THE runaway BRIDE (Part 11)

THE RUNAWAY BRIDE

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli

Supported Cast : Choi Siwon, Im Yoona,Kim Nam Jo,etc

Length : chaptered

Rate : DEWASA (18+)

♥♥

11. Kim Nam Joo

.

.

.

Penerbangan menuju Korea terasa panjang . Begitu pesawatnya mendarat, kepala Choi Minho terasa melayang. Tetapi perjalanannya tidak berhentti sampai di Gempo, ia langsung melanjutkan perjalanannya menuju Jeju. Dan baru sampai di tanah kelahirannya keesokan paginya.

Choi Siwon dan Im Yoona sudah menunggu, mereka memeluknya dengan gembira dan membawanya pulang ke peternakan dengan penuh kemenangan. Di rumah, ibunya langsung merentangkan kedua tangannya begitu melihat Choi Minho muncul di pintu. Dan seperti anak kecil yang merindukan induknya, Choi Minho berlari ke pelukan hangat ibunya. Bersandar di sana dan menikmati kehangatan yang selama berminggu-minggu hilang dari kehidupannya. Ada seorang pria, yang diketahui Minho sebagai sahabat ayahnya, yang belakangan sering datang ke rumahnya, duduk di sana. Ia segera menyambut kedatangan Minho dengan menjabat hangat tangannya, dan menepuk-nepuk bahunya.

Ketika Choi Minho meletakkan tas di kamarnya, dan kembali berkumpul di ruang keluarga, Im Yoona kembali memeluknya dengan lembut. Seulas senyum terukir di bibirnya yang agak pucat.

“ Halo keponakan, bagaimana kabarmu ? Apakah kau jaga ibumu dengan baik ?”

Minho mengulurkan tangannya ke perut Im Yoona yang membuncit, sebelum dia memandangnya khawatir.

“ Bagaimana kabarmu ? Apakah abangku membuatmu kelelahan ??”

“ Aniya. Dia sangat baik kepadaku.”

“ Good. Kalau tidak, aku yang akan meninju hidungnya !” kata Minho bergurau, membuat kakak iparnya tertawa senang.

Ketika ia melesakkan tubuhnya di sofa kesayangannya, Siwon melontarkan pujian yang jarang sekali dia berikan kepada siapa pun.

“ Kau melakukan tugasmu dengan baik di sana, saeng.” Katanya datar,” Kita di sini kewalahan menerima pesanan.”

“ Dan kau berhutang cerita kepada kami… sesuatu yang seharusnya kau ceritakan, bukan ?”

“ Eomma… tidak ada apa-apa selain bisnis di sana. Sumpah !!”

“ Tentang Choi Sulli ?”

“ Eomma, sungguh… tidak ada apa-apa di antara kami. Kami hanya bersahabat karib. Itu saja !”

Ibunya menjerit marah, membuat Minho terduduk tegak dan matanya hampir keluar.

“ Kalian sudah berciuman pada malam pertama perjumpaan kalian, benar kan ? Kemudian kau menghabiskan minggu terakhirmu di Amerika dengannya… dan nyaris tak terpisahkan. Dan kini kau mengatakan bahwa kalian hanya bersahabat karib ?!! Minho, kau ini sedang berbicara dengan eomma. Kau kira… kau ini siapa, huh ? Bintang film yang sedang mengadakan konferensi pers ?”

“ Eomma, tenanglah… Maksudku bukan seperti itu.” Elak Minho ,” Kami hanya bersahabat, itu yang sebenarnya. Memang kami sering bersama-sama, karena dia memang bekerja di salah satu hotel tempat kita bekerja sama. Kemudian dia kebetulan ditugaskan bosnya untuk mengantar-ngantarku ke beberapa restoran di New York… seperti yang diperintahkan Siwon hyung. Itu sebabnya kami sering bersama… dan tidak kutolak kalau kami memang sama-sama bersenang-senang…”

Minho mengangkat tangannya cepat saat melihat ibunya akan menyelanya.

“ Dan kesenangan kami tidak seperti yang eomma bayangkan, percayalah ! Itu tidak berarti apa-apa.”

“ Tapi menurut ibunya Sulli di telepon, keadaannya tidak seperti itu !”

Choi Minho menyenderkan tubuhnya di sandaran Sofa yang hampir menelan tubuhnya. Ingin rasanya ia menjambak rambutnya sendiri.

“ Ya Tuhan…. Benar kata Jinri ! Hari ini seluruh Jeju tahu dan besok seluruh Korea tahu !!” semburnya kesal.

“ Itu ! Siapa Jinri ?” Tanya ibunya curiga.

“ Dia Choi Sulli, eomma. Di tempatnya bekerja ia memakai nama Choi Jinri…. Dan ia lebih senang dipanggil dengan nama itu.” Choi Minho menutup matanya, mencoba mengurangi rasa pusing yang sejak tadi menimpa kepalanya.

“Eomma, bisakah kita membicarakan masalah ini kapan-kapan ? Aku berjanji akan menceritakan semuanya kepadamu. Yang penting, sekarang aku telah berada di antara kalian lagi. Aku senang kembali ke Jeju dan bersama kalian. Di mana Ji Ho hyung dan Nam Jo noona ?”

Ibunya Minho menarik nafas panjang, kalau tidak melihat keletihan di wajah anak kesayangannya, ia ingin mengejar sampai sejauh mana hubungan anaknya dengan wanita bernama Choi Sulli itu. Ia kali ini membiarkannya lolos, tetapi dalam hatinya timbul tekad kuat bahwa ia akan membahasnya suatu hari nanti.

“ Ji Ho hyung menghilang…” kata Siwon dengan mata menyipit,” Kau tahu sendiri, sifatnya memang begitu. Dia akan pergi tanpa pemberitahuan dan akan kembali kalau menurutnya waktunya sudah tepat.”

“ Kukira dia dan Nam Joo noona sedang membereskan permasalahan di antara mereka.” Kata Choi Minho, mencoba menetralisir perkataan kakaknya yang menyudutkan.

Seperti yang pernah dikatakan Minho kepada Sulli, abang tirinya ,menjalani kehidupan menyendiri di pegunungan tempat pria itu lahir. Harga dirinya yang tinggi, dan kegetiran hidup yang dialaminya telah menempa seorang Ji Hoo seperti sosok yang sinis dan pendiam, juga membenci segala sesuatu yang berbau uang. Itulah sebabnya dia menolak cinta Kim Nam Joo yang kaya raya, padahal Minho tahu persis kalau dia sangat mencintainya. Untunglah Kim Nam Joo yang berhati sabar, tidak mundur tetapi mengikuti jejaknya dan beklerja sebagai dokter di tempat tersebut. Minho yakin, lambat laun abang tirinya itu akan menghormati Kim Nam Jo, dan mungkin mau mengijinkan dirinya mencintai wanita itu lagi.

“ Eomma, kau ingat pesta ulang tahunmu yang kita rayakan sebelum aku ke Amerika ? Waktu itu Nam Jo noona tidak datang karena terhalang pasiennya yang akan melahirkan, dan ia berjaga-jaga karena tanggung jawabnya. Waktu itu, Ji Ho hyung pulang lebih awal. Entah kenapa, aku berfikiran bahwa Ji Ho hyung memang pulang karena ingin bersamanya.”

“ Aku juga berfikiran begitu.” Jawab ibunya,” Saat aku menelepon Nam Jo malam itu, Jiho ada di rumahnya.”

“ Tapi sepertinya keesokan harinya dia pergi.” Tambah Yoona,” Sampai sekarang belum kembali.”

“ Anak itu memang selalu penuh teka-teki….” Gumam ibunya.

Malam itu, sebelum pergi tidur, Choi Minho mengirim e-mail kepada Sulli, memberi kabar bahwa dia sudah sampai di rumah dengan selamat. Tadinya, ia hanya berniat mengirimkan pesan singkat saja, tetapi ia terbawa perasaannya yang galau. Dan ia mendapati dirinya menuliskan surat panjang dengan berbagi cerita tentang Kang Ji Ho, abangnya dan Kim Nam Jo. Kalimat demi kalimat yang ditulis Choi Minho mengalir begitu saja, seolah-olah dia sedang bercerita secara berhadapan. Selama menulis, ia membayangkan bagaimana reaksi Sulli bila membaca suratnya tersebut.

Choi Minho berhenti sejenak, matanya yang memerah menatap layar computer dengan melamun.

“ Apakah aku sudah menulis terlalu banyak ? Apakah Sulli akan benar-benar tertarik kepada semua urusan keluargaku ini ? Sulli pernah bilang kalau dia menyukai sosok Nam Jo noona… Mungkin ia akan tertarik untuk membacanya…”

Choi Minho cepat-cepat memijat tombol “send” sebelum pikirannya berubah. Setelah mematikan komputer, terhuyung-huyung dia menuju ranjangnya. Kepalanya terasa melayang-layang.

“ Mungkin karena “jetlag” lagi…” pikirnya.

Begitu dia membaringkan tubuhnya, dan kepalanya menyentuh bantal… ia langsung terlelap.

Keesokan paginya, begitu bangun dia langsung menyalakan komputernya… tetapi agak kecewa ketika belum ada balasan dari Sulli. Enggan, dia menuju kamar mandi. Begitu beres mandi dan mengenakan baju hangat, balasan e-mail dari Sulli sudah menunggunya. Bersemangat, Minho duduk di depan komputernya. Jantungnya berdebar… menebak-nebak bagaimana reaksi Sulli terhadap email-nya.

“Kalau kau menyayangi abangmu, aku tidak akan berkomentar banyak tentangnya. Hanya saja, aku kurang setuju saat dia meninggalkan Kim Nam Jo sendirian.”

“ Gomawo, Sulli…” gumam Minho pada layar komputer.

“…. Tetapi kalau sekarang Kim Nam Joo ada di suatu daerah pegunungan yang jauh dari orang-orang yang dikenalnya, berusaha mengatasi masalahnya sendirian, menurutku sebaiknya ada seseorang yang mengunjunginya di sana. Mengecek keadaannya… apakah ia baik-baik saja. Kau berkata padaku bahwa kau sudah menganggap Kim Nam Jo sebagai saudaramu sendiri. Bukankah itu yang seharusnya dilakukan keluarga terhadap kerabatnya ?”

“ Kau benar. Aku memang memiliki niat untuk pergi ke sana. Aku ingin tahu kabarnya setelah kutinggal ke Amerika…” fikir Minho, kemudian ia membuat balasan e-mail ke Sulli.’

Seusai membicarakan secara panjang lebar hasil kunjungannya ke Amerika kepada abangnya, Siwon, Choi Minho langsung bertolak ke tempat Kim Nam Joo… seperti yang dijanjikannya pada Sulli di e-mailnya. Perjalanan yang memakan waktu cukup lama itu tidak membuatnya murung.

Dia sampai ke tujuan tepat di saat Kim Nam Jo menutup ruang prakteknya. Mungkin sudah terlalu sore, tetapi dia tidak terlihat letih.

Begitu melihat siapa yang datang , Kim Nam Jo menjerit senang dan berlari menyambutnya

                                          

“ Minhoooo….. !!” katanya sambil memeluknya.

Choi Minho tertawa senang, ia memegang bahu wanita itu dan mengamatinya dalam-dalam. Kim Nam Jo terlihat cantik dengan rambutnya yang diurai, terlihat begitu dewasa dan matang. Tetapi ada gurat-gurat kesedihan di keningnya, matanya yang biasanya bercahaya terlihat muram.

“ Jangan bilang kau datang ke sini karena merindukanku !”

“ Aku memang merindukanmu, noona. Aku sedih karena orang yang kurindukan tidak merasakan hal yang sama denganku.” Kata Minho dengan memasang muka sedih.

“ Aegyo-mu itu, Minho !! Bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu.” Jawab Kim Nam Jo sambil tertawa .“ Well, karena kau telah datang … kau harus makan malam denganku !”

“ Sepertinya aku tidak bisa menolak…. Kebetulan aku memang belum makan lagi setelah sarapan tadi !” jawabnya meringis.

“ Choi Minho ! Kau selalu cerewet tentang kesehatanku…. Tetapi kau berbuat kurang adil pada perutmu. Ayolah ke rumah, aku kebetulan tadi membuat sup ikan. Aku tahu kau sangat menyukainya.”

Tangan Kim Nam Jo membelit pada lengan Minho, kemudian menariknya menuju sebuah rumah mungil di sebelah tempat prakteknya.

“ Aku ingin mendengar petualanganmu di Amerika !! Semuanya !!!” kata Kim Nam Jo, saat membuka kunci rumahnya.

Setelah makan malam yang dilewati hanya berdua, Choi Minho duduk dengan melonjorkan kakinya di atas karpet tebal. Tadinya dia berniat menceritakan perjalanannya, keberhasilannya yang dicapai selama perjalanan itu, tetapi saat hendak bercerita yang memenuhi fikirannya adalah Sulli. Dan celakanya, dia tidak bisa menyembunyikan senyum sumringah di wajahnya, yang justru memancing perhatian wanita itu.

” Well… sekarang jangan ditutup-tutupi lagi. Ceritakan, siapa gadis itu ?” tebak Kim Nam Joo seketika itu juga.
Choi Minho terkejut dengan kata-katanya, tetapi ia berusaha mengelak dan menyembunyikan antusismenya.

“ Aku tak mengerti, kenapa kalian kaum wanita, selalu mengambil kesimpulan yang satu itu. Kemarin eomma , kemudian Yoona noona…dan kini kau, noona.”

“ Hemmm… dan aku bisa melihat wajah gadis itu di pupil matamu, Minho.”

“ Mworago… kau hanya menebak-nebak !”

“ Minho….!! “ suara Kim Nam Joo terdengar penuh ancaman.

“ Ara… arasseo !” Minho nyengir ,” Namanya Choi Sulli.”

“ Nama yang bagus.”

“ Aku menghabiskan sebagian waktu di sana dengannya. Dia adalah putri kenalan keluargaku di New York, mereka sudah lama menetap di sana. Tetapi noona, kalau kau bermimpi akan mendengar suara dentingan lonceng gereja di Jeju ini… kau salah besar.”

Minho menarik nafas.

“ Aku adalah pria terakhir di dunia ini yang akan dinikahinya. Dan dia mengatakan itu, dalam sepuluh menit pertemuan kami yang pertama.”

Kim Nam Jo tercengang.

“ Kau melamarnya dalam sepuluh menit pertemuan kalian ?”

“ Dia tidak menunggu untuk dilamar. Dia terburu-buru memberitahuku untuk tidak perlu repot-repot melakukannya.”

“ Maksudmu, kau sekarang sudah bertemu dengan seorang wanita yang kebal pada pesonamu ? Begitukah ??”

“ Kalau kau lebih suka mengatakannya seperti itu.” Jawab Minho malu dan kesal.

Kim Nam Jo tertawa terpingkal-pingkal, memegangi perutnya seolah telah melihat pertunjukan yang maha lucu.

“ Mian…mianhe…” kata Kim Nam Jo ,” Aku menyenangi sosok gadis itu.” Katanya cepat.

Choi Minho tertegun, cara Kim Nam Jo menyuarakan pendapatnya tentang Sulli seperti menggemakan kembali ucapan Sulli tentang gadis itu.

“ Waeya ??” Kim Nam Jo menegakkan tubuhnya,” Well, jangan membuatku tegang. Auch !”

Mata Minho melihat garpu yang dipegang wanita itu terjatuh, kemudian Nam Joo berdiri dan berusaha mengambil garpu tersebut, tetapi dia terlihat limbung dan memegang ujung meja.

Melihat itu Choi Minho bangkit dari duduknya, dan menghampirinya dengan khawatir. Menangkap tubuh wanita itu, sebelum dia terjatuh.

“ Gwencana ? Kau tampak pucat !!” katanya dengan tatapan tajam.

“ Gwencana….” Kim Nam Jo berusaha mengatur nafas, sambil menyenderkan punggungnya di sandaran kursi,” Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Hari ini memang pasien cukup banyak… cukup melelahkan. Aku sendiri tak punya waktu untuk makan siang…” desahnya.

“ Kalau begitu, kau duduk saja. Aku akan membuatkan coklat hangat untukmu.”

Choi Minho bergerak ke arah dapur, membuat coklat hangat dan menambahkan sedikit susu krim ke dalamnya. Kemudian dia mencari-cari kue di lemari, dan gembira saat melihat ada biskuit di toples. Dia membawanya, karena selama makan malam tadi dilihatnya Kim Nam Joo hanya makan sedikit.

“ Bagaimana kau menjalani hari-harimu selama kutinggal ?”

Minho meletakkan nampan di meja, mengambil cangkir coklat dan menyerahkannya kepada Kim Nam Jo ,” Minumlah selagi hangat.”

Kim Nam Jo menggumamkan terimakasih, kemudian dengan suara tenang mulai bercerita tentang kedaannya.

“ Kebanyakan pasien di sini, saat datang berobat ingin langsung sembuh. Aku sudah menjelaskan kepada mereka bahwa kesembuhan itu memerlukan proses dan kesabaran. Tetapi, mereka suka bicara dengan cara membentak-bentak … namun aku akhirnya bisa belajar bahwa begitulah cara mereka bicara, tanpa bermaksud melukai lawan bicaranya. Mereka bicara dengan hati yang jujur… seadanya, tidak suka bermuka manis tetapi hatinya tidak. Bahkan dibalik kata-kata pedas mereka, aku sudah melihat cinta yang demikian besar…”

Choi Minho menatap wanita itu dengan lembut, ia seolah mendengarkan pengakuannya yang tak terucapkan.

“ Sepertinya dia sudah menerima kenyataan bahwa dibalik watak keras abangku, dia tahu di dalamnya terdapat ketulusan dan cinta yang demikian besar. Apakah mereka telah memperbaiki hubungan mereka kembali ? Dimanakah sekarang Ji Ho hyung ?”

“ Kau terlalu lelah mengurusi pasien-pasienmu sehingga melupakan kesehatanmu, noona. Kalau kau jatuh sakit, siapa yang akan mengurusimu ?”

“Sekarang kan kau ada di sini, Minho. Aku yakin, kau tak akan membiarkanku mati sendirian…” Kim Nam Jo melemparkan gurauan.

“ Tetapi aku harus kembali ke kota. Dimanakah Ji Ho hyung ?”

“ Di tempat biasanya, kurasa.” Jawab Nam Jo murung,” Sudah lama dia tidak kemari. Kukira dia ada di rumah besar, bersama kalian.”

Choi Minho mengepalkan tinjunya, menahan emosi yang tiba-tiba naik ke kepalanya.

“ Kapan terakhir dia datang kemari ?”

“ Ummm… mungkin sebelum kau ke Amerika.”

“ Setelah eomma ulang tahun ? Eomma bilang, waktu itu dia datang ke sini.”

“ Ya… kau benar. Itu adalah saat terakhir aku bertemu dengannya.”

“ Itu sudah lama sekali…” desis Minho.

“ Apakah dia tahu kau sedang tidak sehat ?”

“ Aku baik-baik saja… aku sehat !!”

“ Tidak. Kau tidak baik-baik saja ! Aku memang bukan seorang dokter, tetapi aku mengenalmu. Kau sekarang sedang tidak sehat.”

“Jangan terlalu meributkan hal itu.” Kim Nam Jo menggigit bibirnya saat melihat mata Minho menyipit tidak senang.

“ Oh baiklah…. Memang aku sering merasa pusing dan mual… tetapi hanya sekali-sekali saja. Kupikir itu karena lambungku…”

“ Kapan kau merasakan gejala itu ?”

“ Minho, kau seperti dokter saja… Ayolah, itu karena aku kelelahan dan suka telat makan. Ini pasti masalah lambungku.”

“ Kapan ?”

“ Baru beberapa minggu ini….. errr dua minggu ini, tepatnya.”

Choi Minho mengerutkan dahinya. Ia kemudian menyuruh wanita di hadapannya untuk menghabiskan susu dan memakan biskuit. Sementara matanya mengikuti setiap gerakannya, fikirannya berputar cepat.

“ Ji Ho hyung datang dan menginap di rumah ini ketika eomma berulang tahun, eomma mengatakannya sendiri padaku kemarin. Apakah mungkin malam itu mereka berdamai dan melakukan hubungan yang lebih jauh ? Mungkinkah Ji Ho hyung meninggalkannya karena dia menyesali perbuatannya, yang aku yakin merupakan ekspresi rasa cintanya selama ini ? Apakah dari perbuatannya itu sekarang Namjo noona tengah hamil ? Aku ingat, saat Yoona noona muntah dan mual-mual kemudian diperiksakan ke dokter, dia tengah hamil 5 minggu. Jarak antara malam itu sampai hari ini adalah….”

Minho terkesiap menyadari pemikirannya itu, ia kembali meneliti muka Kim Nam Jo yang terlpucat.

“ Mungkin lambung… tetapi, aku belum pernah mendengar yang berpenyakit lambung pingsan karena telat makan.” Fikir Minho cepat , “ Aku harus segera menemui Ji Ho hyung dan menanyakan kebenarannya. Sulli benar, Nam Jo noona mungkin wanita kuat…. Tetapi dia membutuhkan seseorang untuk mebereskan masalahnya. Dan orang itu adalah aku… karena ini menyangkut abangku.”

========TBC=========

Hai chingu, menjelang ulang tahun baby Sulli nih… kenapa blog kesayangan kita ini sepi ya ?

Kalau dilihat dari jumlah pembaca memang menurun. Oke, aku ambil kesimpulan bahwa ini karena jaringan yang turun-naik, timbul-tenggelam di negeri ini…. dan bukan karena kecintaan akan Minsul yang merosot.

Dan untuk menghidupkan suasana blog ini lagi… siapa yang punya usulan ??

Oh ya, terimakasih untuk yang telah menyimpan komentarnya di sini… TOP !!  😀

Yang sudah memberikan BLOG LIKE… THE BEST 🙂


 

Advertisements

54 thoughts on “THE runaway BRIDE (Part 11)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s