Behind the Coincidence and Destiny [2/5]

Cover FF; RH (10)

Behind the Coincidence and Destiny

Nama author  : Rhaya Cantika

Main Cast  : Choi Sulli dan Choi Minho

Support cast  : Jung Krystal, Lee Taemin, Kim Kibum, Lee Jinki, Kim Jonghyun, Cho Kyuhyun, and other.

Lenght  : Chaptered (1-5)

Genre : Romance

Summary :

‘Cinta bukan suatu kebetulan, tetapi takdir.’ Pernyataan sederhana itu sangat bertolak belakang dengan pendapat Sulli tentang Cinta. Gadis yang tidak pernah percaya pada ‘cinta’ dan ‘takdir’ ini, berpendapat kalau‘cinta’ hanyalah suatu kebetulan dan kebetulan itu tidak pernah abadi.

Berawal dari kisah cinta ibunya yang berujung kepedihan, Sulli lahir menjadi gadis yang membenci cinta dan takdir. Namun bisakah ia hidup tanpa kedua hal itu?

“Do you believe in Destiny?”

.

.

Chapter 2: Love, Coincidence, and Destiny

.

Pagi ini, salju tidak turun. Namun, aspal jalan raya masih tertutup oleh tumpukan salju. Sulli memandangi langit lewat kaca jendela di dalam taksi yang ia tumpangi. Matahari yang berterik, tengah bersembunyi di balik awan-awan. Padahal Sulli tengah menginginkan kehangatan dari terik matahari dimusim salju seperti ini.

Tiba-tiba ponsel Sulli berdering. Ia merogoh tasnya dan mendapati sebuah panggilan diponselnya. Kemudian tangannya menggeser tombol ‘jawab’ setelah ia melihat nama si penelpon yang terpampang dilayar ponselnya.

“Halo?” Sulli menjawab panggilan itu dengan semangat. Seperti tahu kalau ia akan memenangkan taruhan.

“Ssul, kau dimana sekarang?” suara seorang laki-laki, terdengar dari seberang sana.

“Aku dalam perjalanan menuju kantormu.” Jawab Sulli sambil melihat jalanan untuk memastikan seberapa jauh lagi kantor Taemin.

“Begitu? Jadi, kau benar-benar mau datang ke kantor?” Nada suara Taemin terdengar mencurigakan. Pasti ada sesuatu.

“Ya, oppa. Aku sudah dijalan.”

Kemudian terdengar suara Taemin tertawa diseberang sana. Sepertinya lelaki itu bahagia sekali. Sulli semakin curiga.

“Apa kau akan tetap datang kalau aku bilang Minho akan datang ke kantorku sekarang?” Damn! Benar saja. Pasti ada sesuatu dibalik nada suara yang menyebalkan itu.

“Apa?!” Sulli terpekik. Ia tidak menyangka kalau Minho juga akan datang ke kantor Taemin.

“Minho akan datang ke kantorku sekarang. Kau tetap mau datang?” Taemin sengaja mengulangi perkataannya dengan mempersingkat, memperjelas, dan memadatkannya.

“Tidak! Aku tidak jadi datang.” Jawab Sulli ketus. Ia mengerucutkan bibirnya.

“Hha! Sudah kuduga. Kau takut, kan?” ejek Taemin. Disaat seperti ini, Taemin terlihat seperti anak kecil yang menyedihkan.

Takut? Apa yang harus Sulli takutkan? Tatapan dingin dari Minho? Oh, Sulli sudah kenyang dengan tatapan dingin dari mata katak rebus itu. Ia hanya tidak mau membawa masalah baru. Kalau Minho akan datang ke kantor Taemin, itu artinya Jinki, Jonghyun, dan Key juga akan datang. Dan ketiga pria itu, akan mulai bergosip tentang hubungan Minho, Sulli, dan Taemin. Tidak lupa menyangkut-pautkannya dengan Krystal. Rajungan!

“Tidak. Aku akan ke tempat lain saja. Sampai jumpa, oppa.”

Tiit. Sulli mematikan ponselnya dengan kasar. Ia kesal dengan gurauan Taemin. Laki-laki itu memang tidak bisa mengerti perasaan perempuan.

Sulli mendengus kesal, “Laki-laki macam apa…” gerutunya.

“Pak, kita tidak jadi ke tujuan pertama. Antar saja aku ke cafewhite blood di daerah Gangnam.” Ucap Sulli pada sopir taksi.

Sopir taksi itu mengiyakan, lalu memutar taksinya kearah yang berlawanan.

Kemudian, ponsel Sulli kembali berdering. Ia menatap layar ponselnya sejenak, kemudian mengangkat panggilan itu.

“Halo?” terdengar nada malas didalam ucapan Sulli.

“Baby Ssul! Kau dimana? Kenapa tidak bilang kau sudah kembali ke Korea?”

“Krys, aku baru saja tiba dua hari yang lalu. Maaf, belum sempat mengabarimu. Aku sedang menuju cafe langganan kita sewaktu kuliah. Kau mau kita bertemu disana?”

“Benarkah? Baiklah. Tunggu aku disana, yah.”

Tiit. Dan kali ini, Krystal yang lebih dulu mematikan panggilannya. Sulli mendesah. Wajah sumringahnya kini tergantikan dengan wajah menyedihkan hanya dalam hitungan detik. Pertama, ia batal bertemu dengan Taemin karena Minho dan teman-teman gengnya juga akan datang ke kantor Taemin. Kedua, ia akan bertemu sahabatnya Krystal. Gadis itu —maksudnya– wanita itu, adalah wanita yang sangat baik, sungguh! Tapi Sulli belum siap dengan kata-kata atau pertanyaan yang akan terlontar dari bibir manis wanita itu. Kata-kata yang sangat pahit untuk didengar.

Dia tidak terlalu berbeda dengan Taemin. Mereka sama. Sama-sama tidak mempedulikan hati orang lain. Seenaknya bicara. Tuhan, kenapa Sulli harus dikelilingi mahkluk-mahkluk seperti itu. Tapi, tanpa mereka, Sulli tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Sulli yang berbeda dengan tujuh tahun yang lalu. Sulli yang telah terbuka hati dan pikirannya. Sulli yang… mempercayai takdir dan cinta.

Seulas senyum kembali menghiasi wajah wanita itu. Ia bersyukur telah berada ditengah-tengah mahkluk itu. Dan ia juga bersyukur telah memiliki Taemin sebagai…

“Nyonya, kita sudah sampai.” Suara sopir taksi membuyarkan lamunan Sulli.

Sulli bergegas merogoh tasnya dan mengeluarkan sejumlah uang.

***

Awal musim gugur ini, adalah awal dari kehidupan baru untuk Sulli. Sejak Minho menyatakan perasaannya beberapa bulan lalu, Sulli menjadi jarang menemui Minho. Bahkan mungkin tidak pernah sama sekali. Sulli selalu bersikap dingin ketika Minho mengajaknya bicara. Ia juga sengaja menghindar ketika Minho mendekatinya. Itu membuat Minho hampir mati gila. Mati gila? Ya, mati gila. Sepertinya perasaan Minho pada Sulli terus tumbuh sampai ia merasa hidupnya sama sekali tidak berarti tanpa Sulli disisinya. Oh, pemuda ini tengah jatuh cinta.

Selama hampir tujuh bulan ini, Minho terus mencari apa yang membuat Sulli menjauhinya. Dan selama tujuh bulan itu, ia menemukan sisi lain dari Sulli. Satu pertanyaannya terjawab dengan tiga jawaban. Pertama, —seperti dugaan Minho sebelumnya– Jung Krystal, sahabat Sulli itu, menyukai Minho. Dan gadis itu meminta Sulli untuk mendekatinya dengan Minho. Sepertinya Sulli menolak itu dengan alasan kalau dia dan Minho tidak sedekat apa yang Krystal pikirkan. Karena itu, Sulli menjaga jarak dengan Minho.

Kedua, tentu saja karena Minho menyatakan perasaannya. Mungkin Sulli menjadi lebih merasa serba salah ketika Minho menyatakan perasaannya. Gadis malang itu pasti tengah bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Bagaimana caranya agar antara Krystal dan Minho tidak ada yang tersakiti. Minho mengerti perasaan Sulli saat ini.

Dan ketiga, jawaban yang ketiga inilah yang membuat Minho hampir dilarikan kerumah sakit karena terserang stroke mendadak. Sulli tidak percaya dengan cinta dan takdir, bahkan ia membenci kedua hal itu —apa perlu ditulis dengan huruf kapital? Demi apa, itu adalah kalimat yang paling mengerikan, paling menyedihkan, dan paling kejam yang pernah Minho dengar. Otak Minho terus berputar untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaannya yang kedua, ‘Bagaimana gadis itu dapat bertahan hidup tanpa mempercayai kedua hal itu?’

Baiklah. Hari ini juga, detik ini juga, Minho akan menyelesaikan semuanya. Ia akan membuat Sulli melihat cerminan surga dalam wujud cinta dan takdir.

Setelah menghabiskan banyak kata manis dan indah untuk membujuk Sulli, akhirnya Minho berhasil menyeret Sulli ke sebuah taman ditengah kota. Taman itu ditumbuhi berbagai pepohonan dengan bunga-bunga yang berwarna cerah. Karena ini musim gugur, maka bunga-bunga dan dedaunan itu berjatuhan dari ranting pepohonan yang kemudian menghiasi jalan setapak di taman tersebut. Benar-benar tempat yang romantis untuk pasangan-pasangan —baik pasangan muda maupun lanjut usia– yang menikmati musim gugur di taman itu.

Minho menarik Sulli duduk disebuah bangku panjang bercat putih yang dinaungi dahan pohon besar. Beberapa detik setelah mereka duduk, diisi oleh keheningan. Hanya suara ranting dan daun yang bergesekan karena dihembus angin. Tak satupun diantara mereka berdua yang berniat membuka percakapan. Ya, walaupun seharusnya Minho yang membuka percakapan itu. Karena dia yang mengajak Sulli ke tempat ini untuk berbincang.

“Bagaimana keadaanmu?” Sial, pertanyaan konyol terlontar dari bibir Minho.

“Menurutmu?” Benarkan? Pertanyaan Minho benar-benar bodoh. Minho yakin, kini ia terlihat seperti katak rebus.

“Maksudku,” Minho berhenti sejenak. “Akhir-akhir ini kau bersikap dingin padaku dan selalu menghindariku. Kita jarang bertemu akhir-akhir ini. Padahal rumah kita bersebelahan dan kita satu sekolah. Kita juga tidak pernah berangkat sekolah bersama lagi. Jadi aku tidak tahu bagaimana keadaanmu sekarang.” Minho meluapkan isi hatinya. “Kenapa kau menghindariku?” Ternyata pertanyaan konyol tadi tidak seburuk yang dipikirkan. Malah pertanyaan itu berhasil membawa Minho ke inti permasalahan. Selangkah menuju inti permasalahan.

“Kupikir, kau sudah tahu jawabannya.” Gumam Sulli seraya menundukan kepalanya.

Minho menghela napas panjang. “Aku ingin mendengar langsung darimu.”

“Krystal menyukaimu.” Tidak seperti yang Minho duga, Sulli langsung mengatakan hal itu. “Ia memintaku mendekatinya denganmu. Mungkin ia ingin menjadi kekasihmu.” Lanjut Sulli dengan nada dingin.

“Tapi aku tidak mennyukainya.” Kata Minho cepat. Sulli bergeming. Kemudian Minho menghela napas dan melanjutkan, “Lalu kenapa kau tidak melakukannya? Kenapa kau malah menghindariku?” tanya Minho berusaha menahan emosi.

“Aku tidak tahu. Tapi…” Sulli mengangkat wajahnya dan langsung menatap ke mata Minho. Sejenak mereka bertatapan. Kemudian Sulli mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Aku tidak mau melakukannya ketika aku tahu kau menyukaiku.” Sulli mengatakannya dengan hati-hati.

“Aku tahu. Itu pasti membuatmu bingung.” Gumam Minho.

Belum sempat Minho melanjutkan perkataannya, Sulli sudah membuka mulut untuk bicara. “Dan aku lebih bingung lagi ketika aku tahu kalau aku juga menyukaimu.” Entah setan macam apa yang merasuki Sulli sampai ia bicara begitu. Tapi Sulli merasa sesuatu yang menganjal dihatinya seketika hilang dan hatinya terasa lebih ringan.

Minho membeku. Seketika, jiwanya melayang entah kemana. Kepalanya terasa ringan sampai rasanya kepala itu akan terbawa hembusan angin. Entah berapa banyak perempuan yang telah menyatakan perasaannya pada Minho. Saking banyaknya, sampai Minho tidak dapat menghitung jumlahnya. Tapi diantara perempuan-perempuan itu, baru kali ini ia merasa berbunga-bunga ketika seorang perempuan mengatakan suka padanya. Gadis ini bahkan berhasil menghentikan waktu hanya dengan sebuah kalimat sederhana yang penuh makna.

Minho dan Sulli sama-sama terdiam. Tak sepatah katapun yang berhasil keluar dari mulut mereka. Kini mereka sedang asik menikmati perasaan yang berkecamuk dalam diri mereka. Antara senang, takut, gelisah, dan bingung. Bukankah ini perasaan yang aneh?

“Tapi,” kali ini Sulli yang membuka percakapan. “Kau tahu? Aku membenci cinta dan takdir. Apa itu menjadi masuk akal, kalau aku malah jatuh cinta pada seorang laki-laki?”

Minho mengerutkan keningnya. “Aku tahu. Nenekmu sedikit bercerita waktu itu.”

Sulli menatap Minho dengan mata yang terbelalak. Dan Minho membalasnya dengan senyum kecil yang berkata, ‘Tidak apa-apa. Ia hanya bercerita sedikit.’

Sulli menundukan wajahnya kembali, memandangi tanah yang tertutupi beberapa helai dedaunan dan bunga-bunga. “Ibuku meninggal ketika aku menginjak usia yang kesepuluh. Semasa hidupnya, ia selalu menanamkan sebuah kalimat didiriku yang tidak pernah kulupa. ‘jangan pernah mempercayai cinta dan takdir.’ Kalimat itu selalu terngiang dikepalaku. Seakan-akan ibuku selalu membisikannya ditelingaku setiap saat.” Sulli menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya. Setetes air mata terjatuh ke pangkuannya. “Ayahku meninggalkan ibuku ketika aku masih dalam kandungan. Dan aku tidak pernah tahu dimana dia sekarang. Aku tidak pernah bertemu dengannya. Hanya melihat wajahnya dari selembar foto yang sudah kusam. Dan sejak mengetahui kenyataan menyakitkan itu, aku membenci cinta dan takdir.

“Takdir itu tidak adil. Cinta itu tidak pernah ada. Itu yang aku pelajari selama ini.” Air mata mulai membasahi pipi Sulli. Sulli menyeka air matanya. Ia tidak mau menangisi hidupnya didepan lelaki ini. “Karena itu aku bingung. Karena itu aku menjauhimu.”

Sekeras apapun usaha Sulli untuk menahan air matanya, pada akhirnya air mata itu mengalir dengan deras. Beberapa kalimat yang masih ingin ia utarakan, kini tertahan oleh isakan tangisnya. Tubuhnya gemetar menahan tangis dan kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya.

Sebuah tarikan lembut, membawa Sulli kedalam pelukan Minho. Lelaki itu mendekap Sulli dengan hangat dan memberikan ketenangan dengan mengusap rambut Sulli. Perlahan isak tangis Sulli mereda. Namun Minho tidak berniat untuk melepas pelukannya.

“Takdir memang tidak adil. Karena bukan dia yang mengatur keadilan dihidup manusia. Adil tidak adilnya itu ditentukan oleh hidup kita sendiri. Tapi hidup itu selalu adil. Seperti, kau tidak mendapatkan sekantong permen yang kau inginkan, tapi kau mendapatkan pasta gigi untuk membersihkan gigimu. Gigimu menjadi putih berkilau dan membuat senyummu bersinar. Kalau seandainya kau mendapat sekantong permen yang kau inginkan itu dan menghabiskannya, gigimu kan akan rusak.”

Dongeng macam apa ini, Minho? Kau pikir Sulli anak kecil?

“Dan cinta itu selalu ada. Nenekmu memberikan semua yang kau mau, karena dia mencintaimu. Sahabat dan teman-temanmu selalu ada saat kau membutuhkannya, karena mereka mencintaimu. Dan kau melakukan sebaliknya karena kau mencintai mereka. Juga aku yang memelukmu, karena aku mencintaimu. Aku tidak mau melihatmu bersedih seperti ini.”

Mendengar pengakuan cinta Minho yang bisa dibilang tidak secara langsung, Sulli berusaha melepaskan diri dari pelukan Minho. Namun Minho menahannya.

“Tapi cinta yang kau rasakan berbeda. Cinta seperti itu tidak abadi. Kau akan beralih mencintai gadis lain yang lebih baik daripada aku.” Kata Sulli. Tersimpan nada cemburu pada kalimat terakhirnya.

“Pikiran macam apa itu? Memang kau punya bukti kalau aku akan berpaling darimu?” pertanyaan konyol macam apa itu, Minho?

“Berapa banyak mantan kekasih yang kau punya?” tiba-tiba saja pertanyaan yang lebih konyol terlontar dari mulut Sulli.

“Tidak ada.” Jawab Minho tegas. Singkat, padat, dan jelas.

“Bohong.” Elak Sulli.

“Baiklah, aku pernah mengagumi kakak kelasku dulu. Tapi aku tidak pernah berpacaran.” Sepertinya Minho mau pamer kalau dia hanya pernah menyukai kakak kelasnya.

“…” hening. Sulli hanya diam.

“Apa aku hangat?” lagi-lagi pertanyaan konyol dari Minho.

“Apa maksudmu?” Sulli yang masih meringkuk dipelukan Minho, mendongakan kepalanya dan menatap Minho bingung.

“Sepertinya kau betah sekali berada dipelukanku. Jangan sampai tertidur yah…”

Sekuat tenaga Sulli melepas pelukan Minho. Dan akhirnya berhasil. Matanya terlihat bengkak dan memerah. Terlihat jelas dia habis menangis. Minho mengusap lembut pipi Sulli yang basah.

“Masih membenci cinta dan takdir?” tanya Minho. Tangannya masih berada dipipi Sulli.

Sulli terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Mendengar dongeng kecil Minho yang hanya berisi moralnya saja, membuat semua perasaan dihati Sulli berkecamuk. Apa Sulli bodoh atau ia pura-pura bodoh, karena tidak mengerti apa itu cinta dan takdir yang sebenarnya. Ia terlalu hanyut dalam kesedihan ibunya pada ayahnya. Ia terlalu hanyut dalam kebencian ibunya pada ayahnya. Sampai ia menyalahkan cinta dan takdir, yang sebenarnya itu adalah kesalahan ibu dan ayahnya juga. Seperti yang dikatakan Minho tadi.

Tidak, ia tidak lagi membenci cinta dan takdir. Melihat Minho, ia percaya kalau lelaki itu mencintai Sulli sepenuh hati dan begitupun sebaliknya. Takdir? Ia menaruh takdir itu pada Minho.

Secepat itukah?

Iya.

Sulli menggeleng pelan. Air mata kembali bercucuran dari sudut matanya. Kemudian ia menyandarkan kepalanya dibahu Minho. “Terima kasih. Untuk semuanya.” Gumam Sulli.

Minho tersenyum. Lalu ia juga menyandarkan kepalanya dipuncak kepala Sulli. Mata mereka terpejam. Seakan menikmati dinginnya musim gugur ini. Bunga-bunga dan dedaunan yang berguguran menjadi properti yang menambah suasana romantisme.

Apakah ini akan bertahan lama?

Atau ini hanya kebetulan seperti yang Sulli katakan?

Hanya takdir yang tahu.

***

“Aku benar-benar tidak habis pikir pada istriku. Sepertinya ia masih mencintaimu. Aku bisa apa?” Minho tersenyum pahit mendengar perkataan Taemin. “Bahkan ia tidak jadi datang setelah tahu kalau kau juga akan datang.”

Minho dan Taemin kini duduk berhadapan di sofa yang berada di ruang kantor Taemin. Minho sampai sekitar tiga puluh menit yang lalu, dan selama itu mereka membahas tentang proyek kerja sama mereka. Dan kini, mereka duduk sambil menikmati secangkir mochachino mereka masing-masing, sambil menunggu Jinki, Key, dan Jonghyun yang katanya akan membawa makan siang spesial. Dan, Minho meragukan makanan itu.

“Bagaimana dengan istrimu?” Tanya Taemin setelah ia menyesap mochachinonya.

“Yang jelas, istriku berbeda dengan istrimu. Semakin hari istriku semakin mencintaiku.” Jawab Minho dengan nada mengejek.

Taemin tergelak, “Lalu bagaimana denganmu? Kau bilang, kau tidak mencintainya dan tidak akan pernah.” Balas Taemin dengan menekan kata per katanya.

“Hei! Kutarik lagi ucapanku.” Minho menatap Taemin kesal.

Taemin menyeringai, “Tadi istriku juga akan datang. Tapi setelah kukatakan kau akan datang, dia malah tidak jadi datang.” Taemin memasang ekspresi seolah ia kecewa. “Dia bilang, dia tidak enak padamu. Dia masih malu bertemu denganmu.”

Minho diam. Ia malas menanggapi perbincangan seperti ini. Ia hanya berharap perbincangan ini berakhir secepatnya. ‘Hyung-hyungku, cepatlah datang! Sebelum aku memakan Taemin sampai habis.’.

Tiba-tiba ponsel Taemin berdering. Minho terselamatkan.

“Halo?” Taemin menjawab panggilan ponselnya.

“Ayah!” suara seorang anak terdengar dari seberang sana. Dan Minho dapat mendengarnya karena anak itu berteriak keras sekali.

Ayah? Anak itu memanggil Taemin dengan sebutan ‘ayah’? Siapa anak itu? Tidak mungkin anaknya, kan? Dia sendiri yang bilang kalau istrinya masih mencintaiku. Mana mungkin mereka punya anak kalau istrinya saja tidak mencintainya. Apa ia memaksa istrinya itu? Benar-benar. Minho menatap Taemin dengan tajam seolah berkata ‘Aku menunggu penjelasan!’

“Ya, nanti ayah belikan. Sudah dulu yah.” Taemin menutup ponselnya.

“Kau sudah punya anak? Kau bilang istrimu masih mencintaiku, tapi kalian sudah punya anak? Maksudmu apa?” Taemin yang baru saja menutup panggilan ponselnya, langsung ditembaki oleh pertanyaan-pertanyaan tajam yang terlontar dari mulut Minho.

“Ah, itu, hyung jangan menatapku seperti itu. Aku kan jadi grogi.” Minho menghela napasnya namun masih menatap tajam kearah Taemin. “Iya, iya. Maafkan aku. Aku memang sudah punya anak. Istriku juga tidak memiliki perasaan apapun lagi padamu. Aku hanya bergurau.”

Hati Minho sedikit lega mendengarnya. Jadi dia sudah melupakanku? Baguslah. Batin Minho.

“Aku tahu ini tidak lucu. Tapi aku dan Sulli tertawa membicarakannya.” Taemin melanjutkan perkataannya dengan senyum bodoh.

“Sulli?” alis Minho terangkat sempurna.

“Ya, Sulli juga ikut mengerjaimu.” Jawab Taemin sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. “Aku minta maaf. Maksudku, kami minta maaf.”

“Kalian benar-benar.” geram Minho

Tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari balik pintu. Sebelum Taemin menyahut, pintu itu sudah terbuka dan dalam sekejap, tiga sosok laki-laki masuk keruangan Taemin dengan senyum cerah dan tas plastik yang mereka jinjing. Langkah mereka begitu anggun seolah sedang berjalan diatas catwalk. Salah satu dari mereka, menyunggingkan seulas senyum sok tampan. Satu yang lainnya, melangkah dengan tangan yang dikepalkan dalam saku celananya. Dan satu yang terakhir, tersenyum seperti anak kecil.

“Makan siang datang!” seru Jinki sambil mengangkat jinjingannya. Dia laki-laki yang tersenyum seperti anak kecil itu. Dan dia terlihat begitu manis.

“Minho!” seru Jonghyun dan Key bersamaan. Mereka bergegas menghampiri Minho dengan tangan terlentang. Seketika, Minho menghindar dan berdiri dibalik Taemin. Namun wajahnya tidak mengekspresikan apapun.

“Hei! Kau tidak boleh menghindar. Kita kan rindu padamu.” Kata Key yang sebenarnya sedang menahan malu karena sambutannya ditolak begitu saja. “By the way, kenapa suasana disini tegang sekali. Auranya juga gelap sekali.” Key bicara seolah ia adalah seorang cenayang. Kemudian matanya menangkap wajah Taemin yang kaku. “Ada apa ini? Taemin kenapa? Kalian kenapa?”

Minho mendengus kesal. Key memang selalu tahu kalau ada konflik diantara sahabat-sahabatnya ini. Dia pandai membaca raut wajah orang yang sudah ia kenal dekat.

“Hanya masalah kecil, hyung. Tentang Taemin yang sudah memiliki anak.” Jawab Minho dengan tatapan tajam yang terus ditodongkannya pada Taemin. Taemin yang berdiri tepat disampingnya, merasa bulu kudunya meremang.

“Benar juga. Kau belum tahu kalau Taemin sudah punya anak. Usianya hampir dua tahun. Saat istrinya baru mengandung, kau dan istrimu sudah di Jepang, yah?” kata Jonghyun dengan sumringah.

Minho memincingkan matanya tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Taemin. Taemin yang dipandangi seperti itu, hanya bisa berdiri dengan kaku sambil meneguk ludahnya sendiri berkali-kali.

“Ayo makan! Daripada bertatapan seperti remaja yang tengah kasmaran, lebih baik makan fried chickhen.” Kata Jinki sambil membuka bungkusan fried chickhen miliknya.

Minho tidak berkata apa-apa lagi dan menuruti perkataan Jinki untuk memulai makan siang mereka. Sebenarnya ia masih kesal dengan kelakuan Taemin yang kekanak-kanakan. Siapa yang tidak kesal dengan gurauan seperti itu?

“Sahabat macam apa…” umpat Minho.

to be continue …

Advertisements

88 thoughts on “Behind the Coincidence and Destiny [2/5]

  1. Ah, jd yg bener yg mana nih?!? td udh yakin bget si sulli itu istri taemin…yakin banget kok>_< atau…molla._.
    Makasih updatenya admin;) Ditunggu part brikutnya:3 sangat penasaran..sm tebakkan sndiri..lol xD dn utk author, menarik bt ceritanya:D

  2. Aha ! Semakin menarik… jadi Taemin menikah dengan Sulli .
    Krystal…. sepertinya istri Minho (?) Ada yang terjadi di antara mereka bertahun2 lalu…benarkah ? Yang jelas Taemin sepertinya tahu banget, dimana kedudukannya di hati Sulli, istrinya.
    Imajinasiku melambung…
    Sepertinya anak Taemin adalah anak Minho… (ataukah tebakanku salah ?)
    Well good job authornim, banyak teka-teki terselip di sini. Dan aku suka fanfic seperti ini 🙂
    By the way,
    Takdir itu adil baby Ssul… karena datangnya dari Tuhan yang Maha Adil. Yang tidak adil itu adalah kehidupan yang terlihat matamu…padahal sesungguhnya di balik kehidupan itu banyak pelajaran yang bisa kau petik.
    Oke next part…. sampai di ujung part yang mmmmmmmmmmmmmmm…… minsul will come back to each other ( ????)
    😀

  3. ini jadinya TaeSull-MinStal yaa???

    aku masih bingung sama kalimat di part 1 yg “Sekali lagi, Sulli harus meyakinkan dirinya kalau laki-laki ini adalah malaikat surga yang menyerupai manusia. Dan malaikat ini diutus Tuhan untuk menjadi pendamping hidup dan matinya”

    trus kata2 Minho yg “sahabat macam apa?”
    itu malah bikin tambah bingung, apa Tatem ngerebut Sulli dr Minho? Sulli terpaksa nikah sama Tatem?

    aku tunggu part 3 nya thor ^^

  4. Aigooooo…. apa yang terjai sebelumnya…. semakin penarasan dibuatnya,,,,, dan semakin asyik untuk menebak-nebak…. 😀
    perasaan membingungkan pasti terjadi disetiap potongan episode,,,, 😀
    hahahaha,,,, semakin seru!!!!!!

    mian eonnie… kemarin belum sempat komen,,, gara-gara hpku tiba2 mati…. hahaha… #curhat. 🙂
    semangat eon… lanjutkan 😉 :3

  5. Astagaa agak rumit juga nihh
    bagaimana mereka bisa nikah sama orang yang gak di sukain?? Penasarann sm ceritanyaa..
    Ssul bneran nikah sm taem???
    nextt eonn

  6. Waduhhh nih cerita lucu tp susah masih belum ngerti , knp minho nya dah nikah jg mmmm ko sulli malah nikah ma taemin, aduhhhh mantap nih lom tau alurnya lom ketebak

  7. Jadi ceritany ini giman nih ???
    Pasangan mereka tertukar at memang itu mereka yg menyusunnya ??
    Saengi sm taem trus kryst sm ming oppa ??
    Begitukah ???
    Omo…knpa bsa sperti itu ?
    Sprtiny prlu flshbck lgi 🙂
    Sangi dn taem puny anak ? Anak siapa ?
    Tambah bnyak prtnyaan yg muncul..hahaa
    Next chapt chingu
    Cepat2 di update yaa 🙂

  8. Bingung banget sama ceritanya>< taemin nikah sm ssul? Atau ssul saudara taemin? Terus minho nikah sm siapa? Krystal? Aish gatau. Semoga cepet keluar lanjutannya deh, fighting!

  9. omona…..!!! mungkinkah istri taemin itu sulli? dan mereka udah mempunyai anak.
    tak ku sangka ternyata minho udah punya istri juga? terus istrinya siapa? jangan² krystal yg jadi istrinya minho? kenapa semuanya jadi rumit seperti ini?
    benar² bikin aku penasaran dan gak sabar pingin baca cerita selanjutnya.
    next …!!!! keep writing!!!!

  10. Rada ngeselin nh ff. Aku gk ngerti ! (tpi bgus bingitz. Piss :D)
    jadi sulli nikah sm taemin, trus minho sma krystal kh ?
    Anak2 yg telfon taemin it siapa ? Anak.a ?
    Aku ko’ ngerasa aneh ya!? Aku rasa it anak.a minsul ! Tpi knapa dulu mereka pisah (minsul) ? Ada Masalah apa emang dulu ?
    Next, palli ne^^

  11. Mungkin terdapat kebahagiaan di dalam teka teki ini. Entah kenapa kayaknya taemin cuman bantu sulli. Tapi kalau urusan minho krystal tak tau lah saya 😦 ceritanya greget. Fightiiiinnnggg eon

  12. Masih bingung .. terus yg istrinya minho krystal gitu ..
    Dan itu bener anaknya ssul ama taemin atau gimana ??
    Di tunggu chap selanjutnya deh .

  13. masih bingung >.<
    yg bnr mana nih?
    taemin-sulli?
    minho-sulli?
    hmmm…hahaha..trnyta yg lain juga sm bingungnya…

    ahhh update lg authornim..biar kebingungannya terjawab :p
    gomawoyoo

  14. membingungkan, bkin pnasaran, jd mingo jg udh nikag? ap ama krystal? trus taemin udh puxanag? bingung jdx?
    pnsaran, titik terangx donk author, aq pnasaran,,,,

  15. masih bingung,siapa istri minho ?? terus bagai mna kehidupan rumah tangga sulli dan taemin..ah jeball .. binging ini..

  16. Ah jinjja!! Rhayaa, ini tebak2an yah, sukseslah bikin penasaran tingkat dewa inii, aq masih belum bisa nebak beneran apa yg trjadi sma mereka berempat, minsul+taestal. Hmmm sulli nikah sma taemin, minho sma krystal ya. \(˚☐˚’!l)/ \(l!’˚☐˚)/ banyak banget pertanyaan di kepala ini. O.o

  17. Aku nggk ngerti jalan ceritanya…tapi justru itu yg bkin aku penasaran…ini Minho ama ita dan Sullu ama taemin? Atau….?
    Aaaa…bca smpai tuntas aja deh supta rasa peasarannya ilang

  18. Astaga jadi frustasi bacanya, sebenernya sulli itu istrinya siapa? Oke aku yakin sulli istri nya taemin tapi hati aku ga bisa terima (?) #abaikan
    Kelanjutan ceritanya bnr2 aku tungguin, penasaran sm kata2 minho yg selalu bilang ‘sahabat macam apa…’

  19. Allllaaaaaahhhhh:'( jangan sampai Endingnya bukan MinSul 😥 Hhuuuwwweeeee 😥 Minho jangan jatuh cinta sama Istrinya sendiri 😥 ELAAHHH /? MinSul MinSul MinSul MinSul MinSul /? Pokoknya MinSul

  20. Aduhhh gemesnyaaa :3
    Istriku istrimu istrinya.. Yaaak sbenarnya istri minhhoo siapa.. Dan apa itu Katak Rebus :v Ngakakak 7 Turunan 5 tanjakan ane xD.. Lanjut!!

  21. kayaknya ssul gak nikah ama taem tapi akhhh, masih berputar2 pikiranku. langsung baca nextnya aja deh yah dari pada aku makin bingung. tapi pembahasaanya bagus dan tersusun dengan rapi.

  22. Ah, jd yg bener yg mana nih?!? td udh yakin bget si sulli itu istri taemin…yakin banget kok>_< atau…molla._.
    Makasih updatenya admin;) Ditunggu part brikutnya:3 sangat penasaran..sm tebakkan sndiri..lol xD dn utk author, menarik bt ceritanya:D

  23. Apa apaan taemin punya anak dari sulli, andwee.. TT-TT
    Semoga mereka cepet cepet cerai aja dah, authornya pinter bikin cerita ya, membuat hatiku berkecamuk merasakan panasnya hati minho yg cemburu wkwkwk #abaikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s