Dirty Little Secret [Bab 3]

dirty-little-secret

Bab 3

I’ll keep you, my dirty little secret

Don’t tell anyone or you’ll be just another regret

Hope that you can keep it, my dirty little secret

Who has to know

.

.

Malam itu, setelah anak-anak pergi tidur dan dia punya sedikit waktu untuk berpikir, Sulli mengulang percakapan dengan Daddy nya tadi pagi. Terutama tentang menemukan figuran laki-laki untuk Yoogeun dan Sanee. Akhir-akhir ini dia memang sudah memiliki percakapan ini dengan dirinya sendiri. Apakah dia telah melakukan hal yang benar dengan menyembunyikan Sanee dan Yoogeun dari Minho? Goooddd!!! Dia masih tidak percaya bahwa dia bilang sudah menggugurkan bayi mereka di e-mail terakhir kepada Minho. Entah apa yang Minho akan lakukan kalau dia sampai tahu Sulli sudah membohonginya? Bayangan Minho mengulitinya sebelum membakarnya hidup-hidup terlintas di kepalanya.

Mungkin memang tiba saatnya untuk mulai dating lagi, meskipun prospek itu membuatnya panas-dingin tak karuan. Minho adalah pacar pertama dan terakhirnya. Selanjutnya, dia bahkan tidak tahu cara dating yang benar. Apa yang dia alami dengan Minho bukanlah dating, lebih seperti: mereka bertemu, makan siang, besoknya Minho menemaninya ke mana-mana, begitu juga dengan hari-hari berikutnya, dan sebelum dia menyadari apa yang sedang terjadi, mereka sudah pacaran. Tanpa Sulli sadari, dia mengusap dadanya yang masih terasa sakit hingga sekarang mengingat apa yang telah Minho lakukan padanya.

Kalau memang mau mencari figure ayah untuk anak-anak dengan menikah lagi, dia harus melakukannya secepat mungkin. Karena Sanee sudah pernah menanyakan keberadaan ayahnya ketika dia berumur tiga tahun. Saking paniknya, bukannya menjawab pertanyaan itu, dia justru berkata, “Sanee, ayo kunyah makanan kamu.”

Keesokan harinya tentunya Sulli langsung menelepon Tiffany dengan penuh kepanikan. Dan Tiffany membantunya memformulasikan jawaban yang mudah dimengerti oleh balita. Awalnya dia tidak setuju dengan jawaban itu, tapi ketika mendengar Tiffany mengomel, “Apa kamu lebih memilih bilang ke mereka kalau Appa mereka itu bajingan cap kodok ngorek yang sudah menghamili kamu dan tidak bertanggung jawab?”, dia tidak punya pilihan. Untungnya dia tidak perlu menggunakan respons itu hingga beberapa bulan kemudian, ketika Yoogeun mencegatnya dengan pertanyaan yang sama.

Sulli mendudukkan Yoogeun di pangkuannya dan berbisik, “Yoogeun dan Sanee punya Appa sayang. Tapi dia sudah tidak bersama kita lagi. Dia ada di surga, bersama Tuhan dan malaikat-malaikatnya.”

“Appa Yoogeun orang baik kan Eomma? Kalau jahat, mana mungkin Appa masuk surga? Yakan Eomma?”. Kalau dibandingkan dengan serial killer mungkin, omel Sulli dalam hati, tapi dia berkata dengan penuh senyum, “Paling baik di seluruh dunia ini.”

Sulli bersyukur pertanyaan itu tidak pernah diajukan lagi oleh anak-anaknya, tapi dia tahu dia sedang duduk di atas bom waktu. Sebentar lagi mereka akan beranjak dewasa, dan penjelasan yang pernah dia berikan tidak akan cukup lagi. Dia tahu bahwa mereka berhak mengetahui yang sebenarnya. Mereka berhak mengenal Minho dan Minho mengenal mereka.

Minho… terakhir kali dia bertemu dengannya adalah akhir april enam tahun yang lalu. Seperti apa dia sekarang? Apa dia masih memiliki senyumnya yang mematikan? Senyuman yang tidak bisa dia hindari, terutama karena Yoogeun dan Sanee memiliki senyuman yang sama. Suatu persamaan yang langsung membuatnya menangis tersedu-sedu ketika pertama kali melihatnya. Seakan itu belum cukup parah untuk dihadapi oleh ibu tunggal yang masih patah hati, semakin lama dia menghabiskan waktu dengan anak-anaknya, semakin dia sadar bahwa mereka lebih mirip Minho daripada dirinya. Mulai dari rambut, mata dalam, dan alis tebal. Seakan kemiripan wajah belum cukup, aroma mereka juga mengingatkannya pada Minho.

Memori akan hari pertamanya berkenalan dengan Minho memenuhi ingatannya.

Flashback On

Hari itu adalah orientasi pelajar asing Lowa state. Dia bukanlah jenis orang yang bisa langsung membuka pembicaraan dengan orang lain, belum lagi karena dia harus menggunakan

bahasa inggis ketika melakukannya. Pada dasarnya hari itu adalah hari paling menakutkan sepanjang hidupnya. Dia merindukan sobat-sobatnya yang terpaksa dia tinggalkan karena Daddy bersikeras agar dia mendapatkan pendidikan di Amerika. Dia sebetulnya sudah diterima di jurusan arsitektur di universitas local yang menurutnya cukup bonafide, tetapi Kangin bersikeras agar dia berangkat ke Lowa. Sulli menangis selama seminggu karenanya. Akhirnya Tiffany yang tidak tega melihatnya, menghampirinya dan menjelaskan semuanya.

“Otome,” ucap Tiffany sepelan mungkin dan Sulli tahu bahwa dia harus mendengarkan apa pun yang akan dikatakan beliau, karena Tiffany hampir tidak pernah menggunakan bahasa Jepang, bahasanya Sobo, yaitu ibu Tiffany yang memang orang Jepang.

“Mommy minta kamu turuti kemauan Daddy, ya. Mommy janji bahwa inilah yang terbaik untuk kamu,” lanjut Tiffany pelan.

“Tapi, Mom… kenapa harus Amerika? Aku tidak kenal siapa-siapa di sana, Mom,” balas Sulli diantara tangisnya.

“Kamu bisa cari teman baru di sana. Bukannya Taeyeon ada di Amerika?” Tiffany menyebutkan salah satu sobatnya.

“Tapi Taeng di DC, Mom. Itu jauh dari Lowa.” Sulli mencoba mengontrol tangisnya. Dia sudah mencabik-cabik tisu yang ada di genggamannya sampai tidak berbentuk lagi.

Tiffany menarik napas dalam, kemudian berkata, “Daddy kamu ngotot mau kamu pergi ke Amerika karena anak Ajjuhsi Youngmin kuliah disana.”

Dan pada saat itu Sulli mengerti apa yang dimaksud Tiffany. Kangin yang super kompetitif, ingin menunjukkan kepada Kim Youngmin, saingan beratnya, bahwa anaknya pun bisa kuliah di Amerika. Ya ampuuuunnn… dia tidak menyangka bahwa ego Daddynya begitu besar sehingga tidak menghiraukan keinginan anaknya.

“Apa aku tidak akan pernah bisa mengambil keputusan sendiri, Mom?” Tanya Sulli pada Tiffany yang menatapnya terkejut.

“Apa yang kamu bicarakan aegy? Daddy dan Mommy selalu memperbolehkan kamu mengambil keputusan sendiri,” bantah Tiffany.

“Oh ya? Coba Mommy pikir… apa pernah Daddy mendengarkan apa yang aku mau?” tantang Sulli.

Untuk beberapa detik Tiffany hanya bisa terdiam, tapi beliau dibesarkan dengan budaya Jepang yang keras, di mana seorang perempuan tidak bisa menentang kata-kata kepala keluarga. Tiffany bangkit dari sisi Sulli dan berjalan menuju pintu. “Kamu sekarang mungkin belum mengerti mengapa Daddy mau kamu pergi ke Amerika, tapi nanti waktu kamu lulus dan kerja untuk Daddy, kamu akan mengerti.” Dan hanya dengan kata-kata itu Tiffany meninggalkan Sulli sendiri di kamarnya, menangisi nasibnya.

Sebulan kemudian, Sulli menemukan dirinya di sebuah ruang pertemuan besar di kampus Lowa state. Dia berpapasan dengan beberapa bule yang sepertinya sedang berbicara dalam bahasa Jerman. Kemudian ada seorang wanita yang sedang berbicara dalam bahasa Inggris tetapi dengan aksen Rusia yang sangat kental sehingga tidak pasti apakah wanita itu memang sedang berbicara dalam bahasa Inggris.

“Hey, you look lost. Can I help you whit anything?”

Sulli menoleh kepada wanita yang baru berbicara padanya dan harus menunduk karena wanita itu ternyata jauh lebih pendek darinya. Sulli yakin tinggi wanita itu bahkan tidak mencapai 150 sentimenter. Wanita itu mengenakan kacamata minus cukup tebal sambil menggenggam suatu papan dengan beberapa kertas yang di jepit di atasnya. Sulli melirik stiker yang ditempelkan pada dada kirinya, yang bertuliskan “Sabrina”.

“I’m Sabrina, by the way,” ucap wanita itu sambil menunjuk stikernya. “What’s your name?”

“Saya… I mean I’m Choi Sulli ,” ucap Sulli dengan gugup.

“Sulli?” Tanya Sabrina yang ditanggapi dengan anggukan kepala. “Welcome to Lowa State,” lanjutnya dengan ceria.

“We have an Korean guy who volunteers to help. Let me see… he was here a second ago,” Sabrina memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan, lalu tanpa Sulli sangka-sangka gadis itu mulai loncat-loncat di hadapannya. Sulli hanya menatap Sabrina sambil mencoba menahan senyum. Jelas-jelas pendapat orang Asia bahwa semua orang bule bertubuh tinggi dan langsing sudah kaprah.

Dia berusaha untuk tidak menutup telingannya ketika Sabrina berteriak keras, “Minho, Miiiiiiiin…hooooo. Come here, I need you.”

Beberapa detik kemudian dia mendengar suara laki-laki di belakangnya berkata, “God, stop waving at me like a crazy person, Sabs. We’re in civilization for chrissake.”

Sulli memutar seluruh tubuhnya untuk bisa melihat pria yang berdiri di belakannya dan matanya jatuh pada dadanya. Dia harus mundur selangkah untuk bisa melihat wajahnya karena pria itu tinggi sekali. Dan ketika matanya akhirnya bisa menatap wajah pria itu, Sulli hanya bisa menganga. Holy mother of Jesus!!! Ini adalah pria Korea Selatan paling tampan yang pernah dia lihat dengan mata kepala sendiri sepanjang hidupnya. Koreksi, ini adalah pria paling tampan yang pernah dia lihat sepanjang hidupnya, TITIK! Pria itu sedang tersenyum, dan Sulli bisa melihat lesung pipi pada pipi kirinya. Anehnya, lesung pipi itu tidak membuatnya kelihatan seperti banci, justru membuatnya lebih maskulin.

“Minho, meet Sulli, she’s from Korean too,” ucap Sabrina tanpa menghiraukan nada sinis Minho beberapa saat lalu dan dengan bangganya memperkenalkan Sulli.

Minho mengalihkan perhatiannya ke Sulli dan berkata, “Halo,” dengan ramah. Dia lalu menyodorkan tangannya.

“Halo,” balas Sulli yang otomatis meraih tangan itu.

Dan sumpah mati, dia merasakan aliran listrik ketika telapak tangan mereka bersentuhan. Rasa aman dan nyaman langsung menyelimutinya. Sesuatu yang sangat jarang terjadi mengingat dia tidak pernah merasa cukup nyaman dengan kaum pria sampai bisa menjalin hubungan dengan mereka. Jangankan menjalin hubungan, berteman dengan mereka saja dia tidak berani. Oleh karena itu, dia langsung tahu bahwa Minho adalah boyfriend material. Menurut Sandara, salah satu sobatnya yang jauh lebih berpengalaman dengan hal-hal yang berhubungan dengan pria, hanya ada 3 jenis pria di muka bumi ini.

Pertama, pria yang hanya bisa jadi teman karena meskipun mereka bisa membuat kita merasa nyaman, bayangan mencium mereka membuat kita menggelengkan kepala kuat-kuat. Kedua, pria yang hanya bagus untuk dipandangi karena selain tubuh dan wajah, tidak ada lagi yang menarik tentang mereka. Ketiga, pria yang merupakan boyfriend material. Mereka bukan saja tampan sekali, tapi juga membuat kita merasa nyaman dengan mereka.

Dan Minho is definitely boyfriend material. Kesadaran ini membuat Sulli terkesiap dan buru-buru menarik tangannya. Minho kelihatan terkejut dengan reaksinya dan kini menatapnya dalam, seakan sedang mencoba membaca pikirannya. Takut bahwa Minho betul-betul akan bisa membaca pikirannya, Sulli langsung menunduk.

“Okaaa…yyy, I’ll let you guys get acquainted while I’ll go greet other students.”

Kata-kata Sabrina membuat Sulli mendongak siap protes, tapi Sabrina sudah menghilang dari peredaran, meninggalkannya sendiri dengan Minho.

“Kamu dari mana?” Tanya Minho sambil tersenyum.

Lesung pipi Minho membuatnya sulit memikirkan jawaban pertanyaan itu. Sulli menelan ludah sebelum berkata, “Aku baru saja dari Eaton Hall. Aku tinggal di sana.”

Minho langsung menyeringai ketika mendengar jawaban itu, membuat Sulli sadar bahwa dia sudah salah mengartikan pertanyaannya. Buru-buru dia menutup mata saking malunya. “Itu bukan maksud pertanyaan kamu, ya?” tanyanya dengan hati-hati sambil membuka satu matanya dan melihat Minho sedang menggelengkan kepalanya.

Tapi setidak-tidaknya Minho masih tersenyum, yang berarti dia tidak menganggapnya wanita idiot. “Aku dari Seoul,” ucap Sulli secepat mungkin.

Minho mengangguk dan bertanya lagi. “Di sini rencananya mau ambil jurusan apa?”

“Arsitektur.”

“Oh ya?”

Sulli tahu bahwa dia seharusnya menanyakan hal yang sama kepada Minho, karena itulah sopan santun, tapi otaknya seperti sedang terserang brain freeze. Untuk pertama kalinya Sulli mengerti ungkapan “Love at first sight”, karena dia sedang mengalaminya dengan Minho.

LOVE AT FIRST SIGHT, What the Hell!! Kalau saja dia tahu hubungannya dengan Minho akan berakhir seperti itu, dia tidak akan sudi mengenalnya. Tapi itulah masalahnya dengan cinta. Cinta membuat kita buta dan rela melakukan hal-hal yang biasanya tidak akan kita lakukan. Kalau dipikir-pikir lagi orang yang sedang jatuh cinta sudah seperti orang mabuk, tapi efek samping mabuk masih lebih mendingan. Setidak-tidaknya mereka hanya perlu berurusan dengan kepala pusing besok gara-gara hangover, tapi kalau putus cinta? Hah! Efek sampingnya bukan hanya kepala pusing, tapi hati remuk dan masalah mental yang bahkan tak bisa dibantu oleh terapi seumur hidup.

 

Flashback End

Tidak, tidak peduli apa yang terjadi, Minho tidak akan pernah tahu tentang keberadaan anak-anaknya. Dia akan mencari laki-laki yang jauh lebih layak untuk menjadi seorang suami dan ayah bagi anak-anaknya. Untung saja tidak ada yang tahu identitas Minho, dan dengan paras kebule-bulean kedua anaknya, Mommy dan Daddy berkesimpulan bahwa ayah mereka adalah seorang bule bejat yang sudah menghamilinya. Dan Sulli tidak pernah membetulkan kesalahkaprahan itu. Entah apa yang akan mereka pikirkan kalau sampai tahu bahwa bukan bule bejat yang sudah menghamilinya, tapi laki-laki Korea bejat. Ya, Minho adalah dirty little secret-nya yang akan dia simpan sampai mati.

Keesokan paginya Sulli terbangun dan memori tentang Minho kembali melandanya, kini tentang apa yang terjadi setelah mereka berkenalan.

            FlashBack On

Sepanjang orientasi Minho tidak habis-habisnya menatap Sulli sampai dia salah tingkah. Tatapan itu begitu intense. Sampai ada seorang teman yang menanyakan hal tersebut.

 “You boyfriend?”

“Oh, bukan. Aku baru saja mengenalnya.”

“Mmmmhhh, kalau dia baru kenal kamu, mengapa tatapannya seperti seorang stalker?”

Sulli buru-buru menutup mulutnya sebelum ada orang mendengar tawanya yang tertahan. Untungnya pada detik itu orientasi berakhir. Sulli baru saja say goodbye pada wanita yang akan kembali ke asramanya ketika sadar bahwa Minho sudah berdiri di ujung barus kursinya, menunggunya. Dengan sedikit tidak pasti Sulli berjalan mendekatinya.

“Kamu ada rencana apa setelah ini?” Tanya Minho.

“Cari makan siang, lalu pulang ke Eaton,” jawab Sulli.

“Oh, good. Aku juga ingin makan siang. Aku tahu tempat makan enak dekat Eaton, kita bisa makan siang bersama, setelah itu aku bisa antar kamu pulang.”

Yang terlintas di kepala Sulli ketika mendengar ajakan ini adalah: “Hah??” yang diikuti dengan, “Maksudnya??!!”

“A-aku…” Sulli tergagap.

Pikirannya blank. Dia betul-betul tidak tahu bagaimana menangani situasi ini. Oh, andaikan dia Dara, dia pasti tahu respons terbaik untuk situasi seperti ini. Santai, Ssul, santai. Pria ini hanya ramah karena sama-sama berasal dari Korea. Ini bukan date or anything like that, ucap Sulli dalam hati.

“C’mon it’s just lunch. Kamu toh harus makan juga. Kenapa kita tidak makan bersama saja?” ucap Minho dengan nada sedikit memohon.

OH… MY… GOD. It is a date. Seumur hidupnya, tidak pernah ada pria yang berani mengajaknya nge-date. Beberapa kali dia mendengar bahwa ada segelintir pria yang tertarik padanya, tapi tidak ada dari mereka yang berani maju. Mereka terlalu takut dengan dirinya yang dikenal sebagai wanita paling pintar satu sekolah. Dan sekarang Minho sedang mengajaknya nge-date, satu jam setelah mereka berkenalan. Hanya ada dua kemungkinan, pria ini memang nekat atau seperti yang temannya tadi bilang, seorang stalker.

“Aku janji kita hanya sebentar. Paling lama 1 jam. Kita bisa makan burger. Kamu suka burger, kan?”

Sulli hanya mengangguk, masih tidak bisa berkata-kata.

“So, makan burger denganku,” tandas Minho.

“I don’t think…”

Seperti membaca keraguannya, Minho menghaluskan nada bicaranya dan berkata sambil tersenyum, “Sumpah aku bukan stalker, aku hanya ingin makan siang sama kamu.”

Wow, pria ini benar-benar jujur mengemukakan maksudnya, tanpa basa-basi. Sulli mendapati dirinya tidak bisa menolak dan tanpa dia sadari sudah mengangguk.

“Awesome. Let me say goodbye to these people and we can go,” ucap Minho dengan senyum lebar.

Sulli hanya perlu menunggu kurang dari lima menit sebelum Minho muncul lagi di hadapannya. “Kajja,” ucapnya dan menggiring Sulli ke luar ruangan.

,

Sepanjang perjalanan menuju Union Drive yang biasanya hanya memakan waktu sepuluh menit jalan kaki, hari ini molor menjadi dua puluh menit gara-gara mereka harus berhenti beberapa kali karena Minho berpapasan dengan kenalannya. Minho tidak pernah menyapa duluan, selalu mereka. Kelihatannya dia cukup popular di kampus ini, karena orang-orang itu keliahatan betul-betul senang melihatnya. Semuanya memberikan tatapan ingin tahu ketika melihatnya bersama wanita tidak dikenal, tapi hanya beberapa dari mereka yang dikenalkan Minho padanya. Beberapa menit kemudian mereka sampai di Market place, salah satu dari banyak tempat makan dalam kampus.

“Kamu sudah pernah makan disini sebelumnya?” Tanya Minho sambil berjalan menuju konter burger.

“Sudah, tapi belum pernah coba burgernya.”

“Aku jamin kamu pasti suka. Cheeseburger di sini yang paling enak di seluruh kampus..,”

Omongan Minho terpotong oleh teriakan seorang wanita kulit hitam berukuran besar.

“Minho-ssiii… you’re back!!!”

Wanita itu sedang tersenyum lebar dan mempertontonkan deretan giginya yang putih. Minho membalas sapaan itu dengan tidak kalah ramahnya. Tidak lama kemudian mereka bertukar cerita tentang liburan musim panas. Whoa, bukan saja Minho memiliki banyak teman, tapi mereka sepertinya datang dari berbagai kalangan. Harus Sulli akui dia cukup terkesan melihatnya. Selain keluarga, Mommy dan Daddy hanya memperbolehkannya bergaul dengan teman-teman dari sekolah. Entah apa yang akan terjadi kalau dia berani berteman dengan orang dari kalangan yang mereka nilai dibawah mereka.

“I guess you want that cheeseburger with lost of fries then, huh?”

“Yes, Miss Rita. Can we have two of those, please.”

Miss Rita terkekeh. “Boy, I don’t know how many times I’ve told you just call me Rita.” “Nowww, I like calling you Miss Rita,” canda Minho.

Miss Rita memberikan pesanan mereka sambil geleng-geleng kepala. “You two have a good day now.”

Sulli hanya mengangguk dan mengikuti Minho yang sudah berjalan menuju konter minuman. Mereka sama-sama mengambil sebotol air putih sebelum menuju sebuah meja kosong.

“Aku kira kamu cukup dekat dengannya,” ucap Sulli setelah dia duduk.

“Aku memang cukup dekat dengannya,” balas Minho dengan wajah sedikit bingung.

“Jadi kenapa Miss Rita manggil kamu dengan embel-embeli ssi bukan ya?”

Minho terkekeh sebelum berkata, “Oh, Miss Rita lebih senang memanggilku begitu saat aku bekerja di sini semester lalu.”

Sulli langsung tersedak potongan burger yang baru saja ditelannya dan untuk beberapa menit dia terbatuk-batuk. Minho langsung berdiri dan menepuk-nepuk punggungnya.

“Makannya pelan-pelan, Ssul.”

Andaikan saja Minho tahu bahwa alasan Sulli tersedak adalah bukan karena dia makan terlalu cepat, tapi karena pengakuan tanpa malu-malu Minho bahwa dia pernah bekerja di kantin sekolah. Mommy dan Daddy nya bisa pingsan kalau dia membawa Minho pulang untuk dikenalkan kepada mereka. Prospek ini membuat Sulli tersenyum dalam hati.

 

Flashback off

TBC ….

,

,

a/n : Naaaah… Jadi tau deh kalo dari pertama kali ngeliat Sulli udah jatuh cinta ama Minho. 😀 Gimana perkembangan hubungan mereka selanjutnya yaaa??? Stay tune. Chu ~ Oh iya, BTW, komen bab 1 sama bab 2 kok gak seimbang yah? Padahal kan udah pada tau pw nya. Apa karena udah tau pw nya makanya MALES KOMEN? Kalo males komen cari aja gih pdf nya sanah gak usah baca disini~~ #EdisiFrontal

66 thoughts on “Dirty Little Secret [Bab 3]

  1. hahaha jadi Sulli udah jatuh cinta sama minho dari awal ketemu? kkk~
    orang tua sulli tau nya yg menghamili Sulli adalah bule bejat? hmm gmn kalo mereka ketemu sama orang yg sebenernya? whoaaa seru seru XD
    aku udah baca pdf nya dan bayangin cast nya minsul, jd baca sambil bayangin minsul di otak hahaha XD
    next eonni^^

  2. ohh..jdi sprti itu di awal prtemuannya minsul….gimana ya klau minho ketemu sulli lgi..waduh sulli bakaln cri suami yg lain ni…huhuhu

  3. Pertama kirain minsul tu ketemunya di korea , eh ternyata di amerika .
    Oh Jadi gitu ya smpe minsul ktmu ..
    Gimana reaksi sulli ya kalau ketemu minho .

  4. Sulli eoni kasian banget harus ngebesarin Yoogeun sama Sanee sendirian.. Aigooo 😦
    Oh jadi gitu awal pertemuan Minho oppa sama Sulli eoni ? Kekeke~ kaya nya Minho oppa jatuh cinta pada pandangan pertama nih sama Sulli eoni 😀 ❤

  5. Iihhh.. Sebenernya mereka itu sweet bgt.. Tapi kok jalan ceritanya jadi ngegemesin siih.. Pengen jambak2 tuh rambutnya minho..!!

  6. Emm flashback masa lalu yg manis, minho sepertinya langsung naksir sulli.. Kemungkinan iya krna belom tau sudut pandang minho…
    Klo sulli sepertinya langsung kena pesona minho…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s