THE hunk NEXT door (3)

The Hunk Next Door

Judul    :  THE hunk NEXT door

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli,Jung Krystal,Lee Taemin, Kang Ji Young,dll.

Length : Chaptered

Genre : Romance, Friendship

Apakah Persahabatan Platonis antara pria dan wanita itu mungkin ?

♥♥

 Insiden Makan Siang

.

.

.

Setelah Taemin, si anak baru itu, duduk di kursi kosong Pak Sun Seoh membagi kelas dalam beberapa pasangan team kerja. Kemudian kelas yang tenang berubah menjadi sedikit ribut, masing-masing siswa mencari pasangannya. Dan coba tebak siapa yang dipasangkan dengan Sulli ? Yup. Lee Taemin , orang baru tersebut . Beberapa dari teman sekelas Sulli saling berbisik satu sama lain.

Sulli merasa pandangan teman-temannya terarah kepadanya, pandangan yang berisi kecemburuan. Rasa tidak nyaman mulai memenuhi hatinya.

“ Yah.. ini bukan kehendakku. Sejujurnya, daripada dipasangkan dengan orang baru tersebut aku lebih nyaman berpasangan dengan Ji Young. Entah apa pertimbangan Pak Sun menempatkan orang baru itu sebagai partnerku. Aku  sebenarnya kurang nyaman bersama-sama orang yang menjadi pusat perhatian. Aku sudah bosan dengan situasiku dengan sahabatku, Minho. Karena orang yang seperti itu akan selalu mau menang sendiri dan egois. Tetapi Pak Sun tentunya tak melihat perasaanku. Beliau adalah guru yang paling baik, mungkin saja memiliki tujuan tertentu,bukan ? “

Kemudian “partner” Sulli tersebut datang ke dekatnya, menarik kursi di sebelahnya. Wajahnya yang halus tanpa noda bersinar-sinar dan tersenyum.

“Annyeong, Aku Taemin, ” katanya, tersenyum pada Sulli.

Sulli berkedip, bingung. Tak tahu apa yang harus dikatakan. Ia tak terbiasa berbicara dengan lelaki tampan selain Minho. Setengah tak percaya dia hanya menatap partnernya itu dengan tatapan aneh, sementara batinnya berperang melawan rasa terancam dan kehati-hatian..

“ Apakah itu hanya imajinasiku atau. . . dia baru saja menyapaku? Benarkah ada orang setampan dia yang mau melakukan hal konyol itu padaku ? Menyapaku, maksudku .”

“Siapa namamu ?” Tanyanya lagi pelan,

Agak ragu-ragu, mungkin berhubung Sulli tidak menjawab sapaannya kembali. Tetapi cara Taemin bertanya itulah yang membuat Sulli kembali sadar dari dunianya, mukanya langsung merah saat menyadari bahwa dia melamun di tengah sapaan orang baru tersebut.

“Omo…omo !! Apakah aku terlihat seperti orang idiot baginya ? Paboya Sulli, tentu saja tampangmu seperti orang bloon bila hanya bengong dan memandanginya tanpa berkedip .”

“Sulli,” jawabnya cepat.

Setelah menjawabnya , Sulli mencoba untuk mengabaikannya dengan membuka buku di mejanya. Berusaha menepis rasa tertariknya, karena kalau diperhatikan partnernya itu seribu kali lebih menarik dilihat dari jarak dekat. Namun tetap saja… bagi Sulli, orang sejenis Taemin ini akan besar kepala kalau direspon dengan sikap konyol yang biasa dilakukan remaja saat berhadapan dengan seorang idola. Dan tentu saja dia tidak akan melakukan itu . Hanya saja dia tak mungkin mendiamkannya terus ketika Taemin berusaha berbicara kepadanya dan mau tak mau memancing perhatiannya.

“Sulli,…'” ulang Taemin, diam sejenak.

“ Errr …. orang ini hanya akan membuatku gila saja ! Mengapa dia bicara terus padaku? Bukankah aku sudah berusaha untuk tidak mengacuhkannya ?”

Tiba-tiba, Taemin menatap Sulli dengan kagum ” Nama yang menarik. . . “

“ BAM !! . . . aneh. . . Orang-orang di sekolah biasanya tidak mau berbicara denganku – apalagi berbicara baik tentang namaku. Biasanya orang sering mengolok-olok karena beranggapan nama itu terlalu bagus untukku sehingga nama yang dipilih orang tuaku itu terkesan buruk dan menggelikan bila menempel padaku, Tetapi komentar anak baru ini memberi kesan bahwa namaku bagus dan memang sesuai untukku. Tentu saja bagus dalam arti sesungguhnya, bukan ironi.”

Sulli benar-benar terkejut mendengarnya, matanya spontan menatap Taemin sampai tiba-tiba Pak Sun berkata cukup keras kepada siswa-siswa yang masih ribut.

“Tenang,… tenang !”

Sulli segera mengalihkan matanya kepada Pak Sun dan mengabaikan senyum tulus di wajah tampan Taemin yang masih memandanginya.

Ketika kelas akhirnya tenang Pak Sun melanjutkan, “Aku telah memasangkan kalian semua , Sekarang aku ingin  kalian bercakap-cakap dalam bahasa Inggris yang baik dengan pasangannya masing-masing, tentang pengalaman kalian sebagai siswa kelas akhir di SMA.”

Taemin mengangkat tangannya. Mata Pak Sun yang sedang melihat sekeliling ruangan, berhenti pada Taemin. Kami semua menunggu dan melihat kepadanya.

“Ya, Tuan Lee ? ” tanyanya, dengan alis terangkat – itu adalah gayanya yang sering membuat siswa-siswa takut kepadanya.

“Aku hanya ingin tahu, Pak ,” dia mulai bicara, sedikit mengerutkan kening, suaranya terdengar merdu memenuhi ruang kelas yang tiba-tiba berubah menjadi hening.

“Bagaimana kita bisa berbicara tentang pengalaman kami sebagai ‘siswa senior di SMA’ karena kami baru saja memulainya hari ini?”

Pak Sun memandang dia dengan senang.

“Bagus,” ujarnya. ” Yah, kalau begitu kalian bisa berbicara tentang apa yang terjadi pada hari ini, pengalamanmu mulai dari bangun sampai sekarang. Pada akhir hari ini , kalian harus melihat apa saja yang terjadi sepanjang hari yang kalian lalui. Kemudian kalian tulis di selembar kertas. Ini adalah sebagai tugas kalian untuk pertemuan berikutnya. “

“Aigoo ,” kelas mengerang serempak.

Sebagian besar siswa di kelas memelototi Taemin. Tapi itu hanya sesaat, karena seperti Sulli, mereka jelas berpikir bahwa ia segera akan menjadi pria yang populer.

“ Jadi kalian saling bertanya tentang apa dan bagaimana kalian melewatkan hari pertama di sekolah. Aku menginginkan semuanya terlibat dalam tugas ini. Dan kalian bisa memulainya sekarang !!” Pak Sun berkata tegas, mengantisipasi protes lain yang mungkin akan muncul.

“Bagaimana hari pertamamu, Sulli?” Taemin bertanya polos.

Itu adalah satu pertanyaan yang membuat Sulli begitu sangat kesal pada saat itu. Dia merasa menjawab pertanyaan itu sama sulitnya dengan bangun di pagi hari karena bunyi peluit kapal yang dipasang melalui pengeras suara. Mengesalkan tetapi sulit dihindari.

“ Hariku? Hari pertamaku benar-benar mengagumkan ! Tidak bisakah kamu menyimpulkan sesuatu dari cara aku memandangnya ?“

Sulli ingin menjawabnya dengan,

“Oh hari pertamaku? Itu kehebohan besar. Luar biasa ! Semua orang begitu baik dan ramah kepadaku hari ini. Mereka senang berkumpul kembali dengan gengnya sendiri dan menolak aku yang tidak termasuk kelompok mereka. Tapi aku tidak menganggap itu sebagai masalah. Bukan masalah besar tentunya, bagaimanapun aku sudah biasa menghadapinya. Jadi kurasa hari pertamaku sangat luar biasa !”

Sayangnya , Sulli tidak bisa mengatakan kepadanya seperti itu. Itu terlalu kasar…. sarkasme yang indah ! Tiba-tiba Sulli melihat Ji Young menatapnya penuh arti. Dia sepertinya juga menyukai Taemin, seperti gadis-gadis lain di kelas . Ya, Sulli bisa menebak apa yang gadis sekelasnya inginkan dari anak baru yang kini sedang melihat ke arahnya itu… Apa lagi kalau bukan perhatian murid baru yang tampan ini.

Mata Ji Young seolah menegurnya dengan kalimat

” Apa yang kalian bicarakan? Apa yang dia katakan ? Betapa beruntungnya kau, dia berbicara denganmu, Sulli! “

Sulli merengut ke arah Ji Young dan mengalihkan perhatiannya pada Taemin.

“Ummm tidak ada yang istimewa ,” jawab Sulli akhirnya .

Sulli tersenyum tipis padanya, untuk menghargai upaya anak baru yang bersikeras mengajaknya bicara itu. Meskipun dalam hatinya ia masih mempertanyakan tujuan sebenarnya, Dia hanya sedikit berharap supaya orang baru itu akan tetap seperti sekarang dan tidak terbawa brengsek seperti siswa keren lainnya di luar sana..

“Wow,” kata Taemin, dengan mimik terkejut yang bagi Sulli seperti memperoloknya. “Kedengarannya luar biasa !!.” katanya dengan antusias yang berlebihan.

Sulli menatapnya kaget. Ia bengong.

“ Apakah dia berusaha untuk terlihat lucu? Aku tidak melihat apa yang lucu dalam perkataanku. Apakah ia memang mengejekku ?”

Kemudian, ia akhirnya berkata, “Hanya bercanda.”

“ Oh. Jadi itu adalah lelucon. “ jawab Sulli datar, walau diam-diam hatinya merasa lega.

“Well, sekolah baru saja mulai,” Taemin melanjutkan sambil mengangkat bahu. “Hal-hal baru bisa terjadi dengan tak terduga. Kadang kita tidak bisa melakukan apa-apa selain terkejut … dan tentu saja, biarkan semuanya berlalu seperti apa adanya “. tambahnya dengan mimik polos.

Sulli tersenyum tertahan melihat caranya bicara.

“Aku tahu ,”

Hanya itu yang bisa Sulli katakan sebagai jawaban , tapi sesungguhnya ia mengatakan itu lebih pada dirinya sendiri. Ya, ia tahu bagaimana rasanya menjadi pasrah dan diam terhadap kenyataan yang berlalu setiap kakinya menginjak halaman sekolah. Tak ada yang bisa diperbuatnya selain menjalani dan membiarkannya berlalu seperti apa adanya.

“ Let’s start working and thinking that today will be fine !” kata Taemin dengan mengepalkan tinju di depan dadanya.

Sejak itu, Sulli melihat Taemin , si siswa baru itu, sedikit berbeda dari sebelumnya. Apalagi kemudian ia bisa mendengar beberapa perkataannya yang menggambarkan pengetahuan luas yang keluar dari mulutnya. Setidaknya ada seorang siswa keren dan otaknya berisi, yang bisa dan mau mengajaknya bicara di sekolah ini… selain Minho tentu saja. Namun, baginya itu masih tidak membuktikan bahwa dia tidak seperti yang lain, tidak seperti orang-orang sombong yang merasa dirinya keren. Masih perlu waktu sedikit untuk bisa memutuskan apakah dia akan menjadi komunitas orang keren atau tidak.

Sulli melihat ke arahnya dari sudut matanya. Taemin sedang asyik menyalin hasil percakapannya ke dalam buku catatan, tulisannya tampak rapi dan indah. Well, secara fisik dia tidak tampak jelek sama sekali. Matanya abu-abu tua , yang dari jauh tampak seperti hitam. Dia bahkan memiliki postur kokoh yang anggun , meskipun tubuhnya tampak tidak terlalu berotot… seharusnya dia bergabung dengan klub olah raga. Bukan hal sulit buat seorang berpenampilan seperti itu untuk memulai hari baru di sekolah baru. Sulli yakin, dalam sekejap para gadis akan mengerubuti Taemin dan para cowok akan mengundangnya untuk bergabung ke klub mereka.
Sulli menutup wajahnya dengan selembar kertas yang ada di mejanya… setengah putus asa.

“ Aku tidak tahu bagaimana, tapi saat aku berpikir tentang betapa menyenangkan dan tampannya Taemin , wajah Minho muncul dalam pikiranku. Segala sesuatu yang aku sukai tentang dia. Matanya yang besar dan selalu bersinar jenaka, senyumnya yang lucu, rambut gelapnya yang tampak begitu lembut dan halus dengan gaya yang selalu tampak kusut, sikap kekanak-kanakannya, dan kegemarannya untuk basket. . . Aku selalu dan selalu menyukainya. ”

Tiba-tiba , bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Secepatnya Sulli kembali ke dunia nyata.

Pagi ini semuanya tampak begitu nyata.

Tunggu , mungkin ada hal-hal yang tidak terlalu biasa buat Sulli. Di sekolah, dia dikenal sebagai seorang kutu buku yang tak seorang pun mau berbicara dengannya kecuali Minho dan Ji Young, tentu saja. Dan sekarang tahu-tahu, seorang laki-laki tampan sedang berbicara kepadanya, di hari pertamanya sekolah, dan di jam pertamanya

WOW !!

Sulli hanya berharap itu akan menjadi awal yang menyenangkan untuk sekolah di tahun terakhirnya, atau setidaknya akan menjadi salah satu alasan mengapa dia harus menerima usulan Minho untuk menikmati tahun terakhirnya. Walaupun bagi Sulli, kehadiran Taemin itu sugguh mengagetkan… bukan itu saja, tetapi juga sangat mencurigakan . Ya, dirinya tidak akan percaya begitu saja kalau tiba-tiba ada orang datang dan menyapanya. Bahkan bersikap terlalu ramah padanya. Dan itu mengganggu pikirannya.

Itu sebabnya Sulli tidak memberikan sedikit pun perhatian di kelas berikutnya. Pikirannya melayang pada Taemin dan alasan mengapa ia mau berbicara kepadanya dan bukan kepada yang lain. Karena terasa janggal baginya seorang yang berpenampilan seperti anggota klub basket, bersedia menyapanya dan ingin menjadi pasangannya di kelas Kelompok Sastra, ia pasti punya alasan dan tak mungkin terjadi begitu saja.

.

.
.

Kelas Minho :

Waktu berlalu dengan cepat. Pada saat jam pelajaran kedua, Minho sekelas dengan Onew dan Jjong. Guru memperkenalkan diri dan berusaha mengalihkan perhatian sebagian murid di hari pertamanya tetapi para siswa tampaknya asik dengan diskusinya masing-masing . Minho tidak memperhatikan karena dia juga asyik mendiskusikan latihan basket  yang akan dilakukan sore ini dengan tim-nya.

Pada jam pelajaran ketiga, dia kembali sekelas dengan Krystal, yaitu kelas Sejarah . Semua berjalan sebagaimana biasanya. Guru memperkenalkan diri, memberikan tugas, meskipun – tampaknya tak berguna, mengingat bahwa itu adalah hari pertama sekolah.

Setengah mendengarkan setengah tidak, gurunya menyuruh siswa mendiskusikan tentang Sejarah Perkembangan Korea.

Dan tentu saja, Minho tidak mau repot-repot untuk mengatakan apa-apa tentang penilaiannya sendiri tentang pelajaran barunya itu . Pikirannya melayang-layang pada latihan dan kenyataan yang baru disadarinya tentang Krystal. Otomatis, selama pelajaran tersebut dia menarik diri dalam dunianya dan tidak berminat untuk terlibat dalam diskusi tentang Perkembangan Sejarah Korea. Dia hanya sepotong-sepotong mendengar bagaimana gurunya memotivasi kelas untuk mulai serius belajar mengingat itu adalah tahun terakhir mereka untuk menentukan langkah berikutnya.

Minho mendesah.

“ Apakah begini rasanya menjadi senior di sekolah, sejak awal kami diantisipasi dari kesalahan untuk menentukan masa depan? Semua guru yang masuk sangat serius dalam menekankan tentang perguruan tinggi dan pelajaran. Bukankah ini sangat membosankan dan bisa menjadi tekanan yang menakutkan ? Maksudku, kami masih memiliki waktu panjang sepanjang tahun untuk berbicara tentang perguruan tinggi dan memasukkannya dalam prioritas utama. Ya ampun, mereka kan tidak perlu menekan kami mendaftar ke Universitas Seoul , Universitas Konkuk atau apapun itu…. tidak semua dari kita yang tertarik mendengarnya di awal sekolah. Hufth !!”

Tanpa Minho sadari tiba-tiba Pak Su In mengucapkan selamat siang sebagai penutup pelajaran. Minho menutup bukunya dan memasukkan ke dalam tas rangselnya. Ia berdiri tanpa berkata apapun untuk meninggalkan kelas.

“ Ini waktu istirahat dan makan siang – akhirnya….. Aku tidak sempat sarapan pagi ini karena Sulli . Aku tidak sabar untuk melahap beberapa makanan pavorit yang nyaris terlupakan selama liburan kemarin.”

Kelas Sulli

Teeeet…………..

Bel berbunyi cukup panjang yang disambut siswa dengan desahan lega. Terburu-buru mereka memasukkan buku-buku yang berserakan di meja, tanpa mempedulikan kata-kata terakhir guru yang mengingatkan mereka atas tugas yang diberikan.

Sulli Pov

YES !!! Itu bel istirahat makan siang! Aku kelaparan! Perutku menggerutu sepanjang kelas Sains . Dan dalam kelas yang situasinya begitu tenang, omelan perut dapat dengan mudah didengar.

Ini semua adalah kesalahan Minho. Dia sangat memaksaku bangun, mandi, dan berangkat secepatnya untuk mengejar bis, sehingga aku tidak punya kesempatan untuk sarapan. Aish… kenapa aku harus menyalahkannya ? Bagaimanapun, aku akan makan sekarang, jadi tidak terlalu penting menyalahkan siapa pun dalam hal ini.

Sambil membawa nampan penuh karbohidrat …. ramyeon, 3 porsi besar kimichi, ayam goreng mentega, dan minuman soda… aku berjalan menuju meja yang terletak paling belakang, dekat pintu ke toilet. Biasanya meja itu yang tersisa dan jarang disentuh orang-orang…maksudku kelompok orang keren di sekolah. Dan yang paling kusukai, tempat itu menjadi target terakhir yang diinginkan orang-orang itu, sehingga aku akan bisa menikmati makananku tanpa direcoki mereka.

End of Pov.

Sulli mendesah lega ketika mulutnya mulai menyantap ramyeon yang masih panas. Entah dari mana, tiba-tiba seseorang mengejutkannya dari belakang. Aura kejahatannya begitu kuat mengelilingi tubuh Sulli, yang tanpa menoleh pun dia sudah tahu siapa orang itu.

“Oh, omona !” Krystal berseru dengan cara mendramatisir “Tidak heran penampilanmu terlihat seperti itu!”

Sulli langsung berbalik padanya. Dia melihat mata Krystal sedang menatap jijik pada makanan di nampannya . Dan Sulli tidak perlu melihat ke sekeliling kantin untuk mengetahui bahwa mereka yang ada di sana mendengar apa yang dikatakan Krystal.

Sulli memutar matanya kesal, dengan rasa tidak percaya

“Apa lagi yang diinginkannya sekarang?” gumamnya kesal.

Dia meletakkan sumpit di mangkuk ramyeon dan menunggu apa yang akan dikatakan ketua cheer leader itu.

“Serius, apakah ia akan mulai menggangguku dan mengejekku tentang bagaimana lemak di tubuhku, apakah dia benar-benar buta ? Kebetulan aku tahu pasti bahwa penampilanku tidak pernah rusak karena makanan. Jadi, apa yang sedang terjadi dengan sang Penyihir ini sehingga merusak acara makan siangku ?”

“Ayo lihat dirimu sendiri di cermin, pig ,” Krystal berbisik pada Sulli dengan suara paling cheerleader-ish. “Aku ingin melihatmu memakan semua lemak itu. Jika kau beruntung, kau mungkin akan membawa kebaikan pada sekolah ini karena kau akan segera pergi dari sini saat perutmu meledak … BOOM !!” Krystal merentang jemarinya sambil berkata mengejek.

Sulli tersentak.

“Jika hal ini sangat mengganggumu… ,” kata Sulli dengan suara pelan tapi sinis, melemparkan tatapan setajam pisau ke arahnya , “…kenapa kau tidak menyalahkan pacarmu untuk tidak merecokiku dengan membangunkanku setiap pagi? After all, dia adalah satu-satunya alasan mengapa aku tidak sarapan pagi ini. Itu sebabnya aku makan semua ini… ‘lemak ini’ untuk memuaskan nafsu makanku. “

WOW !!

Sulli tidak biasanya seperti ini . Dia  biasanya mendiamkan pengganggunya. Tetapi sekarang berbeda. Mungkin ini akibat perut  yang menahan lapar sejak tadi sehingga dia jadi emosional. Dan entah kenapa Sulli merasa lega telah memuntahkan kekesalannya kepadanya.

Sekarang Krystal tak berkedip. Dia  terkejut karena Sulli mampu mengatakan hal-hal seperti itu – terutama kepadanya. Biasanya Sulli akan berkata,

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Aku tidak punya waktu untuk omong kosong ini. Dapatkah kau minggir dan mengurusi makananmu sendiri? “

Tapi dia tidak bisa tahan lagi. Ya, sepertinya Sulli tidak pernah melewati sehari pun tanpa keusilan Krystal . Entah itu memberikan komentar menyakitkan tentang dirinya, mengejek penampilannya, menertawakan ide-idenya. Dan itu dimulai jauh sebelum hubungannya dengan Minho diresmikan.

Sulli tidak tahu harus berbuat apa lagi, karenanya dia tidak mengatakan apa-apa lagi selain meninggalkannya begitu saja di sana dan pergi ke tempat duduk Ji Young dengan membawa nampannya .

“ Para siswa di kantin tampaknya saling berbisik, mungkin bertanya-tanya apa yang Krystal dan aku bicarakan , karena kami tadi berbicara nyaris saling berbisik. Dan itu sangat jelas bahwa mereka juga bertanya-tanya apa yang aku katakan ke Krystal sehingga membuat tatapannya seperti itu kepadaku saat ia duduk kembali di meja mereka. “ pikir Sulli marah.

Sulli berusaha mengabaikan mereka dan berpaling ke Ji Young, yang sedang makan Ice Cream Sandwich favoritnya. Dia menatap sahabatnya dengan   penuh rasa  ingin tahu.

“Hati-hatilah kalau kau bicara padanya dan apa yang terjadi hingga kau  terlibat percakapan dengannya ?” kata Ji Young, menyeringai lebar.

“Kelaparan adalah apa yang terjadi padaku,” jawabSulli, letih.

Dia mengangguk. “Orang-orang melakukan hal-hal aneh saat mereka lapar.”

“Ok, bagus,” kata Sulli tak sabar. “Penyihir Itu mulai menggangguku lagi dan aku tidak punya waktu untuk bersikap manis dalam berurusan dengannya tadi… karena aku kelaparan. Jadi bisakah kita simpan masalah ini dan mulai makan, Jiyoung ? “Sulli menambahkan, memohon padanya.

Dia mengangguk lagi, tersenyum geli.

“Terima kasih.”

Saat Sulli melahap makanan dengan rakus, Minho tiba-tiba berjalan menuju meja mereka. Berdiri di samping meja dan melihat dengan geli pipi Sulli yang sedang menggembung karena dipenuhi makanan. Sedangkan matanya telihat terbuka lebar di balik kaca mata besarnya.

“Aku akan makan siang dengan Krystal hari ini,” kata Minho sambil menahan senyum.

Tetapi dari gerak bibir dan pipinya, siapapun bisa melihat kalau dia berusaha menelan tawanya.

Sulli tidak menjawab, siapapun tak akan bisa bicara dengan kedua pipinya disesaki makanan, bukan ? Tetapi bukan itu alasan Sulli, ia tidak menjawab karena kejadian seperti ini sudah diduganya. Bagaimanapun , itu adalah hari pertama sekolah. Minho dan Krystal tidak melihat satu sama lain sepanjang libur musim panas. Tentu saja, mereka akan menghabiskan waktu bersama pada hari pertama sekolah, untuk melepas kangen. Tapi mau tak mau, itu sedikit menyakitkan menyadari bahwa Minho akan menghabiskan waktu dengan penyihir itu.

“ Atau jangan-jangan senyuman itu muncul karena dia sepanjang pagi tadi telah menghabiskan waktu berdua dengannya…” pikir Sulli sedih’ Dan setelah insiden kecil tadi . . . Aku bertanya-tanya apakah Krystal akan memberitahu Minho tentang kejadian itu ?”

“Sampai jumpa di kelas,” kata Minho kaku, alisnya bergerak-gerak.

“Aku pikir ada sesuatu yang salah dengan alismu,” kata Sulli dengan muka datar , kemudian mengerutkan kening sedikit.

Minho memutar matanya menyadari sahabatnya tidak sedang dalam suasana hati untuk diajak bergurau.

“Dan kupikir kau seperti sudah berumur lima puluh tahun sejak bangun tidur tadi. C’mon Bunny , cheer up! Kau seharusnya senang bahwa sekolah sudah dimulai. “

“Oh, ya. Aku sangat senang karena mereka , sang penyihir itu, bisa menyiksaku lagi. Horee. . . Aku akan melompat kegirangan, “kata Sulli sangat sinis sambil bertepuk tangan pelan.

“Ini untukmu ,” kata Minho sambil meletakkan semangkuk besar eskrim strawberry vanilla di depan Sulli- makanan favorit Sulli sepanjang masa. “Sekarang, kau senang kan ?”

Sulli  tahu matanya bersinar setelah melihat makanan itu. Dia perlahan-lahan menarik mangkuk itu ke arahnya dan mulai mencobanya.

“Apa kau punya sesuatu untuk dikatakan?” Tanya Minho,menunggu

Karena Sulli mengabaikan pertanyaannya, dia memelototkan matanya ke arah Sulli,  pura-pura kaget.

“Wow. Itu sungguh sopan!! ” sindirnya

“Ssshh. Aku sedang mencoba untuk santai. Pergilah, ” Sulli menimpali, matanya masih terfokus pada gundukan menggiurkan eskrim yang atasnya mulai mencair .

“ Woaaah, mashita !!”

Minho tersenyum lebar hampir tertawa menahan geli saat melihat bibir Sulli memperlihatkan gejala tak sabar untuk menjilati es krim iitu sampai ke dasar mangkuknya.

“Dasar maniak es krim !” katanya geli sambil berlalu.

“Terima kasih,” Sulli mendengar Minho berkata di dekatnya sebelum berjalan pergi. Itu adalah sindiran untuknya.

Sulli meliriknya sejenak.

“ Aku akan berterima kasih padanya nanti.” Pikir Sulli.

“Dia benar-benar manis,” Ji Young berseru wajahnya terlihat serius.

Sulli segera menatapnya lekat-lekat, seolah bertanya apa maksudnya.

“Dan itu untukmu, Ssul, spesial. Kupikir-pikir reaksimu tadi terlalu berlebihan. Mungkin bagimu itu bisa jadi mekanisme pertahanan diri yang benar-benar ampuh. Kau mungkin berpikir cara itu adalah satu-satunya cara untuk menyembunyikan perasaanmu darinya. Tetapi kenyataannya adalah… cara yang memperjelas perasaanmu , girl ! Kau pikir kenapa Krystal selalu berbuat jahat kepadamu selama ini? “Tambahnya, sambil mengangkat alis.

“Umm… kupikir dia memang jahat . Itu biasa untuk orang-orang populer sepertinya. “

“Atau mungkin, dia cemburu padamu !!”

Sulli menatapnya tak percaya.

“Apa yang menyebabkannya cemburu padaku ?” Sulli terdiam sesaat, berfikir.

Kemudian Sulli berkata seolah menyadari sesuatu,

“Oooh….” desisnya

“ Tentu saja, karena aku dekat dengan pacarnya. Aku adalah teman terbaiknya. Dan jika benar menurut Jiyoung , bahwa perasaanku terhadap Minho terlihat jelas lewat sikapku padanya, maka dia pasti bisa melihatnya.  Krystal pasti akan cemburu karena dia tidak bisa melakukan apa-apa atas kenyataan dimana aku bisa dekat dengan Minho kapan pun… dimana pun. Karena …aigoo…, lagi , aku sahabatnya, bukan? Sebetulnya itu tidak berbahaya buat hubungan mereka. Namun, dia terlalu melebih-lebihkannya . “

Mata Sulli mengembara ke meja dimana Krystal dan Minho duduk dan saling berbicara. Mereka terlihat manis dan serasi, itu pasti. Melihat keakraban mereka membuat Sulli tiba-tiba kehilangan nafsu makannya.

“ Untunglah aku hampir selesai. …Tapi ini bahkan lebih buruk , karena tiba-tiba aku merasa mual dan seperti ingin muntah.”

Sulli menarik nafas dalam-dalam untuk mengusir rasa tidak enak di ulu hatinya. Sebenarnya dia sangat sedih memiliki perasaan ini.

“ Mengapa aku harus jatuh hati pada sahabatku? Mengapa harus dia? Apakah ini kutukan karena orang-orang selalu memandang kami tidak cocok bahkan untuk saling berteman atau bertegur sapa?  Kupikir bukan begitu.”

Sulli mendesah.

“ Kalau saja ada hal-hal yang akan berubah tahun ini. Kalau saja aku bisa bertemu seorang pria yang akan memandangku sebagai seseorang yang istimewa. Kalau saja ada orang yang akan mengagumi penampilan fisikku . Kalau saja aku bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai – atau bahkan hanya disukai….. Ugh, kalau saja. . . “

” Hey, Kau baik-baik saja?” Tanya Ji Young tiba-tiba, membuat Sulli terlonjak dan kembali ke realita lagi.

“Yeah,” jawab Sulli samar sambil berusaha memokuskan diri pada perkataan Jiyoung selanjutnya.

Teeet…!

Bel masuk kembali pelajaran berbunyi panjang. Sulli berdiri, meninggalkan separu eskrimnya yang tiba-tiba terlihat tidak menggiurkan lagi baginya.

“ Sebaiknya kita ke kelas. Guru Fisika kita menurut kabar adalah salah satu guru killer “

“ Kalau begitu, kita harus bersikap manis untuk satu jam berikutnya. “

“ Well, sepertinya begitu.” Kata Sulli malas ,” Jadi kau bisa lihat betapa buruknya hari pertamaku ? Dipaksa bangun terlalu pagi, diabaikan sahabat sendiri, dilabrak Krystal dengan alasan yang tidak pernah kutahu…” celoteh Sulli pada Jiyoung sambil hatinya berandai-andai betapa damai harinya bila dia tinggal di rumahnya saja.

Sulli sekilas melihat Krystal berjalan dengan cepat melewatinya , matanya berkilat penuh kemarahan . Sulli menahan nafas, berharap peristiwa di kantin tadi tidak berbuntut panjang nantinya.

“ Aku harap dia tidak membesar-besarkan percakapan kami saat makan siang tadi. Aku bukan diriku sendiri waktu itu ! Dia seharusnya tahu itu. Mungkin aku harus berbicara dan menjelaskan kepadanya bahwa orang akan mengatakan hal-hal yang aneh saat mereka lapar .” pikirnya, teringat pada perkataan Jiyoung, “ Tapi kenapa aku harus repot-repot ? Bukankah kejadian tadi sebagai reaksiku atas kelakuannya ? Bagaimanapun aku tidak terlahir untuk mengalah dan pasrah pada perlakuan seseorang padaku. Well, aku bukan orang dewasa yang bisa memaafkan dengan mudah !”

Sulli mengangkat bahunya, berusaha mengalihkan pikirannya dari kekesalah yang perlahan-lahan kembali menggumpal dalam hatinya, apalagi saat dia melihat Krystal berjalan di sisi Minho dengan mengaitkan tangannya pada lengan sahabatnya itu.

.

.

.

================TBC=================

Advertisements

63 thoughts on “THE hunk NEXT door (3)

  1. Yah… aku telat bacanya.

    Oops!! Sulli baper sama taemin yah??? Kekeke gak papa, daripada sakit hati ngeliat minho sama krystal. Nanti juga minho jeles-jeles gak jelas *apa itu jeles?*
    Hahaha…
    Dan, eum… hm… eum… krys… tal… aku kasihan sama dia. Udah capek” jeles sama sulli, minhonya gak punya perasaan lebih sama dia. Huhu sabar yah hahaha *eh. Btw, makasih es krimnya minho oppa!!! *eh loh kok aku yang… sudahlah-_-
    Nah, aku menemukan kepribadian lain oenni dina dari ff ini. Hm, apa yah namanya? Sulit diartikan. Tapi, dari penulisannya berbeda dari ff oenni yang lain yang pernah aku baca. Ini lebih… muda. Haha aku gak bisa nemuin kata yang tepat. Tapi, aku suka… *yi-pi!*

    Ditunggu kelanjutannya^^

  2. Baru sempet bacanya, mian eonnie….
    Krystalnya sama karakternya dgn org2 populer, sombong dan attention seeker bgt.
    Sebenernya lebih nungguin moment sulli dan taemin sih biar bisa ngebayangin minhonya jelous. Capek kali ya sullinya yg jelous mulu. Dan gimana sisi jelous minho? Kayaknya gak sama kayak sulli yg pinter nyembunyiin. Mungkin minho bakal marah2 gaje hahaha…
    Agak muak sih dengan moment minho dan krystalnya.
    Fighting eon..

  3. minho ga tau apa yakk kalau krystal itu suka ngejahatin sulli hhuhuhuu .. disekolah minho ga betul-betul berperan sebagai sahabat yang baik untuk sulli, minho ga bisa ngelindungin sulli .. hhuhuhuu

  4. wwoooow sulli menjadi berani menjawab saat lapar ketika kristal menindasnya..
    eehh ternyata sulli ga sama dgn minho mempunyai perasaan cinta kepada sahabatnya sendiri..
    makin seru dan ingin lanjut membaca karna penasaran apa yang terjadi di part berikutnya..
    maaaf ya komennya g berbobot tuk membangun ff ke depannya..

  5. Sulli kasian bgt deh… nyesek wktu dia bilang jatuh cinta sm sahabatnya…. aigooo tenang sulll sahabat u itu juga bkl jatuh cinta ma km kok..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s