THE runaway BRIDE (Part 13)

THE RUNAWAY BRIDE

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli

Supported Cast : Choi Siwon, Im Yoona,Kim Nam Jo,etc

Length : chaptered

Rate : DEWASA (18+)

♥♥

13 . Kesepakatan

.

.

 

Sulli termangu, matanya melihat sebuah boneka beruang berwarna beige keemasan. Sebuah pita kecil terikat di lehernya. Mata boneka itu menatap langsung kepadanya, mulutnya memberikan seringaian yang terlihat tolol. Jantung Sulli secara perlahan berdegup lebih kencang. Minho sudah mengirimkan boneka itu dengan sebuah kartu ucapan “ Berharap kesuksesan untuk ujianmu”. Itu adalah sebuah bingkisan yang tiba sehari sebelum uji presentasinya, kartu yang datang setelah komunikasi lewat email terhenti beberapa hari. Dan dengan tolol dia membawa boneka itu ke ruang presentasinya, menyimpannya di meja tepat dekat laptopnya. Dia tak mempedulikan kerutan dalam di antara alis atasannya atau senyum kebingungan di kepala divisi pemasaran. Entah perasaan sentimental macam apa, karena dia merasa lebih yakin saat berbicara… seolah Choi Minho ada di ruangan itu dan memberikan dukungan yang tulus.

Sulli menghela nafas, mencoba menghitung di dalam otaknya. Sudah dua minggu sejak terakhir kali mereka kontak lewat email. Mungkinkah Minho tidak menghubunginya karena dia tahu kalau Sulli sedang menghadapi ujian ? Apakah Minho tidak mau mengganggu waktunya ? Ataukah dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya di sana sehingga tak pernah menghubunginya lagi ? Lalu bagaimana reaksinya kalau dia menghubunginya lebih dahulu ? Apakah pria itu tidak akan berpikir macam-macam tentang dirinya ?

Sulli membuka laptopnya, membuka email dan mulai menulis sebuah surat untuk Minho. Dia berpikir sejenak untuk memikirkan apa yang akan ditulisnya, dan dengan heran menemukan begitu banyak yang harus diceritakan begitu kata pertama di ketiknya. Namun demikian dirinya lebih memilih menuliskan kalimat singkat

“Langit New York sekarang cerah, tiba-tiba
itu mengingatkanku pada saat kita jalan-jalan di taman.”

Sulli menekan tombol send dengan cepat sebelum dia melakukan kesalahan dengan mengungkapkan terlalu banyak.. Dia masih menatapi layar komputernya ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Dan jantungnya hampir melompat ke luar saat melihat nama Choi Minho di layarnya. Sukar dipercaya, mengingat perbedaan waktu antara Jeju dan NYC… dan sekarang pasti sudah tengah malam di sana. Apakah Minho belum tidur ? Ataukah dia sedang bersama seseorang ?

“ Oh…hai !” Sulli menjawab begitu mendengar sapaan dari seberang, suaranya rendah dan berat membuat seluruh pori-pori tubuhnya merinding, “ Terimakasih untuk bonekanya.”

“ Bagaimana dengan ujianmu ?”

“ Sukses. Aku… kami sedang menunggu hasil akhirnya.” Sulli menjatuhkan tubuhnya di ranjang ,”Bagaimana bisa kebetulan ? Aku baru saja mengirimkan sebuah email padamu saat kau menilponku.”

“ Itu namanya keajaiban alam, Jinri.: Jawab Minho, berusaha menyembunyikan fakta bahwa dia telah membaca email itu dan langsung menghubunginya.

“ Tapi ini sudah lewat tengah malam di sana, kan ? Persisnya pukul berapa di Jeju sekarang ?”

“ Pukul dua dini hari.” Minho mengusap tengkuknya ,” Sebenarnya, aku baru selesai menulis beberapa laporan.” Tambahnya sambil melihat serakan kertas di mejanya.

“ Bekerja keras, huh ? Bagaimana perkerjaanmu ?”

“ Seperti sebelumnya, tidak ada yang istimewa.”

Hening beberapa saat.

“ Kita sudah lama tidak melakukan kontak. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan.” Sulli memulai lagi.

“ Apakah hubunganmu dengan Rod baik-baik saja ? Apakah ayahmu sudah menerima semuanya ?” Minho mencoba menghapus bayangan menakutkan di benaknya

“ Kami semakin dekat, terimakasih. Oh ya, ada yang mau kuceritakan. Beberapa hari lalu aku dan Rod nonton, kemudian kami berkeliling kota untuk merayakan keberhasilan ujianku. Kemudian aku mengajak Rod untuk makan malam di rumah. Telepon tiba-tiba berdering ketika aku ada di dapur. Karena tanganku sedang belepotan, akhirnya Rod yang menjawab. Anehnya telepon langsung ditutup, tapi aku bisa menebak siapa yang menelepon….”

Minho mengerang dan mengusap wajahnya.

“… Itu pasti eomma …

Dadanya serasa mencelos, entah harus lega atau marah.

“….karena tidak lama setelah itu dia menelepon lagi seolah ingin memastikan keberadaannya. Rod kembali menjawabnya… dan kau tahu ? Besoknya aku diceramahi panjang lebar. Mereka memperlakukanku sepertinya aku telah hidup bersama Rod dan telah melakukan pelanggaran moral yang berat, yang mencoreng nama baik mereka. . Oh Minho… mengapa orang-orang tak berhenti memvonis dan mencurigaiku bila itu berkaitan dengan Rod ?”

Suara Sulli terdengar putus asa ,

“ Entahlah…” jawab Minho dengan gumaman tak jelas, bingung pada dirinya sendiri.

” Tetapi kami bisa melewati itu tentu saja.” Sulli berkata ceria ,” Kau tahu, sejak kau datang ke sini semuanya berubah dan tak seperti dulu lagi . Well, aku tahu orang tua kita bersahabat. Aku di sini bertanya-tanya apakah orang tuamu tidak menyulitkanmu di sana , seperti yang orang tuaku lakukan padaku ?”

Minho berdesah.

“ Eomma kecewa tentu saja. Aku baru saja merasakan hari-hari tenang setelah pulang ke rumah dan dianggap sebagai anak yang telah mencoreng nama baik keluarga. Kau benar, berita tentang kita sampai lebih cepat dari pada kepulanganku.” Minho tertawa ringan

“ Tentu saja teknologi mempercepat semuanya, bahkan saat kau masih di satu tempat berita itu pasti sudah menyebar di banyak tempat lainnya . Dan bagaimana Nam Jo eonni ?”

“ Jiho hyung datang ke rumah dua hari setelah aku berkunjung, dia menyatakan niatnya untuk menikahi Nam Jo noona tetapi noona menolaknya. Dia memang mengandung bayinya tetapi bertekad menolak lamaran itu karena katanya kakakku melamarnya dengan alasan yang salah… demi anak itu.”

“ Bagus ! Aku setuju dengannya. Jika kakakmu melamarnya karena alasan keberadaan bayi itu… kurasa dia harus direbus hidup-hidup!!” Sulli berkata geram

“ Jinri, jangan lupa di sini Jeju bukan New York…” Minho mengingatkan.

“ Betul sekali !!” Sulli menggeram ,” Karena itulah aku membenci tempatmu… maaf !”

Minho memejamkan matanya, merasa menyesal telah memancing kemarahan Sulli, padahal dia ingin percakapan mereka berlangsung menyenangkan.

“ Oh iya, maafkan aku hanya bisa memberimu boneka beruang… bagaimana pun selamat untuk ujiannya . Tadinya aku ingin menghadiahimu bunga tetapi….” Minho membelokkan percakapan

“ Kubilang, aku benar-benar menyukainya. ” potong Sulli cepat.

“ Apakah Rod memberimu bunga ?”

“ Ya. Dia memberiku sebuket mawar merah yang cukup besar.”

“ Aku yakin mawar pemberiannya pasti terlihat menakjubkan.” Minho berusaha menghindari menyebutkan nama lelaki itu dan menenggalamkan rasa cemburu yang mulai kembali menggerogotinya.

“ Pastinya. Bunga terbaik dari yang pernah diberikannya kepadaku. Tetapi aku lebih menyukai Tansun.”

“ Tansun ?”

“Ya, Tansun… beruang darimu itu. Bukankah dengan tampangnya yang konyol nama Tansun lebih cocok ? Aku kan tidak mungkin menamainya Minho… oh… tak ada orang yang menamai boneka teddy-nya dengan nama Minho.”

“ Itu memang nama yang baik untuk seekor beruang.” Jawab Minho senang.

“ Oh ya, aku juga lupa memberitahumu kalau akhir bulan ini Rod mengajakku makan malam di apartemennya. …”

Rasa gelisah dan marah kembali meliputi Minho dengan cara yang aneh dan tiba-tiba.

“… katanya dia ingin berbicara denganku. Pembicaraan yang serius kurasa, mengingat selama ini dia paling menghindari orang-orang mendekati apartemennya. Oh… wish me luck, Minho !”

Bulu kuduk Minho meremang mendengarnya.

“ Pembicaraan serius ? Di apartemen laki-laki itu ? Apakah dia akan melamar Sulli ? Tentu saja itu yang akan terjadi … tololnya kau Minho ! Setelah mereka melewatkan malam bersama-sama….”

Tiba-tiba Minho merasa badannya lemas. Sepertinya dia harus menyerah sebelum sempat menganalisis perasaannya sendiri.

“ Minho ?”

“ Hm…”

“ Tampaknya aku harus mengakhiri percakapan ini. Ada seseorang membunyikan bel. Wish me luck, ya ! Bye…”

Setelah meletakkan telepon genggamnya, Sulli menatap Tansun sambil merenung. Boneka itu tingginya sekitar lima belas centimeter dengan bulu keemasannya, matanya bulat hitam dan mulutnya menyeringai tolol ke arahnya. Sulli menyentuhkan telunjuk dan jari tengahnya ke bibir kemudian menempelkan jemarinya itu ke mulut beruang , sebelum dia berlari menuju pintu yang diketuk keras.

Seminggu kemudian

Malam itu Sulli berdandan dengan sederhana, tidak terlalu mencolok. Selama berdandan benaknya mempertanyakan apa yang akan dibicarakan Rod. Jantungnya berdebar-debar mengingat kemungkinan Rod akan mengajaknya meningkatkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Bukan pernikahan tentu saja, mengingat orang tuanya masih belum memberi respon yang memuaskan… setidaknya mungkin pertunangan.
Perutnya mendadak merasa mual membayangkannya. Dia bukan tidak menyukai ide itu, tetapi dia belum siap menghadapi omelan keluarganya. Mungkin yang terpahitnya adalah dia akan diasingkan atau tidak diakui sebagai anak lagi oleh mereka. Sulli ingat, pada hari Minho kembali ke Jeju dan menemui kedua orang tuanya untuk pamit, tanpa melamarnya terlebih dahulu, malamnya ayahnya tidak menegurnya sama sekali. Ibunya memarahinya seolah dia adalah anak umur empat tahun yang telah menghilangkan sepasang anting-anting berliannya.

Dengan berusaha mengabaikan kegelisahannya, Sulli mendatangi rumah Rod dengan dijemput oleh sopir pribadinya. Kemudian sopir ramah itu mengantarkannya menuju apartemen yang terletak di lantai 34 sebuah gedung apartemen bergengsi di bilangan Avanue Park.

Rod ternyata tengah menunggunya. Terlihat tampan dengan baju kasual yang membalut tubuhnya yang tegap.

“ Selamat datang di apartemenku. Kau terlihat menakjubkan seperti biasa…” Rod mencium punggung tangannya setengah membungkuk.

“ Terimakasih.” Sulli melangkah memasuki ruangan dengan perabotan serba modern yang tertata rapi dan terlihat hangat. Sebuah ruangan yang membuat orang akan merasa betah di dalamnya. Ruangan yang sepertinya merupakan hasil sentuhan seorang wanita. Sulli bertanya-tanya siapakah wanita yang telah mengatur semua itu untuk Rod. Yang jelas bukan ibunya, karena orang tua Rod tinggal di Australia.

“ Tempat yang menyenangkan…”

“ Terimakasih.” Rod tersenyum lembut ,” Duduklah. Ataukah kita langsung menuju balkon ? Makan malamnya sudah kutata di sana.”

“ Oh, boleh !”

Sulli tertegun melihat persiapan yang dilakukan Rod untuknya. Sebuah meja bundar diletakkan di tengah-tengah balkon, ditutup taplak putih bersih. Dua buah lilin menyala dan tata mejanya sungguh apik. Di atas piring tergeletak sekuntum mawar merah yang masih segar.

“ Please…” kata Rod mempersilakan, setelah dia menarik kursinya untuk Sulli.

Rasa haru menyergapnya, tak mengira akan mendapatkan perlakuan begitu istimewa.

“ Kau tidak perlu seperti ini…” kata Sulli sambil tersenyum senang.

Rod tidak menjawab. Yang dilakukannya adalah menyambar sebuah kotak hitam yang ada di atas meja kemudian menyerahkannya. Sulli memandang kotak hitam bertuliskan ‘cartier” itu dengan enggan.

“ Terima dan bukalah…” kata Rod lembut.

Kotak itu berisi seuntai kalung emas dengan bandul membulat berhiaskan permata, yang terlihat berkilauan tertimpa cahaya lampu. Sulli memandangi benda itu dengan takjub.

“ Rod, aku tak bisa…. Ini terlalu…..”

“ Tunggu, aku ingin kau menerima kalung itu karena aku punya dua alasan.” Rod memotong perkataan Sulli ,” Pertama, ini untuk ucapan selamat karena kau telah berhasil gemilang dalam ujianmu. Pengumumannya akan diberikan ke mejamu besok, dan aku berhasil meyakinkan bos untuk menempatkanmu dalam divisiku sehingga kita bisa terus bersama-sama. Kedua, sebagai permintaan maafku….”

Rod terlihat gelisah, tangannya menjulur dan menggenggam sebelah tangan Sulli kemudian meremasnya lembut.

“Jinri, sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini tetapi… yah…waktunya masih belum tepat. Kupikir kau bisa salah mengartikannya…well….”

Sulli menatap lelaki di hadapannya, membiarkan dan mendengarkannya menjelaskan maksudnya. Dan tak sedikit pun keinginan Sulli untuk menghentikan atau menginterupsinya. Dirinya terlalu terpukau dengan perkataannya… syok mungkin yang lebih tepat. Kata demi kata yang pada awalnya begitu sulit diucapkan, akhirnya mengalir dengan sendirinya. Tetapi kata demi kata yang diucapkan Rod membuat hatinya sedikit demi sedikit menimbulkan kegembiraan dan kelegaan yang semakin membuncah.

Mereka menghabiskan malam yang luar biasa bersama-sama. Dan ketika malam itu Sulli menapaki lorong sepi menuju apartemennya, kalung indah itu telah melingkar di lehernya. Sebuah senyuman kagembiraan terukir di bibirnya yang indah. Sulli merasa tak tahan untuk menyimpannya sendirian, ia ingin secepatnya berbagi kegembiraan itu dengan sahabatnya, Choi Minho. Itulah sebabnya begitu masuk ke kamarnya, tanpa membuka dulu baju dia langsung membuka komputernya. Dan jantungnya seperti melonjak-lonjak ketika ada sebuah email dari Minho.

“ Aku sudah menerima semua kiriman foto-fotonya. Sepertinya kau berhutang cerita tentang itu.”

Sulli berbicara dengan menuntut, sementara tangannya memilin-milin kabel telepon yang digenggamnya. Begitu dia menerima email dan melihat isinya, dia langsung memutuskan untuk menelepon Minho supaya bisa bertanya secara langsung.

“ Aku baru pulang dari acara pernikahan Jiho Hyung dan Nam Joo noona dan mengirimkan foto-foto itu yang diambil dari ponselku ke emailmu .”

“ Bagaimana bisa ? Terakhir kau menelepon kedengarannya tidak akan terjadi seperti itu… pernikahan ??”

“ Jiho seperti yang kuceritakan kemarin, telah kembali ke rumah. Dia nyaris gila karena Nam Jo noona menolak lamarannya berkali-kali….”

Sulli tersenyum senang mendengarnya, dia menyukai karakter wanita itu yang tidak tunduk pada pria padahal di rahimnya tumbuh sebuah kehidupan dari pria tersebut.

“… Akhirnya Jiho hyung meminta bantuan eomma. Dan kami semua muncul di depan rumah Nam Jo noona pagi tadi dan mengatakan kepadanya bahwa hari ini adalah hari pernikahannya..”

“ Maksudmu… kalian menculiknya dan memaksanya untuk menikah ?” serang Sulli tak percaya.

“ Tak ada seorang pun yang memaksa Nam Jo noona untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Pada dasarnya dia dan kakakku saling mencintai, hanya saja mereka terlalu angkuh untuk mau mengakuinya.”

“ Tetapi pada kenyataannya kalian menyerbu rumahnya dan menyeretnya ke depan altar dengan paksa , kan ?”

“ Kejadiannnya tidak seperti itu…”

Sulli tidak menjawab, mencoba mengontrol kemarahan yang tiba-tiba muncul saat membayangkan bagaimana wanita itu tak berdaya menolak karena ditempatkan pada posisi lemah. Minho merasakan keheningan yang mencengkam ke dalam jantungnya. Kemudian dia mengulangi perkataannya untuk menjelaskan lebih lanjut

“ Jinri, kejadiannya tidak begitu. Kami membujuknya, tidak sefrontal itu…Tuhan, tentu saja kami tidak menyeretnya.”

“ Tentu saja tidak secara harfiah.” Jawab Sulli ketus.

“ Sesungguhnya kami sekeluarga begitu tergila-gila kepadanya. Kami hanya tidak mau kehilangan dia…”

“ Kau mencari pembenaran, Minho. Kau membuatnya seolah-olah tindakan kalian itu terdengar tepat dan bagus. Menurut pendapatku, seharusnya dia langsung kabur dari sana. Atau meninggalkan kakakmu yang angkuh itu di depan altar.” Jawab Sulli menggebu-gebu.

“ A-a-a… “ Minho menggodanya ,” Ini Jeju, Jinri. Kau harus ingat di sini wanita tidak akan bisa melakukan itu.”

“ Aaargh…..Kalau itu aku, pasti kulakukan !!” Sulli menggeram kesal, kalau bukan larut malam dia pasti sudah menjerit keras,” Bersyukurlah karena kau berada di tempat yang puluhan ribu kilometer jauhnya dari sini, Minho ! Kalau tidak, aku bisa mencekikmu…”

“Aku tahu apa yang harus kulakukan bila aku berada di hadapanmu sekarang. Tentunya aku hanya akan berkata “ya, nona” “ baik, nona.” Atau “tidak, nona”….” Minho mengatakan itu setengah mengerang.

Mendengar suara Minho, dan membayangkan bagaimana mimiknya ketika dia mengucapkan itu membuat Sulli tertawa.

Tawa Sulli terdengar jelas oleh Minho, membuat bulu kuduknya meremang. Darahnya mengalir cepat dalam dirinya, suatu pergerakan yang tak layak untuk dibanggakan. Mungkin jarak puluhan ribu kilometer itu ada manfaatnya, jika tidak dirinya mungkin telah melakukan tindakan yang akan menghancurkan persahabatan mereka selamanya.

“ Minho… apakah kau masih di situ ?”

“ Ya, tentu saja.”

“ Kau tiba-tiba terdiam.”

“ Aku sedang berfikir…

“ Tentang ?”

“ Eh… tentang apa ? Aku… aku tadi sempat berharap kau ada di sini bersamaku dan melihat sendiri bagaimana pernikahan mereka berlangsung dengan indah.”

Sulli tertegun mendengar perkataannya, dadanya berdesir.

“ Kau sungguh-sungguh mengharapkan hal itu ?” tanyanya tidak yakin.

“ Ya, aku terus menerus membayangkan bagaimana reaksimu kalau kau melihat kampung halamanku dan bertemu dengan keluargaku. Aku juga ingin menyingkirkan semua prasangka bodohmu tentang kaum laki-laki di sini…”

“ Kau tak akan pernah bisa melakukan itu padaku, Minho. Prasangka bodohku dan aku merupakan satu kesatuan yang tak akan bisa dipisahkan. Apakah kau tidak berpikir kalau aku bisa tersinggung dengan ucapanmu ? Apakah kau berkata begitu karena kita berjauhan dan kau akan merasa aman karena bisa melarikan diri dariku ?”

“ Kau bisa menebakku dengan tepat. “ Minho menggodanya ,” Anyway, bagaimana keadaanmu ?”

“ Aku baik-baik saja. Tetap bekerja keras seperti biasa …”

“ Bagaimana kabar… Rodney ?”

“ Dia okay. Mungkin sudah tidur di persembunyiannya.”

“ Dia tidak bersamamu ? Bukankah kalian makan malam bersama ? Pukul berapa sekarang di sana ?” Minho menajamkan telinganya untuk mendengart suara-suara di belakang Sulli, tetapi tidak terdengar bunyi apapun.

“ Di sini baru jam sebelas malam. Aku baru saja pulang dari apartemennya, habis makan malam.”

“ Ohh… maafkan kalau begitu, tampaknya kau mau beristirahat.”

“ Tak apa-apa. Lagi pula aku senang punya kesempatan untuk bicara denganmu. Ini sudah begitu lama… Eh.. Aku perlu menjelaskan sesuatu tentang makan malam itu …”

“ Oh.. jadi menurutmu akulah yang perlu diberikan penjelasan di waktu seperti ini. Begitu ?” Potong Minho cepat-cepat, menyadari keengganannya kalau Sulli menyampaikan sesuatu yang bisa menghancurkan dirinya.

“ Tentu saja tidak . Aku lupa, sekarang mungkin menjelang fajar di tempatmu. Mengapa kau tidak berada di tempat tidur ?”

“ Sekarang aku di tempat tidur… dengan seorang teman wanitaku yang terlelap di sisiku.”

Sulli merasa jantungnya seolah berhenti berdetak, ada rasa sakit menyelinap di dadanya membayangkan Minho bersama wanita lain.

“ Aku tidak percaya…” katanya ragu-ragu.

Minho mendesah, “ Aku menyerah… sepertinya kau sangat mengenalku..:”

Sulli tersenyum, heran dengan kelegaan yang dirasakannya ,” Tentu saja… dibalik tampang playboymu, kau tak lebih dari bocah nakal yang suka berbuat jahil.”

“ Itu tidak benar !” potong Minho,” Aku bukan bocah nakal. Itu fitnah yang benar-benar keji !!”

Sulli tertawa lepas dan suara menyenangkan itu terus terngiang di telinga Minho saat mereka saling mengucapkan salam perpisahan.

Minho naik ke tempat tidurnya dan berharap agar bisa tidur seperti biasanya. Tetapi dia malah berbaring nyalang dalam kegelapan kamarnya, merenungkan hal lain yang sebenarnya ingin dia katakan kepada Sulli, tetapi tak pernah bisa terucapkan. Entah kenapa, dengan Sulli dia tak bisa seberani dan seyakin saat dia menghadapi wanita lainnya.

Dia ingat percakapan sekilas dengan ibunya dan Yoona ketika mereka berdiri berdampingan dan menyaksikan Jiho dan isterinya berdansa di pesta pernikahan mereka.

Hasil gambar untuk Minho sleep

Flash Back

“ Menurutku tadi semua berjalan dengan baik.” Kata Yoona sambil tersenyum lebar menyaksikan suaminya Siwon yang sedang menggoda Jiho.

“ Ya, aku sempat khawatir sampai detik-detik terakhir.” Jawab Minho.

“ Aku tidak.” Ibunya menyahut dengan nada pasti ,”Tidak, setelah Jiho datang kepadaku dan meminta bantuanku untuk membujuk Nam Joo agar mau menikah dengannya. Saat itulah aku tahu bahwa buat Jiho, Kim Nam Joo memang jodohnya.”

Minho mengernyitkan alisnya ,” Bagaimana eomma begitu yakin kalau noona berjodoh dengan Jiho hyung ? Maksudku… apa bedanya antara satu wanita dengan yang lainnya… selintas mereka terlhat sama, bagaimana pun dan… well… eomma langsung bisa melihat bahwa dia orang yang tepat …?”

Minho tak bisa memandang mata ibunya, warna merah muda perlahan-lahan menjalar mulai dari leher hingga telinga dan wajahnya.

“ Kau tahu kan, kakakmu itu adalah pria yang sangat angkuh dan paling keras kepala. Dia menjunjung harga dirinya di atas ubun-ubunnya. Tetapi dia menempatkan Kim Nam Joo lebih berharga dibandingkan harga dirinya itu. Ketika seorang pria bisa memandang seorang wanita lebih berharga dari dirinya sendiri…. maka aku bisa memastikan bahwa wanita itulah orang yang tepat untuknya.”

Minho tertegun, mencoba mencerna perkataan ibunya.

“ Mungkin tidak lama lagi kau juga…”

“ Cukup eomma…” potongnya buru-buru dan meringis saat melihat Yoona tersenyum.

“ Terserah kau saja, bagaimanapun aku sekarang tinggal memikirkanmu… Kau sudah cukup umur kalau… ”

“ Eomma… jangan coba-coba mengatur pernikahanku seperti yang kau lakukan pada Siwon hyung dan Jiho hyung.” Minho mengerang.

“ Aku tidak pernah berniat untuk mengatur jodoh anak-anakku. Tanpa kau sadari mungkin kau sendirilah yang tengah mengatur pernikahanmu sendiri.”

“ Aku ?”

“ Minho, apa kau menyadari bahwa belakangan ini kau sering membicarakan Choi Jinri?”

“ Benarkah ?” tanya Minho panik ,” Jangan pedulikan itu. Eomma bisa menghapus harapanmu untuk melihatku menikah dengannya. Dia sudah bertunangan dengan Rod, aku yakin itu. Tak lama lagi mungkin mereka akan mengumumkan tanggal pernikahannya.”

“ Apa karena itu wajahmu jadi memberengut ?” timpal Yoona.

“ Aku tidak memberengut !!” sangkal Minho dengan kesal.

End of Flash Back

Minho memejamkan matanya putus asa. Dia tak bisa bercerita kepada siapa pun bahwa sepanjang prosesi pernikahan itu, wajah Sulli terbayang-bayang di benaknya. Bahkan dia sekilas seperti melihat kehadirannya di antara para tamu yang datang. Tetapi di saat itu pula dia menghapus semua hasrat hatinya. Sulli adalah wanita terakhir yang bisa dipikirkannya sebagai pengantin wanitanya. Dan itu sudah mereka sepakati di awal pertemuan mereka. Dan sekarang itu dipertegas Sulli dalam percakapan mereka, bahwa Sulli dan kebenciannya pada tanah kelahiran ayahnya adalah satu paket yang tak terpisahkan. Daripada menyingkirkan Sulli dari pikirannya, lebih baik dia menyingkirkan hasratnya dari dalam hatinya, sebelum semua orang tahu kebenarannya.

===============TBC===============

Double update seperti janjiku…

Semoga kalian bisa menikmatinya di akhir minggu ini… 😀

Advertisements

52 thoughts on “THE runaway BRIDE (Part 13)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s