THE hunk NEXT door (5)

The Hunk Next Door

Judul    :  THE hunk NEXT door

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli,Jung Krystal,Lee Taemin, Kang Ji Young,dll

Length : Chaptered

Genre : Romance, Friendship

Apakah Persahabatan Platonis antara pria dan wanita itu mungkin ?

♥♥

  Masalah Besar

.

.

Seminggu telah berlalu sejak hari pertama kembali ke sekolah. Tidak banyak yang terjadi. Semuanya seperti biasa… kehidupan anak-anak SMA pada umumnya. Tak ada yang istimewa. Minho melakukan kegiatan rutinnya seperti biasa, dan Sulli mengalami hari-hari yang membosankan seperti biasa pula.

Berita yang dibawa L tentang Taemin hampir terlupakan. Selama seminggu terakhir, Minho tidak memperhatikannya sama sekali. Dia tidak peduli apakah dia ,Taemin itu, ada atau tidak. Dirinya seorang laki-laki, hal-hal seperti kehadiran seorang murid baru cowok tidak akan pernah menarik perhatiannya.

Tetapi kini ada yang mengusik pikirannya.

Itu beberapa menit yang lalu ketika berita l;ain tentang Lee Taemin menarik perhatiannya. Tidak sampai setengah jam yang lalu dia mendengar bahwa anak baru itu bergabung dengan klub Pecinta Buku … sama seperti Sulli dan Ji Young . Dan anehnya Sulli tak menceritakan apapun soal itu, padahal dia biasanya sangat senang bercerita tentang perkembangan terkecil apapun tentang klubnya, kepadanya. Ini aneh.
.
.
Bel berdering. Jam makan siang telah tiba.

Minho berjalan menuju meja Sulli dan Ji Young, memegang nampan makan siang di satu tangan.

“Hei, aku akan makan siang bersama Krystal dan anggota tim hari ini,” Minho memberitahu Sulli.

“Oke,” jawab Sulli riang tak ada sirat kesal seperti biasa.

“Sampai jumpa lagi , Bunny ,” kata Minho , keningnya sedikit berkerut.

“ Sulli tidak biasanya ceria seperti ini . Ini aneh. ”

Minho baru saja akan pergi ketika Sulli berkata,

“Tentu, bersenang-senanglah ,”

Minho menoleh kembali , menatapnya lagi sebentar. Ada sesuatu yang jelas salah pada sahabatnya.

“Apakah kau baik-baik saja ?” Minho bertanya curiga.

“Tentu saja !” Katanya dengan nada ringan sambil tersenyum pada Minho yang tertegun-tegun melihatnya.

“ Sekarang, aku yakin, ada yang berubah dengan si Bunny . Tidak ada kata-kata sarkasme seperti biasa… Itu aneh. Ada apa dengan anak ini ? Mengapa terlihat gembira dan tidak cemberut seperti biasanya, jika aku tidak makan siang bersamanya ?”

Choi Minho masih berdiri di tempatnya ketika Sulli berdiri dan pergi menuju tempat minuman. Alis tebal Minho terangkat heran melihat gaya jalan sahabatnya yang ceria… terlalu ceria mungkin, bahkan seperti melompat-lompat. Matanya menatap punggung Sulli tanpa berkedip, bingung.

Setelah menggeleng, matanya beralih ke Ji Young yang mulai mengunyah makan siangnya.

“Apa yang salah dengan dia?” tanya Minho sambil menunjuk Sulli dengan dagunya.

“Well…,” kata Ji Young ragu-ragu dan tersipu-sipu karena merasa risih ditegur mahluk tampan di hadapannya.

” Sepertinya… dia agak … umm.. kutu buku , mungkin. . . “

“Dia memang seperti itu sejak dulu , Jiyoung. Maksudku mengapa sikapnya berubah dan tidak seperti biasa?”

“Well…, kau tahu…” Jiyoung menjilat bibirnya seperti ragu-ragu,” Ada seorang pria yang bergabung dengan klub kami , kemarin,”

Jiyoung mulai bercerita .

“Dan itu mengagumkan karena benar-benar tak terduga . Pria yang ini lain… maksudku tidak seperti anggota klub kami yang lainnya”

“Bagaimana? Apa hubungannya ?” Tanya Minho bingung.

“Minho, Kupikir kau tahu banget bahwa hampir tidak mungkin seseorang mau bergabung dengan klub kami saat baru pertama kali menginjak sekolah ini.”

Minho melengos dan mengacak-acak bagian belakang rambut dengan tangannya yang bebas. Berusaha menyembunyikan senyumnya, takut Jiyoung tersinggung.

“ Yup, dia benar. Klub Pecinta buku adalah klub yang sama sekali tidak menarik untuk diikuti. Itu adalah pilihan terakhir yang diinginkan murid SMA Galaxy” Kata Minho dalam hati.

“Aku tahu Sulli berpikir demikian juga. Karena itu sangat mengejutkannya ketika seseorang seperti Lee Taemin bergabung dengan klub pecinta buku kami . Jelas, dia seharusnya tidak berada di sana, tetapi dia memang ada dan bergabung dengan kami, “Ji Young menjelaskan.

“Siapa?” Tanya Minho dengan alis terangkat.

“Apakah dia baru saja mengatakan ‘Lee Taemin’ ? Dan dia juga baru mengatakan bahwa ia bergabung dengan klub Pecinta Buku? “

“Lee Taemin ,” kata Ji Young menyebut namanya lagi, “anak baru.”

“ Oh…” katanya sambil berjalan pergi.

“ Yeap, katanya memang Lee Taemin, yang dulu ditanyakan L.  Oke, menurut Jiyoung Sulli berubah menjadi begitu gembira karena ada anak baru yang masuk ke klub mereka.”

Minho berceloteh dalam hatinya sementara berjalan menuju mejanya. Bergabung dengan yang lain yang sudah menunggunya

Setengah jam kemudian…

Minho duduk dengan gelisah di antara Onew, Jjong, Krystal dan teman-teman satu timnya. Sudah beberapa menit berlalu sejak dia mulai memperhatikan meja Sulli . Menit-menit itu menjadi semakin intens saat dilihatnya seorang anak laki-laki berbadan tegap datang bergabung dengan mereka. Cowok itu berwajah menarik… cantik… terlalu cantik untuk disebut tampan. Gerak-geriknya anggun dan mengandung magnet sehingg menarik tatapan beberapa  gadis yang sedang makan di kafe. Itu pastilah Lee Taemin !!

Lee Taemin duduk bersama mereka, diapit Sulli dan Jiyoung. Minho ingin tidak mempedulikannya . Dia seharusnya bahagia karena ada seseorang yang cukup baik, menarik,  dan mau duduk dengan Sulli , meskipun hampir semua orang yang ada di kantin mengawasi mereka. Biasanya Sulli duduk hanya ditemani olehnya dan Jiyoung, atau oleh Jiyoung saja kalau dirinya sedang berkumpul dengan teman-temannya seperti sekarang. Jika tiba-tiba ada seseorang yang lain duduk di meja sama dengan Sulli, pasti mengherankan banyak orang. Bukankah seharusnya ia gembira Sulli punya teman baru ?

Tapi sungguh, tidak ada sedikitpun kebahagiaan yang dirasakannya melihat itu. Ada sesuatu tentang Lee Taemin yang benar-benar mengganggu pikirannya. Dia tidak tahu apa itu, tepatnya. Tapi yang dia tahu adalah… dirinya tidak dapat sepenuhnya percaya pada orang itu.

“ Sialan ! Dia memukul bahu Sulli dengan sangat akrab. Cara dia tersenyum padanya lebih ramah dibanding ke Jiyoung . Tapi tentu saja, Sulli tidak akan memperhatikan itu. Dia gadis tolol kalau berhubungan dengan laki-laki !”

Tanpa disadari, buku-buku jari Minho terkepal. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dia hanya merasa seperti ingin menendang laki-laki yang sedang tertawa itu ke luar dari kantin. Dan menjauhkan tangannya dari Sulli.

Minho membuang pandangannya, berusaha memusatkan konsentrasinya pada teman-temannya yang satu meja. Berharap untuk menenangkan diri, meredakan kemarahannya. Saat melirik Jjong, dia mengerutkan alis melihat Jjong juga memperhatikan meja Sulli . Raut wajahnya terlihat mengeras, tatapannya juga menyala. Dia melihat ke arah itu dengan penuh perhatian.

“ Ada apa dengan Jjong akhir-akhir ini ? Setiap kali kami berada di ruang loker, dia selalu melirik ke arah Sulli . Setiap kali kita berbicara tentang Sulli, ia tampak serius dan mendengarkan dengan penuh perhatian . Dia bertindak seolah-olah ia …. menyukai Sulli. !!! “

Mata Minho melebar begitu mendapat ide seperti itu .

“ Jjong menyukai Sulli …Itu dia ! Itu adalah satu-satunya penjelasan tentang perubahan sikapnya akhir-akhir ini. Pertanyaan-pertanyaannya yang aneh….”

Minho menatap Jjong yang duduk di seberang meja, alisnya sedikit melengkung. Ada perasaan aneh berkecamuk di dadanya, yang mau tidak mau mengacaukan kerja otaknya. Kini perhatiannya terpecah… tidak hanya pada Lee Taemin itu saja, tetapi juga pada Jjong.

“ Tuhan… Jjong menyukai sahabatku. Aku seharusnya gembira dengan itu, kan? Maksudku, dia adalah seorang pria yang baik dan pantas untuk Sulli. Dan aku lebih suka dia menjadi pacar Sulli daripada si Lee Taemin itu . Tapi kenapa aku merasa seperti aku tidak menyukai ini ? Apa yang salah dengan diriku ? Ini pasti karena perasaan “over protective” ku muncul karena Sulli sudah seperti adikku .”

Bagaimanapun, perasaan dan pikiran yang berkecamuk dalam dirinya, Minho berusaha meredamnya. Dia tak bisa menyimpulkan secara sembarang tentang itu, harus ada konfirmasi dan pengakuan yang jelas dari Jjong tentang Sulli.  Baru saja dia membuka mulut untuk menanyakan tentang dugaannya itu pada Jjong tiba-tiba Yuri , teman Krystal , terpekik. Mereka yang ada di meja itu,  berpaling kepadanya. Dia sedang memandang ke meja Sulli .

“Mengapa Taemin ada di sana ???” Yuri menunjuk tak senang . “Seorang pria seperti dia tidak seharusnya duduk semeja dengan …… “ Yuri berhenti , melirik gelisah ke arah Minho , dan kemudian ia menambahkan dengan nada lebih pelan ,”… mereka.”

Minho merasa tersinggung dan ingin memarahinya , tetapi urung ketika dia menyadari bahwa Yuri dan geng- nya dapat membuat Taemin meninggalkan meja itu. Mungkin itu lebih baik, daripada dia yang harus turun tangan untuk menyingkirkan pria itu dari sisi Sulli.

“ Dan mudah-mudahan, ia akan berhenti menyentuh Sulli lagi. “

“Apa kau tidak berpikir begitu, Krystal?” Yuri bertanya kepada Krystal penuh harap.

Krystal menatap meja Sulli dengan tidak ada reaksi, dan kemudian ia berpaling ke Yuri.

” Well.. ,” katanya, mencibir, “itu mengejutkan, bukan?” tambahnya dengan nadadatar.

Yuri menatap Krystal dengan ternganga , seolah-olah dia tak menyadarinya saking terkejut. Tidak biasanya Krystal menanggapi dengan dingin segala sesuatu yang berkaitan dengan Sulli. Anak kutu buku yang dibencinya. Yuri berfikir, mungkin karena Krsytal harus menjaga perasaan pacarnya, karena siapa pun tahu kalau Sulli adalah sahabat Choi Minho.

“Jika kau mengatakan begitu..,” kata Yuri enggan.

Setelah beberapa saat, dia membiarkan hal itu berlalu dan membelokkan percakapan mereka ke hal-hal lain.

Minho menarik nafas panjang…entah lega atau menyesal..

“ Aigoo, hampir saja. Tapi aku agak terkesan pada bagaimana Krystal acuh tak acuh ketika membicarakan tentang Sulli dan anak baru itu. Sudah seminggu sejak pertengkaran kami. Sejak aku meminta maaf padanya dan dia memintaku berjanji untuk selalu  pergi dan meninggalkan sekolah bareng dengannya. Dia berhenti berbicara tentang Sulli di depanku. Setidaknya, ia telah mencoba yang terbaik dengan mengabaikan fakta bahwa aku punya sahabat . Well. mungkin itu adalah cara dia menjaga dirinya dari rasa cemburunya terhadap Sulli. Sejak aku megikuti kemauannya, ketika kami bersama …  semua hanya tentang kami dan dunia kami. Tak ada Sulli atau siapapun.”

Minho melirik Sulli untuk terakhir kalinya sebelum mengalihkan perhatiannya kepada orang-orang di sekitarnya. Dia menahan diri, tetapi bersumpah tidak akan membiarkan masalah Taemin ini pergi begitu saja.

Bel berbunyi. Minho berdiri dan mencium Krystal sebagai ucapan selamat tinggal dan menunggu sampai dia dan gadis-gadis itu untuk meninggalkan kantin . Setelah Jjong, Onew, dan dirinya tinggal bertiga , dia berdehem santai.

“Onew,” katanya dengan suara rendah. “Aku ingin kau melakukan sesuatu.”

Onew menatap Minho cukup lama, dan kemudian berkata,

“You know me.” dia mengangkat bahu,” Aku dapat melakukan apapun ….Itu tergantung pada apa yang harus kulakukan .”

“Aku yakin kau bisa melakukannya,” Minho meyakinkannya dengan senyum miring di wajahnya… senyuman penuh makna.

Jjong terus menatapnya diam-diam.

“C’mon, man,” keluh Onew ,”Berhenti membuatku tegang karena penasaran. Katakan saja apa yang harus kulakukan. “

“Cari tahu segala sesuatu yang diperlukan tentang Lee Taemin.”

Akhir Pelajaran

.

Minho melalui Kelas Fisika dan Kelas Seni dengan Sulli yang tingkahnya benar-benar aneh !

Dia begitu ceria , sulit untuk mengenalinya. Seminggu dia tidak pulang dan pergi bersamanya, bahkan mengobrol malam pun sudah jarang karena setiap sampai rumah dia pasti tumbang karena kelelahan. Dan seminggu itu, banyak terjadi perubahan pada sikap sahabatnya.

“ Aku tidak tahu apa yang merasukinya . Jujur, aku bahkan tidak ingin mengingat apa yang terjadi selama dua pelajaran yang tadi aku habiskan dengannya. Dia mengacuhkanku sepanjang jam pelajaran, seolah-olah aku adalah orang lain. “

Minho merenung, matanya memperhatikan tayangan Power point yang diberikan gurunya. Sementara pikirannya tenggelam dalam pemikiran tentang keanehan yang ditampilkan Sulli belakangan ini.

“ Bisakah seorang Lee Taemin mengubah dirinya seperti itu? Hanya dengan bergabung bersama klub nya? Berapa banyak lagi dia bisa mengubah Sulli jika ia nanti mulai merayunya, seperti yang pernah dikatakan L ?”

Minho memejamkan mata, tak berani membayangkan lebih jauh.

“ Ugh. Aku tidak ingin membayangkannya. Yah, dia mungkin akan berubah menjadi lebih feminin … tapi dia pasti tidak akan menjadi Sulli yang sama yang kukenal. “

Minho menggeleng. Berusaha mengusir bayangan-bayangan mengerikan dari kepalanya.

“ Orang-orang berubah, Minho . Ini hanya masalah waktu …   dia pasti tiba pada waktunya untuk mendapat perhatian dari cowok lain selain kamu . Dan kamu tidak punya pilihan selain menerimanya. Kalian berdua tumbuh dewasa. Kamu tidak bisa mengharapkan dia untuk menjadi gadis kekanak-kanakan yang sama selamanya. Tidak akan mungkin !!”

Sesuatu di bawah sadarnya mengetuk hati dan pikiran Minho tentang Sulli. Ini mengejutkan sekaligus menakutkannya. Sejauh mana dia akan kehilangan Choi Sulli ? Sahabatnya ? Kelinci kecilnya yang lucu dan lincah ?

“Hei,” kata Onew, saat ia mendekati Minho  sebelum memasuki ruang lokernya, menarik Minho keluar dari lamunannya.

“ Aku sudah mencari beberapa latar belakang Lee Taemin seperti yang kau minta.”

Jjong yang berdiri di dekatnya menutup loker dan berbalik untuk mendengarkan juga .  Waktu itu mereka sedang bersiap-siap ke ruang Gym untuk latihan basket, ketika Onew muncul di ujung lorong dan membahas tentang Lee Taemin.

“Dia dari Incheon . Dia pindah ke sini dan tinggal dengan kakek-neneknya . Ayah dan ibunya tinggal di Incheon., ” Onew berhenti , meringis. “Pokoknya, orang yang kutanyai mengatakan dia orangnya baik, tampan, dan bukan penyuka sport . Maksudku dia tidak suka olah raga tetapi dia lebih ke seni. . . ? “

Onew berkata perlahan, seolah-olah tidak yakin apa yang ia bicarakan. Kemudian, dia buru-buru menggeleng.

“Aku tidak yakin apa arti “lebih cenderung ke seni”,  tapi aku menyimpulkan satu hal… apakah mungkin dia semacam gay, ya ?” Onew menambahkan dengan mata berpindah antara Minho dan Jjong,

Secara fisik Onew memiliki kelebihan dibanding anggota tim yang lain, dia gesit dan lincah. Tetapi kalau disuruh berfikir jauh dia seperti pentium satu .

“ Gay ?? Wah… Lee Taemin terlalu mustahil seperti itu. Melihat tampilannya, dia jelas-jelas suka melatih otot-ototnya hingga tubuhnya tegap dan berisi. Maksudku, pria macam apa yang lebih tertarik pada seni , tetapi punya tubuh olahragawan ? Serius, ada sesuatu yang mencurigakan tentang orang itu. Lagipula, jika dia seorang gay. tentunya dia tak tertarik pada Sulli …”

” Tapi mengapa. . .? “Minho tanpa sadar bergumam sambil merenung.

“Mengapa apa?” Tanya Onew penasaran.

“Mengapa dia bertingkah seperti  tertarik pada Sulli? Aku telah melihat cara dia menatapnya. Tidak mungkin kalau dia gay . “

“Tidak,” Minho memutuskan untuk meyakinkan mereka. “Dia bukan gay.”

“Bagaimana kau bisa tahu?” desak Onew.

“Onew,” kata Jjong, “hanya karena pria menyukai seni bukan berarti dia gay.”

Dia menggelengkan kepalanya dan memutar matanya.

Onew tampak ragu.

“Tapi itu aneh!”

Dia meringis dengan wajah yang lebih aneh dari kata-katanya.

Jjong dan Minho terkekeh.

“Kau tahu apa lagi yang aneh?” Tanya Onew pelan. “Aku bersumpah aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat sebelumnya. Apakah dia tidak terlihat begitu familiar buat kalian? “

Jjong dan Minho berpikir beberapa saat.

“Tidak,” jawab keduanya serempak.

“Hmm,” gumam Onew serius. Lalu ia mengangkat bahu dan berkata, “Terserah.”

Jjong menggeleng lagi melihat kelakuan Onew. Mereka sudah terbiasa dengan segala sesuatu tentang Onew sekarang. Sebagian besar Onew itu terlalu polos, tetapi cara dia menyampaikan kepolosannya  itu terlihat lucu.

“Jadi, Minho,” kata Jjong, mengubah topik, “Kau puas dengan infonya ? Dia terdengar seperti seorang laki-laki yang baik. “Dia menambahkan sambil bersandar di lokernya.

Minho menatap Jjong sejenak. Tiba-tiba pikiran itu datang kembali ke otaknya. Membayangkan Jjong juga menyukai Sulli seperti yang pernah dipikirkannya sebelumnya. Lidahnya ingin menanyakan langsung tentang hal itu tapi Minho takut kalau-kalau dia salah menyimpulkan.

Atau mungkin dia tidak siap mendengar kalau ternyata itu benar ?

Walau begitu, Minho juga merasa kelakuan Jjong yang aneh akhir-akhir ini. Plus, ia tampaknya terganggu oleh sesuatu …atau mungkin seseorang.

Apakah itu Lee Taemin ? Seperti yang dirasakannya juga ? Tapi kenapa seolah-olah ia mendukung kalau Sulli menjadi kekasih Lee Taemin itu… apakah itu untuk menyembunyikan perasaan sukanya dari Minho ?

“ Bagaimanapun, saya akan memikirkannya nanti. Mungkin begitu,” Minho menjawab pertanyaannya, mengangkat bahu. “Ini masih terlalu dini untuk dikatakan.”

Ya. Tak seorang pun di antara mereka yang mengenal Lee Taemin cukup baik untuk memutuskan seperti apa sesungguhnya dia. Pasti bukan ide yang baik menilai dia dengan hanya berdasarkan apa yang Onew temukan tentang dirinya.

“Kenapa kau tiba-tiba tertarik padanya, sih?” Onew tiba-tiba bertanya, bingung. “Apakah karena dia semakin dekat dengan Sulli ?”

Minho tidak menjawab, dan membuang muka. Tetapi mereka menatapnya, menunggu. Minho yang terus menatap koridor kosong, seperti berfikir keras. Lalu, mendesah.

“Apakah aku terlalu protektif?”

Tiba-tiba Minho bertanya malu-malu pada sahabatnya, mengalihkan matanya pada mereka. Dia akhirnya berhasil meluahkan apa yang ada di pikirannya sejak makan siang tadi.

“Tidak,” kata Jjong secara otomatis, sedangkan Onew menjawab, “Ya.”

“Chingu, kau sahabat terbaiknya,” kata Onew, mengangkat alis. “Bukan pacarnya. Jadi, memikirkan dengan siapa dia bisa dan harus dekat…itu bukan tugasmu.”

“Memikirkan ini kan tidak berarti kau harus menyuruhnya untuk menjauh dari Lee Taemin,” Jjong menyangkal, memasukkan tangan di saku celananya . “Kau hanya melakukan penyelidikan kecil untuk mengetahui siapa dia, sehingga kau tahu dengan siapa sahabatmu itu bergaul. Itu bagiku hanya sekedar jaminan rasa aman karena kau tahu kalau Sulli aman bersamanya.”

“Bukankah sama saja?” Tanya Onew, mengerutkan kening bingung.

“Tidak,” jawab Jjong yakin.

Onew berpikir tentang hal itu. Ada keheningan sejenak sebelum ia tersenyum. “Oh, kau benar,” katanya, sambil mengangguk.

Minho mendesah lagi.

“Pikiranku semakin bingung setiap menitnya. Untuk saat ini tak ada yang bisa kulakukan, meskipun, aku harus puas dengan hasil langkah pertamaku untuk menyelidiki siapa lelaki yang dekat dengan Sulli itu. Tetapi pandangan Jjog dan Onew tentang itu… sama sekali tidak bisa membuat hatiku tenang. Oh… ada apakah dengan diriku ?? ”

“Baiklah,” kata Minho akhirnya, mengangkat tangannya sebagai isyarat pada mereka untuk berhenti bicara dan didengar. “Aku akan membiarkan masalah ini , sementara melihat dan mendengar perkembangannya. Hanya. . . “Minho terdiam, mencari kata yang tepat untuk menyederhanakan hal-hal yang dia ingin sahabat-sahabatnya lakukan dan pada saat yang sama, tidak membuatnya terlihat terlalu protektif.

Jjong dan Onew menunggu dengan penuh perhatian. Minho menatap mereka dengan santai.

“Hanya pastikan kalian mengawasi Lee Taemin untukku,” Minho berkata kepada mereka

Seperti biasa, tanggapan sahabatnya adem saja seolah-olah itu bukan masalah besar.

“Oke,” kata Jjong geli, memutar matanya.

Onew menyeringai. “Gampang… itu sih kecil…,” dia mendengus.

Tapi sebenarnya. . .

Bagi Minho, itu adalah masalah besar.

.

.

Rumah Kediaman Choi

.

Minho mengacak-acak rambutnya saat memasuki kamar , mengenakan t-shirt putih dan piyama gombrong yang disukainya. Dari sudut matanya, dia melirik ke arah kamar Sulli dan melihat lampu kamar tidur Sulli yang masih menyala . Berarti kelinci itu belum masuk sarangnya. Setelah menyibakkan tirai jendela dia melihat Sulli sedang duduk di atas ranjangnya, mengenakan baju piyama hello kitty kesukaannya. Minho melihatnya merentangkan lengannya sambil menggeliat, lalu ia menguap lebar.

Minho tersenyum diam-diam.

Kemudian dia berjalan menuju talkie di kamarnya dan menyalakannya.

“Ada apa denganmu saat makan siang tadi ?” Minho bertanya padanya.

Sulli melompat kaget , hampir terjengkang dari kasurnya. Lalu kepalanya menoleh ke arah jendela. Ketika dia melihat Minho, dia mendesah sambil memutar bola matanya. Ketika pertanyaan Minho mulai dipahaminya, ia mengerutkan kening dan menyalakan talkie-nya.

“Apa maksudmu, Frog?” Tanyanya bingung.

“Well, kau terlihat tidak seperti biasanya hari ini ,” kata Minho ,

Sulli mengangkat bahu dengan ringan. Itu jelas meremehkan Minho.

“Oh,” katanya pendek. “Maksudmu, mengapa aku tidak merajuk, seperti biasa?”

Cara Sulli mengucapkan kata-kata itu terdengar begitu santai dan tak peduli.

“Serius Bunny, apakah arti Lee Taemin bagimu ??” Tembak Minho to the point.

Sulli mengangkat bahu dan berkata riang, “Aku .. kami berteman. Dia baru saja bergabung dengan klub kami, dengan cara yang mengagumkan !! “

Sulli menyeringai lebar!

Degg!

“Choi Sulli, menyeringai seperti pemandu sorak yang genit. Lihat , sepertinya benar dugaanku ! Dia   benar-benar aneh. “

“Aku tahu,” kata Minho , berusaha menampilkan ekspresi wajah kurang tertarik . ” Jiyoung telah bercerita tentang Lee itu.”

“Lee Taemin. Itu nama lengkapnya. Apakah kau melihat kami di kantin siang tadi ? Dia keren, kan ?”

Sulli tersenyum, sambil mondar-mandir di kamarnya.

“Aku tidak berharap seseorang seperti dia akan bergabung dengan klub kami. Dia begitu baik dan … well, menarik ! “tambahnya, sambil tersenyum lembut.

Minho membeku.

Ya, Choi Sulli tersenyum begitu lembut, dia hampir bisa melihat sorot matanya yang berbinar-binar. Dan dia tidak melihat senyumnya yang seperti itu sejak. . . SMP !

Itu hampir empat tahun lalu.

Dia rindu melihatnya tersenyum riang seperti itu .

“ Dan kini dia tersenyum karena kami sedang membicarakan tentang Lee Taemin. Lebih dari apapun… Sulli tersenyum karena dia… anak baru itu ! Sialan !!”

Minho merasakan dorongan tiba-tiba untuk berlari dan memburu Lee Taemin dan memukulinya

Minho menggelengkan kepalanya dengan harapan hal itu bisa mengusir hasrat biadabnya pada Lee Taemin akan terhapus. .

WOW !!

Tampaknya perasaan ingin melindungi Sulli dari pengaruh Lee Taemin itu semakin kuat dalam dirinya. Keinginan untuk mencegah Sulli terluka… dengan tangannya sendiri bukan oleh Onew atau yang lainnya.

“Aku tidak pernah mendengar dia berbicara tentang seseorang seperti ini sebelumnya,” Minho tertawa kaget dan ketakutan . “Ini sangat aneh.”

Itu aneh.

“Kalau begitu, Dia membuat klub Buku lebih menyenangkan dan lebih baik bagimu , tentunya,” katanya, mencoba tersenyum dan menggoda Sulli . “Wow. Kau benar-benar menyukainya, kan? “

Senyum Sulli langsung menghilang.

Matanya melebar karena terkejut dengan apa yang Minho katakan. Dia jelas tidak mengharapkan kalimat sambutan seperti itu dari sahabatnya.

“Apa? Tidak, “katanya tak percaya, menatap Minho seolah-olah dia mahluk asing yang tersasar ke bumi.

Melihat kebingungannya, Minho memutuskan untuk menggodanya, berusaha menyembunyikan perasaan campur aduk dalam dirinya.

“Fuihh, perasaan persaudaraan seperti itu benar-benar menyiksa ternyata. Aku baru memahami perasaan Hae hyung untuk Sulli .” pikirnya .

“C’mon, ia jelas menyukaimu juga,” kata minho sambil menyeringai.

“Tidak” Dia mengerutkan kening sekarang. “Dia menyukai  Jiyoung.”

“Bunny, kau sudah melihat cara dia menatapmu ?”

“Berhentilah berhalusinasi, Frog,” Sulli membentak Minho . “Aku cukup yakin dia suka Jiyoung. Lagi pula, dia hanya teman … tidak lebih !!”

Sulli berusaha berkata tegas, berusaha terdengar dia cukup yakin tentang hal itu.

Minho mendesah.

“ Tidak ada gunanya berdebat dengannya. Dia begitu keras kepala , dia tidak akan percaya apa pun yang kukatakan. Itu adalah salah satu sifat Sulli.. keras kepala kalau yakin akan sesuatu. Dan masalah lainnya, dia tidak akan mengerti bagaimana cara pria menatapnya dengan maksud lain. Dia tidak pernah punya pacar dalam hidupnya, bahkan hubungan cinta monyet atau apa pun. Jadi dia tidak tahu kapan seseorang sudah jatuh hati pada dirinya. Dia begitu polos. Mungkin itu sebabnya aku terlalu protektif terhadap dirinya kadang-kadang … Oh… Oke, sebagian besar waktuku mungkin.”

“Jangan khawatir, Frog ,” tiba-tiba berkata Sulli. “Kau akan selalu menjadi teman terbaikku , Jangan cemburu padanya, oke !!” tambahnya menggoda.

“ What ??  Dia pikir aku cemburu?”

Minho hampir tertawa.

“Aku tidak khawatir sama sekali,” Minho meyakinkannya , seyakin-yakinnya . “Kau camkan, aku sudah tahu bahwa tidak akan ada yang bisa menggantikanku di hatimu …bahkan jika mereka mencoba.”

Minho yakin karena dia adalah satu-satunya teman cowok Sulli selama ini. Dan itu sudah berlangsung bertahun-tahun… tentunya tak ada yang bisa menggantikannya, bukan ? Terkecuali abangnya sendiri.

“Itu karena kau terlalu percaya diri, Frog,”

Sulli mendengus kemudian menjulurkan lidah ke arah sahabatnya.

Minho tertawa terbahak-bahak.

“Are you sure about it ? maksudku ini karena aku terlalu percaya diri ? Kau tahu Bunny, adalah fakta bahwa aku menjadi magnet buat gadis-gadis  di sekolah .”

“ Oh yeah !! Gadis-gadis yang matanya mereka simpan di bokongmu !’ Sulli berteriak.

“ Karena bokongku cukup seksi di antara anggota tim lainnya !” Minho nyengir , “ Ataukah kau pikir Jjong lebih menarik dari aku ?”

Minho membawa nama Jjong ke dalam percakapan mereka, sedikit berharap tanggapan Sulli yang mungkin bisa membuat mereka berdua jadi pasangan di kemudian hari. Ia memutuskan akan merelakan Jjong dengan Sulli, dari pada Lee Taemin itu.

“Oke,” kata Sulli, terlihat serius. “Mungkin Jjong sedikit lebih manis… sedikit.”

“Sedikit?”Minho mendesak dengan jantung berdebar.

“However ,” kata Sulli , sambil melambaikan tangannya. Dia berjalan menuju tempat tidurnya dan berkata,

“Sekarang, selamat malam. Aku mau tidur. “

Minho menatap Sulli yang berjalan ke kasurnya, kemudian mematikan lampu. Tak ada lagi yang bisa dilihatnya, tetapi dia masih memegang talkie-nya. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“ Sulli melihat Jjong lebih manis dari aku ?” Minho merasa dadanya tiba-tiba sesak.

“Apakah itu berarti kau mulai menyukai Jjong?” Tanya Minho tak percaya. “Apakah kau yakin Choi Sulli?”

“Tidak.. oh noo … Sulli diculik oleh Goblin ,” Sulli membalas,

Ternyata Sulli belum tidur, dan itu memuat jantung Minho terlonjak mendengar kata-katanya yang sarkastis kembali. Ada denyut kehidupan baru dalam dirinya… sebuah harapan, bahwa Sulli tidak berubah sejauh yang ditakutkannya.

“Kalau bukan Sulli…kau ini siapa ? Kelinci dari luar angkasa ?? “ candanya.

“Kau sedang berbicara dengan alien,” tambah Sulli sinis.

Minho tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Itu adalah Sulli…. dia tahu. Sulli-nya telah kembali. Sesuatu yang berat serasa terangkat dari kepalanya dan terbang menuju langit ke sembilan…. jika ada.

“Itu lebih menyerupai kamu, Bunny,”

Minho berkomentar. “Peniruan yang bagus, alien.”

Sulli membuka selimutnya , menyalakan kembali lampu mejanya sehingga Minho bisa melihatnya berbaring dengan selimut menutup sampai ke perutnya. Kemudian Sulli menoleh ke arah jendela dan mengerang putus asa,

“Sungguh, Minho. Aku ingin tidur. Aku merasa sangat lelah. Les tambahan yang kuikuti hari ini begitu banyak menghitung. Otakku sakit dan kepalaku hampir pecah. Lalu aku tidak tahu , ternyata bersikap ceria itu membutuhkan banyak energi. “

Dia merengut pada Minho seolah-olah dia menyalahkan Minho atas semuanya. Tetapi memang Minho ada terlibat di dalamnya. Dalam penampilan “ceria” yang dilakukannya seharian itu di sekolah. Untuk apa ? Untuk membuat Minho terkesan karena malam sebelumnya Minho bercerita tentang type gadis yang disukainya. Type gadis yang bisa membuatnya tertawa dan ceria !!

.

Flash Back

Minho berjalan bersisian dengan Sulli, saat mereka turun dari bis. Langit malam terlihat begitu bening, hanya satu dua bintang yang tampak.

“ Bagaimana les tambahanmu, Bunny ?”

“ Fisika… aku selalu tidak mengerti tentang fisika. Mengapa aku harus meributkan berapa besar daya listrik yang kupakai untuk menyalakan TV atau komputer ? Tidak bisakah guru-guru itu menyisakan ilmu seperti itu kepada ahlinya ?” omel Sulli, teringat kembali bagaimana dia harus mengulang-ulang mengerjakan satu soal sementara yang lain sudah menginjak soal ke-3 dalam les tadi.

“ Mmm… mungkin guru-guru itu ingin menemukan ahli-ahli baru dari generasi kita.”

“ Kalau begitu, mereka bisa mencarinya sendiri tanpa harus menyiksa murid-murid sepertiku…”

Minho tertawa, suaranya terdengar jernih di tengah keheningan malam… membuat jantung Sulli bergetar.

“ Bunny, mereka tidak akan bisa mencarinya kalau tidak menguji murid-muridnya dengan soal-soal yang hebat. “

“ Dan seharusnya mereka tahu, aku bukan murid yang hebat !!” gerutu Sulli sedih, “ Tidak seperti kau, Minho.”

“ Oh benar, kau tidak hebat dalam fisika. Tetapi kau hebat dalam merangkai kata. Ingatlah, tidak semua klub pecinta buku yang bisa menjadi anggota redaksi buletin sekolah. Berarti kau hebat di sisi lainnya, Bunny.” Kata Minho tangannya terangkat dan mengelus puncak kepala Sulli.

“ Trims, Frog.” Sulli tersenyum ,” Lalu bagaimana latihanmu ?”

“ Great !! Anak-anak baru dalam klub memiliki keahlian yang mengagumkan. Kami yakin akan bisa memenangkan pertandingan basket musim mendatang.”

“ Baguslah…” gumam Sulli, ada rasa sedih mengingat kalau klub basket Galaxy menang berarti akan ada pesta…berarti akan ada “pertunjukkan” kemesraan Krystal dan Minho… walaupun itu memang sudah seharusnya, tetap saja hatinya sakit kalau harus memikirkannya.

“ Kau tampaknyta tidak antusias, Bunny !”

“ Tidakmungkin … ini karena aku capek saja ! Aku tidak bisa terus ceria seperti Krystal !!”

Minho menoleh, alisnya terangkat. Matanya menatap wajah Sulli yang menunduk seperti sedang melihat jalanan. Dia tahu, Sulli tak pernah menyukai Krystal, satu hal yang membuatnya sedih.

“Umm… mungkin itulah sebabnya aku menyukai Krystal. Dia selalu ceria walau lelah dan kesal, keceriaannya bisa menular padaku juga.”

Sulli mengangguk, “ Ya, itu bagus.”

“ Oh …jadi dia menyukai Krystal karena dia ceria ? Begitukah ??”

“ Kau sudah sampai, Bunny. Beristirahatlah. “

“ Ugh..oke.. bye Minho !”

“ Bye Bunny…” Minho tersenyum, lalu melangkah menuju rumahnya.

Sulli masih berdiri di tempatnya sampai dia melihat Minho membuka pintu rumahnya, dan masuk.

“ Bye Frog…” desahnya, sebelum berbalik dan membuka kunci rumahnya ,” I love you…”

End of Flash Back

.

Jadi, karena kalimat itulah akhirnya dia berusaha untuk menampilkan sikap ceria sepanjang hari. Tetapi tetap saja, hasilnya Minho pergi darinya dan lebih memilih Krystal… Mungkin dia hanya bisa mendapatkan posisi “SAHABAT” dalam hati Minho. Hanya itu, tidak lebih.

“Sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana  kau bisa melakukannya.”kata Minho jujur.

Sulli menarik nafas panjang dan menutup matanya. Tak tahu apa yang harus diucapkannya. Tentunya akan konyol kalau Minho tahu alasan sebenarnya dia berbuat begitu.

Minho tertawa. Kemudian, seolah bersikap memperolok sahabatnya dia berkata setengah berseloroh.

“Hei, karena kau sekarang telah menjadi seorang gadis ceria dan lincah….  mungkin kau bisa bergabung dengan tim cheer leader dan menjadi pemandu sorak.”

Sulli seketika duduk dan menatap Minho tak percaya, matanya melebar memandang dengan jijik.

“Omona !” Gumamnya, menutupi mulutnya seolah-olah dia ingin muntah.

Minho tertawa melihat reaksinya.

Sulli menurunkan tangannya dari mulutnya sambil berkata sinis,

” Ohh…tawaran yang manis !! Ya, aku yakin Krystal akan suka itu.”

Dengan kata-kata itu, ia kembali berbaring di tempat tidurnya, lengannya terentang.

Minho berhenti tertawa dan membuang muka.

Yah, dia tidak punya komentar untuk itu . Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Sulli dan Krystal tidak menyukai satu sama lain.

“Tunggu, mungkin bukan “tidak saling menyukai”. Mereka berasal dari “dunia berbeda” , Mereka benar-benar memiliki kesamaan bila bisa kompak… kecuali kalau aku salah menilai .”

Minho sudah pernah mencoba untuk membujuk mereka nongkrong bersama. Tapi mereka tidak pernah mau , yang terjadi waktu itu adalah, Sulli meninju tangannya dengan sangat keras dan menyakitkan. Krystal tidak bicara dengannya selama tiga hari. Setelah kejadian itu, Minho tidak ingin memaksa mereka berbaikkan. Tidak akan pernah, jika akibatnya dia menjadi manusia paling menderita seperti itu. Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan mereka lakukan kepadanya jika dia memaksa mereka.

“Kau tidak akan pernah tahu,”

Minho mengangkat bahu, kemudian duduk di dekat jendela, menatap bintang-bintang.

“Kalian mungkin bisa menjadi teman,” goda Minho sambil menyeringai. Tapi tentu saja, dia tahu bahwa itu sangat tidak mungkin terjadi.
“Maaf, tapi aku tidak tertarik,” gumamnya Sulli tanpa basa-basi.
“Apa?” Tanya Minho bingung karena dia tidak mendengar gumaman Sulli dengan jelas. Tapi ketika dia melihat, Sulli sudah tertidur lelap tanpa mematikan lampu mejanya.
Minho tersenyum dan mendongak menatap bintang lagi.
“Mimpi indah, Bunny.”

Advertisements

62 thoughts on “THE hunk NEXT door (5)

  1. telat komen 😦
    lagi selalu ada yang bikin senyum sampai sebel tiap baca ff kak dina.
    minho buta banget si yak??
    nggak ngerti gitu kalo sul suka ama dia.
    buat kakak dina semangat buat kelanjutannya!!

  2. Hihi mana mungkin sulli seneng karena taemin. Sulli kan sukanya sama minho. Dan sebaliknya. Minho mulai terlihat menyukai sulli. Tapi, masi belum terbuka mata batinnya-_-
    Hm, yakin taemin suka sama jiyoung? Kayaknya suka sama sulli deh??? Molla

    Wah, aku telat banget banget banget bacanya. Alasannya, tidak lain tidak bukan karena sibuk dengan tugas sekolah. Mian oen. Aku bacanya nyicil yah… hahahaa

  3. Minho gk sadar2, klw dia itu suka sama sulli..
    Jdi taemin sukanya sama jiyoung..
    Ya ampun, sulli bela2in terlihat ceria di dpn minho hanya karena minho suka sama krystal karena keceriaannya..
    Menurut q tdk perlu seperti itu..cukup menjadi diri sendiri, dg begitu orang lain akan menyukai kita..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s