Dirty Little Secret [Bab 8]

dirty-little-secret

Bab 8 

Hit the lights

And I’ll be crawling to your window tonight.

.

“Namaku Kim Yoogeun. Umurku 5 tahun.  Aku mempunyai saudara kembar bernama Kim Sanee…” Sulli sedang memanuver mobil menuju kantor sambil mendengarkan Yoogeun membacakan karangan Bahasa Korea-nya. Hari ini jadwalnya sedikit kosong, jadi dia bisa menjemput anak-anak sendiri. Biasanya dia akan mengantar anak-anak di rumah Mommy dan menjemput mereka setelah pulang kerja, tapi hari ini dia akan membawa mereka ke kantor.

Sudah seminggu ini hidupnya kembali tenang tanpa ada gangguan dari Minho. Dan sudah memblock nomor Minho dari ponselnya, dia membutuhkan beberapa hari untuk tidak loncat setiap kali ponselnya berdering. Membutuhkan waktu selama itu juga baginya untuk tidak berdebar setiap kali akan membuka e-mail.

Satu hal yang dia ketahui tentang Minho adalah bahwa laki-laki itu pantang menyerah. Kalau dia sudah menginginkan sesuatu, dia tidak akan berhenti sampai mendapatkannya. Itu berarti, semakin dia menghindar, Minho akan semakin gencar mengejarnya. Oleh sebab itu selama seminggu ini dia berusaha mengurangi waktunya berada di tempat umum, dengan begitu mengurangi kemungkinan baginya bertemu dengan Minho secara tidak sengaja.

“Eomma, bagaimana? bagus?” Yoogeun bertanya dan dengan sedikit gelagapan Sulli mencoba mengingat-ingat isi karangan tadi.

“Bagus,” jawab Sulli dengan nada sedikit bersalah karena sebetulnya dia tidak pasti apakah karangan itu memang bagus atau tidak. “Karangan kamu bagaimana, Sanee?” Sulli mengalihkan perhatiannya pada anaknya yang satu lagi, yang kali ini kebagian duduk di bangku belakang. Melalui kaca tengah dia lihat Sanee sedang sibuk menarik-narik seatbeltnya.

“Sanee,” panggil Sulli sekali lagi.

Ketika Sanee tidak bereaksi juga, Sulli melihat Yoogeun melemparkan kotak tisu dari bangku depan padanya. “Aduhhh,” ucap Sanee sambil mengusap-usap hidungnya. “Sakit, tahu,omelnya dan siap melempar kotak tisu itu kembali kepada Yoogeun.

Sulli harus mengangkat tangannya, mengingatkan agar mereka tidak berkelahi di dalam

mobil karena dia sedang mengemudi. “Yoogeun, kamu tidak boleh melempar kotak tisu ke Sanee, oke?” Sulli memberi peringatan.

“Dengarkan yang eomma bilang,” ucap Sanee dengan penuh kemenangan karena dibela.

“Ne, eomma,” ucap Yoogeun sambil memutar tubuhnya kembali menghadap ke depan dan menundukkan kepalanya.

“Dan, Sanee… kalau diajak bicara, jawabsupaya tidak dilempar kotak tisu lagi, oke?”

Bukannya mengucapkan, “Ne, eomma”, seperti Yoogeun, Sanee hanya mengerutkan keningnya, kesal karena sudah diperingatkan. “Sanee, kamu dengar Eomma tidak?”

Membutuhkan beberapa detik bagi Sanee untuk membalas, tapi akhirnya dia berkata pelan, “Dengar, eomma.”

Dari sudut matanya Sulli melihat Yoogeun menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kembarannya, dan Sulli ingin tertawa terbahak-bahak. Yoogeun mungkin baru berumur lima tahun, tapi dia berjiwa 70 tahun.

Beberapa menit kemudian mereka tiba di kantor dan tanpa aba-aba Sanee dan Yoogeun langsung tumpah dari mobil dan lari secepat mungkin ke dalam gedung. Well, secepat kaki mereka bisa membawa mereka sambil memanggul ransel penuh buku, tas makanan, dan botol minum. Kalau dipikir-pikir lagi, mereka sudah seperti Frodo dan Sam dalam perjalanan ke Mount Doom. Sulli hanya bisa menatap pasrah kepergian mereka yang selalu balapan menekan tombol lift. Entah berapa kali dia memperingatkan mereka agar tidak lari jauh-jauh darinya kalau di tempat umum, tapi semuanya sia-sia. Akhirnya dia harus berkompromi dengan memperbolehkan mereka main “balapan menekan tombol lift” selama berada di bangunan kantornya saja. Setidak-tidaknya semua security di gedung ini mengenalnya dan akan menjaga anak-anaknya.

Ketika Sulli melangkah masuk ke dalam lobi, dia tidak melihat Sanee dan Yoogeun, tapi dia bisa mendengar suara mereka dengan jelas.

“Aku duluan.”

“Aku yang duluan.”

“Aku!”

“Akuuu!!!”

Ketika Sulli berbelok, dia melihat anak-anaknya sedang adu mulut di depan lift dan Kwanghee, salah satu security gedung, sedang mewasiti pertengkaran itu.

“Siapa duluan yang sampai, Kwang?” Tanya Sulli.

“Ah, sajangnim. Mereka sampai bersama. Tuan Sanee menekan yang kanan, Tuan Yoogeun yang kiri,” Kwanghee melaporkan sambil tersenyum.

Sulli membalas senyuman itu dan mengangguk terima kasih sebelum berkata, “Tuh, kalian dengar kata Kwanghee ajjuhsi? Kalian sampai bersama, untuk hari ini kalian sama-sama menang. Oke?”

Pada saat itu pintu lift terbuka dan Sulli harus mendorong anak-anaknya pada saat bersamaan ke dalam lift sebelum mereka bertengkar lagi tentang siapa yang menginjak lantai lift duluan.

Mereka memasuki kantor beberapa menit kemudian. Jiyoung yang selalu senang melihat mereka menyapa dengan antusias.

Anneyeong, Yoogeun. Anneyeong, Sanee.”

“Anneyeong auntie Jiy,” balas Yoogeun sambil tersenyum malu-malu.

Sulli tahu Yoogeun naksir berat Jiyoung semenjak anaknya yang ekstra pemalu ini berani memberikan bunga kertas yang dia buat di kelas kepada Jiyoung, yang menerimanya dengan sukacita.

“Kok auntie Jiy nyapa Yoogeun dulu, baru aku?” ucap Sanee dengan sedikit cemberut.

Lain dengan Yoogeun yang Sulli yakin ingin menjadi romeonya Jiyoung kalau dia bisa, Sanee hanya melihat Jiyoung sebagai satu lagi orang dewasa yang bisa memberikan perhatian padanya. Tanpa terlihat kaget sama sekali atas teguran Sanee, Jiyoung berkata, “Oh iya, auntie lupa. Ulang lagi deh ya kalau begitu nyapanya.”

Jiyoung berlutut di hadapan Sanee dan berkata, “Laki-laki favorit auntie, apa kabar?”

Kata-kata ini sepertinya membuat Yoogeun cemburu sekali karena dia langsung mengerutkan dahi. Tapi Sanee, yang terkadang tidak sensitive atas perasaan kembarannya, hanya menjawab, “Baik” sambil tersenyum senang karena mendapat perhatian lebih.

“Peluk auntie nya dong,” pinta Jiyoung.

Dan Sanee dengan senangnya langsung memeluk dan mencium pipi Jiyoung. Setelah membalas ciuman dan melepaskan pelukannya pada Sanee, Jiyoung menoleh ke Yoogeun yang sudah berlalu memasuki ruang kerja Sulli dengan wajah supercemberut.

Sanee yang tidak pernah tahan tidak berada satu ruangan dengan kembarannya, langsung mengikuti Yoogeun sambil berkata, “Yoogeun … Yoogeun … tunggu…”

Sulli hanya terkekeh melihat kelakuan anak-anaknya. “Sepertinya Yoogeun marah sama saya,” ucap Jiyoung sambil buru-buru bangun.

“Tentu aja dia marah, pacarnya sudah mencium dan memeluk Sanee,” jawab Sulli sambil membantu Jiyoung bangun dari posisi berlututnya.

“Ooops.” Jiyoung meringis. “Kalau begitu nanti sebelum pulang saya sebaiknya mencium dan memeluk Yoogeun biar impas.”

Yeah, that would make his day,” ucap Sulli sambil tersenyum. “Omong-omong, apa ada yang mencari saya selama saya pergi?”

“Ada, sajangnim. Ada seorang ahjussi yang sudah menelepon dua kali sejam belakangan ini.”

“Siapa namanya?”

“Beliau tidak meninggalkan nama, Sajangnim.”

“Apa dia meninggalkan pesan?”

Ani. Tapi katanya beliau akan telepon lagi nanti.”

Sulli hanya mengangguk dan berlalu memasuki ruangannya. Dia baru saja mau menutup

pintu ketika melihat Daddy keluar dari ruangannya yang terletak berseberangan dengannya.

“Yoogeun dan Sanee sudah datang?” tanyanya.

Mendengar suara Kakeknya, Yoogeun dan Sanee langsung berhamburan keluar dari ruangannya untuk menyambut Kangin dan menghilang ke dalam ruangan beliau. Mereka memang lebih menyukai ruangan Kangin yang selalu penuh dengan maket, daripada ruangan Sulli yang menurut mereka sangat membosankan. Dia baru saja mendudukkan tubuhnya pada kursi kerja ketika intercom berbunyi.

Sajangnim, ahjussi yang tadi menelepon sekarang sedang on hold di line satu.  Namanya Choi Minho. Apa Sajangnim mau menerima teleponnya?”

Dan Sulli merasa lututnya langsung lemas. Dari mana Minho tahu dia bekerja di sini? Oh my God, dia harus pindah kerja.

Sajangnim?”

Sulli menarik napas dalam. Dia seharusnya tahu bahwa Minho akan menemukan cara lain untuk menghubunginya, tapi dia tidak menyangka Minho akan sekreatif ini. Apa yang harus dia lakukan untuk membuat Minho sadar bahwa dia serius waktu bilang tidak mau dikontak lagi? Kalau pengusiran halus tidak bekerja, dia tidak punya pilihan selain mengusirnya blak-blakan. Satu-satunya penyesalan adalah karena dia harus melibatkan Jiyoung.

“Oh ya, sori. Um… jangan pernah transfer teleponnya ke saya. Ever. Untuk kali ini, saya

minta kamu menyampaikan pesan ini untuk beliau…”

,

,

,

Sekali lagi Minho menekan redial pada nomor telepon kantor Sulli. Minggu lalu dia meminta Sooyoung mencari tahu, melalui Martin yang punya kenalan di dalam organisasi yang mengadakan acara penggalangan dana, tentang Sulli. Melalui informan inilah Minho tahu bahwa Sulli bekerja sebagai arsitek di sebuah perusahaan developer besar dengan nama Kim Youn Woon Grup, yang berkantor di pusat kota Seoul. Dengan bersenjatakan informasi ini, Minho menelepon informasi untuk mendapatkan nomor telepon mereka.

Membutuhkannya sepuluh menit sebelum akhirnya di transfer ke seseorang bernama Jiyoung, yang katanya adalah asisten Sulli. Minho tidak tahu cara mencerna semua informasi, yang menurutnya agak sedikit mengagetkan ini. Ketika dia mendengar nama tempat Sulli bekerja, dia curiga perusahaan itu ada hubungan keluarga dengan Sulli. Namun kenyataan bahwa Sulli, pada umurnya yang baru 25 tahun, sudah punya asisten di perusahaan ini, mengonfirmasikan kecurigaannya. Selama ini dia tahu Sulli berasal dari keluarga berada, namun tidak pernah menyangka keluarga Sulli ternyata keluarga kaya-raya.

,

Jiyoung mengatakan bahwa Sulli sedang keluar kantor dan menanyakan apakah dia mau

meninggalkan pesan. Minho bertanya pukul berapa Sulli kembali supaya dia bisa menelepon balik. Jiyoung menginformasikan bahwa Sulli akan kembali satu jam lagi. Ketika dia menelepon tepat sejam kemudian, Jiyoung berkata bahwa Sulli masih belum kembali, kemungkinan besar terjebak macet di jalan. Kini dia menelepon untuk yang ketiga kalinya. “Apa Sulli-ssi sudah kembali ke kantor?”

“Sudah, Sir.”

“Bisa saya bicara dengannya?”

“Yes, Sir. Nama anda?”

“Choi Minho.”

“Oke, tunggu sebentar.”

Minho menunggu selama tiga menit ditemani oleh alunan music klasik sebelum Jiyoung kembali padanya. “Um, maaf, Minho-ssi, tapi saya diminta oleh Sulli Sajangnim untuk mengatakan, Jiyoung berdehem dan Minho bersumpah dia mendengar Jiyoung berdoa supaya bisa mendapatkan pekerjaan lain kalau sampai dipecat gara-gara ini, “Sulli Sajangnim bilang… fuck off, dan jangan pernah menghubungi nomor ini lagi.”

Dan Minho tidak bisa menahan diri lagi, dia sudah tertawa terbahak-bahak. Rupanya Sulli serius dengan kemarahannya. Karena seingatnya, Sulli hanya akan menyumpah kalau sudah mengamuk.

“Jiyoung-ssi,” ucap Minho.

“Ya, Sir.” Jiyoung terdengar ketakutan dan Minho betul-betul mengasihaninya karena secara tidak sengaja membuat Jiyoung terjebak di antara perangnya dengan Sulli.

“Bilang ke bos kamu bahwa saya akan ketemu sama dia lagi, terserah dia mau atau tidak. Dan waktu kami bertemu, saya akan ikat dia ke tiang dan saya tampar bokongnya sampe dia minta ampun.”

Dan Minho menutup telepon sebelum melanjutkan tawanya. Sulli selalu mengingatkannya pada harimau kumbang. Memiliki penampilan cantik dan gerakan lemah-gemulai bak penari balet, tapi tidak akan ragu-ragu untuk mengeluarkan cakarnya kalau merasa terpojok.

God, he loves that woman.

,

,

“Saya akan bertemu dengan dia lagi, terserah dia mau atau tidak. Dan waktu kami bertemu, saya akan ikat dia ke tiang dan saya tampar bokongnya sampai dia minta ampun.”

Kata-kata Minho membuat tubuh Sulli kebakaran semenjak mendengarnya dari mulut Jiyoung. Asistennya itu masuk ke ruangannya dengan muka merah padam dan menyampaikan kata-kata Minho dengan sedikit terbata-bata. Jiyoung yang merupakan jenis perempuan baik-baik, dan kemungkinan masih perawan, jelas-jelas malu mengucapkan kata-kata itu.

Dan Sulli buru-buru meminta maaf kepadanya atas kata-kata Minho. Setelah memastikan dia tidak akan memecatnya, Jiyoung meninggalkannya sendiri untuk merenungi kata-kata Minho.

Sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan, karena sekarang dia memikirkan hal-hal lain

yang Minho bisa lakukan padanya. Contohnya, mungkin setelah menampar bokongnya, Minho bisa menyerangnya dengan ganas? Sesuatu yang cukup sering dilakukannya saat mereka masih bersama. Laki-laki itu selalu tahu cara untuk membuat tubuhnya meleleh dengan sentuhan tangan, bibir, lidah, gigi, bahkan embusan napasnya. Tapi lebih dari itu semua, dengan kata-katanya. Mulut laki-laki itu seharusnya datang dengan sebuah tanda peringatan: “Jangan diajak bicara kalau tidak mau kehilangan celana dalam Anda”.

,

,

Oh, dear God, dia betul-betul harus mencari suami untuk menyalurkan semua pikiran kotor ini. Dengan kesal Sulli menutupi wajahnya dengan bantal dan menggeram frustasi. Dia sudah terbaring di atas tempat tidur semenjak pukul 23.00, dan sekarang pada pukul 02.00 dia masih seratus persen sadar. Setiap kali dia memejamkan matanya, memori tentang kebersamaannya dengan Minho menyerangnya, bahkan ketika saat pertama kalinya…

Flashback In

Sulli duduk bersila di atas tempat tidur Minho dan menguburkan wajahnya pada kedua belah tangannya.

Oh, my God, what have I done? Dia baru saja tidur dengan laki-laki yang bukan suaminya. Minho memang pacarnya dan dia tahu Minho mencintainya, dan dia mencintai Minho, tapi itu tidak membenarkan apa yang sudah mereka lakukan. Dia sudah dibesarkan dengan norma-norma agama yang kuat untuk menghindari hal seperti ini. Tidak peduli mereka sudah melakukannya dengan aman, yang terpenting adalah bahwa mereka sudah melakukannya.

Apa yang akan dia lakukan sekarang? Apa yang akan Minho lakukan sekarang? Bayangan bahwa Minho harus menikahinya setelah ini membuatnya panas-dingin. Dia baru saja masuk kuliah dan belum siap melepaskan status lajangnya. Dan bagaimana kalau setelah ini Minho justru memutuskan hubungan mereka? Karena toh dia seorang pria, dan dia sudah melakukan hal yang mereka inginkan dari seorang wanita, dan dia sudah dengan rela memberikannya. Dan bukan rahasia lagi bahwa Minho dikenal sebagai pria tipe one night stand sebelum bertemu dengannya. Apa yang membuatnya berpikir bahwa dia akan berbeda di mata Minho? Oh my God, oh my God, oh my God. Dia tidak boleh membiarkan nasib yang sama menimpanya.

Dia harus meninggalkan Minho sebelum Minho meninggalkannya. Dia mendengar pintu kamar mandi terbuka dan mendongak. Minho keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk. Rambutnya yang agak panjang masih basah. Dan untuk beberapa detik Sulli tidak bisa berkata-kata. Tidak peduli berapa kali dia melihat Minho tanpa kaus, tapi setiap kali dia akan menganga juga. Minho yang memang hobi berenang, memiliki dada dan bahu yang kokoh dan pinggang ramping. Lain dengan banyak pria seumurannya yang senang menghias tubuh mereka dengan tattoo sampai sudah mirip Yakuza, tubuh Minho bersih tanpa bercak apa pun.

“Morning, Sunshine,” sapa Minho sambil tersenyum.

Sedetik kemudian senyum itu hilang ketika melihat ekspresi wajah Sulli. “Hey, you okay?” tanyanya khawatir dan buru-buru menghampirinya.

Entah mengapa, tapi ini membuat Sulli panik. Buru-buru dia mengangkat tangannya untuk menghentikan Minho dan berkata cepat, “I don’t think we should see each other anymore.”

“Whaaattt?” langkah Minho terhenti dan dia kelihatan bingung. Sulli mengambil kesempatan ini untuk turun dari tempat tidur dan menuju pakaiannya.

“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, Minho.” Sulli membelakanginya dan segera mengenakan pakaian dalam yang dia sampirkan pada sandaran kursi tadi malam. Sambil mengenakan jinsnya, dia menambahkan, “Dan aku yakin kamu tidak ada rencana untuk bertemu aku lagi setelah ini.”

Dia baru saja mengancingkan jinsnya ketika lengan Minho yang dingin sudah memeluknya dari belakang, otomatis membuat kedua lengannya tidak bisa bergerak. Dia mencoba melepaskan diri, tapi Minho justru mengeratkan pelukannya.

“Just stop. Stop this, right now. Aku tidak tahu apa yang membuat kamu berpikir begitu tentang aku. Setelah semua yang sudah aku lakukan untuk menunjukkan bahwa aku cinta setengah mati sama kamu.”

“Apa kamu pikir aku sebodoh itu, Minho? Kamu tidak sungguh-sungguh cinta aku. Kamu

Hanya bicara seperti itu untuk membuat aku tidur dengan kamu. Sekarang setelah kamu udah dapat apa yang kamu mau, hanya tinggal menunggu waktu sampai kamu meninggalkan aku,” teriak Sulli, sekali lagi mencoba berontak.

Sulli mendengar Minho menggeram dan detik selanjutnya dia sudah tidak berada di dalam pelukan Minho lagi. Perlahan-lahan dia memutar tubuhnya, dan menemukan Minho sedang menatapnya dengan sorot mata penuh kemarahan. Tanpa berkata-kata, Minho memutar tubuhnya dan melangkah kembali ke dalam kamar mandi. Sedetik kemudian dia muncul kembali. Melihat ekspresi wajah Minho yang gelap membuatnya mundur beberapa langkah.

Tapi Minho kelihatan terlalu marah untuk peduli. Dia tidak berhenti hingga dia berdiri di

hadapannya.

“Mana tangan kanan kamu,” geramnya.

Otomatis Sulli langsung menyembunyikan tangan kanannya. Melihat reaksinya membuat Minho menyumpah dan dengan paksa dia menarik tangan kanannya.

“Eh, eh… Minho, kamu mau apa? Heiiiii…”

Sulli merasakan sesuatu yang dingin mengelilingi jari manis kanannya. “Lain kali kalau kamu pernah ragu tentang perasaan aku ke kamu, aku mau kamu lihat cincin ini,” ucap Minho sambil menunjukan cincin yang sekarang melingkari jempolnya. Cincin itu adalah cincin trademark Minho yang selalu dia kenakan pada kelingking kirinya. Barang paling berharga yang dimilikinya karena merupakan hadiah ulang tahun ke-18 dari Appanya. Dia pernah bilang bahwa melepaskan cincin itu sudah seperti melepaskan sebagian dirinya. Cincin yang sama yang sekarang berada di dalam sebuah kotak di laci pakaian Sulli paling bawah.

to be continue…

Advertisements

51 thoughts on “Dirty Little Secret [Bab 8]

  1. minho terus berjuang, temuin sulli aja di kantornya. jadi sulli pernah dikasih cincin? hmm…, kenapa waktu itu minho nyuruh sulli gugurin kandungan nya? nyesel kan sekarang. lanjut eonnie ^^

  2. flasbak”x minho serius sm sulli,tp knp g’ mau tanggung jwab sh,itu mslh”x..
    ayooo minho semangat jgn menyerah buat ketemu sulli…

  3. bener2 yaa su minho, kayak ga pnya doa udh nghamilin sulli n suruh nggugurin anak sendiri, kerjaannya klo ngomong sama sulli ketawa mulu..sampe pake perantara jiyoung pun tetep aja ketawa, ngancem pula..kelakuan dasar. Makin kepo sama klnjutab usaha minho, apalagi sulli bilang minho itu pantang menyerah, makin suka deh sama kegigihan minho.. Dan aak kembar minsul lucu banget deh, kelakuan beda banget tapi tetep ga mau jauh2 dari kembarannya.. Ditunggu yaa part selanjutnya 😉

  4. Aku harap minho oppa tetep berjuang oppa…fighting…😊
    hahahhaaha…babysull langsung kepikiran perkataan minho oppa….😀😀
    oppa oppa..ngomongnya blak blakan banget….😂
    ditunggu selanjutnya min jangan lama lama ne..hehehhee….😊

  5. Segitu berjuangnya Minho buat dapetin Sulli. Terus kapan kira2 Yogeun dan Sanee ketemu Minho? Aaa cant waitttt. Eonni fighting yaa, ditunggu next chapternya 😙😙

  6. Permasalahan masih berlanjut,km hrs bisa menyelesaikan masalah dimasa lalu minho bila km ingin sulli kembali padamu dan km tdk ingin bertemu dgn ank2mu yg lucu minho semangat minho utk menaklukan hati sulli kembali

  7. Hahaha pengen ketawa mulu sama kelakuam mimho buat dapetin balik perhatian sulli 😂😂 semua ide gilanya keluar ampe bikin sulli mabok kepayang kebayang bayang masa lalu 😂.
    Itu minhoppa kaya yang serius ama baby sull pas dulu sulli gak yakin ama cintanua minhoppa, tapi knapa stelah tau sulli hamil minhoppa malah bikin baby sull benci stengah mati walau dalam hati rindunya stengah mati juga 😟😢. Please sulli open your heart for minhoppa. Dia bukan minho yg dulu gamau tanggung jawab, dan cobalah terbuka masalah yoogeun amd sanee ne 😉
    Eonni lanjutannya secepatnya ya jangan lama lama 😀

  8. Ya ampuun kelakuan yoogeun-sanee bikin ketawa2 mulu deh, dari kejadian dimobil-sampe ada acara balapam menekan tombol lift-sampe keduanya saling cemburu krna jiyoung, mereka lucu bgt si.. Dan minho, wkwkwkwk aku juga ketawa pas minho ketawa sma kata2 pesan dri jiyoung, minho terus berjuang ne buat ketemu sama sulli, klo perlu datengin lagsg lah kantor sulli. Dan supaya bsa ktemu dua malaikat mreka yg lucuuuu,,,

  9. Sanee.. yogeun.. lucu bgt 😀

    semoga aja minho segera bertemu anaknya..
    Dan tau bahwa anaknya masih hidup

    Ditunggu lanjutannya 🙂

  10. Kyk yg minho blg dulu , extreme measure ..
    Dan terbukti , dia gak k habisan akal bwt itu ..
    Oke bab 9 sama bab 10 bakal makin hot , d tunggu scptnya author ..
    Fighting ^^

  11. Aku ga ngerti eon 😥 😥 😥
    huaaaaaaa
    part 1-6 ke protect jdi ga ngerti.
    Mau mnta PW aku ga punya akun line atau apapun itu, aku cma punya fb.#plak,curhat 😀 xD

    tpi yah, ngerti sdikit lah stelah bca prolog+part 7 dan 8.

    Hehe

    semangat ya eon.
    Tetaplah berkarya.
    Take care 🙂 🙂

  12. Nggak bisa ngebayangin gimana kwanghee yg jdi satpam,ngakak eon
    Bhasa Minho frontal bnget yah,nggak ada saringannya bang
    kpn nih ming ktemu ama yoogeun ama sanee ??? Next cpet eon,inii lma nggak update tpi aku tungguin terus loh
    see you bye bye
    Love you muach muach muach

  13. Makin greget aja baca nya,, sulli ngehindar trus nih jd minho nya makin gencar aja ngejar sulli lagi.
    Kpn minho tau kalo dia pnya anak yg kembar dan bahwa sulli tdk menggugurkan kandungan nya..
    Lanjut lg chingu, ditunggu
    Gomawo ☺

  14. Aduhh kapan mereka bisa ketemu lago sihh ??? Tris so minho ngeliat anaknya ,gimana yaa .?
    Bagus min pantang menyerah lanjutkan yakk !!!
    Fighting 🙂

  15. Haha minho oppa mah lucu segala ngelucu ngomongin pantat haha
    Semakin sulli eonni menghindar semakin semangat minho oppa buat cari sulli eonni 😃
    Jangan nyerah oppa buat dapetin kepercayaan babysull 😄😘💪

  16. Buahahaha ngakak gue sma klakuannya minho 😆😆😆 apalah ming smpk ngmngin bokong segala ke jiyoung , jiyoung kan masih polos dia takut di pecat sma sulli dasar minong bikin malu orang 😀
    ayo oppa berjuang buat dapetin hatinya sulli lagi eoh ? Kau jangan menyerah untuk mendapatkan hatinya sulli apalagi klo oppa tau yooguen dan sanee itu anaknya oppa tambah deh berjuangnya keke , fighting oppa 😄😄💪💪💪

  17. Minsul minsul minsul…sampai kapan kalian mau bertengkar teruuuss, eoh ??? Kalian sudah pad besar, udh dewasa..tapi ko sprti anak remaja saja 😀
    Smpai2 jiyoung dlibatkn juga :-\
    Minho mmng pantang mnyerah, ushany itu daebak…
    Dn itu mmbuat ssul frustasi,,, sangaaaattt frustasiii 😦
    Saengi harus tahan yaa,,, itu tndany minho masih sangat sayangsayang, cinta dn ingin kmbali…
    Tapiii yaah,, semuany butuh proses itulah yg prlu minsul jalani 🙂
    Fighting minsul 😉
    Fighting minhoooo 😀

    Next chaptet chingu ^_^
    #minsuljjang♥♥♥

  18. minho benar² sungguh² merebut kembli hati sulli.tapi sayang masa lalu yg menyedihkan itu membuatnya sulit untk mendapatkan sulli kembali. hemz….sulli sudah dibutakan dengan pahitnya masa lalu,jadi karena itu dia tidak mau bertemu dgn minho. padahal minho yg sekarang bukanlah minho yg dulu. minho udah berubah dan menyesali perbuatannya.
    next…!!!!

  19. whahhaa minho sama sulli lucu banget, ancamannya minho ga bikin takut malah bikin ngakak aja .. wkwkwwkwkka .. emang sih gara-gari mingho sii sulli pergi, tapi kaali ini aku ngasih dukungan seribu persen buat minho bikin sulli kembali lagii .. hhihihii

  20. Greget sm ff ini kapan minho ketemu sm yoogeun sanee coba>< baper bgt ugh kalo udh minsul. flashback sm zaman ttby sm flashback pas w msh sm doi(?) mian curhat:'v

  21. Wkwkwk selalu ngakak kalo udah bagian Sulli mencaci Minho tapi dibalas Minho dengan kata2 menggoda yg mesumnya luar biasa hahahah. Pasti Minho bakal lakuin apa yg diancamnya ke Sulli, tapi tidak akan secepatnya. Poor Ming :p mereka berdua memang pasangan yg anti mainstream hahahah ditunggu lanjutannya eon 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s