MIRRORS II [Chap 8]

mirrors2

Title : MIRROS II [Chap 8]
cast : CHOI SULLI (f(x))  |  CHOI MINHO  (SHINee)  |  KIM HEECHUL (SuJu) | others
author : Dazdev
 length : Chaptered
rating : PG-15
Genre : supranatural, romance, crime
thanks for KEYUNGE for great poster<3
.
.
.

Before Chap  [chap 7 : “It will rain, baby… It will rain…”]:

Jinri terjerembab pada permukaan aspal yang basah akan air hujan.

“Astaga, Jinri!” Minho terkesiap dan bergegas membopong tubuh Jinri ke tepi jalan sebelum lampu lalu-lintas bagi pengguna kendaraan berubah hijau lalu tamatlah riwayat mereka berdua disana—di jalan raya.

“Jinri? Jinri?” Minho berusaha menyadarkan gadis itu namun tak satupun respon yang ia terima.

Minho hendak meraih ponselnya dalam saku, namun sesuatu cairan yang melekat pada telapak tangannya membuat ia tertegun hingga tubuhnya gemetar.

Warnanya Merah… Ya, merah “I-ini… Darah?”

.

.

 Mirrors II chap 8 : “Surprising Confession

.

Choi Minho mengitari lorong rumah sakit seakan ia pasti menemukan harta berharga di sepanjang penjelajahannya. Nyatanya tidak. Ia justru menghirup aroma antiseptik yang menyesakkan lebih banyak, rasa khawatir yang semakin bertambah, dan memori yang semakin kacau.

Minho rasanya tak ingin mengingat kejadian dua jam lalu. Terlalu mengerikan untuk sekedar terlintas kembali di ingatannya. Makan malam mengenaskan, ucapan selamat tinggal, darah yang mengucur, Sirene ambulan, keramaian yang memekakkan, dan gadis yang dicintainya—tiba-tiba berubah menjadi sekumpulan bencana yang bersekongkol dan berusaha membuat Minho ingin amnesia saja malam itu. Minho bersungguh-sungguh, ia ingin menghapus ingatannya tentang malam ini. Jika boleh berharap lebih, ia ingin malam ini tidak pernah terjadi dalam hidupnya.

Ia tengah menantikan sesuatu yang tak diharapkannya sejak awal, terlintas pun tidak, perpisahan. Gila rasanya jika kurang lebih dua jam lalu Jinri mengucapkan selamat tinggal dan sekarang Minho justru berhadapan dengan calon perpisahan yang kedua. Berpisah dengan gadis yang menyelingkuhinya bukan berarti ia tak ingin melihat gadis ini seumur hidupnya lagi. Karena Jinri tak bisa dibuang semudah itu dari hidupnya.

“Hei… Kau baik-baik saja?”

Minho mendongak, sedikit tersentak. Victoria datang dengan mengenakan piyama motif teddy bear, jauh dari kata sepadan dibandingkan sepatu model stiletto merah mencoloknya. “Yeah, tidak juga. Rasanya masih seperti bermimpi.”

Vic mengucek lembut matanya, “Bagiku juga begitu.”

Minho dengan jelas dapat melihat rasa kantuk yang bergelayut di mata gadis itu. Ia baru saja dipaksa bangun dari mimpi indahnya. “Yang benar saja Vic. Ini baru pukul 9 dan kau sudah terlelap seperti bayi? Berapa umurmu?”

“Demi paku jalanan yang hampir saja kutabrak barusan, Minho! Aku akan menikah lusa! Persiapan selama seminggu ini nyaris mengubahku menjadi zombie! Aku butuh istirahat dan malam ini kau justru membuat ulah.”

Wow, wow! Minho tidak bisa terima. Peristiwa ini sama sekali bukan ulahnya, tak ada satu pun keterkaitan dengan dirinya. “Aku tidak tahu-menahu, Vic. Waktu itu kami berpisah, aku pergi meninggalkan restauran dan tiba-tiba Jinri menarik lenganku. Itu saja, sampai pada ia terjerembab dalam pelukanku dan ada darah di pinggulnya…” Terang Minho padahal ia tak sudi mengingat kejadian mengenaskan itu lagi.

Vic memijit pelipisnya yang berdenyut seolah kepalanya hendak meledak dalam hitungan detik. “Ini ulahmu. Jelas ini ulahmu. Jinri yang bilang jika kau ingin bertemu dengannya malam ini. Kau ingin putus dengannya ‘kan? Jika kalian tidak bertemu, bisa saja sesuatu yang buruk tidak menimpanya.”

Minho terperangah. Sesuatu yang keras memukul dadanya hingga berdebam. Itu benar. kenyataannya lebih tepat pada ‘apa tujuan mereka bertemu’. Seandainya pertemuan itu bukan untuk berpisah dan mengucapkan selamat tinggal pada satu sama lain, bisa saja sekarang ia dan Jinri sedang berpegangan tangan ketika menyebrangi jalan, atau lengannya sedang tersampir di pundak Jinri, atau keduanya sedang duduk di gazebo di area taman sambil berbincang soal biaya cicilan apartemen yang belum lunas. Berat bagi Minho untuk mengucapkannya, tapi kalimat itu mencelos begitu saja dari mulutnya. “Ini salahku. Ya, benar-benar salahku.”

“Astaga Minho. Untuk sekian lama aku menunggu kesempatan ini, menunggu kau mengucapkan kata itu. Seandainya sejak awal kau mengatakannya di hadapan Jinri, percayalah hubungan kalian bakalan lebih mulus daripada kulit Cleopatra.”

Wanita begitu mengesalkan ketika mereka mengoceh panjang lebar dan mengungkit masa lalu seolah hal tersebut dapat dengan mudah diulang kembali seperti adegan favorit di film-film. Tapi Victoria ada benarnya. Seandainya Minho mengalah, membiarkan hatinya melunak demi Jinri, membunuh seluruh ego dan kekerasan kepalanya maka hal buruk ini pasti tidak akan pernah menimpa keduanya.

“Tapi semuanya sudah terjadi Vic. Kekerasan kepala kami berdua membawa kami pada keadaan pelik seperti ini.”

Detik berikutnya, Minho dapat merasakan Vic mengusap punggungnya. Tidak lembut, Hanya saja Minho dapat merasakan ketenangan yang menjalar dan menyebar hingga ke sendi-sendinya. “It’s okay. Bawa saja keadaan buruk ini ke keadaan selanjutnya. Pastikan keadaan itu lebih baik.”

Wanita memang suka berceloteh tapi sisi baiknya adalah karena mereka khawatir terhadap segala hal. Dan Victoria adalah wanita itu. Ia mengkhawatirkan segalanya, cemas terhadap Jinri yang bahkan tak punya ikatan darah dengannya, cemas terhadap Minho yang hanya ia kenal satu tahun lalu di kedai kopi ketika berpapasan dengan Jinri. Keputusan Minho untuk menghubungi Victoria beberapa jam lalu, sejauh ini adalah keputusan terbaik yang ia ambil untuk hari ini. “Maafkan aku…” dan Terima kasih.

 

Dari kejauhan dokter yang menangani Jinri menghampiri mereka, “Salah satu dari kalian adalah keluarga pasien?”

“Aku tunangannya.” Yeah, Tiga jam lalu.

 

“Tim kami sudah melakukan operasi, dan sejauh ini kondisi tubuh pasien memberikan respon yang baik. Luka tikaman itu tidak begitu dalam, tidak satupun organ penting selain ususnya yang terluka.”

Minho dan Vic mengembus napas lega. Calon perpisahan yang kedua, selamat tinggal!

 

“Untuk saat ini, pasien diharuskan untuk menjalankan rawat inap demi menjaga kondisi beliau agar tetap stabil dan mendapat penanganan yang tepat. Bagaimana?”

Minho mengangguk setuju, “Tentu saja, dok. Tentu saja. Ia akan tinggal di sini untuk sementara. Terima kasih dok, terima kasih, terima kasih.” Ia terus menjabat tangan dokter itu dan tanpa henti mengucapkan terima kasih sampai-sampai ia lupa bagaimana cara menghentikannya. “Kau dengar Vic? Aku akan menemani Jinri malam ini di rumah sakit.”

“Ada baiknya kau pulang dulu, dear. Kau mesti membawa baju ganti, peralatan mandi, peralatan make up dan teddy bear mu, maybe…”

Minho mengernyit, “Eum, ide bagus tapi sebenarnya aku tidak butuh alat make up dan aku tidak punya teddy bear.” Minho beralih memerhatikan jam di pergelangan tangannya, “Lagipula besok hari Sabtu, tidak mandi pun tak jadi masalah.”

Victoria mengangguk memaklumi, Minho pasti ingin menempel seperti lem dengan Jinri dalam kondisinya yang buruk seperti sekarang. “Oke, itu terserah kau saja. Aku ingin lihat kondisi Jinri dan setelahnya aku benar-benar harus pulang. Aku ceroboh sekali dengan meninggalkan ponsel di meja rias dan pintu garasi yang terbuka. Aku tebak, ibu dan ayah pasti terkejut setengah mati jika tidak melihatku di tempat tidur sekarang. Mereka akan mengira aku ini calon pengantin yang mau kabur karena calon suaminya ternyata terlilit hutang dan kredit, padahal ia kaya raya, makanya aku mau menikahi pria manis itu. Astaga, aku sangat-sangat-sangat mencintai pria itu. Berjanjilah! Datang ke pernikahanku.”

Fix. Menurut Minho, Calon suami Victoria yang namanya Changmin itu pasti seorang pendengar yang ulung. Mungkin menyenangkan baginya mendengar celotehan Victoria sepanjang waktu dan akhirnya memutuskan untuk menikahinya. “Dia adalah pria yang beruntung.”

.

.

.

Victoria baru saja pergi sekitar dua menit yang lalu setelah memijiti ruas-ruas jemari lunglai milik Jinri yang tengah tak sadarkan diri. Minho terenyuh ketika menyaksikan Vic menitikkan air mata untuk gadisnya. Minho ingat jika Jinri tak punya banyak teman dan satu-satunya yang ia kenal sebagai rekan sekantor sekaligus sahabat sekaligus ibu sekaligus teman gila belanja bagi Jinri adalah Vic.

“Kau beruntung memiliki seseorang seperti Vic. Dia benar-benar mengesankan. Dia bisa bicara tanpa henti. Jika kau tinggal satu atap dengannya, kau tak memerlukan radio atau televisi. Benar ‘kan?” Satu kecupan ia layangkan di punggung tangan kekasihnya yang memucat, aroma lotion—entah bagaimana Vic mendapatkan lotion di rumah sakit di pukul 11 malam.

Hampir tengah malam dan Minho benci untuk mengakui bahwa ia mulai merasa lelah, mengantuk, dan perlahan kehilangan fokus, energinya seolah tersedot dan berpindah ke lain tempat. Padahal biasanya ia mampu berjaga hingga pagi.

Mungkin alasannya adalah karena hari ini berbeda. Berbagai jenis emosi memporak-porandakan dirinya malam ini. Minho bisa saja menangis seperti balita atau mengamuk untuk melepas emosi yang menggerayangi isi kepalanya. Mengamuk seperti sapi gila kemudian memecahkan kaca jendela rumah sakit dengan sekali tinjuan. Well, meninju kaca rumah sakit itu terdengar keren, tapi Minho tidak akan membuat kebisingan dan membangunkan Jinri dari tidur pulasnya.

Jinri yang sedang tidur bukanlah sebuah pemandangan spektakuler atau langka dan terjadi hanya sekali dalam seratus tahun. Hanya saja dari sisi ini Jinri terlihat damai—tanpa ulasan make up, tanpa kepalsuan memikatnya. Kau lebih dari kata sempurna. Siapa pun yang kelak menggamit jemarimu menuju altar, ia pasti pria yang beruntung.

 

Minho mulai bertanya-tanya, jika dirinya merasa beruntung apakah Jinri merasakan hal yang sama?

Sulit untuk tahu jawabannya. Jinri tidak hanya menggenggam hatiku, ada yang lain. Hati yang lain dalam genggamannya.

Entahlah, Minho hanya ingin Jinri tidak buru-buru sadar dari tidurnya malam ini. Mungkin rentetan peristiwa hari ini hanya sebuah potongan mimpi yang terasa begitu nyata, jadi Jinri tak perlu repot-repot bangun. Karena menjalani mimpi yang seperti ini rasanya menguras tenaga. Tepat ketika matanya bertemu dengan rembulan di luar jendela, warna-warna di sekitarnya mulai memudar dan lenyap. Choi Minho terlelap di sisi kekasihnya.

.

.

.

Minho lupa kapan terakhir kali ia bangun pagi-pagi sekali di akhir pekan. Atau mungkin hari ini adalah yang pertama kalinya dalam setahun belakangan. Ia pulang ke rumah, mengguyur tubuhnya dengan air hangat, menyiapkan pakaian ganti, kopi dalam kemasan dan buah-buahan dari lemari pendingin lalu bergegas kembali ke rumah sakit dengan mengendarai mobil volvo hitamnya sembari merenung di sepanjang jalan. Ia tersenyum getir. Kenyataannya, kejadian semalam itu benar-benar bukan mimipi.

.

.

.

Sebelumnya Minho berharap kejadian semalam hanyalah sebuah mimpi. Salahkah Minho, jika ia berharap ia sedang bermimpi lagi? Meski ia tahu, masih terlalu pagi untuk berlabuh di dunia mimpi. Choi Minho hampir tidak mempercayai ini. Ia tidak mau percaya lagi dengan sepasang lensa matanya yang kerap kali terjebak ilusi. Minho berada di ambang pintu kamar Jinri dirawat. Ia berdiri canggung selagi bertukar pandang dengan seorang pria berjas putih beserta stetoskop di lehernya. Wajah itu tidak asing, Minho mengingatnya seperti Penggorengan yang mengingat spantula.

Ia tersenyum, khas sekali. Terlalu lebar, suka pamer gigi. “Selamat pagi, Choi Minho… Dunia itu sempit ya?”

Minho membungkuk, air mukanya berubah. “Siwon Hyung, lama tidak jumpa.”

.

.

.

.

Janggal rasanya bagi Minho menyaksikan seorang dokter spesialis bedah sedang menenggak beer kalengan pagi-pagi begini. Sebaliknya, pepsi dalam genggaman Minho masih dalam keadaan utuh. What The Hell! Ini masih pagi sekali! Dia tak ingin terserang maag atau diare karena minum minuman karbonasi (apalagi beer). Semoga pria ini tidak membedah perut orang lain dalam keadaan setengah mabuk.

“Aku kecewa kau tidak memberitahuku soal ini.”

Minho mengernyit, “Soal apa?”

“Dia.” Ujar Siwon seraya mengarahkan pandangannya pada Jinri yang belum sadarkan diri.

“Apa aku harus menghubungimu dan memberi tahu bahwa aku bertunangan dengan seseorang yang mirip Sulli dan kau harus lihat orang ini?”

Yeah, kau juga boleh melakukan itu.”, Ia tersenyum menonton kaleng beer-nya, “Tapi apa salahnya memberi tahuku? Karena kalau boleh jujur, aku tak ingin kehilangan kontak denganmu. Kita tidak pernah bicara lagi semenjak Sulli pergi.”

Minho terhenyak. Sudah lama sekali tidak mendengarkan nama itu disebut oleh orang lain. “Maaf, aku kehilangan ponsel dua tahun lalu. Aku kehilangan nomormu dan Amber.”

I know… Sulit bagimu untuk terus membina hubungan dengan orang-orang di masa lalu sementara kau punya orang lain di masa depan.”

Itu tidak benar.

 

“Aku tidak sedang beralasan atau apapun, hyung. Aku sungguh-sungguh kehilangan ponselku. Lagipula… Kau salah besar jika terus-terusan menyudutkanku seolah aku sudah melupakan Sulli.”

Siwon mencibir, “Kata siapa aku menyudutkanmu?”

“Air wajahmu yang bilang begitu. Lagipula aku sudah terlalu dewasa untuk sekedar paham kalimat ironimu. Jadi, aku minta maaf, Oke? Apapun salahku, aku minta maaf.”

“Dimaafkan jika kau traktir aku minum soju.”

Minho menyilangkan lengan, “Whatever you want, hyung...”

“Hei, kau tidak bertanya mengapa aku tidak histeris menyaksikan keajaiban dunia ke delapan ini di depan mataku? Gadis yang mirip sulli bertunangan dengan pria yang pernah dicintai Sulli? Kau tidak mau tahu?”

Minho berpikir sejenak, “Apa aku perlu tahu?”

“Mengapa tidak perlu? Kau pasti perlu. Karena ini berhubungan dengan tunanganmu, seseorang yang mirip adikku, seseorang yang mirip mantan kekasihmu, seseorang yang…”

“Oke cukup sampai di sana. Ceritakan saja.” Minho tidak mengerti bagaimana cara bicara orang ini mulai bertransformasi sejak terakhir kali mereka berbincang sekitar dua setengah tahun lalu. Atau… Dokter bedah ini mulai mabuk?

“Coba tebak. Aku bertemu dengan Anak ini kurang lebih sepekan lalu di rumah sakit kemudian makan siang bersama di Green leaf. Terkejut?”

“Tidak.” Dusta Minho.

“Kau barusan membelalak.”

God, mataku memang begitu!”

“Mengapa kau berteriak padaku seperti itu!”

Minho memijit pelipisnya yang mulai berdenyut tak karuan, secara perlahan meregangkan urat-urat lehernya yang kencang dan membiarkan bahunya melorot santai. “Maaf. Aku hanya sedang stress setengah mati dan kehadiranmu justru tidak banyak membantu.”

“Santai saja bung. Aku bertaruh, Jinri bakalan sadar beberapa menit lagi. Kau tidak perlu terserang syndrom kecemasan berlebihan begitu.”

Bukan.

Minho senang mendengarnya. Tapi Minho tak sekedar mencemaskan hal itu. Ia tak ingin mengatakannya, karena bisa saja Siwon tak akan percaya jika ia menginginkan ini : Jinri sebaiknya tak sadarkan diri untuk waktu yang lama. Terdengar egois, kejam, tak punya hati nurani. Namun percayalah, jika Jinri bangun semuanya akan berbeda. Ia mungkin tak menginginkan keberadaan Minho di sana hanya untuk menggenggam tangan yang kehilangan hangatnya.

Jangan bangun dulu. Yeah… semoga saja begitu.”

Ponsel dari balik saku jas Siwon berdering dan Minho berterima kasih padanya karena Siwon bilang ia punya jadwal operasi pengangkatan tumor beberapa menit lagi (dan dia minum beer), juga berjanji untuk sering-sering mengunjungi kamar Jinri.

Minho mendesah panjang sebelum punggung Siwon benar-benar lenyap dari balik pintu. Demi.Apapun.Kau.Tidak.Perlu.Sering.Sering.Berkunjung.Kemari! dumelnya dalam hati sembari meletakkan kembali kaleng pepsi dan lebih memilih mencomot pisang segar yang ia angkut susah payah dari apartemennya.

Selagi ia membuka kulit pisang, ia memandangi Jinri seolah tahu persis jika gadis itu dalam keadaan sadar, ia pasti merengek meminta satu hingga tiga buah pisang. Minho tersenyum. Bukannya pelit, hanya saja dalam keadaan seperti itu Jinri bahkan tidak mampu mengunyah potongan kecil buah kesukaannya. “Maaf ya, tidak berbagi.”

Minho duduk di sisi ranjang Jinri dan menyalakan televisi, menggonta-ganti saluran dan terus-trusan menemukan tayangan berita pagi.

Minho sedang tidak yakin untuk menyaksikan acara berita, karena bisa saja dirinya dan Jinri berada di salah satu topik hangat kasus penikaman tanpa modus yang terjadi semalam. Minho sudah dipusingkan oleh proses introgasi yan berbelit di kantor kepolisian, dan ia putuskan untuk tidak ambil pusing lagi soal orang bengis yang ia yakini sesungguhnya keliru menikam target.

Minho mengunyah manisnya daging buah pisang sembari membiarkan pikirannya berkelana ke satu hari lalu. Berpikir, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang tega melakukan hal kejam ini? Apa itu rekan kerjanya di kantor yang menyimpan dengki? Minho benci untuk mengakui bahwa ia dendam setengah mati pada orang bejat itu dan berharap ia tak mengenal dan bertemu lagi dengannya. Karena jika iya, Minho tidak dapat menjamin keselematan keparat itu di tangannya.

Minho baru saja hendak mengambil buah pisang yang kedua dan kembali memutar otak, namun seseorang menyentuh punggung tangannya.

Minho menoleh seakan ingin bilang ‘ada apa?’ sebelum ia menjalin kontak dengan pemilik tatapan kosong yang terbaring lemah di ranjang dan mulai menyadari sesuatu. ‘HELL!! Matanya terbuka! Jinri sudah sadar!’

 

“Hueek!” Minho tersedak dan batuk-batuk sampai rasanya nyaris kehilangan napas. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan asmara Minho, ia tersedak ketika menyaksikan sang kekasih terbangun dari tidurnya. Terlalu mengejutkan.

“Minho? K-Kau baik-baik saja? Kau terluka? Apa yang… Ugh!” Ia meringis, memegangi perutnya. Ia kesakitan dan Minho tahu itu. Minho hanya tak punya keberanian untuk sekedar menyentuhnya detik ini. Mengerikan jika membayangkan reaksi Jinri setelahnya.

Keduanya bertukar pandang hingga sepersekian detik sampai Minho menyadari ada sesuatu sedang menggenang dari balik pelupuk mata jinri. Ia menangis. Ia baru bangun dan ia ingin menangis. Atau Minho rasa, Jinri benar-benar menangis karena ia menyeka bulir air mata yang jatuh ke pipinya.

Are you okay?” Tanya Minho memastikan. Ia tak akan bergegas merangkul Jinri kendati ia ingin sekali. Gadis itu butuh waktu, mencerna keadaan yang sedang dihadapinya atau sekedar mengenal rasa sakit yang menyerang bagian pinggulnya. “Is It so hurt?

I’m Okay. Hanya saja aku kira…” Jinri mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, beralih menatap Minho, menelisiknya lekat-lekat, “Kukira waktu itu adalah terakhir kalinya aku melihatmu, Minho. Aku kira, aku sudah mati.”

Minho tersentak, “Itu tidak akan tejadi, Darl. Kau ini Choi Jinri. Seorang Choi Jinri tidak akan mati semudah itu.” Jika memang benar jalan takdir bagi jinri adalam mati malam itu, Minho tidak akan pernah sanggup memaafkan dirinya sendiri. Ini semua ulahnya, Jinri menangis ketakutan dan Minho berharap ia punya sihir untuk membuang ingatan buruk gadis itu dan menyisakan segala ingatan yang manis saja. “Kau butuh pelukan?”

Itu adalah pertanyaan konyol sepanjang masa. Minho semestinya cukup tahu bahwa Jinri selalu butuh pelukan darinya ketika ia ketakutan atau merasa sedih. Dan benar saja, Jinri tak bergeming untuk sekedar menggerakkan bibir. Ia hanya membiarkan sebutir air mata jatuh lagi dan bagi Minho itu artinya ‘iya bodoh, aku butuh pelukan. Mengapa kau tidak pengertian sekali?’

Maka pada detik itu juga Minho bangkit dan meletakkan kepala jinri pada dadanya. Merengkuh gadis itu secara hati-hati seolah Jinri adalah barang antik pecah belah seharga miliyaran dollar.

Jinri melingkarkan lengannya di pinggul Minho, merasakan kehangatan dalam pelukannya. Ia bahkan tak berniat untuk menghentikkan tangisnya. Ia hanya terlalu bahagia untuk mengetahui bahwa semua ini bukan mimpi—kembali dalam pelukan Minho dalam keadaan hidup. “Seharusnya kau tak di sini, Minho. Kau tidak boleh disini bersamaku.”

“Demi apapun, Ini membingungkan. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan persetan dengan semua itu. Karena sekeras apapun kau ingin mengusirku lagi, aku bersumpah akan tetap tinggal.”

Jinri bisa bilang apa? Minho adalah tipe pria keras kepala dan sulit membatah perkatannya. Sialnya bagaimana bisa ia jatuh cinta pada pria egois ini?

Jinri mengukir seulas senyum, menenggelamkan lebih jauh wajahnya dan menghirup aroma khas softener kesukaannya yang ia beli sebulan lalu bersama Minho di mini market dekat apartemen mereka. Jinri merindukan segala hal kecil tentang Minho dan ia tidak tahu caranya berterima kasih lagi ketika ia masih dapat mengingat itu semua bahkan tenggelam kembali dalam pelukan Minho di pukul 8 pagi, di rumah sakit, dan merasakan sakit bekas tikaman benda tajam di pinggul. Rasanya luar biasa sekali.

“Maka berjanjilah untuk tetap tinggal. Karena kalau boleh jujur, rasanya lelah sekali menanggung beban ini sendiri.”

“Catat ini, Jinri. Pada detik ini, menit ini, tanggal ini, Choi Minho berjanji padamu untuk tetap tinggal dan menyediakan diri untuk menanggung beban bersamamu. Jika aku melanggar, kau boleh tidak ikut membayar cicilan apartemen.”

Jinri tergelak, dan memukul pelan dada pria itu. Tapi itu sama sekali bukan ide buruk. Jinri menyukainya.

“Bagaimana perasaanmu? Apa rasanya sakit?” Minho melepaskan pelukannya, memandangi Jinri dan menyeka bekas leretan air mata di pipinya.

“Sangat.”

Seketika Minho ingin menggantikan Jinri menanggung rasa sakitnya. Terdengar seperti omong kosong yang manis tapi Minho sedang bersungguh-sungguh. “Kau haus? Kau menginginkan sesuatu untuk di makan? Atau kau ingin sesuatu yang bisa kulakukan untukmu sekarang?”

Yang Jinri inginkan saat itu kemungkinan besar hanyalah makan. Yeah, makan apapun. Ia akan makan apa saja yang disuguhkan di hadapanya. Karena ia sangat-sangat lapar juga sangat-sangat haus di saat yang bersamaan. “Aku akan makan apapun. Akan minum apapun juga.”

Minho mengangguk.

Sedari tadi Jinri mendeteksi aroma lainnya selain aroma maskulin Minho yang menguar di kamar itu. “Aku mencium bau buah pisang masak. Apa itu hanya perasaanku saja?”

Napas Minho tercekat, “Tentu itu perasaanmu saja.” Bagaimanapun, Jinri baru sadar dari pingsannya dalam keadaan perut kosong. Minho tak akan membiarkan buah favoritnya itu membuatnya sakit perut pagi-pagi. “Aku akan pergi ke cafetaria dan membeli susu hangat juga roti untukmu, darl.”

.

.

.

Minho mengayun langkah di sepanjang lorong rumah sakit dan berusaha menemukan bagian cafetaria untuk memesan penjanggal perut untuk Jinri. Minho tidak begitu mengharapkan menu sarapan pagi dari rumah sakit, menurutnya susu hangat jauh lebih baik. Ia memesan dua gelas susu hangat dan roti nutella di konter, jangan tanya lagi untuk siapa segelas yang lainnya. Sembari menunggu, ia meraih ponsel dan bergegas menghubungi Victoria. Sesibuk apapun gadis itu, Ia mesti tahu keadaan Jinri.

Ketika nada sambung berhenti dan tergantikan suara Vic yang setengah cempreng, Minho tersenyum, “Jinri sudah sadar dan hebatnya mood dia luar biasa baik.”

“Sungguh? Kalian berciuman?”

Minho memutar bola mata, “Sayangnya aku dan jinri bukan pasangan bergairah bak couple telenovela. Jadi kami hanya berpelukan.” Mengingat itu membuat seulas senyum merekah di wajahnya. Minho rindu memeluk gadis itu, seperti ketika ia kembali dari kantor dan Jinri ada di ambang pintu. Rasanya seperti kembali ke rumah.

“Aku hanya sekedar memberi tahu—“ Ujar Minho, tangannya sibuk merogoh dompet dan menerima pesanan. Sekarang ia tahu mengapa Tuhan menciptakan bahu dekat dengan kuping, agar manusia dapat menjepit ponselnya sambil melakukan kegiatan multitasking seperti sekarang. “—Jika kau sibuk, kau tidak perlu berkunjung. Jinri baik-baik saja, bahkan bibirnya merona. Aku serius.”

Minho masih dapat menangkap suara desahan panjang di seberang. Ia mengerti, ini hari Sabtu dan gadis itu sedang dipusingkan oleh banyak hal yang secara bertubu-tubi menyerangnya.

‘Bagaimana pun aku akan mampir.’

“Uhm, okay. Jangan paksakan dirimu.” Minho menutup panggilan dan bergegas kembali ke kamar rawat Jinri.

Degupan jantungnya berdetak jauh dari kata normal ketika berada setidaknya tujuh meter dari pintu. Minho menerka-nerka adegan apa yang akan diputar setelah ini. Karena segala skenario terus saja terjadi diluar dugaannya. Siapa tahu ada pacar Jinri yang lainnya di dalam sana, atau mood Jinri berubah drastis, atau Siwon sudah menyelesaikan operasi dan lagi-lagi minum beer selagi menunggunya (Hell no untuk yang satu ini). Tapi siapa yang tahu?

Minho melongoki kepala dan nampaknya ruangan itu masih dalam keadaan yang sama seperti ketika ia meninggalkannya. Jinri terbaring dan menonton televisi. Tapi Minho yakin dari air wajah dan tatapan kosong itu, pikiran gadisnya tengah berada di tempat lain. “Hai.”

“Hai. Aku mau bicara.”

Tubuh Minho berubah kaku. Sesuatu yang kasat mata mungkin menancapkan paku antara kakinya dan lantai. Untuk sekejap Minho kehilangan napas dan berpikir ia tidak boleh selemah tempo hari. “Jika kau mau minta putus lagi, jawabannya sampai kapanpun tetap tidak.”

Jinri terkekeh, senyumnya bagai pemandangan bagus di saat badai—kurang tepat. “Aku sudah menyerah dengan sandiwara yang kuciptakan sendiri dan percayalah aku sedang berusaha membuatmu mengerti kondisi menakjubkan seperti apa yang sedang kuhadapi.”

Kedengarannya baik. Minho merasakan urat-urat lehernya mengendur dan kakinya melembek, “Baikah. Sebelum kau berusaha meyakiniku, mari pesta susu hangat.”

“Dan roti.” Sambung Jinri sembari menjulurkan tangannya.

“Yeah, roti toping Nutella.”

“Bisa kita bicara sambil menghabiskan ini? Karena kau harus-harus-harus tahu soal ini. Bodohnya aku beranggapan bahwa aku harus menanggungnya sendirian karena sebenarnya ini juga menyangkut nyawamu dan kau… harus-harus-harus tahu apa yang terjadi.” Terang Jinri dengan mulut penuh kunyahan roti.

“Tentu. Bicarakan pelan-pelan. Dari awal.”

“Aku bahkan bingung hendak memulainya dari mana.”

Minho menenggak susu hangat miliknya, “Kau boleh menceritakannya dari nol. Tapi kalau boleh jujur, aku ingin mendengar tentang pria yang mengajakmu kabur ke London.”

Jinri megembuskan napas keras-keras, “Namanya Heechul, dia satu dari penyebab kekacauan ini. Aku sudah bilang, dia itu bekas pacarku dan dia adalah…” Jinri tidak yakin untuk mengatakannya, tapi Minho harus-harus-harus tahu semuanya, “Anggota Mafia.”

Mereka terdiam. Sepasang alis Minho bertemu di tengah. “Lelucon bagus.”

“Oke, itu terdengar lucu dan mengada-ada. Tapi dia memang mafia dan dia mantan pacarku.”

Well, itu sangat-sangat mengejutkan.

“K-Kenapa Kau baru bilang sekarang? Astaga, faktanya aku sedang memacari mantan mafia. Wow.” Minho tiba-tiba terkesan entah pada siapa.

“Karena aku merasa kau tidak perlu tahu. Hubungan itu sudah lama berakhir, tepatnya ketika aku bertemu denganmu. Sewaktu itu, aku tidak bisa membedakan antara rasa nyaman dengan pria yang kucintai atau pria yang kuanggap sebagai saudara sendiri. Kau ingat ‘kan, aku kerap bermain-main dengan banyak pria? Lagipula hatinya terlalu lembut untuk dikatakan sebagai mafia. Dia mafia terbaik yang pernah kutemui. Percayalah.”

“Hei! Dia bukan satu-satunya mafia yang pernah kau temui?”

Jinri menggigit kuku, “Aku berteman baik dengan rekan-rekan mafianya juga.”

Dunia Minho seperti dijungkir balikkan dalam sekejap oleh pengakuan telak Jinri. Nyaris dua tahun tinggal satu atap dengannya dan Minho tak pernah tahu gadis itu bergaul dengan para mafia (bahkan berpacaran), “Jujur aku marah. Tapi kurasa tidak tepat untuk meluapkannya sekarang, karena kita perlu bicara banyak.”

“Aku sungguh-sungguh minta maaf.”

“Aku masih marah dan aku belum memaafkanmu.” Minho melemparkan pandangan ke luar jendela, berusaha tak membalas tatapan mengenaskan Jinri—terlalu melemahkan pertahanannya. “Jadi ceritakan saja apa hubungan mafia yang baik hati ini dengan kejadian mengerikan semalam.”

Sulit bagi Jinri untuk memulai penjelasan. Karena segala permasalahan entah bagaimana dapat menjelma menjadi perkara yang jauh lebih rumit kian harinya. Ia menghela napas dan menatap kuku-kuku yang sudah ia gigiti. “Beberapa pekan lalu itu adalah minggu-minggu yang berat bagiku. Alasannya sepele, Victoria akan menikah dan rasanya tidak adil saja bagiku. Yeah, tidak adil. Ketika aku merasa terpuruk, di saat yang bersamaan Heechul datang dan memberi tahu kabar buruk. Sahabatnya melecehkan gadis yang notabenenya adalah adik dari ketua komplotan mafia lainnya. Perang antar mafia pun dimulai.”

“Kutebak orang brengsek semalam itu adalah salah satu dari mereka. Benar?”

Jinri mengangguk. Ia membenarkan posisi duduk lalu menenggak susu hangat untuk membasahi kerongkongannya yang mengering. “Mereka ingin membantai semuanya. Semua yang terhubung dengan Geng mafia Heechul dan aku termasuk hitungan. Kau juga.”

“Jadi kau ingin membiarkanku mati dibantai sendirian sementara kau pergi ke London untuk menyelamatkan dirimu sendiri?”

“Tidak! Tentu saja tidak!” Sergah Jinri dan remah roti jatuh dari sela bibirnya. “Justru aku ingin pergi sebelum mereka tahu bahwa aku punya ikatan denganmu. Kau punya kehidupan yang jauh lebih baik di Seoul, keluarga yang harmonis, sahabat-sahabat yang menyenangkan, karir yang bagus dan ide untuk mengangkutmu ke London bersamaku adalah gagasan buruk. Jadi aku pergi sendirian.”

“Kau tidak sendirian. Kau bersama mafia bernama Heechul itu.” Sindir Minho sementara benaknya mencoba berdamai diri untuk tidak keras kepala kali ini. Dengarkan saja tunanganmu dan jangan menyela!

 

“Aku benar-benar minta maaf. Aku baru menyadarinya sejak kau meninggalkanku untuk memesan sarapan barusan, bahwa aku bisa kapan saja kehilanganmu atau mungkin kau kehilanganku tanpa ada satupun dari kita berupaya untuk mempertahankan satu sama lain jika aku terus bersandiwara seperti kemaren. Kau harus tahu, rasanya melelahkan berpura-pura untuk tidak mencintaimu, berpura-pura rela melepaskanmu, atau mengalihkan pandangan sementara aku sangat-sangat rindu.”

Minho menatap mata Jinri dan melihat dengan jelas pergulatan emosi di sana. Ia ingin menangis, tersenyum lega, berteriak marah, tapi tak mampu menunjukkan seluruh perasaan itu pada detik yang sama. Minho menggenggam tangan Jinri, perasaan geram karena ia tak mengatakan apapun soal masa lalu dan permasalahan yang ia tanggung sendiri mendadak meluap, tergantikan rasa ingin melindungi, menenangkannya, dan mendekapnya lembut.

“Dan sekarang aku menyerah untuk terus meragukanmu, tenggelam dalam kekalutan absurd yang kuciptakan sendiri, terus merasa terpuruk karena kau terlihat tak acuh dengan hubungan kita, bahkan aku menyerah untuk perasaanmu terhadap Sulli. Detik ini aku sungguh-sungguh tidak peduli jika kau tidak sepenuhnya mencintaiku, aku tidak peduli jika kita akan tinggal satu atap selamanya tanpa status yang jelas. Aku akan menjadi egois dan memikirkan perasaanku saja, aku sangat mencintaimu dan persetan dengan mereka yang ingin membunuh kita. Aku rela mati di sisimu dan eumph…”

Minho menenggelamkan bibirnya di antara belahan bibir Jinri. Ia tidak tahan untuk tidak menyela ketika omong kosong yang keluar dari mulut gadis itu hanya membuat dunianya hancur berkeping-keping. Jinri salah besar! Ia mencintai gadis itu sama besarnya dengan ia mencintai Sulli. Karena setiap kali Minho jatuh cinta ia akan menyerahkan seluruh hatinya. Tapi Jinri tak pernah mengerti, Minho telah mempersiapkan kejutan istimewa baginya sejak lama. Minho memegangi tengkuk gadis itu dan menekannya lebih dalam. Jinri tak bergeming, tak membalas ciumannya.

Perlahan Minho menjauh dan mengernyit memandangi wajah Jinri yang bersemu merah muda seakan itu adalah ciuman pertamanya. Minho tersenyum geli, “Berhenti mengoceh, oke?” Minho mendekat untuk mengecup kening gadis itu, “Dan terima kasih banyak untuk memutuskan menjadi egois. Aku suka Choi Jinri yang angkuh, kuat dan egois seperti ini.”

Jinri beringsut untuk memeluknya, “Aku mencintaimu, Minho.”

“Aku lebih mencintaimu.”

“Ulangi.”

“Aku mencintaimu, Choi Jinri. Sangat.”

.

.

.

Senja tiba lebih awal, semburatnya memenuhi langit kala itu. Minho melangkah keluar dari rumah sakit, sejauh ini yang ia dan Jinri lakukan adalah menyusun rencana dan menerka-nerka bagaimanakah esok hari akan berjalan. Minho tidak membawa senjata apapun untuk melindungi diri di jalanan dengan alasan matanya cukup jeli untuk mengawasi tindakan mencurigakan para pengintai.

Entahlah, Minho justru berpikir sebutan pengintai itu lebih cocok disematkan di belakang namanya. Lantaran semenjak tadi yang Minho lakukan adalah memerhatikan orang-orang dan selalu menaruh kecurigaan atas penampilan mereka.

Seorang kakek ringkih yang duduk di halte bus bersama Husky raksasa peliharaannya nampak mencurigakan. Tampilan pria berkaca mata hitam di dekat kotak surat juga terlihat janggal (mengenakan kaca mata gelap ketika hari beranjak senja?) Atau wanita ber-makeup tebal yang sedang lari sore itu juga bisa jadi tersangkanya. Minho menyadari dirinya mendadak diserang paranoid akut, seluruh pejalan kaki di jalanan itu tampak berbahaya di matanya.

Selang beberapa detik, ia akhirnya memutuskan untuk meluapkan isi pikirannya yang semerawut kepada orang lain. Onew adalah pendengar yang baik meski komentarnya terkadang tak diperlukan.

“Halo, hyung?”

‘Minho, hai!’ Terjadi kegaduhan di seberang panggilan, ‘Nak! jangan berlari di atas tumpukan dokumen-dokumen ayah! Ah, Minho maaf… aku sedang Quality time dengan putraku.

Minho merasa takjub, “Wow. kedengarannya bersemangat sekali.”

‘Yeah… Anak ini terlalu banyak makan gula kurasa. Ada yang ingin kau sampaikan?’

 

“Aku ingin membicarakan sesuatu. Tentang masalah Jinri, eum maksudku masalah yang muncul dari lingkungan pergaulannya.”

‘Cukup serius ya? Bagaimana jika membicarakannya di rumahku sambil minum kopi? Nak! Jangan gunting celana ayah! Kutunggu, oke?’

Panggilan ditutup secara sepihak. Minho menghela napas jika membayangkan suatu hari kelak ia akan menempuh situasi yang sama seperti Onew : Menikah dan punya banyak anak. Bagi Minho balita itu menggemaskan, tapi mereka seperti bom kentut dan mesin cengeng yang menakutkan. Hingga pada suatu titik, kekhawatiran itu melebur dan perlahan menjelma menjadi sebuah keyakinan ketika ia bertemu Jinri. Gadis itu tumbuh dewasa dengan seluruh ketakutan yang menghantuinya, namun ia menjadi kuat dan kokoh karena hal itu. Jinri menginspirasinya dan gadis itu tak pernah tahu soal ini.

Kurang lebih setengah jam lalu Minho meninggalkan ruangan Jinri dan berpesan kepada para suster yang bertugas agar tak membiarkan siapa pun menemui Jinri kecuali seseorang bernama Victoria Song. Dan bagian yang paling Minho benci adalah ketika Jinri mempertanyakan lagi apa Heechul boleh berkunjung. Hal itu membuat Minho berang, namun sengaja tak ia tunjukkan. Minho tak mengerti bagaimana Jinri seolah tak menyadari (atau memang tidak sadar) bahwa Minho terluka mendengar nama pria yang nyaris menyeretnya pergi dari pelukannya itu ia kumandangkan berkali-kali.

Minho menutup wajah dengan kedua tangannya. Pengakuan Jinri hari ini cukup membuat tensinya kacau dan denyutan bertubi-tubi menghajar kepalanya. Ini akan jadi waktu yang sulit baginya. Waktu seperti menghadapai masa-masa bersama Sulli.

“Sulli… Menurutmu apa yang harus aku lakukan?”

.

.

.

-To Be Continued

.

.

.

A/N : Dazdev as Author

Hello fellas…

Aku jahanam sekali ga sih? Membiarkan ff yang satu ini terlantar dan menggantung untuk sekian dekade /hadeh/. Aku minta maaf. Jujur, aku sudah kehilangan feel untuk melanjutkan ff ini karena… kalian pasti tahu jawabannya. Aku memupuk keberanian melanjutkan mirrors lagi dengan cara obrak-abrik video minsul lagi, baca novel yang penuh konflik, dan berusaha memikirkan plot yang bagus.

.

Kalau boleh curhat, aku udah lama berhenti jadi shipper dalam artian aku ga memaksakan pendapat aku bahwa mereka beneran punya hubungan. Aku udah menyerah lama sekali /mulai mau nangis/. Tapi aku pada dasarnya terus membayangkan mereka bersama, membayangkan adegan-adegan romantis dan hal lainnya yang bisa membuat aku senang. Eh, waktu itu aku mulai sadar, justru seharusnya aku tetap nulis FANFICTION. Karena ini FANFICTION, bukan kenyataan. Kita boleh berimajinasi sebebas kita, dan mengenyampingkan fakta yang ada. Benar ga?

WTF lah kalo misalnya kenyataan justru berbanding terbalik dengan apa yang kita harapkan atau seperti ff romantis minsul yang kita baca. Setidaknya kita puas dan senang hanya dengan membayangkan mereka berdua saling mencintai. That’s all.

WTF with the facts, i love fanfictions. :’)

.

Berpikir untuk meninggalkan komentar? Thxs :*

.

Advertisements

38 thoughts on “MIRRORS II [Chap 8]

  1. yess i leave the comment…

    sebenerny itu jg yg terjadi sm aku 1taun lalu?? i dont know… tp krn fanfict… ak cm penikmat, kalian2 inilah authorny… kalian aj masi bs berimajinasi knp ak sbg pembaca ga bs berimajinasi jg… jd kuputuskn ttp sk sm fanfic trutama mrk brdua castny*love it*

    akhirnya stlh bertahun2 ada jg notif mirror 2 chptr 8 uyeaahhh….
    akhirnya jg pas bc itu bs senyum2 krn ga ada lg nyesek2 ky kmrn tp ttp penasaran gmn endingny… jd si mirror cm ksh keputusam aja… dan masi ttp bgung sm cewe yg kluar dr kaca itu…
    onew kerepotan jaga anak itu rasany pas bc ud mw ktawa dluan aja hahahaha *tukan*

    tinggal dkit lg benangny ga kusut lg kyny ya… ahh ga sabar, smg happy ending yaaa jgn sad lagi ksian atuh ih readersny nangis lg #curcol

    semangat nulisnyaaaa…. kayany ak mulai kangen sm si couple romantisny drama series deh stlh kmrn dihibur sm si kembar yg jatuh cinta sm ibu guru jung hihihi

    • Ha kak… /peluk/
      Berat sekali ya kak utk trus dukung couple ini, karena byk sekali terpaannya. :,)
      Trima kasih ya kak udah ninggalin komen panjang nan lebar. Saranghae…

  2. Nah nah ini ni yang di tunggu” setelah sekian lama gak muncul akhirnya muncul juga kekeke
    Ahelah siwon oppa mah emng gtu orangnya sukanya menyudutkan padhal gak wkwk , tenang ming siwon oppa udh kenal sma jinri kok mungkin siwon oppa juga bakalan merestui kalian setelah sulli meninggal 2 tahun lalu dan itu nyiksa batin bngt 😣😣😣 . Oh akhirnya jinri jujur juga tentang heechul itu siapa dan jinri adalah mantan pacar seorang mafia dan itu membuat ming oppa tergelak kaget wkwk , oh ayolah oppa itu hanya masa lalu yang jadi masalah sekrang kau dan jinri itu lagi di incar oleh musuhnya heechul kau harus melindungi jinri , gak mau tau gmna caramu ming oppa . Mungkinkah ming oppa akan menceritakan tentang siapa jindi dan meminta bantuan kepada onew oppa ? Aku penasaran kelanjutannya hehe
    fighting 💪💪😄😄

  3. Beneran lama banget ngguin crtanyaa, dr awal ff ini ud suka bgt surprise bgt dilanjutin ama authornyaa cukup bjak skali alasan buat ngelanjutinya walaaau ud ng shipperin mereka. Tp lucu aj pas bacaa crtanya bnyk kata humirnya walaau lagi genting2nya jga. Situasi lg bgk bguss tp masih aaja ada unsur humor menarik bgt. Apa lagi vic amaa ming bcara ngakak bgt. Semangaat trussauthorbya dazhev buat laanjutin ff nya

  4. udah lama bgt….akhirnya di post jg
    ff yg ditunggu tunggu
    seneng bc part ini,akhirnya jinri mau jujur sama minho
    tinggal menyusun kekuatan mereka berdua,supaya ttp semangat menghadapi mslh mereka
    jgn membuat mereka berpisah lagi

  5. Chap yg puanjang stlh lama gaupdate yaa thor ..
    Tumben bgt lyt ada updatean ff ini ..
    Sampe lupa klo ada ff ini *sorry thor 😀
    Pas bacanya ada lucunya ada tegangnya , kyk nano nano deh ..
    Makasii uda update yaa thor , keep fighting ^^

  6. Ada yang hilang dev dari chap ini sebenernya. Gak tau apa. Cuma, gak seperti tulisan2 kamu sebelumnya. Apa cuma perasaan oeni aja ya?? Hahaha.

    Yeeeees~~ ini semua cuma fiksi. Ayooo dhev…. Jangan karena masalah ini kamu jadi keilangan nyawa tulisan kamu…. Emang oeni cuma bisa ngomong doang sih yaaa~~ yang ngejalaninkan kamu… *sungkem*
    Oeni tunggu chap selanjutnya, gak papa deh sad ending, asal asal nyawa tulisan kamu balik lagi.. 😁
    Fighting devina!!!! 🙌

    • Iya oen. Aku jg ngerasa kok. Mungkin karena aku habis baca novel orang kali ya oen… kelebayan menulis aku jd agak berkurang. Aku kalo nulis agak dramatis biasanya… iya ga sih oen?
      ga bakal sed ending kok oen. Makasih ya oen buat dukungannya selama ini. Saranghae… ❤

  7. Kyaaa Dazdev akhirnyaa buka email ada Mirrors udah update, seneng bgt tau. selama ini aq nunggu banget nih kapan ya Mirrors dilanjutin, sayang bgt udah lama, ceritanya bagus. Sekali update dan panjang ini bkin aq smngat bcanya (sampe curi2 wktu krja buat baca 😀 haha) *curcol…
    Seneng bgt Minsul eh Minho Jinri gak jadi pisahhhh, semoga mereka bisa melewati ini semua yaaa, berharap happy ending y dev, dan ttep aja nih lg tegang msh aja ada sisi humornya jujur aq sempat ngakak tadi :D.
    Pkoknya jangan berhenti nulis ya Dev yah karena mmg MinSull banyak terpaannya #eh. Dan aq gak berhenti berharap menunggu kelanjutan Mirrors ini. Fighting 😉

  8. hehe… seneng juga akhirnya ff ini kembali, gua hampir lupa ceritanya
    tapi fighting buat ff ini. jangan digantungin terus, bagaimanapun juga ff ini bagus banget

  9. Wtf with the haters.. Kalo kita tetap ngebayangin yg manis2 nan romantis terhadap dua sejoli dengan marga sama itu a.k.a Minsul yakin deh kalo itu emang kenyataan. Amin 🙂
    Btw, anw, bw.. Makasih loh buat Dev 😉 ini berasa kayak dapet jackpot aja. Walau udah lama gak update ff ini eh sekalinya update panjangnya wow banget. Heheh awal baca lagi agak lupa sih sebenarnya tapi pas makin ke tengah jadi teng lagi otaknya. Ingat deh 😀 gila yah mereka berdua emang lebih manis dari pisang masak xD moga cepet nikah deh di ff ini biar bisa ngejagain lebih pulllllll lagi 😉 dan moga cpet nikah dikehidupan nyata. Diaminin aja yah sodara-sodara. ^^ buat authornya yg semangat yah semoga bisa dpet lebih banyak inspirasi buat lanjutin dan nambah karya2 yg bisa menuntun imajinasi liar para readers. Fighting!! 😉

  10. tetep semangat buat nulis ff minsul wlwpun di knyataan mereka ga bersatu ..
    sma kayak aku sedih wktu dnger baby sull berpcran sm choiza 😦
    btw ff mirornya lanjut terus y smpe ending .. ditungguu ..

  11. Akhirnya nih ff muncul jg ke permukaan kkkkkk…..
    Kesian minho mulai terserang stress berkepanjangan gegara masa lalu jinri…..eeh betewe kan perumpamaan kata kan menggunakan ‘bom atom’ tapi author pake ‘bom kentut’ astaga konyol sekali xD hahaha

    Aku sih benernya gak shipperin sapa2 malahan thor…..selama sulli dipasangin sama idol boy yg aku biasin sih aku suka n pasti baca hahaha

  12. Udah lama gk update ff ini bru kali ini critanya sangat panjang dan mengesankan sangat bagus critanya bisa membuat emosi terpancing bila membaca ff ini, ku tunggu kelanjutannya saeng semangat

  13. Terimakasih unnie untuk tetap melanjutkan ff ini dan membuat kita terhibur
    jujur aku sudah mulai lupa dengan cerita chapter sebelumnya…
    Unnie jjang! WTF with the fact, for me Minsul always real in my mind

  14. Wahh akhirnya ada lanjutan dari kejelasan hubungan minhoppa ama jinri yang udah carut marut entah kek apa karna kebungkaman sulli yang dia fikir bisa selametin minho walau ngerusak hubungan mereka huh 😓😄. Finally jinri bisa jelasin sejelas jelasnya apa yang dia lakuin sampe hubungan mereka jadi rumit dan gajelas, dan minho jinri kembali bersatu dengan masalah yang akan mereka hadapi bersama ke depannya (the mafia) i think that next chap will be a great part or ’em 😁 hopefull 😇. So would u like to make it true dev? Hahaha

    Keep writing dev, i know u can do it. No matter what happend with minsul’s real life, you hv to keep fighting to make your dreams come true bout minsul on your fiction world 🙆. You can imagine anything bout ’em, as like you’re the personal director with no crue haha. So keep make your dreams come true bout minsul on your own fiction world. Hwithiiiiingggg ✊✊✊✊💪. I’ll be waiting fo your next masterpiece hahaha 😄

  15. Oi oi oi, mirrors balik lagi. Pertama baca judul dan tlisannya chap 8, hehe bingung kok gk afa chap 1. Ternyata chap 1 sdah d baca sekian lamanya jadi lupa.
    Masih bingung jinri kok bisa mirip banget sma sulli….d tnggu chap selnjtnya eon

  16. Wuah wuah wuah…akhirnya ff mirror di psting juga,,,
    Lamaa eeuy…hee
    Minsul…kalian memang cocokny brsama,,, harus bersatuuu…enggak boleh pisah, apapun alasannya
    Yaah,,, saling ktrbukaan trus cerita ttg kbnaranny bsa mmbuat hub kalian smakin mmbaik..setdkny sprti itu 🙂
    Suka deh pkokny kalau kalian sudah akuurrr…

    Buat chingu (author) gomawo sudah updte ff mirror,,, perasaan sprti itu kadang2 sllu dtang dgn adany berita ini itu, tapi nae sllu dkung minsul dn tetap prcya sm minsul
    Always ♥ minsul 😉
    Dtnggu next partny yaa…
    Semmangaatt ^_^
    #minsuljjang♥♥♥

  17. Iya thor, aku sampek lupa ama ni FF gara2 lama bgt,,
    Tpi aku berharap jika sulli dan jinri itu kembar yg terpisah diwaktu bayi,,
    Samoga heechul membalas orang yg udah melukai jinri

  18. depinaaaa miss u so much, peyuk dulu sini peyukk,
    yap, fanfiction cuma imajinasi yg diharapkan jadi nyata kan? siapa yg ngelarang kita berimajinssi? itu hak kita selama ngak mengganggu orang lai. #apaIni
    “Kau barusan membelalak.”
    “God, mataku memang begitu!” njir gw ngakak ama bagian ini, mta so kodok kan emang gede oom siwonnn

  19. Finally ffnya muncul juga. Aku udah nunggu nunggu ini ff dari terakhir aku baca ff mirror II chap 7. Sekitar berbulan bulan yg lalu lah eonn. Sampe kangen sendiri sama ff mirrors dan akhirnya aku baca baca chapter yg sebelumnya. Aku harap ff mirrors II yg selanjutnya ga selama itu lagi ya eonn 😀 sukses terus eonn

  20. akhir”x d post jg klnjtn ff ne,tp jgn sad ending lgi ya saeng ending”x kn kshan minho….!!!
    bingung nh mau komen ap???kereeennn saeng,d tunggu ya kljtan”x..

  21. eonni jangan menyerah menjadi minsul shippers dong, emang mereka sekarang lg bayak” nya masalah tp tetep dukung dong eon mereka.

    akhirnya setelah sekian lama *udah berabad abad kalee* mirrors ll ada kepastian kelanjutannya, ada hikmahnya juga jinri di tikam pakek belati, krn jinri mau ngaku ttg masa lalunya dg heechul dan masalah yg di hadapinya sekarang ini..

  22. Hayo msih inget sma aku ??? Jujur udah agak amnesia ama crita ini krna udah lma kan nggak dipost but okelah kan skrang udah dipost
    gue demo loh eon klw nggak dislesai’in nih ff,nggantunglah udah syang tinggal dkit lagi kok
    Diera-era yg tegang msih bisa aja bang ming nglucu,si vic juga lucu deh,Auh suka suka suka deh
    Couple aneh nih mah,soplakkkkkk yeh mkanya jgn pisah udah cocok bnget sih,kngen bnget ama tulisanmu eonni jdi jgn brhenti nulis cuma gara2 brita yg ini itulah,nggak pnting kita disini untuk brimajinasi jdi trserah kita dong klw yg laen sewot mah byasa aja,dicuekin aja toh nggak rugikan mreka lgian slama ada brita yg jlas dri sulli lngsung msih nggak yakin 100%,jdi tetep smangat buat nglanjutin yow ??? Suka krya2mu eon,kyak ada yg beda aja gitu,stiap aku bca tulisan psti ada prbedaan antara author 1 ama yg laen kyak tlisan eonni bda ama tlisan dina eonni atau yg laen
    Oh yah,msih inget klw punya utang ??? Utangnya bkl nylesein ff yg udah eonni buat,ficletnya juga tinggal banyakkkkkkkk yg blum diupdates oh yah diblog eonni jga aku tungguin loh awas klw nggak dilanjutin aku curi nanti si pipi bakpawmu si umin itu #Wkwkwkwk
    Smangat trus pkoknya deh eon,udah 3thun nih jdi shipper mreka nggak krasa yah,udah lama jga kita sma2 kita hrus brtrima ksih ama mreka brkat mreka kita ada dsini skrang,so trims for Minsul krna udah mnyatukan kita
    #Happy3rdTTBY
    #HappyMinsulliansDay
    #HappyMinsulAddict
    #LoveMinsulAlways
    #LoveMinsullians
    nggak pnting lgi kan komennya tpi nggak papalah,otak lgi gesrek jdi aneh yg ditulis pokoke Minsul wes trserah apa kta orang,kita tunggu aja kedepannya kan future nggak ada yg tau,iya nggak ??? Keep positive thinking aja dukung Minsul terus,Jinri juga msih btuh dkungan kita jdi yg prlu kita lakuin cuma support mreka
    Oh yah ficletnya akau tunggu loh yah,hrus cpet update,kangen tulisanmu eon,slahstu author favoritku loh yah jdi hrus diprtahanin
    #Komentar nggak pnting nggak usah dibaca yah bkin pusing
    Bye Bye See You Again yow
    #LoveYouEonniDevinaSandy
    #Iwillwait
    udah pnjang apa krang pnjang ???? Udah ah capek ngetiknya ngrasanya kyak aku yg jdi author,pnjang bnget nih komen maaf yah klw mnganggu,aku reader yg mnunggu krya2mu
    Oke sekian dan trima kasih
    Smoga hal yg baik datang pda kita smua specially for our bias
    #Amin #GodAlwaysBesideUs

  23. Eonni kemana aja huh? Udah nungguin ini ff berbulan-bulan bhaq -_- dan pas awal baca ini ff yang ceritanya kaya gimana yaaaaa lupa wkwk. Eonni semangat terus untuk menulis karena hanya karena kalian lah para author kami readers dapat percaya kalau Minsul is real. hwaiting 🙂

  24. Akhirnya kelanjutan mirror di update juga setelah nunggu sampe agak lupa jalan ceritanya hihi
    akhirnya jinri mau jujur juga tentang heechul duh kalau berurusan ama mafia mah ngeri -_-
    Pasti selama ini jinri ga tenang tuh hidupnya tenang sekarang kan ada minong hihi
    Siwon oppa jangan sensi sensi dong ama minong kan sulli udah ga ada jangan terpuruk mulu tenang sulli eonni ga akan terganti di hati minong 😍😍

  25. akhirnya dipost juga! ^^
    aduh so sweet banget deh minsul ah,jangan berantem lagi yak apalagi pakai acara mau pisah lagi! :* 😀
    seandainya aja so sweet mereka itu bener2 terjadi dikehidupan nyata tapi……….ya sudah lah :’D
    figthing thor! :*

  26. Hai kak dazdev!!! I miss you!!! 😘😘
    Bertahun-tahun aku bertengger diblog ini, akhirnya kak devina comeback juga 😍 hahaha

    Woah… aku gak bisa berhenti kagum dengan bahasa yang kak devina pakai. Novel macam apa sih yang jadi bahan referensi kak devina? Boleh dong saran novel roman yang sama gregetnya dengan ff mirror ini? Hahaha

    Eum, yeah, pasti satu-dua atau bahkan sebagian dari minsulers, memilih untuk menyerah dan hanya mengharapkan yang terbaik untuk Sulli dan Minho. But, it’s ok. Kita bebas memilih, kan? Dan pastinya pilihan itu yang terbaik untuk kita.
    Memang berat kalo kita nge-couplein artis kayak gitu. Entah kenyataannya seperti apa. Tapi, peduli setan lah! Kak devina tetap nulis ff dan aku tetap jadi minsulers. Kita tetap jadi teman. Yuhuu *omong apa lagi?-_- ok, abaikan yang bagian ini.

    Masa bodo dengan komenan aku ini. Yang penting ffnya terus dilanjut!! Fighting!

  27. Ff’a lama bgt…
    Pdahal udah nunggu klanjutanya…

    Akhirnya minppa dan jineon sdah bersatu yeah…
    Bnyakin momen minsul’a eon… Keke

  28. akhirnya dilanjutin lagi meskipun gue agak lupa ama jalan ceritanya wkwk
    akhirnya jinri terbuka juga
    gaada lagi yang tersakiti
    yessss gaada sedih sedihan lagi wkwk
    ciye yang mau nyusun masa depan bersama kkk~
    semoga gaada parasit yang mengganggu kalian lagi^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s