THE hunk NEXT door (17)

 

 

The Hunk Next Door

.

Judul    :  THE hunk NEXT door

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli,Jung Krystal,Lee Taemin, Kang Ji Young,dll.

Genre : Romance, Friendship

Apakah Persahabatan Platonis antara pria dan wanita itu mungkin ?

♥♥

The Talkie

SulliPov.

Tahun baru yang menyenangkan seharusnya… tetapi demi apapun aku tak merasakan kegembiraan dan semangat tahun baru seperti yang selama ini kumiliki. Undangan dari keluarga Minho untuk merayakan malam tahun baru bersama di rumah mereka, disambut keluargaku dengan suka cita. Tetapi, mungkin terlalu egois… aku merasa tidak begitu antusias. Bukan karena undangan itu… tetapi kenyataan bahwa pesta itu akan dihadiri juga oleh banyak murid SMA Galaxy yang…. yah, kalian tahu…. aku tidak begitu dekat dengan mereka. Namun demi appa dan eomma, juga demi Jiyoung yang kebingungan mendapatkan teman party, akhirnya aku memutuskan untuk hadir di sana.

Dan seperti yang kuduga sebelumnya, pestanya benar-benar meriah. Rumah Minho yang biasanya sepi, dipenuhi orang. Rumahnya dibenahi dan dihias lampu berkerlap-kerlip seperti hiasan pohon natal. Tetapi sekali lagi, kemeriahan itu tidak bisa menembus satu tirai yang ada dalam diriku. Tirai yang menyekatku dari masa lalu manis yang kumiliki di rumah ini. Dan perasaanku semakin melesak di kedalaman yang tak berdasar saat aku melihat Krystal… si penyihir itu… ada di sana, dengan Minho yang terlihat begitu perhatian kepadanya.

Sakit?

Tentu saja !! Aku tidak mau membohongi diri sendiri…

Kalian pasti tahu bagaimana sakit menusuk ulu hati… sakit yang bila bisa dilihat mata, mungkin tengah mengucurkan darah yang menebarkan perih ke seluruh dadaku… ya, tepat dibalik semua tulang rusuk yang kumiliki, aku merasakan perih yang menyiksa… tekanan yang menghimpit dan membuatku kehilangan nafas apalagi saat kusadari mata Minho tak pernah lepas dari Krystal yang malam itu berdandan sangat menawan.
Tentu saja, Krystal memang menawan kalau saja dia bisa berbuat sedikit manis kepada semua orang. Tapi apa hakku menilainya, bukan ?? Bagaimanapun dia adalah pacar mantan sahabatku ! Dan aku mengenal Minho, dia nyaris tak pernah melakukan kesalahan dengan sengaja… dan Krystal tentunya bukan kesalahan.

Aish… mengapa aku berharap agar Minho berpikir bahwa mencintai Krystal adalah sebuah kesalahan ??

TIGA

Aku mengalihkan mataku ke arah jarum jam yang berputar. Hitungan detik-detik pergantian tahun diteriakkan dengan serempak.

DUA

Aku menarik nafas, berharap sesak di dadaku akan keluar dengan teriakan nanti.

SATU

Suara desing kembang api terdengar begitu jelas sebelum kemudian warna-warni membuncah di langit.

Teriakan Happy New Year terdengar penuh semangat.

Happy New Year ??

Kuharap aku bisa mengawali tahun baruku dengan semangat dan kehidupan baru…

Dan harapan itu langsung menguap saat ekor mataku melihat Minho mendekatkan wajahnya pada Krystal.

Secepatnya aku berpaling…. Mengapa melihatnya begitu menyakitkan ???

“ Hey sist ! Happy New Year !!”

Aku terkejut ketika Hae oppa sudah ada di sisiku dan menyodorkan segelas limun kepadaku.

“ Ayo kita bersulang untuk tahun baru !!” Aku mengambil gelas yang diberikannya kemudian melakukan “toast”, berusaha tersenyum… tapi memang aku tulus tersenyum menyadari bahwa aku masih memiliki kakak yang kutu buku tetapi perhatian kepadaku.

Baru saja gelas itu menyentuh bibirku, kami terkejut karena getaran di saku celanaku. Hae oppa tentu merasakannya juga, mengingat kami berdiri berdekatan.

“ Ponselmu !!”

“ Ya aku tahu…” rutukku, malas untuk melihatnya

“ Angkatlah ! Itu telepon keberuntungan untukmu !”“ Seandainya…!!”

Kuharap Hae oppa tidak mendengar sarkastis dalam suaraku.

Aku mengeluarkan ponsel dan mataku hampir meloncat ketika kulihat nama anak baru itu.
Ada apa Taemin meneleponku ? Bukankah dia berada di Busan untuk merayakan tahun baru dan natal dengan orang tuanya ?

“ Annyeong…” Aku bergerak menjauh dari Hae oppa yang melihatku dengan bertanya-tanya.

“ Taemin ?? Ada apa ?”

Aku berjalan meninggalkan keramaian menuju batas taman, berusaha mendengar jawaban Taemin yang juga terdengar kurang jelas.

“ Mianhe, di sini ribut sekali. Ada apa meneleponku di….”

“ Happy New Year, Sulli !” potong Taemin, dengan suara yang cukup keras.

Aku terkejut.

Well, kejutan yang manis sebetulnya… di tengah pesta yang demikian hiruk pikuk, tepat di saat kembang api melesat ke udara dan meledak menebarkan cahaya di langit, seseorang mengucapkan selamat tahun baru dari satu tempat yang aku tidak tahu. Selama 18 tahun umurku, baru malam tahun baru ini aku mendapatkan ucapan dari seorang namja yang bukan appa, Hae oppa atau Minho.

“ Oh… terimakasih. Happy New Year juga !” aku menutup sebelah telingaku mencegah suara-suara berisik di sekitarku masuk, “ Di sini ada pesta, suaranya berisik. Apakah kau juga ada di tengah pesta ? Aku mendengar d belakangmu banyak suara… ribut.”

“ Ya. Aku ada di pesta.”

“ Bagaimana eomma dan appamu ?”

“ Mereka semua sehat dan sedang menikmati pesta tentunya. “

“ Well, terimakasih telah mengucapkan selamat … tumben kau mengingatku !”

“ Tentu saja aku mengingatmu Sulli. Selama liburanku di Busan aku selalu mengingatmu. Kukira aku merindukan untuk berbicara denganmu. Bahkan setelah mendengar suaramu, aku bisa membayangkan kau sedang apa sekarang…”

Aku merasa aneh dengan cara bicara Taemin, aku juga merasa aneh dengan pikiranku yang menjadi kacau.

“ Tentu saja aku sedang di pesta !!” Sulli mendengus.

“ Ya. Kau sedang berdiri bersandar pada dinding dan sebelah tanganmu menutup kuping karena di sekitarmu ribut.”

Jantungku seperti berhenti berdetak sesaat, refleks aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Curiga … jangan-jangan Taemin ada di sana. Tapi tentu saja itu pikiran bodoh !!

“ Bagaimana kau yakin aku seperti yang kau ucapkan ? Apakah selain memasak kau juga ahli meramal ?:”

“ Hahaha…tentu tidak. Aku menebaknya begitu karena aku juga saat ini sedang melakukannya !”

“ Dasar !!:”

“ Tapi kalau menurut feelingku, kau sekarang pasti tidak memakai rok…”

“ Ish… bagaimana…?

“ Karena itu bukan gayamu. “ potong Taemin ,” Kau pasti lebih suka mengenakan celana santai. Dan karena malam cukup dingin, aku bertaruh kalau kau memakai baju hangat rajut kesayanganmu.”
Aku semakin heran. Apakah Taemin begitu mengenaliku hanya dalam beberapa minggu saja ? Bagaimana dia bisa menebakku dengan tepat ? Ini mengherankan !!

“ Sulli ?? Kau penasaran ya kenapa aku bisa menebakmu dengan tepat ?”
Aku tanpa sadar mengangguk, gerakan tolol tentu… karena siapapun di seberang telepon tak mungkin melihatku mengangguk.

“ Eh… iya !”

“ Aku tidak meramal atau menebak. Aku bisa begitu karena aku melihatmu …”

“ Melihat….bagaimana… hey, apakah kau juga ada di pesta ini ?”

Jantungku serasa melompat, tak mengira dengan jawabannya. Kembali aku melihat sekeliling dan kini barulah kulihat Taemin. Dia muncul dari balik bayang-bayang pepohonan. Dengan handphone di telinganya, dia melangkah sambil tersenyum.

Aku berani bersumpah, itu adalah senyuman terbaiknya !!

Dan senyum itu untukku !!

Jantungku berdebar, perasaan hangat mulai menyisihkan rasa sakit yang tadi menyelubungiku.

“ Aku… sudah mengira kau ada di sini !”

“ Ya. Aku tadi melihatmu mencari-cari.” Taemin menurunkan lalu mematikan ponselnya.

Aku menunggu… tetapi tak ada seorang pun yang mengikutinya.

“ Sendirian ?”

“ Apakah aku terlihat berdua atau bertiga ? Kau ??”

Aku tadinya mengira Taemin datang ke pesta ini menemani seorang penggemarnya. Lagipula kalau melihat hubungan antara Minho dan Taemin, rasanya tak mungkin dia diundang di pesta ini. Apakah ini karena Taemin sebagai anggta tim Galaxy society ?

“ Oh… aku datang dengan Jiyoung.”

“ Apakah kau menjemput Jiyoung untuk mendatangi pesta yang jaraknya hanya sepuluh langkah dari tempatmu ?”

Aku tak bisa menahan senyum menyadari godaan yang tersirat dalam kata-katanya.

“ Jiyoung yang menjemputku, tepatnya !”

“ Sudah kuduga !!”

“ Bagaimana Busan ?”

“ Meriah. “

“ Kupikir kau ada di sana sampai liburan habis.”

“ Aku berpikir halmonie juga butuh teman di sini. Bagaimana liburanmu ?”

“ Great !!” jawabku pendek, merasa tiba-tiba leherku seakan tercekik.

“ Aku merindukan hari-hari sekolah….” desah Taemin.

Aku memaksakan diri tersenyum, tak tahu apa yang harus kukatakan. Aku tidak menikmati liburanku tetapi aku tak rindu masuk sekolah… setelah apa yang kulihat malam ini, tentu saja. Minho seperti harapanku, telah menemukan cinta sejatinya…. sedangkan aku ? Tidak ada …

Kami berjalan bersisian, menuju tempat makanan kecil. Beberapa orang yang mengenal Taemin menyapa dengan dijawab ramah olehnya. Sesaat kemudian, Taemin sudah dikelilingi beberapa gadis yang mengjaknya mengobrol. Diam-diam aku bergerak menjauh, merasa risih dengan situasi itu. Tiba-tiba kulihat Jiyoung dengan seorang gadis bertubuh mungil. Aku melambai padanya, yang segera dibalas dengan gembira.

“ Happy New Year, Ssul… wish the best for you !”

Aku merasakan pelukan hangat Jiyoung, juga kebahagiaannya yang menyeruak dalam setiap senyuman dan pancaran sinar matanya.

Jiyoung sedang dimabuk asmara, dan dia terlihat bahagia.

Tiba-tiba aku merasa menjadi begitu sendirian sekarang… setelah Minho pergi karena Krystal… mungkinkah Jiyoung juga akan pergi karena Jjong ?? Kalau ya, berarti aku harus kehilangan lagi sahabatku…

“ Dia menembakmu, kan ?”

Jiyoung menyikut perutku, matanya mengedip dengan genit…. aku sejenak merasa bahwa itu bukan dia.

“ Siapa menembak apa ?”

“ Taemin…. aku tadi melihat kalian ngobrol berdua di sana. Apakah dia menyatakan cinta ?”

“ Mwo ?? Aniya !!”

Aku heran darimana Jiyoung mendapat ide seperti itu ? Laki-laki dan wanita mengobrol di tempat pesta adalah hal wajar… apalagi bila saling mengenal.

“ Tapi kau tadi kelihatan gembira waktu berbicara dengannya.”

“ Tentu saja, di antara puluhan orang yang ada di pesta ini hanya Hae oppa dan dia yang memberiku ucapan selamat…”

“ Aku juga, Ssul…”

“ Ya, tetapi kau sangat telat… jadi itu tidak masuk hitungan.”

“ Sialan … tahu begitu…”

Kata-kata Jiyoung terhenti, dia mengeluarkan ponselnya dan tersenyum riang sesaat setelah membacanya.

“ Jjong ??”

“ Ya. Dia memintaku menemuinya di tempat parkir. Jadi….”

“ Oh pergilah jangan sampai dia menunggu lama. Jjong…. maksudku siapapun tak suka kalau harus menunggu.”

“ Kau yakin ?” Jiyoung tampaknya tidak tega meninggalkanku sendirian di tengah keramaian pesta.

“ Ya. Aku tidak akan terlantar… lihat saja, Hae oppa sedang menuju kemari !”

“ Baiklah, aku ke luar dulu Sulli… aku akan kembali.”

Aku mengangguk.

Saat melihat Hae oppa berjalan ke arahku, sebagian firasatku memperingatkanku tehadap sesutau yang aku sendiri tak tahu apa. Hanya saja kuyakin akan ada yang dikatakan olehnya. Mungkin ini semacam insting seorang adik, tentu saja.

“ Jiyoung ke mana ?”

“ Menemui seseorang.”

“ Apakah itu orang yang sama, yang tadi meneleponmu ?” Hae oppa terlihat waspada.

“ Siapa ? Taemin ?? Kukira bukan.”

Aku tiba-tiba merasa kalau kakakku memperhatikanku begitu detail… ataukah dia memperhatikan Jiyoung ?

Oh No, jangan sampai kakakku jatuh cinta kepadanya… karena dia akan patah hati. Yah, walaupun kami tidak begitu dekat…aku tak mau kakakku satu-satunya patah hati, karena itu sangat menyakitkan.

“ Jangan bilang kalau kau menyukai sahabatku !” aku berusaha memancingnya.

Donghae oppa memutar matanya, dengan muka seperti menahan muntah.

“ Tentu saja tidak, bodoh ! Aku tidak mau mengutuk seluruh keturunanku dengan sifat kutu buku yang parah.”

Tentu saja Hae oppa benar, sifat kutu bukunya bila dipadu dengan sifat kutu buku Jiyoung… akan … apa namanya ? Raja dari kutu buku ??

Tapi hey, kenapa kakakku berbicara tentang “keturunan” ? Apakah ada dari kata-kataku tadi yang condong ke arah itu ? Tapi mau tak mau aku membayangkan hal yang menggelikan, kalau mereka benar-benar menikah. Lalu dikaruniai anak dengan gaya “nerd” yang lebih parah dariku.

Oh TIDAK !!

Jangan sampai aku punya keponakan yang akan menderita sepertiku…. bahkan mungkin jauh lebih buruk. Aku beruntung selama beberapa tahun memiliki Minho yang mau jadi sahabatku…. bagaimana jika keponakanku tak seberuntung itu? Dan Tuhaaan…. mengapa nama Minho muncul dalam otakku lagi ?

Menggelengkan kepala karena merasa begitu bodoh, aku melihat Hae oppa… berniat untuk menggodanya. Rasanya sudah lama aku tidak melakukannya pada kakakku ini. Lagipula aku belum membalas godaannya saat dia pertama kali datang.

“ Bukankah itu bagus ? Kalian bisa membuka usaha toko buku atau membuat perpustakaan ?”

“ Sulli jangan meracau ! “

Aku terdiam, merasa bersalah melihat kakakku marah. Matanya memandangku lurus, menyelidik… aku merinding. Caranya menatapku sama dengan waktu dia berbicara denganku di restoran itu. Kembali satu lampu sinyal di otakku menyala… lampu kuning, mungkin.

“ Kalau temanmu yang bernama Taemin itu bukan pacar Jiyoung… mengapa dia meneleponmu di malam pergantian tahun ? Aku juga mendengarnya meneleponmu malam natal kemarin. Jangan bilang kalau dia…..”

“ Tidak !!” seruku dengan rasa aneh dan heran atas kesimpulan orang-orang di sekitarku,” Apakah kalian orang-orang berfikir kalau aku berbicara dengan seorang pria, maka dia adalah spesial buatku ? Mengapa kau tidak berfikiran yang sama tentang gadis-gadis di sekelilingmu ?”

Aku menunjuk gadis-gadis dalam pesta yang bergerombol, dan sebagian besar di antara mereka sedag mengobrol dengan laki-laki.

“ Tentu saja tidak akan , karena kau bukan mereka dan kau berbeda dari mereka !”

“ Apa bedanya ? Mereka gadis remaja…aku juga ! Apakah karena aku nerd maka aku berbeda dengan mereka ? Hae oppa, aku tak mengira kalau kau juga akan punya pikiran picik tentangku. Kukira selama ini hanya teman-teman sekolahku yang berpikiran pendek…. ternyata kau, kakakku sendiri, punya pikiran yang lebih pendek dari mereka !”

“ Choi Sulli, aku hanya tidak ingin kau mencari pelampiasan saja.”

“ Pelampiasan ?” Aku tertegun, jujur… tidak mengerti arah kata-katanya ,” Pelampiasan untuk apa ?”

“ Aku tahu, kau baru memutuskan persahabatan dengan Minho….”

MINHO !!

Lagi-lagi nama itu muncul dalam percakapan kami. Apakah seluruh hidupku akan dikaitkan dengan mantan sahabatku itu ? Apakah sekarang nama Minho menjadi semacam kutukan pengganti cemoohan teman-temanku di sekolah ? Apa sih yang salah dengan kami ? Dulu saat bersahabat, aku harus mengalami hal menyakitkan karena hubunganku dengannya. Kini setelah putus, mengapa aku masih dihubung-hubungkan dengannya juga ?

“…..wajar kalau kau mencari penggantinya. Tetapi lelaki itu, siapapun dia…. tak akan pernah bisa menggantikan Minho bagimu….”

Aku merasa dadaku ditonjok dengan keras.

Aku tak pernah bermaksud mencari cowok lain pengganti Minho…. aku tahu siapa pun tak mungkin sama dengannya, mengingat begitu banyak waktu dan peristiwa yang kami lalui bersama selama ini. Tetapi mendengar orang lain memantulkan kata-kata itu padaku, membuatku merasa demikian kecil… tak berarti… dan menyakitkan. Sangat menyakitkan !!

Aku tak mampu berkata-kata.

Sebuah gumpalan seperti batu menggulung di tenggorokanku. Rasa sakit karena tonjokan kata-kata itu membuatku bungkam. Rasanya tidak akan pernah bisa bagiku membuat semua orang percaya bahwa aku telah menyingkirkan Minho dari hidupku…. bahkan aku tak bisa meyakinkan kakakku sendiri. Aku merasa gagal !!!

Rasa sakit di dadaku seperti mencair… atau mungkin memang demikian…. dan cairan itu seperti dipompa ke seluruh tubuhku. Kau tahu bagaimana rasanya aliran listrik menyentuh seluruh sel tubuh, saat kita kesetrum ? itulah yang kini terjadi padaku. Nah… cairan itu bereaksi dengan cara yang keji dalam diriku. Mengalir cepat, menyayat seluruh sel tubuhku. Aku merasa perlahan rasa dingin merambati tubuhku…. aku menjadi mual… tetapi aku merasa bagian otot di sekitar mataku menghangat.

TIDAK !! AKU TAK BOLEH MENANGIS !!

“ Heyy…. kau kenapa Sulli ?”

Hae oppa tiba-tiba bertanya lembut, mungkin dia terkejut melihat reaksiku. Atau mungkin dia ingin menghiburku . Tetapi aku tak bisa menghibur diriku sendiri… tidak untuk tudingannya yang menyakitkan.

“ Aku hanya mau kau sadari, persahabatan kalian akan kembali suatu hari nanti. Kau harus yakin itu !!”

OH TUHAN….

Aku membenci kakakku malam ini !

Mengapa dia sekarang berdiri di hadapanku dan berubah menjadi cermin yang memantulkan semua yang kupikirkan dan kuharapkan selama beberapa bulan ini ? Dan mengapa perasaanku seperti seorang buruk rupa yang melihat bayangannya sendiri dalam cermin ? Merasa seperti melihat bayangan yang tidak ingin kulihat, tetapi tak pernah bisa menghindarinya. Karena itu diriku dan akan demikian seumur hidupku !!

Merasa tak bisa… dan tak akan mungkin bijaksana untuk tetap berada di pesta ini, aku berbalik untuk menjauh dari kakakku. Tentu saja, aku tak mau ditelanjangi di tengah-tengah pesta… kemudian menangis… menjadi pusat perhatian… dan.. MINHO !!

Aku tak mau disebut menjadi perusak pestanya ! Aku tak mau lagi disebut sebagai manusia yang merusak waktu-waktu kebersamaannya dengan Krystal. Seperti yang pernah dia katakan padaku !!

HELL…TIDAK !!

“ Sulli, kau mau kemana ? Aku belum selesai denganmu !!”

Suara Hae oppa membuatku berpaling kepadanya.

“ Pulang ! Kalau masih mau membahas ini, kita akan membicarakannnya di rumah !” kataku dingin.

“ Pulang ? Kau mau meninggalkan pesta ini ?”

“ Pesta itu untuk merayakan sesuatu. Dan aku tak punya apapun untuk dirayakan. Kalau aku masih di sini, aku takut kakakku akan mencapku sebagai gadis yang sedang mencari pelampiasan. FYI, cowok yang meneleponku kebetulan hadir di pesta ini.”

Aku berjalan kembali, tetapi dua langkah kemudian berhenti… aku tahu kakakku tak akan membiarkanku lolos begitu saja.

“ Dan aku minta, biarkanlah aku pulang dan sendiri. Tolong katakan pada appa dan eomma kalau aku sudah mengantuk !”

Setelah berkata begitu, aku kembali melangkah menembus kehirukpikukan pesta. Beberapa kali aku merubah arah langkahku ketika melihat Minho dan Krystal di satu sudut teras, kemudian Taemin yang sedang berkeliling…. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bersyukur telah mengenal rumah Minho seperti rumahku sendiri.

Memasuki rumah rasanya aku baru bisa bernafas. Suasana rumah sangat mendukung, seperti keadaan diriku sekarang. Kosong dan sepi. Kesesakan yang sejak tadi menggumpal di dadaku seperti mencari jalan keluarnya sendiri. Dan inilah aku, sepanjang perjalananku menapaki tangga menuju kamar… tetesan air mata pertamaku jatuh, kemudian disusul oleh tetesan lainnya… makin lama semakin tak terbendung.

Begitu ada di dalam kamar, aku runtuh dan sesenggukkan di atas kasur.

Entah apa yang kutangisi, aku sendiri bingung… atau mungkin aku tak mau memikirkannya sama sekali. Dan entah apa yang membuat tangisku semakin menjadi… yang kuinginkan sekarang adalah menumpahkan semua gumpalan dalam dadaku hingga habis.

Well, sungguh ironi. Di saat orang lain bergembira dan memiliki harapan baru… seorang Choi Sulli menangis dan seperti kehilangan semua harapannya.

Aku membuka mataku, mendapati diriku terbaring di atas kasur dengan baju dan sepatu. Rupanya aku sudah tertidur dalam pakaian lengkap dan tak sempat menggantinya. Apa yang terjadi ? Tak perlu waktu lama untuk mengingat bahwa aku telah lari dari pesta kemudian menangis sejadi-jadinya karena kata-kata kakakku. Menggelikan bukan ?

Dan aku merasa mataku aneh, mungkin sekarang sudah membengkak… apa peduliku !! Tapi… lampu kamarku benderang, bagaimana kalau Minho melihatku dari kamarnya ? Apa yang akan dipikirkannya ??
Kaget, aku segera melirik jendela kaca yang membatasi kamarku dengan balkon yang menghadap kamar Minho.

Hhhhh…. untunglah tirainya tertutup rapat !

Setidaknya tak seorangpun yang bisa melihat keadaanku sekarang… termasuk Minho. Dia paling tidak suka bila melihatku menangis… dia pernah mengamuk memukuli salah satu temanku yang membuatku dulu menangis karena ulahnya.

Aish Sulli … itu dulu sewaktu kalian masih bersahabat. Sekarang Minho bukan siapa-siapa bagimu… dia hanya “The Hunk Next Door” bagimu… bukan yang lain !

Tanpa semangat, aku kembali merebahkan kepalaku di bantal. Menatap langit-langit kamar. Kata-kata Hae oppa tengiang-ngiang di telingaku. Kata-katanya membuatku tertegun pada satu kenyataan yang harus kutelan pahit… bahwa aku tak pernah bisa mengeluarkan Minho dari hidupku. Mengapa namanya selalu muncul dalam setiap persoalan yang kuhadapi ?

Wajah Minho dan Krystal berkelebat dalam benakku, terbayang kembali bagaimana tangan Minho berada di bahu Krystal… tangan yang menunjukkan kepemilikan…pengakuan. Dan saat kepalanya bergerak…

Aku kembali memejamkan mata erat-erat berusaha mengusir bayangan menyakitkan itu. Gosip tentang Minho yang kudengar saat di bis malam itu, berputar-putar. Rasanya tidak percaya, tetapi melihat bagaimana mereka sangat akrab di depan orang tuanya…. itu mungkin saja bukan ? Zaman sekarang, anak-anak muda banyak yang melupakan istiadat lama. Terjebak dalam pola pergaulan bebas

Aargh…. TIDAK MUNGKIN !!

Aku membalikkan badan ke arah jendela.

“…Tetapi lelaki itu, siapapun dia…. tak akan pernah bisa menggantikan Minho bagimu…. Aku hanya mau kau sadari, persahabatan kalian akan kembali suatu hari nanti. Kau harus yakin itu !!”

Kata-kata Hae oppa kembali melintas dalam ingatanku. Walau berusaha menolak, jauh dalam diriku mengakui bahwa apa yang dikatakan kakakku benar. Tak ada satupun yang bisa menggantikan makna Minho bagiku. Dan seluruh jiwaku sangat merindukan persahabatan kami akan kembali…. Yang aku tahu itu tak akan pernah terjadi.

Mataku bergerak pada meja belajar di mana kado natal Minho berada. Dalam beberapa hari ini aku sering tertidur dengan mendengarkan lagu-lagu yang ada dari CD yang diberikannya. Mungkin benda itu akan menjadi satu diantara beberapa benda yang menjadi tanda bahwa persahabatan antara kami pernah ada. Dan talkie….

Mataku bergerak pada benda persegi yang tergantung di atas meja, mengingat kembali berapa banyak kenangan yang tersimpan di benda itu. Sekarang apa ?? Akankah benda itu tetap tergantung di sana tanpa melakukan fungsinya dengan benar … selain sebagai alarm yang membangunkanku dari tidur ? Apakah aku harus membiarkannya terus tergantung di sana ?

Sepertinya aku harus membuka talkie itu… terlalu banyak kenangan, terlalu banyak harapan… mungkin itu salah satu alasan mengapa aku belum bisa move on.

Aku bangun, melangkah ke arah meja…

Talkie itu mungkin sebaiknya kulepas, mungkin dengan itu aku bisa sedikit terlepas juga dari harapan palsuku tentang persahabatan kami.

Perlahan tanganku terulur dan mengambilnya, menghapus sedikit debu yang menutup permukaannya…seolah aku berusaha menghapus harapan terakhir yang kumiliki tentang kami.

Tiba-tiba talkie berbunyi, aku hampir menjatuhkannya karena kaget…

Sedetik…dua detik… semenit…. tak ada suara apa-apa. Kupikir mungkin angin membuatnya seperti itu.

Aku menarik nafas… rasanya sulit untuk menerima kenyataan bahwa Minho benar-benar telah melupakanku… Tak sekali pun di pesta itu dia menghampiriku… bahkan dia tak ingat untuk mengucapkan selamat tahun baru … walaupun…yah… aku bukan sahabatnya lagi.

Selamat Tahun Baru, Bunny….”

Jantungku seperti berhenti berdegup untuk sesaat ketika talkie yang sedang kupegang mengeluarkan suara …

SUARA MINHO !!

Aku mengenal suaranya yang dalam dan lembut. Suara yang gelombangnya mampu menggetarkan jiwaku… suara yang mengirimkan gelombang demi gelombang kebahagiaan ke dalam dadaku.

TUHAN…. AKU BEGITU MERINDUKANNYA !!!

Cairan hangat mengalir di pipiku… setengah tak percaya aku mendekap talkie yang kupegang, seolah diriku sedang menyentuh orang dibalik suara itu. Aku tak peduli kalau talkie ini akan mengirimkan suara degup jantungku yang begitu cepat kepada Minho.

Tuhan tahu aku bahagia… Tuhan tahu aku menangis karena rinduku telah berbalas.

Sesaat aku merasa jiwaku melayang… mengejar kembali harapan yang terakhir telah berusaha kulepaskan.

Mungkin kami tidak lagi bersahabat, tetapi dia tetap mengingatku.

Setidaknya itu cukup buatku, mengetahui bahwa dia masih mau mengucapkan selamat untukku.

Beberapa saat kemudian aku tersadar bahwa aku pun belum mengucapkan selamat kepadanya. Bukan karena aku melupakannya, tetapi karena aku belum memiliki kesempatan untuk itu. Lalu, setelah apa yang dia lakukan… Minho juga harus tahu bahwa aku tidak melupakannya, bukan ?

“ Selamat Tahun Baru, Frog….”

Suaraku tersekat di tenggorokan. Sebenarnya aku ingin bicara banyak… bahkan menanyakan bagaimana pesta dan tahun barunya. Tapi sungguh, aku tak bisa…. kecuali kalau aku ingin Minho tahu bahwa sekarang aku sedang menangis.

Dan sumpah !! Aku tak mau dia tahu keadaanku…

End of Pov

==========TBC==========

Chingu maaf ya… update telat banget karena eonni harus menghadapi persiapan untuk ujian. Tidak bisa fokus sama FF dulu , jadi kalau part sekarang kependekkan…mohon maklum. Anggaplah ini sebagai penawar rasa penasaran saja.

Mohon doanya untuk keberhasilanku.

FIGHTING !!  😀

Terimakasih untuk komentarnya dan spesial untuk yang blog like 🙂

,cantikakairina1 ,ernaniipark, baekheexo, lessulli94soneya2996chn, Thomas M. Watt, Stuart M. Perkins, Acilchoi, vanillasulli, adeseptiana, cicinurrahmawati, chuesztwatye, Noviaanggraeni, linda689, rhayacantika,Kim Arisu, pertiwihesti, anisachoi, Dinachoivarha, yunitasania19, ulfahalimatus, Ally, disneytisa, BTSMANCUNG,

Advertisements

54 thoughts on “THE hunk NEXT door (17)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s