Behind the Coincidence and Destiny [4/5]

Cover FF; RH (10)

Behind the Coincidence and Destiny

Nama author  : Rhaya Cantika

Main Cast  : Choi Sulli dan Choi Minho

Support cast  : Jung Krystal, Lee Taemin, Kim Kibum, Lee Jinki, Kim Jonghyun, Cho Kyuhyun, and other.

Lenght  : Chaptered (1-5)

Genre : Romance

Summary :

‘Cinta bukan suatu kebetulan, tetapi takdir.’ Pernyataan sederhana itu sangat bertolak belakang dengan pendapat Sulli tentang Cinta. Gadis yang tidak pernah percaya pada ‘cinta’ dan ‘takdir’ ini, berpendapat kalau‘cinta’ hanyalah suatu kebetulan dan kebetulan itu tidak pernah abadi.

Berawal dari kisah cinta ibunya yang berujung kepedihan, Sulli lahir menjadi gadis yang membenci cinta dan takdir. Namun bisakah ia hidup tanpa kedua hal itu?

“Do you believe in Destiny?”

.

.

Chapter 4: Angel for Sulli

.

Minho duduk dilantai dengan menyandarkan punggungnya disisi ranjang. Penampilannya benar-benar berantakan. Bukan hanya rambutnya yang kusut, wajahnya pun terlihat kusut. Matanya yang memerah, terpaku pada sebuah koper hitam yang berdiri tegak dihadapannya. Sebelah tangannya, memegang secarik kertas. Itu tiket. Tiket pesawat. Tiket pesawat untuk penerbangan ke Jepang. Minho akan berangkat ke Jepang siang ini.

Kedua orang tua Minho, baru saja meninggalkan rumah menuju tempat pernikahan Sulli dan Taemin. Dan Minho memilih tetap berada di rumah seperti seorang pecundang. Meratapi takdirnya dengan bersandar disisi ranjang tidurnya. Menatap koper yang sudah berisi barang-barang yang akan dia bawa ke Jepang. Meyakinkan diri, kalau lari dari kenyataan adalah hal yang harus ditempuhnya saat ini. Selain itu, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Walaupun dia tahu, sampai saat ini dirinya dan Sulli masih saling mencintai.

Ucapan Kyuhyun waktu lalu, benar adanya. Setelah membuktikan kalau Minho benar-benar menjauhi Sulli, Kyuhyun memberi sedikit bantuan pada perusahaan Siwon sehingga perusahaan itu sedikit berkembang kembali. Namun, Minho tetap berniat pergi ke Jepang. Selain untuk melupakan Sulli, ia juga harus mengurus saham ayahnya yang berada di Jepang.

Minho mengepalkan sebelah tangannya yang tidak memegang tiket pesawat. Ia menyesal. Jujur, ia sangat menyesal. Menyesal karena telah menasihati Sulli agar mau memaafkan ayahnya. Seandainya, waktu itu ia tidak meminta Sulli untuk memberi kesempatan pada Kyuhyun, mungkin saat ini ia akan berada disisi Sulli. Tertawa bersamanya, memandangi wajahnya, menciumnya…

Namun, takdir berkata lain. Minho harus meringkuk dikamarnya. Sedangkan Sulli harus menikah dengan sahabatnya. Mantan sahabatnya mungkin gambaran yang lebih tpat untuk saat ini, Lee Taemin. Dunia ini benar-benar kejam, juga sempit. Minho tidak habis pikir dengan manusia yang telah hidup ratusan tahun didunia ini. Bagaimana dia bisa bertahan hidup selama itu, sementara Minho yang baru menginjak usia dua puluh dua tahun saja sudah menginginkan kematian.

Minho memejamkan matanya dalam-dalam. Merasakan dadanya yang berdenyut sakit. “Maafkan aku, Sulli. Aku hanya seorang pecundang.” Dua bulir air mata mengelindingi permukaan wajah Minho. Ini kali pertamanya, merasakan sakit yang benar-benar sakit. Melepasakan orang yang dicintainya, adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya.

 

***

 

Sulli menatap pantulan bayangannya dicermin. Sebuah gaun putih yang sederhana namun terlewat mewah itu, melekat dengan sempurna ditubuhnya. Wajahnya mengeluarkan aura yang tak biasa. Hari ini, dia akan menjadi seorang pengantin wanita.

Biasanya, hari pernikahan itu adalah hari yang paling membahagiakan didunia bagi semua orang. Namun tidak untuk Sulli, kali ini. Wajahnya tertekuk dan mengambarkan kesedihan. Ia sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia tidak ingin menikah dengan Taemin. Yang ia mau hanya Minho seorang. Tapi…

“Aku tidak mencintai Sulli.”

Kalimat yang diucapkan Minho itu bagai ribuan pisau yang menghujam dadanya. Rasa sakit tak henti-hentinya menggerogoti hati Sulli.

Sulli masih sangat ingat, dua tahun yang lalu, saat ayahnya menjodohkan Sulli dengan Taemin. Dengan alasan kalau perusahaannya akan bangkrut jika Sulli dan Taemin tidak menikah. Saat itu, Sulli dalam dilema. Susah payah ia mencari cara untuk tetap bersama dengan Minho. Bagaimana caranya, agar perusahaan ayahnya tidak terancam, namun ia tetap bersama dengan laki-laki yang dicintainya. Sulli tidak menyangka, kalau Minho akan melepasnya begitu saja. Setelah semua yang mereka lalui bersama, setelah semua yang Minho korbankan untuk Sulli, dan Minho hanya mengakhirinya dengan berkata kalau ia tidak mencintai Sulli?

Padahal, laki-laki itulah yang membuat Sulli jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dia juga yang membuat Sulli berani menggantungkan takdirnya pada Minho. Dan dia juga yang membuat Sulli berani membayangkan masa depan yang akan dibangunnya dengan Minho.

Tapi apa ini?

Benar kata orang, tentang, cinta itu tidak harus memiliki. Sulli mencintai Minho, bukan berarti Sulli harus memiliki Minho. Ia tidak peduli apa Minho bersungguh-sungguh dengan kalimat tajamnya waktu itu. Yang pasti, ia tetap mencintai Minho. Tidak. Ia harus melupakan Minho. Melupakan cinta pertamanya. Cinta yang hanya suatu kebetulan. Oh, Sulli benci mengingat itu. Tapi…

Pada akhirnya, Sulli kembali pada prinsip awalnya.

‘Cinta bukanlah takdir. Cinta hanya suatu kebetulan. Dan kebetulan tidak pernah abadi.’

Sulli menyeringai memikirkan kisah dibalik kebetulan dan takdir. Kisah yang entah dimana ujung akhirnya.

Apa yang ada dibalik kebetulan dan takdir?

Cinta.

Cinta adalah sesuatu yang ada dibalik kebetulan dan takdir.

,

,

Langkah demi langkah dilalui Sulli menuju altar. Dengan alunan musik merdu dan dituntun ayahnya, Sulli berjalan dengan anggun, menghampiri Lee Taemin yang berdiri tegap didekat altar dengan senyum lembutnya. Semakin dirinya mendekati altar, semakin ia merasakan sakit didadanya. Air mata menggenang dipelupuknya. Bukan air mata haru, melainkan air mata kesedihan. Sedih karena ia tidak menikah dengan orang yang dicintainya. Choi Minho.

Diam-diam, Sulli berharap pintu besar yang ada dibelakangnya, tiba-tiba terbuka dan menghadirkan Minho yang akan membatalkan pernikahan ini dan membawa Sulli pergi bersamanya. Tidak. Ia tidak boleh berpikir seperti itu. Bagaimana dengan perusahaan ayahnya nanti? Bagaimana dengan kerja keras yang sudah dibangun ayahnya selama belasan tahun itu? Sulli tidak mau mengecewakan ayahnya. Kyuhyun adalah ayah yang baik.  Lebih dari baik yang dibayangkan Sulli sebelumnya. Itu pendapat Sulli.

Jarak Taemin dan Sulli hanya tinggal beberapa langkah. Senyum Taemin semakin mengembang. Melihat senyum itu, Sulli kembali meyakinkan dirinya kalau Taemin adalah malaikat yang menyerupai manusia, yang diutus tuhan untuk mengobati luka hatinya. Mengingat luka hati, Sulli kembali mengingat Minho yang berusaha ia hilangkan dari pikiran dan kehidupannya. Laki-laki yang mengakhiri hubungan mereka dengan kalimat ‘Aku tidak mencintai Sulli.’. Tanpa disadari, air mata kesedihan yang sedari tadi tergenang, kini meluncur dengan bebas diatas permukaan pipi Sulli.

Sulli berhenti melangkah. Ia sudah berhadapan dengan Taemin yang masih menyunggingkan senyum. Kyuhyun melepas tangan putrinya dan menyerahkannya pada Taemin. Kemudian Taemin menarik tangan Sulli dan mengaitkannya dilengan Taemin. Sebelum laki-laki itu membawa Sulli kehadapan pendeta, ia sempat membisikan sesuatu pada Sulli.

“Sulli, apa kau percaya kalau aku akan membahagiakanmu?”

Sulli mengangguk kecil, mengiyakan. Ia tersenyum lembut pada Taemin dengan setetes air mata yang menghiasi wajahnya. Taemin tahu benar, kalau air mata itu adalah air mata kesedihan. Dan ia berniat untuk mengakhiri kesedihan Sulli, detik ini juga.

Taemin dan Sulli berbalik menghadap pendeta yang sudah siap menjadi saksi atas janji suci pernikahan mereka.

 

***

 

Krystal melangkah memasuki sebuah cafe bernuansa pastel. Matanya berputar-putar mengelilingi setiap sudut cafe tersebut, mencari sosok yang akan ia jumpai. Tidak lama, matanya menangkap seorang wanita berkulit putih salju dengan rambut sebahunya. Senyum Krystal mengembang dan dengan langkah lebar ia menghampiri gadis itu.

“Oh, Krys!” menyadari kedatangan Krystal, wanita itu bergegas berdiri dengan tangan yang terentang dan ia berseru memanggil nama Krystal.

“Sulli!” Krystal membalas seruan Sulli dan menghambur kepelukannya. “Aku merindukanmu, baby Ssul.” Kata Krystal yang masih memeluk erat sahabatnya itu.

“Kau pikir aku tidak merindukanmu?” gerutu Sulli.

Krystal sedikit melepas pelukannya dan menatap Sulli dengan tajam. Kemudian ia mengangguk.

“Oh, baiklah. Ketika menerima teleponmu tadi, aku memang sedikit merasa risih. Tapi setelah bertemu denganmu, aku sadar kalau kau adalah orang yang paling aku rindukan.”

Krystal tergelak. “Sudahlah. Jangan membuatku ingin menangis.”

Setelah melepas pelukan rindu, mereka duduk berhadapan disebuah meja yang terletak didekat jendela etalase cafe itu. Dari sana, terlihat jalan raya dengan kendaraan yang berseliweran dan pejalan kaki yang berlalu-lalang ditrotoar. Hiruk-pikuk kota besar.

“Bagaimana operasinya? Berjalan lancar?” tanya Krystal setelah memesan dua cangkir caffe latte pada seorang pelayan.

“Hm, mereka hanya memotong ususku sepanjang lima centimeter. Nilai yang sangat kecil.” Jawab Sulli dengan menekuk ibu jari dan telunjuknya, mengambarkan panjang lima centimeter itu.

“Uh, kau bilang itu ‘hanya’? Dasar! Sudah kubilang, berhenti makan ramyun! Terlalu sering mengonsumsi makanan itu, berbahaya bagi kesehatanmu. Berbahaya juga bagi anakmu. Dia pasti akan meniru kebiasaanmu memakan makanan dengan zat lilin itu.” Omel Krystal. Baiklah, Sulli melakukan kesalahan. “Berbicara tentang anakmu, apa kau sudah minta maaf padanya? Kau tinggal di Jepang dengan suamimu hampir tiga tahun. Dan kau tidak membawa anakmu. Kalian menitipkannya pada nenekmu. Kejam sekali. Anak itu pasti merindukan kalian. Kau sudah minta maaf belum? Kalian sudah minta maaf?”

Sulli mendesah lelah, sambil menyandarkan keningnya diatas meja. Hanya karena kata ‘hanya’, Krystal menyangkutkan masalah lain pada pembicaraan awal ini. Belum apa-apa, gadis itu sudah berkoar-koar menceramahi Sulli. Terbuat dari apa mulut Krystal itu? Apa dia lidahnya tidak pegal bicara terus? Itu pertanyaan yang sering Sulli lontarkan pada dirinya sendiri. Tentu saja dia tidak berani bertanya langsung pada Krystal. Membutuhkan waktu berabad-abad untuk meredakan amarah Krystal yang akan meledak jika ia menyuarakan pertanyaannya itu.

Puluhan kata lainnya, yang terus keluar dari bibir Krystal, diabaikan oleh Sulli. Ia terus berdoa agar Krystal berhenti mengoceh dan akhirnya doa itu terkabul. Seorang pelayan datang dengan sebuah nampan yang berisi dua cangkir caffe latte pesanan mereka.

“Terima kasih.” Gumam Sulli ketika kedua cangkir itu sudah diletakan diatas meja mereka.

“Dan Minho benar. Kau terlihat sedikit lebih kurus dan dekil. Menyedihkan.” Ocehan Krystal masih berlanjut. Tapi bukan itu yang membuat Sulli mengerutkan keningnya.

“Minho mengatakannya padamu?” tanya Sulli dengan nada kesal.

Krystal mengangguk. “Suamiku juga bilang, sewaktu di Jepang, kau menjadi pendiam yang dikelilingi aura gelap. Kau terlihat kurus dan dekil.” Lanjut Krystal.

“Hei, kenapa dia berkata seperti itu?” nada suara Sulli meninggi, namun Krystal mengabaikannya dan terus melanjutkan.

“Dan suamimu bilang, kalau kau sering menangis. Dia tidak tahu apa itu air mata kebahagian atau kesedihan. Aku jadi bertanya-tanya, apa suamimu mengurusmu dengan baik?”

“Oh, tentu saja tidak. Katakan pada suamiku, kalau dia yang membuatku terus menangis setiap pagi.”

“Kenapa? Apa yang dia lakukan sampai membuatmu menangis?”

“Katakan saja padanya. Dan dia pasti akan tahu jawabannya.”

“Oh, begitu. Baiklah, akan kukatakan saat kita bertemu nanti.” Krystal menyesap caffe lattenya, kemudian, “Ah, kita akan bertemu malam ini. Kau datang ke acara pameran busana Key oppa, kan?”

“Tentu saja. Kami pulang lebih awal untuk menghadiri acara itu.”

“Dan kau tidak mungkin datang dengan penampilan seperti ini, kan?”

Sulli yang hendak menyesap caffe lattenya, berhenti dan menatap Krystal dengan tajam. Namun, seperti biasa, Krystal tidak peduli dan mengabaikannnya. Ia memilih untuk memperpanas suasana hati Sulli.

“Maksudku, dengan penampilan kurus dan dekil itu. Atau, kusam juga sepertinya. Kita harus sedikit merombaknya.” Jelas Krystal.

“Oh, baiklah. Apa rencanamu?” tanya Sulli dengan malas setelah ia menyesap caffe lattenya dengan ‘tidak’ nikmat.

“Sedikit relaxation akan membuatmu terlihat lebih segar. Setelah itu, kita akan ke salon.” Kata Krystal, menyebutkan misi kecilnya.

“Aku terima tentang salon. Tapi tidak untuk relaxation. Aku tidak ada mood baik hari ini.” Jawab Sulli sambil mengangkat bahunya tak acuh.

“Ok, jangan harap kau bisa menginjakan kaki diacara pameran busana Key oppa. Dia akan mendepakmu keluar, bahkan sebelum kau menginjak tempat pameran itu. Dia tidak akan memandang statusmu lagi sebagai istri sahabatnya.” Ancam Krystal dengan menekan kata ‘istri sahabatnya’.

“Ya, Tuhan. Kau membuat bulu kuduku meremang.” Kata Sulli berpura-pura ketakutan sambil mengusap-usap belakang lehernya.

“Sulli! Kau harus mau. Ayo kita pergi relaxation setelah ini!” rengek Krystal.

Sulli mendengus kesal. Dari awal, Sulli sudah tahu kalau ia akan kalah dalam perdebatan dengan Krystal. Perdebatan tentang apapun itu. “Iya! Setelah kita selesai dengan obrolan yang akan kau kuasai selanjutnya sambil menikmati secangkir caffe latte kita masing-masing, kita akan pergi ke spa.” Kata Sulli pasrah.

“Aku tahu, sayang. Aku selalu dominan dalam sebuah percakapan.” Balas Krystal dengan tersenyum manis.

***

Setahun setelah pernikahan…

Tokyo, Jepang

 

Bosan.

Itu hal pertama yang Sulli rasakan saat berada ditengah pesta formal seperti ini. Pesta pernikahan putri dari pengusaha terbesar di Jepang, Mr. Nakayama. Sulli tidak pernah merasa tidak bosan dipesta formal seperti ini. Ia lebih suka pesta dansa dengan sedikit sampanye. Oh, ya… sampanye. Atau soju. Ok, ini Jepang. Mungkin sedikit sake. Ditemani dengan teman bicara yang tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Seperti, Krystal. Oh, Sulli merindukan sahabatnya itu. Namun, mulai tahun ini, ia akan tinggal di Tokyo untuk sementara. Menemani suaminya yang akan berusaha membujuk Mr. Nakayama agar mau menjadi investor untuk perusahaannya.

Sulli berjalan menuju bar, kemudian memesan segelas sake pada seorang bartender. Tidak banyak yang duduk dibar seperti Sulli. Kebanyakan mereka berdiri ditengah-tengah ruangan dengan segelas sampanye sambil memperbincangkan bisnis.

‘Oh, ayolah! Ini pesta pernikahan, bukan pesta bisnis. Kapan acara dansanya? Kenapa lama begini?” gerutu Sulli dalam hatinya.

Hari ini, perasaannya memang sedang tidak menentu. Selain ia merasa bosan dengan pesta ini, ada perasaan lain yang sulit diartikan dan itu membuatnya kesal sendiri. Saat ia baru datang ke pesta ini, ia bertemu seorang laki-laki yang dikenalnya. Laki-laki yang datang dari masa lalunya. Laki-laki yang akhirnya menikah dengan sahabatnya, Krystal. Laki-laki yang seharusnya dimiliki Sulli sebelum ini. Namun, ia tidak mempermasalahkan itu. Hanya saja, bertemu dengan laki-laki itu lagi, membuatnya sedikit merasa… bersalah. Atau mungkin sedih. Terakhir ia bertemu laki-laki itu, ketika di acara pernikahannya dengan Krystal. Laki-laki itulah yang…

“Kau bosan?” Sebuah suara lembut dari seorang laki-laki yang sudah tidak asing lagi, membuyarkan lamunan Sulli.

Sulli menoleh kearah laki-laki itu yang baru saja duduk disampingnya dan dia sedikit terkejut melihat Lee Taemin berdiri disampingnya. Sesaat, ia kehilangan kata-kata. Namun, kemudian, ia berhasil menyunggingkan seulas senyum.

“Oh, oppa. Hm, sedikit.” Balas Sulli sambil tersenyum.

Taemin mengabaikan Sulli yang tersenyum padanya. Matanya terpaku pada gelas kecil yang ada di hadapan Sulli, yang tidak lain adalah sake pesanan Sulli. Taemin mengangkat sebelah alisnya dengan masih memandangi minuman itu. Sulli mengikuti arah pandangan Taemin. Ia tidak sadar kalau pesanannya sudah ada dihadapannya.

“Jadi, apa ini?” tanya Taemin masih dengan alis yang terangkat.

“Ini sake, oppa.” Jawab Sulli polos.

“Kau minum sake?” tanya Taemin lagi, seolah tidak percaya.

“Kenapa? Tidak boleh? Aku belum pernah mencoba sake. Apa lebih berbahaya dari Tequilla?”

“Oh, Sulli. Jangan minuman keras. Aku tidak suka wanita peminum.” Protes Taemin.

“Taemin oppa, aku bukan wanita peminum. Aku hanya minum di acara-acara seperti ini. Kau tahu, aku lebih suka caffe latte dan flat white. Jadi, biarkan aku meneguk satu gelas.” Bujuk Sulli.

“Bagus kalau kau bukan peminum. Aku sedikit beruntung karena istriku juga ternyata bukan wanita peminum. Baiklah, satu teguk.”

Sulli terbahak mendengar pernyataan Taemin. Kemudian ia meneguk sake miliknya. Sekali teguk, dan sake yang berada didalam gelas kecil itu habis. Taemin mengerutkan keningnya melihat Sulli. Ia jadi tidak yakin dengan pengakuan Sulli barusan, kalau dia bukan wanita peminum.

“Tidak lebih buruk dari tequilla. Kau mau?” tawar Sulli pada Taemin.

Taemin hanya tersenyum tanpa mengacuhkan tawaran Sulli. Lalu ia memesan satu gelas Tequilla pada si bartender.

Sulli memalingkan wajahnya kearah para pemain musik. Mereka tengah bersiap-siap dengan alat musik mereka. Sepertinya, sebentar lagi acara dansa. Rasanya Sulli mau melompat-lompat seperti katak ditengah hujan. Ia akan berdansa dengan suaminya. Mereka memang sering berdansa bersama setiap malam minggu. Oh… romantis, bukan?

Tanpa sadar, Sulli tersenyum sendiri. Walaupun bosan dengan pesta ini, tapi rasa bahagianya tidak pernah hilang. Semenjak dia menikah, suaminya memperlakukannya terlewat romantis. Mengirimi bunga-bunga yang berbeda setiap harinya, berdansa setiap malam minggu, makam malam direstoran romantis, memberi kecupan pagi dikening dan bibirnya, dan mengajak Sulli berjalan-jalan ke taman setiap sore. Catat ini! Setiap sore!

Suaminya selalu meluangkan waktu untuk Sulli. Dia selalu mengosongkan jam sorenya untuk Sulli, dan kembali lagi ke kantornya setelah Sulli bosan berjalan-jalan. Laki-laki macam apa dia? Bukan. Sulli yakin dia bukan laki-laki biasa. Dia adalah malaikat. Malaikat untuk Sulli. Bagaimana Sulli tidak jatuh cinta padanya?

“Sulli,” panggil Taemin.

Sulli yang masih asik tersenyum sendiri sambil memandangi pemain musik, menoleh kearah Taemin dengan alis terangkat, seolah bertanya ‘apa?’. Namun senyum manis masih tersungging diwajahnya.

“Benarkan, aku bisa membahagiakanmu?” tanya Taemin yang juga menyunggingkan senyum lembut diwajahnya.

Seketika senyum Sulli memudar. Wajahnya mengambarkan kesedihan. Dan tiba-tiba saja, air mata menggenang dipelupuknya. Sulli diam dan mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Kalau Sulli bersuara, sudah pasti terdengar parau.

“Ah, Sulli. Kenapa kau jadi cengeng begitu? Jangan menangis.” Kata Taemin sembari mengusap lembut pipi Sulli.

“Terima kasih.” Gumam Sulli. “Terima kasih untuk semuanya, Taemin oppa. Aku tidak tahu akan bagaimana aku, kalau kau tidak ada.” Lanjutnya. Benar saja. Suaranya terdengar parau.

Taemin menghela napas, kemudian memeluk Sulli dengan gerakan ragu-ragu. “Sudahlah. Aku yang mau membahagiakanmu. Kau tidak perlu berterima kasih sambil menangis seperti ini.” Katanya. “ Kau jadi terlihat buruk. Mau berdansa?”

,

,

Tidak jauh dari bar, tempat Sulli dan Taemin duduk, Minho berdiri memandangi mereka. Namun mereka tidak menyadarinya. Minho membeku ditempatnya. Bibirnya bergetar, ingin membentuk seulas senyum. Namun ia menahannya. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan.

‘Terima kasih, Taemin. Karena sudah memberikan kebahagian pada Sulli.’

 

***

“Selamat malam, hadirin. Selamat datang di acara pameran busana Key yang bertemakan, Winter in Love.” Seorang pembawa acara berdiri ditengah panggung dan mengucapkan salam pada para tamu. Mereka bersorak-sorai ketika pembawa acara itu menyebutkan nama Key dan tema dari pameran busana itu.

Jinki, Jonghyun, Minho, dan Taemin duduk di kursi paling depan yang dekat dengan panggung. Jinki dan Jonghyun datang dengan pasangan mereka masing-masing yang juga duduk dideretan kursi yang sama. Mereka yang bersorak dan bertepuk tangan paling meriah tadi. Sementara dideretan kursi seberang mereka, diisi dengan istri Key, Nicole dan kedua orang tuanya.

Sedangkan istri-istri Minho dan Taemin, tak kunjung datang. Seharusnya mereka datang bersama tadi. Tapi Sulli dan Krystal lebih memilih untuk datang terpisah. Mereka bilang, ada urusan penting sebelum datang ke acara pameran Key ini. Dan Krystal melanjutkan, kalau mereka ingin tampil lebih cantik dari para model yang akan berlenggak-lenggok diatas panggung nanti.

“Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan?” bisik Taemin pada Minho yang duduk disampingnya. Minho melirik kearah Taemin dengan tatapan tajam. Tentu saja dia masih marah dengan kejadian tadi siang.

“Apa?” Minho balik bertanya dengan tajam.

Taemin meneguk ludahnya dengan susah payah, “Mereka belum datang.” Bisik Taemin lagi.

Mengerti dengan maksud Taemin, Minho mengitari pandangannya keseluruh ruangan. Benar, mereka belum datang. Sepasang sahabat yang tidak dapat dipisahkan itu, belum datang. Kemana mereka?

“Krystal bilang, mereka akan sedikit terlambat. Biarkan saja.” Jawab Minho dengan balas berbisik.

Taemin mengangguk kecil. “Baiklah.”

Tidak lama, Key muncul diatas panggung, diiringi tepuk tangan dan sorakan yang meriah dari para tamu untuknya. Key memberikan salam dan ucapan terima kasih, kemudian berpidato panjang lebar sebelum pameran busananya dibuka. Setelah selesai dengan pidato yang kebanyakan berisi tentang cerita kehidupannya sebelum menjadi desainer besar seperti sekarang, akhirnya Key membuka acara pamerannya. Diiringi percikan api yang ditembakan dari pinggir panggung, para model-model cantik yang mengenakan busana rancangan Key itu, melangkah keluar dari balik panggung. Mereka berlenggak-lenggok dengan anggun diatas catwalk. Tepuk tangan semakin meriah.

Namun, disaat semua orang terpaku pada model-model cantik dengan busana musim dingin yang menakjubkan, Minho malah memandangi gelas tinggi berisi sampanye miliknya dengan tatapan kosong. pikirannya melayang, memikirkan dimana istrinya sekarang.

Kemana dia? Kenapa belum datang juga?

.

.

Setelah acara pembukaan selesai, dilanjutkan pada acara makan malam. Key sudah kembali berkumpul dengan teman-temannya diruang yang akan menjadi tempat dansa sebentar lagi. Oh, Key tidak mungkin lupa menyisipkan acara dansa pada jadwal pestanya. Ia tahu benar kalau teman-temannya itu sangat gemar berdansa dengan pasangannya masing-masing.

“Jadi kemana Krystal dan Sulli? Apa mereka tidak tersesat ke cafe langganan mereka?” tanya Jinki jahil.

“Aku tidak tahu. Mereka…”

Tiba-tiba ucapan Taemin dipotong oleh Jonghyun, “Mereka datang.” Gumam Jonghyun yang menatap lekat kearah pintu masuk ballroom.

Semua menoleh kearah pintu masuk itu, dan mata mereka langsung terpaku pada dua gadis –maaf, dua wanita yang melangkah menghampiri mereka. Cara mereka melangkah tidak jauh berbeda dengan para model cantik tadi. Mereka serasa berjalan diatas catwalk. Belum lagi gaun malam mereka yang bersinar, membuat mereka menjadi pusat perhatian.

Krystal dan Sulli. Krystal mengenakan gaun pendek berwarna hitam yang membentuk tubuhnya. Dengan lengan sebahu, dan terdapat manik-manik berbentuk persegi disepanjang bagian lehernya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dan dijepit dengan pita hitam dibagian kiri. Sedangkan Sulli, ia datang dengan gaun diatas lutut berwarna midnight blue tanpa lengan, sehingga bagian bahu sampai dadanya terekspos begitu jelas. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati yang sewarna dengan gaunnya, melingkari leher jenjangnya. Rambut hitamnya diikat satu kebelakang dan poninya disisipkan dibalik daun telinga. Dandanan sederhana, namun berkilau dan terlihat elegan.

“Hi, guys. Maaf kami terlambat. Butuh waktu lama untuk menjadi bidadari dipesta Key.” Sapa Krystal ketika mereka berhenti melangkah dan berhadapan dengan empat laki-laki yang masih menatap mereka dengan tatapan terpesona.

“Ya, Tuhan. Kalian seperti gadis-gadis yang akan menjadi modelku dipameran pesta malam bulan depan. Kalian terlihat indah dan cantik.” Puji Key. Ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Penampilan sederhana kedua wanita itu memang terlihat menakjubkan dimata orang-orang.

Termaksud dimata Minho dan Taemin yang masih ternganga memandangi istri mereka masing-masing. Tidak. Ada yang salah dengan arah tatapan mata Minho.

Minho menatap Sulli. Menatap wanita itu begitu dalam. Dan Sulli pun balas menatapnya. Mata mereka bertemu. Dan mereka tidak mengambil kesempatan untuk memalingkan secepatnya. Mereka menikmati eyes contact itu. Tidak peduli lagi dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Bagi mereka, waktu seakan berhenti dan hanya ada mereka berdua diruangan besar itu.

Mereka masih saling mencintai…

to be continue…

.

.

a/n : Sudah berapa tahun aku gak apdet?? Huakakakak.. kayaknya belum lama yah. Bosen nunggu gak?? *bosen lah min, pake nanya lagi* Mianhe yak. Minggu-minggu akhir puasa begitu menyedot jadwal kegiatan mimin menjadi dua kali lipat. *Alesan lo min* Dan untuk semua pembaca setia Minsul Fanfics, Mimin beserta seluruh redaksi mengucapkan MINAL AIDIN WALFA IZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. Untuk segala kesalahan yang disengaja ataupun tidak. Karena kami disini hanyalah manusia2 biasa yang tak pernah luput dari dosa. 🙂 Selanjutnya mimin gak akan lama lagi deh update nya. Janji. 😀 Jangan lupa di komen yaa ~~

Advertisements

67 thoughts on “Behind the Coincidence and Destiny [4/5]

  1. Yeees akhirnya di post jugaaaa… 1 chapter lagi selesai nihhh.. Jadi btul dugaan ane kalau sulli nikah ama taeminnnn.. Menyedihkaaaan.. Padahal berharap happy end

  2. minho sama krystal? taemin masih sama sulli? h h h kisah cinta mereka menyedihkan dan mereka masih sayang dan cinta satu sama lain, mudah mudahan cinta mereka dapat dipersatukan kembalii,… kerenn minnn, lanjut ya, lagi 1part udah tamat dehh
    ditunggu updatesnya

  3. Sebenerny suami sulli siapa sih yak? Hmm keren ini cerita sm alurnya bikin bener2 penasaran dn bikin reader puter otak buat memahami kalimat demi kalimat biar paham gmn cerita sebenernya kkk~
    next next next^^

  4. Aku yakin kalau Ssul itu istrinya Minho. Soalnya Taemin menyebutkan kalau ia senang istrinya juga bukan seorang pemimum. Semoga aku gak salah. Semoga Minsul yg berjodoh ^^

  5. kenapa aku masih bingung dengan cerita ini? sebenarnya sulli itu jadi nikah sama taemin atau minho? melihat acara pernikahan yg digelar membuatku berfikir kalau sulli dan taemin menikah, tapi disisi lain aku merasa pernikahan mereka itu dibatalkan. ah molla… benar² capek nebak ini itu tapi belum juga dapet jawaban yg pasti. tinggal satu chapter lagi udah end. moga² aja endingnya tidak mengecewakan.
    yaelah min….mau telat update atau kagak aku bakalan setia nunggu semua kelanjutan ff minsul. heehee tapi ya gitu aku gak bisa jamin bakalan bisa baca & comment tepat waktu.
    MINAL AIDIN WALFA IZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
    sorry i’am late comment

  6. Bagus bgt critanya thor , aku sukaa wkwkwk ..
    Biarpun awalnya agak bingung tp skrg udah jelas terang benderang ..
    Big thanks author :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s