Fear-10

fear2

Judul    :  FEAR

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli,Lee Sang Chu

Rated : 18 +

Length : Chaptered

Genre : Romance,Sad

Menyimpan apa yang dirasakan dan diinginkan di dalam hati , tak akan membuat orang lain mengerti. Kalau memang kau ingin orang mengerti dirimu, mulailah dengan mengatakan apa yang kau rasa dan fikirkan.

10Undangan Makan

.

Ada dua hal yang disimpulkan Sulli dari Choi Minho. Pertama, Choi Minho itu lembut dan penuh humor… satu hal yang tidak disadarinya sewaktu di Seoul. Dan kedua, Choi Minho itu sangat menarik… sesuatu yang disadarinya sejak di Seoul.

Sulli tersentak, kaget dengan jalan pikirannya sendiri. Ia mengakui dengan enggan bahwa dirinya mulai tertarik pada Choi Minho… entah sebagai atasan, teman, atau rekan kerja ?

Dan itu berbahaya !

Sangat berbahaya !!

Ia tidak ingin merasakan ketertarikan kepada pria manapun di dunia ini… apalagi kepada seorang Choi Minho yang dalam daftar riwayat hidupnya berjejer wanita yang dia tangkap dan di tendang seenaknya.

Tidak akan pernah !!

Selama ini dirinya telah hidup dalam batasan yang aman, dan ia cukup bahagia. Itu tidak akan dirusak oleh romantisme pribadinya terhadap pria tampan yang duduk di hadapannya ! Choi Minho adalah pria yang paling harus dihindarinya !!

“Semuanya akan baik-baik saja, Sulli .”

Sulli terkejut, entah apa yang dilihatnya dari dirinya hingga berbicara seperti itu. Kikuk Sulli mengaduk kopinya dan meminumnya sedikit, berusaha menertibkan pikirannya yang kacau balau. Setelah yakin dengan dirinya, Sulli berpaling kepada Minho, memandangnya dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.

“Maaf ?”

Suaranya mengandung pertanyaan, walaupun di dalam hatinya ia berharap agar pria di depannya tidak bisa menebak apa yang telah mengacaukan pikirannya tadi.

“Kau gelisah.” Kata Minho perlahan,” Tetapi itu bisa dimaklumi. Sekali lagi kuingatkan, semua akan baik-baik saja. Kau nanti akan mendapati anggota tim lainnya yang sangat mudah untuk diajak bergaul.”

Sulli menghirup lagi kopinya, sementara pikirannya mencerna kata-katanya. Dengan gerakan anggun ia menyimpan kembali cangkir kopinya ke piring tatakan, meletakkannya di meja, kemudian ia menegakkan tubuhnya dan melap bibirnya dengan serbet.

“Kuharap begitu.” Katanya tenang.

“ Sama seperti aku.” Suaranya terdengar agak keras, dan Sulli melihat sorot mata menatang di sana.

“ Tentu saja. Sepanjang ini, anda memang selalu berusaha menyenangkanku.”

Sulli menjaga wajahnya tetap tak berekspresi, tak ingin memperlihatkan bahwa kehadiran pria itu sangat memberi pengaruh padanya.

“Tentu saja.”

Minho mengulangi perkataan Sulli dan mengakhirinya dengan desahan panjang dan lembut, ketika berkata suaranya sedikit mengandung

“Katakan padaku, Sulli…. Apa yang harus kulakukan untuk menembus rintangan yang kau pasang di sekelilingmu ?”

Minho berdiri tanpa menunggu jawabannya, dan Sulli tak bisa berbuat lain selain mengikutinya . Ia menyimpulkan, pertanyaan tadi bukan untuk dijawab…atau sebaiknya tidak usah dijawab saja.

Setelah Minho membuka pintu mobil untuknya dan ia masuk, Sulli mengamati Minho sewaktu pria itu berjalan mengelilingi mobil. Rambut hitamnya begitu lebat, dan bergerak bebas karena tiupan angin. Baju yang dikenakannya sangat pas dengan kepribadiannya saat ini, maskulin sejati. Merupakan contoh nyata tokoh pria kota yang sukses…. Seperti seorang bintang film, mungkin, atau playboy sejati.

Hebat.

Semua yang menempel pada dirinya terlihat hebat.

“Sekarang kita memulai siksaanmu dengan perkenalan kepada anggota team.”

Sulli menoleh dan melihat senyum lembut penuh pengertian di wajahnya.

“Kau tidak perlu cemas, aku jamin mereka orang-orang yang menyenangkan.”

Sulli kembali melihat ke depan, pikirannya dipenuhi hal-hal yang mengacaukannya.

“Bagaimana reaksi Choi Minho apabila aku berterus terang bahwa ketegangan untuk pertemuan dan perkenalan dengan anggota tim tak berarti sama sekali bila dibandingkan dengan ketegangan yang kualami selama beberapa jam terakhir dengannya ?”

“aku akan memberitahu nama-nama mereka hingga kau akan merasa akrab dengan mereka ketika bertemu. Ada Lee Jinki, dia manajer produksiku dan kau akan banyak berurusan dengannya nanti. Kami memanggilnya Onew …tetapi ia juga sering disebut Dubu, panggilan masa kecilnya. Kemudian ada Kim Jonghyun , asisten Onew. Ada pasangan Kim Kibum dan Amber Liu, dua desainer terbaik dalam bisnis ini. Mereka meninggalkan pekerjaannya di Paris untuk datang dan bekerja untukku. Aku berhutang banyak pada kebaikan mereka. Kemudian sekretarisku Im Yoona, kau sudah berbicara dengannya di telepon. Dan Victoria Song … gadis keturunan China yang menjadi Public Relationship dalam tim kami.”

Sementara Minho terus berbicara, Sulli berjuang menjaga pikirannya agar terpusat pada isi pembicaraan. Tetapi fikirannya kembali kepada masalah apartemen yang ditempatinya. Ia berharap semoga salah satu anggota tim menempati apartemen yang sama dengan mereka. Selama makan siang tadi, mereka tidak membahas masalah tersebut. Saat Sulli mengangkat pembicaraan tentang itu, Minho hanya mengatakan tak ada alasan dasar orang akan berfikir macam-macam.

“Lagipula aku jarang tinggal di apartemen itu. Kalau aku sedang terdesak waktu dan ada keperluan lain di kantor sampai malam, aku baru tinggal di sana. Selebihnya, aku lebih suka menghabiskan waktuku di rumah danau. Aku butuh istirahat dan rumah danau merupakan tempat yang kusukai untuk menghabiskan waktu istirahat itu.”

Kalimat itu adalah kalimat pamungkas tentang pembicaraan mereka mengenai apartemen. Setelah itu Sulli tidak diberi kesempatan untuk protes atau bertanya lagi tentang hal yang sama.

.

Sulli berjalan dengan Choi Minho di sampingnya, mereka memasuki sebuah gedung di lantai empat dalam sebuah bangunan megah di pusat kota Jeju. Begitu memasuki ruangan yang Minho sebut kantor, ia terkejut. Bayangannya akan melihat meja berderet dengan komputer dan kertas menumpuk hilang begitu saja. Yang ia dapati adalah sebuah ruangan dengan sofa floral berwarna pastel. Ada televisi berukuran besar yang menempel di dinding. Sebuah meja kerja dari jati berwarna klasik, memenuhi satu sudut ruangan yang sangat luas itu.

Ada seorang wanita cantik dengan mengenakan celana jeans biru dan kemeja putih dengan model kerah V dan ujung kemejanya diikat di pinggang. Tubuhnya langsing dan sangat menawan. Ia segera berjalan menuju mereka dengan langkah seperti peragawati di atas catwalk.

‘Minho… akhirnya kau datang !”

Suaranya terdengar lembut dan merdu di telinga Sulli. Ia terkesiap ketika wanita itu mencium kedua pipi Minho tanpa canggung. Lalu matanya yang berbulu lentik menatap ke arah Sulli.

“ Dan… siapa lagi ini ?” katanya dengan cara menggoda Minho.

“ Choi Sulli. Kau sudah mengenalnya, kan ? Anggota terbaru tim kita.” Jawab Minho dengan senyumnya.

“Ah… rupanya anda yang membuatmu seperti ayam kehilangan induk, Minho ?”:

“ Yoona…!!” Suara Minho terdengar penuh peringatan, membuat Sulli berkerut keningnya.

“ Ah, ara…ara…” Yoona tertawa kecil memperlihatkan barisan giginya yang putih,” Well, selamat bergabung dengan tim kami, Choi Sulli. Saya Im Yoona yang pernah berbicara dengan anda di telepon, anda ingat ?”

Sulli menyambut uluran tangannya dengan gugup.

“ Annyeong, Sulli imnida…” katanya dengan membungkukkan badan 90 derajat.

Tiba-tiba Minho tertawa melihat tingkah Sulli, dan itu diikuti oleh wanita cantik tersebut. Sulli terkejut, ia sama sekali tak mengerti apakah dirinya telah salah bicara ? Dan yang membuatnya lebih terkejut, ia belum pernah melihat Choi Minho tertawa lepas seperti sekarang.

“ Jangan hiraukan dia. Mianhe…. kau tidak perlu terlalu resmi di sini. Oke, saya akan memanggilmu Sulli kalau begitu. Dan kau bisa memanggilku Yoona. Bagaimana perjalananmu, Sulli ?”

“ Menyenangkan, terimakasih.”

“ Yoona, yang lain dimana ?”

“Key dan Amber sedang ke tempat produksi. Tampaknya Vic, Jjong, dan Onew ada di ruang sebelah. Dan… Minho, aku sudah mendapat jadwal untuk pertemuanmu di Jepang. Aku sudah menyimpannya di ruanganmu. “

“ Yoona, maukah kau memanggilkan mereka ke kantorku ? “

“ Semua ?”

“Kecuali Key dan Amber. Aku akan memperkenalkan Sulli kepada mereka.”

“ Baiklah boss. Saya tinggal dahulu, Sulli. Senang karena akhirnya kau bergabung dengan kami.”

“ Ya, terimakasih.”

Setelah Yoona pergi, Minho mengajak Sulli memasuki ruang kerjanya. Dan kejutan lain menunggu Sulli. Ruangan kerja yang sangat simpel, lebih mirip ruang baca. Ada rak berisi buku-buku yang menempel pada satu dinding. Sebuah sofa berlapis kulit diletakkan di sisi lainnya. Kemudian meja kerja yang lebih kacil daripada meja sekretaris di luar, dan sebuah kursi berlapis kulit di belakangnya. Sepertinya Choi Minho tidak menerima tamunya di ruangan kerjanya.

Sulli duduk di sofa berbalut kulit itu, menatap atasannya dengan cemas, ingin tahu apa yang akan terjadi lebih lanjut. Tak berapa lama ia mendengar suara ketukan pintu, dan kemudian pintu terbuka lebar. Seorang wanita muda dengan tubuh seksi melangkah masuk, ia mengenakan rok pendek dengan bolero ketat berwarna merah menyala. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai, dan hanya dijepit dengan jepit rambut keperakan dengan bebatuan yang gemerlap berwarna senada boleronya. Cantik dan seksi. Itu kesan Sulli saat pertama melihatnya.

“ Rupanya Choi Minho tidak hanya mengoleksi pacar-pacar yang cantik, tetapi juga menempatkan wanita-wanita cantik sebagai anggota timnya. Dasar play boy !!” umpat Sulli dalam hati.

Di belakang wanita itu ada dua pria yang usianya tidak begitu jauh dari Minho. Yang satu berambut kecoklatan, Wajahnya terlihat ramah dan kekanak-kanakan sedangkan yang satunya berambut lrus hitam, dengan tampilan yang agak sinis. Kalau Sulli tidak berjumpa dengannya di sini, atau di tempat lain, mungkin ia akan beranggapan bahwa lelaki tersebut adalah atlit atau model, karena memiliki otot-otot yang terlihat menonjol di badannya.

“Ah guys… perkenalkan ini Choi Sulli, analis kimia, yang akan bergabung dengan tim kita. Dan Sulli, ia adalah Victoria Song, PR untuk perusahaan ini. Kemudian ia Lee Jinki, manajer produksi, dan ini Kim Jonghyun asisten manajer.”

Sulli mengulurkan tangan menyambut perkenalan itu, ia tak mau mengulangi kesalahan yang sama untuk ditertawakan Choi Minho seperti tadi.

“ Hem…kau selalu tahu menempatkan wanita cantik untuk menjadi anggota tim, Minho !”

Pria bernama Jonghyun itu berkomentar sambil meninju lengan bosnya. Sulli terbeliak melihatnya. Kalau itu terjadi di Seoul, maka bawahan seperti itu akan siap-siap mendapat pemecatan tanpa pesangon. Tetapi ia terdiam, dan mulai mengerti bagaimana hubungan akrab yang dulu pernah disinggung Choi Minho kepadanya, ketika dengan santai bosnya menepuk-nepuk pundakny

“Aku Onew, Sulli. Manajer paling tampan di tim ini. Aku singel dan sedang mencari calon isteri…. “

Sulli tersenyum dan entah kenapa ia merasa bisa menjalin hubungan akrab dengan pria ramah ini. Melihatnya, ia teringat pada Bae Yong Jun yang telah menyelamatkannya dari keterpurukan.

“ Dan aku Victoria, baru ada analis kimia perempuan yang bergabung di tim ini. Selamat Sulli, tak sembarangan Minho memilih partner kerja. Dan aku senang kau yang terpilih. Kuharap, kita bisa menjalin persahabatan di kantor ini dan di luar kantor juga .”

“Nae. Gomawo.” Kata Sulli dengan tersenyum.

“ Sudah, sudah !! Perkenalannya sudah cukup. Kupikir nanti Sulli akan bisa belajar sambil berjalan. Onew, karena kau manajernya…kuharap kau bisa menjelaskan secara lebih detil tentang tugas-tugasnya dalam tim.”

Apartemen Sulli, 3 bulan kemudian

Sulli menendang sandalnya ke sudut ruangan. Kemudian dengan malas ia membaringkan tubuhnya di sofa. Apartemen ini benar-benar menyenangkan, diam-diam ia berterimakasih karena Minho telah memilihkan apartemen ini untuknya. Ini merupakan tempat yang paling aman yang pernah dihuninya. Dan ketakutannya akan kecurigaan orang…seperti kata Minho, itu hanyalah ketakutan yang tidak beralasan.

Kemudian, rekan-rekan kerjanya adalah kelompok yang menyenangkan. Satu-satunya keluhan Sulli ,jika ia boleh mengatakannya, mereka terang-terangan memuja Choi Minho. Hanya saja dalam batasan suasana kerja tim. Choi Minho adalah sumber inspirasi tak berbatas. Walaupun benci untuk mengakuinya, Choi Minho adalah dinamo yang berujud manusia. Ia adalah atasan yang tak pernah meminta bawahannya memberikan komitmen atau kerja keras lebih dari komitmen dan kerja kerasnya sendiri dalam perusahaan. Ia adalah orang yang pertama tiba di kantor pada pagi hari, dan orang terakhir yang meninggalkan kantor. Teladan yang melelahkan, menegangkan, menakjubkan, mempesona, menghipnotis, dan—– sangat menggoda.

Sulli tersenyum sendiri membayangkan semua anggapannya selama di Seoul tentang Choi Minho lenyap tanpa ia bisa menahannya. Ketakutannya yang memalukan dan tidak berbukti. Sulli sudah mendengar semua gambaran dari magnet bernama Choi Minho itu. Dan ia harus setuju…mau tidak mau harus begitu. Minho adalah manusia unik dan susah mencari pembandingnya.

Dan hal yang paling memalukan bagi Sulli adalah hinggapnya kecurigaan bahwa Choi Minho melakukan kebaikan-kebaikan kepadanya karena ia tertarik kepadanya sebagai wanita. Pria itu jelas-jelas telah bersikap jujur ketika menyebutkan alasannya memilih apartemen untuknya, alasan kenyamanan dan efisiensi. Itu saja. Tak pernah sekalipun dalam 100 hari bekerja dengannya ia meletakkan satu jarinya pada tubuhnya di bagian manapun-di tempat yang salah. Dan bukan hanya itu, Sulli mulai menerima kenyataan yang mengejutkan bahwa ia mulai bisa melihat selera Choi Minho terhadap wanita.

Selama bergabung dengan tim, ia terpaksa harus mendengar kisah cinta Choi Minho dengan wanita-wanita pilihannya. Semacam bergosip di tempat kerja, tetapi yang menggosip adalah orang-orang terdekat yang memiliki akses lebih pada kehidupan pribadi Choi Minho. Kedengarannya, wanita selera Choi Minho adalah yang molek, halus, sdan…. mahal… yang terang-terangan memuja dirinya dan tanah tempatnya berjalan.

Kenapa tidak ? Sulli bertanya kepada diri sendiri dengan jujur. Choi Minho memang hebat, sempurna secara fisik, finansial, dan prilakunya tidak tercela…ataukah Sulli tidak melihatnya ?

Entahlah….

Tokyo, Jepang

Tokyo adalah kota yang hidup 24 jam dalam sehari. Itu adalah kesan yang didapatkan Choi Minho dari kunjungan bisnisnya ke sana. Tidak berbeda jauh dengan Seoul. Hanya kepalsuan yang dilihatnya di sekitarnya kini. Wajah-wajah ambisius dan penuh kelicikan berseliweran di depan matanya. Satu yang disukainya dari pebisnis Jepang. Mereka bermain jujur dan ulet. Dan ia sudah hampir seminggu berada di negeri Sakura tersebut, untuk membuat kontrak kerjasama yang lebih luas. Tiga hari kunjungannya ke Okinawa telah membuahkan sebuah kontrak kerja yang rumit. Sekarang ia ada di jamuan makan malam ini untuk memastikan kerjasama raksasanya dengan Mr. Kashiwabara. Dan seperti perjamuan makan malam lainnya, ia mulai merasa bosan….

BOSAN ??!!

Choi Minho terlonjak dari lamunannya. Benarkah ia merasa bosan dengan hal-hal seperti ini ? Kehidupan malam, minuman, wanita…. itu adalah bagian tak terpisahkan darinya bila ia jauh dari rumah, bila ia sedang berada di tengah kota megapolitan. Dirinya akan selalu merindukan Jeju, dimanapun ia berada. Ia selalu merindukan kedamaian yang ada di rumah danaunya. Tetapi kerinduannya untuk pulang kali ini, bukan karena rumah danau itu.

“Mr. Choi !”

Minho mengangkat matanya dan melihat seorang wanita dengan tubuh seksi berdiri di hadapannya. Senyumnya mengembang di bibirnya yang merah menyala.

“ Kau masih mengingatku ?”

Wanita tadi berjalan melenggok menuju sofa, kemudian duduk di sampingnya. Begitu duduk gaun malamnya yang terbelah memperlihatkan bentuk kakinya yang indah sampai ke tengah paha. Minho mengangkat alisnya, ia tidak biasa mengingat semua mantan kekasihnya, tetapi ia bukan laki-laki pelupa. Tentu saja ia masih mengingatnya, dirinya belum pikun.

“ tentu saja , Nona Kwon .” jawabnya dengan enggan.

 Sudah lama tidak berjumpa. Saya tidak mengira akan berjumpa dengan anda di sini.”

“Ya, saya juga.”

“ Sepertinya kita memang berjodoh…”

Minho tidak menjawab, ia menghirup minumannya perlahan…bertingkah seolah ia menikmati minumannya dan tak mau diganggu.

“ Saya kebetulan bermitra dengan Toyota, dan pihak Toyota yang mengundang saya untuk ada di sini. Kau tahu, kan…ayahku sudah mulai tua dan kurang focus dalam menjalankan bisnis ini.”

“ Ummm…”

Minho mengangguk, matanya menelusuri ruangan yang cukup ramai tersebut. Wajah-wajah serakah yang saling menjilat satu sama lain. Mungkinkah ini yang membuatnya cepat bosan ? Mungkinkah ini yang membuatnya jenuh berada di ruangan yang berisi manusia munafik semua… ah tidak, hampir semuanya. Karena ia masih melihat wajah kalem Mr. Kashiwabara yang selalu terlihat siaga. Lelaki itu selalu memandang orang lain dengan mata curiga. Mungkin karena lingkungan penjilat yang membentuknya seperti itu ?

‘ Minho…?”

“Ugh ! Ya..?”

Choi Minho memandang wanita di hadapannya dengan sedikit rasa bersalah.

“ Tampaknya kau tidak mendengar apa yang kukatakan.”

“ Maaf, saya memikirkan banyak hal. Apakah ada sesuatu yang anda katakan dan perlu saya ketahui ?”

“Owh, sungguh suatu kejutan kalau ada pria berfikir hal lain ketika berbicara dengan saya. Kau memang menarik, Minho !”

Minho menaikkan sedikit bibirnya, sementara dalam hati dia mengutuk habis, mengapa dulu dirinya bisa tertarik pada wanita seperti ini. Oh mungkin karena kecantikannya, ketenarannya, keindahan tubuhnya, komitmennya…. entah lah !

“ Bisa kutahu, dimana pikiranmu berada ? Jangan kau bilang pada pekerjaan, karena aku tahu itu akan sangat konyol bila kudengar dari mulut seorang Choi Minho. Aku sudah mengenalmu dengan sangat baik !”

“ Well, pikiranku berada di Korea….Jeju tepatnya !”

“ keluarga ? kekasih ?”

Minho tersenyum, “Karena kau mengatakan mengenalku sangat baik, kukira pertranyaan itu bisa kau jawab sendiri. Maaf Nona Kwon, saya harus berbicara sebentar dengan Mr. Kashiwabara. Annyeong !”

Minho meletakkan gelas minumannya kemudian berdiri.

“ Sebentar Minho, aku hanya mau mengatakan bahwa Tokyo malam ini sangat indah. Well, aku tadinya mengira bisa mengobrol denganmu lebih lama, mengingat makan malam ini mulai terasa berat dan membosankan. Tetapi…. tampaknya kau memang sedang mengejar target. Aku ada di kamar 615, jika kau butuh teman ngobrol.”

Minho meluruskan tubuhnya, dengan gerakan tenang ia melicinkan baju yang dikenakannya. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya berubah ketika ia berpaling kepada wanita tadi.

“ Kau tadi mengatakan mengenalku…. Kalau kau mengenalku dengan baik, kau tentu tahu…. bahwa aku paling tidak suka berlayar dengan menggunakan perahu yang sama untuk kedua kalinya. Kau memahami maksudku nona … Kwon Yuri ?” katanya dengan memberikan tekanan kepada namanya.

Wanita itu terlihat sangat terkejut, dan Choi Minho segera meninggalkannya.

Apa maksud wanita itu memberikan nomor kamar hotel kepadanya ?

Apakah ia mengundangnya untuk menghabiskan malam bersamanya di Tokyo ?

Adakah wanita yang demikian tolol memberikan sinyal yang begitu jelas dan vulgar kepada seorang pria ?

Minho berjalan mendekati buffet, ia mengambil segelas minuman lagi. Matanya yang bersinar tajam mengamati situasi dalam jamuan makan malam itu. Mr. Kashiwabara tampaknya tidak bisa didekati, tidak lebih dari empat orang penjilat yang sekarang berdiri mengelilinginya. Dan itu bisa sampai tengah malam.

“Hemh…apakah memungkinkan bagiku untuk keluar dan meninggalkan pesta ini ? Mungkin aku akan membuat suatu karangan deskripsi untuk Mr. Kashiwabara agar ia tidak mencabut tanda tangannya dari surat kontrak kami ?”

Tokyo agak hangat di musim panas. Choi Minho bersender pada pagar besi yang menjadi pembatas balkon hotel yang ditempatinya. Ia sudah meninggalkan jamuan makan malam itu 4 jam yang lalu, telah mandi air hangat, dan menghabiskan sebotol anggur. Tetapi rasa kantuk yang ditunggunya belum datang juga. Ingatannya melayang pada kelakuan Kwon Yuri di tempat pesta tadi. Sebelumnya ia adalah orang yang tidak betah duduk diam di dalam kamar, sisa malamnya akan dihabiskan deggan sangat menyenangkan. Tetapi selama enam hari di Jepang, tak membuat sedikitpun hasratnya untuk bermain wanita terbangkitkan. Ia lebih suka menonton televisi lokal dan istirahat di kamarnya.

Sesuatu telah terjadi pada dirinya. Pada gaya hidupnya yang mulai membosankan. Kalau melihat gaya hidupnya dulu, tak heran kwon Yuri menawarkan nomor kamar kepadanya. Karena ia tidak suka kesendirian di tengah kota megapolitan yang menjanjikan semua yang diinginkan pria.

“Akan tiba saatnya seorang wanita menjinakkan prilaku liarmu, Minho. Dan bila masa itu datang, maka apa yang kau inginkan sekarang tidak akan ada artinya lagi.”

Ucapan eommanya di telepon tiga hari yang lalu terngiang kembali di telinganya.

Choi Minho tertawa sinis….telah banyak wanita yang dikenalnya, tetapi ia belum menemukan wanita yang bisa membuatnya berhenti tertarik pada wanita lainnya. Dan ia pernah berfikir, kalau masa itu datang maka kesenangan adalah kata-kata terakhir yang akan dirasakannya. Ia tak mengira, justru kesenangan itu merupakan awal dari sebuah pengejaran.

Berapa lama ia tak melibatan diri dalam hubungan sekilas tanpa komitmen ? Sebulan ? Dua bulan ? Tiga bulan….ah, empat bulan sepuluh hari !!! Dan ternyata itu bisa dinikmatinya dengan menyibukkan diri pada proyek yang sedang dikembangkannya bersama timnya.

Teringat kepada timnya, ia teringat pada sosok Sulli. Perempuan yang pertama kali ditemukannya sedang mengendalikan kemarahan dengan tangan terkepal, wajah merah, dan mata yang….. keras dan dingin. Kemarahan murni seekor jeopardy yang terusik. Menakutkan, siap menyerang, tetapi anggun dan indah di saat yang bersamaan.

Dari seekor Jeopardy, ia menemukan Sulli ibarat kelinci yang pemalu dan penakut…yang merasa aman di tengah komunitasnya. Sebuah kontradiksi yang menarik. Dan ia menginginkan wanita itu menjadi kucing Persia yang akan meringkuk dan tenang dalam pelukannya.

Choi Minho tersenyum sendiri, merasa lucu dengan bayangannya.

Apapun yang diinginkannya dari seekor kucing Persia, menurut adiknya Krystal, adalah dengan membuat kucing merasa aman dan nyaman dulu di dekatnya. Dan itu sudah dilakukannya selama tiga bulan ini…. Berusaha membuat wanita itu merasa aman dan nyaman di dekatnya.

Tetapi apa yang diperolehnya ??

Tidak ada !!

Choi Minho memukul pagar besi dengan kesal. Ini adalah situasi terkonyol yang dihadapinya saat menginginkan wanita. Ia sudah sangat berhati-hati terhadapnya selama beberapa minggu terakhir, dengan harapan ia akan merasa lebih sedikit santai. Dan memang begitu dengan semua orang … kecuali dirinya !

Flash Back

Minho memasuki gedung apartemen dengan dua kotak besar pizza, ia baru menemukan sebuah retsoran yang menjual makanan ala amerika. Sebuah kejutan manis untuk timnya, karena omzet penjualan produksi melebihi target yang dicanangkan.

Saat kakinya memasuki ruang kantornya, ia melihat kosong. Dan ia yakin anggota timnya sedang berkumpul di ruang kerja Onew. Dengan langkah pasti ia menuju ke sana, tetapi langkahnya terhenti ketika menengar suara tawa dari arah ruang pertemuan. Ia berbelok ke arah kanan memasuki lorong menuju ruangan meeting. Dari jendela kaca ia melihat Yoona, Victoria , duduk di sofa . Sementara Jjong duduk di pegangan kursi di sebelah Victoria. Amber dan Sulli berdiri dekat meja tampak tertawa bersama Key dan Onew. Suasana kekeluargaan yang membuatnya selalu merindukan timnya.

Langkahnya tertahan, diam-diam ia melihat Sulli dari balik kaca dengan jantung berdegup kencang. Hari itu dia mengenakan celana katun putih yang menampilkan bentuk kakinya yang panjang, sebuah kemeja berwarna putih dengan leher V dan kancing atas yang terbuka, membuatnya benar-benar tampak seperti seekor angsa. Anggun dan menggemaskan.

Choi Minho tersenyum lembut melihat caranya tertawa, dan caranya mengibaskan rambutnya ke belakang.

Jarang sekali ia melihat Sulli terlihat begitu santai dan terbuka pada orang lain.

“Halo semua…. aku membawa kabar gembira !”

Minho mengacungkan pizza dan minuman kaleng yang dibawanya ke arah teman-temannya. Dan ia melihat ada keterkejutan berbeda di wajah Sulli … ya… berbeda dengan reaksi anggota tim yang lainnya.

Ada sesuatu yang menusuk dadanya, dan itu sangat menyakitkan …eh, menyinggung egonya. Instinknya sangat tajam, Minho meyakini itu dimiliki dirinya. Dan ia melihat Sulli seperti tiram yang tiba-tiba tertutup ketika melihatnya muncul di pintu. Kemarahan tiba-tiba mendesak ke lehernya.

“Omzet kita dua poin di atas target penjualan. Mari kita rayakan kesuksesan ini !!”

Minho menaruh kotak pizza dan minuman tersebut, yang segera di serbu oleh anggota timnya. Ia mengambil dua kaleng minuman dan memberikannya satu pada Sulli.

“ Ini berkat kau juga, Sulli. Sudah lama kami tidak mencapai omzet yang begitu besar. Kehadiranmu di perusahaanku benar-benar membawa hoki.”

“ Saya sangat gembira mendengarnya. Selamat kalau begitu.”

Sulli menerima minumannya, berjalan ke arah meja dan mengambil sepotong pizza dari kotak yang diberikan Amber. Dan yang membuat Minho jengkel adalah ketika ia menyimpan kembali kaleng yang diberikannya, dan menerima minuman kaleng lain yang diberikan Onew dalam keadaan sudah di buka. Dengan senyum gembira ia melakukan toast dengannya…..

Flash back end

chikusoo ! Sialan !! Ini sudah tiga bulan…. aku harus menembus benteng pertahanannya dengan cara yang biasa kulakukan ! Persetan dengan teori Krystal ! Persetan dengan teori eomma !! Jika tidak, tiga bulan akan sia-sia !” kutuknya pada diri sendiri.

Mata besarnya menatap langit tokyo yang tampak hitam tanpa bintang.

“ Ya Tuhan…. aku tidak melihat kesalahan dalam diriku terhadapnya, tetapi mengapa dia sangat sukar diterobos dengan semua yang sudah kulakukan ?” geramnya dengan putus asa.

Jeju, Seoul

Sulli melihat kalender di meja kerjanya dengan tercengang. Ia tak mengira waktu akan berjalan secepat itu, bahkan ia tak merasakannya sama sekali. Hari ini adalah hari terakhir dari tiga bulan kontrak kerjanya di CMTI. Dan mulai besok, ia harus menerima kemungkinan terpahit dikembalikan ke Seoul .

“Eonni, apakah Minho telah memberikan petunjuk tentang masa kontrakku ?”

“ Tidak. Ia tak pernah membicarakan tentang kontrak kerjamu. Mungkin bila ia pulang dari Jepang… kenapa ?”

‘ Aku harus tahu, setidaknya kalau sudah jelas aku bisa memutuskan apakah harus mulai mengepak barang-barangku ataukah tidak.”

“ Kau tunggu saja, jangan mengepak apapun…. kalaupun kontraknya selesai, Minho tak akan menyuruhmu pergi dari apartemen tanpa memberimu waktu untuk berkemas. Lagipula, biasanya Minho lebih suka menyampaikan masalah seperti ini secara personal.”

Yoona memakai bolero hitamnya, kemudian mengambil tasnya bersiap untuk pulang. Jam kerja mereka sudah berakhir seperempat jam yang lalu.

“Bagiku Ssul, keberadaanmu di sini benar-benar menyenangkan. Kau tidak seperti yang lain, tetapi aku nyaman kalau harus berjalan bersamamu di senja hari. Kupikir… aku belum memintamu untuk makan malam di rumahku. Pekerjaan di kantor akhir-akhir ini sangat padat. Bagaimana kalau kau nanti malam mampir ke rumah ? Hari ini Seung Gi ulang tahun. Ada beberapa keponakan yang akan datang …dan aku akan senang memperkenalkan kalian. Dua keponakanku sama tampannya seperti CEO kita…. hahaha .”
Kata Yoona dengan mengedipkan sebelah matanya.

“ Aku tak meragukan itu, bibinya saja sudah secantik kamu, eonni !”

“ Jadi kau akan datang pukul 8 nanti malam ?”

“ Aku akan menghubungimu lagi, semoga aku bisa…”

“ Ya, kuharap kau bisa…. baiklah aku pulang dulu, kutunggu kabar darimu, Ssul !!”

“ Ya, berhati-hatilah. Aku juga akan pulang setelah membereskan mejaku.”

.

.
Sulli berjalan memutari taman, ini adalah salah satu taman terindah di pusat kota. Dan sore ini ia menyempatkan diri duduk sebentar di sebuah bangku yang terletak dibawah sebuah pohon. Sebenarnya ia melewati taman ini setiap hari, tetapi jarang punya kesempatan sesantai hari ini. Biasanya ia selalu bergegas pulang bila Minho ada di Jeju….bukan untuk apa-apa, ia menghindari sebuah percakapan akrab berdua dengannya.

Tidak seperti di Seoul, taman akan selalu penuh menjelang senja. Di sini benar-benar tentram. Hanya ada beberapa anak kecil yang berlarian dengan bola pelastik di tangan. Kemudian ada segerombolan anak remaja yang sedang bermain gitar. Suara mereka yang pecah terdengar menggelikan di telinga Sulli. Mata Sulli terhenti sesaat pada sekelompok pria yang sudah tua, yang duduk-duduk sambil mengobrol dan minum kopi di teras sebuah kedai kopi, tidak jauh dari taman. Pikirannya jadi teringat kepada cerita Minho. Kalau tidak salah Minho pernah berkata bahwa ayahnya sangat senang duduk berkumpul dengan teman-temannya sambil minum kopi. Sulli tersenyum geli, membayangkan ayah Minho ada di antara pria tua itu.

Sebenarnya seperti apakah ayahnya ?

Apakah seperti Minho ?

Atau Minho lebih menyerupai ibunya ?

Orang tuanya pasti hebat… manusia yang terpilih , tak mungkin seorang Choi Minho terlahir dari orang tua sembarangan …. tidak seperti dirinya.

“Haish Sulli, jangan pernah membandingkan…. dan jangan membuat sore menyenangkan ini menjadi muram. Ini adalah sore musim panas di Jeju …dan mungkin akan menjadi musim panas terakhir bagimu … Jadi nikmatilah !!”

Aroma bau kota pada sore musim panas terasa kental di udara. Telinganya banyak mendengar obrolan penuh canda yang bersahabat, semangat untuk menikmati hidup terlihat melingkupi para pria berumur antara 70-80 tahuan itu. Walaupun telinganya tidak jelas dengan apa yang mereka bicarakan, Sulli mendapati dirinya ikut tersenyum ketika mereka tertawa serempak.

Sulli bersender di kursi taman, matanya menatap dedaunan yang bergoyang lembut tersentuh angin. Kehidupan ini sempurna, seharusnya ia menyadari itu berpuluh tahun yang lalu. Sulli tersenyum lembut, ia tetap bersyukur karena masih bisa menikmati kesempurnaan itu sekarang. Perlahan ia ,meregangkan tubuhnya, kemudian mendesah dan mengibaskan rambutnya ke belakang. Matahari masih cukup hangat membelai kulitnya dengan kehangatan yang samar-samar. Ia memejamkan matanya sejenak, bersyukur bahwa ia masih hidup dan bisa menikmati ketenangan seperti ini. Ketenangan yang tidak pernah didapatkannya di Seoul. Mungkin benar sebuah perubahan akan membuat banyak perubahan, waktu akan menjawab banyak pertanyaan . Dan ia tak menyesal telah memilih meninggalkan kota sibuk seperti Seoul, walaupun di tempatnya sekarang ia adalah orang asing. Ia tak menyesal telah menerima tawaran kerja seorang Choi Minho, walau ia pada awalnya menyangsikan niat baiknya.

“ Humm…sekarang ia ada di Jepang…dan itu sudah hampir seminggu. Ketika ia pulang nanti, mungkin nasibku di kota ini akan ditentukan. Aish….mengapa aku seperti merindukan kehadirannya ? CMTI tanpa Minho adalah tempat paling nyaman untuk bekerja. Tetapi satu relung di hatiku seperti menginginkan kehadirannya walaupun hanya sedetik dari dua puluh empat jam dalam sehari….” pikir Sulli.

.

.

Sulli perlahan membuka matanya kembali, Choi Minho sudah berdiri di hadapannya. Mata besarnya yang menakjubkan mengamati wajahnya dengan seksama, dan bibirnya menunjukkan kesenangan yang sulit ditafsirkan.

“ Kau lihat …semangat Jeju telah bekerja dalam dirimu…” katanya lembut.

“Choi Minho ???”

Sulli terduduk tegak, ia tadi berfikir bahwa yang dilihatnya hanyalah bayangannya saja. Tetapi ketika ia mendengar suaranya, baru ia sadar bahwa itu bukan hayalan.

Minho Pov

Saat tiba dari bandara, aku memutuskan langsung ke tempat kerja. Tetapi aku terpaksa ke apartemen dan memindahkan barang-barang yang kubawa dari Jepang ke sana. Aku tak mungkin membawanya ke kantor.

Setelah mandi dan menikmati secangkir kopi, aku memutuskan untuk berjalan ke tempat kerjaku, walaupun aku yakin tak akan mendapati anggota timku di sana. Jam kerja sudah berakhir sepuluh menit yang lalu.

“Sandong, apakah kau sudah melihat nona Choi masuk ke apartemennya ?”

Lelaki tambun itu berdiri dan melihat ke arahku, kemudian tersenyum lebar. Pipinya menenggelamkan matanya yang kecil.

“Belum. Mungkin dia pergi ke tempat lain dulu… eh, biasanya dia sudah sampai pada jam segini. Mungkin ia masih di jalan…”

“Uhm ya, saya akan ke kantor melihatnya. Dan ini, saya bawa sesuatu untukmu.”

Minho memberikan kantong kertas berisi oleh-oleh dari Jepang, yang diterima dengan gembira olehnya.

Mungkin benar, Sulli sedang dalam perjalanan. Dan ia akan terkejut melihat aku…pastinya. Bukankah aku mempercepat perjalananku ke Jepang ?. Kalaupun hasilnya tidak seperti yang kuharapkan, setidaknya aku punya dua perusahaan raksasa yang siap menampung produksi CMTI di Jepang. Tidak buruk.

Melewati taman kota, mataku tertarik pada sesosok wanita yang sedang dudk di bangku taman. Sepertinya aku mengenalinya…. benar saja.
Sulli…..

Aku berjalan ke balik pohon yang tumbuh dekat dengan tempatnya duduk, tampaknya ia tidak menyadari kehadiranku sama sekali.

Dia terkejut melihatku. Padahal detik sebelumnya aku hampir yakin bahwa matanya yang coklat menyiratkan kebahagiaan saat melihatku.

Sekarang wajahnya yang berkulit seputih porcelain menjadi memerah. Tanpa diperintah, jantungku langsung`berdegup kencang…apalagi ketika ia megibaskan rambutnya, kemudian tertawa, dan memejamkan matanya. Tanpa bisa kucegah, aku mendekatinya tanpa suara. Aku merindukan wanita ini dalam setiap detik yang kulalui di Jepang. Dan seperti bayangan yang ada dalam kepalaku, Sulli akan selalu tampak anggun dan lugu.

Aku berhenti di dekatnya, aku melihat pelupuk matanya bergerak-gerak, kemudian ada senyuman yang demikian lembut di wajahnya. Apakah ia sedang membayangkan sesuatu yang membuatnya terlihat begitu rapuh dan seakan bisa hancur bila kusentuh ?

Hidungnya mencuat ke atas, ada sebuah tahi lalat yang mempermanisnya. Alisnya melengkung sempurna, dan bulu matanya yang panjang… aku membayangkan bagaimana rasanya bila bulu mata itu bergerak-gerak di pipiku. Dan mulutnya yang mengundang dan berwarna kemerahan… bagaimana rasanya bila ada di mulutku ? Aish….Minho ! Kalau tidak sekarang, kau akan kehilangan kesempatanmu sama sekali !!

Tiba-tiba alisnya mengkerut, sepertinya dia akan membuka matanya. Dan sumpah, aku tak berani mengedipkan mataku sedetikpun…. aku tak mau kehilangan moment ini. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya bila ia melihatku…well, reaksi pertama adalah yang paling jujur…. itu yang dikatakan Kibum kepadaku tentang wanita. Dan aku ingin membuktikan teorinya itu.

Perlahan matanya terbuka, aku merasakan matanya langsung menatapku…tanpa berkedip, seperti aku melihat mimpi indah di matanya yang coklat. Tuhan…hanya dengan tatapannya saja, seluruh sel-sel ditubuhku menjadi hidup dan berdenyar.

“Kau lihat, semangat Jeju mulai hidup dalam dirimu.”

Aku berkata dengan pelan dan hati-hati, khawatir keindahan yang tadi kulihat akan hancur…dan benar saja, aku seolah melihat kuntum mawar yang akan mekar itu mendadak terkatup kembali. Tidak ada perbedaan antara sebelum aku pergi dan setelah aku pergi ke Jepang. Padahal diam-diam aku berharap ia akan merindukanku seperti kerinduan yang menyiksaku selama ini.

“ Choi Minho…”

Dia tampak terkejut, dan menegakkan posisi duduknya. Terlihat tegang dan siap meledak setiap saat.

Adakah yang salah dengan suaraku, dengan diriku ? Aigooo…. gadis ini benar-benar menguji kesabaranku.

Pov end

“Kufikir…kau masih di Jepang.” Kata Sulli dengan gugup.

“Oh…kalau begitu, mungkin rohku-lah yang sekarang  sedang bersamamu.” Goda Minho

“Maaf… aku memang konyol.” Kata Sulli cepat dengan wajah memerah,” tadi….”

“Aku tahu apa maksudmu.” Potong Minho cepat,” Aku sengaja mempercepat kunjunganku ke Jepang…”

Mata Minho menelusuri setiap bagian wajah Sulli dengan seksama, juga rambutnya yang tebal dan sebagian terbang tertiup angin.

“Dan bagiku kau tidak pernah konyol, Sulli…”

Sulli terkesiap…menatapnya bingung. Choi Minho terlihat sangat berbeda. Lelaki yang sekarang berdiri di hadapannya bukan jutawan dinamis, atau rekan kerja yang genius. Bukan pula pria necis penghuni penthouse apartemen yang ditinggalinya. Dan tidak seperti CEO playboy yang melegenda, dan sering dikabarkan menggandeng wanita yang berbeda-beda setiap minggunya. Lalu siapa dia sekarang ? Entahlah…. Sulli sendiri tidak tahu berhadapan dengan Choi Minho yang mana dirinya sekarang ini.

“ Aku….aku baru mau pulang ke apartemen. “ kata Sulli dengan nada goyah, “ Apakah anda…kau.. mau ke kantor ?”

Mata Choi Minho yang besar menyipit, menyimpan ekspresi yang tak terduga.

“ Diam-diam Sulli berharap aku memang sedang menuju kantor, dari suaranya kudengar seperti itu. Sialan !! Apa yang kau harapkan Minho ? Berharap dia menyambutmu dengan senyuman, kemudian memelukmu seperti seorang kekasih yang merasa kehilangan ? Pabo…pabo !! Sulli tetap Sulli yang kau temui di Seoul, Minho ! Tak ada perubahan sedikitpun darinya….bahkan di saat kau sibuk memikirkannya…mungkin ia sedang sibuk memikirkan cara untuk menghindarimu. Pabo…. betapa bodohnya aku ! Sialan !!”

Chikusoo !!”

Sebuah umpatan dalam bahasa yang tak dimengerti Sulli terdengar dari mulutnya yang mengetat. Tetapi Sulli yakin itu bukan kata-kata yang enak didengar… seandainya ia tahu artinya. Tetapi dari kilat mata dan rahangnya yang mengeras Sulli tahu, Minho sedang kesal. Tetapi… kesal karena apa ? Kesal kepada siapa ??

“ Tidak…. aku sedang tidak menuju kantor. Aku baru saja sampai dari Jepang. Dan aku ingin meregangkan kakiku, bersantai sedikit. Wajar bukan ?”

Choi Minho menjawab pertanyaan Sulli dengan kalimat yang santai dan perlahan, seolah ia mengatakan sesuatu yang tidak berarti sama sekali. Padahal kalimatnya itu cukup mengejutkan Sulli.

“Seorang Choi Minho bersantai ? Itu adalah satu sisi lain yang belum aku tahu….ataukah ini mala petaka lain yang menunggu untuk ditebak seperti biasa ?”

Kepala Sulli memikirkan jawaban yang sekiranya enak, tetapi tidak menunjukkan perhatian yang berlebihan, yang bisa membuat pria di hadapannya salah sangka.

“Tapi… err… kau tidak biasanya seperti itu …”

“ Seperti apa, Sulli ?”

“ Kau orang yang suka bekerja. Kau bukan tipe orang yang suka bersantai dan berleha-leha…”

Matanya yang bulat menatap Sulli lekat-lekat, ada kilatan dalam kedua bola matanya yang menjadi hitam pekat . Matanya terlihat sangat jernih, ketika mulutnya yang mengeras menjawab sinis.

“ Kau pikir aku robot …?”

Mengejutkan !! Sungguh mengejutkan…. tadinya Sulli mengira ia akan mendengar umpatan lain atau kata-kata yang menyimpan kemarahan. Tetapi sebaliknya, kata-katanya terdengar lembut dan merdu.

“ …Atau mesin ? Aku bukan mesin atau robot. Aku manusia biasa yang hidup dengan jantung yang berdenyut dan paru-paru yang bernafas.. Kalau kau menusukku, aku akan mengeluarkan darah seperti manusia lain …”

Nada suaranya yang tenang dan rendah itu tidak membuat Sulli tertipu, Ia bisa mendengar dengan baik… matanya bisa melihat dengan baik. Choi Minho kesal …ia sedang kesal kepada dirinya. Dan Sulli tidak menyalahkannya sama sekali. Mungkin kalimatnya telah menyinggung harga diri lelaki ini.

“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu.” Kata Sulli dengan rasa tidak enak.

“Kau bukan manusia yang pandai berbohong….” dia tersenyum tipis.

Sulli menarik nafas. Penilaian yang tepat ! Ia memang tidak suka kebohongan. Ia telah melihat apa yang dilakukan seseorang yang ahli berbohong saat usianya sepuluh tahun. Dan menjadi manusia pembohong bukan hal yang harus dibanggakan.

“ Well, kalau begitu selamat berjalan-jalan. Aku akan segera pulang ke apartemen.” Kata Sulli kemudian berdiri. Mencoba menghilangkan kegugupannya dengan meluruskan roknya yang terlipat.

“Aku berjalan ke arah sini karena aku tahu ini jalan yang akan kau lewati saat pulang kantor.”

Sulli merasa udara dingin menusuk tulang belakangnya yang langsung menegang. Matanya beralih pada wajah pria itu yang kini berdiri menjejerinya.

“ Aku tahu kau belum pulang dari Sandong.” Kata Minho pelan,” Aku punya undangan untukmu.”

“Undangan ?” Sulli waspada

Choi Minho tidak segera menjawab, tangannya perlahan terkepal menahan desakan rasa jengkel dan marah atas kecurigaan yang diperlihatkan Sulli kepadanya, ia berusaha berkata halus

“Ibuku mengundangmu makan malam. Aku sudah bercerita padanya tentang dirimu yang bergabung dalam tim kami. Dan eomma marah besar ketika tahu kau sebatang kara di pulau ini. Dia ingin memberimu makanan yang layak…. karena menurut ibuku makanan yang dijual di restoran dan kedai-kadai itu bukan makanan yang layak.”

Sebatang kara ? Memberi makanan yang layak ??

“Kau bercanda…” desis Sulli kesal.

“Mungkin sebagian kecil. Tetapi sebagian besar tidak.”

Jemari tangan Minho yang hangat bergerak dan mengangkat dagu Sulli, dan gerakan itu sangat mengagetkan Sulli. Karena kagetnya ia tak sempat berfikir untuk menghindar atau memalingkan wajahnya. Tetapi ini adalah sentuhan pertama sejak tiga bulan kebersamaan mereka di Jeju, dan sentuhan ringan itu mampu memberikan getaran hebat di lututnya yang tiba-tiba terasa lemas.

“ Undangan makan malam itu bukan guyonan, itu benar. Ibuku seorang yang sangat ramah dan pemurah. Dia terkejut ketika mengetahui seorang gadis dari kota megapolitan terkatung-katung tanpa teman di Jeju ini.”

“ Kuharap kau mengatakan bahwa itu adalah pilihanku sendiri, sehingga beliau akan mengerti.” Jawab Sulli kaku,” Sebenarnya ada undangan makan malam lain malam ini. Semacam undangan persahabatan… tetapi …entahlah, masih banyak yang harus kupelajari. Kau mungkin tidak tahu, aku belajar pada malam hari dan…aku tidur cepat supaya staminaku baik dan segar keesokan paginya.”

“Usaha yang patut dipuji.”

Sulli mendengar nada mengejek dari perkataannya.

“sangat patut dipuji.”

Minho menegaskan.Sulli menelan ludahnya, bingung dengan reaksi yang muncul dari pria di hadapannya.

“Seharusnya kau tidak mengejekku dengan usahaku, Choi Minho. Kau seharusnya bangga dengan usahaku, karena perusahaanmulah yang diuntungkan dengan kerja kerasku.” Pikir Sulli dengan kesal.

Ia memang sejak awal memasuki CMTI bertekad untuk berhasil dalam pekerjaannya, walaupun kerja kerasnya akan membunuhnya secara perlahan-lahan. Gagal di hadapan pria ini bukan pilihannya sama sekali !

“ Tolong sampaikan rasa terimakasihku kepada ibumu. Dan katakan kepadanya….”

“ Kau bisa mengatakannya sendiri saat makan malam bersamanya.”

Sulli terbengong “Apakah Minho mendengar perkataanku ? Apakah aku bicara kurang keras ? Ataukah kamu pura-pura bodoh dan tak mendengarku ?”

Sulli mengernyitkan alis, ia kembali merasakan ketidaknyamanan. Seperti kejadian tiga bulan ke belakang, saat lelaki ini mengajaknya makan malam dan tidak mau mendengar kata tidak. Rasa marah merasuki dadanya, kalau Choi Minho berpikir kali ini ia akan menurut, maka dia salah besar.

“Ibumu tidak mungkin mengharapkanku datang malam ini…” Sulli berusaha mencari alasan yang bijaksana,”Lagipula kau baru saja kembali dari jepang.”

“Aku meneleponnya saat dalam perjalanan pulang dan mengatakan kita akan datang pukul 8 malam ini.” Tegas Minho, matanya menyipit,” Dan dia kedengarannya sangat antusias.”

“Tetapi jam delapan…malam ini aku memiliki undangan makan malam.”

“Undangan dari Yoona ? Benarkah begitu ?”

Sulli ingin berbohong sementara ia mengamati pria itu dengan mata terbelalak. Tapi Minho benar, ia tidak pandai berbohong. Tetapi menerima undangan yang tiba-tiba itu begitu saja… sepertinya terlalu mudah. Rasa ego Sulli terlukai.

“ Kau benar, tentu saja.” Katanya dengan nada sarkastis, “ Tetapi maksudku..aku tidak bisa pergi…”

Minho mencondongkan tubuhnya, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci darinya.

“…dengan tangan kosong…” kata Sulli dengan Suara yang nyaris tidak terdengar.

“ Kau bisa, tentu saja. Kalau kau ingin membawa sesuatu, ibuku suka sekali muffin coklat yang didalamnya ada lelehan coklat yang lembut. Muffin seperti itu hanya ada dijual di satu tempat, dan aku tahu tempatnya. Kita bisa mampir ke sana dalam perjalanan. Oke ?”

Minho memberi saran dengan nada ringan dan tersenyum, “ Ibuku penggila coklat…dan itu menurun pada anak-anaknya.”

“Tetapi undangan Yoona eonni…”

“ Aku bisa bicara kepadanya. Kita bisa mengucapkan selamat dan mengirimkan bunga kepada mereka. Umm… aku tahu satu jenis minuman yang disukai Seung Gi hyung. Mereka akan mengerti, kok !”

Sulli mengepalkan tangannya diam-diam, sebetulnya ia ingin bertanya kepada Minho apakah ia memang terbiasa membawa rekan kerja atau teman ke rumah orang tuanya untuk makan malam, tapi tidak jadi. Pria itu telah menjelaskan bahwa ibunya prihatin karena ia sebatang kara di Jeju, walaupun ada rasa tidak senang dengan julukan “sebatang kara” yang membuatnya teringat pada luka lamanya. Tetapi ia tak mau memperlihatkan hal itu padanya. Juga ia tak mau memperlihatkan kalau dia sempat memiliki kecurigaan atas undangan makan malam itu.

Sulli menunduk, ia berkali-kali mengingatkan dirinya ini hanyalah undangan seorang teman… bukan undangan kencan. Mungkin sikapnya yang langsung menolak, merupakan hal yang kurang sopan. Bagaimanapun ia harus bersikap hormat kepada orang tuanya Minho, kalau memang benar itu undangan darinya. Tetapi pasti benar, bukankah selama ini Choi Minho telah bersikap jujur dengan tawaran pekerjaannya itu ?

Choi Minho memperhatikan perubahan emosi yang ditunjukkan wanita di hadapannya dengan rasa tertarik yang disembunyikannya diam-diam. Ia seperti seorang ahli strategi perang, harus melihat celah yang bisa digunakannya untuk memukul perlawanan Sulli. Dan mendapatkan jawaban “ya” untuk nya.

“Umm… well, ibumu baik sekali…dan saya menghargai undangannya ..”

“ Kalau begitu aku bisa mengkonfirmasi ulang kepada ibuku bahwa kita akan datang pada jam delapan. Benarkah ?” desaknya.

Jelas sekali, tak ada kata “tidak” dalam kamus Choi minho bila itu berhubungan dengan wanita. Ia tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun, dengan memasukkan ide-idenya dengan cara mendesak.

Tiba-tiba, tangan Sulli digenggam olehnya. Sulli melihat dengan wajah kembali memerah.

“ Aku tahu Sulli, dari tadi kau berusaha menolak undangan ini.” Suaranya terdengar lembut dan mendayu,” Aku tahu, ini karena terlalu mengejutkan buatmu, Tetapi perlu kau ketahui, ini akan membuat ibuku senang. Dia senang bertemu orang-orang baru, senang bila masakannya bisa menyenangkan orang lain. Selain itu, kau akan bertemu dengan kedua adik perempuanku. Ji Yeon dan Soo Jung… mereka usianya tidak jauh darimu… kalian bisa menjadi teman.”

Sulli menatapnya tidak mengerti, ia sendiri sedang sibuk mengatasi debaran jantungnya yang semakin lama semakin kencang.

“Jadi, kita akan pulang dulu untuk berganti pakaian. Benar ?”

Sulli kaget ketika mendapati tangannya dibawanya dan diselipkan di lengan Choi Minho. Dan lelaki itu mengajaknya berjalan.

Konyolnya, Sulli sepertinya lupa bagaimana melangkahkan kaki yang satu di depan kaki yang lainnya. Sensasi aneh menggelitiknya, menjalar di sepanjang tulang belakangnya dan menyebabkan dirinya nyaris berjalan seperti robot.

Ia menyadari sekali keberadaan Choi Minho di sisinya, aroma parfumnya bahkan membuatnya sedikit melambung. Karena takut tersandung, ia berjalan dengan menunduk. Tetapi matanya terpancang pada langkah pria yang berada di sampingnya. Pahanya yang keras dan tubuhnya yang dominan membuat Sulli terperangah.

Mereka berjalan bersisian di atas trotoar yang berdebu. Kepanikannya tadi perlahan berubah menjadi kesenangan menggetarkan, saat Choi Minho mengajaknya terus berjalan tanpa melakukan aktivitas apapun yang menunjukkan kekurang ajaran … seperti menariknya lebih mendekat, atau menyentuhnya lebih intim. Sulli membayangkan, apa reaksi Choi Minho bila ia katakan dengan jujur bahwa ini adalah pertama kali dalam hidupnya, ia berjalan di taman dengan pria di sore musim panas yang cerah.

Mungkin dia akan tertawa terbahak-bahak.

Atau akan menahannya dengan menatapnya menggunakan tatapan setajam laser yang sering dimanfaatkannya dengan sukses dalam dunia bisnisnya. Sulli pernah melihat Choi Minho menghancurkan lawan bisnisnya dengan tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Tatapan yang mematikan.

Kwan Mun Hee (ayah angkatnya) mampu melakukan hal yang sama. Ia sering bersikap menawan dan mempesona, memanfaatkan wajahnya yang tampan dan sikapnya yang hangat untuk menyenangkan dirinya sendiri, untuk keuntungannya sendiri. Tapi Sulli sudah sering melihat pria itu membuat isterinya menangis. Biasanya ia akan bersikap diam dan tak bicara sepatahpun. Kwan Mun Hee ahli bersikap diam dan dingin, jika salah satu dari keluargamnya membuat kesal, menuntut orang lain memohon-mohon terlebih dahulu sebelum ia mau berkomunikasi lagi dengan mereka. Suatu keangkuhan dan rasa egois yang tinggi. Bahkan dengan keahlianya untuk membohongi mata dunia, ia telah menempatkan Sulli menjadi anak yang bersalah, kotor, dan patut dicurigai.

“Sulli ?”

Kesadaran Sulli kembali ke masa sekarang. Saat ia mendongak untuk menatap wajah Minho, ia melihat pria itu menunduk ke arahnya dengan ekspresi keras yang aneh. Ia baru menyadari , pasti Minho telah mengatakan sesuatu dan ia tak mendengar apa-apa karena tenggelam dalam lamunannya.

“ Ada apa ? Ada masalah ?”

Minho langkahnya terhenti, kemudian meletakkan tangannya di bahu Sulli dan memutar wanita itu agar berhadapan dengannya. Sulli tidak tahu wajahnya tampak seperti bagaimana, yang jelas telah membuat Minho terkejut.

“ Apakah ini karena kau akan bertemu dengan keluargaku ? Orang-orang baru yang….”

“Tidak…tidak, tentu saja !” kawab Sulli cepat dengan wajah merah matang.

“Lalu kenapa…Kau terlihat…”

Minho tak bisa mendeskripsikan apa yang sedang dilihatnya, ia tak menemukan kata-kata yang tepat yang bisa melukiskan itu semua.

Sulli tetap menatap Minho, merasa marah pada dirinya sendiri karena telah membiarkan dirinya legah, membiarkan kenangan pahit Kwan itu mengganggunya di siang bolong, walaupun itu hanya sesaat. Ia merasa aneh dengan kehangatan perhatian Minho yang membuatnya merasa demikian lemah, tetapi di saat yang bersamaan ia juga ingin melarikan diri dari itu semua.

Pandangan matanya mulai gelisah, keringat dingin terasa mulai meleleh di lehernya…ia benar-benar gelisah di bawah tatapan Minho.

“Aku…aku hanya sedang memikirkan seseorang.” Katanya pada akhirnya.

“Seseorang di masa lalu.” Tambahnya ketika ia menyadari kalau Minho masih menunggunya untuk bercerita.

Tetapi itu sudah lebih dari cukup buatnya, tubuhnya mulai bereaksi untuk melepaskan diri dari pengaruh Minho yang membuatnya tidak nyaman. Dan ia tahu, Minho merasakannya.

“Seorang pria ?”

========TBC========

Trimakasih untuk semua apresiasinya 🙂

Special thanks to  lessuli94 , choi96riski, disneytisa, narachoe,  rhayacantika8wp, wikapratiwi, alexander22792 for blog like ♥♥♥

 

Advertisements

100 thoughts on “Fear-10

  1. kehadiran sulli merubah kebiasaan minho secara perlahan tapi pasti. semoga saja minho bisa meninggalkan kebiasaan buruknya dan fokus sama perjuangannya untuk menembus banteng pertahanan sulli. fighting oppa…!!!
    next eonni ditunggu kelanjutannya !
    fighting and keep writing eonni !

  2. duhh,,knpa cobak di saat sdang brduaan mlah inget kjdian yg llu,,,ngerusak suasana saja,,, * maaf ya oen sull bkan mksud mnyalahkan oenni,,,
    minho sdah trbukti bahwa dia bnar” sdah tertarik sma sulli,,dan dia mncoba mndekati sulli,,,
    tinggal sulli nya noh yg msih berburuk sangka dan waspada. sma minho,,,
    eyo lah kpan kalian menyadari perasaan masing”,,,
    oenni pnsaran sma klnjutan kisah mreka brdua,,
    GOMAWO AND HWAITING

  3. Waaah sebegitunya ming oppa mendapatkan sull tpi sekarang kesabaran ming sdh habis malah pke rencananyq sendiri tuk dptin sull eonnn…..

  4. Ming ud berubah nih semenja kenal ssul:D bagus dehh, ssul bawa dampak baik buat hidup ming 😀
    kira2 ssul bakal cerita soal masa lalu nya ga yaa ke ming? Next eon (y)

  5. Ming ud berubah nih semenja kenal ssul:D bagus dehh, ssul bawa dampak baik buat hidup ming 😀
    kira2 ssul bakal cerita soal masa lalu nya ga yaa ke ming? Next eon (y);)

  6. Minppa berubah krn sulleon…
    Yeyeyeye 😀 sneng bgt dngernya…. 🙂

    faighting minppa,kau hrus bisa menembus bnteng pertahanan sulleon itu,kau hrus membuat’a jtuh hati….

  7. minho di jepang sangat merindukan sulli nie yee.. dan minho udah mulai berubah setelah mengenal sulli.. benar kata eomma minho akan datang seorang wanita yg akan merubah cara pandanganmu..
    apa eomma minho menundan sulli makan malam dirumahnya.. suatu yg bagus tuk menenal minho lebih jauh lagi dan menilai minho bagi keluaranya..
    ffnya seruuuuuu banget dan biki penasarraaaan…

  8. sesuai dengan judulnya, Sulli selalu dilimpahi ketakutan….

    belajarlah untuk membuka hati pada pria eonni, the past is a past and life must go on..

  9. sulli selalu menggingat masa lalu yg menyedihkan..

    Cie cie cie…
    Udh diundang makan malam aja nih sama ibunya minho..
    Lanjut min.

  10. Wow wow woww cieee ada yang diundang makan malam??? Bareng ibunya oppa lg.. Wah bener kata sull emang bosnya itu bak banget sampei ngundang pegawanya buat ketemu ibunya trus makan malam😄

    Lanjut eonn panjang banget ff yang ni.. Tp sukaaa

  11. Saengi…kasihan sekali
    Byang msa lalu sllu mgkutinya,,,
    Ming oppa mulai bosan dgn khdupan megapolitan yg brhub dgn du du du… 😛
    Aplgi pas dtg eon pnggoda,, not interestd.. Hahahaa
    Alsnny karena kehadiran seseorang yg sulit kau takluk oppa,, ^^
    Spertiny kt2 eomma ming oppa ada bnrny deh…dn akn trbukti,, hny sja ming oppa msih blum mnyadarinya
    Stdkny ming oppa harus extra lebiiih sabarr dlm pndktnny sm saengi dn saengi jg harus mngurangi brpikran buruk sm ming oppa,,
    Baru deh minsul bsa sma²..hee
    Yah,,,pndktn dgn kelurga spt eomma mgkin bs mmbntumu oppa
    Smoga saengi bs mrsakn knymanan dtngah kluargany ming oppa..
    Apa respon saengi ats prtnyaan ming oppa mngnai seseorg dmsa lalu ? Bgaimna jg reaksi ming oppa ats rspon yg akn saengi brikn? Trus undngan makn malam berlangsung sprti apa?
    Next part eon…hwaiting :-*

  12. hahah semangat minho. kau pasti bisa menghancurkan benteng sulli.. kayaknya ini langkah awal ya. udah ngajak main kerumah aja. hayo sulli jangan bnyak mikirin masa lalu,,

  13. Fix ! Dua2nya jatuh cintaaaaaa . Ahaaaay geregetan bacanya . Ming mau ngenalin sulli ke orang tua buat calon istri ya . Sull ayolah jangan bohongin diri sendiri terus , terus terang aja sama minho kenapa gugup terus . Hahahaha keren keren keren . Lanjuuut eon ^^

  14. ya tuhaannn .. sulli .. turut senang atas sentuhan pertama minho kepada dirimu selama tiga bulan ini .. 😀 semoga nanti sentuhannya akan lebih banyak .. aamiin .. wkwkwkka .. haduuhh kenapa harus ingat masa lalu d waktu yang tidak tepat ssul .. hhuhuu

  15. Udah 3 bulan aja sulli dijeju tpi masih belum mempan tuh jurus bang ming #Wkwkwkwkwk
    kasian bnget sih luh bang,playboy kok ditolak dan deng deng deng mulai panas tuh ming,bergeraklah dgn cepat bang dan langsung dikenalin ama ibu-nya,sweet deh pokoknya semangat yag bang buat dpetin sullinya,pertahanan sulli emang hebat deh
    makin seru nih konflik mreka

  16. Kenapa sikap sulli eoni kaya gini terusss.. Menyebalkan..
    Berubah lah sulli eoni jangan keras kepala terus, dan coba lah terbuka sedikit untuk minho oppa..
    Jangan mikirin masa lalu terus eoni..
    Aishhh jinja bikin greget aja baca ff nya dina eoni yang ini -_- 😀
    Lanjut eoni yang cepet ya update nyaa hehe 

  17. Cieee ming oppa udah ga sabar banget penen cepet dapetin sulli haha. Waduh di undang makan malam ama eommanya ming oppa? sulli tu cw oertama yg dibawa ketemu irg tuanya apa udah banyak cw yg digituin juga? Ah moola haha
    Udahla baby sull stop berfikiran yg engga engga tentang ming oppa, cobalah membuka hatimu buat makhluk sesempurna minho oppa :* hahaha

  18. Minho oppa makin ngga sabar nih buat deketin sulli eonni
    Ayo minho oppa pasti bisa deketin sulli eonni
    Minho oppa ngajakin sulli eonni ketemu eomma dan adik adiknya
    Semoga aja mereka tambah deket

  19. minho modusin suli mulu ni
    dan kayaknya sulli gk peka-peka atau memang sengaja gk peka 😀
    masa cuman rekan kerja tapi sampai mau di kenalin sama keluarga minho 😀

  20. Aiisshhh eon din…mian mian mian…aku bru muncul sekarang,,baru baca ff nya eon din…huhuhu aku ketinggalan jauh ini…
    eiittssss diatas ada yang modus yakkk…ciyee minho ciyeee…hahaha minho makin gencar aja deketin ssul kkkk… 😀 Kebiasaan deh minho…kehendaknya gak mau ditolak…hahaha iya deeehhh yang bos ya…. 🙂 😀
    eon din fighting…aku jg mau fighting baca fear eon din yang ketinggalan jauhhhh…hehehhe
    🙂 🙂 😀

  21. cieee yg lg di jepang tp kangen sulli :p
    ih yuri kasian banget dikacangin haha
    hmm, semoga ssul eonni bisa lbh terbuka sama ming oppa, oppa juga sadar kalo dia benar2 menyukai sulli, aduh gak sabar pengen liat moment romantis dua2 nyaaa hihi
    ok gomawo eonni, keep writing nee 😀

  22. aduh kasian banget sulli eonni pengen ngerasain juga kehangatan keluarga kayak minho oppa rasain 😦
    cieee sulli eonni jadi cewek pertama yang dibawa minho oppa ke keluarganya! :* 😀

  23. cieeee minho oppa mikirin sulli eonni terus tapi taunya waktu balik ke korea dicuekin sulli eonni cieee (?) XD
    cieeeee sulli diajak makan malam dirumah calon mertua cieee (?) XD

  24. Wiiii minho udah suka sama sulli nih kayaknya>< sukanya juga beda, kalo sama sulli tertariknya sampai berbulan-bulan. Kalo sama cewe lain itu tiap minggu ganti. Trus juga sulli kayaknya suka sama minho, tp tetep nentang aja karna masa lalunya

  25. Ciiieee..makan malam sma Ibu Mertua 😛
    Minho udah mulai berani yah 😛
    Cie MinSul saling merindukan niihh..wkwkwkkw

  26. minho mulai gregetan sama sulli,,mulai gg sbaran.. akhirnya mreka berdua ad kedektan berarti setidaknya sulli tdk menolak gandengan minho…omg sulli merusak suasana aj, knp hrus mengingat masa kelam..

  27. Wah wah..minho sudah berani2 pegang2 neng sulli..good job boy…tapi jangan mengusik kenangan pahitnya,bisa2 marah besar neng sulli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s