[Chap 2] Rumor Has It

rumor has it

Title : RUMOR HAS IT [Chap 2]
cast : CHOI MINHO | CHOI SULLI | KRIS WU | KANG SEULGI | others
Author : DAZDEV
length : Chaptered
rating : PG-15
Genre : School life, comedy, romance, drama
.
.
.

Siapa yang pertama kali kau perhatikan ketika mengalihkan pandangan ke luar jendela?

Siapa orang itu?

apa yang ia perbuat hingga  pandanganmu hanya terpaku padanya?

.

.

RUMOR HAS IT : Chap 2

.

.

CHOI MINHO

Sudah sepekan berlalu semenjak tragedi touch-minho’s-body tanpa izin terjadi dan aku nyaris sepenuhnya melupakan hal itu. Tapi Kibum tak pernah bisa terima kejadian itu seakan dirinya adalah pihak yang sepenuhnya dirugikan sementara aku adalah satu-satunya pihak yang kehilangan banyak darah dan nyaris pingsan. Ia bahkan tidak ada di sana ketika pandanganku mengabur dan kehilangan rasa percaya diri karena mimisan seperti anak kecil penderita panas dalam. Kibum mengoceh sepanjang waktu, mendesakku agar mencari tahu siapa gadis hidung belang ini, tapi kuberi tahu saja: “Aku sungguh-sungguh tidak peduli.”

“Tsk! Bocah ini! isi kepalamu ini, batu ya? Keras sekali!”

“Lebih keras. Berlian.” Tukasku sembari melempari Taemin buku tugas matematika yang ia pinta dengan cara menghantuiku dengan spam chat mengiba sejak semalam. Taemin menangkapnya dengan gelagapan kemudian memberikan senyuman puppy menggemaskan. Sejujurnya, bagiku itu menggelikan.

Kibum memutar bola matanya jengah. Kutebak dari wajahnya ia hampir menyerah. Aku tidak bermaksud membuatnya kesal, hanya saja kejadian touch-minho’s-body itu sudah berlalu dan sejauh ini tak ada satu pun hal buruk terjadi. Aku tidak perlu memperpanjang masalah ketika masalah itu sendiri sudah selesai ‘kan?

“Pergilah dari kelas kami hyung! Kau ini suka cari perhatian di sini ya?” Taemin bertindak seolah ia baru saja kusogok menjadi bodyguard dengan bayaran lima butir jawaban tugas matematika. Itu bagus, Kibum sudah tampak kehilangan kesabaran.

“Tsk! Whatever!” Ketus Kibum kemudian berlalu begitu saja dari hadapan kami dan lenyap di ujung lubang pintu.

Taemin bergumam dengan jemarinya yang semakin lincah menyalin tugas “Apa aku tadi berlebihan?”

Aku mengangguk membenarkan. “Tapi sepadan dengan imbalan yang kau dapatkan.”

.

.

Kami melewati empat jam yang dikatakan nyaris sia-sia. Pak guru Song sedang tidak fokus pada materi pembelajaran dan Taemin tertidur ketika kelas berlangsung. Aku tidak tahu mesti mendengarkan omong kosong pak Song perihal penipuan asuransi yang dialaminya tempo hari atau berusaha keras mempelajari diferensial seorang diri, Taemin benar-benar tidak berdaya saat berhadapan dengan pelajaran eksak.

Entahah. Aku memutuskan untuk tidak peduli lagi.

Aku mengalihkan pandangan ke balik jendela. Tepatnya, pandanganku teralihkan oleh samar-samar pekikkan dari lapangan. Lapangan bola kaki yang luas dan sepi—tanpa kusadari telah dipenuhi oleh gadis-gadis yang melebur tak menentu tanpa pola permainan yang jelas. Mungkin mereka memainkan sepak bola atau bisa jadi tengah melatih vokal karena demi bola bundar yang mereka buru, mereka berisik sekali.

Mataku memicing ketika menyaksikan kejanggalan pada salah satu pemain di lapangan. Mengapa ada anak laki-laki yang ikut bermain bersama mereka? Itu membuatku benar-benar melupakan keberadaan Pak Song dan mulai mencondongkan tubuh mendekat ke jendela demi memastikan keganjilan tersebut. Anak laki-laki ini berdiri kaku di depan gawang, bersikap seolah ia adalah mercusuar di tepi laut. Ia tinggi dan permukaan kulitnya sepucat butiran salju ketika musim dingin.

Detik berikutnya aku menyadari ketololanku, kemudian menghembus napas kuat-kuat.

Aku tidak mengatakan bahwa aku mengingat dengan jelas rupa orang itu atau aku mengukir namanya di ingatanku. Sama sekali tidak. Hanya saja sesuatu yang bahkan tidak kuketahui tentangnya seakan berusaha meneriakkan namanya ketika aku memandang ia dari kejauhan. Tinggi, putih pucat, rambut cepak, dan berdiri dengan kaku bagai menara salju yang menjulang.

Dia Sulli.

Nampaknya ia berperan menjadi keeper. Aku mengatakan ia ‘berperan’ karena mereka terlihat sedang bermain-main termasuk ketika seorang murid menggiring bola sementara murid perempuan lainnya berbondong-bondong mengekor gerakannya menuju gawang yang tengah dijaga Sulli. Permainan konyol itu perlahan berubah menarik. Aku menebak-nebak bagaiman Sulli yang kuat dan gagah akan menghadang bola dan menyepaknya hingga bola itu terpental ke pulau lain atau berakhir dengan mendarat di wajah teman satu timnya.

Aku menanti Sulli turun tangan.

Aku terus menunggu dan akhirnya Sulli benar-benar tidak melakukannya. Orang aneh itu pada awalnya memang berusaha menghadang bola namun ia justru terbawa arus rombongan pemain yang menghambur ke arahnya. Gerombolan gadis itu kemudian mendapati bola yang mereka incar ternyata bergulir menjauhi gawang kemudian mereka berusaha kembali mengejar bola tersebut. Mereka berlari meninggalkan gawang beserta Sulli yang kemudian merosot terduduk ke permukaan rumput dengan raut shock sembari memeluk tubuhnya sendiri.

Aku terkekeh. Mengapa para gadis benar-benar buruk ketika bermain sepak bola?

“Choi Minho? Apa yang lucu?”

Aku tersentak tapi tidak cukup untuk membuatku benar-benar gugup. Dengan hati-hati aku membalas pertanyaan pak Song yang terlihat kesal. “Maafkan saya pak. Saya hanya—“

“Apa yang kau perhatikan di luar sana?” ia melangkah mendekati jendela dan menyapukan pandangan ke seluruh penjuru. “Kau memperhatikan para gadis yang sedang berolahraga?”

Untuk sejenak aku terpaku hingga kusadari Taemin telah terjaga dari tidur panjangnya dan memberikan isyarat padaku untuk membenarkan asumsi pak Song. “Benar pak, maafkan saya.”

“Wah wah… Minho kita yang serius ternyata juga senang memperhatikan para gadis. Disana ada pacarmu ya?”

Aku tersentak untuk kedua kalinya namun tanpa sempat aku memberikan pembelaan, Pak Song tergelak dengan nyaringnya. “Tidak apa-apa. Bapak sewaktu muda juga begitu, gila belajar dan bertindak serius sepanjang waktu. Tapi ketika bapak jatuh cinta, bapak jadi semakin santai menghadapi dunia bapak yang kelewat keras, rasanya seperti dunia bapak tengah dilanda musim semi yang tak berkesudahan. Itu bagus untukmu Minho, benar-benar bagus untukmu.”

Respon Pak Song benar-benar di luar dugaanku. Ia semestinya melihat kedua alisku yang tertaut lantaran heran dengan perkataannya. Seisi ruangan memandangiku dengan beragam tatapan dan sisanya riuh menyambut menjelangnya detik-detik jam istirahat. Taemin tidak tinggal diam dan melempari wajahku dengan segumpal kertas.

“Memeperhatikan Seulgi?” Bisiknya.

Aku kembali melirik ke luar jendela melalui ujung mataku, mencari-cari Seulgi dan butuh 20 detik untuk membedakan ia di antara gadis lainnya yang nyaris terlihat serupa dari kejauhan. She’s pretty as always. Aku kembali menatap Taemin dan mengangguk, “Tentu saja.” Bisikku.

“Aku sudah bisa tebak. Berhenti bersikap mesum! Jika tidak, akan kuminta seluruh gadis di lapangan itu untuk memelukmu!”

Wait. Mesum?”

“Hyung memandangi tubuh Seulgi saat berlari bukan? Dasar mesum.”

“Aku tidak—“

“Ssst! Oke, aku paham. Kau punya sindrom langka dan bersikap mesum itu mustahil bagimu. Tutup mulutmu, oke? Aku paham. Aku benar-benar paham.”

Aku kehilangan kata-kata, di lain sisi Taemin memang memintaku untuk tutup mulut dan mengambil kesimpulan bagi dirinya sendiri. Ini tidak adil. Pak Song dan Taemin berusaha mengambil alih hidupku dengan cara mengarang plot baru. Hebatnya, aku bahkan tidak mampu berdalih.

Seluruh murid dalam ruangan seketika gaduh ketika pak Song beranjak meninggalkan kelas dan memberikan beberapa tugas tambahan untuk dikumpulkan minggu depan. Aku mengamati wajah Taemin yang melorot turun dan diam-diam merasa senang, ia pantas mendapatkannya.

“Cepat sedikit hyung. Bisa-bisa acar bawangnya habis lagi.” Taemin bergegas membenahi buku-buku yang ia gunakan sebagai bantal tidurnya beberapa menit lalu kemudian berlari kecil meninggalkanku. Aku berdecak, tidak cukup nyaring untuk membuat Taemin sadar betapa aku merasa jengah dengan ketidakstabilan mentalnya. Ia lebih muda satu tahun dariku namun keadaan membawa kami pada jenjang pendidikan yang setara. Itulah mengapa ada kalanya ia bersikap seperti adik kecil yang manja dan sesekali bersikap seperti bedebah.

Aku mengedarkan pandangan ke luar jendela, para gadis sudah tidak berada di luar sana. Tiba-tiba saja pertanyaan Taemin soal siapa gadis yang aku perhatikan melintas kembali di ingatanku. Aku terpaku sejenak, mengingat-ingat kesibukan yang berlangsung sejak beberapa jam lalu. Mereka bermain bola, menggiringnya dengan brutal, dan membuat sang keeper terjengkang mengenaskan. Aku tertawa lagi mengingat wajah shock-nya yang absurd.

Jadi… Siapa yang baru saja kuamati? Seulgi atau yang lainnya? Aku membuang jauh-jauh pemikiran tak berguna ini. Mengapa aku harus mempersoalkan sesuatu yang tidak penting?

Aku pergi menyusuri lorong utama dan puluhan murid menghambur dari kelasnya masing-masing. Sebagiannya mengamatiku, sisanya tak pernah ambil pusing atau namaku bahkan tak pernah mereka gubris sekalipun. Aku merasa setiap kali merajut langkah, semakin bertambah pula sepasang mata yang melayangkan sorotannya padaku. Aku berusaha tidak peduli, namun gejolak ingin tahuku terlalu besar untuk diredam sendiri, maka aku menolehkan wajah dan mendapati segerumul gadis-gadis kelas 12 tengah melemparkan pandangan tak mengenakkan.

Pandangan itu tidak akan serta-merta menghentikan langkahku kemudian merasa frustasi. Aku tahu, sesuatu seperti ini akan terjadi suatu hari. Mungkin dimulai dari hari ini. Seseorang mencoba memulai perang denganku, mungkin gadis yang mengulum lolilopnya atau gadis lain yang mengangkat salah satu sudut bibirnya. Aku mengulas sebuah senyum, aku merasa tidak berutang apapun.

Aku sampai di cafetaria dan menemukan meja yang diduduki oleh sahabat-sahabatku yang selalu tampak mencolok bahkan dari jarak 100 meter. Ketika aku menghampiri mereka, Taemin menatap wajahku dengan raut yang menyedihkan. Aku bertanya-tanya, apakah ia melewatkan acar bawangnya lagi kali ini. Namun Onew mencengkram lenganku dengan lembut, “Duduklah, kita perlu bicara.”

Ini merupakan yang kedua kalinya dalam setahun belakangan; menerima tatapan super serius oleh tim Shinee ketika jam makan siang berlangsung di cafetaria. Sebelumnya kami pernah bicara serius soal anak anjing Taemin yang sekarat dan berada di ambang kematian. Kali ini aku menantikan topik berat lainnya yang jauh lebih menggetarkan.

“Perempuan yang memelukmu minggu lalu itu rupanya si ratu gosip.” Gumam Kibum sembari memalingkan wajahnya dariku. Kurasa ini bukan topik obrolan serius yang kuharapkan.

Taemin menambahkan, “Kibum hyung mendengar percakapan ratu gosip dan komplotannya ketika di kamar kecil.”

Aku mengernyit, “Apa yang Kibum hyung lakukan di kamar kecil khusus perempuan?”

“Gosh, Choi Minho! Bisakah kau fokus pada topiknya saja? Karena permasalahanmu jauh lebih penting ketimbang Kibum yang tersesat di toilet perempuan.” Geram Jonghyun sembari mengacung-acungkan sumpitnya ke wajahku.

“Aku tidak tersesat! Mereka bicara terlalu keras. Itulah mengapa aku bahkan bisa mencuri dengar dari luar kamar kecil.” Kibum kembali menatap mataku, ada keraguan yang berotasi di matanya “Ugh, mereka itu benar-benar daebak. The best rumors maker ever. Kita harus melakukan sesuatu.”

Aku mendengus dan mulai merasa jenuh pada Kibum yang terus-menerus berupaya memperpanjang persoalan, merasa khawatir secara berlebihan dengan imajinasinya sendiri, “Apa yang harus kita perbuat? Hal buruk yang kau bayangkan bahkan tidak terjadi.

“Bukannya tidak, tapi belum.” Tukasnya yakin.

“Hyung, kau terlalu menghawatirkanku.”

“Sudah semestinya aku khawatir. Orang ini ratu gosip! Semua berita yang keluar melalui bibirnya itu bakalan dengan mudahnya dipercayai orang lain. Kau harus menemuinya, Minho.”

Kibum tetap bersikeras memintaku memperpanjang masalah, bukan menyelesaikannya. Karena Hell! Apa yang bisa kupinta dari gadis vulgar itu? memohon padanya untuk merahasiakan kejadian itu atau berterus terang padanya—mengungkapkan bahwa seorang Choi Minho yang nampak sempurna itu hanyalah mitos belaka. Dibalik wajah kecil dan matanya yang bulat, dia hanyalah penderita sindrom aneh dan demi membuktikan itu semua, sang ratu gosip diperbolehkan memeluk tubuhku untuk kedua kalinya. Tidak. Hingga napas terakhirku pun, aku tidak ingin disentuh olehnya. “Jadi, kau memintaku berterus terang padanya bahwa aku penderita gynephobia?”

“Jika itu membuat semuanya jadi lebih baik, kenapa tidak?” Gumam Kibum.

Napasku tercekat di tenggorokan, perutku perlahan merasa mulas seakan tengah melumat bola kecil dan keras. Aku berusaha mengendalikan emosi, aku tidak boleh marah ataupun takut. Ketika kedua perasaan itu menguasaiku, aku akan selesai di kantin ini; darah dari hidungku akan mengalir deras seperti banjir bandang. Dengan tenang aku menarik napas hingga tak tersisa lagi ruang di dadaku, “Apa yang sebenarnya kau inginkan hyung? Mempermalukanku?”

Aku dapat merasakan udara yang kami hirup tak lagi sama, dingin dan pengap. Jonghyun bahkan tak berani menyuarakan pendapatnya lagi, Onew berpura-pura tak berada di sana, Taemin bertindak selayaknya anggota termuda; tidak berusaha menyela, sementara Kibum kehilangan kata-katanya. “Aku hanya tidak ingin mendengar rumor buruk tentangmu.” Jawabnya setelah sepersekian detik. “Kau membuatnya malu, Minho. Dia memelukmu, tapi kau mendorongnya hingga terjengkang. Dia tidak akan tinggal diam, dia akan balas mempermalukanmu. She’s my classmate, i know her well.

“Kau mengenalnya dengan baik huh? Kau tahu kenapa, hyung? Karena kalian sama, senang membicarakan orang lain dan menceritakan keburukan mereka, bergosip! Jika aku mendengar berita tentang sindromku yang menyebar—“ Aku mengepalkan jemari, menahan rasa marah yang kian membuncah di dalam kepalaku dan akan segera meledak jika terus kutahan “—kau adalah satu-satunya yang menyebarkan rumor itu. Kau, raja gosip.”

Kibum terkejut. Jika aku jadi dirinya, aku juga akan seterkejut itu. Ia tidak mampu terus-terusan berlagak dewasa dan menahan amarahnya. Tapi Kibum bukan tipe yang menarik kerah bajuku lalu melayangkan tinjuan. Ia hanya membuang muka, mengatur napasnya. “Dengar ya, Choi Minho yang sok tenang. Perempuan itu menciptakan rumor dan aku tidak pernah melakukannya. Aku hanya menceritakan apa yang aku dengar dari orang lain dan itu dua hal yang berbeda.” Ia bangkit berdiri, mencomot beberapa potong kentang goreng dari piring Taemin, “Dan jika suatu hari berita tentang sindrommu itu menyebar, jangan salahkan aku. Karena sepandai apapun kau berbohong tentang dirimu, kebenarannya pasti akan terungkap.”

Kibum berlalu dengan langkahnya yang besar-besar. Angin membawa aroma parfumnya yang tajam namun menenangkan. Sejenak aku merasa begitu menyesal telah melukai perasaannya. Dengan segera aku memalingkan wajah, berusaha menemukan dia di belakangku dan keputusanku ternyata tepat. Kibum juga melakukan hal yang sama, ia menoleh padaku dari kejauhan. Selama hampir tiga detik kami terus bertukar pandang, dan akhirnya ia mengucapkan sebuah kalimat dan mengejanya secara perlahan agar aku bisa membaca gerakan bibirnya. Aku mengernyit. Dia barusan bilang ‘Aku akan membunuhmu, bocah keparat!’

Aku membalasnya dengan bicara perlahan disertai gerakan bibir yang tegas ‘Kapanpun kau siap!’

Aku terkekeh tepat ketika ia berpaling dengan angkuhnya. Aku diam-diam merasa lega, ia tidak semarah yang kupikirkan. Ketika seorang Kibum mengancam akan membunuh seseorang, ia tidak bersungguh-sungguh. Tetapi ketika ia mengacuhkan seseorang dan tak mengeluarkan sepatah katapun maka bersiaplah berperang dingin dengannya.

“Apa itu tadi, hyung? Kau bilang dia raja gosip?” Akhirnya Taemin buka mulut setelah sekian detik merasa canggung untuk ikut campur.

“Itu benar ‘kan? Lagipula ia tidak benar-benar marah.” Sanggahku sembari mencomot kentang goreng Taemin yang terakhir. “Aku bahkan belum mengantri untuk mendapatkan makan siang.”

Onew meletakkan sumpit di atas piringnya yang bersih tandas, “Dia tidak marah ketika kau menyebutnya raja gosip. Dia marah padamu saat kau bilang, dia bakalan jadi satu-satunya orang yang membocorkan rahasiamu dan menyebarkannya.”

Aku bungkam sejenak dan menyadari betapa kejamnya ucapanku pada seseorang yang dengan hebatnya telah menjaga rahasia itu selama bertahun-tahun, menutupinya dengan kebohongan-kebohongan kecil, dan terus mencari tahu informasi ganjil yang menyebar seputar kehidupanku. Sikapku keterlaluan jahatnya. Tiba-tiba aku merasa tidak berguna dan juga lapar. “Aku lapar.” Ungkapku berusaha mengalihkan topik, menghindari pertengkaran lainnya yang dengan mudah muncul dalam ketidakstabilan yang tengah kuhadapi.

Jonghyun dengan sekejap menghadang langkahku dengan rentangan kakinya. Wajahnya tertunduk tidak memandangku. “Choi Minho, sebelum kau pergi dengarkan ucapanku dulu—“ perintahnya dengan nada yang berat dan dingin membekukan. Ia kemudian mendongak, tatapan menyengatnya membuat mataku ingin segera beralih memandang hal lain. “Sebelum kau makan dengan tenang—“ Aku menunggu dan tertegun selagi ia tersenyum seperti anak anjing yang manis, “—cucilah tangan terlebih dahulu.”

.

.

Aku benar-benar kehilangan selera makan. Selain karena acting Jonghyun yang buruk, juga karena perdebatan dengan Kibum yang berhasil mengambil alih lebih dari setengah isi kepalaku. Aku memilih menggunakan wastafel di kamar kecil siswa kebanding wastafel cafetaria. Aku menjauh agar tidak dapat menyaksikan Jonghyun dan yang lainnya menertawakan ekspresi gugupku. Dulu sekali aku pernah berkelahi dengan Jonghyun dan ini akan terdengar memalukan, sampai kapanpun aku tidak ingin berkelahi dengannya lagi.

Ketika nyaris sampai di kamar kecil, aku menemukan seorang murid laki-laki yang merundukkan kepala seolah menyembunyikan wajahnya di dekat pintu luar. Dia terlihat aneh, tetapi aku mengabaikannya. Ketika memasuki kamar kecil, dua anak laki-laki lainnya tengah menggunakan wastafel dan berkaca merapikan rambut mereka yang bahkan sudah selicin perosotan bersabun. Aku mengenal mereka hingga aku membelot arah menuju toilet, berpura-pura ingin buang air. Kedua orang itu adalah anggota tim football Exo, Byun Baekhyun dan Oh Sehun. Aku tidak sedang merasa rendah diri karena mereka tampan dan terkenal. Aku hanya berusaha menghindari percakapan yang canggung dan tidak diperlukan. Aku yakin kami mengenal satu sama lain, tapi hubungan itu tidak cukup jauh untuk memulai sebuah obrolan di kamar kecil siswa.

beberapa detik setelahnya, aku melihat bayangan-bayangan kaki yang bergerak menjauh melalui sela bagian bawah pintu toilet. Kurasa, aku datang di waktu yang tepat. Karena nampaknya kedua orang itu sudah selesai dengan urusan mereka. Dengan segera, aku keluar lalu menghampiri wastafel. Aku terlalu membuang banyak waktu istirahat dengan mengobrol tanpa memikirkan apa jadinya jika aku meneruskan jam belajar tanpa mengisi perutku yang meronta kelaparan.

Aku menggunakan sabun cair yang disediakan di wastafel, bulan ini petugas kebersihan memilih aroma melon dan tiba-tiba aku bertambah lapar. Aku memperhatikan penampilan di kaca dan berusaha menemukan keganjilan, tapi tidak kutemukan selain rambut yang semakin panjang dan terlihat berantakan tanpa suatu alasan. Aku merapikannya dengan tangan kemudian melangkah pergi hendak meninggalkan tempat itu.

“Kuberi tahu saja. Kau tidak perlu melakukannya, Oh Sehun.”

Langkahku terhenti. Tampaknya di luar sana, Oh Sehun sedang bermasalah dengan seorang gadis. Aku tidak peduli, aku lapar. Aku kembali merajut langkah dan benar-benar berhenti ketika menyaksikan siapa yang sedang sedang berhadapan dengan Sehun diiringi tatapan mengancamnya yang tegas. Perlahan aku mengambil langkah mundur dan menepi ke dinding.

“Jika kau mempermalukanku seperti apa yang Baekhyun lakukan, aku akan membalasmu. Telak.”

Orang itu mengancam Oh Sehun. Anak laki-laki yang merundukkan wajahnya di luar kamar kecil sebelum aku memasuki kamar kecil itu, ternyata adalah Sulli. Apa yang sedang mereka peributkan?

.

.

To Be Continued

.

.

Untitled-1

A/N Dazdev : Hola Fellas… apa kabar? lama tak bersua sejak kurang lebih sebulan lalu ya… Maafkan author kalian ini yang super lelet kalo masalah update T.T. aku pengen bilang kalau sistem ff Rumor Has It ini punya pergantian sudut pandang di setiap chapter, bisa itu dari sudut pandang Sulli atau sudut pandang Minho (seperti di chapter ini) kalian ga masalah ‘kan? ngomong2 aku udah memasuki semester 6, dan aku mengambil mata kuliah PP (program Profesional) dan demi apa, aku punya judul pp yang susah banget (pemberian dosen pembimbing). Jadi, aku mohon maaf banget kalo misalnya aku telat update lagi…. Aku tetap minta dukungan dari kalian.  *peluk satu-satu*

oke, sekian kata-kata penutupnya. silahkan tinggalkan pendapat atau kebingungan kalian ya. aku bakalan balas kok *dalam kondisi tertentu. Byeee~~ ❤

Advertisements

39 thoughts on “[Chap 2] Rumor Has It

  1. Penasaran ku sama dengan minho,sebenarnya apa yg tengah terjadi antara oh sehun dan sulli,mengingat cara sulli mengancam oh sehun, apakah ada hubungannya dengan syndrom yg diderita minho ?lanjut oenn.

  2. Akhirnya diupdet juga…
    Lamaaaaa…… nunggu, tapi syukurlah penantianku nggak sia-sia…
    Makasih buat updetnya kak..
    Semangat buat kelanjutan,, dan kuliahnya..

  3. nunggu banget ff satu ini.. ini masih awal awal,, di tunggu chapter2 berikutnya aja
    thanks udh update lagi & untuk tugas nya semangat yaaa

  4. wah,diam2 minho oppa mulai memperhatikan sulli eonni.ciyee,mulai ada kemajuan nih.trus sulli sma sehun bertengkar soal apa?next,ditungguin.

  5. Jadi penasaran dev. Kalo seandainya kriss gak dateng narik baekhyun yg mao nonjok sulli, trus sulli bakal terima aja apa bisa ngelawan?? Kali aja kan sulli bisa semacam taekwondo?? XD

  6. Ehemmm minho diem2 ngeliatin sulli, mulai penasaran artinya mulai menaruh perhatian donk.hahaha
    Oke aq bner2 msh pnasaran sama sosok sulli, dan apa hbungan sama anak2 exo itu ya???

  7. akhirnya uptade jd nihh ff, setelah sekian lama penantian.
    minho diam” perhatiin sulli yg lg jd keeper, mulai penasaran nihh minho sama sulli, tp disini karakter sulli seperti apa siih, masih misterius.
    dan knp sulli bicara dg sehun yg isinya mengancam, ada masalah apakah sulli dg sehun dan baekhyun.

  8. akhirnya di update juga, sampe hampir lupa cerita sebelumnya… minho kenapa bohong kalo dia ternyata ngeliatin sulli bukan seulgi, sulli emang tercipta buat minho karna cuma dia doang yg bikin minho ketawa bukan mimisan ㅋㅋㅋㅋ~ hmm kira” ada apa ya antara sulli dan sehun, sampe sulli berani ngancam sehun? lanjut eon ^^

  9. Penasaran apaan yg dibicarain ohseh sama tuh murid/? Minhoo kasihan yah punya kelainan kek bgitu, trus raja gosip tuh siapa?? Disini critanya minhoo naksir ma seulgi??

  10. Hoyaaaa.. Akhirnya Rumor Has It rilis juga 😀
    Sekian lama diguntang gantung nungguin ini ff akhirnya di update..ohhh senangnya..#tralalala..#alay-,-

    Okee aku sih engga masalah Eon dengan sistem apapun itu, yang penting rasanya enak#ehh..haha

    Whattt?? Daebakk.. Sulli ngancem Sehun!! Sebenernya ada hubungan apa Sulli sama Sehun?
    oke oke aku ngerti sekarang, syndrom Minho itu cukup aneh ya.. tapi kayaknya Sulli yang bakal jadi obatnya 😀

    Mangatsee Eonn untuk kuliahnya.. Ya.. Semoga chapter depan ada sedikit keajaiban biar gak terlalu lama..hehe.. 😀

  11. akhirnya muncul juga part 2 nya..
    hmm di sini kisah minsul belum terlalu menonjol yaa, masih ngebahas syndrome yang diderita minho.
    ngapa juga minho dan kibum pake kelahi gini ._. masa shinee berantem sih hffft
    bingung sama bagian di akhir, kenapa sulli bisa mengancam sehun? sebenernya sulli ni kenapa sih sama exo? dan siapa sebenernya sulli?
    ditunggu next part nya eonni ^^
    fighting untuk kuliahnya yaaa 🙂

  12. aku juga pnasaran ada hbngan apa sehun ama sulli smpai ngancam2 gitu. Cielahh,, ming oppa mrhatiin sulli unnie mlah ngaku mrhatiin seulgi. Aigoo pngin cepetan baca momen minsulnya. Cpet d lnjut ya eonn, fighting

  13. Halohaaaaaaa…….. Halloooooooooo
    Miss you so much eonni, makin seru ini tapi belum ada moment minsulnya
    Jadi penasaran deh sama minsul moment,.Aku tunggu kelanjutannya meskipun nunggu nya sampel jemuran yg nggak di angkat selama beberapa tahun yg udah kenak panas ujan
    Oh yah ff yg laen mana, belum di lanjut loh aku nunggu juga loh
    Semangat buat pp-mu eon, semoga sukses ya ??? Kissssssssss basahhhhhhhhh and hugggggggg erat
    Bye bye….

  14. yuhuuu…..akhirnya dipost juga nih ff.
    omona…..!!!!! cewek yg meluk dari belakang dan menyebabkan minho mimisan itu si ratu tukang gosip? bisa gawat nih! mendengar julukannya sebagai ratu tukang gosip udah bikin aku khawatir dengan kehidupan minho kedepannya. gimana gk khawatir kalau suatau saat nanti si ratu gosip menyebarkan berita palsu tentang minho kan bisa berabe! oh Tuhan….jangan sampe itu terjadi.
    Minho termasuk orang yg beruntung punya teman+tim yg kompak,baek,kagak ember, dan perhatian padanya. mereka(temen² minho ) bisa diandalkan dalam menjaga rahasia
    Apa aku tidak salah lihat?? benarkah sulli lagi mengancam oh sehun? kenapa? kenapa sulli rela menunggu sehun di depan toilet demi memberikan sebuah ancaman pada sehun? apa yg telah terjadi diantara mereka? dan rahasia apa yg diketahui oh sehun tentang sulli? omona…!!!!! ancaman sulli terhadap sehun benar² membuatku penasaran.
    next eonni!!!! keep writing and fighting!

  15. Cie minho ngliatin sulli oh wkwk , elah ming sulli kan cwek juga meskipun gaya laki tapi masih ttp ada jiwa cweknya kali jadi wajar dong klo sulli jatuh kyak gtu 😧😧
    oh god minho kau dalam masalah jika ratu gosip itu menyebarkan jika dia di dorong olehmu waktu di kamar ganti itu , berharap yg terbaik deh buatmu ming 😊😊😊. Sulli ada hubungan apa sma sehun kyaknya mereka delet gtu ? Ah gw penasaran kelanjutannya 😄😄
    semangat ya kita sma” smtr 6 😊😊😊

  16. Wuaahh…benar2 lama ya stelah holiday panjang,,, hee
    Tapi gwaenchana…soalny skrg udh di updte chapt 2 😉

    Cciiieee…minho curi pandang sm ssul, pake acra bohong segala lagi..
    Merhatiin ssul tpi bhongny seulgi,,, hahaa
    Ketahuan bnget ne namja diam2 prhatian
    Aigooo…ksian bnget si kibum dbilang “rajaa gosip”, pdhl kn siaa ngelakuin itu smua krena care sm minho dn ngejagain rahasiany minho juga…
    Itu semua hnya buat minho seorang,,,
    Dassar ini namja tidak pernah sadar dgn kpdulian sahabatnya… ckckck
    Hhmmm,,, selalu…
    Sulli yg pnuh dgn misteri
    Kpn trungkap niih ttg sosok ssul ??
    Siapa ssul, apa hubny sm sehub dn baekhyun ???
    Mgkin sdikit crta masa lalu…maybe

    Tnggu part selanjutnya deh…hee
    Dengan sabr,,, hohohoo
    Fughtiiing ne…always ^_^
    #minsuljjang♥♥♥

  17. Hoho ada yg boong!! Jelas2 dari awal merhatiin sulli bkan si cewek itu.dia bahkan gak sadar ada tuh cewek sblum tetem nanya hihi dari diam2 melirik itu yg ntar jadi ada something kkkkk minong jgn gitu dgn key. Dia care. Hhhh ada apa nih dgn sehun sulli?? Hmm semangat authornim !

  18. daebak eoni ❤ ❤
    sulli memperebutkan apa kira2 ??
    minho memang sdh mnjdi jodohnya sulli \^^/
    lanjut eoniiii :*
    semangat ^^//

  19. Ciee ming.. Katanya liatin seulgi padahal merhatiin Ssul. Dasar lu yeh bang xD
    Haha Key tersesat di toilet cewek astaga hahah
    Anw, Ssul ama Sehun ada masalah apa yah?

  20. 1. Masih penasaran kenapa sulli rambutnya bondol?
    2. Kenapa sulli kena rumor yg bahkan sama sekali gak benar?
    3. Dan ada urusan apa sulli ama makhluk2 exo terutama sehun?

    Semangat terus dev buat nulis. Gue tau smester 6 iyu emang smester yang bener bener sesuatu dimana saking lelahnya ama tugas proposal rasanya pengen cepet dinikahin minho oppa aja #lah 😷😂😂
    Be back soon dev and answer my curiosity with nexr chap of this fanfict. Hwaiting 💪💪

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s