THE runaway BRIDE (Part 6)

THE RUNAWAY BRIDE

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli

Supported Cast : Choi Siwon, Im Yoona,Kim Nam Jo,etc

Length : chaptered

Rate : DEWASA (18+)

♥♥

6. Perjalanan Bisnis

.

.

 

.

Dalam beberapa jam yang mereka habiskan berikutnya, Sulli mulai merasakan geliat kekaguman pada Choi Minho , walaupun ia enggan mengakuinya. Cara kerjanya yang cepat dan luwes membuatnya beberapa kali belajar. Sulit untuk diterimanya kalau ternyata pria itu benar-benar penjual yang tahu menggunakan daya tariknya untuk memikat calon pelanggan. Setelah mereka jatuh ke dalam pesonanya, ia baru mennwarkan semua kelebihan produk yang dimiliki sehingga orang akan sukar mengatakan “tidak” pada produk yang ditawarkannya tersebut.

Sore harinya Choi Minho benar-benar kebanjiran order yang variatif. Ada yang hanya sekedar coba-coba, tetapi ada beberapa yang justru melakukan penawaran kontrak dengan nilai besar. Bahkan ada beberapa pesanan yang minta dikirimkan dalam tempo dua hari.

Dan WOW ! Bagi Sulli itu adalah prestasi yang luar biasa, karena dirinya yang selama ini bergerak sebagai manajemen pemasaran selalu menemukan kesulitan untuk mendapat klien dalam beberapa jam … dengan nilai yang luar biasa.

” Tampaknya aku harus belajar banyak dari caranya memasarkan produk. Rupanya Jack Delaney sengaja menempatkanku di sini untuk mengintai gerak-geriknya dalam memasarkan. Hm… Jack ingin aku belajar cara pemasaran yang baik dan menghasilkan.” Pikir Sulli.

Saat itu mereka sedang melaju menuju hotel, langit New York sudah mulai redup menandakan hari sudah bergulir ke malam .

” Aku capek.” Keluh Minho dengan desahan panjang.

” Apalagi aku. Aku harus menyetir mobil berkeliling seharian, mencatat semua proses pembicaraan, dan menjadi pendengar yang baik sepanjang siang. Tetapi aku tidak mengeluh.” Sulli berfikir dengan marah, kesal dengan keluhan manja lelaki di sebelahnya.

Tetapi demi kesopanan dan etika bisnis yang dimiliki perusahaannya, ia hanya menelan bulat-bulat perkataannya tersebut.

” Ayolah kita mampir ke restoran kecil itu untuk sekedar melepas lelah.”

Tiba-tiba Choi Minho menunjuk sebuah restoran mungil yang mereka lewati. Sulli ingin mendebat dan memutuskan untuk segera pulang, tentu saja agar dirinya bisa beristirahat. Berendam dalam bathtub yang dipenuhi air hangat sambil meminum sedikit wine untuk menenangkan semua syarafnya yang tegang dan lelah. Tetapi perjalanan ke hotel belum tentu lancar, dan ia bersumpah dalam kunjungan ke dua hotel terakhir perutnya sudah mulai berbunyi minta diisi. Teringat kembali bahwa dari pagi ia hanya meminum secangkir kopi dan setangkup sandwich dingin.

Akhirnya ia membelokkan mobil ke restoran yang diminta. Mencari parkir yang tidak begitu sulit.

” Kau tahu jenis restoran apakah itu ?”

Minho bertanya begitu Sulli mematikan mesin mobilnya.

“Aku tidak tahu.” Jawab Sulli pendek

Ia menarik nafas panjang saat mata besar pria itu menatapnya, menunggu…. Tentunya menunggu penjelasan dari jawabannya itu.

” Well, saya memang lahir dan dibesarkan di Negara ini. Tetapi itu tidak berarti saya mengenal lika-liku Negara ini, Mr. Choi.”

” Minho.”

” Saya tidak suka berkeliling dan menghabiskan separo waktuku untuk bersenang-senang. Restoran ini terletak di bagian lain kota New York. Kau tentunya setuju denganku, apabila keluargamu memiliki usaha restoran di satu sisi kota ini, kau tak akan sudi menghamburkan setiap sen uangmu untuk memberikan keuntungan ke restoran lain di sisi lainnya di kota yang sama.”

Minho menaikkan sebelah alisnya.

” Mengapa kau mengatakan seolah aku setuju dengan pendapatmu ?”

” Huh ?” Sulli terbengong sejenak,” Aku tidak.”

“Tetapi perkataanmu tadi…”

” Aku memang punya gagasan begitu, tetapi tak minta persetujuanmu. Intinya aku bukanlah orang yang mengetahui semua jenis restoran yang tersebar ribuan bahkan mungkin puluhan ribu, di kota sebesar New York. Kalau kau menginginkan teman perjalanan bisnis yang demikian, kau memilih orang yang salah.”

Sulli mencabut kunci kontak mobilnya dengan kesal, sebelum membuka pintu dan membantingnya dengan kasar.

” Aku tidak bermaksud membuatmu marah, Jinri.” Choi Minho berusaha menjejeri langkahnya.

” Tetapi kau melakukannya.”

” Aku hanya ingin tahu, bagaimana ide seperti itu bisa muncul di kepalamu yang cerdas. Aku tahu dan banyak belajar, apapun yang kau ucapkan selalu mengandung alasan-alasan yang cerdas.”

” Begitukah ? Terimakasih untuk pujianmu.” Dengus Sulli sinis.

” Sama-sama.” Jawab Minho dengan senyum jahil.

Melihatnya, mau tak mau Sulli tersenyum tipis. Pria ini selalu menemukan cara untuk membuat orang-orang di sekitarnya memaafkan kesalahannya dengan cepat.

” Sungguh tidak adil, alam memberikan begitu banyak kelebihan dan kemudahan buat pria ini… sementara kebanyakan orang harus berjuang keras untuk meraih satu atau dua keberuntungan saja dalam hidupnya.”

Tempat yang secara sembarangan dipilih Choi Minho untuk beristirahat itu bernama “SEVEN”, yang satu sisinya menghadap ke sungai Hudson. Mereka memilih tempat duduk yang menyajikan pemandangan ke arah sungai tersebut. Kegelapan malam yang mulai menggantikan senja, terpampang dengan jelas di depan mata. Tetapi dengan ajaibnya, kegelapan itu berubah menjadi pemandangan yang mengagumkan. Lampu-lampu yang berkilauan di sepanjang sungai menjadi lukisan mempesona buat Sulli.

Seharusnya, ia terbiasa dengan pemandangan seperti ini… yang sudah dilihatnya sepanjang hidupnya. Tetapi entah mengapa malam ini terasa memberikan nuansa yang berbeda. Lebih hidup, lebih eksotis dari biasanya. Dan dengan ajaibnya, nuansa tersebut menularkan perasaan santai ke dalam dirinya.

” Pemandangan di sini luar biasa.” Komentar Minho setelah puas melihat ke sekelilingnya,” Mengingatkanku pada tempat kelahiranku.”

” umm…ya !”

” Ini adalah perjalanan bisnis paling menyenangkan yang pernah kualami seumur hidupku.”

” Apakah kau tidak merasa lelah ?”

” Aku ? Tidak.” Minho tersenyum lebar,” Aku tak pernah lelah untuk mengenal belahan bumi yang menampilkan banyak keunikan. Kebetulan Amerika adalah Negara yang belum pernah kukunjungi. Tak ada alasan bagiku untuk lelah. “

” Tetapi di mobil tadi kau mengeluh capek.”

“Ya. Untuk perjalanan hari ini…. Karena rasanya aku telah mengerjakan tugas semingguku dalam satu hari. Itu tak ada kaitannya dengan perjalanan bisnis ke negeri ini. Maksudku, perasaanku tentang tujuan perjalananku. “

” Kalau yang kita lakukan seharian ini bukan perjalanan bisnis, lantas kau menamainya apa ?”

” Well… aku belum memikirkannya.” Jawabnya dengan riang,” Yang jelas, seharian ini aku tidak merasa dibebani target kerja. Kemudian ada asisten cantik yang siap membantu.”

Choi Minho mengedipkan sebelah matanya, membuat jantung Sulli bergetar.

” Dan kalau hari ini aku mendapatkan begitu banyak tawaran bisnis….itu adalah bonus tak terduga.”

Sulli tersenyum dengan gagasannya itu.

” Sebenarnya daftar hotel yang kita kunjungi hari ini adalah daftar hotel yang harus kudatangi dalam seminggu keberadaanku di sini. Tetapi karena ternyata aku melakukannya dalam satu hari, maka kuanggap itu pekerjaan yang melelahkan. Menyelesaikan pekerjaan seminggu dalam sehari adalah melelahkan, bukan ?”

” Aku setuju kalau begitu.”

” Kau lelah ?”

” Bolehkah ?”

“Seharusnya aku tidak mengeksploitir tenagamu, manisku. Kau mau memaafkan aku, bukan ?” wajah pria itu tiba-tiba terlihat serius dan khawatir.

” Benar. Seharusnya aku ada di sini sebagai penerjemah untukmu. Hanya itu.”

” Tetapi aku tidak memerlukan penerjemah.” Bantahnya dengan nada tak bersalah.

” Tentu saja, walaupun aku ditugaskan untuk itu pada awalnya. Tetapi pada kenyataannya, bahasa Iggrismu sebaik orang Amerika sendiri. Karenanya, aku ada hanya melaksanakan tugas paling membosankan sepanjang abad….mencatat dan mendengarkan.”

” Kau adalah pencatat terbaik untuk bisnis ini.”

Tangan Minho tiba-tiba menangkup dan menggenggam jemari Sulli. Ibu jarinya bergerak lembut mengusap-usap punggung tangan Sulli.

” Terimakasih.”

Sekilas Sulli seperti melihat ada kesedihan tersirat dalam sorot matanya. Tetapi hanya sedetik, setelah itu berganti dengan sorot jahil seperti biasanya, sehingga Sulli tak yakin apakah perkiraannya tadi benar atau salah.

” Nah, sekarang marilah kita ketik semuanya di laptop… mumpung semuanya masih segar dalam ingatan.”

Choi Minho meletakkan laptop di meja kemudian menghidupkannya. Dengan wajah bersemangat ia meraih beberapa lembaran yang ditulis dan disusun Sulli sebagai jurnal perjalanan mereka. Matanya yang besar meneliti tulisan dan coretan-coretan yang di buat Sulli, dengan alis berkerut. Sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya dengan senyum malu-malu.

 

” Sayangnya, aku tidak bisa membaca tulisanmu.”

” Biar aku saja yang mengetiknya di laptopmu. Tidak semua orang bisa membaca tulisan steno, kurasa. Sekarang lebih baik kau memesan makanan saja sebelum aku pingsan karena kelaparan.”

” Dengan senang hati.”

Choi Minho meraih buku menu dan meneliti isinya, sementara Sulli mulai mengetik hasil catatannya.

Seorang pramusaji datang, Minho segera memesan minuman. Kemudian ia menyebutkan beberapa macam pesanan, yang membuat Sulli mengalihkan pandangannya dari layar komputer.

” Kau gila ?” desisnya tanpa sadar, dan cepat-cepat menggigit lidahnya ketika menyadari pramusaji itu tersenyum geli.

” Kenapa manisku ? Aku adalah penikmat makanan dan aku melihat semua nama makanan yang ada di menu ini terlihat enak untuk dicoba.” Tanya Minho dengan melebarkan dua matanya, memperlihatkan wajah tanpa rasa bersalah yang menggemaskan.

” Masalahnya, siapa yang akan menghabiskan semua makanan itu ?”

” Hemm… kalau begitu, kau tidak tahu berhadapan dengan siapa.” Gumamnya, kemudian mengalihkan pandangannya pada pramusaji, ” Itu semuanya. Saya akan sangat menghargai bila minumannya diantar secepatnya.” Tambahnya.

Sulli menendang kaki Choi Minho dari bawah meja.

” Auch !” kata Minho kemudian mengusap tulang keringnya.

“Apa lagi ?”

” Kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu. Tidak sopan, Choi Minho ! Pramusaji itu akan melakukannya tanpa kau minta.”bisik Sulli begitu pramusaji itu meninggalkan meja mereka.

” Maaf. Tetapi aku hanya khawatir padamu saja. Tentunya kau haus sekali…”

” Usaha yang bagus…” kata Sulli sambil memutar bola matanya.

” Tetapi aku serius ketika mengatakan bahwa aku ingin memesan semua makanannya. Namanya terlihat lezat.”

” Kau tak bisa mengatakan satu makanan lezat hanya dengan melihat namanya. Dan, masalahnya kau tak bertanya kepadaku sedikit pun tentang apa yang mau kupesan. Itu benar-benar gentleman, Minho.”

” Oh, itu masalahnya ? Kalau menurutku, aku telah memasukkan makanan kesukaanmu ke dalam daftar pesananku.”

” Jadi kau memesankan makanan untukku, yang menurutmu itu kesukaanku ?”

” Well…. Mungkin ya.”

” Huh ! Itu adalah salah satu yang akan dilakukan ayahku kalau kami memasuki restoran. Ia yang akan memesan semuanya, kami tak punya pilihan apapun selain memakan apa yang dipesannya !”

Choi Minho memandang Sulli tak percaya .

“Tetapi itu kan lain Jinri. Ayahmu di sana bertindak sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap apa yang dimakan keluarganya. Beliau punya motif yang lebih mulia dariku.”

” Motif mulia ? Bisakah kau tunjukkan motifnya padaku ?”

” Umm… mungkin agak sulit untuk membandingkan. Tetapi aku belajar dari appa. Saat kami berkumpul di satu restoran yang baru pertama kami kunjungi, appa adalah orang yang menentukan apa yang akan dipesan. Dan biasanya ia tak salah memesan makanan, dalam artian kami bisa menikmati apa yang dipesannya.” Choi Minho menghela nafas,” Maaf, aku masih menyimpan memorinya karena appa sudah lama meninggal. Tetapi Jinri, apakah kau suka mengeluhkan apa yang dipesan ayahmu ? Maksudku, ketika makanan itu datang kalian tak menyentuhnya karena tidak sesuai selera kalian.”

Sulli berfikir sejenak,” Makanan yang dipesan selalu habis kami makan, karena bila tak disentuh appa akan marah besar.”

” Jadi kalian menayantapnya karena terpaksa…bukan karena suka, ya ?”

” Tidak ! Err…maksudku, appa selalu memilihkan makanan yang kami suka. Tetapi ada saatnya, kami ingin mencoba yang lain, yang mungkin tidak terfikirkan olehnya.”

” Itulah motifnya. Dia, ayahmu, lebih tahu apa yang kalian sukai daripada kalian sendiri.”

” Apa maksudnya ?”

” Ayahmu mendampingi kalian dan melihat kalian sejak kecil sampai dewasa. Dia mengenali apa yang sebenarnya kalian suka dan tidak suka, apa yang kalian inginkan dan tidak inginkan… seperti beliau mengenali telapak tangannya sendiri. Sedangkan kalian, tumbuh karena ingin mencoba… ingin mengetahui apakah sesuatu itu kalian sukai atau tidak. Bila aku melihatnya dari pertimbangan finansial, maka cara ayahmu lebih praktis dan mulia. Well, aku tidak melihatnya dari kenyamanan psikologis tentu…”

Sulli tertegun, merasa heran kenapa pemikiran seperti itu tidak pernah ada dalam benaknya.

” Dan apakah motifmu yang membedakan dengan motif ayahku ?”

” Well, di sini aku adalah pencari nafkah. Dengar, setiap aku memasuki restoran… sejujurnya naluri bisnisku akan tergugah. Dan aku membaca peluang.”

” Dengan memesan semua jenis makanan …?”

” Yang menarik minatku, tentu saja. “

” Lalu ?”

“Lalu aku akan memikirkan apa yang akan kulakukan dengan makanan itu. Tentu saja untuk kubawa ke lahan bisnisku.”

Sulli mendesah panjang, rasanya percuma berdebat dengan seorang Choi Minho. Dia sepertinya selalu punya jawaban yang tepat untuk setiap pertanyaan. Akhirnya Sulli mengalihkan kembali konsentrasinya pada layar computer.

” Ngomong-ngomong tentang ayahmu….” Kata Choi Minho tiba-tiba,” Aku mulai mengerti apa yang kau maksud tentang ayahmu.”

Pramusaji datang dengan hidangan pembuka yang mulai memenuhi meja, sehingga mau tidak mau Sulli menyingkirkan pekerjaannya.

” Simpanlah dulu pekerjaannya, yang kita perlukan sekarang adalah makan dan bersenang-senang.”

” Sesuai dengan yang paduka perintahkan, yang Mulia.” Gurau Sulli, sambil mematikan laptop.

” Well, secara halusnya…. Boleh kubilang kalau ayahmu itu adalah seorang yang termasuk kuno dalam berpandangan.”

Sulli mengangguk,” Dalam beberapa hal , appa memang orang yang hebat. Dia baik hati, pekerja keras, perhatian penuh pada keluarga. Tetapi sebagai balasan dari apa yang dilakukannya buat kami, dia berharap dirinya menjadi pusat dalam setiap keputusan dalam keluarga. Orang lain tak boleh mengeluarkan pendapat.” Sulli menjelaskan dengan jujur, “Mirip denganmu tadi.” Ia menambahkan dengan maksud menggodanya.

” Tidak.” Bahtah Minho mengejutkan

” Appaku meninggal saat aku masih berumur sembilan tahun, tetapi aku masih mengingat gambarannya dengan jelas. Aku yakin, dia tidak pernah bicara kepada eomma dengan cara yang kasar seperti ayahmu…maaf.” Choi Minho meneguk minumannya sedikit, “: Dan aku juga yakin kalau aku takkan pernah berbicara kepada istriku seperti itu.”

Sulli menyendok sup dan mencicipinya, rasanya tidak mengecewakan.

” Mengapa kau mengatakannya padaku seolah aku ingin menjadi istrimu, Minho ? Ingat, aku tidak akan pernah menikah denganmu.”

Minho nyengir,” Katakan itu pada ayahmu. Kemarin malam dia nyaris merencanakan sebuah hadiah buat perikahan kita.”

” Kau saja yang bilang padanya. Kau kan laki-laki, yang lebih berkuasa dibandingkan perempuan. Jadi yang lebih berkuasa lah yang harus bicara, sedangkan kaum perempuan hanya menerima dengan tutup mulut.”

” Mwo ? Naneun ? Aku ??” Minho menunjuk dirinya dengan sendok yang dipegangnya, ketakutan jelas tampak di wajahnya.

” Ya, kau ! Kau itu pria atau tikus sih ?”

” Tikus.” Jawab Minho cepat,” Well, akan lebih aman menjadi tikus bukan ?”

Sulli mengernyit tak senang ,” Kau mencari aman, karena kau tak perlu menjelaskan apapun pada ayahku.” Kata Sulli diakhiri tawa kegelian.

Minho meletakkan sendok dan garpunya hati-hati,” Rasa makanannya seperti yang kupikirkan…. Gurih, tetapi bukan karena perasa dari bahan alami. Padahal rasanya akan sempurna bila perasa itu diambil dari kaldu hewan yang asli.”

“Apa ?” tanya Sulli keheranan.

” Supnya, aku maksud.” Katanya,

” Jinri, kau terlalu keras kepala dan memiliki sifat pembangkang yang luar biasa. Aku berfikir … jangan-jangan kau menolak menikah denganku karena semata-mata ingin memperlihatkan perlawananmu kepada ayahmu.”

” Itu satu…. Tetapi banyak alasan lainnya.” Sulli meyakinkan lawan bicaranya.

” Banyak alasan lain?”

” Well… yeah ! Alasan yang tak perlu kau ketahui.”

” Fuihhh….. kalau begitu aku aman !”

Choi Minho memamerkan kelegaannya dengan berlebihan..

” Begini saja, sekarang habiskan semua makanan pembukanya.” Kata Sulli cepat,” Sebentar lagi hidangan utamanya akan datang. Kau jangan menyia-nyiakan uangmu… dan aku penasaran, apa saja yang telah kau pesan.”

” Penasaran ? Ataukah kau memang sudah kelaparan ?”

” Dua-duanya.”

Keduanya tertawa dan kembali menyantap hidangan pembuka yang membuat kepala Sulli cukup pening, karena terlalu banyak pilihan.

 

========TBC=========

Maaf , karena gangguan pada jaringan internet di tempatku fanfic ini baru bisa dilanjutkan. Trims untuk semua atensinya, untuk komentar, untuk pesan pribadi lewat FB dan email. Love you ALL !!

GOMAWO

  untuk 66 readers yang sudah mau menyempatkan diri berkomentar , juga  untuk Blog Like-nya  :


 Cristian Mihai, christin51194 , Wendy On The Road,irmaariani , minjichokyuyoung's , 
denis143244 , fekimbumblog, ernaniipark , mijhu91, chuesztwatyedisneytisa, ulfahalimatus
,acilChoi,Noviaanggraeni,Azkya, cantikakairina ,patiah,avasterlingauthor, cicinurrahmawati ,
ndysyalsa ,flamingfiction , choi96riski, 
Advertisements

85 thoughts on “THE runaway BRIDE (Part 6)

  1. Yeay mereka makin deket .. ya ampun mnho pinter banget gunain mukanya siapa ya produk nya terjual habis kekeke .. ciye udah langsung nikah aja gak usah ada tunangan ..kelamaan kasian minho nya ..Oh iya kok cast minsul mulu kenapa yang lain cast gak ada apa disengaja ..scene ini buat min sul doang..ah sudah lah abaikan yang penting ada mereka aja udah seneng dan bikin senyum sendiri.. fighting eon ff nya.. selalu ditunggu ff nya

  2. kkkk sulli minho ada aja berdebatnya.. kkk dan sulli sebnarnya kagum dengan minho. emang dasar orangnya keras kepala dan gitu deh hahhaa si minho kenapa sedih eonni?? ada apa dgn minho????O.O lanjut ya ^^

  3. Minsul makin dekat dekat ajah nihhh.. Bahkan sulli udah gak sungkan sungkan ketawa dan bercanda brg minhoo.. Semoga sulli gak nolak buat dinikahin brg minhoo wwkwkwk

  4. mkinn dkett aja nichh mreka brdua..kkk
    ihhh mreka tuhh manisss 😆😆..wlaupun mreka mshh debat trzz..ada2 gtu hal yg slalu mreka debatin…tp debatnya itu lochhh,..lcu bkin orang ktwa sndiri…
    hmm pnsran klanjutannya. ..

  5. wahhh..part ini lebih banyak gambarnya jadi seneng..kalau bisa tambahin lagi ya eon..
    biasanya kn suli perannya kebanyakan jadi gadis innocent,tapi d ff ini beda jadi agak kaget..tapi tetep keren kok .
    q suka bahasa eonni..
    “SEDERHANA TETAPI MEMIKAT”
    eon kalau bisa tambahin ya comedinya,biar tambah seru gak terlalu tegang gitu..heee..
    gumanwo

  6. sulli mah gitu deh! baru aja ketemu dan kenal masa tetep mau nolak minho? kenali dulu si minho entar kalau udah tao sikap aslinya baru memutuskan. tapi dipart ini ketertarikan dan kekaguman mulai muncul di hati sulli.
    kasihan juga sulli, dia harus menemani minho keliling untuk berbisnis. disuruh jadi sopir, harus mendengarkan dan mencatat semua pembicaraan minho dan klien. itu pekerjaan yg melelahkan. tapi sulli sangat profesional. suka dengan kepribadian sulli.
    walaupun sulli sudah biasa makan malam diluar dan disuguhkan dengan pemandangan yg indah tapi khusus untuk malam ini suasana makan malam jauh lebih berwarna dan berkesan karena kehadiran minho disampingnya. mau tidak mau sulli harus mengakui kalau kehadiran minho membawa sensasi yg berbeda. itu harus diakui cepat atau lambat.
    maaf baru bisa RC

  7. aseek sdh mulai ada bumbu bumbu nih hahahaa
    hayOo minho kmrin janji ga mau ngelamar nanti kalau suka mau nikah ga pakai dilamar gt ??
    hahahaha

  8. Makin akrab nih mereka berdua sulli lupa kayaknya sama rencana liciknya dulu hehheh udah asik sihh jadi lupa deh semangat ya onnie

  9. Semangat buat eon.. Maaf cma bsa komen kek gni, sbnernya dr awal blum baca sih eh tp bru part 1 yg dbaca.. 😀 Pngen ksi smangat ajj buat eon dan makasih udah post ff yg maincastnya minsul 😀

  10. Perjalanan yg sngt menyenangkan.Uwwaa Sulli bnyk blejar dri Minho.hihihi seandainya mereka Menikah,Sulli tdk usah lg krj d tmpat krj.y lalu ia jd asisten Minho sj skligus sbgai istri.y.heheeh enakkan klw istri jd kan asisten,bisa d bawa kmna-mana 😀
    ciee yg sllu brcanda+yg sllu marahan lama2 akn jd CINTA
    ok,next part 7

  11. Kencan secara tdk langsung??
    Ga tau lah, yg penting mereka hanya berdua dan terlihat bahagia. Meskipun Sulli agak gimana gitu… 😂

  12. Duh duh duh..
    Minhonya mempesona banget..
    Udah ganteng, mempesona, wawasannya luas lagi. Authornya keren yg nempatin watak minho jadi kaya gitu. Jadi makin sayang minho deh nih ><

  13. Eonni semuanya tentang makanan jadi laperrr
    Udah baver baca fanfict ini ditambah semuanya makanan serius baver + laper wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s