[Chap 1] Rumor Has It

rumor has it

Title : RUMOR HAS IT [Chap 1]
cast : CHOI MINHO | CHOI SULLI | KRIS WU | KANG SEULGI | others
Author : DAZDEV
length : Chaptered
rating : PG-15
Genre : School life, comedy, romance, drama
.
.
.

sampai kapan mereka tidak menyadarinya?

bahwa hidup ini seperti papan catur dan mereka adalah pion-pionnya? oh, ayolah! biarkan takdir mempermainkan kalian berdua. jangan melawan!

.

.

.

RUMOR HAS IT : Chap 1

.

.
Hai…

Bagaimana aku harus menuliskan hal memalukan yang kualami di cafetaria tadi siang padamu…

Peristiwa itu terjadi begitu saja, dimulai dengan perkatan kotor si pirang Byun dan berlanjut pada adegan menumpahkan sisa makanan di atas rambut piranganya. Luar biasa! Aku terkejut dengan potensi bertarungku. LOL 😀

Tapi sejujurnya, ini sungguh melelahkan. Dibenci setiap orang karena berita yang bahkan belum mereka buktikan sendiri kebenarannya. Kau tahu Choi Sulli ‘kan? Bagaimana mungkin gadis innocent di hadapanmu ini adalah penyuka sesama jenis? Haruskah aku menunjukkan betapa cintanya diriku terhadap Justin Bieber? LMAO 😀 😀

Aku sedih lantaran berita buruk tentangku semakin menyebar akhir-akhir ini. aku tak mengerti bagaimana sang pencipta rumor memiliki imajinasi yang kelewat tinggi sampai-sampai mengarang cerita dahsyat tentangku.

Bagaimanapun, aku melakukan semua ini demi DIA. Aku sudah berjanji dan tak akan mundur meski si pirang Byun atau siapa pun itu, datang lagi esok hari dan melontarkan kata-kata yang jauh lebih menyakitkan.

Aku hanya perlu bersabar sampai masa kelulusannya. Aku akan melakukan apapun yang DIA inginkan selama aku masih punya kesempatan untuk membawanya kembali. (Termasuk berpenampilan seperti anak laki-laki dan digosipkan sebagai LGBT  T,T)

I don’t give up on you, dear… :’)

(Well, Aku akan berdoa untuk berita burukku, untukmu, dan untuk rambut pirang Baekhyun)

.

.

.

Sulli menutup lembaran buku hariannya yang tampak kumal dengan sampul merah muda yang beralih menjadi oranye kecokelatan. Sepekan lalu seseorang iseng meletakkan beberapa sampah gelas air mineral juga jus di dalam tasnya kemudian dari sanalah pola abstrak kecokelatan itu berasal.

Sulli menghela napas dalam-dalam. Meskipun hari ini ia telah melakukan tindakan preventif dengan mengunci tasnya dan nyaris membawa benda itu kemanapun ia pergi, ia tetap tidak pernah lepas dari rasa khawatir.

Sejenak dipandanginya buku harian itu dan berpikir bahwa ia tak boleh membawanya lagi pergi ke sekolah. Membawa buku yang memuat segudang rahasia tentang hidupnya untuk dibaca lalu ditertawakan orang lain? Maka bersiap saja dengan gosip baru dan penghinaan yang baru pula. Sulli tidak mau mengambil resiko. Ia meletakkan buku hariannya di bawah kasur, menjaganya tetap aman dari jangkauan mereka yang kian hari kian tekun mencari bahan fitnahan sebagai alasan untuk membenci dirinya.

Sulli mengalihkan pandangan ke balik jendela. Tidak ada satupun bintang bahkan bulan pun enggan memancarkan kemilaunya. Sepertinya sesaat lagi akan turun hujan dan benar saja, selang semenit kemudian rinai hujan mulai mengetuk-ngetuk permukaan jendela.

TES… TES….

Sulli mendesah berat setelah mendengar bunyi tetesan air di dekat tempat tidurnya. Ia lupa soal atap yang bocor dan lupa pula melaporkannya pada Ny. Lee, pemilik penyewaan.

Pekan lalu Ny. Lee meminta bayaran cukup tinggi untuk perbaikan atap sementara Sulli terlalu sibuk memikirkan hal lain dan tidak ingat untuk menyerahkan biaya tanggungannya. Lalu sampailah ia di kondisi ini, merenung memikirkan kehidupan sekolahnya yang mengenaskan di bawah atap yang keadaannya tak kalah mengenaskan pula.

“Untuk sekarang, aku tidak boleh gila dulu.” Gumam Sulli seraya menyeret sepasang kakinya menuju kamar mandi untuk menyediakan tempat penampungan air hujan yang tak berhenti mengucur dari atas kepalanya.

Ia lalu meraih boneka beruang yang punya ukuran sebesar tas punggung ke dalam pelukannya. Di saat-saat seperti ini, tidak ada seorang pun yang dapat ia peluk ketika hujan mendera dan rasa dingin merayap dari ujung jemari kaki kecuali merangkul Teddy bear caramel kesayangannya pun, Sulli rasa lebih dari cukup.

Sebelum terlelap, Sulli memutar ulang memorinya yang ia simpan semenjak pagi, hingga tiba pada penghujung malam. Selain ingatan tentang Si Byun yang bicara kotor dan hendak melayangkan tinjuan padanya, ada satu lagi yang tidak bisa ia lupakan. Satu hal yang membuatnya berpikir keras, tak bisa lupa atau sekedar mengabaikannya barang sedetik saja.

Sebuah senyuman dari ketua tim futsal.

Sulli lupa siapa namanya dan juga nama tim futsalnya, tapi ia tidak akan pernah bisa lupa akan senyum itu. Bukan sebuah senyuman yang punya artian bagus. Sulli menilainya sebagai senyuman yang nyaris seperti cengiran mencemooh, seakan ia puas telah menyaksikan drama pelecehan itu di depan matanya.

“Orang itu… Apa aku pernah melakukan kesalahan padanya?”

.

.

.

CLAP CLAP!

“Oke, cukup sampai di sini latihannya! Gunakan sisa 15 menit kalian sebaik mungkin.” Minho berlari ke luar lapangan dan menghampiri Kibum di depannya. “Giringan yang bagus, Hyung. Aku benci orang seperti kau yang jarang latihan tapi permainannya tetap stabil.”

“I was born this way, Choi Minho.”

Well, selain dikaruniai kemampuan sejak lahir, ternyata kau juga beruntung. Pelatih kita berhalangan datang sampai minggu depan. Jadi, kemungkinan kau didepak dari tim karena jarang latihan benar-benar nol. Selamat, Hyung.“

Minho tahu caranya menampar wajah seseorang yang lebih tua dengan benar. Cukup dengan sanjungan dan sedikit gertakan.

Ketika sampai di ruang ganti, hanya ada segelintir murid di sana. Mungkin beberapa sedang membasuh badan atau melarikan diri ke kantin sekolah, berusaha meniru tim football yang bangga memamerkan kaos keren di tubuh proposional mereka. Masalahnya, tidak banyak anak Futsal yang punya tubuh sebaik mereka. Sejauh ini, Minho memperhatikan bahwa sebagian besar tubuh pemain futsal terlihat serupa dengan pohon bonsai, bagian kaki lebih besar dibandingkan bagian tubuh lainnya. Mengenaskan.

Hari itu Minho berada pada mood : malas bersentuhan dengan air, jadi setelah menanggalkan jersey-bola-setengah-basketnya ia hanya menyeka keringat dengan handuk kecil bermotif pisang dan semangka (pemberian penggemar dan diam-diam Minho pikir handuk itu keren juga) kemudian meraih tas berisi setelan seragamnya dari loker. Di saat Minho berupaya mengurai helai demi helai pakaiannya, tanpa ia sadari seseorang tengah mengendap-endap menghampirinya.

“Minho!”

GREP

Seseorang merangkul Minho persis dari belakang tepat ketika ia hendak mengenakan kaos dalamnya. Minho gelagapan lantaran terlalu terkejut. Ditambah lagi, orang menyebalkan yang memeluknya secara mendadak ini adalah… Seorang perempuan! Minho benar-benar gusar dan di saat itu pula ia menyadari, ada cairan yang mengalir melalui hidungnya kemudian menetes dan merembes di kaos putih polos yang tak jadi ia kenakan. Cairan merah dengan aroma setengah karat yang tak asing lagi di ingatan Minho. Darah.

Minho berusaha melepaskan diri dari rangkulan menjijikan itu dengan membuat sentakan keras ke belakang hingga gadis tersebut terjengkang ke lantai dan memekik kesakitan. Melihat kesempatan itu, Minho dengan segera melarikan diri tanpa menengok untuk mencari tahu siapa gadis beruntung yang berhasil merangkulnya dan membuat ia lari tunggang-langgang seperti Cinderella. Hingga beberapa detik berselang, Minho bersinggungan dengan Jonghyun, dan sahabatnya itu sadar dengan apa yang telah terjadi padanya.

“Si-siapa yang menyentuhmu?” Desak Jonghyun seraya menyambar lengan Minho dan menggiring pemuda itu menyusuri lorong sekolah yang paling jarang dilewati murid lain menuju ruang Kesehatan.

“Aku tidak tahu, aku tidak lihat wajahnya.” Gumam Minho, berusaha keras terlihat normal dengan berjalan di lorong sekolah tanpa mengenakan atasan sembari menutupi wajah menggunakan kaos dalam putih yang perlahan beralih menjadi merah. “Tidak bisa berhenti. Darahnya tidak bisa berhenti…”

Minho berhasil mentransferkan rasa gugupnya pada Jonghyun yang menjadi bingung dan kesal “Tenangkan dirimu, bocah! Sebentar lagi kita akan sampai di ruang kesehatan.”

Dan benar saja, setelah melewati tikungan menuju ruang lainnya, mereka sampai di depan ruang Kesehatan. Jonghyun dengan cekatan mengantarkan Minho ke salah satu ranjang dan setelahnya tidak tahu mesti melakukan apa. “Apa yang harus kulakukan?”

“Es! Aku butuh Es!”

“Ah, Es ya! Es! Ice-ice-ice di mana kau ice… di mana kau… Arggh!! Tidak ada es di tempat ini!! Ruang kesehatan macam apa ini!?” Jonghyun memekik frustasi ketika menyadari Minho terlihat semakin pucat dan kaos yang menutupi wajahnya hampir dipenuhi warna merah menyala. Namun tiba-tiba otaknya mulai bekerja dengan maksimal setelah menyaksikan penderitaan Minho “Ah! Ada Es di kantin! Pasti ada!” Jonghyun melangkah meninggalkan ruangan dan sebelum ia benar-benar pergi ia berteriak dari ambang pintu masuk “Tetaplah di sana, Choi Minho! Kau tidak boleh mati karena mimisan!”

Minho memutar bola mata. Itu tadi sungguh teriakan yang konyol. Beruntung, ia adalah satu-satunya murid yang jatuh sakit di tempat itu sehingga ia tidak perlu repot-repot merasa khawatir lantaran kehilangan harga diri sebagai kapten tim futsal kebanggaan sekolah yang ternyata menderita mimisan parah.

Minho pikir ini sangat-sangat-seribu-kali-sangat Menyebalkan! Siapa sih gadis tak tahu diri yang memasuki ruang ganti khusus murid laki-laki seperti itu? merangkul orang lain yang sedang memasang baju pula! Jika Minho punya kesempatan untuk membunuhnya, maka sudah ia lakukan sejak pertama kali gadis itu menyentuh permukaan kulitnya. Sayangnya, mimisan itu menghentikan segalanya.

Selain memikirkan siapa yang telah tega membuatnya menjadi kacau balau seperti itu, Minho juga mesti memikirkan apa yang sedang dilakukan Jonghyun dengan menghilang selama lima menit dan tak kunjung kembali dengan sebongkah es batu yang ia inginkan.

Pandangan Minho kian detik kian mengabur dan gelap, kaos putihnya kini sudah basah dan terlihat seperti baru saja digunakan untuk mengelap genangan darah. Minho pikir ia harus bertahan walau sejenak. Karena benar kata Jonghyun, Minho tidak boleh mati karena mimisan. Itu tidak keren! Mungkin bagi Jonghyun, mencari Es lebih susah daripada mencari perhatian gadis-gadis cantik dan Minho harus bersabar.

Tapi Minho benar-benar tidak memiliki kekuatan lagi. Ia menyerah. Ia menutup kedua kelopak matanya dan membayangkan bahwa ia akan kehilangan darah lalu mati. Namanya akan dikenang sebagai kapten futsal sekolah menengah atas yang punya penyakit aneh dan dirinya hanya akan memandangi semua kejadian mengerikan itu dari surga.

Namun di luar dugaan Minho, seseorang datang menyentuh pundaknya. Orang itu bergerak untuk mendudukkan ia dari posisi rebahnya. Saat itu, Minho rasa seakan seutas tali kehidupan telah ditarik oleh yang mahakuasa secara paksa dari dalam kepalanya, karena sakit dan denyutannya tidak main-main.

Ugh, kepalaku…” Desis Minho sembari berusaha membuka sepasang kelopak matanya seolah ada bulu mata seberat satu ton yang bertengger di sana. Ia mendapati seorang laki-laki berseragam olahraga tengah duduk di tepi ranjang sembari menahan tengkuk Minho agar tidak kembali tertidur. Entah mengapa, Minho merasa jauh lebih baik setelah anak itu mencondongkan kepala Minho ke depan.

Pemuda itu lalu menekan cuping hidung Minho untuk beberapa menit dan Minho hanya bergeming tanpa berniat berontak karena setiap tindakan yang orang itu lakukan, hanya membuat keadaannya semakin membaik. Minho juga membiarkan dirinya menghirup udara melalui mulut secara teratur dan tenang untuk menolong dirinya sendiri.

Detik bergulir menjadi menit dan Minho tidak menyadari ia bahkan telah menghabiskan waktu lebih dari 10 menit dengan orang yang bahkan tak ia kenali tengah menekan cuping hidungnya. Minho merasakan kondisinya semakin membaik, kepalanya juga tidak sepenat sebelumnya. Secara alami, ia dapat merasakan oksigen-oksigen mengalir di dalam darahnya yang perlahan mulai mendesir teratur. Ia berpikir, kemungkinan besar pemuda yang menanganinya dengan terampil itu adalah petugas kesehatan yang berpiket.

Setelah keadaan Minho benar-benar nyaris pulih, pemuda itu beranjak dari sisinya kemudian menghilang di antara tirai yang membatasi satu ranjang dengan ranjang lain. Minho ingin sekali menghaturkan ucapan terima kasih sementara pemuda itu justru tak kunjung kembali. Minho benar-benar menyesal karena harus merepotkan orang lain, sekaligus membiarkan orang asing tahu bahwa seorang Choi Minho ternyata bisa juga mengalami mimisan seperti bocah lima tahun yang menderita panas dalam.

“Ah, Minho! Kantin kehabisan es batu! Jadi aku mencarinya di… ” Jonghyun datang tergopoh-gopoh dari balik pintu masuk sembari menjinjing sekantung penuh bongkahan es batu kemudian justru tercengang ketika menyaksikan Minho dengan raut wajah masam memandanginya begitu sinis. “Kau sudah sembuh atau… kau ini arwahnya?”

“Jika saja aku ini arwah, aku sudah merasukimu dan membuat kau mimisan hingga berminggu-minggu!”

“Jangan marah! Nanti kau mimisan lagi!”

Minho ingat mengapa mimisannya begitu sukar dihentikan. Emosinya yang meledak-ledak hanya memperburuk kondisinya. Begitu juga dengan peristiwa barusan, emosinya tidak stabil dengan terus merasa ingin membunuh orang yang memeluknya secara tiba-tiba juga ingin membunuh Jonghyun karena meninggalkannya begitu lama. Hingga petugas kesehatan yang menanganinya datang dan kehadirannya jauh lebih dari kata membantu. “Jika bukan karena petugas kesehatan tadi, aku mungkin sudah mengalami anemia dan dilarikan ke ruma sakit.”

Jonghyun buru-buru membaluti beberapa butir es batu dengan sehelai kain bersih dan menyerahkannya pada Minho untuk mengompres batang hidungnya “Ada petugas kesehatan ya? Aku tidak melihat siapa pun di sini…” ujarnya seraya menyebarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.

“Ada. Barusan saja pergi. Aku bertaruh kalian berpapasan di jalan.”

Jonghyun terpaku di tempatnya. “Sungguh?”

“Ya. Orang itu baru saja pergi.”

“Dia perempuan? Kau di tangani oleh petugas perempuan?”

Minho mendesah berat “Jika petugas perempuan yang menanganiku tadi, maka sekarang kau hanya akan melihat mayatku yang kehabisan darah terkapar di ranjang ini.”

Jonghyun benar-benar kehilangan kalimat yang mestinya bisa ia teriakkan saat itu juga. Ia hanya masih tak percaya dengan kenyataan lucu di hadapannya. Ia ingin tertawa tetapi juga masih merasa heran dan kebingungan.

“Ada apa?” Tanya Minho tak kalah herannya.

“Kau tidak akan menduga ini, Minho. Kau tidak akan menduganya.”

“Menduga apa?”

“Aku berpapasan dengan Sulli di pintu masuk ruang kesehatan. Itu berarti… Dia yang merawatmu? Dia yang menyentuhmu? Tapi kau tidak mati Minho! Kau baik-baik saja bahkan mimisanmu berhenti!” Terang Jonghyun dengan kobaran api semangat terlukis jelas di matanya.

Minho mengernyit “Sulli? Siapa Sulli?”

“Bagaimana kau bisa melupakan gadis yang menumpahkan sisa makanannya ke kepala Baekhyun sepekan lalu di cafetaria!”

Minho menggali paksa ingatannya kemudian tercenung “Pemuda yang pakai rok itu ‘kan?”

“Tuan Choi Minho yang baru saja kehilangan banyak darah dan otomatis kehilangan daya ingatnya juga… Berapa kali harus kujelaskan kepadamu! Dia itu perempuan! PE-REM-PU-AN! Sulli itu perempuan dan dia menyentuhmu dan kau baik-baik saja dan tolong jelaskan apa yang telah ia perbuat padamu!”

Kini giliran Minho yang kehabisan kata-kata untuk menggambarkan pemikiran absurd yang berotasi di dalam kepalanya. Ia mengingat-ingat bagaiman Sulli datang dan duduk di tepi ranjang. Ia terlihat mirip anak laki-laki pecinta game yang punya badan kurus dan bahu yang kecil dalam kaos olahraga kedodoran, jadi Minho membiarkan Sulli menyentuh pundak bahkan tengkuknya. Minho juga membiarkan Sulli menekan cuping hidungya selama lebih dari sepuluh menit.

Minho menjamah tengkuk dan batang hidungnya untuk memastikan bahwa sentuhan itu nyata. Beberapa kali pun ia berusaha mengelak bahwa itu mustahil, namun kenyataan memberi tahunya bahwa Sulli benar-benar hadir di tempat itu, menyentuh permukaan kulitnya senatural oksigen yang masuk ke dalam aliran darahnya. Mengalir, terjadi begitu saja.

“Itu berarti… Dia adalah perempuan pertama yang berhasil menyentuhku tanpa membuatku mimisan sama sekali sejak aku menderita sindrom ini.”

.

.

 

To be continued

.

.

341433487_640

A/N Dazdev : Hallooo! ini tumben banget ga sih? aku update secepat kilat begini? percaya ga percaya, aku mengetik naskah proklamasi ini dalam semalam tanpa jeda dari pukul 12 sampai jam segini (Jam 02 : 15) tebak kenapa aku melakukannya? Bcuz i would go on vacation! yeaaah! jadi, untuk seminggu ke depan, aku ga akan update. tapi aku janji bakalan sering ngetik naskahnya di hape, jadi bisa segera update kalo udah balik dari liburannya. percaya ga percaya juga, jam 3 (pagi ini) aku harus mandi dan prepare karena jam 4 nya harus udah ngumpul dan 4.30 nya kami bakalan check in di bandara. gila ga’ sih? aku ga tidur demi kalian semua… /ciumdaku/ sekian ya surat izin berlibur ini kusampaikan. untuk yang penasaran, temukan jawabannya di chapter 3 ya. (loh)

see u next week babies :* /kissmekissmekissme/

Advertisements

57 thoughts on “[Chap 1] Rumor Has It

  1. Waduuh ternyata part 1nya udah dipost lumayan lama..duuuh aku ketinggalan niih hehhe

    Ternyata minho kalo mimisan susah sembuh yaa..kasian,untung aja ada bebeb ssul yg nyembuhin dia…
    ciee ciiiee disentuh bahkan disembuhin cwek ciee sampe gak percaya gitu wkwkkw

    Makin seru aja,ditunggu part selanjutnya..fightiing 😊😊😊

  2. /ciumkakdev/ have fun ya kak, tengkyu udah bela-belain kita sebelum liburan, jadi tadi sulli? Syndrom apa sih? Terus itu yg di diary nya ssul siapa yg dimaksud? Penasaran eh
    Update soon ^^ trims

  3. Aku baru baca ffnya setelah melihat rumor has it ada chap 2
    Ga sempet ngecek 😦 jd ketinggln
    Tadi agak g ngerti tp paas di akhir baru ngerti
    Trimkasih author, ceritanya menariiik

  4. Wuih ini cerita gokil jga minho oppa disentuh cewek aja ampe mimisan gtu. Haha pesonanya ngk ilang tp yg punya pesona ketakutan klu disenth tp bahagia bgt yahvjd sulli wanita yg bs nyentuh oppa tanpa hrs mimisan keren bgt ndah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s