Our Bond

PicsArt_1438239960622

Our Bond

Nama Author : Rahmah

Main Cast : Choi Minho dan Choi Sulli

Support Cast : Keluarga Sulli

lenght : Ficlet

Genre : Romance

Summary :

Our Bond. Apa ikatan itu masih bersama kita? Ataukah telah hilang dibunuh waktu. Apakah aku masih terikat denganmu sama halnya kau yang terikat oleh ku? Namun aku harap Ikatan Itu akan kembali padaku, mengikat kita berdua untuk selalu bersama.

.

.

-0-

 

Hembusan angin musim panas terasa dingin menyentuh kulitnya, bermain indah dengan rambutnya, memasuki jiwanya, mengantarkannya pada kenangan yang ingin dilupakan. Ia memandang jauh didepan yang dipenuhi sisa cahaya matahari yang berbaur dengan kegelapan menyambut kedatangan malam. Mulutnya bergerak membentuk sebuah kata “Merah, oranye, kuning, putih dan hitam” hitungnya warna langit di waktu senja.

Banyak yang mengatakan senja adalah waktu yang paling bahagia namun tidak baginya, senja itu menenggelamkannya pada sebuah ingatan. Rona warnanya menyentuh kulitnya, membungkusnya dengan kenangan yang terkubur lama, tenggelam. Ia tersenyum namun ada sakit di dalamnya.

Sulli selalu mengira kenangan itu telah hilang dibunuh waktu, tenggelam dan tidak akan kembali. Namun, ternyata ia salah kenangan itu kembali kepermukaan. Sulli merasa bodoh karena ikatanya selalu berhasil mengembalikan kenangan itu, membuatnya sesak dan terhimpit penyesalan. Dan sekali lagi Sulli menemukan dirinya menyerah, membiarkan kenangan itu memenuhi pikirannya. Sulli kembali melihat wajah orang itu, senyumanya, merasakan sentuhan hangatnya, suaranya yang terdengar merdu ditelinganya, kebahagiaan dan cinta yang selalu diberikannya, seorang lelaki yang selalu mengikat hatinya. “bisakah aku mengulang itu kembali? Bisakah ia kembali padaku?” lirihnya bersamaan dengan air yang jatuh dari matanya dengan harapan angin memberinya sebuah jawaban.

“Jinri,” panggilan spesial dari Eomma-nya memenuhi pendengarannya.

Dengan lembut Sulli mengeringkan air matanya, berharap tidak akan sembab. “Ya Eomma,”

“Jangan terlalu lama diluar, angin hari ini sangat dingin,” kata wanita paruh baya yang terlihat menawan diusianya.

Nde Eomma,”

Sulli bangkit dari duduknya, mengembalikan dirinya ke permukaan kenyataan dan membiarkan kenangan itu tenggelam, menunggu waktu untuk kembali ke permukaan lagi. Ia berjalan masuk meniggalkan balkon itu, dikawal angin dan cahaya senja sebagai salam selamat tinggal. Ruangan putih menyambutnya ada rona Oranye kemerahan disebagian ruangan itu, ternyata senja tidak bisa meninggalkannya. Mata Sulli menyusuri ruangan yang tertata rapi itu, dan ia tidak menemukan wanita yang memanggilnya tadi, namun Sulli tahu ke mana Eomma-nya. Dapur tentunya.

 * * *

Hari-hari Sulli tidak seperti biasanya, yang selalu penuh dengan kamera, wajahnya yang berlapis make-up dan ekspresinya yang harus selalu tersenyum, itu karena ia vakum. Sulli selalu mengira ia adalah seorang yang kuat untuk dunia itu, namun ternyata tidak. Kekuatanya telah terkuras habis, pikiran dan tubuhnya tidak bisa lagi membuatnya bertahan. Cemohan, bisingan kebencian, gosip-gosip membuat jantungnya seakan mau berhenti berdetak, membuatnya berharap tidak bisa melihat dan mendengar semua itu. Dan kini ia menemukan dirinya menyerah, karena kekuatannya juga ikut pergi bersama mereka, karena pria itu tidak lagi menyelimuti harinya. Hancur dan sakit ia rasakan bersamaan. Sulli ingin mengejarnya, meraihnya namun apa bisa? Setelah semua yang terjadi, Sulli tidak tahu dan dia menyerah membiarkan dirinya mencintai dalam diam.

Sering Sulli berpergian dengan sahabatnya, bersama mereka ia tidak harus merasakan sakit dan juga tidak harus menjadi orang lain. Dalam satu waktu bersama sahabatnya, Sulli teringat sebuah berita yang dikatakan sahabatnya. Bahwa ia, lelaki itu mengalami cidera pada kakinya dalam sebuah event yang diikutinya. Ia panik dan cemas saat itu, Sulli ingin segera berlari menemuinya, namun ia tidak mendapati dirinya bergerak seinci pun, sakit sungguh sakit.

“Jinrrrrriiii,” pekikkan Eomma-nya mengagetkan Sulli, namun sayang itu terlambat. Karena kini lututnya mencium meja makan. Ugh desis Sulli.

Appo,” ringis Sulli merasakan kaku dan nyeri disekitar lutut.

Pabo,” kata Eomma-nya yang mendekatinya dengan kantong berisi es “ini,” berinya dan Sulli mengerti.

Sulli menarik kursi yang ada, duduk dan mengompres lututnya yang tidak sportif itu.

Mianhe Eomma… padahal aku berniat membantu mu,” Sulli merasa bersalah.

“Sudahlah… duduk saja disitu,” ucap Eomma-nya hangat “ada apa denganmu? sering melamun akhir-akhir ini,” lanjutnya.

Diam. Hanya itu jawaban Sulli.

“Kau tidak menemuinya?”

Oh tidakkkk jangan berbicara tentangnya. Kumohon Eomaaa. Sulli berteriak dalam diamnya. Bodoh! Sulli selalu merasa bodoh jika Eomma-nya memulai topik seperti itu.

“Dia cidera bukan? dan sampai kapan kalian akan dalam mode d-i-a-m,” celoteh Eomma Sulli terus menyesakkan dada putrinya.

“Lihat kau selalu hilang kata-kata jika Eomma membicarakannya,” kata Eomma Sulli yang kini menatap putrinya yang menundukkan kepalanya. “Jinriya,” ucapnya lembut tidak seperti barusan “kebahagianmu adalah yang terpenting bagiku, raihlah kembali kebahagianmu,” kata Eomma-nya bisa merasakan kesakitan yang dialami putrinya, dan hal itu berhasil menyentuh hati Sulli, membuat airmatanya keluar untuk kedua kalinya.

“Apa dia masih memiliki perasaan yang sama dengan ku, apa ikatan kita masih ada?” Sulli berhasil membuka mulutnya.

“Kau tidak akan tahu jika terus bertanya tanpa mencari jawaban,” kata Eomma-nya “dan oh… besok ada seseorang yang akan datang, dan eomma harap kau melayaninya” ekpresi Eomma-nya tiba-tiba berubah, terselip sesuatu didalamnya, sayangnya Sulli tidak tahu sesuatu itu apa.

Seseorang “Siapa dan memangnya Eomma akan keluar besok?”

“Ya. Ke dua Oppa mu sibuk, besok Eomma dan Appa ada kegiatan amal, kami akan membawa San E,” jelasnya “sudah tidak usah banyak bertanya, pokoknya kau harus menyambutnya ramah, dia orang penting,” Eomma-nya mengedipkan mata.Aneh pikir Sulli.

Sulli merasa ada yang aneh, dan itu berhasil menghentikan cairan bening dari matanya. Tapi, Sulli terlalu lelah untuk berpikir dan bertanya. Dan merasa legah nyeri dilututnya meredah. Bagus ini tidak parah, katanya dalam hati.

 

 * * *

 

Sulli terbangun disaat fajar dan ia tidak dalam keadaan baik. Tanpa ia sadari matanya basah oleh air matanya, pikirannya kembali mengingat mimpinya. Mimpi yang selalu sulli harapkan adalah sebuah kenyataan. Dalam mimpi itu ia bersama lelaki itu, bahagia bergandengan tangan tanpa ada yang menghalangi. Bahagia mengatakan perasaan cinta tanpa ada ketakutan. Sayang, ia harus selalu terkaget oleh kenyataan, mengatakan bahwa itu hanya dunia yang diciptakannya. Sulli meninggalkan tempat tidurnya, tidak lupa ia melirik jam di atas night standnya, mengatakan bahwa itu baru jam 5.50.

Sulli mendekati jendela kamarnya, membukanya dan mendapat salam dari angin sejuk diwaktu fajar. Mendapat salam dari mentari yang siap menghangatkan bumi, tapi tidak untuknya. Sulli merasa kehangatannya telah hilang, bukan! Ia sendiri yang lari dari kehangatanya. Hembusan angin sejuk terus menerpa wajahnya, mengatakan padanya untuk tidak bersedih, berkeluh kesah. Saat itu kata-kata Eomma-nya terus terngiang ditelinganya. Untuk menemui lelaki itu, mendapatkan sebuah jawaban yang terus ditanyakan hatinya.

“Mungkin Eomma benar, mungkin aku harus mencari jawabanku, memastikan ikatan diatara kita,” Ia berbicara pada dirinya membiarkan sang angin mendengarnya.

Sudah berapa lama Sulli memandang lagit fajar, sudah berapa lama angin-angin menemaninya. Cuaca semakin hangat dikulitnya, membuat Sulli memberi salam selamat tinggal pada sang fajar, dan menyambut sang mentari yang tidak ingin lagi bersembunyi dibalik gunung.

Sulli keluar kamarnya, dan ia mendapati keluarganya tengah sibuk. Oppa-nya mungkin bersiap atau berolahraga, Appanya sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca berita (koran), San E yang mungkin masih bermain dalam mimpinya dan Eomma-nya yang sibuk di dapur, Sulli tersenyum. Kehangatan keluarga seperti ini jarang dirasakannya, ia pun menuju dapur untuk membantu Eomma-nya.

“Pagi Eomma,” sapa Sulli mencium pipi kanan Eomma-nya.

Eomma Sulli tersenyum melihat senyuman cerah putrinya, “Pagi juga aegi. Kau terlihat bersemangat hari ini,”

“Aku akan mencari jawaban,” bisik Sulli membuat eomma-nya terperanjat kaget bahagia.

Senyuman yang sangat tulus membuat wanita paruh baya itu bertambah cantik “Itu baru putri Eomma,” ia memeluk Sulli hangat, memberikan kekuatan pada putrinya bahwa ia bisa. “Tapi jangan lupa, sama tamu yang Eomma  katakan okey,”.

“iyaiya,” kedua wanita itu tertawa.

Pagi itu sangat bahagia, Sulli merasakan bebannya berkurang. Ia melewati pagi itu dengan membantu Eomma-nya menyiapkan sarapan pagi. Tidak terasa waktu terus berjalan, kedua Oppanya telah pergi bekerja dan ke dua orang tuanya tengah sibuk dengan mempersiapkan keperluan yang harus mereka bawa ke kegiatan amal yang akan diikuti mereka. Eomma-nya mengatakan bahwa itu akan dimulai jam 09.00, namun mereka akan pergi lebih awal jam 08.00. Sulli ingin bertanya lebih lanjut megenai tamu yang dikatakan Eomma-nya namun, ia selalu tidak mendapat jawaban. Sulli menyerah dan menunggu saja sampai orang itu tiba.

“San E sayang ayo kita pergi,” panggil Eomma lembut.

Sulli melirik San E yang sepertinya tidak mau beranjak, meninggalkan kartun kesayangannya di pagi itu.  Eomma kembali memanggil, membuat wajahnya cemberut.

“Eomma… biar aku yang menja…”

“Tidak Jinri, San E ayo,” katanya tegas, tetap ingin membawa San E bersamanya.

Appa datang mengambil San E untuk digendong dan bocah itu menyerah, dan eomma menatap Sulli.

“Dia akan datang sekitar jam 11, ingatlah untuk memeperlakukanya dengan baik. Dia tamu penting bagi eomma dan kamu,” katanya terkikik.

Penting? Bagiku? Entalah Sulli bertanya dalam diam  “iya eomma,” jawabnya

Dan sekarang apa yang harus dilakukan Sulli? Semua telah pergi dan kini tinggal ia sendirian. Ia mencoba untuk mengontak pria itu, namun tidak jadi. Sulli harus menyambut tamu Eomma-nya, ia akhirnya memilih untuk menonton, tapi yang dilakukannya hanya menggonti-ganti channel, tidak ada yang menarik perhatian Sulli. Sulli mulai mengantuk, sekali duakali ia menguap.

“Aku akan tidur saja,” kata Sulli menyerah pada kantuknya.

Jam 9…

Jam 10…

Jam 11…

Ting tong… ting tong… ting tong…

Jam 11.10

Ting tong… ting tong…. ting tong…

Jam 11.12

Ugh..  “iyaiya aku aka buka” Sulli belum merasa cukup tidur, kesadarannya masih setengah.

Jam 11.15

Ting tong.. ting krek!

Tidaaaaaakkkkk teriak Sulli dalam hati. Jantungnya berdebar lebih cepat dan hanya bisa menatap orang yang berdiri didepannya, lelaki yang selama itu dirindukannya, lelaki yang mempunyai jawaban atas pertanyaannya. Dialah lelaki itu Choi Minho yang kini berdiri didepannya dengan dirinya yang…..

Oh tidak menampilanku Sulli mengutuk dirinya sendiri.

“Ke..kena..pa?” entah kenapa hanya itu yang terlontar dari mulut manisnya, dan sialnya ia tergagap.

“Bukankah Eomma mu telah mengatakannya,” lelaki itu atau Choi Minho tersenyum

Jangan tersenyum seperti itu. Dan eomma awas nanti, dan ugh tidaakk. Batin Sulli seperti seorang remaja yang bertemu dengan pria yang disukainya. Sulli menatap dirinya sendiri dan itu membuatnya frustasi. Ia pun meninggalkan Minho yang kebingungan dengan tingkahnya.

Flash Back 3 hari sebelumnya.

Eomma Sulli terlihat sibuk memilih sayuran dalam freezer terbuka. Ia memilih dengan penuh kehati-hatian untuk mencari kualitas yang baik. Namun tangannya terhenti oleh sapaan seorang lelaki muda. Ia tersenyum, senyum yang sangat indah melihat lelaki muda itu.

“Minhoyaaa,” katanya pada lelaki muda bernama Minho.

“Eommoni, apa kabar anda?” kata Minho hormat.

“Baik, sangat baik, omo apa kakimu telah sembuh?” nada cemas tersirat dari suara wanita itu. Ia mengetahui apa yang telah terjadi pada lelaki muda itu.

“Sudah semakin membaik,” Minho tersenyum “baguslah anda baik Eommoni. Apa Sulli baik-baik saja?” tanya Minho yang tersirat kesedihan dalam suara dan wajahnya, saat ia mengatakan nama Sulli.

Eomma Sulli diam sejenak “Sampai kapan kau terus menanyai kabarnya tanpa menemuinya,” katanya. Wanita itu telah berhubungan baik dengan Minho. Minho sering menanyai kabar Sulli dan ia sering mengatakannya.

“Mianhae… aku tidak ingin memperburuk keadaannya dengan menemuinya,” kata Minho.

Eomma Sulli mengerti maksud lelaki muda ini. Putrinya dalam keadaan tidak baik dan itu juga membuatnya sedih. Putrinya bahkan tidak memliki ruang yang sedikit untuk bergerak, salah bergerak ia akan dihujati kebencian dari banyak orang yang melihat kulitnya saja. Putrinya telah salah dihadapan banyak orang walau ia tahu, putrinya sama sekali tidak salah. Dan itu sangat menyayat hatinya.

“Tapi…,” Minho berhenti “Aku berencana menemuinya dalam minggu ini, membuatnya mengetahui perasaanku,” kata lekali muda itu lembut menyentuh hati wanita paruh baya itu.

Eomma Sulli menatap Minho, mencoba membacanya, memahaminya. Ia memiliki perasaaan yang sama dengan Sulli, mungkin mereka adalah orang muda, namun bukan berarti kau harus membunuh perasaanmu, menyakiti diri sendiri dan orang lain.

“Kau tahu Minho. Sulli sangat bahagia bersamamu, dan dia terpuruk saat kau pergi. Untuk sebagian orang ia terlihat baik tapi tidak bagiku, wanita yang melahirkannya. Jadi Minhoya berilah kembali kebahagian Sulli, kebahagian mu,” katanya berlinang air mata. Mata Minho juga terasa lembab, namun harga dirinya sebagai seorang pria menahan kelembapan itu agar tidak berubah menjadi air.

“Aku akan melakukannya, maukah kau membantu ku  Eommonim?” pinta Minho sebuah bantuan.

“Tentu,” jawabnya bersemangat “Datanglah sabtu, kau bisa? Aku akan membuat kalian berdua mempunyai waktu bersama dan menyelesaikan semuanya. Bagaimana?” wajahnya berseri-seri.

“Sempurna,” kata Minho

“Tapi Minho, jangan mengambil keuntungan diwaktu kesendirian kalian yaaa,” goda Eomma Sulli membuat Minho tertawa malu.

“Tentu saja tidak,” jawab Minho terlihat malu-malu “Terima kasih Eommonim,” katanya lagi bahagia, sangat bahagia.

END Flashback

Jam 11.31

Sulli kembali keluar dengan memakai dress peach berbunga, dan rambutnya diurai indah. Ia juga menambahkan sedikit make-up diwajahnya. Ternyata Sulli meninggalkan Minho untuk menjadi cantik di depan lelaki itu.

“Silahkan masuk,” Sulli merasa legah dia tidak pergi.

Dan masih menunggunya didepan pintu yang terbuka lebar.

Minho melihat Sulli dan ia kembali tersenyum. Minho pun menatap Sulli dari kepala sampai kakinya, dan ia pun terkekeh pelan.

Kenapa? Aneh? Ya… aku sudah melakukan yang terbaik. Dalam hati Sulli merasa kecewa dengan respon Minho.

“Seperti biasa kau selalu cantik,” katanya kembali tersenyum “tapi kurasa tadi lebih cantik,” godanya, membuat Sulli merona.

“Ini bukannya karena anda oke,” kata Sulli sinis “ada apa kemari bukankah sudah jelas bahwa kita-

“Aku merindukan mu,” balasnya membuat kata-kata Sulli menggantung dan juga saat itu Sulli sadar jalannya Minho tidak sempurna.

Minho lebih dulu mencapai ruang tamu dan duduk disofa, membiarkan Sulli dibelakangnya tenggelam kembali dalam perasaannya.

“Kenapa?” lirih Sulli “kenapa kau melakukan ini, bukankah aku telah menyakitimu, bukankah kau menjauh karena tidak ingin bersamaku?” ucap Sulli pelan namun cukup untuk didengar Minho.

Minho tidak berkata apa-apa, hanya menatap Sulli. Kemudian, ia mencoba untuk mendekati Sulli.

“Tidak pernah sekalipun kau menyakitiku,” katanya lembut berhasil membuat air mata yang ditahan Sulli jatuh.

Minho berdiri tepat didepannya dan mereka berdua hanya diam terpaku.

jam 11.53

“Oppa….,”

Minho membelai rambut Sulli.

“Apakah ikatan itu masih ada?” Bisik Sulli. Akhirnya ia bisa menanyakan pertanyaan.

Minho tersenyum, senyum yang sangat indah.

jam 11.57

“Sampai kapanpun kau selalu mengikat hatiku,” bisiknya ditelinga Sulli. Memberikan jawaban yang selama ini dinantikan Sulli.

“Kau tidak menyakitiku Sulli, karena semua itu adalah bohong dan aku tahu itu”

“Biarkan saja mereka berpikir sesukanya,”

“Biarkan saja mereka mencoba melepas semuanya,”

“Karena itu hanya sia-sia”

“Aku telah diikat olehmu, namun apakah kau juga begitu?”

Sulli gemetar, sungguh susah untuk bernafas, sel-sel sarafnya masih memproses semua kata-kata itu, takut bahwa ia akan terbangun dan mengira itu hanyalah sebuah mimpi.

“Walaupun kau tidak”

“Aku akan mengikatmu kembali, tidak akan ku biarkan kau pergi lagi dariku”

Sulli hanya diam dan menangis. Kehangatan tangan Minho menyentuh air mata Sulli.

“Maaf jika aku baru datang menemuimu sekarang,”

“Maaf membuatmu menunggu,”

“Maaf untuk tidak bisa berhenti mencintaimu,”

“Karena aku sangat mencintaimu”

Tidak! Jangan! Jangan meminta maaf itu semua salahku. Teriak Sulli dikepalanya

Sulli memeluknya, erat sungguh erat, tidak ingin melepasnya. Yang Sulli tahu ia depannya, berbicara dengannya, menyentuhnya, dan sel-sel saraf Sulli telah memastikannya itu adalah nyata bukan mimpinya, itu adalah nyata bukan bayangan ingatan Sulli, ini bukan kenangannya.Itu adalah nyata, dia disini, Minho disini bersamanya dan ia memeluknya.

“Aku sangat merindukanmu,” kata yang selalu dikira Sulli tidak bisa meraihnya, kini didengar olehnya.

“Aku merindukanmu”

“Sangat merindukanmu”

Kata Sulli lagi dan lagi, mengatakan pada Minho bahwa dirinya begitu merindukannya, merindukan semua tentangnya. Sulli bisa merasakan, Minho memeluknya juga, membenamkan wajahnya dirambut Sulli.

“Kau masih mengikatku oppa”

“Aku milikmu, masih menjadi milikmu,”

“Oppa peganglah aku, jangan biarkan aku pergi lagi,”

“Karena aku juga sangat mencintaimu,”

Akhirnya… perasaannya, rasa sakitnya, keluh kesahnya, hilang… hilang dihembuskan angin. Hatinya hangat, hatinya tertawa, hatinya penuh cinta, karena hatinya telah kembali, dia disini bersamanya memeluknya.

Jam 12.14

Sudah berapa lama mereka berdiri disana, berpelukkan dan jujur dengan perasaan masing-masing. Berapa lama itu Sulli tidak peduli, selama dia bersamanya itu cukup bagi Sulli.

“My Sulli,” bisik Minho ditelinga Sulli. Sebuah panggilan yang sangat dirindukannya.

“My froggy oppa,” bisik Sulli juga berharap ia bisa mendengar panggilan Sulli padanya dan itu terjadi, sekarang Sulli bersamanya.

Jam 12.21

“Aku sangat mencintaimu,” ucap keduanya bersamaan. Dan mereka pun terkekeh.

Jam 12.25

Minho menatap Sulli, menatap wajah Sullinya, memastikan itu adalah dirinya, bukan mimpi ataupun kenangan yang selalu dikenangnya. Menyentuh pipi Sulli dengan tangan kekarnya. Melingkari pinggang Sulli, menarik Sulli lebih dekat denganya.

Sulli merasa meleleh oleh tingkah Minho. Nafasnya, aroma yang selalu rindukan Sulli, kini memenuhi penciuman Sulli, menikmatinya dan tanpa sadar Sulli memejam matanya. Nafas Minho yang damai semakin terasa oleh Sulli. Jantung Sulli dan jantungnya saling berpacu. Sulli bisa merasakan jari jemari Minho menyentuh lembut bibirnya, menyetrum jiwa Sulli dan detik berikutnya sesuatu yang lainnya menyentuh bibir Sulli. Hangat, lembut dan manis. Sentuhan yang selalu Sulli rindukan dari Minho. Tidak ingin melepasnya, Sulli melingkarkan tangannya ke leher Minho, tidak menyisahkan jarak diantara mereka berdua. Minho merasa senang dengan respon Sulli dan ia pun terus mencium Sulli, merasakan lembutnya bibir Sulli, melakukannya dengan sepenuh jiwa, menyatakan bahwa ia mencintai Sulli.

Sulli membuka matanya, saat dingin menerpa bibirnya. Sulli ingin merasakan kembali kehangatan yang tiba-tiba lenyap. Sulli merasa sedih.

“Kau bisa merasakannya lagi nanti, kapanpun kau mau” goda Minho  membuat Sulli merona untuk kedua kalinya.

“Minho oppa…,” ngambek Sulli menggembungkan pipinya.

“Aku merindukan ini,” kata Minho terkikik mencubit pipi Sulli.

Jam 12.43

Karena kesal, tanpa sadar Sulli menginjak kaki Minho membuat lelaki itu meringis pelan.

“Aww” ringis Minho, masih bisa merasakan sakit dikakinya yang cidera.

Sesaat jantung Sulli berhenti, ia lupa dengan keadaan Minho. Bodoh! Sulli bodoh Sulli memarahi dirinya sendiri.

“Mianhe oppa… oh tidak,” kata Sulli cemas dan memukul kepalanya sendiri sebagai hukuman “Pabo Jinri.. ayo oppa duduk,” dengan hati-hati Sulli memapah Minho, walau seharusnya itu tidak perlu. Namun Minho membiarkannya, ia merindukan Sulli seperti itu, membuat Minho tersenyum kembali.

“Oppa… kau-

Minho membuat Sulli diam dengan ciuman sekilasnya, dan gadis itu kembali merona.

“Aku bisa menahanya,”

Sulli tidak mengerti, dan memberikan tatapan bertanya pada Minho.

“Karena kini ada Sulli yang akan merawatku,” kata Minho membuat jantung Sulli lompat kegirangan.

“Hari ini aku sangat bahagia dan kupastikan akan selalu bahagia,” senyum Minho melebar membuat Sulli ikut senyum bersamanya.

Melihat Minho, Sulli bahagia. dan lebih bahagia saat Minho juga ikut bahagia bersamanya.

Jam 12.46 …

Kedua bird lover itu melewati hari bersama, masak bersama, makan bersama, Minho menceritakan banyak hal, Sulli menceritakan tentang sahabatnya, nonton bersama dan satu hal yang pasti hati Sulli selalu bersama Minho dan begitupun sebaliknya.

Dan

Ikatan itu, ikatan Minho dan Sulli masih ada, masih terikat sangat kuat. Tidak ada lagi kebencian mereka, tidak ada lagi rumor-rumor itu, tidak ada lagi bising menakutkan, karena Minho menghapus semua itu, memenuhi pikiran Sulli dengan dirinya, dengan ingatan mereka, dengan kebersamaan mereka, dengan kebahagiaan mereka dan dengan cinta mereka.

Sulli sangat bahagia bukan karena hatinya telah kembali, namun juga ia mendapat jawabannya. Ikatan mereka, Sulli terikat olehnya dan Minho terikat oleh Sulli. Itu masih ada bersama mereka.

Ikatan Kita. Eomma aku telah mendapat jawabannya dan aku sangat bahagia, terima kasih untukmu Eomma kata Sulli dalam hati membiarkan angin mengantarkan kata-katanya pada wanita yang selalu bersamanya walau badai dan petir menerjang.

.

.

END.


a/n. Terima kasih menyempatkan untuk membaca. Komentar, kritik, saran ya guyss ^^ and Minsullian i love you!

img-7d04889e8c94b42830e1e102b517076f

Advertisements

104 thoughts on “Our Bond

  1. Rahma eonni pindah lapak yah? Mueheheheh xD baca ff ini bikin saeng ‘touched’ so sweet banget eon. Keren deh pokoknya. Saeng jadi speechless :’) ditunggu karya selanjutnya eon. Dan buat adegan di ff ini. Saeng cuman bisa meng’amini’nya aja. Minsul bisa bersatu tanpa gangguan lagi. Amin.

  2. ya Tuhan bener2 pengen banget ini cerita beneran nyata,berharapa banget saya! 😦
    daebak thor,ditunggu cerita selanjutnya! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s