Dirty Little Secret [Bab 4]

dirty-little-secret

Bab 4

The way she feels inside

Those thoughts I can’t deny

These sleeping thoughts won’t lie

.

.

Entah sudah berapa lama Minho memandangi layar ponselnya yang menampangkan nomor ponsel Sulli, yang dia dapatkan setelah meneror seorang laki-laki yang dia kenal waktu kuliah dan tidak sengaja bertemu lagi, yaitu seseorang, yang kebetulan mengenal Sulli. God, laki-laki itu pasti mengira dia orang paling aneh sedunia dengan aksi terornya untuk mendapatkan nomor telepon Sulli, but who cares, yang penting sekarang dia bisa menelepon Sulli. Selama bertahun-tahun dia sudah mencoba banyak cara untuk mencari wanita itu. Mulai dari mengirimkan berpuluh-puluh e-mail yang tak pernah dibalas, menguntit Naomi, mantan teman sekamar Sulli, selama berbulan-bulan sampai wanita itu mengancam akan ke polisi untuk minta restraining order, hingga mengaduk-aduk friendster, facebook, linkedin, dan myspace, tapi semuanya berakhir nol besar.

Dia juga mencoba meng-google nama “Kim Jinri”, tapi nama itu pun tidak keluar di mana pun. Akhirnya dia harus menyerah. Pada saat itu, dia baru menyadari betapa sedikit informasi yang dia tahu tentang Sulli. Dia bahkan tidak tahu nama kedua orang tuanya atau apa pekerjaan mereka. Selama waktu yang singkat dulu, Sulli hanya bercerita tentang betapa strict orangtuanya, itu saja. Dan Minho belum segitu gila atau sepertinya sampai mau menyewa tenaga professional untuk mencari Sulli. Sulli memang selalu lebih tertutup daripada dirinya, dan selama mereka pacaran, dia tidak pernah bertanya terlalu banyak, takut membuat Sulli merasa tidak nyaman. Suatu fakta yang membuatnya ingin menendang dirinya sendiri ketika Sulli menghilang tanpa jejak.

Melihat ponsel di genggamannya, membuatnya kembali lagi ke enam tahun yang lalu, seminggu setelah Sulli kabur dari apartemennya. Entah berapa kali dia menelepon nomor kamarSulli di Eaton Hall sehingga membuat Naomi kedengaran sudah siap membunuhnya.

Flash Back On

“Dia tidak ada disini.”

Mendengar nada Naomi yang mendekati bentakan, membuat persepsi Minho tentang wanita-wanita Jepang yang lemah lembut dan penuh senyum berubah 180 derajat. Tanpa menghiraukan nada bicara Naomi, Minho bertanya, “Apa kau tahu dimana dia?” untuk lebih menyakinkan, Minho menambahkan, ”Aku sangat sangat butuh berbicara dengannya.”

Minho tahu dia kedengaran merengek, tapi dia tidak perduli. Selama dua hari setelah pertengkarannya dengan Sulli, pikirannya campur aduk. Dia sama sekali tidak bisa berpikir, padahal dia seharusnya belajar untuk ujian akhir semester minggu depan. Awalnya dia masih dalam tahap shock dan yang terlintas dalam pikirannya adalah bahwa semua ini hanya mimpi buruk, bahwa sebentar lagi dia akan bangun dan mendapati dirinya hanya sebagai anak kuliahan yang masalah terbesarnya adalah untuk me-maintain IPK-nya agar tetap dia atas 3,5. Ketika sadar bahwa ini bukanlah mimpi, tapi kenyataan, kemarahan datang.

Segala tuduhan dan sumpah serapah keluar dari mulutnya. Dia yakin Sulli sengaja membuat dirinya hamil. Bahwa Sulli sudah merencanakan malam itu, dan dia, sebagai pria bodoh, tidak tahu sama sekali dirinya sedang dijebak. Mereka memang sudah berhubungan intim beberapa kali dengan mengenakan pengaman, karena Sulli tidak mau minum pil birth control.

Tapi kemudian mereka mulai lebih berani dengan berhubungan seks tanpa mengenakan pengaman kalau tubuh Sulli sedang tidak fertil. Dan minggu itu adalah salah satu minggu tidak fertilnya. Shit, dia seharusnya tidak pernah percaya kata-kata yang keluar dari makhluk yang masih bisa hidup setelah mengalami pendarahan selama lima hari. Oleh karena itu, dia menolak menelpon Sulli lebih dulu. Prinsipnya mengatakan pihak yang salahlah yang harus meminta maaf duluan, dan menurutnya itu adalah Sulli.

Tapi setelah semua kemarahannya reda, rasa bersalah datang. Dia seharusnya tidak blow-up seperti itu di hadapan Sulli. Dia lebih tua dari Sulli dan lebih berpengalaman, tapi yang lebih penting lagi, dia seorang laki-laki, jadi seharusnya lebih analitis dan berkepala dingin dalam menghadapi krisis. Setelah dia pikir-pikir lagi, ada banyak solusi lain yang bisa mereka pertimbangkan selain aborsi. Ya tuhan, dia sudah meminta Sulli membunuh anak mereka.

Dan dengan rasa bersalah, kekhawatiran pun muncul. Apakah Sulli sudah menggugurkan kandungannya? Apa Sulli betul-betul serius ketika dia berkata mereka putus? Apa dia baik-baik saja?

 “Sama seperti yang aku bilang terakhir kalinya, aku tidak tahu dimana Sulli. Aku bukan pacarnya yang selalu menghabiskan waktu bersamanya.”

Kata-kata Naomi kali ini membuat Minho bertanya-tanya apa jangan-jangan Sulli meminta Naomi untuk tidak memberitahukan keberadaannya kepada Minho. Bahwa Sulli ada di dalam kamar ketika dia menelepon, atau bahkan duduk di samping Naomi, mendengarkan percakapan mereka. Tapi itu tidak mungkin, karena meskipun Naomi teman sekamar Sulli selama tahun pertamanya di Lowa state, Naomi bukanlah teman baik yang bisa di ajak bersengkongkol untuk melakukan hal seperti ini. Mereka bahkan tak pernah hangout bareng. Mereka hanya teman sekamar, titik.

Tapi, apa ada kemungkinan dia salah menilai situasi ini? Mungkin karena terlalu putus asa dan tidak memiliki orang lain lagi yang bisa diajak bicara, Sulli menceritakan kejadian di antara mereka kepada Naomi. Dan sebagai wanita, Naomi merasa tersinggung juga atas kelakuan Minho dan setuju menjauhkannya dari Sulli.

“Please, katakan yang sebenarnya. Apakah dia bersamamu sekarang?”

Aku sudah katakana. Dia tidak ada disini!!!” teriak Naomi, sebelum mulai ngedumel dalam bahasa Jepang yang Minho yakin berisi makian tentangnya.

Dia tidak punya waktu untuk mendengar Naomi mencaci dan memotong, “Apakah dia memberitahu mu dimana dia sekarang?”

“No!!! Dan sekalipun aku tahu, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu,” kata Naomi dan langsung menutup telepon.

“Hello… Hello… Goddamn it!!!” teriak Minho frustasi

Buru-buru dia mengambil kunci dan lari keluar menuju mobil. Dia harus segera ke Eaton

Hall, dia yakin Sulli sekarang ada di kamarnya. Sepanjang perjalanan dia mengomeli dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa sebegini butanya selama beberapa hari ini? Kenapa dia bahkan tidak menyangka sampai beberapa detik yang lalu bahwa Naomi sudah berbohong padanya? Kenapa dia tidak punya inisiatif untuk mencegat Sulli di kelas-kelasnya, toh, dia tahu jadwalnya? Atau lebih baik lagi, menunggunya di Eaton Hall sampai Sulli muncul, toh cepat atau lambat dia harus pulang juga.

Sepuluh menit kemudian dia sampai di Eaton Hall. Di parkir di tempat pertama dilihatnya, yang ternyata tempat parkir penyandang cacat, tapi dia tidak peduli. Ketika sampai di depan pintu gedung dan sedang memikirkan cara masuk padahal tidak memiliki kartu residensi, dia melihat serombongan wanita baru akan keluar. Tanpa peringatan, dia langsung menerobos rombongan itu dengan paksa dan berlari menuju kamar Sulli. Dia mendengar beberapa dari mereka meneriakkan sumpah serapah padanya, yang dia biarkan tidak terjawab.

Dia baru saja memasuki lorong tempat kamar Sulli terletak ketika dia melihat Naomi dan… no fucking way, Sulli, sedang berjalan ke arahnya. Dua wanita itu membawa ransel yang kelihatan cukup berat, kemungkinan dalam perjalanan menuju perpustakaan untuk belajar. Tentu saja Sulli, wanita paling pintar yang pernah dia pacari, siap menghadapi ujian akhir semester, tidak peduli bencana apa yang sedang dia hadapi dalam kehidupannya. Sedangkan Minho sudah kalang kabut tidak karuan.

Dan sebelum menyadari apa yang dia lakukan, dia sudah menyeruakan nama Sulli. Minho mendengar Sulli terkesiap. Satu detik Sulli menatapnya dengan mata melebar, terkejut melihatnya, dan detik selanjutnya dia sudah lari seakan pantatnya kebakaran menuju kamarnya di ujung lorong. Minho membutuhkan beberapa detik untuk menyadari bahwa Sulli lari darinya, kemungkinan akan mengunci diri di dalam kamar dan menolak berbicara dengannya. Buru-buru dia lari mengejarnya, tapi terlambat, karena Sulli sudah menghilang ke dalam kamar dan buru-buru menutup pintu dengan bantingan yang cukup keras. Ketika Minho sampai di depan pintu, dia langsung mencoba memutar gagang, tapi tidak berhasil.

Seperti dugaannya, Sulli sudah mengunci pintu itu.

“Ssul, please buka pintunya. Kita harus bicara,” ucap Minho sambil mengetuk pintu itu dengan cukup keras.

Sunyi. “Ssul, please… kita harus bicara, okay,” pintanya lagi.

“Dude, dia tidak ingin berbicara denganmu. Jadi tinggalkan dia sendiri,” ucap Naomi yang tanpa disangka-sangka sudah berdiri sambil bertolak pinggang di samping Minho.

Wanita satu ini kemungkinan keturunan Ninja karena bisa bergerak tanpa sepengetahuannya. Well, keturunan Ninja atau bukan, dia akan mencekiknya kalau wanita ini mencoba mencampuri urusannya.

“Ini hanya antara aku dan dia. Jadi lebih baik kau pergi sekarang” bentak Minho.

Naomi kelihatan tersinggung karena dibentak, tapi dia tidak berkata-kata lagi.

“Sulli, buka pintunya,” pinta Minho.

“Pergi kau, Minho.”

Mendengar suara Sulli untuk pertama kali setelah seminggu ini, membuat lutut Minho lemas dan untuk beberapa detik dia lupa tujuannya datang ke sini, tapi kemudian dia dapat mengontrol reaksi tubuhnya dan berkata, “Andwee, aku tidak akan pergi sampai kau mau bicara denganku, persetan.” Setelah lima detik dan pintu masih tertutup, Minho menggedor pintu itu sekencang-kencangnya sambil berteriak, “Buka pintunya, sialan!”

“Tidaak!” balas Sulli tegas.

Pintu-pintu kamar di sepanjang lorong mulai terbuka satu per satu dan beberapa kepala

melongok ke luar untuk melihat keributan apa yang terjadi pada selasa malam begini.

“Buka pintunya, Ssul. Sumpah mati aku akan dobrak pintu ini kalau kamu tidak buka pintu. Keluar, kita harus bicara.”

Kesunyian membalasnya, dan Minho betul-betul tidak tahu apalagi yang harus dia lakukan sekarang. God, dia tahu dia menjadi laki-laki brengsek, tapi apa dia sebegitu tidak berharga sampai Sulli bahkan tidak mau bertatap muka dengannya?

Dengan penuh kesal dan sesal, dia meninju pintu kamar Sulli dua kali hingga retak. “BUKA PINTUNYA,” teriaknya.

Dia mendengar beberapa tetangga Sulli yang memang wanita semua, berteriak kaget melihat keganasannya. Sejujurnya, dia sendiri kaget. Lalu salah satu dari mereka berteriak,

“Seseorang, tolong panggil polisi kampus!”

SHIT!!! Dia hanya memiliki beberapa menit sebelum polisi kampus muncul dan mendendanya karena masuk ke property orang tanpa diundang atau lebih parah lagi, melemparkannya ke penjara karena merusak property kampus.

“Fine. Kalau kamu tidak mau berbicara denganku, fine. Kamu mau putus denganku, itu juga tidak masalah. Aku hanya mau tahu apa yang sudah kamu lakukan dengan bayi kita.”

Tidak ada respons sama sekali dari balik pintu, dan Minho mendesah panjang. Dia baru saja akan mengucapkan kalimat selanjutnya ketika dari sudut mata dia melihat polisi kampus muncul di ujung lorong. SHIT, SHIT, SHIT!!! Dia buru-buru pergi menuju pintu darurat di sebelah kanan dan lari secepatnya menuju mobil, tidak menghiraukan teriakan orang-orang yang memintanya berhenti.

Flash Back end

Semua memori itu tiba-tiba membuat Minho kehabisan napas setiap kali Sulli terlintas di kepalanya, inilah reaksi yang dia dapatkan. Tidak peduli sudah berapa banyak wanita yang berseliweran di dalam hidupnya, sebelum dan setelah itu, hanya Sulli yang mampu mengacak-acak emosinya seperti ini. Minho meletakkan ponselnya di atas meja dan mengusap wajahnya.  Dia akan menelepon Sulli, tapi tidak sekarang. Dia belum siap melakukannya.

Minho sedang berkonsentrasi penuh membalas e-mail yang dikirim oleh salah satu anggota timnya di Chicago ketika ponselnya berdering. Nama Sooyoung berkedip-kedip di layar. Sooyoung tidak pernah meneleponnya selama dia di Seoul, biasanya noonanya ini langsung datang saja. Dengan sedikit waswas, Minho buru-buru menjawab panggilan itu.

Yeoboseyo, noona, apa semuanya baik-baik saja?”

Yeah, semuanya oke,” balas Sooyoung ceria dan Minho mengembuskan napas lega. “Kamu sedang apa?” lanjut Sooyoung.

“Aku baru selesai balas e-mail dari kantor,” jawab Minho sambil menekan tombol send lalu mulai membaca e-mailnya yang lain.

Minho mendengar Sooyoung mendengus sebelum berkata, “Minho, kamu ini sedang cuti, yang berarti tidak bekerja. Kalau kamu kerja juga itu percuma.”

“Well, tak semua orang punya suami kaya yang bisa membiayai kita seumur hidup,” ledek Minho.

Kau mengolok-olok noona huh?” teriak Sooyoung pura-pura tersinggung.

Minho hanya terkekeh mendengar nada Sooyoung. Inilah candaan mereka semenjak Sooyoung menikah dengan Martin. Sampai sekarang Minho tidak tahu apa yang dilihat oleh kakaknya pada kakak iparnya itu. Sudah sok bangsawan dengan aksen Inggris dibuat-buat. Padahal dia lulusan Amerika dan pertama ke Inggris hanya ke London selama tiga hari untuk bisnis, that douchebag juga senang sekali memamerkan orang-orang yang dikenalnya. Mulai dari pejabat sampai artis. Satu-satunya hal yang membuat Minho bisa menoleransi Martin adalah karena laki-laki itu jelas-jelas tergila-gila pada Sooyoung dan begitu juga sebaliknya.

So, ada apa noona menelponku siang-siang begini?” Tanya Minho.

“Memangnya ada larangan menelponmu? Noona boleh rindu dengan dongsaengnya kan?”

“Hentikan omong kosong itu noon. Apa yang noona mau?

Kini giliran Sooyoung yang terkekeh. Minho dan Sooyoung memang selalu dekat meskipun umur mereka berbeda empat tahun.

“Aku punya undangan untuk acara penggalangan dana yayasan yang sering menerima sumbangan dari kantornya Martin.”

“Oke…,” ucap Minho, hanya setengah mendengarkan karena sambil membaca e-mail dari salah satu klien.

“Biasanya aku pergi dengan Martin untuk acara ini, tapi kali ini Martin berhalangan karena ada di luar kota.”

Yeeep.” Minho mengaktifkan speaker pada ponselnya dan meletakkannya di samping laptop sebelum menekan reply pada layar laptop dan mulai mengetik e-mail balasan.

“Aku tadinya tak ingin pergi karena tidak ada yang mengantar. Tapi lalu aku berpikir, karena kamu juga tidak punya pekerjaan, bagaimana kalau kamu saja yang mengantar aku ke acara ini?”

“Mmmhh.”

“Choi Minho, kamu dengar apa yang noona bilang kan?”

Ne, noona.” Bukan suatu kebohongan, dia memang mendengar apa yang Sooyoung katakan padanya, dia hanya tidak mencoba memahaminya.

“Sumpah mati kalau kamu menjawab telepon noona sambil balas e-mail, noona akan bakar laptop kamu kalau aku ke situ lagi.”

Wait, dari mana noona tahu kalau aku sedang bales e-mail?” Tanya Minho, buru-buru berhenti mengetik dan melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan Sooyoung tidak sedang mengintainya dari dalam rumah.

Terkadang Minho suka bertanya-tanya apa Sooyoung bisa membaca pikiran, karena Sooyoung terkadang bisa membaca tindakan selanjutnya sebelum Minho melakukannya. Atau tahu persis apa yang sedang dia lakukan padahal mereka tidak sedang bertatap muka, contohnya seperti sekarang.

Oh, pleasenoona ini yang mengganti popok kamu waktu kecil. Noona tahu segala sesuatu tentang kamu. Termasuk ukuran pe..”

“Arrgghh, hentikan. Otakku bisa rusak jika mendengar omongan noona,” omel Minho sambil menghantam keningnya tiga kali dengan telapak tangan.

Sooyoung tertawa terbahak-bahak. Memang, kakaknya ini memang senang sekali meledeknya tentang ukuran penisnya waktu bayi, yang menurut laporan Sooyoung, ”Kecil sekali, seperti baby carrot.” Parahnya, Sooyoung senang sekali menceritakan hal ini kepada siapa saja yang mau mendengarkan.

“So, kamu bisa kan menemani noona?” Tanya Sooyoung setelah tawanya reda.

“Kalau aku pakai jeans?”

“Tentu saja tidak bisa. Ini acara formal, Minho-ya.”

“Dengan jas dan dasi? No, thanks. Aku bisa keringatan seperti ayam panggang dengan suhu seperti ini.

Dude, kamu pikir kita hidup di zaman purba? Acaranya di dalam gedung dengan AC. Kalau kamu tidak mau menggunakan jas dan dasi, kamu selalu bisa meminjam kemeja Appa.”

Noon, kau gila. Ukuran tubuh Appa lebih kecil daripada aku?”

“Oh ya?”

“Ukuran Appa M, dan aku XL,” teriak Minho tidak sabaran.

”Ya sudah, pinjam kemeja Martin,” balas Sooyoung santai.

Dan sumpah mati Minho ingin mentransfer dirinya ke ujung saluran telepon untuk mencekik Sooyoung. Dia tidak percaya Sooyoung baru saja menawarkan itu. Sooyoung tahu betul perasaannya tentang gaya berpakaian Martin, yang menurutnya banci. Minho pernah melihat laki-laki itu pakai celana pendek warna pink. PINK!!! Dia lebih baik pergi ke acara ini hanya mengenakan celana dalam daripada harus meminjam kemeja Martin.

Noon, kamu mau aku pergi ke acara ini apa tidak huh?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu jangan mengusulkan ide yang membuat aku menolaknya.”

“Lalu, bagaimana maumu?”

“Apa celana panjang hitam dan kemeja putih bisa di terima?”

“Bisa, kalau kamu mau disangka pelayan di acara ini. Sekalian tambahkan dasi kupu-kupu, Minho.”

That’s it, I’m hanging up. Kau sedang meminta tolong padaku noon, tapi mengapa kau terus meledekku?”

“Upppps, sory.. sory … tunggu, tunggu. Sumpah, noona tak akan meledekmu. Sekarang kita serius. Kalau kamu membantu noona kali ini, noona akan hutang padamu. Kamu bisa minta apa saja dari noona, kapan saja….”

Minho tidak berkata-kata selama semenit, membiarkan Sooyoung menyogoknya dengan segala macam hal. Bukannya dia perlu disogok untuk membantu keluarga, tapi dia tidak akan menolak kesempatan menjaili Sooyoung.

“Baiklah, aku akan pergi bersamamu. Aku akan memakai kemeja warna lain, tapi aku tidak akan memakai jas atau dasi. Deal?”

Deal.”

“Dan satu hari nanti kalau aku menelepon untuk meminta tolong, tidak peduli itu untuk apa atau jam berapa, noona harus siap.”

“Apapun untukmu, namdongsaeng kecilku,” janji Sooyoung.

to be continue…

a/n : Komentarnya ditunggu. Dan untuk temen2 kalian yang meminta password melalui kalian, boleh2 saja kalian kasih. Asal mereka mau memberikan komentarnya. Thanks ^^

55 thoughts on “Dirty Little Secret [Bab 4]

  1. Nah lo.. Minho sekarang nyesel kan.. Dia sih mutusin apa2 gak dipikir..
    Ceritanya lucu.. Habis sedih2 lalu komedi.. Jadi ga bikin bosen..

  2. Aaahhh hub minsul buruk krna pikiran pendek minho dan skrg menyesal banget krna udh cinta mati…
    Dan akan ada pertemuan pertama kali setelah 6thn untuk keduanya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s