THE hunk NEXT door (15)

The Hunk Next Door

.

Judul    :  THE hunk NEXT door

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli,Jung Krystal,Lee Taemin, Kang Ji Young,dll.

Genre : Romance, Friendship

Apakah Persahabatan Platonis antara pria dan wanita itu mungkin ?

♥♥

White Christmast

Sulli berdiri di depan meja makan, menatap makanan yang ditata rapi di atasnya. Apa yang bisa dia katakan? Ibunya adalah seorang juru masak yang hebat , itu tidak bisa dipungkiri.

Ada masakan korea lengkap, bahkan ibunya menyelipkan beberapa masakan eropa yang selalu disukai di malam natal. Dia bisa merasakan air liurnya hampir menetes hanya dengan menatap makanan-makanan itu.

“Hungry?”

Sulli menoleh dan melihat Donghae , kakaknya sedang berjalan ke arahnya.

“Siapa yang tidak akan lapar ? Lihatlah semua ini, ” kata Sulli dengan muka mendamba, masih menatap meja. “ Aku benar-benar ingin makan sekarang. “

“Tapi tamunya belum datang,” tambah Donghae.

“Ugh, kenyataan yang menyakitkan !”.

“Aku tahu,” kata Sulli tegas “Tentu saja aku tidak akan makan sebelum mereka datang. Sepertinya aku tidak akan mati kelaparan dengan menahan nafsu makanku beberapa menit ke depan.. “

Mengingat siapa yang akan datang, mau tak mau perut Sulli seperti terkena kram mendadak. Melilit dengan cara yang aneh… bukan karena menahan lapar, tetapi karena membayangkan apa yang akan terjadi bila nanti dia harus berhadapan dengan tamu yang ditunggu keluarganya ? Lucu sekali , bagaimana dia masih bisa berbicara konyol bersenda gurau seperti ini dengan kakaknya, padahal di saat bersamaan dia menjadi sangat gugup ?

Dia harap dirinya bisa terlihat tenang bila nanti melihat Minho. Dia tidak berbicara dengannya untuk waktu yang lama. Pembicaraan terakhirnya sejak mereka tidak lagi bersama adalah saat mereka bertemu di kelas Fisika. Tapi itu bukan jenis pembicaraan yang manis. Walau seharusnya mereka diskusi tentang proyeknya, diskusinya sama sekali tidak lancar. Banyak saling diam dan berfikir sendiri. Kalaupun ada tanya jawab, hanya sepatah dua patah kata…tidak pernah benar-benar bercakap-cakap.. Untunglah Minho cukup pandai saat mempresentasikan hasil proyek mereka, membuat seolah-olah itu proyek bersama… padahal hanya dia yang bekerja menyelesaikannya.

“Semua sudah diatur,” kata Ibunya dengan nada puas saat sambil dari dapur memegang mangkuk salad. Dia tersenyum lebar pada anak-anaknya yang terlihat sudah rapi.

Choi Wonhee mengambil mangkuk dari istrinya dan meletakkannya di meja makan.

.

Sulli hampir melompat ketika bel pintu berbunyi.

“ Aneh, kenapa suara bel pintu terdengar lima kali lebih keras dari biasanya…”fikirnya.

“ Hae…” kata ayahnya pada kakaknya Donghae yang sedang memainkan handphone.

“Aku mengerti,” kata Donghae, meninggalkan ruang makan untuk membukakan pintu.

Tidak tahu mengapa, Sulli mengikutinya. Ketika Donghae membuka pintu, Sulli melihat ibunya Minho memegang wadah berukuran sedang, ayahnya berdiri di sampingnya Mereka datang dan disambut hangat oleh Donghae dan orang tuanya.

Dan setelah mereka masuk, Minho baru sampai di undakan rumah. Dia mengenakan sweater biru polos dan celana jins di bawah mantel musim dingin. Rambutnya ditutupi dengan debu salju. Sebelum masuk ke dalam, ia menggelengkan kepalanya untuk menghapus butiran halus salju dari rambutnya.

Sulli dalam diam melihat Donghae mengikuti orang tua Minho ke ruang makan. Jelas, mereka meninggalkan Sulli berdiri di pintu sendirian…. dengan Minho.

“ Hai Sulli…” Minho mencoba tersenyum, tapi bibirnya terasa kaku.

“ Hai…” jawab Sulli ragu, mematung di jalan masuk seperti bingung hendak ke luar atau masuk rumah.

“Masuklah,” kata Sulli kepadanya, bergerak menyisih ke pinggir memberi jalan.. “Di luar dingin.”

Selama bicara Sulli tak berani menatapnya, dia berbuat seolah-olah melihat sesuatu jauh di jalanan. Minho tidak menjawab, dia membuka jaketnya sebelum melangkah masuk. Sulli kemudian menutup pintu dan mereka mengikuti semua orang menuju ruang makan untuk mulai makan malam.

    ‘  


Dengan sangat mengejutkan Sulli, makan malam yang ditakutinya itu berlangsung dengan baik-baik saja. Makanannya lezat, obrolannya hangat… walau itu hanya sebatas obrolan yang temanya hal ringan serta umum. Sepanjang makan malam Sulli lebih memilih diam dan menikmati makan malamnya, sesekali menjawab pertanyaan orang tua Minho dengan sopan. Entah menyadari kenehan sikap anak-anaknya atau tidak, orang-orang tua mereka tetap berbincang hangat.

Setelah makan malam , orang tuanya menyambung obrolan mereka di ruang tamu, sementara Donghae sedang bercakap-cakap dengan Minho di luar sana … di teras.

Sulli, di sisi lain, duduk di sofa, berjuang dengan ide apakah dia harus memberikan hadiah yang dia siapkan untuk Minho atau tidak.

“ Makan malam yang hebat ! Setiap orang punya teman ngobrol, sedangkan aku harus menambah tebal kaca mataku dengan menonton acara televisi yang sedang menayangkan drama romantis. Ironi sekali.” Pikir Sulli sinis.

Sulli melirik ke arah orang tuanya yang sedang menikmati kue-kue kering yang dibawa ibunya Minho sebagai buah tangan. Kemudian ia melihat ke arah pintu teras yang terbuka sedikit, berusaha menajamkan telinganya untuk mendengar kira-kira apa yang dibicarakan kakaknya dengan Minho.

“ Apakah Hae oppa membicarakan keluhaku kepadanya tentang Krystal ? Kuharap tidak, aku tak mau Minho memiliki ide buruk tentang itu. Dan… apakah aku harus memberinya hadiah natal seperti biasa ? Mengapa aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya dan mempersiapkannya ? Bahkan aku tak sempat membungkusnya !!” Sulli mulai panik ,” Bagaimana caraku memberikannya ? Apakah Minho mau menerima ? Apa yang harus kukatakan padanya nanti ?”

Sulli duduk gelisah, merasa perlu membuka kamus untuk mengumpulkan kosa kata yang sekiranya pantas untuk memulai sebuah percakapan yang… pastinya akan canggung dan tegang.

“ Aish… kenapa aku heboh sendiri ? Sepertinya Minho tak peduli dan tak tertarik untuk berbicara lagi denganku.”

Sulli meringis mengingat percakapan singkatnya yang mereka ucapkan dengan kaku di pintu masuk tadi. Pikirannya buyar ketika kakaknya melangkah masuk dengan bersiul dan langsung menuju orang tua mereka yang sedang mengobrol. Dengan santaij, Donghae memposisikan diri di antara orang tuanya yang sedang berbincang soal politik dan dia mulai membuka buku yang sejak kemarin dibacanya.

“ Dasar kutu buku !” gumam Sulli.

Kini kepalaya perlahan-lahan bergerak, hingga berpaling ke arah jendela teras. Dia melihat Minho sedang duduk di pagar pembatas, matanya menatap jauh ke depan.

“ Minho sedang duduk sendirian di teras, tampak mellow . Haruskah aku pergi berbicara dengannya? Apakah dia tak akan beranggapan aku terlalu agresif dengan pengakuanku dulu ? Apakah itu akan berpengaruh pada pendapatnya tentang diriku ? Ya ampun, apa yang aku pikirkan? Aku hanya akan memberinya sedikit semangat di malam natal ini. Tak ada salahnya dengan megucapkan selamat natal, bukan ? Akan terkesan kasar jika aku sebagai tuan rumah meninggalkannya sendirian seperti itu sepanjang malam. Lebih lagi, ia pernah menjadi sahabatku, bagaimana pun Mungkin dia telah melupakan pengakuan cintaku yang tolol itu. Mungkin dia menganggap aku sedang mabuk saat mengucapkannya… Tetapi bagaimana kalau dia selama ini bersikap kaku karena dia masih mengingatnya ?”

Sulli mendesah. Kegiatannya sebagai tim editor buletin Galaxy Society menggemblengnya dengan tanggung jawab tinggi. Apapun yang dilemparkan buletin kemudian beritanya menimbulkan reaksi yang tidak menyenangkan, dia harus siap dengan resikonya. Dia sudah mulai terampil menghadapi kritikan dan cemoohan yang menyudutkannya. Jadi, masih ingat atau sudah lupa… tetap dirinya harus mengambil resiko dari “pengakuan cintanya” pada Minho malam itu.

Justru mungkin, malam ini adalah kesempatan terbaik untuk menjernihkan semuanya, karena setelah melangkah ke luar dari rumahnya mungkin Minho akan kembali menjadi orang asing. Setidaknya, kalau pun malam ini dia bersikap seperti orang asing, Minho tak akan lari karena diajaknya bicara. Bagaimanapun ayah ibunya aka marah bila Minho tiba-tiba pulang tanpa pamit.

“ Benar, aku akan pergi ke luar dan menemaninya sepanjang malam walaupun kemudian kami berdua bisa mati beku karena kedinginan di sana. “ pikir Sulli ,” Oh Tuhan, aku rela mati beku jika itu bersama Minho….”

Sulli menepuk jidatnya dengan kesal.

“ Ugh, bodoh kau Sulli !! Masih sempatkah kau berpikir begitu, sementara mungkin dia ingin menyingkir secepatnya dari sisimu ?”

Sulli diam-diam berdiri dan pergi ke luar. Tangannya gemetar saat membuka pintu

“Oh, ayolah! Dia tidak akan memakanmu hidup-hidup, Sulli !! Tapi mengapa tanganku gemetar?”.

Sulli keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Kepala Minho berpaling ke arahnya begitu menyadari ada langkah di belakangnya. Kilau matanya mendarat di sosok Sulli yang membeku dekat pintu yang tertutup tadi.. Sejenak tatapan mereka beradu. Keduanya terdiam dan menjadi kikuk, sama-sama memalingkan pandangan ke arah bersebrangan.

“ Ya Tuhan hatiku tergetar hanya dengan melihat matanya. Tetapi melihatnya duduk bersandar dengan wajah seperti itu… membuat semua hal yang menyakitiku selama sebulan ini perlahan memudar. Aku benar-benar merindukan melihat kembali tatapan mata belo dan selalu berkilat jahil itu.”

Sulli tersadar dari lamunannya, untuk menyelamatkan diri dari kecurigaan Minho, Sulli berjalan mendekat walau hatinya kebat-kebit dan lututnya gemetar. Kemudian dia duduk di kursi di sampingnya. Suasana menjadi hening…

canggung,

hanya diam. . .

Sulli menarik nafas dalam-dalam, matanya perlahan kembali ke arah Minho yang masih melihat ke halaman yang mulai ditutupi lapisan tipis salju. Sulli menelan ludah dengan sulit, jantungnya memukul ke lehernya sehingga semua kata-kata yang dipersiapkannya tadi terhambat di tenggorokannya.

Kemudian dengan mengejutkan Minho justru yang memecahkan keheningan.

“Selamat Natal.”

Suaranya berat dan terdengar serasi sekali dengan suasana dingin di malam desember. Sulli berpaling dan kecewa melihat Minho masih tak menatapny

“ Sialan, dia bicara padaku tanpa menatapku ! Sebenci itukah dia padaku ?”

Minho tiba-tiba menyodorkan cd player berbentuk kotak kecil , kepalanya masih menunduk. Sulli tertegun.

“Apa yang harus kulakukan dengan CD player ? Aku sudah punya satu di kamar tidurku. Dan terakhir kali kuperiksa, alat itu tidak rusak.”

“Apa ini?” Sulli bertanya, dahinya berkerut bingung.

“Ini adalah CD player, bodoh,” jawab Minho, memutar matanya.

Dada Sulli terasa hangat mendengar kembali suara makian yang keluar dari bibirnya, betapa dia merindukan makian-makian yang seperti itu.

“Duh Sulli, jangan ge-er !! “

Tapi kenapa kau memberikan itu padaku ?”

“Nyalakan saja,” kata Minho dengan nada memerintah, tetapi dengan suara lebih lembut… tidak sinis.

Sulli mengikuti permintaannya, mengambil cd player kecil itu dan menghidupkannya Suara berdenting terdengar jelas dari earphone-nya…jernih dan bening dalam keheningan. .

“ Kedengarannya seperti suara gitar .. Aku tidak benar-benar mengerti permainan gitar, karena jelas, aku bukan musisi ….. Aku hanya menyukai musik. Seperti juga Minho. Kami menyukai berbagai jenis musik. Sekarang dia memberikan ini… Jadi apa maksudnya ? “

“Wow,” kata Sulli takjub, “Terima kasih. Kedengarannya ini suara musik yang nadanya… sedikit harmonis.. “

Minho tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, mungkin menyadari nada sinis yang tersembunyi dibalik kata-kata Sulli.

“Apakah kau tahu suara apa itu?” Tanya Minho ketika ia berhenti tertawa, kini wajah mereka berhadapan.

“Itu adalah chord gitar,kan ?” Sulli menjawab setengah yakin.

“Ya… dan apakah kau memiliki ide chord apa yang dimainkan itu?”

“ Oke, serius. Aku tidak tahu ke arah mana pembicaraannya ini. Aku benar-benar bingung. Tapi aku gembira pada caranya berbicara padaku… Well, Dia seharusnya tahu sekali kalau aku tak tahu jawabannya.. tampaknya dia sudah kembali ke sifatnya dulu yang suka membuatku jengkel.”.

“Kau tahu dengan jelas bahwa kau lebih mengetahui jawabannya,” kata Sulli , menghindari menjawabnya. “Kenapa kau tidak menjawabnya sendiri?”

Minho tersenyum miring. “Ini adalah D mayor.”

“Oh. Begitu ya…, “bisik Sulli tidak sadar, dia tiba-tiba merasa semakin bodoh di hadapannya.. ” “ Tunggu, setahuku kau tidak bisa bermain gitar. Apakah kau sekarang bermain gitar? Aku tidak tahu kau bisa….”

Kesadaran itu membuat satu sudut di hati Sulli menjadi perih… ternyata dalam sebulan ini di ketinggalan informasi begitu banyak tentang dia.

Tidak, tentu saja tidak,” jawab Minho cepat. “Aku baru saja mengambilnya dari internet. Ada banyak lagu di dalamnya… lagu favoritmu. Jangan kecewa karena semuanya instrumental, dan dimainkan oleh gitar . “

“Wow !!” Sulli mencoba menghilangkan nada ironisnya, melebarkan mata untuk efek yang lebih baik… padahal benaknya tidak mengerti maksud minho memberinya itu sebagai kado natal. Hanya saja kalau itu benar… Minho pasti menyisihkan banyak waktu untuk membuatnya.

“ Aku yakin kau membuang banyak waktumu untuk mempersiapkan hadiah ini.. Browsing lagu, mendownloadnya dan kemudian menyimpannya dalam cd.. Pasti biayanya mahal untuk hal ilegal seperti itu. Terimakasih, Froggy… “

Minho menyeringai dengan wajah berseri . “Sama-sama. Aku membuatnya sendiri”

Sungguh ajaib !!

Mereka lupa betapa mudahnya untuk berbicara satu sama lain. Percakapan yang diawali rasa ragu dan cemas itu mengalir jernih dan tanpa kendala apapun. Berapa lama mereka tak pernah bercakap-cakap sesantai sekarang ?? Dan ternyata semua kecanggungan dan kekakuan itu mencair dengan begitu mudahnya… melegakan sekali .

Sejujurnya, Sulli sangat menghargai pemberian Minho kepadanya… terutama upayanya yang mempersiapkan itu semua tak bisa diukur dengan uang. Bukankah itu menunjukkan perhatian dan kepedulian ? Bahkan ketika mereka bukan sahabat lagi, Minho masih peduli untuk memberikannya hadiah. Hadiah berupa lagu kesayangannya pula ! Bayangkan, Minho masih mengingat lagu-lagu kesayangannya !! Apakah dia pantas untuk bergembira ?

Sulli mendesah, berpikir bahwa dia sudah waktunya untuk memberi Minho hadiah yang disimpannya di balik saku jaketnya.

“Jadi, kapan kau akan memberiku hadiah ?” tiba-tiba Minho bertanya tak sabar, matanya berkilat-kilat seperti anak kecil yang mengharapkan sekotak gula-gula dari santa.

Sulli segera menatapnya, matanya melebar sedikit. Dia membuang muka dengan panik dan kemudian berdeham. Dia seharusnya sudah tahu bahwa Minho akan berharap mendapat hadiah juga…apalagi di saat ulang tahunnya kemarin mereka bahkan tidak bertegur sapa.

Sulli menunduk dan mengeluarkan sebuah CD dari balik jaketnya . Dia berpaling ke Minho. Lalu menyerahkan CD itu kepadanya.

“Ini adalah gabungan dari permainan basketmu sejak SMP,” Sulli menjelaskan , “ Aku mengeditnya… mulai dari tembakan pertamamu yang sukses ketika kau di kelas tujuh, pertandingan pertamamu, dan kemudian beberapa pertandingan terakhirmu yang luar biasa . Kuharap kau menyukainya !”

“Amazing… ,” katanya tersenyum dengan tulus.

Sulli mengangguk mencoba menepis rasa bahagianya . “Aku tahu. Aku mengagumkan. “

Minho menatap Sulli , tetapi segera mengalihkan matanya kembali saat mata mereka bertemu. Sulli mengikuti arah pandangannya dan melihat salju mulai turun dengan butiran lebih besar. Minho berdiri dan mengulurkan tangannya di pagar teras sambil menatap langit malam.

 

“White Christmas,”

Sulli mendengar Minho bergumam di sisinya.

“Ya,” Sulli menarik napas, memperhatikan uap napasnya berubah menjadi kabut.

Mereka terdiam sejenak, menikmati pemandangan di hadapan mereka yang telah membawa ingatan mereka pada malam-malam natal sebelumnya…. sewaktu persahabatan tidak pernah menjadi masalah buat keduanya. . Setelah beberapa menit, Sulli kembali berpaling ke arah Minho. Dia menatapnya dari arah sisi… menghafalkan raut wajahnya yang sudah seperti bertahun-tahun tak pernah dipandanginya dari dekat. Mungkin karena merasakan tatapannya, Minho juga menoleh sehingga ia balik menatapnya

“ Aku ingat ketika natal pertama kita di rumah ini. Waktu itu suasananya mirip seperti ini. Salju menutupi sebagian besar halaman rumah dan pohon-pohon… Walaupun aku baru di sini, aku sangat ingin berkenalan dengan kakakmu . Saat itu kukira gadis kecil jangkung yang gemar menjerit-jerit itu adalah kakaknya Hae hyung. “

Sulli tersenyum, mengingat bagaimana dulu Minho memanggilnya noona karena postur tubuhnya yang lebih tinggi dibandingkan kakaknya.

“ Ya, aku ingat… kau memanggilku noona berkali-kali. Aku tidak ingat kapan kau berhenti memanggilku begitu. Padahal aku sudah senang karena… well, sesungguhnya aku sangat menginginkan adik…”

“ Saat aku masuk play grup. Pertama kali aku melangkah memasuki halaman sekolah… aku takut dan mencari siapa orang yang kukenal. Disana aku melihatmu duduk dengan ibumu, aku merasa senang. Tetapi kemudian kaget kau duduk dalam ruangan yang sama denganku. Dan saat kutanyakan pada eomma… umurmu ternyata tidak jauh dariku dan tak sepatutnya aku memanggilmu noona karena umurku lebih tua tiga bulan darimu. Sejak itulah aku berhenti memanggilmu noona.”

“ Aku tak mengira, kau menjadi lebih dekat denganku dibandingkan Hae oppa.”

“ Hae hyung sangat galak, dia suka membawa-bawa anjing kecil itu kalau jalan-jalan. Aku benci anjing , dia menyalak terlalu keras kalau malam hari!! Karena itu aku menjadi dekat denganmu.”

“ Whoopy … dia sudah mati karena terlindas mobil. Walau aku tak menyukainya juga… dia suka mengendus-ngendus kakiku kalau duduk nonton televisi.”

Sulli tertawa membayangkan anjing kampung yang dulu dipelihara Donghae. Setelah anjing itu mati, orang tua mereka tak mengijinkan ada binatang peliharaan lagi di rumah.

“ Tentu saja kau tak akan menyukai anjing, karena anjing itu suka memakan kelinci… Bunny !!”

“ Anjing juga suka makan katak…Froggy !!” timpal Sulli.

Keduanya berpandangan dan kemudian tertawa serempak. Keduanya merasa nyaman dengan percakapan yang telah membuyarkan kekakuan diantara mereka, seolah sebelum detik itu mereka tak pernah saling diam selama beberapa minggu.

“ Bunny…” Minho menarik nafas,” .. sepertinya harus mendaftarkan nama itu sebagai nama tengahmu. Dan aku pemilik hak patennya. ”

Sulli terdiam.

Ia teringat kembali ketika Minho mengejeknya dengan panggilan itu, waktu pertama kalinya. Kemudian karena ejekan itu, ibunya Minho datang menyeret anaknya ke rumah dan disuruhnya meminta maaf kepada Sulli yang sedang menangis karena kelakuannya itu.

.

Flash back

Sulli tidur telungkup di atas sofa dengan pipi berurai air mata, sementara ibunya mengusap-usap rambutnya dengan lembut.

“ Anak laki-laki itu menyebutku seperti kelinci, eomma….” Sulli mengadu, sementara Donghae kakaknya menatap dengan tak sabar.

“ Dia hanya main-main,sayang …tidak bermaksud sungguhan.”

“ Lagipula kau memang seperti kelinci, Sulli “ Donghae menimpali, dia tidak gentar ketika ibunya melotot ke arahnya ,” Benar eomma, teman-temanku mengatakan gigi Sulli seperti gigi kelinci….”

“ Choi Donghae !!” ibunya membentak.

“ Bukan aku yang ngomong eomma, tetapi kawan-kawanku.” Donghae berkata dengan keras kepala,” Mereka bilang dua gigi depannya besar seperti tokoh “bunny” dalam film kartun.”

“ Itu dia !! Anak itu menyebutku “bunny” sambil menggerak-gerakkan tangan di kepala, meniru telinga kelinci.” Sulli kembali meraung.

“ Oh itu memang keterlaluan !!” kata Donghae mengepalkan tinju kecilnya,” Biar nanti kuhajar dia !”

“Choi Donghae !” ibunya berdiri ,” Tidak ada lagi perkelahian ! Kau jangan membesar-besarkan. Sekarang naiklah ke atas dan masuk kamarmu !!”

“ Tapi eomma… sebentar lagi film kartun…”

“ Tidak ada film kartun.” Nyonya Choi berkata tegas,” Masuk kamar atau appa akan mengetahui mulutmu yang lancang.”

“ Baiklah…” pundak kecil Donghae langsung melorot, kemudian dia melangkah menuju loteng untuk masuk ke kamar tidurnya.

Begitu Donghae menghilang di puncak tangga, terdengar suara ketukan di pintu.

“ Ada tamu. Sulli sayang, berhentilah menangis… Eomma harus membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.”

Sulli berusaha menghapus pipinya yang masih basah, dia tidak mau terlihat “kurang bagus” di hadapan tamu ibunya. Dan saat dia menggunakan roknya untuk menghapus air matanya, seorang wanita sepantaran ibunya masuk dengan membawa anak lelaki yang dibencinya…sangat dibencinya !

“ Ayo, Choi Minho… minta maaf pada temanmu !!”

Anak lelaki bermata besar itu menatap Sulli dengan tak berkedip, tetapi tak mengucapkan sepatah kata pun. Sulli balik melotot ke arahnya.

“ Choi Minho !!”

“ Eomma….”

“ Minta maaf !”

“ Baiklah…..” anak lelaki itu merengut,” Maaf …!” katanya pendek

“ Begitukah cara minta maaf yang baik ?”

Kepalanya menggeleng, kemudian takut-takut dia melangkah ke arah Sulli dan mengulurkan tangannya.

“ Minta maaf !”

Sulli menatap ke arah ibunya, ragu-ragu. Dan dia melihat senyum di wajah ibunya sebelum melihatnya mengangguk perlahan. Seolah mendapat kekuatan, dia menyambut uluran tangannya.

“ Ya.” Kata Sulli, dia masih merasa kesal kepadanya dan ingin membalas karena dipikirnya dia akan aman di hadapan dua wanita dewasa yang pasti akan melindunginya ,” mata kodok !!”

“ Sulli !!”

“ Tapi dia menyebutku “bunny” eomma…!” Sulli protes ,” Lagipula matanya memang besar seperti mata kodok.”

“ Mwo ??” Minho berteriak protes juga ,” Aku bukan kodok !!”

“ Aku juga bukan kelinci !!” kata Sulli tak mau kalah.

“ Kelinci !!”

“ Kodok !!”

“Kelinci !!”

“ Ko…. “

“ Cukup !” ibunya Sulli berdiri di antara dua anak kecil itu  ,” Aku tidak mau ada binatang berkelahi di dalam dapurku.!!”

Sulli dan Minho langsung terdiam, walau mata mereka saling mendelik karena marah. Melihat dua anak kecil yang dengan pongah menaikkan dada dan mengangkat wajah saling menatap penuh amarah, membuat dua ibu muda itu tersenyum.

“ Apakah Ibu Han tidak pernah menceritakan kepada kalian tentang persahabatan antara kodok dan kelinci ?”

Ibu Han adalah guru play group mereka. Sulli sering bercerita kepada ibiunya bahwa guru favoritnya itu pandai sekali bercerita.

“ Tidak ada dongeng persahabatan kodok dan kelinci, eomma… aku belum pernah mendengarnya.”

“ Ah sayang sekali… “ ibunya Sulli mendesah ,”.. padahal ceritanya bagus. Cerita tentang kelinci yang ditolong seekor kodok ketika dia terjatuh ke dalam sungai. Dan sebagai balasannya, kelinci juga menyelamatkan kodok dari kejaran seekor anjing pemburu…. tetapi karena kalian tidak tertarik untuk mendengarnya… eomma tidak akan menceritakannya.”

Sulli mulai terpancing, dia menatap ibunya dengan penuh harap. Sementara Minho saat mendengar bahwa kodok bisa menyelamatkan seekor kelinci yang tenggelam mulai tertarik. Karena menurutnya tidak mungkin kodok yang kecil bisa menyelamatkan kelinci yang tubuhnya lebih besar. Bagaimana caranya, bukan ?
Ibunya Minho yang menyadari permainan tarik ulur ttangganya tersenyum penuh arti.

“ Kalau begitu, kami mohon pamit dulu. Maafkan Minho telah membuat Sulli sedih.” Katanya lembut ,” Sulli sayang, apakah kau memaafkan Minho ?”

“ Ya. Aku cukup besar untuk memberinya maaf. “

Saat ibunya Minho menarik tangan anaknya untuk meninggalkan tempat itu, Minho tak mau bergerak.

“ Eomma… tinggallah sebentar lagi… aku ingin mendengar dongengnya !” dia merajuk.

“ Tetapi apakah bibi Choi akan mengijinkanmu ? Kau telah membuat putri kesayangannya menangis…”

“ Aku berjanji tak akan membuatnya menangis lagi. Aku sudah minta maaf dan dia sudah memanggilku kodok. Berarti dia juga menyakiti hatiku, bukan ?”

Ibunya Sulli tertawa .

” Baiklah… bibi akan menceritakannya kepada kalian. Tetapi kalian harus berjanji bahwa setelah mendengar cerita ini kalian akan bersahabat seperti kelinci dan kodok dalam ceritaku.”

“ Aku berjanji !!” Sulli dan Minho menjawab hampir bersamaan.

End of flash back

Sejak hari itu, dongeng Kelinci dan Kodok menjadi titik awal persahabatan keduanya. Menginjak SMP Minho mulai menjuluki Sulli “bunny” dan Sulli memanggil Minho “froggy” tapi dengan makna yang berbeda…bukan untuk saling megejek seperti di awal kedua kata itu terucap dari bibir mereka.

“Minho…,”

Sulli memulai dengan ragu-ragu dan gemetar, Takut-takut dia mencuri-curi pandang ke arahnya Minho terdiam… menatap dan menunggunya melanjutkan kalimatnya yang terputus. Namun sialnya, untuk sesaat Sulli merasa ragu… tidak tahu bagaimana harus mengatakan kepadanya. Atau lebih tepatnya, untuk menarik kembali apa yang telah dia katakan malam itu… sewaktu dengan tak sengaja dia mengakui perasaan terpendamnya.

“Ada apa ?” Minho bertanya dengan suara lembut, tampaknya dia bisa membaca keraguan Sulli..

Sulli menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Ketika aku bilang aku … aku cinta padamu waktu itu… aku harap kau mengartikannya dengan cara berbeda. Aku bingung…. Well, Kau adalah satu-satunya teman priaku. Aku tidak memiliki teman pria lain satu pun untuk dibayangkan menjadi teman istimewaku… seperti yang dilakukan gadis-gadis itu di sekolah. Jadi… aku sudah keliru mengambilmu sebagai model dan menempatkanmu dalam peran laki-laki yang kukira aku telah jatuh cinta kepadanya.’ “

Sulli melihat ke langit hitam, tak berani menatap Minho seperti tadi… tiba-tiba rasa bersalah karena telah berbohong mendera perasaannya. Tapi dia memang harus berbohong. Dengan percakapan ini Sulli berharap bisa mendapatkan ketenangan dalam dirinya… mengetahui bahwa Minho tahu bahwa dirinya tidak sungguh-sungguh mencintainya.

“Terus terang, aku bahkan tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta,” Sulli kembali berbohong, tersenyum malu-malu saat dia kembali berpaling ke arah Minho.

Minho menatapnya dengan wajah bertanya-tanya untuk waktu yang lama.

“Lalu, bagaimana kau tahu jika kau tidak jatuh cinta kepadaku… jika kau belum pernah mengalaminya ?” desaknya.

“ Hebat !!. Aku tidak punya jawaban untuk itu. Mengapa aku tidak berpikir sampai ke sana ?? Ugh, bodohnya !!”

Sulli menjadi gugup dan kikuk… tak berani menatap Minho

“Tapi jika kau benar-benar berpikir bahwa kau tidak mencintaiku…,” Minho berkata lembut , “Aku percaya padamu.”

Sulli menghela napas lega, ”Terima kasih.”

“ Tak perlu berkata begitu.”

“ Kuharap kau bisa menemukan cinta sejatimu, Sulli…”

“ Ya , kau juga…. seperti cinta Jjong dan Jiyoung.’ Senyum Sulli.

Minho menatapnya dalam diam, wajahnya seperti mencari sesuatu di wajah Sulli… membuat Sulli menjadi salah tingkah, karena tak bisa membaca apa yang dipikirkan Minho. Tiba-tiba Minho menegakkan tubuhnya, kemudian melicinkan bajunya.

” Udara semakin dingin… Ayo masuk, Choi Sulli,”

Minho memanggilnya dengan nama lengkap . Kenapa ? Apakah dia marah ?

Dia berubah menjadi sangat sopan. Kenapa ? Adakah yang salah dengan sikapnya ?

Karena sulli mengenalnya hampir seumur hidupnya, dia tahu bahwa Minho ingin mengingatkannya tentang pilihan yang dia buat untuknya .. pilihan bagi mereka untuk tidak menjadi sahabat lagi. Ya, mereka bukan sahabat lagi !!

Sulli hanya mengangguk kemudian mengikutinya ke dalam.

========TBC========

Baru saja keakraban mereka pulih, masalah lain sepertinya memenuhi pikiran Minho hingga tiba-tiba kembali berubah. Apakah itu ??

Baiklah kita tunggu jawabannya di part berikutnya. Tetapi simpan komentarmu di sini !! Itu diperlukan untuk mere-charge semangatku… hahaha 😀   FIGHTING !!

Special thx to someone who put blog like on  🙂

,cantikakairina1 ,ernaniipark, baekheexo, lessulli94soneya2996chn, Thomas M. Watt, Stuart M. Perkins, Acilchoi, vanillasulli, adeseptiana, cicinurrahmawati, chuesztwatye, Noviaanggraeni, linda689, rhayacantika,Kim Arisu, pertiwihesti, anisachoi, Dinachoivarha, yunitasania19, ulfahalimatus, Ally, disneytisa, BTSMANCUNG,

 

Advertisements

59 thoughts on “THE hunk NEXT door (15)

  1. Wah onnie semakin seruu kenapa sih mereka gak baikan ajaa kayak dulu lagii minho juga belom sadar juga kalo dia juga suka sama sulli semakin menegangkan onnie semangat lanjut post ya onnie

  2. hhiiaa sulli kenapa sulli jadi mengklarisifikasi perasaan cintanya pada minho, padahal lebih bagus kalau minho tau kalau sulli memang cinta sama minho deng hhuhuhu .. hhiii merinding banget waktu minho manggil sulli paakai nama lengkapnya sulli, berasa banget sikap dinginnya minho hhuufftt kasihan bunny 😥

  3. ahahahaha minho kecil sama sulli kecil lucu ya waktu lagi berantem 😀
    huaaaa syukur deh mereka gak canggung waktu bicara masih sama kayak dulu ^^
    aku rasa minho oppa kecewa deh waktu sulli eonni bilang dia gak beneran jatuh cinta sama minho oppa makanya minho oppa jadi balik dingin gitu ._.

  4. minsul awalnya canggung setelah persahabatan mereka putus.. tapi lama2 minsul jadi santai.. tapi kemudian minho teringat kalau mereka udh putus persahabatan mereka..
    ciee minho memberi hadiah sulli dvd dan lagu ciptaannya sendiri dan diiringi gitar..
    ooh begitu ceritanya awalnya minho memangil sulli bunny dan sulli memanggil minho frog..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s