Dirty Little Secret [Bab 1]

dirty-little-secret

DIRTY LITTLE SECRET

By : Aliazalea

Main Cast : Choi Minho as Ben Barata – Choi Sulli as Jana Oetomo – Choi Sooyoung as Eva Barata – Jung Yoogeun as Erga Oetomo – Choi Sanee as Raka Oetomo

Genre : Romance / Sad/ Comedy

Rated : M [Dewasa]

Length : Chaptered

Summary : Sulli dan Minho berpisah selama 6 tahun, setelah Minho dengan sembrononya meminta Sulli untuk menggugurkan kandungannya. Tapi rupanya Minho tidak bisa melupakan satu-satunya wanita yang pernah dicintainya. Akhirnya dia pulang ke Korea dengan misi khusus, yaitu menemukan Sulli. Bayangkan bagaimana perasaan Minho ketika ia menemukan dua anak kembar, dengan replika mukanya , berumur 5 tahun ???

.

.

Bab 1

Let me know that I’ve done wrong

When I’ve known this all along

I go around a time or two

Just to waste my time with you

.

Sekali lagi Minho memfokuskan perhatiannya pada layar laptop di hadapannya, tapi ia mengalami masalah berkonsentrasi. Bintik-bintik keringat mulai bermunculan pada keningnya dan kaus yang dikenakannya sudah lembap dan lengket ke punggung. Tubuhnya yang hampir sepuluh tahun ini sudah terbiasa dengan suhu lebih dingin, mengalami masalah menyesuaikan diri dengan Seoul yang panasnya tengah pengalami perubahan cuaca gila-gilaan. Dia bisa saja masuk ke dalam rumah dan menyalakan AC, tapi dia menolak menjadi orang seperti itu.

Lima menit kemudian Minho menyerah setelah sadar keringatnya sudah menetes ke keyboard laptop. Ugh, gross!!! Buru-buru dilapnya keyboard itu dengan bagian bawah kausnya sebelum menutup laptop dan mendorongnya ke tengah meja. Diusapnya kedua matanya sambil mendesah panjang. Dia baru berada di Seoul selama seminggu, yang berarti bahwa masih ada tiga minggu lagi sebelum harus kembali ke Amerika. Itu berarti tiga minggu penuh dengan kepanasan, keringat yang sampai menetes ke mana-mana, dan mandi tiga kali sehari supaya tidak mabuk akan bau keringat sendiri.

Why, oh, why I here?” gumam Minho sambil menggunakan lengan kaus yang dikenakannya untuk menyeka keringat yang mengalir ke pelipis.

Oh right, because I’m an idiot, omel Minho dalam hati.

Seorang idiot yang masih stuck dengan wanita yang sudah tidak di temui selama enam tahun. Wanita yang sudah dihamilinya. Dan bukannya bertanggung jawab dengan menikahinya, dia malah meminta wanita itu menggugurkan kandungannya, hanya karena ia tidak siap menjadi seorang ayah. Yeah, bukan saja dia seorang idiot, tapi juga seorang “chicken” yang lari dari tanggung jawab. Dia masih ingat betul kejadian sore itu, ketika Sulli datang ke apartemennya untuk memberitahukan kehamilannya, yang kini dia sadari merupakan kejadian terpenting dalam hidupnya. And he screwed that up, bad

 

Flash Back

“You can’t be pregnant,” ucapnya tidak percaya,

“Yeaaaah… Apa yang kamu pikir akan terjadi saat kita have sex tanpa pengaman?” Minho tidak menghiraukan nada sinis Sulli, dan bertanya, “How far along are you?”

“Lima minggu”

Minho melakukan perhitungan di dalam kepalanya untuk mengingat tanggal yang tepat kapan benih bayi itu ditanamkan dalam rahim Sulli. Ketika dia mendapatkannya, dia langsung berkata dengan nada menuduh, “Tapi kamu bilang malam itu tak masalah, tubuh kamu lagi tidak fertile.”

“Tapi hitungan aku salah, karena sekarang aku hamil. Lagipula, hitungan itu pun tak sepenuhnya bisa dijadikan jaminan seratus persen.”

“Apaaa???!!! Kamu seharusnya bilang ke aku!!!”

Sulli menyedekapkan tangannya, tidak sabar. “Kamu lebih berpengalaman daripada aku tentang hal-hal seperti ini, jadi seharusnya kamu yang lebih tau.”

Minho mengangkat kedua tangannya dan menjalin jemarinya di belakang kepala. “Omo, aku tak percaya kau membiarkan ini terjadi,” geram Minho sambil mondar-mandir di depan Sulli.

“Apa? Membiar… Wait a second, are you blaming this on me???!!!” Suara Sulli langsung melengking begitu dia memahami tuduhan itu. “Apa kamu pikir perempuan bisa hamil sendiri?”

Untuk beberapa menit Minho tidak menjawab pertanyaan Sulli, hanya mondar-mandir bingung. Segala macam skenario hidup berkelebatan di kepalanya. Dalam sembilan bulan, dia akan masuk kantor sambil mendorong kereta bayi. Tatapan menghakimi yang diberikan rekan-rekan kerja kepadanya karena sudah punya anak pada usia muda padahal baru mulai kerja membuatnya panas-dingin. Dia baru berumur 22 tahun, for crying out loud. Masih seorang mahasiswa di universitas dengan masa depan terbentang cerah di hadapannya. Masih ada banyak hal yang ingin dia lakukan sebelum dia settle down, seperti bungee jumping di Hoover Dam, snorkeling di Great Barrier Reef, backpacking keliling Eropa, dan hal-hal lainnya yang hanya bisa dilakukan seseorang kalau mereka belum punya anak.

Lebih dari itu semua, dia tidak bisa membayangkan betapa marah dan kecewanya Appa dan Eomma begitu mereka tahu bahwa anak laki-laki meraka satu-satunya, harapan penerus nama keluarga yang sudah dikirim jauh-jauh ke Amerika untuk mendapatkan pendidikan terbaik, bukannya pulang ke negaranya dengan ijazah, justru dengan seorang pacar yang sedang mengandung. DAMN IT!!! This can’t be happening to me.

Ini sama sekali tidak ada dalam rencananya. Dia seharusnya lulus kuliah dengan cum laude, bekerja sebagai konsultan manajemen di salah satu kantor paling bonafide di Amerika dan baru setelah kariernya mapan, dia akan memikirkan pernikahan. Dia bisa melihat masa depannya satu per satu terlepas dari genggaman dan itu membuatnya panik.

Hanya ada satu solusi untuk ini semua. Bayi dan mencapai cita-cita tidak bisa hadir dalam hidupnya pada saat bersamaan. Dan karena dia tidak mungkin mengesampingkan masa depannya, maka satu-satunya jalan adalah untuk men-delete si “little fucker” yang memutuskan bahwa dia ingin hadir sekarang, bukannya sepuluh tahun lagi, dan menghancurkan kehidupannya. Dia hanya harus meyakinkan Sulli agar menyetujui rencananya ini.

Minho berhenti mondar-mandir dan menatap Sulli. “Ssul, kamu harus menggugurkan kandungan kamu,” ucapnya.

Sulli tidak langsung membalas, hanya menatapnya dengan mata terbelalak saking kagetnya.

Minho berlutut dihadapannya dan merangkum wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku tak mungkin bisa kerja dan mengurus bayi pada saat bersamaan. Dan kamu tahu sendiri kalau bayi itu perlu biaya. Biaya yang kita sama sekali belum memilikinya,” bujuk Minho.

Sulli menggigit bibirnya dan berkata pelan, “Kita bisa… bilang ke Mommy dan Daddyku.”

“Dan di marahi gila-gilaan?” potong Minho ketus.

“Ssul, ayolah, kamu tak mungkin senaif itu, kan? Mereka akan menggoreng kamu hidup- hidup kalau mereka tahu kamu hamil di luar nikah. Kamu bahkan tidak menceritakan tentang aku ke mereka.”

Minho kembali berdiri, memaksa Sulli mendongak agar mata mereka bertemu. Sulli terlihat siap menangis dan Minho, yang seumur hidupnya tidak pernah menyakiti wanita, ingin mengguncang bahu Sulli agar dia fokus pada dilema yang mereka sedang hadapi daripada tenggelam dalam emosi yang tak akan membantu sama sekali. God, help me!!!

Minho mencoba mengatur pernapasan dan emosinya sebelum berkata-kata lagi. “Ini jalan terbaik untuk kita berdua. Kita terlalu muda untuk punya anak. Aku belum siap menjadi Appa, Ssul. Dan aku yakin kalau kamu punya waktu untuk berpikir, kamu akan sadar kalau kamu juga belum siap jadi Eomma. Kamu harus memikirkan cita-cita kamu yang tidak akan jadi prioritas lagi dengan adanya anak ini.”

“Tapi aku mencintai anak ini. Ini anak kita. Hasil hubungan kita,” rengek Sulli.

Dan kesabaran Minho yang memang sudah tipis, habis sama sekali mendengar rengekan ini. Tanpa bisa mengontrol diri lagi, dia mulai meneriaki Sulli. “Bagaimana kamu bisa cinta sama dia???!!! Kalian bahkan belum bertemu. Oh, Ssul, bisa tidak kamu buka mata kamu? Ini…” Minho menunjuk perut Sulli, “Hanya kecelakaan. Our fuck-up yang seharusnya tak pernah ada!”

“I can’t believe you just called our baby that!” teriak Sulli.

“But it is a fuck-up. You and the baby are fuck-ups yang sekarang sedang berusaha menghancurkan hidupku!!!” Minho balas berteriak tidak kalah kerasnya.

Minho tahu omelannya sudah kelewat kasar ketika Sulli langsung bangun dari sofa dan dengan tergesa-gesa meraih ranselnya sebelum menuju pintu keluar.

“Ssul…” Minho berusaha menarik lengan Sulli

“Don’t touch me!” teriak Sulli sambil mengibaskan sentuhan Minho dan membuka pintu apartemen. Udara dingin langsung menerpa, tapi Sulli sepertinya tidak menyadarinya, karena dia tidak menggigil sama sekali.

“Baby, I’m sorry… I didn’t mean it.” Minho sekali lagi meraih lengan Sulli, yang kini menyentakkannya.

“Yes, you did.”

“Jinri, please….”

Sulli langsung berbalik lalu mendesis sambil menunjuk wajah Minho dengan jari telunjuknya.

“You think we’re fuck-ups? You know what? FUCK… YOU!”

Minho hanya bisa menatap Sulli dengan mulut menganga. Inilah pertama kalinya dia mendengar Sulli menyumpah. Sulli adalah jenis wanita pemalu dan selalu bertutur kata lembut. Satu kata yang tepat untuk menggambarkannya ketika dia pertama kali bertemu dengannya adalah innocent. Itulah kualitas yang membuat Minho tertarik dengannya, tapi lihatlah dia sekarang, menyumpah kiri-kanan.

God, Minho seharusnya tidak pernah menyentuhnya. Dia tahu dari awal bahwa dia, pria yang dikenal sebagai “man-whore” kampus karena sudah tidur dengan hampir setengah populasi murid perempuan, tidak berhak mendekati Sulli, tapi itu tidak menghentikannya dari menginginkan gadis itu. Dan lihatlah apa yang terjadi sekarang.

Belum sempat Minho menyela, Sulli sudah meneriakkan, “ We are done, Minho. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku.”

Dan itulah kata-kata terakhir kali dia berbicara sambil bertatap muka dengan Sulli. Berkali-kali dia berpikir bahwa kalau saja dia mengatasi masalah itu dengan lebih baik, maka Sulli mungkin masih berada di sisinya sekarang. Bagaimana mungkin dia dengan mudahnya menyalahkan Sulli atas apa yang terjadi? Dan dia sudah memanggil Sulli dan bayi mereka “fuck-ups”. Bagaimana mungkin dia bisa mengucapkan itu kepada orang yang dia cintai dengan sepenuh hatinya?

 

Flash Back end

“Uncle Minhoooo!!!” teriak Jinki, keponakannya yang berumur empat tahun. Jinki berlari kencang ke arahnya di atas dua kaki kecil, gendut, dan pendek. Tanpa undangan dia langsung loncat ke pangkuannya, seakan-akan tubuhnya trampoline. Ketika kaki Jinki dengan tidak sengaja menginjak barang berharganya, Minho langsung berteriak kesakitan. Detik selanjutnya dia melihat Eomma dan Sooyoung, kakaknya, setengah berlari menujunya.

“Minho?” Tanya Eomma khawatir, sedangkan Sooyoung menatapnya dengan sedikit bingung. Melihat unclenya meringis, Jinki bertanya, “Uncle Minho kenapa?” dengan nada prihatin.

Minho mengangkat tubuh Jinki dan mendudukkannya di kursi sebelah dan dia langsung menangkup testikelnya dengan dua tangan sambil membungkukkan tubuhnya. Dia mendengar Sooyoung bertanya apa yang telah terjadi, tapi dia hanya bisa mengangkat jari telunjuknya meminta satu menit.

He stepped… on… my balls,” jelas Minho akhirnya dengan sedikit terputus-putus.

Eomma dan Sooyoung langsung meledak tertawa dan Jinki celingukan bingung. “Kok ketawa? Sakit, tahu,”gerutu Minho yang setelah lima menit testikelnya masih nyut-nyutan. Bukannya mengasihani, tawa Eomma dan Sooyoung justru semakin keras.

“Ada apa ini ribut-ribut siang-siang begini?” sebuah suara berat terdengar. Melihat kakeknya muncul, Jinki langsung berlari menuju beliau sambil berteriak,

Abeojiiiiii,” dengan sangat antusias.

Ketika Jinki sudah cukup dekat, ia melompat dengan kepercayaan bahwa kakeknya akan menangkapnya, dan beliau memang melakukannya, lalu memutar-mutar cucu satu-satunya itu hingga kedua kaki Jinki melayang seperti ontang-anting.

Yeobo, berhati-hatilah, nanti punggungmu sakit lagi kalau mengangkat yang berat-berat,” Eomma mencoba mengingatkan suaminya.

“Hei, aku ini belum setua itu,” balas Appa, tapi dia berhenti memutar-mutar Jinki dan memutuskan untuk memeluk sambil memandikan berpuluh-puluh ciuman pada wajah cucunya. Melihat Appa begitu relaks dengan keluarganya, tidak akan ada yang percaya bahwa beliau adalah pengacara berpengalaman di Korea yang cukup disegani, bahkan ditakuti oleh banyak orang.

“Hihihi… geli. Abeoji belum cukur,” ucap Jinki disertai cekikikan dan mencoba menghindari ciuman Appa.

Puas telah menyiksa cucunya, Appa menurunkannya. Melihat Jinki berjalan ke arahnya, Minho segera berdiri. Testikelnya tidak akan bisa tahan kalau harus disiksa dua kali dalam satu hari ini. Melihat unclenya tidak lagi duduk, oleh karena itu tidak bisa dijadikan trampoline lagi, Jinki menuju neneknya.

Halmeoni, tebak, apa yang aku lalukan kemarin?” ucap Jinki sambil menarik tangan kanan neneknya dan perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam rumah.

Eomma terlihat berpikir sejenak lalu berkata, “Ngompol di celana?”

Andweeee,” teriak Jinki sambil tergelak. “Halmeoni, Jinki sudah besar. Masa masih ngompol.”

“Oh ya? Wah, pinter ya cucu Halmeoni.”

Appa mengikuti istri dan cucunya itu setelah menerima ciuman dari Sooyoung yang kemudian mendekati Minho untuk mencium pipinya. Minho pun melakukan hal yang sama kepadanya.

God, you’re so sweaty, Ming,” ucap Sooyoung sambil mengerutkan hidungnya.

Yeah I know, noona. Aku perlu ganti baju dulu sebelum makan siang,” jawab Minho.

“Sepertinya kamu harus mandi. Aku bisa pingsan nyium bau keringat kamu.”

I smell that bad?” Tanya Minho dengan wajah penuh horor dan dia menaikkan lengannya untuk mencium ketiaknya.

Yes. Dan kamu pun tak perlu mencium bau ketiak kamu di depanku, Ming. Jorok. Bisa pingsan aku,” balas Sooyong hanya untuk menggoda adiknya yang langsung permisi ke dalam rumah, dan menghilang menuju kamar tidurnya di lantai atas.

Sebetulnya aroma tubuh Minho baik-baik saja, seperti Polo Sport, cologne yang telah dia gunakan semenjak SMA, Sooyoung hanya suka mengganggu adiknya ini setiap kali ada kesempatan.

            ,

Setengah jam kemudian Minho muncul dengan kaus baru dan wajah fresh. Harus Sooyoung akui bahwa Minho adalah adiknya dan dia merasa berkewajiban memujinya. Tidak salah sama sekali. Selama ini dia sudah mendapat konfirmasi dari banyak orang tentang betapa gantengnya adiknya ini. Semenjak SMP dan garis-garis wajahnya lebih menonjol, Minho harus belajar menghadapi perhatian waniat yang berhamburan. Kepribadian ramah dan gampang diajak bicara juga menambahkan suatu aura yang membuat semua orang lain ingin dekat dengannya.

Semua itu berubah ketika dia SMA dan nama Appanya sebagai pengacara menjulang. Menurut Eomma, Minho menjadi lebih pendiam dan sangat berhati-hati dalam bergaul karena takut orang hanya akan mau bergaul dengannya karena dia anaknya Choi Yun Gyeom. Sifat ketidakpercayaan Minho terhadap orang sedikit lebih relaks dan happy di sana. Untuk pertama kalinya Sooyoung menemukan keramahan Minho waktu SMP kembali lagi. Jadi kenapa sampai saat ini ia masih juga belum menikah? Seingat Sooyoung, Minho bahkan tidak pernah mengenalkan seorang pacar pun kepada keluarganya.

Merasa agak sedikit khawatir, Sooyoung akhirnya menanyakan hal ini kepadanya beberapa tahun yang lalu waktu ia mengunjungi Minho di Chicago.

 

Flash Back on

So tell me, anything interesting going on in your life?” Tanya Sooyoung sambil mengaduk-aduk campuran lettuce, paprika, dan beberapa buah olive dengan dua spatula kayu.

“Tak ada yang menarik, just normal. As usual,” balas Minho sambil membalik dada ayam tanpa kulit diatas panggangan.

Sooyoung melirik adiknya yang berusaha sebisa mungkin tidak menatapnya. Semenjak tiba lebih dari dua minggu yang lalu, Sooyoung mendapati perubahan pada diri Minho. Dia jauh lebih serius, bahkan terlalu serius. Jadwal harian Minho penuh dengan kerja, kerja, dan kerja lagi. Bahkan pada akhir minggu Sooyoung menemukannya duduk di sofa ruang tamu dengan TV yang volumenya di-mute dan tatapannya menempel pada laptop dipangkuannya.

“By the way, noona sudah di sini dua minggu, tapi kau belum mengenalkan noona dengan pacarmu?” pancing Sooyoung sambil memercikkan merica ke salad.

Minho mendengus.”Don’t have one.”

“Oh, come on, how is that possible? Kamu tampan, punya kerjaan yang mapan, lagi. Apa lagi yang kurang? Unless you’re gay.”

Sooyoung yakin Minho bukan Gay, karena ia menemukan majalah playboy di kamar tidurnya ketika dia masuk ke sana beberapa hari yang lalu untuk membersihkannya, tapi bisa saja kan dia salah. Banyak laki-laki gay yang tidak terlihat gay sama sekali.

Dengan sangat hati-hati, Sooyoung berbisik, ”Are you gay? Karena jika memang benar kamu gay, kamu tahu Minho-ya, kamu selalu bisa share ke noona? Noona tidak masalah dengan penyimpangan orientasi sex kamu, whatever that is. Kamu bisa suka perempuan atau laki-laki, atau dua-duanya, noona tidak peduli, noona akan tetap support kamu.”

“Aku bukan gay!!!” teriak Minho dengan penuh ketersinggungan.

“Jadi kenapa kamu masih juga belum punya istri?”

“Karena aku belum bertemu dengan yang cocok, oke?”

“But, you are meeting women right?”

“What’s with all the questions?” Minho balik bertanya sambil membuka lemari es dan menuangkan air putih ke dalam dua gelas sebelum menawarkan satu kepada Sooyoung.

“Noona selalu memperhatikan kegiatan kamu sehari-hari. Dan yang kamu kerjakan hanya kerja, kerja, dan kerja.“ Sooyoung meminum seteguk air putihnya.

“Ada pekerjaan besar yang sedang aku kerjakan, noon. Dan kalau berhasil, aku akan naik jabatan di kantor.”

“Tapi apa perlu kamu sampai terobsesi begitu? Dan biasanya hanya ada dua alasan kenapa orang terobsesi dengan pekerjaan mereka. Pertama, karena mereka mencoba membuktikan sesuatu, dan yang kedua, karena mereka mencoba melarikan diri dari sesuatu.”

Sejenak Minho kelihatan memikirkan kata-kata Sooyoung, kemudian berkata, “Aku masuk ke dalam kategori yang mana?”

“Yang kedua,” jawab Sooyoung pasti.

Minho mendengus. “Trust me, aku sama sekali tidak melarikan diri dari apapun.”

“I think you are. I mean, just look at you…”

“What’s wrong with me?”

“Everything. Kapan terakhir kali kamu in a committed relationship dengan seseorang wanita?”

Tanpa pikir panjang Minho menjawab, “Sekitar setahun yang lalu.”

“Really?” Sooyoung betul-betul terkejut mendengarnya. Minho mengangguk lalu menenggak habis air putihnya. “What happened?” lanjut Sooyoung.

Sambil tersenyum kecut, Minho menjawab, “Dia lelah menungguku melamar dia. Beberapa bulan yang lalu aku diundang ke pesta pernikahannya dengan seorang pengusaha dari Alabama.”

“That’s fast,” gumam Sooyoung.

“No, not really. Kalau memang sudah bertemu dengan yang cocok, kenapa harus menunggu lagi?”

“Berapa lama kamu pacaran dengan dia?”

“Beberapa bulan.” Minho mengangkat dada ayam yang sudah matang dari bakaran dan meletakkannya ke atas dua piring makan.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita tentang dia ke noona?” Sooyoung mengangkat baskom besar berisi salad mereka dan berjalan menuju meja makan.

“Karena aku tidak ada rencana untuk melamar dia,” jawab Minho ambil mengangkat dua piring yang penuh dengan makan malam mereka dan mengikuti Sooyoung.

“Apa kamu pernah bertemu wanita yang mau kamu ajak bertemu keluarga kamu?” Sooyoung duduk di kursi makan dan menghadap Minho yang kelihatan sedang berkonsentrasi. Sooyoung pikir dia akan berkata “Ya”, Tapi yang keluar justru, “Tidak.”

FlashBack End

Sooyoung mengerutkan dahinya mengingat pembicaraan itu. Dia selalu ingin tahu siapa yang terlintas di kepala Minho pada saat itu, sebelum dia memutuskan mengatakan”Tidak”. Pikirannya buyar pada detik itu karena Minho sudah berdiri di hadapannya, membuatnya sadar bahwa rambut Minho agak basah. Tanpa bisa mengontrol diri dia sudah cekikikan. Minho langsung mengerutkan dahi dan ketika sadar bahwa Sooyoung sudah mengerjainya dengan berbohong mengenai bau badannya, dia mendesis, “I will make you pay for this.”

Oh, come on Ming, don’t be mad. Noona hanya bercanda, noona tak menyangka kamu akan keramas juga,” ucap Sooyoung sambil berjalan cepat mengejar Minho yang sudah berjalan melewatinya.

.

To be continue….

.

a/n : Finally, Bab 1 an Update. Sulli belum keluar ya geiiiiis… Bab ke 2 gantian akan menceritakan kehidupan Sulli semenjak Minho menolak dia dan anak yang ada di dalam kandungannya. Stay here…

88 thoughts on “Dirty Little Secret [Bab 1]

  1. Minho egois banget.. ga mau tanggung jawab atas apa yg telah dia perbuat..
    hanya memikirkan masa depannya tanpa memperdulikan masa depan sulli..
    Kasihan.. sulli,

    Memang penyesalan itu datangnya di akhir..
    Setelah mencampakkam sulli,minho baru menyesal

  2. Aish… Minppa…

    Waeyo? Knapa kmu tdk tnggung jwab apa yg tlh kmu lakukan terhadap sulleon eoh…?
    Ksihan sulleon,geurigu… Kta2 ksar mu itu lho,membuat sulleon mrah pdamu

  3. klau gk mau tanggung jawab seharusnya kalian gk ngelakukannya dong :/
    sian tau sulli harus nanggung sendirian akibatnya..

  4. Hih…..Laki-laki kyak bang ming gini mesti dibantai nih #Kidding
    Kasian kan sull-nya,skrang nyesel deh luh bang,mngkanya jgn se-enaknya aja,berani brbuat brani tanggungjawab dong
    oke deh,part nih bkin sdikit emosi gra2 bang ming,pnasaran ama kisah sull-nya
    Oh yah,thanks eon aii udah dikasih pw-nya,cpet update deh
    seru bnget kyaknya nih crita
    Fighting ~~~

  5. Disatu sisi saya berpikir minho pada saat itu masih labil dan berbuat kaya gtu sam sull un wajar aja.. Cuma gak enknya pas ming oppa sama sull eon saling menyela duh klo jdi sull saya udh nampar ming oppa

  6. Minho kok tega banget gmw terima sulli sampe2 sulli sama calon bayinya di triakin omongan ga bener kesel banget aku sama minho wkwk next chapter ditunggu kelanjutannya author

  7. minho parah banget sumpah. sulli sama anaknya sendiri dibilang fuck-up, dasar gila. sooyoung harus tau, supaya bisa bikin minho balik ke sulli
    oya kak, ini cerita bertema di indonesia/luar ya?

  8. Kasian juga sama ssul kalo dia harus jadi single parents, dia juga belom kerja 😦
    ming pasti nyesel banget itu udah ninggalin ssul..
    kira2 ssul mau sm ming lagi gak ya kalo ming minta balikann??

  9. wah….disini minho oppa keterlaluan banget..aku gak bisa bayangain kehidupan baby sull kaya apa setelah itu..pasti hancur banget…:-(
    sebenernya ming oppa bener bener cinta sama baby sull apa gak sih??bacanya jadi ikut gregetan juga…sama ming oppa….
    ayo dilanjut min…:)

  10. Ya ampun jahat banget sih minho oppa, cuma gara2 belum siap dia nyuruh sulli eoni buat gugurin kandungannya….
    Kalo gak mau kena akibatnya kenapa coba dia ngelakuin hal itu…
    Kasian banget sulli eoni…
    Lanjuutttt kak, fighting!!!

  11. eonni aku nepati janji kan sehabis baca langsung komen, dan gomamo pw’nya yaa eon
    minho oppa jahat bgt yaa, sampai ati bilang ke sulli eonni untuk gugurin kandungannya yg telah kamu perbuat
    pantas sulli eonni marah ke kamu dan langsung ninggalin kamu, dan jika kamu ingin kembali sm sulli eonni mungkin kesempatanmu cuma sedikit bahkan udah gx ada kesempatan lg

  12. Sudah tdk membayangkan bagaimana sedihnya seorang wanita klo diperlakukan demikian. Tega bgt sih siminho…. sulli kasihan. Tp sulli di sini sangat tegar sepertinya…. baca chapter lanjutan dulu ya min…. hehe

  13. Ksian ssul .. emang ya si ming ngga bertanggung jawab .
    mngkin ngga ya si ssul bakal maafin minho atas apa yg minho udah lakuin ..

  14. Oh berarti ini flashback?? Terus minho di korea cuma beberapa minggu buat nemuin sulli ya??
    Penasaran siapa cewek yg pernah pacaran sama minho beberapa bulan itu deh.. Kira2 di next chapternya dijelasin gak cewek itu??
    Ceritanya asik nih.. Lanjut next chapter deh.. Hehe..

  15. Sedih sih sebenernya mereka pisah, pdhl keliatan saling mencintai..
    Tapi aku setuju sama keputusan sulli, minho egois, kata2nya kasar..sekalian aja tinggalin biar tau rasa…benerkan, akhirnya merasa bersalah n menyesal…
    Menanti moment mereka 😉

  16. Makasih eonnie passwordnya.. akhirnya aku bisa baca ff yg satu ini 😀
    Kasian banget sama Sulli, minho lebih mentingin Karirnya dari pada perasaan Sulli. Padahal dia juga salah, tapi gak mau bertanggung jawab 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s