THE runaway BRIDE (Part 8)

THE RUNAWAY BRIDE

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli

Supported Cast : Choi Siwon, Im Yoona,Kim Nam Jo,etc

Length : chaptered

Rate : DEWASA (18+)

♥♥

8.  Janji Makan Malam

.

.

Seperti yang dikatakan Choi Minho di ujung kebersamaannya malam itu, keesokan harinya pria itu muncul di kantor Sullli , tepat di saat jam kantornya selesai. Dengan senyuman lugu dan sikap yang seadanya , dia berdiri di sisi mobilnya yang terpakir di tempat biasa.

” Aku benar-benar penat, Minho. Aku minta maaf tidak bisa memenuhi undangan makan malammu.” kata Sulli dengan rasa bersalah.

” Apakah kau tidak menikmati pekerjaanmu ?”

” Maksudmu ?”

” Orang yang tidak menikmati pekerjaannya akan selalu merasa lelah selepasnya.”

Sulli menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum tipis.

” Kalau kau bertanya apakah aku menyukai pekerjaanku, maka jawabannya ” Ya, aku menyukainya.” Tetapi itu tidak berarti aku tidak bisa lelah dengan pekerjaan tersebut.”

” Apakah kantormu begitu banyak menyerap energimu, Jinri-ah ?”

” Tidak. Tentu saja tidak… sepanjang upah yang kuterima memang layak untuk apa yang kulakukan.” Jawab Sulli cepat,” Tetapi hari ini berbeda. Jadi aku mau pulang dan beristirahat. Ke luar makan malam mungkin pilihan terakhir yang ingin kulakukan.”

Choi Minho menegakkan tubuhnya, matanya menatap wajah Sulli lekat-lekat. Ia membiarkan Sulli menjawab beberapa sapaan dari rekan sekerjanya yang satu per satu sudah meninggalkan parkiran.

” Walaupun malam ini adalah malam terakhir sahabatmu ini di New York ?” bujuknya, hal ini membuat Sulli menegang.

“Secepat itu ? Bukankah kau bilang pekerjaanmu di sini masih banyak ? Bagaimana dengan penyewaan gudang ? Bagaimana dengan pengaturan impor, pengurusan dengan pihak perpajakan ?”

” Semua sudah diselesaikan . Dan sepuluh menit yang lalu aku sudah melihat barang-barang kami yang dikirim dan bagaimana itu disimpan dalam gudang. Aku memeriksa suhu, kelembaban, mutu pengepakkan. Jadi untuk New York, kami sudah memiliki standar mutu yang diinginkan baik itu tempat maupun jenis barangnya. Dan abangku, Siwon hyung, sudah mendatangkan dua orang kepercayaannya untuk mengawasi gudang dan proses pendistribusiannya. Tugasku di sini sudah selesai.”

” Oh well, selamat kalau begitu.” Sulli berkata datar, tak tahu mengapa ada rasa nyeri di ulu hatinya saat mengatakannya

” Pesawatku akan terbang pukul 09.00 besok pagi. Kalau kau tak bisa makan malam di luar… bagaimana kalau kita makan malam di apartemenmu saja. Bukankah kau bilang kalau teman seapartemenmu sedang ke Miami ?”

” Tetapi… aku tidak menyiapkan apapun di rumah… “

” Tidak masalah. Kita beli makanannya di sini lalu membawa pulang ke apartemenmu. Aku berjanji tidak akan menyita banyak waktumu…. Hanya makan malam perpisahan ?”

Sulli menatap wajah memelas di hadapannya dengan tersenyum, nyaris tak percaya kalau dirinya bisa tergoda untuk menyetujuinya. Tetapi sekali lagi, ia tak punya alasan baik untuk menolak ajakan seorang sahabat yang pada kenyataannya memang akan meninggalkan kota tempat persinggahannya. Akan tegakah dirinya kalau menolak ? Wajah mengenaskan itu ?

” Oh… baiklah. Kita makan malam di apartemenku. Ini semata-mata karena kau akan meninggalkan New York besok.”

Akhirnya mereka menghabiskan waktu sampai lewat tengah malam. Berbagi makanan , minuman soda, camilan, dan cerita tentang masa kecil. Bersama tertawa dan saling melemparkan ejekan dan pujian. Benar-benar makan malam yang penuh persahabatan dan kegembiraan. Memberi dan menerima, mendekat dan mengenal.

” Mungkin ini adalah makan malam terpanjang dalam sejarah…” kata Sulli saat mengantar Choi Minho menuju lift yang terletak sepuluh langkah dari pintu apartemennya.

” Benar, makan malam terpanjang yang terasa teramat singkat. Maafkan aku, karena keberadaanku… kau jadi tak bisa beristirahat.” Suaranya terdengar menyesal.

” Tidak perlu minta maaf, karena…well… kau tahu, aku sungguh menikmatinya. Aku lupa kapan terakhir kali bisa berbicara sebebas dan seakrab ini dengan seseorang… Mungkin saat SMP… atau SMA… entahlah !” kata Sulli dengan tersenyum puas

” Aku juga sagat menikmatinya. Terimakasih Sull… aah sorry, Jinri-ah. Kau membuat kunjungan pertamaku ke New York benar-benar berwarna..”

” Tidak ada yang kulakukan…”

” Mungkin benar tidak banyak yang kau lakukan untukku. Tetapi dengan yang sedikit bagimu itu , aku mendapatkan banyak…. Bahkan terlalu banyak ! Terimakasih… sahabat ?”

Choi Minho mengulurkan tangannya.

” Sahabat !!” jawab Sulli, menerima uluran tangannya.

” Aku akan meneleponmu dalam kunjungan-kunjunganku ke kota lain. Memang tidak akan semudah di sini. Wish me luck !” kata Minho tanpa melepaskan genggamannya.

” Yeah… tentu saja, berharap yang terbaik untukmu.” Jawab Sulli, mulai merasa canggung.

” Terbaik juga untukmu, Jinri…” Choi Minho membawa tangan Sulli ke bibirnya.

Sentuhan ringan sesungguhnya, tetapi meninggalkan beban yang menyesakkan di dada Sulli.

” Baiklah, aku akan pulang ke hotel. Sekarang masuklah dulu ke apartemenmu, baru aku akan masuk ke lift.”

“Oh..hahaha Minho, ini adalah daerah kekuasaanku. Masuklah ke lift, aku akan masuk ke apartemenku dengan selamat.” Jawab Sulli dengan ngeri menyadari deburan jantungnya akibat sentuhan ringan itu.

” Tidak. Seorang pria Jeju tak akan melakukan itu. Berbaliklah dan masuklah ke apartemenmu.”

” Minho… ini Amerika.”

” Dan lelaki yang berdiri di hadapanmu adalah seorang pria Jeju. Kau bisa membuat kita berdiri di depan lift semalaman bila tetap keras hati.”

” Oh oke… baiklah. Senang telah menjadi sahabatmu, Choi Minho.”

Cheonma, sahabat !!”

Sulli tertawa tanpa suara, kemudian berbalik dan meninggalkan Choi Minho yang berdiri di depan pintu lift. Begitu sampai ke pintu apartemennya, Sulli berbalik dan kecewa karena ternyata Choi Minho sudah tidak berdiri lagi di sana. Rupanya, dia mengambil kesempatan melarikan diri saat posisinya yang lengah.

Ada rasa kecewa dan geli di saat yang bersamaan.

Sulli menggelengkan kepalanya, kemudian membuka apartemennya.

Begitu pintu apartemen tertutup di belakangnya, ia seperti kehilangan selera humornya.

Dia seperti merasakan kehampaan di apartemennya.

Dan dia sadar, tak akan berjumpa lagi dengan Choi Minho untuk waktu yang entah sampai kapan.

Setelah kepergian Choi Minho. Hari-hari kembali berjalan seperti biasanya. Sulli kembali pada rutinitas kerjanya yang cukup sibuk. Ataukah dia sengaja membuat dirinya sibuk ?

Entahlah…

Yang jelas, beberapa hari kemudian ia tidak bisa benar-benar menghapus kenangan singkatnya dengan Choi Minho. Terlalu manis… ya, terlalu manis kenangan itu untuk dihapus dengan cepat dari ingatannya. Dan upayanya ke arah itu pun nyaris tidak ada.

Dua minggu setelah kepergiannya, Choi Minho menepati janjinya untuk menelepon. Seperti anak sekolah yang kehilangan sahabatnya begitu lama, Sulli sangat antusias dalam menceritakan dan menggambarkan semua kegiatannya. Dan sepertinya Choi Minho mendengarkan dengan sabar, sebelum kemudian berbalik menceritakan hasil kunjungannya.

Setelah telepon pertamanya itu, Choi Minho menghubunginya kembali beberapa kali. Sampai-sampai Sulli berfikir tak ada sehari pun yang dilaluinya tanpa telepon darinya. Tetapi sebulan kemudian telepon itu berhenti.

Sulli mencoba menegarkan diri dan mengatakan bahwa persahabatan jarak jauh tak akan pernah berhasil, apapun alasannya. Ia mulai percaya kalau persahabatannya dengan Minho tak akan berhasil seperti kata ayah-ibunya.

Akhirnya dia menyerah, dan mulai memagari diri bahwa semua petualangannya dengan Choi Minho hanyalah petualangan semu. Karena pada dasarnya, ia tak pergi kemana pun selain di tempatnya kini … tetapi laki-laki itu telah melanglang buana dalam beberapa minggu. Ini jelas memperlihatkan kesenjangan yang jelas di antara mereka. Dia tak akan pernah mengijinkan dirinya untuk bisa pergi ke tanah leluhur orang tuanya, dan Choi Minho pada kenyataannya tak akan pernah bisa meninggalkan tanah leluhurnya.

Sungguh kontras, bukan ?

Seiring waktu, Sulli berusaha mengalihkan fokus ke pekerjaannya kembali. Banyak yang harus dihadapi, termasuk persiapannya menghadapi rolling jabatan yang biasanya terjadi menjelang pertengahan tahun. Dengan gairah yang entah didapatkan dari mana, ia mulai merancang satu konsep pemasaran yang dipelajarinya dari Choi Minho. Untunglah Rod memberikan banyak masukan yang membuatnya siap mempertahankan kedudukannya sekarang, melalui konsep pemasaran yang disusunnya. Ya, sungguh beruntung ia memiliki Rodney yang memang brilliant dalam bidangnya.

Sore itu ia duduk menghadapi komputer. Matanya menatap gambar grafik yang tertera di layar dengan alis berkerut.

” Rod, aku belum mengerti tentang statistik ini. Well, aku memang tidak begitu bagus dalam berhitung… tetapi untuk mendapatkan gambaran seperti ini… aku tidak tahu dari mana dan mengapa…” desahnya putus asa.

Rod meletakkan penanya kemudian berjalan menuju Sulli, berdiri di belakangnya menatap layar komputer dengan seksama. Bibirnya berkedut menahan tawa.

” Yah… angka-angka itu terlihat payah memang. Tetapi itu hanya ilustrasi… ” Rod mencondongkan tubuhnya ke arah komputer, ” Coba lihat grafik yang menukik ini… kau bisa mencapai puncak karir bila terjadi lonjakkan seperti ini dalam pemasaran yang kau rancang. Tetapi … itu terlihat mustahil.”

” Tetapi itu memang angka yang kudapat dari perjalananku dengan Choi Minho. Dia memang mendapatkan angka-angka fantastis itu dalam satu hari.” Gumam Sulli ,” Jadi itu mustahil,ya ?”

” Untuk bisnis normal… lonjakkan seperti ini adalah…errr… well… mimpi indah.” Rodney menyampirkan tangan kanannya pada bahu Sulli, sementara tangan kirinya menunjuk ke layar lagi,” Mari kita membaca grafik ini dari sudut yang kau ingin tunjukkan….”

Pria itu terus menjelaskan makna gambar dalam screen computer untuk beberapa menit. Sulli menengadah dan tersenyum

“Kau menjelaskannya dengan sangat baik. Aku mengerti maksudmu. Terimakasih.”

Rodney tersenyum puas,” Kau sebenarnya lebih cerdas daripada apa yang ingin kau tampilkan, Jinri. Kuharap kau bisa pergi minum bersamaku setelah ini.”

” Ya. Tentu saja.” Jawab Sulli dengan antusias.

Keduanya sama sekali tidak menyadari pintu yang terbuka di belakang mereka. Atau menyadari kehadiran sosok pria lain berdiri di ambang pintu, yang langsung berubah menjadi tegang melihat kedekatan dan kemesraaan keduanya.

” Halo.”

Sulli dan Rod berbalik, terkejut.

Rodney bergerak… menegakkan tubuhnya kemudian berjalan ke arahnya untuk menjabat tangan sang tamu tak diundang itu..

” Senang melihatmu kembali, Mr. Choi.” Katanya ,” Kami benar-benar senang dengan daging kiriman perusahaanmu. Standarnya persis seperti yang anda janjikan kepada kami. Sepertinya kerjasama kita akan berlangsung lama. “

” Itulah yang sebenarnya ingin kudengar.” Jawabnya cepat ,” Aku tidak bisa menahan diri untuk mampir ke sini sebelum kembali ke Korea. Hanya sekedar mengecek keadaan restoran di sini setelah kesepakatan kita.”

” Kami baru saja akan pergi minum-minum.” Kata Rodney ,” Bagaimana kalau kau taruh dulu barang-barangmu di kamarmu kemudian turun ke restoran untuk bergabung dengan kami.”

” Apakah aku tidak mengganggu kalian ?”

Choi Minho menyapukan pandangannya pada Sulli yang masih terlihat syok dengan kehadirannya.

” Tidak sama sekali .. kalau itu menyangkut dia.” Rodney menatap Sulli, “Benar kan, sweet heart ?”

Sulli mengangguk gugup, tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

” Oh well, bagus kalau begitu. Aku akan segera bergabung dengan kalian.”

Choi Minho berlalu dari sana dengan dua kopor di kedua tangannya.

                                    

Choi Minho berjalan menyusuri lorong hotel yang sepi. Ada rasa sesal dalam dirinya karena telah mengikuti kata hatinya untuk mencari dan bertemu dengan Sulli dahulu, sebelum mengakhiri masa kunjungannya ke Amerika.

Bayangan Suli dan pacarnya yang baru saja terlihat, kembali menari-nari di dalam ingatannya.

” Well Sulli tampaknya terkejut dan tidak mengira aku akan muncul di sini. Apakah kemunculanku tadi telah membuat keduanya terganggu ?”

Minho berbelok menuju restoran yang dijanjikan. Suasananya tidak begitu ramai. Matanya mencari.

” Apakah bijaksana aku menyambut undangan Rodney…yang mungkin hanya sekedar basa-basi ? Tetapi aku tidak melihat adanya kesalahan untuk menerima undangannya. Seorang teman wajar kalau menerima undangan pacar temannya, bukan ?”

Ketika dilihatnya Sulli sedang duduk sendirian di meja, ia membetulkan letak dasinya yang terasa begitu mencekik.

” Sepertinya Rodney masih berada di suatu tempat. Ke toilet, mungkin ?” pikirnya ,” Oh ayolah Minho, mengapa harus begitu gugup. Cepat atau lambat, kau dan lelaki itu harus bisa bersahabat juga !”

Dengan berfikiran begitu, Minho berjalan menghampiri meja dimana Sulli sedang menunggu.

” Sorry membuat kalian menunggu.” Katanya sambil duduk di salah satu kursi di seberang Sulli,” Rodney mana ?”

” Rod tadi ditelepon.” Jawab Sulli ,” Dia bilang aku harus menghiburmu.”

Sulli menatap lelaki di hadapannya dengan menyembunyikan antusiasnya. Sudah tiga minggu sejak terakhir kali Minho mengiriminya email, tetapi pria ini tidak pernah menyinggung rencananya untuk kembali ke New York. Dia diam-diam mendongkol dengan kenyataan bahwa kemunculannya membuat semua benteng pertahanan diri yang beberapa minggu ini dibangunnya kembali porak poranda.

” Aku belum memesan apapun. Kupikir kau akan memesan minuman yang ringan sebelum makan.” Lanjut Sulli,” Mungkin setelah makan kau ingin mendiskusikan tentang menu di sini dengan juru masak supaya kalian bisa menentukan apa yang sebenarnya dibutuhkan restoran ini.”

“Oh…begitu,ya ?” Minho matanya berkilat, ” Ambillah mantelmu !”

” Apa ?”

” Kita akan pergi ke tempat lain. Aku ingin berbicara denganmu, bukan dengan juru masak.”

” Tetapi pekerjaanmu…”

” Itu bisa menunggu sampai besok. Ayo !!”

Setelah berkeliling sedikit, akhirnya mereka berhenti di sebuah bar kecil yang terletak di pinggir sungai. Mencari tempat duduk yang mendapat view ke arah bentangan sungai yang menjadi satu pemandangan menyenangkan, mereka duduk berhadapan. Choi Minho mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.

” Tampaknya dia sudah belajar banyak tentang Amerika. Apa yang dilakukannya di New York setelah perjalanannya ke empat kota besar di Amerika ?”

Sulli menatap gerak-gerik Minho dan berfikir betapa ia telah merindukan kehadiran Choi Minho selama minggu-minggu ini. Selama pria ini tidak ada, ia hampir tak ada tempat untuk diajak berbicara lagi. Mungkin ada Rod … ada Krystal … tetapi berbicara dengan mereka tidak sebebas saat ia berbicara dengan Minho. Lelaki di hadapannya ini seolah dihadirkan untuk memahami dirinya dan semua pandangan-pandangannya tentang keluarga tanpa takut dikritik atau disalahkan.

” Apa kabarmu ? Apakah orang tuamu menyulitkanmu ?”

” Huh ?” Sulli menatapnya,” Ya… sedikit. Tetapi aku beruntung. Hari Sabtu kemarin, aku mengantar eomma berbelanja. Dan sesudahnya kami minum di lobby hotel. Lalu Rod datang bergabung dengan kami. Rod pernah kuajak ke rumah dan kukenalkan pada orang tuaku, jadi eomma tahu kalau aku telah berkencan dengannya. Setelah Rod pergi, eomma sangat marah. Dia membelamu dan bertanya apa yang sesungguhnya kulakukan di belakangmu. Dia bilang aku tidak bisa keluar dengan lelaki lain sementara calon tunanganku tidak ada. Lalu aku bilang padanya, bahwa aku belum bisa memutuskan untuk memilih salah satu di antara kalian. Itu membuatnya benar-benar kalap. Dia menceramahi aku sampai perjalanan ke rumah, yang intinya dia menuduhku berselingkuh dan menusukmu dari belakang. Kau tahu apa yang dikatakan eomma ?” Sulli tersenyum ,” Katanya,“bagaimana mungkin kau bertindak begitu rendah dengan menghianati pria baik-baik itu ?” Itulah sebutan eomma untukmu. Pria baik-baik.”

Minho nyengir,” Kau kelihatannya telah mengecewakan ibumu, bukan ?”

“Tidak ada yang bisa mengecewakannya. Lagipula memberitahu jati dirimu yang sebenarnya, seperti yang pernah kuinginkan…. Rasanya tidak akan berguna. Yang penting dia tahu, bahwa aku belum memutuskan antara kau dan Rod.”

” Jadi saat kau memutuskan dan mengumumkan kepada mereka tentang pertunanganmu dengan Rodney, mereka akan cukup siap untuk mendengarnya. Begitukah ?”

” Kalau aku memang menginginkannya.”

” Well, kalian berdua tampaknya sangat mesra ketika aku masuk tadi.”

” Huh ? Rod tadi sedang menjelaskan sesuatu padaku.”

” Tentu… tentu. Aku harus mengucapkan selamat padamu karena akhirnya kau berhasil mendapatkan pria yang kau idam-idamkan.”

” Apa maksudmu ?”

” Ayolah Jinri, seorang pria tidak akan membiarkan kekasihnya berduaan dengan pria lain kecuali dia merasa cukup aman…cukup percaya kepadamu.”

” Well, mungkin saja Rod tidak menganggapmu sebagai pria lain yang mengancam.” Jawab Sulli pedas,” Dia tahu kalau kita hanya sahabat….”

” Hanya sahabat !” Minho menggerutu kesal.

” Apa ?” Sulli menaikkan alisnya.

” Tidak. Bukan apa-apa .” Minho menatap Sulli lekat-lekat, “Kau terlihat lelah. Ada apakah ? Apakah hidup benar-benar telah menyulitkanmu ?”

” Tidak, aku hanya terlalu membenamkan diri dalam pekerjaanku, mungkin. Bagaimanapun aku harus bersiap-siap menghadapi ujian.”

” Ujian ? Ujian apa ?”

” Hotel kami memiliki system ujian sendiri. Seluruh agen pemasaran dari masing-masing departemen harus menampilkan konsep pemasaran yang bisa memajukan hotel ini ke depan. Mereka yang bisa menampilkan ide-ide cemerlang akan bisa bertahan. Pokoknya aku harus menjadi salah satu dari mereka. Kau tahu, untuk meraih posisiku yang sekarang telah banyak hal yang kukorbankan. Waktuku, keluargaku… dan aku tak mau kehilangan semuanya !”

Cara Sulli berbicara sangat berapi-api membuat mata Minho menatapnya tajam.

” Hey…hey..!! Santai saja. ” Katanya tenang ,” Jinri, jangan menganggap semuanya terlalu serius. Kau bisa membuat dirimu menjadi kelelahan. Jadi, santai saja okay ?!!”

” Tetapi aku tak bisa bersantai . Ini sangat berarti bagiku… buat hidupku. Semuanya sudah berjalan dengan baik sekarang ini. Aku kan sudah bilang….”

” Oh, okay .. ya !! Kau memang sudah berbicara banyak mengenai keluargamu dan kebutuhanmu untuk mencari pembuktian diri… untuk menemukan pelarian yang bisa mengangkat dan memperkuat argumenmu di hadapan keluargamu. Tetapi cobalah kau dengarkan aku….”

Sulli menarik nafas dan menunggu.

” Jinri, kadang-kadang kita melihat suatu masalah dengan membabi buta. Terkadang tanpa kita sadari jalan keluar untuk masalah itu tidak sesulit yang dibayangkan… bahkan sudah ada di depan mata kita.”

Sulli mengamati Minho dengan tatapan bertanya-tanya ,” Apa maksud ucapanmu itu ?” tanyanya curiga

” Ini bukan lamaran pernikahan ! Kau tak perlu menyerangku dengan pertanyaan yang mendesak dan keras seperti itu.”

” Maaf… apakah aku terlihat seburuk itu ?”

” Ya.” Jawab Minho lembut, ” Kau memang seburuk itu. Kau perlu seseorang untuk mengurusmu.” Lelaki itu menatap langsung ke dalam matanya, tangannya meraih jemari Sulli dan menggenggamnya.

” Dan aku tahu, kau tidak bisa menceritakan hal ini kepada orang-orang di rumahmu, ya kan ? Karena mereka akan melihat hal ini sebagai titik lemahmu, dan akan memanfaatkannya sebagai senjata agar kau menyerah pada mereka.”

Sulli mengangguk, ” Tepat sekali. Kau memang orang pertama yang memahaminya. Well, terkadang aku merasa kesepian…”

” Tapi kau tak perlu merasa kesepian lagi sekarang. Kita bisa bicara. Begini saja, besok malam….”

” Besok malam aku harus tinggal di apartemenku . Krystal akan pergi keluar supaya aku bisa bekerja dan mempersiapkan presentasiku dengan tenang. Maafkan aku, Minho…”

” Tak perlu meminta maaf, kita masih bisa bertemu dan berbicara…”

” Tapi aku harus….”

” Aku akan memasakkan makan malam untukmu layaknya seorang sahabat yang baik. Lalu aku akan membereskan meja dan mencari banyak kesibukan sementara kau bersiap-siap dan bekerja. Mungkin sesekali aku akan membawakanmu kopi, lalu kembali menghilang dari hadapanmu…”

Sulli mengangkat wajahnya, menatap Choi Minho dengan mata-berkilat-kilat, Suatu ide nakal muncul di benaknya.

” Dan kau akan mencuci piring ?”

Sulli tahu, mencuci piring adalah pekerjaan yang paling dibenci ayah dan saudara lelakinya.

Minho menelan ludah,” Aku bahkan akan mencuci piring.”

Membayangkannya saja sudah membuat Sulli tersenyum sendiri, tetapi tawaran itu sepertinya mengasyikkan. Melihat seorang pria yang begitu maskulin memasak, membersihkan meja dan mencuci piring di apartemennya…. Itu akan membuat telinga ayahnya mengeluarkan asap karena marah… atau malu?

Sulli terkikik tanpa sadar, membuat mata Choi Minho yang besar menyipit dan melihatnya curiga.

” Kenapa ?”

” Kukira kau lebih tahu dari siapapun mengapa aku tertawa.”

” Kukira ini berarti “ya” ? Ataukah aku terlalu berharap ?”

” Ya.” .

.

.

========TBC=========

Hai Chingu… HAPPY MINSULLIANS !! Eonni sengaja posting part baru nih… soalnya ini kan hari istimewa buat SULLI. Tetap semangat dukung Minsul Couple ya…. Love you ALL !!

GOMAWO

untuk readers yang sudah mau menyempatkan diri berkomentar , juga untuk Blog Like-nya :


 Cristian Mihai, christin51194 , Wendy On The Road,irmaariani , minjichokyuyoung's , 
denis143244 , fekimbumblog, ernaniipark , mijhu91, chuesztwatyedisneytisa, ulfahalimatus
,acilChoi,Noviaanggraeni,Azkya, cantikakairina ,patiah,avasterlingauthor, cicinurrahmawati ,
ndysyalsa , 
Advertisements

62 thoughts on “THE runaway BRIDE (Part 8)

  1. Hahah kayaknya seru kalo liat Ming ngurus semuanya kayak mak rempong..
    Terereng Ssul kyak kehilangan sesuatu saat Ming pergi dan Ming jealous saat liat Ssul ama Rod. Emang impas xD

  2. Minho kangen berat sma Sulli,jd dia tak bilng2 sama Sulli klw dia berkunjung K Amerika untuk dia lg 😀
    Sulli klw suka bang Minho,Bilng Suka sj kak,Nanti menyesal

  3. Seru nih kayaknya kalo minho beneran masak, beresin meja, sama cuci piring dengan karakternya minho di sini.
    Aku ngebayangin aja sampek ketawa sendiri.

  4. Aaaahhhhhhhhahahahahhahahhhhhaaaaaahhhh mereka udah saling merindukan dan cemburu ahhh ada apa dengan mereka yaaa
    Aduh sulli bakal ngeliat minho jadi ibu ibu masak, nyuci piring, nyiapin kopi semuaaa
    Smoga pas sulli liat minho dia makin terpukauuuuu wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s