The Next Bloodline [Chapter 15]

mahogany4-2-copy

The Next Bloodline

Author : Mahogany4 (@ItsMahogany4)

Translater : Maria2509

Original Version klik here!

Length : Sequel

Rate : PG-15

Chapter 15: Vision

Putri Dhara duduk didepan seluruh Dewan Penatua dan Penasihat.

“Sungai Axze mengering. Tanaman-tanaman juga mati. Warga sudah mulai mengosongkan daerahnya. Bagaimanapun juga desa terdekat menjadi semakin padat penduduknya. Masyarakat disana sudah mengeluh.” Kata salah satu Dewan Penatua

“Hal itu juga terjadi di desa-desa bagian selatan. Ikan-ikan mati. Tidak ada hasil panen. Orang-orang mulai kelaparan.” Kata Dewan Penatua lainnya.

“Apa yang terjadi, Tuan Putri? Dimana Raja? Apakah Raja masih sakit? Apakah Raja masih bisa sembuh?” Tanya salah satu Dewan Penasihat.

Dhara tahu kematian Ayahnya tidak dapat dirahasiakan lagi.

“Tuan-tuan…” Dhara berdiri. “Ayahku… sudah tidak bersama kita lagi…”

Dewan Senior dan Penasihat mulai melontarkan pertanyaan disaat yang bersamaan.

“Dia telah meninggalkan dunia ini dan dia adalah keturunan terakhir dari keturunan kami.” Kata Dhara

“Itulah sebabnya Zaruum kehilangan kekuatannya!” Kata seorang Penatua

“Ya.” Kata Putri Dhara. “Aku sudah meminta sekelompok orang untuk memulai untuk mencari garis keturunan berikutnya tapi itu membutuhkan waktu.”

“Membutuhkan waktu berapa lama, Tuan Putri?” Tanya seorang Penatua

“Aku tidak bisa memastikannya. Mereka sudah melakukan perjalanan sudah lebih dari satu bulan.” Kata Dhara

“Siapa yang memimpin pencarian ini?” Tanya Penasihat

“Pencarian ini dipimpin oleh Cha Seungwon dan salah satu dari Ace Knight kita, Kris.” Kata Dhara

Kekacauan diruangan itu perlahan mereda.

“Cha Seungwon masih hidup?” Tanya seorang Penatua

“Ya. Beberapa tahun yang lalu, Ayahku memintanya untuk meninggalkan istana untuk mempersiapkan hari ini ketika pencarian the next bloodline harus dilakukan.” Kata Putri Dhara

“Jadi, Raja sudah memperkirakan hal ini. Bukankah seharusnya ia sudah mencari garis keturunan berikutnya sebelum ia meninggal?” Tanya penasihat

“Aku yakin kalau Ayahku diijinkan untuk mencari The Circle saat itu juga, ia sudah pasti akan melakukannya. Tapi hanya sekelompok orang terpilihlah yang dapat melakukannya.” Kata Dhara. “Pencarian tidak bisa dimulai kecuali waktunya sudah tepat. Tapi, Ayahku sudah mengumpulkan orang-orang terpilih yang ia bisa sebelum waktunya tiba. Hanya beberapa orang yang mengetahui tentang Ramalan Anhate. Ayahku mencoba segala cara dengan kekuasaan yang dimilikinya untuk membantu The Circle dalam pencarian The Next Bloodline.

“Apakah waktu persiapannya cukup? The Core… tidak bisa menunggu selamanya.” Kata salah satu Penatua. “Zaruum akan hancur.”

“Kau tidak tahu apa yang sudah dikorbankan oleh Ayahku dalam mempersiapkan semua ini. Dia mengorbankan hal yang paling penting dalam hidupnya untuk melindungi Zaruum. Persiapan ini tidak akan pernah cukup. Tidak ada cara lain untuk mempersiapkan yang belum diketahui kepastiannya. Namun Raja tidak pernah berhenti mempersiapkan sampai saat-saat kematiannya.” Kata Dhara

.

.

.

.

Didalam ruangan gelap, disebuah desa diselatan seorang wanita duduk dikursi tinggi. Dia sudah melihat keluar jendela selama berjam-jam.

Kemudian seorang wanita memasuki ruangan.

Mistress Muklan.” Kata wanita yang baru saja masuk. “Makanan Anda sudah tiba.”

Wanita yang duduk dikursi itu tersenyum.

“Apa masih segar?” Tanya Mistress Muklan

“Masih hangat dan berdetak, Mistress.”

“Bagus. Adah, aku merasa semakin kuat dari hari ke hari…” kata Mistress Muklan. “Waktu kita untuk menguasai Zaruum semakin dekat.”

“Saya sudah siap, Mistress.” Adah berlutut. “Anda bisa memberitahuku dan saya akan menyerang kapan saja.”

“Adah, Adah, Adah, kau tidak bisa pergi begitu saja tanpa persiapan. KITA harus tahu seperti apa musuh kita. Kita tidak boleh meremehkan mereka.” Kata Mistress Muklan

“Anda tahu yang terbaik, Mistress. Saya akan menunggu perintah dari Anda.” Kata Adah.

Muklan mengambil jantung yang masih berdetak itu dari piring. Dia memakannya. Setiap gigitannya, cairan darah mengalir secara perlahan ke dalam mulutnya.

Muklan mengambil kain dan membersihkan tangannya setelah memakannya.

“Kita harus menghentikan tikus-tikus itu. Kita tidak boleh membiarkan mereka berhasil.” Kata Muklan

“Saya disini menunggu perintah Anda, Mistress.” Kata Adah

“Bagaimana kalau kita menguji air mereka? Kita beri sedikit goncangan untuk mereka.” kata Muklan sambil menyentuh jendela dengan sisa darah yang masih menempel ditangannya. “Dan kita hacurkan  mereka.” Mata wanita itu berubah menjadi merah.

Adah tersenyum. Akhirnya mereka memulai serangannya.

.

.

.

.

Hutan yang mereka lewati kali ini sangat berbatu dan bahu Sulli masih sakit.

Minho mengulurkan tangannya untuk membantu Sulli melewati batu itu. Tapi Sulli hanya mengangguk.

“Tidak apa-apa.” Kata Sulli

Sulli terus berjalan tanpa bantuan.

Yoona tergelincir dibebatuan dan Minho menangkapnya sebelum gadis itu mematahkan tulangnya pada saat jatuh.

Mata Sulli menyipit bersamaan dengan hatinya kesal. Dasar wanita lemah! Mereka hanya berjalan saja, kan? Dan batu-batu itu kasar. Jadi, kenapa gadis itu bisa terpeleset!

Arrrggg!!! Sulli semakin kesal.

“Hati-hati. Kau bisa terpeleset.” Kata TOP menertawakan Sulli

Wow! Apa dia harus berkata seperti itu?!

TOP berjalan didepannya.

“Aku rasa yang dia maksud itu kau sangat mudah dibaca. Rasa kesalmu terlihat sekali diwajahmu.” Kata Sunny

Apa…

Sulli memukul kepalanya dengan tangannya. Apa yang terjadi padanya? Mengapa dia sangaaatttttt kesal akhir-akhir ini!

Sulli melihat sekelilingnya. Yahh, dia tidak kesal pada semuanya. Hanya pada orang tertentu saja… dan pada si wanita penyembuh itu!

Ada apa dengan kemarahan Sulli yang meluap-luap akhir-akhir ini!

Sulli melihat Yoona naik ke punggung Minho sehingga Minho bisa menggendongnya.

“Apa kaki gadis itu terkilir?” Tanya Sulli

“Tidak. Aku rasa dia hanya terpeleset tapi tidak ada tulang yang cedera.” Kata Sunny

“Tapi kenapa dia harus digendong?” Tanya Sulli

“Umm, mungkin karena dia ceroboh. Kalau tidak ada yang menggendongnya, dia pasti akan membuat pergelengan kakinya bengkok.” Kata Sunny

“Kakiku juga terkilir, tapi aku berusaha agar tidak merepotkan siapapun. Dan memangnya harus Minho? Diantara kita semua, Minho-lah yang sedang terluka!” Kata Sulli

“Nah, kalau begitu itulah perbedaan diantara kalian berdua.” Kata Sunny

“Apa maksudmu?” Tanya Sulli

“Kau seorang petarung. Dia seorang gadis lemah. Kau rekannya. Dia seorang putri. Siapa yang menurutmu akan mendapatkan perhatian pria?” Tanya Sunny

Sunny benar tapi apa yang harus dia lakukan berpura-pura terpeleset juga? Dengan wanita berada dipunggung Minho, Sulli pasti akan berakhir dipunggung Chanyeol itu. Itu tidak akan meringankan hatinya sama sekali.

Sepertinya ada sesuatu yang mencengkram hatinya bukan hanya pada saat melihat Yoona tapi, setiap kali gadis itudi dekat Minho.

“Cara bicaramu seperti orang dewasa.” Kata Sulli

“Itu karena aku memang lebih tua darimu.” Kata Sunny. “Sementara kau gadis kecil-”

“Aku bukan gadis kecil.” Kata Sulli

“Yah secara fisik ya tapi secara mental tidak. Akui saja kalau kau cemburu, oke? Mulailah mengakuinya sebelum kau melupakannya.” Kata Sunny

Cemburu?! Tidak mungkin!

“Aku tidak cemburu.” Kata Sulli

“Jadi kenapa kau sangat kesal dengan wanita itu? Apa kau merasa kesal hanya dengan melihatnya? Atau hanya pada saat gadus itu dekat-dekat dengan Prajurit Kegelapan itu?” Tanya Sunny

Sepertinya pertanyaan Sunny tepat mengenai sasaran.

Sunny mengangguk tersenyum. “Kau sangat mudah dibaca, nak. Kau lebih tahu bagaimana mengontrol dirimu sendiri kalau kau tidak ingin berakhir dalam kesulitan.” Kata Sunny

Anggota The Circle berhenti wilayah hutan yang memiliki sungai. Mereka sudah berjalan selama berjam-jam.

Dengan 3 manusia (Sulli, Sunny, dan Yoona) dan Prajurit Kegelapan yang terluka, waktu perjalanan secara tidak langsung menjadi lebih lama.

Kenapa juga dia harus cemburu? Sulli memikirkan hal itu terus.

“Hei, kau berdiri disana seperti patung. Apa kau mengisi ulang botol airmu?” Tanya Chanyeol

“Oh ya. Umm, Chanyeol…” kata Sulli.

Chanyeol duduk dan mengisi botol airnya.

“Ada apa?” Tanya Chanyeol

“Apa artinya ketika seseorang merasa cemburu pada orang lain?” Tanya Sulli

“Apa maksudmu?” Tanya Chanyeol

“Maksudku, kalau aku melihat seorang pria dan wanita lalu aku merasa kesal dengan gadis itu karena dia bersama dengan pria itu, apa itu namanya cemburu?” Tanya Sulli

“Yah, itu sangat bisa disebut cemburu.” Kata Chanyeol

Bagus sekali, dia dalam masalah.

“Tapi, kenapa harus cemburu. Itu sangat…. Tidak masuk akal.” Kata Sulli

“Well, kalau kau menyukai seseorang dan dia sangat dekat dengan orang lain, itu akan membuatmu cemburu.” Kata Chanyeol

“Tapi kenapa?” Tanya Sulli

Well, kalau kau menyukai seseorang, kau akan menginginkan orang itu untuk dirimu sendiri. Kau ingin memilikinya. Kalau ternyata dia menyukai orang lain, itu akan menyakitimu.” Kata Chanyeol

Tidak. Apa itu artinya… dia menyukai Minho?

Sulli menggelengkan kepalanya. Jantungnya berdetak cepat.

Sulli berjalan beberapa langkah, kemudian Chanyeol memegang lengannya.

“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?” Tanya Chanyeol

“Huh? Umm, hanya penasaran saja.” Kata Sulli

“Kau yakin?” Tanya Chanyeol. “Kenapa aku merasa kalau itu bukan hanya sekedar rasa ingin tahu?”

Sialan, apa dia benar-benar mudah dibaca? Sunny benar sekali.

Sulli menarik lengannya. “Ya, hanya ingin tahu.” Sulli memberikan senyum palsunya kemudian pergi.

Chanyeol melihat Sulli meninggalkan botol airnya ditepi sungai. Dia mengambilnya dan mengisi ulang botol airnya.

Chanyeol menatap punggung Sulli yang sedang berjalan.

Gadis itu sudah menganggapnya seperti kakak baginya dan dia juga sudah menganggap Sulli seperti adiknya sampai sosok adik itu tidak lagi cukup baginya. Untuknya, Sulli seperti udara segar. Dia seperti bunga di lapangan yang sangat hijau. Dia membawa warna untuknya.

Chanyeol menatap botol air yang dipegangnya. Dia mencengkeram botol itu terlalu erat sampai bentuknya berubah.

Chanyeol mendesah.

Apa Sulli akan menjauhinya?

.

.

.

.

The Circle masih berjalan dihutan saat Sulli merasakan ada sesuatu yang menusuk dadanya. Kali ini, bukan rasa sakit yang disebabkan oleh “cemburu”. Kali ini, ia merasakan sakit pada tubuhnya.

Sulli mencoba untuk mengabaikannya tapi rasa sakit itu muncul lagi. Kali ini, rasa sakit itu sangat menyakitkan sampai membuatnya jatuh berlutut. Dia berada dibelakang sehingga tidak ada yang memperhatikannya. Sulli mencoba berdiri tapi ada tusukan lain yang dirasakannya. Rasa sakitnya sangat kuat sampai dia harus berbaring dirumput dan memegang dadanya.

Apa yang terjadi?

Sulli mendongak. Kelompoknya sudah semakin jauh. mereka sudah hampir tak terlihat.

Kemudian penglihatannya menjadi buram sampai kegelapan menyelimutinya.

.

.

.

.

Minho berhenti.

“Kenapa kita berhenti?” Tanya Yoona yang berada dipunggung Minho.

Meskipun kepekaannya belum kembali sempurna, Minho tahu ada sesuatu yang salah.

“Chanyeol, bisakah kau menggendong Yoona sebentar?. Aku rasa aku butuh mengistirahatkan punggungku.” Kata Minho

“Oh, baiklah.” Kata Chanyeol.

“Tapi… tapi…” Yoona terpaksa turun dari punggung Minho.

“Dia terluka, kau ingat?” Tanya Sunny. “Punggungnya… api penyihir.” Sunny menekankan maksudnya untuk mengingatkan Yoona.

Yoona cemberut.

“Aku baik-baik saja. Jalanannya sudah tidak berbatu lagi. Aku bisa berjalan sendiri.” Kata Yoona

TOP menyeringai.

Lalu ada angin bertiup dari belakang.

“Apa itu?” Tanya Kris

“Aku rasa itu Minho.” Kata TOP

“Meninggalkan kita begitu saja tanpa memberitahu kemana dia pergi?” Tanya Kris marah

“Dia pasti bisa menyusul kita.” Kata Master Cha. “Ayo, kita lanjutkan.”

TOP memperhatikan sekitarnya, ia mengharapkan ada reaksi dari Sulli yang kesal pada Yoona tapi Sulli diam saja. TOP memperhatikan sekelilingnya lagi. Hmm, gadis itu tidak ada.

Ahh, itu sebabnya Minho menghilang.

.

.

.

.

Minho tidak bisa melompat terlalu jauh dan terlalu tinggi. Punggungnya tidak mengijinkannya untuk melakukan itu.

Ia menelusuri kembali jalan yang The Circle lalui dan segera ia menemukan apa yang dicarinya.

Sulli. Gadis tergeletak di tanah.

Minho segera berlari kearah manusia itu. Dia mengangkatnya dan menggoyangkan tubuh Sulli.

“Sulli! Hey! Bangun!”

Tapi tidak ada respon. Minho merasa kulit Sulli dibawah tangannya… rasanya dingin…

Dan kemudian Minho melihat cahaya samar dari dada Sulli. Minho dengan hati-hati membuka pakaian Sulli untuk melihat apa yang ada didalamnya. Kemudian ia melihat ada batu didada Sulli. Dia melihat itu sebelumnya tapi kali ini, seperti ada cairan biru didalamnya yang berputar-putar dan bersinar.

Minho hendak menyentuh batu itu saat Minho merasakan ada sentuhan dingin pipinya. Sulli sadar. Tangannya menyentuh wajahnya.

Minho menyentuh tangan dingin Sulli dipipinya kemudian cahaya di dada Sulli menjadi lebih terang. Cairan itu berputar lebih cepat didalamnya.

Pandangan Minho berkabut ia tidak lagi berlutut dengan Sulli dalam pelukannya. Dia berdiri didalam gua yang gelap.

Gelap tapi Minho bisa melihat sepasang mata merah menatapnya. Binatang. Binatang yang sangat berbahaya. Ada suara keras berasal dari kaki kuda dan seorang laki-laki diluar sana.

Kelihatannya penglihatan ini tidak asing untuknya.

Minho melihat ke luar dan melihat kereta, kuda besar. Prajurit dan Ksatria berjalan ke sisi gunung. Binatang mengerikan itu keluar dari tempat persembunyiannya dan menyerang kelompok itu.

Lalu ia melihat binatang itu berjalan menuju kereta besar. Para Ksatria dan Prajurit disekitar kereta dengan sigap melindunginya.

Didalam kereta kuda ada seseorang yang duduk. Seorang Raja muda.

Kemudian ia melihat seseorang disamping Raja, Ksatria Cha Seung Won pada masa kejayaannya.

Master Cha berteriak agar semua prajurit tetap ditempat mereka. Binatang itu bersiap-siap untuk menyerang. Tetapi beberapa prajurit dibarisan depan kehilangan kendali, mereka ketakutan dan menembakkan panah mereka pada binatang itu. Binatang itu melompat diantara para prajurit itu! Membunuh mereka satu per satu dengan sadis.

Minho tidak bisa bergerak. Ini hanya sebuah penglihatan tidak peduli apa yang dia lakukan sekarang, itu tidak akan lagi membantu. Ini hanya masa lalu.

Binatang itu mencapai wilayah Raja. Ksatria dan Raja berdiri untuk melindungi kereta kuda.

“Jangan biarkan dia sampai ke kereta.” Kata Raja

“Ya, Tuan.” Kata Seungwon

Tapi binatang mengamuk dan melemparkan kuda-kuda mereka termasuk Seungwon dan Raja. Mereka berdua jatuh dari kuda mereka. Raja bahkan terlempar beberapa meter jauhnya. Seungwon dengan cepat bangun tapi cakar binatang itu mengenai matanya dan Seungwon jatuh ke tanah.

Tidak ada siapapun yang melindungi kereta itu, kemudian binatang itu membuka pintu kereta.

Di dalamnya ada seorang wanita yang duduk dengan rasa takut yang jelas terlihat dimatanya. Airmatanya mengalir tapi dia tetap disana dengan begitu Minho menyebutnya sebagai keberanian.

Wanita itu tidak asing. Dilihat dari wajahnya, dia teriingat sebuah lukisan di Istana.

Wanitu itu Ratu.

Cakar binatang itu menyentuh leher Ratu yang membuat darah mengalir dari lehernya.

Tapi bukannya membuat Minho merasa marah, ia merasa… aneh. Ada sesuatu yang hampir seperti rasa gembira.

tiba-tiba terdengar suar tangisan bayi dari belakang ratu.

“Tidak… tidak…” Ratu memohon binatang itu.

Binatang melemparkan ratu keluar dari kereta.

Walaupun Raja hampir tidak bisa berjalan tapi dia berhasil mencapai Ratu.

“Putri kita… Yang Mulia, Putri kita!” Teriak Ratu

Binatang meraih bayi kecil didalam kereta. Bayi itu menangis. Binatang itu akan menusuk bayi dengan cakarnya ketika tiba-tiba bayi itu… tertawa?

Bayi itu meraih cakar rakasanya dan tertawa.

Binatang itu mundur selangkah. Tapi bayi itu terus mengulurkan lengannya pada binatang itu.

Binatang itu mundur selangkah lagi. Bayi itu mulai menangis lagi ketika binatang itu bergerak menjauh. Binatang itu mendekati sang bayi.

Semua orang menahan napasnya.

Bayi itu berhenti menangis lagi dan meraih binatang itu lagi.

Binatang itu mengulurkan cakarnya pada bayi itu dengan hati-hati agar tidak melukai sang bayi. Bayi itu menyentuh cakar kemudian cahaya biru menutup penglihatan Minho.

Minho mengusap matanya dan ketika ia membuka matanya, Sulli berdiri beberapa langkah darinya. Dia kembali hutan.

Minho berdiri.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Minho

Sulli kembali menatap Minho.

“Minho… aku merasa… lemas…” Sulli kembali jatuh berlutut. Minho menangkapnya.

“Hei, kau baik-baik saja?” Tanya Minho

“Tolong, bawa aku pada Master Cha.” Kata Sulli

.

.

.

.

TBC

Advertisements

51 thoughts on “The Next Bloodline [Chapter 15]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s