MIRRORS II [Chap 9]

mirrors2

Title : MIRROS II [Chap 9]
cast : CHOI JIN RI  |  CHOI MINHO  (SHINee)  |  KIM HEECHUL (SuJu) | others
author : Dazdev
 length : Chaptered
rating : PG-15
Genre : supranatural, romance, crime
thanks for KEYUNGE for great poster<3
.
.
.

Before Chap  [chap 8 : “A Confession”]:

Minho menutup wajah dengan kedua tangannya. Pengakuan Jinri hari ini cukup membuat tensinya kacau dan denyutan bertubi-tubi menghajar kepalanya. Ini akan jadi waktu yang sulit baginya. Waktu seperti menghadapai masa-masa bersama Sulli.

“Sulli… Menurutmu apa yang harus aku lakukan?”

.

.

Chap 9 : Who is the greatest lover?

.

Minho tidak yakin jika kehadirannya di istana kecil Onew akan membuat kondisi jadi jauh lebih baik atau setidaknya ia dapat mendengarkan pendapat Onew soal permasalahannya. Tapi Minho rasa tidak, mengingat balita itu—hasil reproduksi Onew dan istrinya tercinta, baru saja melompat dari sofa lainnya, mendarat di pundak Onew dan berakhir dengan aksi jambak rambut yang menyeramkan.

Minho tak bermaksud membayangkan dirinya berperan menjadi seorang ayah yang manis, namun jika suatu hari ia dipaksa punya seorang anak, ia lebih menginginkan anak perempuan yang bermain barbie dan menguncir rambut kebanding menjambaknya.

“Beruntungnya kau diberkahi kesabaran yang luar biasa, hyung. Karena jika aku jadi kau, aku sudah menyuntikkan obat bius di bokong anak ini sejak tadi.”

Onew mendelik ngeri, “Bagaimana pun, balita ini darah dagingku. Jika bukan, sudah kulakukan apa yang kau sarankan. Hei! Jongki-nie, hentikan sayang. Aw!” Onew meraih tubuh anak itu dan mendekapnya kuat-kuat, mengunci pergerakan lengan dan kakinya yang super agresif, “Jadi, ceritakan saja apa yang terjadi. Aku akan seberusaha mungkin membantu.”

Minho mendesah panjang, kebingungan harus memulai dari mana. Ia menggali paksa ingatannya lalu mencari tahu awal mula dari segala konflik yang mengacau-balaukan hidupnya akhir-akhir ini. Minho ingat, semua itu bermula dari kejadian ketika ia menemukan pesan singkat dari pria bernama Heechul di ponsel Jinri berkaitan dengan tiket ke London dan pembatalan keberangkatan. Minho kira kekasihnya itu bermain-main dengan pria lain, tapi di balik itu semua ternyata Jinri ingin melindunginya dari teror para mafia.

Minho bicara tanpa henti dan Entah seindah apa intonasi yang keluar dari mulutnya sampai-sampai putra Onew terlelap di pangkuan ayahnya. Minho takjub untuk sepersekian detik dan tetap mengungkapkan permasalahannya dari rencana kepergian Jinri hingga ancaman pembasmian oleh para mafia.

Mungkin Onew kelewat tertarik pada perkara-perkara Minho, karena ia tercengang seolah rahangnya akan terlepas dari sendi-sendinya. Sebelum Minho selesai dengan kegiatan membeberkan permasalahannya, Onew sudah terlebih dulu melesat menuju pintu depan dan mengawasi perkarangan rumahnya. “Tidak ada yang mengikutimu ke rumahku ‘kan?”

Minho menyentakkan tubuhnya, “Tidak. Kurasa.”

“Kau rasa katamu?” Onew mengernyit, “Mereka baru saja mencoba untuk menyingkirkan kau dan Jinri semalam, Minho!”

Minho mengerti bagaimana Onew merasa cemas, tapi Minho tidak sedang ingin jadi tamu undangan yang minum kopi dan menyaksikan tuan rumah mondar-mandir karena khawatir. “Kau lupa ya, aku ini jago berkelahi, aku bisa jaga diri.”

“Aku tidak mengkhawatirkan dirimu. Aku mengkhawatrikan diriku sendiri. Keluargaku juga.”

Minho menyadari bahwa Onew benar-benar memperhatikan dengan baik perkara yang ia ceritakan. Karena Onew mulai berpikir : Jika para mafia bisa saja memusnahkan Minho yang tak punya hubungan apapun dengan permasalahan mereka, mengapa tidak dengan Onew? Mereka terkesan seperti gas racun serangga yang membunuh segerombolan nyamuk dalam sekali serang. Namun diam-diam Minho menyimpan kecurigaan pada keputusan para mafia barbar itu untuk membantai semua orang yang bahkan tidak tahu-menahu seperti dirinya dan Jinri. Bukankah itu kelewat kejam?

“Tapi, Minho… Tidak kah kau berpikir bahwa tragedi ini terdengar berlebihan?”

“Berlebihan? Maksudmu?”

Onew membanting punggung ke sofa lainnya, butuh beberapa detik baginya untuk menyusun gagasan yang terlintas, merangkainya menjadi kata-kata. “Bukan manusia namanya. Maksudku, mereka tidak beradab sekali!”

“Aku baru saja memikirkan hal yang sama, hyung. Bukankah kejam betul namanya jika mereka harus menghabisi seluruh orang yang sedikit saja kaitannya dengan musuh mereka? Jinri hanya mantan kekasih dari musuh mereka dan aku hanya tunangannya. Ini tidak adil!”

“Bukannya tidak adil, Minho. Tapi tidak masuk akal.”

Jidat Minho mengerut tipis—seakan meminta penjelasan lebih detail. ia malas untuk mengucapkan kata ‘maksudmu’ berulang kali.

“Dengar, Minho. Membunuh itu tidak segampang yang kita lihat di film-film. Oke, mereka memang mafia dan mungkin saja bekerja sama dengan pihak kepolisian, kita tidak tahu.” Onew berhenti untuk mengatur napas, ia terlalu bersemangat, “Karena membunuh pada dasarnya bukan pekerjaan utama mereka. Mafia-mafia itu mungkin saja membisniskan narkoba, ganja, dan kejahatan terorganisir lainnya. Sementara membunuh adalah sikap yang harus mereka ambil ketika langkah mereka terhalang. Jadi, sulit bagiku untuk membayangkan mereka membantai banyak orang hanya karena pemerkosaan yang terjadi pada anggota keluarga mereka.”

Itu benar, tapi tidak menutup kemungkinan juga pemikiran itu salah besar. Karena mereka adalah komplotan mafia terkejam yang pernah ada (menurut pengakuan Jinri). Tapi jika Minho menimbang-nimbang presepsi Onew, itu jelas masuk akal. Heechul bukan pemerkosanya tetapi teman mafia-berengsek-hidung-belang lainnya yang melakukan hal itu. Jika ada 30 mafia yang berkomplotan dengan si mafia-berengsek-hidung-belang, ada berapa banyak korban tak bersalah yang harus celaka? Bisa jadi mereka akan memusnahkan ¼ penduduk Korea Selatan. Ini bukan terdengar tidak adil, tapi tidak masuk akal.

“Apa menurutmu Jinri tidak membual? Karena aku berpikir semua ini terdengar seperti omong kosong.”

Minho memutar bola mata, “Jinri bukan tipe gadis yang membual sambil menangis sesegukan. Aku percaya pada ceritanya tapi tidak percaya dengan apa yang sedang berlangsung dalam ceritanya. Terlalu membelit, seperti para mafia itu sedang kekurangan kerjaan dan membunuh orang-orang adalah kegiatan baru untuk mengisi waktu luang.”

“Tepat!” Onew menyahut sembari mendekap putranya yang tertidur kemudian membopongnya ke kamar anak itu, sementara Minho mengekor di belakang, “Jelas ada yang salah. Sesuatu yang sangat janggal dalam tragedi ini.”

“Ya. Sesuatu yang salah. Entah apa itu, tapi jelas ada yang salah.”

Ketika Onew berhasil meletakkan putranya ke tempat tidur, ia kembali menyahut “Atau ini adalah sebuah penyerangan masal terhadap penduduk Korsel yang direncanakan sejak lama? Berawal dari sebuah pertikaian antar anggota mafia kemudian berkembang menjadi pertikaian dunia. Oh, Astaga! Itu bisa saja terjadi ‘kan?”

“Yang benar saja, hyung.” Minho terkekeh, ia benci jika harus memikirkan permasalahan baru lagi (Pertikaian dunia? Onew pasti bercanda). “Tapi aku suka caramu mengada-ada, terdengar mengesankan dan bodoh di saat yang bersamaan.

Onew tersipu untuk sebuah perkataan yang tidak jelas merupakan sebuah pujian atau hinaan. “Well, Kita harus melakukan sesuatu untuk mencari tahu. Bagaimana dengan menyewa detektif? Bukannya kita ini tidak cukup pintar… hanya saja kita sedang berurusan dengan gangster yang bahkan bisa salah tikam. Terlalu bahaya untuk keluarga kita.”

Minho tidak tahu harus tertawa atau mengangguk antusias, ia sependapat untuk keseluruhan kalimat tadi. “Punya kenalan detektif swasta yang menyelidiki kasus pembunuhan?”

“Tidak. Tapi Jonghyun kita yang bersinar punya banyak kenalan. Kami akan mencarikannya untukmu.”

Minho diam-diam merasa terlalu beruntung memiliki sahabat seperti Onew. Mungkin Taemin dan Kibum adalah pihak yang paling dikecewakan karena tahu belakangan soal tragedi ini. Hanya saja Minho tak ingin melibatkan banyak kepala untuk dibuat lebih pusing lagi dengan persoalannya. Minho pikir, hari ini  dengan mengusik hidup Onew beserta putranya yang imut saja, sudah lebih dari cukup.

.

.

.

Kegelapan sudah beranjak satu tingkat lebih pekat ketika Minho tiba di rumah sakit. Ia bahkan menyusuri lorong dengan perasaan yang sama seperti sebelumnya, waswas dan menaruh curiga pada siapa pun yang ia lewati hingga dirinya sampai di kamar Jinri dan melupakan hampir seluruh dari permasalahannya.

Jinri terlihat antusias mendengarkan seseorang yang berceloteh di hadapannnya. Itu Vic beserta kekasihnya, Changmin. Minho takjub akan komitmen Vic untuk menepati janji mampir di tengah kesibukannya mempersiapkan pernikahan yang diselenggarakan Minggu besok.

“Sudah sejauh mana aku ketinggalan gosip?” Sela Minho dan mereka bertiga hanya melempar senyum sebagai jawabannya.

“Kami sudah sampai pada ramalan cuaca besok. Outdoor wedding.” Jawab Jinri seraya mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari Minho. Ia khawatir sekaligus rindu meski pria itu hanya pergi sebentar. “Kau baik-baik saja ‘kan?”

“Jauh lebih baik saat melihatmu tersenyum.”

“Ehem!” Vic berdehem keras seolah ia tidak sengaja menelan buah kenari. “Apa kami berdua terlihat seperti pengganggu? Jika iya, kami akan pergi.”

Changmin mengangguk membenarkan kemudian melirik jam di pergelangan tangannya, “Kami ingin sekali berlama-lama di sini, tapi keadaan tidak memungkinkan.”

“Tentu, aku mengerti.” Minho menghampiri keduanya dan memberikan pelukan singkat namun kehangatan terselip jelas di sana, “Terima kasih sudah mampir. Aku mendoakan segala hal yang terbaik untuk pernikahan kalian. Aku akan berusaha datang saat upacara atau perayaan.”

“Jangan memaksakan diri, oke?” Victoria menepuk-nepuk pundaknya lembut, “Doakan saja besok tidak hujan dan tidak terlalu terik, anak-anak tidak berlarian dan memekik, ibu-ibu tidak mengutil kue-kue saat pesta, dan…” Changmin menyikut lengannya, “Eum… Yeah, hanya itu.”

Hanya itu katanya? “Baiklah, semua yang terbaik untuk pernikahan kalian.”

Ketika calon pasangan pengantin itu keluar melangkahi pintu, Minho menyaksikan senyum aneh di wajah Jinri. Bibirnya tersenyum, tapi tidak dengan matanya. Minho tidak akan bertanya, karena Minho benar-benar mengenal Jinri. Gadis itu akan bicara dengan sendirinya.

“Mereka akan menikah besok.” Ucap Jinri lirih dan Minho sudah bisa menebaknya. “Aku ingin sekali percaya hubunganku dengan Vic akan baik-baik saja setelah ia berkeluarga. Tapi semuanya pasti berubah. Aku benar ‘kan?”

Minho mengusap lembut punggung tangan Jinri, memandangi wajahnya yang tempo hari sempat kehilangan rona, “Bagaimana pun, kau adalah rekan berbelanja terbaiknya. Kalian tidak akan terpisahkan oleh apapun bahkan oleh beberapa butir bayi.”

Jinri tergelak, siapa guru bahasa Korea tunangannya itu ketika sekolah dulu?

Minho melirik satu set alat makan kotor di atas meja nakas, “Makan malamnya lezat ya?”

“Yeah, aku tak menyisakan satu pun remah di piringku. Kau sudah makan?”

“Entahlah. Aku lupa.”

Jinri membelalak, “Bagaimana kau bisa lupa?”

“Karena setiap kali aku berada di sisimu, aku melupakan segala hal.”

Damnit! Jinri membatin demikian, tapi harga diri seorang Jinri lebih besar daripada samudra pasifik, maka ia berdalih  “Jangan membuat aku mengeluarkan makanan yang barusan masuk ke perutku, Minho.”

Minho tertawa saja, ia sudah hafal Jinri seperti ia hafal urutan alfabet. Sesungguhnya, seorang Choi Jinri suka digoda.

Minho mengalihkan pandangan ke luar jendela lalu pemikiran itu melintas begitu saja di kepalanya. Cahaya bulan tengah berpendar seolah merayu Minho meloncati jendela dan menikmati keindahannya di bawah naungan angkasa. Pemandangan langit yang bagus disertai udara hangat dan sedikit kering sungguh-sungguh waktu yang tepat untuk menggoda Jinri secara ekstrim. “Mau jalan-jalan di luar? Bokongmu bisa rata jika kau hanya duduk sepanjang hari.”

Yang benar saja Choi Minho!

Jinri tak akan membiarkan orang ini mendapatkan apa yang ia mau dengan semudah itu, “Tapi pinggulku sakit sekali. Kau tega menyaksikan aku menderita kesakitan? Mengapa kau begitu kejam?”

Minho mengernyit, “Aku tidak sedang memintamu berlari dan melompat seperti Lara Croft. Kau hanya akan duduk di kursi roda.”

“Maka, bokongku akan jadi rata.”

“Jangan khawatir. Meskipun bokongmu rata, kau masih punya bibir yang menggoda untuk kucium.”, Minho menggerling lalu meninggalkan Jinri yang tercekat dan mengumpat berkali-kali di dalam hatinya, Damnit! Damnit! Damnit!

.

.

.

Jinri tidak punya cukup tenaga untuk berlama-lama berdiri, maka Minho menegendalikan kursi roda baginya. Setidaknya Minho sudah fasih menggunakan kereta dorong di supermarket dan beranggapan kursi roda sama saja, perbedaannya hanya pada apa yang mereka angkut. Kursi roda mengangkut manusia dan kereta belanja mengangkut sejumlah kudapan untuk menonton bola.

“Aku tidak tahu jika banyak orang yang menghabiskan malam Sabtu mereka dengan berkencan di halaman rumah sakit.” Cetus Jinri dan Minho mulai menyadari taman rumah sakit terlihat berbeda, ada banyak pasangan yang memenuhi kursi-kursi panjang.

Namun sepasang mata Minho lumayan tajam untuk menemukan kursi kosong lainnya di sudut taman. Ia bergegas menghampiri kursi itu dan melupakan satu hal : ia membawa Jinri beserta kursi rodanya. Mereka melesat seperti anak panah milik Legolas, hingga Jinri merasakan jantungnya nyaris meloncat juga lupa bagaimana caranya memekik, “Tuhanku! Kau sedang bermain-main dengan nyawaku ya?!”

Minho tergelak, “Maaf. Itu tadi refleks. Hal baiknya adalah kita tidak kehilangan kursi ini.”

Jinri mendengus ketika Minho beranggapan kursi kayu itu ternyata lebih berharga kebanding nyawa kekasihnya. Lagipula apa bedanya duduk di kursi roda dan duduk di sana? Kursi roda milik Jinri lebih empuk dan Jinri tak perlu khawatir dengan bokongnya yang bisa saja menjadi rata sewaktu-waktu.

“Oh, ayolah.” Minho dengan perlahan membantu Jinri beralih dari kursi rodanya kemudian duduk di kursi kayu, “Dengan begini, aku bisa duduk di sisimu.” Goda Minho sembari menyelipkan jemarinya ke sela-sela jemari Jinri.

Jinri mengerutkan kening, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin Minho bicara omong kosong seperti itu terus-menerus tanpa jeda seumur hidupnya, “Sihir apa yang kau dapat selama berjalan-jalan tadi? Karena kau bersikap seperti—“

“Seperti awal bertemu?” sela Minho.

Jinri terpaku. Bukan karena jawaban Minho telah menggetarkan hatinya atau pada genggaman tangannya yang kian erat, tetapi lebih karena Minho sedang memandanginya dengan cara yang sempat ia lupakan. Mungkin dua tahun lalu? Ketika Minho menatapnya dalam-dalam. Saat itu pertama kalinya mereka pergi keluar untuk menghitung bintang.

Jinri tersentuh, “Yeah… Dan parahnya kau sedang memandangiku seperti itu, seperti kau baru saja menemukan pemandangan alam terbaik di korea Selatan.” Tepatnya ketika kau pertama kali menyadari kau jatuh hati padaku yang tingkat kemiripannya bukan main dengan mendiang kekasihmu, ”Apa yang membuatmu berbeda hari ini?” Apa itu kenangan tentang Sulli?

“Aku bicara pada Onew hyung hari ini. Kami membahas bagaimana pembunuh ini punya alasan yang sepele dan alasan itu adalah ketidakmungkinan bagiku. Sangat mustahil.” Minho menghela napas sejenak, beralih memandangi langit beserta akesesoris malamnya yang berbinar, “Ketika dalam perjalanan pulang, pikiranku justru terbuka dan aku mulai menyadari bahwa kehidupan kita memang seperti itu. Ada jutaan ketidakmungkinan yang terjadi, dan satu di antaranya ingin memisahkan apa yang sudah bersatu. Memisahkan kita. Jujur saja, aku ketakutan. Aku takut kehilanganmu.”

Kau tidak perlu takut. Kau pernah mengalami ketidakmungkinan sebelumnya. Bagaimana ketidakmungkinan tiba-tiba merundung kau dan Sulli, memisahkan kalian berdua. Dan kau ternyata sanggup menghadapinya, kau baik-baik saja, kau menemukan seseorang yang mirip dia.

“Dan kenyataannya, aku lebih ketakutan dibandingkan dirimu. Aku tidak punya siapa-siapa selain kau. Well, mungkin sewaktu kau pergi aku akan mendapatkan penggantimu, tapi apakah orang itu akan menerima kekuranganku seperti kau? Apa dia humoris? Apa dia pemarah tapi juga pemaaf sekaligus? Nyatanya Ketidakmungkinan ini lebih menyiksaku daripada kau, Minho.”

Minho terkejut, Jinri tahu ketika pria itu menyentakkan kepala ke arahnya. Ia tidak marah, karena matanya tidak berkata demikian. Ia tersinggung atau tepatnya merasa disudutkan, seolah cintanya tak sebesar milik Jinri. Tapi Jinri mengatakan yang sebenarnya, bahwa Jinri lebih membutuhkan pria itu kebanding Minho membutuhkannya.

“Begini, tolong dengarkan baik-baik.” Minho memejamkan mata sejenak, berusaha merangkai kalimat kusut yang beredar di bilik-bilik otaknya, “Aku mencintaimu sama seperti kau mencintaiku. Bagaimana aku harus membuktikannya? Dua tahun, Jinri! Bagaimana aku bisa bertahan selama dua tahun di sisimu jika bukan karena cinta?”

“Bibiku menikah selama 36 tahun dan ia bilang, mereka mengarungi bahtera rumah tangga tanpa cinta.”

Benar-benar omong kosong, batin Minho. Tapi tidak seomong kosong itu juga, karena hal demikian sungguh ada. Sepasang paruh baya yang bertahun-tahun menikah tanpa didasari cinta melainkan harta dan kekuasaan. Minho tidak perlu menyebut namanya, ada jutaan pasangan yang seperti itu di luar sana.

Tapi Minho bukan bagian dari mereka. Ia bukan berada di sisi Jinri karena gadis itu pewaris utama dari saham perusaahaan kosmetik milik ibunya, bukan karena Minho butuh dukungan dana dan kekuasaan untuk menjaga stabilitas jangkauan kekuasaannya (hell, Minho bahkan tidak mengerti politik!), ia tidak mencintai Jinri karena sebab-sebab tertentu. Tidak kah Jinri mengerti bahwa dirinya hanya jatuh cinta begitu saja. Apa yang salah dengan mencintai kekasihmu tanpa alasan?

“Aku mencintaimu tanpa alasan.”

Jinri tidak akan percaya semudah itu. “Kau mungkin melupakan sesuatu.” Satu-satunya alasan kau membiarkan aku masuk ke dalam hidupmu adalah, aku mirip gadis itu. Sulli.

“Sudah kukatakan sebelumnya bahwa ketika aku berada di sisimu, aku melupakan segalanya. Termasuk alasan mengapa aku jatuh hati padamu.” Sulit berdebat dengan Minho ketika suasana hati orang ini benar-benar baik. Seolah seorang nahkoda tengah mengendalikan dengan mahir emosinya yang dulu kerap diombang-ambingkan gelombang. “Bisakah kita tidak berdebat? Karena aku mengajakmu kesini untuk berciuman.”

W-what?

“Aku bercanda.” Minho tersenyum pada Jinri seperti bocah lima tahun tersenyum kepada guru sekolah dasarnya. “Aku mencintaimu, oke? Jangan membantah.”

Apa yang bisa Jinri perbuat? Ia bahkan terlalu lemah untuk kembali ke kursi rodanya dan kabur meninggalkan orang ini sendirian di taman. Sekarang ia paham mengapa Minho memintanya untuk duduk di kursi taman kebanding duduk di kursi roda. Licik sekali.

“Dingin.” Erang Minho kemudian meringkuk di sisi Jinri.

Jinri memutar bola mata, “Maaf, tapi udara malam ini kering dan hangat. Cari alasan yang masuk akal jika mau menggoda.”

“Aku kedinginan karena teralalu ngeri membayangkan hidupku tanpa dirimu. Kau tidak ingin memelukku?”

Jinri menengadahkan kepala ke sandaran kursi sembari mengembuskan napas keras-keras melalui mulut. Minho tentunya menelan sesuatu yang salah ketika berkunjung ke rumah Onew. Cara bicaranya agak kacau, seperti bocah yang butuh kasih sayang berlebih. Mungkin ia tertular virus anonim yang mengubahnya menjadi manja dan suka merengek. “Kita harus ke dalam dan meminta obat untukmu.”

“Aku tidak sedang bergurau. Kau tidak mengerti betapa mengerikannya saat membayangkan kau pergi! Kemarin itu rasanya aku seperti menghadapi kiamat.”

Minho pernah menghadapi ini sebelumnya, menunggu di lorong rumah sakit, merasa cemas setengah mati, melantunkan doa sepanjang waktu, dan merasa hampir gila (mungkin kiamat kurang lebih begini). Kemudian sekarang, berada di rumah sakit semakin terasa menyesakkan—selalu membawa kenangan buruk kembali melintas di ingatannya tentang seseorang di masa lalu. Jinri mestinya memahami betapa tidak menyenangkannya bagi Minho untuk menghadapi situasi menakutkan ini berulang kali. “Aku benci rumah sakit.” Ucap Minho lirih.

“Aku juga.”

Minho mendongak, “Mengapa?”

“Aku tidak ingat sejak umur berapa rumah sakit terasa seperti rumah sendiri. Aku tidur di salah satu kamarnya yang gelap dan memimpikan ibuku. Dalam mimpi itu ia geram dan ingin memukulku. Ia bilang Jinri kecil terlalu lemah bahkan untuk sekedar hidup dan bernapas. Aku hanya bermimpi seperti itu ketika tidur di rumah sakit.”

“Karena asma akutmu?”

Jinri membenarkan, “Yeah… dan kemarin aku memimpikannya lagi.”

Minho membenarkan posisi meringkuknya lalu duduk tegak dan mendengarkan secara seksama, “Aku memimpikan ibuku berdiri di sudut ruangan, memperhatikanku dan sebuah belati ia genggam erat di tangannya. Aku tidak takut, aku hanya menunggu ia berlari dan menikamku berkali-kali seperti mimpiku semasa kecil. Tapi itu tidak terjadi, ia hanya berdiri untuk waktu yang lama kemudian kau muncul dari balik pintu…”

Minho merasakan napasnya tercekat, udara terlalu menyesakkan untuk ia hirup.

“Tebak, betapa takutnya aku ketika melihat ibuku menghampirimu. Aku berusaha keras menghalaunya dan hebatnya, aku berhasil.”

Lega. Minho berhasil melepaskan Karbon yang terjebak di saluran penapasannya untuk sepersekian detik.

“Di sisi lain, ia juga berhasil menikamku.” Jinri mengulas sebuah senyum di bibir, merasa hebat dan bangga, “Aku tidak takut mengenai diriku sendiri, aku takut hanya jika itu mengenai dirimu. Itu cukup menjelaskan bagaimana aku rela pergi ke London untuk menjagamu, tapi ternyata aku gagal.”

Minho tak berniat untuk bergeming. Ia tahu Jinri tidak butuh komentar apa pun. Tapi dalam situasi seperti ini, Jinri tak pernah menolak sebuah pelukan menenangkan darinya. Ia merangkul Jinri ke dalam dekapannya. Jinri mungkin menangis, atau tersenyum, atau meringis dan Minho tidak punya mata yang terpasang di dadanya untuk menyaksikan apakah Jinri menangis atau sebaliknya.

Minho membiarkan Jinri memeluknya sambil memainkan ujung kemeja kelabu yang dikenakannya entah untuk tujuan apa (Jinri diperbolehkan melakukan apapun untuk tujuan apapun). Ia mengusap lembut rambut sebahu Jinri—memainkan helai demi helainya di antara jemarinya, rambut itu masih tercium harum meski Minho yakin betul, Jinri tidak mencuci rambutnya pagi ini. Ia mengecup puncak kepala Jinri, “Cinta milik siapa yang lebih besar?”

“Kau memintaku untuk tidak berdebat soal itu beberapa menit lalu.”

“Tapi aku tahu jawabannya.”

“…”

“Kau, Jinri. Itu kau. Aku tidak sedang berpura-pura. Aku hanya baru menyadarinya. Kau lebih mencintaiku.”

Jinri berhenti memainkan ujung kemeja Minho.

“Terima kasih sudah melindungiku dari belati-belati itu, terima kasih sudah merasa takut mengenai diriku, dan terima kasih sudah mencintaiku. Kau yang terbaik yang pernah ada, yang paling mengagumkan untuk dicintai. Terima kasih.”

Beberapa detik lalu Minho tak pernah tahu, Apakah jinri menangis, tersenyum, atau justru merengut di dalam dekapannya, hingga kata itu tersampaikan dan kehangatan perlahan menjalar di dadanya.

Jinri sedang menangis, air matanya tumpah di permukaan baju yang Minho kenakan.

Minho berani bertaruh, selain menangis gadis itu juga tersenyum dan berusaha sekuat tenaga agar tangisannya tidak pecah dan berujung pada asma yang kambuh (itu tidak romantis!). Jinri harus terlihat kuat dan tegar karena Jinri adalah yang terbaik yang pernah ada, yang paling mengagumkan untuk dicintai.

.

.

.

Siwon memperhatikan keduanya dari kejauhan, menahan diri agar tidak melangkah membawa dirinya dan merusuh momen berharga milik orang lain. ia masih punya esok hari dan memberi tahu mereka tentang informasi dari secarik kertas dalam genggamannya.

Penting, tapi tidak sampai pada tindakan untuk mengusik insan yang tengah menghabiskan waktu di bawah langit sembari bertukar pelukan.

Ia berbalik, melangkah menuju parkiran kendaraannya seraya berkata pada diri sendiri, “Tidak perlu terburu-buru. Mereka tidak mesti mengetahui hal mengejutkan ini sekarang.”

.

.

.

TBC

A/N (Dazdev) :

Hellow fellas… maap untuk keterlambatan updatenya^^. tapi ini lumayan cepat kan ya, ga kek apedatan kemaren2 yang berlangsung sampai berabad-abad lamanya. huhu. aku nulis chap ini dalam keadaan hidung meler-meler dan demi Zeus! bulan ini aku disibukkan dengan kursus2 yang memakan waktu luang untuk menulis. jadi bisa dibilang, chapter ini, chapter instan dan belum kubaca ulang sama sekali. jadinya maap kalau kalian menemukan kata yang bikin asdfghjk, untuk sementara tolong abaikan saja ya~~.

aku minta maap juga untuk commenters (la, jadi acaranya danang-darto dah) yang ga sempat aku balas commentnya, apps wordpress di android aku itu entah kenapa sepertinya menyimpan kedengkian padaku, kadang notif ga masuk dan kadang aku ga bisa balas komen -,-. sekali lagi maap ya, komen kalian tetap terpindai oleh sepasang mata dazdev yang tidak indah ini kok /blinking-eyes/

so, sekian notes dari sayanya. mind to review? it’s like an oxygen /nyanyi/ :* bye~~

Advertisements

29 thoughts on “MIRRORS II [Chap 9]

  1. Hahaha apa banget dah kocak bener yang minta solusi ama yang ngasih solusi #lirikminhoppaandonew 22nya error hahaha tapi semoga onew oppa cepet dapet detektifnya biar cepet kelar masalahnya dan minsul cepet bersatu tanpa ada halangan lagi 😍🙏
    Minsul dsini karakternya pada unik ya pada keras kepala 22nya tapi ttp so sweet dan bikin aaaaaaahhh 😍😍 next chap lbh dibanyakin minsul momennya ya dev hihi
    Wait a minute, itu maksud siwon oppa apah? Kabar apa maksudnya? Aih ada apalagi ini 😓😓
    Btw ffmu bagus ko def inspiratif bgt buatku hehe keep fighting✊✊

  2. Aduh bang onew bisa serius, mengesankan dan bodoh di saat yg bersama an…. Bnr2 hrs d selidiki tuh cpa tau itu xuma akal2n y heccul oppa aja…

    Penasaran sbr y apa sich yg mesti minsul tau… Kertas Ttg apa lg yg d bawa Siwon???

    D tunggu kelanjutannya

  3. yg minta solusi n kasih solusi sma2 koplak. haddeehh…. maki romantis aja ming..
    jinri cpt smbh ya
    sbnrya yg mw d sampein siwon itu apa y

  4. Permasalahan yg dihadapi oleh jinri memang rumit tp dgn kekuatannya yg dimiliki jinri utk melindungi minho dr serangan mafia manapun jinri siap berkorban demi minho orang yg dicintainya. Lanjut trus chingu ffnya critanya semakin asyik

  5. akhirny minho sadar jg klo jinri emang lbh cinta sama dia dibanding minho sndiri.. secara dari awal aj minho masi nganggep jinri itu sulli…

    dan yahh endingny itu siwon bawa2 kertas apaaaa???!!!
    smg kabar baik… si mirror blm muncul lg ya? mnding ga usa ktemu lg sm si mirror itu .. horrorrrr.. hahahhaa

    updateny lebih cepet koq… smg chapter brikutny jg sama cptny…
    have a nice day and thnks for update 😉

  6. Hahahaa…nae suka banget sama setiap kata2 di ff ini,,,
    Kocak, serius, romance, lucu…campur deh
    Udh ketawa sndri, senyum2, duem bhkan sampai manyun juga.. *lhakokykorggila,,, wkwkkk

    Mino pilih org yg tepat buat tmpat curhat…
    Sangat2 tdk mmbrikan solusii apapun ttg masalahny,,,
    Yg ada malah respon yg aneh2,,, hahhaa
    Tapi stidakny mino sudah bisa mlepaskn bebanny dgn brcerita sm orang gaje *ooppsss,,,mianhae onewoppa 😛
    Adoohh…minsul couple,, sprtiny susah sekali mau buat moment romantis -_-”
    Sukany saling debat dn gk brhenti2,,,
    #hadeeehhh
    Cinta kalian sama besarnya ko,,, makany kalian itu harus selalu bersam gk boleh ada yg misahin
    #kecuali …..

    Apa yg dbwa sm siwon oppa ??
    Kabar pnting dr secarik kertas ??
    Apakah itu ?????
    Omo omo omo….
    #kepo, penasaran melanda…hahaha

    Next chapter chingu,,, always menungguuu ^_^
    Fightiiiing nee 😉
    #minsuljjang♥♥♥

  7. Onew itu pikirannya ternyata luas juga. Emang cocok banget ama Minho mereka berdua suka berkhayal >_<
    What do you say, Ming? 'beberapa butir bayi' ? Oh ya ampun Ming gak lulus tata bahasa nih wkwkwk dasar oneng 😀
    Aduh partnya Minsul bikin baper deh. Please jangan sad ending kayak Mirrors I deh.. Gak bakalan romantis kata Ming 🙂
    Aduh itu kabar gembira atau kabar buruk yah yg bakalan disampein Siwon. Please abang Siwon, yg gembira aja yah asal jangan kulit manggis ada ekstraknya 😉 ok sekian cuap-cuapnya.. Buat Dev, semangat yah.. Readers bakalan nunggu lanjutannya. Iya kan? #pokeReaders.. 😉

  8. wahh,solusi onew oppa kocak bnget:D,semoga ketemu detektifnya newppa..semoga jga minsul bebas dri masalah sehingga tdk ad yg bisa ganggu hubungan mereka..ceritanya inspiratif bnget kok.keren.dilanjutin yah chinggu..

  9. minhooppa kocak apalagi cara romantisannya ama jinri itu bikin ketwa tapi dihargain loh caranya itu bda dari yang lain. siwon datang bikin aku penasaran yang surat apaan pula bikin penasaran deh

  10. Nyadar juga akhirnya minho sama cintanya jinri ..
    Soo sweet bgt deh mrk bedua ..
    Tp apa yg d pegang siwon yaa ?
    Ada hubunganya sama minho ato sama jinri ?
    Makasi updatenya yaa author , next chap scptnya ^^

  11. Chapter instan? Tapi menurut aku ini lebih baik loh daripada chapter kamu yang kemarin… Maksudnya lebih kerasa ini ff buatan kamu.. Kalau yang kemarin kayak baca novel, dan sedikit kecawa karena uda nunggu lama… Tapi gak apa-apa… Yang penting ff ini dilanjutin.. Fighting ya…

  12. baru awal udah dibuat ngakak krna kata kata bang ming yg hasil produksi onew dan istrinya,kyak gimana gitu kta katanya #WKWKWKKKWKKWKKWKWKWK
    Ini orang berdua emang keras kepala yah,gitu aja diribetin udah pilih yg tengah aja yaitu sma sma cinta biar adil,mau komen apa lagi yah ??? oh yah yg dibawa bang wo apa’an tuh ???? yg yg srem srem yah ???? apa tntang pnyakit sulli ???? jdi deg degan nih
    bang ho mau nyewa detektif buat nyledikin ksus mafia itu yah ??? wah keren dong kyak detective conan
    eh kok nggak muncul yah si mirror,wktu itukan sulli udah prnah noh kesitu,apa prmintaan sulli akan dikabulin ??? dulu bang won udah,sulli udah,bang ho udah skrang giliran jinri yg blum dikabulin prmintaannya,apa yah prmintaannya ?? oh yah minta bisa kah klw dlm satu kedipan smua akan kmbali semua,iya nggak kyak gitu ???
    brapa chap lagi nih ??? msih pnjang ??? cpet di end biar happy,eh emang happy ending ??? jgn smpek ah kyak yg prtama,mati…..aduhhhhhhhhhhh sedih deh,mewek deh
    oh yah aku tuggu juga loh ficletnya,kok nggak update sma skali sih kan jdinya kangen #CIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE
    Udah pnjang yah ???? cpet post lagi yah,nih lumayan cpet lah dripada yg kmaren
    semangat terus yah buat nulis aku tunggu slalu
    #LOVEYOU #LOVEMINSULLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL
    SEE YOU #CIVOKKKKKKKKKBASAHHHHHHHHHHHH

  13. pilihan minho oppa datang ke rumah onew tuuh bener atau ngak… di satu sisi dia harus melihat tingkah anak dan bapak ygg ohhh nooo.. apalagi saat minho mulai cerita ehhhh enak” nya tuuh bocah molor, kayak minong dongengin apa..
    tp di sisi lain setelah menceritakan keluh kesahnya, onew kasih masukan yg sedikit tdk masuk akal..

    dasar minsul, couple somplak… ngakak trus bacanya kata” nya itu lho bikin sakit perut aja saking banyak ketawanya…. ada satu kalimat yg minho ucapin ” beberapa butir bayi” woooyyyy minong tuuh bayi tou obat pakek beberapa butir..
    next eon

  14. Ya amppun ya ampuun aki ketawa2 masa bacanyaa,, bagus lah ini devvv,, hmmm si onew mah gituuu malah bkin minhonya mikir mcm2. Wkwkwkwk bisa dbilang lebay gituu.. Owwwhh ini dua orang malah debat siih soal siapa yg cintanya paling besar, okelah kalian berdua deh aama2 besar cintanya,haha
    Hmmm siwon bawa apa??? Aaah

  15. Sweet… jinri yang lebih mencintai minho dan minho mengakui hal itu. Co cwit…*alay
    Bah… yang ngasih solusi sama yang minta solusi sama aja. Wkwkwk kocak dua-duanya…

    Ditunggu next partnya
    Fighting!!!

  16. Minho sulli kocak abis.. masa’ memperdebatkn siapa yg lebih besar cintanya 😀

    Apa yg dibawa siwon?
    Bikin penasaran aja..
    Semoga bukan kabar buruk

    Ditunggu lanjutannya

  17. Iyaa tuu bner kata onew sm ming, pasti ada hal yg ga beress nihh..
    Penasaran sm kertas yg di bawa siwon,
    Apa yaa isinyaa smpe dia aja blg itu mengejutkann??
    Nexttt eonn

  18. Minhoo jadi raja gombal skg 😂😂😂😂 tapi betewe itu apa yaaa yg dibawa siwon??? Jadi penasaran info penting apa….oh yaa onew mah gitu paket komplit (serius dan konyol menjadi satu) hwahaha

  19. mirror okeh ini ff yg saya tunggu sbenarnya, tp btw ff ini agk lama update wkwwkk *maafeondev*
    bagus kok,, tulisan eon dev mah emang beginih*angkat4jempol*jempolkakisekalian*
    ceritanya minho agak romantis yah? *agak dia bilang? serius jinri butuh asupan pare yg banyak spya dia g kena diabetes, sma soal onew no comment lah dia mah gitu orangnya, oh iya ceritanya makin greget ama penasaran sm yg dbwa siwon, nyokk lanjut kakak…kwkekke

  20. Haha sama aja boong lah minong minta solusi ke onew oppa kocak lah kalian berdua oppa itu anaknya onew oppa ampe tidur begitu denger minong ngomong nyerocos haha
    Duh jinri kok masih ragu ama minong padahal minong udah move on kok dari sulli eonni sekarang cuma jinri eonni kok yg ada di hati dia mhhhh 😳😄
    Semoga makin lengket deh minho ama jinri 🙏nahhh siwon oppa mau ngapain itu 😱

  21. Yeyy updatenya ga selama yg kemaren. Minho makin romantis aja sama sulli, terus terus kayak gtu ya minho. Yg mau disampein sama siwon oppa apa ya? Jangan jangan soal mafia juga lagi? Updatean selanjutnya jangan lama lama ya eonn hehe ga sabar nih aku hehehe. Fighting eonn 😀

  22. minho sulli somvlak masa debatin siapa yang lebih besar cinta nya wkwk
    emang minsul ada2 aja nih
    wonie mau nyampain apa?
    sulli ama jinri anak kembar tapi dipisahin sejak bayi gitu? atau apa?

  23. First time baca part ini
    Minho oppa seharusnya sudah bisa menentukan perasaan nya sendiri, emang kalo ditinggal sama orang dicintai itu sedih tapi ada saat nya juga untuk melupakan dan mencoba memulai hubungan/ hidup yang baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s