Behind the Coincidence and Destiny [5/5 END]

Cover FF; RH (10)Behind the Coincidence and Destiny

Nama author  : Rhaya Cantika

Main Cast  : Choi Sulli dan Choi Minho

Support cast  : Jung Krystal, Lee Taemin, Kim Kibum, Lee Jinki, Kim Jonghyun, Cho Kyuhyun, and other.

Lenght  : Chaptered (1-5)

Genre : Romance

Summary :

‘Cinta bukan suatu kebetulan, tetapi takdir.’ Pernyataan sederhana itu sangat bertolak belakang dengan pendapat Sulli tentang Cinta. Gadis yang tidak pernah percaya pada ‘cinta’ dan ‘takdir’ ini, berpendapat kalau‘cinta’ hanyalah suatu kebetulan dan kebetulan itu tidak pernah abadi.

Berawal dari kisah cinta ibunya yang berujung kepedihan, Sulli lahir menjadi gadis yang membenci cinta dan takdir. Namun bisakah ia hidup tanpa kedua hal itu?

“Do you believe in Destiny?”

.

.

Chapter 5: Do You Belive in…

.

Minho menatap Sulli. Menatap wanita itu begitu dalam. Dan Sulli pun balas menatapnya. Mata mereka bertemu. Dan mereka tidak mengambil kesempatan untuk memalingkan secepatnya. Mereka menikmati eyes contact itu. Tidak peduli lagi dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Bagi mereka, waktu seakan berhenti dan hanya ada mereka berdua diruangan besar itu.

Mereka masih saling mencintai…

Minho dan Sulli, masih saling mencintai…

“K-kau, terlihat cantik malam ini.” Puji Taemin terbata-bata pada istrinya. Suaranya memecahkan keheningan antara Minho dan Sulli.

“Dan pakaianmu terlalu terbuka.” Kata Minho setelah ia sadar dari lamunannya.

“Terbuka? Inikan pesta didalam ruangan. Apa salahnya kalau mengenakan pakaian yang sedikit terbuka?” protes Krystal.

Minho mendengus kesal. Ia membuka jasnya yang berwarna navy dan membungkus tubuh istrinya dengan jas itu. Tangannya melingkar dibahu istrinya. “Jangan memakai pakaian terbuka seperti ini ditempat umum.” Desisnya.

“Benar. Minho tidak mungkin membiarkan ‘miliknya’ dilihat orang lain.” kata Jinki dengan nada mengejek.

Semua tertawa. Mereka sudah paham dengan sifat Minho yang ‘egois’. Sebenarnya, tidak bisa dibilang egois juga. Ia hanya tidak mau ‘miliknya’ dilihat orang lain.

“Kau mempermalukanku. Aku sudah berdandan cantik, dan kau malah menutupinya.” Gerutu Sulli sambil berusaha melepas dekapan Minho. Namun Minho tetap menahannya. “Minho…”

“Kau tetap terlihat cantik, sayang.” Kata Minho. Ia kembali mempererat dekapannya pada Sulli dari samping.

“Berhenti mengumbar kemesraan.” Kali ini Krystal yang menggeruti.

“Oh, Taemin. Istrimu juga ingin ditutupi. Kau ini tidak peka sekali.” Ejek Jonghyun. “Kenapa pula Krystal mau menikah dengan Taemin?”

“Hei, apa yang kau katakan?” geram Taemin.

Kemudian Taemin melingkarkan tangannya dipinggang Krystal. Krystal terkesiap, namun ia tidak berniat untuk menghindar. Walaupun mereka sudah punya anak, tapi tetap saja Krystal merasa canggung berada didekat Taemin. Apalagi kalau Taemin memeluknya seperti ini didepan umum.

By the way, kau harus berterima kasih padaku. Istrimu tidak terlihat menyedihkan lagi seperti yang kau katakan waktu itu.” kata Krystal pada Minho. Ia sedang mengalihkan pembicaraan dan berusaha menghilangkan rasa canggungnya.

“Oh, ya. Terima kasih, Krys.” Ucap Minho sambil tersenyum lembut pada Krystal.

Krystal merasa tambah canggung. Kemudian ia berkata lagi, “Dan istrimu bilang, kau yang membuatnya terus menangis setiap pagi.”

Minho terbahak. “Sulli benar. Aku yang membuatnya menangis setiap pagi.” Katanya.

Sulli mendengus kesal. “Kau terlihat senang sekali, Minho.” Gerutu Sulli.

“Jangan kesal begitu, sayang. Kau juga punya hutang penjelasan padaku.” Balas Minho. “Kenapa kalian menyembunyikan tentang Taemin dan Krystal yang telah memiliki anak?” tanyanya. Matanya memandang Sulli, Taemin, dan Krystal bergantian.

“Ah… itu…” Sulli berbicara terbata-bata.

“Kalian senang menyiksa batinku, yah?” tanya Minho lagi dengan gaya yang sedikit dramatis.

“Tapi aku jujur saat berkata kalau Krystal tidak jadi datang ke kantorku karena tahu kau akan datang.” Kata Taemin cepat, membela diri. Yang kemudian dibalas dengan tatapan membunuh dari istrinya.

“Dan kau juga! Kau dan Taemin oppa mengatakan pada Krystal kalau aku ini cengeng, dekil, dan kurus, begitu?” Sulli mengalihkan pembicaraan.

“Ayolah, Ssul. Itu kenyataan…” kata Taemin lagi yang dibenarkan oleh Minho.

“Huh, sudah kukatakan ribuan kali, kalau Taemin oppa dan Krystal adalah pasangan yang serasi.” Kata Sulli dengan nada mengejek.

“Oh, ayolah! Pesta ini kubuat khusus untuk kita bersenang-senang. Bukan perdebatan antara istri dan suami.” Protes Key. “Aku akan mencari Nicole dan membawanya kemari. Kalau kalian masih dalam suasana perang seperti ini, maka tamat riwayat kalian.” Ancamnya. Kemudian dia pergi dari gerombolan itu.

“Apa boleh buat? Aku disini hanya sebagai penonton. Lebih baik aku mengajak tunanganku berdansa.” Kata Jonghyun kemudian berlalu.

“Aku juga.” Sahut Jinki menyusul Jonghyun.

“Baiklah. Ini semua karena Krystal dan Taemin oppa.” Kata Sulli yang dibenarkan oleh Minho.

“Hei. Kenapa jadi salahku?” protes Taemin.

“Kalian disini sebagai provokator, kan?”

Come on, guys! Kita selesaikan masalah ini nanti. Atau Key oppa tidak akan membiarkanku mendapatkan satu gaun gratis darinya”, ujar Krystal. “Taemin oppa, ayo kita berdansa.” Kemudian Krystal menarik tangan Taemin mendekati pasangan Jonghyun dan Jinki yang sudah menari-nari ditengah lantai dansa.

Taemin tersenyum dan membiarkan lengannya ditarik oleh istrinya. Kemudian ia menoleh kearah Minho dan Sulli, lalu mengedipkan sebelah matanya.

Sulli mendengus setengah tertawa. “Jadi, mau berdansa?” tanya Sulli pada Minho yang ternyata sedang menggeram pada Taemin.

“Tidak.”

Sulli mengerutkan keningnya, mendengar jawaban Minho. “Kenapa?” tanya Sulli.

“Karena kau masih memanggil Taemin dengan sebutan oppa. Atau karena kau tidak pernah memanggilku dengan sebutan oppa.” Jawab Minho dengan bibir yang dikerucutkan seolah ia adalah anak kecil yang tidak mendapatkan lolipopnya.

“Oh… yeobo…” Sulli mengayunkan nada suaranya dengan manja. Membuat Minho tidak dapat menahan senyumnya.

“Jangan seperti ini, Ssul. Kau membuatku ingin menarikmu pulang dan masuk kamar.” Gurau Minho sambil menarik tangan Sulli dengan lembut menuju ketengah-tengah ruangan untuk berdansa.

***

“Sulli, apa kau percaya kalau aku akan membahagiakanmu?”

Sulli mengangguk kecil, mengiyakan. Ia tersenyum lembut pada Taemin dengan setetes air mata kepasrahan yang menghiasi wajahnya. Taemin tahu benar, kalau air mata itu bukanlah air mata bahagia. Dan ia berniat untuk mengakhiri kesedihan Sulli, detik ini juga. Setelah ia baru saja mengetahui kebenaran dibalik ini semua, ia akan mengakhirinya. Walau terlambat, ia tetap akan mengakhirinya.

Taemin dan Sulli berbalik menghadap pendeta yang sudah siap menjadi saksi atas janji suci pernikahan mereka.

Belum sempat pendeta itu membuka mulut, Taemin sudah berkata. “Aku tidak bersedia menikahi Choi Sulli.”

Pendeta tersebut terkejut, para tamu terkejut, orang tua mereka terkejut, terlebih lagi Sulli. Setahunya, pernikahan itu adalah sakral dan tidak bisa dipermainkan. Namun apa yang Sulli dengar tadi? Apa mungkin Taemin bermain-main dengan ucapannya?

Sulli membeku. Bahkan untuk menoleh kearah Taemin pun, dia tidak sanggup. Namun dia merasakan saat Taemin menoleh kearahnya dengan senyum lembut yang terus menghiasi wajahnyam.

“Kita tidak perlu menikah. Ayahmu hanya ingin meninggikan namanya diperusahaan-perusahaan lain. Perusahaannya sama sekali tidak terancam. Jadi, kau tidak perlu khawatir.” Bisiknya, kemudian berbalik menghadap para tamu yang duduk menanti momen-momen pernikahan ini. “Ayah, ibu, maafkan aku. Kali ini, aku tidak bisa memenuhi permintaan kalian. Aku tahu ini sangat penting untuk perusahaan ayah, tapi kami tidak saling mencintai. Dan kami tidak mungkin menikah.” Katanya dengan bijak. “Dan, tuan Choi. Maafkan aku. Aku telah mengecewakanmu. Tapi, ini yang terbaik untuk putrimu.” Lanjutnya setelah beralih menatap ayah Sulli yang terlihat sangat terkejut.

Taemin kembali menatap Sulli yang masih membeku dengan posisinya. Tangannya terulur dan menepuk puncak kepala Sulli. “Percayalah, Minho masih mencintaimu.” Bisiknya.

Tiba-tiba sang pendeta berdeham kemudian berkata, “Kalau tidak saling mencintai, memang tidak dapat dinikahkan.”

Taemin tersenyum mendengarnya. Kemudian ia melangkah meninggalkan altar, meninggalkan Sulli yang masih tidak bisa menggerakan tubuhnya sama sekali. Kepalanya terasa ringan, sampai-sampai ia merasa melayang di udara. Pernikahannya dibatalkan. Kebanyakan orang mungkin akan merasa sedih akan hal ini. Namun, ada rasa senang yang meledak-ledak dihati Sulli. Ada juga rasa kesal pada ayahnya, dan rasa malu pada para kerabat yang telah hadir untuk menyaksikan janji suci yang telah dibatalkan beberapa menit lalu.

Dengan gerakan kaku, Sulli memutar tubuhnya kebelakang. Ia melihat beberapa orang mulai keluar dari ruangan. Kemudian ayahnya dan kedua orang tua Taemin tengah berbincang serius. Namun, tidak terlihat perdebatan di wajahnya itu, melainkan penyesalan. Tidak lama, nenek Sulli dan kedua orang tua Minho menghampiri mereka. Sulli masih setengah sadar dari lamunannya. Ia tidak sadar kalau sang pendeta menepuk-nepuk bahunya.

“Jadi, laki-laki mana yang kau cintai?” tanya pendeta itu.

Sulli baru sadar ketika ia mendengar suara pendeta itu. Ia menoleh kearah pendeta yang telah beruban dan timbul garis-garis di wajahnya. Sulli tidak menjawab. Air mata tidak menggenang lagi, melainkan langsung mengelindingi pipi Sulli.

“Sulli.” panggil Krystal. Sulli kembali menoleh dan melihat sahabatnya tengah berlari kecil menghampirinya. “Minho. Dia akan berangkat ke Jepang siang ini. Ibunya baru saja memberi tahuku.” Kata Krystal dengan tergesa-gesa.

“Apa?” tanya Sulli dengan suara lirih. Walau begitu, ini sebuah perkembangan karena ia bisa mengeluarkan suaranya.

“Dia masih mencintaimu, Ssul. Percayalah!” seru Krystal.

‘Kenapa semua orang bilang begitu? Aku sendiri yang dengar dari mulutnya kalau ia tidak mencintaiku.’ Batin Sulli. “Ini konyol.” Lirihnya lagi.

“Sulli, kau harus menemuinya dulu!” seru Krystal lagi.

Dan tiba-tiba saja, pandangan Sulli menggelap.

 

***

 

Sulli terus berlari. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang geram karena ditabrak olehnya. Ia terus berlari menuju terminal building.

Ya, Sulli sudah berada dibandara Incheon. Gadis itu tidak lagi mengenakan gaun cantiknya. Ia hanya mengenakan kaos polos dengan celana jeans. Orang tua Minho bilang, kalau Minho akan berangkat ke Jepang dengan jam penerbangan pukul satu siang ini. Dan laki-laki itu tidak mau diantar. Kedua orang tua Minho hanya bisa menuruti keinginan Minho saat ini.

Sulli sampai didepan ruang tunggu. Sayangnya ia tidak bisa masuk kedalam. Tempat pelaporan tiket dipenuhi orang-orang yang mengantri untuk masuk. Sulli mencari-cari sosok Minho didalam ruang tunggu dari kaca jendela. Namun, ia sama sekali tidak dapat menemukannya diantara ratusan manusia-manusia itu.

Setengah jam lagi, jarum jam akan menunjuk angka satu. Itu artinya, tidak lama lagi pesawat Minho akan terbang. Apa Minho sudah berada didalam pesawat? Sulli tidak tahu. Ia terus mengitari pandangannya kedalam ruang tunggu dan antrian ditempat pelaporan tiket. Sayangnya, ia tidak menemukan Minho.

Sulli menghela napas berat. Matanya sudah di banjiri air mata sejak tadi. Sulli merasa seluruh tubuhnya lemas. Kaki-kakinya tidak lagi kuat menopang tubuhnya.

Bruukk.

Sulli teduduk dilantai. Ia menangis terisak-isak. Tidak peduli lagi dengan tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya. Pernikahannya yang tidak diinginkannya batal, ayahnya berbohong padanya dan telah mengancam Minho, dan sekarang Minho pergi dari kehidupannya. Entah berapa lama. Entah dia akan kembali atau tidak. Sekalipun ia kembali, Sulli tidak yakin kalau mereka bisa bersama lagi.

Sulli masih terisak, ketika sepasang kaki berhenti di hadapannya. Sulli tidak meyadarinya karena ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya gemetar hebat karena isak tangisnya.

“Minho, jangan pergi. Aku mencintaimu.” Lirihnya. Suaranya tidak terdengar jelas, namun pemilik sepasang kaki tadi, dapat menangkap apa yang dikatakannya.

“Aku juga mencintaimu.” Ucap pemilik sepasang kaki itu.

Sulli terdiam. Isak tangisnya seketika terhenti. Napasnya tercekat ketika mendengar suara bariton yang dikenalnya itu. Ia ragu, namun ia mendonggak untuk memastikan. Dan…

Deg.

Jantungnya merespon dengan debaran kencang…

Itu dia…

Minho…

“Minho…” gumam Sulli.

Minho hampir tidak mendengar suara Sulli. Tapi, melihat air mata yang membasahi wajah Sulli, ia tidak peduli lagi. Sekali hentakan, ia menarik Sulli berdiri dan langsung mendekapnya erat.

“Kenapa kau ada disini?” tanya Minho tanpa melepas pelukannya pada Sulli.

“Aku tidak akan menikah selain denganmu.” Kata Sulli ditengah-tengah suara isaknya.

Sebenarnya ini bukan hal yang lucu, tapi Minho tidak dapat menahan senyumnya mendengar perkataan Sulli. Ia semakin mendekap Sulli. Merasa kehangatan yang menjulur keseluruh tubuhnya. Menikmati getaran-getaran kebahagian yang mengisi setiap sudut hatinya.

“Berhenti menangis. Semua orang memperhatikanmu.” Minho mengusap-usap rambut Sulli dengan lembut.

Sulli tidak menjawab. Ia terus terisak dengan tangan yang mencengkeram jaket kulit Minho. Wajahnya ditenggelamkan didada bidang Minho. Sulli dapat merasakan aroma parfum yang dipakai Minho. Ia menghirupnya dan membiarkan aroma itu memenuhi paru-parunya.

“Sulli, aku akan kembali.” Kata Minho dengan enggan.

Awalnya, keputusan untuk pergi ke Jepang itu sudah bulat. Kemudian, ia sedikit gelisah ketika beberapa saat yang lalu, Taemin menghubunginya dan menjelaskan kalau ia membatalkan pernikahannya. Ia juga telah menceritakan tentang ayah Sulli. Semuanya telah jelas. Dan sekarang, Sulli ada dihadapannya, dipelukannya. Minho menjadi semakin ragu untuk pergi. Ia hanya bergantung pada respon Sulli.

Sulli mengangguk kecil dalam pelukan Minho. “Aku akan menunggumu.” Lirihnya. “Jangan kecewakan ayahmu.” Lanjutnya.

Baiklah. Itu artinya, dia memang harus pergi. Dengan mempercayai Sulli, kalau ia akan menunggu Minho.

“Aku mencintaimu, Ssul. Dan aku akan segera kembali untukmu.” Kata Minho lagi, membuat tangis Sulli yang mulai reda, semakin menjadi-jadi.

Sulli melepaskan diri dari pelukan Minho. Ia mengusap air matanya yang terus terjun dari pelupuknya. Kemudian ia menatap Minho. Laki-laki itu balas menatapnya lembut. “Pergilah! Pesawatmu akan segera berangkat. Kau harus pergi.” Katanya.

Minho mengangguk. Ia mundur perlahan dan tangannya menggapai kopernya. Belum jauh. Belum jauh ia mundur, tangannya melepas pegangan kopernya dan kembali berjalan kearah Sulli. Kali ini bukan sebuah pelukan. Minho menarik tubuh Sulli mendekat dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Ciuman yang menjalarkan kehangatan. Ciuman dalam yang akan di rindukan mereka.

“Aku mencintaimu.” Bisik Minho setelah ia melepas ciumannya. Ia bergegas membalik dan masuk ketempat pelaporan tiket tanpa memperdulikan Sulli yang memerah akibat ulahnya. Ia harus masuk secepat mungkin, sebelum rencananya gagal. Ya, ia harus membantu ayahnya untuk mendirikan sahamnya kembali. Bagaimanapun, perusahaan itu akan menjadi milik Minho nantinya. Berdiam lebih lama didekat Sulli, akan membuat usahanya sia-sia.

Sulli bergeming ditempatnya. Matanya terpaku hanya pada sosok Minho yang baru memasuki ruang tunggu. Ia memandangi punggung lebar Minho. Punggung yang dapat menanggung beban seberat apapun. Ya, Minho adalah laki-laki yang kuat. Dan Sulli beruntung dapat mencintai dan dicintai oleh laki-laki seperti Minho.

“Aku juga mencintaimu.” Gumamnya setelah lama ia menyadarkan pikirannya. Ciuman yang diberikan Minho tadi, membuat pikirannya kosong. seperti biasa, Jantungnya merespon dengan berdebar-debar, napasnya terhenti, dan darahnya berdesir cepat dalam venanya.

 

***

 

Kyuhyun berdiri tepat dihadapan sebuah makam. Angin yang berhembus, menggerakan ujung-ujung rambutnya. Sebuket bunga dengan berbagai macam warna, dipegangnya dengan kedua tangan. Derai air mata tak henti-henti membanjiri wajahnya. Makam itu adalah makam istrinya, ibu Sulli, Seohyun.

Perlahan, Kyuhyun meletakan bunga yang dibawanya diatas makam Seohyun. Kemudian ia kembali menegakan tubuhnya.

‘Maafkan aku, Seohyun. Aku hanya seorang pencundang. Menjanjikanmu kebahagian, aku malah pergi meninggalkanmu demi harta. Meninggalkanmu dan anak kita. Meninggalkanmu dengan beban yang kulimpahkan padamu. Maafkan aku, Seohyun. Aku buta akan harta. Aku sudah lupa kalau aku mencintaimu dan anak kita. Maafkan aku juga karena telah merusak kehidupan Sulli. Aku tahu, aku hanyalah seorang pecundang.’ Batin Kyuhyun.

“Maafkan aku…” lirih Kyuhyun.

Suara derap kaki menyentakan Kyuhyun. Ia menoleh dan mendapati Sulli tengah berjalan mendekatinya dengan sebuket bunga yang sama seperti bunga yang dibawanya tadi. Wajahnya tidak mengekspresikan apapun, namun matanya menatap lekat pada sosok Kyuhyun.

“Minta maaf?” tanya Sulli dengan nada menebak sambil meletakan bunganya disebelah bunga Kyuhyun.

“Ya…” jawab Kyuhyun ragu. “Tidak ada lagi yang bisa kulakakukan.” Lanjutnya.

Sulli tersenyum pahit. “Omong kosong! Kau masih dapat merubah takdirmu sendiri.” Kata Sulli.

Kyuhyun memejamkan matanya. Rasanya ia ingin menggampar bibir anaknya, karena telah berkata kasar pada ayahnya sendiri. Namun ia tidak memiliki alasan kuat untuk itu. Sulli memiliki hak untuk berkata seperti itu. Ya, benar. Untuk apa lagi Sulli harus menghormati ayahnya? Apa ayah macam Kyuhyun pantas untuk dihormati? Tentu saja tidak. Karena itu, Kyuhyun merasa sakit hati pada dirinya sendiri.

“Bagaimana?” tanya Kyuhyun dengan suara tertahan.

Sulli membalik menghadap Kyuhyun dan menatapnya dengan datar. “Setelah apa yang kau lakukan selama ini, kupikir kau bisa menjawab pertanyaanmu itu.” jawabnya. “Bukankah takdir itu semacam beberapa pilihan yang harus kau pilih salah satunya?” tanya Sulli seolah bertanya pada dirinya sendiri. Kemudian ia tertawa pelan. “Kesimpulan yang kuambil dari dongeng seseorang.” Gumamnya.

Beberapa saat terasa hening. Sulli dan Kyuhyun sama-sama menatap makam Seohyun tanpa mengalihkannya secenti pun. Tak lama, Kyuhyun berbalik dan beranjak meninggalkan tempat itu tanpa sepatah katapun. Ia berjalan melewati punggung Sulli. Sulli dapat merasakan angin dipunggungnya seiring langkah Kyuhyun. Setelah hampir jauh jarak Kyuhyun dari Sulli…

“Ayah!” seru Sulli menghentikan langkah Kyuhyun. Kyuhyun bergeming ditempatnya, ragu dengan pendengarannya. “Ayah!” seru Sulli lagi sambil melangkah menghampiri ayahnya dan memeluknya dari belakang. “Bagaimanapun, kau ayahku. Ayahku… ayahku…” katanya lagi, seolah hanya kata itu yang dapat menggambarkan perasaannya.

Kyuhyun menangis. Ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini dari Sulli. Sedari tadi, Sulli hanya berusaha terlihat seolah ia tidak menganggap ayahnya lagi. Ia berkata kasar untuk mencurahkan isi hatinya. Namun itu tidak menghasilkan apa yang Sulli harapkan. Itu malah membuatnya tambah sakit. Karena bagaimanapun, Kyuhyun adalah ayahnya.

“Jangan pernah maafkan aku, anakku. Maaf darimu tidak akan bisa menghapus dosa-dosaku. Kau benci saja ayahmu ini.” Kata Kyuhyun dengan air mata yang berlinang.

“Ayah, aku menyayangimu. Kau ayahku. Jangan pergi.” Isak Sulli.

“Sulli,” jeda Kyuhyun. “Aku akan menunggu surat undangan pernikahanmu nanti.” Katanya sambil berusaha tersenyum. Kemudian ia melepas perlahan tangan Sulli yang melingkar ditubuhnya dan kembali melangkah pergi.

 

***

 

Dua tahun kemudian…

Pernikahan Taemin dan Krystal…

.

“Aku tidak habis pikir. Kenapa Krystal mau menikah dengan Taemin? Apa yang dia pikirkan sampai menerima lamaran Taemin begitu saja?” gerutu Jonghyun dengan mata yang masih memperhatikan pasangan baru diatas altar.

“Ssstt. Oppa, Taemin itu laki-laki yang baik. Krystal juga baik. Mereka akan cocok.” Bisik Sulli yang duduk disamping Jonghyun.

“Kau ini! Protes saja bisanya. Kau sendiri kapan menikah?” sahut Jinki. Dia dan Key duduk dibelakang Sulli dan Jonghyun.

Jinki, Jonghyun, dan Key adalah sahabat Minho dan Taemin juga. Mereka saling mengenal sejak dibangku kuliah. Karena Sulli tidak berkuliah ditempat yang sama dengan Minho, ia jadi tidak mengenal mereka. Namun, sekarang Sulli juga jadi berteman baik dengan mereka semenjak ia mengenal Taemin.

Bicara tentang Taemin, ini adalah kali pertamanya mereka bertemu lagi setelah batalnya pernikahan mereka waktu itu. Bukan karena mereka sengaja saling menghindar, namun memang banyak pekerjaan yang harus Sulli lakukan. Ya, semenjak Key resmi menjadi desainer, Sulli dibantunya untuk membangun butik kecil-kecilan. Karena ia baru, jadi ia butuh waktu banyak untuk fokus pada butiknya itu. Begitupun dengan Taemin. Ia semakin sibuk dengan perusahaan ayahnya yang telah beralih ketangannya. Dan entah bagaimana ceritanya, mereka bisa menikah.

Krystal hanya sesekali bercerita pada Sulli, kalau Taemin sering menghubunginya. Dan tiba-tiba saja dia mendapat kabar kalau mereka akan menikah. Luar biasa.

Setelah Taemin dan Krystal resmi menjadi sepasang suami-istri, saatnya sang mempelai wanita melempar bunganya ke para tamu. Semua bersiap di tempatnya dengan ancang-ancang. Jonghyun menarik Sulli ketengah-tengah untuk mendapatkan bunganya. Sedangkan Jinki dan Key tetap duduk di bangku mereka, karena mereka sudah menikah. Kasihan…

“Sulli, kalau kau yang dapat segera lemparkan padaku! Mengerti?” kata Jonghyun dengan serius.

“Oh, baiklah.” Gumam Sulli.

Krystal dan Taemin berbalik memunggungi para tamu yang sudah siap menagkap bunga. Kemudian, di hitungan ketiga, Taemin dan Krystal melempar bunga tersebut bersamaan. Bunga itu melayang diudara dan hendak mendarat pada…

Pada Sulli. Bunga itu melayang kearah Sulli. Semakin dekat, dan semakin dekat…

“Sulli, bunga itu mendatangimu!” seru Krystal riang.

Pluk.

Akhirnya, Sulli menangkap bunga itu dengan kedua tangannya. Tidak. Tapi, dengan keempat tangannya. Tunggu! Sejak kapan Sulli memiliki empat tangan? Kedua tangan lain yang tidak Sulli kenali, muncul dari balik punggung Sulli. Gadis itu juga dapat merasakan seseorang berdiri tepat dibelakangnya.

“Wah, kita mendapatkan bunganya. Sepertinya, akhir tahun ini kita akan menikah.” Suara bariton dari laki-laki itu menumbuhkan perasaan aneh pada Sulli yang sulit diartikan. Sulli mengenalnya. Namun, ia tidak mau berimajinasi terlalu tinggi. Tapi sungguh, Sulli mengenalnya. Laki-laki itu, Minho…

Lamunan Sulli dibuyarkan dengan sorak dan tepuk tangan ramai dari para tamu.

“Wah, Minho! Kau datang diwaktu yang tepat.” Seru Taemin yang disahut dengan seruan lainnya dari Jinki, Key, dan Jonghyun.

“Pegang bunganya. Jangan sampai direbut oleh Jonghyun hyung.” Bisik Minho kemudian melepas bunganya dan berpindah ke samping Sulli. Para tamu sudah tidak lagi memperhatikan Sulli dan Minho yang mendapatkan bunga itu. Mereka sudah menyibukan diri dengan acara selanjutnya. Resepsi penikahannya.

“Minho, kau sudah kembali?” tanya Sulli setengah sadar.

“Hm. Aku ada disini sekarang, kan.” Jawabnya dengan tangan yang terlentang, menunjukan kalau dirinya benar-benar ada dihadapan Sulli saat ini.

“Minho,” Sulli berhambur kepelukan Minho. Ia memeluk laki-laki itu dengan erat. Sama sekali tidak ada celah untuk Minho terlepas dari pelukan Sulli. Gadis itu sangat merindukan Minho.

“Kau memelukku, karena senang aku disini atau karena senang bisa mendapatkan bunga itu denganku? Atau karena kau merindukan kehangatanku?” tanya Minho bergurau.

“Semuanya.” Jawab Sulli. “Aku merindukan semua darimu. Aku merindukanmu.” Lanjutnya.

Minho balas memeluk tubuh Sulli dengan erat. “Aku juga merindukanmu.”

Sulli melepas sedikit pelukannya. “Kenapa kau sudah kembali? Dan kenapa tidak menghubungiku?” tanyanya.

“Hm, sebuah kejutan. Tapi ini sebenarnya rencana Krystal. Dan Taemin yang memberitahku.” Jawab Minho.

Sulli menyipitkan matanya. “Lalu, pekerjaanmu?” tanyanya lagi.

“Tidak ada yang penting. Mungkin aku akan tinggal di sini beberapa waktu dan kembali ke Jepang tahun depan. Satu langkah lagi untuk memajukan saham ayahku yang ditinggalnya di Jepang.” Jelas Minho. “Dan aku akan membawamu bersamaku.” Lanjutnya setelah hening sejenak.

“Apa?” tanya Sulli terkejut.

Minho mengulurkan tangannya ke saku dalam jasnya. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu yang berkilauan. Sebuah cincin emas putih dengan berlian cantik ditengahnya. Minho meraih tangan Sulli dan langsung menyematkannya dijari manis Sulli.

“Do you believe in… love?” tanya Minho setelah ia menyematkan cincin itu.

Sulli ternganga memandangi cincin indah yang telah melingkar di jari manisnya. Kemudian ia kembali menatap Minho. Matanya berkaca-kaca. Seulas senyum haru menghiasi wajah cantiknya.

“Yes, I believe.”

 

***

 

11 Januari 2016

.

Minho menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Ia sudah mengenakan pakaian kemeja biru langit dengan celana panjang berwarna hitam. Namun ia belum memasang dasinya. Dasi itu hanya tergantung dilehernya. Ketika ia menginjakan kakinya dianak tangga terakhir, ia mendapati istrinya tengah mempersiapkan sarapan dimeja makan. Minho menghampirinya dengan senyum lebar.

“Sayang, siapa yang sudah menyiapkan pakaian kerjaku beserta pakaian dalamnya?” tanya Minho.

Sulli berbalik menghadap Minho dan menodongnya dengan tatapan membunuh. “Kau pikir siapa? Ayah mertuamu?” tanyanya geram.

“Ayahmu tidak mungkin melakukannya, sayang.” Balas Minho sambil melingkarkan tangannya dipinggang Sulli dari belakang. “Kau masih marah padaku karena kejadian dipesta Key semalam?” tanya Minho lagi. Ia meletakan dagunya diatas bahu Sulli.

“Tidak. Aku sama sekali tidak marah karena hal itu.” jawab Sulli sambil berusaha menyembunyikan senyumnya.

“Oh, ayolah. Laki-laki mana yang mau membiarkan istrinya memakai pakaian terbuka seperti itu.” bujuk Minho. Ia berusaha terdengar romantis.

“Aku benar-benar tidak marah, sayang.” Balas Sulli. Kali ini ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi.

Minho memutar tubuh Sulli, sehingga berhadapan dengannya. Tangannya masih melingkar dipinggang Sulli.  “Pasangkan dasiku.” Pinta Minho dengan puppy eyesnya.

Sulli mendengus setengah tertawa. “Sampai kapan kau tidak bisa mengenakan dasimu sendiri. Tanganku bisa keriput kalau setiap pagi harus memasangkan dasi untukmu.” Gerutu Sulli sambil memasangkan dasi Minho.

Minho hanya tersenyum mendengar ocehan istrinya. Kemudian, dengan lembut, ia menciumi bibir Sulli yang manis. Sulli membalasnya dengan lembut. Semakin lama, ciuman itu semakin dalam. Tangan Sulli yang masih tergantung didasi Minho, kini merambat kelehernya.

Minho melepas ciumannya, sampai terdengar suara ‘cup’. Kemudian ia mengecup singkat kening Sulli dan menempelkan keningnya dikening Sulli. Hal biasa yang selalu mereka lakukan setiap pagi.

“Do you believe…” jeda Minho. “… in destiny?” tanyanya.

Sulli dapat merasakan hembusan napas Minho yang menerpa wajahnya. Ia memejamkan matanya dan menghirup aroma ambers yang melekat ditubuh suaminya. Tentu saja ia percaya takdir. Dengan apa yang sudah dilaluinya selama hampir tujuh tahun. Bersama Minho disisinya, ia percaya dengan takdir. Takdir apapun itu. takdir selalu membawa manusia pada hal-hal baik. tergantung tekad dan perjuangan manusia itu sendiri untuk memilih takdirnya. Semakin besar tekad seseorang, semakin besar juga keberanian untuk mengambil resiko dalam memilih takdirnya. Dan semakin besar juga kebahagian yang menanti didepan sana.

Sulli menetaskan air matanya. Kebiasannya setiap Minho menanyakan hal yang sama. Air mata yang tercipta akibat rasa bahagia yang terlalu dalam. Air mata yang menandakan rasa cinta yang tidak akan habis.

“Hm, I believe.”

Cinta bukan suatu kebetulan tapi takdir.

Dibalik kebetulan dan takdir…

Ada Cinta…

~~The End~~

a/n : Gak usah sok2an pada mau nimpuk mimin or apalah-apalah deh. Mimin juga kena tipu kali. Dan harus baca 2 kali dari awal part. Huaaa… Daebak. Yang gak ngerti atau bingung *pegangan aja* atau mau tanya2, bisa langsung kontak authornya. Yang penting gak ngontak mimin. Karena yaaa,, seperti yang mimin tadi bilang, mimin juga harus 2 x baca dari awal part. Xixixi. Tinggal namatin Dirty Little Secret yaaa. Buat yang mau password nya, jangan lupa. Hanya whatsapp or line yang akan di balas. Bahkan SMS pun gak akan mimin balas. Sekian cuap2nya. Makasih banyak udah ikutin FF ini dari chap 1 ampe 5 dengan waktu yang hampir sebulan. See you next project. ~~ ^0^

Advertisements

58 thoughts on “Behind the Coincidence and Destiny [5/5 END]

  1. Aku kira taemin yg nikah ama sulli.
    Baru stelah bca part ini aku bru ngeti kalo minsul yg nikah dan krystal ama taemin.
    Tadix aku kira minsul ga jdi, mkax aku gak kuat lanjutin part ini. Hehehe
    bgus deh, akhirx yg mnyenangkan.

    Dtunggu karya2 author Rhaya Cantika yg brikutx.
    Semangat !
    🙂

  2. Ahhh i got it , aku lgsg loncat k chap ini sblum baca chap 4 😀
    Wah authornya bakat bgt jd pebipu yaa , aku kagum heheh
    What a nice story author , makasi bwt ceritanya , d tunggu ff yg lain yaa :’)

  3. huaaaaa akhirnya minsul bersatu walaupun awalnya sempet gak yakin sih! 😀
    lucu banget sih minsul berantem di pastanya key oppa! :d
    huaaaa minsul so sweet banget! :* ^^ 😀
    “do you believe in destiny?” jadi kata2 itu yang buat sulli eonni setiap pagi nangis,wah daebak minho oppa! 😀
    huaaaa daebak banget! :*
    ditinggu ff selanjutnya! ^^

  4. hooreeee….!!!!! happy ending….!!!! seneng lihat semua orang bahagia dengan pilihan masing².
    ini ff benar² bikin kepalaku pusing gegara mikirin siapa yg jadi suami sulli. dan kini aku udah gak perlu nebak siapa yg jadi suami sulli karena semuanya udah terungkap dengan jelas.
    ditunggu ff selanjutnya…
    keep writing….!!!!!

  5. eeemmmm ternyata suaminya sull itu ming oppa keren bngettt ceritanya membuat bingung diawal tpi membuat happy ending diajhir cerita…

    • Maaf balesnya disini yaaaa. Wah daebak! aku tertipu dari part awal sampe part akhir pertengahan. Emang udah nyangka si pasti Sulli ama Minho. Tapi aku benar-benar tertipu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s