan siapapun tanpa melibatkan perasaan cinta di dalamnya. Dan Choi Minho hampir saja melakukan hal itu padaku.

Diam-diam aku bergidik.

Jijik pada diriku sendiri yang begitu lemah dalam sentuhannya.

Bagaimana  bila tadi lampu tidak padam, tentunya dia  tak akan tersadar untuk bisa menghentikannya..

Sakit dengan kenyataan bahwa cintaku selama ini hanya bertepuk sebelah tangan….

Marah karena aku tak bisa belajar dari pengalaman pahit di masa lalu….

Malu pada prinsip-prinsip yang kubanggakan di depan Amber…

Semua beraduk dalam diriku.

“ Tuhan masih sayang padaku…”

Tanpa sadar aku berucap di ruangan yang gelap dan kosong, suaraku terdengar bergetar. Mataku memanas, dan tanpa bisa kutahan air mata meluncur di pipiku.

“ Ya Tuhan…. Kau masih menyadarkanku di saat-saat terakhir. Sebab sekali aku bercinta dengannya, maka seumur hidup aku tak akan bisa terlepas darinya…”

Dengan tanganku yang masih gemetar, aku mengancingkan kembali baju dan bersumpah tak akan pernah lagi mengenakan baju dengan kancing bukaan depan di hadapannya.

“ Tidak akan lagi…”

Aku berusaha mengingatkan diriku sendiri karena bila terjadi hal yang kedua, mungkin tak akan ada yang bisa menyelamatkanku lagi.

End of Pov

Lampu dalam ruangan kembali menyala. Sulli mengumpulkan sisa-sisa tenaganya dan berusaha duduk. Sejenak ia termangu, syok dengan keadaan dirinya. Ia segera tegak berdiri ketika pintu kamar terbuka dan Minho melangkah masuk.

“ Jinri….”

Suara Minho mengambang di kamar.

Sulli tak berani mengangkat wajahnya, tak mampu memperlihatkan dirinya yang dalam keadaan rentan di hadapannya. Ia tak mau Minho membaca dirinya yang sekarang bagaikan sebuah buku yang terbuka di hadapannya.

Ujung matanya melihat ujung kaki pria itu yang berdiri lebih kurang 2 kaki darinya. Dengan gugup ia mundur selangkah.

“ Tidak usah meminta maaf, kita sama-sama telah bersalah. “ suara Sulli lebih menyerupai bisikan.

“ Kau… benar-benar telah membuatku seperti orang tolol. Mianhe. Aku tidak bermaksud…”

“ Aku tahu.” Potong Sulli, merasa enggan mendengar kenyataan yang mungkin akan menyakiti hatinya lebih dalam,” Sebaiknya aku merapikan diri dulu.”

Setelah berkata begitu ia berbalik menuju kamar mandi di kamar tersebut, meninggalkan Minho yang tertegun dan tak tahu harus berbuat apa. ketika berjalan tatapan Minho mengikuti gerakan gemulai tubuhnya yang makin menjauh. Ada sirat kepedihan dan kemarahan di wajahnya, yang hanya dia sendiri yang tahu mengapa bisa muncul perasaan-perasaan seperti itu terhadap Jinri. Wanita yang notabene adalah kliennya, yang seharusnya tidak terjadi dalam ranah profesionalisme sebuah pekerjaan. Minho memalingkan matanya dari sosok Sulli  dengan putus asa.

 “ Jadi beginikah rasanya mengagumi dan mencintai seseorang secara diam-diam  dan di saat bersamaan sangat sadar bahwa memiliki orang itu sangat tidak mungkin buatku ?”

Mata Minho kembali tertarik ke sosok Sulli yang sekarang menghilang di balik pintu yang tertutup.

“ Mengapa harus dia ? Klienku ? Mengapa harus sekarang , di saat aku masih menjadi agen rahasia Negara ini ? Mengapa dia harus datang sebelum aku bertemu dengan bagian masa laluku dan mengakhiri sumpahku di hadapannya ? “

Minho memejamkan matanya dengan wajah penuh emosi. Bayangan masa lalu berkelebat cepat di benaknya.

“Mungkinkah ini karma ?”

 

“ Tidak ada rasa sakit yang bisa mengalahkan rasa sakit seorang wanita selain dirinya tidak dipercaya oleh pria yang dicintainya. Aku tidak berani membayangkan bagaimana harga diri Sulli kau hancurkan dengan kata-kata kasarmu di hadapan orang banyak, Minho. Aku kecewa adikku sendiri melakukan itu pada Sulli. …“

Kata-kata kakaknya Hye Kyo terngiang kembali di telinganya sesaat setelah dia mendengar kabar tentang kejadian menghebohkan itu dari teman-teman tim basketnya. Minho masih ingat dengan jelas semua kemarahan yang harus diterimanya dari ibunya dan kakaknya, bahkan dari Yoogeun.  Karena Sulli. Gadis kutu buku yang diam-diam mencintainya.

“ Jadi kau benar noona, aku sudah merasakan apa yang dirasakan Sulli waktu itu . Ya, kini aku telah mengagumi seseorang secara diam-diam. Dan itu sama sekali tidak menyenangkan. Sangat tidak menyenangkan.”

 ‘

====== T B C =======

Hoah….. part mendebarkan…. 😀

Happy Sulliday !!!!

Keep Sulli in your heart, in your hope, in your dream…. Let’s be happy for Sulli 🙂

Happy birthday, giant baby…. Minho’s flower 🙂

Advertisements

103 thoughts on “Secret Admire Part 35

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s